Syiah 2

 


gan tangan 

beliau yang diberkati, sambil membaca basmalah

*

, lalu  mulai memerah susu 

biri-biri. Air susu yang keluar dari biri-biri ini  mengalir deras  sehingga semua 

orang bisa minum dengan puas dan mengisi kaleng-kaleng mereka dengan air susu 

ini . saat  suami wanita  itu pulang dan diceritakan tentang mu’jizat Nabi 

saw., mereka berdua masuk Islam. 

Banyak artikel  yang menguraikan tentang peristiwa hijrah Nabi ini . 

Sejarah mencatat, bahwa dalam peristiwa hijrah ini  tidak seorang pun yang 

masih tinggal di kota Mekkah kecuali Abu Bakar ra. dan Ali ra. Keterangan yang 

menyebutkan bahwa, “Rasulullah saw. memerintahkan kepada para shahabat untuk 

tidak meninggalkan rumah mereka” jelas tidak benar sama sekali. Sebagaimana kita 

ketahui, bahwa usia Abu Bakar ra. dua tahun lebih muda dari pada Rasulullah saw. 

saat  masih muda mereka berdua yaitu  teman dekat yang saling mencintai. Dan 

sepanjang hayat, cinta mereka berdua terpelihara abadi. Mereka selalu bersama siang 

                                                 

*

 Lafadz “Bismillāhirrahmānirrahīm” yang pada prinsipnya mengandung arti, ‘Dengan 

nama Allah, Yang Maha Pengasih, Penyayang’. Setiap muslim seharusnya mengucapkan lafadz ini 

sebelum melakukan sesuatu dan bila tidak (membaca basmalah, pent.) sesuatu itu dianggap kurang 

(kurang berkah, pent.) 


dan malam. saat  Rasulullah saw. mengunjungi Damaskus dua kali, Abu Bakar ra.-

lah yang menemani beliau. Dengan memperhatikan sikap dan perasaan cinta, kasih 

sayang dan pengorbanan beliau, mengatakan bahwa Rasulullah saw. tidak 

mempercayai Abu Bakar ra., hal ini  yaitu  kedustaan nyata dan fitnah yang 

keji. Penulis artikel  Husniyyah mengatakan, bahwa Rasulullah saw. tidak menyuruh 

Abu Bakar ra. untuk turut hijrah. saat  mereka berdua hijrah, orang-orang kafir 

yang mengepung rumah Rasulullah saw.  tidak menyadari bahwa Rasulullah saw. 

telah pergi meninggalkan rumah. Abu Bakar ra. mengetahui dan bahkan mengikuti 

Rasulullah saw. Hal ini  meruapakan suatu isyarat kasyaf (yaitu melihat, 

memahami, menyadari dan merasakan melalui mata hati) dan karamah (yaitu 

keajaiban yang terjadi pada para wali, -yaitu manusia yang sangat dicintai oleh Allah 

swt.), yang dimiliki Abu Bakar ra. Apakah masuk akal, jika dikatakan bahwa 

seseorang yang memiliki kasyaf dan karamah mengkhianati Rasulullah saw.? 

Seandainya Abu Bakar ra. hendak mengkhianati Rasulullah saw., bukankah beliau 

mempunyai kesempatan melakukan hal ini , -demi kepentingan orang-orang  

kafir Quraisy-, saat  mereka tiba di mulut goa (di mana Rasulullah saw. dan Abu 

Bakar ra. sendiri bersembunyi di dalamnya) pada  hari Jum’at, dan mereka melihat 

seekor laba-laba yang menutupi mulut goa ini , sehingga mereka mengatakan, 

“Nampaknya tidak seorang manusia pun telah masuk ke goa ini sejak bumi ini 

diciptakan?”  Apakah Abu Bakar ra. akan melewatkan kesempatan ini  begitu 

saja? 

Mendistorsikan ayat Al Qur’an yang artinya, “Jangat takut! Allah 

bersama kita,” dan memakai  ayat ini  sebagai alasan untuk mengutuk dan 

menghujat Abu Bakar ra. merupakan cara paling menjijikan dalam memusuhi Islam. 

Hal ini  merupakan sebuah dalih yang tidak beralasan sama sekali. 

Husniyyah berdiskusi dengan Khalid Ibrahim lama sekali. Dia 

mengajukan beberapa pertanyaan tentang berbagai masalah yang rumit (subtle) 

kepada Khalid Ibrahim. Sebagaimana para ulama mujtahid lainnya, beliau juga tidak 

mampu memberikan jawaban atas  pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh 

Husniyyah. Dalam keadaan terdesak, beliau balik bertanya kepada Husniyyah 

mengenai orang yang pantas menjadi khalifah. Husniyyah menjawab, bahwa 

kekhalifahan yaitu  hak seseorang yang masuk Islam paling awal. Khalid Ibrahim 

lalu bertanya lagi, siapa yang dimaksud seseorang  yang masuk Islam paling awal 

(the earliset muslim) ini . Husniyyah menjawab, orang itu yaitu  Sayidina Ali. 

saat  beliau merasa keberatan atas jawabannya, dan mengatakan bahwa, ‘saat  

masuk Islam, Sayiddina Ali juga masih kanak-kanak. Seorang anak, lalu  

masuk Islam tidak-lah menjadi persoalan penting dalam kaitannya dengan masalah 

kekhalifahan, akan namun  seseorang yang masuk Islam  pertama (paling awal) ialah 

Abu Bakar ra. Husniyyah lantas membacakan ayat-ayat Al Qur’an  yang 

menceritakan tentang Isa (Jesus), Musa (Moses) dan Ibrahim (Abraham). Dia 

mengatakan, bahwa nabi-nabi ini  telah menjadi muslim saat  mereka masih 

kanak-kanak. Husniyyah lalu  memaki-maki  Khalid Ibrahim dan para ulama 

Ahlus Sunnah wal Jamaah. Imam Syafi’i yang turut hadir, meminta kepada Khalifah 

Harun untuk menghukum jariyah ini . Akan namun , Khalifah justru mengabaikan 

permintaan beliau sambil mengatakan bahwa Husniyyah hanya bisa dikalahkan 

dengan ilmu, bukan dengan hukuman. 

Padahal hadits yang berbunyi, “Bahwa setiap anak yang lahir ke dunia 

ini menurut fitrahnya (in a nature well fitted) yaitu  muslim. lalu  orang 

tuanya-lah yang akan menjadikan ia Yahudi (Jews) atau Nasrani (Christians) atau 

Kafir (Atheists),” sangat masyhur di kalangan muslim Sunni, sehingga  mereka telah 

mafhum. berdasar  hadits ini , mempercayai bahwa Ibrahim Khalid atau 

orang Islam lainnya berpendapat, “Sayyidina Ali ra. itu masih kanak-kanak saat  

masuk Islam sehingga keberadaan beliau sebagai seorang muslim tidak 

dipertimbangkan,” dan bahwa ratusan ulama yang mengetahui pernyataan aneh 

ini  lantas menerima begitu saja, maka hal ini  akan sama dengan 

mempercayai seseorang  yang menyebut putih ‘hitam’, bahkan hal ini  akan 

menjadi bahan tertawaan anak-anak. Pernyataan ini  jelas menyingkapkan fakta,  

bahwa artikel  ini  sesungguhnya ditulis oleh seorang Yahudi yang berasal dari 

Iran. 

Dikatakan, bahwa di hadapan para ulama, jariyah ini  mengatakan, 

“Meskipun yang berhak menjadi khalifah yaitu  Sayidina Ali, akan namun  ketiga 

khalifah telah merampas hak beliau melalui kekuatan (fisik, pent.). Salman al-Farisi 

dan lima hingga enam shahabat lainnya tetap berpihak kepada Sayidina Ali dan tidak 

memilih ketiga khalifah ini . Mereka beroposisi melawan para khalifah zalim 

ini  selama dua puluh lima  tahun. Oleh sebab  itu, ketiga khalifah dan sepuluh 

orang [yang telah diberi kabar gembira akan masuk surga]  serta ribuan shahabat 

yang memilih mereka termasuk kafir. [Semoga Allah swt. melindungi kita dari 

ucapan seperti itu]”.  

Untuk menunjukkan kecintaan yang mendalam kepada Ali, orang-orang 

Hurufi mencampuradukkan  persoalan kekhalifahan dengan masalah Ahlul Bayt. 

