Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 26


 tidak memprediksi perang bakal 

terjadi." Lalu Allah tampakkan apa yang selama ini mereka sembunyikan dalam diri mereka dalam 

firman-Nya berikut: 

 

Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dibandingkan  keimanan. Mereka mengatakan dengan 

mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka 

sembunyikan. (QS. Ali Imran: 167). 

Yakni, orang-orang munafik berpura-pura beriman di tengah kalian padahal sebenarnya keimanan 

yang mereka perlihatkan itu sama sekali tidak ada di hati mereka. 

sesudah  itu, Allah Ta'ala berfirman: 

 

Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya (QS. Ali Imran: 168). 

Yang dimaksud dengan saudara-saudaranya dalam ayat tadi yaitu  keluarga orang munafik dan kaum 

mereka yang mendapat  musibah bersama kalian. 

 

Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh." Katakanlah: "Tolaklah kematian 

itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar. " (QS. Ali Imran: 168). 

Kematian itu pastilah terjadi. Maka jika  kalian mampu menyingkirkan mereka, lakukanlah karena 

mereka bersikap munafik dan tidak suka berjihad di jalan Allah karena menginginkan keabadian di 

dunia dan menghindar dari maut. 

lalu  Allah berfiman kepada Nabi-Nya Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk menyeru orang-orang 

beriman berjihad dan menganggap enteng terbunuh di medan laga. 

Allah berfirman: 

 

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu 

hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia 

Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang 

masih tinggal di belakangyang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap 

mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS. Ali Imran: 169-170), janganlah kalian menyangka 

bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Mereka Allah hidupkan dan diberi rizki di 

sisi-Nya di surga yang elok dan mempesona. Mereka riang gembira dengan karunia yang dilimpahkan 

kepada mereka karena jihad mereka di jalan-Nya dan memberi kabar gembira kepada orang-orang 

yang masih hidup. Artinya, mereka senang karena saudara-saudara mereka yang berjihad seperti 

mereka itu bisa menyusul mereka sehingga bisa bersama-sama dapat memperoleh pahala Allah yang 

diberikan kepada mereka. Allah mengikis ketakutan dan kesedihan dari diri mereka. 

 

Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak 

menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman (QS. Ali Imran: 171). Tatkala mereka menyaksikan 

janji yang ditepati dan agungnya pahala. 

Ibnu Ishaq berkata: Ismail bin Umaiyyah berkata kepadaku dari Abu Zubair dari Ibnu Abbas yang 

berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Tatkala saudara-saudara kalian 

syahid di Perang Uhud, Allah meletakkan ruh mereka di rongga burung yang berwarna hijau. Burung 

ini  terbang ke sungai-sungai surga, memakan buah-buahannva, dan bersarang di lampu-lampu 

dari emas di bawah naungan Arasy. Tatkala mereka merasakan lezatnya minuman, makanan, dan 

tempat tinggal maka mereka berkata: 'Andaikata saudara-saudaraku mengetahui apa yang diperbuat 

Allah terhadap kami, pastilah mereka tidak meninggalkan jihad dan tidak berpaling mundur di kala 

perang.' Allah Taala berfirman: Aku akan sampaikan hal ini kepada mereka atas nama kalian.' 

lalu , Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya ayat 169 surat Ali Imran."123 

Ibnu Ishaq berkata: Al-Harits bin Al- Fudhail berkata dari Mahmud bin Labid Al-Anshari dari Ibnu Abbas 

yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salllam bersabda: "Para syuhada' berada di atas 

sungai yang berkilap di pintu surga pada sebuah kubah hijau. Rizki mereka dari surga datang pada 

kepada mereka setiap pagi dan senja hari.124 

Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan kredibiltasnya berkata kepadaku dari Abdullah bin 

Mas'ud yang pernah ditanya tentang ayat-ayat berikut: "Janganlah kalian kira bahwa orang-orang 

yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki." 

(QS. al-Baqarah: 169). 

Abdullah bin Mas'ud menjawab: Akupun pernah menanyakan pertanyaan ini lalu  diberi jawaban 

demikian: bahwa tatkala saudara-saudara kalian terbunuh di Perang Uhud, Allah meletakkan ruh 

mereka di rongga burung berwarna hijau. Burung ini  datang ke sungai-sungai surga, memakan 

buah-buahannya, dan bersarang di lampu-lampu dari emas di bawah naungan Arasy. lalu  Allah 

Azza wa Jalla menampakkan diri kepada mereka sesaat dan berfirman, 

"Wahai hamba-hamba-Ku, apa yang ingin kalian ada keinginan lain lagi untuk Aku kabulkan kepada 

kalian?' Mereka menjawab, "Wahai Tuhan kami, tidak ada lagi yang lebih baik bagi kami dibandingkan  

surga yang telah Engkau karuniakan kepada kami. Kami menikmati apa saja yang kami sukai di 

dalamnya.' Allah menampakkan diri kepada mereka dan berfirman, 'Wahai hamba-hamba-Ku, apa 

ada lagi permintaan lain yang ingin kalian minta dari-Ku?' Mereka menjawab: 'Wahai Tuhan kami, 

bagi kami tidak ada lagi yang lebih baik dibandingkan  surga yang telah Engkau karuniakan kepada kami. 

Kami menikmati apa saja yang kami sukai di dalamnya.' lalu  Allah menampakkan diri kembali 

kepada mereka dan berfirman, 'Wahai hamba-hamba-Ku, apa lagi yang ingin kalian minta dari-Ku?' 

Mereka menjawab: 'Wahai Tuhan kami, bagi kami tidak ada lagi yang lebih baik dibandingkan  surga yang 

telah Engkau karuniakan kepada kami. Kami menikmati apa saja yang kami sukai di dalamnya. Hanya 

satu keinginan kami agar ruh kami dikembalikan pada jasad-jasad kami di dunia agar kami bisa sekali 

lagi berjuang di jalan-Mu dan mati syahid di jalan-Mu.'125 

 

Ibnu Ishaq berkata: Sebagian sahabat- sahabatku berkata kepadaku dari Abdullah bin Muhammad bin 

Aqil yang berkata: Aku mendengar Jabir Abdullah berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam bersabda, "Apa kau ingin mendengar kabar gembira wahai Jabir?' Aku menjawab, "Tentu saja 

aku mau wahai Rasulullah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "sebenarnya  ayahmu 

yang gugur di Uhud dihidupkan Allah Azza wa Jalla lalu  Dia berfirman kepadanya: "Hai Abdullah 

bin Amr, apa yang engkau inginkan untuk Aku lakukan untuk mu?" Ayahmu menjawab, "Tuhanku, aku 

ingin kembali lagi ke dunia agar bisa berjuang di jalan-Mu lalu  terbunuh sekali lagi.”126 

Ibnu Ishaq mengatakan, bahwa Amr bin Ubaid berkata dari Al-Hasan yang berkata bahwa Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, setiap Mukmin yang meninggal dunia lalu ingin 

kembali ke dunia sesaat saja lalu diberikan padanya dunia serta isinya hanyalah orangyang mati 

syahid. Ia ingin dikembalikan ke dunia untuk berperang di jalan Allah dan mati syahid sekali lagi."127 

 

Ibnu lshaq berkata: lalu  Allah berfirman: 

(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka. (QS. 

Ali Imran: 172). 

Yang dimaksud dengan yaitu  orang-orang beriman pada ayat di atas yaitu  mereka yang keluar 

bersama Rasulullah Shallallahu Alaih wai Sallam ke Hamraul Asad sehari sesudah  Perang Uhud 

walaupun mereka sedang dalam sakit karena luka yang mereka derita. lalu  Allah berfirman: 

 

orangyang berbuat kebaikan di ahtara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (Yaitu) 

orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: 

"sebenarnya  manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah 

kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: 

"Cukuplah Allah menjadi Penolongkami dan Allah yaitu  sebaik-baik Pelindung. " (QS. Ali Imran: 172-

173). 

Orang-orang yang mengatakan perkataan di atas kepada kaum Muslimin yaitu  beberapa orang dari 

kabilah Abdul Qais yang pernah mendengar Abu Sufyan bin Harb mendiskusikan sesuatu kepada 

mereka. lalu  mereka berkata: "sebenarnya  Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya akan 

kembali lagi kepada kalian." lalu  Allah berfirman: 

 

"Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat 

bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar (QS. 

Ali Imran: 174) Allah mempunyai karunia yang besar jika  menjadikan kaum muslimin tidak 

berpapasan dengan musuh mereka. 

sesudah  itu, Allah berfirman: 

 

sebenarnya  mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-

kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi 

takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 175). 

Selanjutnya Allah Ta'ala berfirman: 

 

Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir (QS. Ali Imran: 176). 

Maksud dari orang-orang yang sebentar lagi akan menjadi kafir pada ayat di atas yaitu  orang-orang 

munafik. 

