Filosofi 5

 


a? Mengapa hal ini tidak boleh terjadi pada saya?

Apa manfaat yang bisa saya tarik dari kejadian ini? Yang 

pertama, sebagai ujian terhadap kesabaran saya menanggung 

rasa sakit fisik. Toh ini hanya keseleo, bukan kondisi medis 

yang lebih berat. Kedua, sekarang saya bisa empati kepada 

orang lain yang mengalami hal yang sama."

So far so good. Perlahan, dialog internal ini membuat saya lebih 

tenang dan mulai bisa menerima keadaan ini tanpa harus mengutuk 

diri sendiri (langkah: Respond}. Kemudian, saya

teringat dengan prinsip amor fati. Barulah saya menyadari betapa 

sulitnya ajaran yang satu ini. Bisa menerima sebuah musibah yang 

terjadi kepada kita rasanya sudah sebuah pencapaian tersendiri, 

namun  “mencintai” musibah ini bagaikan kejadian yang sudah 

didamba-dambakan? Seperti kata Obelix, tokoh komik Asterix, 

“Orang-orang Romawi memang gila!"

Walaupun terasa absurd untuk mencoba mencintai musibah, namun  

saya mencobanya juga. Anehnya, perlahan saya bisa merasakan 

bahwa ide ini tidaklah seabsurd itu. Saya memang tidak berubah 

drastis menjadi gembira atas keadaan ini  ["INILAH YANG 

SELAMA INI KUDAMBA, KESELEO!!"], apalagi setiap kali kaki terasa

nyeri saat harus naik tangga atau tidak sengaja diinjak anak saya 

yang masih berusia 17 bulan.

Namun, saya menyadari bahwa sangat mungkin menggeser 

perasaan saya terhadap keseleo ini sedikit lebih jauh lagi, lebih dari 

sekadar ikhlas, bahwa mungkin saya merasa mulai menyukainya 

(walaupun tidak sampai tahap sadomasochist tentunya). Minimal, 

saya bisa mulai mentertawakan situasi ini, dan juga mentertawakan 

saya sendiri.

Coba renungkan kondisi hidupmu sekarang ini. Sebagian pembaca 

sedang merasa bahagia dengan kondisinya sekarang, good for you. 

Namun, sebagian pembaca lagi mungkin berharap kondisi hidupnya 

berbeda dari yang sekarang. Bagi kamu yang masuk dalam kelompok

ini, bisakah sedikit saja merenungkan, '‘Mungkinkah gue mencintai 

kondisi gue saat ini?" Jangan terlalu cepat dijawab /"Penderitaan gue 

saat ini terlalu berat!! Tidak mungkin gue bisa mengharapkan 

terjadi!!"). Berikan waktu sedikit saja untuk dipikirkan. Tidak ada yang 

bisa menghentikanmu untuk memutuskan mencintai hidupmu. Saat 

ini. Hari ini. Detik ini.

Masa Lalu Sudah Mati

Jika  memiliki perspektif yang cukup tegas terhadap 

masa kini [present), bisa terbayang kan bagaimana para filsuf Stoa 

menyikapi masa lalu? Benar, masa lalu sudah benar-benar masuk 

kategori "di luar kendali”—tidak ada celah sama sekali untuk keluar 

dari situ. Masa lalu sudah mati semati- matinya. Kecuali kamu 

menemukan mesin waktu, sayBHAYto the past. Maka, menyesali 

masa lalu [regret), terus-menerus memikirkan, "Seandainya saja gue 

waktu itu begini....atau begitu...." adalah hal irasional, tidak masuk 

akal, dan tidak didukung oleh .

Sebagian mungkin memakai alasan, "Bukankah kita harus belajar 

dari kesalahan masa lalu?" Setuju banget. Akan namun , kita harusnya 

bisa menarik garis antara belajar dari kesalahan masa lalu dan 

terobsesi terus dengan masa lalu (gagal move on). Jujur saja, banyak

dari kita (termasuk saya) yang masih kadang- kadang menyesali 

masa lalu. Menyesali tindakan/perkataan kita, atau orang lain ["Coba 

dulu DIA tidak berkata/berbuat begitu...") - apa pun itu, jika sudah di 

masa lalu, maka tidak bisa diubah lagi. Sudah selesai.

Sama dengan sikap kita menghadapi masa kini di atas, maka 

Stoisisme juga mengajarkan kita untuk "mencintai" masa lalu kita, 

bahkan yang kita anggap pedih sekalipun. Kita bisa belajar darinya, 

dan merencanakan yang lebih baik untuk ke depannya, namun  masa 

lalu itu sendiri telah terjadi, dan bagaimana kita

menyikapinya sepenuhnya di bawah kendali kita. Tidak ada yang 

perlu disesali. Semua terjadi mengikuti keteraturan dan hukum Alam

/Nature). Bisakah kita tidak hanya menerima masa lalu, tapi bahkan 

mencintainya?

Intisari Bab 6:

• Kekhawatiran dan kecemasan kita lebih banyak yang akhirnya 

tidak terjadi.

• Premeditatio malorum adalah teknik memperkuat mental dengan 

membayangkan semua kejadian buruk yang mungkin terjadi di 

hidup kita di hari ini dan ke depannya.

• Perbedaan premeditatio malorum dan kekhawatiran tidak 

beralasan adalah dalam premeditatio malorum kita bisa 

mengenali peristiwa di luar kendali kita dan memilih bersikap 

rasional.

• Manfaat lain dari premeditatio malorum adalah membantu kita 

mengantisipasi peristiwa buruk jika terjadi, dan sebab nya tidak 

terlalu terkejut jika benar-benar terjadi.

• Hubungan kita dengan rezeki adalah “pengguna” atau 

"peminjam”, kita harus selalu siap saat  segala rejeki dan 

keberuntungan kita diminta kembali oleh Dewi Fortuna.

• Ada banyak hal-hal negatif dalam hidup ini yang sebenarnya 

remeh dan tidak perlu dibesar-besarkan ("ketimun pahit").

• Saat kita mendapat musibah besar dan kecil, bayangkan 

bagaimana kita akan bersikap jika ini menimpa orang lain.

• Orang yang benar-benar kaya adalah dia yang merasakan 

cukup. Orang yang benar-benar miskin adalah dia yang masih 

mengingini lebih.

• Amor fati: cintailah nasib—apa yang telah terjadi dan sedang

terjadi saat ini.

L ia salsabeela

^^■ncara dengan

"Kita sebenarnya sama. 

Ngapain sih berantem hanya

sebab  politik?”

Saya tertarik untuk mewawancara LLia sejak berteman dengannya di 

media sosiaL Selain sosoknya sebagai pengusaha media perempuan

yang sukses, Llia juga kerap menjadi pembicara di banyak acara 

seminar/pelatihan perempuan. Namun, yang lebih menarik lagi, Llia 

menaruh di profil akun Twitternya sebagai 'A Stoic'. Penasaran 

sebab  jarang sekali menemui orang Indonesia yang mengaku 

sebagai seorang Stoa, saya pun meminta kesempatan mengobrol 

dengan beliau. Berikut kutipannya.

Hi Llia, apa aktivitas sehari-harinya sekarang?

Gue adalah foundertiga perusahaan konten dan media: 

nulisartikel .com, storial.co, dan zettamedia. Sekarang gue Chief 

Content Officer di Zetta. Gue udah nulis lebih dari 30 artikel  sejak 

2005. Dua artikel  terakhir adalah biografi orang terkenal. Gue memang

punya ketertarikan mengenai kisah orang lain. Kuliah gue teknologi, 

jadi gue senang menggabungkan stories dengan technology. 

Personally, gue juga build personal branding.

Bagaimana awal mula bertemu Stoisisme?

Sekitar tiga tahun yang lalu gue lagi liburan di Italia dengan my best 

friend. Saat jalan-jalan di sekitar Roma, gue masuk ke sebuah toko 

artikel  kecil. Hanya sedikit artikel  yang dipajang dan dijual di situ. Gue 

iseng-iseng mengambil sebuah artikel . Itu adalah artikel nya Marcus 

Aurelius, Meditations. Gue iseng, ini apaan sih, terus gue baca. Gue 

baca dikit, ternyata bagus banget nih, lean relate. Jadi gue beli. 

(Dalam perjalanan), setiap capek, gue duduk dan baca.

Saat itu gue lagi LDR [Long Distance Re/af/onsh/p/Hubungan Jarak 

Jauh), pacar gue di Amerika. Gue lagi stres sebab  saat itu pacar gue

lagi “menghilang”, sedang ada masalah. Saat gue stres gak tahu 

what to do, pas gue baca Meditations, gue berasa kayak diingetin 

banget. Dari dulu gue tuh emang udah ‘lempeng’. Gue Stoic dari dulu 

tapi gue gak tahu. Gue ikutan tes yang menyatakan bahwa gue 

terlahir sudah ’mentally stable'. Dari dulu orang lain udah stres kayak 

gimana, tapi gue ya lempeng. Masalahnya kalo terlalu lempeng kan 

gue jadi dingin.

Pas gue baca Meditations, wah ini gue banget. Gue gak tahu bahwa 

selama ini gue Stoic. Sekarang ada namanya (untuk sifat ini) gue 

bahagia banget. Ternyata, nothing is wrong with me, hahaha. sebab  

tertarik, gue googling, gue baru tahu kalo Marcus ini menulis jurnal. 

Dia seorang kaisar, namun  menyempatkan waktu setiap hari menulis 

jurnal untuk dirinya sendiri.

Tiap gue baca Meditations, selalu ada hal berbeda yang gue tangkep.

Gak pernah bosen. Gue biasanya gak pernah baca satu artikel  sampai

dua kali. artikel  ada miliaran di dunia, masak gue baca dua kali? Tapi, 

Meditations gue jadiin "bible”, selalu balik ke situ. Yang khususnya 

mengena untuk gue adalah tulisan dia tentang "batu". Batu yang 

dilempar ke udara tidak lebih baik atau lebih buruk jika naik ataupun 

turun. Kita kan kalo liat batu tadi gak ada perasaan apa-apa. Ya hidup

seperti itu, naik turun mengikuti hukum alam.

