Syiah 8


 kan namun  Tuan telah membunuh mereka di 

lembah Badar. Sekarang persoalan ini  bergantung antara Tuan dan mereka’. 

Sebagai figur yang berkarakter keras dan serius, mendengar perkataan-perkataan 

Hindun ini  Umar ternyata tidak sanggup menahan tawa. Pada saat Rasulullah 

saw. melarang menfitnah, Hindun juga berkata, “Wallahi, menfitnah yaitu  

perbuatan keji. Tuan memerintahkan kepada kami tentang kesusilaan (moralitas)’. 

Dan saat  Rasulullah melarang memberontak, Hindun berjanji, ‘Sekali-kali kami 

tidak masuk ke majelis yang mulia ini dengan niat memberontak.’ Pada mulanya 

mereka hendak membunuh Hindun. Akan namun  Nabi saw. mengampuninya. Lalu dia 

masuk Islam dan menjadi seorang muslimat sejati. Dia pulang ke rumah dan 

menghancurkan patung serta gambar yang ada di dalamnya, sambil berkata, ‘Betapa 

tolol kami yang telah menyembah kamu.’ Rasulullah saw. mendoakan semua 

wanita  yang turut hadir dalam pertemuan di bukit Shafa ini . Mereka yang 

hendak lari menyelamatkan diri mengurungkan niatnya sesudah  melihat Hindun 

memperoleh ampunan dari Rasulullah. Beliau mengampuni mereka sesuai dengan 

permintaan mereka. Betapa bahagianya Hindun. Dia telah menyelamatkan banyak 

orang dari kematian. Dia juga telah menjadikan mereka beriman. Selanjutnya kitab 

Qishas al-Anbiya menjelaskan, “Abu Sufyan dan putra-putranya menjadi orang 

Islam yang taat. Rasulullah saw. memanfaatkan mereka sebagai sekretaris beliau.” 

Orang-orang Hurufi mengumpat Mu'awiyah, seorang yang sangat berjasa 

terhadap Islam dan dipuji melalui hadits-hadits Nabi saw. Mereka juga mengungkit 

kehidupan masa lalu dirinya dan keluarganya, mengutuk serta mencaci makinya. 

Meskipun mereka dapat menfitnahnya, namun mereka tidak akan sanggup 

menurunkan martabat ayahnya sampai ke derajat orang kafir seperti halnya Abu 

Lahab! Utbah, anak Abu Lahab, yaitu  musuh bebuyutan Rasulullah saw. sehingga 

di dalam sebuah ayat Al Qur’an namanya disebut. Dahulu dia sangat memusuhi 

Rasulullah saw. Tidak hanya itu : Dia menceraikan putri Rasulullah saw. dengan 

tujuan menelantarkan kehidupan rumah tangga beliau. Di dalam Qishas al-Anbiya 

dijelaskan : “Utbah lalu  menjadi seorang mukmin dan meminta ampunan 

kepada Rasulullah pada hari penaklukan kota Mekkah. Beliau mengampuninya dan 

mendoakannya. Bahkan pada saat-saat genting dalam Perang Suci Hunain, Utbah 

tidak beranjak mengawal diri Rasulullah saw.” Orang-orang Hurufi tidak lagi 

mengecam Abu Lahab. Mereka juga tidak mencela Utbah sebab  menjadi anak si 

kafir Abu Lahab. Juga bukan sebab  Utbah pernah menjadi musuh bebuyutan 

Rasulullah saw. Utbah yaitu  salah seorang yang berpendapat bahwa yang berhak 

menjadi khalifah pertama yaitu  Sayidina Ali ra. Dia mengungkapkan pendapatnya 

ini  melalui puisi.  

Keterangan di atas menunjukkan bahwa  kriteria yang dipakai oleh 

penulis majalah ini  (tentang pernyataan-pernyataannya yang bernada fitnah 

sebagaimana tampak di dalam majalah ini ) tidak didasarkan pada persoalan-

persoalan esensial seperti persoalan tentang Islam, syirik, Rasulullah saw., atau 

penganiayaan yang pernah dialami beliau. Pendapat-pendapatnya hanya didasarkan 

pada persoalan pemilihan Ali, -sebagai dampak politis dan tidak berkaitan langsung 

dengan Islam itu sendiri. Atau hanya merupakan upaya penulis untuk menciptakan 

image yang salah mengenai sosok para shahabat sebagai manusia kotor yang 

ambisius. 

Penjelasan di atas yang kami nukil dari beberapa halaman kitab Qishas 

al- Anbiya dengan jelas menunjukkan bahwa fitnah yang mewarnai majalah Musim 

Gugur ini  yaitu  palsu. Di dalam kitab Kamus al-‘Alam disebutkan bahwa 

“Hindun binti Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syam yaitu  seorang  bangsawan 

Quraisy. Dia yaitu  istri Abu Sufyan. Sebelum dengan Abu Sufyan, dia menjadi istri 

Faqih bin Mughirah. Dia tetap menjadi seorang muslimah dan menunjukkan perilaku 

sebagai seorang muslimah yang baik. Dia yaitu  seorang yang bijak dan 

berpandangan luas. Dia dan suaminya, Abu Sufyan, ikut terlibat dalam Perang Suci 

Yarmuk dan mengobarkan semangat kaum muslimin melakukan jihad melawan 

Byzantium.” 

Banyak kitab menulis tentang keteguhan iman Hindun radliyallah ‘anha. 

dan kemuliaannya. Sebelum Islam, Hindun menjalani pernikahan dan kehidupan 

keluarganya di negeri Arab. Penulis majalah Musim Gugur ini  membandingkan 

kehidupan keluarga Hindun dengan kehidupannya berkaitan dengan nikah mut’ah. 

Dia katakan orang lain sebagai pezina. Di dalam kitab Ma’arij al-Nubuwwah 

dijelaskan, “sesudah  Hindun ra. menjadi seorang muslimah dan menghancurkan 

semua patung yang ada  di dalam rumahnya, dia mengirimkan dua ekor domba 

kepada Rasulullah saw. sebagai hadiah. Rasulullah saw. menerima hadiah ini  

dan mendoakannya dengan memintakan rahmat untuknya. Allah swt. memberkati 

domba itu sehingga jumlahnya berkembang sangat banyak. Hindun senantiasa 

menyadari bahwa domba sebanyak itu yaitu  anugerah yang  datang  melalui Nabi 

saw.” Abdul Ghani Nablusi menjelaskan di halaman keseratus dua puluh enam dari 

kitab Hadiqah, “Setiap orang yang beriman kepada Rasulullah tentu sangat 

memahami keagungan beliau sehingga sangat mencintai beliau. Meskipun derajat 

pemahaman dan kecintaan ini  berbeda-beda. sebab  cinta ini  mengalir 

dari hati. Diriwayatkan, bahwa istri Abu Sufyan, Hindun, pernah berkata kepada 

Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah! Dahulu aku sangat membenci wajah Anda. Tapi 

sekarang, keindahan wajah Anda lebih aku cintai dari pada yang lainnya.” 

Penulis majalah ini  mengatakan bahwa Mu'awiyah melakukan 

kezailman terhadap rakyat. Padahal fakta sejarah mencatat bahwa Mu'awiyah  

berhasil menciptakan perdamaian, ketertiban dan ketenangan bagi rakyat dan negara 

serta berhasil mengakhiri pertikaian di kalangan rakyat. Beliau mengobarkan 

semangat jihad. Mu’awiyah yaitu  sosok khalifah yang adil dan penyantun. artikel -

artikel  sejarah memberikan keterangan secara rinci mengenai fakta-fakta ini . 

“Benih-benih mentalitas takhayul pemerintah telah merubah Islam 

sebagai agama menjadi sebuah sistem fanatisme. Mentalitas ini  juga 

menghinggapi pikiran dan hati rakyat serta sebagaian penguasa Utsmani. Hal 

ini  sesungghunya yang dikehendaki oleh orang-orang Syi'ah. Mereka 

mengusulkan rekonsiliasi yang berangkat dari prinsip persatuan antara Muhammad-

Ali. Mereka ingin Ahlul Bayt tidak dikecam dan dicaci. Akan namun , saat  

masyarakat telah menunjukkan sikap respek terhadap Ahul Bayt, orang-orang Syi'ah 

justru bersikap menentang. Mereka berdalih, bukankah Ali ra. yaitu  khalifah 

pertama yang dipilih secara legitimate?” katanya. 

