Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 27


 i mentaatinya dan tidak menggantinya dengan orang lain 

Ia yaitu  cahaya dan penunjuk kami di gelapnya malam 

 

Perang Daumatul Jandal Bulan Rabiul Awwal Tahun Kelima Hijriyah 

Ibnu Ishaq berkata: Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali pulang ke Madinah dan tinggal 

di sana beberapa bulan hingga bulan Dzulhijjah usai. Ini merupakan tahun keempat semenjak 

kedatangan 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Madinah. lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

berangkat untuk memerangi Daumatul Jandal. 

Ibnu Hisyam berkata: Itu terjadi pada bulan Rabi'ul Awwal dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

mengangkat Siba' bin Urfuthah Al-Ghifari untuk sementara sebagai imam di Madinah. 

Lalu beliau pulang ke Madinah sebelum tiba di Daumatul Jandal karena tidak adanya perlawanan. 

Beliau menetap di Madinah di sisa-sisa hari tahun itu. 

 

Perang Khandaq Bulan Syawwal Tahun Kelima Hijriyah  

Ibnu Hisyam berkata: Ziyad bin Abdullah bin Al-Bakkai berkata kepadaku dari Muhammad bin Ishaq 

Al-Muthalibi yang berkata bahwa sesudah  itu meletuslah Perang Khandaq yang terjadi pada bulan 

Syawwal tahun kelima Hijriyah. 

Ibnu ishaq berkata: Yazid bin Ruman eks budak keluarga Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin 

Zubair dan dari orang yang tidak aku ragukan integritasnya dari Abdullah bin Ka'ab bin Malik dan 

Muhammad bin Ka'ab Al-Quradhi. Az-Zuhri, Ashim bin Umar bin Qatadah, Abdullah bin Abu Bakr dan 

ulama-ulama lainnya dimana penuturan mereka tentang Perang Khandaq tidak berbeda namun ada 

sebagian dari mereka yang menambahkan ceritanya. 

Dikisahkan bahwa sebab meletusnya perang Khandaq karena beberapa orang Yahudi di antaranya 

Sallam bin Abu Al-Huqaiq An-Nadhri, Huyay bin Akhthab An-Nadhri, Kinanah bin Ar-Rabi bin Abu Al-

Huqaiq An-Nadhri, Haudzah bin Qais Al-Waili, dan Abu Ammar Al-Waili -dalam kelompok orang- orang 

dari Bani An-Nadhir dan Bani Wail yang membentuk pasukan sekutu untuk melawan Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar dari Madinah dan tiba di tempat orang-orang Quraisy di Makkah. 

Mereka menghasut orang-orang Quraisy menyerang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka 

berkata: "Kami senantiasa akan bersama kalian dalam menghadapi dia hingga kita berhasil 

membabatnya habis." Orang-orang Quraisy berkata kepada orang-orang Yahudi: "Wahai orang-orang 

Yahudi, sebenarnya  kalian yaitu  ahli Kitab yang pertama mempunyai pengetahuan tentang 

perselisihan kami dengan Muhammad; Apakah agama kami yang lebih baik atau agama Muhammad?" 

Orang-orang Yahudi menjawab: "Agama kalian lebih baik dibandingkan  agama Muhammad dan kalian lebih 

pantas untuk mendapat  kebenaran dibandingkan  dia." 

Tentang orang-orang Yahudi itulah, Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya berikut: 

 

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya 

kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka 

itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. 

Barang siapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. 

(An Nisa: 51-52) hingga firman-Nya "ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran 

karunia yang Allah telah berikan kepadanya? sebenarnya  Kami telah memberikan Kitab dan hikmah 

kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. Maka di 

antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di 

antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) beriman kepadanya. Dan cukuplah 

(bagi mereka) Jahanam yang menyala-nyala apinya. (QS. an- Nisa': 54-55). Yang dimaksud dengan 

karunia (fadhlihi) pada ayat di atas ialah nubuwwat. 

Pada saat orang-orang Yahudi berkata seperti itu kepada orang-orang Quraisy, mereka sangat gembira 

dan segera menyambut ajakan orang-orang Yahudi untuk memerangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam. lalu  dua kekuatan ini  bersatu lalu mereka bersiap-siap. 

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Yahudi lalu meninggalkan Makkah menuju Ghathafan untuk menyeru 

mereka untuk memerangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka provokasi orang-orang 

Ghathafan agar mengikuti kehendak mereka dan mereka jelaskan bahwa orang-orang Quraisy telah 

mendukung ide ini. Orang-orang Ghathafan pun bersatu dengan orang-orang Yahudi. 

Ibnu Ishaq berkata: Lalu, berangkatlah orang-orang Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb, 

sedangkan orang-orang Ghathafan berada di bawah komando Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin 

Badr bersama orang-orang Bani Fazarah, Al-Harits bin Auf bin Abu Haritsah Al-Muri bersama orang- 

orang Bani Murrah, Mis'ar bin Rukhailah bin Nuwairah bin Tharif bin Suhmah bin Abdullah bin Hilal 

bin Khulawah bin Asyja' bin Raits bin Ghathafan bersama orang-orang yang ikut dengannya dari Bani 

Asyja'.   

Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar rencana orang-orang musyrikin ini , 

beliau membuat parit di sekitar Madinah. Beliau terlibat langsung dalam pembuatannya untuk 

memberi semangat pada kaum Muslimin dalam berburu pahala. Beliau demikian bersemangat dalam 

menggali parit itu demikian pula dengan para sahabatnya. Hanya beberapa orang-orang munafik 

sajalah yang kerjanya bermalas-malasan. Orang-orang munafik kerja sedikit lalu  pulang secara 

diam-diam ke rumah mereka tanpa sepengetahuan beliau apalagi meminta izinnya. Pada saat yang 

sama, jika  salah seorang dari kaum Muslimin mempunyai kebutuhan mendesak yang tidak bisa 

ditinggalkan, ia memberitahukan dan meminta izin kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

lalu  beliau mengizinkannya pulang ke rumah untuk menyelesaikan urusan keluarganya. jika  

selesai, ia kembali kerja membuat parit karena ingin mendapat  kebaikan dan pahala dari Allah. 

Allah menurunkan wahyu tentang kaum Mukminin ini : 

 

sebenarnya  orang-orang mukmin yang sebenarnya  ialah orang-orang yang beriman kepada 

Allah dan Rasul-Nya dan jika  mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang 

memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. 

sebenarnya  orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang 

yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka jika  mereka meminta izin kepadamu karena 

sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan 

mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. sebenarnya  Allah Maha Pengampun lagi 

Maha Penyayang. (QS. an-Nuur: 62) 

Wahyu di atas turun kepada kaum Muslimin yang mengharapkan kebaikan di sisi Allah, taat kepada-

Nya dan kepada Rasul-Nya. sesudah  itu Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang orang-orang munafik 

yang malas-malasan bekerja dan pulang ke rumah tanpa meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu 

Ala wa Sallam: 

 

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada 

sebagian (yang lain). sebenarnya  Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi 

di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi 

perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yangpedih. (QS. an-Nuur: 63). 

Ibnu Hisyam berkata: Al-Liwadz bermakna bertutup sesuatu saat melarikan diri. Hassan bin Tsabit 

berkata: 

Orang-orang Quraisy lari dari kami dengan menutup diri 

Mereka tidak tenangdiam dengan pikiran yang tidak stabil 

Bait syair ini telah saya paparkan pada saat membahas tentang perang Uhud. 

lalu  Allah berfirman: 

 

Ketahuilah sebenarnya  kepunyaan Allah lah apa yangdi langit dan di bumi. sebenarnya  Dia 

mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). (QS. an-Nuur: 64). Maksudnya, Allah 

tahu siapa yang jujur dan yang dusta. 

lalu  Allah berfirman: 

 

Dan (mengetahui pula) hari (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada 

mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. an-Nuur: 

64). 

Ibnu Ishaq berkata: Kaum Muslimin bersungguh-sungguh dalam pembuatan parit hingga berhasil 

menyelesaikannya. 

