bisa mengerti bahwa sebagian pembaca
masih bersikap skeptis. “Okelah, idealnya memang kita tidak mudah
ngambek, sensitif, atau terprovokasi oleh orang lain.
“Pertemanan palsu adalah^C
yang terburuk. Hindari '
sebisa mungkin. Jika kamu
jujur dan terus-terang dan
bermaksud baik, itu akan
tampak di matamu. Tidak
mungkin disalahartikan.”
- Marcus Aurelius
L (Meditations). A
Fine, gue yang bertanggung jawab atas respon diri kita sendiri.
Setuju kalau kita harusnya menjaga kerukunan dengan sesama.
namun ......kenyataannya memang ada aja orang di dunia ini yang
sangat-sangat bikin gue naik darah terus. Gimana dong?”
Tenang. adalah filosofi yang realistis, dan saat
membaca tulisan-tulisan filsuf Stoa, kita akan menyadari bahwa
pemikiran mereka didasarkan pada pengamatan akan perilaku
manusia nyata, bukan teori mengawang-awang. Bahkan seorang
Marcus Aurelius pun berkata pada akhirnya memang ada orang-
orang tertentu yang harus dihindari.
“Pertemanan palsu adalah yang terburuk. Hindari sebisa
mungkin. Jika kamu jujur dan terus-terang dan bermaksud baik,
itu akan tampak di matamu. Tidak mungkin disalahartikan.” -
Marcus Aurelius [Meditations).
Rupanya, masalah teman palsu ini, sama seperti ketimun pahit,
sudah ada selama ribuan tahun, dan ini adalah salah satu contoh
tipe manusia yang terburuk dan harus dihindari sebisa mungkin.
Menurut saya, ada alasan mengapa Marcus Aurelius tidak
sembarangan menyuruh menghindari orang, dan secara eksplisit
membahas 'teman palsu’ (bukan sekadar orang-orang yang
menyebalkan, tidak tahu aturan, tidak sopan, dan lain- lain).
Teman palsu bisa mencelakakan kita sebab kewaspadaan kita
terkelabui. Jika kita harus berurusan dengan orang yang baru kita
kenal, atau memang musuh kita, maka otomatis kita bersikap
waspada. Namun, dengan mereka yang berstatus “teman", kita
sering kali tidak kritis, atau membutakan diri kepada fakta bahwa dia
sebenarnya tidak tulus, atau hanya berteman dengan kita untuk harta
kita, atau sesungguhnya ingin mencelakai kita. “Kesialan terburuk
yang bisa menimpa seseorang yang kebanyakan duit adalah dia
mengira orang- orang adalah temannya, padahal sebaliknya tidak
demikian.” - Seneca. [Letters)
Selain teman palsu, rasanya selalu ada saja orang-orang yang
kehadirannya toxic, atau merusak mental kita. Mungkin dia
membawa pengaruh yang buruk, kata-katanya selalu menjatuhkan,
tidak mau kalah, atau terang-terangan selalu ingin menyakiti kita.
Usaha untuk memperbaiki [instruct) sudah dilakukan dan dia tidak
mau berubah. Opsi menolerir [endure) pun dirasa sangat sulit,
sebab kehadirannya sangat membawa aura negatif. Apa yang harus
dilakukan?
Ingat quote Marcus Aurelius tentang kalau ketemu ketimun pahit
dibuang aja? Saya rasa ini berlaku juga dengan hubungan sosial.
Pada akhirnya akan selalu ada orang yang negatif, yang tidak mau
dikoreksi, atau teman-teman palsu tadi. saat sudah tidak mungkin
untuk mengoreksi atau menolerir mereka, jalan terakhir menghindari
orang-orang tertentu dalam hidup selalu ada. Ada teman yang
korosif? Ya gak usah ditemenin. Ada teman yang kalau ngutang
selalu amnesia dan kalau ditagih lebih galak dari yang menagih? Ya
sudah, dihindari saja. Ini tidak bertentangan dengan prinsip tidak
mengisolir/memotong diri kita dari pergaulan, sebab kita masih tetap
mempertahankan kehidupan sosial, hanya kualitasnya saja yang
dijaga. Tentunya, Stoisisme menganggap ini sebagai langkah
terakhir, dan tidak bisa dilakukan seenaknya [dikit-dikit memutus
pertemanan, menghindari orang, unfriend, block, dan lain-lain),
sebab , jika keseringan, akhirnya kita yang “memotong diri" dari
“pohon" masyarakat yang lebih besar.
Seneca juga menuliskan mengenai pentingnya berhati-hati dalam
memilih teman:
“Kita harus ekstra hati-hati dalam memilih orang, dan
memutuskan apakah mereka layak untuk kita berbagi (waktu)
hidup dengan mereka....
“Tidak ada yang lebih menggembirakan kita seperti
persahabatan yang akrab dan setia. Sungguh sebuah berkah
untuk memiliki mereka yang siap dan mau menerima segala
rahasia kita dengan aman. Bercakap- cakap dengan mereka
menyejukkan kecemasan kita, nasehat mereka membantu kita
menetapkan pilihan, keceriaan mereka mencairkan kesedihan
kita, bahkan sekedar kemunculan mereka sudah membuat kita
senang!
“Pilihlah teman yang paling tidak bercacat moral; seperti kita
tidak ingin bercampur dengan orang sakit agar tidak
tertular...khususnya, hindari mereka yang selalu murung dan
meratap, dan selalu menemukan alasan untuk
mengeluh...sesungguhnya teman yang selalu merasa kesal dan
menggerutu tentang segala hal adalah musuh bagi kedamaian
jiwa kita.” (On Tranquility of Mind)
Berteman kok milih-mUih? Ya memang! Bukan memilih-milih atas dasar
suku, agama, atau ras, atau memilih sebab siapa bapaknya dan di
mana rumahnya, namun memilih teman berdasarkan karakter mereka.
sebab , karakter yang buruk sesungguhnya bisa menjangkiti orang lain,
bagaikan penyakit menular.
Beberapa Tips Berurusan dengan Orang Lain, dari
Marcus Aurelius
Marcus Aurelius menuliskan catatan untuk dirinya sendiri bagaimana
berurusan dengan orang-orang lain, diambil dari Meditations:
• Menyadari bahwa orang lain didorong oleh apa yang mereka
percayai, dan bahwa mereka bangga dengan apa yang mereka
lakukan.
• Jika yang mereka lakukan benar, maka tidak ada alasan untuk kita
mengeluh. Jika apa yang mereka lakukan adalah keliru,
(menyadari) bahwa mereka tidak melakukannya dengan sengaja,
namun lebih sebab ketidaktahuan (ignorance). Tidak ada orang
yang senang disebut “tidak adil", “sombong”, atau “serakah”—apa
pun sebutan yang mengesankan mereka bukan anggota
masyarakat yang baik.
• Ingatlah bahwa kita sendiri melakukan banyak kesalahan. Kita tidak
berbeda dari mereka. Bahkan jika berhasil menghindari melakukan
kesalahan, kita masih memiliki potensi melakukan kesalahan di
masa depan.
• Jika kita menganggap orang lain melakukan kesalahan, kita belum
tentu tahu dengan pasti bahwa itu suatu kesalahan. Apa yang
mereka lakukan seringkah hanyalah jalan untuk mencapai tujuan
tertentu. Kita harus benar-benar mengerti banyak hal sebelum bisa
menghakimi tindakan orang lain.
• saat kamu kehilangan kendali atas emosimu, atau bahkan
sekadar merasa kesal, ingatlah bahwa hidup manusia sangatlah
singkat dan tidak lama lagi kita semua akan dikuburkan.
• Bahwa bukan apa yang orang lain lakukan yang mengganggu kita,
namun persepsi yang salah dari kita sendiri. Buang itu semua.
Berhenti beranggapan bahwa ini semua adalah bencana, maka
akan lenyaplah amarahmu. Bagaimana kita bisa melakukan itu?
Dengan menyadari bahwa sesungguhnya kita tidak benar-benar
terlukai.
• Lebih banyak kerusakan ditimbulkan oleh kemarahan dan
kesedihan kita daripada hal-hal yang menyebabkan kemarahan dan
kesedihan ini .
• Sesungguhnya, kebaikan /kindness) itu sangatlah kuat asalkan
dilakukan dengan tulus dan bukan pencitraan. Orang paling jahat
pun tidak berdaya jika kita terus memperlakukan dia dengan
kebaikan dan dengan lembut memperbaikinya. Biarlah nasihatmu
disampaikan dengan lembut tanpa harus menudingkan jari.
Lakukan dengan penuh kasih tanpa kebencian di hatimu.
Berbicaralah dengan tidak menggurui dan ingin dikagumi orang
lain, bahkan jika memang ada orang lain di situ.
Marcus Aurelius juga menambahkan bahwa murka bukanlah sifat yang
terpuji. Kesantunan dan kebaikanlah yang menentukan kemanusiaan
seseorang. Sesungguhnya, orang lembutlah yang memiliki kekuatan
dan keberanian, bukan si pemarah dan tukang keluh. Sebaliknya,
kemarahan pada orang lain adalah sebuah hambatan bagi tugas kita.
“Kita dilahirkan untuk bekerja sama bagaikan kaki, tangan dan mata,
bagaikan dua baris gigi, atas dan bawah. Untuk menghambat orang lain
adalah melanggar Alam. Untuk menjadi marah pada orang lain, dan
memunggunginya; ini semua adalah hambatan," ujar Marcus Aurelius.
