pembunuhan masal 10

 


menyiapkan rencana untuk menghadapi 

peristiwa yang mungkin akan terjadi. Sepak terjang Angkatan Darat 

dalam masa pasca-G-30-S tidak bisa diterangkan sebagai serangkaian 

jawaban-jawaban improvisasi semata-mata.

Para perwira militer dalam G-30-S yang berkumpul di Halim 

(Untung, Latief, Soejono) sudah siap menghentikan operasi sebelum 

mereka mengetahui tentang rencana serangan balasan Suharto. Sukarno 


 

sudah memerintahkan mereka untuk mundur saat hari menjelang siang. 

Berbeda dengan Aidit dan Sjam, mereka bersedia menaati perintah 

presiden. Beberapa saat menjelang siang Untung menandatangani 

dokumen-dokumen yang menyerukan dibentuknya Dewan Revolusi 

Indonesia, tapi ia sendiri memandang keikutsertaan dirinya di dalam 

G-30-S sudah selesai. Bahkan saat  ia, Latief, dan Soejono mengeta-

hui Suharto sedang merencanakan serangan balik, mereka tidak meng-

organisasi pasukan untuk membela diri. Supardjo bersikukuh bahwa 

mereka harus melawan Suharto dan Nasution. Ia berusaha menyusun 

kembali pasukan G-30-S yang ada di Lapangan Merdeka dan bekerja 

sama dengan pasukan udara Omar Dani. namun  Supardjo mendapati 

pimpinan inti aksi ini tidak tanggap, bingung, dan lelah. Para perwira 

sudah marah kepada Sjam sebab  mengkhianati tujuan semula mereka 

dengan pengumumannya melalui radio tentang pendemisioneran kabinet 

Sukarno. Mereka belum pernah berunding untuk mengadakan kup. Di 

tengah-tengah keadaan genting demikian Latief berbicara panjang lebar 

tentang tetek-bengek yang tidak perlu. Untung dan Latief mengharap-

kan teman lama mereka, Suharto, akan mengambil sikap netral atau 

tampil mendukung mereka. saat  pada siang hari mereka mendengar 

tentang tindakan-tindakan Suharto, mereka menduga ia mempunyai tipu 

muslihat yang dirahasiakan, bahwa sebenarnya ia tidak akan menyerang 

G-30-S.

Begitu pasukan Suharto merebut kembali Lapangan Merdeka dan 

stasiun RRI pada sekitar pukul 18.00 dan sekitar satu jam kemudian 

ia membacakan pengumuman yang menyatakan G-30-S sebagai kon-

trarevolusioner, lima pimpinan inti G-30-S menyadari bahwa mereka 

telah dikalahkan di Jakarta. Dalam keadaan putus asa dan bingung oleh 

semua penyimpangan dari rencana semula, mereka tidak bisa mengambil 

keputusan tentang strategi untuk menghadapi Suharto. Mereka tidak 

mendesak perwira-perwira Angkatan Udara di Halim untuk membom 

Kostrad pada malam hari 1 Oktober. Mereka tidak memakai  

Batalyon 454 yang berdiri di sekitar jalan-jalan di selatan Halim untuk 

mempertahankan diri terhadap pasukan RPKAD yang sedang mendekat 

pada pagi 2 Oktober. Komandan batalyon, atas prakarsa sendiri, hampir 

terlibat dalam pertempuran dengan pasukan RPKAD, tapi mengundur-

kan diri memenuhi permintaan para perwira AURI yang tidak meng-

ingini adanya pertempuran di sekitar pangkalan udara. Begitu Batalyon 

454 bubar pagi itu, G-30-S tidak lagi mempunyai sisa kelompok pasukan 

yang cukup besar.

Satu-satunya harapan tinggal terletak di daerah-daerah. Jawa Tengah 

merupakan basis PKI yang paling kuat dan tempat Biro Chusus menjalin 

jaringan paling luas di kalangan militer. sebab  alasan inilah Jawa Tengah 

merupakan satu-satunya provinsi tempat G-30-S mewujudkan diri. 

Aidit dan Sjam, yang telah berketetapan untuk meneruskan G-30-S 

memutuskan bahwa Aidit harus terbang ke Jawa Tengah dan memimpin 

perlawanan dari sana. Malam hari itu mereka meminta Supardjo, yang 

berhubungan baik dengan Omar Dani, agar meminta bantuan Dani 

untuk menerbangkan Aidit keluar Jakarta. Dani menyiapkan sebuah 

pesawat untuk Aidit, dan satu pesawat lagi untuknya sendiri. Walaupun 

Dani tidak ikut bertanggung jawab atas G-30-S, tapi pernyataan du-

kungannya terhadap gerakan ini, yang dirancang sebelum pengumuman 

pembubaran kabinet Sukarno, telanjur disiarkan melalui radio. Ia lari 

untuk melindungi dirinya.

Begitu Aidit tiba di Yogyakarta, ia tidak tahu harus pergi ke mana 

dan menemui siapa. Tindakan ini tidak ada dalam rencana semula. Ia 

akhirnya tidak bisa mengorganisasikan gerakan perlawanan. Di Jawa 

Tengah sayap militer G-30-S juga hancur dengan cepat, dan akibatnya, 

sisi sipil gerakan ini menjadi ragu-ragu untuk secara terbuka menyatakan 

dukungannya. Provinsi ini secara umum tenang sejak 3 Oktober sampai 

kedatangan pasukan RPKAD di ibu kota provinsi, Semarang, pada 18 

Oktober. Aidit tetap berada di bawah tanah, menunggu Sukarno mengu-

payakan agar Angkatan Darat mengikuti perintahnya dan menghentikan 

penindasannya terhadap PKI. Aidit tidak mengorganisasi atau memerin-

tahkan perlawanan terhadap Angkatan Darat. Perang mati-matian antara 

PKI dan Angkatan Darat bukan hanya akan mengakibatkan kematian 

banyak pendukung partai, tapi juga akan mempersulit Sukarno mene-

gaskan kembali wewenangnya terhadap Suharto. Kehancuran G-30-S 

memaksa Aidit memutar haluan. Pada sore hari 1 Oktober ia mengira 

G-30-S akan meluas dan menjadi cukup kuat untuk menata kembali 

seluruh negara. Ia menyetujui pengumuman radio yang mendemi-

sionerkan kabinet Sukarno. Tapi begitu G-30-S hancur, ia kembali ke 

strategi lama partai, yaitu bergantung kepada Sukarno untuk melindungi 


 

partai.

Menghilangnya Aidit dari Jakarta dan strategi yang mendadak 

berbalik, serta sikap Angkatan Darat di bawah pimpinan Suharto yang 

agresif sangat membingungkan pimpinan partai di Jakarta. Kekuatan 

partai selama ini terletak pada hierarkinya yang ketat, dengan perintah-

perintah dan informasi dari atas ke bawah. Bahkan anggota-anggota inti 

Politbiro (misalnya Lukman, Njoto, dan Sudisman) kelabakan oleh suatu 

aksi yang – berlawanan dengan harapan mereka – mengumumkan pen-

demisioneran kabinet Sukarno, lalu tumbang dengan cepat. Dengan PKI 

yang tidak siap dan pasif, tentara Suharto tak mengalami kesulitan yang 

berarti untuk menyerangnya. Seandainya saja PKI memutuskan untuk 

melawan, partai ini bisa dengan serius menghalangi tentara Suharto. 

Buruh kereta api bisa menyabot kereta api yang mengangkut pasukan 

ke Jawa Tengah; montir-montir anggota serikat buruh di pangkalan 

kendaraan bermotor militer bisa menyabot jip, truk, dan tank; kaum 

tani bisa menggali lubang-lubang besar di jalan-jalan untuk menghadang 

gerak pasukan; para perwira dan prajurit simpatisan partai di kalangan 

militer bisa menyerang kelompok loyalis Suharto; pemuda-pemuda 

anggota Pemuda Rakjat bisa memerangi pemuda-pemuda antikomunis 

yang digalang militer. Namun partai tidak melawan ofensif Angkatan 

Darat. Banyak orang yang terkait dengan PKI atau organisasi-organi-

sasi sayap kiri dengan sukarela melapor ke kantor-kantor atau pos-pos 

militer dan polisi saat  mereka dipanggil dalam Oktober-November 

1965, dengan keyakinan akan dibebaskan kembali sesudah beberapa 

saat lamanya mereka diperiksa. sebab  merasa tidak berbuat apa pun 

untuk membantu G-30-S, mereka tidak menduga akan ditahan selama 

waktu tak terbatas tanpa dakwaan dan dituduh memainkan peranan 

dalam rencana besar untuk melakukan pembunuhan massal.13 Huru-

hara itu diduga ibarat badai yang akan segera berlalu dan membiarkan 

kewenangan Sukarno tetap utuh.