Ibnu Ishaq berkata: Ada banyak sekali peristiwa yang mengandung ibrah tentang kebenaran Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam dalam penggalian parit, kenabiannya yang langsung dilihat langsung oleh 

kaum Muslimin. Salah satu peristiwa yang sampai kepadaku ialah hadits yang diriwayatkan dari 

Jabir bin Abdullah yang berkata: Kaum Muslimin sempat kesulitan menggali sebagian tanah berbatu, 

maka mereka mengutarakan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Beliau meminta 

disediakan air lalu  meludah ke dalamnya, lalu berdoa kepada Allah dan menuangkan air 

ini  ke atas tanah ini . Para sahabat yang hadir jika  itu berkata: Demi Dzat yang 

mengutusnya sebagai nabi dengan membawa kebenaran, tanah berbatu ini  hancur lebur hingga 

menjadi seperti pasir padahal tadinya tidak mempan dipukul dengan kapak cangkul.129 

Ibnu Ishaq berkata: Aku mendapat berita yang berasal dari Salman Al-Farisi yang berkata: "Saat aku 

sedang menggali aku temukan ada batu yang keras sehingga tidak mampu aku pecahkan, sementara 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berada di dekatku. jika  beliau melihatku kesulitan memecah- 

kan batu ini  beliau turun lalu  mengambil alih cangkul dari tanganku. Beliau menghantam 

batu ini  sehingga memercikkan cahaya terang berkemilau. Beliau terus menghantam batu 

ini  hingga tiga kali sehingga memercikkan cahaya terang di bawah kapak. Aku berkata, "Wahai 

Rasulullah, cahaya apakah yang aku lihat: jika  engkau menghantam batu ini ?" Beliau 

bersabda: "Wahai Salman apakah engkau melihatnya?" Aku menjawab, "Ya, tentu saja." Beliau 

bersabda: "Adapun cahaya pertama, itu yaitu  tanda bahwa Allah akan menaklukkan Yaman untukku. 

Sedangkan cahaya kedua. yaitu  tanda aku akan menaklukkan Syam dan negeri-negeri Barat 

(Maghribi) untukku. Sedang cahaya ketiga, yaitu  tanda aku akan menaklukkan negeri-negeri 

timur."130 

 

lbnu lshaq berkata: Tatkala seiesai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menggali parit, datanglah 

orang-orang Quraisy yang lalu  berhenti di Dumah. Mereka datang ketempat ini  dengan 

membawa sepuluh ribu orang dari orang-orang Ahabisy (non Arab), Bani Kinanah, dan Bani Tihamah. 

Orang-orang dari Ghathafan bersama orang-orang Najed juga datang lalu  berhenti di Dzanab 

Naqma di samping Uhud. Sementara, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersama tiga ribu kaum 

muslimin keluar ke Gunung Sil'un. Di sanalah beliau membuat markas, sedang parit membatasi 

mereka dengan musuh. 

Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menganugerahi Ibnu Ummi Maktum 

menjadi imam sementara di Madinah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengamankan anak-

anak dan wanita-wanita di balik benteng. 

Ibnu lshaq berkata: Musuh Allah, Huyay bin Akthab An-Nadhri, keluar menemui Ka'ab bin Sa'ad Al-

Quradhi, wakil Bani Quraizhah yang masih terikat perjanjian dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam. Sayangnya, Ka'ab termakan provokasi Huyai sehingga ia membatalkan perjanjian ini . 

jika  berita pembatalan perjanjian di atas terdengar oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan 

kaum Muslimin, beliau kecewa sekali kepada mereka. 

Kaum Muslimin mengalami krisis kepercayaan diri karena hal ini , sebab musuh datang dari atas 

dan bawah mereka hingga kedok orang munafik pun terbuka dengan sendirinya. Seperti Mu'attib bin 

Qusyair dari Bani Amr bin Auf yang berkata: "Muhammad pernah menjanjikan kepada kita bahwa kita 

akan menguasai kekayaan Kisra dan Kaisar, padahal pada hari ini salah seorang dari kita untuk buang 

air saja tidak merasa aman." 

Ibnu Hisyam berkata: Ulama yang aku percaya berkata kepadaku bahwa Mu'attib bin Qusyair tidak 

masuk barisan orang-orang munafik. Dengan alasan bahwa Muattib bin Qusyair ikut hadir terjun pada 

Perang Badar. 

Hampir sebulan, perang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan orang-orang musyrikin hanya 

saling lempar panah. 

Ibnu lshaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersama kaum Muslimin masih bertahan di 

dalam kota Madinah, sedang musuh mengepung mereka, tapi perang tetap tidak berkobar di antara 

mereka. Beberapa tentara berkuda Quraisy di antaranya Amr bin Abdu Wudd bin Abu Qais dari Bani 

Amir bin Luay. Ibnu Hisyam berkata: "Ada yang mengatakan bahwa Amr yaitu  anak Abd bin Abu Qais, 

Ikrimah bin Abu Jahal dari Bani Makhzum, Hubairah bin Abu Wahb dari Bani Makhzum, dan Dhirar bin 

Khaththab bin Mirdas dari Bani Muharits bin Fihr mengambil ancang-ancang berjalan melintasi 

kampung-kampung Bani Kinanah, mereka berkata: "Wahai Bani Kinanah, bangkitlah kalian untuk 

perang, karena pada hari ini kalian akan tahu siapa sebenarnya  pasukan berkuda itu." sesudah  

mengatakan itu, orang-orang Quraisy ini  melecut kencang kuda-kuda mereka hingga tiba di 

parit. Tatkala melihat parit ini , mereka ber-kata: "Demi Allah, jebakan ini tidak pernah dilakukan 

oleh orang-orang Arab." 

Ibnu Hisyam berkata: Salman Al-Farisi yaitu  sahabat yang mengusulkan ide kepada Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam agar membuat parit ini . 

Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang pakar bercerita kepadaku bahwa pada perang Khandaq kaum 

Muhajirin berkata: "Salman termasuk kelompok kami." Orang-orang dari kaum Anshar berkata: 

"Salman bagian dari kami." lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Salman 

bagian dari keluarga (ahlul Bait) Nabi." 

Ibnu lshaq berkata: lalu  orang-orang Quraisy ini  mencari celah agar bisa melewati parit-

parit ini  lalu kuda-kuda mereka pun akhirnya masuk ke tempat ini , lalu  mereka 

menerobos celah yang ada di antara parit dan Sala'. Pada saat yang bersamaan, Ali bin Abu Thalib 

Radhiyallahu Anhu bersama beberapa orang dari kaum Muslimin memblokade jalan masuknya orang-

orang Quraisy. Penungang-penunggang kuda Quraisy berjalan cepat dengan kuda-kuda mereka ke 

tempat Ali bin Abu Thalib dan sahabat-sahabatnya. Amr bin Abdu Wudd ikut hadir di Perang Badar 

hingga terluka berat sehingga absen di Perang Uhud. Pada Perang Khandaq, ia keluar dengan 

mengenakan tanda pengenal supaya mudah dikenali. jika  kudanya berhenti, ia berteriak 

menantang: "Siapa yang siap duel berhadapan denganku?" Ali bin Abu Thalib tampil lalu  

berkata: "Wahai Amr, sungguh engkau telah berjanji kepada Allah bahwa bila ada seorang Quraisy 

mengajakmu kepada dua hal maka engkau akan menyambutnya." Amr bin Abdu Wudd menjawab: 

"Benar!" Ali bin Abu Thalib berujar melanjutkan: "Sekarang aku mengajakmu kepada Allah, Rasul-Nya, 

dan Islam." Amr bin Abdu Wudd menjawab: "Aku tidak butuh itu semua!!" Ali bin Abu Thalib berkata: 

"Jika demikian maka aku ajak engkau berperang." Amr bin Abdu Wudd berkata: "Mengapa demikian?" 

Demi Allah, aku tidak berniat menghabisimu." Ali bin Abu Thalib berkata: "Namun demi Allah, aku 

bergairah sekali untuk membunuhmu." Amr bin Abdu Wudd bangkit marahnya mendengar tantangan 

Ali bin Abu Thalib. Ia turun dari atas kuda, lalu  menyembelihnya, memukul wajah kudanya, dan 

maju ke hadapan Ali bin Abu Thalib. Keduanya bertempur sangat sengit hingga akhirnya Ali bin Abu 

Thalib berhasil menghabisi Amr bin Abdu Wudd, sedang kuda-kuda Quraisy lari kocar-kacir tak 

menentu. 

