alah!" Quzman berkata: "Kabar gembira apa
yang ucapkan untukku? Demi Allah, aku berperang hanya untuk membela kehormatan kaumku. Kalau
bukan karena itu aku tidak akan berperang." Saat lukanya bertambah parah, maka ia mengambil anak
panah dari tempat perlengkapan perangnya, lalu iapun bunuh diri dengannya.116
Ibnu Ishaq berkata: Di antara orang yang terbunuh pada Perang Uhud ialah Mukhairiq. Ia salah seorang
warga Bani Tsa'labah bin Al-Fithyaun. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana
dituturkan kepadaku: "Mukhairiq yaitu orang Yahudi terbaik."117
Ibnu Ishaq berkata: Al-Harits bin Suwaid bin Shamid seorang munafiq, pada Perang Uhud, ia ikut
bersama kaum muslimin. jika kaum muslimin telah bertemu dengan kaum musyrikin, Al-Harits bin
Suwaid bin Shamid menghabisi Al-Mujadzdir bin Dziyad Al-Balawi dan Qais bin Zaid, warga Bani
Dhuba'iah. sesudah membunuh keduanya, Al-Harits bin Suwaid bin Shamid pergi ke Makkah bergabung
dengan orang-orang kafir Quraisy. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana dituturkan
para ulama, memerintahkan Umar bin Khaththab membunuhnya jika dia berhasil menangkapnya.
Namun Umar bin Khaththab tidak berhasil mengejarnya karena ia berada di Makkah. lalu
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus saudara Al-Harits bin Suwaid yang bernama Al-Julas
bin Suwaid untuk menemui Al-Harits bin Suwaid dan memintanya bertaubat agar ia bisa kembali
kepada kaumnya.
Ibnu Ishaq berkata: Maka Allah, sebagaimana dituturkan kepadaku dari Ibnu Abbas, menurunkan ayat
tentang Al-Harits bin Suwaid bin Shamid dalam firman-Nya:
Bagaimana Allah akan menunjukisuatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah
mengakui bahwa Rasul itu (Mu¬hammad) benar-benar rasul, dan keterangan- keterangan pun telah
datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim (QS. Ali Imran: 86), hingga
akhir kisah.
Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berada bersama beberapa orang sahabatnya, tiba-tiba
Al-Harits bin Suwaid keluar dari salah satu kebun Madinah, dia memakai pakaian rangkap dua
berwarna merah darah. Rasulullah memerintahkan Utsman bin Affan untuk menghabisinya dan
Utsman bin Affan pun menebas kepalanya. Ada yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam menyuruh salah seorang dari kaum Anshar untuk menghabisi Al-Harits bin Suwaid bin
Shamit.
Ibnu Ishaq berkata: Suwaid bin Shamit dibunuh Muadz bin Afra' dengan cara tipu daya dan bukan
dihabisi di medan perang. Muadz bin Afra' melempar Suwaid bin Shamit dengan anak panah dan
menewaskannya sebelum meletusnya Perang Bu'ats.
Ibnu Ishaq berkata: Hindun binti Utbah dan wanita-wanita Quraisy yang bersamanya memutilasi
korban dari sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebagaimana hal ini dikatakan
kepadaku oleh Shalih bin Kaisan dan mengiris telinga-telinga dan hidung-hidung mereka. Bahkan lebih
jahat dari itu, Hindun binti Utbah menjadikan telinga-telinga dan hidung-hidung korban dari para
sahabat sebagai gelang kaki dan kalung. Sedangkan gelang kaki dan kalung serta cincin yang dia pakai
diberikan kepada Wahsyi budak Jubair bin Muth'im. Tidak hanya sampai batas itu, Hindun binti Utbah
membelah hati Hamzah bin Abdul Muthalib, mengunyah, dan ingin menelannya namun ia tidak
mampu maka iapun memuntahkannya.
Ibnu lshaq berkata: Al-Hulais bin Zabban dari Bani Al-Harits bin Abdu Manat saat itu yaitu pemimpin
orang non Arab (Ubaiys). Ia berjalan melewati Abu Sufyan bin Harb yang sedang memukul tulang
rahang bagian bawah Hamzah bin Abdul Muthalib dengan besi tombak sambil berkata: "Rasakanlah
ini, wahai makhluk durhaka." Al-Hulais berkata: "Wahai orang-orang Bani Kinanah, apakah demikian
perilaku pemuka Quraisy terhadap anak pamannya sendiri yang telah menjadi mayat?" Abu Sufyan
bin Harb berkata: "Celakalah engkau, rahasiakan hal ini, ini hanyalah sebuah kesalahan kecil." sesudah
itu, Abu Sufyan bin Harb berteriak: "Di antara korban-korban kalian ada yang dicincang. Demi Allah,
aku tidak rela, tidak marah, tidak melarang dan tidak pula menyuruh mereka melakukan itu." jika
Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya hendak pulang ke Makkah, Abu Sufyan bin Harb berseru,
"sebenarnya kita akan bertemu kembali kalian di Badar tahun depan." Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam bersabda kepada salah seorang sahabatnya: "Katakan padanya ya. Kita mempunyai janji
itu!"
Ibnu lshaq berkata: lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus Ali bin Abu Thalib
Radhiyallahu Anhu dan bersabda kepadanya: "Ikutilah jejak-jejak perjalanan orang-orang Quraisy itu!"
Ali bin Abu Thalib berkata: "Aku berjalan menelusuri jejak-jejak perjalanan orang-orang Quraisy
karena ingin melihat apa yang mereka lakukan. Ternyata mereka menggiring kuda-kuda mereka di
sebelah selatan mereka dan menaiki unta-unta mereka dan beranjak pulang ke Makkah.118
sesudah itu, kaum Muslimin mengurusi korban mereka.
Ibnu lshaq berkata: Sesudah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar mencari Hamzah bin
Abdul Muthalib, sebagaimana dituturkan kepadaku, dan menemukannya di dasar lembah dengan
perut robek dan hatinya dicincang-cincang, hidung dan kedua telinganya dipotong-potong.
jika kaum Muslimin menyaksikan duka lara Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan murkanya
atas perbuatan orang kafir Quraisy terhadap pamannya, mereka berkata: "Jika suatu saat nanti Allah
memenangkan kita atas mereka, kita habisi mereka dengan cara yang belum pernah lakukan oleh
orang Arab manapun."
Ibnu Hisyam berkata: jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri di hadapan jenazah Hamzah
bin Abdul Muthalib, beliau bersabda: "Aku tidak akan pernah akan mendapat musibah selama-
lamanya seperti musibah kematianmu ini. Aku tidak pernah berdiri dalam keadaan marah
sebagaimana kemarahanku ini." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lebih lanjut bersabda: Jibril
baru saja datang menemuiku dan menjelaskan kepadaku bahwa Hamzah bin Abdul Muthalib tertulis
di penghuni tujuh langit: "Hamzah singa Allah dan Rasul-Nya."119
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Abu Salamah bin Abdul Asad
tiga saudara sesusuan. Mereka disusui oleh mantan budak perempuan Abu Lahab.
Ibnu Ishaq berkata: Buraidah bin Sufyan bin Farwah Al-Aslami berkata kepadaku dari Muhammad bin
Ka'ab Al-Quradhi dan seseorang yang tidak aku ragukan integritasnya yang berkata kepadaku dari Ibnu
Abbas bahwa Allah Yang Mahamulia menurunkan ayat berikut tentang ucapan Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya:
Dan jika kalian memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang
ditimpakan kepada kalian. Akan tetapijika kalian bersabar, sebenarnya itulah yang lebih baik bagi
orang-orang yang sabar. (QS. an-Nahl: 126-127).
Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memberi maaf pada orang-orang yang mencincang
Hamzah bin Abdul Muthalib, bersabar dan melarang pencincangan.
Ibnu Ishaq berkata: Humaid Ath-Thawil berkata kepadaku dari Al-Hasan dari Samurah bin Jundub yang
berkata: "Tidaklah pernah sekalipun Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika berdiri di satu
tempat dan sebelum meninggalkannya beliau selalu memerintahkan kami bersedekah dan melarang
kita mencincang.120
Ibnu Ishaq berkata: Orang yang sama sekali tidak aku ragukan kredibilitasnya berkata kepadaku dari
Misqam mantan budak Abdullah bin AI-Harits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dimana dia
berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib
ditutup dengan kain burdah kemu- dian dishalati. Beliau bertakbir sebanyak tujuh takbir. sesudah itu,
jenazah-jenazah lainnya didatangkan dan diletakkan di dekat jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib
lalu dishalati sedang jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib bersama mereka hingga akhirnya
Hamzah bin Abdul Muthalib dishalati sebanyak tujuh puluh dua kali.
Abdullah bin Jahsy juga dicincang-cincang sebagaimana Hamzah bin Abdul Muthalib hanya saja
perutnya tidak dibelah untuk diambil hatinya. lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
memerintahkan Abdullah bin Jahsy dimakamkan satu tempat dengan kuburan Hamzah bin Abdul
Muthalib. Hal ini hanya aku dengar dari keluarga Abdullah bin Jahsy.
Ibnu Ishaq berkata: Awalnya beberapa orang dari kaum Muslimin ingin membawa korban perang
Uhud ke Madinah dan dikuburkan di sana, namun Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melarang
seraya bersabda: "Kuburkanlah mereka di tempat mereka gugur."
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim Az-Zuhri dari Abdullah bin Tsa'labah bin Shu'air Al-Udzri
sekutu Bani Zuhrah, berkata bahwa tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri di depan
korban Perang Uhud, beliau bersabda, "Aku menjadi saksi bagi mereka bahwa setiap orang yang
terluka di jalan Allah, maka Allah akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan lukanya
berdarah; warnanya warna darah dengan aroma wangi kasturi. Lihatlah mana di antara mereka yang
paling banyak hapalan Al-Qur'annya lalu letakkan dia di depan sahabat-sahabatnya di
kuburan."121 Para sahabat memakamkan dua atau tiga orang dalam satu liang lahat.
Ibnu Ishaq berkata: Pamanku, Musa bin Yasar, berkata kepadaku bahwa ia mendengar Abu Hurairah
Radhiyallahu Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang
terluka di Jalan Allah, maka Allah akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan lukanya
berdarah; warnanya warna darah dengan wangi kasturi."122
Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku dari tetua Bani Salimah bahwa Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda pada saat memerintahkan pemakaman para korban Perang
Uhud: "Lihatlah Amr Al-Jamuh dan Abdullah bin Amr bin Haram, sebenarnya keduanya bersahabat
karib di dunia, oleh karena itu, letakkan keduanya di satu liang lahat."
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pulang ke Madinah dan berpapasan
dengan Hamnah binti Jahsy, sebagaimana disampaikan kepadaku. jika Hamnah binti Jahsy bertemu
para sahabat dan diberi kabar tentang saudaranya yang syahid, Abdullah bin Jahsy, maka ia
mengucapkan innalillaahi wa inna ilaihi raaji'un dan memintakan ampunan kepada Allah untuknya.
sesudah itu, ia diberi kabar tentang pamannya dari jalur ibunya, Hamzah bin Abdul Muthalib, yang juga
syahid lalu ia mengucapkan inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'un dan memintakan ampunan
kepada Allah untuknya. Lalu ia diberi kabar tentang suaminya, Mush'ab bin Umair yang juga syahid.
Iapun menjerit dan menangis kencang sambil mengucapkan kata-kata sesal berat. Melihat hal ini
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "sebenarnya seorang suami itu memiliki tempat
tersendiri dalam relung hati istrinya." Rasullah bersabda seperti itu, saat melihat Hamnah binti Jahsy
tegar saat mendengar syahidnya saudara dan pamannya dari jalur ibunya, namun berteriak keras
histeris atas syahidnya suaminya tercinta.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam berjalan melewati pemukiman-pemukiman
kaum Anshar yaitu pemukiman Bani Abdul Asyhal dan pemukiman Zhafar, dan mendengar ratap tangis
atas korban-korban mereka. Kedua mata Rasulullah mengucurkan air mata, seraya bersabda: "Namun
kenapa tidak ada seorang wanitapun yang menangisi Hamzah!"
Pada saat Sa'ad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair pulang ke tempat Bani Abdul Asyhal, keduanya
memerintahkan wanita-wanita Bani Abdul Asyhal menggunakan ikat pinggang lalu pergi untuk
menangisi Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Ishaq berkata: Hakim bin Hakim bin Abbad bin Hunaif berkata dari seseorang dari Bani Abdul
Asyhal yang berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar jerit tangis wanita-
wanita ini atas Hamzah bin Abdul Muthalib, beliau keluar menemui mereka yang berada di pintu
masjid lalu bersabda: "Pulanglah, semoga Allah merahmati kalian. Sungguh kalian telah
mensejajarkan Hamzah dengan korban-korban kalian."
Ibnu Hisyam berkata: Sejak waktu itulah, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melarang ratapan
histeris terhadap jenazah.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam mendengar jerit tangis wanita-wanita Anshar, beliau bersabda kepada mereka: "Semoga Allah
merahmati orang-orang Anshar, sebenarnya tenggang rasa yaitu sikap mereka sejak lama.
Perintahkan mereka pulang ke rumahnya masing- masing."
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di rumah, beliau
menyerahkan pedangnya kepada putrinya, kesayangannya Fathimah, sambil bersabda: "Bersihkanlah
darah dari pedang ini wahai puteriku. Demi Allah, pedang ini telah berlaku jujur kepadaku di hari
ini." Ali bin Abu Thalib juga menyerahkan pedangnya kepada Fathimah sambil berkata: "Tolong
pedang ini juga dibersihkan darahnya, karena sebenarnya ia telah berlaku jujur kepadaku di hari
ini!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika engkau berperang dengan jujur,
sesunguhnya Sahl bin Hunaif dan Abu Dujanah telah juga berperang dengan jujur bersamamu dirimu."
Ibnu Hisyam berkata: Pedang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dinamakan Dzul Faqar.
Ibnu Hisyam berkata bahwa sebagian ulama berkata kepadanya bahwa Ibnu Abu Najih berkata:
Seorang penyeru berseru di Perang Uhud:
Tidak ada pedang kecuali pedang Dzul Faqar Dan tidak ada pemuda kecuali Ali
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian Ulama berkata kepadaku bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
bersabda kepada Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu: "Orang-orang musyrikin tidak akan pernah lagi
mengalahkan kita sesudahnya (yakni Perang Uhud) sampai Allah memenangkan kita."
Ibnu Ishaq berkata: Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu pertengahan bulan Syawwal.