Dalam kaiatannya dengan persoalan Ahlul Bayt ini , mereka sangat melampaui 

batas-batas agama dan terjebak ke dalam pemikiran-pemikiran menyesatkan. Jika 

diperhatikan, akan tampak bahwa mereka berpendapat bahwa kekhalifahan ini , 

-yang sebenarnya menjadi bagian dari persoalan agama-, yaitu  bagian masalah yang 

menyangkut prestise duniawi semata. sesudah  mengkaji sejarah tentang trik-trik 

mereka dan pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok mereka 

terhadap orang Islam, dapat diketahui bahwa dalam meraih kedudukan dan jabatan 

pimpinan, mereka membandingkan diri mereka sendiri dengan keempat khalifah 

Rasulullah saw. 

Pada masa Abu Bakar ra. memerintah, suatu hari Umar bin Khaththab 

melihat beliau memanggul sekarung tepung di punggungnya. lalu  Umar 

bertanya kenapa beliau melakuakn hal ini . Abu Bakar ra. menjawab : “Wahai 

Umar! Apakah aku tidak boleh mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan rumah 

tanggaku?” Umar sangat kagum dan terkejut mendengar jawaban Khalifah. 

lalu  dia mengusulkan agar Khalifah Rasulullah ini  diberi gaji dari 

baitulmal, -yakni dari belanja negara-, sehingga beliau bisa menjalankan tugas 

kekhalifahan dengan baik dalam melayani seluruh rakyat. Usulannya diterima oleh 

seluruh shahabat  sehingga ditetapkan, bahwa Khalifah akan diberi tunjangan gaji 

dari baitulmal menurut kebutuhan hidup Khalifah. Abu Bakar memakai  gaji 

yang nilainya sama dengan kebutuhan rakyat pada umumnya. Dan beliau 

mengembalikan sisa gaji ini . Begitu pula dengan khalifah kedua Umar ra. 

saat  pasukan Islam berhasil menaklukkan kota suci Yerusalem dan sekitarnya, 

beberapa negara Eropa mengutus seorang duta besar mereka ke Yerusalem. sesudah  

beraudensi dengan Khalifah, duta besar ini  pulang dengan membawa laporan 

sebagai berikut : 

“Dia (Umar, pent.) seperti seorang Padisyah (raja), memiliki pengetahuan 

luas dan penampilannya amat bersahaja dan mempesona, dia tidak mempunyai istana 

dan baju-baju berhias. Saya memperhatikan pakaiannya. Pada pakaian yang 

dikenakan olehnya  ada  delapan belas tambalan. Tidak mungkin seseorang akan 

sanggup mengalahkan seorang pahlawan yang hidupnya sesederhana itu, yang selalu 

siap berperang”. Fakta ini  ditulis secara obyektif di dalam artikel -artikel  sejarah 

Eropa. Jalaluddin ar-Rumi [lahir di kota Belh pada tahun 604 hijriyah dan meninggal 

di Konya pada tahun 672 H (bertepatan dengan tahun 1273 M)] di dalam artikel nya 

yang berjudul Masnawi, -yang memuat lebih dari empat puluh  tujuh ribu sajak dua 

baris dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa terkenal di dunia-, memuat 

informasi sebagai berikut : Duta besar yang dikirim oleh Kaisar Bizantium ini  

tiba di Madinah dan menanyakan di mana istana Khalifah. sesudah  ditunjukkan 

sebuah rumah gubuk (cottage), duta besar ini  pun menuju ke sana. Dia melihat 

Khalifah sedang berbaring di atas tanah kering memakai  batu sebagai bantalnya. 

Sayidina Umar lalu bangun dan menemui duta besar ini , -yang merasa tertegun 

dan simpati saat melihat beliau pertama kali. sesudah  beristirahat sebentar, duta besar 

ini  berbicara kepada Khalifah, lalu  dia pulang. saat  hendak pulang, istri 

Khalifah memberi hadiah yang telah dipersiapkan kepada duta besar ini  berupa 

delapan belas dirham koin perak yang diperoleh dari seorang teman Khalifah. 

Kepada duta besar ini , istri Khalifah berpesan untuk memberikan hadiah 

ini  kepada istri Kaisar. Sebagai balasan, istri Kaisar ini  mengirimi dia 

sebuah hadiah yang sangat tinggi nilainya berupa permata. Khalifah Umar bin 

Khaththab, -yang tidak pernah berbuat zalim dalam semua tindakannnya-, hanya 

memberi delapan belas dirham koin perak kepada istrinya dan memberikan sisanya 

ke baitulmal. 

 

sedikit dari mereka yang menjalankan perintah ajaran Islam dan as-sunnah. Apakah 

menurut silogisme Anda mereka tidak murtad?” Dia tidak bisa menjawab. Saya 

melanjutkan , “Menganggap bahwa Sayidina Ali ra. dan  Fatimah ra. merasa sakit 

hati kepada para shahabat ra., disebabkan yang pertama (Ali ra.) tidak diangkat 

menjadi khalifah  dan yang terakhir (Fatimah ra.) tidak diberi kebun kurma, yaitu  

perbuatan yang haram. Bagi seorang mukmin, menyakiti atau membuat marah 

sesama saudara muslim lainnya, dan mendiamkan mereka selama lebih dari tiga hari 

haram juga hukumnya. Apakah dapat dibenarkan (justifiable) mengatakan, bahwa 

mereka terus-menerus memusuhi (para shahabat, pent.) hingga akhir zaman?” 

“Permusuhan mereka  (Ali ra. dan Fatimah, pent.) disebabkan sebab  mereka (para 

shahabat) tidak menjalankan perintah (Rasulullah saw)”, katanya. Untuk menanggapi   

jawaban ini saya berkata, “Jika orang mukmin melanggar (hukum) Islam, maka 

kewajiban yang harus dilakukan ialah mencegahnya dan memperingatkannya agar 

dia mau mengerjakan kewajibannya. Hal ini akan dapat dilakukan oleh negara 

melalui kekuasaan yang dimiliki, dan oleh para ulama melalui dakwah. Dan yang 

lain dapat melakukannya melaui hati, -ini merupakan tingkat iman yang paling 

rendah. Nah, sebagaimana diketahui, bahwa Sayidina Ali ra. yaitu  Singa Allah 

(asadullah, the lion of Allah), akan namun  mengapa dia tidak memerintahkan agar 

hukum-hukum Allah ini  dijalankan memakai  kekuatan yang dimilikinya? 

Apakah dia terlalu lemah melakukan tindakan ini ? Meskipun seseorang 

memiliki hak untuk menuntut orang lain yang membunuh ayah, ibu atau anaknya 

dihukum mati sebagai tindakan balasannya. Akan namun , ayat kedua ratus tiga puluh 

tujuh surat al-Baqarah menjelaskan, ‘Jika kamu memaafkannya, hal itu akan lebih 

dekat kepada takwa,’ dan ayat keempat puluh delapan dan keseratus enambelas surat 

al-Nisa menerangkan,’Allah akan mengampuni dosa-dosa, selain syirik kepada siapa 

saya yang Dia kehendaki,’ dan ayat ketiga puluh delapan surat al-Maidah 

menerangkan,’Jika seseorang melakukan kezaliman lalu  bertaubat dan 

mengerjakan amal-amal salih, niscaya Allah akan mnerima taubatnya.’ Dan ada  

tiga puluh ayat senada lainnya yang menejelaskan bahwa taubat ini  akan dapat 

diterima. Seorang hamba yang telah melakukan banyak dosa lalu  bertaubat, dia 

akan mendapat  ampunan dari Allah swt. Bagaimana Anda mengetahui bahwa 

para shahabat Nabi saw. enggan bertaubat dan taubat mereka ditolak oleh Allah swt. 

sebab  mereka telah dianggap melakukan kesalahan berkaitan dengan masalah 

kekhalifahan?” Dalam hal ini, sekali lagi dia tidak dapat menjawabnya. 

Aruzzada Efendi, seorang mufti Baghdad, suatu saat  menceritakan 

kepada al-faqir (penulis, pent.) sebuah peristiwa yang dia dengar seorang penjaga 

makam Sayidina Husein ra. di Karbala :   

Pada suatu malam, dia bermimpi bertemu dengan Sayidina Husein ra. 

Beliau berkata kepadanya,”Besok akan dikirim sesosok jenazah dari Iran. Jangan 

kamu biarkan jenazah itu dikubur di dekat saya.” Pada hari berikutnya, ternyata 

benar bahwa sesosok jenazah dikirim dari Iran. Mereka ingin menguburkan jenazah 

ini  di dekat makam Sayidina Husein ra. Pada awalnya si penjaga makam 

Sayidina Husein ra. ini  melarang mereka. Namun, mereka berhasil 

mempengaruhi dia agar mengijinkan mengubur jenazah ini  di sana dengan 

memberinya uang dalam jumlah banyak. Sehingga pada akhirnya, mereka diijinkan  

mengubur jenazah ini  pada jarak sekitar dua ribu langkah dari makam ini . 