Manusia Lain: Kerja Kita
"Bisa dikatakan, manusia lain adalah 'kerja' kita. Tugas kita adalah
melakukan yang baik kepada mereka dan hidup berdampingan
mereka. namun saat mereka menjadi halangan dalam kita
menjalankan kerja kita, maka mereka menjadi irelevan—bagaikan
sinar matahari, angin, dan
dicari, namun
waktu
adalah harta yang
kehidupan kita, terus
mendekatkan diri kita
kepada kematian. .
binatang-binatang. Tindakan kita mungkin dihambat oleh mereka,
namun tidak ada yang bisa menghambat niatan atau watak kita.” -
Marcus Aurelius [Meditations]
Berkali-kali Marcus Aurelius, Seneca, dan para filsuf Stoa lainnya
memberi penekanan pada hubungan antarmanusia. Bahkan, di kutipan
di atas dikatakan (hubungan kita) dengan manusia lain sebagai salah
satu 'kerja' kita. Kewajiban kita adalah terlebih dahulu melakukan hal
yang baik kepada orang lain dan bisa hidup rukun di sisi mereka
(minimal bisa menerima/ menolerir keberadaan mereka). Ini menjadi
default setting, atau kondisi standar kita.
•1
uane dan harta
tanpa amp
menghilc
un terus
Namun, kita tahu dalam hidup ini tidak semua manusia memiliki prinsip
yang sama (banyak yang belum mengerti !), dan mereka
dengan sengaja atau tidak sengaja menghalangi atau tidak
menghargai upaya kebaikan kita. Marcus Aurelius menasihati agar kita
tidak menjadi patah hati dan menyerah.
Pernahkah kita dikecewakan sesudah berbuat baik kepada orang lain,
dan kemudian berkata dalam hati, ‘'Males banget. Kapok jadi orang
baik. Toh nanti gak dihargai, gak diinget, gak dibales, de el
el....."Sounds familiar?Saya rasa semua orang pernah merasa seperti
ini (termasuk saya!), dan sebab nya, Marcus segera melanjutkan
dengan kemungkinan ini-saat orang lain menjadi halangan dan
bagaimana orang-orang yang seperti ini irelevan. "Dianggap angin
saja”, dan kita tetap melanjutkan berbuat baik pada orang lain. Jangan
sampai kita patah arang, apalagi sampai membatalkan niatan dan
mengubah watak.
Pentingnya “Manajemen Orang Lain” di Dalam
Hidup Kita
"Manusia tidak mengizinkan orang lain merebut properti rumah
dan tanah mereka. Jika ada sedikit saja perselisihan mengenai
batas (tanah), manusia berlomba mengambil batu dan senjata.
Akan namun , manusia mengizinkan manusia lain mencuri hidup
mereka.
"Kamu tidak akan menemukan orang yang mau membagi-
bagikan uangnya begitu saja, namun berapa banyak dari kita yang
justu membuang-buang hidup kita sendiri. Manusia pelit saat
menjaga harta benda mereka, namun begitu soal membuang-
buang waktu, kita justru boros. Padahal justru di sinilah kita harus
pelit.” - Seneca (On The Shortness of Life)
Seneca sungguh memiliki pengamatan tajam akan ironi dari perilaku
manusia. Kita tidak segan-segan mengangkat senjata jika menyangkut
urusan sengketa tanah dan harta. Pertemanan, bahkan tali hubungan
saudara atau orang tua-anak bisa putus hanya sebab perebutan
warisan, rumah, perusahaan, dan lain- lain. Kita sangat murka saat
ada yang mencuri harta kita, atau tidak mengembalikan hutangnya
kepada kita. Namun, ironisnya, kita justru membuang-buang hal yang
lebih bernilai dari semua itu, yaitu waktu yang ada di dalam hidup kita.
Kita bisa menyia-nyiakan waktu dengan memberikan terlalu banyak
porsi waktu kita untuk emosi negatif kepada orang lain. Mungkin kita
menyimpan dendam bertahun-tahun atas masalah yang sudah lama
berlalu. Atau, kita menghabiskan berjam-jam menggosipkan orang lain
tanpa mengubah keadaan menjadi lebih baik. Atau, kita terus
mengomel dan berkeluh kesah mengenai perilaku orang lain kepada
kita, tanpa kita mencari solusinya. Atau, kita bertahan dalam
pertemanan, pacaran, bahkan pernikahan yang toxic (beracun),
selama bertahun-tahun, yang akhirnya menghancurkan jiwa kita
sendiri. Semua ini sama saja seperti "menghamburkan” waktu kita
kepada orang lain, yang mana menurut Seneca ini lebih buruk dari
menghamburkan uang.
Seneca mengingatkan kita akan pentingnya "manajemen waktu" yang
lebih penting dari "manajemen uang”. Mengatur waktu di sini termasuk
juga memperhatikan waktu yang kita curahkan kepada orang lain. Jika
kita tidak suka uang dan harta kita dicuri/diambil orang lain, tidakkah
kita harus lebih ketat lagi menjaga waktu kita? Apakah kita akan
menjalani detik-detik akhir kehidupan kita menyesali mengapa kita
menghabiskan banyak waktu untuk orang-orang yang tidak
seharusnya diberikan tempat di dalam kehidupan kita? sebab uang
dan harta benda selalu bisa dicari, namun waktu adalah harta yang
tanpa ampun terus menghilang dari kehidupan kita, terus mendekatkan
diri kita kepada kematian.
Intisari Bab 7:
• sangat menaruh perhatian pada hubungan
antarmanusia, sebab para filsuf Stoa percaya bahwa nature
manusia adalah makhluk sosial.
• Dalam kehidupan sosial, kita pasti harus berhadapan dengan
perilaku manusia lain yang menyebalkan.
• Kalau kamu merasa tersinggung oleh ulah dan perkataan orang
lain, itu sepenuhnya salahmu sendiri.
• Di balik perilaku menyebalkan orang lain, kemungkinan besar
tidak ada motivasi/niatan jahat, namun ketidaktahuan/ ignorance.
• Orang yang melakukan perbuatan menyebalkan sebab tidak tahu
(ignorant), justru seharusnya dikasihani dan diajari, bukan
dimarahi.
• Tidak ada yang bisa merendahkan jiwamu.
• Kemarahan kita jauh lebih merusak daripada penyebab
kemarahan itu sendiri.
• Selalu ingat kemungkinan bahwa kita yang salah/keliru.
• “Kurang kerjaan” membuka celah untuk niat jahat.
• Instruct and endure. Tugas kita adalah membangun orang lain,
atau menanggung/menolerir mereka.
• Kemarahan sama dengan gila sementara.
• Kejujuran adalah bagian dari selaras dengan Alam. Ketidakjujuran
membawa kerugian di saat ini juga.
• Terkadang, memang ada orang-orang yang layak dihindari dalam
hidup.
• Waktu adalah harta yang terus menerus berkurang, jangan
dihamburkan kepada orang-orang yang tidak membuat hidup kita
lebih baik.
Wawancara dengan
Cania Citta Irlanie
Editor Geolive dan Geotimes
“Selalu
mensimulasi
the worst case."
Saya mengenal Cania awalnya dari media sosial. Kehadirannya di
media sosial tidak lepas dari perdebatan yang ditimbulkannya, baik
dari cuitan di Twitter, posting-an di Facebook, atau vlog-nya, sebab
memang hobi Cania adalah menyatakan opini secara apa adanya,
yang sering tidak sejalan dengan pemahaman banyak orang. Namun,
bukan ini alasan utama saya memutuskan mewawancara Cania. Saya
justru tertarik menyaksikan bagaimana dia bersikap menghadapi
serbuan banyak cercaan, bullying, bahkan sebagian sudah masuk
kategori ancaman. Cania bersikap tenang dan chill banget. sebab
sikapnya ini mengingatkan saya kepada banyak prinsip Stoisisme,
saya tertarik untuk ngobrol dengannya. Berikut kutipannya.
Hi Cania, apa kegiatannya sehari-hari sekarang?
Seminggu sekali saya shooting produksi video untuk Geolive. Sisanya
menulis untuk Geotimes, induk media dari Geolive, sambil
menyelesaikan skripsi di Strata-1 Ilmu Politik Universitas Indonesia
dengan peminatan di Comparative Politics, jadi membandingkan satu
kawasan dengan yang lain. Misalnya, membandingkan kebijakan di
Finland dengan di Amerika Serikat.
Kalau weekend, sebab saya pianis saya juga mengisi wedding atau
acara ulang tahun. Atau main di cafe atau di hotel.
Bisa ya membagi waktu antara skripsi, shooting video, sampai
menulis?
Basically sebab semua kegiatan ini adalah menulis dan membaca,
jadi pembagian waktu tidak masalah. Yang jadi masalah lebih
pembagian mood, hahaha. sebab semuanya tentang menuangkan
ide, jadi kalau pas ada mood untuk menulis suatu ide, saya akan
meninggalkan dulu ide yang lain.
Mengapa waktu lulus SMA memutuskan mengambil Ilmu Politik?
Agak aneh ceritanya. Latar belakang saya sebelumnya sains banget.
Tahun 2006, saya ikut Olimpiade Matematika dan Sains Internasional,
sudah melalui karantina bareng Yohanes Surya (Pembimbing Tim
Olimpiade Fisika Indonesia-penulis) juga. Di SMP juga ikut Olimpiade
Biologi dua kali. Saat SMA, sebab juga tertarik pada bahasa Inggris,
saya ikutan speech contest. Kemudian diperkenalkan pada juga
kepada English Debating.
