nan yang positif atau terbaik saja daripada memikirkan
hal negatif yang mungkin terjadi. Ajakan untuk "berpikir yang positif saja" seperti ini
sudah sangat populer.
Saya ingat di pertengahan tahun 2000-an pernah membaca artikel populer
The Secret yang bahkan mengklaim bahwa sekadar berpikir positif dan
memikirkan hal yang kita dambakan saja mampu membawa perubahan
yang kita mau! (Saya sudah berpikir keras supaya Gal Gadot menghubungi
saya, tapi tidak kejadian tuh....)
Perkembangan terakhir ilmu psikologi justru menemukan adanya potensi
masalah dengan anjuran berpikir positif. Artikel "The Problem With Positive
Thinking" menyebutkan bahwa positive thinking justru sering menghambat
kita. Beberapa eksperimen menunjukkan, mereka yang menerapkan positive
thinking dalam berusaha mencapai tujuannya sering kali memperoleh hasil
yang lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang tidak menerapkan
positive thinking. Positive Thinking "menipu" pikiran kita, beranggapan
seolah-olah kita "sudah" mencapai apa yang kita inginkan, sehingga
melemahkan keuletan kita dalam berusaha mencapainya. Namun,
sebaliknya, sekadar menyuruh orang berpikir realistis saja juga tidak
memberikan hasil yang lebih baik.
Penulis artikel ini mengusulkan "mental contrasting", yaitu
menggabungkan positive thinking (membayangkan hasil yang diharapkan
telah tercapai), dengan memikirkan hambatan- hambatan apa saja yang
akan ditemui. Penelitian menunjukkan peserta eksperimen yang melakukan
"mental contrasting" ini memperoleh pencapaian yang lebih baik
dibandingkan dengan mereka yang hanya membayangkan hal-hal positif
saja, atau yang hanya membayangkan hal negatif saja.
Artikel "The Tyranny of Positive Thinking Can Threaten Your Health and
Happiness" (Tirani Berpikir Positif Dapat Mengancam Kesehatan dan
Kebahagiaan Anda) di Newsweek menyatakan bahwa positive thinking
justru bisa menyebabkan sebagian orang gagal dan merasa depresi, sebab
secara implisit "menyalahkan" diri sendiri jika mereka tidak merasa bahagia.
Misalnya, kita sedang merasa terpuruk sebab tidak lulus ujian. Kesedihan
ini masih ditambah lagi kita menjadi merasa bersalah sebab merasakan
kesedihan itu sendiri ("Saya harusnya bisa positive thinking, kenapa saya
masih merasa sedih?"]. Ini bagaikan kena tinju dua kali, dan tinju yang
kedua— merasa bersalah sebab tidak bisa bahagia—justru yang lebih
merusak dibandingkan kegagalan saat ujian itu sendiri.
20
Julie Norem, Profesor Psikologi dari Wellesley College yang menjadi narasumber
artikel ini , meneliti mengapa beberapa orang justru memberi respon lebih
baik terhadap peristiwa negatif, sebuah sikap yang disebutnya sebagai "pesimisme
defensif". Penelitiannya menunjukkan bahwa dengan memikirkan segala sesuatu
yang bisa berjalan tidak sesuai rencana, orang-orang ini justru mengurangi
kekhawatiran mereka dan sering kali sanggup untuk mengantisipasi hambatan-
hambatan ini .
Dari artikel yang sama, penulis Barbara Ehrenreich menyalahkan krisis finansial
2008 kepada para investor yang menolak untuk memikirkan kemungkinan yang
buruk (berinvestasi hanya membayangkan untung besar saja, tidak mau
memikirkan bahwa investasi bisa juga merugi). Nanti kita akan melihat bagaimana
temuan di atas sudah dipikirkan oleh para filsuf Stoa sejak 2.000 tahun yang
lampau.
Bagaimana dengan agama? Tidakkah agama (seharusnya) menawarkan cara
memperoleh kedamaian di dunia (selain di surga)?
Walaupun di atas kertas memang demikian, namun dari pengamatan pribadi saya
banyak orang masih menjadikan agama hanya sebagai "tiket ke surga", di mana
ritual keagamaan menjadi sekadar daftar yang harus dicentang untuk memenuhi
syarat masuk surga, namun para penganutnya tidak memahami dan menerapkan
substansinya sebagai pedoman kedamaian dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan,
sering kali (interpretasi) agama dijadikan alasan untuk bertengkar dan menyakiti
orang lain.
Selain itu, identitas agama sering dijadikan dasar untuk “membedakan", bukan
untuk mencari kesamaan yang mempertemukan [common ground]. Boro-boro
mencari kesamaan antar-agama dan keyakinan yang berbeda, bahkan di dalam
agama dan keyakinan yang sama saja kita bisa mencari-cari perbedaan
interpretasi, mazhab, dan ritual untuk dipertengkarkan.
Ini sebenarnya sangat disayangkan, sebab berbagai agama menawarkan mutiara
kehidupan yang kaya dan saling melengkapi, namun label identitas agama yang
berbeda-beda
22
justru bisa mendirikan tembok-tembok yang memisahkan, misalnya, '‘sebab gue
Kristen gue gak mau membaca kebijaksanaan yang ada di agama Islam," atau,
“sebab gue Muslim gue gak mau membaca kebijaksanaan yang ada di agama
Hindu," dan seterusnya.
Adakah ide alternatif yang bisa membantu kita merasa lebih tenang dan damai,
tanpa terbentur label dan politik identitas?
Kira-kira 300 tahun sebelum Masehi (atau sekitar 2.300 tahun yang lalu), seorang
pedagang kaya dari Siprus (sebuah pulau di Selatan Turki) bernama Zeno
melakukan perjalanan dari Phoenicia ke Peiraeus dengan kapal laut melintasi
Laut Mediterania. Zeno membawa barang dagangan khas daerah Phoenicia, yaitu
semacam pewarna tekstil berwarna ungu yang sangat mahal, yang sering dipakai
untuk mewarnai jubah raja-raja. Pewarna ini dibuat dari ekstrak siput laut, dan
proses pembuatannya sangat melelahkan, sebab ribuan siput laut ini harus
dibuka dengan tangan hanya untuk mendapatkan beberapa gram ekstrak
pewarna. sebab nya tidak heran barang ini sangat berharga dan mahal.
Malang tidak bisa ditolak, kapal yang ditumpangi Zeno karam. Zeno tidak hanya
kehilangan seluruh barang dagangannya yang teramat mahal, namun ia juga harus
terdampar di Athena. Ini tentunya sebuah cobaan yang besar, tidak hanya
kehilangan harta benda, namun juga harus menjadi orang asing yang luntang-
lantung di kota yang bukan rumahnya.
Suatu hari di Athena, ia pergi mengunjungi sebuah toko artikel dan menemukan
sebuah artikel filsafat yang menarik hatinya, la bertanya kepada si pemilik toko
artikel , di manakah ia bisa bertemu dengan f i lsuf-f ilsuf seperti penulis artikel itu.
Kebetulan saat itu melintaslah Crates, seorang filsuf aliran Cynic, dan sang
penjual artikel menunjuk kepadanya. Zeno pun pergi mengikuti Crates untuk belajar
filsafat darinya.
Zeno kemudian belajar dari berbagai filsuf yang berbeda, dan kemudian ia pun
mulai mengajar filosofinya sendiri, la senang mengajar di sebuah teras berpilar
(dalam bahasa Yunani
disebut stoa] yang terletak di sisi Utara dari agora (tempat publik
yang digunakan untuk berdagang dan berkumpul. Mungkin semacam
alun-alun Yunani kuno ya) di kota Athena.
Sejak itu, para pengikutnya disebut "kaum Stoa". Dalam proses
penulisan artikel ini, saya menemukan banyak orang sulit
menyebutkan "Stoisisme”. sebab nya, untuk memudahkan judul
artikel , saya menyebutnya (terjemahan langsung dari
kata stoa].
Dari Zeno, filsafat ini dilanjutkan dan dikembangkan oleh para filsuf
lain, mulai dari Yunani sampai ke kekaisaran Romawi. Beberapa dari
mereka adalah Chrysippus dari Soli, Yunani, yang dianggap sebagai
pendiri kedua Stoisisme; Cato The Younger dari Roma, seorang
politisi dan negarawan yang terkenal sebab berani menentang Julius
Caesar; Lucius Seneca dari Roma, seorang filsuf, negarawan,
penulis drama; Musonius Rufus dari Roma, mengajar filsafat di era
Kaisar Nero; Epictetus dari Yunani, terlahir sebagai budak, kemudian
mendapat kebebasan dan tinggal di Roma; dan Kaisar Marcus
Aurelius, yang dikenal sebagai salah satu dari Lima Kaisar Yang Baik
[The Five Good Emperors).
Stoisisme kemudian meredup di awal abad ke-4, saat Kekaisaran
Romawi mengadopsi agama Kristen sebagai agama resmi negara.
Sekarang, di abad 21, di belahan dunia Barat, filosofi ini mulai
populer kembali dengan artikel -artikel dan presentasi yang
memperkenalkannya kembali ke publik, seperti karya-karya dari
William Irvine, Tim Ferris, Ryan Holiday, dan Massimo Pigliucci.
Bahkan, sekarang ada acara tahunan Minggu Stoa [Stoic Week)
pada sekitar bulan Oktober sampai November, di mana para peminat
Stoisisme dari seluruh dunia bisa bersama-sama melakukan refleksi
dan mempraktikkan filosofi ini selama seminggu dengan panduan
online.