Ibnu lshaq berkata: Saat itu, Ikrimah bin Abu Jahal lari menyelamatkan diri meninggalkan Amr bin 

Abdu Wudd. 

Ibnu lshaq berkata: Tentang kaburnya Ikrimah bin Abu Jahal, Hassan bin Tsabit berkata: 

Ia melarikan diri dan membiarkan tombaknya untuk kami 

Sesuatu yang tidak kau yang tidak pernah engkau lakukan sebelum ini  

Kau kabur bagaikan burung unta jika  berpaling dari jalan 

Engkau tidak membiarkan punggungmu berjalan dengan jinak 

Punggungmu laksana dagu biawak kecil 

 

Ibnu Hisyam berkata: Sandi perang sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Perang 

Khandaq dan Perang Bani Quraizhah yaitu , Haamm miim, laa yun sharuun. 

Ibnu lshaq berkata: Abu Laila Abdullah bin Sahl bin Abdurrahman bin Sahl Anshari dari Bani Haritsah 

bercerita kepadaku bahwa pada Perang Khandaq Ummul Mukminin, Aisyah, berada di benteng Bani 

Haritsah, bentang terkuat di Madinah. 

Ibnu lshaq berkata: Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair bercerita kepadaku dari ayahnya, Abbad 

yang berkata bahwa Shafiyyah binti Abdul Muththalib Radhiyallahu Anha berada di benteng tinggi 

kepunyaan Hassan bin Tsabit. Shafiyyah binti Abdul Muthalib berkata bahwa Hassan bin Tsabit berada 

di benteng ini  bersama para wanita dan anak-anak. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya dilanda ketakutan 

dan kegundahan yang luar biasa, karena persekutuan musuh untuk menghadapi mereka dan musuh-

musuh itu datang dari segala arah. 

Ibnu Ishaq berkata: Lalu Nu'aim bin Mas'ud bin Amir bin Unaif bin Tsa'labah bin Qunfudz bin Hilal bin 

Khalawah bin Asyja' bin Raits bin Ghathafan datang ke tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

dan berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah masuk Islam sementara kaumku belum ada yang tahu 

keislamanku. Oleh karena itu aku siap dengan tugas darimu." Rasulullah bersabda: "sebenarnya  

engkau salah seorang dari kami. Karena itulah, kacaukanlah persatuan mereka jika  engkau 

mampu, karena perang yaitu  tipu daya."131 

 

Nu'aim bin Mas'ud pergi menemui Bani Quraizhah dan ia yaitu  sahabat mereka pada masa jahiliyah. 

lalu  Nu'aim bin Mas'ud pergi ke tempat orang-orang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan bin 

Harb. 

lalu  Nu'aim bin Mas'ud pergi ke tempat-orang orang Ghathafan. Nu'aim berhasil mengadu 

domba di antara mereka. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar berita tentang sengketa dan 

konflik yang terjadi di antara mereka, lalu beliau memanggil Hudzaifah bin Al-Yaman lalu  

mengutusnya pergi kepada mereka untuk mencan tanu apa yang akan mereka kerjakan pada malam 

hari. 

Ternyata mereka semua telah menarik pasukan mereka dan pulang kembali ke daerah asal mereka 

masing-masing. 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala pagi menjelang Rasulullah pulang dari Khandaq ke Madinah bersama 

dengan kaum muslimin dan meletakkan senjata. 

 

Perang Bani Quraizhah Tahun Kelima Hijriyah 

Ibnu Ishaq berkata: Berkata padaku Az-Zuhri pada waktu Zhuhur Malaikat Jibril Alaihis salam 

mendatangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia lalu  bertanya: "Apakah engkau 

melakukan gencatan senjata?' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab, "Ya." Malaikat Jibril 

berkata: "Para malaikat tidak melakukan gencatan senjata. Kini mereka sedang mengejar kaum 

ini . Hai Muhammad sebenarnya  Allah menyuruhmu berangkat ke Bani Quraizhah aku juga 

akan berangkat ke sana untuk memerangi mereka." 

sesudah  itu, Rasjilullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan seseorang untuk menyeru Kaum 

Musilmin: "Barangsiapa mendengar dan taat, maka janganlah ia menunaikan shalat Ashar kecuali ia 

sudah sampai di Bani Quraizhah."132 

 

Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk sementara Ibnu Ummi Maktum 

sebagai Imam di Madinah. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk Ali bin Abu Thalib sebagai 

komandan pasukan dengan membawa panji perang dalam perjalanan menuju Bani Quraizhah 

sedangkan kaum Muslimin berjalan di belakangnya. Rasulullah berjalan melewati beberapa sahabat 

di As-Shaurain sebelum sampai di Bani Al-Quraizhah, lalu beliau bertanya kepada mereka: "Apakah 

ada seseorang melewati kalian sebelum aku?" Mereka menjawab: "Ya ia yaitu  Dihyah bin Khalifah 

Al-Kalbi." Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Bukan! Dia itu Jibril yang di kirim kepada 

Bani Quraizhah guna menghancurkan benteng-benteng dan menghunjamkan rasa takut ke hati 

mereka." 

Tatkala Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam tiba di Bani Quraizhah, beliau istirahat di salah satu 

sumur Bani Quraizhah di sisi kebun mereka yang bernama sumur Una. Ibnu Hisyam berkata ada pula 

yang mengatakan sumur Anna. 

Ibnu Ishaq berkata: sesudah  itu, kaum Muslimin tiba berombongan. Namun, ada beberapa orang di 

antara mereka yang tiba sesudah  Isya' akhir dan belum mengerjakan shalat ashar karena berpedoman 

kepada sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Janganlah seorangpun di antara kalian 

mengerjakan shalat ashar kecuali sudah tiba di Bani Quraizhah."133 lalu  mereka mengerjakan 

shalat Ashar di Bani Quraizhah sesudah  shalat Isya. Allah tidak mencela mereka dalam Kitab Sucinya 

atas peristiwa tadi dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga tidak marah pada mereka. Hadits 

ini di sampaikan kepadaku oleh Abu Ishaq bin Yasar dari Ka'ab bin Ka'ab bin Malik Al-Anshari. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengepung Bani Quraizhah selama dua 

puluh lima malam hingga mereka menderita karena pengepungan ini dan Allah rnerasukkan rasa takut 

luar biasa ke dalam hati mereka. 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Bani Quraizhah meyakini sepenuhnya bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi 

Wasallam tidak akan berbalik meninggalkan mereka sampai mengalahkan mereka. 

Maka mereka mengirim utusan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan membawa 

pesan: "Datangkanlah kepada kami Abu Lubabah bin Abdul Mundzir dari Bani Amr bin Auf dan sekutu 

orang-orang Aus agar kita bisa berkonsultasi dengannya dalam masalah kami ini." Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim Abu Lubabah kepada Bani Quraizhah. jika  mereka melihat 

Abu Lubabah maka orang laki-laki, wanita-wanita, dan anak-anak berdatangan kepadanya lalu  

menangis di hadapannya hingga Abu Lubabah merasa kasihan kepada mereka. Orang-orang Yahudi 

Bani Quraizhah berkata kepada Abu Lubabah: "Wahai Abu Lubabah, bagaimana pendapatmu jika  

kita menyerah kepada hukum Muhammad?" Abu Lubabah berkata: "Ya!" Sambil berisyarat dengan 

tangan pada tenggorokannya, itu artinya dipenggal." Abu Lubabah berkata: "Demi Allah, apa yang 

kulakukan? Aku telah mengkhianati Allah dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam!" lalu , Abu 

Lubabah pergi. jika  sampai di tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia langsung mengikat 

diri pada salah satu tiang masjid. Abu Lubabah berkata: "Aku akan terus begini di sini hingga Allah 

menerima taubatku atas apa yang telah aku perbuat. Aku berjanji kepada Allah untuk tidak memasuki 

benteng Bani Quraizhah untuk selama-lamanya namun hal itu malah kulakukan." 