PURNAKATA

Orang boleh memandang pembunuhan politik terhadap PKI yang diatur 

Angkatan Darat merupakan hasil dari pertikaian amoral untuk mem-

perebutkan kekuasaan negara: jika   G-30-S berhasil dan PKI menang, 

Angkatan Darat dan orang-orang sipil nonkomunis yang memihak 

Angkatan Darat akan mengalami penderitaan yang sama. Kedua belah 

pihak bisa dilihat sebagai para petinju. Bahasa yang digunakan saat itu 

pun memperlihatkan analogi, misalnya: “memukul atau dipukul” dan 

“pukulan yang menentukan.” Koran PKI menggambarkan G-30-S 

sebagai tinju yang menghantam wajah Dewan Jenderal. sebab  orang 

tidak akan merasa kasihan kepada petinju yang terjungkal, maka ia se-

harusnya, demikian tampaknya, juga tidak akan merasa kasihan kepada 

anggota-anggota PKI yang ditahan dan yang dibantai oleh Angkatan 

Darat. Pandangan seperti ini di Indonesia sudah menjadi lumrah di 

kalangan orang-orang yang mendapat keuntungan dari rezim Suharto. 

Korban sebenarnya sama sekali bukan korban. Mereka orang-orang 

kalah yang akan berbuat kekerasan yang sama atau bahkan lebih kejam 

terhadap lawan mereka seandainya mereka memperoleh kesempatan.

Pandangan serupa ini keliru menafsirkan pembunuhan politik 

antikomunis. G-30-S diorganisasi sebagai pemberontakan terhadap 

pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Seandainya pasukan Suharto menang-

gapi G-30-S dengan setimpal, seharusnya mereka hanya menangkap 

dua belas orang anggota Politbiro PKI, begitu juga tokoh-tokoh militer 

dan sipil yang terlibat di dalam G-30-S. Tapi bahwa Angkatan Darat 

memburu setiap anggota PKI dan setiap anggota ormas yang terkait 

dengan PKI memperlihatkan bahwa tanggapan Angkatan Darat tidak 

ditetapkan oleh kebutuhan untuk menindas G-30-S saja. Maka, kita 

berhadapan dengan seorang petinju yang tidak sekadar memukul knock-

out lawannya di atas gelanggang, tapi meneruskan serangannya kepada 

semua penggemar petinju yang kalah yang ada di stadion, kemudian 

mengejar-ngejar serta menyerang semua penggemar petinju lawannya 

di seluruh penjuru tanah air, bahkan terhadap mereka yang tinggal jauh 

dan tidak pernah mendengar tentang pertandingan itu sama sekali.

Bagi Suharto identitas para organisator G-30-S yang sebenarnya 

tidak penting. Dia dan para perwira Angkatan Darat kliknya mulai 

menyerang PKI dalam empat hari sesudah kejadian, bahkan sebelum 

mereka mendapat bukti bahwa PKI memimpin G-30-S. Bukan masalah 

bagi Suharto dan para opsirnya bila mereka tidak pernah menemukan 

bukti bahwa tidak semua orang, kecuali Aidit dan sejumlah kecil 


 

kawan-kawan kepercayaannya (seperti diakui Sudisman dan Sjam pada 

1967), sedikit banyak terlibat. Angkatan Darat mulai merekayasa bukti 

tentang PKI pada awal Oktober 1965. G-30-S merupakan dalih yang 

tepat sekali untuk melaksanakan rencana Angkatan Darat yang sudah 

ada sebelumnya untuk merebut kekuasaan. Jenderal-jenderal Angkatan 

Darat itu sudah berketetapan hati bahwa perampasan kekuasaan harus 

menyasar PKI sebagai musuh sambil tetap berpura-pura melindungi 

Presiden Sukarno.

Tragedi sejarah Indonesia modern tidak hanya terletak pada pem-

bunuhan massal 1965-66 yang diorganisasi Angkatan Darat saja, tapi 

juga pada bertakhtanya para pembunuh, yang memandang pembunuhan 

massal dan operasi-operasi perang urat syaraf sebagai cara-cara sah dan 

wajar dalam mengelola tata pemerintahan. Sebuah rezim yang meng-

absahkan dirinya dengan mengacu kepada sebuah kuburan massal di 

Lubang Buaya dan bersumpah “peristiwa sematjam ini tidak terulang 

lagi” (seperti tertera di Monumen Pancasila Sakti) mewariskan kuburan 

massal tak terbilang dari satu ujung tanah air ke ujung lainnya, dari 

Aceh di tepi barat sampai Papua di tepi timur. Pendudukan Timor Leste 

dari 1975 sampai 1999 telah meninggalkan puluhan ribu, jika bukan 

ratusan ribu, korban mati, kebanyakan terkubur tanpa nama. Setiap 

kuburan massal di Nusantara menandai pelaksanaan kekuasaan negara 

yang sewenang-wenang, tidak terbuka, dan rahasia, serta mencemooh 

budaya politik era-Suharto: hanya orang-orang sipil yang melakukan 

kekejaman dan hanya tentara yang menjaga kesatuan negeri ini. Pengera-

matan peristiwa yang relatif kecil (G-30-S) dan penghapusan peristiwa 

bersejarah tingkat dunia (pembunuhan massal 1965-66) telah mengha-

langi empati terhadap korban, seperti keluarga para perempuan dan laki-

laki yang hilang. Sementara berdiri sebuah monumen di dekat sumur, 

tempat tentara G-30-S membuang jasad tujuh perwira Angkatan Darat 

pada 1 Oktober 1965, tidak ada satu monumen pun menandai kuburan-

kuburan massal yang menyimpan ratusan ribu orang yang telah dibunuh 

atas nama penumpasan G-30-S. Begitu sedikit yang diketahui dengan 

rinci atau kepastian tentang jumlah orang yang mati, nama mereka, 

lokasi kuburan massal, cara bagaimana mereka dibantai, dan jati diri 

para pelaku. Di luar Lubang Buaya tersimpan misteri lebih banyak dan 

lebih ruwet lagi. 


BEBERAPA PENDAPAT JANG MEMPENGARUHI 

GAGALNJA “G-30-S” DIPANDANG DARI SUDUT MILITER 

(1966)

Brigadir Jenderal Supardjo


Dokumen ini merupakan bagian dari berkas rekaman persidangan 

Mahmilub untuk Supardjo pada 1967. Petugas-petugas militer mem-

peroleh salinan dari dokumen asli mungkin saat  mereka menangkap 

Supardjo pada Januari 1967 atau saat  mereka menyita dokumen-

dokumen yang diselundupkan ke dalam penjara. Anggota staf Mahmilub 

menyalin dari aslinya dengan mengetik. Satu orang yang membaca 

dokumen asli pada akhir 1960-an saat berada di dalam penjara bersama 

Supardjo yaitu  Heru Atmodjo. Ia menegaskan bahwa salinan yang saya 

perlihatkan kepadanya sama dengan yang pernah ia baca. saat  saya 

memperlihatkan salinan yang sama kepada salah satu putra Supardjo, 

Sugiarto, ia mengenali gaya penulisan ayahnya dan argumen-argumen 

yang dikemukakan ayahnya kepada keluarganya secara lisan. 

Pengetik di Mahmilub kemungkinan sudah membuat kesalahan-

kesalahan dalam proses penyalinan. Ia juga mungkin memberi 

terjemahan bahasa Indonesia dalam tanda kurung biasa untuk istilah-

istilah Belanda. Semua komentar dalam tanda kurung siku dari saya.  

Motto: Dalam kalah terkandung unsur2 menang!

(Falsafah “Satu petjah djadi dua.”)