Allah swt. menyebut Kaum Muslimin dengan sebutan ‘Ummat Rasul-

Ku’. Nabi Muhammad saw. menyebut Kaum Muslimin sebagai ‘Ummat-ku’. Di 

antaranya beliau bersabda, “Saya akan memintakan (syafa’at) untuk orang-orang 

yang banyak berbuat dosa dari ummat-ku,” dan “Para ulama dari ummatku yaitu 

laksana para nabi dari Bani Israi.l” Beliau memakai  ungkapan ‘Ummat-ku’ 

dalam banyak hadits lainnya. Sementara itu, sebaliknya penulis majalah Musim 

Gugur ini  mengecam para khalifah kaum muslimin. Dia mengatakan bahwa 

para Sultan Utsmani telah merubah Islam sebagai agama menjadi sebuah sistem 

keummatan yang fanatis. Dia menolak sistem keummatan ini  dan 

memandangnya sebagai sebuah sistem tiruan. Pendapat penulis ini  sangat 

bertentangan dengan Islam. Pada saat yang bersamaan, sesungguhnya dia mencoba 

membela doktrin-doktrin Hurufi. Trik-trik yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam 

berangkat dari sikap ofensif mereka terhadap Islam. Sebagaimana kita lihat dari 

gagasan mereka tentang konsep persatuan Muhammad-Ali. Hal ini tidak jauh 

berbeda dengan seorang tukang jagal yang berkata , “Saya sangat kasihan kepadamu, 

saya tidak akan melukaimu,” kepada seekor domba yang hendak disembelinya. 

Penulis ini  mencoba menutupi identitas dirinya sebagai seorang pengikut sekte 

Hurufi yang mengikuti jejak langkah dan strategi Abdullah bin Saba’, -provokator 

ulung yang telah memicu  sesama saudara muslim saling berperang dan 

membunuh. artikel -artikel  sejarah mengulas panjang lebar mengenai pembunuhan 

massal yang pernah dilakukan oleh Hassan Sabbah, seorang pengikut Ibnu Saba’, 

terhadap ribuan kaum muslimin. 

Di dalam halaman delapan ratus delapan puluh tujuh dari kitab Qishas al-

Anbiya dijelaskan bahwa : Hassan Sabbah yaitu  seorang mulhid pembuat bid’ah 

yang mengikuti jejak Ibn Saba’. Dia mengharamkan yang ‘halal’. Dia telah 

menyesatkan banyak orang. Dia menjadikan Benteng Elemut (Alamut) dan 

sekitarnya sebagai basis bagi  para pengikut setianya. Sebagian besar dari mereka 

terdiri dari para pemberontak dan penyamun. Mereka  menyebut golongan  Ahlu as-

Sunnah wal Jamaah dengan sebutan ‘Yazidis’ (para pengikut Yazid, pent.). Mereka 

berpendapat, bahwa membunuh seorang Yazidi lebih besar pahalanya dari pada 

membunuh sepuluh orang kafir. Mereka juga membunuh para haji, hakim, ulama  

dan tentara secara keji. Mereka termasuk pengikut sekte Batiniyyah atau Ismailiyyah. 

Mereka yaitu  manusia  yang tidak memiliki tuhan dan biadab. Selama tiga puluh 

lima tahun Hassan Sabbah melakukan pembunuhan-pembunuhan dan menyesatkan 

manusia. Dia meninggal dunia pada tahun  518 H/1124 M. Di antara penggantinya, 

ada  seorang cucunya bernama Ahund Hassan yang menjadi pemimpin sekte 

ini  pada tahun 557 H. Bahkan dia lebih zindiq dibandingkan lainnya. Dia-lah 

yang pertama kali oleh para pengikut setianya disebut Alawi untuk mengecoh kaum 

muslimin. Pada tahun 559 hijriah tanggal tujuh belas Ramadhan bertepatan dengan 

syahidnya Imam Ali ra., dia berpidato di atas mimbar dengan mengatakan bahwa,” 

Saya telah diutus oleh Imam Ali sebagai Imam bagi seluruh ummat Islam. Islam 

tidak memiliki fondasi (rukun). Segala sesuatu tergantung pada hati. Jika hati 

seseorang bersih, niat untuk berbuat dosa tidak akan berdampak mudlarat bagi 

dirinya. Saya telah menghalalkan segala sesuatu. Jalanilah hidup ini menurut 

kehendakmu!” Pada hari itu, mereka baik laki-laki maupun wanita  minum 

bersama-sama. Hari itu dijadikan sebagai tahun baru bagi mereka. Dia dibunuh oleh 

saudara laki-laki istrinya pada tahun 561 H. Cucunya yang bernama Jalaluddin 

Hassan memberantas kemungkaran yang diajarkan oleh Ahund Hassan. Kepada 

khalifah yang memerintah pada saat itu, dia menegaskan bahwa dirinya yaitu  

pengikut faham Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dia mengumpulkan artikel -artikel  yang 

memuat ajaran sesat yang ditulis oleh Hassan Sabbah dan membakarnya. Dia 

meninggal dunia pada tahun 618 H. Dia digantikan oleh anaknya yang bernama 

Ahund Alauddin Muhammad. Dia yaitu  pemimpin ketujuh dari sekte Ismailiyyah. 

Namun, Ahund Alauddin memilih jalan sesat yang ditempuh oleh nenek moyangnya. 

Dia menghalalkan yang haram. Anaknya yang bernama Ahund Ruqnaddin 

membunuhnya di tempat tidur pada tahun 652 H. Dia mengangkat seorang ulama 

Syi'ah bernama Nasiruddin Tusi yang telah dipenjara ayahnya sebagai pembantunya. 

Akan namun , dia dieksekusi mati oleh saudara laki-laki Hulaghu di Transoxiana pada 

tahun 654 H. Hulaghu membasmi habis orang-orang  Ismaili, dan mengganti dengan 

orang-orang Islam lainnya. Sehingga pepatah, “Lepas dari kawan tak bertuhan untuk 

kawan jahat yang tidak beriman,” terulang lagi. 

artikel  ensiklopedik Kamus al-‘Alam mendefinisikan pengertian 

Ismailiyyah sebagai berikut : “Salah satu di antara  kelompok sesat yang menyusup   

ke dalam kelompok Syi'ah. Mereka dinamakan demikian sebab  mereka mengakui 

Ismail, -putra tertua dari Imam Ja’far Shadiq-, yang telah meninggal sebagai Imam 

agung terakhir mereka. Menurut keyainan mereka masih hidup. Dalam hal ini 

mereka mengikuti konsep Ibn Saba’. Mereka mempercayai adanya reinkarnasi. 

Mereka menghalalkan yang haram. Mereka senantiasa melakukan berbagai macam 

pelanggaran moral tanpa malu sedikit pun. Sekte Qaramitah yang banyak melakukan 

pembunuhan terhadap kaum muslimin, Hassan Sabbah dan sekte Fatimiyah yang 

berupaya menghancurkan Islam di Mesir, mereka semua termasuk sekte Ismailiyyah. 

Di antara mereka ada  kelompok yang sangat ekstrim yaitu orang-orang Druz dan 

Hurufi. Mereka pada dasarnya merupakan kelanjutan dari sekte Ismailiyyah.” Di 

dalam artikel  berjudul al-Munjid mereka menyebut diri mereka sebagai kaum Alawi 

(Alevi). 

Sekte Hurufi menganggap bahwa mereka yaitu  bagian dari persatuan 

Muhammad-Ali. Konsep persatuan ini  pada dasarnya tidak mempengaruhi 

kedudukan para shahabat Nabi saw. dalam pandangan Al Qur'an al-Karim maupun al 

hadits. Ketiga khalifah Nabi yang telah diberi kabar gembira dengan surga dan para 

mujahidin yang telah mendakwahkan Islam ke tiga benua tidak termasuk dalam 

pengertian konsep persatuan ini . Akan namun , si penulis ini  mengingkari 

dan mengkhianati kemunafikan dirinya dengan meggunakan istilah ini . Dia 

menyerang Sayidina Ali ra. yang sangat mencintai ketiga khalifah Rasul saw. 

Bahkan sebagaimana kita ketahui, Ali mencinta semua shahabat Nabi saw. tanpa 

pengecualian. Di dalam khutbah-khutbah dan percakapan-percakapan yang beliau 

sampaikan, beliau mengakui, memuji dan menyanjung mereka sebagai mukmin-

mukmin sejati. Seseorang yang terhormat yang menyebut dirinya sebagai pengikut 

Alawi seharusnya melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Imam Ali ra. Mereka 

mengatakan bahwa mereka yaitu  pengikut Ahlul Bayt. Mereka memakai  nama 

Alawi yang agung itu yang dicintai baik oleh golongan Sunni maupun Alawi sendiri 

di negeri kita Turki, pent.), sebagai kedok untuk menutupi identitas diri mereka 

sendiri. Akan namun , semua tulisan dan prilaku mereka menunjukkan bahwa mereka 

bukanlah golongan Alawi yang sebenarnya. Kitab Tuhfah, -ditulis pada saat itu-, 

memberikan informasi yang  membuka tujuan-tujuan terselubung mereka :  

1. Di bawah pra-naskah mengenai konsep persatuan Muhammad-Ali, 

orang-orang Hurufi berpendapat bahwa Rasulullah saw. sama dengan Ali ra.  