Selanjutnya Allah Ta'ala berfirman: 

 

sebenarnya  mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun. Allah 

berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan 

bagi mereka adzab yang besar. sebenarnya  orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, 

sekali-kali mereka tidak akan dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun; dan bagi mereka 

adzab yang pedih. Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh 

Kami kepada mereka yaitu  lebih baik bagi mereka. sebenarnya  Kami memberi tangguh kepada 

mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka adzab yang 

menghinakan. Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan 

kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan 

Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib, yakni apa yang Allah 

akan ujikan kepada kalian agar kalian senantiasa siaga terhadap apa yang akan masuk pada kalian, 

akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Yakni 

memberitahukan tentanghal itu, karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika 

kamu beriman dan bertakwa, yakni kembali kepada Allah dan bertobat, maka bagimu pahala yang 

besar. (QS. Ali Imran: 176-179). 

 

 

Kalangan Muhajirin dan Anshar yang Menjadi Syuhada 

 

Ibnu Ishaq berkata: Syuhada' Perang Uhud dari kalangan Muhajirin Quraisy dan Bani Hasyim bin Abdu 

Manaf ialah Hamzah bin Abdul Muthalib bi Hasyim Radhiyallahu Anhu yang syahid dibunuh Wahsyi, 

budak Jubair bin Muth'im. 

Dari Bani Umaiyyah bin Abdu Syams ialah Abdullah bin Jahsy. Ia sekutu Bani Umaiyyah bin Abdu Syams 

dari Bani Asad bin Khuzaimah. 

Dari Bani Abduddar bin Qushay ialah Mush'ab bin Umair. Ia dibunuh oleh Ibnu Qami'ah Al-Laitsi. 

Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah ialah Syammas bin Utsman. 

Jumlah syuhada' Perang Uhud dari kalangan Muhajirin yaitu  empat orang 

Sedangkan Syuhada' Perang Uhud dari kaum Anshar yang dari Bani Abdul Ayshal yaitu : Amr bin 

Muadz bin Ah-Nu'man, Al-Harits bin Anas bin Rafi'. Umarah bin Ziyad bin As-Sakan. 

Ibnu Hisyam berkata: As-Sakan yaitu  anak Rafi' bin Umru'ul Qais. Ada pula yang mengatakan As-

Sakn(tanpa fathah). 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  Salamah bin Tsabit bin Waqasy, Amr bin Tsabit bin Waqasy, dua orang. 

Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah bercerita kepadaku bahwa ayah Salamah bin Tsabit 

bin Waqasy dan Amr binTsabit bin Waqasy yang bernama Tsabit juga mati syahid pada Perang Uhud, 

Rifa'ah bin Waqasy, Husail bin Jabir yang tidak lain yaitu  Al-Yaman ayah dari Abu Hudzaifah. Ia (tanpa 

sengaja) dibunuh kaum Muslimin sendiri karena mereka tidak tahu bahwa dia yaitu  Husail lalu  

Hudzaifah bin Al-Yaman bersedekah dengan diyatnya kepada kaum Muslimin yang membunuh 

ayahnya, Shaifi bin Qaidzi, Habab bin Qaidhi, Abbad bin Sahl, Al-Harits bin Aus bin Muadz. 

Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Abdul Asyhal yaitu  dua belas orang. 

Sementara itu jumlah syuhada' dari kalangan Ratij yaitu  sebagai berikut: Iyas bin Aus bin Atik bin 

Amr bin Abdul A'lam bin Zaura bin Jusyam Abdul Asyhal, Abid bin At-Tayyahan. Ibnu Hisyam berkata: 

Ada yang berpendapat dia yaitu  Atik bin At-Tayyahan, lalu yang terakhir yaitu  Habib bin Yazid bin 

Taim. 

Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Ratij yaitu  tiga orang. 

Dari Bani Dzafar hanya satu orang, yaitu Yazid bin Hathib bin Umaiyyah bin Rafi'. 

Dari Bani Amr bin Auf, yakni dari Bani Dzubai'ah bin Zaid yaitu : Abu Sufyan bin Al-Harits bin Qais bin 

Zaid, Hanzhalah bin Abu Amir bin Shaifi bin Nu'man bin Malik bin Amah. Ia dimandikan para malaikat 

dan dihabisi oleh Syaddad bin Al-Aswad bin Syaub Al-Laitsi. 

Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Amr bin Auf, lebih tepatnya dari Dzubai'ah bin Zaid yaitu  

dua orang. 

Bani Abid bin Zaid hanya satu orang, Unais bin Qatadah. 

Bani Tsa'labah bin Amr bin Auf yaitu  sebagai berikut: Abu Habbah, saudara seibu Sa'ad bin 

Khaitsamah. Ibnu Hisyam berkata: Abu Habbah yaitu  Ibnu Amr bin Tsabit, Abdullah bin Jubair bin 

An-Nu'man. Dialah komandan pasukan pemanah. 

Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Tsa'labah bin Amr bin Auf yaitu  dua orang. 

Dari Bani As-Salm bin Umru'ul Qais bin bin Al-Aus hanya satu orang, yaitu Khaitsamah Abu Sa'ad bin 

Khaitsamah 

Dari sekutu-sekutu Bani As-Salm dari Bani Al-Ajlan hanya satu orang, yaitu Abdullah bin Salimah. 

Dari Bani Muawiyah bin Malik hanya satu orang, yaitu Subay'i bin Hathib bin Al-Harits bin Qais bin 

Haisyah. Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan ia bernama Suwaibiq bin Al-Harits bin Hathib 

bin Haisyah. 

Dari Bani An-Najjar tepatnya dari Bani Sawad Malik bin Ghanm yaitu : Amr bin Qais. Ibnu Hisyam 

berkata: Amr yaitu  anak Qais bin Zaid bin Sawad, dan anaknya Qais bin Amr, Tsabit bin Amr bin Zaid, 

Amir bin Makhlad. 

Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani An-Najjar tepatnya dari Bani Sawad bin Malik bin Ghanm 

yaitu  empat orang. 

Dari Bani Mabdzul yaitu : Abu Habirah bin Al-Harits bin Alqamah bin Amr bin Tsaqf bin Malik bin 

Mabdzul, Amr bin Mutharrif bin Alqamah bin Amr. 

Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Mabdzul yaitu  dua orang. 

Dari Bani Amr bin Malik hanya satu orang, yaitu Aus bin Tsabit bin Al-Mundzir Ibnu Hisyam berkata: 

Aus bin Tsabit yaitu  saudara Hassan bin Tsabit. 

Dari Bani Adi bin An-Najjar hanya satu orang, Anas bin An-Nadhr bin Dhamdham bin Zaid bin Haram 

bin Jundab bin Amr bin Ghanm bin Adi bin An-Najjar. Ibnu Hisyam berkata: Anas bin An-Nadhr yaitu  

paman Anas bin Malik, pembantu Rasulullah Shal- lallahu 'Alaihi Sallam. 

Dari Bani Mazin bin An'Najjar yaitu : Qais bin Mukhallad, Kabsan budak Bani Mazin bin An-Najjar. 

Jadi syuhada' Perang Uhud dari Bani Mazin bin An-Najjar ada dua orang. 

Dari Bani Dinar bin An-Najjar yaitu : Sulaim bin Al-Harits, Nu'man bin Abdu Amr. 

Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Dinar bin An-Najjr yaitu  dua orang 

Dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj yaitu : Kharijah bin Zaid bin Abu Zuhair,. Sa'ad bin Ar-Rabi' bin Amr 

bin Abu Zuhair. Kharijah bin Zaid dan Sa'ad bin Ar-Rabi' dimakamkan di satu kuburan, Aus bin Al-Arqam 

bin Zaid bin Qais bin Nu'man bin Malik bin Tsa'labah bin Ka'ab. 

Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj ada tiga orang. 

Dari Bani Al-Abjur yang merupakan anak- anak keturunan Khudrah yaitu : Malik bin Sinan bin Ubaid 

bin Tsa'labah bin Ubaid bin Al-Abjur. Malik bin Sinan tidak lain yaitu  Abu Sa'id Al-Khudri. Ibnu Hisyam 

berkata: Nama Abu Sa'id Al-Khudri yaitu  Sinan. Ada juga yang mengatakan Sa'ad, Sa'id bin Suwaid 

bin Qais bin Amir bin Abbad bin Al-Abjur, Utbah bin Rabi' bin Rafi' bin Muawiyah bin Ubaid bin 

Tsa'labah bin Ubaid bin Al-Abjur. 

Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Al-Abjur yaitu  tiga orang. 

Dari Bani Saidah bin Ka'ab bin Al-Khaz- raj yaitu : Tsa'labah bin Sa'ad bin Malik bin Khalid bin Tsa'labah 

bin Haritsah bi Amr bin Al-Khazraj bin Saidah, Saqf bin Farwah bin Al-Badi. 

Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Saidah bin Ka'ab bin Al-Kharaj yaitu  dua orang. 

Dari Bani Auf bin Al-Khazraj lalu  dari Bani Salim lalu  dari Bani Malik bin Al-Ajlan bin Zaid 

bin Ghanm bin Salim yaitu : 

Naufal bin Abdullah, Abbas bin Ubadah bin Nadhlah bin Malik bin Al-Ajlan, An-Nu'man bin Tsa'labah 

bin Fihr bin Ghanm bin Salim, Al-Mujadzdzir bin Dziyad sekutu mereka dari Baly, Ubadah bin Al-Hashas. 

An-Nu'man bin Malik, Al-Mujadzdzir, dan Ubadah dimakamkan di satu liang lahat. 

Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Malik bin Al-Ajlan bin Zaid bin Ghanm bin Salim yaitu  lima 

orang. 

Dari Bani Al-Hubla hanya satu orang, yaitu Rifa'ah bin Amr. 

Dari Bani Salimah lalu  dari Bani Haram yaitu : Abdullah bin Amr bin Haram bin Tsa'labah bin 

Haram, Amr bin Al-Jamuh bin Zaid bin Haram. Abdullah bin Amr dan Amr bin Al-Jamuh dimakamkan 

di satu lang lahat, Khallad bin Amr bin Al-Jamuh bin Zaid bin Haram, Abu Aiman mantan budak Amr 

bin Al-Jamuh. 

Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Haram yaitu  empat orang. 

Syuhada' Perang Uhud dari Bani Sawad bin Ghanm yaitu : Sulaim bin Amr bin Hadidah. Mantan budak 

Sulaim bin Amr bin Hadidah yang bernama Antarah, Sahl bin Qais bin Abu Ka'ab bin Alqain. 

Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Sawad bin Ghanm yaitu  tiga orang. 

Syuhada' Perang Uhud dari Bani Zuraiq bin Amir yaitu : Dzakwan bin Abdu Qais, Ubaid bin Al-Mualla 

bin Laudzan. Ibnu Hisyam berkata:Ubaid yaitu  anak Al-Mualla dari Bani Habib. 

Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Zuraiq bin Amir yaitu  dua orang. 

Ibnu Ishaq berkata: Jumlah sahabat yang syahid di Perang Uhud dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar 

yaitu  enam puluh lima orang. 

Sementara itu Ibnu Hisyam berkata: Di antara tujuh puluh syuhada yang tidak dise- butkan Ibnu Ishaq 

dan kami sebutkan dari kalangan Aus lalu  dari Bani Muawiyah bin Malik yaitu  Malik bin 

Tumailah sekutu mereka dari Muzainah. 

Dari Bani Khatmah -nama Khatmah ialah Abdullah bin Jusyam bin Malik bin Al-Aus, yaitu  Al-Harits 

bin Adi bin Kharasyah bin Umaiyyah bin Amir bin Khathamah. 

Dari Khazraj lalu  dari Bani Sawad bin Malik yaitu  Malik bin Iyas. 

Dari Bani Amr bin Malik bin An-Najjar yaitu  Ilyas bin Adi. 

Dari Bani Salim bin Auf yaitu  Amr bin Iyas. 

 

 

Korban Tewas Kaum Musyrikin di Perang Uhud 

 

Ibnu Ishaq berkata: Korban tewas kaum musyrikin di Perang Uhud dari Quraisy lalu  dari Bani 

Abduddar bin Qushay dari para pemegang panji perang yaitu  sebagai berikut: Thalhah bin Abu 

Thalhah. Abu Thalhah bernama asli Abdullah bin Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddar. Ia tewas di 

tangan Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu, Abu Sa'ad bin Abu Thalhah. Ia tewas di tangan Sa'ad bin 

Abu Waqqash. Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan bahwa ia tewas di tangan Ali bin Abu 

Thalib. 

Ibnu Ishaq berkata: Juga Utsman bin Abu Thalhah. Ia tewas di tangan Hamzah bin Abdul Muthalib 

Radhiyallahu Anhu, Musafi: bin Thalhah, Al-Julas bin Thalhah. MusafT dan Al-Julas dibunuh Ashim bin 

Tsabit bin Abu Al-Aqlah Radhiyallahu Anhu, Kilab bin Thalhah, Al-Harits bin Thalhah. Kilab dan Thalhah 

tewas di tangan Quzman sekutu Bani Dzafar. Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan bahwa 

Kilab tewas di tangan Abdurrahman bin Auf. 

Ibnu Ishaq berkata: Artha'ah bin Abdu Syurahbil bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar tewas di 

tangan Hamzah bin Abdul Muthalib Radhiyallahu Anhu, Abu Yazid bin Umair bin Hasyim bin Abdu 

Manaf bin Abduddar tewas di tangan Quzman,Shu'ab bu- daknya yang berasal dari Habasyah. Ia tewas 

di tangan Quzman. 

Ibnu Hisyam berkkata: Ada yang menyebutkan bahwa Shu'ab tewas di tangan Hamzah bin Abdul 

Muthalib. Ada juga yang mengatakan bahwa ia tewas di tangan Sa'ad bin Abu Waqqash. Ada lagi yang 

mengatakan bahwa ia tewas di tangan Abu Dujanah. 

Ibnu Ishaq berkata: Al-Qasith bin Syuraih bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar tewas di tangan 

Quzman. 

Dengan demikian korban kaum musyrikin di Perang Uhud dari Bani Abduddar bin Qushai berjumlah 

sebelas orang. 

Dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushai hanya seorang, yaitu Abdullah bin Hamid bin Zuhair bin AI-

Harits bin Asad. Ia tewas di tangan Ali bin Abu Thalib. 

Dari Bani Zuhrah bin Kilab yaitu  sebagai berikut: Abu Al-Hakam bin Al-Akhnas bin Syariq bin Amr bin 

Wahb Ats-Tsaqafi sekutu mereka. Ia tewas dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib, lalu  Siba' bin Abdul 

Uzza. Abdul Uzza bernama asli Amr bin Nadhlah bin Ghubsyan bin Sulaim bin Malkan bin Afsha. Siba' 

yaitu  sekutu mereka dari Khuza'ah. Ia tewas di tangan Hamzah bin Abdul Muthalib. 

Korban tewas kaum musyrikin pada Perang Uhud dari Bani Zuhrah bin Kilab berjumlah dua orang. 

Korban tewas kaum musyrikin di Perang Uhud dari Bani Makhzum bin Yaqadzah yaitu  sebagai 

berikut: Hisyam bin Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah. Ia tewas di tangan Quzman, Al-Walid bin Al-Ash 

bin Hisyam bin Al-Mughirah juga tewas di tangan Quzman, Abu Umaiyyah bin Abu Hudzaifah bin Al-

Mughirah. Tewas di tangan Ali bin Abu Thalib, Khalid bin Al-Alam sekutu mereka. Ia tewas di tangan 

Quzman. 

Korban tewas kaum musyrikin di Perang Uhud dari Bani Makhzum bin Yaqadzah berjumlah empat 

orang. 

Korban tewas kaum musyrikin pada Perang Uhud dari Bani Jumah bin Amr yaitu  sebagai berikut: 

Amr bin Abdullah bin Umair bin Wahab bin Hudzafah bin Jumah. Dialah Abu Azzah dan tewas di tangan 

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam dalam keadaan terikat, Ubay bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah 

bin Jumah. Ia tewas di tangan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Korban tewas kaum musyrikin di Perang Uhud dari Bani Jumah bin Amr berjumlah dua orang. 

Ibnu Ishaq berkata: Korban tewas orang- orang musyrikin yang dibunuh Allah Tabaraka wa Ta'ala pada 

Perang Uhud berjumlah dua puluh dua orang. 

 

Tragedi Ar-Raji' Tahun Ketiga Hijriyah 

Telah menuturkan kepada kami Abdul Malik bin Hisyam dia berkata: Telah menuturkan kepada kami 

Ziyad bin Abdullah al-Bakkai dari Muhammad bin Ishaq al-Muththalabi dia berkata: telah mengatakan 

pada saya Ashim bin Umar bin Qatadah berkata: Seusai Perang Uhud, utusan dari Adhal dan Al-Qarah 

da tang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ibnu Hisyam berkata: Adhal dan Al-Qarah 

berasal dari anak keturunan Al-Haun bin Khuzaimah bin Mudrikah. Mereka berkata kepada Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Rasulullah, sebenarnya  di kalangan kami ada orang-orang yang 

telah masuk Islam, oleh sebab itu, sudi kiranya Anda mengirimkan beberapa orang sahabatmu yang 

akan mengajarkan agama, membaca Al-Qur'an, dan mengajarkan syariat Islam kepada kami." 

Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim enam orang sahabat yang menyertai 

kepulangan utusan Adhal dan Al-Qarah. Keenam sahabat ini  yaitu  sebagai berikut: 

Martsad bin Abu Martsad Al-Ghanawi sekutu Hamzah bin Abu Muthalib. Khalid bin Al-Bukair Al-Laitsi 

sekutu Bani Adi bin Ka'ab, Ashim bin Tsabit bin Abu Al-Aqlah saudara Bani Amr bin Auf bin Malik bin 

Al-Aus, Khubaib bin Adi saudara Bani Jahjahi bin Kulfah bin Amr bin Auf, Zaid bin Ad-Datsinah bin 

Muawiyah saudara Bani Bayadhah bin Amr bin Zuraiq bin Abdu Haritsah bin Malik bin Ghadzbu bin 

Jusyam bin Al Khazraj, Abdullah bin Thariq sekutu Bani Dzafar bin Al-Khazraj bin Amr bin Malik bin Al-

Aus. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk Martsad bin Abu Martsad sebagai pemimpin 

rombongan keenam orang sahabatnya tadi. 

Maka keenam sahabat Nabi itu berangkat menyertai utusan Adhal dan Al-Qarah. jika  sampai di Ar-

Raji', sebuah nama mata air Hudzail dari arah Hijaz, di depan Al-Had'ah, tiba-tiba utusan Adhal dan Al-

Qarah mengkhianati keenam sahabat tadi dan berteriak meminta bantuan kepada orang-orang 

Hudzail. Utusan Adhal dan Al-Qarah berkata 

kepada keenam sahabat ini : "Demi Allah, kami tidak hendak membunuh kalian, kami hanya ingin 

mendapat  sesuatu dari orang-orang Quraisy dengan menahan kalian. Kalian berhak atas janji Allah 

bahwa kami tidak akan membunuh kalian. Martsad bin Abu Martsad, Khalid bin Al-Bukair, dan Ashim 

bin Tsabit berkata: "Demi Allah, kami tidak menerima janji atau kesepakatan dari orang musyrik untuk 

selama-lamanya." 

Ibnu lshaq berkata: Julukan Ashim bin Tsabit yaitu  Abu Sulaiman. Ia melawan orang-orang Hudzail 

hingga terbunuh beserta dua orang sahabat setianya. jika  Ashim bin Tsabit terbunuh, orang-orang 

Hudzail hendak mengambil kepalanya untuk dijual kepada Sulafah binti Sa'ad bin Syahid. Sebelumnya, 

Sulafah binti Sa'ad bin Syahid bernazar sesudah kedua anaknya tewas di Perang Uhud, bahwa jika  

bisa memungut kepala Ashim bin Tsabit ia pasti menyiramkan minuman keras ke tulang tengkoraknya. 

Namun keinginannya ini dihalau lebah-lebah yang berkerumun. Lebah-lebah itu menghalau orang-

orang Hudzail hingga tidak mampu mendekat kepada Ashim bin Tsabit. Mereka berkata: "Biarkan 

lebah-lebah ini  hingga petang hari. Kalau mereka sudah pergi, kita ambil jenazahnya." Namun 

Allah Ta'ala mengirim banjir besar yang lalu  membawa pergi jenazah Ashim. Sebelumnya Ashim 

bin Tsabit bersumpah kepada Allah bahwa ia tidak akan pernah mau disentuh oleh tangan orang 

musyrik dan ia tidak menyentuhnya selama-lamanya karena orang musyrik najis. 

Adapun Zaid bin Ad-Datsinah, Khubaib bin Adi dan Abdullah bin Thariq, mereka putus asa dan 

menyerahkan diri lalu  dijadikan tawanan oleh orang-orang HudzaiL sesudah  itu, orang-orang 

Hudzail membawi ketiganya ke Makkah dan menjualnya di sana. Kala mereka tiba di Dahran, tiba-tiba 

Abdullah bin Thariq berontak lalu  mengambil pedang. Orang-orang Hudzail tak tinggal diam 

mereka menghantamnya dengan batu hingga ia meninggal dunia. Dengan demikian kuburan Abdullah 

bin Thariq kini berada di Dahran. Sedang Khubaib bin Adi dan Zaid bin At-Datsinah, tetap dibawa oleh 

Hudzail ke kota Makkah. 

Ibnu Hisyam berkata: Orang-orang Hudzail menawarkan Khubaib bin Adi dan Zaid bin Ad-Datsinah 

kepada orang-orang Quraisy agar ditukar dengan dua tawanan orang-orang Hudzail di Makkah. 

Ibnu Ishaq berkata: Khubaib bin Adi di beli Abu Ihab At Tamimi sekutu Bani Naufal dari Utbah bin Al-

Harits bin Amir bin Naufal. Abu Ihab yaitu  saudara seibu dari Al-Harits bin Amir. Ia sengaja membeli 

Khubaib bin Adi untuk dibunuh sebagai balas dendam atas kematian ayahnya. 

Ibnu Hisyam berkata: Al-Harits bin Amir yaitu  paman Abu Ihab (saudara ibunya) dan Abu Ihab berasal 

dari Bani Usaid bin Amr bin Tamim. Ada yang menyebutkan bahwa Abu Ihab berasal dari Bani Udas 

bin Zaid bin Abdullah bin Darim dari Bani Tamim. 

Ibnu Ishaq berkata: Zaid bin Ad-Datsinah dibeli Shafwan bin Umayyah untuk dihabisi sebagai balas 

dendam atas kematian ayahnya, Umayyah bin Khalaf. 

Shafwan bin Umayyah mengutus budaknya. Nisthas, membawa Zaid bin Ad-Datsinah ke At-Tan'im 

bersama dengan orang-orang Quraisy. Zaid Ad-Datsinah dibunuh oleh Nisthas. 

Sementara Khubaib bin Adi Radhiyallahu Anhu, Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku bahwa ia 

diberitahu Mawiyyah mantan budak wanita Hujair bin Abu Lahab yang saat itu telah masuk Islam dan 

berkisah: 

Khubaib bin Adi ditawan di rumahku. buatu hari, aku mengintip dan mendapatinya ia sedang 

memegang setandan anggur dan memakannya sebagiannya, padahal sepanjang yang aku tahu di 

tempat ini tidak ada anggur yang bisa dimakan (pada saat itu)." 

Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata: Orang-orang Quraisy menyeret Khubaib bin 

Adi ke luar Makkah hingga tatkala mereka tiba di At-Tan'im dan bermaksud menyalibnya, ia berkata 

kepada mereka: "Bisakah aku shalat dua raka'at ter- lebih dahulu sebelum menghabisiku?" Mereka 

berkata: "Silahkan." Khubaib bin Adi menger- jakan shalat dua raka'at dengan sempurna dan baik. 

sesudah  itu, ia menemui mereka dan berkata: "Demi Allah andaikata kalian tidak akan mengira aku 

takut mati dengan mengulur waktu shalatku, niscaya aku mengulurnya." 

Ashim bin Umar bin Qatadah berkata: Khubaib bin Adi yaitu  muslim pertama kali yang melakukan 

shalat sunnah dua raka'at bagi kaum Muslimin jika  hendak dibunuh. 

Ashim bin Umar bin Qatadah berkata lebih lanjut: Maka orang-orang Quraisy mengangkat Khubaib bin 

Adi ke atas kayu. jika  mereka telah mengikatnya, ia berkata: "Ya Allah, sebenarnya  risalah Nabi-

Mu telah kami sampaikan, maka sampaikan pada beliau apa yang mereka perbuat terhadapku esok 

hari. Ya Allah, pastikan jumlah mereka, musnahkanlah mereka secara terpisah, dan jangan biarkan 

satu orang pun dari mereka lolos." 

Ibnu Ishaq berkata: Wahyu-wahyu yang turun tentang peristiwa Ar Raji seperti dikatakan kepadaku 

oleh eks budak keluarga Zaid bin bin Tsabit dari Ikrimah eks budak Ibnu Abbas atau dari Sa'id bin Jubair 

dari Ibnu Abbas yang berkata: jika  utusan menuju Ar-Raji' yang di dalamnya ada Martsad dan Ashim 

ditimpa musibah, orang-orang munafik bergumam: "Alangkah celakanya orang-orang yang ter- bunuh 

itu. Andaikata mereka berdiam diri di tengah keluarganya." lalu  turunlah ayat tentang ucapan 

orang-orang munafik ini  dan kebaikan yang diperoleh sahabat-sahabat Rasulullah atas semua 

musibah yang mereka alami. Allah Ta'ala berfirman: 

 

Dan di antara manusia ada orangyang ucapannya tentang kehidupan dunia mearik hatimu. (QS. al-

Baqarah: 204), yakni orang-orang yang secara lisan menyatakan keislamannya. 

