Syiah 11

 


harusnya  membiasakan sesuatu yang baik. 

Apakah seseorang meninggal dunia dalam keadaan sebagai seorang  

mukmin (atau kafir) akan ditentukan pada saat hembusan nafas terakhirnya dari 

kematiannya. Jika seseorang menjadi kafir selama enam puluh tahun, lalu dia 

menjadi muslim hanya dalam beberapa saat sebelum ajal menjemputnya, dia akan 

 

 228

dibangkitkan di akhirat nanti sebagai seorang mukmin. Kecuali para nabi dan 

sejumlah orang yang telah dijanjikan oleh Allah akan masuk surga, tidak seorang  

pun dapat ‘dipastikan masuk surga.’ Masalah ini  tidak dapat diketahui 

sebelumnya, bergantung kepada bagaimana ikhwal seseorang pada saat 

mengehmbuskan nafas terakhirnya. 

Jika seseorang yang telah meninggal dunia, sementara di dunia ini dia 

meninggalkan buah dari amal jariyah, atau artikel -artikel  yang bermanfaat, atau anak-

anak salih yang mendoakannya sesudah  meninggal, dia akan terus memperoleh pahala 

ini . saat  seseorang meninggal dunia, artikel  catatan amal baik dan buruknya 

tidak ditutup. Sa’ad  bin Ubadah ra., salah seorang  shahabat pernah bertanya kepada 

Nabi, “Wahai Rasulullah! Ibu saya sudah meninggal dunia. Bagaimana saya tetap 

dapat berbuat baik kepadanya?” Nabi menjawab : “Memberi minum dengan niat 

untuk sedekah termasuk amal baik (yang dapat membuat ibumu senang, pent.).” 

Pada saat seseorang berdoa hendaknya dia memohonkan rahmat untuk arwah orang-

orang mukmin. Mereka akan menerima rahmat ini . sebab  doa akan dapat 

mencegah bencana (musibah) yang akan menimpa.  Dengan memberi sedekah, hal 

ini  akan dapat meredam murka Allah swt., melindungi seseorang dari nasib 

jelek dan akan menyembuhkan orang sakit yang belum saatnya meninggal. Allah 

benci kepada orang-orang yang enggan berdoa. 

Setiap muslim seharusnya memahami madzhab yang diikutinya dalam 

kaitannya dengan masalah akidah dan ibadah. Madzhab berarti jalan. Sebagian ajaran 

Islam disebutkan secara implisit di dalam Al Qur'an dan al hadits. Hal ini  dapat  

dijelaskan melalui ijtihad yang membutuhkan ilmu yang memadai dan upaya 

sungguh-sungguh. Ijtihad hanya dapat dilakukan oleh para ulama yang memiliki ilmu 

memadai. Mereka disebut mujtahid. Berkaitan dengan akidah, madzhab yang kita 

ikuti disebut Ahlus Sunnah wal Jamaah. Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah yaitu 

sebuah madzhab yang dibangun atas keyakinan (kepercayaan) yang dipegang oleh 

para shahabat Rasulullah saw. dan jamaah mereka (yaitu orang-orang yang 

mengikuti para mereka, -para shahabat ini ). Setiap shahabat yaitu  seorang 

mujtahid, laksana lingkaran cahaya, pilar Islam. Mereka yaitu  imam, pemimpin, 

panutan dan rujukan kaum muslimin. Barang siapa yang menyimpang dari jalan yang 

 

 229

ditunjukkan oleh mereka akan masuk neraka. Golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah 

memiliki dua orang imam madzhab (di bidang teologi, pent.). Pertama, yaitu  Abu 

Manshur al-Maturidiy rahmatullah ‘alaih. Dia yaitu  seorang ulama yang sangat 

alim yang mengembangkan madzhab Imam al-A’dzam Abu Hanifah rahmatullah 

‘alaih. Para ulama Madzhab Hanafi yaitu  para pengembang madzhab Abu Hanifah. 

Kedua, yaitu  Abul Hasan Al-Asy’ari rahmatullah ‘alaih. Dia yaitu  seorang ulama 

besar di dalam Madzhab Syafi’i. Dia memiliki ilmu pengetahuan (agama) yang  

sangat mendalam. Meskipun di antara dua madzhab ini  ada  perbedaan, 

namun  sangat kecil. Dewasa ini, tidak ada ulama yang memiliki kapasitas ilmu yang 

mampu melakukan ijtihad (sebagaimana yang dilakukan oleh mereka). Setiap 

muslim harus mempelajari salah satu di antara empat madzhab (di bidang hukum 

Islam, pent.) dengan membaca artikel -artikel  yang memuat ‘ilm al-hal dan karakteristik 

madzhab ini . lalu  akidah dan amaliah-ubudiahnya mengikuti madzhab 

ini . Seseorang dikatakan termasuk muslim Sunni jika dia mengikuti salah satu 

di antara empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali, pent.). Barang siapa 

yang tidak mengikuti salah satu di antara empat madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, 

disebut orang yang tidak bermadzhab (man la madzhab lahu, pent.). Seseorang yang 

tidak memiliki madzhab termasuk salah satu di antara ke-tujuh puluh dua golongan 

sesat atau kafir. Dalam menafsirkan ayat kedua puluh empat surat al-Kahfi, kitab 

tafisr berjudul al-Shawi menjelaskan sebagai berikut : “Ittiba’ (mengikuti) kepada 

seseorang yang bukan merupakan salah satu pengikut dari empat madzhab Sunni, 

sungguhpun pendapat-pendapatnya sesuai dengan para shahabat, atau sesuai dengan 

hadits-hadits sahih, atau sesuai dengan ayat-ayat Al Qur'an, dilarang. Barang siapa 

tidak termasuk pengikut salah satu di antara empat madzhab Sunni dia termasuk 

sesat. Dan akan menyesatkan orang lain. Barang siapa menyimpang dari empat 

madzhab Sunni ini  dikhawatirkan memicu  kekufuran. Seperti diketahui, 

orang-orang kafir telah biasa menyebut istilah ayat-ayat Al Qur'an yang bersifat 

figuratif (kiasan) dengan sebutan mutasyabihat (samar maknanya).” Seorang muslim 

yang menyebut dirinya sebagai pengikut madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah 

berkewajiban mendakwahkan ajaran-ajaran madzhab ini . Fatwa-fatwa dan 

artikel -artikel nya dapat dijadikan sebagai rujukan. Barang siapa membaca artikel -

 

 230

artikel nya tentu akan berfaedah. sedang  artikel -artikel  keagamaan yang ditulis oleh 

mereka yang tidak bermadzhab akan membahayakan (akidah) kita. Kami 

menghimbau kepada saudara-saudara kami sesama muslim agar mempelajari 

Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, serta mengajarkannya kepada putra-putri 

mereka. Disamping itu, mereka seyogyanya membaca artikel -artikel  karangan para 

ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dan menyebarluaskannya. Dengan demikian kita 

akan memperoleh pahala jihad fi sabilillah. 

Jihad tidak berarti berperang, atau melakukan kudeta dengan menentang 

penguasa, memberontak melawan pemerintah, menghancurkan, memusnahkan atau 

mengutuk mereka. sebab  cara-cara ini  tidak akan mengatasi masalah, justru 

akan menimbulkan fitnah. Dengan kata lain, tindakan-tindakan di atas dapat 

dikategorikan sebagai gerakan separatisme. Dampak selanjutnya, memicu  

ummat Islam ditekan dan dipenjara kebebasannya, sehingga dilarang melakukan  

aktifitas dakwah keagamaan. Guru kita Nabi Muhammad saw. mengutuk orang-

orang yang membuat fitnah. Hidup di dalam penjara tentu tidak menjadi cita-cita 

seorang muslim. Cita-cita yang didambakan oleh seorang muslim  ialah menghiasi 

dirinya dengan akhlak al-karimah yang diajarkan oleh Islam, berbuat baik kepada 

semua orang, patuh kepada ajaran-ajaran Islam, dan memberi manfaat kepada 

seluruh makhluk Allah. Barang siapa berprilaku jahil kepada diri sendiri berarti telah 

menjerumuskan dirinya ke dalam marabahaya. Allah swt. berfirman, “Janganlah 

kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam marabahaya!” 