2. Mereka berpendapat, “Barang siapa mencintai  Sayidina  Ali ra., dia 

akan masuk surga meskipun dirinya seorang Yahudi, Kristen atau politeis. Dan 

sebaliknya, barang siapa mencintai para shahabat Nabi, dia akan masuk neraka 

meskipun dia termasuk ahli ibadah dan pengikut Ahlul Bayt.” 

3. Mereka berpendapat, “Barang siapa mencintai Imam Ali ra., maka 

perbuatan dosa yang dilakukannya tidak akan membahayakan dirinya.” 

4. Mereka menyebut golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan 

sebutan Ummat al-Mal’unah (yang dikutuk Allah swt.), bukan Ummat al-Marhamah 

(Ummat yang disayangi Allah swt.). 

5. Mereka mengingkari banyak ayat Al Qur'an. Menurut mereka 

Sayidina Utsman ra. telah merubah Al Qur’an.  

6. Menurut mereka, mengutuk Sayidina Umar ra. lebih utama 

pahalanya dari pada berdzikir atau membaca Al Qur'an al-Karim. 

7. Menurut mereka mengutuk para shahabat Nabi dan istri-istri beliau 

termasuk ibadah. Mereka berpendapat, “Wajib hukumnya mengutuk mereka setiap 

hari.” 

8. Mereka berpendapat, “Mengutuk Sayidina Abu Bakar atau Umar 

sekali, sama dengan ibadah tujuh puluh kali.” 

9. Menurut pendapat mereka bahwa Sayidah Ruqayyah dan Ummu 

Kultsum bukanlah putri-putri Nabi saw. sebab  mereka telah dinikahi oleh Sayidina 

Utsman ra. 

10. Mereka berpendapat bahwa Sayidina Abu Bakar, Umar dan 

Utsman “yaitu  orang-orang munafik”. Oleh sebab  itu, mereka mengingkari hadits 

yang memuji ketiga khalifah Nabi ini . Hadits-hadits ini  ditulis disertai 

argumentasi yang mereka ajukan ini  di dalam kitab Izalat al-Hafa yang ditulis 

oleh Waliyullah Dahlawi.     

Orang ini  telah merubah perintah Allah swt. dan termasuk kafir. Demikian juga, 

penulis majalah di atas yang hanya mengutip bagian permulaan ayat dengan 

menyembunyikan fakta bahwa baik Sayidina Mu'awiyah maupun Amr Ibni ‘Ash 

termasuk golongan dari orang-orang  yang akan masuk surga. 

Selanjutnya dia mengatakan bahwa, “Abu Sufyan, -suami Hindun dan 

ayah Mu'awiyah-, yaitu  pemimpin orang-orang kafir.” Di sini nampaknya dia lupa 

bahwa pada saat itu Abbas, -paman Rasulullah saw. dari pihak ayah-, juga termasuk 

orang yang belum beriman. Bahkan Abbas yaitu   salah seorang  komandan tentara 

yang ikut memerangi Rasulullah saw. pada Perang Suci Badar. saat  ditawan, dia 

menyombongkan diri di hadapan Sayidina Ali ra. bahwa mereka yaitu  orang-orang  

yang telah memperbaiki Masjid al-Haram, membuat kain penutup Ka’bah dan 

menyediakan air untuk  jamaah haji. Atas kejadian ini , Allah swt. menurunkan  

ayat yang artinya, “Orang-orang kafir yang  memperbaiki masjid tidak akan diterima 

amalnya. Kami akan membinasakan amal yang mereka banggakan dan (Kami) akan 

memasukkan mereka ke neraka.” Itulah jawaban yang diterima oleh Abbas pada saat  

itu. Namun, selanjutnya Allah swt. menurunkan ayat yang artinya, “Mereka yang 

beriman, melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah dan melaksanakan jihad sebab  

Allah, bagi mereka derajat yang amat tinggi. Aku akan menyampaikan berita 

gembira berupa rahmat-Ku, ridlaku-Ku dan taman-taman surga-Ku dan mereka 

akan memperoleh kenikmatan abadi di surga.”  lalu  Abbas dan Abu Sufyan 

masuk Islam. Mereka melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah pada saat 

penaklukan kota Mekkah (Fath Makkah). Dalam Perang Suci Thaif, Abu Sufyan 

kehilangan matanya yang sebelah. Rasulullah saw. menyampaikan kabar gembira 

kepadanya bahwa dia akan masuk surga. Di dalam Perang Suci Yarmuk yang terjadi 

pada masa kekhalifahan Abu Bakar ra., dia kehilangan matanya yang sebelah lagi. 

Tidak lama lalu  Abu Sufyan menemui ajalnya sebagai seorang syahid. 

“Di dalam Perang Shiffin, ada  tujuh puluh ribu orang dari masing-

masing pihak yang terbunuh. Dua puluh lima ribu di antaranya yaitu  mereka yang 

mendukung Ali al-Murtadla. Siapakah sesungguhnya yang menjadi pemicu dari 

perang dahsyat ini ,” tanya dia (penulis majalah ini , pent.). 

 Kami telah menerangkan secara rinci pada bagian ke enam belas dalam 

bentuk terjemahan yang dikutip dari salah satu bagian (bab) artikel  Tuhfah. Di dalam 

bagian ini  dijelaskan bahwa pemicu perang ini  yaitu  provokasi yang 

dilancarkan oleh Abdullah bin Saba’ dan sekelompok orang zindiq. Sebagaimana 

telah disebutkan di atas, mereka disebut golongan Saba’iyyah. Meskipun demikian, 

golongan Saba’iyyah ini  tetap mengklaim bahwa yang bersalah yaitu  Ibnu 

Saba’. Menurut mereka, dia-lah yang telah melakukan tindakan makar terhadap 

Mu'awiyah sehingga ummat Islam terpecah ke dalam kelompok-kelompok. 

“Thalhah dan Zubeir yaitu  dua orang shahabat Nabi yang berpihak 

kepada Aisyah Shiddiqah dalam Perang Unta. Mereka berdua menarik kembali 

ijtihadnya yang dipandangnya keliru. Mereka berdua mundur dari medan 

pertempuran,” kata dia. 

Thalhah dan Zubeir yaitu  dua orang shahabat Nabi yang telah diberi 

kabar gembira akan masuk surga. Mereka tidak pernah berijtihad memerangi 

Sayidina Ali ra. Musuh-musuh Islam telah menghina dua shahabat Nabi ini  

yang sangat dicintai beliau. Seperti dilaporkan dalam sejarah, bahwa pada saat 

perang sedang berlangsung, Sayidina Ali ra. menemui mereka. Beliau 

memberitahukan kepada keduanya bahwa dirinya sekali-kali tidak  akan memerangi 

kaum muslimin. Lalu mereka sadar bahwa mereka telah dihasut oleh orang-orang 

Yahudi. Mereka menarik diri dari medan peperangan. 

“Menjelang ajalnya, Thalhah mengaku bahwa dirinya yaitu  pengikut 

Ali al-Murtadla. Dia berkata kepada Ali ra., ‘Ulurkan tangan Anda! Saya akan 

membaiat Anda,” kata dia. 

Sayidah Aisyah dan para pengikutnya yang berada di Bashrah tidak 

bermaksud memerangi Sayidina Ali ra. Mereka datang ke sana untuk membuat 

perjanjian dengan beliau dan menyampaikan baiat kepadanya serta berupaya 

mengakhiri kesalahpahaman di antara mereka. Di dalam artikel  Qishas al-Anbiya 

halaman empat ratus delapan belas dijelaskan : “Sepeninggal Rasulullah saw.  

berkembang wacana tentang pengganti beliau sebagai khalifah. Pada saat itu,  Zubeir 

bin Awwan mengancam akan memerangi siapa saja yang menolak membaiat Ali ra. 

sebagai khalifah. Padahal sebagaimana kita ketahui, bahwa Zubeir, -salah satu di 

antara sepuluh shahabat Nabi yang telah diberi kabar gembira akan masuk surga-, 

pada saat itu juga menjadi pendukung Sayidah Aisyah Shiddiqah menentang Ali ra.” 

Kutipan dari Qishas al-Anbiya ini  menegaskan bahwa para shahabat Nabi saw. 

yang ijtihadnya berbeda dengan ijtihad yang dilakukan oleh Ali ra. menyadari bahwa 

Ali ra. yaitu  figur yang dipandang paling layak memegang jabatan khalifah 

dibandingkan mereka sendiri. Kami telah menjelaskan di paragraf enam belas 

mengenai sebab musabab terjadinya Perang Jamal ini . Yaitu intrik dan 

provokasi yang dilakukan oleh orang Yahudi. Seorang mujtahid tidak akan dianggap 

berdosa disebabkan oleh kekeliruan ijtihadnya. Jika demikian, mengapa ijtihad yang 

telah diputuskan harus mereka ubah sendiri? 