Pada malam harinya, dia bermimpi melihat Sayidina Husein ra. Sang Imam ini  

marah dan membentak si penjaga makam itu. Penjaga makam ini  merasa sangat 

menyesal dan meminta maaf kepadanya. Pada malam berikutnya, sang Imam muncul 

kembali di dalam mimpinya dan memarahinya. Penjaga makam beliau berjanji akan 

membongkar makam ini  dan mengubur jenazahnya di tempat yang jauh dari 

makam beliau. Namun, cucu Rasulullah saw. ini  berkata, “jika  seseorang 

meninggal dan jenazahnya dikubur di dekat kami selama dua  malam, dia akan 

diampuni oleh Allah. Dia telah mendapat ampunan dari Allah swt., akan namun  

keberadaan dia di dekat saya telah mengusik saya.” lalu  penjaga makam 

ini  memperlakukan jenazah itu sebagai orang mati yang telah memperoleh 

ampunan dari Allah swt. saat  dia menceritakan peristiwa ini  kepada  

Aruzzada, sang mufti itu bertanya kepadanya”, Jika seorang pendosa yang telah 

ditolak oleh sang Imam sebab  perbuatan dosa yang telah dilakukannya mendapat  

ampunan dari Allah swt. disebab kan jenazah orang ini  dikubur pada jarak dua 

ribu langkah dari makam keramat sang Imam selama dua malam, apakah al-syaikhan 

ini  (yakni Abu Bakar ra. dan  Umar ra.) yang dikubur berdampingan dengan 

 

makam Rasulullah saw. di hujrat-mu'attara-nabawiyyah (Makam Suci Nabi) selama 

seribu dua ratus enam puluh tahun

*

, tidak memperoleh ampunan dari Allah swt.? Dia 

terkejut dan tidak mampu menjawab. Kebodohannya tampak. Betapa akurat bantahan 

sang mufti ini , dan betapa malunya dia!  

saat  Umar ra. menjadi khalifah, beliau berhasil menaklukkan beberapa 

wilayah dalam rangka menyebarluaskan agama Allah swt. dan Rasul-Nya  ke seluruh 

penjuru dunia. Angkatan bersenjata Umar ra. mampu merambah ke seluruh 

Semenanjung Arabia dan melintasi negeri-negeri yang sangat jauh di belahan timur 

dan barat, meumpas kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang  kafir, menerangi 

wilayah ini  itu dengan cahaya Islam. Saya heran mengapa Sayidina Ali ra. tidak 

berkenan mengampuni beliau, padahal beliau melakukan semua itu demi 

menegakkan Islam? Pada saat Umar ra. pergi untuk menaklukkan Yerusalem, beliau 

mengangkat Ali ra. sebagai wakil khalifah. Ali ra. bertindak atas nama Khalifah, dan 

menjalankan tugas ini  hingga Umar ra. kembali. Ali ra. pun menyerahkan 

kembali jabatan ini  kepada beliau saat  pulang. Bukankah hal ini  

menunjukkan sikap saling percaya dan mencintai di antara mereka? Seandainya 

ada  perselisihan sekecil apa pun atau permusuhan di antara mereka, apakah 

Umar ra. akan mempercayai dan mengangkat Ali ra. sebagai wakil dirinya? Apakah 

Ali ra. akan dengan ikhlas mengembalikan jabatan kekhalifahan ini  sesudah  

diberikan kepada dirinya? Seandainya dikatakan “lalu  Ali ra. melupakan 

jabatan kekhalifahan ini . Beliau tidak akan menyerahkan kembali jabatan 

ini  kepada Umar ra. seandainya beliau tidak melupakan jabatan ini ”, 

                                                 

*

 Seribu dua ratus enam puluh tahun (1260) atau dua belas abad lebih enam puluh tahun 

(12 abad   = 12  X 100 =1.200 tahun ) dihitung dari masa hidup Nabi saw.,  Abu Bakar  dan Umar  ra.  

sampai masa saat  kisah itu disampaikan [oleh penjaga makam Husain ra. kepada Aruzzada Efendi] 

yang menuturkan kembali kisah ini  kepada Utsman Efendi, -pengarang kitab Tazkiyat Ahlul Bayt  

ini-, [meskipun sejauh ini belum diperoleh informasi secara pasti bilamana Utsman Efendi  sendiri 

yang menyebutkan bahwa dirinya menunaikan ibadah haji pada tahun 1866 M bertemu dengan 

Aruzzada Efendi], maka bisa diduga bahwa pertemuan antara Utsman Efendi dan Aruzzada Efendi, 

maupun pertemuan antara Aruzzada Efendi dan penjaga makam Husein ra. terjadi sebelum atau 

sesudah tahun 1860-an (paroh pertama akhir atau paroh kedua awal abad ke-19 M). Dengan demikian, 

maka jarak antara periode hidup Nabi saw., Abu Bakar ra. dan Umar ra. dengan Utsman Efendi, 

Aruzzada Efendi dan penjaga makam Husein ra. sekitar 13 abad, yaitu, 19 dikurangi 6 (abad). Tahun 

1866 M termasuk dalam kategori abad ke-19 M, dan tahun 1230 M termasuk dalam kategori abad ke-

13 M [Eksplanasi dari penerjemah]. 

 

 68

sehingga di sana tidak ada perselisihan di antara dirinya dengan Umar ra., yang 

artinya tidak perlu mencela orang ini  (Umar ra., pent ). 

Selama Umar ra. menjadi khalifah, Sayidina Ali karamallahu wajhah 

menikahkan putri beliau,-Ummu Kultsum-, dengan sang Khalifah pada tahun ke 

tujuh belas hijriah dengan mahar empat puluh ribu uang koin perak. Dari 

pernikahannya dengan Ummu Kultsum ini , Umar ra. dikaruniai seorang anak 

laki-laki bernama Zaid dan seorang anak wanita  bernama Ruqayyah. Dengan 

demikian, Umar ra. yaitu  menantu Ali ra. dan Fatimah radliyallahu ‘anha. 

Pernikahan ini  telah mengokohkan dan mengekalkan cinta mereka. Mereka 

selalu bersama dalam menyelenggarakan kepentingan kaum muslimin. Apakah Ali 

ra. menyimpan dendam dan permusuhan,-apalagi terhadap orang yang paling dekat? 

Oleh sebab  itu, sungguh merupakan fitnah yang keji jika kita mengatakan hal 

sedemikian itu kepada sang Imam Agung. 

Saya pernah mengenal seorang Pasya dan Vizier, namun yang terakhir 

(Vizier, pent.) telah membelot menjadi seorang Hurufi dan memakai  nama 

Bektasy sebagai kedok dirinya. Beberapa waktu lalu  dia sadar lalu bertaubat. 

saat  al-faqir (saya) bertanya kepadanya mengapa dia bertaubat, dia bercerita 

kepada saya sebagai berikut : Sebuah artikel  yang dijadikan rujukan oleh orang-orang 

Bektasyi menjelaskan, bahwa Umar ra. termasuk orang kafir. Untuk menjelaskan 

kenapa Ali ra. menikahkan putrinya kepada Umar ra. yang dianggapnya kafir, artikel  

ini  memberikan uraian sebagai berikut : Pada suatu hari, Umar ra., -sang 

Khalifah-, memanggil Sayidina Abbas dan menyampaikan kepadanya bahwa dia 

mempunyai keinginan untuk menikahi putri Sayidina Ali ra. saat  yang terakhir ini 

(Abbas ra.) menyampaikan kepadanya bahwa gadis itu dipandang oleh Ali terlalu 

muda untuk dirinya, Umar ra. berkata, “Jawaban Ali kali ini sama dengan jawaban 

yang disampaikannya pada saat saya mengutarakan niat saya kepadanya. Oleh sebab  

itu, pergi dan sampaikan kepadanya, jika  dia tidak mau menikahkan putrinya 

kepada saya, maka saya akan memanggil dua saksi palsu untuk menangkap dia, dan 

menetapkan dia sebagai pencuri, serta akan memenggal kedua  tangannya.” Dalam 

keadaan tidak berdaya seperti itulah, Sayidina Ali ra. lantas memberikan putrinya 

kepada Umar ra. sesudah  saya membaca artikel  ini , saya berkata di dalam diri 

 

 69

saya sendiri, “jika  orang jahat memaksa saya untuk memberikan anak wanita  

saya kepada seorang kafir, dengan mengancam akan membunuh saya jika saya tidak 

mengikuti kemauannya, tentu saya lebih baik mati dari pada harus menyerahkan 

anak wanita  saya kepada orang kafir ini  meskipun harus hitam muka saya. 