Perang Hamra' al-Asad
Keesokan harinya, yakni pada Ahad tanggal 16 Syawwal, penyeru Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam mengumumkan kepada kaum Muslimin dengan intruksi agar mereka mengejar musuh dan agar
tidak ada seorang pun yang melakukan pengejaran bersama kami kecuali mereka yang ikut serta pada
Perang Uhud kemarin. Beliau bersama para sahabatnya mengejar musuh untuk menakut-nakuti
mereka agar saat mereka mendengar beliau melakukan pengejaran mereka berkesimpulan bahwa
beliau jauh lebih kuat, dan bahwa apa yang menimpa para sahabatnya itu sama sekali tidak
melemahkan semangat juang mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan hingga tiba di Hamraul Asad yang
berjarak delapan sekitar mil dari kota Madinah.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai
imam untuk sementara di Madinah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menetap di Hamraul Asad
hari Selasa, Rabu, dan Kamis, lalu pulang kembali ke Madinah.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku bahwa Ma'bad bin Abu Ma'bad dari
Khuza'ah berjalan melewati Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Orang Muslim dan orang kafir
Khuza'ah yaitu kepercayaan Rasululiah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dalam hal-hal yang bersifat
rahasia di Tihamah. Beliau mempunyai kesepakatan dengan mereka bahwa mereka tidak boleh
menyembunyikan apa saja yang terjadi di Khuza'ah. Saat itu, Ma'bad bin Abu Ma'bad yaitu seorang
musyrik. Ia berkata: "Wahai Muhammad, demi Allah, sungguh kami demikian berduka atas apa yang
menimpa sahabat-sahabatmu dan kami berharap Allah menyelamatkanmu di tengah-tengah
mereka." Usai mengatakan itu, Ma'bad bin Abu Ma'bad pergi sedang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam tetap di Hamraaul Asad dan bertemu dengan Abu Sufyan bin Harb beserta anak buahnya di Ar-
Rauha yang telah sepakat untuk kembali menghadapi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan para
sahabatnya. Mereka berkata: "Kita telah berhasil mengalahkan kekuatan sahabat-sahabat
Muhammad, tokoh-tokoh, dan pemimpin-pemimpin mereka, apakah lalu kita pulang sebelum
berhasil membasmi mereka hingga habis. Kini kita akan kembali balik untuk menghabisi sisa-sisa
mereka." jika
Abu Sufyan bin Harb melihat Ma'bad bin Abu Ma'bad, ia berkata: "Kabar apa yang engkau bawa, wahai
Ma'bad?" Ma'bad menjawab: "Muhammad sedang melakukan dengan sahabat-sahabatnya sedang
melakukan pengejaran terhadap kalian yang belum pernah aku lihat sebelumnya, karena mereka
marah kepada kalian. Sahabat-sahabatnya yang tidak ikut bersamanya pada Perang Uhud kini
semuanya bergabung dengannya dan menyesal karena tidak ikut perang. Mereka demikian marah
kepada kalian, satu hal yang belum aku lihat sebelumnya." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Celakalah
engkau, lalu apa pandanganmu?" Ma'bad bin Abu Ma'bad berkata: "Demi Allah, aku berpendapat
hendaknya engkau pergi hingga lihat ubun-ubun kuda." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Demi Allah,
sebenarnya kami telah sepakat untuk balik kembali ke tempat mereka dan menghabisi sisa-sisa
mereka." Ma'bad bin Abu Ma'bad berkata: Aku cegah engkau untuk melakukan tindakan seperti itu.
Demi Allah, sungguh apa yang aku lihat membuatku mendendangkan syai-syair tentang mereka." Abu
Sufyan bin Harb berkata: 'Syair-syair seperti apa yang engkau lantunkan tentang mereka?' Ma'bad bin
Abu Ma'bad berkata: "Aku berkata:
Hewan kendaraanku nyaris tersungkur karena suara-suara
jika bumi mengalir dengan kuda-kuda dalam berkelompok-kelompok Kuda-kuda itu lari dengan
singa-singa mulia yang tidak pendek di saat perang
Tiada bersenjata dan tiada mampu bertahan di atas pelana kuda
Aku terus berlari karena menduga bumi telah menjadi miring
Kala mereka menyerangkami denganpemimpin nan pantang mundur
Aku katakan: Celakalah anak Harb bila berjumpa dengan kalian”
Jika bumi berguncang dengan sekumpulan manusia
Aku ingatkan penduduk tanah suci yang menyembah berhala secara terbuka
Bagi setiap orang yang masih berakal
Dari pasukan Ahmad yang di dalamnya tidak ada tandingan
Apa yang aku katakan ini tidak bisa diurai lewat ungkapan kata
Syair-syair di atas mengurungkan keinginan Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya untuk pergi ke
Madinah.
Kafilah musafir dari Bani Abdul Qais melewati Ma'bad bin Abu Ma'bad, lalu Ma'bad bin Abu
Ma'bad berkata kepada mereka: "Mau ke mana kalian?" Mereka menjawab: "Ke Madinah?" Ma'bad
bin Abu Ma'bad berkata: "Apa keperluan kalian pergi ke Madinah?" Mereka menjawab,: "Kami hendak
pergi ke Al-Mirah." Ma'bad bin Abu Ma'bad berkata: "Maukah kalian membawakan suratku kepada
Muhammad? jika kalian bersedia, aku akan membawakan anggur ini pada kalian di Pasar Ukadz
esok pagi?" Mereka menjawab: "Ya." Ma'bad bin Abu Ma'bad berkata: "Jika kalian bersedia, katakan
pada Muhammad bahwa kami telah sepakat kembali balik kepadanya dan sahabat-sahabatnya untuk
menghabisi seluruh sisa-sisa mereka." Rombongan musafir ini pun berjalan melewati Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Hamra al-Asad dan mereka menceritakan kepada beliau apa yang
dikatakan Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Cukuplah Allah bagi kita dan Dia sebaik-baik Pelindung."
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah berkata kepada kami bahwa jika Abu Sufyan bin Harb dan anak
buahnya pulang dari Perang Uhud lalu ia berencana kembali balik ke Madinah untuk menghabisi
seluruh sisa-sisa sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana yang mereka
rencanakan, Shafwan bin Umaiyyah bin Khalaf berkata kepada mereka: "Janganlah kalian kerjakan itu,
karena mereka sedang dilanda marah besar. Kita khawatir mereka memiliki semangat tempur yang
tidak sebelumnya tidak mereka miliki, maka kembalilah kalian ke Makkah." Abu Sufyan bin Harb dan
anak buahnya pun pulang ke Makkah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang saat itu berada di
Hamra al-Asad dan mendengar orang-orang Quraisy bertekad untuk balik menyerangnya bersabda:
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, batu telah ditandai buat mereka. Seandainya mereka
diserang dengannya, pasti mereka akan mengalami seperti yang kemarin mereka alami."
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa sebelum pulang ke Madinah, Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam menangkap Muawiyah bin Al-Mughirah bin Abu Al-Ash bin Umaiyyah bin
Abdu Syams, kakek dari Abdul Malik bin Marwan karena ia ayah dari ibunya yang bernama Aisyah binti
Muawiyah dan juga menangkap Abu Azzah Al-Jumahi. Rasulullah pernah menawannya Shallalahu
'alaihi wa Sallam menawan Abu Azzah Al-Jumahi di Perang Badar, lalu membebaskannya. Abu Azzah
Al-Jumahi berkata: "Wahai Rasulullah, bebaskanlah aku!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
bersabda AKU KataKan: "Tidak, demi Allah, engkau tidak lagi bisa membasuh kedua sisi badanmu di
Makkah lalu kau katakan: Aku telah menipu Muhammad dua kali.' Habisi ia, wahai Zubair." Zubair pun
menghabisinya.