“Al Qur'an  menyarankan, ‘Tetaplah tinggal di rumah kalian dan jangan 

kalian keluar. Janganlah kalian terlibat di dalam perang.’ sesudah  mengetahui ayat 

ini  Sayidah Aisyah baru menyadari akan kesalahannya,” kata dia. 

Jika ayat ini menjadi dasar hukum larangan keluar (rumah), tentu 

Rasulullah saw. tidak akan membawa para istri beliau menunaikan ibadah haji, 

umrah atau perang suci sesudah  ayat ini  diturunkan. Beliau juga akan melarang 

istri-istri beliau mengunjungi orang tua mereka, orang-orang sakit lainnya atau 

keluarga yang ditimpa musibah. Kenyataan-kenyataan ini  jelas sekali sangat 

bertentangan dengan penafsiran ayat yang dilakukan oleh si penulis majalah ini . 

Ayat Al Qur'an  (yang dimaksud) memerintahkan kepada kaum wanita  untuk 

tidak keluar rumah tanpa menutupi diri mereka. Ayat ini  sekali-kali tidak 

melarang mereka pergi keluar rumah sebab  adanya alasan-alasan yang dapat 

dibenarkan oleh agama, dengan syarat mereka wajib menutupi diri. Kita mengetahui, 

bahwa Sayidah Aisyah yaitu  salah seorang shahabat yang paling mulia di antara 

shahabat-shahabat Nabi. Suatu saat , para shahabat menyampaiakan saran kepada 

beliau agar pergi menuntut balas atas kematian Sayidina Utsman ra. sebagai khalifah 

yang sah. berdasar  keterangan yang ada  di dalam artikel -artikel  yang ditulis 

oleh orang-orang Syi'ah, bahwa pada masa kekhalifahan  Abu Bakar ra., Sayidina Ali 

ra. pernah menyuruh Sayidah Fatimah menaiki seekor binatang dalam sebuah 

perjalanan menuju Madinah. Pada masa pemerintahan khalifah kedua, -Umar bin 

Khaththab-, para shahabat menyertakan para istri Rasulullah saw. (zawjat al-

thahirah) dalam perjalanan menunaikan ibadah haji. 

“Rasulullah saw. pernah mengusap wajah Ammar bin Yasar sambil 

berkata, ‘Kamu akan dibunuh oleh sekelompok pemberontak.’ Riwayat ini 

menegaskan bahwa Mu'awiyah dan para pengikutnya yaitu  para pemberontak 

sebagaimana yang dimaksud oleh hadits ini . saat  Ammar terbunuh (syahid), 

mereka yang mengetahui riwayat ini  meninggalkan Mu'awiyah dan bergabung 

dengan Ali al-Murtadla. Pemberontak, pembangkang termasuk dalam kategori 

baghi,” kata dia. Selanjutnya dia menambahkan bahwa keterangan di atas dikutip 

dari kitab Qishas al-Anbiya. 

Kami telah mempelajari seluruh materi di dalam kitab Qishas al-Anbiya. 

Kitab ini  tidak menerangkan, mereka yang mengetahui kematian Ammar 

lalu  bergabung dengan Ali ra. Kitab ini  hanya menjelaskan, suasana 

perang semakin memanas. Sementara itu, di dalam tubuh pasukan Ali ra. mulai 

timbul perselisihan. berdasar  keterangan kitab Qishas al-Anbiya, hadits yang 

dikutip oleh penulis justru menegaskan bahwa Sayidina Mu'awiyah dan para 

shahabat  Nabi lainnya seperti Amr Ibni Ash bukanlah orang-orang kafir. Mereka 

bersama Rasulullah saw. melakukan jihad dalam rangka memerangi  orang-orang 

kafir. 

Di dalam Qishas al-Anbiya dijelaskan : Pada saat penaklukan Kota 

Mekkah, Rasulullah saw. mengirimkan sepucuk  surat  yang dikirimkan lewat Amr 

Ibni Ash untuk Ja’far, -Penguasa Amman. 

saat  warga  Thaif masuk Islam, Rasulullah saw. mengutus Abu 

Sufyan bin Harb ke sana untuk menghancurkan berhala Lat. Abu Sufyan dan putra-

putra beliau, -yaitu Yazid dan Mu'awiyah-, menjadi sekretaris-sekretaris Rasulullah 

saw. Khalid Ibn Zaid Aba Ayyub al-Anshari dan juga Amr Ibn Ash juga menjadi 

sekretaris Rasulullah saw. Amr Ibn Ash diangkat oleh Rasulullah sebagai komandan 

beliau. Beliau juga mengangkat Abu Sufyan menjadi gubernur Najran dan 

mengangkat putra beliau, -Yazid-, menjadi hakim di Taimah.  

saat  Rasulullah saw. wafat, Amr Ibn Ash sedang berada di Aman. 

Pada saat beliau tiba di Madinah, para shahabat menemui beliau. Mereka meminta 

beliau menceritakan pengalaman selama dalam perjalanan. Beliau berkata, “Saya 

menyaksikan orang-orang Arab yang tinggal di Aman hingga Madinah banyak yang 

murtad dan mereka akan memerangi kita.” sesudah  mendengar informasi dari beliau, 

Sayidina Abu Bakar ra. mengutus beberapa shahabat menemui mereka yang murtad.  

Beliau juga mengirimkan pasukan di bawah komando Amr Ibn Ash untuk 

memerangi warga  Huda’ah yang murtad. 

Pada masa pemerintahan Bani Sa’adah, Sayidina Amr Ibn Ash pernah 

ditugaskan mengumpulkan zakat dari suku Sa’ad, Huzaifah dan Uzrah. lalu  

beliau diangkat menjadi hakim di Aman. Beliau dijanjikan bahwa sepulang dari 

Madinah akan ditempatkan kembali pada kedudukan semula sebagai hakim. Akan 

namun , tatkala beliau pulang dari Aman, Khalifah mengutus beliau mengumpulkan 

zakat sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya. Pada saat jumlah orang yang 

murtad semakin banyak, Khalifah hendak mengangkat beliau menjadi Amir. 

Khalifah mengirim surat kepada beliau, “Saya akan menyerahkan tugasmu yang dulu 

yang pernah diucapkan oleh Rasulullah saw. Sekarang saya akan menugaskan Anda 

yang lebih bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.” Amr Ibn Ash menjawab 

surat Khalifah ini , “Saya yaitu  laksana salah satu dari panah Islam. Maka 

sesudah Allah, Tuan-lah yang berkewajiban melemparkan dan mengumpulkan 

kembali panah-panah ini . Lemparkan panah yang lebih kuat dan lebih tepat 

mengenai sasaran.” lalu  Khalifah mengangkat beliau menjadi Amir. Khalifah 

mengirim beliau ke Palestina melalui Eyla. Sementara itu, putra Abu Sufyan, -yiatu 

Yazid-, juga diangkat menjadi Amir. Yazid dikirim ke suatu daerah di sekitar 

Damaskus melalui jalur Balkah. sedang  putra Abu Sufyan lainnya, -Mu'awiyah-, 

diangkat menjadi Amir untuk masyarakat lain yang berada di bawah kekuasaan 

saudara beliau.  

Kaisar Heraklius pernah mengirimkan seratus ribu serdadu dan saudara 

sang Kaisar sendiri untuk menghadapi pasukan Amr Ibn Ash. Kaisar juga 

mengirimkan pasukan khusus di bawah komando seorang jendral bernama Yorghi 

untuk menghadapi pasukan Yazid. Kaisar sendiri tetap berada di kota Hums. Pada 

saat itu, Khalifah menginstruksikan agar pasukan Islam dikonsentrasikan di Yarmuk. 

Pasukan Bizantium telah bersiap-siap untuk menghadapi pasukan Islam. Sambil 

menunggu bantuan pasukan dari Khalifah, pasukan Islam mengambil posisi bertahan. 

lalu  Khalifah mengirim Khalid, -The Sword of Allah (Pedang Allah). Beliau 

meninggalkan Irak bersama sepuluh ribu pasukan untuk memperkuat barisan 

pasukan di bawah komando Amr Ibn Ash. Beliau sendiri yang memimpin pasukan 

dari Irak ini . sesudah  pertempuran dahsyat berkecamuk di Ajnadin, pasukan 

Bizantium mengalami kekalahan total. Di Yarmuk pertempuran sengit lain juga 

berlangsung antara dua ratus ribu pasukan dari Bizantium berhadapan dengan empat 

puluh enam ribu pasukan dari Islam dan seribu orang di antara mereka yaitu  

shahabat Nabi. Dan di antara seribu ini  ada  seratus pahlawan Perang Suci 

Badar. Sayidina Khalid diangkat sebagai wakil komandan perang. Amr Ibni Ash dan 

Syurahbil bertindak sebagai komandan sektor kanan. Sementara itu, Yazid bin Abi 

Sufyan dan Qa’qa bertindak sebagai komandan sektor kiri. Abu Sufyan bin Harb 

sendiri bertugas memberikan motivasi kepada para tentara. Perang ini  memakan 

korban begitu banyak. Seratus ribu orang pasukan Bizantium termasuk saudara 

Kaisar sendiri tewas. Sementara itu, Abu Sufyan kehilangan sebelah matanya sebab  

tertembus oleh anak panah. Dia menjadi buta.  