Padahal, Ali ra. yang bergelar ‘Singa Allah’ yaitu  seorang muslim yang sangat 

sempurna, bersih dari dosa , dan salah seorang yang sangat dicintai oleh Baginda 

Rasulullah saw. Tidak mungkin dia sudi melemparkan putrinya, -yang juga sangat 

dicintai oleh Rasulullah saw.-, ke dalam tumpukan sampah yang kotor, yang dilarang 

oleh agama Islam hanya sebab  takut akan bahaya yang belum jelas.” Saya 

menyadari, bahwa ternyata saya telah menempuh jalan yang sesat, lalu saya 

bertaubat dan menyelamatkan diri dari orang-orang bid’ah yang disebut golongan 

Hurufi ini . 

Salah seorang menteri dari Kerajaan Utsmani, -saat  dirinya masih 

menjabat sebagai gubernur di Baghdad-, pernah bertanya kepada seorang Persia yang 

mengetahui tentang pernikahan Umar ra. ini . Laki-laki kurang ajar ini  

membuat pernyataan yang bernada menghina dan merendahkan derajat putri 

Sayidina Ali ra. sambil pergi meninggalkan sang gubernur ini . 

Dari keterangan detail yang diberikan ini  di atas, dapat dipahami 

bahwa Abdul Qadir Ghaylani sangat tepat dalam membandingkan antara orang 

Hurufi dengan orang Yahudi dari lima belas aspek. Dan dapat dipahami pula, bahwa 

sekte Hurufi pada hakikatnya didirikan oleh Abdullah bin Saba’ untuk memecah 

belah ummat Islam. Dalam rangka menciptakan permusuhan di kalangan ummat 

Islam, si Yahudi ini  membuat provokasi bahwa Ali ra. telah dirampas hak 

kekhalifahannya secara paksa, sehingga akibat provokasinya telah memicu  

penghujatan terhadap seratus dua puluh empat ribu shahabat secara zalim dan 

membabi buta dalam waktu relatif lama. 

[Orang-orang Yahudi yaitu  keturunan dari dua belas anak Nabi Ya’qub 

as. (Jacob). Mereka disebut Bani Israil (Children of Israil, atau Israeliyah) sebab  

nama Nabi Ya’qub as. yaitu  Israil. sedang  Israil berarti Abdullah, hamba Allah. 

saat  Nabi Musa pergi menuju ke gunung Sinai (Tur), mereka meninggalkan 

kepercayaan mereka  dan mulai menyembah anak sapi. lalu  mereka menyesal 

dan bertaubat. Oleh sebab  itu, mereka disebut Jeaw (Yahudi, Judah). Judah artinya 

orang yang memperoleh jalan keselamatan. Orang Yahudi banyak menimbulkan 

masalah kepada Nabi Musa as. Generasi mereka  selanjutnya telah membunuh seribu 

Nabi. Mereka memfitnah Nabi Isa as. (Jesus) sebab  dia tidak  mempunyai bapak. 

Mereka menganggap ibunya, -Maryam (Mary)-, sebagai wanita  kotor. Mereka 

menyerang Nabi Isa as dan ibunya serta mencoba membunuhnya. Mereka meracuni 

Nabi Muhammad saw. Pada saat Sayidina Utsman ra. menjadi khalifah, mereka 

menghembus-hembuskan fitnah, yang berakhir dengan syahidnya sang Khalifah. 

Mereka menciptakan sekte Hurufi untuk memecah belah kaum muslimin menjadi 

kelompok-kelompok yang saling bermusuhan. Sepanjang sejarah mereka selalu 

berusaha menghancurkan agama-agama wahyu dan para Nabi yang diutus oleh Allah 

swt. Dalam rangka menghancurkan agama-agama di dunia, mereka mendirikan 

organisasi yang disebut Freemasonri. sesudah  selesai Perang Dunia I pada tahun 

1336 H/1918 M, mereka membentuk negara-negara komunis dengan tujuan untuk 

menghancurkan semua agama di dunia. Sementara itu, Hayim Naum, -kepala Rabbi 

Istanbul di Mesir-, melakukan intrik-intrik di antara negara-negera  kapitalistik dan 

imperialistik untuk menghancurkan Kekaisaran Utsmani Islam dari muka bumi. 

Akibatnya, kekaisaran besar ini  yang pernah memimpin dunia Islam, runtuh. 

Mereka memandang bahwa kaum muslimin sebagai masyarakat yang regresif 

(mundur, terbelakang, pent.). Akibat intrik-intrik ini , kini Islam kehilangan 

kekuatannya dan meluncur ke ambang kehancuran]. 

artikel -artikel  agama dan sejarah menulis, bahwa Abu Bakar ra. terpilih 

menjadi khalifah  pada hari Senin. Pada hari berikutnya, Selasa, Sayidina Ali ra. dan 

beberapa shahabat lainnya datang ke Masjid menemui beliau, dan dengan suka rela 

memberikan bai’at kepadanya. Ali ra. menjadi pendukung segala kebijakan Khalifah 

hingga sang Khalifah wafat. Dia berjuang membantu Khalifah dalam menyebarkan 

agama Islam. berdasar  semua fakta ini , masih juga ada  orang yang 

menuduh Imam Agung Ali ra. telah melakukan kejahatan yang dilarang oleh Al 

Qur'an. Seorang muslim, apakah tidak merasa berdosa jika  memfitnah Ali ra. 

dengan cara seperti itu? Abu Bakar, Umar dan Utsman radliyallahu ‘anhum saat  

dipilih menjadi khalifah, mereka berkata, bahwa di antara mereka ada  orang-

orang yang lebih baik dari pada diri mereka sendiri. Mereka masing-masing 

menganggap dirinya sebagai orang yang tidak cukup pantas mengemban jabatan 

khalifah. Mereka bersikap sopan dan santun sebagaimana diperintahkan oleh Allah 

swt. kepada rakyat. Apakah keterangan yang menyebutkan bahwa, “Pada hari 

berikutnya Ali ra. datang dengan sikap arogan, -salah satu dosa besar-, menantang 

orang-orang yang hadir di sana, dengan mengatakan apakah ada orang yang lebih 

baik, lebih pemberani, dan lebih pandai dari pada dirinya,” dianggap sebagai sesuatu 

yang layak bagi seorang muslim? Sebagaimana diketahui, bahwa sebagian besar 

aliran tasawuf bersumber dari ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Sayidina Ali ra. 

Para pemimpin tasawuf mengajarkan kepada murid-murid mereka menurut petunjuk 

yang diajarkan oleh Sayidina Ali ra. Pelajaran yang mereka ajarkan pertama-tama 

ialah sifat sederhana dan sopan santun (modesty). Banyak ayat Al Qur’an  yang 

mengajarkan kepada kita untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saudara kita sesama 

muslim. Apakah dapat dibenarkan, jika kita menuduhkan sikap dendam selama tiga 

puluh tahun dan mengajak orang lain untuk melestarikan sikap dendam ini  

hingga kiamat, kepada seorang pendosa hina sekali pun, apalagi kepada Sayidina Ali 

ra.? Para guru besar tasawuf (mursyid) mengajarkan kepada murid-muridnya 

berdasar  ayat-ayat Al Qur’an. Mereka menjelaskan, bahwa segala sesuatu yang 

ada di jagad raya ini yaitu  ciptaan oleh Allah swt. Mereka juga mengajarkan agar 

manusia menerima segala ketentuan (qadla) yang telah digariskan oleh Allah swt. 

secara ikhlas. Apakah mungkin seseorang yang mengajarkan keikhlasan seperti itu 

justru menentang qadla atas dirinya sendiri? Apakah hal ini  bisa dipercayai 

menurut akal sehat? Bukankah keterangan seperti itu merupakan fitnah yang keji? 

Apakah akal sehat dapat menerima, jika dikatakan bahwa Sayidina Ali ra. tidak 

bersikap sabar dalam menghadapi situasi problematis seperti itu, padahal ayat-ayat 

Al Qur’an dengan tegas mengajarkan kepada ummat Islam untuk bersabar setiap kali 

menghadapi kesulitan dan situasi dilematis? Apakah Sayidina Ali ra. telah lupa 

dengan ayat-ayat Al Qur’an  yang memperingatkan tentang bahaya dari sikap 

ambisius terhadap kenikmatan dan kesenangan duniawiah, menyebarkan fitnah dan 

perpecahan di kalangan ummat Muhammad saw., hanya untuk memperoleh 

keuntungan duniawi semata? Apakah pernyataan seperti itu layak ditujukan kepada 

sang Imam Agung ini , padahal kata-kata ‘sabar’ dan ‘prilaku tidak ambisius’ 

terhadap dunia telah akrab digunakan sebagai simbol kesalihan dan kebajikan 

seorang muslim? 