Sejak kenal debating ini, saya jadi kenal social issues, sebab
debatnya kan tidak mungkin tentang natural science, tapi social
political issues. Di tingkat Jawa Barat saya dikarantina, setiap hari bisa
berdebat tujuh mosi, seminggu 50 mosi. Mosinya semua tentang social
issues, seperti currency, kebijakan tobacco, dan lain-lain. Sejak itu
minat saya di bidang ini bertambah, seperti hukum, politik, dan lain-
lain. Saya kayak ngerasa ada something bigger than natural science,
biology, virus, genetics. Saat ikutan debat, baru menyadari ada yang
lebih kompleks dari itu semua, yaitu...manusia. sebab nya, saya
pengen menghabiskan masa kuliah di sesuatu yang lain dari sains.
Itulah bagaimana saya akhirnya memutuskan belajar politik.
Sempet nyesel gak sekarang sesudah mempelajari Ilmu Politik?
Sesuai ekspektasi. Semua pengalaman gue selama debating benar-
benar ditemui saat belajar ilmu politik. Seperti perdebatan teori. Untuk
satu isu yang sama, bisa ada enam teori yang berbeda-beda. Kalau
belajar sains kan tidak seperti itu. Jika ada teori yang lebih baru dan
lebih bagus, maka teori sebelumnya ya hilang, sebab artinya dia gagal
dan yang baru menghapus itu.
Dalam (ilmu) sosial tidak seperti itu. Untuk setiap isu bisa ada lebih dari
satu analisis, teori, point of view, dan lain sebagainya. I used to obsess
with being right when in science. sebab di sains itu tidak ada pilihan
lain selain benar dan salah. Kalau lo gak salah ya lo benar, udah itu
aja. Maka saat tenggelam dalam sains, saya sangat terobsesi menjadi
‘'benar". Gak mungkin ada dua kebenaran di sains. Saya bisa bilang
kalo saya mungkin lebih close-minded saat itu, sebab saya gak
menganggap kebenaran itu relatif. Kalo lo salah ya lo goblok.
Tapi, saat kuliah di FISIP saya berbenturan dengan pemikiran-
pemikiran lain, dan pada tahap yang keras. Kalau lo orangnya keras, lo
akan tetap close-minded. Tapi, saya selalu tertantang dengan adanya
orang lain yang mungkin lebih bener dari saya. Akhirnya saya melihat
bahwa ragam kebenaran itu tidak bisa direduksi menjadi satu. There
are alternatives of truth, maksudnya truth dalam arti morality, virtue,
orang-orang bisa memiliki definisi yang berbeda.
Jadi, waktu masuk kuliah politik tadinya saya mengharapkan hanya
cognitive development aja, yaitu saya jadi lebih menguasai bidang ini.
Ternyata it gives me a lot more than that, salah satunya saya jadi lebih
open-minded dalam konteks ragam kebenaran itu.
Bagaimana awalnya bertemu dengan Stoisisme?
Group LINE di mana saya berada sering membahas hal-hal yang tidak
mainstream. Waktu itu ada yang membahas spirituality. Kami biasanya
berkutat pada filsafat-fiIsafat yang memuaskan kognitif, seperti
marxisme, dialektika, renaissance. Kemudian, suatu saat kami
membahas apakah ada yang hilang jika tidak ada spirituality. Kami
membahas alternatif (spiritualitas) selain divinity (ke-Tuhan-an), dan
mungkin salah satu alternatif itu datang dari filsafat. Maka muncullah
diskusi tentang Stoisisme itu.
Kami memang tidak membahas sangat dalam, tapi saya jadi
penasaran, kemudian search di Google dan saya menangkapnya
sebagai filsafat self-control. Menaklukkan diri sendiri. Itu yang saya
tangkap. Diskusi tentang bagaimana jika filsafat membahas sisi
emosional manusia, bukan kognitif. Ini melengkapi topik liberalisme,
sebab saat kita memberikan kebebasan pada individu, maka individu
itu harus bisa mengelola dirinya di dalam kebebasan itu. Dan
Stoisisme memberikan cara untuk menaklukkan diri lo sendiri, dalam
kehidupan antarmanusia.
Adakah prinsip Stoisisme yang suka diterapkan?
Ada adagium (peribahasa): “10% masalah dalam hidup kita adalah
masalah itu sendiri, 90% adalah how we react to the problem". Dan jika
90% dari masalah hidup adalah reaksi kita sendiri, maka kitalah yang
harus belajar bagaimana bereaksi pada masalah itu. Dan Stoisisme
memberikan cara bagaimana kita bereaksi dengan "inner calm", dan
ekspresinya tidak perlu dengan murka, marah-marah, serta lebih fokus
pada mencari solusi.
Kamu juga aktif di media sosial, dengan segala konsekuensinya. Bisa
cerita pengalaman dalam bermedia sosial, seperti menghadapi hater,
dan lain-lain?
Saya suka mensimulasi dalam kepala saya sendiri, apa "the worst
case" kalau saya mengambil pilihan tertentu. Misalnya, bagaimana
kalau saya menjadi jurnalis, dan saya menulis sesuatu yang 'keras',
apa sih worst case that could happen? Pada saat masuk media sosial,
saya juga mensimulasi hal yang pasti terjadi di social media, bullying
(walaupun sejak di SMP saya sudah biasa menghadapi bullying]. Tapi,
bullying di social media kan beda banget dari masa SMP.
Kemudian saya membayangkan kalau saya di-bully berdasarkan
pemikiran, itu bisa sangat berbeda dengan jika d\-bully for no reason,
seperti saat SMP di mana banyak orang yang d'\-bully. Kalau kita
memberi sebuah pernyataan yang keras, yang challenge the norm of
society, mungkin kita akan menerima bullying yang jauh lebih parah
dari itu. Terus saya membayangkan, apa yang saya lakukan jika ada di
situasi itu.
Saya selalu simulasi the worst case sebelum memilih sesuatu. Untuk
apa? Untuk menjamin bahwa saya bisa react in the right manner
(bersikap dengan cara yang benar). Jadi, saya memutuskan untuk
latihan, dengan membaca bullying yang diterima orang-orang lain.
Saya mencari akun-akun yang sering d'\-bully orang, seperti Fadli Zon
atau Mulan Jamila. Saya baca aja bullying orang (kepada mereka),
(mau tahu) bullying bisa sampai sejauh mana sih. Akun Mulan Jamila
yang d'\-bully, anaknya sampai disumpahin cacat. Saya baca dan
renungkan kata-kata itu, supaya saya gak shock kalo (nanti) membaca
itu semua (terhadap saya).
Pada akhirnya serangan (terhadap saya) itu benar-benar terjadi, dan
persis seperti yang saya bayangkan. Saya dipanggil "cewek paling tolol
se-lndonesia", "Elo kaum sodomi, perek, gak punya agama ya?” dan
lain-lain. Ini semua udah saya expect. Jadi saya sudah prepare kondisi
emosional jauh sebelum itu semua kejadian.
Jadi, gimana reaksi Cania saat akhirnya benar-benar ada yang mem-
bully?
sebab saya selalu in calm state (kondisi tenang) saat membaca
bullying, saya bisa berasumsi bahwa mungkin orang-orang ini tidak
sungguh-sungguh bermaksud apa yang mereka katakan. Mungkin ada
kesempatan untuk dialog. Untuk beberapa kasus saya akan mencoba
ngobrol (dengan mereka yang mem-bully saya). Saya minta maaf dulu
kalo ada kesalahpahaman. Dan sebagian dari mereka ternyata
membalas, dengan bahasa yang jauh lebih halus dari pertama kali
(menyapa saya).
Akhirnya soal bullying, saya mengambil kesimpulan sebagai berikut.
Kalau kita tetap menjadi objek, mereka akan semakin ganas. Dalam
bullying, saat orang memaki-maki elo, mereka tidak melihat elo
sebagai orang, namun sebagai objek aja untuk dimaki-maki. Tapi saat
elo memberi respon balik, mereka melihat elo sebagai subjek, dan
mereka akan merubah sikapnya
f “Elo tuh anak muda dengan
segudang kemungkinan
menjadi lebih besar, kenapa
elo harus turun ke level ini?
Menyimpan kemarahan dan
marah- marah, artinya level
elo jadi di bawah orang
(yang elo
Ik marah-marahin) itu.
sebab mereka akan kaget. Kayak elo lagi ngata-ngatain gelas, tiba-
tiba gelas ini ngomong balik, pasti elo shock dulu awalnya. sebab nya
saya sesekali membangun dialog itu, agar orang- orang ini ke
depannya bisa mengurangi cara merespon sesuatu dengan cara
[bully] seperti ini. Saya berharap dengan berdialog, saya bisa
memberikan saran, kalau melihat orang yang berbeda (opini), tidak
merespon dengan cara [bully] ini.
The dialogue works. 8 dari 10 orang yang saya ajak ngobrol berubah
k J
A
A
w
W
A
1
sikapnya. Bukan hanya sikapnya terhadap saya, namun terhadap isu
yang sedang dibahas. Conversation matters. Inilah pentingnya elo
calm in the first place. saat elo menerima hujatan, elo tenang dulu.
sebab kalo elonya juga murka, tidak akan mungkin terjadi dialog.
Yang dilakukan orang-orang umumnya langsung blokir, langsung
delete. Ini denial. Don’t do anything that does not contribute positively.
Memblokir itu contribute negatively. Opportunity cost dari blokir itu
besar. Elo membuang kesempatan untuk orang ini menjadi positif di
media sosial. Dengan blokir/de/ete, elo men-deny (menyangkal)
doang, orangnya tetap ada. Bagaikan mobil elo tabrakan, mobilnya gak
dibawa ke bengkel, tapi elo tinggal aja di jalan terus elo pulang. Elo
emang gak liat lagi mobil itu, tapi mobil itu masih ada di jalan, masih
rusak.