Ibnu Hisyam berkata: Aku mendengar dari Sa'id bin Al-Musayyib yang berkata bahwa Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Azzah Al-Jumahi: "sebenarnya orang Mukmin
tidak mungkin disengat dari lubang yang sama hingga dua kali. Habisi, hai Ashim bin Tsabit." Ashim
bin-Tsabit pun menghabisi Abu Azzah Al- Jumahi.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Ubay bin Salul, sebagaimana dituturkan dikatakan kepadaku oleh
Ibnu Syihab Az-Zuhri, mempunyai tempat berpidato di setiap hari Jum'at dan tidak ada yang
melarangnya karena kemuliaan pada diri dan pada kaumnya. Ia orang terhormat di tengah-tengah
kaumnya. jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam duduk dari khutbah Jum'at, Abdullah bin Ubai
bin Salul berdiri dan berkata: "Wahai manusia, inilah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di tengah-
tengah kalian. Dengannya, Allah memuliakan dan memenangkan kalian. Oleh karena itu, tolonglah
dan bantulah dia, dengar dan taatilah." Usai mengatakan itu Abdullah bin Ubai bin Salul duduk. sesudah
melakukan tindakan tidak sepatutnya pada Perang Uhud dan kaum Muslimin pulang dari Perang
Uhud, ia tetap melakukan seperti apa yang dia lakukan sebelumnya. Namun kaum Muslimin
memegang bajunya dari seluruh sisinya dan berkata kepadanya: "Duduklah engkau, hai musuh Allah,
demi Allah, tidaklah pantas bagimu melakukan seperti dulu lagi. Engkau telah berbuat tidak pantas
sebelum ini." Abdullah bin Ubay bin Salul keluar berjalan di tengah-tengah manusia dengan
melangkahi bahu-bahu mereka sambil berkata: "Demi Allah, aku berkata tentang sesuatu yang besar
jika berdiri memperkuat urusannya (Rasulullah). ' Salah seorang dari kaum Anshar yang berpapasan
dengan Abdullah bin Ubay bin
Salul di pintu masjid berkata: "Celakalah engkau, apa yang terjadi pada dirimu?" Abdullah bin Ubay
bin Salul menjawab: "Aku berdiri mendukungnya namun salah seorang sahabatnya melompat ke
arahku, menarikku dan menjelek-jelekkanku, seakan-akan aku akan mengatakan suatu yang
menakutkan padahal itu untuk mendukungnya." Sahabat dari kaum Anshar ini berkata: "Bodoh
sekali kau ini, kembalilah menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan mohonlah padanya
untuk memintakan ampunan dari Allah untuk dirimu!" Abdullah bin Ubay bin Salul berkata: "Demi
Allah, aku tidak membutuhkannya untuk memintakan ampunan kepada Allah buat diriku."
Ibnu Ishaq berkata: Perang Uhud yaitu ujian, pembersihan dan seleksi. Dengan perang ini, Allah Ta
'ala menguji kaum Mukminin dan membongkar topeng orang-orang munafik yang menampakkan
iman dengan lisan namun menyembunyikan kekafiran dalam hatinya. Di samping itu Perang Uhud
yaitu hari di mana di dalamnya Allah Ta'ala memuliakan wali-wali-Nya yang hendak Dia muliakan
dengan gugur sebagai para syuhada' di jalan-Nya.
Ayat-ayat Al-Quran yang Turun tentang Perang Uhud
Ibnu Hisyam berkata: Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai berkata kepadaku dari Muhammad bin Ishaq Al-
Muththallibi yang berkata: "Di antara ayat-ayat yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang
Perang Uhud ialah enam puluh ayat yang ada pada surat Ali Imran. Pada ayat-ayat ini terdapat
penjelasan tentang apa yang terjadi pada kaum muslimin di Perang Uhud dan celaan Allah kepada
orang yang Dia cela di antara mereka.
Allah berfirman kepada Nabi-Nya:
Dan (ingatlah), jika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan
para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui (QS. Ali Imran: 121).
Ibnu Hisyam berkata: tubawwiu al-mu'minin maksudnya yaitu kau membuat tempat duduk dan
tempat tinggal buat mereka. Al-Kumaitu bin Zaid berkata:
Andaikata aku ada sebelum dia Telah aku siapkan tempat berbaringnya
Bait syair ini yaitu miliknya. Sami'un maksudnya Allah mendengar apa yang mereka katakan. Alim
maksudnya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan.
lalu Allah Ta'ala berfirman:
jika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah yaitu Penolong bagi
kedua golongan itu. Karena itu hendaklah karena Allah saja orang-orang mukmin bertawakal (QS. Ali
Imran: 122). Tafsyalaa maksudnya saling berkhianat. Kedua golongan yang disebutkan pada ayat di
atas ialah Bani Salimah bin Jusyam bin Khazraj dan Bani Haritsah bin An-Nabit dari Aus.
Wallahu waliyyuhuma maksudnya Allah menyingkirkan niat tidak ingin menolong dari kedua
kelompok ini . Awalnya, kedua golongan ini berniat tidak memberikan pertolongan kepada
Rasulullah Shallalahu Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Ishaq berkata: Allah Ta'ala berfirman:
karena itu, hendaklah karena Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal (QS. Ali Imran: 122),
maksudnya bila ada di antara kaum Mukminin merasa tak berdaya, hendaklah ia bertawakkal dan
meminta pertolongan kepada Allah, niscaya Allah menolong urusannya dan melindunginya hingga Aku
sampai dengannya, melindunginya, dan memperkuat niatnya. lalu Allah Ta'ala berfirman:
Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu yaitu orang-orang
yang lemah (jika itu). Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (QS. Ali
Imran: 123).
Yakni, bertakwalah kalian kepada-Ku karena takwa yaitu refleksi syukur atas nikmat-Ku. Sungguh
Allah telah menolong kalian di Perang Badar. Dimana saat itu kalian berjumlah sedikit dan kekuatan
kalian sangatlah lemah.
(Ingatlah), jika kamu mengatakan kepada orang mukmin: "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah
membantu kamu dengan tiga ribu malaikatyang diturunkan (dari langit)?" ya (cukup), jika kamu
bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan sejika itujuga, niscaya Allah
menolongkamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda (QS. Ali Imran: 124-125).
Yakni jika kalian bersabar terhadap musuh-Ku, menataati perintah-Ku, lalu mereka datang dari
depan kalian, Aku akan menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang kesemuanya memakai tanda.
Ibnu Hisyam berkata: Musawwimin artinya memakai tanda. Telah dituturkan kepada kami dari Al-
Hasan bin Abu Al-Hasan Al-Bashri yang berkata: Para malaikat membuat tanda pada ekor dan ubun-
ubun kuda mereka dengan kain wol putih. Sedang Ibnu Ishaq berkata bahwa tanda para malaikat di
Perang Badar ialah dengan memakain sorban-sorban putih dan hal ini telah aku uraikan pada
pembahasan Perang Badar.
Sima' artinya: tanda. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran:
Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (QS. al-Fath: 29), yakni tanda-tanda
mereka.
Pada ayat lain Allah berfirman:
Dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi yang diberi tanda
oleh Tuhanmu (QS. Huud: 82- 83), musawwamah: yang ditandai.
Telah sampai kepada saya dari Al-Hasan bin Abil Hasan al-Bashri bahwa sebenarnya dia berkata: Di
atasnya ada tanda dan bahwa sebenarnya batu itu bukan dari bebatuan dunia, batu itu yaitu batu
adzab.
