r bin Wahb bin Al-Aswad, ia mengatakan: jika Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengetahui tewasnya Utsman bin Abdullah, beliau bersabda: "Semoga
Allah melaknatnya, karena dulu ia membenci orang-orang Quraisy."
Ibnu Ishaq berkata: Ya'qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas meriwayatkan kepadaku bahwa
koraban yang lainnya yang tewas terbunuh selain Utsman bin Abdullah ialah budak Kristennya.
Al-Mughirah bin Syu'bah berkata: Tatkala salah seorang dari kaum Anshar mengambil salab (harta
rampasan) dari para korban Tsaqif, ia mendapati budak ini tidak dikhitan. lalu ia berteriak:
"Wahai orang-orang Arab, Allah mengetahui bahwa orang-orang Tsaqif tidak dikhitan." Aku pegang
tangan orang Anshar ini , karena aku khawatir ia bercerita tentang kami kepada orang-orang
Arab. Aku berkata padanya: "janganlah engkau berkata seperti itu. sebenarnya orang ini
yaitu budak kami yang beragama Kristen." Lalu aku memperlihatkan korban lain kepada orang
Anshar ini dan aku berkata: "Tidak engkau melihat mereka dikhitan?"
Ibnu Ishaq berkata: Panji perang Al-Ahlaf ada pada Qarib bin Al-Aswad. jika orang-orang kabilah
Hawazin kalah, ia sandarkan panji perangnya pada sebuah pohon, lalu ia bersama anak-anak paman
dan kaumnya dari Al-Ahlaf melarikan diri. Dengan demikian, yang terbunuh dari orang-orang Al-Ahlaf
hanyalah dua orang; seorang dari Bani Ghiyarah bernama Wahb dan yang lain berasal dari Bani Kabbah
bernama Al-Julah.
jika Rasulullah mendengar kabar tewasnya Al-Julah, beliau bersabda: "Hari ini, pemuda terbaik
Tsaqif telah terbunuh, kecuali apa yang terjadi pada Ibnu Hunaidah." -Yang dimaksud dengan Ibnu
Hunaidah ialah Al- Harits bin Uwais-.
Terbunuhnya Duraid bin Ash-Shimah
Ibnu Ishaq berkata: Saat kaum musyrik kalah di Perang Hunain, mereka pergi ke Thaif bersama Malik
bin Auf An-Nashri, sebagian dari mereka berkemah di Lembah Authas dan sebagian lainnya pergi ke
Nakhlah, dan hanya Bani Ghiyarah dari Tsaqif saja yang pergi ke Nakhlah. Pasukan berkuda Rasulullah
membuntuti orang-orang yang melintasi Nakhlah namun tidak membuntuti orang-orang yang
melewati perbatasan.
Rabi'ah bin Rufay'i bin Uhban bin Tsa'labah bin Rabi'ah bin Yarbu' bin Sammal bin Auf bin Umru'ul Qais
-Rabi'ah yang dikenal dengan panggilan Ibnu Ad-Dughunah dan Ad-Dughunah yaitu ibunya. Ia lebih
dikenal dengan sebutan ini. Pendapat lain mengatakan Ibnu Ladz'ah, ia menemukan Duraid bin Ash-
Shimmah, lalu Rabi'ah bin Rufay'i memegang untanya karena Rabi'ah bin Rufay'i mengira bahwa
Duraid bin Ash-Shimmah seroang wanita, sebab saat itu Duraid bin Ash-Shimmah berada di dalam
sekedup, tapi ternyata Duraid bin Ash-Shimmah yaitu seorang lelaki. Rabi'ah bin Rufay'i
mendudukkan unta Duraid bin Ash-Shimmah, dan didapatinya ia telah tua, namun Rabi'ah bin Rufay'i
tidak mengenalnya.
Duraid bin Ash-Shimmah berkata kepada Rabi'ah bin Rufay'i: "Apa yang engkau inginkan dariku?"
Rabi'ah bin Rufay'i menjawab: "Aku ingin membunuhmu." Duraid bin Ash-Shimmah berkata:
"Siapakah dirimu?" Rabi'ah bin Rufay'i menjawab: "Aku yaitu Rabi'ah bin Rufay'i As-Sulami."
lalu Rabi'ah bin Rufay'i menebas Duraid bin Ash-Shimmah dengan pedangnya, namun tebasan
pedang- nya tidak menyebabkan pengaruh apapun. Duraid bin Ash-Shimmah berkata: "Alangkah
jeleknya senjata yang diberikan ibumu. Ambillah pedangku di belakang pelana yang terletak di
sekedup, lalu tebaslah aku dengan pedang ini seperti itulah dahulu aku biasa menyerang
orang. sesudah itu, temui ibumu dan katakan padanya bahwa engkau telah berhasil membunuh Duraid
bin Ash-Shimmah. Demi Allah, aku banyak menyelamatkan wanita-wanitamu." Orang-orang Bani
Sulaim meriwayatkan bahwa Rabi'ah bin Rufay'i berkata: "jika aku memukul Duraid bin Ash-
Shimmah dengan pedangnya, ia terjatuh dan pakaiannya tersingkap, ternyata pantat dan pahanya
bagaikan kertas karena ia sering mengendarai kuda tanpa mengenakan pelana." jika Rabi'ah bin
Rufay'i pulang menemui ibunya dan bercerita tentang pembunuhannya terhadap Duraid bin Ash-
Shimmah di tangannya, ibunya berkata: "Demi Allah, ia telah memerdekakan tiga orang ibu dari
keluargamu."
Ibnu Hisyam berkata: pendapat lain mengatakan bahwa orang yang membunuh Duraid bin Ash-
Shimmah yaitu Abdullah bin Qunay'i bin Ahban bin Tsa'labah bin Rabi'ah.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah memerintahkan Abu Amir Al-Asy'ri untuk menelusuri jejak-jejak kaum
musyrikin yang pergi ke arah Lembah Authas. Abu Amir Al-Asy'ari menemukan sebagian orang
musyrikin yang kalah, lalu perang terjadi di antara ke dua belah pihak. Pada perang ini ,
Abu Amir Al-Asy'ari terkena panah hingga gugur, lalu panji perang diambil alih oleh Abu Musa
Al-Asy'ari yang merupakan anak paman Abu Amir Al-Asy'ari. Abu Musa Al-Asy'ari bertempur melawan
orang-orang musyrikin, hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan.
Para ulama berkata bahwa Salamah bin Duraid bin Ash-Shimmah yaitu orang yang melempar Abu
Amir Al-Asy'ari dengan panah yang mengenai lututnya dan menyebabkannya gugur.
Samadir yaitu ibu Salamah bin Duraid bin Ash-Shimmah.
Korban tewas terbanyak yaitu dari Bani Nashr tepatnya dari Bani Riab. Para ulama meriwayatkan
bahwa Abdullah bin Qais yang terkenal dengan panggilan Ibnu Al-Aura' yang juga merupakan salah
seorang anak keturunan Wahb bin Riab berkata: "Wahai Rasulullah, banyak orang yang meninggal
dunia dari Bani Riab." Mereka mengatakan bahwa Rasulullah berdoa: "Ya Allah, berilah ganti atas
musibah mereka."
Saat orang-orang kabilah Hawazin menderita kekalahan, Malik bin Auf An-Nashri pergi lalu berhenti
di tengah-tengah pasukan berkuda kaumnya di jalan sempit di sebuah gunung. Ia berkata kepada para
pengikutnya: "Berhentilah hingga orang-orang lemah dari kalian dapat berjalan di depan dan teman-
teman kalian di belakang dapat menyusul."
Di sana, Malik bin Aur An-Nashri dan para pengikutnya berhenti hingga orang-orang musyrikin yang
kalah bisa menyusul mereka.
