r yang mereka. Pada pertemuan ini ,
Al-Walid bin Al-Mughirah berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Quraisy, musim haji sudah tiba
dan rombongan orang-orang Arab akan berduyun-duyun ke tempat kalian. Mereka mengetahui sepak
terjang sahabat kalian ini (maksudnya Rasulullah). Oleh sebab itulah, aku harap kalian bersatu padu,
jangan ada perselisihan lagi di antara kalian." Mereka berkata: "Wahai Abu Abdu Syams, bicaralah dan
utarakanlah pendapatmu, pasti pendapat itulah yang kami jadikan sebagai sandaran." Al-Walid bin Al-
Mughirah berkata: "Silahkan utarakan lebih dulu pendapat kalian, dan aku akan dengar ucapan
kalian." Mereka berkata: "Kita akan buat isu bahwa Muhammad yaitu seorang dukun." Al-Walid bin
Al-Mughirah berkata: "Demi Allah, itu isu konyol, sebab ucapannya yang tersembunyi yang tidak
terdengar bukanlah ucapan seorang dukun tidak pula sajaknya." Mereka berkata: "Bagaimana kalau
isunya yaitu orang gila!?" Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Tidak, itu lebih konyol lagi! Mereka
berkata: "Bagaimana kalau diganti dengan isu penyair?" Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Bukan, ia
bukan penyair, kita sudah tahu seluruh bentuk syair dan perkataannya tidak termasuk syair." Mereka
berkata: "Bagaimana kalau ahli sihir?" Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Tidak, sebab Muhammad
tidak ada kaitannya dengan
itu." Mereka berkata: "Jika demikian lalu bagaimanakah pendapatmu wahai Abu Abdu Syams?" Al-
Walid bin Al-Mughirah berkata: "Demi Allah, sebenarnya ucapan Muhammad itu demikian indah
dan syahdu dan penuh kekuatan. Maka jika kalian mengatakan seperti ucapan di atas, mudah
disimpulkan bahwa ucapan kalian yaitu dusta. sebenarnya perkataan kalian yang mungkin lebih
mengena tentang dirinya, yaitu hendaklah kalian mengatakan bahwa dia seorang penyihir. Ia
membawa sihir yang memisahkan seorang anak dengan ayahnya, seseorang dengan saudaranya,
suami dengan istrinya, dan seseorang dengan keluarganya. Mereka bercerai-berai akibat kekuatan
sihirnya."
Maka jika Arab berdatangan ke kota Makkah di musim haji orang-orang Quraisy duduk di jalan-jalan
umum. Tidak ada seorang pun yang berjalan melintasi mereka, melainkan mereka mewanti-wanti
perihal Muhammad dan menjelaskan persoalan Muhammad kepadanya. lalu Allah Ta 'ala
menurunkan firman-Nya tentang Al-Walid bin Al-Mughirah:
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan
baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Ku lapangkan baginya
(rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, lalu dia ingin sekali supaya Aku
menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sebenarnya dia menentang ayat-ayat
Kami (Al-Qur’an). (QS. Al-Muddatstsir: 11-16). Kata 'aniid pada ayat ini artinya yaitu me-
musuhi,"
Ibnu Hisyam berkata 'aniid artinya membangkang dan menentang. Ru'bah bin Al Ajjaj berkata: Kami
yaitu penghantam kepala orang-orang yang membangkang dan menentang. Bait di atas ada dalam
kumpulan syair Ru'bah bin Al-Ajjaj.
Ibnu Ishaq berkata: Allah Ta'ala juga menurunkan ayat:
Aku akan membebaninya mendaki pendakian yangmemayahkan. sebenarnya dia telah me-
mikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia
menetapkan?, lalu celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?, lalu dia memikirkan,
sesudah itu dia bermasam muka dan merengut." (QS. al-Muddatstsir: 17-22).
Ibnu Hisyam berkata: Basar artinya wajahnya menampakkan rasa tidak suka. Ru'bah bin Al A'jaj
berkata:
Orang yang berpostur besar dan dua tulang rahangya keras makan dengan gigi depannya
Dia mensifati ketidaksukaan pada wajahnya. Bait syair ini ada dalam kumpulan syair-syair
Ru'bah bin Al-Ajjaj.
Ibnu Ishaq berkata: Allah juga menurunkan ayat:
lalu dia uerpaling (dart kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata: "(Al Quran) ini
tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan
manusia." (QS. al- Muddatstsir: 23-25).
Allah juga menurunkan ayat tentang Rasul-Nya Shallalahu 'alaihi wa Sallam, apa yang beliau bawa dari
Allah Ta'ala, orang-orang yang menyebarkan fitnah keji terhadap beliau, dan terhadap apa yang
Rasulullah bawa dari Allah:
Sebagaimana (Kami telah memberi peringat- an), Kami telah menurunkan (adzab) kepada orang-
orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Qur'an itu
terbagi-bagi. (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Qur'an itu terbagi- bagi tentang apa yang
telah mereka kerjakan dahulu. " (QS. al-Hijr: 90-93).
Ibnu Hisyam berkata: "Kata tunggal idhiin ialah idhah. Orang-orang Arab berkata, 'Adh-dhawhu.'
Artinya mereka membagi-baginya. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata:
Agama Allah itu tidak bisa dibagi-bagi
Bait di atas yaitu penggalan dari syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu orang-orang Quraisy menjelek-jelekkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
seperti itu kepada orang-orang yang mereka jumpai. Jadi sejak musim haji tahun itu, orang-orang Arab
mulai mengenal sepak terjang Rasulullah shallalahu 'alaihi wa Sallam dan perbincangan tentang beliau
segera menyebar ke seantero negeri Arab.
Ibnu Ishaq berkata: Menyaksikan hal ini, Abu Thalib khawatir orang-orang Arab berbondong-bondong
akan mendatanginya, oleh karena itu ia segera menggubah syair. Dalam syairnya, ia meminta
perlindungan dengan kesucian Makkah, dan kedudukan dirinya di dalamnya. Pada saat yang sama dia
jelaskan kepada mereka dan orang-orang selain mereka dalam syairnya, bahwa ia tidak akan pernah
menyerahkan Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan tidak meninggalkannya selama-lamanya
hingga tetes darah terakhir.
Ibnu Hisyam berkata: Aku diberitahu bahwa penduduk Madinah mengalami musim kemarau yang
panjang, lalu mereka menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan mengadukan apa yang
mereka alami. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam naik ke atas podium dan memohon air hujan
kepada Allah untuk mereka. Tak lama lalu , hujan turun dan orang-orang dari kawasan yang tidak
bisa menampung air melaporkan bahwa telah terjadi banjir. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
berdoa: "Ya Allah, turunkanlah di sekitar kami, dan tidak di atas kami."28 Sejika itu juga mendung
menipis di Madinah dan hujan sekitarnya menjadi reda. lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Jika Abu Thalib melihat peristiwa ini, ia pasti sangat senang." Beberapa sahabat
bertanya kepada beliau, "Sepertinya engkau menginginkan syair Abu Thalib."
Beliau bersabda: "Benar."29
Ibnu Ishaq berkata: Al-Ghayathil ber- asal dari Bani Sahm bin Amr bin Hushaish. Abu Sufyan yaitu
anak Harb bin Umayyah. Muth'im yaitu anak Adi bin Naufal bin Abdu Manaf. Zuhair yaitu anak Abu
Umayyah bin Al Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum dan ibunya yaitu Atikah binti Abdul
Muthalib.
Ibnu Ishaq berkata: Asid dan anak sulungnya yakni Attab bin Asid bin Abu Al-Ish bin Umayyah bin Abdu
Syams bin Abdu Manaf bin Qushay. Utsman yaitu anak Ubaidillah, saudara Thalhah bin Ubaidillah
At-Taimi. Qunfudz yaitu anak Umair bin Jud'an bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah. Abu
Al-Walid yaitu Utbah bin Rabi'ah. Ubay yaitu Al-Akhnas bin Syariq Ats-Tsaqafi, sekutu Bani Zuhrah
bin Kilab.
