Syiah 9

 


menegaskan bahwa ijtihad yang 

tidak sejalan dengan ijithad yang dilakukan oleh Rasulullah saw. tidak dianggap 

dosa. Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk menyampaikan hasil 

pemikirannya. Lebih dari itu, Islam sesungguhnya merupakan sumber hak-hak azazi 

dan kebebasan manusia. Perbedaan yang pernah terjadi di kalangan shahabat Nabi 

berkisar pada persoalan ijtihad mengenai hukuman balasan. Allah dan Rasul-Nya 

serta orang yang berakal sehat tidak memandang perbedaan ini  sebagai sebuah 

dosa. Mereka memandang bahwa ijtihad merupakan sesuatu yang dipandang sah 

sebagai sebuah anugerah yang diberikan kepada manusia. Mereka tidak perlu 

bermusuhan hanya sebab  perbedaan ijtihad apalagi saling menyerang satu sama lain. 

Perbedaan ijtihad akan selalu terjadi. Dan hal ini  tidak menjadikan mereka 

saling menghujat satu sama lain.  

Meskipun sebagian anak cucu mereka yang tidak menyadari perbedaan 

ijtihad di kalangan orang tua mereka saling berselisih. Akan namun , orang tua mereka 

telah memperingatkan kepada mereka dan menghentikan perselisihan di antara 

mereka hanya sebab  persoalan sepele ini , perbedaan ijtihad. Fatka seperti ini 

juga terjadi pada orang-orang Syi'ah. Akan namun , musuh-musuh Islam dan orang-

orang zindiq ini  mencoba memaksa orang lain untuk mempercayai bahwa para  

shahabat Nabi saling memusuhi satu sama lainnya. Mereka ingin membentuk 

semacam opini ummat bahwa para shahabat Nabi yaitu  manusia yang memiliki 

perangai jelek, tidak terdidik dan tolol. Mereka menghantam reputasi dan keagungan 

shahabat-shahabat Nabi dalam rangka menghancurkan Islam. Kita menyadari bahwa 

Islam sendiri memuat ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para shahabat 

radliyallahu ‘anhum. Al Qur'an dan hadits Nabi yang kita miliki sekarang ini 

disampaikan (diriwayatkan) oleh para shahabat Nabi saw. Seluruh ajaran Islam yang 

bersumber dari Al Qur'an dan hadits Nabi saw., juga disampaikan melalui ucapan 

dan perbuatan mereka sebagai realitas kongkrit dari kedua sumber utama Islam 

ini . Sumber-sumber dan dokumen-dokumen pengetahuan keislaman bersumber 

dari keterangan-keterangan yang diriwayatkan oleh para shahabat  Nabi saw. Dengan 

demikian, pencemaran para shahabat akan memicu  penolakan dan setidaknya 

penurunan derajat terhadap segala yang mereka riwayatkan kepada kita, yaitu ajaran-

ajaran Islam. Padahal sebagaimana kita yakini, bahwa semua shahabat Nabi yaitu   

manusia yang memiliki kelebihan dan keutamaan derajat dibandingkan manusia 

lainnya selain para Nabi baik untuk masa lalu, sekarang maupun untuk masa depan. 

Untuk menjadi muslim sejati dan untuk mengetahui hakikat Islam, 

seseorang harus memperhatikan persoalan ini  di atas. Seseorang yang 

mengetahui keutamaan derajat dan kemuliaan Rasulullah saw. dan memahami makna  

kata ‘Rasulullah’ (Utusan Allah), pasti akan mudah memahami kenyataan bahwa 

beliau-lah yang telah mendidik para shahabat sehingga mereka pun pasti memiliki 

derajat yang utama dan mulia. 

Sayidina Ali ra., Mu'awiyah dan para shahabat Nabi lainnya, sekali-kali 

mereka tidak pernah menghujat satu sama lainnya. Di dalam Perang Unta dan 

Shiffin, mereka sepakat berdamai untuk menciptakan ketentraman dan keasatuan di 

kalangan ummat Islam. Mereka telah menyepakati hal ini . artikel -artikel  sejarah 

dan  kalam yang ditulis oleh para ulama Sunni menerangkan kesepakatan ini . 

Oleh sebab  itu, kita ummat Islam tidak sepatutnya membenarkan cerita-cerita palsu 

yang ditulis di dalam artikel  dan majalah yang diterbitkan oleh musuh-musuh Islam 

yang sama sekali tidak mengetahui persoalan agama. Pelacakan sejarah yang 

sungguh-sungguh justru akan menemukan fakta bahwa para shahabat Nabi tidak 

pernah melakukan pembunuhan di antara sesama mereka. Mereka akan sedih dan 

meneteskan air mata tatkala mendengar berita kematian salah seorang dari mereka.  

Kitab Qishas al-Anbiya (halaman seratus tujuh puluh)  menerangkan : 

Sebagaimana diketahui, bahwa Sayidina Hasan ra. diracun oleh istrinya sendiri yang 

bernama Ja’da. Ini merupakan sebuah fakta sejarah yang diketahui oleh kalangan 

luas. Memang, Hasan memiliki kebiasaan suka kawin-cerai. Sehingga ayah beliau, -

Sayidina Ali ra.-, memperingatkan warga   Kufah dalam sebuah pidatonya, 

“Janganlah kalian memberikan putri-putri kalian kepada Hasan! sebab  dia pasti 

akan menceraikannya juga.” Mereka berkata, “Kami akan memberikan putri-putri 

kami kepadanya. Tolong, biarkan saja dia mengawini atau menceraikan istrinya.” 

Seperti kta ketahui, bahwa Sayidina Hasan yaitu   sosok lelaki yang sangat gagah 

dan tampan. Beliau mirip dengan Rasulullah saw. (sang kakek). Gadis mana pun 

yang beliau nikahi pasti akan jatuh cinta kepadanya. Sebagaimana disebutkan di atas, 

sebab  beberapa alasan Ja’da membunuh beliau. 

Di dalam  kitab Mir’at al-Kainat dijelaskan : Sayidina Mu'awiyah 

mempertimbangkan Hasan untuk menjadi pengganti dirinya sebagai Khalifah. Beliau 

mengumumkan hal ini  kepada rakyat. Sementara itu, Yazid, -putra Sayidina 

Mu'awiyah-, mengharap dapat menggantikan ayahnya menjadi Khalifah. Yazid-lah 

yang memberikan racun kepada istri Hasan, Ja’da, sambil berkata : “Jika kamu 

berhasil membunuh Hasan dengan racun ini, aku akan menikahimu dan menghiasi 

kamu dengan intan permata  dari kepala hingga ujung kaki.” Disebabkan terpikat 

oleh janji palsu ini , Ja’da mencoba membunuh Sayidina Hasan dengan racun 

ini  beberapa kali. Namun, Allah belum menakdirkan dia mati. Sesungguhnya 

Hasan sendiri mengetahui siapa yang telah melakukan semua perbuatan ini . 

Akan namun  dia tetap diam. Dia hanya memisahkan tempat tidur Ja’da. Sejak 

kejadian ini , dia bersikap hati-hati terhadap makanan dan minuman yang 

dikonsumsinya. Akan namun , pada suatu malam, Ja’da memasuki kamar Hasan 

dengan sembunyi-sembunyi dan menaburkan bubuk berlian di dalam gelas 

minumannya. saat  Hasan meminum air campuran bubuk berlian ini , perut 

beliau terasa dicabik-cabik. Sayidina Husein (saudara laki-laki beliau) mencoba 

meminta Hasan menyebutkan nama orang yang telah meracun dirinya. Sayidina 

Hasan justru balik bertanya, “Apakah kamu akan membalas dendam seandainya 

mengetahui siapa pelakunya?” “Pasti, aku pasti akan membunuhnya,” jawab 

Sayidina Husein. Mendengar jawaban ini, Sayidina Hasan berkata, “Sesungguhnya 

hukuman yang telah dia jalani sudahlah cukup,” tanpa menyebutkan hukuman yang 

dimaksud. Dan hukuman ini  yaitu  kedurhakaan yang dilakukan oleh sang istri 

beliau. Empat puluh hari lalu , beliau pun meninggal dunia. Beliau dimakamkan 

di dekat makam ibundanya Sayidah Fatimah az-Zahra di komplek pemakaman Baki. 

Barang siapa menuduh bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh Yazid ini  

kepada sang ayah beliau, -Mu’awiyah-, berarti dia telah melakukan perbuatan yang 

lebih keji dibandingkan dengan pembunuhan itu sendiri. Fitnah seperti ini sama 

dengan menuduh kekafiran putra Nabi Nuh as., Kan’an, kepada sang ayah Kan’an 

sendiri (yaitu Nabi Nuh as.). 