Ibnu Hisyam berkata: Sebuah riwayat sampai padaku bahwa pasukan berkuda muncul saat Malik bin
Auf An-Nashri berada di jalan sempit. Malik bin Auf An-Nashri berkata kepada pasukannya: "Apa yang
kalian saksikan?" Pasukannya menjawab: "Kami melihat sebuah kaum yang meletakkan tombak-
tombak di antara telinga kuda mereka dan bagian dalam paha mereka." Malik bin Auf An-Nashri
berkata: "Mereka Bani Sulaim, kalian tidak perlu khawatir bertemu dengan mereka." jika pasukan
berkuda ini semakin dekat, mereka berjalan melintasi bagian bawah lembah. Tiba-tiba pasukan
berkuda lain datang. Malik bin Auf An-Nashri berkata kepada pasukannnya: "Apa yang kalian
saksikan?" Anak buahnya menjawab: "Kami melihat kaum yang mengangkat tombak-tombak dalam
kondisi lalai di atas kuda-kuda mereka." Malik bin Auf An-Nashri berkata: "Mereka yaitu orang-orang
dari Aus dan Khazraj. Kalian tidak perlu khawatir dari mereka." jika pasukan berkuda ini tiba
di jalan itu, mereka berjalan melintasi jalan Bani Sulaim. Namun tak lama lalu , muncullah
penunggang kuda, lalu Malik bin Auf An-Nashri berkata kepada pasukannya: "Apa yang kalian
saksikan?" pasukannya menjawab: "Kami melihat seorang penunggang kuda yang pahanya panjang,
meletakkan tombak di atas pundaknya, dan mengikat kepalanya dengan kain berwarna merah." Malik
bin Auf An-Nashri berkata: "Dia yaitu Zubair bin Awwam. Aku bersumpah dengan Al-Lata, ia pasti
akan menghancurkan barisan kalian, maka hendaklah kalian tetap tegar saat menghadapinya."
jika Zubair bin Awwam tiba di ujung jalan itu, ia memperhatikan Malik bin Auf An-Nashri dan
pasukannya, lalu berjalan menuju mereka dan ia terus mengganggu mereka hingga berhasil
mengusir mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Salamah bin Duraid bin Ash-Shimmah bersenandung sambil menuntun istrinya
hingga membuat semangat orang-orang musyrikin lemah:
Engkau melupakanku, padahal engkau tidak terluka
Walaupun kau tahu di hari itu di kaki Al-Adhrub
Bahwa aku telah melindungimu, sementara para tentara melarikan diri
Aku berjalan di belakangmu laksana jalannya orang yang miring salah satu pundaknya
Kala orang-orang terlatih dengan kepala tertutup melarikan diri
Dari ibunya dan tak akan pernah lagi kembali pada temannya
Ibnu Hisyam berkata: Seorang ulama pakar syair yang tidak aku ragukan integritasnya menuturkan
kepadaku bahwa Abu Amir Al-Asy'ari bertemu dengan sepuluh bersaudara dari kaum musyrikin di
perang Authas. Salah seorang dari kesepuluh bersaudara ini menyerang Abu Amir Al-Asy'ari dan
beliau menghadapinya dengan mengajaknya masuk Islam, ia kepadanya: "Ya Allah, saksikanlah."
lalu orang ini dibunuh oleh Abu Amir Al-Asy'ari. lalu satu demi satu dari kesepuluh
bersaudara ini menyerang Abu Amir Al-Asy'ari dan Abu Amir Al-Asy'ari menghadapinya sambil
mengajaknya masuk Islam seraya berkata: "Ya Allah, saksikanlah dia." lalu orang ini
dibunuh oleh Abu Amir Al-Asy'ari. Kejadian seperti itu terus terulang hingga tersisa satu orang dari
mereka. Orang terakhir dari sepuluh bersaudara ini menyerang Abu Amir Al-Asy'ari, lalu Abu
Amir Al-Asy'ari menghadapinya dengan berkata kepadanya: "Ya Allah, saksikanlah dia." Orang
ini berkata: "Ya Allah, janganlah Engkau bersaksi terhadapku." Abu Amir Al-Asy'ari menahan
dirinya, lalu orang itu melarikan diri. sesudah itu, orang ini masuk Islam dan keislamannya
baik. Setiap kali Rasulullah melihat orang itu, beliau bersabda: "Orang ini yaitu orang yang lari dari
Abu Amir." sesudah itu, Abu Amir diserang oleh dua orang; Al-Ala' dan Aufa, keduanya merupakan anak
Al-Harits dari Bani Jusyam bin Muawiyah. Serangan salah seorang dari keduanya mengenai ulu hati
Abu Amir Al-Asy'ari sedang serangan yang lainnya mengenai lutut. lalu Abu Amir Al-Asy'ari
meninggal akibat serangan kedua orang ini .
sesudah itu, komando kaum Muslimin diambil alih oleh Abu Musa Al-Asy'ari yang lalu menyerang
kedua orang yang telah membunuh Abu Amir Al-Asy'ari dan beliau berhasil membunuh mereka
berdua
Ibnu Ishaq berkata: Beberapa ulama meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah berjalan melintasi
wanita yang dibunuh oleh Khalid bin Walid yang sedang dikerumuni oleh banyak orang. Beliau
bertanya: "Ada apa ini?" Orang-orang menjawab: "Ada mayat wanita yang dibunuh Khalid bin Walid."
Rasulullah bersabda kepada seorang sahabat yang jika itu bersama beliau: "Carilah Khalid dan
katakan kepadanya bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melarangmu membunuh anak-
anak, wanita dan budak sewaan."
Bijad dan Syaima' Saudari Sesusuan Rasulullah
Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang dari Bani Sa'ad bin Bakr meriwayatkan kepadaku bahwa pada saat
itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "jika kalian berhasil menangkap Bijad,
seorang berasal dari Bani Sa'ad bin Bakr, maka jangan biarkan dia lepas dari kalian." Sebelumnya, Bijad
membuat ulah. Pada saat kaum Muslimin berhasil menangkapnya, mereka menggiring Bijad bersama
keluarganya, termasuk Syaima' binti Al-Harits bin Abdul Uzza yang merupakan saudari sesusuan
Rasulullah. Saat itu kaum Muslimin berprilaku kasar terhadap Syaima' binti Al-Harits. Karenanya
Syaima' binti Al-Harits berkata kepada mereka: "Ketahuilah, aku yaitu saudari sesusuan sahabat
(Nabi) kalian." Kaum Muslimin tidak mempercayai pengakuan Syaima' itu hingga mereka
membawanya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ubaid As-Sa'adi meriwayatkan kepadaku bahwa pada saat kaum
Muslimin datang kepada Rasulullah dengan membawa Syaima', Syaima' binti Al-Harits berkata kepada
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Rasulullah, aku yaitu saudari sesusuanmu."
Rasulullah bertanya: "Apa buktinya?" Syaima' binti Al-Harits menjawab: "Bekas gigitan. Engkau pernah
menggigit punggungku saat aku menggendongmu." Rasulullah pun mengenali bukti ini ,
lalu beliau menggelar burdahnya untuk Syaima' binti Al-Harits lalu menyuruhnya duduk di atas
kain burdah ini , serta mengajukan beberapa tawaran baginya. Rasulullah bersabda kepada
Syaima' binti Al-Harits: "jika engkau mau tinggal bersamaku, maka sebenarnya engkau akan
dicintai dan dimuliakan. Namun jika engkau menginginkanku memberimu sesuatu dan kembali kepada
kaummu, itu juga akan aku penuhi." Syaima' binti Al-Harits berkata: "Aku menginginkanmu memberi
sesuatu kepadaku dan memulangkan aku kepada kaumku." Ke mudian Rasulullah memberikan
sesuatu kepada Syaima binti Al-Harits dan memulangkannya kepada kaumnya. Bani Sa'ad mengatakan
bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memberi seorang budak laki-laki yang bernama Makhul
dan seorang budak wanita Syaima binti Al-Harits. lalu kedua budak itu menikah satu sama
lainnya dan anak keturunannya masih ada hingga saat ini.
Ibnu Hisyam berkata: Allah menurunkan firman-Nya tentang perang Hunain:
sebenarnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di tnedan peperangan yang banyak,
dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya
jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan
bumiyangluas itu telah terasa sempit olehmu, lalu kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.
lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman,
dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana
kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (QS. at-
Taubah: 25-26).
Ibnu Ishaq berkata: Berikut ini yaitu daftar nama para syuhada' kaum Muslimin pada Perang Hunain:
Dari Quraisy lalu lebih pasnya dari Bani Hasyam ialah Aiman bin Ubaid.
Dari Bani Asad bin Abdul Uzza, Yazid bin Zam'ah bin Al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad. Ia gugur
karena kudanya yang bernama Al-Janah enggan berlari.
Dari kaum Anshar ialah Suraqah bin Al-Harits bin Adi.
Dari Bani Al-Ajlan dari orang-orang Al- Asy'ari ialah Abu Amir Al-Asy'ari-
Seluruh tawanan dan harta rampasan dari Perang Hunain diserahkan kepada Rasulullah. Harta
rampasan itu lalu dijaga oleh Mas'ud bin Amr Al-Ghifari. Rasulullah memerintahkan para
tawanan dan harta rampasan agar dibawa ke Al-Ji'ranah dan disimpan di sana.
Perang Thaif sesudah Perang Hunain Tahun Kedelapan Hijriyah
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala orang-orang Tsaqif yang kalah perang tiba di Thaif, mereka menutup
seluruh pintu gerbang dan membuat sejumlah persiapan untuk kembali melancarkan perang. Urwah
bin Mas'ud dan Ghailan bin Salamah tidak ikut serta pada Perang Hunain dan pengepungan Thaif,
sebab jika itu keduanya sedang berada di Jurasy tengah mempelajari pembuatan dabbabah
(testudo, tank kayu), manjaniq (ketapel besar berfungsi laksana meriam) dan dhabur (kulit pelapis
kayu).