Ibnu Hisyam berkata: Ia juluki Al-Akhnas, karena ia tidak ikut Perang Badar. Nama aslinya yaitu Ubay,
ia berasal dari Bani Ilaj, yaitu Ilaj bin Salamah bin Auf bin Uqbah.
Al-Aswad yaitu anak Abdu Yaghuts bin Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Subay'i yaitu
anak Khalid, saudara Al-Harits bin Fihr. Naufal yaitu anak Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin
Qushay. Naufal ini yaitu anak Al-Adawiyah dan termasuk gembong-gembong penjahat Quraisy.
Dialah yang menyekap Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Thalhah bin Ubaidillah jika keduanya masuk
Islam. Oleh karena itu, Abu Bakar dan Thalhah bin Ubaidillah dinamakan Al-Qarinaini. Naufal dihabisi
Ali bin Abu Thalib di Perang Badar. Abu Amr yaitu Qurazhah bin Abdu Amr bin Naufal bin Abdu
Manaf. Kaum yang dimaksud yaitu Bani Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. Nama-nama itulah yang
disebutkan Abu Thalib dalam syairnya.
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala berita tentang
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyebar luas ke berbagai kalangan orang Arab hingga ke
banyak negeri termasuk Madinah. Sehingga tidak ada satu pemukiman di Arab yang lebih tahu tentang
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang melebihi pemukiman Al-Aus dan Al-Khazraj. Mereka
mendengar kabar tentang beliau dari pendeta-pendeta Yahudi. Pendeta-pendeta Yahudi yaitu
sekutu-sekutu mereka dan tinggal bersama di negeri mereka. jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam menjadi wacana di Madinah dan mereka membicarakan benturan yang terjadi antara
Rasulullah dengan orang-orang Quraisy, maka berkatalah Abu Qais bin Al-Aslat saudara Bani Waqif
dalam sebuah (syairnya lengkapnya di bawah ini)
Ibnu Hisyam berkata: Ibnu Ishaq menasabkan Abu Qais kepada Bani Waqif, padahal nasabnya pada
peristiwa Gajah dinisbatkan kepada Khathmah. Ini terjadi karena dalam tradisi Arab bisa jadi
seseorang menasabkan dirinya kepada nasab saudara kakeknya yang lebih masyhur.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah bercerita kepadaku bahwa Al-Hakam yaitu anak Amr Al-Ghifari
dari anak keturunan Nu'ailah, saudara Ghifar yaitu Ghifar bin Mulail. Nu'ailah yaitu anak Mulail bin
Dzamrah bin Bakr bin Abdu Manat. Mereka berkata bahwa Utbah yaitu anak Ghazu As-Sulami,
padahal ia anak Mazin bin Manshur. Sulaim yaitu anak Manshur.
Ibnu Hisyam berkata: Jadi Abu Qais bin Al-Aslat berasal dari Bani Wail. Wail, Waqif, dan Khathmah
yaitu satu saudara dari Al-Aus.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Qais, dia sangat mencintai Quraisy, memiliki jalinan perbesanan dengan
mereka, beristrikan Arnab binti Asad bin Abdi Uzza bin Qushay, dan tinggal di tengah-tengah orang-
orang Quraisy selama bertahun-tahun bersama istrinya- mengucapkan syairnya. Dalam syairnya Abu
Qais bin Al-Aslat mengagung-agungkan kehormatan Quraisy, mencegah orang-orang Quraisy terlibat
perang di Makkah, memerintahkan mereka menahan dari menyerang sebagian yang lain,
menyebutkan kelebihan dan mimpi-mimpi mereka, memerintahkan mereka menahan diri dari
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, menjelaskan bagaimana Allah memperlakukan mereka, dan
perlindungan-Nya ter- hadap mereka dari pasukan gajah, serta tipu daya-Nya pada pasukan gajah itu.
Maka berkecamuklah perang antara Abs melawan Fazarah. Hudzaifah bin Badr dan saudaranya, Hamal
bin Badr tewas. Qais bin Zuhair bin Jadzimah berkata mengungkapkan kesedihannya atas tewasnya
Hudzaifah,
Betapa banyak kesatria dipanggil kesatria, padahal ia bukanlah kesatria
Di Al-Habaah ada kesatria yang sudah terbukti satria
Tangisilah Hudzaifah, karena kalian tak akan dapatkan orang seperti dia
Walaupun seluruh kabilah telah musnah, tak kan lagi dicipta orang seperti dia
Bait di atas yaitu penggalan dari syair- syair Qais bin Zuhair.
Qais bin Zuhair juga berkata:
Ketahuilah pemuda Hamal bin Badr telah berlaku zalim
Yang mengantarkan pada kebinasaan
Bait syair di atas yaitu penggalan dari syair-syair Qais bin Zuhair.
Al-harts bin Zuhair, saudara Qais bin Zuhair berkata:
Bukan kebanggaan yang aku tinggalkan di Al- Haba 'ah
Di sana Hudzaifah terluka tertusuk tombak
Bait syair ini ialah penggalan dari syair-syair Al-Harts bin Zuhair.
Ibnu Hisyam berkata: Disebutkan bahwa, Qais mengirim kuda Dahis dan kuda Al- Ghabra, sedangkan
Hudzaifah mengirim kuda Al-Khaththar kuda Al-Hanfa'. Namun kisah pertama tadi jauh lebih benar.
Kisah ini demikian panjang dan saya tidak ingin memotong kronologi sirah Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam.
Ibnu Hisyam berkata: Adapun perkataannya: 'Perang Hathib maka yang dimaksud yaitu Hathib bin
Al-Harits bin Qais bin Hai- syah bin Al-Harts bin Umayyah bin Muawiyah bin Malik bin Auf bin Amr bin
Auf bin Malik bin Al-Aus. Hathib bin Al-Harits membunuh orang Yahudi yang bertetangga dengan Al-
Khazraj. lalu di tengah malam, Hathib bin Al-Harits didatangi Yazid bin Al-Harits bin Qais bin
Malik bin Ahmar bin Haritsah bin Tsalabah bin Ka'ab bm Al-Khazraj bin Al-Harts bin Al-Khazraj yang
biasa juluki Ibnu Fushum. Ibunya Fushum berasal dari kabilah Al-Qain bin Jasr dengan beberapa orang
dari Bani Al-Harits bin Al-Khazrah lalu mereka membunuh Hathib bin Al-Harits. Perang meletus antara
Al-Aus dan Al-Khazraj. Mereka saling menyerang dengan hebat dan di akhir perang kemenangan di
peroleh Al-Khazraj atas Al-Aus. Pada perang ini , Suwaid bin Shamit bin Khalid bin Athiyyah bin
Hauth bin Habib bin Amr bin Auf bin Malik bin Al-Aus terbunuh. Ia dihabisi Al-Mujadzdzar bin Dziyad
al Balawi yang nama aslinya yaitu Abdullah bin Dziyad Al-Balawi, sekutu Bani AUI Din Al-Khazraj.
Pada Perang Uhud, Al- Mujadzdzir bin Dziyad ikut bersama Rasu¬lullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Al-Harits bin Suwaid bin Shamit juga ikut Perang Uhud. jika Al-Harits bin Suwaid melihat Al-
Mujadzdir lengah, ia menghabisi sebagai bentuk balas dendam atas kematian ayahnya. Pembahasan
hal ini akan saya paparkan pada tempatnya, insya Allah.
Perang meletus kembali lagi antara mereka, namun saya tidak akan membahasnya lagi, karena sudah
dijelaskan pada bahasan tentang Perang Dahis.