Penulis majalah ini  berkata, “Mu'awiyah melibatkan salah seorang 

anggota keluarga beliau, -yaitu seorang  pembunuh yang bengis lagi kejam-, bernama 

Ziyad bin Abih, -anak haram Abu Sufyan-, ayah beliau sendiri, untuk memenuhi 

ambisinya di masa depan yang dipenuhi dengan keserakahan dan pengkhianatan. 

Dengan mengangkat anak pembunuh ini  bernama Ubaidullah (seorang 

pimpinan pemberontak) menjadi gubernur sebagaimana ayahnya (Ziyad bin Abih, 

pent.) saat  masih hidup, Mu’awiyah merencanakan menyiapkan Ubaidullah 

ini  dalam rangka melakukan pembantaian di Karbala yang menghebohkan 

sepanjang sejarah. Bagaimana intrik-intrik dan rencana seperti ini dipandang sebagai 

kekeliruan ijtihad?” Penulis menambahkan, bahwa kutipan ini  di atas diambil 

dari kitab Qishas al-Anbiya. 

Kitab Qishas al-Anbiya justru mengoreksi semua kritik dan komentar 

mengenai Mu'awiyah sebagaimana dijelaskan di atas. Ungkapan kotor yang dikutip 

di atas, bertentangan dengan keterangan yang diberikan oleh Cevdet Pasya ra. 

Sebagai orang bijak, beliau membiarkan ungkapan kotor ini  tetap mewarnai 

artikel  penulis ini . Kita akan melihat bagaimana kitab Qishas al-Anbiya 

membantah keterangan penulis di atas berikut ini :  

warga  Parsi (Faris) memberontak Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. 

Mereka menolak membayar pajak (usyr dan kharaj) pada tahun 39 hijriah. Sejarah 

mencatat, bahwa saat  itu Ali bin Abi Thalib mengangkat Ziyad bin Abih, -pegawai 

baitulmal di Bashrah-, menjadi gubernur provinsi Faris dan Karman. Sementara itu, 

Abdullah bin Abbas, -Amir di Basrah-, mengirimkan Ziyad ke Faris bersama 

pasukan di bawah komando Ziyad sendiri. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Ziyad 

yaitu  seorang administrator ulung, berbakat dan memiliki pemikiran luas. Dengan 

kemampuan manajerial seperti itulah, dia berhasil memanage segala konflik tanpa 

harus mengerahkan kekuatan pasukan. Dalam waktu singkat, dia berhasil 

mewujudkan perdamaian dan memulihkan keadaan di provinsi Faris dan Karman. 

Dia berhasil memadamkan dan menumpas pemberontakan–pemberontakan di kedua 

propinsi ini . Pada saat Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. menerima keluhan-

keluhan mengenai Amir Basrah, -Abdullah bin Abbas-, beliau meminta kepada dia 

mengirimkan artikel  laporan jizyah. sebab  merasa tersinggung, Abdullah bin Abbas 

mengatakan akan mengirimkan pegawainya sekalian. lalu , beliau 

meninggalkan Basrah. sesudah  Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. wafat, Ziyad tidak lagi 

mengakui Mu'awiyah. Sejarah menuturkan, bahwa Ziyad juga seorang  orator ulung 

dan cerdas. Sebelum menjadi gubernur, dia pernah menjadi sekretaris Abu Musa al 

Asy’ari, -gubernur Basrah lainnya. Pada saat menjabat sebagai Khalifah, Sayidina 

Umar bin Khaththab ra. pernah mengangkat Ziyad sebagai salah seorang staf beliau. 

Sesudah Perang Unta, Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. mengangkat Ziyad sebagai 

kepala kantor keuangan di Basrah, lalu  Amir di Faris. Sebagai seorang  

administrator yang piawai, Ziyad berhasil mewujudkan ketenteraman dan ketertiban 

di provinsi ini . sesudah  mengetahui keberhasilan yang dicapai oleh Ziyad, 

Sayidina Mu'awiyah memaklumkan, bahwa Ziyad yaitu  saudaranya. Sementara itu, 

Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. memperingatkan Ziyad melalui sepucuk surat : “Saya 

telah mengangkat kamu menjadi gubernur. Kamu memang pantas memegang jabatan 

ini ! Namun, kamu tidak akan sanggup menjaga genealogi (nasab, pent.) Abu 

Sufyan dan warisannya, hanya dengan sepatah kata yang diucapkan oleh Mu’awiyah. 

Dia memang orang yang sangat licik melakukan pendekatan dengan orang yang 

berseberangan dengan dirinya, baik dari arah belakang, kanan maupun kiri. 

Bersikaplah waspada terhadap dia.” Pada masa pra-Islam, di Arabia mengenal 

berbagai macam pernikahan. Pada saat Islam datang, Islam melarang model 

pernikahan yang berlaku pada masa jahiliah. Ziyad yaitu  anak hasil pernikahan 

model jaman jahiliah yang didasarkan pada  tradisi yang berlaku pada masa itu. 

Pada tahun 45 hijriah, Sayidina Mu'awiyah mengangkat Ziyad menjadi 

gubernur di Basrah, Khurasan dan Sijistan. Pada saat itu, Basrah sedang dilanda 

kekacauan. Melalui pidatonya, dia memperingatkan rakyat untuk tidak melakukan 

perbuatan tidak terpuji, penyelewengan dan prilaku buruk lainnya. Dia mengancam 

mereka yang melanggar tata susila masyarakat dengan hukuman berat. Bila waktu 

shalat malam tiba, dia mengerjakan shalat secara berjamaah dengan bacaan surat-

surat panjang. Dia melarang rakyat pulang lebih awal dan keluar rumah sesudah  

malam. Dia memberlakukan hukum darurat perang. Dengan cara seperti itu, dia 

berhasil menciptakan keamanan di Basrah. Keberhasilan yang dilakukan oleh Ziyad 

memperkokoh kedudukan pemerintahan Mu'awiyah. Dia menerapkan disiplin yang 

sangat ketat. Seseorang yang kehilangan harta miliknya di jalan, pasti akan 

mendapat nya kembali barang ini  jika dia kembali lagi meskipun telah 

berselang lama. warga  Basrah tidak perlu mengunci rumah-rumah mereka. Dia 

membentuk organisasi polisi yang terdiri dari sepuluh ribu personil. Dia juga 

menetapkan aturan dan kode etik pengamanan di perkampungan-perkampungan dan 

jalan raya. Seluruh warga  merasa terjamin keamanannya sebagaimana pernah 

terjadi pada masa kekhalifahan Sayidina Umar bin Khaththab ra. Dia mengangkat 

tokoh-tokoh dari kalangan shahabat Nabi seperti Anas bin Malik menduduki posisi-

posisi penting.  

Meskipun demikian, pada saat itu orang-orang Khawarij, -musuh-musuh 

Sayidina Ali bin Abi Thalib ra.-, melakukan pemberontakan. Ziyad berhasil 

menumpas pemberontakan ini . Sebagian besar pemberontak tewas terbunuh 

termasuk pimpinan mereka. Pada tahun 49 hijriah, Sayidina Mu'awiyah  

mengirimkan pasukan ke Istanbul. Beliau memerintahkan putranya, -Yazid-, untuk 

bergabung bersama pasukan ini . Kita mengetahui bahwa Yazid yaitu  anak 

manja yang tumbuh dalam kesenangan dan kemewahan. Sehingga dia merasa enggan 

bergabung dengan pasukan ini . Akan namun , Sayidina Mu'awiyah memaksanya 

supaya menyusul pasukan yang sedang bergerak mengadakan operasi. Abdullah bin 

Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubeir dan  Abu Ayyub al Anshari Khalid 

ikut bergabung bersama pasukan ini .   

Pada tahun 53 hijriah, Ziyad meninggal dunia di Kufah dalam usia 53 

tahun. Putra beliau, -Ubaidullah-, berangkat menuju Damaskus. Dia diangkat 

menjadi komandan pasukan di Khurasan oleh Mu’awiyah. Dia berhasil 

menyeberangi sungai Oxus (Amu Darya) dalam rangka melakukan infasi ke berbagai 

daerah di Bukhara. Dari infasi ini , Ubaidullah memperoleh banyak harta 

rampasan perang. Pada tahun 55 hijriah, dia diangkat menjadi gubernur  Bashrah. 