Ada yang lain lagi, seperti saat bangun pagi harus mengharapkan di 

hari itu akan ketemu orang akan kasar, bohongin lo, dan lain-lain. 

Ada yang lucu juga, kalo lo makan ketimun, ketemu yang pahit ya 

dibuang. Makes sense sih. Ternyata, sejak jaman tahun 300-400 M 

sudah ada ketimun yang pahit, kalo ketemu ya buang aja. Bener juga,

hahaha.

The good and the bad of life gue udah aware dan sudah bisa accept. 

Itu ajaran Stoisisme yang selalu gue bawa. Dari sebelum gue baca 

Meditations, gue juga sudah journalling. Gue penulis jurnal pribadi. 

Gue nulisnya gratitude journal, semua hal yang bisa gue sukurin. Gue

punya artikel  khusus untuk itu. Sebentar lagi gue akan menerbitkan 

gratitude journal bersama Gramedia, sehingga membantu orang lain 

bisa menulis jurnal syukur mereka sendiri.

Kapan menulis jurnal bersyukur ini?

Setiap pagi, untuk mensyukuri hari kemarin. Kalau gue lagi ada 

kejadian luar biasa, misalnya putus, gue bisa journalling di setiap 

menit gue merasakan yang tidak nyaman. Langsung dituangkan. 

Untuk itu ada artikel nya beda lagi. Makanya berat tas gue, hahaha.

Ada kata-kata Marcus Aurelius yang bisa jadi dasar untuk gratitude 

journal juga, "Jangan mimpiin sesuatu yang kamu gak punya. Tapi 

reflect the greatest blessing that you have." Kalau kita memiliki 

sesuatu, ada kemungkinan barang itu hilang. Jangan mikir bahwa 

halyang kita miliki tidak akan hilang selamanya. Expect everything.

Gue ada metode “rewrite" yang sedang gue ajarin. Menurut gue, 

hidup itu seperti cerita. Kalo di novel ada plot. Misalnya, The Lord of 

The Rings. Lo mau cincin (ajaib) gak? Gak mau. Terus terpaksa mau.

Terus berantem kalah. Ketemu mentor, diajarin. Terus akhirnya 

menang. Hidup kita seperti cycle itu. Kita hanya perlu aware kita 

sedang berada di mana di dalam plot itu. Misalnya, gue lagi di fase di 

mana gue nolak-nolakin tantangan hidup. Gue bagaikan disuruh cari 

cincin, tapi menolak. Akhirnya hidup gue stuck di situ-situ aja. Gue 

harus menyadari hal ini dulu. Gue identify kenapa gue tolak-tolakin 

dan hidup gue gak jalan. Kemudian gue harus menulis kembali versi 

hidup gue yang gue inginkan agar hidup gue moving forward.

Apakah ada yang berubah sejak menemukan Stoisisme?

Bagi gue ini sifatnya confirming my belief. Kadang jika tidak tahu 

pasti, apakah gue bener gak sih memiliki sifat kayak gini. Jangan-

jangan gue dingin nih, sebab  beda dengan yang lain. Orang lain 

suka baper gitu, gue biasa aja. Jangan-jangan gue berhati es? 

Sekarang gue tahu namanya apa, dan praktiknya bisa membantu kita

banyak. Misalnya, saat  gue lagi stres mikirin mantan gue, ini 

membantu banget supaya gue gak terlalu stres. Jadi reminder dan 

pegangan gue.

Apa prinsip Stoisisme yang mejadi pegangan saat masa sulit 

bersama mantan?

Jangan bilang, ‘It is bad luck that it happens to me.' (sial banget gue 

mengalami ini). Tapi bilang, ‘It is good luck that although it happens 

tome, lean bear it without pain.' (beruntung banget gue, walaupun 

mengalami ini, namun  bisa gue jalani tanpa sakit/ hancur). Gue tetep 

bisa belajar dari apa pun kejadian yang menimpa gue. Gue gak perlu 

sampe remuk sebab nya.

Yang lain, "Universe, your harmony is my harmony, nothing in your 

good time is too early or too late forme" (Semesta, apa yang selaras 

bagimu pastilah selaras bagiku. Apa yang baik menurut waktumu 

tidak akan terlalu cepat atau terlalu lambat bagiku). Jadinya, 

harusnya lo percaya aja sama the whole process. Kalau seseorang 

emang bukan buat gue, ada yang lebih bagus pasti.

Fakta bahwa Marcus Aurelius seorang kaisar, kalo jaman sekarang 

presiden kali ya, dia pasti banyak stresnya, toh dia take time untuk 

menulis juga dan dia masih mau berusaha "naik” menjadi lebih baik 

lagi.

Sekarang kan jamannya “milenial'’, menurut Llia, ajaran purba ini 

masih relevan gak dengan generasi ini?

Masih. Yang gue tangkep dari Stoisisme adalah 'santai aja’. Ada 

timun pahit buang aja, ada jalan rusak belok aja. Jangan dibikin stres,

jangan dibikin susah. Menurut gue banyak banget di kompleksitas 

hidup sekarang hal-hal kecil yang bisa bikin orang stres, sebab  dia 

gak bisa melihat big picture-nya.

Contohnya, “Duh, follower gue cuma seratus gak nambah- nambah,” 

atau, "Kemaren gue d‘\-unfollow sama si X.” Kita mungkin ketawa 

dengernya, tapi bagi sebagian orang ini penting. Gue mau kasih tahu 

(ke mereka), look at the big picture. Kalo to tahu to mau ngapain 

dalam hidup lo, yang kayak gini-gini gak penting lagi untuk 

diperhatiin. Dan the ability to just brush off (mengesampingkan) 

problem itu no.1 skill yang dibutuhkan saat ini. Elo jago data 

analytics, tapi sering stres, ya gak efektif juga. Tapi juga bukan berarti

menjadi tidak peduli, tapi pedulilah pada hal penting.

Sekarang banyak orang terlalu memedulikan media sosial dan orang-

orang yang gak penting dalam hidup mereka. Salah menurut gue. 

Ribet aja jadinya hidupnya, gak maju-maju, muter aja di situ. Contoh 

lain, soal jodoh. Banyak orang yang stuck di relationship yang tidak 

membangun diri mereka. Hanya sebab  takut gak dapet lagi 

misalnya.

Contoh nyata lagi nih, baru saja terjadi pagi ini. Mbak gue minta maaf 

sebab  baju gue kesetrika sampe bolong. Panjang nih minta maafnya 

di WA (WhatsApp). "Jangan marah ya mbak," tulisnya. Gue bilang, 

gak apa apa, buang aja. Itu Stoic banget kan, hahaha. Pada saat gue

beli baju atau apa pun, gue udah tahu kalo ini bisa rusak, bisa ilang 

suatu hari. Orang-orang sekitar gue heran, kok gue gak marah? 

Orang lain pasti ngomel dulu kan? Gue gak merasa ada kebutuhan 

untuk ngomel. Yang penting apakah dia belajar dari kesalahannya, 

dan lain kali dia akan lebih hati-hati.

Pernah menerapkan prinsip Stoisisme untuk tantangan yang berat?

Beberapa tahun lalu gue melepas jilbab. Kebayang kan gue di- bully 

seperti apa di Instagram, dan gue bisa melihat di Google orang 

penasaran searching kenapa gue lepas jilbab. Kata kunci "Ollie lepas 

jilbab” jadi begitu populer. Jadi pendekatan Stoic gue adalah dengan 

menulis blog dengan judul "Ollie lepas jilbab", supaya nambah traffic.

Kemarin banget, ada sahabat yang menulis nyindir gue pake tulisan 

fiksi, dan nama gue ditulis pulak di tulisan itu. Dia minta ‘restu’ untuk 

publish tulisannya. Gue bilang ‘jangan lupa kasih link ke Instagram 

gue ya’, hahaha. Bagi gue Stoa itu sama dengan woles.

Kalau soal menjadi entrepreneur, apa yang bisa diterapkan dari 

stoisisme?

Mungkin rejection ya. Kalo lo menjadi entrepreneur, pasti 

berhubungan dengan jualan. Kalau kita menawarkan sesuatu, orang 

bisa bilang ‘nggak’ sama kita. Kalau setiap kalo orang bilang ‘nggak’ 

kita bapernya tiga hari, mau sampai kapan? Kalau orang bilang 

‘nggak’, ya jangan take it personally. Elo gak mau (jualan gue)? Ya 

udah, next. Sama kayak saat entrepreneur mencari funding. Jangan 

baper, gitu. Stoisisme mengajarkan kita supaya tidak baper, sebab  

kita tahu kemungkinannya. Saat saya dateng ke kamu [investor], dan 

kamu punya fund, ya jawabannya cuma dua, iya (dapet funding] atau 

nggak. Kalau iya, oke. Kalo nggak, ya oke juga.

(Bisa) menghadapi rejection itu bagus untuk entrepreneur, jadi kita 

tetep centered. Tidak dikit-dikit baper. Begitu juga soal d‘\-complain 

pembeli. Ya kita belajar apa yang bisa diambil dari situ. Jangan habis 

kena complain langsung kayak mau tutup toko besok. "Aduh gue 

kayaknya gak bakat dagang nih.” sebab  seumur hidup lo akan 

menghadapi orang-orang yang negatif, yang bete-in, yang nipu lo. Itu 

pasti ada. Kalo di metode “rewrite" tadi, itu masuk dalam cerita hidup 

lo. Coba, sinetron mana yang gak ada orang jahatnya. Pasti ada. 

Kalo dalam cerita hidup lo, lo sudah sadar sebagai pemeran utama 

hidup lo, gue pasti akan punya sahabat, mentor, dan ada musuhnya. 