Saat mempelajari Stoisisme, saya menemukan filosofi ini jauh dari
mengawang-awang, atau lebih dari sekadar konsep yang abstrak dan
"intelek”. Stoisisme bersifat sangat practical dan bisa diterapkan
sehari-hari. Saya pribadi menemukan alternatif laku hidup (meminjam
terjemahan Romo Setyo Wibowo untuk “way of Z/fe”) yang lebih baik
dari ajaran positive thinking.
Contoh sederhana bagaimana Stoisisime telah mengubah karakter
saya adalah sebagai berikut.
Dahulu saya bisa berubah menjadi orang yang sangat pemarah jika
terjebak di dalam...kemacetan. Saya bisa sangat merasa stres,
mengalami peningkatan detak jantung, dan sangat emosional di balik
kemudi (bayangkan Bruce Banner mau berubah jadi Hulk, tapi minus
jadi gede dan ijo aja...] Bahkan, saat saya hanya menjadi penumpang
dan tidak perlu mengemudi pun saya masih mengalami kemarahan
ini. Jika berada di tengah kemacetan, saya merasa stuck, terjebak,
frustrasi, dan hal ini membuat saya murka. Perilaku saya sudah
sampai mengganggu keluarga. Setelah menemukan dan belajar
mempraktikkan Stoisisme, saya berubah drastis. Kemacetan sudah
tidak membuat saya emosional lagi (bahkan saat menghadapi
perilaku pengguna jalan lain yang terkadang ajaib dan membuat saya
ingin mengelus dada ayam...).
Efek dari Stoisisme di hidup saya tidak hanya terbatas di situasi jalan
raya. Stoisisme membantu saya dalam menjalani hidup sehari-hari
dengan lebih tenteram dan tidak mudah terganggu oleh hal-hal
negatif, kesialan, tekanan pekerjaan, sampai ke perilaku orang yang
menyebalkan di sekitar. sebab saya telah merasakan manfaat
mempraktikkan Stoisisme, saya ingin berbagi kepada orang lain
melalui artikel ini, siapa tahu ini bisa membantu orang-
orang lain seperti saya. Minimal, memulai ketertarikan untuk
mempelajarinya lebih dalam.
Satu hal yang saya temui saat mempelajari Stoisisme adalah betapa
banyak prinsip-prinsipnya yang serupa dengan yang diajarkan
berbagai agama, orang tua, nasihat kakek nenek, sampai budaya asli
Indonesia. Saat membaca artikel ini, saya rasa akan banyak dari kamu
yang berpikir, "Lho, ini sama dengan ajaran agama saya!" atau, "Eh
ini kayak kata-kata orang jaman dulu ya," atau, "Ini seper ti'quote
tokoh besar yang itu!" Atau, mungkin kamu kenal langsung dengan
orang yang sudah mempraktikkan prinsip-prinsip filosofi ini walaupun
ia belum pernah membaca tentang Stoisisme.
Bagi saya, prinsip Stoisisme ini menunjukkan kebijaksanaan
universal yang terkandung di dalamnya. Selain itu, sebab ini adalah
sebuah aliran filsafat dan bukan agama/kepercayaan, seharusnya
tidak terjadi tembok dan benturan-benturan yang umum timbul
dengan ide-ide yang memiliki “label agama”. Saya merasa kelebihan
Stoisisme adalah sifatnya yang kompatibel dan
r “Seorang praktisi
Stoa seharusnya merasakan
keceriaan senantiasa dan
sukacita yang terdalam,
sebab ia mampu menemukan
kebahagiaannya sendiri, dan tidak
menginginkan sukacita yang lebih
daripada sukacita yang datang dari
dalam (inner joys)”
komplementer dengan berbagi kepercayaan. Dari yang sangat religius
sampai agnostik sekalipun bisa mendapat manfaat dari mempelajari
Stoisisme.
Stoisisme juga tidak bersifat "dogmatis” sebab ia bukan agama yang
k
K.
Seneca (On Happy Life)
memiliki aturan mutlak yang tidak boleh dilanggar, atau ada ancaman
masuk neraka jika tidak dilakukan. Di luar ajaran- ajaran mendasar, para
filsuf Stoa memiliki pengajaran yang tidak seluruhnya seragam satu sama
lain. Sebagai filosofi, ia terbuka untuk diperdebatkan atau diadaptasi
menurut kebutuhan masing-masing. artikel ini lebih memusatkan pada
prinsip-prinsip dasar yang bisa membantu kita menjalani
hidup dan ketidak-pastiannya. Pada akhirnya, praktisi Stoisisme lebih
mementingkan praktik nyata dan manfaatnya di dalam hidup mereka
ketimbang meributkan dogma dan teks.
Apa TUJUAN UTAMA dari ?
Mari kita mulai dari apa yang BUKAN merupakan tujuan Stoisisme.
Stoisisme tidak dimaksudkan untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat
eksternal, seperti sukses jodoh, disayang bos dan istri (istri sendiri, bukan
istri si bos!), mendapatkan ide bisnis start-up yang gampang memperoleh
investasi jutaan dolar, atau anak-anak yang jenius. Ini yang
membedakannya dari banyak ajaran self-help populer masa kini. Nanti
akan dijelaskan alasan mengapa para filsuf Stoa tidak mengejar hal- hal
ini .
Yang terutama ingin dicapai oleh Stoisisme adalah:
1. Hidup bebas dari emosi negatif (sedih, marah, cemburu, curiga,
baper, dan lain-lain), mendapatkan hidup yang tenteram
[tranquil). Ketenteraman ini hanya bisa diperoleh dengan
memfokuskan diri pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Kita
akan membahas lebih lanjut di bagian-bagian berikutnya.
2. Hidup mengasah kebajikan [virtues). Ada empat kebajikan utama
menurut Stoisisme:
a. Kebijaksanaan [wisdom): kemampuan mengambil
keputusan terbaik di dalam situasi apa pun.
b. Keadilan [justice): memperlakukan orang lain dengan adil
dan jujur.
c. Keberanian /courage): keberanian berbuat yang benar,
berani berpegang pada prinsip yang benar. Ini bukan
‘‘berani’’ dalam makna sempit, seperti bernyali masuk
kandang singa (walaupun jika kita membaca kisah hidup
para filsuf Stoa, rasanya mereka juga akan berani masuk
kandang singa jika memang perlu....).
d. Menahan diri /temperance): disiplin, kesederhanaan,
kepantasan, dan kontrol diri (atas nafsu dan emosi).
Saat saya mempelajari Stoisisme, saya menemukan bahwa
“kebahagiaan” (dalam pengertian umum) bukanlah tujuan utama yang
dicari dalam filosofi ini. Para filsuf Stoa lebih menekankan pada
mengendalikan emosi negatif, dan mengasah virtue (kebajikan, atau
terjemahan lainnya “keutamaan”). Virtue dalam bahasa Inggris diambil
dari kata dalam Bahasa Latin virtus, dan kata ini sendiri diambil dari
bahasa Yunani arete. Dalam proses penerjemahan berlapis ini tentu ada
makna yang hilang, dan penting untuk kita mengetahui apa makna asli
dari kata arete.
Dalam artikel nya Stoicism and The Art of Happiness, Donald Robertson
menerangkan bahwa arete bermakna menjalankan sifat dan esensi dasar
kita dengan sebaik mungkin, dengan cara sehat dan terpuji. Atau, kalau
saya mencoba menggunakan kata-kata saya sendiri, hidup sebaik-
baiknya sesuai dengan peruntukkan kita.
Mungkin lebih jelas jika kita melihat contoh penggunaan arete dalam
penggunaan bahasa Yunani aslinya. Seekor kuda yang kuat, tangguh,
dan bisa berlari kencang bisa disebut memiliki arete (sementara dalam
bahasa Inggris tidak mungkin kuda itu disebut memiliki virtue, atau dalam
bahasa Indonesia kuda itu disebut ‘bajik’). Ini artinya si kuda yang kuat
dan berlari kencang ini sudah menjalankan hidupnya sebaik-baiknya
sesuai sifat dan esensi dasar dari ‘kuda’.
percaya bahwa hidup dengan arete/v/rtue/kebajikan ini
yang harus dikejar oleh kita semua. Bersama-sama dengan kemampuan
mengendalikan emosi negatif, maka hidup yang tenteram, damai, dan
tangguh akan hadir sebagai konsekuensi.
Namun, untuk bisa hidup dengan arete, kita harus terlebih dahulu
mengetahui apa sebenarnya esensi dan peruntukkan kita sebagai
manusia. Ini yang akan dibahas di bab berikutnya.
Berbeda dari banyak aliran filsafat lain, Stoisisme terasa lebih
menekankan pada praktik, dan tidak terlalu pada diskusi intelektual
menyangkut ide-ide dan konsep abstrak. Semakin banyak saya membaca
mengenai Stoisisme, semakin saya merasa para tokoh-tokoh filsafat ini
lebih menyerupai psikolog, konselor, guru BP (eh, sekarang namanya
guru BK, Bimbingan Konseling, ya?), dan life coach untuk zamannya.
Mereka adalah pengamat perilaku manusia dan human condition yang
tajam, sangat mengerti kehidupan manusia, bisa membedakan
kebahagiaan dan damai yang substansial dari yang dangkal, dan juga
pragmatis dalam penerapan sehari-hari.
Salah satu alasan mengapa saya menyukai filosofi ini adalah sebab
SIAPA PUN bisa ikut mempraktikkannya tanpa harus bergantung pada
atribut-atribut, seperti kekayaan, prestasi akademis, inteligensi bawaan,
warna kulit, suku, karier, atau profesi. Stoisisme sama sekali tidak
terpesona dan tidak mementingkan pencapaian-pencapaian dunia, seperti
kekayaan, kesuksesan karier, popularitas, dan lain-lain.