Pada saat itu, Basrah merupakan basis orang-orang Khawarij. Ubaidullah bin Ziyad 

berhasil memaksa mereka keluar dari Basrah. 

saat  Yazid menjadi Khalifah pada tahun 60 hijriah, Ubaidullah bin 

Ziyad yaitu  gubernur Bashrah. Pada saat itu, warga  Kufah meminta kepada 

Khalifah seorang  gubernur yang otoritatif. Lalu  Yazid mengutus Ubaidullah bin 

Ziyad ke Kufah. saat  tiba di Kufah, Ibn Ziyad menyaksikan kota ini  telah 

porak poranda. Dia meminta rakyat mentaati dirinya. berdasar  informasi dari 

warga  Kufah, Sayidina Husein ra. telah mengutus saudara sepupunya pertama 

dari pihak ayah bernama Muslim ke Kufah. Sejarah menuturkan, kira-kira tiga puluh 

ribu orang Kufah memaklumkan Sayidina Husein sebagai Khalifah. lalu  

mereka menyerbu rumah Ibn Ziyad. Akan namun , Ibn Ziyad berhasil menumpas 

mereka. Dia mengeksekusi pimpinan mereka yaitu Muslim. Pada saat bersamaan, 

Sayidina Husein ra. meninggalkan Mekkah menuju ke Kufah. 

Sementara itu, putra Sa’ad Ibn Abi Waqqas [salah seorang dari Asyarah 

al-Mubasysyarah], -Umar-, diangkat menjadi Amir di Ray. Pada saat beliau sedang 

mempersiapkan empat ribu orang pasukannya, beredar kabar bahwa Sayidina Husein 

ra. dalam perjalanan menuju Kufah untuk menerima jabatan khalifah ini . Ibn 

Ziyad memerintahkan Umar Ibn Sa’ad mendeportasi Sayidina Husein ra. Akan 

namun , Umar menolak perintah ini . Atas penolakannya ini , Ibni Ziyad 

mengancam akan memecatnya sebagai gubernur  Ray. Umar Ibn Sa’ad meminta ijin 

untuk mempertimbangkan masalah ini . Dia berjanji akan kembali membawa 

keputusan berkaitan dengan dirinya.  

Sebagaimana kita ketahui, bahwa pasukan Husein dan Umar Ibn Sa’ad 

saling bertemu di Karbala. Sayidina Husein bersedia ‘kembali’. Sementara itu, Ibni 

Ziyad mensyaratkan, bahwa dia dapat kembali jika ‘mematuhi Yazid’, dan ‘jika 

tidak, maka dia tidak akan memberinya air.’ Sayidina Husein menolak mematuhi 

Yazid. Umar mengerahkan pasukannya. Pada tahun ke 61 hijriah tanggal 10 

Muharram, Sayidina Husein dan tujuh puluh orang pasukan lainnya memperoleh 

syahid di Karbala. Dua hari lalu , Umar menawan kaum wanita  dan Zainal 

Abidin Ali dan membawanya ke Kufah. Ibni Ziyad memerintahkan agar mereka 

dikumpulkan di Masjid. Dia naik mimbar, dan memanjatkan pujian, “Segala puji 

bagi Allah yang telah menegakkan kebenaran dan menolong Amirul Mukminin 

Yazid.” saat  Yazid mendengar kabar bahwa Sayidina Husein telah tewas dan 

kaum wanita  yang ditawan telah tiba di Damaskus, beliau menetaskan air mata. 

“Semoga Allah mengutuk Ibni Sumayyah,” kata Yazid. Memang, Ubaidullah bin 

Ziyad biasa dipanggil dengan julukan ‘Ibni Sumayyah’ dan ‘Ibni Marjana’. Beliau 

mendoakan Sayidina Husein, “Saya akan mengampuni Husein seandainya beliau 

datang menemui saya.” Yazid tidak memberi hadiah kepada Zubeir yang telah 

membawa berita kematian Husein ra. ini . “Semoga Allah mengutuknya. Ibn 

Ziyad telah bertindak ceroboh dan membunuh Husein.” kata Yazid. Lalu dia 

mengundang tawanan-tawanan dari Kufah ini  ke istana beliau. Yazid berbicara 

langsung kepada mereka : “Tahukah kalian mengapa Husein meninggal? Beliau 

pernah berkata, ‘Ayahku, -Ali-, lebih mulia dari pada ayah Yazid, -Mu'awiyah.             

Iartikel , -Fatimah-, lebih mulia dari pada ibunya. Dan kakekku, -Rasulullah saw.-, 

lebih mulia dari pada kakeknya. Oleh sebab  itu, aku lebih mulia dari pada Yazid. 

Aku berhak menjadi khalifah. Ayahnya dan ayahku telah menyerahkan solusi atas 

kemelut yang terjadi di antara mereka kepada para juru runding. Akan namun , semua 

orang mengetahui  siapa sesungguhnya yang dipilih menjadi khalifah. Ijinkan aku 

(maksudnya Yazid, pent.) berkata demi Allah : Ibundanya, -Fatimah-, lebih mulia 

dari pada iartikel . Kakeknya ; -seorang yang beriman kepada Allah dan beriman 

kepada hari kebangkitan-, tidak akan sama dengan siapa pun, beliau yaitu  utusan 

Allah. Akan namun , Husein pernah berkata (dan bertindak) atas dasar pengetahuan 

fiqh dan ijtihadnya, dengan  melupakan ayat Al Qur'an yang menegaskan, ‘Allah 

ta’ala yaitu  Pemilik segala sesuatu. Dia akan memberi kekuasaan kepada siapa 

saja yang dikehendaki-Nya’”. Para tawanan yang berada di istana Yazid sangat 

berduka dan mencucurkan air mata menangisi Sayidina Husein. Harta rampasan dari 

Husein dikembalikan dan dilipatgandakan. Putri Sayidina Husein, -Sukainah-, 

bertutur, “Saya tidak melihat seseorang yang lebih dermawan dari pada putra 

Mu'awiyah , Yazid” [Fakta sejarah ini  tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun 

sekalipun oleh orang-orang yang tidak ber-Madzhab. Akan namun , melalui kutipan 

pernyataan ini  musuh-musuh Islam telah mengganti kata seseorang dengan 

‘seorang  kafir’]. Setiap pagi dan malam, Yazid mengundang Zainal Abidin untuk 

bersantap bersama. saat  mereka hendak berpisah, Yazid berkata, “Semoga Allah 

mengutuk Ibni Marjana! Wallahi, jika saya berada di istananya tentu saya akan 

mengabulkan semua permintaan ayah Anda. Akan namun , takdir Allah telah berlaku 

atas ayah Anda! Kirimlah surat kepada saya jika Anda membutuhkan sesuatu, pasti 

saya akan segera mengabulkan dan mengirimkan permintaan Anda.” Yazid 

meninggal dunia pada tahun 64 hijriah dalam usia 30 tahun. Sementara itu, Ibni 

Ziyad dibunuh oleh pimpinan pemberontak bernama Mukhtar dalam sebuah 

pertempuran hebat pada bulan Muharram tahun 67 hijriah. 

Jika kita mencermati keterangan-keterangan yang dikutip dari Qishas al-

Anbiya secara teliti, kita akan menemukan fakta bahwa kematian Sayidina Husein ra. 

sekali-kali tidak disebabkan oleh sikap dendamnya terhadap Yazid atau ayah Yazid 

(Mu'awiyah, pent.). Akan namun , semata-mata diakibatkan oleh ambisi-ambisi 

duniawinya. Apa pun alasannya, Yazid tidak bertanggung jawab terhadap 

kebiadaban yang mencoreng sejarah Islam ini . Bahkan, Yazid sendiri 

menyesalkan tragedi Karbala ini  dan perbuatan keji yang dilakukan oleh Ibni 

Ziyad. Barang siapa berpendapat, bahwa Yazid-lah yang bertanggung jawab atas 

perbuatan keji ini , sesungguhnya sama halnya dengan mengecam Nabi Adam 

as. sebab  pembunuhan yang dilakukan oleh putranya bernama Qabil (Cain) terhadap 

saudaranya Habil (Abel). 

Dan barang siapa menuduh bahwa pengangkatan Ubaidullah Ibni Ziyad 

oleh Mu’awiyah menjadi gurbernur bertujuan untuk membunuh Sayidina Husein ra. 

berarti dia telah mengingkari segala peristiwa yang telah terjadi. Sebagaimana telah 

dijelaskan di dalam Qishas al-Anbiya, bahwa Mu’awiyah mengangkat Ubaidullah 

menjadi gurbenur didasarkan atas pertimbangan keberhasilan yang telah diraih oleh 

Ubaidullah dalam menumpas orang-orang kafir dan orang-orang Khawarij yang 

merupakan musuh-musuh bebuyutan Sayidina Ali ra. Dengan mempertimbangkan 

pengabdiannya terhadap Islam, Mu'awiyah mengangkat Ubaidullah sebagai gubenur 

Basrah. Pada saat itu, Sayidina Husein ra. berada di Medinah. Seandainya Mu'awiyah 

memiliki dendam kepada Sayidina Husein, dia justru akan mengangkat Ibni Ziyad 

sebagai gurbenur Hijaz. Jika kita mengandaikan Yazid telah melakukan tindak 

kejahatan, maka tidaklah adil jika kita mencaci maki ayah beliau disebabkan oleh 

perbuatan jahat yang dilakukannya. Mengapa orang-orang yang mencaci Sayidina 

Mu'awiyah disebabkan sebab  kejahatan yang dilakukan oleh putranya Yazid, tidak 

mengalihkan cacian yang ditujukan kepada Umar yang memicu  kematian 

Sayidina Husein kepada ayah Umar? Kita mengetahui bahwa ayah Umar, -Sa’ad bin 

Abi Waqqas-, yaitu  salah seorang di antara Asyarah al-Mubasysyarah yang telah 

diberi kabar gembira oleh Allah swt. akan masuk surga. Mereka menyadari bahwa 

seandainya mencela Sa’ad bin Abi Waqqas ini, maka seluruh rencana dan 

kebohongan yang telah mereka rancang akan dapat terungkap. 