Jihad berarti berjuang mendakwahkan agama Allah swt. kepada hamba-

hamba-Nya. Jihad dapat dilakukan dengan tiga macam cara. Pertama, yaitu  

berperang, yaitu melawan dan menghacurkan penguasa zalim yang menindas rakyat, 

memperlakukan rakyat seperti budak, melarang rakyat melakukan aktivitas dakwah 

Islamiyah, menganiaya dan menekan rakyat. Seseorang yang telah memperoleh 

dakwah/seruan Islam, kemungkinan dia menerima atau menolaknya tergantung pada 

kehendak mereka. Mungkin mereka akan masuk Islam atau tetap mempertahankan 

keyakinannya. Yang penting mereka telah mengetahui ajaran-ajaran Islam. Jihad 

bersenjata seperti ini hanya dapat dilakukan oleh pemerintah Islam, (jika memang 

ada). Tentara berkewajiban melaksanakan tugas jihad ini. Adapun kewajiban ummat 

 

 231

Islam dalam hal ini yaitu  membantu melaksanakan tugas jihad ini  melalui 

perintah dari negara. Jihad yang mereka lakukan akan memperoleh pahala. Negara 

juga berkewajiban melakukan jihad dalam rangka mempertahankan keberadaan 

Islam dan negara terhadap gangguan-gangguan yang dilakukan oleh orang-orang 

kafir yang menyerang untuk menghancurkan negara dan agama Islam. Negara juga 

berkewajiban melakukan jihad terhadap kekuatan-kekuatan separatis yang mencoba 

menodai dan menghacurkan Islam melalui kekuatan fisik. Ummat Islam akan 

memperoleh  pahala jihad disebabkan membantu tugas pemerintah ini .  

Kedua, dengan cara menyebarluaskan ajaran-ajaran Islam, menanamkan 

akhlak al-karimah, dan menegakkan hak-hak azazi dan kebebasan manusia melalui 

dakwah, artikel -artikel  dan media informasi lainnya.  

Ketiga, yaitu  mendukung mereka yang melaksanakan ke-dua macam 

jihad di atas dengan doa. Jihad bersenjata (jihad pertama) dalam rangka 

menyebarluaskan Islam hukumnya fardlu kifayah

 . Akan namun , saat  musuh telah 

menyerang, hukumnya menjadi fardlu ‘ain bagi setiap laki-laki, dan bahkan bagi 

wanita  serta anak-anak jika jumlah kaum laki-laki tidak memadai. Jika mereka 

tidak mampu membendung kekuatan musuh, maka hukumnya menjadi fardlu ‘ain 

bagi seluruh ummat Islam membantu mereka. Jihad kedua hukumnya fardlu ‘ain 

bagi ummat Islam yang mampu melakukannya, dan jihad ke tiga hukumnya fardlu 

‘ain bagi setiap muslim. Jihad kedua sangat diperlukan dalam rangka 

menyebarluaskan artikel -artikel  Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kami telah melakukan 

upaya ini  secara kontinyu. Seorang muslim semestinya beramal untuk 

akhiratnya tanpa mengenal lelah. Musuh-musuh Islam selalu bekerja dan 

mempersiapkan diri mereka dalam rangka menghancurkan Islam. Dalam rangka 

menghadapi mereka, ummat Islam harus melakukan dua hal : Pertama, mendidik 

putra-putri mereka mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an. Kedua, berupaya 

menyebarluaskan artikel -artikel  yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah. 

berdasar  keterangan yang ada  pada paragraf empat belas Bab Waqf  dari 

                                                 

 Perintah-perintah Islam tertentu disebut fardlu. saat  perintah ini  diwajibkan 

bagi setiap individu muslim disebut fardlu ‘ain. Namun, ada  jenis-jenis perintah yang 

membebaskan muslim lainnya saat  perintah ini  dilakukan/dikerjakan oleh satu atau 

sekelompok muslim lainnya. Perintah-perintah ini  disebut fardlu kifayah. 

 

 232

kitab Fatawayi Hindiyyah disebutkan : “Barang siapa yang ingin berbuat kebajikan 

dalam bentuk amal salih, hendaknya mereka mendirikan fasilitas (prasarana) umum, 

seperti rumah sakit, dari pada memerdekakan buda-budak. Amal salih yang paling 

baik yaitu  menerbitkan artikel -artikel  yang berfaedah (yang memuat ajaran Islam, 

akhlak dan ilmu pengetahuan lainnya). Adapun menulis dan menerbitkan artikel -artikel  

fiqih lebih baik dari pada melakukan ibadah yang paling wajib.” 

Kita kembali kepada pokok pembahasan. Sebagaimana telah dijelaskan 

sebelumnya, musuh-musuh Islam selalu berusaha menyerang bangunan Islam secara 

licik dan berupaya menyesatkan generasi muda Islam. Seperti dilakukan oleh 

Muhammad Quthb dari Mesir. Dia menulis dalam sebuah atikel yang berjudul  

“Jalan Kesesatan” berikut  ini : 

“Keretakan utama dasar Islam dapat kita lihat pada kebijakan Bani 

Umayyah di bidang administrasi dan keuangan. ‘Malik Adud’ membangun sistem 

kekuasaan yang bersifat turun temurun. Hal ini  memicu timbulnya berbagai 

penyelewengan dan kezaliman. Para keluarga raja dan gurbenur menjadi semacam 

pemimpin-pemimpin feodalistik. 

“lalu  muncul pemerintahan Bani Abbasiyah. Gedung-gedung 

kekhalifahan dan gubenuran menjadi sarang kemaksiatan (mabuk-mabukan dan 

perzinaan) dari pada menjadi kantor-kantor pelayanan sipil. Mereka menikmati 

musik dengan berfoya-foya diiringi para penari perut. Mereka melanggar hukum dan 

memeras pegawai di tingkat bawah untuk kepentingan diri mereka sendiri.”  

Kitab Tuhfah menjawab kebohongan ketujuh puluh yang dibuat oleh 

orang-orang yang tidak ber-Madzhab, sebagai berikut : “Jika Al Qur’an dan al hadits 

menyatakan secara tegas perihal kekhalifahan seseorang, maka kekhalifahan ini  

disebut khilafat al-rasyidah. Demikianlah, ke-empat khalifah utama disebut khulafa 

al-rasyidin. Jika kekhalifahan seseorang dinyatakan secara implisit (tidak tegas) 

melalui nash baik Al Qur’an maupun al hadits, kekhalifahannya disebut khilafat 

‘adilah. Jika kekhalifahan seseorang tidak dinyatakan dengan jelas atau diperoleh 

tidak dengan perebutan kekuasaan secara militer/fisik, kekhalifahannya disebut 

khilafat jairah. Khalifahnya disebut Malik Adud.”    

 

 233

Di dalam kitab Izalat al-Hafa yang ditulis oleh Syah Waliyullah Dahlawi 

halaman lima ratus dua puluh delapan, diriwayatkan sebuah hadits yang menyatakan, 

“Kami memulai pekerjaan ini dengan berkah kenabian dan rahmat Allah. Sesudah 

itu, kami akan memulai pekerjaan dengan berkah kekhalifahan dan rahmat Allah. 

lalu  akan datang masa Malik Adud. lalu  akan muncul kesengsaraan, 

kekejaman dan kezaliman di kalangan ummat-ku. Berpakaian sutra, mabuk-mabukan 

dan berzina dipandang halal. Hal ini  terus dilakukan oleh banyak orang 

hingga akhir zaman.” Dengan tegas hadits ini  menerangkan,  bahwa Mu'awiyah 

akan merebut kekuasaan dengan kekuatan, dan sesungguhnya kekejaman dan 

kezaliman akan muncul sesudah  dia meninggal dunia, bukan saat  dia berkuasa. 

Melalui tulisannya ini , Syah Waliyullah menegaskan, bahwa kejahatan dan 

kezaliman akan muncul seiring berdirinya pemerintahan Abbasiyah. Tulisan Syah 

Waliyullah ini  membantah fitnah yang disebarkan oleh Muhammad Quthb 

seperti dijelaskan di atas. 

Banyak hadits yang menyatakan, kelak di lalu  hari Mu'awiyah  

akan menjadi seorang penguasa. Dan ternyata sejarah mencatat, Mu'awiyah menjadi 

khalifah ‘adilah sesudah  Hasan ra. menyerahkan kekhalifahan kepadanya dan para 

shahabat Nabi saat  itu memilihnya. Menuduh shahabat agung ini  sebagai 

seorang malik adud dan memakai  kata ini  dengan konotasi makna negatif, 

seperti makna penindas, kafir merupaka fitnah yang sangat keji. Barang siapa yang 

memakai  kata ini  dengan makna ‘raja’ (king, pent.) jelas sekali bahwa dia 

tidak memahami Islam. 