Ini yang menjadikan Stoisisme sebagai filosofi yang bersifat inklusif—
merangkul semua. Harta benda, popularitas, gelar akademisi yang
melebihi panjang nama-hal-hal ini bukan definisi sukses, dan juga
bukan bukti bahwa seseorang mempraktikkan Stoisisme. Ini tampak nyata
dari latar belakang para filsuf Stoa yang beragam, mulai dari politisi,
kaisar, pedagang, sampai mantan budak. Sebaliknya, jika seseorang
memiliki rasa tenteram dan sukacita yang tidak mudah goyah di situasi
hidup apa pun, jika ia menunjukkan kepedulian sosial, jika ia hidup dalam
kebajikan, maka inilah buah-buah dari praktik Stoisisme.
’‘Seorang praktisi Stoa seharusnya merasakan keceriaan senantiasa
dan sukacita yang terdalam, sebab ia mampu menemukan
kebahagiaannya sendiri, dan tidak menginginkan sukacita yang
lebih daripada sukacita yang datang dari dalam /inner joys/." -
Seneca lOn Happy Life)
Damai dan
tenteram ini kokoh
sebab berakar dari
dalam diri kita, bukan
pada hal-hal eksternal
yang bisa berubah,
hancur, atau direnggut
dari kita.
Tujuan membebaskan kita dari emosi negatif, minimal menguranginya,
rasanya sangat relevan dengan kehidupan sekarang yang penuh
ketidakpastian. Setelah membaca hasil Survei Khawatir Nasional, rasanya
pemikiran purba ini tetap relevan, bahkan sesudah lewat lebih dari 2.000
tahun. Di dalam artikel "Why Stoicism Matters Today", Kare Anderson
menyebutkan beberapa alasan mengapa Stoisisme tetap relevan di masa
kini:
1. Stoisisme ditulis untuk menghadapi masa sulit.
Stoisisme lahir di era penuh peperangan dan krisis di Yunani.
Filsafat ini tidak menjanjikan materi ataupun damai di akhirat,
namun damai dan tenteram yang kokoh di kehidupan sekarang.
Damai dan tenteram ini kokoh sebab berakar dari dalam diri kita,
bukan pada hal-hal eksternal yang bisa berubah, hancur, atau
direnggut dari kita.
Di era di mana banyak hoaks, fake news, maupun fitnah yang
beredar dengan liar di media sosial ataupun chat group, serta
keriuhan politik yang sering kali berdampak pada relasi personal
dan menyebabkan perpecahan di masyarakat, rasanya Stoisisme
sama relevannya untuk Indonesia saat ini, seperti halnya di Yunani
& Romawi 2.000 tahun yang lalu.
2. Stoisisme dibuat untuk globalisasi. Stoisisme mungkin adalah
filsafat Barat pertama yang mengajarkan persaudaraan universal
[universal brotherhood). Di tengah dunia yang rasanya semakin
terpolarisasi dengan "kiri” versus "kanan”, "konservatif” versus
"liberal”, tersekat oleh identitas suku dan agama, sebuah filosofi
yang mengajarkan bahwa "kita semua adalah saudara dalam
kemanusiaan” sungguh sangat dibutuhkan. Ini juga pas dengan
kondisi Indonesia yang terasa memanas sebab politik, di mana
label-label pemisah dan penyekat terasa semakin menguat.
3. Stoisisme adalah filsafat kepemimpinan.
Kepemimpinan di sini tidak sesempit memimpin tim, organisasi,
ataupun negara, namun dimulai dari memimpin diri sendiri.
Stoisisme mengajarkan kita untuk memprioritaskan mengendalikan
diri sendiri sebelum mencoba mengendalikan kehidupan dan
orang-orang di luar kita. Stoisisme membekali para pemimpin
untuk tegar di dalam kegagalan dan rendah hati di saat sukses.
Bekal ini berguna bagi siapa pun, tidak terbatas pada mereka yang
memangku jabatan resmi.
artikel The Daily Stoic memaparkan beberapa orang terkenal yang diketahui
—berdasarkan pengakuan langsung maupun tulisan-tulisan mereka—
mempelajari dan mempraktikkan Stoisisme dalam kehidupannya, seperti
mantan presiden Amerika Serikat Bill Clinton, aktris Anna Kendrick, aktor
Tom Hiddleston, penulis J.K. Rowlings, dan Nicolas Nassim Taleb—
penulis favorit saya, yang menulis artikel keuangan The Black Swan\ artikel
tidak dimaksudkan menjadi artikel pengantar resmi Stoisisme,
apalagi sebagai referensi utama. artikel kecil ini tidak mungkin cukup
menjelaskan keseluruhan filosofi ini. Saya hanya mengambil inti-inti yang
saya rasakan paling mudah dan relevan untuk kehidupan sehari-hari, yang
saya gabungkan dengan insight pribadi saya dan juga perspektif para
praktisi dari bidang-bidang yang saya anggap relevan.
Saya menganjurkan kamu untuk membaca lebih dalam dan menemukan
sendiri filosofi ini secara lebih utuh, baik melalui tulisan-tulisan kontemporer
mengenainya, atau membaca langsung tulisan-tulisan dari tokoh-tokoh
filosofi ini—walaupun sayangnya hampir semua literatur yang saya baca
masih menggunakan bahasa Inggris. Referensi di internet juga sangat
banyak, dari tulisan sampai video, meskipun lagi-lagi sebagian besar masih
dalam bahasa Inggris.
Anggaplah artikel ini menjadi appetizer (hidangan pembuka) terhadap
filsafat Stoisisme, dan semoga dari 'hidangan pembuka’ ini, kamu tertarik
untuk ‘menyantap hidangan utama’, yaitu tulisan-tulisan mengenai
Stoisisime, baik dari penulis asli maupun penulis kontemporer lainnya.
Mari kita mulai memasuki ini!
Br Tujuan utama dari^
F adalah
hidup dengan emosi
negatif yang terkendali,
dan hidup dengan
kebajikan (virtue/arete)
—atau bagaimana kita
hidup sebaik-baiknya
seperti seharusnya kitaj
menjadi manusia,
• w
•1
w
B r
<
Intisari Bab 2:
• , atau Stoisisme, adalah aliran filsafat Yunani-Romawi
purba yang sudah berusia lebih dari 2.000 tahun, namun masih relevan
untuk kondisi manusia zaman sekarang.
• Sebagai sebuah filsafat, Stoisisme bisa melengkapi cara kita menjalani
hidup. Stoisisme bukan agama kepercayaan.
• Stoisisme mengandung banyak ajaran dan nilai-nilai universal yang
mungkin kita dengar dari filosofi lain, nilai budaya, atau agama.
• Tujuan utama dari adalah hidup dengan emosi negatif
yang terkendali, dan hidup dengan kebajikan (virtue/arete)—atau
bagaimana kita hidup sebaik-baiknya seperti seharusnya kita menjadi
manusia.
BAB TIGA
Hidup
Selaras
dengan
Alam
36
aat menulis artikel ini, anak saya masih berusia 21 bulan. Jika
memungkinkan, saya senang menyempatkan diri berjalan- jalan
dengannya di kompleks perumahan saat pagi atau sore hari. Saya
senang mengamati bagaimana dia berkembang dari bayi yang tidak
bisa apa-apa hingga sekarang sudah mulai berjalan dan mencoba
belajar berlari. Ada yang lucu dari caranya berlari yang belum
sempurna, tangannya masih lurus menggantung dan belum berayun
layaknya cara berlari orang yang lebih dewasa. Dalam proses
pertumbuhannya, kelak dia akan mengerti bagaimana cara berlari
yang ‘seharusnya’. Sampai ia mengerti cara berlari yang ‘seharusnya’,
ia selalu tampak kurang seimbang dan sepertinya bisa tersandung
kapan saja.
S
Satu prinsip utama Stoisisme adalah bahwa kita harus "hidup selaras
alam” [in accordance with nature). Jika kamu langsung mengantuk
mendengar ini, atau tiba-tiba teringat pernah membuang sampah
sembarangan, tunggu dulu! "Hidup selaras alam" dalam Stoisisme
tidak sesempit "memelihara harmoni dengan lingkungan hidup",
seperti tidak membuang sampah sembarangan, mencemari
lingkungan, atau mencintai dan melindungi satwa langka (walaupun
tentu hal-hal ini juga baik dilakukan). Di dalam Stoisisme, "Alam”
[Nature—dengan huruf pertama kapital/ di sini lebih besar dari
"lingkungan hidup”, serta mencakup keseluruhan alam semesta dan
seluruh penghuninya.
Dalam konteks nature dari manusia, Stoisisme menekankan satu-
satunya hal yang dimiliki “manusia” yang membedakannya dari
"binatang”. Hal ini adalah nalar, akal sehat, rasio, dan
kemampuan menggunakannya untuk hidup berkebajikan [life of
virtues). Manusia yang hidup selaras dengan alam adalah manusia
yang hidup sesuai dengan desainnya, yaitu makhluk bernalar.
Dikaitkan dengan konsep arete di bab sebelumnya, maka manusia
yang hidup dengan arete/vVrtue/kebajikan adalah ia yang sebaik-
baiknya menggunakan nalar dan rasionya— sebab itulah esensi,
nature mendasar dari menjadi manusia.
Yang menarik, nalar/rasionalitas yang sangat dipentingkan di dalam
adalah konsep yang bisa diterima oleh
37
siapa pun tanpa harus memperdebatkan asal muasalnya.