Abdul Wahab Sya’rani menulis di dalam versi muhtashar Tadzkirah al-

Qurtubi halaman seratus dua puluh sembilan sebagai berikut : Yazid mengirimkan 

kepala Sayidina Husein dan para tawanan dari Damaskus ke Kufah. Atas perintah 

Umar bin Sa’ad, -gubernur Madinah saat  itu, -kepala ini  diberi kain kafan dan 

dikubur di samping makam Sayidah Fatimah az-Zahra di pemakaman Baki. Seperti 

diketahui, bahwa Faid, -seorang penguasa ketiga belas dari Bani Fatimiah-, naik 

tahta pada tahun 549 H/1154 M saat  berusai 5 tahun dan wafat pada tahun 555 

hijriah. saat  dia memegang tampuk pemerintahan, negera berada dibawah kendali 

Perdana Menteri Talayi bin Ruzaik. Pada saat Talayi membangun pemakaman 

Masyhad di Kairo, dia memerintahkan supaya kepala Sayidina Husein dibawa dari 

Madinah ke Kairo. Adapun biaya yang dibutuhkan untuk memindahkan kepala 

Sayidina Husein dari Medinah ke Mesir sebesar empat puluh ribu emas. Kepala 

ini  dibungkus dengan kain warna hijau yang diletakkan di dalam peti jenazah 

yang dibuat dari kayu berwarna hitam. Kepala ini  lalu  dikubur 

bersebelahan dengan makam Imam Syafi’i ra. dan Sayiyd Nafisah di Masyhad. 

Orang-orang Hurufi juga mencoba mendistorsi peristiwa sejarah ini . 

Mereka mengatakan, bahwa empat puluh hari sesudah  kematian Sayidina Husein, 

kepalanya dibawa ke Karbala dan dikubur berdampingan dengan jasadnya. 

Maulana Hafidz Hakim Abdusysyakur Ihahi Mirzapuri Hanafi, -seorang  

ulama besar dari Pakistan-, menulis sebuah artikel  berjudul Syahadah al-Husein 

(Syahidnya Husein ra.). artikel  ini  ditulis dalam bahasa Urdu dan telah 

diterjemahkan ke dalam bahasa  Persia oleh Maulawi Ghulam Haidar Faruqi. Dia 

yaitu  seorang pelajar di Madrasah Islamiyyah di kota Karachi. Madrasah ini  

terletak di Newton 5 Karachi. Madrasah ini  menyelenggarakan pendidikan 

tinggi dalam ilmu-ilmu ke-Islaman. Para mahasiswa yang belajar di sana berasal dari 

seluruh penjuru dunia. Mereka dididik dan ditraining untuk menjadi ulama yang 

berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Salah seorang pendiri Madrasah ini  yang 

juga seorang ulama besar  Sunni bernama Muhammad Yusuf  Banuri. Beliau memuji  

keagungan Sayidina Husein ra. di dalam  artikel  Syahadah al-Husein ini . Yusuf 

Banuri meninggal dunia pada tahun 1400 H/1980 M di Karachi. artikel  Syahadah al-

Husein ini  terdiri  dari seratus dua halaman. Menurut penulis artikel  ini  

bahwa musuh-musuh Islam telah berpura-pura masuk Islam. Tujuan mereka tidak 

lain yaitu  untuk menghancurkan Islam dari dalam dan menanamkan benih 

permusuhan terhadap Ahlul Bayt Nabi dengan slogan “para pendukung setia Ahlul 

Bayt Nabi.” Penulis Syahadah al-Husein mencoba memaparkan dokumen-dokumen 

yang berasal dari artikel -artikel  yang ditulis oleh orang Syi'ah dalam rangka 

menguatkan fakta di atas. Pada halaman sebelas, dia menjelaskan : Muhammad Baqir  

Khurasani yaitu  salah seorang ulama Syi'ah yang terkenal bergelar Mullah Muhsin. 

Dia meninggal di Masyhad pada tahun 1091 H/1679 M. Di dalam artikel nya yang 

berjudul Jilal al-Uyun halaman tiga ratus dua puluh satu, Mullah Muhsin 

menerangkan, “Menjelang wafat, Mu'awiyah menyampaikan wasiat kepada 

putranya, Yazid : Ketahuilah bahwa Imam Husein memiliki hubungan yang sangat 

dekat dengan Rasulullah saw. Dia memiliki darah suci yang mengalir dari diri 

Rasulullah saw. warga  Irak akan mengundangnya ke sana dan berjanji akan 

menolongnya. Akan namun , sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan menolong 

dia. Mereka akan meninggalkannya sendirian. Jika kelak kamu menguasai dia, 

hormatilah dia. Jangan sekali-kali kamu melukainya sebagai balasan atas 

serangannya terhadap kamu.! Perlakukan dia dengan baik sebagaimana saya juga 

memperlakukannya dengan baik!” Muhammad Taqi Khan, -seorang ahli sejarah 

Syi’ah-, yang meninggal dunia pada tahun 1397 H/1879 M di dalam artikel nya 

berbahasa Persia berjudul Nasikh al-Tawarih menulis, “Wasiat Mu”awiyah yaitu  

sebagai berikut : Anakku! Janganlah kamu menurutkan hawa nafsumu! Janganlah 

kamu menghadap Allah ta’ala dengan tangan berlumuran darah Husein bin Ali! Jika 

tidak, kamu akan menderita selamanya! Ingatlah sabda Baginda Nabi saw. yang 

menerangkan, ‘Allah ta’ala tidak akan melimpahkan berkah karunia kepada 

seseorang yang merusak kehormatan Husein.’” Di halaman tiga puluh delapan 

dijelaskan ,”Mereka yang mendukung Imam Ali ra., -yaitu orang-orang Syi’ah-, akan 

pergi ke Damaskus. Mereka mencela Sayidina Mu’awiyah. Namun, beliau tidak 

menghukum mereka sama sekali. Bahkan, beliau justru memberi mereka hadiah dari 

baitulmal.” Di dalam artikel  Jilal al-Uyun halaman tiga ratus dua puluh tiga 

dijelaskan, “Imam Hasan bin Ali ra. berkata ; ‘Wallahi, Sayidina Mu’awiyah lebih 

baik dari pada orang-orang yang mendukung saya. Mereka mengaku sebagai orang 

Syi’ah, padahal sesungguhnya mereka sedang mencari kesempatan untuk membunuh 

saya dan merampas harta milik saya.’”      

Bagaimana kesaksian sejarah berbicara tentang sosok Yazid? Sejarah 

menulis, bahwa dia tidak melupakan wasiat ayahnya ini . Dia tidak pernah 

mengundang Imam Husein ke Kufah. Dan dia tidak menyuruh membunuh sang 

Imam ini . Sekali-kali dia tidak mengharap kematian Imam Husein. Sebaliknya 

dia justru berlinang air mata saat  mendengar berita kematian Imam Husein. Dia 

memerintahkan kepada rakyat berkabung. Dia sangat memuliakan Ahlul Bayt Nabi. 

Di dalam artikel  Syi'ah Jilal al-Uyun halaman tiga ratus dua puluh dua dijelaskan, 

“Yazid mengangkat Walid bin Uqbah, -seorang tokoh yang dikenal luas sangat 

mencintai Ahlul Bayt-, sebagai gubernur Madinah. Dia pernah memecat Marwan 

dari jabatan gubernur sebab  dia sangat memusuhi Ahlul Bayt. Pada suatu malam, 

Walid mengunjungi Imam Husein. Beliau berkata kepada sang Imam bahwa 

Mu'awiyah telah meninggal dunia. Beliau digantikan oleh putranya, Yazid. Imam 

Husein berkata : “Anda akan benci jika aku menerimanya secara diam-diam. Anda 

menghendaki aku menerimanya secara terang-terangan.” Keterangan Jilal al-Uyun 

ini  menunjukkan bahwa Imam Husein tidak menganggap Yazid sebagai seorang  

pendosa yang bermoral bejat, apalagi kafir. Seandainya Imam Husein menganggap 

demikian, tentu sang  Imam  tidak akan menerima dan mematuhi Yazid secara diam-

diam. Sang Imam tidak menerima Yazid secara terang-terangan disebabkan untuk 

tidak menyulut kebencian dan dendam dari orang-orang Syi'ah. Imam Husein 

menyadari bahwa sesungguhnya orang-orang Syi’ah telah meninggalkan ayah beliau 

(Imam Ali ra., pent) dan menjadi orang-orang Khawarij disebabkan ayah beliau telah 

berdamai dengan Mu'awiyah. Mereka telah memerangi ayahnya. Mereka juga telah 

memusuhi adiknya, -Sayidina Hasan ra.-, sebab  telah menyerahkan jabatan khalifah 

kepada Mu'awiyah.  