Pasti ada gagalnya. Dan pasti ada bagian di mana gue berhasil. Kalo 

sadar lo ditipu, misalnya, berarti gue harus gimana supaya (move) ke 

next step-nya.

Menjadi pengusaha juga butuh mengambil keputusan dengan kepala 

jernih. Kalo running your own business pasti banyak masalah kan. 

Tapi harus fokus pada solusi. Bukan malah menyalahkan karyawan. 

Langsung solusinya apa, dan bagaimana biar tidak terjadi lagi. Kalau 

kita marah-marah ada ilusi ego kita sudah terpenuhi. Padahal kita 

hanya buang sampah, bahkan ke orang yang salah mungkin.

Topik berikutnya, soal sosial politik. Tentunya Llia menyadari banyak 

yang jadi sensitif, atau terpecah sebab  sosial politik. Ada yang bisa 

diterapkan kah dari Stoisisme?

Pemahaman bahwa "we are in this together". Kita sebenarnya sama. 

Ngapain sih kita berantem hanya sebab  beda politik. Kita semua 

kebakaran jenggot, sebab  gue merasa gue Jawa, lo Batak. Atau gue 

Muslim lo Kristen. Ada ilusi perbedaan di situ. Padahal kita semua 

datang dari sumberyang sama. Kita melupakan sifat universal kita.

Media sosialjuga bikin pusing lagi. Misalnya jaman Pilpres dulu. Ada 

seleb-seleb yang mengusung berita-berita positif Prabowo dan begitu

juga dengan Jokowi. Kalo kita (empati) dengan sudut pandang 

mereka, ya makes sense juga sih. We are not as good as we thought,

and they are not as bad as we thought. Jadi, tergantung perspektif 

masing-masing. Understand each other version of the story, dan 

menerima bahwa orang yang berbeda memiliki realita yang berbeda.

(Twitter: (dsalsabeela. Instagram: fdsalsabeela)

Intisari wawancara dengan Llia:

• Santai saja, jangan memusingkan hal-hal yang tidak perlu.

• Jangan biarkan media sosial dan penghuninya mengambil terlalu

banyak perhatian kita.

• Stoisisme sangat relevan bagi entrepreneur/pengusaha dalam 

menyikapi kegagalan dan penolakan.

• Jangan biarkan politik dan ilusi perbedaan memecah belah kita.

BAB TUJUH

Hidup di 

antara Orang

yang 

Menyebalkan

160

prnah enggak merasa malas ke acara keramaian sebab  malas 

bertemu orang? Tidak hanya malas bertemu orang, tapi dalam hati 

kita sudah berpikir bahwa orang-orang yang akan kita temui akan 

berperilaku menyebalkan ke kita (tanpa pernah berpikir bahwa kita pun 

mungkin punya perilaku menyebalkan juga). Pergi ke luar rumah, kita 

harus berhadapan dengan perilaku pengendara yang tidak tertib. Pergi ke 

tempat umum seperti di mal, kita akan bertemu orang-orang egois di 

antrian lift atau toilet. Pergi ke acara keluarga besar, akan bertemu 

saudara yang usil atau mulutnya setajam silet. Rasanya ingin tinggal di 

rumah saja, menyendiri, dan tidak bertemu orang lain. ‘ Daripada jadi 

dosa, marah dan jengkel sebab  orang lain, mending enggak ketemu 

mereka," demikian yang sering terlintas di pikiran saya.

P

Manusia adalah makhluk sosial. Para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu 

sudah meyakini itu. Kemampuan berbahasa yang dimiliki spesies kita 

diduga berevolusi dari kebutuhan berkomunikasi sesama manusia, sebab  

dengan komunikasi kita bisa berkoordinasi untuk bersama-sama bertahan 

hidup. Spesies kita kemudian berhasil meninggalkan cara hidup berburu 

dan mengumpulkan buah-buahan menjadi bercocok tanam (Revolusi 

Agrikultur) yang akhirnya memicu nenek moyang kita untuk tinggal tetap di 

sebuah tempat, dan akhirnya melahirkan desa, kota, sampai kerajaan.

Kemudian perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengantarkan 

kita masuk ke Revolusi Industri. Akhirnya, sampai di masa sekarang di era 

informasi dan digital di mana kita senang berbagi selfie. Semua ini adalah 

cerminan keinginan paling mendalam dalam diri kita untuk terhubung 

dengan manusia lain. Sejak 2.000 tahun yang lalu, para filsuf Stoa sudah 

menyadari nature manusia yang harus hidup sebagai makhluk sosial. 

Dalam Meditations, Marcus Aurelius berkata, “Semua manusia diciptakan 

untuk satu sama lain."

Namun, manusia juga adalah Homo Homini /Vyebe//n-manusia yang 

nyebelin bagi manusia lainnya. Kita adalah manusia yang seringkali 

nyebelin bagi orang lain dengan ulah dan perkataan kita. Di artikel  saya 

sebelumnya, 7Kebiasaan Orang Yang Nyebelin Banget [Penerbit artikel  

Kompas], dibahas survei yang

161

menunjukkan kalau ada begitu banyak hal-hal menyebalkan yang

kita lakukan kepada satu sama lain, baik sengaja maupun 

tidak disengaja. Manusia saling menyebalkan satu sama lain, 

misalnya lewat basa-basi ngeselin seperti, “Kapan kawin?”, 

“Kapan punya anak?”, “Kok kamu gendutan sekarang?”, dan 

lain-lain. Perilaku menyebalkan ini juga termasuk tindakan-

tindakan kecil kita, seperti main HP di dalam bioskop, masuk

lift tidak menunggu yang keluar terlebih dahulu, atau segala

perilaku tidak tertib di jalan raya. Lagi-lagi, tidak ada 

yang banyak berubah sejak 2.000 tahun yang lalu: kita sering

dibuat sebal oleh orang lain. Di pembahasan sebelumnya 

mengenai premeditatio malorum, kita melihat bagaimana Marcus

Aurelius menjadikan kebiasaan untuk mengawali hari dengan 

membayangkan semua hal-hal tidak menyenangkan yang dilakukan

orang lain kepada kita.

People hurt and offend each other—manusia saling menyakiti dan 

menyinggung sesamanya—ini kenyataan. Tidak ada tempat di mana pun 

di dunia ini untuk kita bisa menghindari orang-orang menyebalkan, bahkan 

di tempat ibadah sekalipun. Mungkin hanya di surga kita terbebas dari 

perilaku menyebalkan. sebab  ini adalah realitas, maka seorang praktisi 

Stoisisme sudah harus bisa mengantisipasinya. “Mengharapkan orang 

jahat untuk tidak menyakiti orang lain adalah gila. Itu adalah meminta hal 

yang tidak mungkin. Arogan sekali jika kita bisa memaklumi orang jahat 

memperlakukan orang lain seperti itu namun  kita tidak terima jika terjadi 

pada kita. Itu kelakuan seorang tiran,” ujar Marcus Aurelius [Meditations). 

Kalau dibahasakan ulang, ya wajar dong orang jahat menyakiti orang lain. 

Yang aneh itu kalo lo berharap sebaliknya. Lebih ngeselin lagi kalo lo 

berharap mendapat kekecualian, orang lain boleh disakiti kecuali lo. Siape 

lo?

Bayangkan betapa seringnya kita membaca tentang perlakuan buruk 

orang ke orang lainnya. Kita sering kali mengelus dada dan berdecak. Kok

bisa ya? Cuma ya sebatas itu saja, kita hanya “merasa prihatin" jika itu 

terjadi pada orang lain.  mengingatkan kita untuk selalu siap 

bahwa kita pun akan mendapat perlakuan buruk suatu saat dalam hidup 

kita. Saat kita diperlakukan buruk oleh orang lain, apakah kita bisa 

setenang jika menyikapi pengalaman orang lain? Atau, kita akan marah- 

marah lebay?

 162

Kalau kita renungkan sejenak kata-kata Marcus di atas, maka bisa 

dibayangkan karakter luar biasa dari beliau. Beliau adalah seorang kaisar 

di sebuah kekaisaran yang terbesar dan terkuat di masanya. Jika kita saja 

segan terhadap seorang presiden dari negara demokrasi, terbayang 

betapa menakutkannya seorang “kaisar” dari sistem monarki. Sebagai 

seorang kaisar, celaan orang lain harusnya menjadi masalah sepele, toh 

dia bisa saja dengan mudah memerintahkan memisahkan kepala para 

kritikusnya dari tubuh mereka. Namun, Marcus Aurelius bisa mencapai 

kebijaksanaan seperti di atas mengenai perlakuan manusia. Kalau orang 

jahat ngejahatin orang lain, ya wajar dong?

Jika kita kembali ke dikotomi kendali, maka orang-orang yang 

menyebalkan ada di luar kontrol kita. Kita tidak bisa mengendalikan 

perilaku orang lain, namun  kita sepenuhnya bisa menentukan apakah kita 

akan terganggu atau tidak oleh perilaku orang lain. Perilaku orang lain 

masuk dalam kategori indifferent, yang artinya tidak punya pengaruh 

kepada kebahagiaan kita. Yang artinya, aneh kalau kita terganggu oleh 

kelakuan menyebalkan orang lain, saat  sesungguhnya mereka 

seharusnya tidak punya pengaruh apa-apa pada kita.

 mengajarkan kita untuk tidak memberikan kuasa kepada 

orang lain untuk mengganggumu. Artinya, kuasa itu sudah ada di tangan 

kita. Perasaan terganggu oleh perilaku orang lain sepenuhnya terserah 

kita, dan kitalah yang menentukan mau memberi power itu ke orang lain 

atau tidak. Orang lain tidak bisa membuat kita merasa terganggu jika kita 

tidak memberikan izin. Teman sekolah mengolok-olok kita? Kolega di 

kantor memiliki kebiasaan menyebalkan? Atau, bahkan orang tua kita 

sendiri rasanya sering memperlakukan kita tidak seperti yang kita 

harapkan? Jika kita terganggu oleh itu semua, Stoisisme mengingatkan 

bahwa kitalah yang mengizinkannya.