Ibnu Ishaq berkata: sesudah Perang Hunain usai, Rasulullah berangkat ke Thaif.
Perjalanan Menuju Thaif
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah berangkat melalui jalur Nakhlah Al-Yamaniyah, Qarn, Al-Mulaih, dan
Bahrah Ar-Rugha' dari Liyyah. Di sana, Rasulullah membangun sebuah masjid dan mendirikan shalat.
Ibnu Ishaq berkata: Amr bin Syua'ib meri- wayatkan kepadaku, pada saat Rasulullah singgah di Bahrah
Ar-Rugha beliau melaksanakan hukuman qishas atas kasus pembunuhan dan itulah qishas
pembunuhan pertama kali terjadi dalam Islam. Ini terjadi karena seorang warga Bani Laits membunuh
seorang warga Hudzail. Maka orang Bani Laits itu dibunuh sebagai qishas atasnya.
Rasulullah memerintahkan penghancuran benteng Malik bin Auf di Liyyah, maka benteng ini
pun dihancurkan.
sesudah itu Rasulullah melanjutkan perjalanan melalui jalan yang disebut Adh-Dhayqah. Saat
Rasulullah berjalan menuju jalan ini , beliau bertanya tentang namanya: "Apakah nama jalan
ini?" Para sahabat menjawab: "Jalan ini bernama Adh-Dhayqah." Rasulullah bersabda: "Gantilah
namanya menjadi Al-Yusra." sesudah itu, Rasulullah keluar dari jalan Adh-Dhayqah (AI-Yusra) melintasi
Nakhab dan berhenti di bawah sebuah pohon bidara bernama Ash-Shadirah yang terletak di dekat
kebun milik salah seorang dari Tsaqif.
Rasulullah pergi menemui pemilik kebun ini lalu berkata kepadanya: "Engkau harus pergi dari
sini. Jika tidak, kami akan merusak kebun milikmu." Orang dari Tsaqif ini menolak untuk pergi,
lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan agar kebun orang Tsaqif itu dirusak.
lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam meneruskan perjalanan hingga tiba di daerah dekat
Thaif dan di sana beliau berkemah. Namun di tempat ini beberapa sahabat Rasulullah terkena
lemparan anak panah, karena markas beliau berdekatan dengan benteng Thaif. Sehingga tidak aneh
bila ada anak panah mengenai kaum Muslimin. Mereka tidak dapat menembus benteng orang-orang
Thaif lantaran mereka menutup gerbangnya. Tatkala beberapa sahabat terkena serangan anak panah,
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memindahkan kemahnya ke sebuah tempat yang saat ini
tempat ini menjadi masjid rasulullah yang ada di Thaif. lalu melakukan pengepungan
terhadap orang-orang Thaif selama dua puluh malam lebih.
Ibnu Hisyam berkata: pendapat lain mengatakan bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
mengepung orang-orang Thaif selama tujuh belas malam.
Ibnu Ishaq berkata: Saat itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ditemani dua orang istrinya,
diantaranya ialah Ummu Salamah binti Abu Umayyah. Karena itulah, dua tenda untuk keduanya
dipasang dan Rasulullah mendirikan shalat di antara kedua kemah ini . Pada saat orang-orang
Tsaqif masuk Islam, Amr bin Umayyah bin Wahb bin Muattib bin Malik membangun masjid di tempat
yang dipakai shalat oleh Rasulullah ini . Di masjid ini terdapat pilar, jika terkena sinar
matahari, maka akan terdengar jeritan dari pilar ini . Rasulullah mengepung orang-orang Thaif,
lalu memerangi mereka dan terjadilah saling lempar anak panah antara kedua belah pihak.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melempar orang-orang Thaif dengan
senjata manjaniq. Orang yang aku percayai meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah merupakan
orang yang pertama kali melempar dengan senjata manjaniq dalam sejarah Islam, yaitu pada saat
beliau melempar orang-orang Thaif.
Ibnu Ishaq berkata: Hingga pada pertempuran Syadkhah di samping tembok Thaif, beberapa sahabat
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam masuk ke bawah dabbabah (tank kayu), lalu dengan
dabbabah ini , mereka mendekat ke benteng Thaif agar melubanginya. Pada saat itulah orang-
orang Tsaqif melepaskan besi panas ke arah kaum Muslimin. Dan kaum muslimin menyelamatkan diri
darinya. Pada saat yang sama, mereka juga menghujani kaum Muslimin dengan anak panah, sehingga
kaum muslimin banyak yang gugur.
Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kaum Muslimin memotong pohon-pohon
anggur milik orang-orang Tsaqif dan kaum Muslimin pun segera melaksanakan perintah rasulnya.
Perundingan Bersama Orang- orang Tsaqif
Ibnu Ishaq berkata: Abu Sufyan bin Harb dan Al-Mughirah bin Syu'bah berjalan mendekat ke Thaif lalu
keduanya memanggil orang-orang Thaif: "Berilah jaminan keamanan kepada kami agar kami bisa
berunding dengan kalian." Orang-orang Thaif pun memberikan jaminan keamanan kepada kedua
sahabat ini .
Lalu keduanya memanggil wanita-wanita Quraisy dan wanita-wanita Bani Kinanah agar mereka keluar
menemui keduanya sebab keduanya khawatir jika wanita-wanita ini menjadi tawanan perang,
namun para wanita itu menolak memenuhi panggilan mereka berdua. Di antara para wanita yang
menolak panggilan keduanya ialah Aminah binti Abu
Sufyan yang diperistri Urwah bin Mas'ud dan dari keduanya lahir Daud bin Urwah.
Ibnu Hisyam berkata: Pendapat lain mengatakan bahwa ibu Daud ialah Maimunah binti Abu Sufyan
yang diperistri oleh Abu Murrah bin Urwah bin Mas'ud, dari pernikahannya lahirlah Daud bin Abu
Murrah. Al-Firasiyyah binti Suwaid bin Amr bin Tsa'labah, ia memiliki anak bernama Abdurrahman bin
Qarib, dan Al-Fuqaimiyyah binti An-Nasi' bin Qala.
Saat para wanita ini menolak memenuhi panggilan Abu Sufyan bin Harb dan Al-Mughirah bin Syu'bah,
maka Ibnu Al-Aswad bin Mas'ud berkata kepada keduanya: "Wahai Abu Sufyan dan Al-Mughirah,
maukah engkau berdua aku tunjukkan pada sesuatu yang lebih baik dibandingkan apa yang kalian
inginkan? sebenarnya kalian telah mengetahui kebun Bani Al-Aswad bin Mas'ud. Saat itu Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam singgah di lembah benama Al-Aqiq dan di Thaif tidak terdapat harta yang
lebih panjang talinya, lebih dibutuhkan, dan lebih luas bangunannya dibandingkan kebun milik Bani Al-
Aswad bin Mas'ud. Dan jika Muhammad telah menebangnya, maka kebun itu tidak akan ditanami
kembali untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu, maka sampaikanlah kepada beliau, agar beliau
mengambil kebun itu untuk beliau sendiri atau membiarkannya untuk Allah dan sanak kerabatnya.
Karena seperti diketahui banyak orang bahwa kami memiliki hubungan kekerabatan dengan beliau."
Para ulama berpendapat mengenai kebun ini apakah Rasulullah membiarkan kebun ini
untuk Bani Al-Aswad bin Mas'ud.
Ibnu Ishaq berkata: Diriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah bersabda kepada Abu Bakar saat beliau
mengepung orang-orang Tsaqif: "Wahai Abu Bakar, aku bermimpi diberi hadiah mangkuk yang berisi
penuh mentega, lalu mangkuk itu dipatuk ayam jago hingga isinya pun tertumpah." Abu Bakar
berkata: "Aku mengira engkau tidak dapat menaklukkan mereka pada hari ini sebagaimana yang
engkau harapkan." Rasulullah bersabda: "Tapi aku tidak berkesimpulan seperti itu."
Keberangkatan Kaum Muslimin dan Penyebabnya
Ibnu Ishaq berkata: Khuwailah binti Hakim bin Umaiyyah bin Haritsah bin Al-Auqash As-Sulami, istri
Utsman bin Mazh'un berkata: "Wahai Rasulullah, jika Allah menaklukkan Thaif untukmu, maka
berikanlah kepadaku perhiasan Badiyah binti Ghailan bin Salamah atau perhiasan Al-Fari'ah binti Aqil."