Ibnu Hisyam berkata: Allah lalu menurunkan ayat tentang Abu Lubabah seperti diceritakan Sufyan bin 

Uyainah dari Ismail bin Abu Khalid bin Abdullah bin Abu Qatadah: 

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan 

(juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu 

mengetahui. (QS. al-Anfaal: 27) 

Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Abdullah bin Qusaith bercerita kepadaku bahwa berita taubatnya Abu 

Lubabah diterima Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjelang shubuh pada saat beliau sedang 

berada di rumah Ummu Salamah. Ummu Salamah berkata: Saat menjelang shubuh, aku mendengar 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tertawa. Aku berkata: "Apa yang membuatmu tertawa wahai 

Rasulullah?" Beliau bersabda: "Allah telah menerima taubat Abu Lubabah." Aku berkata: "Bolehkah 

aku kabarkan kabar gembira ini kepadanya?" Beliau bersabda: "Silahkan sampaikan saja." Ummu 

Salamah berdiri di depan pintu kamarnya, peristiwa ini terjadi sebelum diwajibkannya hijab- lalu  

berkata: "Wahai Abu Lubabah sambutlah kebahagianmu karena Allah telah menerima taubatmu." 

Para sahabat lalu mengerumuninya untuk melepaskan ikatannya. Namun ia berkata: "Tidak, demi 

Allah, aku tidak suka kalian lakukan hal ini, hingga Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sendiri yang 

melepaskan ikatanku dengan kedua tangannya." Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

keluar untuk melaksanakan shalat Shubuh, beliau berjalan melewati Abu Lubabah dan melepaskan 

ikatannya. 

Ibnu Hisyam berkata: Selama enam hari Abu Lubabah terus mengikat dirinya. Sepanjang waktu 

ini , istrinya senantiasa datang setiap waktu shalat untuk melepaskan ikatan agar ia bisa 

melaksanakan shalat. Sesuai shalat kembali ia mengikat diri lagi. Demikianlah yang terjadi, 

sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama kepadaku. 

Ibnu Ishaq berkata: Keesokan harinya, Bani Quraizhah tunduk kepada hukum Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam. 

Sebelum mengepung Bani Quraizhah, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam telah mengepung Bani 

Qainuqa sekutu Al-Khazraj lalu  mereka tunduk kepada hukum beliau. 

Sebelumnya, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menempatkan Sa'ad bin Muadz di sebuah kemah 

milik seorang wanita dari Aslam, yang bernama Rufaidah. Kemah itu berada di mesjid Rasulullah, 

sedangkan Rufaidah mengobati orang-orang yang terluka dan mewakafkan diri untuk melayani siapa 

saja di antara kaum Muslimin yang terluka. jika  Sa'ad bin Muadz terkena anak panah di Perang 

Khandaq, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada kaumnya: "Rawatlah Sa'ad bin 

Muadz di kemah milik Rufaidah agar aku dapat mengunjunginya dari dekat.134 

 

jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk Sa'ad bin Muadz sebagai mediator bagi Bani 

Quraizhah, kaum Sa'ad bin Muadz datang kepada Sa'ad bin Muadz lalu  mereka menaikkannya 

di atas keledai. Mereka pergi bersama Sa'ad bin Muadz kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Mereka berkata: "Wahai Abu Amr, berbuat baiklah kepada sekutumu, karena Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam menunjukmu sebagai hakim agar engkau berbuat baik kepada mereka." jika  

mereka banyak bicara kepada Sa'ad bin Muadz, Sa'ad bin Muadz berkata: "Kini telah tiba saatnya bagi 

Sa'ad bin Muadz untuk bangkit menghadapi orang yang mengecamnya di jalan Allah." sesudah  itu, 

beberapa orang dari kaum Sa'ad bin Muadz yang tadinya menemani Sa'ad bin Muadz pulang ke 

perkampungan Abdul Asyhal dan menceritakan apa yang dikatakan Sa'ad bin Muadz kepada beberapa 

orang dari Bani Quraizhah sebelum Sa'ad bin Muadz sampai di tempat mereka. Pada saat Sa'ad bin 

Muadz dan kaumnya tiba di tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda: 

"Berdirilah untuk menyambut pemimpin kalian!"135 

 

Ibnu Hisyam berkata: Sebagian orang yang tidak aku ragukan integritasnya berkata kepadaku bahwa 

Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berteriak keras pada saat kaum Muslimin mengepung Bani 

Quraizhah. sesudah  itu, orang-orang laki-laki Yahudi Bani Quraizhah disuruh turun, lalu  

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan orang-orang Yahudi Bani Quraizhah dibawa ke 

parit yang telah digali dipasar Madinah dan menghabisi mereka di dalamnya. Termasuk di dalamnya 

musuh Allah Huyay bin Akhthab, Kaab bin Asad tokoh Bani Quraizhah bersama dengan enam ratus 

atau tujuh ratus orang-orang Bani Quraizhah. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hanya memerintahkan membunuh orang-

orang Bani Quraizhah yang telah dewasa. 

Ibnu Ishaq berkata: Syu'bah bin Al-Hajjaj berkata kepadaku dari Abdul Malik bin Umair dari Athiyyah 

Al-Qurazhi yang berkata: "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan menghabisi orang-

orang Bani Quraizhah yang telah dewasa. Kala itu, aku masih anak-anak, makanya mereka 

membebaskanku.136 

 

 

Pembagian Fa'i Bani Quraizhah 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membagi-bagikan harta kekayaan, wanita-

wanita, dan anak-anak Bani Quraizhah kepada kaum Muslimin. Disaat yang sama, beliau juga 

mewartakan jumlah bagian yang didapat pasukan berkuda, dan tentara pejalan kaki, dan 

mengeluarkan seperlima dari seluruh rampasan perang itu. Tentara berkuda mendapat tiga jatah; dua 

jatah untuk kuda dan satu jatah untuk penunggangnya. Adapun tentara pejalan kaki mereka 

mendapat  satu jatah. Jumlah kuda Bani Quraizhah saat itu ada tiga puluh enam ekor. Itulah fa'i 

yang pertama kali dibagi sesuai dengan jatahnya, seperlima dibandingkan nya dikeluarkan, dan merupakan 

sunnah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dalam pembagian fa'i di medan perang. sesudah  itu, 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus Sa'ad Zaid Al-Anshari saudara Bani Abdul Asyhal 

membawa tawanan-tawanan wanita Bani Quraizhah ke Najed dan menukar mereka dengan kuda- 

kuda dan peralatan perang. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memilih salah seorang wanita Bani 

Quraizhah yang bernama Raihanah binti Amr bin Junafah untuk diri beliau sendiri. Ia berasal Bani Amr 

bin Quraizhah dan tetap dalam kepemilikan beliau pada saat beliau wafat. Saat Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam menawan Raihanah binti Amr, ia tetap memilih menjadi seorang wanita Yahudi. 

Rasulullah sedih karena sikapnya itu lalu  melepaskannya. jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam sedang bersama para sahabat, tiba-tiba Tsa'labah bin Sa'yah datang dan ia berkata: "Wahai 

Rasulullah, Raihanah telah memeluk Islam." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sangat gembira 

dengan berita ini . 

Ibnu Ishaq berkata: Tentang Perang Khandaq dan Bani Quraizhah, Allah Ta'ala menurunkan surat Al-

Ahzab. Dalam surat ini , Allah Ta'ala mengisahkan musibah yang menimpa kaum Muslimin, 

nikmat-Nya kepada mereka, perlindungan-Nya, dan bagaimana Allah mencabut musibah ini  dari 

mereka karena ucapan orang-orang munafik. Allah berfirman: 

 

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu 

jika  datang kepadamu tentara-tentara (orang-orang Quraisy, Ghathafan, Bani Quraizah), lalu Kami 

kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara (angin dan para malaikat) yang tidak dapat kamu 

melihatnya. Dan yaitu  Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Ahzab: 9) 

 

(Yaitu) jika  mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan jika  tidak tetap lagi 

penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap 

Allah dengan bermacam-macam purbasangka. (QS. al-Ahzab:10) 

Orang-orang yang mengepung kaum muslimin dari atas mereka yaitu  orang-orang Bani Quraizhah, 

sedangkan yang mengepung dari bawah mereka yaitu  orang-orang Quraisy dan Ghathafan. 

lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

 

Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan 

(ingatlah) jika  orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: 

"Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya." (QS. al-Ahzab: 11-12) 

Orang yang mengatakan perkataan seperti diatas yaitu  Mu'attib bin Qusyair, lalu  Allah Ta'ala 

berfirman: 

 

Dan (ingatlah) jika  segolongan di antara mereka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak 

ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi 

(untuk kembali pulang) dengan berkata: "sebenarnya  rumah-rumah kami terbuka (tidak ada 

penjaga)." Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. (QS. 

al-Ahzab: 13). 