Ibnu Ishaq berkata: Hakim bin Umayyah bin Haritsah Al-Auqash As-Sulami, sekutu Bani Umayyah yang
telah memeluk Islam bercerita mengenai persekongkolan kaumnya untuk memusuhi Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Perlakuan Qaum Quraisy kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari Kaumnya
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy semakin menggencarkan teror kepada Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam dan terhadap orang-orang yang masuk mengikutinya. Mereka memobilisasi orang-
orang bodoh untuk mendustakan, mengusik dan menuduh beliau sebagai penyair, penyihir, dukun,
dan
mereka sukai; menghina agama mereka, meninggalkan berhala-berhala mereka, dan tidak mengikuti
kekafiran mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Urwah bin Zubair bercerita kepadaku dari ayahnya, Urwah bin Zubair
dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash. Urwah bin Zubair berkata bahwa aku pernah bertanya kepada
Abdullah bin Amr: Berapa kali engkau melihat orang-orang Quraisy meneror Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam?
Abdullah bin Amr berkata: Suatu waktu, aku bertemu tokoh-tokoh Quraisy di Hijr. Mereka
membicarakan sepak terjang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka berkata: sebelumnya,
kami tidak pernah bisa bersabar terhadap sebuah persoalan sesabar menghadapi laki-laki ini
(Rasulullah). Ia membatilkan mimpi-mimpi kita, mengata-ngatai para leluhur dan mencaci maki agama
kita, memecah belah persatuan kita serta menghina Tuhan-tuhan kita.
jika mereka asyik berdiskusi, tiba-tiba Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam muncul di depan
mereka lalu melakukan thawaf di Ka'bah. jika beliau berjalan melintasi mereka, mereka berbisik
menghina beliau.
Abdullah bin Amr berkata: Rasulullah melanjutkan langkahnya. jika beliau melewati mereka untuk
kedua kalinya, mereka melakukan penghinaan sebagaimana sebelumnya.
Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan melewati mereka untuk ketiga kalinya, dan
mereka menghina beliau seperti sebelumnya, beliau berhenti lalu berkata kepada mereka:
"Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah, apakah kalian tidak tahu bahwa aku datang untuk
membinasakan kalian?
Abdullah bin Amr berkata: Perkataan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam itu amat menusuk hati
orang-orang Quraisy, hingga salah seorang dari mereka terdiam bagaikan patung. sesudah mendengar
ucapan ini mereka berusaha menenangkan beliau dan berpura-pura meminta maaf dengan
kata-kata yang sebaik mungkin. Ia berkata: "Tinggalkan kami wahai Abu Al-Qasim. Demi Allah, engkau
bukan orang bodoh."
Abdullah bin Amr berkata: lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam meninggalkan tempat itu.
Esok harinya, kembali orang-orang Quraisy mengadakan pertemuan di Hijr. Sebagian di antara mereka
berkata kepada sebagian yang lain: "Apakah kalian masih ingat kejadian kemarin di tempat ini?
Sayang, jika ia muncul di tengah kalian dengan memperlihatkan apa yang kalian benci, kalian
membiarkannya?" jika mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam muncul lagi ke tengah-tengah mereka. Mereka lalu melompat ke arah Rasulullah dan mengitari
beliau sambi berkata: "Engkaukah orangnya yang mengatakan ini dan itu." Karena sebelum ini, beliau
menghina sesembahan dan agama mereka. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Benar,
akulah yang mengatakan semua itu". Abdullah bin Amr berkata: "Aku melihat seorang dari mereka
memegang baju Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam." Tiba-tiba, Abu Bakar melewati mereka. Abu
Bakar berkata: "Apakah kalian akan membunuh seseorang hanya karena ia mengatakan Tuhanku
hanyalah Allah?" lalu merekapun bubar sejika . Itulah gangguan terberat yang pernah dilakukan
orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang pernah aku saksikan.30
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian orang dari keluarga besar Ummu Kaltsum, putri Abu Bakar berkata
bahwa Ummu Kaltsum berkata kepadaku: "Saat Abu Bakar pulang ke rumah. Orang-orang Quraisy
menarik jenggot Abu Bakar hingga membuat rambutnya berantakan. Abu Bakar memang memiliki
rambut yang tebal."
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian pakar berkata kepadaku bahwa cobaan paling berat yang dialami
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari orang-orang Quraisy yaitu bahwa pada suatu hari beliau
keluar rumah lalu semua orang mendustakannya dan mempermainkannya. Rasulullah Shallalahu
alaihi wa Sallam lalu pulang ke rumahnya dan mengenakan selimut karena sedih atas apa yang
menimpa dirinya. lalu Allah menurunkan firman-Nya: Hai orang yang berkemul (berselimut),
bangunlah, lalu berilah peringatan! (QS.Al-Muddatstsir: 1-2).
Hamzah Masuk Islam
Ibnu Ishaq berkata: Aku diberitahu oleh orang Aslum: Pernah suatu jika , Abu Jahal berjalan
melewati Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di bukit Shafa. Ia lalu mengganggu, mencaci maki dan
melampiaskan dendamnya kepada Rasulullah karena dianggap menghina agamanya dan melecehkan
ibadahnya. Meski begitu Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam tidak menimpalinya sedikit pun. jika
itu mantan budak wanita Abdullah bin Jud an bin Amr bin Kaab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah
mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Jahal kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Usai
mengumpat beliau, Abu Jahal pergi meninggalkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menuju ke
balai pertemuan orang-orang Quraisy di samping Ka'bah lalu duduk bersama-sama dengan mereka.
Tak lama lalu , Hamzah bin Abdul Muthalib Radhiyallahu Anhu datang dengan memanggul anak
panahnya dari berburu. Ia yaitu sosok yang muda yang disegani di kalangan orang-orang Quraisy dan
suka di hina. jika ia berjalan melewati mantan budak wanita tadi dan sesudah Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam kembali ke rumahnya, mantan budak wanita ini berkata kepadanya: "Wahai
Abu Umarah, andai saja engkau tadi saksikan apa yang dilakukan Abu Al-Hakam bin Hisyam terhadap
keponakanmu, Muhammad! Ia, mengganggu keponakannya, mencaci-makinya, dan melakukan hal-
hal yang tidak disukainya. Lalu ia pergi dan Muhammad tidak menimpali ucapannya sedikit pun."
Hamzah bin Abdul Muthalib marah karena Allah ingin memuliakannya. Ia pergi mencari Abu Jahal
tanpa memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Ia siap-siap jika bertemu dengan Abu Jahal, dia akan
memukulnya.
Tatkala Hamzah memasuki masjid, ia melihat Abu Jahal sedang duduk berdiskusi dengan orang-orang
Quraisy, lalu ia berjalan menuju ke arahnya. jika sudah berada tepat di depannya, ia mengangkat
busur panahnya lalu menghajar Abu Jahal dengannya hingga menderita luka sangat parah. Ia
berkata: "Apakah engkau mencaci-maki keponakanku, padahal aku seagama dengannya, dan aku
bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah seperti yang ia saksikan? Silahkan balas, jika engkau
mampu!" Beberapa orang dari Bani Makhzum mendekat kepada Hamzah untuk menolong Abu Jahal,
namun Abu Jahl berkata: "Biarkan saja Abu Umarah. Demi Allah, aku telah menghina keponakannya
dengan penghinaan yang buruk." Hamzah sejak peristiwa itu resmi masuk Islam, dan mengikuti
ucapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Tatkala Hamzah masuk Islam, orang-orang Quraisy menyadari sepenuhnya bahwa Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam telah kuat, terjaga, dan Hamzah pasti melidunginya. Karena itulah, mereka
menghentikan sebagian gangguan mereka terhadapnya.
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ziyad bercerita kepadaku dari Muhammad bin Ka'ab bin Al-Qurazhi yang
berkata bahwa aku pernah diberitahu bahwa Utbah bin Rabi'ah sang tokoh Quraisy berkata jika ia
sedang duduk di balai pertemuan Daar An-Nadwah milik orang-orang Quraisy dan jika itu Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang duduk sendirian di masjid: "Hai orang-orang Quraisy, bagaimana
kalau aku berdiplomasi dengan Muhammad dan mengajukan tawaran-tawaran? Siapa tahu ia
menerima sebagiannya lalu kita berikan apa yang diminta selanjutnya ia akan menghentikan
dakwahnya?" Peristiwa ini terjadi jika Hamzah bin Abdul Muthalib telah masuk Islam, dan mereka
melihat sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam semakin banyak dan menyebar.