Terkadang, orang lain bisa menjengkelkan kita bukan sebab  apa yang 

mereka lakukan, namun  sebab  apa yang TIDAK mereka lakukan. Misalnya,

orang-orang yang tak tahu berterima kasih. Stoisisme mengajarkan agar 

kita jangan bete jika kebaikan atau keramahan kita TIDAK dibalas. Contoh,

saat kita tersenyum pada orang lain dengan maksud ramah, namun  orang 

ini  melengos saja. Keselgak? Sebelum saya belajar Stoisisme,

saya akan kesal sekali kalau sudah bersikap ramah pada orang lain, terus 

dikacangin begitu. Atau, saya sudah berbuat hal yang memikirkan orang 

lain [considerate], tapi tidak dianggap. Misalnya, saya membuka pintu 

gedung dan menahankan pintu untuk orang yang di belakang saya, namun  

orang yang di belakang saya boro- boro bilang terima kasih, menengok 

163 

saja tidak, melengos saja seolah-olah sudah pekerjaan saya menahankan 

pintu untuknya. Setelah menerapkan , saya tidak perlu lagi 

merasa kesal. Sekali lagi, prinsip dikotomi kendali menjadi panduan saya. 

Saya tidak bisa mengendalikan respons orang. Bersikap baik kepada 

orang lain adalah pilihan dan di bawah kendali saya, namun  "respons orang 

lain" tidak di bawah kendali saya, dan betapa bodohnya jika saya 

mengharapkan orang lain "harus" memberi respons yang sesuai. Saya 

sudah harus cukup bahagia bahwa saya telah bertindak memedulikan 

orang lain. Tidak lebih dari itu.

"Kamu salah jika kamu melakukan kebaikan pada orang dan 

berharap dibalas, dan tidak melihat perbuatan baik itu sendiri sudah 

menjadi upahmu. Apa yang kamu harapkan dari membantu 

seseorang? Tidakkah cukup bahwa kamu sudah melakukan yang 

dituntut Alam [Nature]? Kamu ingin diupah juga? Itu bagaikan mata 

menuntut imbalan sebab  sudah melihat, atau kaki meminta imbalan 

sebab  sudah melangkah. Memang sudah itu rancangan 

mereka...begitu juga kita manusia diciptakan untuk membantu 

sesama. Dan saat  kita membantu sesama, kita melakukan apa yang

sudah dirancang untuk kita. Kita melakukan fungsi kita.” - Marcus 

Aurelius [Meditations)

Butuh Dua Pihak untuk Merasa Terhina

"Ingat, untuk bisa benar-benar menyakitimu, tidak cukup dengan 

hinaan saja. Kamu harus percaya bahwa kamu sedang disakiti. Jika 

seseorang sukses membuat kamu terprovokasi, sadarilah bahwa 

pikiranmu pun turut berperan dalam provokasi ini. Itulah pentingnya 

untuk kita tidak memberi respons secara impulsif. Berikan waktu 

sebelum bereaksi, maka akan lebih mudah bagi kamu memegang 

kendali (atas dirimu sendiri)." - Epictetus [Enchiridion)

Ini adalah human insightyang brilian dari para filsuf Stoa. Untuk bisa 

sungguh terjadi “penghinaan”, harus ada yang merasa terhina. Sebuah 

penghinaan sesungguhnya tidak bernilai sampai objeknya merasa bahwa 

ia disakiti. Saat ini terjadi, maka penghinaan itu “sukses". Namun, jika sang

objek tidak merasa terhina, maka hinaan itu sesungguhnya sebuah 

serangan yang tumpul dan tidak berarti. Jika ada seseorang yang dihina 

dan merasa terhina, maka Epictetus akan menyalahkan si terhina, “Salah 

lo sendiri kalo tersinggung!” Ini konsisten dengan yang telah kita bahas 

sebelumnya tentang mengendalikan persepsi kita sendiri. Menghina ada di

 164

bawah kendali orang lain, merasa terhina ada di bawah kendali kita.

Bahwa celaan dan hinaan tidak pernah benar-benar bisa melukai objeknya

—kecuali diijinkan—bisa diilustrasikan dengan contoh berikut. Suatu hari, 

kamu berdiri menghadap sebuah lukisan masterpiece karya seniman besar

Indonesia Affandi. Coba kamu berteriak-teriak, menghina-hina lukisan itu. 

"Lukisan sampah! Apa bagusnya kamu? Anak kecil juga bisa hanya coret-

coret gak keruan seperti kamu!” Apakah lukisan itu menjadi lebih buruk, 

kehilangan keagungannya hanya sebab  hujatan kita? Apakah lukisan 

ini  menjadi “turun derajat” dari status mahakarya hanya sebab  

celaan satu orang? Ditambah lagi, lukisan ini hanya sebuah benda mati. 

Tidakkah kita jauh lebih bernilai dan bisa lebih berpikir daripada sebuah 

lukisan?

“Kamu tidak bisa dihina orang lain, kecuali kamu sendiri yang 

pertama-pertama menghina dirimu sendiri.” - Epictetus [Enchiridion)

Tidakkah ini tepat menggambarkan keadaan di media sosial saat ini? Di 

media sosial, ada begitu banyak pihak yang sengaja menciptakan 

kemarahan dan emosi dengan hanya bermodalkan jempol. Entah itu 

meninggalkan komen-komen yang menyulut kemarahan di posting-an kita 

atau sengaja memancing debat kusir. Sayangnya, ada begitu banyak juga 

orang yang terprovokasi oleh ulah para provokator di media sosial (yang 

konyolnya lagi sering datang dari akun-akun anonim). Banyak yang 

terprovokasi, marah-marah, dan saling perang membalas hinaan antar 

pihak yang berbeda (yang saat ini sering kali disebabkan oleh politik). Jika 

Epictetus hidup saat ini, dia justru

165 

sydralw akhirnya kesampaian juga :) #eiffeltower

#traveling2018 #likes

thaacntxbgt asli atau photoshop tuh, fotonya? :p akan 

menegur mereka yang terprovokasi, bukan mereka yang sengaja 

memprovokasi. Para troll di internet dan media sosial tidak akan bisa 

mencapai apa-apa jika lebih banyak orang lebih bisa mengendalikan 

pikirannya dan tidak mengacuhkan para provokator.

'‘Ambillah waktu sebelum bereaksi..." Tips dari Epictetus ini juga konsisten 

FOLLOW

sydralw

Eiffel Tower, Paris

 166

dengan prinsip S-T-A-R [Stop-Think & Assess-Respond). Saat emosi mulai

mendidih akibat membaca linimasa media sosial, stop! Jangan tergesa-

gesa menggerakkan jempol, jangan melakukan apa-apa. Time out dulu, 

kemudian berpikir. Kata-kata hinaan, celaan, provokasi hanyalah “kata-

kata”. Kata- kata tidak mengubah realitas, sama halnya dengan saat  kita 

mencaci maki sebuah lukisan mahakarya. Nilai lukisan ini  tidak akan 

berubah. Jika saya sampai merasa tersinggung dan terpancing, maka ini 

sepenuhnya salah saya. Lagipula, dengan demikian tujuan si provokator 

justru tercapai. Namun, jika kita tidak terpancing, bahkan bisa menjawab 

dengan kepala dingin dan tidak emosional, ada hal positif yang bisa 

tercapai. Wawancara di akhir bab dengan Cania Irlanie, seorang aktivis, 

akan lebih memperjelas bagian ini.

"The best revenge is to be unlike him who performed the injury." - 

Marcus Aurelius [Meditations)

Untuk mereka yang menghina kita dengan sengaja, bagaimanakah kita 

bisa “membalas dendam"? Marcus Aurelius, seorang kaisar, memiliki 

jawaban yang singkat dan jelas, “Sesungguhnya balas dendam yang 

terbaik adalah dengan tidak berubah menjadi seperti sang pelaku". Jika 

kita menerima hinaan dan kemudian kita pun berubah menjadi penghina 

yang emosional dan dikuasai kemarahan, maka yang menang adalah 

kemarahan dan kebencian. Seperti di film-film zombi, jika si manusia 

normal digigit oleh zombi dan kemudian berubah menjadi zombi juga, 

maka sang zombi sudah menang.

Ada orang sengaja menjelekkan atau ingin memprovokasi kita? Stand your

ground. Tetap menjadi praktisi Stoa yang memegang kendali atas persepsi

dan responsnya yang baik. Maka, itu akan seperti adegan di mana zombi 

'menggigit’ kita, namun  tidak mempan. Itulah "pembalasan” terbaik menurut 

Marcus Aurelius, saat  kita tidak turun derajat menjadi sama dengan yang 

ingin berbuat jahat kepada kita.

"Sebagai obat untuk melawan ketidakramahan, kita dianugerahi 

keramahan." - Marcus Aurelius iMeditations). Eh? Tidak hanya kita tidak 

boleh ikut berubah menjadi jahat saat  diperlakukan jahat, Marcus 

Aurelius mengajarkan bahwa cara menghadapi orang yang judes, kasar, 

pemarah, tidak ramah, dan tidak sopan adalah justru dengan keramahan. 

Ini memang ajaran yang sulit di masyarakat yang sangat reaktif, dan 

rasanya tangan ini ingin menampol orang-orang menyebalkan. Namun, 

seperti prinsip bahwa api akan padam dengan air dan bukan dengan api 

lagi, begitu juga ketidakramahan hanya bisa "diperangi” dengan kebaikan. 

Mengapa? sebab  sering kali orang yang kasar pada kita tidak menyangka

167 

akan menerima reaksi yang ramah dan santun. saat  mereka sudah 

bersiap-siap menghadapi serangan judes balik, betapa kagetnya mereka 

saat  malah diperlakukan dengan baik /Lah....kok gue judes sama dia, 

tapi doi malah baik. Terus aku kudu piye...J Lagi, bayangkan seorang 

kaisar mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak membalas perilaku buruk 

dengan perilaku buruk juga—sebuah halyang jarang ditemui di jajaran 

penguasa, rasanya.