Disebabkan perkataan Aus bin Qaidhi dan orang-orang dari kaumnya yang seirama dengannya. 

lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

 

Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, lalu  diminta kepada mereka supaya murtad, 

niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam 

waktu yang singkat. (QS. al- Ahzab: 14). Maksud kata "fitnah" pada ayat di atas ialah kembali kepada 

kesyirikan, lalu  Allah berfirman: 

 

Dan sebenarnya  mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: "Mereka tidak akan berbalik ke 

belakang (mundur)" Dan yaitu  perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. 

al-Ahzab: 15) 

Mereka yaitu  Bani Haritsah yang ingin mundur di Perang Uhud bersama Bani Salimah, lalu  

berjanji kepada Allah tidak akan mengulanginya lagi untuk selama-lamanya. Allah menyebutkan 

kepada mereka apa yang pernah mereka janjikan. lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

Katakanlah: "Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau 

pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan 

kecuali sebentar saja." Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia 

menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik 

itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. (QS. al-Ahzab: 16-17) 

Selanjutnya Allah berfirman: sebenarnya  Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi 

di antara kamu (Al Ahzab: 18), yakni orang munafik. 

lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

 

Dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: "Marilah kepada kami.” Dan mereka 

tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. (QS. al-Ahzab: 18) 

Yakni sekedar berlindung diri dan sebagai alasan, lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

Dan jika  ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka 

bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) 

amalnya. Dan yang demikian itu yaitu  mudah bagi Allah. (QS. al-Ahzab: 19), mereka meledek 

sekalian dengan ungkapan yang tidak kalian senangi. Sebab mereka tidak pernah sedikitpun 

mengharapkan akhirat, tidak menabung pahala di sisi Allah, dan mereka sangat takut mati. 

Ibnu Hisyam berkata: Salaquukum yakni berlebihan dalam celaan kepada kalian. Maka mereka 

membakar dan menyakiti kalian. Seperti dikatakan orang Arab: Khathibun Sallaq dan Khathibun 

Musliq dan Mislaq, artinya khatib yang membikin sakit hati pendengarnya. 

A'sya Bani Qais bin Tsa'labah berkata: 

Pada mereka ada kemulian tolerasani dan pertolongan 

Di tengah mereka ada para khatib yang melukai jiwa 

 

lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

 

Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; yakni orang-orang 

Quraisy dan Ghathfan (QS. al-Ahzab: 20), yakni yaitu  orang-orang Quraisy dan Ghathafan. 

lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di 

dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. 

Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja. 

(QS. al-Ahzab: 20) 

lalu  Allah mengarahkan firman kepada kaum mukmin dalam firman-Nya: 

 

sebenarnya  telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang 

yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. 

al-Ahzab: 21) dengan tujuan agar orang-orang beriman tidak lebih mencintai diri mereka dibandingkan  diri 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan kedudukan beliau. sesudah  itu, Allah Ta'ala menemui kaum 

Mukminin, yang tahan cobaan. Allah Ta'ala berfirman: 

 

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: 

"Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita." Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang 

demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (QS. al-Ahzab: 22). 

Semua ini menguatkan kesabaran mereka atas musibah yang terjadi, kepasrahan kepada takdir, dan 

pembenaran terhadap yang dijanjikan. 

Allah Ta'ala berfirman: 

 

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan 

kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur (QS. Al-Ahzab: 23), di antara mereka ada yang 

telah menuntaskan tugasnya dan telah pulang menuju dalam keadaan gugur sebagai syuhada pada 

perang Badar dan Perang Uhud. 

Ibnu Hisyam berkata: qadha nahbahu artinya meninggal dunia. Adapun makna an-nahb yaitu  jiwa, 

sebagaimana dikatakan oleh Abu Ubaidah kepadaku dan jamaknya yaitu  nuhub. 

Dzu Rummah berkata: 

Di senja hari orang-orang Harits melarikan diri 

sesudah  Hawbar kehilangan jiwa di pertempuran kuda 

 

Hawbar termasuk Bani Harits bin Ka'ab. Yang dimaksud di sini yaitu  Yazid bin Hawbar. Nahbu juga 

bermakna nazar sebagaimana dikatakan oleh Jarir bin al-Khathfai dalam syairnya. 

Ibnu Ishaq berkata mengomentari firman Allah: Di antara mereka ada yang menanti, yakni menanti 

janji Allah, yaitu kemenangan atau syahadah sebagaimana dicapai oleh sahabat-sahabatnya 

terdahulu. 

lalu  Allah berfirman: 

 

Dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya), (QS. al-Ahzab: 23), mereka tidak ragu-ragu 

sedikitpun terhadap agama mereka, dan tidak menukar agamanya dengan agama lain. 

lalu  Allah berfirman: 

 

Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan 

menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima tobat mereka. sebenarnya  Allah 

yaitu  Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu 

yang dalam keadaan penuh kejelekan (QS. al-Ahzab: 24), yakni, orang-orang Quraisy dan Ghathfan. 

 

(lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin 

dari peperangan. Dan yaitu  Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang 

Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng 

mereka, (QS. al-Ahzab: 25- 26), Ahli Kitab pada ayat diatas yaitu  orang-orang Bani Quraizhah.   

dan Dia memasukkan rasa takut dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian 

yang lain kamu tawan. (Al Ah- zab: 26), yakni pembunuhan orang laki-laki, penawanan anak-anak dan 

wanita-wanita. 

lalu  Allah berfirman: 

 

Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu 

pula) tanah yang belum kamu injak. Dan yaitu  Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. (QS. al-

Ahzab: 27) 

Ibnu Ishaq berkata: Muadz bin Rif'ah Az Zuraqa berkata kepadaku bahwa orang-orang dari kaumku 

berkata kepadaku: 'Tak berapa lama sesudah  syahid Sa'ad bin Mu'adz, Malaikat Jibril Alaihis salam 

datang kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan mengenakan sorban dari sutra pada 

pertengahan malam, lalu  berkata: "Wahai Muhammad, siapakah jenazah yang membuat pintu-

pintu langit dibuka dan Arasy bergetar dibuatnya?" 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri mencari Sa'ad bin Muadz ternyata ia telah meninggal 

dunia. 

Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan integritasnya berkata kepadaku dari Al Hasan Al-

Bashri yang berkata: Sa'ad bin Muadz yaitu  seorang yang bertubuh gemuk. Anehnya pada saat 

orang-orang mengusung jenazahnya, mereka merasakan ringan." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam, bersabda: "Sesunguhnya Sa'ad bin Muadz dipikul oleh para pemikul selain kalian. Demi Allah 

para malaikat sangat gembira dengan ruh Sa'ad bin Muadz sampai-sampai Arasy bergetar dibuatnya." 

Ibnu Ishaq berkata: Muadz bin Rifa'ah bercerita kepadaku dari Mahmud bin Abdurrahman bin Amr bin 

Al-Jamuh dari Jabir bin Abdullah yang berkata: Pada saat Sa'ad bin Muadz dikubur, kami menemani 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  beliau bertasbih, diikuti bertakbir dan para sahabat 

pun ikut melakukannya. Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, kenapa engkau bertasbih?"' Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sungguh kuburan ini menyempit untuk hamba yang shalih ini 

namun Allah melonggarkannya."137 

Ibnu Hisyam berkata: Hadits yang senada yaitu  ucapan Aisyah yang bercerita bahwa Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "sebenarnya  kuburan menjepit dan jika ada orang yang 

selamat dibandingkan nya tentu ia yaitu  Sa'ad bin Muadz."138 

 

 

Syuhada Kaum Muslimin Yang Gugur di Perang Khandaq 

Ibnu Ishaq berkata: Ada enam orang yang syahid dari kaum muslimin pada Perang Khandaq. 