Para penguasa disebut ‘raja.’ Di antaranya Raja Perancis, Raja Inggris, 

Raja Bulgaria. Barang siapa menyebut seorang raja (malik, pent.) muslim dengan 

sebutan ‘raja’ berarti dia telah mengecilkan sosok manusia yang mulia, dihormati, 

dan dicintai yang disebut khalifah oleh ummat Islam, dan juga berarti memandang 

penguasa ini  dan rakyatnya termasuk kafir. Guru kita, Rasulullah saw. 

menyebut Mu'awiyah dengan sebutan ‘malik’. Jutaan kaum muslimin menyebut dia  

malik dan khalifah. Tidak seorang  pun berpendapat bahwa kekejaman ini  

ditimbulkan oleh Mu’awiyah, -shahabat Nabi yang mulia, mujahid Islam yang sangat 

masyhur, salah seorang  manusia beruntung yang dipuji dan didoakan oleh Nabi saw. 

 

 234

dan yang [sebagaimana dinyatakan di dalam Al Qur'an] telah diberi kabar gembira 

akan masuk surga. Jika seseorang memperbandingkan para mujahid Islam, singa-

singa Allah [yang pada suatu masa mereka dipuji di dalam  hadits-hadits Nabi] 

dengan para penguasa Eropa yang biadab dan kafir tidak ubahnya seperti 

menusukkan pisau belati ke jantung Islam. Perhatiakn hadits-hadits Nabi yang sangat 

masyhur berikut ini : “Di akhirat, para malaikat adzab akan menyiksa para ulama 

yang tidak mengamalkan ilmunya sebelum menyiksa orang-orang kafir,” dan “Di 

akhirat, siksa yang paling pedih akan ditimpakan kepada seorang ulama yang tidak 

mengamalkan ilmunya.” Hadits-hadits ini  menjadi peringatan (tandzir, pent.) 

kepada generasi muda. Hadits-hadits ini  juga menegaskan, bahwa mereka yang 

dipandang sebagai sarjana-sarjana agama (ulama, pent.) oleh majalah-majalah agama 

sesat pada hakikatnya yaitu  maling-maling iman dan para pendosa celaka yang 

akan disiksa dengan adzab sangat pedih di neraka. 

Tulisan di atas mengingatkan (kita) akan seseorang bernama Lawrence  

yang menjadi spionase terkenal selama Perang Dunia Pertama. Dia yaitu  seorang 

spionase Inggris yang fasih berbahasa Arab. Dia yaitu  sosok laki-laki berjenggot, 

selalu mengenakan surban dan jubah panjang (yang biasa dipakai oleh para ulama). 

Dia berpura-pura menjadi seorang ulama Islam. Dia menyerang para ulama 

terkemuka dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dia mencela para shahabat Nabi, para 

khalifah Islam dan para penguasa Turki Utsmani. Dia berhasil menyesatkan ratusan 

ribu ummat Islam. Dia menyokong dan menyediakan dana kepada setiap upaya yang 

hendak menodai kemurnian agama Islam. Obsesi Lawrence antara lain ialah 

memisahkan ummat Islam dari para penguasa Turki dan mendirikan sebuah negara 

merdeka. 

Sementara itu, artikel -artikel  yang ditulis oleh orang-orang Wahabi 

menyebut orang-orang Islam Sunni sebagai ‘politeis’. Mereka berpendapat, bahwa 

orang-orang Islam Sunni termasuk  kafir. Spionase Lawrence sekarang sudah mati. 

Dan tentu dia termasuk penghuni neraka. Akan namun , para pengikut setia Lawrence 

memakai  para spionase lokal (pribumi) untuk meneruskan gagasan-gagasannya. 

Mereka menerbitkan majalah dan artikel  yang memuji para spionase ini  ke 

seluruh dunia yang didukung dengan dana yang sangat besar. Di dalam  artikel  dan 

 

 235

majalah ini , mereka mencela para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Para ulama 

Islam lainnya tentu membela mereka. Oleh sebab  itu, mereka telah membantah 

fitnah-fitnah yang ditujukan kepada para tokoh Islam terkemuka. Mereka telah 

mendiskusikan dan memberikan jawaban atas segala persoalan ummat Islam dengan 

tidak membiarkannya tanpa solusi. Generasi Islam selanjutnya tidak perlu 

mendiskusikannya kembali. Mengorek kembali peristiwa-peristiwa sejarah masa lalu 

yang telah selesai dibahas, disepakati dan dijawab baik dari sudut pandang sejarah 

maupun agama, akan menimbulkan malapetaka (fitnah) bagi ummat Islam. Hal 

ini  akan menghambat kebangkitan kembali ummat Islam dari keterpurukan 

selama ini. Di samping itu, hal ini  dapat menimbulkan kedengkian.  

Khalifah-khalifah dari Bani Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah 

yaitu  penguasa-penguasa yang salih, jujur, adil dan mulia. Meskipun kita tidak 

memungkiri fakta sejarah, bahwa ada  beberapa khalifah yang terjebak oleh hawa 

nafsu dan terperangkap dalam bujukan setan. Akan namun , sekali-kali mereka tidak 

pernah menimbulkan kerugian bagi Islam. Kejahatan yang  mereka lakukan akan 

kembali kepada diri mereka sendiri. Musibah paling parah yang menimpa ummat 

Islam yang disebabkan oleh perbuatan sebagian mereka ialah mereka meninggalkan 

madzhab Ahlus Sunnah dan menggantikannnya dengan madzhab Mu’tazilah. Hal 

ini  disebabkan oleh campur tangan yang dilakukan oleh para ulama jahat/ulama 

suu’. Setan-setan yang menyesatkan sebagian khalifah ini  terdiri dari manusia-

manusia bejat bukan sekedar keturunan iblis terkutuk. Imam Rabbani rah. 

menyatakan di dalam kitabnya berjudul Maktubat bahwa, “Kesesatan yang dialami 

oleh orang-orang Islam dan para penguasa selalu disebabkan oleh kedengkian para 

ulama jahat/ulama suu’.” Perbuatan paling keji yang dilakukan oleh musuh-musuh 

Islam yaitu  mencoba mencemarkan para khalifah Islam dengan menfitnah mereka 

sebagai manusia tidak bermoral dan tidak beragama. Musuh-musuh Islam ini  

mempublikasikan kehidupan pribadi para harem sah mereka melalui artikel -artikel  dan 

majalah. Sehinggga hal ini  menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. 

Seseorang mungkin telah memperoleh informasi ini  melalui sumber-sumber 

sejarah Eropa. Atau melalui artikel -artikel  yang ditulis oleh para pendeta dan orang-

orang freemason lalu memandangnya sebagai sebuah kebenaran ilmiah. Kami 

 

 236

menghimbau kepada mereka agar mereka juga membaca minimal beberapa artikel  

sejarah Islam atau artikel -artikel  yang ditulis oleh para ulama  Ahlus Sunnah sehingga 

kebenaran sejarah ini  akan diketahui. Kita menemukan sebuah artikel dalam 

bentuk kumpulan opini yang ditulis oleh seseorang  yang tidak memiliki basik ke-

Islam-an sama sekali. Artikel ini  memang tidak memiliki bukti-bukti 

dokumenter yang meyakinkan. Artikel ini  menjelaskan, bahwa pada masa Bani 

Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah, rakyat sangat taat kepada ajaran-ajaran Islam. 

Hal ini  menunjukkan, bahwa para penguasa pada saat itu terdiri dari orang-

orang  yang taat menjalankan ajaran-ajaran Islam. Guru kita, Nabi saw. menegaskan, 

“Agama rakyat mengikuti agama  pemimpin mereka.” Sejarah telah memberi banyak 

pelajaran kepada kita ummat Islam tentang para ulama pemfitnah dan 

pendusta/ulama suu’.  

Sejarah menulis biografi Ibnu Taimiyyah. Dia mencoba merusak akidah 

orang-orang Timur Tengah. Padahal dia sendiri belajar dari para ulama Ahlus 

Sunnah wal Jamaah. Ribuan artikel  ditulis untuk membantah gagasan-gagasan dia 

yang tidak memiliki dasar kuat, dan ‘menelanjangi’ dia. Selanjutnya, sejarah juga 

menulis tentang Muhammad Abduh dari Mesir. Dia pernah bekerja sama dengan 

orang-orang freemason. Di dalam agama Kristen dikenal adanya sekte Bastar yang 

disebut Protestantisme. Abduh juga mencoba mengeliminir paham Ahlus Sunnah wal 

Jamaah yang ‘dikritiknya’. Dia menyisipkan filsafat Barat yang bersifat non-agama 

ke dalam  Islam. Di tangan Presiden Masonik Kairo, gagasan-gagasan Abduh 

berkembang di Jami’ul Azhar Mesir. Di samping Abduh, sejumlah pembaharu 

agama muncul di Mesir. Di antaranya, Rasyid Ridla, Mustafa Maraghi, -yang pernah 

menjadi Rektor Madrasah Azhar-, Abdul Majid Salim, -yang pernah menjadi Mufti 

Kairo-, Mahmud Syaltut, Tantawi Jauhari, Abdur Raziq Pasya, Zaki Mubarak, Farid 

Wajdi, Abbas Aqqad, Ahmad Amin, Doktor Taha Husein Pasya dan Qasim Amin. 