Mungkin Tidak Ada Motivasi Jahat...

Sedari tadi kita membahas situasi-situasi di mana ada pihak-pihak yang 

sengaja hendak menyakiti, menghina, atau menyinggung kita. Akan namun , 

para filsuf Stoa juga menyadari ada kemungkinan lain, yang bahkan lebih 

sering terjadi, yaitu banyak orang sebenarnya menyakiti kita ”tanpa 

sengaja”.

“saat  ada yang menyakitimu, atau berkata buruk tentangmu, 

ingatlah bahwa dia bertindak dan berbicara sebab  mengira itu 

memang tugasnya. Ingatlah bahwa tidak mungkin dia mengerti sudut 

pandang kita, namun  hanya sudut pandang dia sendiri. sebab nya, jika

dia melakukan kesalahan dalam menilai, sebenarnya dialah yang 

dirugikan, sebab  dia telah tertipu [deceived]. Jika seseorang 

menganggap kebenaran sebagai sebuah kekeliruan, kebenaran itu 

sendiri tidak rugi, namun  justru dia yang tertipu yang rugi. Dengan 

prinsip ini, kamu bisa dengan rendah hati menanggung orang yang 

menghina kamu, dengan cukup berkata, ‘Itu kan menurut dia.'” - 

Epictetus [Discourses]

Epictetus mengingatkan adanya kemungkinan lain saat kita merasa 

tersinggung oleh perkataan dan tindakan orang lain, yaitu bahwa orang 

ini  tidak bermaksud menyakiti kita, namun  justru dia melakukannya 

untuk “kebaikan” menurut sudut pandang dia. Bahkan, Epictetus 

mengatakan orang ini  merasakan sudah "tugasnya” untuk 

melakukan/mengatakan hal ini .

Mari kita coba gunakan contoh situasi yang paling umum di kalangan 

milenial Indonesia, yaitu pertanyaan paling dibenci, "Kapan kawin?”, yang 

kerap ditanyakan di acara-acara keluarga. Jika kita emosi, kita pasti sudah 

jengkel duluan di dalam hati. Dasar kurang ajar, tidak tahu etiket, tidak 

tahu privacy orang, tidak tahu sopan santun, dan lain-lain. Akan namun , 

kalau kita mengikuti jalan pikiran Epictetus, maka si penanya "kapan nikah”

mungkin sebenarnya merasa dia melakukan tugasnya, dari sudut pandang

 168

dia. Sang penanya mungkin anggota keluarga yang merasa kasihan 

sebab  [bagi dia) kamu sudah kelamaan hidup melajang, dan usia mulai 

mendekati kedaluwarsa. Sang penanya mungkin benar-benar tulus merasa

kalau kamu melajang, maka pasti hidupmu nelangsa. Juga, sang penanya 

mungkin benar- benar secara tulus mengharapkan kamu untuk bahagia di 

dalam bahtera pernikahan.

Saat kita mulai memikirkan kemungkinan ini, apakah kita masih ingin 

marah? Betul, mungkin perspektif dia keliru. Mungkin kita memang masih 

bahagia melajang. Mungkin kita memang tidak mau memaksakan asal 

menikah sekadar sebab  tekanan deadline. Namun, sang penanya tidak 

mungkin sepenuhnya bisa melihat perspektif kita. Dia tidak menjalani hidup

kita dan tidak bisa merasakan apa yang kita rasakan. Dia bertindak dan 

bertutur kata mengikuti perspektif dia, pengalaman hidup dia, perasaan 

dia, dan menurutnya apa yang dilakukannya adalah “baik”. Jadi untuk apa 

merasa tersinggung dan marah?

169 

Epictetus pun menambahkan, jika seseorang berkata-kata/ bertindak 

berangkat dari perspektif yang keliru atau salah, sesungguhnya yang rugi 

adalah dia sendiri, bukan kamu, sebab  dia sudah tertipu /deceived). 

Kembali ke contoh tadi. Jika sesungguh-sungguhnya kamu bahagia hidup 

 170

melajang, namun  orang lain merasa kamu tidak bahagia, maka, fakta bahwa

kamu sebenarnya bahagia tidak berubah dan berkurang nilainya sebab  

persepsi keliru itu. Bahkan, orang lain ini lah yang sebenarnya 

dirugikan, sebab  gagal melihat kebenaran (truth) bahwa kamu sebenarnya

merasa bahagia. Kemudian, seperti dikatakan Epictetus, kamu cukup 

berpikir, “Ya itu kan menurut dia...” dengan senyum manis.

Menyadari bahwa orang lain bertindak menurut apa yang baik sesuai 

perspektifnya bisa membantu kita lebih tidak reaktif terhadap ujaran dan 

tindakan orang lain. sebab , seberapa pun menyehatkannya perilaku atau 

perkataan orang lain, belajar memahami intent (niat) dan perspektif 

mereka bisa membantu kita memberi respon yang lebih baik. Ini bisa 

diterapkan di banyak situasi, tidak hanya soal pertanyaan "kapan kawin?", 

tapi juga di kampus, dengan dosen atau teman-teman sekelas; di kantor, 

dengan para kolega; di tempat umum seperti di mal, dengan orang-orang 

tak dikenal. Atau, bahkan dalam interaksi di media sosial. Media sosial 

memang memudahkan orang untuk mengomentari orang lain dan kita 

mungkin sering jengkel dengan komentar-komentar sotoy (sok tahu) yang 

kita terima. Para filsuf Stoa sudah mengingatkan bahwa manusia memang 

harus sotoy, sebab  keterbatasan pengetahuan dan sudut pandang 

mereka. Kita pun tidak luput dari ke-sotoy-an saat kita menilai hidup orang 

lain. Jadi, kenapa harus (cepat) gusar di media sosial?

Mengasihani Mereka yang Jahat kepada Kita

Apa? Ada orang yang jahat malah dikasihani? Bukannya harusnya dibalas

yang setimpal? Stoisisme memiliki perspektif yang menarik mengenai 

orang "jahat" yang dipengaruhi Socrates.  memang sangat 

pemaaf terhadap kesalahan orang, dan ini masih berhubungan dengan di 

atas. Stoisisme percaya bahwa banyak orang yang berbuat jahat tidak 

sebab 

"berniat jahat”. Sebelumnya telah kita lihat bahwa setiap orang bertindak 

menurut sudut pandangnya, yang bisa sangat terbatas atau keliru. Menurut

filsuf Stoa, orang berbuat jahat akibat ketidaktahuannya (ignorant) dan dia 

tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Atau, dia sesaat kehilangan nalar/akal 

sehat (khilafi untuk mengetahui mana yang baik dan jahat. Jika dia 

memiliki kebijaksanaan dan nalarnya sedang berfungsi baik, dia pasti akan

memilih yang baik.

Menyangkut orang "jahat", Epictetus berkata, "Mengapa kamu justru tidak 

mengasihaninya? Sama seperti kita merasa iba kepada mereka yang buta 

171 

atau pincang, maka kita juga harus merasa iba kepada mereka yang 

(nalarnya) ‘buta dan pincang’.” (Discourses)

Selama ini saya menganggap manusia hitam dan putih, ada manusia 

"baik", ada manusia "jahat”. Namun, label "baik" dan "jahat” ini mereduksi 

manusia lain menjadi dua kelompok saja, seolah-olah yang baik akan baik 

terus selamanya, begitu juga dengan yang jahat. Stoisisme memberi 

alternatif sudut pandang lain, yaitu perbuatan “jahat" bisa jadi lahir sebab  

ketidaktahuan (ignorance), bukan sebab  memang diniatkan. Sama halnya 

seperti kita tidak mungkin marah-marah kepada anak bayi yang ingin 

mencolok sambungan listrik dengan jarinya dan membahayakan dirinya, 

sebab  dia "tidak mengerti” konsep bahaya listrik. Begitu juga dengan 

orang-orang yang berbuat jahat di mata kita—bagaikan si anak bayi tadi—

sebab  mereka tidak mengerti.

Seseorang menyalip antrean di depanmu? Mungkin dia belum tahu soal 

antre. Atau, kalau sudah tahu pun, mungkin dia tidak tahu perilaku ini 

menyakiti perasaan orang lain. Ada yang bergosip jahat di belakangmu? 

Mungkin dia tidak tahu bahwa itu tercela. Ada yang bersikap tidak ramah 

kepadamu di kantor? Mungkin dia tidak tahu soal etiket di kantor. Ada 

orang yang memakimu? Mungkin dia sedang dikuasai emosi sesaat, 

sehingga "tidak tahu” kalau itu jahat.

Saya yakin masih ada orang yang berbuat jahat dan sangat sadar 

mengetahui itu jahat. Namun, orang-orang seperti ini rasanya sangat 

sedikit jumlahnya. Jika kita renungkan orang-orang yang pernah 

“menyakiti” kita dalam hidup, dan kita mau mencoba benar-benar berpikir 

objektif dan empati, maka kita akan menemukan bahwa sebagian besar 

dari mereka tidak benar- benar berniat menjahati orang lain. Bahkan, 

mereka yang kita yakini memang berniat menjahati kita pun mungkin 

terdorong oleh rasa ketakutan mereka (yang bisa jadi tidak beralasan).

Frederick Douglass adalah seorang kulit hitam yang hidup di Amerika 

Serikat pada abad ke-19, di mana praktik perbudakan dan ketidakadilan 

terhadap kaum kulit hitam masih terjadi, la adalah seorang mantan budak 

yang melarikan diri, kemudian menjadi aktivis pejuang penghapusan 

perbudakan, la dianggap sebagai tokoh kulit hitam paling berpengaruh di 

masanya. Pada suatu saat, Douglass, yang melakukan perjalanan dengan 

angkutan umum, dipaksa untuk duduk di gerbong bagasi sebab  warna 

kulitnya. Padahal, beliau membayar tiket sama dengan yang lain. 