Di dalam artikel  ini  juga dijelaskan : “saat  Zajr bin Qais 

mengkhabarkan kematian Sayidina Husein kepada Yazid, beliau tertunduk dan 

tertegun. Yazid berkata, ‘Berita tentang kepatuhanmu kepada Husein yang kamu 

sampaikan kepada saya akan lebih baik dari pada berita pembunuhan yang kamu 

lakukan terhadap beliau. Seandainya saya berada di sana tentu saya akan 

mengampuni beliau. saat  Mahdar bin Tsa’labah mencaci Imam Husein, Yazid 

mengerutkan keningnya sambil bertkata, ‘Saya berharap kepada ibu Mahdar untuk 

tidak mengutus seorang  anak sekejam dan sehina dia. Semoga Allah swt. mengutuk 

anak yang bernama Marjana [Ibnu Ziyad]!’ saat  Syammar membawa kepala 

Sayidina Husein kepada Yazid dan berkata, ‘Saya telah membunuh putra dari 

manusia terbaik, sepatutnya Tuan mengisi kantong pelana kudaku dengan emas dan 

perak!’, dengan sangat marah Yazid menghardik, ‘Semoga Allah swt. mengisi 

kantong pelana kudamu dengan api neraka! Apa alasanmu telah membunuh manusia 

terbaik? Keluar kamu dari sini! Aku sudah mengetahui semuanya! Aku sekali-kali 

tidak akan memberimu sesuatu pun!’”  Di dalam sebuah artikel  yang ditulis oleh orang 

Syi'ah berjudul Khulashah al-Masha’ib halaman tiga ratus sembilan puluh tiga 

djelaskan : “Yazid mencucurkan air mata kesedihan di hadapan orang banyak. Di 

kala sendirian, dia juga menangis. Putri-putri dan saudara wanita  dia juga turut 

menangisi kematian Sayidina Husein. Sambil meletakkan kepala Imam Husein di 

dalam  mangkok yang terbuat dari emas, dia berkata, ‘Wahai Husein, semoga Allah 

merahmati engkau. Betapa manis senyummu!’” berdasar  keterangan dari artikel -

artikel  Syi'ah, kita mengetahui bahwa keterangan sebagian orang yang menyebutkan 

bahwa Yazid memukul gigi Imam Husein dengan tongkat merupakan kebohongan 

nyata. Di dalam Jilal al-Uyun disebutkan, “Di dalam istana, Yazid menyediakan 

segala kebutuhan yang diperlukan oleh keluarga Imam Husein. Dia bersikap ramah 

kepada mereka. Dia makan pagi dan malam bersama Zainal Abidin”. Di dalam 

Khulashah al-Masha’ib juga dijelaskan, ”Suatu saat , Yazid bertanya kepada 

keluarga  Imam Husein, ‘Sudikah kalian menjadi tamu-tamuku di sini, dan tinggal di 

Damaskus atau kembali ke Madinah?’ Ummi Kultsum menjawab, ‘Kami ingin 

berkabung dengan berkhalwat’. Lalu Yazid menyediakan mereka sebuah kamar yang 

luas di dalam istananya. Mereka  berkabung selama satu minggu di kamar ini . 

Pada hari ke delapan Yazid menanyakan kepada Ahlul Bayt keinginan mereka. Para 

Ahlul Bayt menjawab, bahwa mereka hendak kembali ke Madinah. lalu  Yazid 

memberi mereka harta, hewan tunggangan, dan dua ratus emas. Dia berkata, ‘Sudilah 

kalian menyampaikan kepada saya kebutuhan kalian, saya akan mengabulkannya’. 

Dengan dikawal oleh Nu’man bin Basyir dan lima ratus penunggang kuda lainnya, 

Yazid menyaksikan keberangkatan mereka menuju Madinah sesudah  dilakukan 

upacara perpisahan untuk menghormati mereka”. 

berdasar  keterangan yang bersumber dari artikel -artikel  Syi’ah di atas 

dan dari sumber Syi'ah lainnya yang moderat dan tidak bias, kita menemukan bahwa 

Sayidina Mu'awiyah tidak menunjukkan sikap permemusuhan dengan Imam Husein. 

Yazid juga tidak pernah memerintahkan membunuh beliau atau setidaknya 

merencanakan pembunuhan ini . Para musuh Ahlul Bayt dan orang-orang yang 

telah membunuh Imam Husein telah mengkambinghitamkan kedua khalifah ini  

dalam rangka melampiaskan dendamnya kepada mereka. 

Kita mengetahui, bahwa Abdurrahman Ibni Muljam sebelumnya yaitu  

seorang pengikut Syi'ah. lalu  dia membelot bergabung bersama kelompok 

Khawarij. Dia-lah yang membunuh Imam Ali ra.  

Sejarah tidak menulis adanya pasukan dari Damaskus yang tergabung di 

antara kaum pemberontak yang membunuh Imam Husein di Karbala. Sesungguhnya, 

mereka berasal dari Kufah. Qadli Nurullah Syusytari, -seorang ulama Syi'ah-, 

memaparkan secara obyektif mengenai fakta sejarah ini . Di dalam Jilal al-

Uyun juga dijelaskan, bahwa saat  Imam Zainal Abidin ra. dibawa ke Kufah, beliau 

menuturkan, bahwa para pembunuh ayahnya yaitu  orang-orang Syi'ah sendiri. 

Dalam rangka menghancurkan Islam dari dalam, musuh-musuh Islam 

telah menjerumuskan anggota Ahlul Bayt Nabi ke dalam malapetaka besar. Mereka 

berpendapat, bahwa para pembunuh Sayidina Huisein berasal dari faksi Ahlus 

Sunnah wal Jamaah. Mereka menyerang para shahabat Nabi saw. yang merupakan 

benteng kekuatan Islam dan juga para pengikut mereka, -yaitu para ulama Ahlus 

Sunnah wal Jamaah. Kita ummat Islam harus tetap waspada agar tidak menjadi 

korban dari provokasi mereka. 

“Gubernur Mu'awiyah di Mesir, -yaitu Amr Ibn Ash-, saat  memegang 

jabatan ini  selama empat tahun empat bulan telah menggelapkan tiga ratus lima 

belas ribu emas dan mencaplok daerah Raht untuk menumpuk kekayaan diri sendiri,” 

kata penulis majalah ini . Dia menambahkan bahwa keterangan ini  

bersumber dari artikel -artikel  Syi'ah berjudul Muruj  al-Dzahab dan al-Ijaz. 

Kutipan di atas merupakan sebagian contoh betapa orang-orang yang 

tidak ber-Madzhab menyisipkan kedustaan-kedustaan di dalam artikel -artikel  yang 

mereka tulis. Mereka memandang persoalan keagamaan seperti hiburan bagi anak 

kecil. Penulis majalah ini  mencoba mencaci Sayidina Amr Ibn Ash ra. Dia 

berpendapat, bahwa Amr Ibn Ash yaitu  gubernur yang diangkat oleh Mua’wiyah 

pada saat itu. Sejarah menyebutkan, bahwa Amr Ibn Ash pernah diangkat menjadi 

gubernur Mesir selama empat tahun oleh Khalifah Umar bin Khaththab. saat  

Utsman bin Affan menjadi Khalifah, beliau mengangkat Amr Ibn Ash di sana selama 

empat tahun lebih. sedang  Sayidina Mu'awiyah pernah mengangkat Ziyad 

menjadi gubernur di Mesir. Sebelumnya, Ziyad juga pernah diangkat menjadi 

gubernur di sana oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib. Demikian pula, Mu’awiyah 

mengangkat Amr Ibn Ash menjadi gubernur di sana. Sebagaiman kita ketahui, bahwa 

sebelumnya Amr Ibn Ash yaitu  kolega militer Mu'awiyah dalam Perang Suci di 

Syiria. Mereka tidak mungkin akan menemukan kelemahan dan kekurangan 

Mu'awiyah meskipun mereka berusaha mendistorsi kebajikan dan prestasi-prestasi 

yang pernah dicapainya dalam  menegakkan bendera Islam. Rasulullah saw. dan para 

khalifah beliau pernah memberikan tugas-tugas yang berat kepada Mu'awiyah dan 

Amr Ibn Ash. Fakta sejarah ini , mengisyaratkan kemuliaan kedudukan mereka 

berdua. Di dalam  kitab Maktubat volume  pertama surat keseratus dua puluh, Imam 

Rabbani rahmatullah ‘alaih menerangkan, “Kesalahan yang dilakukan oleh Sayidina 

Mu'awiyah, -berkat limpahan barokah ke-shahabah-an belaiu dengan Rasulullah 

saw.-, akan lebih baik dibandingkan kebaikan-kebaikan yang dimiliki oleh Wais al-