Kawan pimpinan, 

Kami berada di “Gerakan 30 September” selama satu hari 

sebelum peristiwa, “pada waktu peristiwa berlangsung” dan “satu hari 

sesudah  peristiwa berlangsung.”1 Dibanding dengan seluruh persiapan, 

waktu jang kami alami yaitu  sangat sedikit. Walaupun jang kami 

ketahui yaitu  hanja pengalaman selama tiga hari sadja, namun yaitu  

pengalaman saat2 jang sangat menentukan. Saat2 dimana bedil mulai 

berbitjara dan persoalan2 militer dapat menentukan kalah menangnja 

aksi2 selandjutnja. Dengan ini kami sampaikan beberapa pendapat, 

dipandang dari sudut militer tentang kekeliruan2 jang telah dilakukan, 

guna melengkapi bahan2 analisa setjara menjeluruh oleh pimpinan 

dalam rangka menelaah peristiwa “G-30-S.”2 

Tjara menguraikannja mula2 kami utarakan fakta2 peristiwa 

jang kami lihat dan alami, kemudian kami sampaikan pendapat kami 

atas fakta2 ini .

Fakta2 pada malam pertama sebelum aksi dimulai:

1. Kami djumpai kawan2 kelompok pimpinan militer pada malam 

sebelum aksi dimulai, dalam keadaan sangat letih disebabkan kurang 

tidur. Misalnja: kawan Untung tiga hari ber-turut2 mengikuti rapat2 

Bung Karno di Senajan dalam tugas pengamanan.3

2. Waktu laporan2 masuk, tentang pasukan sendiri dari daerah2, 

misalnja Bandung, ternjata mereka terpaksa melaporkan siap, 

sedangkan keadaan jang sebenarnja belum.

3. sebab  tidak ada uraian jang jelas bagaimana aksi itu akan 

dilaksanakan maka terdapat kurang kemufakatan tentang gerakan 

itu sendiri dikalangan kawan2 perwira di dalam Angkatan Darat. 

Sampai ada seorang kawan perwira jang telah ditetapkan duduk dalam 

team pimpinan pada saat jang menentukan menjatakan terang2-an 


 

mengundurkan diri.4

4. Waktu diteliti kembali ternjata kekuatan jang positip di fi hak kita 

hanja satu kompi dari Tjakrabirawa. Pada waktu itu telah timbul ke-

ragu2-an, namun  ditutup dengan sembojan “apa boleh buat, kita tidak 

bisa mundur lagi.”

5. Dengan adanja kawan perwira jang mengundurkan diri, maka 

terasa adanja prasangka dari team pimpinan terhadap kawan lain di 

dalam kelompok itu. Saran2 dan pertanjaan2 dihubungkan dengan 

pengertian tidak kemantapan dari si penanja. Misalnja, bila ada jang 

menanjakan bagaimana imbangan kekuatan, maka didjawab dengan 

nada jang menekan: “ja, Bung, kalau mau revolusi banjak jang 

mundur, namun  kalau sudah menang, banjak jang mau ikut.” Utjapan2 

lain: “kita ber-revolusi pung-pung5 kita masih muda, kalau sudah tua 

buat apa.”

6. Atjara persiapan di L.B. [Lubang Buaya] kelihatan sangat padat, 

sampai djauh malam masih belum selesai, mengenai penentuan code2 

jang berhubungan dengan pelaksanaan aksi. Penentuan dari peleton2 

jang harus menghadapi tiap2 sasaran, tidak dilakukan dengan 

teliti. Misalnja, terdjadi bahwa sasaran utama mula2 diserahkan 

pelaksanaannja kepada peleton dari pemuda2 jang baru sadja 

memegang bedil, kemudian diganti dengan peleton lain dari tentara, 

namun  ini pun bukan pasukan jang setjara mental telah dipersiapkan 

untuk tugas-tugas chusus.6

Fakta2 pada hari pelaksanaan:     

7. Berita pertama jang masuk bahwa Djenderal Nasution telah 

disergap, namun  lari. Kemudian team pimpinan kelihatan agak bingung 

dan tidak memberi  perintah2 selandjutnja.

8. Menjusul berita bahwa Djenderal Nasution bergabung dengan 

Djenderal Suharto dan Djenderal Umar di Kostrad. sesudah  menerima 

berita ini pun, pimpinan operasi tidak menarik kesimpulan apa2.

9. Masuk berita lagi bahwa pasukan sendiri dari Jon Djateng dan Jon 

Djatim tidak mendapat makanan, kemudian menjusul berita bahwa 

Jon Djatim minta makan ke Kostrad. Pendjagaan RRI ditinggalkan 

tanpa adanja instruksi.

10. Menurut rentjana, kota Djakarta dibagi dalam tiga sektor, Selatan, 

Tengah dan sektor Utara. namun  waktu sektor2 itu dihubungi, semua-

semua tidak ada di tempat (bersembunji).

11. Suasana kota mendjadi sepi dan lawan selama 12 djam dalam 

keadaan panik.

12. Djam 19.00 (malam kedua). Djenderal Nasution-Harto dan 

Umar membentuk suatu komando. Mereka sudah memperlihatkan 

tanda2 untuk tegenaanval [serangan balik] pada esok harinja.

13. Mendengar berita ini Laksamana Omar Dani mengusulkan 

kepada Kw. Untung agar AURI dan pasukan “G-30-S” diintegrasikan 

untuk menghadapi tegenaanval Nato cs (Nasution-Harto).7 namun  

tidak didjawab setjara kongkrit. Dalam team pimpinan G-30-S, tidak 

memiliki off ensi-geest [semangat menyerang] lagi.8 

14. Kemudian timbul persoalan ketiga. Ja, ini dengan hadirnja Bung 

Karno di Lapangan Halim. Bung Karno kemudian melantjarkan 

kegiatan sbb: 

a) Memberhentikan gerakan pada kedua belah pihak (dengan 

keterangan bila perang saudara berkobar, maka jang untung 

Nekolim).

b) Memanggil Kabinet dan Menteri2 Angkatan.9 Nasution-

Harto dan Umar menolak panggilan ini . Djenderal Pranoto 

dilarang oleh Nasution untuk memenuhi panggilan Bung 

Karno.10

c) Menetapkan caretaker bagi pimpinan A.D.


 

Hari kedua: 

15. Kawan2 pimpinan dari “G-30-S” kumpul di L.B. Kesatuan 

RPKAD mulai masuk menjerang, keadaan mulai “wanordelik” 

[wanordelijk] (katjau). Pasukan2 pemuda belum biasa menghadapi 

praktek perang jang sesungguhnja. Pada moment jang gawat itu, sadja 

mengusulkan agar semua pimpinan sadja pegang nanti bila situasi 

telah bisa diatasi, sadja akan kembalikan lagi. Tidak ada djawaban jang 

kongkrit.

16. Kemudian diadakan rapat, diputuskan untuk memberhentikan 

perlawanan masing2 bubar, kembali ke rumahnja, sambil menunggu 

situasi. Bataljon Djateng dan sisa Bataljon Djatim jang masih ada akan 

diusahakan untuk kembali ke daerah asalnja.

17. Hari itu djuga keluar perintah dari Bung Karno agar pasukan 

berada di tempatnja masing2 dan akan diadakan perundingan. namun  

fi hak Nato tidak menghiraukan dan memakai  kesempatan itu 

untuk terus mengobrak-abrik pasukan kita dan bahkan P.K.I.

Demikianlah fakta2 jang kami saksikan sendiri dan dari fakta2 

ini tiap2 orang akan dapat menarik peladjaran atau kesimpulan jang 

berbeda-beda. 

Adapun kesimpulan jang dapat kami tarik yaitu  sbb:

1. Keletihan dari kawan2 team pimpinan jang memimpin aksi di 

bidang militer sangat mempengaruhi semangat operasi, keletihan ini 

mempengaruhi kegiatan2 pengomandoan pada saat2 jang terpenting 

di mana dibutuhkan keputusan2 jang tjepat dan menentukan dari 

padanja.