Sekali lagi, saya bisa calm sebab saya sudah mensimulasi dulu the
worst case. Untuk memastikan mental kita siap untuk apa pun.
Masalahnya kalo saya liat teman-teman yang seumuran saya, mereka
selalu berharap pada best case. Ini positive thinking in the wrong way,
sebab elo akan shock banget saat worst case terjadi.
Sejak kapan kebiasaan menyiapkan skenario terburuk di atas mulai
terbentuk?
Mungkin sebab hidup saya sekeras itu, hahaha. Saya lahir di keluarga
yang berada. Suatu hari orang tua saya berpisah saat gue masih kelas
1 SD. Kami anak-anak tinggal bersama nyokap, dan nyokap tidak
punya bekal apa pun untuk bisa mempertahankan gaya hidup yang
sama. Jadi, secara keuangan drop banget. Keadaannya berbalik 180
derajat. Yang dilakukan nyokap tidak memanjakan saya, atau
membuat anak-anaknya denial. Nyokap saya gak kayak gitu. Dia
malah memberi tahu bahwa kami jatuh miskin, mama cerai, jadi aku
harus menjaga adik. Nyokap gak pernah memperlunak masalah.
Jadi, saya gak pernah merasakan den/a//menyangkali keadaan. Kalo
ada masalah ya dihadapi langsung sejak kecil. Nah itu baru soal
kemiskinan. Selain kemiskinan, ada hal-hal yang muncul dari
kemiskinan itu. sebab elo miskin, elo harus menghadapi persaingan
yang lebih berat. Di sekolah misalnya. saat semua anak punya
gadget, saya gak punya apa-apa. Semua orang gampang mencari
informasi, tapi saya harus ke warnet, dan menghitung saya punya
uang berapa, jadi saya harus efisien memakai internet.
Saya ranking 1 dari SD sampai SMA sebab nyokap selalu bilang,
"Kamu itu udah jelek, miskin pula. Kalo kamu gak pintar, kamu gak
akan jadi apa-apa.”
Waktu di SMP saya di-bully tanpa alasan jelas, saya dibenci angkatan
dan senior. Waktu kelas 3 SMP, saya dicegat di depan pagar sekolah.
Apa yang saya lakukan? Saya harus cari jalan lain. Saya memanjat
tembok samping dan pulang lewat samping. Saya gak pernah
menghabiskan terlalu banyak energi dan pikiran pada masalah. Saya
selalu langsung cari solusinya. Suatu hari saya d'\-bully dengan cara
tas saya dimasukin sampah saat sedang tidak di kelas. Besoknya,
saya ke kantin sambil membawa tasnya. Gak harus semua masalah
elo pikirin. Banyak orang put too much energy on the problem.
Harusnya elo put energy to the solution. Kalo saya gusar, marah-
marah di- bully, nangis-nangis ke orang tua, itu semua tidak
memecahkan masalah.
Ada faktor orang tua?
Nyokap kalo ngeliat saya nangis waktu kecil, dia akan marah banget,
"Ngapain nangis? Nangis itu tidak menyelesaikan masalah.” Ada
benarnya kalimat itu. Beliau menuntut untuk tidak melakukan sesuatu
jika itu tidak berkontribusi pada solusi masalah. Itu memang ekstrim,
tapi poin yang mau saya angkat adalah bagaimana nyokap gue sangat
fokus pada solusi. Hal ini tertanam sangat dalam pikiran saya.
Kembali ke media sosial, apa sih kesalahan anak-anak muda dalam
menggunakan media sosial menurut Cania?
Mungkin comparing (membanding-bandingkan) kali ya. Saya pernah
baca artikel mengenai Instagram bisa berpengaruh pada depresi yang
sedang banyak terjadi di antara anak muda. Mungkin sebab Instagram
dipenuhi para selebgram yang memamerkan tentang hidup mereka.
Ada yang pamer traveling, ada yang pamer baju mahal, ada yang
pamer pacar gantengnya, kulit putihnya, dan lain-lain. Saya liat anak-
anak muda ini take it too seriously. Mereka kekurangan inspirasi untuk
memikirkan diri mereka sendiri, what kind of person I want to be. What
kind of myself that I aspire to be. Anak-anak muda ini kekurangan
inspirasi untuk berdiri di kaki mereka sendiri dan menjadi diri mereka
sendiri, bukan meng-copy orang lain.
Instagram ini menjadi tempat di mana mereka makin kehabisan
inspirasi sebab kerjaan mereka hanya ngeliatin akun-akun ini. Dan
mereka menghabiskan terlalu banyak energi di sini, kemudian mereka
marah sebab kehidupan mereka tidak seindah itu, terus kemarahan itu
dialihkan ke tempat lain—mem- bully akun-akun seleb saat mereka
melakukan kesalahan.
Anak-anak muda ini perlu spirituality, artikel -artikel , atau filosofi yang
memberi mereka inspirasi bahwa mereka tidak perlu seperti itu.
Bagaimana mereka bereaksi terhadap orang- orang yang
kehidupannya lebih baik dari mereka, bahwa tidak perlu menunggu-
nunggu (seleb) melakukan kesalahan untuk memaki-maki mereka (di
media sosial). Saya bingung sih, kalian ini dibesarkan di mana sih, gaul
sama siapa sampai jadi kayak gini.
Elo tuh anak muda dengan segudang kemungkinan menjadi lebih
besar, kenapa elo harus turun ke level ini? Menyimpan kemarahan dan
marah-marah, artinya level elo jadi di bawah orang (yang elo marah-
marahin) itu.
Bisa gak saya simpulkan, kalau kita sudah cukup sibuk untuk
merenungkan diri sendiri, kita mau jadi apa, kita tidak akan punya
waktu untuk mengomentari para seleb media sosial?
Balik ke dikotomi kendali ya, harusnya elo fokus pada hal-hal yang bisa
elo kendalikan aja. Saya suka bingung, kenapa sih semua orang jadi
begitu marah pada orang lain? Gak ada alasan sama sekali. Beberapa
kali baju mahal saya rusak di laundry. Apakah terus saya memaki-maki
"Dasar laundry laknat!"? Gak ada alasan sama sekali untuk marah...
Saya punya temen di media sosial yang harus banget marah ke semua
orang. Mau saya unfriend gak enak, jadi saya mute, hahaha. Buat apa
sih segala kata-kata kasar itu? Anak-anak muda butuh lebih banyak
bacaan, atau filosofi, untuk membantu mereka menggunakan media
sosial ini dengan lebih tenang, gak perlu dikit-dikit murka. Dan saya
yakin ini awalnya iri hati/ dengki, yang kemudian berubah menjadi
kemarahan. Elo akan mencari-cari kesalahan, dari rambut baru (seleb)
yang gak cocoklah, apa sajalah. Orang sekarang merasa inferior
sebab gempuran social media, menyadari kalo mereka “nothing",
hanya remah rempeyek, gak tau mau ngapain selain marah pada
semuanya. Makanya be better, be proud of yourself.
(Twitter: (dcittairlanie. Facebook dan YouTube Channel: Geolive ID)
Intisari wawancara dengan Cania:
• Stoisisme adalah aliran filsafat yang lebih mementingkan
pengendalian emosi, bukan sekadar topik intelek untuk
diperbincangkan saja.
• 10% masalah dalam hidup adalah masalah itu sendiri,
90%-nya adalah bagaimana kita merespon masalah itu.
• Mensimulasi kemungkinan terburuk dari setiap tindakan
membantu kita mengantisipasinya, termasuk di media sosial.
• Online bullying bisa dihadapi dengan tenang, bahkan bisa menjadi
kesempatan dialog positif yang membangun.
• Anak muda terlalu banyak membandingkan diri dengan hidup
orang lain (yang tampak sempurna) di media sosial, ini bisa
menyebabkan kekecewaan pada hidup sendiri yang berlanjut
dengan rasa marah.
BAB DELAPAN
Menghadapi
Kesusahan
dan Musibah
206
\san baru berusia 11 tahun. Dia dikenal guru-gurunya sebagai
anak yang senang menolong, terutama kepada teman-
temannya yang tertinggal dalam pelajaran. Dia tidak pernah
menolak saat diminta tolong membantu mengerjakan tugas. Hari
Minggu, 13 Mei 2018, dia bersama adiknya Nathan yang baru
berusia 8 tahun berjalan bergandengan menuju Gereja Santa Maria
Tak Bercela, Surabaya. Di sisi lain gereja, dua orang kakak beradik
juga memasuki kompleks gereja, Firman, 15 tahun, dan Yusuf, 17
tahun. Firman dan Yusuf meledakkan diri, Evan dan Nathan pun
terhempas. Keduanya sempat dibawa ke rumah sakit, namun nyawa
mereka tak tertolong. Evan meninggal sebab luka bakar,
pendarahan dalam, dan benturan. Adiknya Nathan sempat menjalani
operasi amputasi kaki, namun darah yang terlalu banyak hilang
akhirnya membuatnya menyusul kakaknya. Hari Minggu itu,
Indonesia terhenyak tak percaya akan aksi kekejaman yang harus
memakan korban orang-orang tak bersalah, termasuk anak-anak
kecil.