Khuwailah mengatakan seperti itu karena keduanya merupakan wanita Tsaqif yang memiliki perhiasan
paling banyak. Dituturkan kepadaku bahwa jika itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda
kepada Khuwailah binti Hakim, "Wahai Khuwailah, bagaimana bila aku tidak diberi izin atas orang-
orang Tsaqif?" Khuwailah binti Hakim pergi dari hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu
menceritakan ucapan Rasulullah ini kepada Umar bin Khaththab. lalu Umar bin Khaththab
menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah yang telah
engkau sampaikan kepada Khuwailah? Sebab ia bercerita bahwa engkau mengatakan sesuatu?"
Rasulullah menjawab: "Ya, aku memang telah mengatakan demikian." Umar bin Khaththab bertanya:
"Apakah engkau tidak diizinkan atas mereka wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab: "Tidak." Umar
bin Khaththab berkata: "Bagaimana jika aku mengumumkan kepada orang-orang untuk berangkat?"
Rasulullah bersabda: "Silahkan." Umar bin Khaththab mengumumkan kepada kaum muslimin agar
mereka berangkat.
sesudah mereka berangkat, Sa'id bin Ubaid bin Usaid bin Abu Amr bin Allaj menyeru: "Ketahuilah,
sebenarnya penduduk kampung itu tidak ikut berangkat." Uyainah bin Hishn berkata: "Tentu saja,
demi Allah, ini merupakan sebuah kemuliaan." Salah seorang dari kaum Muslimin berkata kepada
Uyainah bin Hishn: "Semoga Allah membunuhmu wahai Uyainah. Layakkah engkau memuji orang-
orang musyrikin yang telah menghadang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, padahal engkau
datang ke tempat ini untuk menolongnya?" Uyainah bin Hishn berkata: "Demi Allah, aku datang ke
tempat ini bukan untuk memerangi orang-orang Tsaqif bersama kalian, namun aku berharap
Muhammad dapat membuka benteng Thaif, lalu aku mendapat salah seorang gadis Tsaqif,
lalu aku mengawinya dan semoga lahir darinya anak laki-laki untukku, karena orang-orang Tsaqif itu
jenius."
Beberapa orang budak di antara orang- orang yang terkepung di Thaif menemui Rasulullah Shallalahu
alaihi wa Sallam untuk masuk Islam, lalu beliau memerdekakan mereka.
Hamba-hamba Sahaya di Thaif Menemui Kaum Muslimin
Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan integritasnya meriwayatkan kepadaku dari Abdullah
bin Mukaddam dari beberapa orang Tsaqif, ia berkata: Pada saat orang-orang Thaif masuk Islam,
beberapa orang dari mereka berbicara jelek tentang budak-budak ini , lalu Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak, mereka yaitu orang-orang yang telah dimerdekakan
oleh Allah." Di antara orang yang membicarakan tentang budak-budak ini yaitu Al-Harits bin
Kaladah.
Ibnu Hisyam berkata bahwa Ibnu Ishaq telah menyebutkan nama-nama para budak yang menemui
Rasulullah.
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Tsaqif menangkap keluarga Marwan bin Qais Ad- Dausi. Marwan bin
Qais Ad-Dausi telah masuk Islam dan membantu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika
menghadapi orang-orang Tsaqif. Orang-orang Tsaqif yang mengaku berasal dari Qais meyakini bahwa
Rasulullah bersabda kepada Marwan bin Qais Ad-Dausi: "Wahai Marwan, sebagai ganti keluargamu,
tangkaplah orang Qais yang pertama kali engkau jumpai." Lalu Marwan bin Qais Ad-Dausi bertemu
Ubay bin Malik Al-Qusyairi, dan Marwan bin Qais Ad-Dausi pun menangkapnya dengan harapan agar
orang-orang Tsaqif membebaskan keluarganya. Sebab itulah Adh-Dhahhak bin Sufyan Al-Kilabi berdiri
lalu berdialog dengan orang-orang Tsaqif yang pada akhirnya bersedia memembebaskan keluarga
Marwan bin Qais Ad-Dausi, dan sebagai gantinya Marwan bin Qais Ad-Dausi juga membebaskan Ubay
bin Malik Al-Qusyairi.
Kaum Muslimin Yang Gugur pada Perang Thaif
Ibnu Ishaq berkata: berikut ini yaitu nama-nama kaum Muslimin yang gugur sebagai syuhada di
Perang Thaif:
Dari Quraisy, lalu dari Bani Umaiy sementara Ibnu Hisyam berkata: pendapat lain yang
mengatakan Ibnu Hubab.
Dari Bani Taym bin Murrah: Abdullah bin Abu Bakar Ash-Shiddiq. la terkena panah dan karenanya ia
meninggal dunia di Madinah sesudah Rasulullah wafat.
Dari Bani Makhzum: Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah yang gugur karena terkena lemparan
panah.
Dari Bani Adi bin Ka'ab: Abdullah bin Amir bin Rabi'ah, sekutu mereka.
Dari Bani Sahm bin Amr: As-Saib bin Al-Harits bin Qais bin Adi dan saudaranya bernama Abdullah bin
Al-Harits.
Dari Bani Sa'ad bin Laits: Julaihah bin Abdullah.
Syuhada' kaum Muslimin dari kaum Anshar, lalu dari Bani Salamah: Tsabit bin Al-Jidz'i.
Dari Bani Mazin bin An-Najjar: Al-Harits bin Sahl bin Abu Sha'sha'ah.
Dari Bani Saidah: Al-Mundzir bin Abdullah.
Dari Al-Aus: Ruqaim bin Tsabit bin Tsa'labah bin Zaid bin Laudzan bin Muawiyah.
Dengan demikian jumlah sahabat Rasulullah yang gugur sebagai syuhada' Perang Thaif ialah dua belas
orang. Tujuh diantaranya berasal dari Quraisy sementara empat orang lainnya dari kaum Anshar, dan
satu orang dari Bani Laits.
Harta Dan Tawanan Hawazin Dan Jatah Para Muallaf Serta Pemberian Rasulullah
Ibnu Ishaq berkata: Sekembalinya dari Thaif, Rasulullah berjalan melintas di daerah Duhna lalu
singgah di Ji’ranah bersama para sahabatnya dan membawa tawanan dari kabilah Hawazin dalam
jumlah besar. Salah seorang sahabat berkata kepada Rasulullah pada saat meninggalkan Tsaqif:
"Wahai Rasulullah, doakan orang-orang Tsaqif agar mendapat kebinasaan." Rasulullah bersabda:
"Ya Allah, berilah petunjuk kepada orang-orang Tsaqif dan bawalah mereka ke dalam Islam."
Utusan dari kabilah Hawazin datang kepada Rasulullah saat beliau berada di Al-Ji'ranah. Pada saat itu,
Rasulullah membawa enam ribu orang tawanan kabilah Hawazin, anak-anak dan para wanita, serta
unta dan kambing yang berjumlah banyak.
Ibnu Ishaq berkata: Amr bin Syuaib meriwayatkan kepadaku dari ayahnya dari kakeknya, Abdullah bin
Amr, yang berkata bahwa utusan kabilah Hawazin datang kepada Rasulullah dan mereka telah masuk
Islam. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, sebenarnya kita berasal dari satu keturunan dan
keluarga besar. Kami telah ditimpa petaka sebagaimana engkau ketahui. Oleh karena itu, berilah kami
pertolongan, semoga Allah memberimu pertolongan."
Salah seorang utusan kabilah Hawazin dari Bani Sa'ad bin Bakr bernama Zuhair yang biasa dipanggil
Abu Shurad berdiri seraya berkata: "Wahai Rasulullah, di tempat penampungan para tawanan
terdapat bibi-bibimu dari jalur ayah, bibi-bibimu dari jalur ibu, dan wanita-wanita yang biasa menyusui
yang dahulu pernah mengasuhmu. Jika kami (istri-istri atau orang tua kami perempuan) menyusui Al-
Harits bin Abu Syamr atau An-Nu'man bin Al-Mundzir, lalu kami ditimpa petaka sebagaimana
yang menimpanya, maka kami mengharapkan belas kasihan dan pertologannya kepada kami. Dan
kami tahu bahwa engkau merupakan anak asuh yang paling baik."
Ibnu Hisyam mengatakan: dalam riwayat lain dikatakan, Andaikata kami menyusui Al-Harits bin
Syamir atau An-Nu'man bin al-Mundzir.
Ibnu Ishaq berkata: Amr bin Syuaib meriwayatkan kepadaku dari ayahnya dari kakeknya, Abdullah bin
Amr, ia berkata: lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada utusan kabilah
Hawazin: "Manakah yang lebih kalian cintai; anak-anak dan para wanita, atau harta benda kalian?"