Syuhada' dari Bani Abdul Asyhal yaitu  sebagai berikut: Sa'ad bin Muadz, Anas bin Aus bin Atik bin 

Amr, Abdullah bin Sahi. Jumlah seluruhnya tiga orang. 

Syuhada dari Bani Jusyam bin Al-Khazraj lalu  dari Bani Salimah yaitu  sebagai berikut: Ath-

Thufail bin An-Nu'man, Tsa'labah bin Ghanamah. Jumlah seluruhnya hanya dua orang. 

Syuhada' dari Bani An-Najjar lalu  dari Bani Dinar yaitu  Ka'ab bin Zaid. la terkena anak panah 

misterius yang tidak diketahui siapa yang melemparkannya hingga lalu  membuatnya gugur 

sebagai syahid. 

 

Korban Tewas Kaum Musyrikin di Perang Khandaq 

Ibnu Ishaq berkata: Korban dari kaum musyrikin hanya tiga orang. Yaitu, korban dari Bani Abduddar 

bin Qushai yaitu  Munabbih bin Utsman bin Ubaid bin As-Sabbaq bin Abduddar. Ia terpanah dan 

lalu  meninggal dunia karenanya di Makkah. Ibnu Hisyam berkata: Utsman yang dimaksud ialah 

Utsman anak Umaiyyah bin Munabbih bin Ubaid bin As-Sabbaq. 

Korban dari Bani Makhzum bin Yaqadzah yaitu  Naufal bin Abdu bin Abdullah bin Al- Mughirah. 

Orang-orang Quraisy mendesak Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam agar beliau menjual jasad 

Naufal bin Abdullah kepada mereka. Pada saat Perang Khandaq, ia menerobos parit dan ia terjebak di 

dalamnya lalu dia tewas. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Kami tidak butuh jasad 

dan harganya." Rasulullah pun membiarkan jasad Naufal bin Abdullah diambil oleh orang-orang 

Quraisy. 

Ibnu Hisyam berkata: Orang-orang Quraisy memberi uang sebanyak sepuluh ribu dirham kepada 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk tebusan jasad Naufal bin Abdullah sebagaimana 

dituturkan Az-Zuhri kepadaku. 

Korban dari Bani Amir bin Luay lalu  dari Bani Malik bin Hisl yaitu  Amr bin 

Abdu Wudd. Ia tewas dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu. 

Ibnu Hisyam berkata: Orang yang aku yakini integritasnya berkata kepadaku bahwa ia diberitahu oleh 

Az-Zuhri: Pada Perang Khandaq, Ali bin Abu Thalib membunuh Amr bin Abdu Wudd dan juga putranya 

yaitu Hisl bin Amr. 

Ibnu Hisyam berkata: Ada pendapat yang menyebutkan namanya yaitu  Amr bin Abdu Wudd, namun 

ada juga pendapat yang menyebutnya Amr bin Abdin. 

 

Syuhada Kaum Muslimin Yang Gugur di Perang Bani Quraizhah 

Ibnu Ishaq berkata: Syuhada kaum Muslimin yang gugur di Perang Bani Quraizhah dari Bani Al Harits 

bin Al-Khazraj yaitu  Khallad bin Suwaid bin Tsa'labah bin Amr. Ia terkena lemparan batu penggiling 

sampai tengkorak kepalanya hancur. Ada riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam bersabda: "sebenarnya  Khallad bin Suwaid mendapat  pahala dua orang 

syahid". 

Abu Sinan bin Mihshan bin Hurtsan saudara Bani Asad bin Khuzaimah, ia gugur pada saat Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengepung Bani Quraizhah. Jenazah Abu Sinan bin Mihshan dikebumikan 

di pemakaman Bani Quraizhah. 

Tatkala para sahabat kembali dari khandaq Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "sesudah  

tahun ini, orang-orang Quraisy tidak akan menyerang kalian, tapi kalianlah yang akan menyerang 

mereka." 

Sejak tahun itu, orang-orang Quraisy tidak menyerang kaum Muslimin, sebaliknya Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang menyerang mereka hingga Allah menaklukkan kota Makkah untuk 

kemengan rasul-Nya. 

 

Sallam bin Abu al-Huqaiq pun Tewas 

Ibnu Ishaq berkata: sesudah  Perang Khandaq usai dan penanganan terhadap Bani Quraizhah selesai, 

maka orang-orang Khazraj meminta izin kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk 

membunuh Sallam bin Abu Al-Huqaiq yang jika  itu berada di Khaibar dan beliau memberi izin 

kepada mereka untuk membunuhnya. Sallam bin Abu Al-Huqaiq alias Abu Rafi' terlibat dalam 

pembentukan pasukan sekutu untuk memerangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan orang-

orang Aus membunuh Ka'ab bin Al-Asyraf sebelum Perang Uhud karena permusuhannya kepada 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan provokasinya. 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari Abdullah 

bin Ka'ab bin Malik yang berkata: Di antara kebaikan yang berikan oleh Allah untuk Rasul-Nya yaitu  

bahwa dua pemukiman kaum Anshar; Aus dan Khazraj, selalu bersaing untuk memberikan kebaikan 

kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, laksana persaingan dua ekor kuda dalam pacuan. 

jika  para sahabat dari Aus mengerjakan sesuatu kebaikan untuk Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam, para sahabat dari Khazraj berkata kepada mereka: "Demi Allah, kalian tidak boleh melenggang 

dengan kebaikan ini  dan tidak boleh lebih baik dibandingkan  kami di sisi Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam." Para sahabat Khazraj pun tidak berhenti berbuat hingga bisa mengejar ketertinggalan 

mereka dari para sahabat dari Aus. Sebaliknya, jika  para sahabat Al-Khazraj mengerjakan suatu 

kebaikan para sahabat dari Aus juga mengatakan hal yang sama. 

Tatkala para sahabat dari Aus berhasil membunuh Ka'ab bin Al-Asyraf karena permusuhannya kepada 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, maka para sahabat dari kalangan Khazraj berkata: "Demi Allah, 

kalian tidak boleh melenggang dengan prestasi ini  dan menjadi lebih baik dibandingkan  kami untuk 

selamanya." Para sahabat dari Khazraj membuat daftar siapa saat ini yang memusuhi Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebagaimana Ka'ab bin Al-Asyraf. lalu  mereka mengingat nama 

Sallam bin Abu Al-Huqaiq yang jika  itu berada di Khaibar. Lantas mereka pun minta izin kepada 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk membunuhnya dan beliaupun mengizinkannya. 

Maka berangkatlah lima orang dari Bani Salimah ke tempat Sallam bin Al-Huqaiq. Kelima sahabat 

ini  yaitu  sebagai berikut: 

Abdullah bin Atik, Mas'ud bin Sinan, Abdullah bin Unais, Abu Qatadah Al-Harits bin Rib'i, Khuza'ah bin 

Aswad sekutu mereka dari Aslam. 

Mereka berangkat dan Abdullah bin Atik ditunjuk oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebagai 

pemimpin rombongan, beliau pun melarang mereka untuk membunuh anak-anak dan para wanita. 

Tatkala tiba di Khaibar, mereka mendatangi rumah Sallam bin Abu Al-Huqaiq pada malam hari. 