E
Salah satu aplikasi Stoisisme adalah bagaimana harus bersikap dan
bertindak di dalam kesusahan, musibah, dan bencana. Kamu sudah
belajar bagaimana segala sesuatu yang eksternal (di luar diri kita)
dianggap sebagai indifferent, tidak baik dan tidak buruk, sebab tidak
bisa menentukan kualitas karakter kita. Tidak ada peristiwa hidup
yang bisa disebut "baik’’ atau "buruk", yang ada hanyalah interpretasi
kita. William Shakespeare, pujangga Inggris pernah menggemakan
halyang sama: “There is nothing either good or bad, but thinking
makes it so." (Tidak ada hal yang baik, atau buruk. Pikiran kitalah
yang menjadikannya 'baik’ atau ‘buruk’). Jika demikian, bagaimana
Stoisisme bisa membantu kita menghadapi kesulitan hidup yang
benar-benar sulit—bukan sekadar peristiwa sepele atau orang-orang
yang menyebalkan?
sebab interpretasi dan anggapan kita akan sebuah kejadian ada
sepenuhnya di tangan kita, maka kita juga sepenuhnya mampu
mereinterpretasi ulang episode hidup yang sulit.
mengajarkan untuk melihat kesulitan dan tantangan sebagai ujian. I
know, ini terdengar basi dan mengingatkan kita akan kata-kata Guru
BP. Akan namun , ini berhubungan dengan topik interpretasi di atas.
207
Saat tertimpa kesulitan dan bencana, interpretasi kita malah bisa
makin memperburuk kondisi kita. Misalnya, dengan terus- terusan
bertanya-tanya, “Salah apa saya sampai tertimpa ini?" Atau, "Saya
sudah berbuat baik, mengapa Tuhan tidak adil?”, "Saya tidak layak
menerima ini, harusnya orang lain/si Anu,” dan berbagai interpretasi
lain yang tidak mengubah situasi. Mungkin kita pun pernah
melakukan hal ini saat kesulitan menimpa. Namun, pikiran-pikiran ini
adalah irasional menurut , sebab kita menghabiskan
energi untuk hal-hal yang di luar kendali kita. Saat
musibah/kesusahan telah terjadi, dia sudah berada di luar kendali
kita, sudah masuk masa lalu Ipast) atau masa sekarang Ipresent).
Dalam wawancara dengan Cania Citta, dia mengatakan bahwa lebih
baik waktu dan energi segera dipusatkan kepada solusi (yang masih
ada di masa depan), daripada mempertanyakan kenapa kita tertimpa
musibah (yang ada di masa lalu/masa sekarang).
mengajarkan kita untuk menginterpretasi peristiwa
negatif sebagai ujian, kesempatan untuk menjadi lebih baik. Seperti
di sekolah, ada ujian matematika, ujian sejarah, ujian biologi, dan
lain-lain, maka ujian dalam hidup ada banyak macam, menguji salah
satu karakter kita. Kualitas karakter/v'vrtue apa dari saya yang bisa
dikembangkan oleh peristiwa ini?
“Constant misfortune brings this one blessing: Those whom it
always assails, it eventually fortifies." - Seneca
"Kesusahan yang datang terus menerus membawa berkah ini:
mereka yang selalu tertimpanya, akhirnya akan diperkuat olehnya,"
ujar Seneca. Dalam bahasa modernnya, “What doesn't killyou only
makes you stronger", apa yang tidak membunuhmu hanya akan
memperkuat dirimu. Interpretasi pertama yang bisa ditanamkan
adalah, di balik musibah ini, ada kesempatan kita menjadi seseorang
yang lebih kuat. Jika kita membaca biografi orang-orang terkenal,
mereka pun mengalami banyak musibah, kesialan, kesusahan—dan
semua ini menjadikan mereka lebih kuat dalam mengejar cita-cita
dan perjuangan mereka.
208
• Sebelum sukses dengan bisnis animasinya, Walt Disney pernah
dipecat oleh koran tempatnya bekerja sebab dianggap “kurang
imajinasi dan miskin ide".
• Oprah Winfrey dipecat dari pekerjaan pertamanya sebagai
pembawa berita dengan alasan terlalu emosional dengan
beritanya.
• Para guru dari Thomas Edison (penemu bola lampu dan banyak
inovasi lainnya) mengatakan padanya bahwa dia “terlalu bodoh
untuk belajar apa pun”.
• Lady Gaga diputus oleh perusahaan rekamannya hanya
sesudah tiga bulan.
• Colonel Sanders, pendiri Kentucky Fried Chicken (KFC), saat
berusaha menjual resepnya mengalami penolakan dari 1.000
lebih restoran.
• George Lucas mengalami penolakan dua kali dari dua studio
besar untuk ide Star Wars.
• Naskah Harry Potter ditolak oleh 12 [dua belas!) penerbit besar
sampai akhirnya diterbitkan.
• Steve Jobs dipecat dari perusahaan Apple yang didirikannya di
tahun 1985, dan kemudian kembali lagi untuk meraih sukses
lebih besar.
Masih banyak lagi kisah kegagalan, penolakan, kesulitan di balik
orang-orang yang akhirnya mencapai sukses besar. Maka,
interpretasi paling minimal yang bisa kita bentuk saat mengalami
kesulitan adalah: ini akan memperkuat saya.
“Unlucky raven....to me all omens are lucky. Whichever things
happen it is my control to derive advantage from it" - Epictetus
[Enchiridion)
“Burung gagak katanya adalah pertanda sial...tapi bagi saya semua
pertanda adalah keuntungan. sebab , apa pun yang terjadi, saya
memiliki sepenuhnya kendali untuk menarik manfaat darinya,” ujar
Epictetus. Sebagian dari kamu mungkin berpikir, “Sombong beut!"
Namun, sebelum menuduhnya sombong dan belagu, ingatlah bahwa
Epictetus adalah seorang budak yang jalannya pincang. Dia bukan
anak orang kaya yang mendapat akses mudah mendirikan bisnis dan
dibantu orang tuanya dengan koneksi. Jika ada yang bisa berbicara
tentang nasib yang kurang beruntung, Epictetuslah orangnya. Akan
namun , dia tetap mengatakan bahwa apa pun yang terjadi, dia
209
memegang kendali untuk bisa mengubahnya menjadi sebuah
‘keuntungan’. Belakangan, Epictetus mendapat kebebasan sebagai
orang merdeka, dan kemudian mendirikan sekolah filsafat, dan
ajarannya akhirnya sampai membentuk sosok kaisar Marcus
Aurelius.
Apa “keuntungan” di sini? Dikembalikan ke kita. Bagi sebagian orang,
masalah bisa menjadi latihan kesabaran, baik itu sabar secara waktu
(menunggu), atau sabar menahan emosi. Bagi sebagian orang lain,
keuntungan di sini justru kesempatan untuk mengganti arah—bisa
arah karier, arah bisnis, atau bahkan arah hubungan. Ada yang
menjadikan masalah sebagai kesempatan untuk mempelajari skill
baru. Seperti banyak kisah di mana seseorang dipecat dari
pekerjaannya, dan sesudah itu dia justru menciptakan ide bisnis baru
yang tidak hanya membuatnya kaya raya, namun juga lebih bahagia
daripada jika dia ngotot bertahan di pekerjaannya.
Tidak ada formula yang sama untuk setiap situasi, sebab kesulitan,
musibah, hambatan yang dialami orang berbeda-beda. Namun, yang
penting adalah bagaimana kita tidak membiarkan pikiran kita terlalu
lama dihabiskan di hal-halyang di luar kendali kita, dan
memfokuskannya kembali ke hal-halyang di bawah kendali kita.
Bagaimana kita mau memaknai musibah dan kesulitan ada
sepenuhnya di tangan (atau pikiran) kita.
Wenny Angelina Hudojo adalah ibu dari Evan dan Nathan. Dikutip
dari BBC.com, dalam keadaan berlinang air mata dia menyerahkan
kembali kedua anak-anaknya ke pangkuan Tuhan, sambil
mengucapkan doa sekaligus pengampunan bagi pelaku serangan
yang telah merenggut nyawa anak-anaknya yang masih belia.
Pengampunan yang diberikan oleh Wenny sepenuhnya ada di bawah
kendalinya, tidak ada yang bisa merenggutnya.
Melawan Pola Pikir Destruktif
Dalam menghadapi kesusahan atau musibah, ada pola pikir merusak
yang harus kita lawan. Di artikel Option B: Facing Adversity, Building
Resilience, And Finding Joy, karya Sheryl
“Why is it so hard when
things go against you? If it
is
imposed by nature, accept
gladly. If not, work out what
your own nature requires,
even if it brings you no
glory.” - Marcus Aurelius
(Meditations)
Sandberg bersama Adam Grant, disebutkan mengenai pola pikir 3P
yang menurut psikolog Martin Seligman bisa menghambat kita untuk
pulih dari musibah. Pola pikir 3P itu adalah:
• Personalization. Menjadikan musibah sebagai kesalahan pribadi.
• Pervasiveness. Menganggap musibah di satu aspek hidup
sebagai musibah di seluruh aspek hidup.
• Permanence. Keyakinan bahwa akibat dari sebuah
musibah/kesulitan akan dirasakan terus-menerus.
Sebagai ilustrasi dari Pola 3P, bayangkan seseorang perempuan
yang baru patah hati berat, sampai nangis tujuh hari tujuh malam dan
menolak makan. Pola 3P bisa seperti ini:
• Personalization: “Cowok gue selingkuh sebab SALAH GUE.
Gue yang kurang dandan, gue yang kurang semok, gue yang
kurang merdu suaranya. Ini semua memang salah gue.
Cowok gue pasti akan setia sama gue kalo gue secantik Gal
Gadot."
• Pervasiveness: “Hidup gue emang begini. Apes di percintaan,
jadi mahasiswi juga gak becus, jadi anak gak bener. Pokoknya
SEMUA hidup gue adalah kegagalan."