Mereka yang religius akan memandang nalar/rasio sebagai
sebuah karunia dari Sang Pencipta dan mungkin bersifat
abstrak, dalam arti tidak berwujud fisik atau bagian
dari ruh manusia. Sebaliknya, mereka yang skeptis dan
sangat berpegangan pada sains mungkin melihat nalar
murni sebagai fungsi biologis, produk evolusi ratusan
ribu tahun, hasil kerja dan interaksi berbagai bagian di
otak yang rumit.
It does not matter where it came from. Stoisisme lebih menekankan
bahwa rasionalitas adalah fitur unik dari manusia. Walaupun ilmu
psikiatri dan saraf modern mengerti bahwa fungsi nalar bisa menjadi
rusak/terganggu sebab gangguan otak atau penggunaan narkoba,
namun untuk pembahasan ini kita mengasumsikan fungsi nalar yang
sehat pada kebanyakan orang.
Sampai di sini mungkin kamu berpikir, “YA ELAH, APA
ISTIMEWANYA INI? GUE JUGA UDAH TAU KALO MANUSIA LEBIH
PINTER DARI BINATANG!" Ini mungkin pemahaman lama bagi kita
semua, namun kemudian Stoisisme lebih jauh lagi mengajarkan
mengapa kita harus selalu menggunakan rasionalitas. Argumennya
kurang lebih seperti berikut:
• Jika kita ingin hidup bahagia, bebas dari emosi negatif, kita
“harus hidup selaras dengan Alam".
• Alam memberikan manusia rasionalitas sebagai fitur unik yang
membedakannya dari binatang.
• “Hidup selaras dengan Alam" untuk manusia artinya kita
HARUS menggunakan nalar. Saat kita tidak menggunakannya,
praktis kita tidak berbeda dengan binatang.
• saat kita tidak menggunakan nalar kita, selain kita menjadi
sama dengan binatang, kita akan rentan merasa tidak bahagia,
sebab kita telah “tidak selaras lagi dengan Alam”. Bayangkan
seekor singa yang sifat dasarnya adalah tinggal di savanna
luas di alam bebas, kemudian harus tinggal di kurungan sempit
di kebun binatang. Singa yang hidupnya sudah tidak selaras
lagi dengan Alam ini rasanya sulit merasa 'bahagia’, bahkan
walaupun makanannya dijamin sekalipun.
38
Coba kita pikirkan situasi-situasi sehari-hari di mana kita mungkin
kehilangan nalar, akal sehat, atau kepala dingin—-walau hanya sesaat:
• Kita menerima e-mail pekerjaan yang—menurut kita— sengaja
menyinggung perasaan pribadi. Kita segera membalas e-mail
ini dengan kosakata berbagai penghuni kebun binatang
(padahal kita tidak berkantor di kebun binatang).
• Kita sedang berkendara di jalan, kemudian kendaraan kita
disalip orang. Serta-merta kita emosi dan marah- marah,
bahkan sampai mengejar penyerobot ini untuk membalas
dendam (padahal, kita sedang naik skuter, sementara yang
nyalip naik mobil Ferrari. Etapi ke/ce/erjuga sih kalau lagi
macet....).
• Kita mencium wangi parfum perempuan lain di baju suami dan
tanpa berpikir panjang kita menyentuhkan panci ke pipi suami
(dengan kecepatan tinggi).
• Kita baru berkenalan dengan perempuan cantik, kemudian
langsung mengajaknya tidur bersama.
• Kita membaca sebuah posting-an provokatif di media sosial
dan langsung emosi, sehingga kita marah-marah di bagian
comment atau segera mem-forward-nya ke banyak orang
tanpa mengecek dulu kebenarannya.
Di semua contoh situasi tadi, kita sedang tidak menggunakan
nalar/rasio dan hanya mengikuti hawa nafsu. Apakah kira- kira semua
tindakan tadi akan membawa hasil yang positif? (Bayangkan nasib
sang suami yang dielus panci dengan kecepatan tinggi tadi). Inilah
yang dimaksudkan di dalam Stoisisme, agar kita "hidup selaras
dengan Alam", yaitu, sebisa mungkin, di setiap situasi hidup, kita tidak
kehilangan nalar kita dan berlaku seperti binatang, yang akhirnya
berujung kepada ketidakbahagiaan (dan dalam beberapa kasus, benjol
di kepala orang lain).
Makhluk Sosial
Selain memiliki nalar, Stoisisme percaya bahwa sifat alami [nature)
manusia adalah social creatures (makhluk sosial). Artinya, kita harus
hidup sebagai bagian dari kelompok yang lebih besar. Jika ini
digabungkan dengan prinsip manusia harus menggunakan nalar tadi,
seorang praktisi Stoa—seharusnya— hidup secara sosial, yaitu tidak
mengisolasi diri dari manusia lainnya, dan juga berhubungan dengan
39
orang lain secara rasional.
Percuma kalau kita menjadi bijak dan tahu segala hal, namun memutus
hubungan dengan sesamanya. Sebaliknya, percuma juga kita aktif
secara sosial, namun tidak menggunakan nalar, dan bahkan sampai
dikuasai emosi negatif, seperti marah, dengki, dan iri hati. Penggunaan
nalar dan hidup sosial berjalan beriringan. Kita semua tahu bahwa
hidup dengan orang lain pada kenyataannya memang tidak mudah.
Setiap hari kita akan berhadapan dengan perilaku orang lain yang
menjengkelkan. Para filsuf Stoa menyadari sepenuhnya hal itu, dan
nanti kita akan melihat bagaimana caranya praktisi Stoisisme bisa
hidup berdampingan dengan orang lain secara rasional dan damai,
bahkan di antara orang yang (kita anggap) menyebalkan sekalipun.
Keterkaitan Segala Sesuatu di Dalam Hidup
(Interconnectedness)
"Hidup selaras dengan Alam” menuntut kita menyadari adanya
keterkaitan [interconnectedness] di kehidupan ini. Stoisisme melihat
segala sesuatu di alam semesta ini sebagai keterkaitan, bagaikan
jaring-jaring raksasa, termasuk semua peristiwa di dalam hidup kita
sehari-hari. Dengan kata lain, kejadian-kejadian yang ada di dalam
hidup kita adalah hasil rantai peristiwa yang panjang, dari peristiwa
"besar” sampai peristiwa yang terkesan “remeh” sekalipun.
Jadi, jika suatu hari kita menginjak eek kucing di jalan (umumnya tidak
sengaja, saya tidak pernah kenal orang yang senang menginjak eek
kucing....), maka ini bukanlah sebuah peristiwa acak/random, namun
adalah hasil rantai banyak peristiwa lain. Misalnya, si kucing eek di situ
sebab memang sudah kebelet dan pada saat itu titik ini tampak
nyaman untuk si kucing buang hajat. Kemudian, kita pas sedang
melewati jalanan ini dan sibuk stalking media sosial mantan
sampai tidak memperhatikan jalan, dan JREK\ Terinjaklah eek kucing
itu oleh kita.
40
Tidak ada peristiwa yang betul-betul "kebetulan". Atau, dengan kata lain,
sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu dan sedang terjadi pada detik ini juga
adalah hal tak terhindarkan sebab merupakan mata rantai dari peristiwa-
peristiwa sebelumnya.
Kamu mungkin berpikir bahwa ini mirip dengan konsep "takdir”.
41
Perbedaannya adalah Stoisisme tidak mengharuskan adanya dewa-dewi
atau Tuhan yang merancang keterkaitan peristiwa- peristiwa ini. Sebagian
filsuf Stoa mengatribusikannya kepada Tuhan, sementara sebagian lainnya
sekadar melihat alam semesta bagaikan mekanisme raksasa yang bergerak
menuruti hukum-hukum alam. Sama seperti konsep nalar di atas, tidak terlalu
penting "dari mana” keterkaitan ini ada untuk kita bisa menjadikan Stoisisme
sebagai laku hidup, yang penting adalah menyadari bahwa eksistensi setiap
manusia adalah bagian dari Alam yang lebih besar. Hidup kita sangat terkait
di jaring semesta ini, dan semua peristiwa di dalam hidup ini menaati hukum
dan aturan ”Alam”.
Dunia sains modern mengenal The Butterfly Effect (Efek Kupu- Kupu) di
dalam Chaos Theory yang mengingatkan saya pada interconnectedness di
Stoisisme. Singkatnya, Efek Kupu-Kupu berkata kepakan sayap seekor kupu-
kupu di Amerika Serikat bisa menyebabkan topan badai di China beberapa
waktu kemudian. Waduh! Lebay amat? Masak iya? Efek Kupu-Kupu ini sering
dijadikan ilustrasi dalam menjelaskan Chaos Theory.
Menurut sains, di dalam sebuah sistem nonlinear (seperti cuaca), perubahan
kecil saja (seperti kepakan sayap kupu) di waktu dan tempat yang tepat, bisa
menyebabkan reaksi berantai yang berujung pada perubahan yang sangat
besar (seperti topan badai di tempat lain yang jauh). Menurut saya, teori
sains modern ini sesuai dengan interconnectedness di dalam
yang berusia 2.000 tahun lebih.
Kembali ke kehidupan sehari-hari kita. Coba kita membayangkan peristiwa-
peristiwa penting dalam hidup kita yang tentunya lebih signifikan daripada
menginjak e'ek kucing di jalan. Bisa dimulai dari proses kelahiran kita.
Tidakkah kita bisa merunut ke belakang rantai peristiwa yang akhirnya
berujung kepada kelahiran kita? Dan mungkin kita akan menemukan hal- hal
signifikan di hidup kita sekarang adalah hasil rantai panjang konsekuensi
sebuah peristiwa sepele belasan atau bahkan puluhan tahun yang lampau.