 

Dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya (QS. al-Baqarah: 204) yang 

bertentangan dengan apa yang mereka ucapkan. 

 

Padahal ia yaitu  penantang yang paling keras (QS. al-Baqarah: 204). 

Yakni, ia selalu mendebat jika mengkritikmu saat berbicara denganmu. 

Ibnu Hisyam berkata: Al-aladdu artinya yaitu  kebencian yang memuncak. Sedangkan jamaknya 

yaitu  ludd. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: 

 

Dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang (QS. Maryam: 97). 

Al-Muhalhal bin Rabi'ah al-Taghlibi yang bernama asli yaitu  Imruul Qais ada pula yang menyebutkan 

namanya yaitu  Adi bin Rabi'ah: 

sebenarnya  di bawah batu-batu itu ada yang keras dan yang lunak 

Ada pembantah yang lebih keras yang tiada sanggup berbicara pada musuhnya 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ini yaitu  syair miliknya. 

Al-Thirimmmah bin Hakim Al-Thai berkata menyifati bunglon: 

Dia melihat di atas pokok akar dengan angkuh 

Laksana seorang yang mampu mengalahkan musuh dalam debatnya 

 

Ini yaitu  syair miliknya. 

Ibnu Ishaq berkata: Allah berfirman: 

 

Dan jika  ia berpaling (dari kamu) (QS. al-Baqarah: 205). Yakni keluar dari sisimu dia berjalan di 

muka bumi 

 

'Untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak dan Allah 

tidak menyukai kebinasaan (QS. al-Baqarah: 205), Yakni, Allah tidak menyukai dan tidak meridhai amal 

perbuatannya. 

Selanjutnya Allah berfirman, 

 

Dan jika  dikatakan kepadanya, "Bertakwalah kepada Allah," bangkitlah kesombongannya yang 

menyebabkannya berbuat dosa, maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam dan sungguh neraka 

Jabannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. Dan di antara manusia ada orang yang 

mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-

hamba-Nya (QS. al-Baqarah: 206-207). Maknanya yaitu  mereka menjual nyawa mereka kepada 

Allah dengan berjihad di jalan-Nya hingga mereka tewas terbunuh. Mereka yaitu  utusan Rasulullah 

ke Ar-Raji' 

Ibnu Hisyam berkata: Yasyri nafsahu yakni menjual dirinya, syaraw maknanya yaitu  menjual (ba'uu). 

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy yang berkumpul dan berteriak-teriak membuat keributan di 

dekat Khubaib bin Adi sesudah  meninggal dunia ialah Ikrimah bin Abu Jahal, Said bin Abdullah bin Abu 

Qais bin Abdu Wudd, AI-Akhnas bin Syariq Ats-Tsaqafi sekutu Bani Zuhrah, Ubaidah bin Hakim bin 

Haritsah bin Al-Auqash As Sulami sekutu Bani Umaiyyah bin Abdu Syams, Umaiyyah bin Abu Utbah, 

dan Bani Al-Hadhrami. 

Ibnu Ishaq berkata: Hassan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu juga mencemooh orang-orang Hudzail atas 

tindakan mereka terhadap Khubaib bin Adi Radhiyallahu Anhu. 

Ibnu Hisyam berkata: Zuhair bin Al-Aghar dan Jami' yaitu  dua orang dari kabi- lah Hudzail yang 

menjual Khubaib bin Adi Radhiyallahu Anhu. 

 

Tragedi Bi'ru Ma'unah Bulan Shafar Tahun Keempat Hijriyah 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tinggal di Madinah dan tidak keluar selama 

sisa hari bulan Syawal, Dzulqadah dan Dzulhijjah dan Muharram. 

Pada saat itu urusan haji di Makkah diurusi oleh kaum musyrikin. sesudah  itu beliau mengirim para 

sahabat pelaku tragedi Bi'ru Maunah di bulan Shafar tepatnya di awal empat bulan pasca Perang 

Uhud. 

Ibnu Ishaq berkata: Tentang tragedi Bi'ru Maunah sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Abu Ishaq 

bin Yasar dari Al-Mughirah bin Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam dan Abdullah bin Abu Bakr bin 

Muhammad Bin amr bin Hazm dan ulama-ulama lainnya dimana semuanya mengatakan bahwa Abu 

Bara' bin Amir bin Malik bin Ja'far seorang ahli tombak datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam di Madinah. Nabi menawarkan Islam kepadanya dan mendakwahinya tapi ia menolak 

masuk Islam namun ia tetap mendukung Islam. Abu Bara' berkata: "Wahai Muhammad, tidak 

mengapa bila engkau mengirim beberapa orang sahabatmu kepada penduduk Najed, untuk 

berdakwah sebab aku berharap bisa mereka memenuhi seruanmu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam bersabda: "Aku khawatir kalau sewaktu-waktu penduduk Najed melakukan tindakan jahat 

pada sahabat-sahabatku." Abu Bara' berkata: "Aku akan menjadi orang yang memberi perlindungan 

buat mereka. Maka utuslah mereka menyampaikan risalahmu kepada orang-orang di sana." 

Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim Al-Mundzir bin Amr saudara Bani Saidah, 

seorang yang bersegera menjemput syahidnya (Al-Mu'niq Liyamut) bersama empat puluh orang 

sahabat-sahabatnya yang merupakan orang-orang pilihan dan terbaik dari kaum Muslimin. Di antara 

mereka yaitu  Al-Harits bin Ash-Shimmah, Haram bin Milhan saudara Bani Adi bin An-Najjar, Urwah 

bin Asma' bin Ash-Shalt As-Sulami, Nafi' bin Budail bin Warqa' AI-Khuzai, Amir bin Fuhairah mantan 

budak Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan sahabat-sahabat terpilih lainnya. 

Para utusan ini  berjalan hingga tiba di Bi'ru Maunah yang terletak berada di antara tanah hitam 

berbatu Bani Amir dengan tanah hitam berbatu Bani Sulaim. Kedua lokasi ini  hampir 

berhimpitan, namun Bi'ru Maunah lebih dekat dengan lokasi tanah Bani Sulaim. 

Tatkala utusasn Rasulullah tiba di Bi'ru Maunah, mereka mengutus Haram bin Milhan mengantarkan 

surat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada musuh Allah, Amir bin Ath-Thufail. jika  Hararn 

bin Milhan tiba, Amir bin Ath-Thufail tidak membuka surat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, 

sebaliknya ia malah membunuhnya. Amir bin Ath-Thufail memprovokasi kaumnya, menyerang para 

utusan ini , namun mereka menolak seruannya. Mereka berkata: "Kami tidak akan pernah 

menghinati perjanjian Abu Bara'. "Sebelum itu Abu Bara' telah membuat perjanjian untuk melindungi 

utusan Rasulullah. Namun Amir bin Ath-Thufail tidak menyerah, lalu  ia terus memprovokasi 

kabilah-kabilah Bani Sulaim seperti Ushaiyyah, Ri'l, dan Dzakawan untuk menyerang para utusan 

ini  dan ternyata merekapun menyambutnya lalu terjadilah perang antara mereka hingga 

mereka semua terbunuh kecuali Ka'ab bin Zaid saudara Bani Dinar bin An-Najjar, karena kabilah-

kabilah ini  membiarkannya dalam keadaan antara hidup dan mati. Ka'ab bin Zaid mengalami 

luka berat hingga berada di antara hidup dan mati di antara para korban. Dia pun hidup selamat dan 

baru gugur sebagai syahid pada Perang Khandaq. Semoga Allah merahmatinya. 

Di tengah kaum itu ada Amr bin Umaiyyah Adh-Dhamri dan salah seorang dari kaum Anshar dari Bani 

Amr bin Auf. 

Ibnu Hisyam berkata: Orang dari kaum Anshar ini  yaitu  Al-Mundzir bin Muhammad bin Uqbah 

bin Uhaihah bin Al-Julah. 

Tidak ada yang memberi tahu keduanya tentang tragedi yang menimpa sahabat-sahabatnya kecuali 

burung yang terbang di atas barak. Kedua sahabat Rasulullah itu berkata: "Demi Allah, burung ini pasti 

membawa berita penting." Keduanya berjalan menuju lokasi untuk melihat apa sebenarnya  yang 

sedang terjadi. jika  mereka melihat delegasi qari' bersimbah darah sementara kuda mereka berdiri, 

maka sahabat dari kaum Anshar berkata kepada Amr bin Umaiyyah: "Bagaimana pandanganmu?" Amr 

bin Umaiyyah berkata: "Aku memandang sebaiknya kita segera menghadap Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam dan kita jelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Sahabat Anshar berkata: "Sedangkan 

aku sangat gembira dengan tempat tewasnya Al-Mundzir bin Amr dan apa yang menimpaku diriku 

nanti pasti akan diberitahukan orang-orang. "sesudah  berkata demikian, sahabat Anshar berperang 

melawan kabilah-kabilah di atas hingga terbunuh dan mereka menawan Amr bin Umaiyyah. jika  

Amr bin Umaiyyah mengatakan kepada mereka bahwa dirinya berasal dari Mudhar, Amir bin Ath- 

Thufail melepaskannya dan mencukur rambut di ubun-ubunnya, dan membebaskannya dengan 

membayar budak wanita yang diklaimnya milik ibunya. 