Sebagaimana Abduh, -guru mereka-, mereka juga dipandang sebagai ulama Islam  

modern yang artikel -artikel nya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Turki. Banyak 

ulama yang terpengaruh oleh pemikiran yang ditawarkan mereka. 

Sayyid Abdul Hakim Efendi rah., -ulama besar Islam dan mujaddid abad 

keempat belas hijriah-, memberi komentar tentang Abduh, “Abduh, -Mufti Kairo-, 

 

 237

tidak memahami keagungan para ulama Islam. Dia menjual dirinya kepada musuh-

musuh Islam. Dan akhirnya menjadi seorang  freemason yang bekerja sama dengan 

mereka. Dia telah membiarkan orang-orang  kafir menghalangi pertumbuhan Islam 

dari dalam. Ismail Hakki dari Izmir, Umar Riza Dogrul, Hamdi Aksaki, Sarafaddin 

Yaltkaya, Samsudin Guneltay, Mustafa Fauzi, Vahbi dari Konya, Muhammad Akif, 

dan banyak ulama lainnya yang telah membaca artikel -artikel  yang ditulis oleh orang-

orang freemason terpengaruh dan tersesat.” 

Abduh dan tokoh pembaharu lainnya telah larut dalam kesesatan. Mereka 

juga berusaha menyesatkan generasi muda Islam. Para ulama ini  membuka 

jalan kepada malapetaka, sebagaimana dikatakan oleh hadits, “Malapetaka yang 

akan menimpa ummat-ku disebabkan oleh para ulama sesat/ulama suu’”. 

Sementara itu, para pengikut Abduh juga tidak  tinggal diam. Mereka  

menerbitkan artikel -artikel  menyesatkan yang dapat menimbulkan keresahan dan 

permusuhan di kalangan ummat Islam. Di antaranya, artikel  yang ditulis oleh Rasyid 

Ridla berjudul Muhawarat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Turki oleh Hamdi 

Aksaki dengan judul Islamda Birlik (Kesatuan dalam Islam), diterbitkan di Istanbul 

pada tahun 1332 H/1914 M. Di dalam artikel nya, dia mengikuti metode gurunya, 

menyerang empat Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dia berpendapat, bahwa 

madzhab-madzhab ini  telah memicu  timbulnya perbedaan pendapat yang 

disebabkan oleh perbedaan metode dan  kondisi madzhab-madzhab itu sendiri yang 

saling bertentangan secara tajam. Dia menuduh bahwa empat madzhab ini  

sebagai “pemecah belah kesatuan Islam.” Dia sesungguhnya telah melecehkan jutaan 

ummat Islam yang menjadi pengikut salah satu di antara empat madzhab ini  

selama seribu empat ratus tahun. Dia juga telah memposisikan Islam agar 

menyesuaikan dengan kondisi zaman. Pada umumnya, para tokoh pembaharu agama 

(mujaddid, pent.) menyebut diri mereka sebagai ulama intelek yang memahami Islam 

secara komperhensif serta kondisi (perkembangan) zaman. Sementara itu, mereka 

menyebut orang-orang Islam yang menjadi pengikut para ulama Ahlus Sunnah wal 

Jamaah yang dipuji lewat hadits, “Sebaik-baik masa yaitu  masa mereka,” sebagai 

para pengekor/pengikut buta (mobbish-minded imitators) [muqallid buta, pent.]. Para 

mujaddid modern pada dasarnya yaitu  manusia-manusia jahil yang sama sekali 

 

 238

tidak memahami ajaran pokok (ushul al-din, pent.) dan cabang (furu’ al-din, pent.) 

Islam. Kejahilan mereka dapat dipelajari melalui ceramah-ceramah dan tulisan-

tulisan mereka.  

Dalam kaitannya dengan masalah ini  di atas (mujtahid dan mujaddid 

Islam, pent.), perhatikanlah hadits-hadits Nabi saw. berikut ini : “Manusia yang 

paling tinggi (derajatnya) yaitu  orang-orang yang berilmu (ulama, pent.) yang 

beriman.” , “Orang-orang yang berilmu (ulama) yaitu  pewaris para nabi.” , “Ilmu 

yang berkaitan dengan hati yaitu  salah satu rahasia milik Allah.” , “Tidurnya 

seorang yang berilmu yaitu  ibadah.” , “Muliakanlah orang-orang yang berilmu 

dari ummat-ku! Mereka yaitu  laksana bintang-bintang di bumi.” , “Orang-orang 

yang berilmu akan memintakan ampunan atas dosa-dosa ummat Islam di akhirat.” , 

“Orang-orang yang ahli di bidang fiqih yaitu  orang-orang yang mulia. Bergaul 

dengan mereka termasuk ibadah.” , “Seorang yang berilmu di antara pengikut-

pengikutnya yaitu  laksana seorang nabi di antara ummat-nya.” Berkaitan dengan 

hadits-hadits ini  dalam pikiran kita terlintas sebuah pertanyaan : Siapakah yang 

dipuji oleh hadits-hadits  ini  di atas : apakah para ulama Ahlus Sunnah wal 

Jamaah yang telah mendakwahkan Islam selama seribu empat ratus tahun, ataukah 

Abduh dan murid-muridnya yang baru muncul belakangan?  Pertanyaan ini pun 

sesungguhnya telah dijawab oleh Sang Guru kita Baginda Rasulullah saw. : “Tiap-

tiap abad akan lebih jelek dari pada satu abad sebelumnya,  abad-abad menjelang 

datangnya hari kiamat akan lebih jelek dari pada abad-abad sebelumnya.” , “Hari 

kiamat makin dekat, para ulama lebih jelek dan busuk dari pada daging bangkai 

keledai.” Hadits-hadits ini  ada  di dalam ikhtisar Tadzkirah al-Qurthubi.  

berdasar  keterangan para ulama dan penegasan para wali Allah 

menyebutkan, bahwa golongan Islam yang dijanjikan selamat dari siksa neraka yaitu 

orang-orang yang mengikuti madzhab yang dianut oleh para ulama Ahlus Sunnah 

wal Jamaah. Adapun selain golongan Ahlus Sunnah akan masuk neraka. Fakta 

menunjukkan, bahwa gagasan persatuan madzhab yang mereka tawarkan ternyata 

tidak benar. Dengan kata lain, bahwa mencoba menciptakan satu madzhab unifikasi 

dengan mengambil keringanan-keringanan yang diberikan oleh empat madzhab 

merupakan sebuah upaya yang keliru dan tidak lazim. Untuk mendapat  informasi 

 

 239

yang memadai berkaitan dengan diskusi tentang persatuan madzhab ini , silakan 

merujuk kepada kitab berbahasa Turki berjudul Fâideli Bilgiler. 

Jika kita berpikir obyektif dan bijaksana, kita akan menentukan alternatif; 

mengikuti Madzhab Ahlus Sunnah yang diwariskan oleh para ulama (yang 

mayoritas) selama seribu tahun, atau mempercayai para ulama dadakan yang tidak 

mengetahui agama, modern dan beradab (!) yang keberadaanya menjadi bagian 

masalah dalam kurun waktu seratus tahun dewasa ini? Para tokoh terkemuka di 

antara tujuh puluh dua golongan Islam yang ditegaskan oleh hadits-hadits Nabi 

bahwa mereka akan masuk neraka selalu menghujat dan mendiskreditkan para ulama  

Ahlus Sunnah wal Jamaah. Akan namun , ayat-ayat Al Qur'an dan hadits Nabi telah 

menyanggah mereka. Mereka menyadari, bahwa ilmu tidak dapat dijadikan sebagai 

sarana untuk mencapai tujuan akhir mereka dengan mudah. lalu  mereka 

memakai  cara lain yaitu kekerasan. Sejarah mencatat pertumpahan darah kaum 

muslimin selama berabad-abad disebabkan oleh kebiadaban mereka.  