• Permanence: “Gue akan patah hati SEUMUR HIDUP, yakin
gue/"
Perhatikan bahwa Pola 3P ini bukanlah fakta, namun murni konstruksi
di dalam kepala kita sendiri. Mari kita mulai dengan Personalization.
Kenyataannya, tidak semua masalah hidup disebabkan hanya oleh
kita sendiri. Memang ada yang sepenuhnya salah kita sendiri,
misalnya mengendarai kendaraan dalam keadaan mabuk dan
kemudian menabrak orang lain, namun banyak juga yang sebenarnya
di luar atau hanya sebagian di bawah kendali kita (jumpa lagi dengan
dikotomi/trikotomi kendali).
Di Pervasiveness, lagi-lagi kita memiliki perspektif yang keliru (baca:
lebay). Musibah/kegagalan di satu aspek hidup tidak otomatis berarti
kegagalan di aspek hidup yang lain. Gagal di studi bukan berarti kita
gagal menjadi anak yang baik. Gagal di percintaan bukan berarti kita
juga gagal sebagai profesional, dan seterusnya.
Yang terakhir, Permanence. Rasa sedih, galau, kecewa yang dialami
sekarang tidak otomatis masih akan dirasakan minggu depan, bulan
depan, atau tahun depan. Memang ada kasus- kasus
musibah/kesulitan yang menimbulkan luka psikologis yang lama
efeknya, namun sebagian besar akan terasa lebih ringan seiring
berjalannya waktu.
Di saat Stoisisme sekadar memberi tahu bahwa kita mampu dan
harus bisa mengendalikan persepsi kita mengenai musibah, konsep
3P di atas membantu kita mengidentifikasi pola pikir apa yang harus
dihindari. Minimal dengan mengenali adanya Pola 3P ini, kita bisa
lebih cepat menyadari saat mulai terjebak dalam pola menyalahkan
diri sendiri, atau membiarkan masalah merembet ke mana-mana,
atau menganggap perasaan duka ini akan selamanya.
Menerima Penderitaan
” Why is it so hard when things go against you? If it is imposed
by nature, accept gladly. If not, work out what your own nature
requires, even if it brings you no glory." - Marcus Aurelius
(Meditations)
Kita tadi sudah diingatkan oleh bahwa apa yang kita
sebut sebagai “bencana”, "musibah”, “kesulitan”, dan lainnya adalah
konstruksi mental kita sendiri. Stoisisme melihat peristiwa, apa pun
itu, sebagai sebuah fakta objektif. Makna dari peristiwa itu datang dari
kita sendiri, dan sebab nya kita punya pilihan hendak memaknainya
sebagai hal buruk, atau sebagai hal yang baik (misalnya kesempatan
memperkuat diri atau melatih sifat tertentu).
Ada satu lagi nasihat yang datang dari Marcus Aurelius, yaitu untuk
’’menerimanya dengan senang hati”. Ini juga sesuai dengan
pembahasan sebelumnya mengenai mencintai nasib famorfati), dan
dengan sepenuh hati ’’mengharapkan” hal yang telah terjadi sebagai
yang ditunggu-tunggu (walaupun terasa absurd). “Mengapa begitu
sulit saat hidup dirasa melawan dirimu? Jika memang kejadian ini
datang dari Alam, maka terimalah dengan senang hati. Jika tidak,
maka cari tahulah apa yang harus kamu lakukan (yang selaras
dengan Alam), dan kerjakan itu, bahkan jika hal itu tidak memberimu
kemuliaan," ujar Marcus.
Masih ingat soal keteraturan dan keterkaitan semua yang ada di
Alam [Nature] ini? Hal ini pun mencakup peristiwa musibah dan
kedukaan. Jika memang hal itu adalah bagian dari Alam, maka kita
diajak menerimanya dengan senang hati [Love of Fate). Semua hal
yang memang harus dijalani makhluk hidup, seperti kematian dan
sakit penyakit, atau segala tindakan di luar kendali kita, seperti sikap
dan perasaan orang lain, serta segala bentuk bencana alam yang
tidak bisa dikendalikan manusia.
Memang ada masalah yang timbul sebab kesalahan kita sendiri.
Misalnya, kita tidak menjalankan tanggung jawab kita sebagai
pasangan, anak, ataupun orang tua sehingga kemudian menjadi
masalah bagi kita. Atau, kita mengucapkan atau berbuat sesuatu
yang merugikan kepada orang lain, makhluk lain, atau lingkungan
yang akhirnya membawa kesusahan. Jika semua masalah ini
ditimbulkan oleh kita sendiri, sebab kita telah berbuat tidak selaras
dengan Alam [not in accordance with Nature), maka kembali ke kita.
Seperti dikatakan Marcus, kita yang bertugas mencari tahu
bagaimana memperbaikinya, kemudian melakukannya sungguh-
sungguh.
Menang dengan Bertahan
Kaum Stoa senang menggunakan analogi kontes olahraga atau
pertandingan untuk menggambarkan kesusahan hidup. Yang
menarik, kita tidak diharapkan untuk menang dengan cara
“mengalahkan” cobaan, layaknya atlit gulat atau taekwondo
melumpuhkan lawan. Di dalam , kemenangan kita atas
cobaan dan kesusahan hidup diperoleh dengan bertahan [endure]
dan membuat lawan kita "lelah”.
"Dalam pertandingan suci banyak yang meraih kemenangan
dengan cara membuat lawan mereka lelah. Dengan sikap
bertahan yang keras kepala [stubborn endurance). Bayangkan
seorang Stoa semacam (atlit) yang seperti itu, yang melalui
latihan panjang dan tekun akhirnya memiliki kekuatan untuk
bertahan menerima serangan dan akhirnya melelahkan lawan."
Seneca /Firmness)
"Jadilah seperti tebing di pinggir laut yang terus dihujam ombak,
namun tetap tegar dan menjinakkan murka air di sekitarnya."
Marcus Aurelius /Meditations).
Analogi-analogi di atas mengingatkan saya pada kisah-kisah pemain
bulu tangkis, petinju atau petarung yang memiliki strategi bermain
panjang. Bukannya berusaha secepatnya menaklukkan atau melukai
lawan, mereka memilih bermain 'partai panjang', memanfaatkan
kesabaran dan stamina yang mereka miliki. Sampai akhirnya lawan
mereka kelelahan, dan kemudian mereka baru bertindak merebut
kemenangan.
Saat cobaan, kesusahaan, bencana terasa begitu berat melanda,
yang diminta dari kita bukanlah teori, strategi, tips dan trik yang
canggih-canggih. hanya meminta kita untuk cukup
'bertahan', tetap teguh, bagai tebing karang yang tidak bisa
dikalahkan badai. Sampai akhirnya cobaan ini yang 'lelah'
sendiri. Hang in there, mungkin bukan anjuran yang buruk.
Latihan Menderita
Premeditatio malorum melatih kita untuk memikirkan skenario-
skenario buruk yang mungkin terjadi di hari ini. Selain simulasi
mental, Stoisisme juga menganjurkan "latihan menderita" dalam
hidup kita, secara rutin. "Latihan apes” ini benar-benar dalam arti
literal, artinya kita memaksa diri kita menderita secara fisik. Bukan
dengan instrumen penyiksaan (ingat penjahat di film The Da Vinci
Code yang senang mencambuk diri?), namun dengan sengaja hidup
jauh di bawah standar kenyamanan hidup kita sehari-hari secara
berkala.
"Luangkan beberapa hari dalam setahun di mana kamu harus
memuaskan dirimu dengan makanan yang paling sederhana
dan murah, mengenakan baju yang paling jelek dan kasar,
kemudian berkata pada dirimu sendiri, 'Inikah kondisi yang saya
takuti?’ Justru saat keadaan kita sedang baik maka jiwa kita
harus diperkuat untuk
Jika kamu ingin
seseorang tak goyah
saat krisis menghantam,
maka latihlah ia
sebelum krisis itu
datang.”
menghadapi
kesulitan yang
lebih besar. Justru
saat Dewi
Keberuntungan
sedang ramah
maka kita harus
menyiapkan diri
terhadap murkanya.
Di masa perdamaian para tentara latihan melakukan manuver,
menggali tanah padahal tidak ada musuh, dan melelahkan diri
Seneca
(Letters)
dengan kerja keras yang sebenarnya tidak perlu, agar dia
akhirnya siap saat harus bekerja keras betulan.
Jika kamu ingin seseorang tak goyah saat krisis menghantam,
maka latihlah ia sebelum krisis itu datang.” - Seneca [Letters)
Seneca menganjurkan kita berlatih apes, atau “latihan kemiskinan”
[practice poverty) secara rutin, misalnya makan makanan yang
sangat sederhana dan murah—bahkan Seneca menyebut “roti yang
sudah keras” sebagai simbol makanan yang sangat sederhana (yak,
kamu yang anak kos juga tidak punya alasan untuk tidak melakukan
ritual ini!)—dan memakai baju yang lusuh atau usang. Di masa kini,
latihan ini tidak terbatas pada makan makanan sederhana atau
berbaju jelek saja. Pada intinya, apakah kita bisa melepaskan
kenyamanan yang biasa kita nikmati selama beberapa hari? Bagi
yang bisa naik mobil pribadi ke sana sini, cobalah untuk merasakan
naik kendaraan umum. Yang biasa naik taksi, cobalah untuk
merasakan naik ojek. Yang biasa tidur di kamar AC, cobalah untuk
tidur dengan udara alami. Yang biasa tidur di kasur spring bed,
cobalah tidur di kasur tipis, atau bahkan di lantai beralas tikar. Yang
biasa memakai smartphone, cobalah untuk...puasa internet? [Hayo,
berat kan?) Masih banyak lagi kesempatan untuk melatih kesusahan
dan kemiskinan—hidup jauh di bawah standar kenyamanan kita—jika
kita mau.