Di Yordan, Kekaisaran Bizantium mengerahkan delapan ribu pasukan. 

Dalam rangka menghadapi mereka, Khalid mengatur strategi dengan mengambil 

posisi di tengah. sedang  Amr bin Ash dan Abu Ubaidah mengambil posisi di dua 

sektor. Pasukan Bizantium berhasil dipaksa mundur. Sangat sedikit di antara mereka 

yang berhasil menyelamatkan diri. 

Pada masa kekhalifahan Umar al-Faruq, pasukan Islam berhasil 

mengepung Damaskus. Salah satu pintu gerbang kota ini  berhasil diduduki oleh 

Khalid bin Walid. Sementara itu, pintu gerbang yang lainnya berhasil dikuasai oleh 

Amr Ibn Ash, dan pintu gerbang yang lainnya lagi berhasil direbut oleh Yazid bin 

Abi Sufyan. Lalu Yazid mengangkat saudaranya sebagai komandan. Beliau berhasil 

menguasai kota Saidah (Sidon) dan Beirut. Sementara itu, Amr Ibn Ash berhasil 

menaklukkan Palestina. Sebagaimana sejarah mencatat, beliau yaitu  komandan 

pasukan di Palestina. Amirul Mukminin Umar al-Faruq secara berkala mengirimkan 

bantuan pasukan kepada Amr Ibn Ash. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Amr Ibn 

Ash sangat terkenal sebagai seorang administrator yang ulung dan jenius. Beliau 

mengirimkan pasukannya menuju ke Yerusalem dan Ramlah. Semetara itu, 

Mu'awiyah berhasil mengepung Qaisariyah. Kota ini  dijaga ketat oleh pasukan 

lawan yang jumlahnya besar sekali. Mereka mulai menyerang pasukan di bawah 

komando Mu’awiyah yang mengepung kota ini . Mu’awiyah berhasil 

mematahkan serangan mereka. Pada saat itu, Amr Ibni ‘Ash sedang bertempur 

menghadapi pasukan di bawah komando Wakil Komandan Pasukan Bizantum. 

Beliau berhasil mengusir mereka. Beliau juga berhasil menaklukkan kota Ghazza dan 

Nablus. Dan pada saat yang sama, Khalifah Umar al-Faruq berangkat menuju 

Yerusalem. Untuk sementara waktu, beliau menyerahkan jabatan kekhalifahan 

kepada Sayidina Ali ra. Di Yerusalem, Khalifah Umar disambut oleh Khalid, Amr 

Ibn Ash dan Syurahbil. Mereka saling berpelukan. Pasukan Bizantium menyerahkan 

Yerusalem kepada Khalifah Umar. Sementara itu, harta rampasan perang yang 

diperoleh dari Iran diangkut ke Madinah oleh Ziyad bin Abih. Dia melaporkan 

kepada Khalifah pertempuran-pertempuran yang terjadi di Iran.  

Khalifah Umar mengangkat Yazid menjadi gubernur di Damaskus. 

Gubernur Damaskus itu meninggal dunia akibat serangan penyakit. lalu  

Khalifah mengangkat saudara Yazid, -Mu'awiyah bin Abi Sufyan-, menjadi gubernur 

Damaskus menggantikan posisi beliau. Demikian pula, Abu Ubaidah, -Komandan di 

Siria-, meninggal dunia akibat serangan penyakit. Posisi beliau digantikan oleh 

Mu’adz bin Jabal. saat  Amr Ibn Ash menjabat sebagai Wakil Komandan, beliau 

memerintahkan kepada seluruh rakyat mengungsi ke gunung untuk menghindari 

wabah penyakit ini . Amr Ibn Ash pernah menjadi Komandan dalam sebuah 

ekspedisi militer ke Mesir. Beliau berhasil menghancurkan pasukan Bizantium 

sesudah  bertempur selama satu bulan. Pasukan Islam ini  berhasil memasuki 

Mesir. Pada saat itu, Kaisar Heraklius telah menyiapkan pasukan dalam jumlah 

sangat besar. Mereka bergerak mendekati pasukan di bawah komando Amr Ibn Ash. 

Namu, di dalam perjalanan ajal menjemput sang Kaisar. Amr Ibn Ash berhasil 

menaklukkan Alexandria sesudah  melalui pertempuran yang berlangsung selama tiga 

bulan. lalu  beliau bergerak menuju Trablus (Tripoli). Di sana beliau berhasil 

menaklukkan daerah ini  sesudah  melalui peperangan selama satu bulan.  

Sejarah mencatat bahwa, saat  Umar al-Faruq meninggal dunia, putra 

beliau, -Ubaidullah-, membunuh Hurmuzan, -seorang bekas Raja Persia. Ubaidullah 

mengira bahwa dia yaitu   pembunuh bapaknya. Dalam kasus ini ,  Ali bin Abi 

Thalib ra. berpendapat,  bahwa Ubaidullah harus dibunuh.   saat  itu, Amr Ibn Ash, 

-Gubernur Mesir-, yang sedang menjalani masa cuti menolak pendapat Ali ra. 

ini . Beliau berpendapat, “Apakah dipandang adil membunuh anak sesudah 

bapaknya dibunuh dalam jangka waktu yang begitu pendek?” Pada saat itu yang 

menjadi khalifah yaitu  Utsman bin Affan ra. Sebagai Khalifah, beliau sepakat 

dengan pendapat yang disampaikan oleh Amr Ibn Ash. Oleh sebab  itu, beliau 

memperingan hukuman Ubaidullah menjadi hukuman denda (diyat, pent.), yaitu 

membayar denda yang diambil dari harta kekayaannya, sebagai ganti hukuman 

bunuh (qishas, pent.). Meskipun hal ini  memang menyalahi kesepakatan ijtihad.  

saat  menjadi gubernur Damaskus, Mu’awiyah melancarkan 

serangkaian perang suci di Asia Kecil sampai ke kota Amuriyyah. Pada saat itu, 

Khalifah Utsman bin Affan memecat Amr Ibn Ash dari jabatan gubernur Mesir. 

Khalifah merencanakan melakukan infasi ke Istanbul melalui jalur Andalusia 

(Spanyol). Beliau mendaratkan pasukan di Andalusia. Mu'awiyah, -Komandan 

Pasukan di Damaskus-, mengirimkan kapal-kapal yang mengangkut pasukan menuju 

Cyprus. Pasukan ini , -yang diperkuat oleh pasukan yang dikirim dari Mesir 

sebagai pasukan cadangan-, berhasil menaklukkan pulau ini  sesudah  melalui 

pertempuran yang memakan waktu cukup lama. 

Sebagaimana kita ketahui, Konstantin III, -Kaisar Bizantium di Istanbul-, 

naik tahta pada tahun 47 H/668 M. Beliau meninggal dunia pada tahun 66 H/685 M. 

Sebelum wafat, sang Kaisar pernah melakukan ekspedisi laut ke Mediterania dengan 

mengorganisir armada dalam jumlah besar. Sementara itu, Mu'awiyah dan Abdullah, 

-Gubernur Mesir yang menggantikan Amr Ibn Ash-, juga melakukan persiapan 

armada laut dalam rangka menyambut pasukan Kaisar ini .  Pertempuran laut 

yang  hebat ini  berakhir dengan kemenangan di pihak  pasukan Islam.  Pada 

tahun 33 hijriah, Mu'awiyah,-Gubernur Damaskus saat  itu-, melakukan ekspedisi 

melalui teritorial Bizantium hingga tiba di Bhosporus. Beliau, sebagaimana kita 

ketahui, yaitu  seorang  shahabat agung yang menjadi sekretaris Nabi saw.  

Sejarah Islam menulis, bahwa Ali bin Abi Thalib yaitu  seorang mujahid 

pilih tanding yang bergelar singa Allah (asad Allah). Beliau mempertaruhkan 

hidupnya dalam memerangi musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya demi menegakkan 

Islam. Sejarah juga mencatat, bahwa Mu'awiyah yaitu  pahlawan Islam yang gagah 

berani mengobarkan jihad demi kejayaan Islam. Beliau bertempur dan 

menghancurkan pasukan Bizantium sehingga Islam memancarkan cahaya gemilang 

baik di Barat maupun di Timur. 