Utusan kabliah Hawazin berkata: "Wahai Rasulullah, engkau menyuruh kami memilih antara anak
keturunan dengan harta kami? Kembalikanlah para wanita dan anak-anak kami, karena mereka lebih
kami cintai dari pada yang lain." Rasulullah bersabda kepada utusan kabilah Hawazin: "Jatahku dan
jatah Bani Abdul Muthalib menjadi milik kalian. sesudah aku mengerjakan shalat Zhuhur ber- sama
kaum Muslimin, maka berdirilah dan katakan: "Kami meminta pembelaan kepada Rasulullah dalam
menghadapi kaum Muslimin dan meminta pembelaan kaum Muslimin dalam menghadapi Rasulullah
dalam urusan wanita dan anak-anak kami.' Niscaya saat itu permintaan kalian akan aku kabulkan dan
aku akan meminta untuk kalian."
Seusai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunaikan shalat Zhuhur bersama kaum Muslimin,
utusan Hawazin itu berdiri dan berkata sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah. Kaum Muhajirin
berkata: "Jatah kami menjadi milik Rasulullah." Kaum Anshar berkata: "Jatah kami juga menjadi milik
Rasulullah." Al-Aqra' bin Habis berkata: "Adapun jatahku dan jatah Bani Tamim tidak menjadi milik
Rasulullah." Uyainah bin Hishn berkata: "Jatahku dan jatah Bani Fazarah juga tidak menjadi milik
Rasulullah." Abbas bin Mirdas berkata: "Jatahku dan jatah Bani Sulaim tidak menjadi milik Rasulullah.”
Bani Sulaim berkata: "Oh, tidak demikian, jatah kami menjadi milik Rasulullah." Abbas bin Mirdas
berkata kepada Bani Sulaim: "Kalian telah melemahkan posisiku."
Rasulullah bersabda: "jika salah seorang dari kalian tetap mempertahankan haknya atas tawanan
ini, maka ia berhak atas enam bagian dari setiap tawanan; mulai dari tawanan yang pertama kali aku
dapatkan." Orang-orang pun menyerahkan para tawanan anak dan wanita kepada utusan kabilah
Hawazin.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Wajzah bin Yazid bin Ubaid As-Sa'di meriwayatkan kepadaku bahwa
Rasulullah memberi hadiah kepada Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu seorang budak wanita
bernama Raithah binti Hilal bin Hayyan bin Umairah bin Hilal bin Nashirah bin Qushaiyyah bin Nashr
bin Sa'ad bin Bakr, dan memberi Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu seorang seorang budak wanita
bernama Zainab binti Hayyan bin Amr bin Hayyan, serta memberi Umar bin Khaththab Radhiyallahu
Anhu seorang budak wanita yang lalu diberikan kepada putranya, Abdullah bin Umar.
Ibnu Ishaq berkata: Nafi' mantan budak Abdullah bin Umar meriwayatkan kepadaku dari Abdullah bin
Umar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata: Aku pergi membawa budak wanita hadiah ini kepada
paman-pamanku dari jalur ibu di Bani Jumah, agar mereka mendandaninya untukku, karena saat itu
aku hendak melakukan thawaf dan sesudahnya aku kembali kepada mereka. Aku ingin menggauli
budak wanita itu sesudah aku melaksanakan thawaf. Seusai thawaf, aku keluar dari Masjidil Haram dan
orang-orang berlarian. Aku bertanya kepada mereka: “Apa yang terjadi dengan kalian." Mereka
menjawab: "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengembalikan para wanita dan anak-anak
kepada kami." Aku berkata: "Salah seorang budak wanita kalian kini berada di Bani Jumah, maka
pergilah kepada mereka dan ambillah dia." Mereka pun pergi ke Bani Jumah dan mengambil budak
wanita ini .
Ibnu Ishaq berkata: Adapun Uyainah bin Hishn, ia mengambil wanita tua dari kabilah Hawazin. Pada
saat mengambil wanita itu, Uyainah binti Hishn berkata: "Aku menyakiskan wanita ini sudah tua dan
aku berharap ia memiliki keluarga. Semoga uang tebusannya besar." Pada waktu Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam mengembalikan para tawanan wanita dengan memberi ganti enam bagian kepada
orang yang berhak mendapat nya, Uyainah bin Hishn menolak mengembalikan wanita tua itu. Lalu
Zuhair Abu Shurad berkata kepada Uyainah bin Hishn: "Ambillah wanita ini . Demi Allah,
mulutnya tidak lagi dingin, payudaranya sudah tidak lagi berisi, perutnya tidak lagi bisa mengandung,
suaminya sudah tidak sedih berpisah dengannya dan air susunya tidak banyak." Uyainah bin Hishn pun
mengembalikan wanita tua ini jika Zuhair Abu Shurad mengatakan itu kepadanya dan
mendapat ganti enam bagian.
Para ulama berpendapat bahwa Uyainah bin Hishn bertemu Al-Aqra' bin Habis dan mengadukan
masalah ini . Lalu Al-Aqra' bin Habis berkata kepada Uyainah bin Hishn: "Demi Allah, mengapa
engkau tidak mengambil wanita yang putih, muda belia, dan montok?."
Malik bin Auf An-Nashri Masuk Islam
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah bersabda kepada utusan suku Hawazin dan bertanya kepada mereka
mengenai keberadaan Malik bin Auf An-Nashri? Utusan suku Hawazin menjawab: "Malik bin Auf An-
Nashri sedang berada di Thaif." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sampaikan kepada
Malik bahwa jika ia masuk Islam, maka keluarga dan hartanya akan aku kembalikan kepadanya,
bahkan aku hadiahi seratus unta." Berita itu disampaikan kepada Malik bin Auf, lalu ia keluar
dari Thaif bermaksud menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Malik bin Auf An-Nashri
khawatir kalau orang-orang Tsaqif mengetahui tawaran Rasulullah untuknya, sebab jika diketahui,
mereka pasti menahannya. Oleh sebab itulah, ia keluar dari Thaif pada malam hari. Ia menaiki kudanya
lalu memacunya sekencang-kencangnya hingga tiba di tempat untanya yang disiapkan. Lalu ia menaiki
unta ini mengejar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan bertemu beliau di Ji'ranah atau
Makkah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengembalikan keluarga dan hartanya kepadanya,
serta memberinya seratus unta. Ia memeluk Islam dan keislamannya baik. Malik bin Auf An-Nashri
berkata tatkala masuk Islam:
Tak pernah aku mendapati manusia seperti Muhammad di seluruh dunia
Menepati janji dan ringan memberi jika di minta
Kapan saja kau minta, ia jelaskan padamu apa yang terjadi di besok hari
Jika satu pasukan tempur telah memperlihatkan senjata pembunuhnya
Dengan tombak dan tebasan seluruh pedang India
Beliau laksana singa terhadap anak-anak singa
Di tengah debu yang menderu dan bagaikan singa yang sedang mengintai
Rasulullah menunjuk Malik bin Auf An-Nashri sebagai komandan membawahi orang-orang dari
kaumnya yang telah memeluk Islam. Suku-suku dari kaumnya yang memeluk Islam ialah Tsumalah,
Salamah, dan Fahm. Bersama suku-suku inilah, Malik bin Auf An-Nashri memerangi orang-orang
Tsaqif.
Pembagian Fa'i Suku Hawazin
Ibnu Ishaq berkata: Usai mengembalikan para tawanan Perang Hunain kepada keluarganya, Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam naik kendaraannya dan diikuti kaum muslimin, sambil yang berkata:
"Wahai Rasulullah, bagikan fa'i unta dan kambing kepada kami. Mereka terus mendesak Rasulullah
hingga beliau bersabda: "Wahai manusia, demi Allah! Seandainya hewan ternak sebanyak pohon-
pohon di Tihamah itu yaitu hak kalian, aku pasti membagi-bagikannya, karena aku bukanlah orang
bakhil, pengecut dan pendusta." Sesaat sesudah itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri di
samping unta, mengambil bulunya yang paling halus, dan mengangkatnya seraya bersabda: "Wahai
manusia, demi Allah, fa'i kalian tidak halal bagiku dan tidak pula atas harta sebesar bulu ini melainkan
seperlimanya saja dan seperlimanya dibagi-bagikan kepada kalian. Oleh karena itu, kembalikan
benang dan jarum, karena sebenarnya ghulul (mengambil sendiri harta rampasan perang sebelum
dibagi) yaitu aib, dan noda buruk di Hari Kiamat."
Seorang laki-laki Anshar datang dengan membawa gulungan benang dari rambut dan berkata: "Wahai
Rasulullah, aku mengambil gulungan benang dari rambut ini dan memanfaatkannya sebagai alas
pelana kendaraanku yang telah rusak." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika ini
bagianku dari rampasan perang maka kau tetap bisa saja menyimpannya bersamamu." Orang dari
kaum Anshar ini berkata: "Kalau hanya ini, aku tidak membutuhkannya." Orang ini pun
lalu membuangnya.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah membagikan jatah kepada para muallaf, khususnya para tokoh
terpandang setiap kaum yang diharapkan dapat menaklukkan dan meluluhkan hati kaum mereka.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menganugrahi Abu Sufyan bin Harb seratus unta, Muawiyah
bin Abu Sufyan bin Harb sebanyak seratus unta, Hakim bin Hizam sebanyak seratus unta. Al-Harits bin
Al-Harits bin Kaldah saudara Bani Abdduddar seratus unta.