2. Waktu info2 masuk dari daerah2, sebetulnja daerah belum dalam 

keadaan siap sedia. Hal ini terbukti kemudian bahwa masih banjak 

penghubung2 belum sampai di daerah2 jang ditudju dan peristiwa 

sudah meletus (kurir jang ke Palembang baru sampai di Tandjung 

Karang). Di Bandung siap sepenuhnja tapi untuk tidak repot2 

menghadapi pertanjaan2 didjawab sadja “sudah beres.”

3. Rentjana operasinja ternjata tidak djelas. Terlalu dangkal. Titik berat 

hanja pada pengambilan 7 Djenderal sadja. Bagaimana kemudian 

bila berhasil, tidak djelas, atau bagaimana kalau gagal djuga tidak 

djelas. Dan apa rentjananja bila ada tegenaanval, misalnja dari 

Bandung, bahkan tjukup dengan djawaban: “sudah, djangan pikir2 

mundur!” Menurut lazimnja dalam operasi2 militer, maka kita sudah 

memikirkan pengunduran waktu kita madju dan menang, dan sudah 

memikirkan gerakan madju menjerang waktu kita dipukul mundur. 

Hal demikian, maksud kami persoalan mundur dalam peperangan 

bukanlah persoalan hina, namun  yaitu  prosedur biasa pada setiap 

peperangan atau kampanje. Mundur bukan berarti kalah, yaitu  suatu 

bentuk dalam peperangan jang dapat berubah menjadi penjerangan 

dari kemenangan. Membubarkan pasukan yaitu  menjerah kalah. 

Hal ini pula jang menjebabkan beberapa kawan militer 

mengundurkan diri, selain kawan tsb di hinggapi unsur ragu2, 

namun  bisa ditutup bila ada rentjana jang djelas dan mejakinkan atas 

djalannja kemenangan.

4. Waktu dihitung2 kembali kekuatan jang bisa diandalkan hanja satu 

kompi dari Tjakrabirawa, satu bataljon diperkirakan dari Djateng 

dapat digunakan dan satu bataljon dari Djatim bisa digunakan 

sebagai fi guran. Ditambah lagi dengan seribu lima ratus pemuda jang 

dipersendjatai. Waktu diajukan pendapat, apakah kekuatan jang ada 

dapat mengimbangi, maka djawaban dengan nada menekan, bahwa 

bila mau revolusi sedikit jang turut, namun  kalau revolusi berhasil 

tjoba lihat nanti banjak jang turut. Ada pula pendjelasan jang sifatnja 

bukan tehnis, misalnja, “kita masih muda, kalau sudah tua, bakal 

apa revolusi.” Kembali lagi mengenai masalah kekuatan kita, tjukup 

mempunjai kekuatan di Angkatan Darat jang tjukup tangguh. 

Dipandang dari segi tehnis militer, maka serangan pokok, dimana 

komandan operasi tertinggi sendiri memimpin, harus memusatkan 

kekuatannja pada sasaran jang menentukan. Saja berpendapat bahwa 

strategi  kawan pimpinan yaitu  strategi “menjumet sumbu petasan” 

di Ibu kota, dan diharapkan mertjonnja akan meledak dengan 

sendirinja, jang berupa pemberontakan Rakjat dan perlawanan di 

daerah2 sesudah  mendengar isjarat ini . Disini terdapat sesuatu 


 

kekeliruan: pertama: Tidak memusatkan induk kekuatan pada sasaran 

pokok. Kedua: Tidak bekerdja dengan perhitungan kekuatan jang 

sudah kongkrit.

5. Kami dan kawan2 di Staf melakukan kesalahan sebagai 

berikut: Menilai kemampuan kawan pimpinan operasi terlalu tinggi. 

Meskipun fakta2 njata tidak logis. namun  percaya bahwa pimpinan 

pasti mempunjai perhitungan jang ulung, jang akan dikeluarkan 

pada waktunja. Sesuatu keajaiban pasti akan diperlihatkan nanti, 

sebab pimpinan operasi selalu bersembojan “Sudah kita mulai sadja, 

dan selandjutnja nanti djalan sendiri.” Kami sendiri mempunjai 

kejakinan akan hal ini, sebab  terbukti operasi2 jang dipimpin oleh 

partai sekawan, seperti kawan Mao Tzetung jang dimulai dengan satu 

regu, kemudian kita menumbangkan kekuatan Tjiang Kai Sek jang 

djumlahnja ratusan ribu. sesudah  peristiwa jang pahit ini, maka kita 

sekalian perlu kritis dan bekerdja dengan perhitungan2 jang kongkrit. 

Apa jang kami lihat di Lobang Buaja, sebetulnja taraf mempersiapkan 

diri sadja belum selesai. Pada malam terachir bematjam2 hal jang 

penting belum terselesaikan, umpama: Pasukan jang seharusnja 

datang, belum djuga hadir (dari AURI). Ketentuan atau petundjuk2 

masih dipersiapkan. Peluru2 di peti2 belum dibuka dan dibagikan. 

Dalam hal ini kelihatan tidak ada pembagian pekerdjaan, semua 

tergantung dari Pak Djojo.11 Kalau Pak Djojo belum datang, 

semua belum berdjalan. Dan kalau Pak Djojo datang, waktu sudah 

mendesak.

saat  masuk berita bahwa Nasution tidak kena dan melarikan 

diri, kelompok pimpinan mendjadi terperandjat, kehilangan akal 

dan tidak berbuat apa2. Meskipun ada advis untuk segera melakukan 

off ensip lagi, hanja didjawab: “Ja”, namun  tidak ada pelaksanaannja. 

Selama 12 djam, djadi satu siang penuh, musuh dalam keadaan panik. 

Tentara2 dikota diliputi suasana tanda tanja, dan tidak sedikit jang 

kebingungan. (Waktu ini kami di istana, djadi melihat sendiri keadaan 

di kota.) 

Disini kami mentjatat suatu kesalahan jang fundamentil jang 

pernah terdjadi dalam suatu operasi (kampanje), jani: “Tidak uitbuiten 

[memanfaatkan] sesuatu sukses” (prosedur biasa dalam melaksanakan 

prinsip2 pertempuran jang harus dilakukan oleh tiap2 komandan 

pertempuran). Prinsip ini  diatas, sebetulnja bersumber dari 

adjaran Marx jang mengatakan: “Bahwa sesudah  terdjadi suatu 

pemberontakan, tidak boleh ada sesaat pun dimana serangan terhenti. 

Ini berarti bahwa massa jang turut dalam pemberontakan dan 

mengalahkan musuh dengan mendadak, tidak boleh memberi  

suatu kesempatan pun kepada kelas jang berkuasa untuk mengatur 

kembali kekuasaan politiknja. Mereka harus memakai  saat jang 

itu sepenuhnja, untuk mengachiri kekuasaan rezim dalam negeri.”12 

Kami berpendapat, bahwa sebab dari semua kesalahan ini sebab  

staf pimpinan dibagi 3 sjaf: a) Kelompok Ketua, b) Kelompok Sjam 

cs, c) Kelompok Untung cs. Seharusnja operasi berada di satu tangan. 

sebab  jang menondjol pada saat  itu yaitu  gerakan militer, maka 

sebaiknja komando pertempuran diserahkan sadja kepada kawan 

Untung dan kawan Sjam bertindak sebagai Komisaris politik. Atau 

sebaliknja, kawan Sjam memegang komando tunggal sepenuhnja. 

Dengan sistim komando dibagi ber-syaf2, maka ternjata pula terlalu 

banjak diskusi2 jang memakan waktu sangat lama sedangkan pada 

moment tsb. dibutuhkan pengambilan keputusan jang tjepat, sebab  

persoalan setiap menit ber-ganti2, susul-menjusul dan tiap2 taraf 

persoalan harus satu persatu setjepat mungkin ditanggulangi.

[tidak ada poin enam]

7. Setiap penjelenggaraan perang, seharusnja djauh sebelumnja 

mempunjai “Picture of the Battle” (Gambaran Perang). Apa jang 

mungkin terdjadi sesudah  peristiwa penjergapan, bagaimana situasi 

lawan pada setiap saat dan setiap taraf pertempuran, bagaimana situasi 

pasukan sendiri, bagaimana situasi pasukan di Djakarta, bagaimana 

situasi di Bandung (ingat pusat Siliwangi13), bagaimana situasi di 

Djateng dan Djatim, dan bagaimana situasi diseluruh pelosok tanah 

air (dapat diikuti via radio). Dengan berbuat demikian, maka kita bisa 

melihat posisi taktis di Djakarta dalam hubungannja dengan strategi 

jang luas. Dan sebaliknja, perhubungan strategi jang menguntungkan 

atau merugikan dapat tjepat2 kita mengubah taktik kita di medan 

pertempuran. 