Orang-orang Quraisy berkata: "Baiklah, wahai Abu Al-Walid. Temuilah dan bicaralah dengannya!"
lalu Utbah pergi ke tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan duduk di dekat beliau. Ia
berkata: 'Hai keponakanku, sebenarnya engkau masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan kami.
Engkau mempu nyai kehormatan di keluarga dan memiliki keluhuran nasab. Engkau telah merusak
kemapanan kaummu. Engkau memecah belah persatuan mereka, mencemoohkan mimpi-mimpi
mereka, mencaci-maki sesembahan dan agama mereka, dan mengkafirkan leluhur mereka yang telah
meninggal dunia. Dengarkan perkataanku, sebab aku akan mengajukan beberapa tawaran yang bisa
engkau pikirkan dan semoga engkau bisa menerima sebagian tawaran-tawaran ini .”
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata kepada Utbah: "Katakan, wahai Abu Al-Walid, aku pasti
menyimak apa yang engkau katakan!" Utbah berkata: "Wahai keponakanku, jika tujuan dakwahmu
untuk menginginkan harta, maka kami akan himpun seluruh harta kami agar engkau menjadi orang
terkaya di antara kami. Jika tujuannya kehormatan, kami akan angkat engkau sebagai pemimpin dan
kami tidak memutuskan satu perkarapun tanpamu. Jika tujuannya kekuasaan, maka kami akan angkat
engkau sebagai raja. Jika yang datang kepadamu yaitu makhluk halus yang tidak sanggup engkau
usir, maka kami mencarikan dokter untukmu dan mengeluarkan harta kami hingga engkau sembuh
darinya, karena boleh jadi ini mengalahkan orang yang dimasukinya hingga ia sembuh darinya." Atau
seperti dikatakan Utbah, hingga dia tuntas.
jika Utbah selesai bicara, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Apakah engkau sudah
selesai bicara, wahai Abu Al- Walid?" Utbah menjawab: "Ya, sudah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Maka simaklah baik-baik apa yang akan aku katakan." lalu Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam membaca sebuah ayat:
Bismillahi Ar-Rahmaani Ar-Rahiim. Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang
mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan
mereka berpaling (dibandingkan nya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: "Hati
kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami
ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sebenarnya kami
bekerja (pula)." (QS. Fush- shilat: 1-5). Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membacakan
kelanjutan ayat-ayat di atas. Sementara Utbah, setiap kali ia mendengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam membacakan ayat-ayat kepadanya, ia diam mendengarkannya dengan serius sambil
bersandar dengan kedua tangannya. Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai pada ayat
Sajdah, beliau sujud, lalu beliau bersabda, "Hai Utbah, engkau telah menyimak dengan jelas apa
yang baru saja engkau dengar. Kini, terserah kepadamu mau dibawa kemana apa yang engkau baru
dengarkan itu."
Utbah pulang menemui sahabat-sahabatnya. Sebagian di antara mereka berkata kepada sebagian
yang lain: "Kami bersumpah dengan asma Allah, sungguh, Abu Al-Walid datang ke temp at kalian
dengan wajah yang berbeda dengan wajah saat ia berangkat."
jika Utbah telah duduk, mereka berkata kepadanya: "Apa yang telah terjadi, wahai Abu Al-Walid?"
Utbah menjawab: "Demi Allah, baru saja aku mendengar perkataan yang belum pernah aku dengar
sebelum ini. Demi Allah, perkataan ini bukan syair, bukan sihir, bukan perdukunan. Wahai orang-
orang Quraisy, dengarkan aku! Serahkan perkara Quraisy kepadaku, biarkanlah orang itu dengan apa
yang ia lakukan, dan biarkanlah dial, Demi Allah, ucapannya yang aku dengar tadi pada suatu saat akan
menjelma menjadi kekuatan yang besar. Jika saja ucapannya ini dimiliki orang-orang Arab,
mereka sudah merasa cukup dengannya tanpa kalian. Jika ia berhasil mengalahkan orang-orang Arab,
maka kekuasaannya ialah kekuasaan kalian, dan kejayaannya yaitu kejayaan kalian juga, lalu
kalian menjadi manusia yang paling berbahagia karenanya." Mereka berkata: "Ia telah menguna-
guniai mu dengan mantranya, wahai Abul Walid." Utbah berkata: "Ini hanya pendapatku saja tentang
dia. Terserah kalian, mau menerima atau tidak?!"31
Apa yang Terjadi Antara Rasulullah dengan Tokoh-tokoh Quraisy dan Tafsir Surat Al-Kahfi
Ibnu Ishaq berkata: Pasca kejadian ini , Islam menyebar luas di Makkah baik di kalangan laki-laki
maupun wanita-wanita di kabilah-kabilah Quraisy. Orang-orang Quraisy memenjara dan menyiksa
siapa saja yang bisa mereka tangkap, sebagaimana disampaikan kepadaku oleh sebagian orang
berilmu dari Sa id bin Jubair dan dari Ikrimah, mantan budak Ibnu Abbas dari Abdullah bin Abbas
(Radhiyallahu Anhuma,).32
Maka berkumpullah tokoh-tokoh Quraisy Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu Sufyan bin Harb,
An-Nadhr bin Al-Harts bin Kildah saudara Bani Abduddar, Abu Al-Bakh- turi bin Hisyam, Al-Aswad bin
Al-Muthalib bin Asad, Zam'ah bin Al-Aswad, Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Jahal bin Hisyam, Abdullah
bin Abu Umayyah, Al-Ash bin Wail, Nubaih Munabbih, mereka Umayyah bin Khalaf dan lainnya.
Mereka mengadakan rapat sesudah matahari terbenam di belakang Ka'bah. Sebagian dari mereka
berkata kepada sebagian yang lain: "Pergilah salah seorang dari kalian kepada Muhammad lalu
bicaralah dengannya, dan berdebatlah dengannya hingga kalian bisa mengajukan argumen-argumen."
Mereka mengutus seseorang dengan membawa pesan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam:
"sebenarnya kaummu sedang berkumpul membicarakan sepak terjangmu. Mereka
mengundangmu untuk berdiskusi. Oleh sebab itulah, pergilah engkau ke tempat mereka berkumpul!"
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan bergegas mendatangi mereka karena mengira ada per-
ubahan sikap positif pada mereka. Beliau menaruh perhatian demikian besar kepada mereka,
mengharapkan mereka memperoleh petunjuk, dan sedih atas kerusakan mereka. jika beliau telah
duduk bersama mereka, salah seorang dari mereka berkata: "Muhammad, Demi Allah, kami belum
pernah melihat ada seorangpun dari Arab yang bersikap lancang kapada kaumnya melebihi sikap
lancanganmu kepada kaummu. Sungguh, engkau telah menghina para leluhur. Engkau mencela agama
dan melecehkan sesembahan kami. Engkau mendungu-dungukan mimpi-mimpi dan mencerai-
beraikan. Jika tujuan dakwahmu menginginkan harta kekayaan, maka akan kami himpun seluruh
kekayaan kami hingga engkau menjadi orang terkaya di antara kami. Jika tujuannya kehormatan, maka
kami akan angkat engkau sebagai pemimpin kami. Jika engkau ingin menjadi raja, kami angkat sebagai
raja kami. Jika apa yang engkau alami yaitu karena bisikan makhluk halus yang tidak mampu engkau
usir, maka kami akan mencari dokter dan mengeluarkan biaya yang besar hingga engkau sembuh
darinya."