Ibnu Hisyam berkata: la yaitu Nushair bin Al-Harits bin Kaladah, Suhail bin Amr seratus unta,
Huwaithib bin Abdul Uzza bin Abu Qais seratus unta, Al-Ala' bin Jariyah Ats-Tsaqafi sekutu Bani Zuhrah
seratus unta, Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr seratus unta, Al-Aqra' bin Habis At-Tamimi
seratus unta, Malik bin Auf An-Nashri seratus unta, dan Shafwan bin Umayyah seratus unta. Semua
mendapat seratus unta.
Selain itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam juga memberi sejumlah orang-orang Quraisy unta di
bawah jumlah seratus ekor. Mereka yaitu Makhramah bin Naufal Az-Zuhri, Umair bin Wahb Al-
Jumahi, dan Hisyam bin Amr saudara Bani Amir bin Luay.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menghadiahi Sa'id bin Yarbu' bin Ankatsah bin Amir bin
Makhzum lima puluh unta, As-Sahmi -Ibnu Hisyam berkata: nama aslinya Adi bin Qais- lima puluh
unta. Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang ulama yang tidak aku ragukan kejujurannya bercerita
kepadaku dalam sanadnyz. dari Ibnu Syihab Az-Zuhri dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu
Abbas Radhiyallahu Anhuma ia berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membaiat orang-
orang Quraisy dan yang lain. lalu pada Perang Ji'ranah beliau membagi jatah kepada mereka
dari ghanimah Perang Hunain.
Dari Bani Umayyah bin Abdu Syams, mereka yaitu : Abu Sufyan bin Harb bin Umaiyah, Thaliq bin
Sufyan bin Umayyah, Khalid bin Usaid bin Abu Al-Ish bin Umayyah.
Dari Bani Abduddar bin Qushai mereka yaitu : Syaibah bin Utsman bin Abu Thalhah bin Abdul Uzza
bin Utsman bin Abduddar, Abu As-Sanabil bin Ba'kak bin Al-Harits bin Umailah bin As-Sabbaq bin
Abduddar, Ikrimah bin Amir bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar.
Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah, mereka yaitu : Zuhair bin Abu Umaiyah bin Al-Mughirah, Al-Harits
bin Hisyam bin Al-Mughirah, Khalid bin Hisyam bin Al-Mughirah, Hisyam bin Al-Walid bin Al-Mughirah,
Sufyan bin Abdul Asad bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, As-Saib bin Abu As-Saib bin Aidz bin
Abdullah bin Umar bin Makhzum.
Dari Bani Adi bin Ka'ab, mereka yaitu : Muthi' bin Al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah, Abu Jahm bin
Hudzaifah bin Ghanim.
Dari Bani Jumah bin Amr, mereka yaitu : Shafwan bin Umaiyah bin Khalaf, Uhaihah bin Umaiyah bin
Khalaf, Umair bin Wahb bin Khalaf.
Dari Bani Sahm ialah Adi bin Qais bin Hudzafah.
Dari Bani Amir bin Luay, mereka yaitu : Huwaithib bin Abdul Uzza bin Abu Qais bin Abdu Wudd,
Hisyam bin Amr bin Rabi'ah bin Al-Harits bin Hubaib.
Orang-orang dari suku selain Quraisy yang memperoleh ghanimah (harta rampasan) Perang Hunain,
mereka yaitu sebagai berikut:
Dari Bani Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah ialah Naufal bin Muawiyah bin Urwah bin Shakhr bin Razn
bin Ya'mar bin Nufatsah bin Adi bin Ad-Dail.
Dari Bani Qais lalu dari Bani Amir bin Shasha'ah lalu dari Bani Kilab bin Rabi'ah bin Amir
bin Shasha'ah: Alqamah bin Ulatsah bin Auf bin Al-Ahwash bin Ja'far bin Kilab, Labid bin Rabi'ah bin
Malik bin Ja'far bin Kilab.
Dari Bani Amir bin Rabi'ah: Khalid bin Haudzah bin Rabi'ah bin Amr bin Amir bin Rabi'ah bin Amir bin
Shasha'ah, Harmalah bin Haudzah bin Rabi'ah bin Amr.
Dari Bani Nashr bin Muawiyah yaitu Malik bin Auf bin Sa'id bin Yarbu'. Dari Bani Sulaim bin Manshur
yaitu Abbas bin Mirdas bin Abu Amir, dari Bani Al-Harts bin Buhtsah bin Sulaim.
Dari Bani Ghathafan lalu dari Bani Fazarah ialah Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr.
Dari Bani Tamim lalu Bani Handzalah ialah Al-Aqra' bin Habis bin Iqal dari Bani Mujasyi.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harts At-Tamimi bercerita kepadaku bahwa
seseorang laki-laki berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Rasulullah, kenapa
engkau memberi Uyainah bin Hishn dan Al-Aqra' bin Habis masing-masing seratus unta, Ju'ail bin
Suraqah Adh-Dhamri tidak diberi sedikitpun?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Demi
Allah, asal kau tahu saja Juail bin Suraqah itu yaitu manusia terbaik. Hanya saja aku memberikan
Uyainah bin Hishn dan Al-Aqra' bin Habis berharap agar hati keduanya luluh sehingga masuk Islam."
Ibnu Ishaq berkata: Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir bercerita kepadaku dari
Miqsam Abu Al-Qasim mantan budak Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, ia bercerita: Aku bersama Talid
bin Kilab Al-Laitsi bertanya kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash: "Apakah engkau menyaksikan
langsung saat At-Tamimi mengkritik Rasulullah di Perang Hunain?" Abdullah bin Amr bin Al-Ash
berkata: "Ya, Dzu Al-Khuwaishirah yang berasal dari Bani Tamim mendatangi Rasulullah saat beliau
membagi-bagi rampasan perang kepada manusia. Dzu Al-Khuwaishirah berkata: "Wahai Muhammad,
aku sudah melihat sendiri apa yang engkau perbuat pada hari ini." Rasulullah bersabda: "Lalu
bagaimana pendapatmu?" Dzu AI-Khuwaishirah berkata: "Menurutku apa yang kau lakukan ini tidak
adil." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam marah lalu bersabda: "Parah sekali kau ini, jika aku
saja dianggap tidak adil lalu siapa lagikah yang bisa berbuat adil?" Umar bin Khaththab berkata:
"Wahai Rasulullah, izinkan aku menghabisi orang ini." Rasulullah bersabda: "Jangan. Abaikan saja ia
karena nanti ia akan pengikut yang ahli dalam agama, namun sayangnya mereka keluar dari agama,
seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Ia terlihat di pedang, namun tak ada apapun di dalamnya.
Ia terlihat di panah, tidak terdapat apapun di dalamnya. Ia terlihat di belahan ujung anak panah,
ternyata tetap sama, tak ada apa-apa juga. Kotoran dan darah telah lebih dahulu berlalu."198
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ali bin Al-Husain Abu Ja'far bercerita kepadaku seperti cerita Abu
Ubaidah di atas dan ia menamakan orang yang bersangkutan Dzu Al-Khuwaishirah.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Naji menceritakan kisah yang sama kepadaku dari ayahnya.
Ibnu Hisyam berkata: Ziyad bin Abdullah bercerita kepadaku, Ibnu Ishaq bercerita kepadaku, Ashim
bin Umar bin Qatadah bercerita kepadaku dari Mahmud bin Labid dari Abu Sa id Al-Khudri
Radhiyallahu Anhu yang berkata: Pada saat Rasulullah membagi-bagi rampasan perang kepada orang-
orang Quraisy, suku-suku Arab, dan tidak memberikan sedikit pun kepada kaum Anshar, maka kaum
Anshar bersedih hati dan merasa tidak diang- gap sama sekali sampai-sampai Sa'ad bin Ubadah
menemui Rasulullah dan menyampaikan keberatan mereka. Rasulullah lalu menyuruh Sa'ad bin
Ubadah mengumpulkan kaum Anshar di tempat penginapan unta. Tatkala kaum Anshar telah
berkumpul, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka: "Wahai seluruh kaum
Anshar, keluhan kalian telah aku terima? Apa kalian tidak puas dengan yang kulakukan? Bukankah aku
datang kepada kalian yang dulu tersesat sesudah itu Allah memberi petunjuk pada kalian, yang dulunya
miskin sesudah itu Allah mengkayakan kalian, dan yang dulunya bermusuhan sesudah itu Allah
menyatukan hati kalian?" Kaum Anshar menjawab: "Benar. Allah dan Rasul-Nya yang lebih utama."