Akan namun , sejarah Islam juga merekam adanya seorang manusia 

Yahudi yang telah merubah namanya menjadi Abdullah bin Saba’. Dia telah 

menyesatkan warga  Mesir. Dia telah memprovokasi rakyat agar melakukan 

pemberontakan. Ibnu Saba’ juga menciptakan ajaran sesat dengan mengatakan 

bahwa kekhalifahan pada hakikatnya yaitu  hak Imam Ali ra. Seandainya Amr Ibn 

Ash pada saat itu masih menjadi gubernur Mesir, tentu beliau sekali-kali tidak akan 

membiarkan fitnah yang disebarkan oleh Ibnu Saba’ ini  berkembang. 

Sebagaimana kita maklumi, bahwa beberapa orang Kufah menyerang gubernur 

mereka dengan mencari-cari berbagai alasan. Mereka mulai memfitnah Khalifah 

Utsman bin Affan. Sehingga beliau mengasingkan orang-orang ini  ke 

Damaskus dan memerintahkan kepada Mu'awiyah selaku gubernur di sana untuk 

“memperingatkan mereka.” Mu'awiyah memuji suku Quraisy di hadapan orang-

orang Kufah ini . Beliau berkata, “Rasulullah saw. telah mengangkat saya 

menjadi sekertaris beliau. lalu , ketiga Khalifah beliau telah mengangkat saya 

menjadi gubernur. Mereka mencintai saya.” Berbeda dengan Amr Ibn Ash. Beliau 

berkata, “Wahai Khalifah! Tuan dan Bani Umayyah telah dipercaya oleh rakyat. 

Tuan sangat mencintai mereka. Janganlah Tuan memakai  kekuasaan untuk 

menindas maupun menekan rakyat!” 

Sementara itu, Ibni Saba’ yang berada di Mesir melakukan kontak 

terselubung dengan para pengikutnya yang berada di propinsi-propinsi lain. Mereka 

memprovokasi rakyat dengan mengatakan, “Gubernur akan menindas rakyat.” 

Akibat provokasi ini , fitnah merebak di mana-mana. Khalifah menerima 

keluhan-keluhan tentang para gubernur yang berada di berbagai propinsi. Sehingga 

sang Khalifah pun mengundang mereka dan meminta penjelasan sebab-musabab 

munculnya keluhan-keluhan rakyat ini . Pada kesempatan ini , Mu'awiyah 

berkata, “Tuan mengangkat saya menjadi gubernur. Saya juga mengangkat banyak 

pegawai yang berasal dari rakyat saya. Tuan akan memperoleh keuntungan dan 

manfaat dari (kerja sama) mereka. Mereka bekerja keras menciptakan negeri ini lebih 

baik.” Sa’id juga turut berbicara, “Semua desas-desus itu yaitu  fitnah. Rumor itu 

sengaja disebarluaskan secara sembunyi-sembunyi. Akan namun , celakanya rakyat 

terlanjur mempercayainya. Orang-orang yang melakukan perbuatan ini harus kita 

cari lalu kita bunuh mereka.” Amr Ibn Ash berkata, “Tuan telah bertindak terlalu 

lunak. Tuan seharusnya bertindak lebih tegas, dan jika memang diperlukan Tuan 

harus bertindak lebih keras.”  

sesudah  mendengar laporan dari para gubernur ini , Khalifah 

berangkat menuju Madinah bersama mereka. Beliau menemui Ali, Thalhah dan 

Zubeir. (saat  mereka bertemu), Mu'awiyah memulai berbicara, “Kalian yaitu  

golongan shahabat Rasulullah saw. yang paling agung. Dan kalian telah memilih 

Utsman bin Affan ra. menjadi Khalifah. Beliau sekarang telah berusia lanjut. Oleh 

sebab nya, kalian jangan terlalu jauh melangkah (terburu-buru).” Dengan perasaan 

sedih mendengar kalimat-kalimat ini , Sayidina Ali ra. berkata, “Bersabarlah dan 

tenanglah.” Mereka mengakhiri pertemuan itu tanpa hasil sesuai yang diharapkan. 

lalu , Mu'awiyah mengundang Khalifah ke Damaskus. Namun, beliau 

menolaknya. Mu'awiyah mengajukan permohonan kepada Khalifah, “Ijinkan saya 

mengirimkan satu detasemen pasukan untuk melindungi Tuan.” Khalifah menjawab, 

“Sekali-kali saya tidak berniat menindas para tetangga Rasulullah saw.” Mendengar 

jawaban ini , akhirnya Mu’awiyah mengingatkan Khalifah, “Saya 

mengkhawatirkan keselamatan Tuan, jangan-jangan mereka merencanakan 

membunuh Tuan.” Khalifah menjawab, “Segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh 

Allah pasti akan terjadi.” Mendengar jawaban ini , Mu'awiyah pun pulang. Akan 

namun , beliau sempat menemui Ali, Thalhah, Zubeir dan shahabat-shahabat lainnya. 

Beliau menyerahkan keselamatan Khalifah kepada mereka. Beliau segera berpamitan 

untuk kembali ke Damaskus. saat  hendak berangkat, beliau berkata, “Sayidina 

Abu Bakar sama sekali tidak menginginkan dunia. Sehingga dunia pun tidak hendak 

mencoba mendekati beliau. Namun, dunia mencoba mendekati Sayidina Umar. 

Beliau menolaknya. Dan Sayidina Utsman bin Affan mau menerima sedikit dari 

bagian dunia itu. Sementara kita ; kita telah tenggelam di dalam dunia.” 

Para pengikut Ibnu Saba di Mesir dan di Kufah telah bersiap-siap menuju 

ke Madinah. Mereka berdalih akan menunaikan ibadah haji. sesudah  tiba di Madinah, 

mereka mendengar berita bahwa Khalifah Utsman ra. telah meninggal dunia sebab  

dibunuh. Pasukan pengawal yang dikirim dari Damaskus dan Kufah datang 

terlambat. 

Kutipan keterangan di atas kami ambil dari edisi berjudul Perang Dunia 

Pertama dari artikel  Qishas al-Anbiya. Kita dapat melihat berdasar  keterangan di 

atas bagaimana kadar keimanan dan keislaman yang dimiliki oleh Mu'awiyah  dan 

Amr Ibn Ash. Kita juga bisa mengetahui tingkat kedudukan mereka berdua di antara 

para shahabat Nabi saw. Betapa besar pengabdian yang telah mereka sumbangkan 

untuk Islam. Keberanian dan keperkasaan mereka di dalam menumpas orang-orang 

kafir sama sekali tidak disangsikan lagi. Meskipun kita tidak dapat menutup mata, 

bahwa artikel  Qishas al-Anbiya ini  tidak bebas dari pengaruh kisah-kisah fiktif 

sejarah yang ditulis oleh ahli-ahli sejarah dari Bani Abbasiyah yang diwarnai oleh 

sikap prejudice dan sangat tendensius menjelekkan Bani Umayyah dan menjilat 

pemerintah mereka  sendiri. Akan namun , artikel  ini  menegaskan sebuah 

kebenaran informasi yang telah kami jelaskan di atas. Di dalam menjelaskan Perang 

Unta dan Shiffin, artikel  itu juga memberikan keterangan tambahan berbagai fitnah di 

dalam sejarah Bani Abbasiyah yang kontradiktif dengan kemuliaan Mu’awiyah dan 

Amr Ibn Ash serta Abu Sufyan. Namun, keterangan selektif yang telah kami kutip di 

atas sangat memadai bagi mereka yang hendak melakukan analisa secara obyektif 

dalam menilai kemuliaan dan keagungan para shahabat Nabi saw. sehingga 

menyadari bahwa tuduhan-tuduhan yang ada  di dalam artikel  Qishas al-Anbiya  

yang bernada merendahkan martabat mereka hanyalah fitnah dan palsu belaka. 

“Mu'awiyah bin Hadidz  yaitu  seorang shahabat Nabi saw. Dia menjadi 

salah seorang komandan yang dikirim oleh Mu'awiyah ke Mesir bersama Amr Ibn 

Ash. Dia telah membunuh Muhammad bin Abi Bakar salah seorang utusan Ali al-

Murtadla. Dia melemparkan mayatnya ke bangkai sekeor keledai lalu membakarnya. 

Tidak seorang pun sanggup mengampuni perbuatan biadab ini ,” kata dia. Lagi-

lagi dia menambahkan, bahwa informasi ini  dikutip dari kitab Raudlat al-

Abrar. 