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka: "Apa kalian membicarakan sepak
terjang aku? Dakwahku sama sekali tidak bertujuan mendapat kekayaan, kehormatan atau
kekuasaan atas kalian. Allah mengutusku kepada kalian sebagai Rasul, menurunkan Al-Kitab kepadaku,
dan memerintahkanku memberi kabar gembira dan peringatan untuk kalian. Aku sampaikan firman-
firman Tuhanku kepada kalian dan memberi nasihat kepada kalian. Jika kalian menerima apa yang aku
bawa, maka selamatlah kalian di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika kalian menolak, aku bersabar
terhadap perintah Allah hingga Dia memutuskan persoalan di antara kita. "Atau seperti yang
disabdakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam."
Pentolan-pentolan Quraisy berkata: "Wahai Muhammad, jika engkau tetap keras kepala seperti ini
maka, ketahuilah, bahwa tidak ada seorang pun yang lebih sempit daerahnya, dan lebih sedikit
persediaan airnya, dan lebih keras kehidupannya dari kami. Oleh karena itu, berdoalah kepada
Tuhanmu agar Dia menggoncang gunung-gunung yang menyempitkan kami, meluaskan daerah kami,
mengalirkan sungai-sungai seperti Sungai Syam dan Irak untuk kami di dalamnya. Membangkitkan
leluhur kami, dan hendaknya di antara leluhur yang dibangkitkan untuk kami yaitu Qushay bin Kilab,
karena ia orang tua yang benar, lalu kita bertanya kepada mereka apakah yang engkau katakan;
benar atau salah? Jika leluhur kita membenarkanmu dan engkau mengerjakan apa yang kami minta
kepadamu, kami akan membenarkanmu, mengakui kedudukanmu di sisi Allah, dan bahwa Allah
mengutusmu sebagai Rasul sebagaimana yang engkau utarakan."
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka: "Aku diutus kepada kalian bukan
untuk mengabulkan permohonan mistis kalian. sebenarnya Allah mengutusku kepada kalian
dengan apa yang kalian saksikan saat ini. Sungguh, telah aku sampaikan kepada kalian firman Tuhanku.
Jika kalian menerimanya, itulah keselamatan kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian kerasa kepala, aku
tetap akan bersabar dalam menjalankan perintah Allah Ta'ala hingga Dia memutuskan persoalan di
antara kita."
Mereka berkata: "Jika engkau tidak mau mengerjakan apa yang kami kita, maka kerjakanlah untuk
dirimu sendiri. Mintalah Tuhanmu mengutus malaikat bersamamu yang membenarkan apa yang
engkau katakan dan meminta pendapat kami tentang dirimu. Mohonlah pada Tuhanmu untukmu agar
memberikan untukmu taman-taman, istana-istana, dan kekayaan dari emas dan perak hingga engkau
menjadi kaya dengannya, karena engkau berada di pasar seperti halnya kami dan mencari kehidupan.
Kami mengetahui kelebihan dan kedudukanmu di sisi Tuhanmu jika engkau benar-benar Rasul
sebagaimana pengakuanmu."
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku tidak akan melakukan itu semua, dan aku tidak
akan meminta itu semua kepada Tuhanku, serta aku tidak diutus kepada kalian dengan untuk semua
itu. Namun Allah mengutusku sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, atau
sebagaimana yang beliau sabdakan. Jika kalian menerima apa yang aku bawa, itulah keberuntungan
kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian menolaknya, aku bersabar dalam menjalankan perintah Allah
hingga Allah memutuskan masalah yang terjadi di antara kita."
Pentolan-pentolan Quraisy itu berkata: Jika ucapanmu memang benar, maka turun- kanlah awan dari
langit karena engkau mengatakan bahwa jika Allah berkehendak, Dia pasti melakukannya. Sungguh,
kami tidak akan beriman kepadamu jika engkau tidak bisa membuktikan kesaksitanmu."
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika itu dikehendaki Allah pada kalian, pasti itu akan
terjadi."
Tokoh-tokoh Quraisy berkata: "Hai Muhammad, apakah Tuhanmu yang menurunkan ini semua,
bahwa kami akan bertemu denganmu disini, lalu kami menanyakan ini kepadamu, dan meminta ini
semua kepadamu. Dia mendatangimu untuk mengajarimu sesuatu yang bisa engkau jadikan argumen
untuk menjawab pertanyaan kami dan Dia menerangkan kepadamu tentang apa yang akan Dia
lakukan terhadap kami jika menolak apa yang engkau bawa? Sungguh, kami telah mendengar berita
bahwa engkau berguru pada seseorang dari Yamamah yang bernama Ar-Rahman. Demi Allah, kami
tidak pernah beriman kepada Ar-Rahman. Wahai Muhammad, kami telah menawarkan banyak hal
kepadamu. Demi Allah, kami tidak membiarkanmu sesuka hati berdakwah hingga kami berhasil
memerangimu atau engkau yang memerangi kami."
Salah seorang dari pentolan Quraisy berkata: "Kami menyembah para malaikat, karena mereka yaitu
anak-anak perempuan Allah."
Ucapan mereka diabadikan dalam Al- Qur'an:
Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air
dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan
sungai-sungai di celah kebun yangderas alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas
kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan
muka dengan kami. (QS. al-Israa': 90-92)
Usai mengatakan itu kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, beliau bangkit dan diikuti
Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum yang merupakan
saudara misannya, dan suami Atikah binti Abdul Muthalib. Abdullah bin Abu Umayyah berkata kepada
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: Hai Muhammad, kaummu telah mengajukan demikian banyak
tawaran menggiurkan kepadamu, namun semuanya kau tolak. Mereka memintamu bukti akan
kedudukanmu di sisi Allah sebagaimana pengakuanmu, agar membenarkanmu, dan mengikutimu,
namun engkau tidak juga mengabulkannya. Mereka memintamu menunjukkan kesaktianmu hingga
mereka mengetahui kelebihanmu atas mereka dan kedudukanmu di sisi Allah, namun engkau tidak
juga mampu membuktikannya. Mereka meminta percepatan siksa yang engkau ancamkan kepada
mereka, namun engkau tidak juga mewujudkannya" -atau sebagaimana dikatakan Abdullah bin Abu
Umayyah. "Demi Allah, sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengimanimu hingga engkau
membangun tangga ke langit, lalu engkau naik ke langit melalui tangga itu dan aku melihatmu
tiba di sana, sesudah itu engkau mengambil empat malaikat yang memberi kesaksian untukmu bahwa
yang engkau katakan memang benar. Demi Allah, jika engkau tidak mau melakukannya, jangan
harapkan aku membenarkanmu." lalu Abdullah bin Abu Umayyah pergi meninggalkan
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Rasulullah sendiri pulang dengan perasaan sedih dan duka
cita karena tidak tercapainya keingin an beliau pada mereka jika mendakwahi mereka, dan karena
melihat mereka menjauh dari beliau.
Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bangkit meninggalkan mereka: Abu Jahl berkata:
"Wahai orang-orang Quraisy, sebenarnya Muhammad masih seperti dulu tidak mau berhenti
mencela agama kita, menghina leluhur kita, mendungu-dungukan mimpi-mimpi kita, dan menghina
sesembahan kita. Sungguh aku berjanji kepada Allah, besok pagi aku akan memukulnya dengan batu.
Jika ia sujud dalam shalatnya, aku akan melempar kepalanya dengan batu itu. Jika itu terjadi, maka
serahkan aku atau lindungi aku. sesudah itu Bani Abdu Manaf bebas melakukan apa saja yang mereka
suka." Mereka berkata: "Demi Allah, kami tidak menyerahkanmu selama-lamanya. Lakukanlah apa
yang engkau mau!"