Rasulullah melanjutkan sabdanya: "Mengapa kalian diam saja dan tidak menanggapi ucapanku, hai
kaum Anshar?" Kaum Anshar berkata: "Apa yang harus kami tanggapi, wahai Rasulullah? Karunia dan
keutamaan hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda lagi:
"Demi Allah, jika kalian mau, kalian pasti berbicara, kalian berkata benar, dan dibenarkan. Kalian akan
mengatakan, begitu pun denganmu, datang kepada kami saat kau didustakan lalu kami
membenarkanmu, engkau terlantar lalu kami menolongmu, engkau terusir lalu kami
menyambutmu dan menerimamu di tengah kami, dan engkau miskin lalu kami
mengkayakanmu. Hai kaum Anshar, secuil dunia inikah yang kalian persoalkan, padahal itu hanya
untuk meluluhkan hati mereka agar masuk Islam, sedang aku menyerahkan kalian kepada keislaman
kalian? Hai kaum Anshar, apa kalian tidak bahagia sekiranya orang-orang itu pulang membawa
kambing-kambing dan unta-unta, sedang kalian pulang membawa Rasulullah ke tempat kalian? Demi
Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, kalaulah tidak karena peristiwa hijrah, pastilah aku
menjadi salah seorang dari kaum Anshar. Jika manusia dan kaum Anshar melewati dua jalan berbeda,
aku pasti berjalan di jalan yang dilewati kaum Anshar. Ya Allah, sayangilah dan kasihilah kaum Anshar,
anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar." Kaum Anshar pun luluh, air mata mereka
berderai hingga jenggot mereka basah karenanya. Mereka berkata: "Kami sangat bahagia Rasulullah-
menjadi bagian kami." sesudah itu, Rasulullah pergi dan kaum Anshar pun berpencar.199
Umrah Rasulullah dari Ji'ranah dan Penunjukan Attab bin Usaid Sebagai Wakilnya di Mekkah
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah meninggalkan Ji'ranah menuju Makkah untuk berumrah dan
memerintahkan sisa-sisa fa'i untuk disimpan di Majannah, salah satu daerah di Marr Adh-Dhahran.
Sesudah berumrah, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pulang ke Madinah dan menunjuk Attab
bin Usaid sebagai wakil beliau di Makkah, dan menunjuk Muadz bin Jabal di Makkah untuk
mengajarkan perkara-perkara agama dan Al-Qur'an kepada kaum Muslimin. Rasulullah kembali ke
Madinah dengan membawa sisa-sisa fa'i.
Ibnu Hisyam berkata: Diberitakan kepadaku dari Zaid bin Aslam bahwa ia berkata: Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengamanahi Attab bin Usaid sebagai pejabat beliau di Makkah, beliau
mengupahnya satu dirham per hari. Attab bin Usaid berdiri dan berkhutbah kepada manusia: "Hai
manusia, kenapa kalian mengeluh kelaparan dengan dengan uang satu dirham. Sungguh Rasulullah
mengupahku satu dirham per hari. Bahkan dengan jumlah ini , aku sudah tidak lagi
membutuhkan siapa pun."
Ibnu Ishaq berkata: Umrah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di atas terjadipada bulan
Dzulqa'dah. Rasulullah kembali pulang ke Madinah pada akhir bulan Dzulqadah atau di awal bulan
Dzulhijjah.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai di Madinah pada tanggal dua
puluh empat bulan Dzulqa'dah seperti dikatakan Abu Amr Al-Madani.
Ibnu Ishaq berkata: Pada tahun itu, orang-orang Arab menunaikan ibadah haji sebagaimana biasanya.
Pada tahun itu juga, Attab bin Usaid menunaikan ibadah haji bersama kaum Muslimin pada tahun
kedelapan hijriyah. Pada tahun itu juga, orang-orang Thaif masih belum bisa meninggalkan
kemusyrikan mereka antara bulan Dzulqa'dah sejak Rasulullah pulang ke Madinah hingga bulan
Ramadhan tahun ke sembilan Hijriyah.
Perang Tabuk Bulan Rajab Tahun Kesembilan Hijriyah
Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam berkata: Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai bercerita kepadaku
dari Muhammad bin Ishaq Al-Muthalibi yang berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tinggal
di Madinah antara bulan Dzulhijjah hingga Rajab, dalam rentang waktu ini beliau menyiapkan
pasukan perang kaum muslimin untuk menyerbu Romawi.
Ibnu Hisyam berkata: Az-Zuhri, Yazid bin Ruman, Abdullah bin Abu Bakr, Ashim bin Umar bin Qatadah,
dan ulama-ulama kami lainnya, semuanya bercerita kepadaku. Mereka berkata: Saat akan terjadinya
Perang Tabuk kaum Muslimin mengalami masa-masa sulit, cuaca panas membakar, sedang musim
panas, buah-buahan mulai ranum, orang-orang lebih menyukai berada di buah-buahan mereka dan
tempat tempat bernaung mereka, serta tidak suka berangkat dalam kondisi seperti itu karena
perjalanannya sangat jauh dan banyaknya musuh yang ingin beliau tuju. Dan pada saat beliau tengah
bersiap-siap untuk perang, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Al-Jadd bin Qais,
salah seorang dari Bani Salamah: "Hai Al-Jadd, apa kau akan ikut memerangi orang-orang berkulit
pucat (bangsa Romawi)?" Al-Jadd bin Qais berkata: "Wahai Rasulullah, berilah aku izin untuk tidak ikut
dan janganlah engkau libatkan aku ke dalam fitnah wanita, karena aku yaitu laki-laki yang lebih
gampang tertarik kepada perempuan dibandingkan aku. Oleh karena itu, aku khawatir jika aku melihat
wanita-wanita berkulit pucat, aku tidak mampu sabar. Rasulullah memalingkan muka dari Al-Jadd bin
Qais dan bersabda: "Aku memberimu izin." Tentang Al-Jadd bin Qais ini, turunlah wahyu Allah:
Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah
kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah." Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke
dalam fitnah. Dan sebenarnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orangyang kafir. (QS. at-
Taubah: 49). Maksudnya yaitu seandainya saja Al-Jadd bin Qais benar-benar kuatir tergoda wanita-
wanita Romawi, dan mengharapkan itu tidak akan terjadi padanya. Harusnya fitnah yang ia telah jatuh
ke dalamnya itu, yaitu tidak ikut berangkat perang bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
dan lebih mencintai dirinya dibandingkan diri beliau lebih ia khawatirkan lagi karena fitnah itu lebih besar
dari wanita. Oleh karena itulah, Allah Taala berfirman: sebenarnya Jahannam benar-benar ada di
belakangnya.
Orang-orang Munafik
Orang-orang munafik saling berkata-kata: "Musim panas terik seperti ini sebaiknya kita tetap di sini
saja dan tidak ikut berangkat." sesudah itu Allah Tabaraka wa Taala menurunkan ayat tentang mereka:
Orang-orangyang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka
di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan
Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini."
Katakanlah: "Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas (nya)",jika mereka mengetahui. Maka
hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu
mereka kerjakan. (QS. at-Taubah: 81-82).
Ibnu Hisyam berkata: Orang yang aku percaya bercerita kepadaku dari seseorang yang berkata
kepadanya dari Muhammad bin Thalhah bin Abdurrahman dari Ishaq bin Ibrahim bin Abdullah bin
Haritsah dari ayahnya dari kakeknya ia berkata: Orang-orang munafik berkumpul di rumah Suwailim
seorang Yahudi yang terletak di Jasum. Orang-orang munafik mengompori manusia agar mereka tidak
berangkat bersama Rasulullah di Perang Tabuk. Mengetahui kondisi itu Rasulullah lalu mengutus
Thalhah bin Ubaidillah beserta sejumlah sahabat dan memerintahkan mereka membakar rumah
Suwailim. Thalhah bin Ubaidillah dan anak buahnya melaksanakan perintah Rasulullah. Adh-Dhahhak
bin Khalifah meloncat dari atas rumah Suwailim hingga kakinya patah dan sahabat-sahabatnya
menyerbu, sementara mereka melarikan diri.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah tetap bergairah untuk berangkat, memerintahkan manusia bersiap-siap
dan menyeru orang-orang kaya supaya berinfak dan membiayai jihad di menyumbang dalam jumlah
yang banyak sekali.
Ibnu Hisyam berkata: Orang yang aku percayai bercerita kepadaku bahwa Utsman bin Affan
Radhiyallahu Anhu berinfak sebanyak seribu dinar untuk membantu para tentara yang mengalami
kesulitan (Jaisy al-'usrah) di Perang Tabuk. Rasulullah bersabda: "Ya Allah, ridhailah Utsman,
sebagaimana aku ridha padanya."