Beberapa orang kulit putih yang mengenalnya dan simpati pada 

perjuangannya kemudian menghampirinya di gerbong bagasi untuk 

menghiburnya. Salah satu dari mereka berkata, “Saya turut menyesal 

 172

Tuan Douglass, bahwa anda sudah direndahkan seperti ini.” Mendengar 

ini, Frederick Douglass menjawab, “Mereka tidak bisa merendahkan 

seorang Frederick Douglass. Tidak ada seorang pun yang bisa 

merendahkan jiwa di dalam diri saya. Sesungguhnya bukan sayalah yang 

direndahkan dengan kejadian ini, namun  justru mereka yang melakukan ini 

pada saya.”

Kisah ini sungguh mengagumkan dan sangat menggambarkan Filosofi 

Teras, menyangkut kemampuan kita untuk mengendalikan interpretasi 

atas perlakuan orang lain terhadap kita. Rasanya, sebagian besar dari kita 

akan merasa marah luar biasa jika diperlakukan secara diskriminatif oleh 

orang lain, apalagi sampai dilihat oleh orang lain. Akan namun , Frederick 

Douglass menunjukkan bahwa merasa "direndahkan” adalah subjektif. 

Kata-kata beliau tepat menohok, bahwa tidak ada seorang pun yang bisa 

merendahkan jiwa seseorang.

Seperti Epictetus yang mengajarkan kita untuk mengasihani orang yang 

jahat kepada kita, Douglass pun menunjukkan bahwa mereka yang rasis 

justru merendahkan diri mereka sendiri. Dengan bersifat diskriminatif dan 

menzalimi orang yang berbeda, justru merekalah yang "turun kelas”, lebih 

rendah daripada yang terzalimi—dalam hal ini Frederick Douglass.

Saat kita berulang kali sudah mulai merasa akan terprovokasi sebab  

perlakuan jahat atau tidak adil dari orang lain, ingatlah kata-kata Frederick 

Douglass di atas. Tidak ada seorang pun yang bisa merendahkan jiwa 

orang lain, dan, mungkin, mereka yang berlaku jahat kepada kitalah yang 

patut dikasihani.

Kemarahan Kita Lebih Merusak daripada Perlakuan 

yang Kita Terima

"How much more damage ANGER and GRIEF do than the things 

that cause them." - Marcus Aurelius /Meditations)

Kamu gusar sebab  perlakuan orang lain? Kamu sedih sebab  perlakuan 

keluarga dan pasangan? Marcus mengatakan bahwa kemarahan dan 

kesedihan/baperkamu itu jauh lebih merusak daripada perlakuan itu 

sendiri. Sekali lagi: BAPER ITU SUMBER SEGALA MASALAH. sebab  

baper dimulai dari persepsi kita sendiri atas sebuah peristiwa /impression) 

yang sering kali tidak dianalisis dahulu, dan sebab nya bisa keliru. Kalau 

pun benar, tetap saja tidak berguna (sebab  kita baper mengenai sesuatu 

di luar kendali kita. Dikotomi kendali lagi!)

173 

Sebagai contoh: sahabat dekat kita tidak mengucapkan selamat ulang 

tahun. Persepsi kita sendiri: dia sengaja! Dia sudah benci sama saya! Kok 

tega-teganya dia berlaku seperti ini sementara saya tidak pernah lupa 

mengucapkan selamat ulang tahun kepada dia. Ingat, bahwa hal yang 

benar-benar fakta objektif adalah "tidak mengucapkan selamat ulang 

tahun". Soal sahabat kita sudah membenci kita adalah murni bikinan 

pikiran kita sendiri (interpretasi/va/ue judgment yang kita tambahkan 

kemudian).

Rantai persepsi (yang hanya ada di dalam pikiran kita) ini bisa berlanjut 

sampai panjang sekali. Sekali kita membiarkannya menguasai pikiran kita, 

maka respon apa yang muncul? Kita mulai marah. Mungkin kita sengaja 

mengambek. Kemudian kita mulai mengumpulkan sekutu di antara teman-

teman. Kita mulai mencari bukti bahwa teman yang tadi memang ngeselin.

Kemudian, dari mengambek, mulailah konflik terbuka, dimulai dari chat 

pribadi, chat grup, sampai akhirnya berantem beneran dengan menyewa 

ormas. Alhasil, rusaklah sebuah pertemanan. Semua ini dimulai dari apa? 

Hanya sebab  seseorang lupa mengucapkan selamat ulang tahun kepada 

kita dan kemudian "dibumbui" persepsi kita! Apakah worth it (sepadan) 

sesuatu yang lebih besar seperti pertemanan atau persaudaraan hancur 

sebab  emosi yang tidak bisa kita kendalikan? Sudah berapa pertemanan, 

persaudaraan, kerjasama yang bubar hanya sebab  salah paham dan 

emosi yang lebih merusak dari hal yang memicu emosi itu sendiri?

Saat kita mulai merasakan kemarahan atau sakit hati yang timbul sebab  

perlakuan orang lain, selalu ingat tehnik S-T- A-R. Rasa marah dan emosi 

negatif lainnya pasti timbul sebab  sebuah interpretasi 

/representation)yang kita buat sendiri. Saat kita bisa memisahkan antara 

"fakta objektif" dari interpretasi rekaan kita, kita bisa lebih merasa tenang. 

Apalagi saat kita mengingatkan diri bahwa perilaku orang lain ada di luar 

kendali kita, dan sebab nya bukanlah sumber kebahagiaan—atau 

ketenangan—kita.

Mungkin Kita yang Salah?

Saat kita merasa tersinggung oleh perlakuan dan kata-kata orang lain, 

ingatlah bahwa bisa jadi kita yang keliru. Saat kita "mendengar" pendapat 

orang lain, gosip yang beredar, sampai pesan berantai di group chat, 

selalu sadari ini mungkin hanya opini saja. Di samping itu, opini, persepsi, 

interpretasi belum tentu sama dengan fakta objektif yang ada. Bahkan, 

penglihatan kita pun bisa menipu kita, sebab  sudut pandang kita terbatas 

dan sebab  sering kali penglihatan kita bias.

 174

Apakah kamu benar-benar yakin orang lain melakukan kesalahan? 

Sudahkah kita benar-benar MENGERTI situasinya? Sebagai contoh: kita 

sedang berkendara, lalu tiba-tiba ada kendaraan yang cepat melaju 

menyalip kita secara membahayakan. Maka, kita pun marah sebab  

merasa diperlakukan buruk. Pertanyaannya, apakah kita yakin bahwa dia 

melakukan itu dengan sengaja untuk memprovokasi kita? Atau, yakinkah 

kita bahwa dia memang pengendara yang ceroboh? Atau, mungkinkah 

sebenarnya dia sedang dalam situasi darurat/emergency, sebab  istrinya 

harus melahirkan di rumah, di saat yang sama kucingnya juga? Faktanya 

hanyalah kendaraan kita disalip secara membahayakan, namun  hanya 

sampai di situ. “Kreativitas” kita yang menambahkan motivasi di balik 

perbuatan ini , dan sering kali bumbu kita hanya semakin menambah 

kemarahan.

Dalam situasi antarmanusia, contoh sederhana soal “penglihatan” yang 

menyesatkan /deceiving! sering menimpa teman-teman kita yang memiliki 

temperamen introver. Introver butuh waktu menyendiri untuk “mengisi 

ulang baterai” mereka, sebab  berada di antara orang banyak melelahkan 

bagi mereka. Ini kebalikan dari kaum ekstrover yang justru menjadi lebih 

berenergi di tengah banyak orang. Saat introver memilih untuk menyendiri,

teman ekstrover yang "melihat” ini akan mudah menganggap kalau dia 

seorang yang sombong, tidak sudi bergaul, eksklusif, dan lain-lain. Contoh 

lain, pasangan yang lupa menanyakan keadaan kita. Kita bisa tergesa-

gesa mengartikannya sebagai dia tidak peduli lagi dengan kita, padahal 

mungkin dia sedang sangat sibuk atau tertimpa masalah yang harus 

diselesaikan. Kita harus senantiasa berhati-hati dengan apa yang kita pikir 

kita lihat dan dengar, sebab  itu hanya dari sudut pandang kita saja.

Jika kita menyadari betapa rentannya kita sendiri pada kesalahan dan 

kekeliruan, maka tahap “Think & Assess” (Pikirkan dan Nilai) dalam S-T-A-

R menjadi sangat krusial dalam menentukan respon yang benar. Sebelum 

kita emosi merasa "kebenaran" kita dilanggar, cek terlebih dahulu apakah 

mungkin kita yang salah.

Waspada “Kurang Kerjaan"

"Kurang kerjaan banget sih lo?" Pernah mendengar ujaran yang kerap 

diberikan kepada orang yang melakukan aktivitas yang tak berguna dan 

hanya merugikan orang lain? Hampir 2.000 tahun lalu pun Seneca sudah 

menyadari bahwa “kurang kerjaan” bisa menjadikan kita orang yang 

menyebalkan:

175 

"Kurang kerjaan [unproductive idleness] hanyalah memelihara niat 

jahat, dan sebab  orang-orang kurang kerjaan tidak bisa menjadi 

makmur, maka mereka menginginkan orang-orang lain nasibnya 

sama dengan mereka. Dari sini, mereka menjadi benci pada 

kesuksesan

“People  exist  for

one  another.  You  can

instruct  or  endure

them.”  - Marcus  Aurelius

(Meditations)  orang  lain,  dan  menyadari  kegagalan

mereka,  mereka  menjadi  marah  pada  nasib,  mengeluhkan  zaman  ini,

kemudian  menjauhkan  diri  dan  merenungi  kesusahan  hidup  mereka

sampai mereka muak akan diri mereka sendiri.” [Discourses)

Sounds familiar? Pernah menemui orang-orang seperti ini di media sosial 

atau di dunia nyata? Mereka sering memberikan komentar negatif, seperti 

menjatuhkan, menjelek-jelekkan, dan menghina, bahkan kepada orang-

orang yang tidak mereka kenal (seperti selebriti). Jika ada yang berbagi 

keberhasilan, selalu saja orang-orang ini bisa menemukan kejelekan untuk

berusaha dijatuhkan.