Ketiga khalifah Rasululullah saw. menerima jabatan kekhalifahan 

ini  secara ‘terpaksa’ disebabkan sebab  jabatan ini  merupakan  kewajiban 

yang harus mereka pikul dan semata-mata sebab  para shahabat Rasulullah saw. 

lainnya memilih mereka. Bahkan sesudah mereka tidak lagi menjadi khalifah, 

mereka tidak sekali-kali memwasiatkan agar digantikan oleh putra-putra mereka. 

Bukankah fakta ini  menunjukkan, bahwa keterangan kami itu benar? saat  

para shahabat telah sepakat memilih Ali ra. menjadi khalifah, beliau menerima 

amanat itu dengan terpaksa. Meskipun Mu’awiyah (menuntut haknya menjadi 

khalifah sebagai kesalahan ijtihadnya), akan namun  Ali ra. menghadapi kesulitan 

besar itu dengan berupaya menyadarkan Mu’awiyah supaya mentaati  dirinya, sebab  

jabatan ini  semata-mata hanyalah merupakan perintah agama Islam. Tidak 

seorang pun yang mengingkari fakta di atas. Lagi pula, banyak ayat Al Qur’an  dan 

hadits yang memerintahkan agar ummat Islam saling menyayangi sesama orang 

Islam lainnya, bahkan kepada semua makhluk Allah di muka bumi. Sayidina Ali ra. 

yaitu  salah satu sumber sifat kebajikan. Beliau sangat terkenal akan keramahan dan 

kasih sayangnya. Hal ini  merupakan sebuah fakta kongkrit yang telah teruji 

oleh berbagai macam peristiwa yang sangat terkenal di dalam sejarah; Allah swt. 

telah menyampaikan kabar gembira dan akan mencurahkan kasih sayang-Nya kepada 

hamba-hamba-Nya pada hari Kiamat kelak dalam bentuk air dari telaga Kautsar. 

Sekarang, bagaimana seseorang bisa mengingkari semua fakta di atas dan 

mengatakan bahwa berjuta orang mukmin akan kekal di neraka disebabkan sebab  

perbuatan yang pernah dilakukan oleh Sayidina Ali ra.  

Menyayangi orang lain berarti mengupayakan keselamatan kehidupan 

akhirat orang ini  dan melindungi dirinya dari api neraka. Membantu persoalan 

dunia tidak bisa diartikan sama dengan membantu keselamatan dirinya di akhirat. 

Orang-orang Hurufi menuduh, bahwa jutaan bahkan milyaran orang Islam akan 

kekal di neraka disebabkan sebab  perbuatan yang pernah dilakukan oleh Sayidina 

Ali ra. Padahal, banyak ayat Al Qur’an dan hadits Nabi saw. yang memperingatkan 

 

 73

akibat dari perbuatan menfitnah dan memperolok-olok sesama orang Islam. Apakah 

dapat dibenarkan, jika seseorang selalu memaki dan menuduh tanpa alasan kepada 

para shahabat ra. dan kepada oarng-orang Islam Sunni yang taat menjalankan 

perintah-perintah Rasulullah saw.? Adakah manfaat, bagi seorang muslim jika 

dirinya menuduh, bahwa semuanya ini disebabkan sebab  ulah Sayidina Ali ra.? Para 

shahabat dan orang-orang yang mulia dari ummat Muhammad saw. telah bersepakat, 

bahwa kewajiban pertama yang harus dijalankan oleh seorang mukmin ialah 

memerangi hawa nafsunya sendiri. Dengan demikian, yaitu  sangat mustahil, 

jika  Sayidina Ali ra. melakukan dosa sekeji itu sekali pun jiwanya sedang sakit. 

Fakta ini  lebih terang dari pada matahari. Oleh sebab  itu, tidak ada alasan jika 

dikatakan bahwa dia melakukan dosa ini , apalagi beliau tidak sakit jiwa sama 

sekali. 

Orang-orang Hurufi tentu tidak dapat memberikan alasan yang masuk 

akal berkaitan dengan persoalan di atas, sebab   di antara shahabat yang mereka 

tuduh sebagai musuh abadi yaitu  bibi dari pihak ibu Ali ra., saudara sepupu dari 

pihak ayah pertama dan banyak kerabat lainnya. Al Qur’an  mengajarkan bahwa 

bersikap lemah lembut dan dermawan kepada kerabat dan mengunjungi mereka 

yaitu  kewajiban. Apakah seorang mukmin menganggap bahwa Sayidina Ali ra. 

pernah membuat wasiat yang isinya berupa perintah untuk memusuhi para shahabat 

Nabi saw.? Al Qur’an menegaskan bahwa istri-istri Rasulullah saw. yaitu  ibu dari 

orang-orang beriman (umahat al-mukminin). Islam memerintahkan untuk mematuhi 

dan menghormati orang tua. Bagaimana seseorang yang memiliki cahaya iman yang 

menyinari hatinya mengakui bahwa Sayidina Ali ra. memusuhi para istri Nabi saw. 

dan menganggap mereka termasuk orang-orang kafir disebabkan mereka telah 

membai’at (memberi penghormatan) kepada Sayidina Abu Bakar ra.? 

Hadist Nabi menegaskan bahwa seseorang yang menyebarkan fitnah 

akan dikutuk. Apakah Sayidina Ali ra. termasuk seorang penyebar fitnah di kalangan 

ummat Muhammad saw. yang juga akan dikutuk? 

Umar ra. berkata, “jika  saya ditimpa musibah, saya akan ikhlas 

menerimanya disebabkan sebab  tiga alasan. Pertama, musibah itu datang dari oleh 

Allah swt. Sesuatu yang datang dari Dzat tercinta (yaitu Allah swt.) pasti akan terasa 

nikmat. Kedua, saya bersyukur kepada Allah swt. sebab  Dia tidak menurunkan 

musibah yang lebih hebat kepada saya. Ketiga, Allah swt. tidak akan menurunkan 

sesuatu yang sia-sia atau tidak berguna kepada manusia. Sebaliknya, musibah yang 

Dia turunkan akan menjadi rahmat di akhirat. Saya ikhlas dan ridla jika ditimpa 

musibah. sebab  musibah di dunia ini jauh lebih ringan (insignificant) bila 

dibandingkan dengan rahmat yang abadi di akhirat.” Bahkan sekarang tidak sedikit 

orang Islam Sunni yang ikhlas jika  ditimpa kesulitan hidup dan bencana. Mereka 

memiliki hati yang suci dan ridla sebagaimana dicontohkan oleh Sayidina Ali ra.  

Banyak ayat Al Qur’an  dan hadits yang memerintahkan hubb fillah dan 

bughd fillah (yaitu mencintai orang Islam sebab  mereka muslim dan membenci 

orang kafir sebab  mereka musuh Islam). Para shahabat Rasul telah diberi kabar 

gembira melalui ayat Al Qur’an,  bahwa, “Allah  mencintai mereka. Dan mereka pun 

mencintai Allah.,” dan melalui hadits yang jumlahnya banyak sekali yang memuji 

orang-orangMuhajirin dan Anshar. Sepuluh orang dari mereka dimuliakan dengan 

nama Asyrah Mubasysyarah sebab  mereka telah diberi kabar gembira bahwa 

mereka akan masuk surga. Banyak juga hadist yang mencerikan bahwa mereka 

yaitu  orang-orang yang dicintai, tidak dimusuhi. Mungkinkah Imam Ali ra.,-salah 

seorang Ahlul Bayt yang sangat mulia yang menjadi pintu gerbang ‘kota ilmu’-, 

menganjurkan untuk membenci para shahabat Nabi saw.? Apakah tuduhan yang 

sangat menjijikan itu akan menumbuhkan perasaan cinta ataukah dendam kesumat 

terhadap sang Imam itu? 

Di dalam ayat-ayat Al Qur’an dan hadits Nabi dijelaskan bahwa 

seseorang dianggap melakukan perbuatan dosa disebabkan sebab  ia meninggalkan 

shalat jamaah Jum’at atau salah satu shalat fardlu lima waktu lainnya. Pada masa 

kekhalifahan, shalat fardlu dikerjakan di Masjid Nabawi Madinah dan Khalifah 

bertindak sebagai imam. Jika Sayidina Ali ra. menganggap ke tiga khalifah Nabi 

saw. (yakni Abu Bakar, Umar dan Utasman ra.) termasuk orang kafir, -padahal dia 

sendiri menjadi makmum dari orang-orang yang dia anggap kafir setiap kali 

mengerjakan shalat jamaah di belakang mereka. jika  seseorang mengerjakan 

shalat berjamaah dan dia mengetahui secara pasti bahwa sang imam yang diikuitinya 

yaitu  orang kafir, dia sendiri menjadi kafir. jika  Sayidina Ali ra. tidak 

 

 75

mengerjakan shalat di belakang mereka, -para khalifah Nabi saw.-, yang bertindak 

sebagai imam, dan mengabaikan shalat Jum’at serta shalat-shalat fardlu lainnya yang 

dikerjakan secara berjamaah, hal ini  merupakan perbuatan dosa juga. Hal itu 

sangat mustahil dilakukan oleh Sayidina Ali ra.  

