interpretasi mimpi 2


 �ه َصلهى  النهِبه  ْعُت  َسَِ قَاَل  ُهَريْ َرَة  َأَِب  يَ َتَمثهُل  ,َأنه  َوَلَ   ، اْليَ َقَظِة  ِِف  َفَسرَيَاِِن  اْلَمَناِم  ِِف  رَآِِن  َمْن  يَ ُقوُل 

 .الشهْيطَاُن ِِب. قَاَل أَبُو َعْبِد اَّللِه قَاَل اْبُن ِسريِيَن ِإَذا رَآُه ِِف ُصورَتِهِ 

Artinya : “Nabi Saw bersabda: "Barangsiapa melihatku dalam tidur, maka 

(seakan-akan) ia melihatku ketika terjaga, (karena) setan tidak bisa 

menyerupaiku." Abû ‘Abdullāh mengatakan, Ibnu Sīrīn mengatakan; 

'Maksudnya jika melihat beliau dengan bentuk aslinya.” (HR. Al-Bukhārī, 2002: 

1733, 1077, 1077, 1733. Al-Tirmidzī, t.th: 537, 535. Ibnu Mājah, 2004:  627. Abū 

Dāwud, t.th: 724. Ahmad bin Hanbal, 1998: 472, 269, 440, 342, 472. Al-Dārimī, 

2013: 512, 511. Muslim bin Hajjaj, 2006: 1077). 

Hadis tersebut menunjukkan keistimewaan Nabi Saw yaitu tidak bisa diserupai 

oleh setan, baik dalam mimpi, terlebih dalam bentuk nyata. Menurut al-Baqilanī, 

makna “melihatku” dalam hadis tersebut adalah benar adanya, bukan mimpi kosong, 

juga bukan penyerupaan-penyerupaan setan (Ibrahim, 2013: 148). Sementara menurut 

al-Ghazālī, makna hadis tersebut bukan berarti seseorang akan melihat jasadnya atau 

badannya, melainkan seseorang akan melihat perumpamaan dari makna yang 

terkandung dalam mimpi tersebut (Ibrahim, 2013: 151). Menurut al-Nawāwī, maksud 

lafadz اليقظة  mengandung tiga pengertian, yaitu : (1) Bagi orang-orang yang فسيراني في 

sezaman dengan Nabi Saw, namun tidak sempat berhijrah, lalu orang tersebut 

bermimpi melihat Nabi Saw, maka Allah akan memberikan taufik kepada mereka 

sehingga bisa bertemu beliau. (2) Akan bertemu Nabi Saw di akhirat sebagai 

pembenaran mimpinya, karena di akhirat setiap umat Nabi Saw, baik yang pernah 

bertemu maupun belum, akan mengalami pertemuan langsung dengan beliau. (3) 

Melihat Nabi Saw di akhirat secara dekat dan mendapat syafa’atnya (Al-Nawāwī, 1392 

H: 26). Adapun menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalānī, penafsiran terhadap hadis mimpi 

bertemu Nabi Saw dibagi menjadi enam pendapat, yaitu: 

a. Hadis tersebut bermakna perumpamaan (tasybīh), karena diperkuat dengan 

riwayat lain yang menunjukkan arti perumpamaan (لََكأَنََّما). 

b. Orang yang bermimpi bertemu Nabi Saw akan melihat kebenaran, baik secara 

nyata maupun hanya ta‘bir saja. 

c. Hadis tersebut dikhususkan bagi orang-orang yang sezaman dengan Nabi Saw dan 

orang yang beriman kepadanya yang belum sempat melihatnya. 

d. Bahwa orang bermimpi tersebut akan melihat Nabi Saw, seperti ketika bercermin, 

namun hal tersebut sangat mustahil. 

e. Orang yang bermimpi tersebut akan melihat Nabi Saw pada hari Kiamat dan tidak 

dikhususkan bagi mereka yang bermimpi bertemu dengan beliau saja. 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

f. Orang yang bermimpi melihat Nabi Saw, ia akan melihatnya secara nyata (Al-

'Asqalānī, 1379 H: 385). 

Menurut penafsiran kaum sufi, hadis di atas menunjukkan bahwa Nabi Saw 

masih hidup dan bisa ditemui secara langsung seseorang. Bahkan jika didahului 

mimpi bertemu dengan Nabi Saw, maka dapat dipastikan orang yang bermimpi 

tersebut akan mengalami pertemuan langsung dengan beliau. Para sufi yang 

mengklaim pernah bertemu dengan Nabi Saw antara lain adalah al-Tijānī, Abû Hasan 

al-Syādzilī, Ibnu ‘Arabī, dan Muhammad al-Suhaimī (Sya’roni, 2008: 69-86). Untuk 

membuktikan kebenaran mimpi bertemu dengan Nabi Saw, langkah yang harus 

ditempuh adalah dengan menanyakan kepada orang yang bermimpi tentang sifat 

beliau yang ditemuinya itu. Jika cocok dengan sifat yang telah diterangkan dalam 

hadis, maka orang tersebut benar-benar telah melihat Nabi Saw dalam mimpinya. 

Setan tidak dapat menyerupai Nabi Saw di dalam mimpi. Seseorang yang 

bermimpi melihat beliau, berarti dia melihat beliau secara nyata (Ibnu Sīrīn, 2004: 2). 

6. Mimpi Bagian dari Tanda Kenabian 

a. Mimpi Orang Mu’min Bagian dari Kenabian 

ُ َعلَْيِه َوَسلهَم قَاَل رُْؤََي اْلُمْؤِمِن ُجْزٌء ِمْن  ةِ َعْن النهِبِي َصلهى اَّلله  .ِستهٍة َوَأرْبَِعنَي ُجْزًءا ِمْن الن ُّبُ وه

Artinya : “Nabi Saw bersabda; "Mimpi seorang mukmin adalah satu bagian dari 

empat puluh enam bagian kenabian.” (HR. Al-Bukhārī, 2002: 1731, 1733, 1738, 

1730. Lihat juga dalam: Muslim: 1076. Abī Dāwud: 723. Al-Tirmidzī: 532, 536. Al-

Dārimī: 511. Ahmad bin Hanbal : 185, 1731, 106, 233. Ibnu Mājah: 626, 628). 

b. Mimpi Baik Bagian dari Tanda Kenabian 

َع َرُسوَل اَّللهِ  ُ َعلَْيِه َوَسلهَم يَ ُقولُ  َعْن َأِِب َسِعيٍد اْْلُْدِرىِي أَنهُه َسَِ الرُّْؤََي الصهاِِلَُة ُجْزٌء ِمْن ِستهٍة َوَأرْبَِعنَي ُجْزءًا  َصلهى اَّلله

ةِ   .ِمَن الن ُّبُ وه

Artinya : “Rasulullah Saw bersabda: "Mimpi yang baik adalah bagian dari empat 

puluh enam kenabian." (HR. Al-Bukhārī: 1731, 1730, 1731. Hadis semakna 

terdapat dalam: Ibnu Mājah: 626, 628, 627-628. Ahmad bin Hanbal: 11, 137, 10. 

Muslim: 1076, Malik bin Anas: 956, 957). 

c. Mimpi Orang Islam Bagian dari Tanda Kenabian 

ُ َعلَْيِه َوَسلهَم قَاَل ِإَذا اْقََتََب الزهَماُن ََلْ َتَكْد رُْؤََي اْلُمْسِلِم َتْكِذُب وَ  َأْصَدُقُكْم رُْؤََي َأْصَدُقُكْم َحِديثًا َعْن النهِبِي َصلهى اَّلله

ةِ َورُْؤََي الْ   .ُمْسِلِم ُجْزٌء ِمْن ََخٍْس َوَأرْبَِعنَي ُجْزًءا ِمْن الن ُّبُ وه

Artinya : “... Nabi Saw bersabda: "Apabila hari kiamat telah dekat, maka jarang 

sekali mimpi seorang Muslim yang tidak benar. Dan mimpi yang paling paling 

benar adalah mimpi yang selalu bicara benar. Mimpi seorang muslim adalah 

sebagian dari empat puluh lima macam Nubuwwah (wahyu).” (HR. Muslim, 

hadis ke-2263. Lihat juga: Al-Tirmidzī, hadis ke-2270: 532.). 

Hadis-hadis tersebut menunjukkan mimpi sebagai bagian, sifat dan bentuk 

dari tanda seorang Nabi. Namun tidak ada yang mengetahui hakikatnya kecuali 

malaikat atau para Nabi itu sendiri. Hal ini didasarkan pada mimpi Nabi Yusuf, 

sebagaimana termuat dalam Surat Yusuf (12) ayat 4 : “(ingatlah), ketika Yusuf berkata 

kepada ayahnya: "Wahai ayahku, Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, 

 

 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."( QS. Yusuf [12] : 4). Ayat 

tersebut menunjukan bahwa Nabi Ya’qub-lah yang mengetahui bahwa mimpi tersebut 

merupakan tanda kenabian putranya, Nabi Yusuf as. Namun, kadar yang dikehendaki 

para Nabi adalah bahwa mimpi merupakan suatu bagian dari kenabian secara global, 

karena dari satu sisi, di dalamnya seseorang melihat sesuatu yang ghaib. Adapun 

mengenai perincian perbandingan itu, maka hanya orang yang telah mencapai derajat 

kenabian yang mengetahuinya. 

7. Tafsir Mimpi Hadis 

a. Segelas Susu, ditafsirkan sebagai ilmu (HR. Al-Bukhārī, 2002: 43. Lihat juga 

dalam: Al-Tirmidzī, t.th: 539, 619. Ahmad bin Hanbal, 1998: hadis ke-5295, 5602, 

5868, 6059, 6138. Al-Dārimī, 2013: 171). 

b. Tiga Rembulan, ditafsirkan dengan Tiga penduduk bumi paling mulia (HR. 

Mālik bin Anas, t.th: hadis ke-548, 232). 

c. Dibawa Malaikat ke Neraka, ditafsirkan dengan Faidah dan anjuran untuk 

melakukan salat malam. (Al-Bukhārī, 2002: 1741, 919, 334-335, 272-273, 280. 