Qarni dan Umar bin Abdul Aziz (yang tidak memiliki kemuliaan derajat disebabkan 

melihat Rasulullah saw. saat  masih hidup). Demikian juga, kesalahan yang 

dilakukan oleh Amr Ibn Ash akan lebih baik dari pada kebaikan yang dilakukan oleh 

keduanya (Wais al-Qarni dan Umar bin Abdul Aziz, pent.).”  Surat keseratus dua 

puluh versi bahasa Turki dari Imam Rabbani ini  ada  di dalam artikel  

berbahasa Turki berjudul Mujdeci Mektublar Tercemesi. Kritik-kritik yang 

diarahkan kepada Mu'awiyah dan Amr Ibn Ash didasarkan pada alasan adanya 

perbedaan ijtihad keduanya dengan Sayidina Ali bin Abi Thalib ra. Sehingga seolah-

olah segala perjuangan mereka berdua, bahkan ibadah mereka dianggap tidak benar. 

Sejarah menuturkan, bahwa Amr Ibn Ash sekali-kali tidak menindas hak-

hak rakyat Mesir. Bahkan beliau mewariskan sebuah karya monumental bagi sejarah 

Islam Mesir. Di antaranya, pembukaan terowongan Amirul Mukminin yang 

menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Merah. Pada tahun kedelapan belas hijriah, 

Semenanjung Arabia mengalami bencana kelaparan hebat. Khalifah Umar al-Faruq 

ra. memerintahkan setiap provinsi mendistribusikan bahan pangan kepada provinsi-

provinsi yang dilanda bencana kelaparan. Pendistribusian bantuan dari Mesir dan 

Damaskus mengalami keterlambatan pengiriman disebabkan kedua provinsi ini  

terletak cukup jauh dari Semenanjung Arabia. Khalifah memanggil gubenur Mesir 

Amr Ibn Ash berserta para asistennya ke Mesir. Kepada mereka Khalifah berkata, 

“Seandainya kita membangun sebuah terowongan yang menghubungkan antara 

Sungai Nil dengan Laut Merah, tentu kekurangan pangan di Semenanjung Arabia 

dapat ditanggulangi.” Amr Ibn Ash kembali ke Mesir dan mulai membuka sebuah 

terowongan yang dimulai dari kota Fustat, -dua puluh empat kilometer dari Kairo-, 

ke arah Laut Merah. Terowongan yang memiliki panjang seratus tiga puluh delapan 

kilometer ini  pembangunannya diselesaikan dalam waktu enan bulan. Kapal-

kapal  yang berlayar melewati Terowongan Amirul Mukminin tiba di Laut Merah 

dari Sungai Nil, dan berlabuh di sepanjang Dermaga Jar di Medinah. Pengiriman 

bahan pangan pertama dilakukan dari Mesir menuju ke Madinah dalam bentuk dua 

puluh muatan kapal besar yang berisi padi-padian. Jumlah ini  setara dengan 

enam puluh ribu irdeb. sedang  satu irdeb sama dengan dua puluh empat sha’. 

Dan sha' yaitu  satu unit yang volumenya sama dengan 4,2 liter. Satu irdeb nilainya 

sekitar seratus liter.  Dengan demikian, pengiriman bahan pangan pertama yang 

diangkut dari Mesir ke Madinah melalui jalur laut kapasitasnya sama dengan enam 

juta  liter, yaitu enam ribu meter kubik padi-padian. Pada masa pemerintahan Umar 

bin Abdul Aziz, terowongan ini  tidak lagi difungsikan mengingat dana 

perawatan terowongan ini  sangat besar. Pada tahun 155 hijriah, al-Manshur 

melakukan perbaikan terowongan ini  dan mengfungsikan kembali selama 

beberapa tahun. Amr Ibn Ash juga merancang pembangunan terowongan yang 

menghubungkan Mediterrania dengan Laut Merah. Dia menyampaikan rencananya 

ini  kepada Khalifah. Namun, Khalifah Umar tidak mengijinkan pembangunan 

terowongan ini  dengan pertimbangan-pertimbangan militer. Kita dapat 

memperlajari secara mendetil mengenai terowongan ini  di dalam artikel  yang 

berjudul Faruq yang ditulis oleh Syibli Nu’mani, -seorang profesor dari India. 

Adapun kami mengutip keterangan di atas dari versi terjemahan bahasa Turki yang 

dicetak pada tahun 1351 H. 

Kita tidak perlu tertipu oleh kepalsuan dan kedustaan dari orang-orang 

zindiq musuh-musuh Islam yang mencaci Sayidina Mu'awiyah dan para shahabat 

beliau. Mereka berpendapat, bahwa tindakan ini  disebabkan kecintaan mereka 

kepada Ahlul Bayt Nabi! Memang, mereka menganggap demikian ; akan namun , 

sekali lagi kami ingatkan bahwa tujuan mereka memakai  kedustaan ini  

yaitu  untuk memfitnah ribuan shahabat Nabi saw. yang berbeda ijtihad dengan 

yang dilakukan oleh Sayidina Ali ra. Mereka juga memiliki tujuan terselubung 

lainnya, yaitu menelanjangi cacat para tokoh agama yang mulia ini  dalam 

rangka meruntuhkan keimanan terhadap dasar-dasar Islam dan sumber-sumber utama 

Islam seta menghancurkannya secara bertahap. Kita seharusnya menyadari apa yang 

telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Mereka telah menghancurkan agama yang 

dibawa oleh Nabi Isa as. dengan cara yang keji dan kotor. Mereka telah 

memusnahkan Injil (Bible yang asli). Mereka memalsukan gospel-gospel mereka. 

Mereka mengubah agama Isawi yang diturunkan oleh Allah menjadi Kristianitas. 

Injil asli yang disebut (Gospel) Barnabas yang muncul kembali pada tahun 1393 M, 

menegaskan sebuah fakta sejarah bahwa Kristianitas yaitu  ciptaan manusia. Sebuah 

artikel  berbahasa Turki berjudul Herkese Lazim Olan Iman yang dicetak di Istanbul 

dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis dan Jerman memuat 

informasi mendetil tentang Kristianitas ini . Sekali lagi kami tegaskan, bahwa 

tujuan mereka (musuh-musuh Islam) yaitu  merubah Islam menjadi sebuah sistem 

kepercayaan yang irrasional dengan memakai  cara-cara sebagaimana telah 

dijelaskan di atas. Kami patut bersyukur, sebab  saudara-saudara kami se-Islam 

menyadari rencana-rencana terselubung orang-orang Yahudi ini . Mereka telah 

menulis ratusan ribu artikel  dalam waktu empat belas abad. Kaum muslimin tetap 

konsisten mendakwahkan ajaran-ajaran Rasulullah saw. ke seluruh penjuru dunia. 

Mereka memperingatkan akan bahaya kebohongan dan kejahatan yang dilakukan 

oleh orang-orang Yahudi. Mereka telah membantah kebohongan-kebohongan 

ini  melalui argumentasi yang meyakinkan. Musuh-musuh Islam ini  

mungkin memakai  cara lain dengan mendakwakan diri mereka sendiri sebagai 

golongan Alawi (Syi'i). Saudara-saudara kita dari golongan Alawi (Syi'i) yang salih, 

seharusnya bersikap waspada terhadap musuh-musuh Islam sehingga tidak terjebak 

dalam jebakan mereka yang sering memakai  otoritas suci mereka sebagai kedok. 

Kami menghimbau kepada saudara-saudara kami yang menyebut diri 

Alawi! Hendaknya  kalian menyadari keagungan nama Alawi ini . Barang siapa 

mencintai nama ini  secara tulus, memahami maknanya, dan menyadari  

keagungan yang terkandung di dalam nama ini , tentu dia juga mencintai 

golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang juga berhak menyandang nama ini ! 