Sayidina Ali ra. memberikan putrinya kepada Umar ra. Seseorang yang 

memberikan putrinya kepada orang lain yang ia sendiri mengetahui bahwa orang 

ini  termasuk orang kafir, dia pun akan menjadi kafir. Adakah manfaat dari 

perbuatan seperti itu  bagi seorang Ali ra.? 

Kami telah menjelaskan bagaimana kelompok-kelompok Syi'ah telah 

mengalami distorsi kepercayaan dan penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang 

Hurufi. Di sini kami akan menjelaskan bagaimana dan mengapa hal ini  sampai 

bisa terjadi? Pendiri sekte Hurufi yaitu  seorang Yahudi berasal dari Yaman, 

Abdullah bin Saba’. Dia telah mendistorsi dan melakukan pembelokan terhadap 

ajaran Syi’ah. Secara sadar dia melakukan hal ini  dalam rangka mengecoh, 

menyesatkan dan memecah belah ummat Islam, dan melampiaskan dendam kepada 

Ahlul Bayt, yang menjadi sumber cahaya agama Islam. Untuk menyembunyikan 

maksud jahatnya ini , dia seolah-olah memuliakan dan mencintai Sayidina Ali 

ra. Dia berkeyakinan bahwa Imam Ali ra. telah dirampas hak kekhalifahannya. Dia 

juga berpendapat, bahwa ketiga khalifah Nabi dan para shahabat ra. telah kafir. Dia 

menyembunyikan dendam kesumat dan kedengkiannya  kepada Ali ra. di balik 

kedok cinta kepada beliau. Dia melakukan sejumlah perbuatan biadab dan gila. 

Sebagian orang bodoh, yang tidak mempunyai benteng iman dan ilmu yang kuat, dan 

buta akan cahaya kebenaran Islam laksana kelelawar, akan jatuh ke dalam perangkap 

si Yahudi ini . Sehingga mereka mempercayai fitnah-fitnah yang menodai 

kemuliaan dan keutamaan Sayidina Ali ra. Mereka dengan fanatik buta mendukung 

gagasan-gagasannya untuk mengecam dan mencaci sang Imam ini . [Banyak 

artikel  ilmiah yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah menggugah 

kesadaran ummat Islam terhadap gagasan-gagasan dan ajaran-ajaran sesat Abdullah 

bin Saba’, pada saat seorang Yahudi yang berasal dari Persia bernama Fadlullah 

Hurufi memunculkan kembali gagasan-gagasan ini  sebelum dia meninggal 

pada tahun 796 H/1393 M]. 

 

 76

Tuduhan keji dari orang-orang Hurufi yang mengotori sang Imam ditulis  

di dalam kitab Injil dan Taurat. Orang-orang Yahudi dan Kristen mengakui bahwa 

fitnah-fitnah yang dilancarkan oleh Abdullah bin Saba’ telah melahirkan permusuhan 

terhadap Imam Ali ra.  

Kami telah memberikan bantahan terhadap fitnah-fitnah keji terhadap 

sang Imam yang ada  di dalam artikel  yang berjudul Husniyyah. Kami mencoba 

membuka kedok sang penulis yang bersembunyi di belakang tulisan-tulisannya 

ini , dan membongkar niat terselubungnya. Berikut ini kami sajikan penjelasan 

singkat dalam bentuk jawaban-jawaban yang diberikan oleh seorang ulama terhadap 

fitnah-fitnah yang ada  di dalam kitab-kitab berbahasa Arab seperti Haqaiq al-

Haqaiq, Alfadz Qudsiyyah dan Ayn al-Hayat yang ditulis oleh orang-orang Hurufi. 

sesudah  membaca kitab Ayn al-Hayat, beliau (ulama ini ) memahami 

bahwa seluruh isi kitab ini  dari A-Z memuat fitnah-fitnah menjijikan, celaan 

dan kata-kata kotor yang ditujukan kepada ketiga khalifah Nabi saw., Sayidina 

Mu’awiyah, Sayidah Aisyah dan ulama-ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah 

rahmatullah ‘alaihim. Beliau mencoba membuat sebuah daftar yang memaparkan 

kebohongan-kebohongan ini  ; 

artikel  ini  (Ayn al-Hayat, pent.) menerangkan bahwa, “saat  Guru 

kita, Fakhrul ‘Alam saw. wafat, semua shahabat kecuali Salman, Abu Dzar, dan 

Mikdad ra. kembali menjadi kafir. Utsman yaitu  orang yang patut dikutuk, dan 

Ka’ab ra. juga menjadi kafir.” Tuduhan-tuduhan palsu ini  ada  di halaman 

permulaan sampai halaman kesembilan dari artikel  Ayn al-Hayat di atas. 

Dikatakan juga, “Bahwa ketiga khalifah Nabi saw. dan sebagian besar 

shahabat Nabi saw. yaitu  musuh-musuh agama yang dibawa oleh Muhammad saw. 

Mereka semua yaitu  para penyembah banyak tuhan (politeis). Imam Abu Hanifah, 

Sufyan Tsauri dan orang-orang Islam Sunni semuanya termasuk kafir.” artikel  

ini  menghujat dan menfitnah para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dan para 

mursyid besar tasawuf berkaitan dengan persoalan wahdat al-wujud (persatuan 

eksistensi). Keterangan ini  ditulis hingga halaman kedua puluh tujuh. 

Disebutkan bahwa, “Utsman dan para shahabat pada masanya yaitu  

orang-orang kafir.” artikel  ini  mencoba mencemarkan nama baik mereka dengan 

kata-kata kotor, dan mengatakan bahwa, “Sebagian besar orang Irak telah tersesat 

dan menyimpang dari jalan yang benar. Allah swt. menurunkan rizki kepada hamba-

hamba-Nya dengan perantaraan Duabelas Imam. Oleh sebab  itu, sudah sepatutnya 

jika mengutuki dan menyumpahi ketiga khalifah Nabi ini . Mereka telah menjadi 

kafir, pendosa dan termasuk Yahudi. Orang-orang Islam Sunni menjadi kafir sebab  

mereka mencintai ketiga khalifah ini . Di dalam Perang Unta (The Camel War) 

Ali ra. bertindak sebagai wakil Nabi untuk menceraikan Sayidah Aisyah ra. Tafsir Al 

Qur’an  yang ada (pada saat itu) telah dikotori dan dicemari. Abu Bakar, Umar, 

Talhah dan Zubair termasuk orang-orang kafir. Utsman, Aisyah, Talhah, Zubair dan 

Muawiyah yaitu  orang jahat, keji dan kafir.” 

Disebutkan juga bahwa, “sebab  Guru kita Nabi Muhammad saw. belajar 

kepada Malikat Jibril, Mikail dan Israfil, sedang  para malaikat ini  

memperoleh pengetahuan dari Lauh al-Mahfudz dan Kalam, jika seseorang akan 

menjadi wali, dia cukup memerlukan perantaraan Sayidina Ali ra. dan Duabelas 

Imam. Kehendak Ali ra. menjadi benteng Allah swt. Pada hari kiamat, kehendak 

Imam Ali ra. akan menentukan orang-orang yang masuk surga dan yang masuk 

neraka. Pembahasan mengenai peperangan antara Sayidina Ali ra. dan musuh-

musuhnya hingga pembahasan mengenai Sayidah Fatimah ra. dipaparkan dalam 

sembilan puluh halaman. Pada setiap halaman, ada  keterangan yang 

menyebutkan bahwa ketiga khalifah dan para shahabat Nabi yaitu  manusia-manusia 

jahat, yang berakhlak rendah dan dipenuhi dosa. Imam Ja’far Shadiq lebih mulia dari 

pada Nabi Musa as. dan Hidzir as. Ar-Ruh yang dinyatakan di dalam ayat kedelapan 

puluh lima surat al-Isra’ yaitu  Malaikat yang diangkat sebagai pembantu dari 

Duabelas Imam. Imam Ali ra. dapat menganugerahkan kenikmatan dan kesenangan 

kepada orang-orang yang telah mati.” Kitab ini  memuat keterangan yang cukup 

panjang dalam bentuk celaan dalam rangka menghina Sayidina Ali ra. disebabakan 

beliau menerima Abu Bakar ra. sebagai khalifah, meskipun secara terpaksa. Lanjutan 

dari penjelasan sebelumnya yaitu  : “Para Malaikat yang memiliki kedudukan tinggi 

yaitu  pembantu-pembantu yang bekerja di bawah perintah Duabelas Imam. 