Muslim bin Hajjaj, 2006: 1158-1159. Ibnu Mājah, 2004: 630. Ahmad bin Hanbal, 

1998: 146). 

d. Segumpal Awan ditafsirkan dengan agama Islam, Minyak Samin dan Madu 

ditafsirkan dengan al-Qur’an. (Al-Bukhārī, 2002: 1744-1745. Muslim, 2006: 1077-

1078. Al-Dārimī, 2013: 515-516). 

e. Dua Gelang Emas di lengan, ditafsirkan dengan akan muncul dua pendusta (al-

Aswad al-‘Ansī dan Musailamah al-Kadzdzab). (HR. Al-Bukhārī, 2002: 1742, 1072. 

Lihat juga dalam : Ahmad bin Hanbal, 1998: 263). 

f. Timbaan Air dan Sumur Tua, ditafsirkan dengan Orang yang kuat (‘Umar bin 

Khattab). (HR. Muslim, 2006: 1123. Lihat juga dalam: Ahmad bin Hanbal”, 1998: 

27, 89, 104). 

g. Ikatan pada kaki ditafsirkan dengan Ikatan adalah ketetapan dalam agama, dan 

Belenggu di leher ditafsirkan dengan siksa. (HR. Abū Dāwud, t.th: 723. Lihat 

juga; Ahmad bin Hanbal, 1998: 269). 

h. Bunyi Lonceng, ditafsirkan dengan Adzan suara Bilal bin Rabah. (HR. Abū 

Dāwud, t.th: 189. Hadis semakna terdapat dalam: Al-Tirmidzī, t.th: 358. Dan 

dalam: Ahmad bin Hanbal, 1998: 43, dan 42-43). 

i. Pedang / Menghunus pedang yang bagian tengahnya patah, ditafsirkan dengan 

Musibah yang menimpa orang-orang mukmin pada perang Uhud. (HR. Al-

Bukhārī, 2002: 1002, 1743. Hadis semakna terdapat dalam: Muslim bin Hajjaj, 

2006: 1079. Ibnu Mājah, 2004: 630-631. Al-Dārimī, 2013: 516). 

j.  Tiang Rumah patah dan Melahirkan Anak Buta, ditafsirkan dengan Akan 

melahirkan anak berbakti atau melahirkan anak durhaka. (HR. Al-Dārimī, 2013: 

517-518.). 

k.  Ayam Jantan Merah, ditafsirkan dengan Seorang lelaki asing (selain Arab) akan 

membunuh (‘Umar). (HR. Ahmad bin Hanbal, 1998: 15 dan 48). 

l.  Taman Hijau yang luas dan tiang, ditafsirkan dengan Islam. Tali yang kuat 

ditafsirkan dengan Istiqomah dalam Islam hingga meninggal. (HR. Ahmad bin 

Hanbal, 1998: hadis ke-24196, 452). 

m. Wanita berkulit hitam dan berambut kumal meninggalkan kota Madinah dan 

berdiri di Mahya'ah, ditafsirkan dengan Wabah penyakit kota Madinah telah 

 

 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

dipindahkan ke Mahya'ah (Juhfah). (HR. Ahmad bin Hanbal, 1998: hadis 5849, 

107, dan hadis 5976, 117). 

Dari hadis-hadis tentang penafsiran Mimpi Nabi Saw tersebut, dapat diketahui 

bahwa panafsiran mimpi Nabi Saw hanya menggunakan metode simbolik (kata 

benda). Namun penafsiran metode simbolik Nabi Saw tersebut bukan semata-mata 

pengetahuan beliau sendiri, melainkan atas petunjuk Allah Swt dan melalui 

pengamataan keadaan, seperti budaya dan keadaan jiwa seseorang. Ibnu Sīrīn 

memberikan keterangan bahwa penafsiran mimpi bisa dilakukan dengan tujuh 

karakteristik simbol mimpi, yaitu: dengan al-Qur’an, hadis, perumpamaan (amtsal), 

arti nama (tekstual), pengertian kontekstual, dengan makna sebaliknya, dan dengan 

melihat perbedaan perilaku dan kebiasaan (Ibnu Sīrīn, 2004: 3-4). Ibnu Hajar 

memberikan kriteria untuk seorang penafsir mimpi, di antaranya adalah: (1) Kehati-

hatian. (2) Keluasan dan kedalaman analisis, meliputi: pengetahuan hermeneutik, 

fenomenologis, syari’ah, tauhid, sejarah, kebudayaan, bahasa, perilaku, dan 

kontekstual pena’bir. (3) Kualitas pena’wil, meliputi: kode moral, kejujuran, kesucian, 

teladan, keimanan, kesederhanaan dan kemanusiaan (Nashori dan Diana, 2002: 293).  

Tafsir mimpi dengan menggunakan simbol juga diperkuat dengan adanya 

beberapa ayat al-Qur’an, di antaranya: 

a. Sebuah daerah atau rumah yang nilainya lebih rendah dari dirinya dan tidak 

pantas dimasuki oleh seorang raja. Mimpi ini dilambangkan sebagai datangnya 

musibah dan kehinaan yang akan menimpa penduduk tersebut. (QS. Al-Naml [27] 

: 34).  

b. Al-Habl (tali), ditakwilkan dengan janji. (QS. Ali ‘Imran [3] : 112). 

c. Tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan tujuh ekor sapi betina kurus, tujuh 

gandum hijau dan tujuh gandum kering. Simbol tersebut ditakwilkan dengan 

masa kemarau dan paceklik selama tujuh tahun (QS. Yusuf [12] : 43). Selain itu, al-

Qur’an juga banyak menyebut beberapa tafsiran simbolik. Seperti tali yang 

disimbolkan sebagai perjanjian (QS. Al-Baqarah [2]: 103), Kapal disimbolkan 

sebagai keselamatan (QS. Al-‘Ankabut [29]: 15), Kayu dilambangkan dengan 

kemunafikan (QS. Al-Munafiqun [63]: 4). Batu disimbolkan dengan kerasnya hati 

(QS. Al-Baqarah [2]: 74). Lihat tafsir simbolik selengkapnya dalam QS. Al-Qashash 

[28] : 8, QS. Ibrahim [14]: 18 dan 14-24, QS. Al-Jin [72]: 16-17, QS. Al-Hujrat [49]: 12, 

QS. Al-Anfal [8]: 11. QS. Al-Baqarah [2]: 61, 187, 257, 266. Dan QS. Al-Shaffat [37] : 

49. 

 

Interpretasi Mimpi Perspektif Sigmund Freud 

Sigmund Freud lahir pada hari Selasa, 6 Mei 1856 di Freiberg, kota kecil di 

daerah Moravia, Austria. Freud berasal dari keluarga Yahudi (Bertens, 2006: 9). 

Ayahnya, Jacob Freud, adalah seorang pedagang miskin. Sedangkan ibunya bernama 

Amalia Nathanson, lebih muda 20 tahun dari suaminya serta merupakan istri ketiga 

dari Jacob Freud (Semiun, 2006: 44). Freud merupakan tokoh produktif dan giat 

bekerja, hal itu terbukti meskipun telah lanjut usia dan sering sakit, dia tetap bekerja 

sebagai seorang dokter dan penulis. Freud meninggal pada 23 September 1939 di 

London dalam usia 83 tahun (Storr, 1991: 1). 

Pada tahun 1895, tepatnya pada bulan Juli, Freud berhasil menganalisis sebuah 

mimpi. Selanjutnya dia menggunakan mimpi ini, yang disebut sebagai injeksi irma, 

 

 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

sebagai model bagi interpretasi mimpi psikoanalisis saat dia menerbitkan buku “The 

Interpretation of Dreams” (Semiun, 2006: 50). Penemuan yang menjadikan nama 

Freud terkenal adalah psikoanalisa. Istilah ini diciptakan oleh dia sendiri dan muncul 

untuk pertama kali pada tahun 1896. Teori psikoanalisa lahir dari praktek dalam usaha 

untuk menyembuhkan penyakit histeris.  

Sebagai seorang ilmuan, Freud memiliki karya tulis yang banyak. Secara garis 

besar karya-karyanya dapat diklasifikasikan menjadi tiga periode :  

a. Periode Pertama ( 1895-9105 ) : Terbentuknya Teori Psikoanalisa. Antara lain buku; 

“Studien Uber Hysteri” (1895), “The Interpretation of Dreams (1900)”, “The 

Pshychopathology of Everyday Life (1901)”, “There Essay on The Theory of Sexuality 

(1905)”, “Jokes and Their Relation to the Unconscious (1905)”, dan “Kasus Dora 

(1905)” (Bertens, 2006: 12).  

b. Periode kedua (1905-1920) : Pendalaman Teori Psikoanalisa. Antara lain buku 

Delirium dan Mimpi-Mimpi dalam “Gradiva” (1907), Memperkenalkan Psikoanalisa 

(1910), Sebuah Ingatan Dari Masa Anak Leonardo Da Vinci (1910), “Totem and Taboo 

(1913), “On Narciccism (1914), dan “Introductory Lectures on Psychoanalysis (1916-

1917), “Naluri-Naluri dan Liku-Likunya”, “Represi Ketidaksadaran”, “Tambahan 

Metapsikologis”, “Teori Mimpi”, dan “Perkabungan dan Melankoli” (Bertens, 2006: 

25).  

c. Periode Ketiga (1920-1940). Antara lain buku “The Pleasure Principle (1920)”, “The 

Ego and the Id (1923)”, “Inhibisi (1926)” (Bertens, 2006: 29), “The Future of an 

Illussion (1927)”, “Civilization and Its Discontens (1930)”, “Moses and Monotheism 

(1939)”, dan “An Outline of Psychoanalysis (1940)” (Bertens, 2006: 35).  