Misalnya:
• Bagaimana kita bisa ada di dunia? sebab selama kira- kira sembilan
bulan kita dikandung ibu kita dengan baik.
• Bagaimana ibu kita bisa mengandung kita? Well, tidak perlu dijelaskan
di sini harusnya, ahem. Ya gitu deh, bapak nakal....
• Bagaimana terjadinya “ehem-ehem" itu? sebab ayah dan ibu kita
sebelumnya menikah.
• Mengapa mereka menikah? sebab sebelumnya mereka mungkin
sudah pacaran selama beberapa lama dan kemudian memutuskan
untuk mengikat tali pernikahan.
42
• Bagaimana mereka awalnya bertemu? sebab dikenalkan oleh teman
yang merasa mereka berdua akan cocok.
• Bagaimana teman ini tahu kedua calon orang tua kita ini? sebab dia
kebetulan adalah teman kuliah mereka.
• Bagaimana orang tua kita bisa menjadi teman kuliah dengan orang
ini? sebab orang tua kita secara terpisah memilih, atau dipaksa,
untuk kuliah di tempat ini .
• Dan seterusnya, dan seterusnya.
Maka, jika dirunut, kelahiran kita di dunia ternyata adalah konsekuensi dari
mata rantai peristiwa hidup yang sangat panjang, yaitu gabungan banyaknya
peristiwa dan keputusan- keputusan yang diambil para pelaku hidup di sekitar
kita dan juga orang-orang yang tidak kita kenal. Hal ini berlaku untuk
''seluruh” hal yang pernah dan sedang terjadi di dalam hidup kita, baik besar
maupun ‘‘kecil”. Dari tempat kita akhirnya bersekolah/kuliah atau bekerja,
sampai kejadian kita ketinggalan kereta, semua peristiwa-peristiwa ini
sesungguhnya tidak "berdiri sendiri” [isolated], namun hanyalah bagian dari
mata rantai peristiwa yang terus bersambung. melihat semua
peristiwa hidup sebagai sebuah keteraturan kosmos dari peristiwa-peristiwa
terkait yang mengikuti aturan alam.
Hidup selaras dengan
Alam artinya kita
harus sebaik-baiknya
menggunakan nalar,
akal sehat, rasio,
sebab itulah yang
membedakan manusia .
dan binatang.
sebab keterkaitan (termasuk di dalamnya semua peristiwa di
kehidupan kita) adalah bagian dari “Alam” [Nature], maka “melawan
atau mengingkari peristiwa yang terjadi" dianggap sama dengan
“melawan Alam”, dan seperti telah dijelaskan sebelumnya, Stoisisme
mengajarkan agar manusia hidup “selaras dengan alam”.
Melanjutkan contoh sebelumnya, marah-marah sebab sepatu Jordan
terbaru kita menginjak e’ek kucing adalah melawan alam dan sebuah
kesia-siaan (lebih sia-sia lagi marah-marah kepada sang empunya
e’ek.] Begitu juga dengan menyesali kondisi kita dilahirkan, entah itu
kondisi keluarga, negara kita dilahirkan, kondisi kesehatan kita saat
dilahirkan, dan lain-lain. Semuanya sudah terjadi mengikuti keteraturan
"Alam”. Jadi, untuk apa disesali, ditangisi, dan disumpahserapahi?
Semua hal yang telah terjadi di masa lalu dan baru saja terjadi detik ini
—termasuk sekarang saat kamu sedang membaca artikel ini—terjadi
mengikuti aturan "Alam" ini. [Forfun, coba dirunut peristiwa-peristiwa
yang menyebabkan kamu detik ini sedang membaca artikel ini).
Apakah artinya filosofi ini mengajarkan pasrah pada keadaan? Sama
sekali tidak! Di bab berikut kita akan memahami mengapa penerimaan
Stoisisme akan peristiwa hidup sama sekali tidak sama dengan
kepasrahan totaL
Intisari Bab 3:
• Manusia harus hidup selaras dengan Alam jika ingin hidup yang
baik.
• Keluar dari keselarasan dengan Alam adalah pangkal
ketidakbahagiaan.
• Hidup selaras dengan Alam artinya kita harus sebaik- baiknya
menggunakan nalar, akal sehat, rasio, sebab itulah yang
membedakan manusia dan binatang.
• percaya bahwa segala sesuatu di Alam ini saling
terkait (interconnected), termasuk di dalamnya segala peristiwa
yang terjadi di dalam hidup kita.
• Melawan atau mengingkari apa yang telah terjadi artinya keluar
dari keselarasan dengan Alam.
BAB EMPAT
Dikotomi
Kendali
46
H > A ita kalah tender", kira-kira begitu bunyi e-mail yang masuk ke inbox
saya. Sebuah tender proyek yang f B proposalnya sudah dikerjakan selama
berhari-hari oleh perusahaan tempat saya bekerja, bahkan sampai masuk
kantor hari Sabtu dan Minggu, akhirnya berujung dengan kekalahan. Calon
klien akhirnya menyerahkan bisnisnya ke pihak lain. Tentunya saat pertama
kali membaca e-mail itu, saya merasa lumayan kecewa. Siapa sih yang tidak
ingin memenangkan tender? Kekecewaan ini kemudian berlanjut menjadi
pikiran-pikiran yang mengganggu, "Di mana salah kami ya?", ‘Apakah
eksekusi idenya kurang baik?", "Apakah ada tutur kata yang salah saat
presentasi?", dan seterusnya. Pada akhirnya, saya harus menegur diri saya
sendiri untuk berhenti. Kami tentunya harus mengevaluasi diri, namun tidak
perlu sampai menyesali secara berlebihan. Keputusan calon klien tidak ada
dalam kendali kami. Kami memang bisa berusaha sebaik-baiknya dalam
menyiapkan proposal, namun keputusan akhir sepenuhnya sudah di luar
kekuasaan kami. Mengingat kembali hal ini membantu membuat saya
merasa sedikit lebih tenang. Masih ada hari esok yang masih harus
diperjuangkan.
Some things are up to us, some things are
not up to us"
- Epictetus [Enchiridion]
“Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal- hal yang tidak
di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita.”
Jika harus memilih hanya bisa mengingat satu kutipan saja dari berbagai teks
tentang , biarkan kalimat dari Epictetus di atas yang selalu
pembaca ingat. Kalimat ini begitu sederhana, begitu mudah dipahami, dan
mungkin saat ini kamu berpikir, "HAH, NENEK-NENEK GEN-X JUGA TAU,
APALAGI GUE YANG MILENIAL!" Namun...apakah kamu benar-benar
TAHU? Sekadar pernah mendengar dan “merasa” tahu tidak sama dengan
benar-benar "tahu”, yaitu benar-benar meresapi, mendalami, dan
menerapkannya.
•
-t
(Epictetus)
48
Prinsip ini disebut "dikotomi kendali” [dichotomy of control). Bisa dibilang
semua filsuf Stoa sepakat pada prinsip fundamental ini, bahwa ada hal-
hal di dalam hidup yang bisa kita kendalikan, dan ada yang tidak. Hal-hal
apa saja yang masuk ke dalam kedua definisi ini menurut Stoisisme?
TIDAK di bawah kendali kita:
• Tindakan orang lain (kecuali tentunya dia berada di bawah
ancaman kita).
• Opini orang lain.
• Reputasi/popularitas kita.
• Kesehatan kita.
• Kekayaan kita.
• Kondisi saat kita lahir, seperti jenis kelamin, orang tua,
saudara-saudara, etnis/suku, kebangsaan, warna kulit, dan
lain-lain.
• Segala sesuatu di luar pikiran dan tindakan kita, seperti cuaca,
gempa bumi, dan peristiwa alam lainnya.
• Ada banyak hal-hal yang belum ada di masa para filsuf Stoa
hidup, namun dapat kita kategorikan di sini, seperti harga
saham, indeks pasar modal, razia sepeda motor, dan nilai
tukar rupiah.
DI BAWAH kendali kita:
1. Pertimbangan [judgment], opini, atau persepsi kita.
2. Keinginan kita.
3. Tujuan kita.
4. Segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita
sendiri.
Lebih lanjut, Epictetus menjelaskan dalam artikel Enchiridion,
"Hal-hal yang ada di bawah kendali kita bersifat merdeka, tidak
terikat, tidak terhambat; namun hal-halyang tidak di bawah kendali
kita bersifat lemah, bagai budak, terikat, dan milik orang lain.
sebab nya, ingatlah, jika kamu menganggap hal-halyang bagaikan
budak sebagai bebas, dan hal-halyang merupakan milik orang lain
sebagai milikmu sendiri...maka kamu akan meratap, dan kamu
akan selalu menyalahkan para dewa dan manusia.”
Dalam bahasa gampangnya: siap-siap saja kecewa cuy kalau lo
terobsesi pada hal-hal di luar kendali lo, seperti perbuatan/ opini orang
lain, kekayaan kita, bahkan sampai kesehatan kita sendiri. Atau,
49
menyesali kondisi kita terlahir misalnya. Awal eksistensi kita di dunia ini
adalah sebuah hal yang sangat di luar kendali kita.
Kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan (ini adalah konsekuensi
perbuatan orang tua kita di sebuah malam yang dingin dan romantis,
saat hujan baru usai dan bulan purnama...) dan kita sama sekali tidak
memiliki hak suara untuk menentukan jenis kelamin kita, warna kulit kita
(walau nanti saat sudah dewasa boleh dicoba diganti), jenis rambut kita
(lurus, keriting, jigrak], kesehatan kita (memiliki anggota tubuh yang
lengkap atau disabilitas), sampai etnis/suku dan kewarganegaraan kita
saat lahir.