Hukum-hukum fisika, kimia, biologi, gerakan-gerakan atom, dan benda-benda 

angkasa dikendalikan oleh Duabelas Imam. Pada Hari Pengadilan, para Nabi akan 

 

 78

dimintai pertanggung jawaban. Nabi Nuh as akan mempercayakan dirinya kepada 

Imam Ali ra. dan dia akan selamat sebab  dua orang saksi yang diutus oleh Imam Ali 

ra. Orang-orang Islam Sunni yang telah mencemarkan agama Nabi Muhammad saw. 

dengan mengatakan yang halal ‘haram’ dan sebaliknya, mereka termasuk para 

pembuat bid’ah yang berdosa dan kafir. Menurut mereka, aliran/faham Sunni (Ahlus 

Sunnah wal Jamaah, pent.) diciptkan oleh Umar ra. Dia menyebarluaskan faham 

ini  dengan bantuan orang-orang bid’ah dan jahat. Hal ini  telah 

menimbulkan polemik dan perdebatan yang hebat antara Imam Ja’far Shadiq dan 

Sufyan Tsauri. Pada akhirnya terlihat jelas bahwa Sufyan Tsauri yaitu  salah 

seorang pengikut faham ini  yang membawa dirinya kepada kesangsian dan 

bid’ah.” 

“Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak bisa membedakan antara 

ayat-ayat muhkamat-mutasyabihat, dan nasih-mansuh. Mereka melanggar batas-

batas yang telah ditetapkan oleh Allah dan tidak menjauhi perbuatan yang 

diharamkan oleh-Nya. Oleh sebab  itu, mereka terjebak dalam kesesatan dan selalu 

berada dalam kelalaian. Sufyan Tsauri dan Iyad Bisyri berusaha menghancurkan 

Islam. Sementara itu, Ibrahim bin Hisyam termasuk golongan orang zindiq. Orang-

orang Islam pengikut faham Sunni bernyanyi dan menari dalam beribadah. 

sedang  Ma’ruf al-Karhi yaitu  seorang pendusta. Orang-orang Sunni akan 

masuk neraka. Seorang warga  Sodom yang mengakui perbuatan dosa yang 

pernah dikerjakannya di hadapan Imam Ali ra. akan diampuni dosanya. Shalat 

tarawih yang dikerjakan oleh orang-orang Sunni tergolong perbuatan riya’ dan 

bid’ah. Hal ini  mirip dengan peribadatan yang dilakukan oleh orang-orang 

kafir. Seseorang yang berambisi menjadi penguasa patut dikutuk. Pada hari kiamat, 

Allah swt. akan mengampuni orang-orang Syi'ah sebagaimana seseorang yang 

mengampuni saudaranya sendiri. Orang-orang Islam Sunni akan tetap kekal di 

neraka bersama orang-orang kafir disebabkan mereka dianggap murtad dan kafir. 

Taubat dan doa mereka akan ditolak dan mereka tidak akan pernah dikeluarkan dari 

neraka. Nama-nama seperti Paraoh, Hamman dan Qarun yang disebut-sebut akan 

masuk neraka, merepresentasikan nama-nama Abu Bakar, Umar, Utsman, dan 

keturunan Umayyah.”  

artikel  ini  menerangkan secara panjang lebar mengenai kedahsyatan 

api neraka, bagaimana adzab neraka ditimpakan, adzab yang akan diterima oleh si 

pembunuh Abel. Di samping itu, memaparkan juga tentang Namrud dan Paraoh, 

orang Yahudi yang menyesatkan golongan Yahudi lain dan seorang Yahudi bernama 

Paul yang telah menyesatkan orang-orang Kristen. Juga menjelaskan tentang Abu 

Bakar dan Umar yang tidak beriman kepada Allah, membandingkan adzab yang akan 

diterima oleh Paraoh dengan Mu’awiyah.  

artikel  ini  juga menerangkan tentang kepalsuan-kepalsuan sebagai 

berikut : “Fakhrul ‘Alam akan mencium putrinya yang bernama Sayidah Fatimah ra. 

setiap hari. Oleh sebab  itu, istri beliau,- Sayidah Aisyah ra.-, yang melihat melihat 

hal ini  akan merasa cemburu. Kalimat La Ilaha illa-allah Ali Rasulullah ditulis 

di seluruh tempat/bagian di surga. Mengerjakan shalat tanpa wudlu diperbolehkan, 

meskipun tidak akan memperoleh pahala di akhirat. Orang-orang  kafir Quraisy 

mengatakan bahwa para malaikat yaitu  putri-putri Allah sehingga diturunkan 

sebuah ayat Al Qur’an. Disebutkan di dalam Al Qur’an bahwa orang-orang Syi'ah, -

satu-satunya golongan yang benar-, jumlahnya akan terus meningkat. Sementara itu, 

golongan lain akan lenyap secara bertahap. Sebagian besar ayat yang ada  di 

dalam surat al-Ahzab membongkar kejahatan dan kekejaman  yang dilakukan oleh 

orang-orang Quraisy baik laki-laki maupun wanita , sehingga sebagian ayat 

ini  dihapus dari Al Qur’an, sedang  sebagian lainnya dirubah redaksinya. 

Abu Bakar, Umar, dan Utsman radliyallah ‘anhum senantiasa melakukan kejahatan, 

bid’ah dan perbuatan dosa lainnya yang dilarang oleh agama.”   

artikel  ini  juga memaparkan kisah-kisah seputar penangkapan dan 

penahanan yang dilakukan oleh Ali ra. terhadap Aisyah ra. dalam Perang Unta. 

Bagaimana Sayidah Aisyah beserta tawanan lainnya dikirim ke Madinah, dan 

kutukan terhadap beliau. Selanjutnya artikel  ini  juga melemparkan berbagai 

macam pencemaran nama baik, fitnah, dan kutukan terhadap Sayidina Mu’awiyah. 

Juga menerangkan, bahwa Allah telah menjual surga dan neraka, dan juga menjual 

seorang jariyah kepada Ali ra. dengan harga empat ratus dirham perak. Di dalam 

peperangan yang terjadi antara Mu’awiyah dan Ali ra., Sayidina Ali ra. berpidato 

yang menjelaskan, bahwa Mu’awiyah yaitu  seorang yang patut dikutuk. Orang-

orang Islam Sunni termasuk orang-orang yang patut menerima  kutukan disebabkan  

mereka mengenakan pakaian  yang terbuat dari bulu. Di dalam artikel  ini  juga 

dijelaskan, bahwa orang-orang Islam  Sunni termasuk golongan kafir dan zindiq, 

sebagaimana hal ini  ditegaskan lewat wahyu. Juga melemparkan tuduhan 

kepada Muhammad al-Ghazali, Ahmad al-Ghazali, Jalaludin ar-Rumi dan Muhyidin 

ibnu Arabi bahwa mereka semua termasuk orang-orang kafir.”  

artikel  itu juga mengutuk dan menghujat ketiga khalifah Nabi saw., Hasan 

al-Bashri, Mansur Dawaniki, al-Ma’mun dan Harun ar-Rasyid. Juga menyebutkan, 

bahwa Hallaj Mansur, Abu Ja’far Shalghamani dan ulama Ahlus Sunnah lainnya 

termasuk orang-orang kafir dan zindiq.” 

Dari penjelasan yang telah dipaparkan di atas, dapat diketahui bahwa 

artikel  ini  pada dasarnya seluruhnya memuat kumpulan penjelasan yang irasional 

dan cerita-cerita bernada menhujat dan menfitnah yang tidak jelas sumbernya. 

Sehingga sangat mustahil jika artikel  ini  ditulis oleh orang yang memiliki agama. 

Apalagi penjelasan yang menyebutkan bahwa Allah menjual surga kepada Ali ra., 

Ali ra. akan memasukkan orang-orang yang dicintainya ke surga, dan akan 

memasukkan mereka yang dibencinya ke neraka, persoalan dunia dikendalikan oleh 

Duabelas Imam, -yang berarti mengingkari sifat qudrat Allah. Sebaliknya, ketrengan 

ini  justru menunjukkan bahwa sang penulis kitab/artikel  ini  yaitu  seorang 

politeis sejati.  

artikel  ini  juga menjelaskan tentang penolakan Abu Bakar ra. untuk 

memberikan kebun kurma yang disebut Fadak kepada Fatimah. Keterangan ini  

disajikan secara berlebih-lebihan sehingga menjadikan tulisan orang Persia yang 

irasional ini  tidak logis sama sekali. Kebun kurma yang disebut Fadak terletak 

di sekitar Haibar. Rasulullah saw. memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga beliau 

melalui pendapatan yang diperoleh dari kebun ini , dan sisanya disedekahkan. 