 

Interpretasi Mimpi Sigmund Freud 

Kunci dalam psikoanalisis Freud yaitu perbuatan dan perasaan dapat 

ditentukan oleh motivasi yang tidak disadari. Pemikiran Freud tentang kepribadian 

terdiri dari sistem yang saling berhubungan, yaitu id, ego dan superego (Bertens, 2006: 

32, dan Storr, 1991: 32, 70-73). Id bersifat hedonistik, yakni menghindari kasakitan dan 

mencari kesenangan. Id dan ego tidak membedakan antara pikiran dan perbuatan, 

antara yang nyata dan khayalan. Ego hanya berperan mensensor pengalaman dalam 

otak. Adapun superego memainkan peran penting dalam mimpi, yang berkaitan 

dengan perkembangan dan fungsi kepribadian (Bertens, 2006: 33-34).  

a. Hubungan Mimpi dengan Kesadaran 

Freud mengemukakan fenomena mimpi, bahwa dalam mimpi keteraturan 

memori terkait kesadaran dan tingkah laku normal benar-benar hilang. Mental lepas 

dari memori dan isinya terkait kondisi sadarnya (Freud, 2001: 42). Menurutnya, materi 

dari alam sadar yang berisi hal menyakitkan atau diinginkan secara terpendam 

didorong ke alam bawah sadar melalui mekanisme represi yang menutupi pikiran, 

sikap, dan ingatan dari kesadaran. Akan tetapi, alam bawah sadar bukanlah tempat 

bagi materi terepresi karena ada kemungkinan materi-materi tersebut akan meletup 

karena dorongannya yang kuat. Salah satu jalannya adalah melalui mimpi (Freud, 

2015: 14). Dalam proses mimpi, gambaran yang hadir dapat berupa percampuran 

antara berbagai detail pengalaman dalam kesadarannya (Freud, 2001: 79). Pemahaman 

kesadaran yang dikolaborasikan dengan konsepsi mimpi tersebut menjadi dasar 

bagaimana kesadaran memiliki hubungan erat dengan mimpi sebagai 

 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

manifestasinya dalam kondisi tidak sadar. Mimpi akan menunjukkan interaksi 

yang terjadi antara kesadaran dan ketidaksadaran. Mimpi yang hadir tidak berkaitan 

seperti halnya pengalaman dalam dunia realitas dengan kondisi kesadarannya (Freud, 

2001: 329). 

b. Sumber, Faktor dan Mekanisme Mimpi 

1) Rangsangan Inderawi Eksternal (beroreintasi pada objek). Yaitu pikiran tetap 

berkomunikasi secara terus menerus dengan dunia luar meskipun masih dalam 

kondisi tertidur (Freud, 2015: 22-23). Sebagai contoh, yaitu sorot lampu adalah 

rangsangan inderawi yang ditimbulkan dari luar, sehingga rangsangan tersebut 

dipastikan sebagai sumber dari mimpi (Freud, 2015: 33). 

2) Rangsangan Inderawi Internal (beroreintasi pada subjek). Berupa halusinasi 

hipnogogis, yaitu gambar-gambar hidup dan berubah-ubah yang muncul terus-

menerus selama periode sebelum tidur (Freud, 2015: 44). Misalnya cahaya Di saat 

tidur dalam gelap. 

3) Rangsangan Fisik Internal (berorientasi organ). Seluruh sistem organ tubuh 

memainkan perannya ketika malam dan akan mencapai kekuatan yang lebih 

besar, serta bekerja melalui komponen-komponennya, dan akan menjadi 

sumber mimpi (Freud, 2015: 47-48). 

4) Sumber Rangsangan Psikis Murni. Manusia memimpikan sesuatu yang terjadi 

selama berada di alam sadar. Hal ini menjadi ikatan psikis dan menjadi sumber 

penting dalam mimpi. (Freud, 2015: 53-54). 

Di dalam mimpi ada tiga materi yang dikemukakan Freud, yaitu: Pertama, 

materi-materi tertentu yang muncul dalam mimpi yang sesudahnya tidak bisa 

dikenali di alam sadar adalah bagian dari pengetahuan dan pengalaman seseorang. 

Kedua, sumber materi-materi untuk direproduksi dalam mimpi yang diambil adalah 

dari masa kanak-kanak. Ketiga, pemilihan materi yang akan diproduksi (Freud, 2015: 

24). Selain dari sumber dan faktor terjadinya mimpi tersebut, Freud mengemukakan 

beberapa faktor psikologis dalam proses mimpi, di antaranya : (a) Pelupaan Mimpi. 

Faktor utama dalam proses pembentukan mimpi ialah kondisi pasif jiwa (Freud, 2015: 

491). (b)  Regresi. Penafsiran yang benar terhadap mimpi bisa ditemukan dibalik arti 

nyata dan memunculkan pemenuhan harapan yang tersembunyi. Dalam arti lain, isi 

mimpi laten adalah penyebab mimpi (Semiun, 2006: 131-132). 

Mimpi adalah aktivitas psikis yang penuh dengan kepentingan dan pemenuhan 

harapan. Keanehan dan absurditas di dalam mimpi adalah pengaruh dari proses 

sensor psikis yang bekerja selama pembentukan mimpi (Freud, 2015: 610). Adapun 

faktor-faktor yang berperan dalam pembentukan mimpi ialah: (1) Proses kondensasi 

materi-materi psikis, (2) Kelayakan untuk mewakili rangsangan inderawi, (3) Tidak 

konsistennya faktor eksterior struktur mimpi yang rasional dan jelas (Freud, 2015: 611). 

Selain itu, Freud juga mengusulkan dua mekanisme dalam proses terjadinya mimpi. 

Pertama, Pikiran yang tidur menciptakan mimpi dengan dasar pemenuhan harapan. 

Kedua, Pikiran dikejutkan oleh harapan dan melakukan penyensoran terhadapnya. 

Hal ini menyebabkan terjadinya distorsi pada cara munculnya harapan di dalam 

mimpi  (Bertens, 2006: 73). 

c. Mimpi sebagai Proses Mental  

Melalui pemahaman mimpi sebagai proses mental Freud menjelaskan 

keterkaitan sisi kausalitas fisik dengan proses terjadinya mimpi. Sebagai gambaran 

 

 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

atas konsep serta pemahaman mimpi sebagai proses mental, diperlukan penjelasan 

mimpi yang melibatkan kondisi fisik, faktor lingkungan sekitar, kesadaran dalam 

bentuk ingatan, serta partikularitas gambaran mimpi (Freud, 2001: 513-514). Dengan 

demikian, proses mental yang secara khusus ditunjukkan melalui pemenuhan 

keinginan menjadi bagian penting untuk mengetahui hubungan referensial dari 

kesadaran agar mimpi dapat terjadi, variabel yang mempengaruhinya, serta aplikasi 

langsung terhadap mimpi sebagai gambaran kegiatan yang terjadi dari ranah mental 

dalam kondisi tidak sadar. 

d. Hubungan Mimpi dengan Penyakit Mental 

Hubungan mimpi dengan penyakit mental digambarkan Freud dalam tiga 

kerangka, yaitu: Pertama, penyebab abnormalitas dan hubungan klinis dari mimpi 

sebagai gambaran, petunjuk, dan sisa kondisi kegilaan. Kedua, modifikasi mimpi 

menjadi bahasan utama dalam penyakit mental. Ketiga, hubungan intrinsik mimpi 

dan kegilaan dalam bentuk analogi menunjukkan hubungan yang dekat secara 

esensial. Hubungan mimpi dan kegilaan juga ditunjukkan melalui kasus kegilaan 

delusional karena mimpi buruk (Freud, 2015: 111). Gangguan mental atau kegilaan yang 

hadir atas represi seseorang atas suatu dorongan atau kondisi mental yang mengalami 

konflik tidak terselesaikan, serta tidak mengalami pemenuhan dalam kondisi mimpi 

memiliki hubungan erat dengan kesadaran yang tidak dipertimbangkan. Hubungan 

mimpi dengan kegilaan bersifat kualitatif dari segi kesadaran yang mengalami distorsi 

manifestasinya dalam bentuk kesadarannya langsung ataupun dalam kondisi mimpi.  

e. Distorsi dan Pola Kerja Mimpi  

Distorsi adalah hasil kerja mimpi (Freud, 2015: 166). Mimpi merupakan suatu 

bentuk kerja dari mental manusia yang terjadi dalam kondisi tidak sadar atas 

berbagai impresi dan kejadian yang dialami pada kondisi sadarnya (Freud, 2015: 

142). Berikut beberapa pola kerja mimpi, di antaranya adalah : 

1. Kondensasi (Penyingkatan). Kondensasi dalam kerja mimpi akan mengarah 

pada pikiran-pikiran hasil analisis bagian mimpi yang tidak hilang (Freud, 2015: 

338). Mimpi berdampingan dengan psikis, mimpi diiringi dengan alam bawah 

sadar, dan sebagainya terkait dengan pembentukan isi mimpi yang didasarkan pada 

sebuah proses kondensasi, dengan cara kerja melalui suatu kegiatan penghilangan 

(Freud, 2015: 339-340). Proses kondensasi mimpi terlihat pada perbandingan 

konten mimpi yang disampaikan seseorang melalui recollection dengan 

interpretasi yang dilakukan (Freud, 2001: 196). Hubungan tersebut menunjukkan 

kondensasi sebagai bagian penting bagi kerja mimpi. 

2. Pemindahan (Dreams- Displacement). Pola kerja dalam pemindahan mimpi 

mempunyai gaya instrumental, di mana akan bisa mengenali sebuah kekuatan 

psikis dalam pemindahan mimpi. Hasilnya akan menghabiskan hal yang dianggap 

isi mimpi tidak lagi punya kemiripan dengan titik pusat pikiran mimpi, dan mimpi 

hanya memproduksi bentuk terdistorsi dari harapan mimpi (Freud, 2015: 366). 

3. Representasi, yaitu proses saat pikiran dirubah menjadi bayangan visual (Storr, 

1991: 49). 

4. Simbolisasi, yaitu simbol-simbol yang menyinggung beberapa aspek kehidupan 

seksual atau orang-orang yang berhubungan dengan hal itu, yang tidak ingin 

dikenal oleh si pemimpi (Storr, 1991: 49-50). 

5. Revisi sekunder, yaitu suatu proses yang berusaha membuat mimpi dapat 

 

 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

dimengerti dengan cara mengubahnya ke dalam cerita logis (Storr, 1991: 50. 

Semiun, 2006: 136 -137).  