Ibnu Ishaq berkata: Keesokan pagi, Abu Jahal telah menyiapkan batu sebagaimana yang dia janjikan,
lalu duduk menunggu kedatangan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Sementara itu
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berbuat sebagaimana hari-hari yang lalu. Di Makkah, kiblat
beliau menghadap ke Syam. Jika beliau shalat, beliau shalat di antara rukun Yamani dan Hajar Aswad
dan menjadikan Ka'bah di antara beliau dengan Syam. Lalu beliau berdiri melakukan shalat. Orang-
orang Quraisy pun berkumpul di ruang pertemuan mereka untuk melihat apa yang akan diperbuat
Abu Jahal kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. jika sujud, Abu Jahl mengambil batu dan
berjalan ke arah Rasulullah. jika dekat pada beliau, ia malah lari ketakutan dengan wajah berubah
pucat pasi dan kedua tangannya tiada lagi memegang batu itu hingga batu itupun terjatuh dari
tangannya.
Orang-orang Quraisy bergegas berdiri menemui Abu Jahal, dan berkata: "Apa yang terjadi denganmu
wahai Abu Jahal?" Abu Jahal berkata: "Aku berjalan kepada Muhammad untuk melakukan apa yang
aku katakan pada kalian semalam. Saat aku dekat dengannya, tiba-tiba muncullah seekor unta. Demi
Allah, aku belum pernah melihat kepala unta, pangkal lehernya, dan taringnya seperti unta itu. Aku
sangat takut unta ini akan menerkam diriku."
Ibnu Ishaq berkata: Ada yang menyebut kan, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Itulah
Malaikat Jibril. Jika Abu Jahl tetap mendekat, pasti ia menerkam Abu Jahal."33
jika Abu Jahl mengalami tekanan seperti itu, maka bangkitlah An-Nadhr bin Al-Harits bin Kaladah
bin Abdu Manaf bin Abduddar bin Qushay. Ibnu Hisyam menyatakan, dia disebut An-Nadhr bin al-
Harits bin Alqamah bin Kaladah bin Abdu Manaf, lalu berkata: "Wahai orang-orang Quraisy,
demi Allah, sungguh telah datang kepada kalian sesuatu yang tidak bisa kalian berkilah darinya.
Sungguh sebelum ini Muhammad di mata kalian yaitu anak muda belia, orang yang paling diterima
di sisi kalian, orang yang paling benar ucapannya, dan orang yang paling tampak kejujurannya. Hingga
jika kalian lihat dia mulai beruban dan dia datang kepada kalian dengan ajaran yang dibawanya,
kalian lalu menuduhnya sebagai penyihir. Tidak, demi Allah, ia bukan penyihir, karena kita telah
mengetahui penyihir, sihirnya dan buhul-buhulnya. Kalian menuduhnya sebagai dukun. Tidak, demi
Allah, ia bukan seorang dukun, karena kita sudah sangat paham tentang dukun dan mendengar
mantera mereka. Kalian menuduhnya sebagai seorang penyair. Tidak, demi Allah, ia bukan penyair,
karena kita sudah mengetahui syair, dan menyimak jenis-jenisnya. Kalian menuduhnya orang gila.
Tidak, demi Allah, ia bukan orang gila, karena kita sudah pernah menyaksikan orang gila; tangisannya,
keragu-raguannya, dan kekacauan pikirannya. Wahai orang-orang Quraisy, pikirkan persoalan kalian
ini dengan cermat, karena demi Allah, sebuah masalah besar telah merongrong kehidupan pada
kalian."
An-Nadhr bin AI-Harits termasuk gembong-gembong Quraisy, orang yang menganiaya Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan membuka front permusuhan dengan beliau. Ia pernah pergi ke Al-
Hirah dan di sana ia sering mendengar cerita-cerita tentang raja-raja Persia, kisah-kisah tentang
Rustum, dan Isfandiyar. Jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkhotbah di satu tempat untuk
mengajak kaumnya ingat kepada Allah, mengingatkan mereka tentang hukuman Allah yang diterima
orang-orang sebelum mereka, dan sesudah itu beliau beranjak meninggalkan tempat ini , maka
An-Nadhr bin Al- Harits duduk di tempat yang sama, lalu berkata: "Demi Allah, wahai orang-
orang Quraisy, ucapanku lebih bagus dibandingkan ucapan Muhammad. Sekarang kalian kemarilah,
niscaya aku sampaikan kepada kalian tutur kata yang jauh lebih indah dibandingkan perkataan
Muhammad!" lalu An-Nadhr bin Al-Harits bercerita kepada mereka kisah tentang raja-raja
Persia, Rustum, dan Isfandiyar. Ia berkata: "Ucapan Muhammad yang mana yang lebih bagus dibandingkan
ucapanku?"
Ibnu Hisyam berkata: An-Nadhr bin Al-Harits inilah, yang mengatakan: "Aku akan menerima wahyu
seperti yang diturunkan Allah."
Ibnu Ishaq berkata: Seperti disampaikan kepadaku bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata: Al-
Qur'an menurunkan delapan ayat tentang An Nadhr bin Al-Harits. Yaitu firman Allah Ta'ala:
jika dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "(Ini yaitu ) dongeng-dongengan orang-
orang dahulu kala." (QS. al-Qalam: 15) Dan semua ayat yang di dalamnya terdapat kata Al-Asaathir
(dongeng) dalam Al- Qur'an.
Usai mengatakan itu An-Nadhr bin Al- Harits, orang-orang Quraisy mengutus bersama Uqbah bin Abu
Mu'ith untuk menemui pendeta-pendeta Madinah. Orang-orang Quraisy berpesan pada keduanya:
"Bertanyalah kalian berdua kepada rabi-rabi Yahudi tentang Muhammad, sifat-sifatnya, dan jelaskan
ucapannya kepada mereka, karena mereka yaitu orang-orang yang pertama kali diberi kitab yang
mempunyai pengetahuan tentang para nabi yang tidak kita ketahui." Keduanya berangkat ke
Madinah. Sesampainya di sana, mereka bertanya kepada rabi-rabi Yahudi tentang Muhammad
Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sembari menjelaskan sifat-sifat dan sebagian ucapan beliau kepada
mereka. Keduanya berkata kepada mereka: "sebenarnya kalian mempunyai Kitab Taurat, dan kami
datang kepada kalian untuk bertanya tentang sahabat kami."
Ibnu Ishaq berkata: rabi-rabi Yahudi itu berkata kepada kedua utusan Quraisy: "Tanyakan tiga hal
kepada sahabatmu itu. Jika ia mampu menjawab ketiga hal ini , ia memang seorang Nabi
sekaligus Rasul. Jika tidak bisa menjawabnya, pasti ia berdusta dan kalian akan tahu belangnya.
Tanyakan kepadanya mengenai pemuda-pemuda (Ashabul Kahfi) yang meninggal pada periode
pertama dan bagaimana kabar tentang mereka? Sebab mereka mempunyai kisah yang menarik.
lalu tanyakan kepadanya tentang seorang pengembara yang menjelajahi timur dan barat
seperti apa kisahnya? Lalu tanyakan padanya tentang ruh, apakah ruh itu? Jika sahabatmu bisa
menjawab ketiga pertanyaan ini , ia seorang Nabi dan kalian harus mengikutinya. Jika tidak bisa
menjawabnya, berarti ia ber kata bohong dan terserah kalian mau berbuat apa saja kepadanya."
lalu An-Nadhr bin AJ-Harits dan Uqbah bin Abu Mu'aith bin Abu Amr bin Umayyah bin Abdu
Syams bin Abdu Manaf bin Qushay kembali pulang ke Makkah. jika meeka berdua bertemu kembali
dengan orang-orang Quraisy, mereka berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Quraisy,
sebenarnya kami datang membawa kabar kepada kalian. Rabi-rabi Yahudi menyuruh kita
menanyakan tiga perkara kepada Muhammad. Jika mampu menjawabnya, berarti ia betul seorang
Nabi. Jika tidak mampu menjawabnya maka artinya ia berkata bohong dan kalian bebas menilainya
seperti apa saja."