Orang-orang yang benar-benar mencintai Sayidina Ali ra. dan para pengikut setia 

Imam Agung ini  secara tulus, sesungguhnya mereka yaitu  para ulama  Ahlus 

Sunnah wal Jamaah. Barang siapa yang menjadi bagian dari golongan Alawi, dirinya 

harus mempelajari biografi Sayidina Ali ra. dengan membaca kitab-kitab yang ditulis 

oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Seorang muslim yang memahami 

biografi Sayidina Ali ra., akan dengan mudah mengetahui bahwa artikel -artikel  dan 

majalah yang ditulis atas nama Alawi ini  palsu. 

“Kezaliman dan kejahatan yang dilakukan oleh Mu'awiyah, putra-putra 

dan cucu-cucu, pendukung dan keluarga, para pegawai dan pengikut beliau lainnya, 

menjadi catatan hitam dalam sejarah, tidak cuma untuk masa mereka bahkan hingga 

sekarang. Yang paling fatal yaitu  pengangkatan Mu'awiyah terhadapYazid, -putra 

beliau sendiri-, sosok pemuda pemabuk, dungu, dan jelek perangainya, menjadi 

pewaris jabatan khalifah berikutnya, (meskipun Mu’awiyah sendiri menyadari akan 

kebiasaan-kebiasaan jelak putranya). Tindakannya ini , ternyata menimbulkan 

mudlarat dan penderitaan bagi kaum muslimin,” kata dia. 

Salah seorang yang terprovokasi oleh hasutan dan fitnah pernyataan di 

atas yaitu  Kevdet Pasya. Dia mengatakan, “Hal ini  merupakan salah satu 

kesalahan paling besar yang pernah dilakukan oleh Mu'awiyah.” Padahal, Kevdet 

Pasya sendiri dengan jujur menuturkan sebagaimana dapat kita baca di dalam Qishas 

al-Anbiya : 

“Sayidina Mu'awiyah memutuskan memecat Mughirah dari jabatan 

gubernur Kufah. sesudah  mengetahui keputusan ini , Mughirah pergi ke 

Damaskus menemui Yazid. Mugirah berkata kepada Yazid, ‘Tokoh-tokoh terkemuka 

shahabat dan Quraisy sekarang sudah tidak ada lagi. Akan namun , putra-putra mereka 

masih hidup. Anda yaitu  figur yang paling berpengaruh di antara mereka. Anda 

dipandang memahami dengan baik tentang Sunnah Nabi dan persoalan-persoalan 

politik. Apakah ayah Anda tidak berniat mengangkat Anda menjadi Amirul 

Mukminin?’ Kamudian Yazid menyampaikan hal ini  kepada ayah beliau. Lalu 

Sayidina Mu'awiyah memanggil Mughirah. Sebagaimana kita ketahui, Mughirah 

yaitu  seorang shahabat besar dan salah seorang  di antara shahabat Nabi yang 

melakukan baiat setia (kepada beliau) di bawah pohon. Mughirah berkata, ‘Wahai 

Amirul Mukminin! Tuan telah menyaksikan kerusuhan-kerusuhan terjadi di mana-

mana dan darah ummat Islam banyak tertumpah sesudah  kematian Khalifah Utsman 

ra. Untuk mengatasi kondisi ini , saya mengusulkan agar Tuan berkenan 

mengangkat Yazid menjadi khalifah! Beliau akan menjadi pelindung rakyat. Hal 

ini  merupakan tindakan strategis yang menguntungkan semua pihak. Tuan akan 

dapat menghentikan munculnya fitnah dan kekacauan.’ Dalam rangka melakukan 

upaya ini , Mughirah juga telah mempersiapkan sepuluh orang, -termasuk putra 

dia sendiri-, untuk menemui Khalifah di Damaskus. Mereka mengemban tugas 

meyakinkan Khalifah. saat  Ziyad mendengar hal ini , dia menemui Yazid dan 

menyampaikan beberapa nasihat kepadanya. Ziyad menasihati Yazid agar 

memperbaiki prilaku jeleknya selama ini, kebiasaan dan sikapnya yang kurang 

terpuji. Pada saat itu, Mu'awiyah memanggil para gubernur  ke Damaskus. Beliau 

meminta pendapat kepada mereka. Di antara gubernur yang dimintai pendapat 

ini  ada  Dhahhak.  Dia menyampaikan pendapatnya dengan mengatakan, 

‘Wahai Amirul Mukminin! Sesudah Tuan, dibutuhkan seseorang yang dapat 

melindungi keselamatan kaum muslimin sehingga darah mereka tidak akan 

tertumpah lagi. Mereka dapat hidup secara damai dan sejahtera. Oleh sebab  itu, 

menurut pendapat saya, figur yang pantas mengemban tugas ini  yaitu  Yazid. 

Dari segi ilmu dan karakter, Yazid merupakan sosok manusia yang lebih mumpuni 

dibandingkan kita semua. Saya sangat setuju jika  Yazid diangkat menjadi 

khalifah.’ Beberapa tokoh Damaskus terkemuka lainnya juga berpendapat sama 

dengan Dhahhak. Baik rakyat Damaskus maupun Irak menerima pengangkatan 

Yazid menjadi khalifah. sesudah  mempelajari pendapat-pendapat ini , 

Mu’awiyah mempertimbangkan untuk mengangkat Yazid menjadi khalifah. 

lalu  beliau pergi ke Mekkah. Di sana beliau bertemu dengan Sayidina Husein, 

Abdullah bin Zubeir dan Abdullah  bin Umar. Sesudah mengerjakan haji, beliau 

mengundang mereka. Beliau berbicara kepada mereka, ‘Saya sangat mencintai kalian 

semua, sebagaimana kalian mengetahui hal ini . Dan Yazid yaitu  saudara 

kalian juga. Dia yaitu  saudara sepupu ayah kalian. Saya berharap kalian menerima 

dia sebagai khalifah demi masa depan kaum muslimin. Saya akan menetapkan hal-

hal sebagai berikut : Bahwa persoalan pengangkatan dan pemberhentian para 

gubernur, petugas pengumpul zakat, usyr (sepersepuluh, pent.) dan pajak-pajak 

lainnya, serta pendistribusian barang ke daerah-daerah, tetap akan berada di bawah 

pengawasan kalian. Saya menegaskan, bahwa Yazid tidak akan mencampuri urusan-

urusan ini !’ [Ini merupakan sebuah konstitusi yang akan ditetapkan oleh 

Mu’awiyah). Sayidina Husein, Abdullah bin Zubeir dan Abdullah  bin Umar tidak 

memberikan respon terhadap pembicaraan yang disampaikan Mu’awiyah. Mereka 

semua diam. Beliau meminta kepada mereka untuk menyampaikan tanggapan. 

Namun, mereka semua tidak memberikan tanggapan sama sekali. Melihat sikap 

mereka seperti itu, lalu  Khalifah naik ke mimbar dan menyampaikan pidato : 

‘Para pemuka Mekkah telah menyetujui dan menerima pengangkatan Yazid sebagai 

khalifah. Saya berharap kalian semua juga menyetujui dan menerima dia sebagai 

khalifah.’ Rakyat Mekkah pun menerima Yazid sebagai khalifah. lalu  

Mu'awiyah pergi ke Madinah dan menyampaikan hal yang sama kepada warga  

Madinah. Mereka juga menyetujui dan menerima pengangkatan Yazid. Selanjutnya 

beliau kembali ke Damaskus.” 

Pada dasarnya Mu'awiyah sendiri tidak mempersiapkan Yazid menjadi 

khalifah. Oleh sebab  itu, langkah awal yang dilakukan oleh Mu’awiyah dalam 

merespon saran pengangkatan Yazid sebagai khalifah, beliau meminta pendapat dari 

orang-orang yang menjadi kepercayaan beliau. lalu  beliau juga meminta 

pendapat dari para tokoh terkemuka. Dan pada akhirnya, beliau meminta dukungan 

dari rakyat atas langkahnya ini . sesudah  melalui tahapan-tahapan ini  

beliau-lah yang berhak membuat keputusan akhir. Sebagaimana kita ketahui, 

Mu’awiyah yaitu  seorang pahlawan Islam yang mengalami berbagai peristiwa dan 

kekacauan yang terjadi sesudah  kematian Sayidina Utsman ra. Beliau menyaksikan 

perang saudara yang terjadi di antara sesama muslim. sedang  pada saat itu, 

pendukung Yahudi jumlahnya meningkat pesat. Posisi orang-orang Khawarij, yang 

mennadi musuh-musuh Ahlus Sunnah wal Jamaah, makin kuat dan mengancam 

kaum muslimin. Beliau mempertimbangkan semua kondisi ini . Jika konstitusi 

yang beliau siapkan memperoleh dukungan rakyat, sebuah demokrasi Islam akan 

lahir. Dan ummat Islam akan berterima kasih kepadanya atas jasannya ini . 