Dengan demikian, mimpi melalui proses terjadinya menurut teori Freud 

dalam kerja mimpi merupakan suatu kegiatan mental yang tidak lepas dari 

hubungan mental dan fisik yang menunjukkan terjadinya proses analogis dari 

kondisi sadar dengan kondisi mimpi. Namun kesadaran tetap menjadi bagian 

penting terkait referensi pengalaman yang hadir dalam mimpi tersebut. 

f. Fungsi Mimpi 

1) Aktivitas psikis di alam sadar akan diteruskan secara penuh dalam mimpi-

mimpi (Freud, 2015: 95). 

2) Mimpi sebagai pengurangan aktivitas psikis, pelepasan hubungan, dan 

pemiskinan materi yang tersedia (Freud, 2015: 96). 

3) Mimpi memberi gambaran pada pikiran tentang kapasitas dan kecenderungan 

terhadap aktivitas psikis khusus, di mana di alam sadar tidak dapat 

dipergunakan secara tidak sempurna (Freud, 2015: 104). 

4) Rangsangan harapan yang diabaikan alam sadar akan dipindahkan ke latar 

belakang, masalah-masalah yang belum terpecahkan, perhatian yang mengusik, 

kesan-kesan yang berlimpah, terus bekerja dalam pikiran selama tidur (Freud, 

2015: 630). Gambaran dalam bentuk suasana mimpi hadir dengan referensi 

kesadaran terhadap ingatan-ingatan atas berbagai pengalaman yang telah 

dialaminya dalam realitas (Freud, 2001: 332).  

g. Landasan Teori dan Metodelogi Tafsir Mimpi Sigmund Freud 

1) Metode Simbolis 

Dalam isi mimpi kebanyakan berisikan simbol-simbol yang dipengaruhi dari 

pikiran-pikiran mimpi dengan menjadikan alam sadar sebagai rumah bagi manifestasi 

dari simbol tersebut. Namun simbolisasi tidak menyinggung khusus hanya pada 

mimpi, melainkan lebih pada imajinasi bawah sadar dalam diri manusia (Freud, 2015: 

417). Dari cara kerja simbol tersebut, Freud menggunakan dua metode terkait dalam 

memahami simbol-simbol. Pertama, mengekplorasi asosiasi dari pemimpi sendiri, 

dan kedua menggunakan pengetahuan penganalisis mengenai simbol-simbol mimpi 

(Freud, 2015: 122). Adapun secara khusus simbol-simbol yang digunakan Freud dalam 

tafsir mimpinya antara lain: 

a) Tongkat, pisau, payung, topi dan objek-objek berbatang lainnya disimbolkan 

sebagai simbol pria (alat kelamin pria) (Freud, 2015: 427). 

b) Kotak, lemari, oven, laci, dan barang-barang kontainer dilambangkan sebagai 

rahim. 

c) Benda kecil sebagai organ kelamin, menggilas atau melindas dilambangkan sebagai 

hubungan seksual (Freud, 2015: 428).  

d) Organ pria dilambangkan sebagai manusia, dan organ perempuan dilambangkan 

sebagai pemandangan (Freud, 2015: 433).  

Dalam menganalisis mimpi, Freud menjadikan simbol-simbol tersebut 

mengarah kepada seksual. Berbagai analisis yang sama ditemukan dalam mimpi yang 

berbeda dari mimpi-mimpi pasiennya, sehingga Freud mempunyai pandangan bahwa 

dalam tafsir mimpi, arti penting dari kompleksitas seksual tidak pernah terlupakan, 

meskipun dalam hal ini tidak boleh membesar-besarkannya hingga membuang faktor 

lain 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

2) Metode Sandi Rahasia (Decoding)  

Metode ini dikatakan Sandi Rahasia karena tanda diterjemahkan ke tanda lain 

yang diketahui artinya sesuai dengan kunci yang telah ditetapkan. Dalam metode 

Sandi Rahasia, isi mimpi,  kepribadian dan status sosial ikut dipertimbangkan. 

Sehingga sama isi mimpi dari orang yang berbeda status sosialnya. Dengan titik tekan 

sebuah kerja tafsir diterapkan pada masing-masing bagian isi mimpi 

3) Metode Injeksi Irma dan Asosiasi Bebas 

Freud dalam menjalankan metode tafsir mimpinya melalui cerita mimpi 

pasiennya terkait informasi tentang segala pikiran yang muncul dalam mimpi. Dengan 

menjadikan mimpi disisipkan ke dalam jalinan psikis yang diikuti secara terbalik dari 

ide patologis menuju ingatan pasien. Selanjutnya adalah menganggap mimpi itu 

sebagai gejala dan menerapkan padanya tafsir yang terbukti berhasil. Freud 

menganggap psikis penting dalam metodenya karena untuk merangsang konsentrasi 

pasien terhadap penglihatan psikisnya dan untuk melenyapkan kondisi kritis 

pikirannya seola-olah muncul di alam nyata (Freud, 2015: 126-127). 

Freud menemukan bahwa pada saat pasiennya merasa santai dan 

mengungkapkan ide-ide asosiasi bebas, maka mereka mulai memberitahukan kepada 

Freud mengenai mimpi-mimpinya. Sehingga ketika terjadi asosiasi bebas dan analisis 

mimpi, para pasien harus merasa santai dan aman. Hal ini dimaksudkan karena 

terjadinya dua hal, pertama: pasien dan analisinya mungkin sama-sama memberikan 

perhatian lebih terhadap segala proses pemikirannya. Kedua, pasien akan mampu 

menyingkirkan sensor kritis yang merupakan proses pemikiran yang menyelidik.  

4) Metode Pengamatan Diri 

Freud menekankan itensitas pengamatan diri sesuai dengan persoalan 

seseorang. Hal yang pertama untuk menjadikan aplikasi prosedur adalah seseorang 

hanya bisa membuat komponen-komponen individual dari keseluruhan isi mimpinya. 

Dengan harus memilah-milah potongan mimpi dan berharap pasien menceritakan 

masing-masing potongan mimpinya itu, maka memungkinkan akan 

menggambarkannya sebagai pikiran dibalik bagian mimpi tersebut (Freud, 2015: 130-

131). 

Freud menghubungkan para penderita neurosis dengan orang-orang yang 

sehat atau dengan contoh-contoh yang ditemukan dalam buku-buku tentang mimpi. 

Freud berpandangan bahwa suatu mimpi dengan isi yang sama akan mempunyai arti 

yang berbeda-beda pada masing-masing orang. Metode pengamatan diri mampu 

menyelidiki seberapa besar tingkat penyelesaian dan kesempurnaan tafsir dengan 

memakai analisis diri. Sehingga Freud lebih banyak memperlakukan mimpi-

mimpinya sendiri sebagai sumber dari materi-materi yang sesuai dan berlimpah serta 

memuat referensi dari ragam aktivitas keseharian (Freud, 2015: 131-132). 

Dalam hal interpretasi mimpi, Freud memberikan tiga peraturan penting yang 

harus diperhatikan, yaitu: (1) Tidak membedakan makna yang muncul dari mimpi, 

apakah beralasan atau absurd, jelas atau membingungkan, sebab tidak ada kasus yang 

menunjukkan bahwa makna tersebut adalah pemikiran bawah sadar yang dicari. (2) 

Membatasi untuk membangkitkan ide-ide pengganti dari setiap unsur dan tidak 

terlalu mempertimbangkannya untuk melihat apakah ide-ide itu berisi sesuatu yang 

sesuai harapan, dan juga tidak perlu mempersulit diri dengan mengikuti seberapa jauh 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

ide-ide itu membawa kepada unsur mimpi. (3) Menunggu sampai pemikiran bawah 

sadar yang tersembunyi muncul dengan sendirinya (Bertens, 2006: 73-74). 

Bagi Freud analisa tentang mimpi membawa banyak keuntungan. Pertama, 

dapat memperkuat hepotesanya tentang susunan dan fungsi hidup psikis. Kedua, 

dapat mencapai kesuksesan di bidang pengobatan penyakit neurosa, dimana mimpi 

dapat membongkar ingatan-ingatan dari masa lampau (Bertens, 2006: 17). 

 

Implikasi Mimpi Terhadap Pendidikan Mental 

Implikasi adalah suatu konsekuensi (akibat langsung) dari hasil penemuan 

suatu penelitian ilmiah. Implikasi berkaitan dengan kesimpulan dan saran dalam 

sebuah penelitian ilmiah (https://www.freedomnesia.id/pengertianimplikasi). 

Sedangkan pendidikan atau pembinaan mental adalah suatu proses atau usaha untuk 

menjadikan seseorang harmonis jiwanya dengan tujuan membantu seseorang 

terbebas dari gejala-gejala gangguan jiwa, memecahkan problematika hidup, 

mengembangkan potensi, bakat, dan minat, serta menjadikan seseorang mempunyai 

kepribadian mulia. Usaha atau proses tersebut bisa berupa pemberian pendidikan, 

seperti membimbing jiwa, nyawa, sukma, dan roh. Sehingga secara sederhana bahwa 

tujuan pendidikan mental adalah tercapainya kesehatan mental dan terhindar dari 

gangguan atau penyakit mental. 

Adapun implikasi mimpi terhadap pendidikan mental memiliki dua sisi, yaitu 

sisi positif dan sisi negatif. Berikut ini gagasan dan pemaparan dari ke dua sisi tersebut: 

1. Implikasi Positif Mimpi terhadap Pendidikan Mental 

Nabi SAW bersabda : “Jika telah menghampiri zaman, mimpi seseorang yang 

beriman itu hampir-hampir tidak dusta dan mimpi seorang mukmin adalah bagian dari 

46 juz kenabian, dan sesungguhnya bagian kenabian itu bukanlah dusta, Muhammad 

bin Sīrīn berkata : “Dan beliau mengatakan: “Mimpi ada tiga: Percakapan (bisikan) jiwa, 

bisikan setan (yang menakut-nakuti) dan kabar gembira dari Allah” (HR. Al-Bukhārī). 