Ru'bah bin al-Ajjaj berkata:
Kini mereka mendapat ujian di atas kuda saat bertemu aku
Mereka tidak bisa menghentikan walaupun memakai tanda
Mata mereka kuyu dan sayu karena terlalu cepat berlari
Ajdzamu (dengan huruf dzal) maknanya bersegera sedangkan jika menggunakan huruf (dal) maka
maknanya yaitu menyerah. Bait ini terdapat dalam syair rajaz-nya. Musawwamah juga bermakna
pilihan (peliharaan/ gembalaan). Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Quran:
Kuda pilihan (QS. Ali Imran: 14),
Yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu (QS. an-Nahl: 10). Orang-orang
Arab berkata: Sawwama khailahu wa ibilahu wa asamahaa: artinya yaitu menggembalakannya. Al-
Kumaitu bin Zaid berkata:
Dia penggembala kambingyang baik, kini kita kehilangan dia
Sedangkan kehilangan penggembala itu sama dengan kehilangan gembalaan
Ibnu Hisyam berkata: musjiya artinya seorang penggembala yang cakap dan baik pada binatang
gembalaannya. Bait ini yaitu miliknya. Allah berfirman:
Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi
(kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah
Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Ali Imran: 126).
Yakni, pasukan dari malaikat-malaikat Allah yang Allah sebutkan tidak lain yaitu kabar gembira bagi
kalian dan agar hati kalian menjadi tenang karenanya, karena Allah mengetahui ketidak berdayaan
kalian dan kemenangan itu berasal dari kekuasaan dan kemampuan Allah. Itu karena keperkasaan dan
kebijaksanaan itu milik Allah dan bukan milik seorang pun dari makhluk Allah.
Lalu, Allah berfirman:
(Allah menolong kamu dalam perang Badar dan memberi bala bantuan itu) untuk membinasakan
segolongan orang-orangyang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali dengan
tiada memperoleh apa-apa. (QS. Ali Imran: 127).
Yakni, agar Allah menghancurkan orang-orang musyrik dengan pembunuhan sebagai pembalasan
Allah terhadap mereka atau mengalahkan mereka dalam keadaan mengenaskan. Artinya, orang yang
masih hidup di antara mereka pulang dalam keadaan gagal tanpa mendapat apa yang selama ini
mereka inginkan.
Ibnu Hisyam berkata: Yakbitahum, yakni menjadikan mereka sedih sesedih sedihnya dan mencegah
mereka untuk mendapat apa yang mereka inginkan.
Dzu Rummah berkata:
Kala aku lupakan derita masa laluku.
Aku tidak akan lupa kebingungan kami
Antara gembira dan kecewa
Yakbitahum juga berarti: melempar mereka dan menjadikan mereka terjembab dengan mukanya.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu, Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam:
Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima tobat mereka,
atau mengadzab mereka, karena sebenarnya mereka itu orang-orang yang zalim (QS. Ali Imran:
128). Yakni engkau tidak memiliki otoritas untuk menentukan apapun atas hamba-hamba Allah.
Kecuali apa yang Allah perintahkan kepadamu mengenai mereka, atau Allah beri ampunan kepada
mereka dengan rahmat Allah. Jika Allah mau maka Allah lakukan. Atau Allah siksa mereka dengan
dosa-dosa mereka sesuai dengan hak-Nya karena sebenarnya mereka itu yaitu orang-orang yang
zalim. Apa yang mereka lakukan sebenarnya telah layak bagi mereka untuk disiksa karena maksiat
mereka kepada-Nya. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yakni mengampuni dosa dan me
nyayangi hamba-hamba-Nya terhadap apa yang mereka lakukan.
lalu Allah Ta 'ala berfirman:
Hai orang-orangyang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipatganda (QS. Ali Imran:
130).
Yakni, janganlah kalian memakan riba saat kalian telah masuk dalam Islam, karena dengannya Allah
memberi petunjuk kalian kepada hal-hal haram yang akan kalian makan jika kalian berada di luar Islam.
lalu Allah berfirman:
Dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian beruntung (QS. Ali Imran: 130).
Yakni, taatilah Allah, semoga kalian selamat dari siksa yang telah diperingatkan Allah kepada kalian
dan kalian mendapat pahala dimana Allah membuat kalian senang kepadanya. sesudah itu, Allah
berfirman:
Dan peliharalah diri kalian dari api neraka yang disediakan untuk orang-orang yang kafir (QS. Ali
Imran: 131), yakni, neraka yang dijadikan sebagai tempat tinggal bagi orang yang kafir terhadap-Ku.
Sesudah itu, Allah berfirman:
Dan taatilah Allah dan Rasul supaya kalian dirahmati (QS. Ali Imran: 132). Ayat ini sebagai suatu celaan
dan kecaman bagi para sahabat yang tidak taat kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika
beliau memerintahkan suatu perkara kepada mereka pada Perang Uhud dan pada peristiwa-peristiwa
lainnya.
Sesudah itu, Allah berfirman:
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit
dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (QS. Ali Imran: 133) maksudnya, surga
ini menjadi tempat tinggal bagi siapa saja yang taat kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.
Sesudah itu, Allah berfirman:
(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapai maupun sempit dan orang-
orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang
yang berbuat kebaikkan. (QS. Ali Imran: 134) yakni, itu semua kebajikan(ihsan) dan Aku mencintai
siapa saja yang melakukannya.
Sesudah itu, Allah Ta'ala berfirman:
Dan (juga) orang-orangyang jika mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri,
mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat
mengampuni dosa selain dibandingkan Allah? Dan mereka tidak menerus- kan perbuatan kejinya itu,
sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran: 135), yakni, jika mereka melakukan perbuatan keji "atau
menzalimi diri mereka sendiri" (QS. Ali Imran: 135) dengan bermaksiat kepada Allah, maka mereka
ingat larangan Allah dari perbuatan ini dan apa saja yang diharamkan-Nya kepada mereka, lalu
mereka meminta ampun kepada-Nya atas segala dosa mereka dan mereka mengetahui bahwa tidak
ada seorangpun yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Allah.
Wa lam yushirruu 'ala maa fa'aluu wa hum ya'lamuun, artinya mereka tidak terus menerus melakukan
maksiat kepada-Ku seperti perbuatan orang yang melampaui batas dalam kekafiran mereka "padahal
mereka mengetahui" (QS. Ali Imran: 135) apa yang Aku haramkan atas mereka dalam hal ibadah
kepada selain Aku.
Sesudah itu Allah berfirman:
Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir
sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang
beramal (QS. Ali Imran: 136) yakni pahala orang-orang yang taat.
sesudah menyebutkan musibah yang menimpa kaum Muslimin dan ujian yang terjadi pada mereka,
saringan terhadap apa yang ada pada mereka penunjukan beberapa orang dari mereka menjadi
syuhada', Allah berfirman menghibur mereka, menjelaskan apa yang mereka kerjakan, dan apa yang
Allah lakukan pada mereka:
sebenarnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka
bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. Ali
Imran: 137).
Yakni, sebelum ini telah terjadi peristiwa-peristiwa hukuman dari Allah kepada orang-orang yang
mendustakan rasul-Nya dan menyekutukan-Nya, seperti kaum Ad, Tsamud, Luth, dan penduduk
Madyan. Sehingga mereka bisa melihat contoh-contoh hukuman yang Allah timpakan pada mereka
dan kepada orang-orang yang sejalan dengan mereka. Allah memberi jangka waktu agar mereka tidak
mengira bahwa hukuman-Nya telah terputus dari musuh kalian dan musuh-Nya. Karena pergantian
yang Allah putar kepada kalian ditujukan agar dengan cara itu Allah mengetes kalian dan mengetahui
apa yang ada pada kalian.
lalu Allah berfirman:
(Al Quran) ini yaitu penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-
orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran: 138), yakni, Al-Qur'an ini sebagai penjelasan bagi manusia jika
mereka mau menerima hidayah. Ia yaitu petunjuk dan pelajaran serta adab bagi orang-orang
bertakwa yaitu orang yang taat kepada-Ku dan tahu perintah-Ku.