Berkaitan dengan keterangan di atas kitab Qishas al-Anbiya memberi 

penjelasan sebagai berikut : Muhammad bin Abi Bakar, -seorang gubenur Mesir 

yang diangkat oleh Khalifah Ali ra.-, yaitu  seorang gubernur yang telah menindas 

rakyat. Oleh sebab  itu, rakyat memberontaknya. sedang  Mu’awiyah bin Hadidz, 

-salah seorang shahabat Nabi-, sebagaimana kita ketahui, saat  peristiwa ini  

terjadi, beliau sedang berada di Mesir. Beliau sedang menuntut balas atas kematian 

Sayidina Utsman bin Affan ra. Bersama rakyat beliau berhasil menghimpun kekuatan 

melawan Muhammad bin Abi Bakar. Dalam rangka meredam pemberontakan yang 

terjadi di sana, Mu'awiyah mengirim Amr Ibni Ash. Namun, Muhammad bin Abi 

Bakar justru melakukan perlawanan. lalu , Mu'awiyah mengirim Mu’awiyah 

bin Hadidz untuk memperkuat pasukan yang berada di bawah komando Amr Ibn 

Ash. Huru-hara di Mesir dapat dipadamkan. Sementara Muhammad bin Abi Bakar 

berhasil melarikan diri. Akan namun , Mu'awiyah bin Hadidz berhasil menangkapnya 

lalu membunuhnya. Beliau melemparkan mayatnya ke bangkai seekor keledai dan 

membakarnya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Muhammad bin Abi Bakar pernah 

melakukan konspirasi dengan para pemberontak dari Mesir menuju ke Madinah dan 

memprovokasi rakyat agar melawan Khalifah Utsman bin Affan di Medinah. Dia 

termasuk salah seorang pemberontak yang mengepung rumah Khalifah Utsman bin 

Affan ra. Dia juga yang melukai Hasan bin Ali, -salah seoarng di antara orang yang 

turut menjaga rumah Khalifah pada saat pengepungan itu terjadi-, dengan anak 

panah. sesudah  mengetahui tubuh Hasan berlumuran darah akibat luka panahnya 

ini , dia panik. Dia berkata kepada kawan-kawannya, “Seandainya Bani Hasyim 

mengetahui hal ini, mereka pasti akan menyerang kita,  suasana akan semakin kacau. 

Oleh sebab  itu, kita harus menempuh jalan pintas.” Bersama dua pemberontak 

lainnya, mereka memanjat tembok pembatas rumah Khalifah dan berhasil masuk ke 

kamar beliau. Bahkan dia yaitu  orang pertama yang memasuki kamar Khalifah. 

lalu  dia menarik janggut Khalifah sambil berkata, ‘Mu'awiyah tidak dapat 

menyelamatkan Anda.’ Pada saat itu, Khalifah sedang membaca Al Qur'an. Beliau 

menatap wajah Muhammad bin Abi Bakar sambil berkata, ‘Seandainya ayahmu 

mengetahui perbuatanmu ini, betapa malunya dia’. Mendengar ucapan beliau, nyalii 

dia menjadi kecil dan pergi meninggalkan kamar ini . Namun, kawan-kawan dia 

lainnya tetap merangsek kamar Khalifah dan membunuh beliau.” Sesungguhnya 

hukuman yang diterima oleh Muhammad bin Abi Bakar disebabkan dia menjadi 

penyebab dari kematian Khalifah. Penulis di atas menyesalkan pembakaran atas diri 

Muhammad bin Abi Bakar dan mengaitkan peristiwa ini  dengan tindakan yang 

dilakukan oleh ‘anak-anak muda’ (Mu'awiyah bin Hadidz dan Amr Ibn Ash, pent.). 

Akan namun , apakah penulis itu juga bersikap fair dan obyektif dalam memaparkan 

fakta sejarah? Betapa banyak Khalifah Bani Umayyah yang dibakar oleh orang-

orang Abbasiyah. Dan betapa banyak orang Hurufi telah membakar ulama-ulama 

Ahlus Sunnah wal Jamaah, -seperti Syirwansyah dan Gubernur Bagdad Baqir Pasya-, 

keduanya dibakar hidup-hidup. Betapa mereka telah menggali tulang-tulang mayat 

Sayidina Baedlawi lalu  membakarnya. Fakta-fakta sejarah ini  akan lebih 

memudahkan menilai siapa sesungguhnya yang lebih biadab dan zalim?  

Sejarah mencatat, bahwa dalam rangka memulihkan situasi dan kondisi 

di Mesir, Mu'awiyah mengangkat Amr Ibn Ash menjadi gubernur di provinsi 

ini . Sebelumnya, Amr Ibn Ash pernah memegang jabatan ini  selama 

empat tahun pada masa Khalifah  Umar bin Khaththab. lalu  empat tahun 

berikutnya  pada masa Khalifah Utsman bin Affan. saat  Amr Ibn Ash meninggal 

dunia pada tahun empat puluh tiga hijriah, Mu'awiyah mengangkat putra beliau 

bernama Abdullah menjadi gubernur menggantikan ayahnya. Dua tahun lalu , 

Mu'awiyah memberhentikan beliau dan mengangkat Mu'awiyah  bin Hadidz sebagai 

gubernur di Mesir. Pada tahun lima puluh hijriah, Mu’awiyah juga memberhentikan 

Mu'awiyah bin Hadidz dan mengangkat Maslamah, -salah seorang staff beliau dan 

juga seorang shahabat  Nabi-, menjadi gubernur Mesir dan Afrika. Mu'awiyah bin 

Hadidz wafat pada tahun tujuh puluh tiga hijriah. 

“Mu'awiyah mengirimkan pasukan di bawah komando Busr bin Artad ke 

Haramain (Kota Suci Mekkah-Madinah dan daerah di sekitarnya). Beliau 

memerintahkan agar kaum wanita  dan anak-anak turut membantu perang. Dalam 

hal ini, cucu-cucu Sayidina Abbas yaitu Abdurrahman (5 tahun) dan Qusam (6 

tahun) ikut terbunuh. Mereka berdua dibunuh di depan mata ibundanya, -Aisyah. 

Pembunuhan yang dilakukan secara biadab ini  menjadikan Aisyah gila. Dia 

berjalan keluyuran tak tentu arah dan tujuan tanpa mengenakan tutup kepala dan alas 

kaki sampai akhir hayatnya,” kata penulis itu. Lagi-lagi dia menambahkan, bahwa 

keterangannya ini  dikutip dari  kitab Al-Kamil dan Al-Bayan wa al-Tabyin. 

Dia selalu merujuk kepada kitab-kitab tertentu dengan tujuan untuk 

memperkuat pendapatnya sendiri. Akan namun , tindakannya ini  pada hakikatnya 

justru menyingkap aib dirinya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa kitab Al-Bayan wa 

al-Tabyin ditulis oleh seorang Mu’tazilah yang sangat antipati terhadap Ahlus 

Sunnah wal Jamaah.  

Berkaitan dengan penjelasan penulis di atas, Mukhtashar Tadzkir al- 

Qurtubi memberikan keterangan pada halaman seratus tiga puluh satu sebagai 

berikut : “sesudah  Mu'awiyah dipilih menjadi khalifah secara bulat oleh para juru 

runding, beliau mengirimkan Busr bin Artad Amiri bersama tiga ribu pasukan ke 

Hijaz untuk mengetahui respon masyarakat di sana. Tempat yang didatangi oleh Busr 

yaitu  Madinah. saat  itu, gubernur Madinah yaitu   Khalid Abi Ayub al-Anshari 

yang diangkat oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dia secara diam-diam pergi ke 

Kufah. Kepergiannya ke Kufah bertujuan untuk membicarakan kedudukannya 

sebagai gubernur dengan Sayidina Ali ra. Sementara itu, Busr menyampaikan pidato 

di atas mimbar, ‘Apa yang telah kalian lakukan terhadap Khalifah Utsman bin Affan 

pada saat saya melakukan bai’at di tempat ini? saat  itu, saya hendak memerangi 

kalian, andaikata Mu'awiyah tidak menghalangi saya.’ lalu  warga  Madinah 

yang dipimpin Jabir melakukan bai’at kepada Mu'awiyah. Selanjutnya Busr 

berangkat ke Mekkah untuk memastikan kesetiaan warga  Mekkah. Busr 

menegaskan, bahwa dirinya diutus Mu'awiyah untuk tidak membunuh siapa pun di 

antara warga  Mekkah maupun Madinah. lalu  dia pergi ke Yaman. Pada 

waktu itu, gubernur Yaman yaitu  Ubaidullah bin Abbas. Dia melarikan diri ke 

tempat di Kufah menemui Ali ra. Menurut keterangan para ahliu sejarah, sesudah  

Ubaidullah meninggalkan Yaman, Busr membunuh kedua putra beliau. Ali bin Abi 

Thalib mengirimkan dua ribu pasukan di bawah komando Haritsah bin Quddama ke 

Yaman untuk menghadapi Busr. [Menurut informasi sejarah, bahwa Busr bukanlah 

seorang  shahabat Rasulullah saw.] Haritsah menjadi gubernur di Yaman hingga Ali 

bin Abi Thalib wafat. Dia banyak membunuh rakyat. Pada saat Haritsah 

mengunjungi Madinah, Imam Abu Hurairah, -yang menjadi Amir Madinah-, 

menentangnya. Haritsah berkata, “Aku tidak segan membunuh si Bapak Kucing 

(julukan bagi Imam Abu Hurairah, pent.) jika aku menemukan dia.” Komandan yang 

diangkat oleh Ali ra. ini  berniat hendak membunuh shahabat yang sangat 

dicintai dan dimuliakan oleh Baginda Rasulullah saw. Beliau saw. telah memberi 

nama julukan (samaran) kepadanya dengan ‘Bapak Kucing’. Akan namun , sangatlah 

tidak adil dan obyektif jika mencaci Ali bin Abi Thalib ra. dan Mu'awiyah dengan 

mendasarkan pada perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan oleh para gubenur yang 

diangkat oleh mereka dan mendramatisir segala peristiwa yang  terjadi dengan cerita-

cerita bohong. 