Banyak orang sampai usia dewasanya masih menyesali kondisi dia
terlahir. Pikiran-pikiran seperti, “Mengapa saya terlahir menjadi orang
Sunda, padahal seharusnya saya orang Viking!”, “Mengapa saya terlahir
di tahun 1990-an, padahal saya maunya lahir di jaman Star Trek?”,
"Mengapa saya punya rambut keriting?”, "Mengapa saya pendek?”, dan
lain-lain. Bagi , penyesalan seperti ini adalah kesia-siaan,
sebab menyesali hal yang ada di luar kendali kita.
Stoisisme mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa datang
dari "things we can control", hal-hal yang di bawah kendali kita. Dengan
kata lain, kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari dalam. Sebaliknya,
kita tidak bisa menggantungkan kebahagiaan dan kedamaian sejati
kepada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Bagi para filsuf Stoa,
menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang tidak bisa kita
kendalikan, seperti perlakuan orang lain, opini orang lain, status dan
popularitas (yang ditentukan orang lain), kekayaan, dan lainnya adalah
tidak rasional.
Di bab sebelumnya, kita sudah melihat bagaimana Stoisisme
mengajarkan bahwa kita wajib menggunakan nalar dan rasionalitas agar
selaras dengan alam dan terhindar dari kebiasaan menyalahkan Tuhan
dan orang lain (pernah menyalahkan Tuhan atau orang lain untuk
urusan rezeki, reputasi, atau kesehatan kita? Udah, ngaku aja...].
Menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang di luar kendali itu tidak
rasional, sebab bagaimana kita bisa benar-benar bahagia jika
pencapaian akan hal-hal ini tidak sepenuhnya berada di tangan
kita? Hal-hal ini tidak merdeka, bagaikan budak, dan merupakan milik
(atau ditentukan) orang lain. Jika kita hanya bisa merasa bahagia
dengan hal-halyang ada di luar kendali kita, ini sama saja dengan
menyerahkan kebahagiaan dan kedamaian hidup kita ke pihak/orang
lain. Perilaku ini bertentangan dengan , seperti yang
50
akan kita bahas berikut.
Sampai di sini, mungkin ada dari kamu yang berpikir, tidakkah kekayaan
datang dari kerja keras dan ide-ide start-up brilian kita? Tidakkah
ketenaran bisa dibangun dengan jerih payah kita, seperti misalnya mem-
post/ng ratusan selfie dan video di media sosial? Apalagi soal kesehatan
—masak sih ini di luar kendali kita? Sejak kecil, kita diajarkan untuk
memelihara kesehatan dengan mengonsumsi makanan sehat dan
berolahraga. Harusnya, kekayaan dan ketenaran, apalagi kesehatan,
termasuk dalam hal-hal yang bisa kita kendalikan dong?
Di sinilah pentingnya memahami bahwa “kendali” bukan hanya soal
kemampuan kita “memperoleh”, namun juga “mempertahankan”.
Kenyataannya, kekayaan, ketenaran, dan kesehatan memang bisa
diusahakan untuk dimiliki, namun apakah kita yakin bisa sepenuhnya
mempertahankannya? Atau, sesungguhnya semua itu adalah hal-
halyang sangat rapuh, ringkih, dan mudah lenyap bagai asap rokok
disedot pemurni udara?
• Kekayaan bisa lenyap dalam sekejap. Rumah, mobil, atau tas mewah
kita bisa terbakar. Bisnis kita bisa bangkrut atau disita pemerintah.
Bencana alam bisa melenyapkan properti kita dalam sekejap. Pasar
saham dan investasi lain kita bisa merosot mendadak (dapat salam
dari koleksi batu akik dan Investasi Pandawa). Kita berpikir orang
tua kita tajir melintir kepuntir, sampai tiba-tiba suatu hari rumah kita
kedatangan tamu dengan rompi oranye KPK. Sesungguhnya,
kekayaan bisa dibangun, namun mempertahankannya tidak semudah
itu. dimulai oleh seorang pedagang kaya yang
kehilangan
Siapa pun yang
mengingini atau
menghindari hal-hal yang ada
di luar kendalinya tidak pernah akan
benar-benar merdeka dan
bisa setia pada dirinya sendiri,
namun akan terus terombang-ambing
terseret hal-hal ini ,”
ujar Epictetus dalam
Discourses.
kekayaannya dalam sekejap di kapal
karam. Zeno
tahu betul
bahwa harta
miliknya adalah
"tidak
tergantung
padanya".
Ketenaran. Yakinkah kita bisa sepenuhnya mempertahankan ketenaran?
Popularitas yang dibangun bertahun-tahun dengan susah payah bisa
lenyap dalam sekejap hanya sebab salah omong/salah posting di media
sosial, sekadar mendukung calon kepala daerah yang "salah", atau foto
ena-ena dengan mantan tiba-tiba tersebar. Sesungguhnya, ketenaran
dan reputasi kita sangatlah rapuh. Artinya, sebenarnya ketenaran di luar
kendali kita sepenuhnya.
Persahabatan. sebab persahabatan melibatkan orang lain, maka sudah
jelas hal ini di luar kendali kita, walaupun kita sudah melakukan segala
upaya untuk mempertahankannya. Kita bisa bersikap jujur,
CC
menghormati, menghargai, dan berusaha menyenangkan teman, namun
tetap saja persahabatan bisa menjadi dingin dan mati sebab satu dan
lain hal, misalnya sama-sama naksir orang yang sama!
Kesehatan. Ini pasti bagian yang paling membingungkan, namun sangat
mudah dijelaskan. Mengapa kesehatan tidak termasuk hal yang bisa kita
kendalikan? Bayangkan skenario ini: seseorang hidup sangat sehat,
menjaga makanan, tidak merokok (apalagi narkoba), tidak mabuk-
mabukan, olahraga teratur, mencukur bulu ketiak setiap minggu, dan
semua kebiasaan sehat lainnya. Namun, suatu hari dia didiagnosis
menderita kanker— yang menurut pengetahuan medis saat ini masih
bisa dipengaruhi faktor keturunan/genetik. Atau, orang yang sama
traveling ke belahan dunia lain dan terinfeksi dengan kuman setempat.
Atau, orang yang sama sedang lari pagi dan tiba-tiba ditabrak secara
tidak sengaja oleh anak muda yang baru pulang party dalam keadaan
mabuk, dan pada akhirnya orang ini menderita cacat seumur
hidup. Sesungguhnya, sama seperti kekayaan, kesehatan sewaktu-
waktu bisa direnggut oleh nasib.
Jadi, menyangkut hal-hal di luar kendali kita seperti kekayaan,
reputasi, dan kesehatan, bahkan sesudah memilikinya, kita akan
selalu dihantui rasa was-was kehilangan hal-hal ini . sebab
semua ini berada di luar kendali kita, maka kemungkinan hal ini
hilang benar-benar nyata. Kita bisa kehilangan karier, reputasi, status,
pacar, maupun harta dalam sekejap. Lalu, sebab tidak berada di
bawah kendali kita, maka hal ini bisa direnggut sewaktu-waktu
dari kita, dan tidak masuk akal untuk menggantungkan kebahagiaan
pada hal-hal yang kapan pun bisa lenyap dari hidup kita. Filsuf Stoa
mengambil pendekatan yang sangat logis, ngapain lo bahagia untuk
sesuatu yang sewaktu-waktu bisa hilang?
"Siapa pun yang mengingini atau menghindari hal-hal yang ada di
luar kendalinya tidak pernah akan benar-benar merdeka dan bisa
setia pada dirinya sendiri, namun akan terus terombang- ambing
terseret hal-hal ini ,” ujar Epictetus dalam Discourses. Menarik di
sini bahwa Epictetus mencatat dua sikap umum terhadap hal-hal di
luar kendali kita: mengingininya [seperti mengingini kekayaan,
popularitas, kecantikan, dan lain-lain), dan juga menghindarinya.
Kita bisa terobsesi menghindari hal-hal buruk dalam hidup kita,
seperti kemiskinan, kesusahan hidup, kejahatan, kematian, dan lain-
lain. Namun, sama dengan keinginan, maka menghindari hal-hal yang
di luar kendali kita adalah kesia-siaan. Keinginan dan ketakutan akan
hal-hal di luar kendali kita bagaikan rantai yang membelenggu,
sehingga kita tidak pernah benar-benar merdeka. saat segala
keputusan hidup kita didorong dan dipengaruhi oleh nafsu ingin
memiliki—atau menghindari—hal- hal di luar kendali kita, sebenarnya
kita telah diperbudak hal- hal ini .
Jika ingat empat kebajikan/wrfue dalam (keberanian,
kebijaksanaan, menahan d'\r'\/temperance, dan keadilan), maka dua
di antaranya (keberanian dan menahan diri) adalah sikap
menghadapi hal-hal di luar kendali di atas. Manusia yang rasional
diharapkan bisa menahan diri dari keinginan akan hal-hal di luar
kendali kita (harta benda, reputasi, kenikmatan ragawi seperti
makanan, minuman, seks, kesehatan). Sebaliknya, keberanian timbul
sebab kita sadar
kebahagiaan kita tidak tergantung pada hal-hal di luar kendali kita. Jika
kekayaan, reputasi, kesehatan kita diambil dari kita, kita bisa tetap bahagia, jadi
mengapa takut?
Pasrah pada Keadaan?