Rasulullah saw. menyebutkan, “Perbedaan madzhab yang terjadi di 

kalangan ummat Islam (dalam masalah ibadah dan kaifiyah ibadah) yaitu  rahmat 

Allah  (atas kaum muslimin).” Akan namun , para pembaharu agama seperti Rasyid 

Ridla (lahir pada tahun 1282 H/1865 M, meninggal secara mendadak di Kairo pada 

tahun 1354 H/1935 M), berpendapat perlunya membangun persatuan di dalam Islam 

melalui penyatuan madzhab-madzhab yang telah ada. Sementara itu, Muhammad 

saw. menyerukan kaum muslimin untuk bersatu di dalam satu akidah, yaitu sebuah 

manhaj iman yang benar yang diajarkan oleh empat khalifah beliau. Para ulama 

belajar secara bergandengan tangan (bersambung, pent.) sehingga menemukan 

manhaj iman yang benar yang diajarkan oleh empat khalifah Nabi saw. lalu  

mereka menulis dan merumuskannya di dalam kitab-kitab mereka. Manhaj yang 

diajarkan oleh Nabi saw. melalui para shahabat beliau disebut Ahlus Sunnah wal 

Jamaah. Kaum muslimin di seluruh dunia harus bersatu dalam manhaj yang unik 

ini . Mereka yang menggagas persatuan dalam Islam, sepatutnya bergabung 

dengan persatuan manhaj Ahlus Sunnah, jika mereka tulus dalam menawarkan 

gagasan ini . 

 

 240

Akan namun , patut disesalkan, ternyata artikel  yang ditulis oleh Rasyid 

Ridla ini  menimbulkan polemik di kalangan ummat Islam. Hal ini  dapat 

memicu  kehancuran Islam dari dalam. artikel  ini  telah dicetak dengan judul 

lengkap Islamda Birlik ve Fikh Mezhebleri (Kesatuan dalam Islam dan Madzhab-

madzhab Fiqh) dan diterbitkan pada tahun 1394 H/1974 M oleh beberapa anggota 

partai politik yang telah menyusup ke dalam Kementerian Agama. Kami bersyukur, 

Kementerian Agama telah membersihkan orang-orang tak ber-Madzhab ini  dan 

menggantikannya dengan para ulama yang berhati suci dan berwawasan luas. 

Mereka menulis artikel -artikel  yang memperingatkan para pemuda dari publikasi-

publikasi menyesatkan. Salah satu di antaranya artikel  berjudul Islâm Dînini Tehdîd 

Eden En Korkunç Fitne Mezhebsizlikdir (Ancaman Paling Berbahaya Terhadap 

Agama Islam yaitu  Fitnah dari Orang Tak Ber-Madzhab), yang ditulis oleh 

Durmus Ali Kayapinar, seorang  anggota Staf Pengajaran Islâm Enstîtüsü di Konya, 

Turki. artikel  ini  dicetak di Konya pada tahun 1976.  

Orang-orang zindiq selalau berusaha memanipulasi ajaran-ajaran Islam 

melalui pendapat-pendapat bathil mereka. Mereka ingin menghancurkan ukhuwwah  

Islam di bawah kedok unifikasi. Untuk memperoleh informasi lebih rinci, kami 

persilakan pembaca menelaah artikel  berbahasa Turki berjudul Fâideli Bilgiler  

(Informsai Sangat Penting)! Orang-orang zindiq bersembunyi di belakang berbagai 

nama Islam berupaya keras menodai Islam. Meskipun mereka tidak memiliki 

kapasitas keilmuan dan moralitas yang memadai, akan namun  mereka  memiliki dana 

yang sangat besar yang dapat dimanfaatkan sebagai propaganda terhadap para ulama 

bayaran. 

Di dalam artikel  kami (ini), akan kami angkat sebuah kutipan surat yang 

ditulis oleh Imam Rabbani, -yang bergelar Mujaddid Alf Al-Tsani Ahmad Faruqi 

Sirhindi rahmatullah ‘alaih-, dengan harapan mendapat  limpahan berkat dari ruh 

penghulu wali mulia ini  yang sangat dicintai oleh para ulama, pembimbing 

wali-wali Allah menuju ke berbagai tariqat tasawuf, manusia pilihan di antara 

manusia-manusia pilihan : 

 

 241

Volume  Ketiga, Surat Keseratus Dua Puluh Empat 

Saya tujukan surat ini kepada Mullah Murad Kasymi yang memuat 

keagungan para shahabat Nabi : 

Allah swt. berfirman di akhir surat al-Fath, “Muhammad yaitu  seorang 

Rasul yang diutus oleh Allah untuk  manusia. Para shahabatnya yaitu   orang-

orang  yang sangat keras (tegas) kepada orang-orang kafir, sangat berkasih sayang 

satu sama lain.” Ayat ini  cukup panjang dan diakhiri dengan “Barang kali 

orang-orang kafir marah…” Allah swt. memuji para shahabat dengan  menegaskan 

bahwa mereka saling mencintai di antara mereka. Kata ‘al-rahim’ yang ada  di 

dalam  ayat ini  mengisyaratkan keagungan cinta mereka. Kata seperti itu 

disebut al-sifat al-musyabbihah menurut tata bahasa Arab. Kata ini  

menunjukkan kuantitas dan kelestarian sifat ini . Hal ini  menunjukkan, 

bahwa kecintaan di antara sesama shahabat bersifat permanen (langgeng, lestari). 

Kecintaan mereka tetap eksis sesudah  Rasulullah saw. wafat, dan saat  beliau masih 

hidup. Dari ayat ini  dapat dipahami, bahwa sesuatu yang tidak sejalan dengan 

sifat saling cinta, tidak terjadi di antara para shahabat. Melalui ayat ini , Allah 

swt. menegaskan, bahwa sifat yang tidak mencerminkan cinta, seperti iri hati, hasud 

dan cemburu terhadap orang lain tidak dimiliki oleh para shahabat Nabi saw. Tidak 

seorang shahabat  pun memiliki sifat-sifat ini . Ungkapan “walladzina” di dalam  

ayat ini  menunjukkan kenyataan ini . Jika mereka demikian keadaannya, 

bagaimana kita mengatakan bahwa ada  pertentangan dengan mereka yang 

memiliki derajat sangat tinggi ini ? Mereka memiliki kebajikan yang amat 

banyak dan sangat tinggi. Demikianlah, Nabi saw. bersabda, “Abu Bakar ra. yaitu  

orang yang paling pemurah dari ummat-ku!” Dalam hadits lain beliau bersabda, 

“Tidak ada nabi yang akan menggantikanku. Jika ada seorang nabi  yang diutus 

sesudahku, pasti Umar-lah yang akan menjadi nabi.” Hadits ini  ada  di 

dalam kitab al-Dailami dan Kunuz al-Daqaiq. Hadits ini  mengisyaratkan 

bahwa Umar al-Faruq memiliki keistimewaan-keistimewaan lebih dibandingkan para 

nabi. Hanya ada satu keutamaan yang tidak diberikan kepada Umar, yaitu derajat 

kenabian ini . Hal itu dapat dipahami, mengingat Rasulullah saw. yaitu  Nabi 

akhir zaman (penutup, pent.). Salah satu keutamaan yang dimiliki oleh para nabi 

 

 242

ialah bahwa mereka sangat mencintai orang-orang Islam dan menyayangi mereka. 

Sifat-sifat tercela, seperti cemburu, hasud, permusuhan, dan marah yaitu   sifat-sifat 

yang berlawanan dengan sifat cinta dan kasih sayang. Apakah sifat-sifat tercela 

ini  mungkin dimiliki oleh orang-orang yang ruhaninya dididik oleh manusia 

terbaik dan teragung, makhluk terbaik di antara yang paling baik, yaitu Baginda Nabi 

Muhammad saw.? Para shahabat yaitu  garda terdepan dari ummat Islam 

sebelumnya. Mereka hidup dalam sebuah masa terbaik. Mereka dididik oleh seorang 

Nabi teragung di antara para nabi. Seorang muslim yang paling hina sekalipun tentu 

benci kepada sifat iri hati, permusuhan, marah dan cemburu. Jika para shahabat 

memiliki sifat-sifat ini , apakah mereka dapat disebut sebagai manusia-manusia 

terbaik di antara ummat ini? Apakah ummat ini  dapat disebut sebagai ummat terbaik 

di antara ummat-ummat lainnya? Kebaikan yang mereka miliki disebabkan menjadi 

orang-orang Islam pertama, pemberi shadaqah pertama, yang telah berjihad dan 

mengorbankan hidup mereka demi mencari ridla Allah, dapatkah disebut sebagai 

bentuk kemuliaan dan keutamaan? Bagaimana masa hidup mereka disebut sebagai 

sebaik-baik masa? Apakah yang menjadi keistimewaan dan nilai tambah dari sebuah 

pendidikan yang diberikan oleh Rasulullah saw.?  Seseorang yang dididik oleh 

seorang  wali atau seorang ulama dari ummat ini sanggup merubah perangai-perangi 

jelek menjadi baik. Lalu mungkinkah perangai-perangai ini  masih tetap melekat 

pada diri para shahabat yang telah menghabiskan seluruh hidupnya bersama 

Rasulullah saw., mengabdikan dirinya untuk beliau, mengorbankan harta benda dan 

nyawa untuk membantu dan mendukung perjuangan beliau dan untuk agama yang 

dibawa beliau, dan yang senantiasa siap mengorbankan jiwanya menurut perintah 

beliau? Barang siapa mempercayai bahwa para shahabat Nabi saw. memiliki sifat-

sifat jelek, berarti dia mengingkari keagungan dan kemuliaan Rasulullah saw. 