Maka merekapun menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan bertanya kepada beliau: "Hai
Muhammad, ceritakan kepada kami tentang anak-anak muda (Ashabul Kahfi) yang meninggal dunia
pada periode pertama, karena mereka mempunyai kisah yang menarik hati, kisah seorang
pengembara yang menjelajahi dunia timur dan barat serta tentang ruh?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam bersabda: "Semua pertanyaan kalian aku jawab besokpagi." Rasulullah mengatakan itu
tanpa ada embel-embel insya Allah. sesudah itu. mereka berbalik pulang meninggalkan Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Menurut banyak pakar sejarah, selama lima belas malam Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak menerima wahyu. Malaikat Jibril tidak datang kepada beliau, hingga
membuat gusar penduduk Makkah. Mereka berkata: "Muhammad berjanji memberi jawaban atas
pertanyaan kita besok pagi, sedangkan waktu sudah berjalan lima belas malam, namun sam- pai kini
ia belum memberi jawaban apapun atas pertanyaan kita." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
sangat berduka karena wahyu terputus dari beliau. Beliau bersedih hati karena komentar orang-orang
Quraisy terhadap dirinya. Baru sesudah itu datanglah Malaikat Jibril datang kepada beliau dari Allah
Azza wa Jalla dengan membawa surat QS. Al Kahfi. Dalam surat ini , Allah mencela ucapan
mereka yang membuat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersedih, menjelaskan kepada beliau
berita sekitar pertanyaan mereka, tentang pemuda-pemuda yang mereka maksud, sang pengembara,
dan masalah ruh."
Ibnu Ishaq berkata: Dikatakan kepadaku bahwa jika Malaikat Jibril datang, Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam berkata: "Sungguh engkau meninggalkanku wahai Jibril, hingga aku berburuk sangka
kepadamu." Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam:
Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang
ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya,
dan tidaklah Tuhanmu lupa. (QS. Maryam: 64)
Allah Yang Mahatinggi membuka surat ini dengan memuji diri-Nya dan menjelaskan kenabian
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan pengingkaran mereka. Allah Ta'ala berfirman:
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia tidak
mengadakan kebengkokan di dalam- nya; (QS. al-Kahfi: 1)
Yakni, Muhammad engkau yaitu Rasul dari-Ku, dan sebagai jawaban atas pertanyaan mereka
tentang kenabianmu.
dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan yang lurus, (QS. al-Kahfi: 1-
2)
Yakni, Al Quran itu lurus dan tidak ada sesuatu yang saling bertentangan di dalamnya.
Untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah (QS. al-Kahfi: 2)
Yakni, untuk memperingatkan adanya siksaan Allah di dunia dan siksa nan pedih di akhirat dari sisi
Tuanmu yang mengutusmu sebagai Rasul.
Dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shaleh,
bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik, mereka kekal di dalamnya untuk selama-
lamanya. (QS. al-Kahfi: 2-3)
Yaitu negeri keabadian dimana mereka tidak pernah mati di dalamnya. Mereka yang dimaksud yaitu
orang-orang yang membenarkan apa yang engkau bawa di saat orang-orang lain mendustakanmu,
dan mereka mengerjakan amal-amal perbuatan yang diperintahkan kepada mereka.
Dan untuk memperingatkan kepada orang- orang yang berkata: "Allah mengambil seorang anak. (QS.
al-Kahfi: 4)
Yaitu orang-orang Quraisy yang berkata: "Sesunggunya kita menyembah para Malaikat, karena
mereka yaitu anak-anak perempuan Allah.”
Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitupula nenek moyang mereka
(QS. al-Kahfi: 5), yakni yang membesarkan perpecahan mereka dan mengungkap aib agama mereka.
Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka (QS. al-Kahfi: 5) Karena ucapan mereka
bahwa para malaikat yaitu anak-anak perempuan Allah.
Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh
dirimu (QS. al-Kahfi: 5-6). Maksudnya, apakah engkau akan membunuh dirimu wahai Muhammad atas
apa yang mereka lakukan jika mereka tidak beriman dengan Kitab ini? Tatkala kau tidak dapatkan apa
yang diharapkan dari mereka, maka jangan pernah lakukan itu.
Ibnu Hisyam berkata: Bakhi'un nafsaka, yakni menghancurkan dirimu, sebagaimana dikatakan kepada
saya oleh Abu Ubaidah. Dzu Rumah berkata:
Wahai orang yang menghancurkan dirinya sendiri
Dengan sesuatu takdir yang ditetapkan yang dicabut darinya
Bentul flural dari bakhi' yaitu bakhi'un dan bait di atas yaitu penggalan dari syairnya. Orang Arab
berkata: Bakha'tu lahu nushi wa nafsi yakni aku telah berusaha keras untuknya:
Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh
dirimu (QS. al-Kahfi: 5-6).
Allah Yang Mahatinggi berfirman:
sebenarnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya (QS. al- Kahfi: 7)
Ibnu Ishaq berkata: Yakni siapa saja yang paling mengikuti perintahku dan taat padaku?
Ibnu Ishaq berkata: Allah Yang Maha tinggi juga berfirman:
Dan sebenarnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata
lagi tandus. (QS. AI Kahfi: 8)
Maksud firman Allah: 'Shaidan, artinya bumi. Maksudnya: "sebenarnya apa saja yang ada di atas
bumi pasti mengalami kematian, dan bahwa tempat kembali yaitu kepada-Ku, lalu Aku
menghisab semua orang sesuai dengan amal perbuatannya. Oleh karena itulah, engkau, wahai
Muhammad, jangan berduka cita dan bersedih hati atas apa yang engkau dengar dan atas apa yang
engkau
lihat selama ini.
Ibnu Hisyam berkata: Ash-Sha'idu artinya bumi dan jamaknya ash-shu'udu. Arti lain ash-sha'idu ialah
jalan. Dijelaskan dalam hadits: 'Janganlah kalian duduk di jalan-jalan (shuu'adaat)."34
Arti kata ash-shu'udaat pada di atas ialah jalan-jalan. Arti kata al-juruzu pada ayat di atas berarti bumi
yang kering-kerontang. Jamaknya ialah ajraaz. Sanatun juruzun atau sinunun ajraazun artinya tahun-
tahun dimana hujan tidak turun di dalamnya dan terjadi kekeringan, kemarau berkepanjangan. "
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah memberi jawaban atas pertanyaan mereka tentang anak-anak muda
dengan berfirman:
Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka
termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? (QS. al-Kahfi: 9), yakni boleh jadi di
antara tanda-tanda kekuasaan-Ku, misalnya argumen-argumen-Ku yang Aku karuniai kepada hamba-
hamba-Ku itu jauh lebih mengherankan menakjub- kan dibandingkan kisah tentang pemuda-pemuda
ini . "
Ibnu Hisam berkata: Ar-Raqiimu pada ayat diatas ialah kitab yang memuat kisah tentang mereka.
Jamaknya ialah ar-ruqumu. Ru'bah bin Al Ajjaj berkata:
Tempat penyimpanan kitab yang memuat (nomor-nomor)
Bait diatas yaitu penggalan dari syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj.
Ibnu Ishaq berkata: lalu Allah Ta'ala berfirman:
(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa:
"Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami
petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)." Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam
gua itu, lalu Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua
golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).
Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. (QS. al-Kahfi: 10-13), bi al-
haqqi maksudnya, dengan berita yang benar tentang mereka. lalu Allah Ta'ala berfirman:
sebenarnya mereka itu yaitu pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami
tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka
berdiri lalu mereka berkata: "Tuhan kami yaitu Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak
menyeru Tuhan selain Dia, sebenarnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang
amat jauh dari kebenaran." (QS. al-Kahfi: 13-14). Yakni pemuda-pemuda ini tidak
menyekutukan-Ku sebagaimana kalian menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak kalian ketahui.
Ibnu Hisyam berkata: Kata syathathan pada ayat di atas artinya melampaui batas dan melanggar
kebenaran. A'sya Bani Qais bin Tsa'labah berkata:
Mereka tidak akan berhenti, begitu juga orang yang melampaui batas
Laksana serbuan yang kehilangan minyak dan lampu
Bait diatas yaitu penggalan syair-syair A'sya Bani Qai Tsa'labah.