 

Pada waktu musuh panik seharusnja tidak usah diberi waktu. 

Kita harus masuk menjempurnakan kemenangan kita. Dalam keadaan 

demikian musuh dalam keadaan serba salah dan kita dalam keadaan 

serba benar. Satu bataljon jang panik akan dapat dikuasai oleh hanja 

kekuatan satu regu sadja. namun  hal jang menguntungkan ini tidak 

kita manfaatkan. Bahkan kita berlaku sebaliknja: 

1) Komandan Sektor (Selatan/Tengah/Utara) dalam keadaan 

dimana kita sedang djaya, malah pada menghilang. Mereka 

bertugas di antaranja mengurus soal2 administrasi, terhadap 

pasukan jang beroperasi dan berada di masing2 sektornja. 

namun  semua sektor seperti jang telah ditetapkan, hanja tinggal 

di atas kertas sadja. Dari sini kita menarik peladjaran dengan 

tidak adanja kontak antara satu sama lain (faktor verbinding-

komunikasi), maka masing2 mendjadi terdjerumus dalam 

kedudukan terasing, sehingga buta situasi dan menimbulkan 

ketakutan. 

2) Siaran radio RRI jang telah kita kuasai tidak kita manfaatkan. 

Sepandjang hari hanja dipergunakan untuk membatjakan 

beberapa pengumuman sadja. Radio stasion yaitu  alat 

penghubung (mass media). Seharusnja digunakan semaksimal 

mungkin oleh barisan Agitasi Propaganda. Bila dilakukan, 

keampuhannja dapat disamakan dengan puluhan Divisi tentara. 

(Dalam hal ini lawan telah sukses dalam perang radio dan pers.) 

3). Pada djam2 pertama Nato cs menjusun komando kembali. 

Posisi jang sedemikian ialah posisi jang sangat lemah. Saat itu 

seharusnja pimpinan operasi musuh disergap tanpa chawatir 

resiko apa2 bagi pasukan kita.

8.  Semua kematjetan gerakan pasukan disebabkan diantaranja tidak 

makan. Mereka tidak makan semendjak pagi, siang dan malam, 

hal ini baru diketahui pada malam hari saat  ada gagasan untuk 

dikerahkan menjerbu kedalam kota. Pada waktu itu Bataljon Djateng 

berada di Halim. Bataljon dari Djatim sudah ditarik ke Kostrad 

dengan alasan makanan. Sebetulnja ada 2 djalan jang bisa ditempuh, 

pertama: Komandan Bataljon diberi wewenang untuk merektuir 

makanan di tempat2 dimana ia berada. Hubungan dengan penduduk 

atau mengambil inisiatip membuka gudang2 makanan, separo bisa 

dimakan dan selebihnja diberikan kepada Rakjat jang membantu 

memasaknja. Dengan demikian ada timbal balik dan tjukup simpatik 

dan dapat dipertanggung djawabkan. Djalan kedua: Organisasi sektor 

seharusnja menjelenggarakan hal tsb.

9. sesudah  menerima berita bahwa Djenderal Harto menjiapkan 

tegenaanval dan Laksamana Omar Dani menawarkan integrasi untuk 

melawan pada waktu itu, harus disambut baik. Dengan menerima 

itu maka seluruh kekuatan AURI di seluruh tanah air, akan turut 

serta. namun  sebab  tidak ada kepertjajaan, bahwa kemenangan 

harus ditempuh dengan darah, maka tawaran jang sedemikian 

pentingnja tidak mendapat djawaban jang positip. Pak Omar Dani 

telah bertindak begitu djauh sehingga telah memerintahkan untuk 

memasang roket2 pada pesawat.

10. Faktor2 lain jang menjebabkan kematjetan, terletak pada tiada 

pembagian kerdja. Bila kita ikuti sadja prosedur staf jang lazim 

digunakan pada tiap2 kesatuan militer, maka semua kesimpang siuran 

dapat diatasi. Seharusnja dilakukan tjara bekerdja sbb: Pertama, 

perlu ditentukan siapa komandan jang langsung memimpin aksi 

(kampanje). Kawan Sjam-kah atau kawan Untung. Kemudian 

pembantu2nja atau stafnja dibagi. Seorang ditunjuk bertanggung 

djawab terhadap pekerdjaan intel (penjelidikan/informasi). Jang 

kedua, ditundjuk dan bertanggung djawab terhadap persoalan 

situasi pasukan lawan maupun pasukan sendiri. Dimana, bagaimana 

bergeraknja pasukan lawan, bila demikian, apakah advisnja tentang 

pasukan sendiri kepada komandan. Kawan jang ketiga ditundjuk 

untuk bertanggung djawab terhadap segala sesuatu jang berhubungan 

dengan perorangan (personil). Apakah ada jang luka atau gugur, 

apakah ada pasukan jang absen, apakah ada anggauta jang morilnja 

merosot. Djuga personil lawan mendjadi persoalannja umpama: 

soal tawanan, pemeliharaanja, pengamannja dan dsb. Kemudian 


 

kepada kawan jang keempat, ditugaskan untuk memikirkan hal2 

jang ada sangkut pautnja dan logistik, pembagian sendjata dan 

munisi, pakaian, makanan, kendaraan dsb. sebab  menang kalahnja 

pertempuran pada dewasa ini tergantung djuga pada peranan bantuan 

Rakjat, maka ditundjuk kawan jang kelima, untuk tugas seperti 

ini  di atas. Djadi singkatnja, komandan dibantu oleh staf-1, 

staf-2, staf-3, staf-4, staf-5. Komandan, bila terlalu sibuk, ia bisa 

menundjuk seorang wakilnja. Selandjutnja tjara bekerdjanja staf, saja 

rasa tidak ada bedanja dengan prinsip2 pekerdjaan partai, berlaku 

djuga prinsip sentralisme demokrasi. Staf memberi  pandangan2-

nja dan komandan mendengarkan, mengolahnja di dalam fi kiran dan 

kemudian menentukan. berdasar  keputusan ini staf memberi  

directive [perintah] untuk melaksana oleh echelon2 bawahan. Dengan 

tjara demikian maka seorang komandan terhindar dari pemikiran 

jang subjektif. namun  djuga terhindar dari suasana jang liberal. Apa 

jang terdjadi pada waktu itu yaitu  suatu debat, atau diskusi jang 

langdradig (tak berudjungpangkal), sehingga kita bingung melihatnja, 

siapa sebetulnja komandan: kawan Sjamkah, kawan Untungkah, 

kawan Latifkah atau Pak Djojo? Mengenai hal ini perlu ada 

penindjauan jang lebih mendalam sebab  letak kegagalan kampanje 

di ibu kota sebagian besar sebab  tidak ada pembagian komandan dan 

kerdja jang wajar.

11. yaitu  hal jang remeh, namun  hal ini perlu mendapat 

perhatian. Umpamanja, tjara2 diskusi terutama jang banjak 

dilakukan oleh kawan Latif. Tidak mendahulukan soal2 jang lebih 

pokok untuk dipetjahkan terlebih dahulu. Soal2 jang masih bisa 

ditunda dibitjarakan kemudian. Di waktu mulut meriam diarahkan 

kepada kita, maka jang urgen yaitu  bagaimana tindakan kita untuk 

membungkam meriam tsb, bukan membitjarakan soal2 lain jang 

sebetulnja bisa dibitjarakan kemudian.