Lalu, Amr bin Umaiyyah berjalan. Saat dia tiba di Al-Qarqarah di depan Qunat, datanglah dua orang 

dari Bani Amir. 

Ibnu Hisyam berkata: lalu  dari Bani Kilab. Abu Amr Al-Madani menyebutkan bahwa keduanya 

berasal dari Bani Sulaim. 

Kedua orang ini  mampir di tempat Amr bin Umaiyyah dan berteduh di bawah sebuah pohon. 

Orang-orang Bani Amir terikat perjanjian kesepakatan bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

yang tidak diketahui Amr bin Umaiyyah. jika  keduanya berhenti di tempat bernaungnya Amr bin 

Umaiyyah, maka Amr bin Umaiyyah bertanya kepada keduanya: "Dari mana asal kalian berdua?" 

Keduanya menjawab: "Kami berasal dari Bani Amir.' Amr bin Umaiyyah menunggu beberapa waktu 

dan jika  keduanya telah tertidur, ia menghabisi mereka berdua. Ia beranggapan bahwa dengan cara 

ini, ia telah membalas dendam atas orang- orang Bani Amir karena mereka sebelum ini membantai 

sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Tatkala Amr bin Umaiyyah tiba di tempat 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan menjelaskan apa yang dialaminya, beliau bersabda: 

"Sungguh engkau telah membunuh dua orang dan aku akan memberi diyat(tebusan) kepada keluarga 

mereka berdua." Beliau bersabda lagi: "Ini semua terjadi gara-gara Abu Bara' dimana itu semua tidak 

aku sukai dan aku khawatirkan sebelumnya." 

Saat sabda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ini  sampai ke telinga Abu Bara' ia marah besar 

kepada Amir bin Ath-Thufail atas tindakan brutalnya karena meremehkan perjanjiannya dengan 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan tragedi memilukan yang dialami sahabat-sahabat 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam itu terjadi karena ulah dan perlindunganya. Di antara yang 

terbunuh pada tragedi tragis ini yaitu  Amir bin Fuhairah. 

Ibrnu Ishaq berkata: Lalu Rabi'ah bin Amir bin Malik mencari Amir bin Ath-Thufail dan menikamnya 

dengan tombak di pahanya. Dia tidak berhasil membunuhnya namun dia terpelanting dari kudanya. 

Amir bin Ath-Thufail berkata: "Ini semua karena ulah Abu Bara'. Jika aku mati, darahku milik pamanku 

dan Abu Bara' tidak boleh diikuti. Namun jika aku masih hidup, akan aku tampakkan sikapku terhadap 

perlakuan yang dilakukan terhadapku." 

Ibnu Ishaq berkata: Anas bin Abbas As-Sulami, paman Thu'aimah bin Adi bin Naufal dari jalur ibunya, 

yang Pada Tragedi Bi'ru Maunah, Thu'aimah bin Adi bin Naufal membunuh Nafi' bin Budail bin Warqa 

Al-Khuzai. Tentang kematian Nafi' bin Budail bin Warqa' Al-Khuzai, Anas bin Abbas As-Sulami berkata: 

Kubiarkan anak Warqa Al-Khuzai tergeletak tewas 

Di perang di sebuah jalan sempit yang dimana angin menghamburkan badai berdebu Ku teringat Abu 

Ar-Rayyan saat kulihat dia Aku yakin dendamku telah lunas terbayar 

Abu Ar-Rayyan yaitu  Thu'aimah bin Adi. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu berkata menangisi Nafi' bin Budail bin 

Warqa': 

Semoga Allah melimpahkan rahmatnya pada Nafi' bin Budail 

Dengan rahmat pencari pahala orang berjihad 

la soosk yang sabar, jujur, dan memenuhi janji 

Tatkala manusia mengepungnya, ia berucap dengan ucapan yang benar 

 

Ibnu Ishaq berkata: Hassan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu berkata menangisi para korban Bi'ru 

Maunah, terutama Al-Mundzir bin Amr Rahimahullah: 

Ingatlah korban-korban Maunah, hendaklah kalian semua menangis  

Dengan air mata yang tercurah tiada henti  

Ingatlah pasukan berkuda Rasul di pagi hari  

Yang bertemu dan ditemui kematian dengan takdir mereka 

Mereka ditimpa kematian karena kesepakatan suatu kaum 

Yang lalu  tali perjanjian itu dikhianati dengan pengkhianatan 

Alangkah sedihnya aku atas kematian  

Al-Mundzir jika  ia berjalan berpaling  

Dan berlari kepada kematian dengan sabar Ia dibunuh di suatu pagi  

Seorang bangsawan terhormat dan mulia keturunan Amr 

 

 

Pengepungan dan Pengusiran Bani An-Nadhir Tahun Keempat Hijriyah 

 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar menuju Bani An-Nadhir untuk 

meminta bantuan diyat bagi dua korban dari Bani Amir yang dihabisi Amr bin Umaiyyah Adh-Dhamri 

karena jaminan perlindungan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada keduanya seperti 

dikatakan kepadaku oleh Yazid bin Ruman. Bani An-Nadhir dan Bani Amir terdapat persekutuan dan 

perjanjian. Kala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai di tempat Bani An-Nadhir, mereka 

berkata: "Wahai Abu Al-Qasim kami akan berusaha membantumu." 

Ibnu Ishaq berkata: Lalu orang-orang Bani An-Nadhir berkumpul. 

Tiba-tiba Amr bin Jahasy naik ke atas rumah untuk menjatuhkan batu ke atas kepala Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam. jika  itu Rasulullah ditemani Abu Bakar, Umar bin Khaththab, dan Ali bin 

Abu Thalib. Namun saat itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menerima wahyu dari langit tentang 

apa yang akan dilakukan orang-orang Bani An-Nadhir. Oleh karenanya, Rasulullah segera beranjak dan 

pulang ke Madinah. Rasulullah menjelaskan kepada para sahabat rencana makar orang-orang Yahudi 

untuk membunuh dirinya pada mereka. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu memerintahkan 

para sahabat untuk bersiap-siap untuk memerangi orang-orang An-Nadhir. 

Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengamanahi Ibnu Ummi Maktum 

sebagai imam sementara di Madinah selama Rasulullah berada di Bani An-Nadhir. Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi bersama sahabat dan beristirahat bersama mereka. Peristiwa terjadi 

pada bulan Rabiul Awwal. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengepung orang-orang Bani An- 

Nadhir selama enam hari saat itulah turunlah ayat pengharaman khamar. 

Kala pasukan Rasulullah menyerang maka orang-orang Bani An-Nadhir melindungi diri mereka di 

kastil-kastil mereka. Allah lalu menurunkan rasa takut ke dalam hati orang-orang Bani An-Nadhir, 

lalu  mereka meminta Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melindungi darah mereka jika  

mereka akan keluar dari kastil mereka dengan syarat mereka berhak atas harta mereka yang bisa 

diangkut oleh unta mereka kecuali seluruh peralatan perang. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

memenuhi permintaan mereka. sesudah  mengambil harta kekayaan mereka masing-masing yang bisa 

diangkut unta. Mereka pergi ke Khaybar ada pula di antaranya yang pergi ke kawasan Syam. Pemimpin 

mereka yang pergi ke Khaybar yaitu  Sallam bin Abu Al-Huqaiq, Kinanah bin Ar-Rabi bin Abu al Huqaiq, 

dan Huyay bin Akhthab. jika  mereka tiba di Khaybar, penduduknya berpihak kepada mereka. 

Ibnu Ishaq berkata: tidak ada yang masuk Islam dari Bani An-Nadhir kecuali dua orang, yaitu Yamin 

bin Umar Abu Ka'ab bin Amr bin Jahasy dan Abu Sa'ad bin Wahb. Keduanya masuk Islam karena sayang 

pada hartanya. 

Tentang Bani An-Nadhir ini, turunlah surat Al-Hasyr secara keseluruhan. Di dalamnya disebutkan 

hukuman yang ditimpakan Allah kepada mereka, kemenangan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

atas mereka, dan apa yang diperbuat Sang Nabi terhadap mereka. Allah Ta'ala berfirman: 

 

Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka 

pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan 

mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari 

(siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka 

sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan 

rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka 

ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. (QS. 

al-Hasyr: 2) 

itu karena mereka merusak rumah mereka dari depan pintu rumah jika  hendak mengangkut 

barang-barangnya. Allah berfirman, 

 

Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. 