Dari redaksi hadis tersebut mimpi yang berimplikasi terhadap pendidikan 

mental dapat ditemukan pada bagian mimpi  ِ  .(kabar gembira dari Allah Swt) بُْشَرى ِمْن ّللاَّ

Dalam mimpi ini sisi pendidikan mental terletak pada pemaknaan bahwa mimpi dari 

Allah Swt yaitu berupa petunjuk, ancaman, janji, peringatan, teguran, dan kabar 

gembira. Sehingga dalam pendidikan mental, tentu mimpi jenis ini menjadi media 

tercapainya kesehatan mental dan jiwa.  

Al-Muhlabi berkata bahwa al-Mubasysirat adalah mimpi benar dari Allah Swt 

yang membahagiakan dan terkadang yang terjadi adalah sebuah peringatan, Allah 

memperlihatkannya kepada seseorang sebagai bentuk sifat RahmanNya agar ia 

bersiap terhadap apa yang akan terjadi sebelum hal itu benar-benar terjadi (Al-‘Aini, 

t.th: 135). Al-‘Awdi mengatakan bahwa peringatan itu menjadi bagian dari mimpi baik 

karena Allah memperlihatkan mimpi tersebut untuk membimbingnya. Jika seorang 

hamba melihat sesuatu yang buruk maka ia pasti meminta perlindungan dari mimpi 

itu dan berlindung kepada Allah dengan berdoa (Al-‘Awdi, 1990: 12).  

Ibnu Katsīr menceritakan kisah mimpi Imam al-Syafi’i‚ bahwa Imam Syafi’i 

memerintahkan Rabī’ (muridnya) agar membawakan surat untuk Ahmad bin Hanbal. 

Setelah membaca surat itu, Imam Ahmad meneteskan air mata. Rabi’ bertanya 

kepadanya, Ada apa di dalamnya wahai Abu ‘Abdillah? Ahmad menjawab "Beliau 

menyebut bahwa beliau melihat Nabi Saw dalam mimpi dan berkata kepadanya, 

 

 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

Tulislah surat kepada Ahmad bin Hanbal dan sampaikan salamku kepadanya! Dan 

katakan, ‘Engkau akan diuji dan dipaksa mengatakan bahwa al-Qur’an itu makhluq, 

maka jangan engkau turuti permintaan mereka, Allah akan meninggikan derajatmu 

sebagai panutan di setiap masa hingga hari kiamat” (Ibnu Katsīr, 1988: 365). Kisah 

mimpi Imam Syafi’i tersebut mengandung kabar gembira sekaligus peringatan untuk 

Imam Ahmad karena Nabi SAW datang kepada Imam Syafi’i untuk menitipkan 

salamnya dan memberikan peringatan agar Imam Ahmad bersiap dan bersabar untuk 

menghadapi cobaan. 

Muhammad bin Salih Al-‘Asim mengatakan bahwa mimpi baik adalah apabila 

seseorang melihat sesuatu yang disukainya maka itu datang dari Allah sebagai nikmat 

terhadap orang tersebut karena ketika ia melihat apa yang disukainya ia pasti 

bergembira dan bersukacita, maka jadilah mimpi baik ini bagian dari busyra’ (kabar 

gembira) (Al-‘Asim, 1426 H: 371). 

Mimpi itu dapat memberikan gambaran tentang tabiat diri dan hakikat jiwa 

dan roh, yang awalnya tidak jelas bagi manusia. Hal ini menggambarkan tentang isi 

lubuk hati dan sanubari sekaligus bukti tentang adanya alam rohani yang luas dalam 

tubuh manusia yang bisa menerima cahaya ilahi, ilham dan petunjuk-petunjuk Tuhan 

serta pengalaman-pengalaman lainnya yang terkait kehidupan, keilmuan, keagamaan 

(Al-Nablusi, 2011: 39), dan hal lainnya yang mampu membina manusia. 

Jenis mimpi ini adalah mimpi yang benar, mimpi ini sebagian dari tanda-tanda 

kebesaran Allah. Mimpi ini adalah gambaran yang benar menurut akal batiniyah, yang 

mengungkapkan kebenaran yang kukuh, tersimpan dalam benak, bahasa yang benar 

dan menunjukkan aneka makna yang konsisten (Ibnu Sīrīn, 2004: 76). Mimpi yang 

benar disebutkan al-Qur’an bahwa semuanya menjadi kenyataan (Al-Nablusi, 2011: 

45). Mimpi ini menginformasikan kebenaran yang juga menjadi sebagian dari ke Nabi-

an, seperti halnya seseorang bermimpi ketika beristikhoroh, ketika tidur, maka dalam 

mimpi seseorang akan melihat apa yang ia pinta dalam istikharahnya atau ia akan 

bangun dan merasa dadanya terasa lapang dan tenang menuju kebenaran (Ibnu Sīrīn, 

2004: 18). Untuk lebih jelasnya penulis perlu menampilkan ayat-ayat al-Qur’andan 

hadis terkait dengan implikasi mimpi terhadap pendidikan mental. 

Ayat Pertama: Surat Yunus Ayat 64: “Bagi mereka berita gembira di dalam 

kehidupan di dunia dan dalam kehidupan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-

janji Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”.  

Kata busyra yang artinya kabar gembira dalam kehidupan dunia adalah berita 

tentang kemenangan dan kesudahan yang baik dalam segala hal, yaitu bahwa mereka 

akan menjadi khalifah di bumi, juga dengan diberi ilham kepada kebenaran dan 

kebaikan (Al-Marāghī, 1993: 250). Dalam hadis disebutkan : “Dari Ubadah bin Shamit 

bahwa ia berkata kepada Rasulullah Saw, Apa kabar gembira di dunia ini? Rasulullah 

Saw bersabda mimpi yang baik yang dilihat seorang hamba atau yang diperlihatkan 

kepadanya” (Ibnu Katsīr, 1988: 623). 

Nabi SAW mendapat wahyu melalui mimpi selama 6 bulan dan menerima 

wahyu dalam keadaan bangun selama 20 tahun. Jika melihat 6 bulan dinisbahkan 

kepada 20 tahun maka tepatlah jika dikatakan 6 bulan merupakan satu bagian dari 46 

kenabian (Mutawallī, t.th: 6037). Yang lain mencoba menjelaskan maksud dari satu 

bagian dari empat puluh enam kenabian yaitu: Nabi adalah sejak usia 40 hingga 63 

tahun, jadi selama 23 tahun. Kita tahu dari sirah bahwa enam bulan sebelum menjadi 

 

 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

Nabi, Nabi SAW mendapat mimpi yang kemudian benar terjadi, sangat sering sekali 

(demikian) hingga jika beliau mendapat mimpi pada malam hari, mimpi itu menjadi 

nyata pada pagi esok harinya. Sehingga perbandingan dari 6 bulan dengan 23 tahun 

adalah 1:46. Hadis ‘Ubadah bin Shamit di atas menunjukkan bahwa mimpi yang baik 

berfungsi sebagai kabar gembira bagi seorang hamba. 

Ayat Kedua: Surat al-Shaffat Ayat 102: “Maka tatkala anak itu sampai (pada 

umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku 

sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah 

apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan 

kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. 

Ayat ini menceritakan mimpi Nabi Ibrahim as. menyembelih putranya, Isma’il 

as. Mimpi yang kemudian diyakini bahwa itu adalah seruan Allah Swt dan segera 

ditunaikan setelah berdiskusi dengan keluarganya dan merasa yakin dengan 

kebenarannya (Al-Marāghī, 1993: 129). 

Al-Quran mengungkapkan ujian untuk Ibrahim sebagai bala al-Mubin (ujian 

yang jelas). Dalam Tafsir “Taisir al-Karim” dikatakan ujian yang jelas, karena ujian ini 

menjelaskan betapa suci dan sempurnanya cinta Ibrahim kepada Tuhannya. Ketika 

Allah menaganugrahkan Isma’il kepadanya, Ibrahim sangat mencintai putranya itu 

maka Allah ingin memurnikan cinta Ibrahim kepadanya lalu Allah mengujinya 

dengan perintah untuk menyembelih Isma’il. Di sisi lain di dalamnya bernilai ibadah 

dan menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi syari`at yang abadi 

sampai hari kiamat (Sa’di, 2000: 706). 

Al-Zamakhsyari menukil sebuah riwayat bahwa Ibrahim bermimpi melihat 

pada malam Tarwiyyah seolah-olah ada yang berkata padanya sesungguhnya Allah 

menyuruhmu untuk menyembelih putramu maka Ibrahim ragu dengan perintah itu 

apakah dari Allah Swt ataukah dari setan di sore hari ia pun melihat mimpi yang sama 

maka tahulah ia kalau itu perintah Allah Swt, itu sebabnya hari itu dinamakan “yaumu 

Arafah” hari dia mengetahui dan pada malamnya ia pun melihatnya kembali maka ia 

pun hendak melakukan pengorbanan itu dan dinamaknlah hari itu yaumu al-Nahar 

(hari kurban) (Al-Zamakhsyari, t.th: 3). Abdullah bin Umar menceritakan bahwa 

beberapa orang dilihatkan Lailatil Qodar berada pada tujuh malam terakhir (bulan 

Ramadhan). Nabi berkata, “Aku melihat bahwa mimpi kalian saling menguatkan satu 

sama lain bahwa Lailatul Qodar ada pada tujuh malam terakhir pada bulan Ramadhan, 

maka barangsiapa yang mencarinya, akan mencarinya pada tujuh malam terakhir 

(bulan Ramadhan)”. Dalam penjelasan ini mimpi muncul dalam manifestasi berupa 

perintah dan petunjuk yang berfungsi sebagai ujian keimanan dan keta’atan bagi Nabi 

Ibrahim dan keluarganya, serta petunjuk terjadinya malam Lailatul Qadar. 

Ketiga: Surat Yusuf Ayat 4: “Ingatlah, ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: 

"Wahai ayahku sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan 

bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku”. 

Dalam ayat ini dikisahkan bahwa Nabi Yusuf as. melihat benda langit yang 

dalam pandangan mata lahir tidak mungkin tampak secara bersamaan dimana sebelas 

bintang, matahari dan bulan terlihat muncul bersamaan dan tidak lazim karena kita 

memandang langit yang ditaburi ribuan bintang tetapi Yusuf hanya melihat sebelas 

bintang dan benda-benda langit tersebut bersujud kepadanya (Mutawallī, t.th: 6841). 