[Na’udzu billah min dzalik]. Jika demikian, berarti dia mengakui bahwa pendidikan 

Nabi saw. tidak lebih baik dibandingkan dengan pendidikan seorang wali, atau 

bahkan pendidik-pendidik lainnya. Padahal berdasar  ijma para ulama disepakati, 

bahwa tidak ada seorang wali pun dari ummat mana pun memiliki derajat yang sama 

dengan para shahabat dari ummat ini . Lalu bagaimana mereka dapat memiliki 

derajat yang sama dengan derajat yang dimiliki oleh seorang nabi dari ummat 

 

 243

ini ? Menurut Abu Bakar Syibli, barang siapa tidak memuliakan shahabat Nabi 

saw. berarti dia tidak beriman kepada Nabi saw. 

Kebanyakan orang menganggap bahwa para shahabat Nabi terpecah 

menjadi dua kelompok. Menurut mereka, satu kelompok kontra (menentang) kepada 

Ali bin Abi Thalib, dan satu kelompok lainnya pro (mendukung) Ali bin Abi Thalib. 

Mereka berpendapat, “Kedua kelompok ini  saling memusuhi satu sama lain. 

Mayoritas dari mereka menyembunyikan sikap permusuhan ini  sebab  mereka 

memiliki maksud-maksud tertentu yang bersifat duniawi. Mereka melakukan apa 

yang disebut taqiyyah, yaitu sikap bermuka dua. Hal ini  mereka lakukan selama 

kurun waktu seratus tahun.” sebab  sikap itulah, lalu  mereka menfitnah para 

shahabat yang mereka anggap menentang Ali bin Abi Thalib ra., dan menuduh 

mereka secara kejam, -yang bertentangan dengan ketinggian dan kemuliaan  mereka. 

Mereka yang berpendapat demikian, pada dasarnya telah melakukan penghinaan 

kepada kedua kelompok shahabat Nabi saw. dan menuduh mereka sebagai manusia-

manusia jahat. Barang siapa berpendapat bahwa para shahabat Nabi saw. yaitu  

manusia-manusia jahat, berarti dia menuduh manusia-manusia terbaik dari ummat 

Islam ini sebagai manusia-manusia paling jelek dari ummat Islam ini, atau bahkan 

menuduh manusia yang paling jelek dari seluruh ummat manusia. Mereka juga 

berpendapat bahwa ‘masa terbaik’ dari para shahabat Nabi saw. seperti dinyatakan 

oleh sebuah hadits, sebagai ‘masa terjelek’. Kita layak mengajukan pertanyaan 

kepada musuh-musuh Islam : berdasar  alasan apa kalian mencela dan 

mencemarkan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar al-Faruq, -dua tokoh terkemuka 

Islam yang sangat dicintai oleh kaum muslimin? Al Qur'an menegaskan, bahwa Abu 

Bakar yaitu  manusia yang memiliki tabiat sangat mulia, berbudi luhur di antara 

ummat Islam. Menurut Abdullah Ibni Abbas dan shahabat-shahabat lainnya serta 

para ulama tafsir, bahwa ayat Al Qur'an yang menyatakan, “Barang siapa yang takut 

akan api neraka hendaklah ia mensedekahkan sebagian hartanya sebab  Allah 

semata agar mendapatklan rahmat yang telah dijanjikan oleh-Nya,” (dalam surat 

Wallail), ayat ini  ditujukan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Barang siapa 

menuduh kufur, jahat atau jelek kepada seseorang yang telah Allah tegaskan sebagai 

manusia yang sangat salih, yang sangat mulia dari ummat Islam ini dan manusia 

 

 244

terbaik di antara ummat-ummat lainnya, berarti dia telah melakukan perbuatan yang 

teramat keji. Imam Fakhruddin Radli, -salah seorang  ulama tafsir terkemuka-, 

berpendapat, bahwa “Ayat ini  menunjukkan bahwa Abu Bakar ra. yaitu  

seorang yang teramat tinggi derajatnya di antara ummat Islam ini.” Ayat ketiga belas 

surat al-Hujurat menjelaskan, “Di antara kalian, orang yang paling tinggi derajatnya 

yaitu  orang yang paling bertakwa kepada Allah.” Ayat sebelumnya menyebutkan, 

bahwa di kalangan ummat Islam, manusia yang paling bertakwa kepada Allah yaitu  

Abu Bakar ra. sedang  ayat kedua ini  menunjukkan, bahwa Abu Bakar 

yaitu   manusia yang paling mulia derajatnya di kalangan ummat Islam. Menurut 

sebagian besar shahabat dan tabi’in, bahwa Abu Bakar ra. dan Umar ra. yaitu  

manusia-manusia yang paling mulia di antara ummat Islam. Hadits ini  

diriwayatkan kepada kita oleh para ulama/imam yang mulia. Di antara perawi hadits 

ini  yaitu  Imam Syafi’i rahmatullah ‘alaih. Dan di antara orang yang mengakui 

kemuliaan Abu Bakar ra. dan Umar ra. dibandingkan manusia lainnya yaitu  Ali bin 

Abi Thalib karramallah wajhah. Menurut Imam adz-Dzahabi, -seorang ulama besar 

hadits-, menyatakan di dalam kitabnya, bahwa “Pengakuan Ali bin Abi Thalib 

ini  diriwayatkan kepada kita oleh lebih dari delapan puluh orang (perawi).” 

Bahkan pengakuan akan kemuliaan Abu Bakar ra. dan Umar ra. dibandingkan 

manusia lainnya dari ummat Islam diberikan oleh beberapa ulama Syi'ah, seperti 

Abdur Razzaq, -seorang ulama (Syi'ah) terkemuka. Dia berkata sebagai berikut : 

“Saya berpendapat demikian sebab   Imam Ali ra. menyatakan bahwa Abu Bakar ra. 

dan Umar ra. lebih mulia dari pada dirinya sendiri. Jika tidak demikian, tentu saya 

tidak akan berpendapat seperti itu. Saya merasa akan sangat berdosa jika saya tidak 

sependapat dengan Imam Ali ra. sebab  saya sangat mencintai beliau.” Penegasan 

akan kemuliaan Abu Bakar ra. dan Umar ra. dibandingkan ummat Islam dan ummat-

ummat lainnya disampaikan Al Qur'an, lalu  dijelaskan oleh hadits-hadits  Nabi, 

dan diperkuat oleh ijma’ shahabah yaitu konsensus para shahabat, dan diakui sendiri 

oleh Ali ra. Oleh sebab  itu, tidak ada alasan bagi seorang yang berakal mencela atau 

mencaci mereka. Jika Abu Bakar ra. dan Umar ra. dicela dan dicaci, kebaikan apalagi 

yang masih tersisa dari ummat Islam untuk kita? Jika mengutuk atau mencaci 

seseorang dipandang ibadah, kita wajib mengutuk Abu Jahal dan Abu Lahab yang 

 

 245

oleh Al Qur'an disebutkan sebagai manusia jahat dan terkutuk. sebab nya mengutuk 

mereka akan memperoleh pahala banyak. Mengutuk seseorang yaitu  perbuatan 

yang tidak terpuji. Mengutuk seseorang berarti menistakan orang ini . Apakah 

perbuatan seperti itu mengandung kebaikan? Jika perbuatan ini  dilakukan 

secara zalim, dan jika yang dikutuk tergolong orang baik-baik, berarti menempatkan 

sesuatu bukan pada tempatnya (dhalim). Mustahil ada  dua hal, dua tempat yang 

sama antara satu dengan lainnya. Masing-masing jenis kezaliman tidak akan sama 

antara satu dengan lainnya. 