Dan jika tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka benar-benar Allah 

mengadzab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat adzab neraka. (QS. al-Hasyr: 2-3) 

Mereka pantas dan berhak mendapat  hukuman dari Allah. lalu  Allah berfirman: 

Benar-benar Allah mengadzab mereka di du nia. Dengan pedang. Dan bagi mereka di akhirat adzab 

neraka. (QS. al-Hasyr: 3). Namun demikian Allah Ta'ala berfirman: 

 

Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan 

(tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) yaitu  dengan izin Allah; dan karena Dia hendak 

memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. (QS. al-Hasyr: 5) 

lalu  Allah Ta'ala berfirman: Maka (semua itu) yaitu  dengan izin Allah; dan karena Dia hendak 

memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. (QS. al-Hasyr: 5). 

Yakni, dengan perintah Allah engkau tebang pohon kurma itu. Jadi penebangan pohon kurma itu tidak 

merusak, namun hukuman dari Allah kepada mereka. 

Ibnu Hisyam berkata: Liinah dari alwan bukan dari barniyah bukan pula kurma al-'ajwah sebagaimana 

dituturkan oleh Abu Ubaidah. Dzu Rammah berkata: 

Seakan pelana kuda di atasnya ada sarang burung 

Di atas kurma yang pokoknya kuat dan ujung-ujungnya bergerak 

 

Bait syair ini yaitu  miliknya. 

Lalu Allah Ta'ala berfirman: 

 

Dan apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) mereka 

(QS. al-Hasyr: 6) Ibnu Ishaq berkata bahwa yang dimaksud mereka pada ayat ini  yaitu  Bani an-

Nadhir. lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

 

Maka untuk mendapat  itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta 

pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-

Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Hasyr: 6). 

Ibnu Hisyam berkata: Awjaftum menggerakkanmu dan melelahkanmu dalam perjalanan. Tamim bin 

Ubay bin Muqbil salah seorang Bani Amir bin Sha'sha'ah berkata: 

Pelindungpedangyang baru gagangnya sering 

membuat pejalan kaki 

merasa keberatan untuk membawanya 

 

Ini yaitu  syair miliknya, yakni wajif (lari). 

Abu Zaid al-Thai yang namanya yaitu  Harmalah mengatakan dalam syairnya: 

Tali pinggangnya terikat kuat laksana tombak India 

Karena panjangan perjalanan yang yang di tempuh para gembala 

 

lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

 

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk 

kota-kota maka yaitu  untuk Allah, Rasul (QS. al-Hasyr: 7) 

Ibnu Ishaq berkata: Maksud ayat ini  ialah bahwa apa yang dikuasai kaum Muslimin dengan kuda, 

kendaraan, dan perang, semua itu yaitu  milik Allah dan Rasul-Nya. lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

 

Itu semua milik Allah dan Rasul-Nya, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-

orang yang dalam perjalanan, supaya harta itujangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja 

di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya 

bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. sebenarnya  Allah sangat keras 

hukuman-Nya. (QS. al-Hasyr: 7) 

Pembagian ini yaitu  pembagian bentuk lain bagi kaum muslimin dari apa yang di dapatkan dengan 

perang sesuai dengan apa yang Allah tentukan. 

lalu  Allah berfirman: 

 

Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang munafik (QS. al-Hasyr: 11), yang di maksud dengan 

orang-orang munafiq pada ayat ini yaitu  Abdullah bin Ubay bin salul dan orang-orang yang seirama 

dengannya. 

lalu  Allah berfirman: 

 

Yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli Kitab (QS. al-Hasyr: 11). Yang 

dimaksud dengan ahli Kitab di atas ialah Bani an-Nadhir. 

lalu  Allah berfirman: 

 

(Mereka yaitu ) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat 

buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih(QS. al-Hasyr: 15) 

Yang dimaksud yaitu  Bani Qainuqa'. lalu  kisah tentang pengusiran Bani An-Nadhir di dalam Al-

Qur'an ditutup dengan ayat: 

 

(Bujukan orang-orang munafik itu yaitu ) seperti (bujukan) setan jika  dia berkata kepada manusia: 

"Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: "sebenarnya  aku berlepas diri dari 

kamu karena sebenarnya  aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam." Maka yaitu  kesudahan 

keduanya, bahwa sebenarnya  keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. 

Demikianlah balasan orang-orang yangzalim (QS. al-Hasyr: 16-17) 

 

Perang Dzatu ar-Riqa' Tahun Ke empat Hijriyah 

Ibnu Ishaq berkata: Usai Perang Bani An-Nadhir, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tinggal di 

Madinah selama bulan Rabiul Akhir dan sebagian Jumadil Ula. sesudah  itu, beliau berangkat ke Najed 

untuk berperang menghadapi Bani Muharib dan Bani Tsa'labah dari Ghathafan. Rasulullah 

mengamanahi Abu Dzar Al-Ghifari menjadi imam untuk sementara waktu di Madinah 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menceritakan bahwa Rasulullah mengamanahi Utsman bin Affan 

menjadi imam sementara waktu di Madinah. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan hingga tiba di Nakhl dan di tempat inilah Perang Dzatu 

Ar-Riqa' terjadi. 

Ibnu Hisyam berkata: Perang ini disebut Perang Dzatu Ar-Riqa', karena kaum Muslimin menjahit dan 

memperbaiki panji-panji perangnya di sana. Ada pula yang menyebutkan bahwa ia disebut Perang 

Dzatu Ar-Riqa, karena Dzatu Ar-Riqa' yaitu  nama pohon di kawasan ini . 

Di Dzatu Ar-Riqa', Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menghadapi pasukan Ghathafan dalam 

jumlah yang sangat besar. Namun perang tidak berkobar di antara mereka, karena masing-masing 

pihak sama-sama khawatir kepada pihak lain hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam 

mengerjakan Shalat Khauf bersama para sahabat. 

Ibnu Hisyam berkata: Abdul Warits bin Said At-Tannuri, yang nama aslinya Abu Ubaidah berkata 

kepadaku bahwa Yunus bin Ubaid berkata padaku dari Al-Hasan bin Abu Al-Hasan dari Jabir bin 

Abdullah yang berkata tentang Shalat Khauf: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melaksanakan 

Shalat Khauf dua raka'at bersama dua kelompok dengan cara bergiliran. Pertama beliau shalat dengan 

kelompok pertama lalu salam lalu  kelompok yang tadinya menghadap musuh datang lalu 

Rasulullah mengimamai lagi shalat dua raka'at yang lain bersama mereka lalu salam.128 

 

Ibnu Hisyam berkata: Abdul Warits bin Sa'id At-Tannuri berkata kepadku bahwa Ayyub berkata 

kepadanya dari Nafi' dari Ibnu Umar yang berkata: Imam melangsungkan shalat bersama shaf pertama 

yang berdiri bersamanya sedang shaf kedua menghadap musuh, lalu  imam ruku' dan sujud di 

ikuti shaf pertama, lalu  mereka ber- gerak mundur ke belakang dan mengganti shaf yang tadi 

menghadap musuh, lalu  shaf kedua maju ke depan, lalu imam ruku' bersama mereka satu 

raka'at dan sujud bersama mereka, lalu  masing-masing shaf shalat satu raka'at sendiri-sendiri. 

Jadi masing-masing shaf shalat satu raka'at bersama imam dan mereka shalat satu raka'at secara 

sendirian. 

Ibnu Ishaq berkata: Amr bin Ubaid berkata kepadaku dari Al-Hasan dari Jabir bin Abdullah bahwa salah 

seorang dari Bani Muharib yang bernama Ghaurats berkata kepada kaumnya yaitu Ghathafan dan 

Muharib: Apa kalian mau Muhammad aku bunuh demi kalian?' Kaumnya menjawab: "Ya, namun 

bagaimana engkau bisa membunuhnya?" Ghaurats berkata: "Aku akan menjebaknya." lalu  

Ghaurats pergi menghadap Rasulullah yang jika  itu duduk, sedangkan pedang beliau berada di 

pangkuannya. Ghaurats berkata: "Wahai Muhammad, boleh aku lihat pedangmu ini." Rasulullah 

menjawab, "Ya, silahkan saja." Pedang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ini  berhiaskan 

perak, sebagaimana disebutkan Ibnu Hisyam. Ghaurats lalu menghunusnya dari sarungnya. lalu  

ia memain-mainkannya dan bermaksud membunuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam namun 

Allah menggagalkan usahanya. Ia berkata: "Wahai Muhammad, apa kau takut padaku?" Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tentu saja sama sekali tidak, apa yang harus aku takutkan 

darimu?" 