Mimpi itu kemudian menjadi jelas artinya ketika pada akhir kisah diceritakan bahwa 

 

 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

Ya’qub dan seluruh keluarganya bersujud memberikan penghormatan kepada Yusuf 

setelah Yusuf mendudukan ayah dan ibunya di tempatnya duduk untuk memuliakan 

keduanya dan mengatakan inilah arti mimpiku seperti termuat dalam surah Yusuf 

ayat 100, yang artinya: “Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. dan 

mereka merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: "Wahai ayahku 

inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya 

suatu kenyataan.  Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku”. 

Ayat Keempat: Surat Yusuf Ayat 43-49: “Raja berkata (kepada orang-orang 

terkemuka dari kaumnya): "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina 

yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh 

bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering." Hai orang-orang yang 

terkemuka: "Terangkanlah kepadaku tentang ta'bir mimpiku itu jika kamu dapat 

mena'birkan mimpi." Mereka menjawab: "(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan 

kami sekali-kali tidak tahu menta'birkan mimpi itu." Dan berkatalah orang yang 

selamat diantara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu 

lamanya: "Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) 

mena'birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)." (Setelah pelayan itu berjumpa 

dengan Yusuf dia berseru): "Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada 

kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor 

sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya 

yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya." 

Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; 

maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk 

kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang 

menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali 

sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun 

yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras 

anggur”. 

Abdurrahman bin Nashir bin Sa’di mengomentari kisah ini bahwa ketika Allah 

menginginkan Nabi Yusuf as. terbebas dari penjara maka Allah memperlihatkan 

mimpi yang aneh kepada raja yang baru bisa ditakwilkan oleh Nabi Yusuf as. agar 

tampak kelebihannya (Sa’di, 2000: 399). Demikian mimpi-mimpi tersebut memiliki 

makna dan berfungsi sebagai informasi apa yang akan terjadi di masa lampau dan 

pada ayat terakhir dapat diambil pelajaran bahwa mimpi dapat menjadi media 

mempersiapkan segala hal yang akan dihadapi. 

Ayat Kelima : Surat Al-Isra Ayat 60: “Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan 

kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia." Dan Kami tidak 

menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian 

bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami 

menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar 

kedurhakaan mereka”. 

Dalam memahami kata Ru’yā pada ayat ini Quraish Shihab menukil dua 

pendapat yaitu kelompok pertama, menafsirkan Ru’yā dengan apa yang dilihat Nabi 

SAW saat peistiwa Isra dan Mi’raj. Ayat tersebut mengisyaratkan tentang cepatnya 

peristiwa itu dan karena kejadiannya di malam hari, seperti halnya mimpi yang terjadi 

dengan cepat dan sering terjadi di malam hari. Pendapat kedua memahami kata al-

 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

Ru’yā berarti mimpi dengan dua pendapat berbeda. Sebagian berpendapat mimpi 

tentang terbunuhnya tokoh-tokoh kaum musyrikin dalam perang Badar, atau mimpi 

Nabi SAW. Bahwa jumlah kaum musyrikin dalam perang itu sedikit (tidak sebanyak 

kenyataan, agar hati kaum muslimin lebih kukuh) atau mimpi beliau memasuki 

Masjid al-Haram setelah sekian lama dikuasai oleh kaum musyrikin (Shihab, 2002: 

506-507). Terlepas dari pengertian yang mana yang digunakan karena keduanya di 

luar panglihatan biasa baik itu mimpi atau menyerupai mimpi, namun secara jelas kita 

dapat mengetahu dari ayat ini bahwa mimpi berimplikasi sebagai fungsi ujian 

keimanan seseorang. 

Ayat Keenam: Surat al-Fath ayat 27: “Sesungguhnya Allah akan membuktikan 

kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa 

kamu pasti akan memasuki Masjid al-Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan 

mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka 

Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu 

kemenangan yang dekat”. 

Pada saat Nabi SAW berjalan ke Hudaibiyyah beliau melihat dalam mimpinya 

seraya bersama para sahabat memasuki kota Mekah dengan aman mereka melakukan 

thawaf, mencukur rambut kepala dan mengguntingnya lalu Nabi SAW mengabarkan 

mimpinya kepada para sahabat maka bergembiralah mereka. Maka terbuktilah mimpi 

Nabi SAW itu pada tahun ketujuh yaitu satu tahun setelah ayat ini turun (Abdul Hadi, 

2001: 28). Ini merupakan kabar gembira kepada Nabi SAW melalui mimpi yang 

melahirkan keyakinan dan semangat dalam perjuangan beliau. Sehingga dapat 

diketahui bahwa implikasi mimpi bagi mental adalah sebagai janji sebuah 

kemenangan dan kesuksesan. 

Ayat Ketujuh: Surah al-Anfal ayat 43. “Ketika Allah menampakkan mereka 

kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah 

memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi 

gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi 

Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi 

hati”. 

Pada ayat ini Allah Swt memperlihatkan hal terbalik dengan kenyataan dimana 

jumlah musuh yang banyak diperlihatkan sedikit oleh Allah, maka penglihatan itu 

menghilangkan kegentaran tentara Muslim yang berjuang bersama-sama Nabi SAW. 

Seperti yang diketahui bahwa dalam perang selain peralatan dan strategi hal lain yang 

tidak boleh terlupakan adalah mental diri seorang prajurit. At-Ṭabarī mengatakan 

bahwa mimpi Nabi SAW itu menjadi keberanian mereka menghadapi musuh dan 

menghilangkan rasa takut karena kelemahan mereka. Selanjutnya dijelaskan alasan 

mimpi Nabi yaitu kalau saja Allah memperlihatkan kepadanya musuh itu berjumlah 

banyak tentulah para sahabat akan gagal, takut dan tidak sanggup memerangi kaum 

kafir. Tentu pula akan terjadi perselisihan di antara mereka mengenai perang, karena 

di antara mereka ada yang kuat iman dan tekadnya sehingga mereka menta’ati Allah 

dan Rasul-Nya lalu berperang. Ada pula yang lemah untuk berperang (Al-Marāghī, 

1993: 9). 

Allah Swt mengajarkan Rasulnya dan umat Islam bagaimana cara 

mempersiapkan diri untuk menghadapi perang, maka Allah memperlihatkan kepada 

Nabi SAW jumlah sedikit tentara kafir dengan tujuan agar mereka yakin akan menang 

 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

melawan kaum kafir tersebut maka Nabi SAW melihat dalam tidurnya bahwa tentara 

kafir tidaklah banyak sebagaimana mereka juga melihat tentara muslim berjumlah 

sedikit agar masing-masing merasa yakin akan mendapati kemenangan, kalau tidak 

demikian maka perang tidak akan berlangsung (Mutawallī, t.th: 4796). Dalam hal ini 

dapat diketahui satu implikasi mimpi yaitu untuk menghilangkan kecemasan dan 

kekhawatiran serta menimbulkan percaya diri yang tinggi dan menumbuhkan spirit. 

Secara lebih khusus, pemaknaan mimpi baik (kabar gembira dari Allah Swt) 

yang tercantum dalam redaksi hadis di atas dan implikasinya terhadap pendidikan 

mental dapat penulis jabarkan sebagai berikut :  

Pertama, Implikasi mimpi terhadap pendidikan mental adalah mimpi 

berfungsi sebagai sarana penghubung untuk pewahyuan dan sarana komunikasi 

Tuhan dengan orang-orang pilihan-Nya dalam bentuk ilham (lihat QS. Yunus (10): 62-

64). Wahyu ataupun ilham merupakan makna-makna yang berada pada dunia makna. 

Dunia makna posisinya lebih tinggi dari dunia inderawi. Makna-makna hanya dapat 

teraktualisasikan secara konkret dalam dunia inderawi melalui perantara yaitu dunia 

imajinasi di mana mimpi berada. Di sinilah, menurut Ibnu ‘Arābī, mengapa awal 

pewahyuan diberikan dalam bentuk mimpi (Ibnu ‘Arābī, 1972: 375). Al-Ghazālī 

menegaskan bahwa aktualisasi dari makna-makna tersebut melalui salah satu pintu 

jiwa. Karena jiwa di mana dunia imajinasi berada memiliki dua pintu, satu pintu 

eksternal ke dunia materi dan satu pintu internal menuju ke dunia immateri yang 

merupakan pintu ilham dan pewahyuan (Al-Ghazālī, 1989: 23 dan 29). 

Kedua, Implikasi mimpi terhadap pendidikan mental adalah mimpi sebagai 

sarana untuk menampakkan ilmu dan pengetahuan yang tersembunyi dalam jiwa. 

Ilmu dan pengetahuan tersebut sudah ada di dalam jiwa sejak awal, dan sangat 

berbeda baik dengan ilmu-ilmu aqliyah maupun dengan ilmu-ilmu naqliyah (Hilmī, 

t.th: 192). Sebab ilmu ‘aqliyah dan ilmu naqliyah tersebut diperoleh dari luar jiwa, 

sementara ilmu-ilmu yang tersembunyi itu diperoleh dan disandarkan jiwa dari 

substansi jiwa itu sendiri. Ia berupa limpahan (emanasi) cahaya Ilahi dan pengajaran 

langsung dari Allah (ta´līm rabbāni) tanpa perantara dengan dibukanya tabir hijab 

(kasyf) (Ziai, 1998: 137). 

Ketiga, Implikasi mimpi terhadap pendidikan mental adalah mimpi berfungsi 

sebagai instrumen dan proses perjalanan serta transformasi spiritual. Hal ini dapat 

dilihat dalam aliran-aliran tarekat yang ada, di mana mimpi merupakan barometer 

untuk mengukur perkembangan proses perjalanan dan transformasi spiritual seorang 

murid (Trimingham, 1973: 158). Bahkan dalam tarekat Halveti Jerrahi, mimpi 

merupakan sarana untuk diterima menjadi murid (Frager, 2002: 14-15). Sebab menurut 

mereka mimpi mengandung petunjuk spiritual. Bukti yang lebih otentik tentang ini 

adalah autobiografi yang ditulis oleh al-Hakim al-Tirmidzi. “Buduwwu Sya’ni” yang 

memuat mimpi-mimpi yang dialaminya dan mimpi istrinya (Al-Tirmidzī, 1965: 13-32). 