Selanjutnya Allah Ta'ala berfirman:
Janganlah kalian bersikap lemah dan jangan lah (pula) kalian bersedih hati (QS. Ali Imran: 139), yakni,
janganlah kalian merasa lemah dan putus harapan karena musibah yang menimpa kalian. lalu
Allah berfirman:
Padahal kalianlah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya). (QS. Ali Imran: 139), artinya
kemenangan dan hasil akhir yang indah itu yaitu milik kalian.
Lalu Allah berfirman:
Jika kalian orang-orang yang beriman (QS. Ali Imran: 139), artinya jika kalian membenarkan nabi-Nya
serta semua apa yang dia bawa dari-Nya.
sesudah nya Allah berfirman:
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sebenarnya kaum (kafir) itu pun (pada perang
Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di
antara manusia (QS. Ali Imran: 140), artinya, Aku putar hari-hari baik dan buruk di antara manusia
untuk proses ujian dan penyaringan.
Pada ayat selanjutnya Allah berfirman:
Dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya
sebagian kalian dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang
zalim (QS. Ali Imran: 140), yakni, agar Allah membedakan antara orang-orang mukmin dengan orang-
orang munafik dan memuliakan orang-orang mukmin dengan menjadikannya sebagai syuhada'. Dan
Allah tidak menyukai orang-orang Zalim (QS. Ali Imran: 140), yakni orang-orang munafik yang
mengumbar ketaatan dengan mulut berbusa sedangkan hati mereka terus-menerus berkubang
dengan dosa.
Allah berfirman:
Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (QS. Ali Imran: 41), artinya Allah mengetes
orang-orang beriman karena ingin menyaring mereka dengan ujian yang ditimpakan pada mereka,
melalui kesabaran dan keyakinan mereka.
sesudah nya, Allah Ta’ala berfirman:
Dan membinasakan orang-orang yang kafir. (QS. Ali Imran: 141). artinya, membatalkan perkataan
orang-orang munafik dengan mulut mereka yang tidak berasal dari hati mereka sehingga terlihat jelas
kekafiran yang selama ini mereka sembunyikan.
Selanjutnya Allah berfirman:
Apakah kalian kira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang
berjihad di antara kalian dan belum nyata orang-orangyang sabar (QS. Ali Imran:142). Artinya, apakah
kalian menyangka akan masuk surga dan mendapat balasan kemuliaan dari Allah, padahal Allah
belum menguji kalian dengan penderitaan dan hal-hal yang tidak mengenakkan sehingga dengan cara
itu Allah menangkap kejujuran kalian dengan beriman kepada-Nya dan bersabar atas apa pun yang
menimpa kalian di jalan-Nya. Kalian pernah mengharapkan mati syahid karena kebenaran yang ada
pada diri kalian sebelum kalian bertemu dengan musuh kalian. Yang dimaksud dengan kalian pada
ayat ini yaitu para sahabat yang meminta Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk keluar
bersama mereka menghadapi musuh karena mereka sebelumnya tidak ikut pada Perang Badar.
Mereka berharap dengan keluar menghadapi musuh, mereka bisa mati syahid yang sebelumnya tidka
mereka dapatkan. Selanjutnya Allah berfirman:
sebenarnya kalian mengharapkan mati sebelum kalian menghadapinya (QS. Ali Imran: 143)
Allah selanjutnya berfirman:
(Sekarang) sungguh kalian telah melihatnya dan kalian menyaksikannya (QS. Ali Imran: 143), artinya,
kalian sekarang saksikan kematian di pedang-pedang lawan kalian, Allah membuat jarak antara kalian
dengan musuh kalian sedang saat itu kalian melihat mereka lalu Allah mencegah mereka dari
kalian.
Selanjutnya Allah berfirman:
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya bebe- rapa orang
rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang
berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah
akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali Imran: 144), yakni apakah karena
adanya perkataan manusia: Muhammad meninggal dunia atau terbunuh, kalian akan keluar dari
agama Islam, menjadi kafir seperti sebelumnya, meninggalkan jihad melawan musuh, meninggalkan
Kitab Allah, dan meninggalkan agama-Nya yang ditinggalkan nabi kalian? Padahal Muhammad telah
menerangkan kepada kalian dalam apa yang ia bawa dari Allah bahwa ia akan meninggal dan
meninggalkan kalian!
"Wa man yanqalib 'ala aqibaihi" (Barang siapa yang berbalik ke belakang) maksudnya murtad dari
agamanya.
"Falan yazhurrahullaha syai'an" (maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit
pun), yakni bahwa keluarnya seseorang dari agama Islam sama sekali tidak akan mengurangi
keperkasaan Allah, kerajaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan kemampuan-Nya.
"Wa sayazjillahusy syakirin" (dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur)
yakni, Allah akan memberi balasan orang-orang yang taat dan melaksanakan perintah-Nya.
Selanjutnya Allah Ta 'ala berfirman: Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin
Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. (QS. Ali Imran: 145), yakni sebenarnya
Muhammad Shallalahu alaihi wa Sallam memiliki ajal ajal yang ia akan sampai pada ajal itu. Jika Allah
Ta'ala telah mengizinkannya pada ajalnya, maka dia akan menjemputnya.
Selanjutnya Allah berfirman:
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah
ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya
pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya
pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang- orang yang bersyukur. (QS. Ali Imran:
145), artinya, jika ada di antara kalian menginginkan dunia dan tidak menginginkan akhirat, maka
Allah berikan rizki yang ditentukan baginya, tidak lebih dari itu, dan ia tidak meraih apapun di akhirat
kelak. Sebaliknya barang siapa mengharapkan pahala akhirat, maka apa yang dijanjikan akan diberikan
kepadanya termasuk rizki di dunia dan itulah balasan bagi orang-orang yang bersyukur, yaitu orang-
orang yang bertakwa.
Selanjutnya Allah berfirman:
Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya)
yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah,
dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.
(QS. Ali Imran: 146). Artinya, berapa banyak nabi yang terbunuh, namun pengikut para nabi ini
tidak menjadi lemah karena kematian Nabi mereka, tidak juga lemah dalam menghadapi musuh dan
tidak menyerah karena musibah di medan jihad karena membela Allah dan agama-Nya. Demikian
kesabaran itu dan Allah menyayangi orang-orang yang bersabar.
Selanjutnya, Allah Ta 'ala berfirman:
Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-
tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan
tolonglah kami terhadap kaum yang kafir (QS. Ali Imran: 147).
Ibnu Hisyam berkata: Kata tunggal dari ribbiyun yaitu ribby. Sedangkan perkataan mereka rubab
diperuntukkan untuk anak-anak Abdu Manat bin Add bin Thaihah bin Ilyas dan Dhabbah karena
mereka berkumpul dan bersekutu. Dari sisi ini maksudnya yaitu kelompok-kelompok. Sedangkan
kata tunggal dari rubab yaitu ribbah dan ribah. Yakni kumpulan tongkat dan anak panah dan
sejenisnya. Maka mereka menyerupakan dengannya.