Dengan dikotomi kendali seperti di atas, apakah Stoisisme mengajarkan kita
untuk pasrah pada keadaan? Sama sekali tidak. Di semua situasi, bahkan saat
kita merasa tidak ada kendali sekalipun, selalu ada bagian di dalam diri kita yang
tetap merdeka, yaitu pikiran dan persepsi. Ada sebuah analogi menarik di dalam
literatur Stoisisme yang menjelaskan tentang kemerdekaan di dalam situasi yang
tidak bisa kita kendalikan:
Bayangkan seekor anjing yang terikat lehernya ke sebuah gerobak. Saat
gerobak bergerak, anjing ini punya pilihan. Pertama, dia bisa ngotot pergi
berlawanan arah dengan si gerobak, yang hasilnya adalah lelah, sebab dia tidak
mungkin bisa menang melawan gerobak itu, dan lehernya akan tercekik sampai
tersengal-sengal. Pilihan kedua, dia bisa memilih untuk berjalan mengikuti arah
dan kecepatan si gerobak tanpa harus tercekik. Bahkan, dia masih bisa
menikmati pemandangan—dan bergenit ria dengan anjing lain di jalan. saat
anjing ini melawan hal-hal yang di luar kendalinya, dalam hal ini gerobak yang
berjalan, dia hanya menemui penderitaan. Namun, saat dia memfokuskan
pada hal yang bisa dikendalikan, yaitu mengikuti gerobak, menikmati
pemandangan, sambil mengedipkan mata pada anjing-anjing lain, maka dia
tetap bisa merasa bahagia.
Kalau kita berpikir analogi anjing di atas terlalu “kejam” untuk diterapkan di
situasi manusia, coba bayangkan pengalaman kedua orang berikut. Pertama,
ada Vice Admiral James Stockdale, seorang pilot Angkatan Laut Amerika Serikat
yang terjun di Perang Vietnam. Stockdale menerbangkan 150 misi terbang di
atas wilayah musuh, Vietnam Utara, dan pada September 1965, pesawatnya
ditembak jatuh di wilayah musuh. Stockdale berhasil menyelamatkan diri dengan
terjun keluar menggunakan parasut. yang dipelajarinya akan
menjadi bekalnya bertahan hidup, secara fisik dan moril. Saat ia harus memasuki
wilayah musuh, Stockdale berkata pada dirinya sendiri, "Saya meninggalkan
dunia teknologi, dan memasuki dunia Epictetus."
Sesudah ditangkap, Stockdale dikeroyok dan dipukuli oleh tentara
musuh sedemikian rupa yang di kemudian hari menyebabkan ia
berjalan pincang untuk seumur hidupnya. Stockdale ditahan sebagai
tawanan perang selama 7,5 tahun, dan lebih dari 4 tahun dari masa
itu dihabiskan dalam sel isolasi (bayangkan, kamu tidak bisa
berhubungan dengan manusia lain selama lebih dari 4 tahun!).
Selama ditawan, Stockdale disiksa selama 15 kali. Selama di
tahanan itu juga, Stockdale berusaha mempertahankan moril
tawanan yang lain dan menghibur mereka jika mereka akhirnya
takluk di bawah penyiksaan fisik. Sesudah bertahun-tahun melalui
isolasi, cedera permanen, sampai penyiksaan, akhirnya Stockdale
dibebaskan dan kembali ke Amerika Serikat. Beliau kemudian
menuliskan esai berjudul “Courage Under Fire: Testing Epictetus's
Doctrines In A Laboratory of Human Behavior" [Keberanian Dalam
Serangan: Menguji Doktrin Epictetus Di Dalam Laboratorium Perilaku
Manusia), bagaimana Stoisisme membantunya melalui episode
paling gelap dalam hidupnya.
Kedua, jika kamu mengalami situasi di mana ayah, ibu, saudara laki-
laki, dan istrimu yang sedang hamil harus mati di kompleks tahanan
[ghetto] dan kamp konsentrasi di waktu yang berdekatan, apakah
kamu bisa tetap waras dan tegar? Itulah yang dialami Viktor Frankl,
seorang psikiater yang hidup di Austria saat Perang Dunia II. saat
tentara Nazi Jerman memasuki Austria, Frankl dan keluarganya yang
keturunan Yahudi diciduk dan dikirim ke ghetto Yahudi, kemudian
dipindahkan lagi ke kamp konsentrasi. Ayah Frankl meninggal di
ghetto pada 1943, lalu ibu, saudara laki-laki, dan istrinya dibunuh di
kamp konsentrasi.
Selama di kamp konsentrasi, Frankl tetap aktif bekerja menyediakan
kelas pengajaran dan juga layanan kesehatan bagi sesama tawanan,
sampai akhirnya ia dibebaskan dengan datangnya pasukan Amerika
Serikat. Seusai Perang Dunia II, Frankl kembali ke Vienna dan
menulis artikel mengenai pengalamannya di kamp konsentrasi.
artikel nya yang berjudul Man’s Search for Meaning (Pencarian
Manusia akan Makna] menjadi salah satu artikel psikologi paling
populer sepanjang masa dan menjadi basis untuk terapi psikologi
Frankl yang disebut Logotherapy.
Dari pengalamannya, Frankl menyimpulkan bahwa di dalam situasi
yang paling menyakitkan dan tidak manusiawi, hidup masih bisa
memiliki makna, dan sebab nya, penderitaan pun dapat bermakna
[meaningful). Kita tidak bisa memilih situasi kita, namun kita selalu bisa
menentukan sikap [attitude) kita atas situasi yang sedang dialami.
Kisah kedua tokoh di atas cukup memberikan jawaban apakah
artinya identik dengan "pasrah pada keadaan”. Baik
Stockdale maupun Frankl berada di situasi yang tidak bisa
dikendalikannya—ditahan oleh musuh perang—namun dalam kondisi
yang terkesan dibatasi, ternyata mereka masih memiliki kebebasan
untuk "memberikan respon”. Baik respon di dalam diri, di dalam
pikiran (menolak untuk menyerah dan putus asa), sampai respon
eksternal (tetap memilih aktif membantu sesama di dalam situasi
nestapa).
Seperti dikatakan Epictetus dalam Discourses,
"Misalkan saya harus mati. Haruskah saya mati sambil menjerit-
jerit dan menangis?
Atau, tangan dan kaki saya harus dirantai. Haruskah saya
melakukannya sambil mengeluh dan menggerutu?
Saya harus dibuang [exiled]. Adakah yang bisa menghentikan
saya untuk menjalaninya dengan senyuman dan tetap tenang?”
Tidak ada kemerdekaan yang benar-benar hilang, bahkan di situasi di
mana seolah kebebasan kita sudah direnggut sama sekali, atau
situasi yang tampak sudah sangat gelap sekalipun.
Dikotomi Kendali di Situasi Sehari-hari
Dalam kisah Admiral Stockdale dan Viktor Frankl di atas, jelas sekali
penerapan dari apa yang dimaksud para filsuf Stoa mengenai
memisahkan hal-halyang bisa dikendalikan dan yang tidak. Fokus
kepada hal-halyang bisa kita kendalikan bisa membantu kita melalui
masa hidup tersulit sekalipun, sebab sikap dan persepsi kita "ada
sepenuhnya di bawah kendali kita”.
Saya rasa sebagian besar pembaca artikel ini mungkin tidak akan
pernah harus menghadapi risiko ditawan musuh di dalam
peperangan. Namun, jika bisa membantu Admiral
Stockdale dan Viktor Frankl dalam menjalani situasi terberat hidup
mereka, tentunya filosofi ini bisa lebih banyak membantu kita dalam
menghadapi tantangan hidup yang mungkin tidak seberat dan
sekeras kedua orang ini .
Mari kita ambil situasi umum di antara para pembaca muda, yaitu first
date, atau kencan pertama, situasi yang bisa menyebabkan penuh
kecemasan bagi kedua belah pihak. bahkan bisa
diterapkan di sini. Rasanya, hampir sebagian besar dari kita pasti
merasa deg-degan saat akan nge- date pertama, apalagi jika orang
yang diajak kencan sudah lama kita idam-idamkan. Ketakutan paling
besar adalah, "Apakah kencan gue akan sukses?", "Apakah dia
bakalan tertarik sama gue?", Apakah orang tuanya bakalan melepas
anjing doberman saat gue memencet bel rumahnya?", dan lain-lain.
Dengan dikotomi kendali, kita bisa memisahkan kencan pertama ini
menjadi beberapa bagian. Misalnya dari perspektif si cowok:
• Perasaan si cewek ini . Ini sudah jelas di luar kendali kita.
Para filsuf Stoa akan berkata kepada kita, "Gak usah dipusingin\
Lo gak bisa memaksa perasaan dan opini si cewek! Berhenti
mikirin hal-hal di luar kendali lo!”
• Kalau begitu, apa yang masih bisa di bawah kendali kita?
BANYAK! Kita bisa memilih untuk tampil bersih, mandi sebelum
bertemu, sikat gigi, memakai deodoran, jangan berbau seperti
daging tetelan (ingat ada doberman), wangi dengan parfum (tapi
jangan berlebihan supaya wanginya tidak sama seperti toilet
mal...), memakai baju yang rapi dan matching dari atasan sampai
kaus kaki, datang TEPAT WAKTU, sopan menyapa dia (dan
orang tuanya kalau ada, juga dobermannya), mengajak makan di
tempat yang menyenangkan, dan selalu bersikap gentleman.
Masih banyak hal lain di bawah kendali kita yang bisa dipikirkan.
• Saat kita sudah melakukan semua yang terbaik di dalam kendali
kita, maka itu sudah cukup. Relax and enjoy the result.