Catatan-catatan tentang mimpi itu menunjukkan bukti fungsi praktis mimpi dalam 

proses perjalanan dan transformasi spiritual al-Tirmidzi dan istrinya (Sara Sviri, 2002: 

102). 

Keempat, Implikasi mimpi terhadap pendidikan mental adalah mimpi 

berfungsi sebagai media komunikasi seseorang dengan Nabi SAW (Al-Nabhānī, t.th: 

409 dan 415) serta menandakan tingkat dan kedudukan seseorang dalam perjalanan 

ruhani. Sebagai contoh adalah mimpi Ibn al-Fārid. Dalam mimpi itu Ibn al-Fārid 

 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

bertemu dengan Nabi Saw yang menanyakan nasabnya. Ia menjawab bahwa ia 

bernasab ke Bani Sa’ad yang merupakan kabilah Halimah al-Sa´diyah yang menyusui 

Nabi. Akan tetapi Nabi menjawab: “Tidak, engkau keturunanku dan nasabmu sampai 

ke nasabku.” Ibn al-Fārid menjawab: “Tidak ya Rasulullah, saya telah menghafal nasab 

saya ini dari bapak dan kakek saya, dan mereka mengatakan bahwa saya berasal dari 

Bani Sa’ad.” Kemudian Rasulullah kembali menjawab: “Tidak, kamu adalah 

keturunanku dan nasabmu sampai ke nasabku.” Maka Ibn al-Fārid mengatakan: 

“Engkau benar ya Rasulullah, engkau benar ya Rasulullah.” Ibn al-Fārid menakwilkan 

mimpinya ini dalam beberapa syair qashidahnya dan mengatakan bahwa nasabnya itu 

bukanlah silsilah nasab kekeluargaan, akan tetapi nasab kecintaan yang menurut para 

sufi lebih mulia dan lebih tinggi dibanding nasab kekeluargaan (Hilmī, t.th: 195-196). 

Sementara dalam teori Sigmund Freud, implikasi mimpi terhadap pendidikan 

mental adalah menjadi sarana untuk menyalurkan perasaan terpendam yang tidak 

dapat diungkapkan di waktu sadar, dan menyalurkan dorongan dan hasrat itu agar 

sesuai dengan norma-norma yang berlaku, ataupun memberi gambaran mengenai 

sumber-sumber ketegangan dan sengketa batin yang mungkin saja orang 

bersangkutan sendiri tidak memahaminya (Anwar, 2002: 98-99), atau dengan kata 

lain mengkompensasi ketidakseimbangan yang terjadi dalam dialektika antara dunia 

internal dengan realitas eksternal (Arif, 2006: 16). 

Bagi Freud bahwa dengan mimpi seseorang secara tak sadar berusaha 

memenuhi hasrat dan menghilangkan ketegangan dengan menciptakan gambaran 

tentang tujuan yang diinginkan, karena di alam nyata sulit baginya untuk 

mengungkapkan kekesalan, keresahan, kemarahan, dendam, dan yang sejenisnya 

kepada obyek-obyek yang menjadi sumber kegelisahan, maka muncullah keinginan 

itu dalam bentuk mimpi. Sehingga hal ini menjadi media tersendiri bagi seseorang 

agar terhindar dari gangguan atau penyakit mental. 

Masih menurut Freud, mimpi adalah penghubung antara kondisi sadar dan 

tidak sadar. Mimpi bisa dikatakan sebagai kunci ketidaksadaran, mimpi 

melambangkan hasrat ketidaksadaran. Mimpi merupakan penggambaran dari hal-hal 

yang tidak bisa dilakukan di kehidupan nyata, dan mimpi juga bisa menjelaskan 

pemecahan masalah. 

Setelah pemaparan beberapa gagasan di atas, maka implikasi mimpi terhadap 

pendidikan mental dapat dikatakan positif, dalam arti mimpi baik yang dialami 

seseorang bisa menjadi media pendidikan bagi mentalnya, karena melalui mimpi 

tersebut seseorang merasa mendapatkan petunjuk, teguran, peringatan, dan 

keinginan atau perasaan yang belum terealisasikan di alam sadarnya bisa terwakilkan 

dalam mimpinya itu. Namun dengan syarat mimpi-mimpi tersebut harus 

diinterpretasikan dengan pikiran positif seperti yang telah dikemukakan dalam hadis 

maupun teori Sigmund Freud. 

2. Implikasi Negatif Mimpi terhadap Pendidikan Mental 

Selanjutnya implikasi mimpi terhadap pendidikan mental yang dapat 

dikatakan negatif, dalam arti mimpi tersebut justru membuat seseorang menjadi 

kacau, takut, kehilangan atau dampak-dampak lainnya yang berkonotasi negatif, yang 

pada akhirnya akan membuat mental seseorang mengalami gangguan atau penyakit 

mental. 

 

 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

Mimpi yang berimplikasi negatif ini tercantum dalam hadis pada bagian mimpi 

kategori al-Ru’yā al-Nafsiyah (bisikan jiwa) dan al-Ru’yā al-Shaiṭāniyah (mimpi dari 

setan). Kedua jenis mimpi ini disebut sebagai al-Hulm. Sementara dalam teori 

Sigmund Freud, karena ia tidak membagi mimpi, maka mimpi yang berimplikasi 

negatif ini sebenarnya hanya terjadi tergantung pada bagaimana pemikiran seseorang 

tentang mimpi. Pemikiran yang menganggap bahwa mimpi merupakan suatu 

pertanda/ramalan yang mempengaruhi hidup seseorang, sehingga hal-hal yang 

dilakukan di dunia nyata akan dikaitkan atas dasar mimpi. Ini tentu dapat 

mempengaruhi kehidupan orang tersebut, karena mimpi terkadang tidak selalu 

indah. 

Dalam hadis, pada al-Ru’yā al-Shaiṭāniyah merupakan mimpi yang bercampur 

tangan jin-jin jahat pada saat seseorang bermimpi (Philiph, 2006: 27). Jin mampu 

mengusik dan memasukkan pikiran-pikiran jahat dan jelek ke dalam otak manusia 

dalam keadaan sadar, apalagi dalam keadaan tidak sadar dan tertidur. Campur tangan 

setan dalam mimpi manusia bertujuan menyesatkan, dan menggoda manusia untuk 

ingkar dari Tuhan. Mimpi buruk juga sering menghadirkan rasa takut mencengkram 

dan sedih, namun hal ini mendorong timbulnya keadaan lemahnya jiwa dan 

menyebabkan seseorang lebih mendapat serangan yang lebih parah lagi. 

Mimpi buruk juga sering terjadi yang berisi bisikan-bisikan nafsu dan mimpi-

mimpi yang tidak sinkron atau tidak dapat dipahami bahkan oleh pemimpin itu 

sendiri. seperti sabda Nabi SAW: ”Jangan sampai salah seorang diantara kalian 

menceritakan tipu muslihat setan yang terjadi dalam tidur kalian”. Di antaranya mimpi 

yang diciptakan setan, berupa halusinasi dan berhubungan intim atau mimpi 

menakutkan, mengerikan, mengejutkan, mimpi hantu, mimpi kecacatan, dan mimpi 

perbuatan hasud (Philiph, 2006: 34). 

Gambaran mimpi buruk yang sesuai dengan gambaran ilmiah bersumber 

selain keadaan mimpi dalam tidur REM (Rapid Eye movement) keadaan mimpi yang 

tidak diketahui asalnya yang hadir secara spontan karena penolakan pemahaman 

terkait dunia ruh. Para ilmuwan berupaya memahami dan tetap berspekulasi bahwa 

mimpi buruk salah satu kejadian yang bersumber dari kekuatan jahat dari alam ruh 

sebagai gambaran dari hadis di atas (Mustofa, 2011: 30). 

Berdasarkan penjelasan di atas maka penulis memahami bahwa setan adalah 

sebuah sifat pembangkangan yang dilakukan oleh jin dan manusia terhadap ketetapan 

Allah. Akan tetapi yang dimaksud oleh hadis adalah mimpi yang berasal dari setan jin 

bukan setan dari golongan manusia. Setan adalah musuh manusia yang tidak akan 

lelah untuk mengganggu manusia di setiap waktu dan tempat. Sebagaimana 

pernyataan setan yang diabadikan dalam Surat al-A‘raf (7) ayat 17. 

Nabi Saw juga menjelaskan bahwa setan berjalan di dalam tubuh manusia 

melalui aliran darahnya, sebagaimana Hadis riwayat dari Anas bin Malik dalam kitab 

“al-Musnad Shahīh” yang artinya;  “Pada suatu ketika Nabi SAW sedang berdua dengan 

salah seorang istri beliau. Kebetulan lewat ke dekat beliau seorang laki-laki. Orang itu 

dipanggil oleh Nabi saw. maka dia datang menemui beliau. Lalu Nabi SAW berkata 

kepadanya; 'Hai, Fulan! Ini isteriku, si Fulanah.' orang itu menjawab; 'Ya, Rasulullah! 

Aku tidak menduga-duga dengan Anda.' Beliau bersabda: 'Sesungguhnya setan berjalan 

dalam tubuh manusia melalui aliran darah” (Muslim bin al-Hajjaj, t.th: 1712). 

 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

Baik al-Qur’an maupun hadis, keduanya menunjukkan bahwa setan selalu 

mendekati manusia untuk melancarkan gangguannya dengan berbagai cara. Jika 

mereka tidak mampu mengganggu manusia di alam sadaranya, maka mereka akan 

mengganggu manusia di alam mimpinya karena sekuat apapun manusia, pasti akan 

sangat lemah ketika tertidur. Al-Hakim berkata bahwa setan selalu berusaha 

menguasai manusia dengan segala cara, karena dendam dan kebenciannya. Berusaha 

mengusik ketenangan manusia, dalam tidurpun dia mengganggu dengan mimpi-

mimpi aneh dan menyeramkan. Ini terjadi karena kesalahan dan kelalaian manusia 

itu sendiri (Al-‘Awdi, 1990: 14). Allah Swt berfirman dalam Surat al-Zukhruf (43) ayat 

36 yang artinya:  “Barang Siapa yang berpaling dari pengajaran Rabb yang Maha 

Pemurah (al-Qur’an). Kami biarkan setan (menyesatkan) dan menjadi teman 

karibnya”. Ayat tersebut menunjukkan bahwa setan memiliki kebebasan untuk terus 

berupaya mengganggu dan membuat manusia tersesat. Sekalipun ayat tersebut tidak 

menyebutkan secara spesifik bahwa setan akan mengganggu manusia melalui mimpi, 

tetapi pada ayat ke-17 surat al-A’raf yang telah disebutkan sebelumnya menunjukkan 

bahwa melalui mimpi termasuk salah satu cara setan mengganggu manusia.  