Abu Dzu’aib al-Hudzali berkata:
Mereka laksana kain pembungkus anak panah
Yang mengalir di atas busur dan merekah
Inilah yaitu bait-bait yang dia karang. Sementara itu Umayyah bin Abi Shalt berkata:
Di sekeliling begundal-begundal mereka ada kerumunan dalam jumlah besar
Yang berbungkus baju-baju besi pelindung berpaku
Ini yaitu bait-bait yang dia tulis.
Ibnu Hisyam berkata: Ar-Ribabah juga bermakna potongan kain yang dengannya anak panah
dibungkus.
Ibnu Hisyam berkata: as-sanur yaitu baju besi, ad-dusur yaitu paku-paku yang ada pada lingkaran.
Allah berfirman:
Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku (QS. al-Qamar: 13).
Seorang penyair yang bernama Abul Akhzar al-Himmani dari Tamim mengatakan dalam sebuah
syairnya:
Dia memaku di ujung tangkal tombak yang tajam
Ibnu Ishaq berkata: Yakni, katakanlah sebagaimana yang mereka katakan. Dan ketahuilah bahwa
semua itu terjadi akibat dari dosa-dosa kalian. Mohonlah ampun sebagaimana halnya mereka
meminta ampun. Lakukan agama kalian sebagaimana yang mereka lakukan. Janganlah kalian murtad
dari agama kalian dengan berbalik arah. Mintalah sebagaimana mereka meminta-Nya untuk
mengokohkan kaki-kaki kalian. Mintalah pertolongan-Nya sebagaimana mereka meminta pertolongan
pada-Nya uniuK memenangkan atas orang-orang kafir. Apa yang mereka katakan telah terjadi, nabi
mereka telah dibunuh namun mereka tidak melakukan sebagaimana yang kalian perbuat. Karena itu
Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia berupa kemenangan atas musuh-musuh mereka,
dan pahala yang baik di akhirat, dari apa yang Allah janjikan di dalamnya. Dan Allah menyukai orang-
orang yang berbuat kebaikan.
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka
mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalujadilah kamu orang-orang yang rugi (QS.
Ali Imran: 149).
Yakni, dunia dan akhirat kalian menjadi sirna. sesudah nya, Allah berfirman:
Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong. (QS. Ali Imran: 150)
yakni, jika apa yang kalian ucapkan dengan mulut kalian itu benar-benar berasal dari hati kalian, maka
berpegang teguhlah kepadanya, janganlah pernah meminta pertolongan kepada selain Allah, dan
jangan murtad dari agama kalian.
Selanjutnya Allah berfirman:
akan Kami masukkan ke dalam hati orang kafir rasa takut (QS. Ali Imran: 151). Yakni Allah tolong
kalian atas musuh-musuh kalian karena mereka menyekutukan-Nya dan Allah tidak memberikan
hujjah buat mereka. Karenanya, janganlah kalian menyangka bahwa kemenangan itu milik mereka dan
bukan milik kalian selagi kalian berpegang teguh kepada-Nya dan mengikuti perintah-Nya. Janganlah
kalian mengira seperti itu karena musibah yang kalian derita dari musuh-musuh kalian karena dosa-
dosa kalian yaitu melanggar perintah-Nya dan tidak mematuhi Nabi-Nya.
Selanjutnya Allah berfirman:
Dan sebenarnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, jika kamu membunuh mereka
dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai
perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada
orangyang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. lalu
Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sebenarnya Allah telah
memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yangberiman.
(QS. Ali Imran: 152) Allah telah menepati janji-Nya kepada kalian dengan memberi kemenangan atas
musuh-musuh kalian pada saat kalian membunuh mereka dengan pedang-pedang kalian dengan izin-
Nya, penguasaan-Nya kepada tangan-tangan kalian terhadap mereka, dan menghalangi tangan
mereka terhadap kalian.
Lalu, Allah mencela kaum muslimin karena lari dari Nabi mereka dan mereka diseru olehnya namun
tidak mendengar seruannya
"(Ingatlah) jika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di
antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu
kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dibandingkan kamu
dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali
Imran: 153).
Yakni, musibah demi musibah yang beruntun dalam bentuk terbunuhnya saudara-saudara kalian,
menangnya musuh atas kalian, dan pengaruh provokasi seseorang kepada kalian bahwa nabi kalian
telah terbunuh. Itulah di antara kesedihan demi kesedihan beruntun yang ditimpakan kepada kalian
"supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dibandingkan kamu" dengan tidak tercapainya
kemenangan atas musuh sesudah kalian melihat kemenangan ini dengan mata kepala kalian "dan
terhadap apa yang menimpa kamu" dari pembunuhan terhadap saudara-saudara kalian itu menimpa
kalian hingga Aku hilangkan musibah dan kesedihan serta kegundahan dari kalian. lalu Allah
cegah dari mereka kedustaan setan bahwa Nabi mereka telah dibunuh. Maka tatkala mereka melihat
Rasulullah masih hidup di antara mereka, terasa ringanlah apa yang menimpa mereka walaupun
mereka menang sebelumnya. Terasa ringan pula musibah yang menimpa saudara-saudara mereka
dengan kehadiran Sang Nabi Mulia
Selanjutnya Allah berfirman:
lalu sesudah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa)
kantukyang meliputi segolongan dibandingkan kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri
mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah.
Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) aaiam urusan imr
Katakanlah: "Sesungguh-nya urusan itu seluruhnya di tangan Allah." Mereka menyembunyikan dalam
hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita
barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan)
di sini." Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan
akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh." Dan Allah (berbuat demikian)
untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu.
Allah Maha mengetahui isi hati. (QS. Ali Imran: 154).
Yakni, Allah menurunkan kantuk sebagai bentuk rasa aman kepada orang-orang beriman dan mereka
pun tidur nyenyak tanpa rasa takut sedikitpun. Sementara orang-orang munafik dibikin gelisah oleh
diri mereka sendiri. Semua itu terjadi karena mereka tidak mengharapkan kemenangan. Oleh sebab
itulah, Allah menyebutkan celaan dan kerugian mereka. sesudah nya, Allah berfirman kepada Nabi-Nya:
Katakanlah: "Sekiranya kalian berada di rumah kalian." (QS. Ali Imran: 154).
Yakni, jika kalian tidak menghadiri perang yang mana di dalamnya Allah membuka rahasia-rahasia
kalian, "niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat
mereka terbunuh" yaitu tempat lain selain tempat ini dimana mereka terbunuh di dalamnya sehingga
dengan cara itu Allah menguji dan membersihkan apa yang ada di dalam dada dan hati kalian yang
selama ini kalian sembunyikan.
"Wallahu a'liimun bidzaatish shuduri" (Allah Mahamengetahui isi hati) yakni, semua yang mereka
rahasiakan terhadap kalian itu semuanya diketahui Allah.
Selanjutnya Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu,
yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka jika mereka mengadakan perjalanan di muka
bumi atau mereka berperang: "Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati
dan tidak dibunuh." Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah
menimbulkan rasa penyesalan yangsangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan
mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran: 156).
Yakni, janganlah kalian menjadi laksana orang-orang munafik yang menahan saudara-saudara mereka
untuk berjihad di jalan Allah dan berjalan di muka bumi-Nya untuk patuh pada-Nya dan Rasul-Nya.
jika saudara-saudara mereka terbunuh, orang-orang munafiq berkata: "Andai kata mereka
mematuhi kami, pastilah mereka tidak tidak terbunuh."