12. Dengan kehadirannja Bung Karno di Halim, maka persoalan 

telah mendjadi lain. Pada waktu itu, kita harus tjepat dalam silat 

politik. Harus tjepat menentukan titik berat strategi kita. Apakah kita 

berdjalan sendiri, apakah kita berdjalan dengan Bung Karno. Kalau 

kita merasa mampu, segera tentukan garis djalan sendiri. Kalau kita 

menurut perhitungan, tidak mampu untuk memenangkan revolusi 

sendirian, maka harus tjepat pula merangkul Bung Karno, untuk 

bersama2 menghantjurkan kekuatan lawan. Menurut pendapat saya 

pada saat2 itu situasi telah berubah dengan keterangan sbb:

1) Bung Karno: a. Memanggil kabinet dan para Menteri Angkatan.

  b. Mengeluarkan surat perintah, kedua fi hak agar  

  tidak bertempur.

  c. Memegang sementara pimpinan A.D. dan   

  menundjuk seorang caretaker untuk pekerjaan intern  

  A.D.

2) Omar Dani:  Tidak mau kalau harus berhadapan dengan Bung  

  Karno, dan sarannja supaya bersama-sama dengan  

  Bung Karno melanjutkan revolusi.

3) Ibrahim Adji: Mengeluarkan pernjataan, bila terdjadi apa2 terhadap  

  Bung Karno, maka Siliwangi akan bergerak ke   

  Djakarta.

4) M. Sabur:  Menilpun RPKAD untuk siap sewaktu2 Bung Karno  

  dalam bahaya.

5) NATO cs:  Menolak panggilan Bung Karno untuk hadir di  

  Halim.

6) G-30-S:  Kawan Sjam tetap revolusi harus djalan sendiri tanpa  

  Bung Karno. Keadaan Jon Djateng sudah letih dan  

  belum selesai memetjahkan soal bagaimana makan.  

  Keadaan pimpinan dalam keadaan bimbang.

7) “Daerah”: Baru Nusatenggara jang memberi  reaksi, Bandung  

  sepi, Djateng sepi, djuga Djatim sepi.

  Massa di Djakarta sepi. Daerah2 di seluruh kepulauan  

  Indonesia, pada waktu itu tidak terdengar tjetusan2  

  imbangan.


 

Pertimbangan:

- Bila kita teruskan berevolusi sendiri, maka kita akan berhadapan 

dengan Bung Karno + Nato cs dengan Angkatan Daratnja.

- Bila kita rangkul Bung Karno, maka kontradiksi pokok akan beralih 

di satu fi hak golongan kiri + golongan Demokratis Revolusioner 

dan di lain fi hak hanja golongan kanan sadja. namun  dari kita tidak 

ada ketentuan garis mana jang harus ditempuh. Dan sementara 

itu pun waktu berlalu terus, dan perkembangan semakin kongkrit. 

Nato menjusun kekuatannja, Bung Karno mengumpulkan anggota 

kabinetnja jang diperlukan. 

Pada saat itu sebetulnja situasipun belum terlalu terlambat. Ada tjelah2 

di mana segara harus kita masuki dalam persoalan menundjukan siapa 

jang mengganti Pangad. Bung Karno minta tjalon dari kita. Dari 

fi hak Bung Karno mentjalonkan: 1) Ibrahim Adji dan 2) Mursid. 

Dari fi hak kita mentjalonkan Rukman, Pranoto dan Basuki Rachmat. 

Achirnja disetudjui Pranoto. Seharusnja kita serahkan sadja kepada 

Bung Karno. Dengan demikian kita tidak meminta terlalu banjak. 

Dan Bung Karno ada kekuatan dalam menjelesaikan masalah intern 

A.D. dan dapat menghalang-halangi glundungnja aksi2 Nato cs.14 

namun  walaupun demikian, bila Pak Pranoto waktu itu tjekatan 

dan dapat memakai  wewenang, maka situasi tidak seburuk ini. 

Seharusnja dengan surat keputusan itu, ia tjepat pidato di radio dan 

umumkan pengangkatannja. Tindakan kedua supaja kedua fi hak 

menanti perintah2 tidak saling bertempur. Pak Pran harus djuga 

menjusun kekuatan brigade2 di sekitarnja dan langsung ia pimpin.15 

Dengan demikian maka langkah2 selandjutnja akan mempunjai 

kekuatan. Kemudian segera diisi dengan dalih2 sementara lowongan 

staf SUAD jang kosong. Sajang sekali kesempatan jang terachir ini 

tidak dipergunakan. Pak Pranoto achirnja sesudah  terlambat mulai 

berpidato di radio. Itu pun atas desakan saja melalui kawan Endang.16 

namun  isi pidatonja pun tidak karuan malah mengutuk G-30-S sebagai 

gerakan petualangan. Kata2 ini otomatis melumpuhkan perangsang2 

revolusi di daerah2 terutama di Djateng. Idee seperti jang dilukiskan 

diatas, yaitu idee merangkul Bung Karno bukan semata-mata fi kiran 

kompromi jang negatip, namun  sesuatu “om te redden wat er te redden 

valt,” membela apa jang masih dapat dibela. Andaikata kalah, harus 

ada pertanggung djawab, maka hanja pelaksana2 G-30-S sadjalah jang 

tampil mempertanggung djawabkannja, sehingga keutuhan Partai 

tidak terganggu. Taktik ini  diatas tidak lain bila kita mengetahui 

akan mendapatkan hanja kulitnja telur sadja, maka lebih baik 

mendapatkan isinja, walaupun hanja separuh sadja (beter een halve ei 

dan een lege dop). 

13. Achirnja Nato cs memegang inisiatip dan tidak menghiraukan 

apa2 dan memulai dengan tegen off ensifnja. Kekuatan militer G-30-S 

mereka kedjar dan kesempatan jang lama mereka tunggu2 tidak disia-

siakan, yaitu: mengobrak-abrik PKI.

14. Sementara itu semua slagorde G-30-S berkumpul di LB. Disana-

sini mulai terdengar tembakan dari RPKAD jang mulai mentjari 

kontak tembak. Kawan Sjam dan Kawan Untung cs, mulai rapat 

tentang menentukan sikap hadir di tempat tsb. komandan Jon 

Djateng dan seluruh anggota Bataljonnja. Komandan Bataljon Djatim 

djuga hadir tanpa pasukan. Kurang lebih seribu limaratus Sukwan 

jang dilatih di LB. Melihat situasi jang gawat ini tidak ada pilihan lain: 

a) Bertempur mati2-an atau, b) tjepat menghilang menjelamatkan 

diri. Diskusi berdjalan lama tanpa keputusan. Achirnja kami sarankan 

agar seluruh komando diserahkan kepada kami dan nanti bila situasi 

telah dapat diatasi wewenang akan diserahkan kembali kepada kawan 

Untung. Kawan Untung tidak setudju, sebab  bertempur terus 

pendapatnja sudah tidak ada dasar politiknja lagi. Apa jang di maksud 

dengan kata2nja itu, kami tidak begitu mengerti. Di lain fi hak kawan 

Sjam tidak memberi  reaksi atas usul kami. Kemudian saja desak 

lagi supaja segera mengambil keputusan, bila terlambat nanti, maka 

kita terdjepit dalam suatu sudut di mana tidak ada pilihan lain, 

melawan pun hantjur dan lari pun hantjur. sebab  posisi kita pada 

waktu sudah labil. Kemudian rapat memutuskan memberhentikan 

perlawanan dan setiap kawan diperintahkan kembali ketempat asal 

mereka masing2, dalam keadan jang serba lambat ini kemudian kami 

ambil inisiatip untuk menjelamatkan kawan pimpinan (Kawan Sjam) 

dan masuk ke kota Djakarta (Senen). Kawan Untung dalam tjara

membubarkan pasukannja pun melakukan kesalahan, seharusnja 

ia sebagai komandan langsung harus memberi petundjuk teknis 

bagaimana pelaksanaan menjebar dan menjusup kembali. sebab  

di LB banjak kawan2 Sukwan jang berasal dari luar kota Djakarta, 

bahkan ada jang dari Djateng. Mereka tentunja merasa asing dan tidak 

tahu djalan. sebab  peraturannja: “pur manuk” sadja atau dilepaskan 

sekehendak masing2 maka banjak jang tertawan dan mendjadi mangsa 

penjiksaan pasukan2 Nato cs.

15. Pada hari ketiga dan keempat, kami menjarankan kepada 

pimpinan untuk tampil kemuka mendampingi Bung Karno untuk 

mentjoba menolong apa jang perlu ditolong. Pada saat itu, situasi 

belum sama sekali hantjur. Kabinet di mana terdapat orang2 

revolusioner masih namun , usul kami di-tunda2 sehingga surat kami 

kepada Bung Karno baru diterima satu bulan kemudian. Bung Karno 

dalam kedudukan jang sudah terdjepit, mungkin djuga chawatir, bila 

sadja dekat2 padanja.