“Mu'awiyah menginstruksikan (melalui surat) kepada para gubenur 

supaya mengutuk Ali al-Murtadla dan putra-putranya dalam khutbah-khutbah. 

Perbuatan tidak terpuji ini  dilarang oleh Umar bin Abdul Aziz. Kita mengetahui  

bahwa Hajir bin Adi, -salah seorang shahabat Nabi saw.-, dan salah seorang di antara 

tujuh shahabat Nabi yang gugur sebagai syuhada’ disebabkan dia menolak perbuatan 

tidak terpuji ini ,” kata dia. Dia juga merujuk kepada artikel  Aghani dan dua artikel  

syarah-nya yaitu Nahj al-Balaghah dan Aqd al-Farid yang ditulis oleh Abdulhadid 

sebagai sumber tulisannya.. 

artikel -artikel  yang digunakan oleh penulis majalah ini  sebagai sumber 

referensi yaitu  artikel -artikel  yang ditulis orang-orang Hurufi sebagaimana telah kami 

jelaskan sebelumnya di dalam terjemahan kitab Tuhfah. berdasar  informasi dari 

kitab Asma al-Muallifin disebutkan, bahwa penulis kitab Aghani yaitu Abul Faraj 

Ali bin Husein Isfahani termasuk seorang ahli bid’ah. Bahkan dia menyerang para 

shahabat Rasulullah saw. dan memaki mereka dengan kata-kata kotor di dalam 

artikel nya yang berjudul Muqatil Ali bin Abi Thalib. Kami telah menjelaskan di 

dalam paragraf kesepuluh, bahwa Ibni Abdulhadid yaitu  seorang Mu’tazili ekstrim 

yang fanatik. Memang patut disesalkan, bahwa kebohongan dan fitnah seperti itu 

telah mengotori kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama Sunni. Imam Muhammad 

Ma’tsum al-Faruqi, -seorang ulama besar Sunni dan pemuka para wali-, membantah 

fitnah-fitnah yang dilancarkan oleh mereka melalui argumentasi-argumentasi yang 

akurat dan sahih. Kami persilakan Anda membaca terjemahan bantahan beliau 

ini  di dalam artikel  kami bagian kedua. 

Barang siapa berpendapat, bahwa Mu'awiyah telah mencaci Ali ra. 

berarti dia telah menfitnah Mu'awiyah. Dan mencela Mu'awiyah yaitu  perbuatan 

yang dilarang. Memang kita tidak bisa mengingkari fakta sejarah, bahwa ada 

beberapa khalifah dari Bani Umayyah yang memerintahkan mencaci Ali bin Thalib. 

Namun, Mu'awiyah tidak dapat dipandang salah sebab  dirinya menjadi salah 

seorang khalifah dari Bani Umayyah. Orang-orang Hurufi mencaci ketiga khalifah 

Nabi saw., Mu'awiyah dan para pengikut Mu'awiyah. Mereka berpendapat, bahwa 

semua shahabat Nabi saw. yaitu  murtad. Mereka wajib dikutuk. Berbeda dengan 

orang Hurufi, golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah mewajibkan memuliakan para 

shahabat Nabi saw.  

Dalam sebuah kesempatan, Ali bin abi Thalib pernah membicarakan 

perihal Mu'awiyah dan para pengikutnya. Beliau berkata, “Saudara-saudara kita 

berbeda pendapat dengan kita. Namun demikian, mereka bukanlah orang kafir atau 

ahli maksiyat. Dan mereka telah menjalankan ijtihad mereka sendiri.” Pernyataan Ali 

bin Abi Thalib ini  membebaskan mereka dari sifat kekufuran dan kemaksiatan. 

Yang pasti, Islam tidak memerintahkan seseorang untuk mencaci orang lain. Bahkan 

Islam melarang mencaci perbuataan yang paling keji sekali pun yang dilakukan oleh 

orang-orang kafir. Mungkinkah shahabat Rasulullah saw. memakai  lidah 

mereka untuk mengutuki orang lain dari pada untuk berdoa yang dipanjatkan pada 

setiap akhir shalat lima waktu? Siapakah yang mempercayai kebohongan seperti itu? 

Seandainya mengutuk orang lain dianggap sebagai perbuatan baik dan 

termasuk amal ibadah, maka sesungguhnya Islam memerintahkan mengutuk setan, 

Abu Jahal, Abu Lahab dan orang-orang kafir Quraisy lainnya yang keras kepala yang 

telah melukai, menyiksa, dan bahkan menganiaya Rasulullah saw., menghalangi-

halangi dan mengingkari kebenaran Islam yang didakwahkannya. Jika mengutuk 

orang-orang yang menjadi musuh agama tidak dibenarkan, lalu apakah mengutuk 

sesama saudara muslim dipandang ibadah yang berpahala? Berkaitan dengan 

masalah ini, kita dapat mempelajari lebih rinci di dalam kitab Sa’adat al-Abadiyyah 

(bahasa Turki) pada pasal kedua puluh dua bagian ke dua. 

“Mu'awiyah memerintahkan membunuh Hasan ra. Pembunuhan itu 

dilakukan dengan jalan membujuk istrinya supaya dia meracun suaminya. Dia 

dijanjikan dengan imbalan intan permata,” kata dia.  

Di dalam paragraf kesepuluh, kami telah menyinggung masalah fitnah-

fitnah berkaitan dengan Mu’awiyah sebagaimana ditulis di dalam artikel  Sejarah al-

Tabari. Sebagaimana kita ketahui, Sejarah al-Tabari merupakan artikel  sejarah yang 

sangat penting. artikel  ini  ditulis oleh seorang ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah 

bernama Muhammad bin Jarir Thabari ra. yang wafat pada tahun 310 H. Kita tidak 

perlu terkecoh dengan seorang Hurufi yang memiliki kesamaan nama yang muncul 

lalu . Thabari Hurufi menulis sebuah ikhtisar dari kitab Sejarah al-Tabari 

dengan judul Tarikh al-Tabari (Sejarah Tabari). Adapun versi Sejarah Tabari yang 

ditulis dalam bahasa Turki yang ada sekarang merupakan terjemahan dari  ikhtisar 

ini . Versi asli dari artikel  ini  jauh lebih tebal.  

Sebagaimana telah kami jelaskan di paragraf yang kami terjemahkan dari 

kitab Tuhfah pada paragraf  kesepuluh, bahwa Muruj al-Dzahab merupakan artikel  

sejarah yang diwarnai oleh kepalsuan. Yang pasti artikel  ini  tidak diperlukan 

ummat Islam disebabkan content artikel  ini  mengotori ajaran Islam melalui 

kebohongan keji yang sangat kontradiktif dengan keutamaan Mu'awiyah ra. 

Di dalam salah satu ayat Al Qur’an surat al-Fath ditegaskan, “Shahabat-

shahabatmu saling menyayangi di antara mereka,  bersikap keras terhadap orang-

orang kafir.” Musuh-musuh Islam justru menyatakan, bahwa para shahabat Nabi 

saw. saling bermusuhan di antara mereka, dan saling mencelakakan. Sebagai orang 

Islam, kita wajib mengimani firman Allah swt. Oleh sebab  itu, kami yakin bahwa 

para shahabat Nabi saw. saling mencintai di antara sesama mereka. Sejarah 

menuturkan, bahwa berkaitan dengan pembunuhan Utsman bin Affan, mereka telah 

berijtihad untuk menentukan apakah diperlukan hukuman balasan terhadap para 

pembunuh Utsman ra. Meskipun hal ini  menjadi bagian dari persoalan agama. 

Dan ternyata mereka berbeda pendapat. Perbedaan ijtihad di kalangan ummat Islam 

tidak terjadi sekali itu saja. Perbedaan seperti itu juga pernah terjadi pada masa 

Rasulullah saw. Bahkan ijtihad para shahabat kadang-kadang tidak sejalan dengan 

ijtihad yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Perbedaan ijtihad seperti itu tidak

memicu  si pelaku ijtihad ini  dipandang berdosa. Sebaliknya, mereka akan 

memperoleh pahala. Beberapa kali ayat Al Qur'an