Sementara pada kategori mimpi al-Ru’yā al-Nafsiyah (bisikan jiwa) merupakan 

mimpi yang menggambarkan refleksi pikiran atau perbuatan manusia yang dilakukan 

ketika dalam keadaan sadar disampaikan pada hatinya lalu dia melihat perilaku 

tersebut di dalam mimpi (Ibnu Sīrīn, 2004: 12). Agus Mustofa mengatakan bahwa 

mimpi diisi oleh keinginan dan perasaan yang tersimpan dalam bentuk data, sebagai 

efek dari peristiwa yang telah menumpuk di masa lalu atau suatu kejadian yang belum 

pernah terjadi sebelumnya namun bisa saja terjadi dalam mimpi sesuai dengan 

tuntutan alam bawah sadar (Mustofa, 2011: 30). 

Sahl bin Rifa’ mengatakan bahwa al-Ru’yā al-Nafsiyah adalah mimpi dari sebab 

apa yang terjadi dalam hidupnya (Al-’Utaibi, 2009: 111). Al-Usamah berkata bahwa al-

Ru’yā al-Nafsiyah seperti orang yang menaruh perhatian terhadap sesuatu pada saat 

terjaganya, lalu ia melihat hal tersebut di dalam tidurnya (Al-Rayyis, 1993: 45). ‘Abd 

al-‘Aziz bin Bazi berkata bahwa al-Ru’yā al-Nafsiyah bukan sesuatu yang baik ataupun 

buruk, dan tidak mengapa untuk menceritakannya (Al-’Utaibi, 2009: 112). 

Berdasarkan paparan di atas, penulis memahami bahwa al-Ru’yā al-Nafsiyah 

adalah mimpi yang dilihat seseorang berdasarkan keadaannya ketika menjelang tidur, 

jika pada sebelum tidurnya memikirkan sesuatu maka kemungkinan ia akan 

melihatnya ketika tidur, atau dapat juga disebabkan oleh kekhawatiran, angan-angan, 

harapan ataupun keinginan yang ada dalam hatinya (bisikan hati). 

Kategori mimpi ini biasanya merupakan hasil pikiran manusia. Mimpi yang 

berasal dari khayalan yang tidak utuh yang di konsep dari beberapa pengalaman 

manusia dalam keadaan sadar. Seperti Halnya yang dikatakan al-Baghāwī bahwa 

mimpi adalah cerminan dari alam sadar manusia (Philiph, 2006: 50). Refleksi mental 

hanya bagian dari fungsi biologis otak, karena tidak semua orang mencari penafsiran 

dari mimpi tersebut. Mimpi ini lebih dianggap anugerah dari Allah meski secara 

ilmiah menunjukkan bahwa mimpi tersebut lebih baik dari pada tidur tidak 

bermimpi. 

Dalam teori Freud dikatakan bahwa mimpi adalah pengalaman psikologis yang 

terbawa ke alam tidur. Terdapat beberapa asumsi bahwa adanya mimpi diakibatkan 

beberapa rangsangan fisik, maupun rangsangan mental. Di antaranya: (1). Eksternal 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

(tujuan) merangsang sensorik, yang mana setiap manusia tidak bisa melindungi organ 

sensoriknya dan tidak pula dengan mudah menghapus rangsangan dari organ 

sensorik, sehingga setiap ada rangsangan yang kuat maka dirinya harus membuktikan 

bahwa pikirannya tetap selalu berkomunikasi dengan dunia luar meski dalam keadaan 

tertidur. (2). Internal (subjektif) rangsangan sensorik, bagian yang tinggi yang 

dimainkan dalam ilusi mimpi dengan sensasi-sensasi subjektif dari penglihatan dan 

pendengaran sensori (3). Rangsangan Fisik (organik) internal, letaknya yang sejajar 

dengan rangsangan eksternal dari rasa sakit dan sensasi. Asal-usul gambar mimpi dari 

sensasi fisik. (4). Sumber rangsangan murni psikis; (Freud, 2015: 32). Jadi sebuah 

pengalaman hidup dan emosi yang diterima otak meski tidak diterima secara sadar 

oleh otak adalah salah satu pengaruh akan adanya mimpi. Karena keadaan otak, emosi 

dan hati sangatlah erat kaitannya dalam psikologi mimpi. 

Menurut Ibnu Sīrīn mimpi terjadi atas tiga keadaan yaitu: kadang-kadang 

seseorang bermimpi tentang kebaikan atau keburukan yang baru saja terjadi atau 

berlalu, yang telah lama berlalu, yang tengah berlangsung, yang akan terjadi, dan yang 

kelak akan terjadi (Ibnu Sīrīn, 2004: 35).  Di sini mimpi menjadi unsur yang tidak 

mampu direka-reka sedikitpun (Ibnu Sīrīn, 2004: 15). 

Dari pandangan hadis dan teori Freud tersebut, mimpi akan menjadi masalah 

baru bagi mental seseorang jika mimpi itu hanya dimaknai dengan konotasi negatif. 

Karena dalam hadis terdapat beberapa cara agar mendapatkan mimpi yang baik dan 

menjadi pendidikan mental bagi dirinya sendiri. Sementara bagi Freud, mimpi adalah 

ekspresi sebenarnya dari keinginan-keinginan yang terlarang diungkapkan dalam 

keadaan terjaga. Misalnya seorang siswa yang sering dipukuli oleh teman-temannya 

bermimpi membalas pukulan atau bahkan membunuh teman-temannya itu. Freud 

mengidentifikasi mimpi sebagai hambatan aktivitas mental tak sadar dalam 

mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan individu, beriringan dengan tindakan psikis 

yang salah, pembicaraan, maupun lelucon. Freud juga menjelaskan bahwa analisis 

mimpi perlu dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan nyata. Karena 

sebagian besar cerminan interpretasi mimpi berisi ketakutan, keinginan, dan emosi 

yang ada dalam pikiran bawah sadar. 

Pemahaman terhadap hakikat mimpi tersebut berimplikasi kepada 

pemahaman terhadap fungsi dan substansi mimpi. Implikasi mimpi menurut Hadis 

mempunyai makna yang lebih mulia dari hanya sebagai bunga tidur. Mimpi dapat 

berfungsi sebagai sarana Tuhan memberikan pendidikan mental, baik berupa 

petunjuk, teguran, peringatan, cobaan, dan lain sebagainya. Barometer implikasi 

mimpi terhadap pendidikan mental seseorang disesuaikan dengan tingkatan-

tingkatan spiritualnya. Saat jiwanya berada pada tahapan jiwa ammārah, substansi 

yang muncul adalah mimpi-mimpi yang melambangkan kecenderungan pada 

kejahatan. Pada saat jiwa berada pada tahapan lawwāmah, maka substansi yang 

muncul adalah perlambangan dari kejahatan tersendiri tanpa menjerumuskan orang 

lain. Namun saat jiwa berada pada tahapan mulhamah, maka mimpi-mimpi yang 

muncul dapat berupa topografis alam dan tumbuhan-tumbuhan. Dan pada saat jiwa 

telah mencapai tahapan muthma’innah maka jiwa akan didominasi oleh sifat 

kestabilan yang memiliki karakter kemanusiaan, kemuliaan, kelembutan, serta 

kepatuhan, dan mimpi-mimpi yang dapat menyehatkan jiwa dan mental. 

 

 

 

Interpretasi Mimpi dalam Perspektif Hadits dan Teori Sigmund Freud serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Mental 

Masrukhin, Ilman Nafi'a, Sumanta 

KESIMPULAN 

Mimpi merupakan kejadian yang dialami oleh semua manusia dalam kondisi 

pra sadar dan tidak sadar, yaitu tidur. Namun ketika tidur jiwa tidak tidur secara 

penuh (jiwa beraktivitas). Mimpi merupakan aktivitas somatik dan rohaniah serta alat 

psikis jiwa. Mimpi merupakan salah satu aktivitas alam bawah sadar yang melibatkan 

penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra-indra lain dalam tidur. 

Terjadinya mimpi disebabkan oleh reaksi pikiran yang terjaga antara sadar dan tidak 

sadar. Saat terlelap, kita mengalami beberapa tingkatan tidur. Pada tahap Rapid Eye 

Movement (REM) seseorang akan mulai bermimpi. 

Metode simbolik (nama benda) adalah metode untuk menafsirkan mimpi. 

Karena mimpi berisi sebuah gambaran atau simbol. Dalam penggunaannya, metode 

simbolik dikaitkan dengan keadaan jiwa dan fisik manusia, yang merupakan penyebab 

dari terjadinya mimpi. 

Implikasi terhadap pendidikan mental. Implikasi positif mimpi terhadap 

pendidikan mental meliputi : (1) Meningkatkan kemampuan otak, (2) Sebagai 

Inspirasi, (3) luapan emosi, dan (4) membantu memecahkan masalah, (5) Sebagai 

petunjuk, peringatan, teguran, ujian dan janji. Sementara mimpi yang berimplikasi 

negatif terhadap pendidikan mental hanya berlaku dan terjadi tergantung pada 

keadaan jiwa dan fisik seseorang dan bagaimana ia menyikapinya. Jika jiwa dan 

pikirannya tenang serta kondisi fisiknya stabil, maka akan mengalami mimpi baik. 

Begitupun sebaliknya, apabila jiwa dan pikirannya sedang kalut serta kondisi fisik 

lemah maka yang terjadi adalah mimpi buruk, yang berakibat langsung bagi mental 

dan jiwanya.