Firman Allah, "Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka," maksudnya,
karena tipisnya keyakinan mereka kepada Tuhan mereka. "Wallahu yuhyii wa yumiitu" (Allah
menghidupkan dan mematikan) artinya, Allah mempercepat dan menunda ajal sesuai kehendak-Nya.
Selanjutnya Allah berfirman:
Sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya
lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan. (QS. Ali Imran: 157)
Yakni, kematian itu tidak mungkin bisa di hindari dan akan tetap terjadi. Maka meninggal di jalan Allah
atau di bunuh di jalan-Nya itu lebih baik jika mereka mengetahui dan meyakininya. Itu lebih baik
dibandingkan dunia sebab dunia itulah yang menyebabkan mereka tidak berangkat jihad karena takut mati
dan terbunuh
Selanjutnya Allah berfirman:
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya
kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu
maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka
dalam urusan itu. lalu jika kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada
Allah. sebenarnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159).
Allah menyebutkan kepada Nabi-nya tentang sifat lembutnya kepada mereka, kesabarannya bergaul
dengan mereka karena kelemahan mereka. Dan minimnya kesabaran mereka atas kekerasan dan
tekanan jika itu dia lakukan kepada mereka terhadap hal-hal dimana mereka selalu menentangnya
atas apa yang diwajibkan atas mereka untuk mentaati Nabi-Nya.
Ampunilah dosa-dosa orang yang melakukan dosa-dosa dari kalangan orang-orang beriman. Dan
bermusyawarahlah, dengan tujuan agar kamu memperlihatkan pada mereka bahwa kamu mendengar
pandangan mereka, dan meminta bantuan mereka walaupun sebenarnya bisa saja kamu tidak
membutuhkan mereka. Ini sebagai usaha pendekatan komunikatif pada agama mereka. lalu
jika kamu telah membulatkan tekad atas satu perkara yang datang padamu dari-Ku dan perkara
dalam agamamu dalam hal berjihad melawan musuhmu dan tidak ada pilihan lagi bagimu dan bagi
mereka maka laksanakan selaras dengan apa yang diperintahkan kepadamu dan janganlah engkau
mengikuti siapa saja yang berbeda pendapat denganmu dan hendaknya kamu berjalan dengan siapa
yang sepakat denganmu. Dan bertawakallah kepada Allah, yakni ridhalah dengan-Nya. sebenarnya
Allah senang terhadap orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.
"Jika Allah menolong kamu, maka tak yaitu orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah
membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong
kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin
bertawakal. (QS. Ali Imran: 160). Yakni agar kalian tidak menyerahkan urusan Allah kepada manusia,
sebaliknya serahkan urusan manusia kepada Allah. Dan hendaknya hanya kepada Allah dan bukan
kepada manusia orang-orang mukmin bertawakkal.
lalu Allah berfirman:
Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang
berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa
yang dikhianatkannya itu; lalu tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia
kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. (QS. Ali Imran: 161).
Yakni, tidak mungkin bagi seorang Nabi menyembunyikan apa yang dia emban dari Allah karena ada
perasaan takut atau cinta pada manusia, karena pada Hari Kiamat nanti ia dibalas sesuai dengan apa
yang telah diperbuatnya di dunia, tanpa ada kezaliman dan melampaui batas.
Apakah orang yang mengikuti keridaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan
(yang besar) dari Allah dan tempatnya yaitu Jahanam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
(QS. Ali Imran: 162).
Yakni apakah orang yang taat kepada Allah yang berbalas surga dan keridhaan dari-Nya, sama dengan
orang yang kembali dengan mendapat kemurkaan dari Allah, dan memang pantas untuk tertimpa
kemurkaan-Nya yang tempat tinggalnya yaitu neraka dan ia yaitu Jahannam dua tempat terburuk,
maka ketahuilah:
(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka
kerjakan. (QS. Ali Imran: 163), setiap orang memiliki derajat di surga atau neraka sesuai dengan apa
yang mereka perbuat: yakni tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya orang-orang yang taat kepada-Nya
dan orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya.
lalu Allah berfirman:
Sungguh Allah telah memberi karuuia kepada orang-orang yang beriman jika Allah mengutus di
antara mereka seorang rasul darigolongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-
ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah.
Dan sebenarnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka yaitu benar-benar dalam kesesatan yang
nyata. (QS. Ali Imran: 164)
Yakni sungguh Allah telah menganugerahi karunia kalian dengan keutamaan wahai orang-orang
beriman, tatkala Dia mengutus seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri yang membacakan kepada
kalian ayat-ayat-Nya yang kalian bicarakan dan yang kalian kerjakan. Lalu dia menerangkan kebaikan
dan keburukan kepada kalian agar kalian mengenal kebaikan ini lalu melaksanakan dan
mengenal keburukan ini lalu menjaga diri darinya. Rasul itu juga menerangkan kepada kalian
tentang keridhaan Allah kepada kalian jika kalian mentaati-Nya lalu kalian memperbanyak
ketaatan kepada-Nya dan menjauhi maksiat yang Dia murkai sehingga dengan demikian, kalian
terlepas dari hukuman-Nya dan memperoleh pahala berupa surga. Padahal sebelumnya kalian buta
dan tidak tahu tentang kebaikan, tidak meminta ampunan atas kejahatan yang dilakukan; tuli atas
kebaikan, bisu atas kebenaran, dan buta dengan pengarahan yang baik.
lalu Allah memaparkan musibah yang menimpa kaum muslimin dengan firman-Nya:
Dan mengapa ketikd kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah
menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu
berkata: "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri."
sebenarnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran: 165).
Yakni, jika kalian ditimpa musibah dengan tewasnya sahabat-sahabat kalian karena dosa-dosa
kalian, karena sebelum itu kalian telah menimpakan musibah berlipat terhadap musuh kalian:
pembunuhan dan penawanan di Perang Badar. Kalian lupa akan pelanggaran kalian terhadap apa yang
diperintahkan Rasul kepada kalian, karena kalian lebih suka mengikuti kehendak diri kalian sendiri.
Dan sebenarnya Allah MahaKuasa atas semua yang Dia kehendaki untuk menimpakan hukuman
atau mengampuni hamba-hamba-Nya.
Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu yaitu
dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orangyang beriman. (QS. Ali Imran:
166).
Yakni, kekalahan yang kalian alami saat berperangan dengan musuh itu yaitu atas izin Allah.
Kekalahan itu terjadi karena kalian tidak mentaati perintah Rasul sesudah pertolongan Allah
mendatangi kalian dan sesudah Allah tepati janji-Nya. Ini semua Allah lakukan untuk membedakan
mana orang-orang beriman dan mana orang-orang munafik. sesudah itu Allah berfirman:
Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafiq (QS. Ali Imran: 167), agar Allah
tampakkan apa yang ada pada diri orang-orang yang munafik itu.
lalu Allah berfirman:
Kepada mereka dikatakan: "Marilah ber- perang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)." Mereka
berkata: "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu." (QS.
Ali Imran: 167). Orang-orang munafik yang dimaksud dalam ayat itu ini yaitu Abdullah bin Ubay bin
Salul dan kroni-kroninya yang berbalik pulang meninggalkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
jika beliau keluar untuk menghadapi musuh-musuhnya kaum musyrikin pada perang Uhud. Orang-
orang munafik itu berkata: "Andaikata kami tahu bahwa kalian akan diperangi pasti kami akan
berangkat bersama kalian dan kami membela kalian, namun kami