Ibnu Ishaq berkata: lalu Allah Yang Maha tinggi berfirman:
Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka
tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) (QS. al-Kahfi: 15)
Makna kata sulthaanin bayyinin pada ayat ini yaitu argumentasi yang kuat. lalu Allah
berfirman:
Siapakah yang lebih zalim dibandingkan orang-orangyang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?
Dan jika kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah
tempat berlindungke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya
kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. Dan kamu akan
melihat matahari jika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu
terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua
itu. (QS. al-Kahfi: 15-17)
Ibnu Hisyam berkata: Arti tazaawaru pada ayat di atas yaitu condong. Kata ini beasal dari kata
az-zawaru. Umru'u Al Qais bin Hujr berkata:
sebenarnya aku yaitu penguasa, jika aku kembali sebagai raja
Yang dari mereka, Anda melihat orang yang diborgol itu condong
Ini yaitu penggalan syair miliknya.
Abu Zahf al-Kulaibi berkata menggambarkan semua negeri:
Tanah bergaram bukanlah tempat yang kami condong
Tuk bekerja tanpa air selama lima hari yang membuat unta kurus
Dua bait ini yaitu penggalan syairnya. Taqridhuhum Dzaat al-Syimal artinya bahwa matahari
menjauhi meninggalkan mereka dari sisi kiri.
Dzu Rummah berkata:
Pada unta yang bertandu dia menggigit pasir yang bundar di sebuah tempat
Di sisi kiri sedangkan di sisi kanan yaitu para penunggang kuda
Bait ini yaitu penggalan syair miliknya.
Al Fajwah artinya tempat yang luas dan jamaknya al-fija'u. Salah seorang penyair berkata:
Engkau sandangkan kehinaan dan kekurangan kepada kaummu
Hingga darah mereka keluar hukum dan mereka meninggalkan negeri yang luas
lalu Allah Yang Mahatinggi berfirman:
Itu yaitu sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. (QS. Al Kahfi: 17) Yakni, inilah hujjah atas
orang-orang dari Ahli Kitab yang mengetahui cerita pemuda-pemuda ini . Untuk menguji
validitas kenabianmu apakah engkau mampu menjawab tentang mereka atau tidak?
lalu Allah berfirman:
Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialahyang mendapatpetunjuk; dan barang siapa
yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapat seorangpemimpin pun yang dapat memberi
petunjuk kepadanya. Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-
balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka
pintu gua. (QS. A1 Kahfi: 17-18).
Ibnu Hisyam berkata: Al-washiid artinya pintu. A1 Absi yang bernama asli Ubaid bin Wahb berkata:
Di bumi lapang yang pintunya tidak ditutup untukku
Dan kebaikanku didalamnya tak mungkin tuk diingkari
Bait diatas yaitu penggalan syair-syair Al-Absi.
Arti lainnya dari al-washiid ialah hala- man. Jamaknya "al-washaa'idu, al-wushudu, al-wushdaan, al-
ushudu, dan al-ushdaan."
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah Ta'ala berfirman:
Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan
(diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. Dan demikianlah
Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah
seorang di antara mereka: "Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)." Mereka menjawab: "Kita
berada (di sini) sehari atau setengah hari." Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui
berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota
dengan membawa uangperakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik,
maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut, dan
janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun. sebenarnya jika mereka dapat
mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu
kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung untuk selama-
lamanya.” Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu
mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan
padanya. jika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata:
"Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka."
Orang- orangyang berkuasa atas urusan mereka ber- kata: "sebenarnya kami akan mendirikan
sebuah rumah peribadatan di atasnya." (QS. al-Kahfi: 18-21)
lalu Allah Taala berfirman:
Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) yaitu tiga orang yang ke- empat yaitu
anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(Jumlah mereka) yaitu lima orang yang keenam yaitu
anjingnya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; (QS. al-Kahfi: 22).
Mereka pada ayat di atas yaitu rahib- rahib Yahudi yang menyuruh orang-orang Quraisy bertanya
kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tentang pemuda-pemuda ini . Rajman bilghaib
maksudnya, mereka sendiri tidak mempunyai ilmu pengetahuan yang pasti tentang pemuda-pemuda
ini . Lalu Allah Taala berfirman:
dan (yang lain lagi) mengatakan: "(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan yaitu anjingnya."
Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan)
mereka kecuali
Yakni, janganlah engkau bertanya mengenai pemuda-pemuda ini kepada mereka sendiri karena
mereka tidak mempunyai ilmu pemgetahuan yang pasti tentang mereka itu. Lalu Allah Ta'ala
berfirman:
Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "sebenarnya aku akan mengerjakan
itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah." Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu
lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat
kebenaran- nya dibandingkan ini." (QS. al-Kahfi: 23-24).
Yakni, janganlah karena di tanya seperti itu engkau mengatakan akan menjawabnya besok pagi seperti
yang engkau katakan sebelumnya. Tapi katakanlah insya Allah. Ingatlah engkau kepada Allah jika
engkau lupa, dan katakanlah, "Semoga Allah memberiku petunjuk untuk bisa menjawab apa yang
mereka tanyakan kepadaku, karena engkau tidak mengetahui apa yang dikerjakan pemuda- pemuda
ini .
Lalu Allah berfirman:
Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ra- tus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). (QS. Al-
Kahfi: 25)
Yakni, rahib-rahib Yahudi akan mengatakan perkataan ini . lalu Allah berfirman:
Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan- Nya-lah
semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terangpenglihatan-Nya dan alangkah tajam
pendengaran-Nya; tak ada se- orangpelindungpun bagi mereka selain dari- pada-Nya; dan Dia tidak
mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan." (QS. al-Kahfi: 26).
Yakni, semua yang mereka tanyakan ituf Allah Mahamengetahui.
Ibnu Ishaq berkata: Allah Taala berfirman tentang pertanyaan mereka perihal seorang pengembara:
Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulkarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan
kepadamu cerita tentangnya." sebenarnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka)
bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, (QS. al-Kahfi:
83-84).
Di antara berita tentang Dzu Al-Qarnain ialah bahwa ia diberi beragam nikmat yang tidak dikarunikan
kepada orang lain. Antara lain, jalan-jalan terbentang untuknya hingga ia berjalan melakukan
pengembaraan dari timur ke barat. Setiap kali ia menjejakkan kakinya di suatu negeri, maka ia akan
berhasil menguasai penduduk setempat. Ia melakukan pengembaraan hingga tiba ke negeri-negeri
yang tidak berpenghuni.
Ibnu Ishaq berkata: Orang yang mendapat berita-berita dari orang-orang non-Arab berkata
kepadaku: Dzu Al-Qarnaini berasal dari Mesir. Ia bernama asli Marzuban bin Mardziyah Al-Yunani. Ia
berasal dari anak keturunan Yunan bin Yafits bin Nuh.
Ibnu Hisyam berkata: Nama aslinya yaitu Iskandar. Dialah orang yang membangun kota Iskandariyah
(Mesir), lalu kota Iskandariyah diberi nama dengan namanya.
Ibnu Ishaq berkata: Tsaur bin Yazid berkata kepadaku dari Khalid bin Madan Al-Kala'i bahwa Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam pernah ditanya mengenai Dzu Al-Qarnain, lalu beliau bersabda: Ia
seorang malaikat yang mengukur dengan tali dari bawahnya.
Khalid berkata bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu mendengar seseorang memanggilnya:
"Wahai Dzu Al-Qarnaini" Umar bin Khaththab berkata: "Ya Allah, ampunilah dia! Tidaklah kalian
senang memberi nama anak-anak kalian dengan nama para nabi, hingga kalian memberi nama anak
kalian dengan nama-nama para malaikat."
Ibnu Ishaq berkata