Menjelang wafat, beliau menghibahkan kebun ini  kepada badan amal untuk 

menyantuni orang-orang miskin dan musafir. saat  Abu Bakar ra. menjadi khalifah, 

beliau menyimpan hasil yang diperoleh dari kebun ini . Dan saat  Umar ra. 

menjadi khalifah, beliau menyerahkan pengelolaannya kepada Sayidina Ali ra. atas 

permintaan beliau sendiri. artikel  ini  menjelaskan peristiwa-peristiwa ini  

secara demonstratif dan eksploitatif dalam rangka mencaci Sayidina Ali ra. dan 

Sayidina Umar ra. Mencela Sayidina Ali dan Umar ra. yaitu  perbuatan yang sangat 

keji dan tidak dapat diampuni walaupun dengan bertaubat. 

Di samping ketiga kitab sebagaimana disebutkan di atas, ada  sepuluh 

brosur (artikel  kecil) lainnya yang memuat kecaman dan kutukan yang ditujukan 

kepada para shahabat Nabi saw. Brosur-brosur ini  beredar di Irak dan Iran dan 

dimaksudkan untuk menyesatkan orang-orang Islam khususnya yang tinggal di 

Anatoli. Dengan menyebut dirinya sebagai golongan Alawi, mereka bekerja keras 

mengelabuhi dan mengecoh orang-orang Islam Alawi di negeri kami Turki. Mereka 

mencoba menciptakan sebuah generasi baru di kalangan ummat Islam yang memiliki 

sikap memusuhi para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan mencoba 

menghancurkan Islam dari dalam. [Untuk memproteksi rencana dan pemikiran sesat 

mereka, kami telah menerjemahkan sebuah artikel  berjudul Tuhfah Itsna Asyariyyah 

dari bahas Persia ke dalam bahasa Turki dan menerbitkan sebuah artikel  berjudul Mati 

dalam Iman. artikel  Tuhfah ini  telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan 

ringkasannya telah dicetak di Mesir dengan judul Mukhtashar Tuhfah. artikel  

ini  dicetak ulang di Istanbul dengan memakai  proses offset. Seorang ulama 

Iran berpendapat, bahwa apa yang disebut artikel  ini  (yaitu artikel -artikel  

sebagaimana disebutkan di atas) ditulis oleh para muhlid (pembangkang) yang di 

India disebut ghulat. Mereka berusahaa menyesatkan orang-orang Iran. Beliau juga 

menyatakan, bahwa para ulama Iran yaitu  pengikut golongan Syi’ah Imamiyyah. 

Meskipun demikian, menurutnya, mereka termasuk dalam kategori kafir]. 

Orang Syi'ah dari kelompok Imamiyyah yang hidup di Iran sebagian 

besar tinggal di Najaf dan Karbala. Semestinya mereka bersatu dengan golongan 

Ahlus Sunnah wal Jamaah mencegah wabah yang disebarkan oleh orang-orang sesat 

dari kelompok Alawi gadungan. Jika mereka mengabaikan persoalan ini  

dimungkinkan jumlah mereka meningkat pesat baik secara kualitatif maupun 

kuantitatif. Larangan-larangan yang diberlakukan terhadap mereka pasca 

kemenangan Yavuz Sultan Salim Khan di Kaldiran pada tahun 920 H/1514 M 

sampai sekarang, di mana sekitar lima belas tahun yang lalu, [yaitu pada tahun 1280 

H/1864 M], larangan ini  dicabut, secara tiba-tiba fitnah itu muncul kembali. Hal 

ini  disebabkan sebab  kemerosotan dan kelalaian ummat Islam. Himbauan kami 

ini mengakhiri keterangan dan bantahan yang dimuat di dalam artikel  Tazkiyah Ahlul 

Bayt. . 

[Jika para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak memberi respon dan 

kritik terhadap orang-orang freemason, komunis, Kristen, para missionaris, Hurufi 

yang merebak di Iran maupun Irak, dan juga kelompok Wahhabi, jika mereka tidak 

dapat membongkar maksud jahat yang mereka sembunyikan, dan tidak menjelaskan 

kepada generasi muda bahaya yang mereka timbulkan, jika para orang tua tidak 

mengajari anak-anak mereka, -atau setidaknya menyuruh mereka membaca artikel -

artikel  yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah-, masa depan mereka 

semua akan hilang. Mereka akan merasakan keraguan dan kebimbangan akidah. 

Ummat Islam akan terjerembab ke dalam bencana dan malapetaka sebagaimana 

pernah diderita warga  negeri Samarkand, Bukhara dan Krimea. Allah swt. 

menegaskan di dalam ayat ketiga puluh tiga surat al-Nahl, “Allah tidak akan 

menyiksa mereka. Namun mereka sendiri menyiksa diri mereka.”] 

 

Seorang hamba tidak akan pernah rugi sebab  bimbingannya ;  

Apapun yang diderita seseorang, semata-mata yaitu  lantaran 

perbuatannya sendiri! Oh dunia! Segala kenikmatan yang engkau 

tawarkan tidak akan abadi ;  

Segenap kedudukan, kau binasakan melalui dinginnya angin kematian! 

 

Meskipun Umar ra. menjadi seorang Khalifah, beliau biasa makan dan 

minum di atas mangkuk yang  terbuat dari tembikar. Pada suatu hari,  para shahabat 

ra. meminta putri Khalifah, Sayidah Hafsah, untuk menghadap Khalifah dan 

mengajukan suatu permohonan. “Wahai ayahku, Amirul Mukminin! Abu Bakar, 

Khalifah pertama, telah memerangi orang-orang munafik hingga dia meninggal 

dunia, bahkan dia tidak punya kesempatan untuk beristirahat. Sekarang, engkau telah 

menaklukkan banyak negeri baik di timur maupun di barat. Para duta besar dari 

kerajaan di seluruh dunia datang menghadapmu dan bersantap bersamamu.  Apakah  

engkau tidak berhenti memakai  mangkuk tembikar ini , dan memakai 

tempat makanan yang terbuat  dari tembaga atau logam lainnya saat  mereka datang 

dan makan bersamamu?” Demikianlah permohonan dari para shahabat yang 

disampaikan oleh Sayidah Hafsah kepada ayahnya, Sayidina Umar al-Faruq. 

Jawaban Umar selaku Khalifah : “Wahai anakku Hafsah! Aku akan mencaci orang 

lain sebab  permintaan seperti ini. Aku telah mendengar dari kamu, bahwa junjungan 

kita Muhammad saw. mempunyai sebuah kasur yang berisi rumput. Melihat tubuh 

beliau kelihatan tidak nyaman sebab  tidur di atas kasur ini , pada suatu malam 

kamu mengganti kasur ini  dengan kasur yang sedikit empuk. Kamu meminta 

beliau tidur di atas kasur ini  sehingga beliau tidak bangun dan shalat malam 

pada malam ini . Beliau sangat menyesal dan memprotes kamu ; ‘Jangan sekali 

lagi kamu lakukan hal seperti itu!’ Mesikpun ayat kedua surat al-Fath menjelaskan, 

Untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang dilakukan pada masa lalu dan yang akan 

datang …’ Gaya hidup yang telah dicontohkan oleh seorang Nabi yang telah diberi 

kabar gembira akan diampuni segala dosa yang lalu dan yang akan datang, membuat 

Umar al-Faruq yang dlaif ini, -yang belum jelas bagaiamana akhir hayatnya-, 

meninggalkan cara hidup yang pernah dijalani oleh Rasulullah saw. lalu menikmati 

kemewahan hidup dengan makan di atas piring tembaga?” 

Di Madinah, pada waktu siang hari, Umar al-Faruq ra. sibuk memimpin 

tentara-tentara yang berada di Asia, dengan mensuplai dan mengirimkan kebutuhan 

mereka. Sementara, di malam hari beliau menghabiskan seluruh malamnya dengan 

meronda ke seluruh penjuru kota untuk melindungi harta benda, kehidupan dan 

kehormatan orang-orang Islam. Pada suatu malam, saat  beliau sedang meronda, 

beliau mendengar suara tangisan. Beliau menghampiri suara itu dan ingin 

mengetahui siapa yang menangis. Ternyata tangisan seorang wanita  miskin. Dia 

berkata, “Saya tidak mempunyai orang yang bisa membantu hidup saya. Semenjak 

saya datang kemari, anak-anak saya menangis kelaparan selama dua hari yang lalu. 

Saya menyalakan api, supaya mereka tertidur. Saya menaruh air ke dalam periuk 

sambil mengatakan kepada mereka, bahwa saya sedang membuat makanan!” 

Khalifah sanga