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah telah menentukan waktu pemberangkatan. Namun di lain pihak,
beberapa orang dari para sahabat kurang mempersiapkan diri dengan baik hingga mereka tertinggal
dari beliau bukan karena mereka munafik, di antara mereka yaitu Ka'ab bin Malik bin Abu Ka'ab
saudara Bani Salamah, Murarah bin Rabi' saudara Bani Amr bin Auf, Hilal bin Umayyah saudara Bani
Waqif, dan Abu Khaitsamah saudara Bani Salim bin Auf. Mereka yaitu orang-orang jujur dan dengan
keislaman yang meyakinkan. Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berangkat, beliau
membuat tenda di Tsaniyyatul Wada'.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah menunjuk Muhammad bin Maslamah Al-Anshari sebagai wakil beliau
di Madinah. Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi berkata dari ayahnya dari Rasulullah bahwa
tatkala beliau berangkat ke Tabuk, beliau menunjuk Siba' bin Urfuthah sebagai wakil sementara beliau
di Madinah.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Ubay bin Salul memancangkan tendanya menyendiri di bawah
Rasulullah menghadap ke Gunung Dzubab. Para ulama berkata bahwa tenda Abdullah bin Ubay bin
Salul bukan kemah yang kecil. Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam meneruskan perjalanan,
Abdullah bin Ubay bin Salul bersama orang-orang munafik dan orang-orang yang hati mereka diliputi
keraguan tidak ikut berangkat bersama Sang Nabi.
Kondisi Ali Pada Perang Tabuk
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah mempercayakan Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu untuk menjaga
keluarga beliau dan tak disangka hal ini dijadikan isu panas oleh orang-orang munafik. Tak tinggal
diam, Ali bin Abu Thalib mengambil senjata dan cepat-cepat berangkat hingga berhasil menyusul
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang tatkala itu berhenti di Al-Jurf. Ali bin Abu Thalib berkata:
"Wahai Nabi Allah, orang-orang munafik menebarkan isu bahwa engkau meninggalkanku di Madinah
karena aku dianggap memberatkanmu dan agar engkau menjadi ringan tanpa aku." Rasulullah
bersabda: "Mereka dusta. Aku meninggalkanmu di Madinah untuk menjaga keluargaku, oleh karena
itu, pulanglah dan jagalah keluargaku dan keluargamu. Wahai Ali, apakah engkau tidak rela jika
kedudukanmu di sisiku itu bagaikan kedudukan Nabi Harun di sisi Nabi Musa? Namun tidak ada nabi
sesudah ku."200 Ali bin Abu Thalib pun kembali ke Madinah, sementara Rasulullah melanjutkan
perjalanan.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Thalhah bin Yazid bin Rukanah bercerita kepadaku dari Ibrahim
bin Sa'ad bin Abu Waqqash dari ayahnya, Sa'ad bin Abu Waqqash, bahwa ia mendengar Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda demikian sebagaimana disebutkan di atas kepada Ali bin Abu
Thalib Radhiyallahu Anhu.
Nabi dan Kaum Muslimin di Hijr
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shal- lalahu 'alaihi wa Sallam berjalan menyusuri Al-Hijr, beliau
beristirahat di sana dan para sahabat mengambil air dari sumurnya. Para sahabat mentaati perintah
Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam ini , kecuali dua orang dari Bani Saidah. Salah seorang dari
mereka berdua keluar untuk buang hajat, sedang yang satu lagi keluar mencari untanya. Orang yang
keluar untuk buang hajat tercekik di tempat buang hajatnya. Sementara temannya yang mencari
untanya, terbawa angin hingga terlempar di dua gunung Thayyi'. Peristiwa ini dilaporkan kepada
Rasulullah lalu beliau mendoakan orang yang tercekik di tempat buang hajat lalu ia
sembuh. Adapun orang satunya terlempar angin di dua gunung Thayyi', orang-orang Thayyi'
menyerahkannya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tatkala beliau kembali ke Madinah.
Ibnu Hisyam berkata: Disampaikan kepadaku dari Az-Zuhri yang berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam berjalan menyusuri Al-Hijr sembari bersabda: "Rumah orang-orang yang berbuat
zalim tidak boleh kalian masuki, kecuali kalian dalam keadaan menangis karena khawatir tertimpa
musibah seperti yang mereka alami."201
Ibnu Ishaq berkata: Keesokan harinya, kaum Muslimin mencari-cari air namun mereka tidak
menemukannya, lalu hal ini dilaporkan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang
lalu berdoa. Tak lama berselang, Allah mengirim awan yang menurunkan air hujan hingga kaum
Muslimin tidak lagi kehausan dan bisa membawa perbekalan air sesuai kebutuhan mereka.
Abu Dzar al-Ghifari
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah lalu melanjutkan perjalanannya. Namun tak disangka salah seorang
sahabatnya, yaitu Abu Dzar tertinggal karena untanya berjalan lamban. Abu Dzar mencela untanya
yang berjalan seperti siput. Karena untanya tetap berjalan lamban, Abu Dzar lalu meninggalkannya
lalu mengejar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Di saat yang sama, Rasulullah berhenti di salah
satu jalan, tiba-tiba salah seorang dari kaum Muslimin melihat bayangan hitam lalu ia berkata:
"Wahai Rasulullah, ada orang berjalan kaki sendirian." Rasulullah bersabda: "Dialah Abu Dzar." Tatkala
orang-orang melihatnya, mereka berkata: "Wahai Rasulullah, demi Allah, betul sekali dia itu Abu
Dzar." Rasulullah bersabda: "Semoga Allah merahmati Abu Dzar yang berjalan sendirian, meninggal
sendirian, dan dibangkitkan di hari kiamat sendirian."
Ibnu Ishaq berkata: Buraidah bin Sufyan Al-Aslami bercerita kepadaku dari Muhammad bin Ka'ab Al-
Quradhi dari Abdullah bin Mas'ud yang berkata: Tatkala Utsman bin Affan mengisolir Abu Dzar ke Ar-
Rabadzah dan ia menemui takdirnya, ia hanya bersama dengan istri dan budaknya.
Ibnu Ishaq berkata: Di tengah perjalanan menuju Tabuk Rasulullah dibuntuti beberapa orang munafik,
seperti Wadi'ah bin Tsabit saudara Bani Amr bin Auf dan salah seorang dari Asyja sekutu Bani Salamah
yang bernama Mukhasysyin bin Humayyir. Mereka mengeluarkan ucapan yang menakut-nakuti dan
menggoyahkan sikap kaum Muslimin. Rasulullah mendengar hal ini dan marah kepada mereka,
lalu mereka mendatangi Rasulullah guna meminta maaf kepada beliau. Wadi'ah bin Tsabit
berkata dengan memegang tali kekang unta Rasulullah yang saat berada di atas unta: "Wahai
Rasulullah, kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja." sesudah itu Allah menurunkan firman-
Nya:
Danjika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan
menjawab: "sebenarnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah:
"Apakah dengan Allah, ayat- ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" (QS. at-Taubah: 65)
Di antara orang yang dimaafkan di ayat tadi ialah Mukhasysyin bin Humayyir yang merubah namanya
menjadi Abdurrahman. Ia memohon kepada Allah agar dirinya gugur sebagai syahid yang tempat
syahidnya tidak diketahui manusia. lalu ia gugur di Perang Yamamah tanpa diketahui tempat
syahidnya.
Surat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Pada Johannes
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah tiba di Tabuk, beliau didatangi Johannes bin Ru'bah, penguasa
Aylah, yang lalu berdamai dengan beliau dan dia bersedia membayar jizyah. Begitupula dengan
penduduk Jarba' dan Adzruh yang lalu membayar jizyah pula. Rasulullah menulis surat
perjanjian untuk mereka dan sampai sekarang surat perjanjian ini masih berada di tangan
mereka. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menulis surat perjanjian untuk Johannes bin Ru'bah
seperti berikut:
Bismillahirrahmanirrahim. Ini yaitu jaminan keamanan dari Allah dan Muhammad, Nabi dan
Rasulullah, untuk Johannes bin Ru'bah dan penduduk Aylah yang mencakup kapal-kapal dan
kendaraan-kendaraan bisnis mereka di darat dan laut. Mereka berhak mendapat jaminan Allah
dan jaminan Muhammad, termasuk penduduk Syam, Yaman, dan Al-Bahr. Barangsiapa di antara
mereka membangkang dan membuat ulah, harta tidak terlindungi lagi dan menjadi halal bagi siapa
saja di antara manusia yang menemukannya. Orang-orang selain mereka pun berhak mendatangi
mata air dan berjalan di salah satu jalan yang mereka inginkan; di daratan maupun di lautan.
Penawanan Ukaidir dan Perdamaian Dengann