Seandainya si cewek ternyata menyukai kita, syukurlah. Akan
namun , jika ternyata si cewek tidak menyukai kita—dengan
catatan kita tidak melakukan
60
hal-hal memalukan selama nge-date, seperti mengupil di depan dia,
misalnya—maka, dengan menyadari bahwa respon orang di lain
berada di luar kendali diri sendiri, kita bisa lebih cepat menerima
keadaan itu.
• Saat kita mengurangi memusingkan hal-hal di luar kendali diri
sendiri, seperti "Duh, gue keliatan ganteng apa gentong ya di mata
dia?", "Gue keliatan pintar gak ya?", "Bokapnya tadi impressed
gakya sama gue?", dan lain-lain, kita jadi lebih memiliki waktu dan
energi untuk hal-hal lain yang bisa kita lakukan dan justru
meningkatkan daya tarik kita di mata si cewek. Inilah manfaat praktis
dari penerapan dikotomi kendali, yaitu realokasi waktu dan tenaga
untuk hal-hal yang lebih bisa kita atur/kendalikan.
Skenario di atas hanyalah sebuah contoh situasi sehari-hari di mana
dikotomi kendali bisa diterapkan. Mari kita lihat contoh situasi lainnya
yang umum kita temui:
• Prestasi di sekolah. Apakah nilai, prestasi akademis, dan kelulusan
sepenuhnya berada di bawah kendali kita? Pasti jawaban spontan
adalah, “Iya dong! Kan kita berupaya mati-matian untuk
mendapatkan nilai yang bagus, dari belajar sampai menyontek.
Masa sih tidak berada di bawah kendali kita?” Namun, coba kita
renungkan juga betapa banyak faktor eksternal yang bisa
menentukan prestasi akademis kita, mulai dari kebagian dosen/ guru
killer, mendapatkan teman tugas kelompok yang malas, sampai hal-
hal tak terduga seperti orang tua yang mendadak tidak memiliki uang
untuk membiayai sekolah kita. Masih yakin prestasi akademis ada
sepenuhnya di bawah kendali kita?
• Karier di kantor. Mirip dengan prestasi akademis, jika kita bekerja
keras, pandai, rajin, apakah kita bisa menjamin akan mendapatkan
kenaikan jabatan dan gaji secara fair? Kamu yang sudah beberapa
tahun bekerja di kantor akan menyadari bahwa ada banyak sekali
faktor di luar kendali, seperti bos yang punya sentimen pribadi atau
anak emas sendiri, subjektivitas soal definisi “kinerja yang baik”,
kolega yang dengki, aturan perusahaan yang berubah, kinerja
perusahaan (untung/rugi), atau hal-hal di luar perusahaan seperti
kondisi ekonomi, perubahan selera
Have courage and be kind
(hiduplah dengan berani dan
tetap ramah kepada orang lain)”
pasar, dan lain-lain. Sesungguhnya, perjalanan karier kita di kantor
banyak sekali dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar kendali kita.
• Relationship. Kamu yang pernah patah hati akibat
diputusin semena-mena pasti tahu bahwa rasa cinta
dan sayang pasangan kita sesungguhnya tidak bisa
dipaksakan. Kita bisa rajin mengirimkan bunga,
cokelat, sampai bitcoin kepada sang kekasih, tapi
pada akhirnya, perasaannya yang sesungguhnya
ada di hatinya.
• Kompetisi/perlombaan yang kita ikuti. Kita bisa
berlatih keras, namun saat hari pertandingan, selalu ada faktor-
faktoryang bisa tidak memihak kita, entah itu perubahan cuaca,
macam-macam gangguan teknis di lapangan, sampai kenyataan
bahwa peserta lomba/kompetisi yang lain memang lebih bagus dari
kita.
• Keadaan sosial politik di sekitar kita. Membaca berita tentang
korupsi, ketidakadilan, teror, dan kebencian yang ada membuat kita
sadar bahwa kita sungguh- sungguh tidak memiliki kendali atas
kejadian-kejadian di masyarakat.
• Di samping itu, ada begitu banyak bagian hidup lain yang akan
membuat kita menyadari bahwa kita tidak sepenuhnya memiliki
kendali atasnya, seperti hasil investasi, pilihan hidup anak-anak, dan
banyak lagi.
■
F
F
“saat orang-orang mengalihkan perhatian mereka dari pilihan
rasional sendiri ke hal-hal di luar kendali mereka, (atau) berusaha
menghindari hal-hal yang dikendalikan pihak lain, maka mereka
akan merasa terganggu, ketakutan, dan labil.” - Epictetus
[Discourses)
Cinderella adalah tokoh fiktif, dongengan untuk anak kecil. Akan namun ,
bagi saya film Cinderella (2015) mengingatkan tentang
melalui perbandingan antara tokoh Cinderella dan Ibu Tiri.
Di dalam filmnya, Cinderella (Ella) dikisahkan sebagai seseorang yang
memiliki masa kecil yang bahagia dengan orang tua yang kaya raya,
sampai suatu hari ibunya meninggal dan ayahnya menikahi seorang
janda dari sahabatnya. Saat
ayahnya pun meninggal, Ella harus menghadapi kenyataan bahwa ibu
tirinya berlaku kejam terhadapnya dan keindahan masa kecilnya, yang
penuh kemewahan dan kasih sayang orang tua, berubah drastis seratus
delapan puluh derajat.
Film Cinderella mengontraskan perbedaan sikap antara Ella dan si ibu
tiri. Sebelum meninggal, ibu kandung Ella berpesan kepadanya, “Have
courage and be kind (hiduplah dengan berani dan tetap ramah kepada
orang lain)". Dengan pesan ini, Ella menjalani perubahan hidupnya
dengan tabah dan tetap ramah kepada orang lain, bahkan kepada
makhluk hidup lain, seperti tikus penghuni rumahnya. Sebaliknya, si ibu
tiri digambarkan tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia kehilangan
sumber uang, yaitu suami yang juga ayah Ella, dan terus merasa
terancam akan jatuh miskin.
Cinderella menunjukkan nilai Stoa dengan tidak terobsesi pada hal di luar
kendalinya (kekayaan keluarga), dan mengikuti nasihat mendiang ibunya
untuk selalu bersikap "berani dan ramah” (yang ada di bawah
kendalinya). Dia juga digambarkan sebagai karakter yang bisa tetap
merasa riang dan bahagia. Sebaliknya, si ibu tiri yang selalu memikirkan
harta (yang ada di luar kendalinya), digambarkan sebagai sosok yang
serakah, bahkan bisa bengis pada anak tirinya sebab nafsu kekayaan. Si
ibu tiri tidak mampu merasakan kebahagiaan yang sejati.
Dari Dikotomi Kendali menjadi Trikotomi Kendali
Sebagian dari kamu mungkin saat ini merasa tidak nyaman dengan
pembagian kategori menjadi dua seperti contoh sebelumnya. Okelah,
kalau mengenai cuaca hari ini (apakah hari akan panas atau hujan)
atau saya akan duduk di sebelah siapa di kereta [saat bepergian
sendirian), hal-hal ini benar-benar di luar kendali kita. Namun,
ikut memasukkan prestasi sekolah, pekerjaan, prestasi perlombaan,
sampai relationship ke dalam kategori yang sama (tidak bisa
dikendalikan) sepertinya sangat tidak memotivasi kita untuk
berupaya dan bekerja keras. Tentunya realitas hidup tidak
sesederhana pembagian dua kategori ini?
Ini adalah protes yang cukup valid, sebab bagaimanapun, tentunya
kita masih bisa punya andil dan kontribusi di dalam menentukan
prestasi sekolah, prestasi kerja, kinerja bisnis, kesehatan, dan
reputasi kita. William Irvine di dalam artikel nya A Guide To Good Life:
The Ancient Art of Stoic Joy menawarkan solusi untuk keresahan di
atas dengan cara merevisi dikotomi kendali menjadi trikotomi (tiga
kategori) kendali. Trikotomi kendali terdiri dari:
• Hal-hal yang bisa kita kendalikan, seperti opini, persepsi dan
pertimbangan kita sendiri.
• Hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, seperti cuaca, opini dan
tindakan orang lain.
• Hal-hal yang bisa SEBAGIAN kita kendalikan. Irvine
mengusulkan bahwa sekolah, pekerjaan, perlombaan,
hubungan dengan pasangan, bisa dimasukkan ke dalam
kategori ketiga (SEBAGIAN dalam kendali). Bagaimana cara
penerapan kategori yang ketiga ini di dalam hidup sehari-hari?
Dengan memisahkan tujuan di dalam diri /internal goal) dari
hasil eksternal /outcome-nya].
Contoh penerapan poin ketiga adalah sebagai berikut. Kamu menghadapi
sidang skripsi. Kita tahu bahwa HASIL dari sidang skripsi tidak bisa
dimasukkan ke dalam kategori ‘di bawah kendali kita’, sebab banyak faktor
tak terduga di luar kendali kita, seperti mood dosen penguji hari itu, apakah
laptop kita akan berfungsi atau tidak, dan lainnya. Akan namun , tentunya ada
bagian dari pengerjaan skripsi yang masih berada di bawah kendali kita,
misalnya persiapan kita dalam memahami topik, presentasi yang kita
siapkan, dan istirahat fisik yang cukup. Maka, Irvine menganjurkan kita untuk
memisahkan "hasil” (sebagai hal yang di luar kendali kita), dari ''internalgoal"
atau target bagi diri sendiri yang sepenuhnya berada di bawah kendali kita.
Dalam contoh sidang skripsi, internal goal adalah belajar yang rajin, benar-
benar memahami materi skripsi, latihan pr