Sejarah mencatat, bahwa Utsman Dzunnurayn terpilih menjadi khalifah 

berdasarakan suara bulat dari para shahabat Nabi saw. Mereka, baik laki-laki maupun 

wanita , mengakui kekhalifahan Utsman ra. Oleh sebab  itu, para ulama 

berpendapat, “Derajat kemufakatan (kebulatan suara) di dalam penetapan 

kekhalifahan Utsman ra. tidak pernah dicapai dalam pemilihan ketiga khalifah 

lainnya.” Pada saat itu, berkembang berbagai desas-desus seputar masalah 

kekhalifahan sehingga proses pemilihan merupakan sesuatu yang penting bagi setiap 

individu. Seluruh shahabat Nabi berpartisipasi langsung dalam proses pemilihan 

khalifah ini . [Seandainya Sayyid Quthb memahami fakta sejarah ini , dia 

tidak akan berpendapat, “Terpilihnya Utsman ra. menjadi khalifah merupakan event 

yang merugikan ummat Islam.”] 

Al Qur'an dan al hadits diriwayatkan (ditransmisikan, pent.) kepada kita 

oleh para shahabat Nabi saw. Ijma’ al-ummat yang merupakan salah satu di antara 

empat sumber keilmuan dalam Islam mengandung pengertian konsensus para 

shahabat. Barang siapa mencela seluruh atau sebagian dari mereka atau berpendapat 

bahwa mereka menjadi manusia-manusia yang jahat (sesudah Rasulullah saw. wafat, 

pent.) berarti dia mengingkari seluruh atau sebagian (sumber) keilmuan dalam Islam 

ini . Pada gilirannya, dia akan mengingkari sebab ilahiyah bi’tsah Nabi terakhir 

dan Rasul termulia oleh Allah swt.  

Sejarah menulis, bahwa pengkodifikasian Al Qur'an al Karim dilakukan 

oleh Utsman bin Affan, atau paling tidak oleh Abu Bakar Shiddiq dan Umar al 

Faruq. Jika mereka dicela atau dituduh zalim, apakah Al Qur'an masih dipandang 

memiliki nilai otentik? Apakah Islam (yang otentik) itu juga masih eksis sekarang? 

 

 246

Kita seharusnya menyadari betapa piciknya sikap seperti itu. Seluruh shahabat  Nabi 

saw. yaitu  orang-orang yang adil. Seluruh ajaran Al Qur'an dan al hadits yang 

diriwayatkan mereka kepada kita yaitu  benar (sahih). 

Sebagaimana kita ketahui, perbedaan dan perselisihan yang terjadi di 

kalangan shahabat Nabi saw. pada masa Khalifah Ali ra. tidak disebabkan sebab  

dorongan hawa nafsu untuk mendapat  jabatan dan kedudukan. Hal ini  

semata-mata disebabkan oleh perbedaan ijtihad, atau lebih tepatnya perbedaan alasan 

semata. Keputusan ijtihad yang dilakukan oleh salah satu kelompok dianggap tidak 

benar. Menurut pendapat para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa ijtihad yang 

dilakukan oleh Ali ra. yaitu  benar. sedang  mereka yang memerangi Ali ra. 

salah. Akan namun , sebab  kesalahan mereka ini  didasarkan pada keputusan 

ijtihad, tidak seorang pun dari mereka yang tercela. Mereka juga tidak bersalah 

dalam pandangan hukum Islam.  Kami juga berpendapat demikian. Barang siapa 

mengutuk atau mengecam mereka yang menentang Ali ra. berarti dia telah 

melakukan tindakan keji dan mungkar. Bagaimanapun juga, mereka yaitu  para 

shahabat Rasulullah saw. Di antara  mereka ada  orang-orang yang telah diberi 

kabar gembira akan masuk surga. Sebagaian mereka juga ada  orang-orang yang 

telah terlibat dalam  Perang Suci Badar. Mereka yang terlibat di dalam Perang Suci 

ini  akan diampuni dosa-dosanya, mereka tidak akan disiksa di akhirat. Di dalam 

sebuah hadits disebutkan : “Allah berfirman kepada mereka yang terlibat dalam 

Perang Suci Badar : Kerjakan apa  yang kalian inginkan! Aku telah mengampuni 

segala perbuatan (jelek) kalian.” Dan di antara mereka juga ada  orang-orang 

yang turut menghadiri pertemuan Bai’at al-Ridwan. Nabi saw. menyatakan, bahwa 

tidak seorang pun dari mereka yang menghadiri pertemuan ini  akan masuk 

neraka. Menurut para ulama, bahwa berdasar  Al Qur'an, semua shahabat Nabi 

akan masuk surga. Ayat sepuluh surat al-Hadid menjelaskan, “Orang-orang yang 

telah mengorbankan harta bendanya dan ber-jihad sebab  Allah  sebelum 

penaklukan kota Mekkah,  tidak sama dengan mereka yang melakukan hal yang 

sama sesudah  penaklukan kota Mekkah. Mereka yang pertama akan menempati 

derajat yang sangat tinggi. Allah telah menjanjikan hasanah (kebaikan) kepadai 

mereka yang melakukan hal ini  sebelum maupun sesudah penaklukan kota 

 

 247

Mekkah.” Pengertian hasanah  (husna’) yaitu  surga. Mereka yang mengorbankan 

harta bendanya dan ber-jihad sebelum atau sesudah penaklukan kota suci Mekkah 

telah diberi kabar gembira bahwa tempat kembali mereka yaitu  surga. Ungkapan 

‘mengorbankan harta benda’ dan ‘berjihad’ di dalam ayat ini  memang tidak 

menjadi prasyarat masuk surga. Hal ini  semata-mata sebagai tambahan pujian 

(ziyadat al-madh, pent.) yang dimaksudkan untuk menyanjung mereka. Segala 

persyaratan ini  dimiliki oleh semua shahabat Nabi saw. Mereka telah 

mengorbankan harta benda mereka dan berjihad di jalan Allah. Oleh sebab  itu, 

semua shahabat dijanjikan dengan surga oleh Allah. Sehingga memaki atau mencela 

para tokoh agama terkemuka ini  sangat tidak masuk akal (common sense) dan 

bertentangan dengan ruh ajaran Islam. 

Di dalam pikiran kita muncul sebuah pertanyaan : Sebagian orang 

berpendapat, bahwa sesudah  Rasulullah saw. wafat, beberapa orang shahabat beliau 

murtad. Mereka melakukan tindakan-tindakan tercela disebabkan mereka berambisi 

menjadi khalifah atau ingin mendapat  kedudukan, dan merampas hak 

kekhalifahan Ali ra. Mereka juga berpendapat, banyak shahabat yang dicabut haknya 

masuk surga. Menurut mereka, kemuliaan menjadi shahabat dibutuhkan persyaratan 

muslim. Dengan demikian, seseorang yang telah menjadi murtad (kafir, pent.), 

apakah masih dipandang memiliki kemuliaan sebagai seorang shahabat Nabi saw.? 

Jawaban terhadap pertanyaan ini  yaitu  : Ketiga khalifah Nabi saw. 

ini  akan masuk surga sebagaimana diriwayatkan melalui hadits-hadits yang 

sahih. Tidak seorang pun mengingkari hadits-hadits ini . Juga tidak seorang  pun 

berpendapat bahwa mereka menjadi kafir. Di samping itu, kemuliaan yang dimiliki 

oleh Abu Bakar ra. dan Umar ra. disebabkan sebab  mereka terlibat dalam Perang 

Suci Badar. berdasar  hadits-hadits Nabi diriwayatkan, bahwa orang-orang yang 

terlibat dalam Perang Suci  Badar akan diampuni segala dosa yang lalu maupun yang 

akan datang. Abu bakar ra. dan Umar ra. juga termasuk di antara orang-orang  yang 

ikut  terlibat dalam sumpah setia bai’at al-ridwan. Orang-orang yang mengikuti 

sumpah setia ini  akan masuk surga sebagimana diriwayatkan oleh hadits-hadits 

sahih. Meskipun Utsman ra. tidak terlibat dalam Perang Suci Badar, hal ini  

disebabkan sebab  beliau diperintahkan oleh Rasulullah saw. untuk tetap tinggal di 

 

 248

Madinah merawat istri beliau, -Ruqayyah-, yang sedang sakit. Rasulullah saw. 

mengatakan kepadanya, bahwa (tinggal di Madinah merawat istri beliau yang sedang 

sakit) akan mendapat  berkah sama seperti jika dirinya ikut terlibat langsung 

dalam Perang Suci Badar ini . Ketidakhadiran beliau dalam sumpah setia yang 

disebut bai’at al-ridwan disebabkan sebab  beliau diutus oleh Nabi saw. membawa 

sebuah misi ke Mekkah dan beliau sendiri telah mewakilkan kepada Rasul pada 

pertemuan ini . Demikianlah fakta sejarah yang sebenarnya. Kemuliaan ketiga 

khalifah ini  diterangkan di dalam Al Qur'an. 