Sutradara legendaris dari Jepang Akira Kurosawa dikenal dengan 

ujarannya, 7 cant afford to hate anyone. I don't have that kind of time." 

(Saya tidak mampu membenci siapa pun. Saya tidak punya waktu untuk 

itu). Seperti yang dikatakan Seneca, hanya kita yang “kurang kerjaan" 

yang memiliki waktu untuk membenci dan mendengki pada orang lain. Jika

kita punya kesibukan dan keasikan sendiri, niscaya kita tidak punya cukup 

waktu untuk membenci dan nyinyir pada orang lain. Jadi, lain kali kita 

mulai merasakan keinginan jahat untuk menjatuhkan orang lain, mungkin 

kita harus cepat-cepat berpikir untuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang

produktif.

Instruct or Endure

"People exist for one another. You can instruct or endure them." - 

Marcus Aurelius [Meditations)

Hidup bersama manusia lain menuntut lebih dari sekadar “menolerir” 

perilaku mereka. Sekadar menolerir orang lain sifatnya pasif. "Yang 

penting gue gak ganggu orang lain, orang lain gak ganggu gue". Sebagian 

dari kamu mungkin mendapat kesan bahwa sedari tadi  

hanya mengajarkan untuk pasif saja sebagai objek dari perlakuan tidak 

enak orang lain. Ini tidak benar.

Marcus Aurelius berkata bahwa kita hidup untuk satu sama lain [exist for 

one another). Artinya, keberadaan kita harus bisa membantu satu sama 

lain, secara aktif. Membantu di sini lebih dari sekadar membantu uang atau

bantuan bencana, namun  setiap hari kita bisa saling mengajar dan 

membangun satu sama lain. “Kamu bisa mengajari [instruct] orang lain, 

atau hidup menolerir mereka,” kata Marcus. Kita bisa mengajari orang lain 

menjadi lebih baik, dan jika itu tidak tercapai, minimal kita bisa 

menanggung (hidup bersama) mereka [endure them). Jika kita melihat ada

perilaku yang keliru, maka pastikan bahwa itu memang keliru, dan 

kemudian kewajiban kita untuk membenarkan.

Contoh sehari-hari. Kita melihat seseorang yang memotong antrean—

sebab  memang tidak mengerti prinsip mengantre, atau memang egois 

saja. Seorang praktisi Stoisisme tidak akan hanya diam saja melihat itu, 

namun  akan memberi tahu baik- baik kesalahannya dan menunjukkan 

bagaimana seharusnya mengantre [to instruct). Jika orang ini  sudah 

diberi tahu namun  tetap ngotot dan berperilaku menjengkelkan, barulah opsi

kedua diambil, to endure them. Di Bab VI sudah dibahas bahwa kita 

mampu tidak merasa tersinggung atau marah atas ulah orang lain. Selain 

itu, salah satu nilai kebajikan [virtue) Stoisisme adalah temperance atau 

menahan diri. We can endure other people if we practice temperance.

Jadi, mengajukan keluhan [complaint) dengan tujuan memperbaiki situasi 

atau orang lain tidak bertentangan dengan Stoisisme. Yang tidak didukung

oleh Stoisisme adalah menggerutu dan menggosipkan kesalahan orang 

lain, namun  tidak memperbaiki keadaan maupun membuat orang lain 

menjadi lebih baik.

Tentunya ini tidak berarti kita menjadi sangat mudah menegur orang lain, 

sedikit-sedikit menjadi hakim yang tegur ke sana sini, baik di dunia nyata 

maupun online. Sebelum kita mencoba memperbaiki orang lain, kita harus 

benar-benaryakin bahwa kita sudah betul-betul mengerti situasi yang ada 

dan bahwa teguran memang diperlukan. Ada standar ketat yang harus kita

terapkan kepada diri sendiri sebelum bisa menegur orang lain. Yakinkah 

bahwa penilaian kita akan seseorang sudah akurat? Bagaimana jika kita 

yang salah? Jika masih ada keraguan bahwa kita benar-benar mengerti 

situasi sebenarnya, termasuk dari perspektif orang lain, mungkin lebih baik

kita diam.

Apalagi saat  kita memasuki konteks perbedaan budaya, di mana sebuah 

perilaku bisa dianggap tidak layak di budaya yang satu, tapi layak di 

budaya lainnya. Contohnya, bagi kamu, bersendawa di depan orang lain 

sesudah makan mungkin menjijikkan. Namun, bisa saja kamu traveling ke 

suatu daerah di mana bersendawa tidak hanya normal, bahkan dianggap 

hal yang baik (misalnya tanda seseorang sungguh-sungguh menikmati 

makanan yang disuguhkan tuan rumah). Maka, jika kamu menegur 

seseorang bersendawa di daerah di mana hal itu diterima (bahkan 

diharapkan), kamulah yang terlihat bodoh, egois, bahkan menyebalkan. Di 

sinilah kebijaksanaan Iwisdom) diperlukan.

Ada banyak situasi lain di mana prinsip instruct or endure bisa diterapkan. 

Dari di rumah sendiri, keluarga besar, di sekolah atau pekerjaan, atau di 

masyarakat luas, baik offline maupun online, kita bisa melakukan hal ini. 

Sayangnya, banyak dari kita yang tidak mau menyampaikan teguran 

membangun kepada orang lain, dan hanya mengomel, bahkan bergosip, di

belakang orang itu. Seperti karyawan yang terus-menerus mengeluhkan 

perilaku kolega/bosnya, namun  tidak berani berkata langsung kepada si 

kolega/bos maupun menyampaikan keluhan melalui kanal resmi (misalnya 

ke departemen SDM). Perilaku cuma berkeluh kesah, namun  tidak mau 

membantu orang lain memperbaiki dirinya, pada akhirnya hanya 

merugikan semua orang. Si orang yang bersangkutan tidak tahu bahwa 

dia perlu memperbaiki diri, si pengeluh tidak menyelesaikan apa-apa, 

bahkan memperoleh predikat sebagai tukang gosip, dan hidup orang-

orang lainnya juga tidak berubah menjadi lebih baik.

Contoh lainnya, saat artikel  ini ditulis, hoaks, fake news (berita bohong), dan

black campaign marak beredar baik di media sosial maupun chat group, 

terlebih menjelang tahun politik 2018-2019. Jika kita menerima sebuah 

berita yang diragukan kredibilitasnya, apalagi bersifat merusak 

(menimbulkan kebencian dan kecurigaan pada kelompok tertentu), yang 

paling minimal bisa kita lakukan adalah tidak ikut-ikutan menyebarkannya. 

Namun, ini tidak cukup. Marcus Aurelius akan menasihati kita untuk 

memberi tahu /instruct) pihak yang menyebarkan bahwa berita ini 

berpotensi merusak, tidak jelas kebenarannya, dan sebaiknya tidak 

disebarkan. Saya mengerti bahwa melakukan ini pasti tidak nyaman, 

apalagi jika pelakunya keluarga yang dituakan, namun , menurut saya ini 

hanyalah masalah cara penyampaian. Jika pihak yang diberitahu masih 

nyolot, ngeyel, atau tidak mau mengalah, kita tidak perlu merasa kesal. 

Opsi kedua, endure, selalu ada di kendali kita.

“Dalam hidup, orang-orang akan menghalangi jalanmu. Mereka tidak bisa 

mencegah kamu melakukan hal yang baik, dan tidak bisa mencegah kamu

menolerir [put up] mereka juga...sebab  marah adalah juga kelemahan, 

sama seperti menjadi patah arang dan menyerah berjuang. Keduanya 

adalah desertir: mereka yang menghindar dan mereka yang memutuskan 

hubungan dari sesama manusia.” - Marcus Aurelius /Meditations). Bagi 

Marcus, marah pada orang lain adalah kelemahan, begitu juga dengan 

menghindari mereka. Kita digambarkan bagaikan prajurit yang desersi, lari 

meninggalkan tugas, dan di dalam dunia militer, perilaku desersi sangat 

terhina.

Kemarahan: “Gila Sementara”

Bagi Seneca, orang yang marah sedang mengalami "gila sementara” 

/temporary madness). "Keburukan dan kejahatan (v/ces) lain memengaruhi

pertimbangan [judgment] kita, namun  kemarahan memengaruhi kewarasan 

kita: keburukan dan kejahatan (lain) menyerang kita dengan lunak dan 

tumbuh tak terlihat, namun  kemarahan menjerumuskan pikiran manusia 

secara mendadak...kemarahan bisa begitu memuncak hanya dari 

penyebab awal yang remeh.” /On Anger)

Kemarahan bisa begitu memuncak hanya dari penyebab awal yang 

REMEH. Betapa benar dan tragis. Pernahkah kita membaca berita dua 

kampung bisa tawuran hanya sebab  urusan pertandingan bola? Orang-

orang berpendidikan bisa naik pitam, bahkan baku hantam di jalan, hanya 

sebab  urusan mobil keserempet? Dua keluarga bisa tidak berbicara 

bertahun-tahun sebab  urusan sesepele undangan nikah, hutang, atau 

perangkat Tupperware yang tidak dikembalikan? Tidak ada pemicu 

sesepele apa pun yang tidak mampu menciptakan kemarahan berlipat-

lipat.

Dalam bentuk lain, namun  sama ”gila”-nya, adalah perilaku kita di media 

sosial. Hanya sebab  urusan satu tweet atau satu post di Facebook atau 

Instagram, bisa terjadi pertengkaran berjilid- jilid dengan modal jempol. 