16. Demikianlah proses aksi “G-30-S” dari sukses berubah 

terdesak dan semakin terdesak sehingga achirnja tidak berdaja dan 

menjerahkan, segala inisiatip kepada fi hak lawan.

17. Sebagai kesimpulan umum, maka kami berpendapat bahwa:

a. Kita telah melakukan suatu politiek strategisch verassing (serangan 

tiba2) [strategi politik serangan mendadak] jang dapat 

dipergunakan oleh propaganda lawan sehingga memberi  

kepada PKI suatu kedudukan jang terpentjil.

b. Rentjana semula jang akan dilakukan: Revolusi bertingkat 

tiba2 dirobah dirubah mendjadi gerakan PKI seluruhnja. Bila 

gerakan dilakukan bertingkat, ja’ni taraf pertama hanja terbatas 

gerakan di dalam tubuh AD dengan tehnisnja sbb: sesudah  

berhasil merebut pimpinan AD maka mulai mengganti para 

Panglima dan para Komandan jang mempunjai fungsi potensiil 

dengan unsur2, atau perwira2 demokratis revolusioner.

Kemudian dalam taraf kedua baru revolusi jang dipimpin oleh 

Partai. Dimulai dengan gerakan2 massa jang dibajangi oleh 

militer2 jang progresip, persis seperti jang dilakukan oleh lawan 

terhadap Pemerintah sekarang. Bila rentjana revolusi bertingkat 

ini ditempuh, maka keuntungannja yaitu  sbb: Andaikata 

kita dipukul, maka Partai jang tetap mempunjai legalitet dan 

utuh dapat melindungi kawan2 militer. Bila aksi taraf pertama 

berhasil, maka suatu pidjakan jang baik untuk melontjat ke taraf 

revolusi berikutnja. Menurut hemat kami, kegagalan revolusi kita 

kali ini disebabkan di antaranja, dipindahkannja rentjana operasi 

jang semula bersifat intern AD, mendjadi operasi jang langsung 

dipimpin oleh Partai, sehingga menjebabkan terseretnja Partai 

dan diobrak-abriknja Partai.

c. Bidang persiapan: Gerakan 30 September dilakukan tanpa 

melalui proses persiapan jang teliti. Terlalu mempertjajai 

laporan2 dari kader2 bawahan. Seharusnja dalam keadan 

bagaimanapun pimpinan harus memeriksa dengan mata 

kepala sendiri tentang persiapannja, Komandan harus hadir 

menjaksikan 3 markas sektor, meskipun untuk beberapa 

menit sadja supaja ia bahwa semua pos2 telah terisi. Begitu 

pula persiapan2 lainnja. Sudah mendjadi kebiasaan di dalam 

ketentaraan dimanapun, melakukan pemeriksaan barisan 

sebelum ia bertugas. Misalnja ada satu regu hendak patroli, 

maka komandan peleton melihat regu itu, memeriksa alat2 

perlengkapannja regu itu, persediaan pelurunja, menanjakan 

apakah perintah2-nja telah dimengerti dan baru regu itu bisa 

berangkat patroli. Apalagi/seharusnja G-30-S, suatu gerakan 

jang menentukan djutaan nasib rakjat. Gerakan jang bukan 

sadja bernilai nasional namun  djuga mendjadi harapan kaum 

proletar seluruh dunia. Seharusnja kita djangan bertindak dengan 

gegabah.

d. Dalam saat2 jang kritis, pimpinan operasi harus terdjun di 

tengah pasukan, menjemangati anak buah supaja mereka 

bangkit melawan, meskipun dengan resiko hantjur semua. Bila 

sampai terdjadi, hantjur tidak apa2, kawan2 jang masih hidup 

akan melandjutkan usaha revolusi. Dan kalau kita bertindak 

demikian besar kemungkinan lawanlah jang akan angkat 

tangan, sebab  pada saat2 itu Nato belum mempunjai grip 


 

[cengkeraman] terhadap TNI jang ada di kota. Suasana di mana2 

belum mengutuk G-30-S. Dalam tiap2 perang revolusioner, 

seorang pemimpin harus sanggup membangkitkan di kalangan 

pengikutnja:

1. Djiwa kepahlawanan.

2. Kebulatan pikiran dan tekad.

3. Semangat berkorban.

e. Ada hal jang perlu dipelajari setjara mendalam. Kawan2 

jang selama ini hidup di organisasi tentara bordjuis, sangat 

sulit dan mirip tidak sampai hati untuk mendahului teman2 

seangkatannja. Hal ini terdjadi djuga pada bataljon jang berasal 

dari Djateng,18 dan djuga pada peristiwa jang kami dengar 

kemudian, waktu menghadapi Pangdam Surjosumpeno.19 

Mungkin letaknja pada kelemahan pandangan ideologi, 

kelemahan dalam pandangan kelas. Adjaran Marxisme-

Leninisme bahwa “Kalau tidak mereka jang kita basmi, maka 

merekalah jang akan membasmi kita.”20 Belum meresap, dan 

belum mendjadi keyakinan kawan2 di ABRI pada umumnja. 

Dari pengalaman ini maka pendidikan ideologi dan kesadaran 

pandangan kelas perlu mendjadi program Partai.

f. Strategi jang dianut dalam gerakan keseluruhan yaitu  

sematjam strategi: “Bakar Petasan.” Tjukup sumbunja dibakar 

di Djakarta dan selandjutnja mengharap dengan sendirinja 

bahwa meretjonnja akan meledak di daerah2. Ternjata tjara 

ini tidak berhasil. Ada dua sebab: mungkin sumbunja kurang 

lama membakar atau mesiu jang ada dalam tubuh meretjon itu 

sendiri dalam keadaan masih basah, kami hubungkan ini dengan 

pekerdjaan2 di waktu jang lampau, tjara2 menarik kesimpulan 

tentang kawan2 jang di ABRI dan massa yaitu  subjektif. Dari 

pengalaman ini kita harus bikin kebiasaan membesar2-kan 

situasi jang sebenarnja.21 Biasanja kalau ada 10 orang sadja 

dalam satu peleton jang sudah dapat kita hubungi, dilaporkan 

bahwa seluruh peletonnja sudah kita (kawan). Kalau ada seorang 

Dan Jon jang kita hubungi, maka ada kemungkinan bahwa 

seluruh Bataljon itu sudah kawan. Kekeliruan strategi G-30-S 

itu disebabkan djuga banjak kawan2 dari ABRI maupun dari 

daerah2 jang melaporkan bahwa massa sudah tidak dapat 

ditahan lagi. Bila pimpinan tidak mengambil sikap, maka rakjat 

akan 22 djalan sendiri (ber-revolusi). Mengikuti suara2 jang 

belum diperiksa kebenarannja berarti kita kena “agitasi” massa, 

sama halnja tidak mendjalankan “garis mangsa setjara tepat.”

g. Melihat kemampuan dan kebesaran organisasi Partai di waktu2 

jang lalu maka asalkan sadja kita taktis menggerakannja, kami 

rasa PKI tidak perlu kalah. Saja ibaratkan seorang pemasak 

jang mempunjai bumbu, sayur2 jang serba tjukup, namun  kalau 

tidak pandai menilai temperatur dari panasnja minjak, besarnja 

api, bilamana bumbu2 itu ditjemplungkan dan mana jang 

didahulukan dimasak maka masakan itu pun tidak akan enak, 

satu tjontoh misalnja. Kami membawahi 18 Bataljon,23 3 di 

antaranja bisa dikerahkan untuk tugas2 revolusi, dan sudah 

dipersiapkan lengkap dengan pesawat angkutan Hercules 

berkat solidaritas dari kawan2 perwira di AD, jang mempunjai 

kedudukan komando, namun  semua ini tidak dimanfaatkan, 

sehingga bukan kita jang menghantjurkan lawan “satu demi 

satu”, namun  sebaliknja kita jang di hantjurkan setjara “satu demi 

satu.”

Sekian, dan kami tutup dengan sembojan : 

 Sekali gagal, akan bertambah.