Barang siapa berpendapat, bahwa, “Kezaliman dan kejahatan yang 

dilakukan oleh putra-putra Mu'awiyah dan anak-anak cucu beliau berlangsung 

selama berabad-abad,” berarti mengingkari sejarah. Sejarah mencatat, bahwa cucu 

beliau, - Mu'awiyah II-, yaitu  khalifah yang sangat bijaksana, adil, salih, dan sangat 

berjasa terhadap Islam. Namun, sayang sekali dia meninggal dunia hanya dua  bulan 

sesudah  menjabat sebagai khalifah. Dia tidak mempunyai putra, sehingga dia 

digantikan oleh Marwan bin Hakam melalui kudeta militer. Marwan yaitu   saudara 

laki-laki sepupu Mu'awiyah, namun mereka tidak akrab. Kejahatan yang dilakukan 

oleh Marwan bin Hakam atau beberapa penguasa Bani Umayyah yang 

menggantikannya tidak dapat dilihat sebagai kesalahan Mu'awiyah. Penindasan dan 

kekejaman yang dilakukan oleh Dinasti Abbasiyah terhadap Ahlul Bayt jauh lebih 

hebat dari pada yang dilakukan oleh Bani Umayyah. Para peneliti sejarah memahami 

fakta (sejarah) ini . Oleh sebab nya, yaitu  termasuk fitnah keji jika  

seseorang mencela dan mengutuk kakek Bani Abbasiyah, yaitu Sayidina Abdullah, 

dan ayah beliau, yaitu Sayidina Abbas, disebabkan oleh kezaliman-kezaliman yang 

pernah dilakukan oleh Bani Abbasiyah terhadap Ahlul Bayt. Dan akan lebih naif dan 

lebih keji lagi jika mencela Sayidina Mu'awiyah sebab  kekhilafan yang pernah 

dilakukan oleh para khalifah yang berasal dari keturunan Marwan bin Hakam.  

Kami akaan memaparkan fakta sejarah lainnya kepada mereka yang 

berpendapat, bahwa keturunan Sayidina Mu'awiyah telah melakukan kezaliman 

selama berabad-abad. Dan juga kepada mereka yang berpendapat, bahwa sesudah  

kematian cucu Mu’awiyah, yaitu Mu’awiyah II, tidak ada seorang pun dari keluarga 

tokoh terkemuka shahabat yang memiliki pengaruh dan posisi kuat. Sebagaimana 

kita ketahui, bahwa putra Mu'awiyah lainnya yaitu  Khalid. Memang. dia tidak 

tertarik dengan masalah kepemerintahan. Akan namun , ayahnya telah mempersiapkan 

Khalid menjadi seorang ilmuwan. Jabir, -seorang pakar kimia terkemuka-, yaitu  

murid Khalid. Jabir belajar ilmu kimia kepada Khalid, sang pakar ini .  

Allah swt. membangkitkan ribuan ulama Sunni untuk membela Khalifah 

Mu’awiyah dan untuk mempermalukan musuh-musuh Khalifah ini . Para ulama 

ini  menulis artikel -artikel  yang memuat pembelaan terhadap Sayidina Mu'awiyah, 

menjelaskan kemuliaan dan keagungan shahabat Nabi ini . 

“Akal sehat tidak dapat menerima, jika Mu'awiyah bukan yang 

merencanakan, dan tidak mengetahui, memprediksikan atau sekurang-kurangnya 

membayangkan pada saat dia masih hidup, sebuah tragedi mengerikan yang 

menggemparkan yang akan menimpa Sayidina Husein kelak di lalu  hari,” kata 

dia. 

Tidak masuk akal juga jika seorang muslim tidak berduka atas 

malapetaka Karbala yang dilakukan oleh anak Ziyad, -Ubaidullah. Setiap muslim 

Sunni pasti akan mencucurkan air mata duka manakala teringat kembali hari-hari 

duka ini . Sehingga sebagian orang berkabung atas musibah Karbala ini  

pada hari ke sepuluh bulan Muharam. Musuh-musuh Islam berkabung hanya satu 

hari saja pada tahun saat tragedi ini  terjadi, sedang  kami berkabung setiap 

tahun. Mereka berkabung disebabkan sebab  Husein yaitu  putra Sayidina Ali, 

sedang  kami berkabung disebabkan sebab  dia yaitu  cucu Rasulullah, 

Muhammad saw. Kami orang-orang Sunni, mencintai Sayidina Ali ra. sebab  beliau 

yaitu  menantu Rasulullah saw. dan sebab  beliau yaitu  seorang mujahid Islam 

yang membela Islam atas perintah Rasulullah saw. Kami juga mencintai Sayidina 

Mu'awiyah sebab  beliau yaitu  ipar laki-laki Rasulullah saw. dan sebab  beliau 

telah berjihad memerangi orang-orang kafir hanya sebab  Allah swt. semata. 

Rasulullah saw. bersabda, “Cintailah para shahabatku! Barang siapa yang mencintai 

mereka berarti mencintaiku. Janganlah memusuhi para shahabatku! Barang siapa 

yang memusuhi mereka berarti dia memusuhiku.” Kami sangat mencintai Sayidina 

Ali ra. dan Sayidina Mu'awiyah sebab  mereka yaitu  shahabat Rasulullah saw.  

Kami telah menerangkan di depan bahwa menuduh segala kezaliman 

yang terjadi pada masa Yazid kepada Sayidina Mu'awiyah termasuk perbuatan keji. 

Lebih keji lagi jika kita mengatakan bahwa Mu'awiyah-lah yang menskenario segala 

kezaliman ini  sebelum meninggal dunia. artikel -artikel  sejarah memaparkan 

tentang kecintaan dan penghormatan Mu’awiyah kepada Sayidina Hasan dan Husein, 

serta sikap lemah lembut beliau kepada mereka. Barang siapa yang gemar membaca 

dan menganalisa artikel -artikel  semacam itu pasti akan memahami fakta-fakta sejarah 

ini  dengan baik. Seandainya Sayidina Mu'awiyah memiliki niat jahat hendak 

menyakiti putra-putra

*

 tercinta Rasulullah saw. yang telah memperoleh kabar 

gembira masuk surga dari sang kakek mereka yang suci, beliau dapat  melakukannya 

dengan mudah sekali saat  menjadi khalifah pada saat segala perintah berada di 

bawah kebijakannya. Minimal beliau akan menyetujui tindakan ini . Akan namun , 

beliau justru memperlakukan mereka dengan baik. Beliau sangat menghormati dan 

memuliakan mereka. Beliau memuji mereka sebab  keagungan dan ketinggian 

derajat yang mereka miliki. Barang siapa berpendapat, bahwa pertumpahan darah 

yang terjadi sesudah  kematian Sayidina Mu'awiyah telah dirancang sebelumnya oleh 

beliau secara rahasia,  sesungguhnya dia yaitu  seorang musuh Islam yang berhati 

busuk dan benar-benar gila.  

Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa Khalifa Ali bin Abi Thalib 

pernah mengangkat Qais bin Sa’ad menjadi gurbernur Mesir. Beliau 

menginstruksikan kepada Qais untuk memerangi orang-orang yang mengingkari 

kekhalifahnya. Di antara mereka, ada  para shahabat Nabi, seperti Yazid bin 

Haris dan Maslamah. Maslamah ikut terlibat dalam Perang Suci Badar. Mereka 

yaitu  anggota suku Khazraj yang terkemuka. Instruksi ini  dijawab oleh Qais 

melalui surat yang menyatakan,” Tuan memerintahkan saya memerangi rakyat yang 

                                                 

*

 Hasan dan Husein sebagai cucu-cucu Rasulullah saw. biasa disebut ‘putra-putra’ Rasulullah saw. 

dengan menisbatkan sebagai putra-putra Rasulullah saw. sebagaimana disebutkan dalam beberapa 

hadits beliau, pent. 

tidak membahayakan Tuan. Lebih baik kita tidak mengusik mereka yang sedang 

duduk manis.” Atas jawaban ini , Khalifah memberhentikan Qais dari jabatan 

gurbernur Mesir dan mengangkat penggantinya Muhammad bin Abi Bakar. Dia 

menginstruksikan kepada rakyat Mesir yang bersikap netral (tidak mendukung dan 

tidak menentang, pent.) menentukan sikap “mendukung atau meninggalkan Mesir.” 

Adapun alasan yang mereka ajukan atas sikap netralitas mereka ditolak oleh 

Muhammad. Sehingga mereka marah dan mengerahkan pasukan. Hal ini  telah 

menyeret Mesir ke dalam konflik dan kerusuhan mengerikan. Muhammad terbunuh 

dalam kerusuhan ini . Jenazahnya lalu dibakar.  

Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa Muhammad bin Abi Bakar pernah 

melakukan konspirasi dengan para pengikut Ibni Saba’ memberontak melawan 

Khalifah Utsman bin Affan. Dia berhasil masuk ke bagian dalam ruma