Saat melakukan ini semua, coba renungkan, apakah hidup melarat ini
sungguh-sungguh menakutkan? Apakah kondisi berkekurangan ini
adalah sebuah bencana besar dalam hidup kita ataukah saat dijalani
ternyata tidak semenakutkan yang kita pikir? sebab ternyata, kita
tetap bisa hidup dengan makanan sederhana. Atau, ternyata tidak
ada yang peduli dengan baju bagus kita. Atau, ternyata kita masih
bisa tidur tanpa segala fasilitas berlebih.
"Lakukan ini semua selama tiga atau empat hari, atau lebih lama,
sehingga ini bisa sungguh menjadi ujian bagimu dan bukan hanya
hobi. Percayalah, kamu akan bersukacita dengan makanan murah,
dan kamu akan mengerti bahwa damai pikiran seseorang tidak
bergantung pada Dewi Keberuntungan (kemakmuran), sebab
bahkan saat murka pun ia memenuhi kebutuhan kita dengan cukup",
lanjut Seneca.
Menurut William Irvine di dalam artikel nya A Guide To Good Life, ada
beberapa manfaat dari "latihan kesusahan" ini. Yang pertama adalah
melatih diri kita menjadi lebih tangguh. Bagaikan tentara yang berlatih
susah payah di masa damai, sehingga saat pertempuran yang
sebenarnya terjadi, mereka sudah siap menghadapinya. Ingat bahwa
kekayaan adalah hal di luar kendali kita. Siapkah kita jika itu semua
mendadak direnggut dari kita (saat Dewi Keberuntungan marah
kepada kita, misalnya dengan mengirimkan perampok, kebangkrutan,
bencana alam)? Dengan berlatih kemiskinan secara rutin, kita akan
menjadi lebih tangguh menghadapi situasi apa pun.
"Kita akan melatih jiwa dan raga saat kita membiasakan diri
kita dengan dingin, panas, haus, lapar, kekurangan makanan,
dipan yang keras, menahan diri dari kenikmatan, dan menjalani
kesakitan.” - Musonius Rufus [Letters and Sayings)
Manfaat kedua dari practice poverty, menurut Irvine, adalah untuk
membentuk rasa percaya diri, sehingga kita bisa menanggung
musibah dengan tabah dan kuat. Seperti dikatakan Seneca, saat kita
menyadari bahwa ternyata kita cukup kuat untuk menanggung
latihan-latihan ini, perlahan kita menjadi lebih pede. Seandainya saat
ini kita dianugerahi kekayaan dan rejeki lain, kita bisa berkata, "Jika
harus jatuh miskin pun, saya tidak akan hancur."
Manfaat ketiga adalah melawan fenomena yang disebut ilmu
psikologi sebagai hedonic adaptation, atau "adaptasi kenikmatan".
Para psikolog menemukan bahwa apa pun yang membuat kita
senang (uang, ketenaran, seks, harta benda, dan lain-lain) pada
akhirnya akan kehilangan kenikmatannya seiring berjalannya waktu.
Sebuah penelitian terhadap para pemenang lotere di Amerika Serikat
menemukan bahwa 18 bulan sesudah memenangkan lotere, para
pemenang lotere tidak lebih bahagia daripada mereka yang tidak
menang. Penjelasannya adalah, pada akhirnya kita akan beradaptasi
dengan hal- hal baru yang tadinya membuat kita bahagia. Rasanya
tidak perlu jauh-jauh untuk mencari contoh dari hidup kita sendiri.
Saat memenangkan kejuaraan, lulus dengan nilai tertinggi, mendapat
kenaikan jabatan (dan kenaikan gaji), membeli tas atau gadget baru,
atau bahkan mendapat pacar/suami/istri baru, pada awalnya kita
senang sekali dan grafik kebahagiaan kita mengalami peningkatan.
Namun, seiring berjalannya waktu, maka kenikmatan yang kita
rasakan perlahan turun, dan kita kembali ke kebahagiaan di awal
Ibase level). Hal ini sebab kita mulai terbiasa dengan kenikmatan
baru kita. Gaji baru kita, jabatan baru kita, gadget baru kita, sampai
pacar/suami/ istri baru kita perlahan menjadi norm baru, tidak lagi
menjadi spesial.
Menurut Irvine, practice poverty bisa membantu kita melawan
adaptasi kenikmatan ini . Dengan rutin “mengguncang” base
level diri sendiri, maka kita kembali menghargai apa yang telah kita
miliki. Jika kita terbiasa makan enak, maka saat menghabiskan waktu
untuk makan makanan yang tidak enak dan sangat sederhana, kita
jadi kembali mengapresiasi makanan enak yang kita konsumsi
selama ini. Saat terbiasa naik kendaraan pribadi, dan kemudian
merasakan berdesakan bersama orang lain di kendaraan umum, kita
akan kembali "menemukan” nikmatnya kendaraan pribadi. Saat
memakai busana murah berbahan kasar, kita akan kembali
menghargai pakaian bagus yang kita miliki. Saat kita menemukan
kembali nikmatnya segala sesuatu yang telah kita miliki, maka kita
pun bisa merasa lebih bahagia.
Di antara begitu banyak kenikmatan dan fasilitas dari kehidupan
modern, makanan (food) mungkin adalah ujian terbaik mengenai
pengendalian diri (self control). Makanan relatif tersedia di mana-
mana, dengan berbagai kualitas dan harga. Mengenai makanan,
salah satu filsuf Stoa bernama Musonius Rufus memiliki prinsip yang
umum kita dengar sekarang sebagai "makan untuk hidup, bukan
hidup untuk makan”. Bagi Musonius, makanan ada hanya untuk
sekadar mempertahankan hidup dan bukan sebagai sumber
kenikmatan. "Bahwa Tuhan menyediakan makanan dan minuman
hanya untuk mempertahankan hidup dan bukan sumber kenikmatan,
dapat dibuktikan dari ini: saat makanan menjalankan fungsinya
(dalam pencernaan dan penyerapan), ia tidak memberikan
kenikmatan apa pun bagi manusia.” [The Daily Stoic]. Walaupun kita
menikmati rasa makanan di lidah, manfaat sesungguhnya dari
makanan justru baru kita terima di dalam perut dan sistem
pencernaan. Konsisten dengan ajarannya, Musonius Rufus dikenal
hanya makan tumbuh- tumbuhan dan hasil dari susu, dan dia tidak
makan daging.
Musonius Rufus tampaknya tidak akan menjadi filsuf yang populer di
kalangan foodies dan food blogger\ Walaupun tidak semua dari kita
bisa mengikuti anjuran Musonius Rufus sepenuhnya (saya kebetulan
penganut "makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan”, makanya
saya paling tidak rewel soal makanan), namun ada pesan lebih dalam
yang bisa dihayati semua orang, pencinta kuliner dan food blogger
sekalipun: jangan sampai kita diperbudak oleh makanan, baik dari
segi kualitas (selalu hanya ingin makan yang enak dan mewah),
maupun segi kuantitas (makan berlebihan, melebihi yang diperlukan
oleh tubuh untuk tetap sehat). Di bab akhir mengenai latihan prinsip
Stoisisme yang bisa kita lakukan, kita akan melihat contoh praktik
melatih diri mengurangi ketergantungan pada makanan yang
sekaligus memiliki manfaat kesehatan.
Jika kita telah mampu melakukan practice poverty secara rutin,
Seneca mengingatkan kita untuk tidak merasa "bangga", dengan
mengingat status hidup kita. Bagaimanapun, mereka yang mampu
melakukan ritual ini adalah mereka yang tidak harus menghadapi
kelaparan dan kemiskinan setiap hari.
"Tidak ada alasan bagimu untuk merasa hebat (melakukan hal
ini semua); sebab kamu hanya menjalani apa yang dijalankan
ribuan budak dan orang miskin setiap hari.
Namun, kamu boleh sedikit memuji dirimu untuk ini: bahwa
kamu melakukannya bukan sebab terpaksa oleh keadaan, dan
bahwa kamu mampu melakukan ini secara permanen semudah
kamu melakukannya secara kadang- kadang...Biarlah kita
menjadi akrab dengan kemiskinan, sehingga Nasib tidak bisa
menyergap kita tiba-tiba. Kita akan bisa lebih menikmati rejeki
kita, saat kita menyadari bahwa kemiskinan bukanlah beban."
(Letters)
Menurut saya, inilah manfaat terakhir dari "Latihan Kemiskinan".
Untuk mengajak kita (yang lebih beruntung) sesekali keluar dari
kenyamanan yang telah kita anggap "normal”, dan menyadari ada
jutaan orang lainnya yang tidak seberuntung kita dan bisa merasakan
apa yang mereka lalui setiap hari.
Halangan adalah Jalan
Jika kita kembali pada fundamental dikotomi kendali, kita akan
menyadari bahwa hampir semua jalan hidup ini ada di luar kendali
kita. Sebagian memang bisa dipengaruhi oleh pilihan- pilihan kita
(pemilihan teman, pemilihan pasangan hidup, pemilihan pekerjaan,
pemilihan tempat tinggal, pemilihan sekolah, dan lain-lain). Namun,
sebenar-benarnya, hasil atau outcome dari pilihan kita banyak sekali
bergantung pada faktor eksternal. Hanya pikiran, interpretasi,
strategi, dan keputusan kitalah yang masih benar-benar di bawah
kendali kita.