Bagi pihak ketiga yang mengamati ini dengan kepala dingin, pasti setuju 

dengan perkataan Seneca: kemarahan memengaruhi kewarasan kita. 

Mungkin, sebab  hal ini juga orang Jawa zaman dulu menarik kesimpulan, 

“Yang waras mengalah.” sebab  percuma berhadapan dengan orang yang

sedang tidak waras, walau hanya sementara.

Berikut kali kita merasakan kemarahan mulai terbangun, segeralah 

menghentikannya. Rasanya tidak ada yang mau dibilang sebagai “orang 

gila”, walaupun hanya untuk sementara. Sekali lagi, ingatlah S-T-A-R. 

Ajaran orang zaman dulu untuk menghitung sampai sepuluh sebelum 

mengekspresikan kemarahan mungkin ada benarnya, sebab  memberi 

kesempatan untuk “kewarasan” kita pulih kembali.

Jangan Sampai Kita Mengisolasi Diri

“Dahan yang dipotong dari dahan sebelahnya juga terputus dari 

pohon keseluruhan. Begitu juga manusia yang terpisahkan dari 

manusia lain juga terputus dari masyarakat keseluruhan. Dahan 

pohon dipatahkan oleh orang lain, namun  manusia 'mematahkan’ diri 

mereka sendiri—melalui kebencian dan penolakan—dan tidak 

menyadari bahwa mereka telah memotong diri mereka dari seluruh 

masyarakat...Kita memang bisa melekatkan lagi diri kita dan sekali 

lagi menjadi bagian dari keseluruhan. Akan namun , jika kita memotong

diri terlalu sering, maka akan makin sulit untuk melekatkan diri 

kembali. Kamu bisa melihat perbedaan antara dahan yang selalu 

tumbuh di sebuah pohon, dan dahan yang sudah pernah dipotong 

dan dilekatkan kembali." - Marcus Aurelius iMeditations)

Analogi yang sangat tepat menggambarkan relasi manusia dengan 

manusia lain, bahkan masyarakat keseluruhan, dan menunjukkan betapa 

 sungguh-sungguh serius dalam mengingatkan kita untuk 

selalu menjaga kehidupan sosial kita, dengan menjaga kerukunan dan 

silaturahmi kita. Marcus Aurelius berpendapat bahwa sebisa mungkin kita 

tidak memutuskan tali hubungan dengan sesama kita, yang bahkan bisa 

menyebabkan kita terpotong dari masyarakat keseluruhan.

Bagaikan dahan yang dipotong dari dahan lainnya, dia juga terpotong dari 

pohon pokoknya. Yang merugi adalah si dahan, sebab  dia terpotong dari 

aliran makanan dan hidup. Dahan yang terpotong memang bisa 

“dilekatkan” kembali, dan mungkin pulih, namun  terlalu sering dipotong 

akhirnya akan makin sulit untuk bisa melekat kembali.

Apakah kita mengenali seseorang dalam hidup kita yang “memotong 

dirinya sendiri” dari pertemanan atau lingkungan sosial? Bagi saya ini tidak

ada hubungannya dengan karakter introver versus ekstrover. Mungkin kita 

mengenal seseorang yang sering ngambek, menyimpan marah, kepahitan,

atau kebencian terhadap teman-temannya, atau lingkungan sekitarnya, 

sehingga dia memilih memisahkan diri. Menurut Marcus Aurelius, ini hal 

yang patut disayangkan dan sebaiknya dihindari.

Ajaran Stoisisme bahwa manusia adalah makhluk sosial dan sebaiknya 

tidak mengisolir diri mendapatkan semakin banyak dukungan dari ilmu 

kesehatan. Dalam artikel di The New York Times berjudul “The Surprising 

Effects of Loneliness on Health” (Efek Mengejutkan dari Kesepian 

Terhadap Kesehatan), disebutkan bahwa kesepian bisa meningkatkan 

hormon stres dan inflamasi, yang kemudian bisa menambah risiko 

penyakit jantung, arthritis, pikun, bahkan upaya bunuh diri. Artikel ini juga 

mencatat rasa kesepian tidak ada hubungannya dengan jumlah teman 

atau kenalan. Seseorang bisa memiliki sedikit hubungan namun  tidak 

merasa kesepian, sementara seseorang bisa dikelilingi banyak orang, 

namun  merasa kesepian. Kualitas dari hubungan antarmanusia menjadi 

lebih penting dari kuantitas. Artikel ini mengukuhkan apa yang telah 

ditemukan para filsuf Stoa 2.000 tahun yang lalu, manusia harus hidup 

bersama manusia lainnya dengan baik.

Prinsip-prinsip hubungan antar manusia di dalam Stoisisme saling terkait 

dan bisa sangat membantu kualitas hubungan. Satu- satunya cara agar 

kita tidak “memotong” diri kita dari hubungan sosial, menjadi pahit hati dan 

menjauh dari teman, keluarga, dan masyarakat adalah dengan tidak 

baperan, tidak sensitif atau mudah terprovokasi, apalagi mudah marah-

marah. Intinya, kembali seperti yang di ajaran : hidup selaras 

dengan Alam, dengan cara menggunakan nalar/rasio/reason kita sebaik- 

baiknya. Jika kita sering mengabaikan nalar/akal sehat kita, yang

Maka jika

hidup harus selaras denga

Alam, konsekuensinya 

tidak ada ruang untuk k 

berbohong.

artinya menjadi sama dengan binatang, maka kita menjadi mudah 

terprovokasi, terlalu sensitif, dan selalu menanggapi apa kata orang, dan 

niscaya kita tidak akan tahan dan selalu tergoda untuk menghindari kontak

sosial saja. Bagaimana caranya supaya kita tidak mudah baperan? 

Dengan menyadari bahwa kita sendirilah yang bertanggung jawab jika kita 

merasa tersinggung, marah, tertolak-dan bukan orang lain. Selain itu, 

kerendahan hati untuk menyadari bahwa kita sendiri tidak sempurna dan 

sering melakukan kesalahan juga menjadi penyeimbang.

Berkata Jujur Selalu

“Betapa menjijikkannya saat  seseorang berkata, 'Sejujurnya nih

.............................’ di awal kalimat. Apa maksudnya? Itu

seharusnya tidak perlu diucapkan. Itu sudah semestinya, tertulis 

dengan huruf besar di jidat. (Kejujuran) harus terdengar di suaramu, 

nampak di matamu, bagaikan kekasih yang menatap wajahmu dan 

percaya seluruh kisahmu dengan sekilas pandang. Seorang yang 

jujur dan terus terang bagaikan seorang dengan bau badan. saat  

kamu seruangan dengan dia, kamu langsung tahu. Akan namun , 

kepalsuan bagaikan pisau (yang menancap) di punggung.” - Marcus 

Aurelius (Meditations)

[Pak Marcus, analogi orang bau ini agak aneh, tapi saya mengerti kalau 

jaman Romawi kuno dulu belum ada deodoran. Jadi, ya sudahlah yaaa

...........................)

Waktu membaca, saya lumayan tertegun. Kata-kata Marcus Aurelius 

bagaikan tertuju kepada saya pribadi. Saya menyadari selama berbicara 

dengan orang lain saya sering kali membuka kalimat seperti berikut,

"Kalau boleh jujur....."

"Sejujur-jujurnya nih...."

"Gue boleh jujur gak?...."

Marcus Aurelius berkata bahwa hal ini 'menjijikkan*. Kalau dia hidup di 

masa kini, mungkin dia akan berkata, "Maksud looh? Jadi, kemarin-

kemarin lo selalu berdusta kalau ngomong?!" Jika kita semua terbiasa 

berkata jujur senantiasa, maka tidak perlu ada saat-saat di mana kita 

membuka kalimat kita dengan pembukaan “Kalau boleh jujur..." Ini sama 

saja dengan mengakui selama ini kita sering berbohong. Skakmat dari Bos

Marcus.

Menarik untuk mengerti alasan mengapa berbohong dilarang dalam 

. Umumnya berbohong dilarang oleh agama sebab  

dikategorikan sebagai dosa. Kita terbiasa menakut-nakuti anak kecil, 

"Jangan bohong kamu! Dosa! Nanti kamu masuk neraka dan di situ 

tidak ada wi-fi gratis!!” Stoisisme mempunyai argumen mengapa 

berbohong itu keliru, bukan sekadar label dosa atau tidak. Kembali ke 

prinsip hidup selaras dengan Alam [to live in accordance with Nature). 

Prinsip fundamental ini juga yang mendasari argumen agar tidak 

berbohong. Argumennya adalah sebagai berikut.

Segala hal yang benar [truth] otomatis adalah bagian dari Alam 

[Nature], dan sebaliknya kebohongan adalah sesuatu yang tidak 

benar/tidak ada, dan artinya bukan bagian dari Alam.

Maka jika hidup harus selaras dengan Alam, konsekuensinya tidak ada 

ruang untuk berbohong. sebab  dalam  kebahagiaan sejati

hanya bisa datang dari keselarasan dengan Alam, maka berbohong 

akan menghalangi meraih kebahagiaan itu. Dengan kata lain, si 

pembohong sudah membuat dirinya sendiri menderita dengan 

bohongnya, sebab  dia sudah menyimpang dari Alam.

Jadi, inilah insentif yang diberikan para filsuf Stoa agar kita mau hidup 

dalam kejujuran dan menghindari dusta. Bukan dengan ancaman 

neraka di akhirat, namun  dengan argumen logis bahwa yang merugi 

adalah kita sendiri. Dengan meninggalkan keselarasan dengan Alam, 

kita mempersulit diri sendiri memperoleh kebahagiaan, damai, dan 

tenteram. Belum lagi risiko ketahuan yang bisa mengancam hubungan 

antar manusia kita (atau, lebih buruk lagi, sampai berujung hukuman 

pidana!)

Terkadang, Ada Orang-orang yang Harus Dihindari

So far so good. Namun, saya