Sebait syair : 

Jika seseorang tidak memahami Al Qur'an dan al hadits, 

Tidak layak dia mengatakan ; tidak  ada jawaban lain yang lebih baik! 

Mereka yang berpendapat bahwa Abu Bakar ra. yaitu  orang yang sakit 

(jiwa), benar-benar tidak tahu malu! Jika keimanan Abu Bakar ra.diragukan, tentu 

ribuan shahabat Nabi saw. dengan seluruh ilmu dan keadilan yang dimilikinya, 

sekali-kali tidak memilih Abu Bakar menjadi khalifah Nabi saw. secara bulat. Barang 

siapa mengingkari kekhalifahan Abu Bakar ra. berarti dia mengingkari tiga puluh 

tiga ribu orang yang hidup pada masa di mana sebuah hadits menyebutkan bahwa 

masa mereka yaitu  sebaik-baik masa sepanjang zaman. Seseorang yang paling 

rendah kapasitas berpikirnya pun tidak akan melemparkan tuduhan seperti itu. Masa 

di mana tiga puluh tiga ribu kaum muslimin membuat keputusan keliru dengan 

memilih seorang yang jahat (pendosa) untuk menggantikan Rasulullah saw. bukanlah 

masa yang baik, apalagi dipandang sebagai masa yang terbaik sepanjang zaman. Hal 

itu berarti menuduh bahwa hadits yang menyebutkan masa itu sebagai masa yang 

paling baik yaitu  omong kosong belaka. Na’udzu billah mindzalik. [Semoga Allah 

swt. menyadarkan mereka yang berpendapat demikian untuk berhenti menfitnah 

shahabat agung ini . Semoga Allah membukakan hati dan pikiran mereka 

sehingga memahami makna ke-shahabah-an bersama Rasulullah saw. dan ajaran 

yang dibawa oleh beliau]. Di dalam  sebuah hadits disebutkan, “Bertakwalah kepada 

Allah pada saat kalian membicaraka para shahabatku! Bertakwalah kepada Allah 

barang kali kalian telah menunjukkan sikap tidak hormat dalam membicarakan para 

shahabatku! sesudah  saya meninggal, tidak akan ada pendapat jelek mengenai 

 

 249

mereka. Barang siapa mencintai mereka, sesungguhnya dia mencintaiku. Dan 

barang siapa memusuhi mereka berarti dia memusuhiku.” Saya telah menjelaskan 

kemuliaan dan keagungan Abu Bakar ra. secara panjang lebar. Adakah sesuatu yang 

terlupakan dalam menjelaskan masalah ini ? Banyak ayat Al Qur'an memuji Abu 

Bakar ra. Seluruh ayat yang terkandung di dalam surat Wallail menegaskan 

kelebihan dan kebajikan Abu Bakar ra. Banyak hadits-hadits sahih meriwayatkan 

keutamaan-keutamaannya. Kitab-kitab samawi yang diturunkan kepada para nabi 

sebelum Muhammad saw. menceritakan kebaikan karakter moral, kemuliaan sikap, 

dan keutamaan-keutamaan istimewa yang dimiliki oleh para shahabat Nabi saw. Di 

bagian akhir surat al-Fath, Allah swt. menjelaskan hal ini , “Keutamaan-

keutamaan para shahabatmu juga disebutkan di dalam kitab Taurat dan Injil.” Abu 

Bakar ra. yaitu  manusia terbaik dan terkemuka di kalangan ummat ini yang menjadi 

ummat terbaik dari seluruh ummat manusia yang Allah karuniakan rahmat untuk 

mereka. Jika Abu Bakar ra. dipandang ‘kafir’ atau dihinakan, kejelekan apa lagi yang 

tidak dapat disandang oleh orang lain? Gaya bahasa apa lagi yang dapat digunakan 

untuk menggambarkan mereka? Wahai Tuhan kami yang telah menciptakan langit 

dan bumi dari tidak ada (menjadi ada) dan yang mengetahui segala sesuatu yang 

tersembunyi dan nyata! Engkau mengetahui manusia yang benar di antara hamba-

hamba-Mu yang berbeda-berbeda! Semoga salam hormat kami tercurah kepada 

orang-orang yang berada di jalan yang benar. 

 

Janganlah kamu membanggakan hartamu! 

Janganlah sekali-kali berkata, “Tidak ada  seorang  pun seperti aku!” 

Angin kehancuran akan  memisahkan semuanya,  

Menjadikan kamu laksana sebutir dedak tak berdaya sama sekali! 

 





 

 136

11. Menurut mereka Sayidina Abu Bakar ra. yang berasal dari suku 

Tamim dan Sayidina  Umar ra. yang berasal dari suku Adiy yaitu  “para penyembah 

berhala secara tersembunyi,” meskipun Sayidina Ali ra. sendiri memberikan putrinya 

kepada putra Sayidina Abu Bakar ra. bernama Muhammad dan mengangkatnya 

menjadi gubernur. Ali ra. juga memberikan putri yang lainnya kepada Sayidina  

Umar ra. Di satu sisi mereka juga berpendapat bahwa, ‘Sayidina Ali ra. yaitu  

ma’shum’ (bebas dari kesalahan-kesalahan). Akan namun , di sisi lain mereka mencela 

para pemimpin agama terkemuka ini , di mana kepada mereka-lah Ali ra. 

memberikan putri-putrinya yang menjadi mertua Rasulullah saw. dan sekaligus Ali 

ra. sendiri menjadi menantu beliau. Mereka juga berpendapat bahwa mereka yaitu  

orang-orang munafik. 

12. Mereka berpendapat, bahwa orang-orang Sunni yaitu  musuh 

Sayidina Ali ra. dan Ahlul Bayt Nabi saw. Sebagaimana diketahui, orang-orang 

Sunni yaitu  kelompok Islam yang sangat mencintai Sayidina Ali ra. dan Ahlul 

Bayt. Mereka berkeyakinan, bahwa barang siapa mencintai Ali dan Ahlul Bayt Nabi 

saw. jika meninggal dunia dalam keadaan beriman. Menurut orang-orang Sunni, 

salah satu persyaratan menjadi kekasih Allah (wali) di antaranya dia harus mencintai 

Sayidina  Ali ra. dan Ahlul Bayt serta mengikuti tariqah mereka. 

13. Mereka berpendapat, bahwa menurut orang-orang Sunni Ibnu 

Muljam pembunuh Sayidina Ali ra. yaitu  orang yang adil, dan Imam Bukhari telah 

meriwayatkan hadits-hadits yang berasal dari Ibnu Muljam ini . Pendapat 

mereka ini jelas tidak benar. Kitab Shahih Bukhari tidak memuat hadits-hadits yang 

diriwayatkan oleh Ibnu Muljam. 

14. Mereka memusuhi golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka 

menghina kata ‘Sunnah’. 

15. Mereka berpendapat, jika seseorang mengucapkan ‘wa ta’aalaa 

jadduk’ dalam shalat maka shalatnya batal. 

16. Mereka berpendapat, bahwa orang Sunni lebih jahat dan lebih keji 

dari pada orang Yahudi dan Nasrani. 

 

 137

17. Mereka mengklaim bahwa semua kelompoknya akan masuk surga 

sebab  mereka mencintai kepada Ali ra. meskipun di antara mereka sendiri saling 

berselisih satu dengan lainnya. 

18. Mereka berpendapat, bahwa tidak ada gunanya mengerjakan 

ibadah yang diajarkan oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. 

19. Mereka mengutuki ketiga khalifah Rasulullah sebagai pengganti 

ucapan basmalah saat  hendak memulai suatu pekerjaan. Mereka berkeyakinan, 

bahwa orang sakit yang melekatkan secarik kertas yang berisi tulisan kutukan 

terhadap kedua khalifah pertama pada dirinya atau meminum air yang di dalamnya 

ada  kertas berisi kutukan ini  yang telah dicelupkan, dia akan segera 

sembuh. 

20. Mereka berpendapat, bahwa mengutuki Sayidah Aisyah dan 

Hafsah ra. lima kali sehari hukumnya wajib. 

21. Mereka berpendapat, bahwa Rasulullah saw. telah memberikan 

mandat kepada Imam Ali ra. untuk menceraikan istri-istri beliau. Oleh sebab  itu, 

melalui mandat ini  Imam Ali ra. menceraikan Aisyah (dari Rasulullah saw.). 

Padahal Al Qur'an tidak menghendaki perceraian sunggupun kepada diri Rasulullah 

saw. sekali pun. 

22. Mereka berpendapat, bahwa Allah swt. tidak menciptakan para 

Nabi seandainya Dia tidak mencipt