Rombongan para sahabat ini  menyuruh semua orang di kampung itu untuk menutup pintu 

rumah mereka. Untuk menaiki ke lantai dua rumah milik Sallam bin Abu AI-Huqaiq terdapat sebuah 

tangga terbuat dari batang kurma. Mereka naik ke kamar Sallam bin Abu Al-Huqaiq yang terdapat di 

atas melalui tangga ini  hingga mereka pun berdiri depan pintu kamarnya, lalu meminta izin 

untuk masuk, namun mereka ditemui istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq. Istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq 

bertanya: "Siapa kalian?!" Para sahabat menjawab: "Kami orang-orang Arab yang sedang mencari 

makanan." Istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq berkata: "Itu dia sahabat kalian, silahkan masuk!" sesudah  

mereka berhasil masuk ke tempat Sallam bin Abu Al- Huqaiq, mereka menutup pintu rumah dan pintu 

kamarnya karena khawatir ada jalan yang memungkinkan seseorang masuk lalu  mengagalkan 

misi mereka membunuh Sallam bin Abu Al-Huqaiq. lalu  mereka pergi dengan pedang terhunus 

ke tempat Sallam bin Abu Huqaiq yang pada saat itu berada di atas ranjangnya. Demi Allah, tidak ada 

yang menunjukkan mereka kepadanya di tengah malam yang gelap itu melainkan kulitnya yang amat 

putih laksana kain dari Mesir yang digelar terbuka. Isteri Sallam bin Abu Al-Huqaiq berteriak, pada saat 

istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq berteriak, salah seorang dari mereka mengayunkan pedang untuk 

membunuhnya, namun dia mengurungkan niatnya sebab ingat akan larangan Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam. Andai saja mereka tidak mengingat larangan itu, pasti kami membunuhnya pada 

malam itu. jika  mereka telah memukul Sallam bin Abu Al-Huqaiq dengan pedang-pedang mereka, 

Abdullah bin Unais menusukkan pedang ke perut Sallam bin Abu Al-Huqaiq hingga tembus. Saat itulah, 

Sallam bin Abu Al-Huqaiq berkata: "Cukup! Cukup!" 

lalu  kelima sahabat ini  keluar. Karena Abdullah bin Atik kurang baik penglihatannya, ia 

jatuh dari tangga hingga tangannya mengalami luka memar. 

Ibnu Hisyam berkata: Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang mengalami luka memar yaitu  

kakinya. Mereka menggotong Abdullah bin Atik hingga tiba di tempat masuknya aliran air ke benteng 

lalu  kami masuk ke dalamnya. 

Ibnu Ishaq berkata: Penduduk setempat segera menyalakan lampu dan berkeliling kampung berusaha 

mencari kelima sahabat itu ke segala penjuru kampung. jika  mereka putus asa tidak berhasil 

menemukan, mereka pergi ke tempat Sallam bin Abu Al-Huqaiq dan memeluknya. Sallam bin Abu AI-

Huqaiq meninggal dunia di hadapan mereka. 

Salah seorang dari kelima sahabat berkata: "Bagaimana caranya agar kita mengetahui dengan pasti 

bahwa musuh Allah ini  telah benar-benar mati?" Salah seorang dari mereka berkata: "Aku akan 

pergi ke sana untuk melihat keadaannya sekarang." Sahabat ini  berangkat hingga berhasil 

menyelinap ke tengah kerumunan manusia. Ia berkata: "Aku melihat istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq 

memegang lampu melihat wajah Sallam bin Abu Al-Huqaiq bersama orang-orang Yahudi. Istri Sallam 

bin Abu Al-Huqaiq berkata kepada orang-orang Yahudi: "Demi Allah, tadi aku mendengar suara 

Abdullah bin Atik, namun aku tidak mempercayainya, mana ada Abdullah bin Atik di negeri kita ini?" 

sesudah  itu. istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq mendekat kepada Sallam bin Abu Al-Huqaiq lalu berkata. 

"Demi Tuhan orang-orang Yahudi, Ia telah tewas." Sahabat ini  berkata, Aku tidak pernah 

mendengar ungkapan yang lebih enak didengar dibandingkan  apa yang dikatakan istn Sallam bin Abu Al-

Huqaiq ini . Setelak itu, sahabat tadi datang ke tempat persembunyian para sahabat lainnya dan 

menceritakan peristiwa tadi.  

lalu  mereka menggotong Abdullah bin Atik yang tangannya luka memar menemui Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Tatkala tiba di kediaman Rasulullah, mereka melaporkan tentang 

tewasnya musuh Allah ini . Masing-masing dari mereka mengaku dirinyalah yang telah 

membunuh Sallam bin Abu Al-Huqaiq. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Bawalah ke 

hadapanku seluruh pedang kalian!" Mereka pun datang lagi kepada Rasululla Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam dengan pedang masing-masing. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengamati pedang-

pedang ini  lalu  bersabda tentang pedang Abdullah bin Unais: "Pedang inilah yang telah 

membunuhnya. Aku melihat bekas makanan padanya." 

 

Amr bin Ash dan Khalid bin Walid Masuk Islam 

Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Abu Habib meriwayatkan kepadaku dari Rasyid mantan budak Habib bin 

Abu Aus At-Tsaqafi dari Habib bin Abu Aus Ats-Tsaqafi, ia berkata kepadaku beberapa orang Quraisy 

yang bisa diajak bermusyawarah dan mendengarkan pendapatku. Aku berkata kepada mereka: "Demi 

Allah, kalian semua telah mengetahui, aku berpandangan bahwa persoalan Muhammad telah 

memuncak dan sangat sulit untuk bisa ditandingi. Aku memiliki suatu pandangan, bagaimana menurut 

kalian?" Mereka bertanya: Apa pendapatmu itu?" aku menjawab: "Menurut pandanganku, sebaiknya 

kita pergi ke tempat Najasyi dan menetap di sana bersamanya. jika  Muhammad berhasil 

mengalahkan kaum kita, maka kita menetap di negeri Najasyi, karena kita lebih suka dikuasai Najasyi 

ketimbang dikuasai oleh Muhammad. Namun jika  kaum kita berhasil mengalahkan Muhammad, 

kita orang yang telah dikenal di kalangan mereka, maka hanya kebaikan yang akan kembali kepada 

kita." Mereka berkata: "Ini pendapat yang pas." Aku berkata: "Jika demikian, kumpulkanlah hadiah 

untuk kita berikan kepada raja An-Najasy." 

Amr bin Ash berkata: Barang istimewa yang selalu menjadi oleh-oleh khas dan istimewa dari daerah 

kami, dan paling kami sukai untuk dijadikan hadiah bagi Najasyi yaitu  kulit. Sebab itu, kami 

mengumpulkan kulit sebanyak-banyaknya, lalu  kami pun pergi ke sana. Demi Allah, jika  kami 

berada di tempat Najasyi, tiba-tiba Amr bin Umaiyyah Adh-Dhamri datang ke sana yang sengaja 

dikirim oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk menanyakan tentang Ja'far dan sahabat-

sahabatnya. Amr bin Umaiyyah Adh-Dhamri masuk ke tempat Najasyi, tak lama lalu  diapun 

keluar. Aku berkata kepada sahabat-sahabatku: "Inilah Amr bin Umaiyyah Adh-Dhamri, jika kepalanya. 

Jika hal itu berhasil aku lakukan, orang-orang Quraisy akan tahu bahwa aku telah mewakilinya 

membunuh utusan Muhammad." Aku pun segera masuk ke ruangan Najasyi dan sujud kepadanya 

sebagaimana biasa aku lakukan. Najasyi berkata: "Selamat datang sahabatku. Hadiah apa yang engkau 

bawa dari negerimu?" aku menjawab: "Ya, wahai raja aku hadiahkan untukmu kulit yang sangat 

banyak." lalu  aku dekatkan kulit ini  kepadanya, dan ia pun mengaguminya dan terlihat 

senang dengannya. Aku berkata: "Wahai raja, sungguh baru saja kulihat seseorang keluar dari 

tempatmu yang tak lain yaitu  utusan musuh kami. Serahkanlah dia padaku untuk kami bunuh, karena 

ia telah membunuh tokoh-tokoh dan orang-orang pilihan di antara kami." 

Amr bin Al-Ash berkata: Najasyi marah besar. Ia mengangkat tangan dan memukulkannya ke 

hidungku, aku mengira pukulan ini  membuat hidungku pecah. jika  bumi terbelah untukku 

saat itu, aku pasti masuk ke dalamnya karena takut akan kemarahannya. Aku berkata: "Wahai raja, 

demi Allah, jika aku tahu bahwa baginda raja tidak menyukai permintaanku, pastilah aku tidak akan 

mengajukannya kepadamu." Najasyi bertanya: "Pantaskah engkau meminta padaku untuk 

memberikan padamu utusan orang yang didatangi Malaikat Jibril yang pernah datang kepada Nabi 

Musa, untuk lalu  engkau bunuh utusan itu?" Aku berkata: "Wahai raja, betulkah yang engkau 

katakan itu?" Najasyi berkata: "Celakalah engkau wahai Amr, taatilah aku dan ikutilah Muhammad. 