Ghaurats berkata: "Apakah engkau tidak takut padaku padahal di tanganku ada sebilah pedang?" 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku tidak takut, karena Allah selalu melindungiku." 

Ghauratspun berjalan dan mengembalikan pedang itu kepada Sang Nabi. Maka sesudah  itu Allah 

menurunkan ayat berikut: 

 

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di 

waktu seseorang bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), 

maka Allah menahan tangannya dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah 

sajalah orang- orang mukmin itu harus bertawakal. (QS. al-Maidah: 11) 

Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ruman berkata kepadaku bahwa ayat di atas diturunkan perihal Amr bin 

Jahasy dari Bani An-Nadhir dan yang ia rencanakan. Wallahu a 'lam mana yang lebih benar di antara 

kedua riwayat itu. 

Ibnu Ishaq berkata: Wahb bin Kisan berkata kepadaku dari Jabir bin Abdullah yang berkata: "Aku keluar 

bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ke Perang Dzatu Ar-Riqa' di Nakhl dengan menaiki 

unta yang lemah. jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pulang dari Perang Dzatu Ar-Riqa', 

rombongan pasukan berjalan tanpa hambatan, sementara aku tersisih di belakang Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyusulku. Beliau bersabda: "Apa yang terjadi, wahai Jabir? Aku 

menjawab: "Wahai Rasulullah, untaku berjalan sangat pelan." Beliau bersabda: "Perintahkan dia 

membungkuk." Aku membungkukkan untaku sedangkan beliau juga mendudukkan untanya. sesudah  

itu, Rasulullah bersabda: "Berikan tongkatmu itu kepadaku." Atau beliau bersabda: "Ambilkan buatku 

tongkat dari sebatang pohon!" Maka akupun melaksanakan permintaan Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam dan beliaupun mengambil tongkat yang dimintanya. Rasulullah memukul lambung untaku 

beberapa kali lalu  bersabda kepadaku: "Naikilah untamu!" Aku segera menaikinya. Demi Dzat 

yang mengutus beliau dengan membawa kebenaran, untaku mampu mendahului unta Rasulullah. Aku 

berbincang dengannya, lalu  beliau berkata: "Wahai Jabir apakah boleh aku membeli untamu 

ini?'"Aku menjawab: "Tidak wahai Rasulullah, tapi aku bermaksud memberikannya kepadamu sebagai 

hibah." Beliau bersabda: "Juallah untamu ini kepadaku!" Aku berkata: "Wahai Rasulullah tetapkanlah 

harga untuk untaku ini!" Beliau bersabda: "Cukup satu dirham." Aku berkata: "Tidak Rasulullah, 

dengan harga seperti itu, engkau merugikanku." Beliau bersabda: "Bagaimana kalau begitu dua 

dirham!" Aku berkata: "Aku tidak mau dengan itu, wahai Rasulullah." Beliau terus menaikkan 

penawaran harga unta hingga mencapai satu uqiyah. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, jika demikian, 

maka kini untaku ini menjadi milikmu." Beliau bersabda: "Kalau demikian, aku ambil untamu." sesudah  

itu Rasulullah bersabda: "Wahai Jabir, apakah engkau sudah menikah?" Aku menjawab: "Sudah, wahai 

Rasulullah." Beliau bersabda: "Dengan seorang janda atau seorang gadis?" Aku menjawab: "Dengan 

janda." Beliau bersabda: "Mengapa engkau tidak menikah dengan seorang gadis sehingga engkau bisa 

bergurau ria dengannya dan ia bergurau ria denganmu?" Aku menjawab: "Wahai Rasulullah, 

sebenarnya  ayahku gugur di Perang Uhud dan meninggalkan tujuh anak perempuan, karenanya aku 

menikahi seorang wanita sempurna yang bisa meneduhi kepala ketujuh anak perempuan ini  dan 

mengasuh mereka." Beliau bersabda: "Engkau benar, insya Allah." Tatkala kita sudah tiba di Shirar aku 

perintahkan orang-orang untuk menyiapkan unta untuk disembelih lalu  kita adakan jamuan 

daging unta pada hari ini  hingga istrimu mendengarnya lalu  ia melepaskan bantal 

kecilnya?" Aku berkata: "Wahai Rasulullah, kami tidak memiliki bantal kecil." Beliau bersabda: "Dia 

akan ada bersamamu. Oleh karenanya, jika  engkau telah sampai di sana, lakukanlah sebuah 

perbuatan yang pintar. 

Tatkala sampai di Shirar, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menginstruksikan orang-orang untuk 

segera menyembelih unta dan kita pun mengadakan pesta makan di hari itu. Pada sore harinya, beliau 

masuk ke rumah dan kamipun masuk ke rumahku. Maka aku pun menceritakan peristiwa kepada 

isteriku ini dan apa yang dikatakan kepadaku oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada 

istriku. Istriku berkata: "Ya, karena aku mendengar dan taat kepada Rasulullah." Esok paginya, aku 

pegang kepala unta, menuntun dan mendudukkannya di pintu masjid Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam lalu  aku duduk di dekat masjid. jika  beliau ke luar dan melihat unta itu, beliau 

bersabda: "Apa ini?" Para Sahabat menjawab: "Unta ini, Jabir yang datang membawanya." Beliau 

bertanya: "Lalu kemana Jabir sekarang?" Aku pun dipanggi untuk menghadap Rasulullah, lalu  

beliau bersabda: "Wahai anak saudaraku, peganglah kepala untamu karena itu menjadi milikmu!" 

Beliau memanggil Bilal dan bersabda kepadanya: "Pergilah bersama Jabir dan berikan uang satu 

uqiyah kepadanya!" Akupun pergi bersama Bilal lalu  ia memberiku uang satu uqiyah dan 

memberi sedikit tambahan. Demi Allah, pemberian itu terus bertambah dan bertambah hingga aku 

mendapat  musibah di Perang Al-Harrah belum lama ini. 

Ibnu Ishaq berkata: Sepulangnya dari Perang Dzatu Ar-Riqa', Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

menetap di Madinah pada sisa bulan Jumadil Ula dan Jumadil Akhir, serta bulan Sya'ban. 

 

Perang Badar Terakhir Bulan Sya'ban Tahun Keempat Hijriyah 

Ibnu Ishaq berkata: Saat bulan Sya'ban, Rasulullah Shallallahu Alaih wa Sallam meninggalkan Madinah 

untuk memenuhi janji dengan Abu Sufyan bin Harb hingga tiba di Badar. 

Rasulullah Shallallahu Alaih wa Sallam menunggu Abu Sufyan bin Harb di Badar selama delapan 

malam. Sedangkan Abu Sufyan bin Harb sendiri keluar meninggalkan Makkah ditemani orang-orang 

Makkah hingga tiba di Majinnah dari arah Zhahran. Sebagian ulama lainnya menceritakan bahwa Abu 

Sufyan bin Harb dan anak buahnya berjalan hingga ke Usfan, lalu  mereka berniat memilih 

pulang kembali ke Makkah. 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berada di Badar menunggu Abu 

Sufyan bin Harb, beliau disapa oleh Makhsyi bin Amr Adh-Dhamri. perwakilan Bani Dhamrah, yang 

telah berdamai dengan beliau di Perang Waddan. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tetap berada di Badar menunggu kedatangan Abu Sufyan bin 

Harb. Suatu jika , Ma'bad bin Abu Ma'bad A1 Khuzai berjalan melewati beliau. Tatkala dia jika  

melihat tempat dan unta beliau yang berjalan cepat ke sana, ia berkata: 

Sungguh, untanya lari dari sahabat-sahabat Muhammad 

Dan dari kurma Ajwah Yatsrib laksana anggw kering 

Ia berjalan cepat di atas agama ayahnya dahulu 

Ia menjadikan Mata Air Qudaid sebagai tempat tempat perjanjianku 

Sumber air Dajnan besok akanjadi miliknya 

 

Ibnu Hisyam berkata: Abu Zaid Al-Anshari berkata kepadaku bahwa syair di atas yaitu  syair Ka'ab bin 

Malik. 

Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu berkata tentang Perang Badar Terakhir yang gagal ini : 

Kami berjanji pada Abu Sufyan untuk kembali bertemu di Badar 

Tapi kami dapatkan dia tidak jujur dan iapun tak menepati janji 

Aku bersumpah, andai engkau tepati janji perjumpaan dengan kami 

Niscaya engkau pulang dirundung hina dan kehilangan para kerabat 

Di sana, kami biarkan tubuh Utbah dan anak-nya 

Demikian pula Amr dan Abu Jahal terbunuh tewas 

Kalian membangkang Rasulullah, celakalah agama kalian 

Dan urusan buruk kalian yang sesat itu  

Walaupun kalian bersikap keras padaku  

Aku tetap katakan keluarga dan hartaku menjadi tebusan bagi Rasulullah  

Kam