Keuletan dan ketangguhan
Inilah uatan pikiran kita
sejati bukan datang dari Otot
atau Uang yang kita miliki,
namun dari pikiran (mind) kita.
yang bisa mengubah halangan
menjadi jalan itu sendiri.
Marcus Aurelius menyebutkan bahwa “halangan
adalah jalan” [the obstacle is the way). Sebuah
permainan kata yang menarik. Secara definisi,
“halangan” bukanlah jalan dan justru mengganggu
sang jalan bukan? Inilah penjelasan beliau:
“sebab kita bisa menerima dan
menyesuaikan diri. Pikiran kita bisa beradaptasi dan bisa
mengubah halangan agar justru mendukung tujuan. Halangan
terhadap tindakan kita justru memajukan tindakan kita. Apa
yang menghalangi jalan kita menjadi jalan itu sendiri.”
[Meditations]
Keuletan dan ketangguhan sejati bukan datang dari otot atau uang
yang kita miliki, namun dari pikiran [mind] kita. Inilah kekuatan pikiran
kita yang bisa mengubah halangan menjadi jalan itu sendiri. The
obstacle becomes the way. Kisah Steve Jobs mengingatkan saya
• w
• w
• w
•1
pada hal ini. Steve Jobs mendirikan Apple di tahun 1976, dan 9 tahun
kemudian dia dipecat dari perusahaan yang didirikannya, padahal
komputer yang diluncurkannya cukup populer. Bagi banyak orang,
dipecat dari tempat bekerja
(apalagi dari perusahaan yang dia dirikan sendiri!) adalah sebuah
bencana besar. Akan namun , peristiwa yang bagi kebanyakan orang
adalah “halangan” ini ternyata menjadi jalan baru bagi Steve.
"Dipecat dari Apple adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku”,
ujar Steve Jobs dalam pidato kelulusan di Stanford University
bertahun-tahun kemudian. "Beratnya beban sukses, digantikan
dengan rasa ringan menjadi pemula lagi,” tambahnya. Setelah
dipecat, Steve mendirikan perusahaan komputer baru NeXT, dan
kemudian Pixar (yang kita kenal dengan film-film produksinya seperti
Toy Story, Up, Cars, dan The lncredibl.es]. Kira-kira satu dekade
sesudah dipecat, Steve Jobs kembali ke Apple, dan kemudian
menghasilkan inovasi- inovasi ikonik yang telah dikenal jutaan
manusia, seperti iPod, iTunes, iPhone, dan iPad.
Mungkin pembaca saat ini sedang merasakan kesulitan dalam hidup,
atau sedang merasa jalannya terhalang. Bisa jadi, apa yang
dirasakan sebagai halangan justru adalah jalan yang baru. Untuk
menemukan ini, kita harus kembali ke pikiran kita sendiri.
"Kamu sungguh sial jika kamu tidak pernah tertimpa musibah.
sebab artinya kamu menjalani hidup tanpa pernah menghadapi
'lawan'. Tidak ada yang tahu kemampuanmu sesungguhnya—
bahkan dirimu sendiri tidak." - Senece (On Providence]
Intisari Bab 8:
• Dalam , musibah' dan 'kesusahan’ adalah
opini/va/ue judgement yang ditambahkan oleh kita sendiri.
• Walaupun musibah, bencana, dan kesusahan yang menimpa
sering kali berada di luar kendali kita, respon kita atasnya
sepenuhnya ada di tangan kita sendiri.
• Filsuf Stoa melihat semua kesusahan sebagai kesempatan
melatih wrtue/arete/kebajikan kita. Saat kita tertimpa kesusahan,
kita bisa memikirkan virtue yang bisa dilatih oleh keadaan ini.
• Saat tertimpa musibah dan kesusahan, waspadai pola pikir 3P
yang merusak (Personal, Pervasive, Permanence).
• Kita bisa mengalahkan cobaan dan penderitaan dengan
bertahan menanggungnya (endure), bagaikan atlet di
pertandingan yang dengan keras kepala membuat lelah
lawannya.
• Latihan menderita (poverty practice) selain membantu kita
menghadapi kesusahan yang sebenarnya, juga bisa membuat
kita kembali mensyukuri apa yang sudah kita miliki.
• Halangan bisa menjadi jalan, dan ini tergantung kepada pikiran
kita.
BAB SEMBILAN
Menjadi
Orang
Tua
226
stri saya pernah membicarakan bagaimana kami bisa memastikan
anak kami yang masih kecil (saat artikel ini ditulis) bisa tumbuh
menjadi anak yang tidak durhaka kepada orang tua./
Keprihatinannya muncul mendengar kisah-kisah orang tua yang
dicampakkan oleh anak-anak mereka saat sudah dewasa, bahkan
saat orang tua ini sudah berusia lanjut, sakit-sakitan, dan sangat
membutuhkan perhatian. Saya sendiri tidak punya jawaban yang
pasti. Sekadar menyediakan kasih sayang, perhatian dan materi yang
cukup tidak menjamin kita membesarkan anak yang peduli pada
orangtuanya kelak. Saya jadi terpikir, adakah yang bisa ditarik dari
untuk topik membesarkan anak?
Berdasarkan Survei Khawatir Nasional di Bab I, salah satu sumber
kekhawatiran adalah menjadi orang tua. Sesudah saya menjadi orang
tua juga barulah saya bisa mengerti mengapa peran ini benar-benar
bisa menjadi sumber kekhawatiran.
saat saya bermain dengan anak saya (saat artikel ini ditulis dia baru
berusia satu setengah tahun), ribuan pikiran tentang masa depannya
melanda: apakah dia akan tumbuh menjadi remaja yang baik atau
menyusahkan orang tua? Apakah dia akan tumbuh cerdas dan
berprestasi? Apakah dia akan bergabung dengan teman-teman yang
memiliki pengaruh buruk? Apakah dia akan punya pacar kece seperti
Victoria Secret Angels? Dan ribuan pikiran lain, dari yang penting
sampai gak penting banget.
Saya bukanlah seorang pakar pendidikan atau psikolog anak
(sebab nya di akhir bab kita akan ngobrol dengan seorang psikolog
anak), dan sebagai orang tua pun saya tidak bisa dibilang sudah
memiliki banyak pengalaman. Namun, saat menulis artikel ini, saya
tergelitik untuk mengetahui apakah bisa diterapkan di
dalam parenting juga. Saya tidak menemukan cukup banyak referensi
mengenai Stoisisme dan parenting, jadi berikut ini lebih banyak dari
interpretasi saya sendiri.
Tentunya, saya berharap bagian ini bisa menjadi pemicu bagi para
pakar pendidikan dan psikolog anak yang membaca artikel ini untuk
meneliti apakah prinsip-prinsip dalam sungguh bisa
membantu kita menjadi orang tua yang lebih baik.
227
Biasakan Menggunakan Nalar
Hidup haruslah selaras dengan Alam /Nature). Jadi, konsekuensi
pertama dari prinsip ini adalah belajar menggunakan nalar. Bagi saya,
artinya sejak kecil anak saya bisa dibiasakan melakukan pilihan
berdasarkan pertimbangannya sendiri, tentunya dalam kapasitas yang
sesuai dengan tahap perkembangannya. Di bagian wawancara di
akhir bab kita akan mendapatkan beberapa tips dari psikolog
pendidikan mengenai penerapan hal ini.
Konsekuensi anak bisa menggunakan nalar berarti kita harus mampu
memberdayakan mereka untuk belajar berpikir, mengumpulkan
informasi dan data, dan menarik kesimpulan sendiri. Anak kecil sering
bertanya, "Kenapa?", saat kita meminta mereka melakukan sesuatu.
Jika mereka dibentak, "SUDAH NURUT SAJA PADA ORANG TUA
GAK USAH NANYA- NANYA!”, rasanya tidak memberi mereka
motivasi untuk berpikir sendiri.
Memberi penjelasan tentunya lebih membutuhkan waktu dan tenaga
bagi orang tua, namun seharusnya memberi contoh yang lebih baik
daripada sekadar membentak mereka. Anak dibiasakan mengerti ada
alasan di balik setiap permintaan, dan perlahan mulai belajar
mencerna alasan dan pertimbangan di balik sesuatu. Sebaliknya,
anak juga dibiasakan untuk memiliki pertimbangan dan alasan yang
baik sebelum meminta sesuatu kepada kita.
Menerapkan Dikotomi Kendali kepada Anak?
Apakah kita sudah mulai melatih anak untuk menerima ada hal-hal
yang memang di luar kendalinya? Misalkan, rencana bersenang-
senang keluar rumah harus dibatalkan sebab hujan deras. Apakah
kita akan marah-marah atau mengomeli cuaca di depan sang anak
("SELALU SAJA KALO PAPA MAU PUNYA ACARA HARUS KENA
HUJAN! DASAR CUACA KAMPRET!"/? Atau kita dengan tenang
menerimanya dan segera mencari rencana lain yang di bawah kendali
kita ("Wah hujan, ya bagaimana. Yuk, cari ide aktivitas lain!")?
228
Dalam artikel di The Independent berjudul "Parents of Successful
Kids Have These 11 Things in Common" disebutkan bahwa salah
satu kebiasaan orang tua dari anak-anak sukses adalah menghargai
usaha lebih dari “menghindari kegagalan". Psikolog Stanford
University Carol Dweck menjelaskan, bahwa anak-anak (dan juga
orang dewasa) memiliki dua konsep yang berbeda mengenai sukses.
Mentalitas pertama, "Fixed mindset" (mentalitas “sudah tetap"),
mengasumsikan bahwa karakter