Demi Allah, ia berada di atas kebenaran dan Allah pasti memenangkannya atas siapa saja yang 

menentangnya, sebagaimana Allah memberikan kemenangan kepada Musa atas Fir'aun dan bala 

tentaranya." Aku bertanya: "Maukah engkau membaiatku masuk Islam mewakilinya?" Najasyi 

menjawab: ya, lalu  Najasyi mengulurkan tangannya, lalu aku berbaiat kepadanya untuk masuk 

Islam. sesudah  itu, aku menemui teman-temanku dengan pendapat yang berbeda dari sebelumnya. 

Akupun merahasiakan keislamanku. 

Amr bin Al-Ash berkata: lalu  aku sengaja pergi ke tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

untuk memeluk Islam. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan Khalid bin Walid. Peristiwa ini terjadi 

menjelang penaklukan Makkah dan saat itu Khalid bin Walid datang dari Makkah. Aku berkata: "Wahai 

Abu Sulaiman, hendak pergi ke mana engkau?" Khalid bin Walid menjawab: "Demi Allah, sungguh kini 

segala sesuatu telah menjadi jelas bahwa lelaki ini (Muhammad) benar-benar seorang nabi. Aku akan 

pergi menemuinya untuk masuk Islam. Lalu engkau sendiri sampai kapan akan terus memusuhinya?" 

Aku menjawab: "Demi Allah, tidaklah aku datang ke tempat ini kecuali untuk masuk Islam." Kami 

berdua tiba di Madinah, di tempat kediaman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Khalid bin Walid 

maju ke depan lalu  masuk Islam dan berbaiat. lalu  aku mendekat kepada Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan berkata kepada beliau: " Wahai Rasulullah, aku akan berbaiat 

kepadamu dengan syarat dosa-dosa masa laluku diampuni." Aku tidak menyebutkan dosa-dosaku 

pada masa mendatang. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Wahai Amr, berbaiatlah, 

karena Islam dan hijrah itu menghapuskan dosa-dosa masa lalu."139 Aku pun berbaiat kepada 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  segera mohon diri untuk pulang. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan integritasnya berkata kepadaku bahwa Utsman bin 

Thalhah bin Abu Thalhah juga masuk Islam bersamaan dengan Amr bin Al-Ash dan Khalid bin Walid. 

Penaklukan Bani Quraizhah terjadi pada bulan Dzulqa'dah dan awal bulan Dzulhijjah. Saat itu, masih 

orang-orang musyrik Makkah yang menangani urusan para jamaah haji.  

 

Perang Bani Lahyan 

Ibnu Hisyam berkata: Ziyad bin Abdullah Al- Bakkai berkata kepadaku dari Muhammad bin Ishaq Al-

Muththallabi yang berkata: sesudah  itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menetap di Madinah 

selama bulan Dzulhijjah, Muharram, Shafar, Rabi'ul Awwal, dan Rabi'ul Akhir. Pada bulan Jumadil Ula, 

enam bulan sesudah  penaklukan Bani Quraizhah, beliau keluar dari Madinah menuju Bani Lahyan untuk 

mencari para sahabat yang dikirim ke Ar-Raji' yaitu Khubaib bin Adi dan yang lainnya. Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam terlihat seperti hendak pergi ke Syam agar bisa menyerang Bani Lahyan 

dengan tanpa diduga sebelumnya. 

Ibnu Hisyam berkata: Beliau menunjuk Ibnu Ummi Maktum untuk sementara sebagai imam di 

Madinah. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan melintasi Ghurab, gunung di 

Madinah, dengan tujuan Syam, melintasi Makhidh, Al-Batra', belok kiri ke Dzatu Al-Masar, lalu keluar 

di Bain, lalu  melintasi Shukhairatul Yamam, berjalan lurus menuju Al-Mahajjah dari jalur 

Makkah, lalu  meningkatkan ritme perjalanan hingga turun di Ghuran, lembah tempat tinggal 

Bani Lahyan. Ghuran yaitu  lembah yang berada di antara Amaj dengan Usfan, yang mengarah ke 

daerah yang bernama Sayah. Di sana Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendapati orang-orang 

Bani Lahyan dalam keadaan siap siaga dengan berlindung di puncak gunung. 

Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam turun di Sayah dan berencana menyerang Bani 

Lahyan dengan tanpa diduga, beliau mengalami kegagalan, lalu beliau bersabda: "Seandainya kita 

turun ke Usfan, orang-orang Makkah pasti melihat kita dan akan mengira kita hendak mendatangi 

mereka." sesudah  itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melanjutkan perjalanan bersama dengan 

dua ratus pejalan kaki dari para sahabatnya hingga turun di Usfan. Beliau mengutus dua penunggang 

kuda dari para sahabat hingga keduanya tiba di Kural Ghamim dan Kura. Sedangkan Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam sendiri memilih pulang ke Madinah. 

Jabir bin Abdullah berkata: Tatkala Rasulullah hendak pulang ke Madinah, aku mendengar Rasulullah 

bersabda: "Mereka yaitu  orang-orang yang kembali, dan orang-orang yang bertaubat insya Allah 

mereka juga merupakan orang-orang yang selalu memuji Tuhan. Aku berlindung diri dari kesulitan 

perjalanan, sedihnya kepulangan, penglihatan buruk terhadap keluarga dan harta."140 

 

Hadits tentang Perang Bani Lahyan yaitu  berasal dari Ashim bin Umar bin Saadah dan Abdullah bin 

Abu Bakr dari Abdullah bin Ka'ab bin Malik. 

 

Perang Dzu Qarad 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali pulang ke Madinah dan 

hanya menetap beberapa malam di sana. Karena tak lama sesudah  itu, Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah 

bin Badr Al-Fazari bersama pasukan berkuda yang berasal dari Ghathafan menyerang unta-unta hamil 

milik rasulullah di Al-Ghabah. Di Al Ghabah itu ada seseorang lelaki dari Bani Ghifar dan seorang 

istrinya. Uyainah bin Hishn membunuh lelaki ini  dan membawa istrinya dengan meletakkannya 

di unta hamil ini .  

 

Ujian Bin al-Akwa’ di Perang Ini 

lbnu ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah dan Abdullah bin Abu Bakr serta orang yang tidak 

aku ragukan integritasnya menceritakan kepadaku dari Abdullah bin Ka'ab bin Malik. Mereka semua 

hanya menceritakan sebagian Perang Dzu Qarad. Mereka berkata: "Orang yang pertama kali melihat 

kedatangan Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr Al-Fazari beserta pasukannya yaitu  Salamah 

bin Amr bin Al Akwa' As-Sulami. Ia pergi ke Al-Ghabah pada waktu pagi dengan membawa busur 

lengkap dengan anak panahnya, dia ditemani seorang budak milik Thalhah bin Ubaidillah yang 

menuntun kudanya. jika  Salamah bin Amr berada di atas Tsaniyyatul Wada', ia melihat sebagian 

kuda-kuda Uyainah bin Hishn, kemdudian dia mendaki Sal'u untuk mengintainya lalu dia berteriak: 

"Hai orang-orang yang terjaga di pagi hari!" lalu  Salamah bin Amr bergerak menelusuri jejak 

Uyainah bin Hishn. Dalam kondisi seperti itu Salamah bin Amr laksana binatang buas. ia terus mengejar 

hingga berhasil mendekati mereka, lalu  menyerang mereka dengan anak panah. Setiap kali ia 

memanah, ia berkata: "Rasakanlah anak panah ini, aku anak Al-Akwa! Hari ini hari kematian orang 

jahat." 

Jika pasukan berkuda Uyainah bin Hishn berlari ke arahnya, ia melarikan diri dan menjauhi mereka. 

Jika terbuka kesempatan untuk memanah, ia memanah mereka sambil berkata: "Rasakanlah anak 

panah ini, aku yaitu  anak Al-Akwa! Hari ini hari kematian orang jahat." 

Demikianlah yang terjadi hingga salah seorang dari anak buah Uyainah bin Hishn berkata: "Alangkah 

buruknya nasib kita sejak berseru di Madinah: Bergeslah! Bergegaslah!. Para sahabat penunggang 

kuda memacu kudanya menuju Rasulullah. Penunggang kuda yang pertama kali tiba di tempat beliau 

yaitu  Al-Miqdad bin Amr.