 Madju terus pada djalan pengrevolusioneran!

CATATAN

1 Saya tidak tahu mengapa frasa ini diberi tanda petik ganda.

2 Dari keseluruhan dokumen, cukup jelas bahwa yang dimaksud Supardjo yaitu  

pimpinan PKI. Ada kemungkinan bahwa Supardjo menyerahkan analisis ini kepada 

Sudisman, pimpinan Politbiro yang tersisa, yang sedang mempersiapkan otokritik 

terhadap partai pada pertengahan 1966.

3 Pada 30 September 1965 malam Presiden Sukarno menghadiri upacara penutupan 


 

Konferensi Nasional Ahli Teknikdi stadion Senayan. Letnan Kolonel Untung 

menjadi bagian pengamanan untuk kehadiran Sukarno di dalam acara ini.

4 Perwira ini boleh jadi Mayor Bambang Supeno, komandan Batalyon 530 Jawa 

Timur. Dalam laporan interogasinya (yang ditulis oleh tim intelijen Angkatan 

Darat), Supardjo diduga mengatakan (ini laporan interogasi yang harus dibaca 

dengan skeptisisme) Sjam memberitahu dia pada 1 Oktober pagi bahwa Mayor 

Supeno “masih diragukan.” (Departemen Angkatan Darat Team Optis-Perpu-Intel, 

“Laporan Interogasi Supardjo di RTM,” 19 Januari 1967, 4; dokumen ini termaktub 

dalam berkas rekaman persidangan Mahmilub untuk Supardjo.) Pasukan-pasukan 

Mayor Supeno merupakan yang pertama mundur; mereka menyerahkan diri ke 

Kostrad pada sore hari 1 Oktober meski Mayor Supeno sendiri tinggal di pangkalan 

Halim dengan anggota komplotan yang lain sampai dini hari 2 Oktober. Mayor 

Supeno menjemput wakil komandan batalyon, Letnan Ngadimo, di istana pada 

sekitar pukul 14.00 saat pasukan-pasukannya mulai menyerah, dan membawanya 

ke Halim, menurut kesaksian Letnan Ngadimo di persidangan Untung. Komandan 

Batalyon 454, sebaliknya, berusaha mempertahankan pasukan-pasukannya di 

Lapangan Merdeka; saat  ia akhirnya meninggalkan posisi ini , ia membawa 

sebagian besar anak buahnya ke Halim.

5 Istilah pung-pung tampaknya salah ketik. Seharusnya mumpung.

6 Sasaran utama kemungkinan yaitu  Jenderal Nasution. Pasukan-pasukan yang 

dikirim untuk menculiknya dipimpin oleh seorang prajurit.

7 Nato yaitu  singkatan cerdas yang dibuat Supardjo untuk Nasution dan 

Suharto.

8 Istilah ini merupakan kombinasi kata Indonesia off ensi yang berasal dari kata 

Belanda off ensief dan kata Belanda geest yang berarti semangat.

9 Para panglima keempat angkatan – Angkatan Udara, Angkatan Laut, Angkatan 

Darat, Angkatan Kepolisian – yaitu  menteri-menteri dalam kabinet Sukarno.

10 Suharto, bukan Nasution, yang melarang Pranoto pergi ke Halim.

11 Pak Djojo yaitu  nama samaran untuk Mayor Soejono dari AURI, komandan 

pasukan-pasukan yang menjaga pangkalan Halim. Supardjo mungkin memakai  

nama samaran dalam dokumen ini sebab  ia tidak tahu nama Soejono sebenarnja. 

Ini kemungkinan yang nyata sebab  Supardjo baru bergabung dengan komplotan 

ini sehari sebelumnya dan mungkin diperkenalkan kepada anggota-anggota lainnya 

saat mereka memakai  nama-nama sandi. Nama Pak Djojo juga disebut oleh 

Njono, ketua CDB (Comite Daerah Besar) PKI Jakarta, pada pengadilannya di 

Mahmilub. Menurut Njono, Pak Djojo yaitu  nama samaran seorang perwira 

militer yang mencari sukarelawan PKI untuk dilatih di Lubang Buaya dari Juni 

sampai September 1965 (G-30-S Dihadapan Mahmillub, Perkara Njono, 53-54, 

64-65, 79-82). Heru Atmodjo menegaskan dalam pembicaraan dengan saya bahwa 

Pak Djojo yaitu  nama alias Mayor Soejono.

12 Supardjo tampaknya menerjemahkan dan menulis ulang (memparafrasakan) 

salah satu bagian dari Revolution and Counter-revolution in Germany (1896), 

kumpulan artikel-artikel koran yang aslinya diterbitkan pada 1852 dengan nama 

Marx tapi terutama ditulis oleh Engels: “[Posisi] defensif yaitu  kematian setiap 

pemberontakan bersenjata; pemberontakan itu kalah sebelum ia mengukur dirinya 

dengan musuh-musuhnya. Kejutkan musuh-musuhmu saat  kekuatan mereka 

masih tercerai-berai, siapkan sukses-sukses baru, betapapun kecilnya, tapi setiap hari; 

pertahankan peningkatan moral yang diberikan oleh keberhasilan pemberontakan 

pertama padamu; galang elemen-elemen yang ragu dan goyah itu ke sisimu yang 

selalu mengikuti letupan terkuat, dan yang selalu mencari sisi lebih aman; paksa 

musuh-musuhmu ke posisi mundur sebelum mereka mampu mengumpulkan 

kekuatan mereka untuk melawanmu.” (www.marxist.org/archive/marx/works/1852/

germany/ch17.htm) Supardjo mungkin tidak membaca teks ini; dalam kumpulan 

karya Marx dan Engels teks ini kurang dikenal. Supardjo mungkin membaca esai 

Lenin “Advice of an Onlooker” (yang ditulis pada 21 Oktober 1917), yang me-

ngomentari bagian teks di atas. Karya-karya Lenin lebih jamak dibaca pada masa 

sebelum 1965 di Indonesia. Tak bisa diragukan sebab  karya-karya Lenin lebih 

mudah dipahami dan lebih relevan bagi suatu partai komunis yang begitu disibuk-

kan dengan berstrategi politik dari hari ke hari.

13 Kodam Siliwangi di Jawa Barat terkenal oleh anti-komunismenya; pasukan-

pasukannya digunakan oleh kepemimpinan nasionalis untuk menjerang PKI di 

Jawa Timur pada 1948. Jenderal Nasution berasal dari Kodam Siliwangi.

14 Pernyataan ini tampaknya merupakan kritik terhadap pengumuman radio dari 

G-30-S yang mendemisionerkan kabinet Sukarno.

15 Saya tidak tahu Supardjo mengacu ke brigade yang mana. Pranoto yaitu  asisten 

Yani untuk personalia dan tidak membawahi pasukan langsung.

16 Identitas Kawan Endang tak diketahui.

17 Penggunaan kata unsur-unsur untuk mengacu pada “perwira-perwira demokrasi 

revolusioner“ yaitu  suatu keanehan yang tidak bisa saya jelaskan.

18 Batalyon dari Jawa Tengah harus mengacu ke Batalyon 454, yang menduduki 

Lapangan Merdeka pada pagi hari dan kemudian meninggalkan posisi itu di sore 

hari sesudah  menerima perintah Suharto untuk menyerah. Namun aneh bahwa 

Supardjo tidak menyalahkan para perwira dari Batalyon 530 dari Jawa Timur juga 

yang menjerah ke Kostrad. Paling tidak saat  pasukan-pasukan Batalyon 454 

meninggalkan Lapangan Merdeka, mereka menghindar untuk masuk Kostrad. 

Mereka melarikan diri ke Halim.

19 Surjosumpeno yaitu  Pangdam Diponegoro. Para perwira Gerakan 30 September 

mengambil alih markas kodam di Semarang pada 1 Oktober dan menahannya. 

Anderson dan McVey mencatat bahwa “Surjosumpeno berhasil mengecoh perwira-

perwira muda yang mudah terkesan untuk meninggalkan dia sendiri cukup lama 

sehingga memungkinkan dia melarikan diri.” (Preliminary Analysis, 46) Supardjo 

mengacu ke insiden ini saat  mengkritik ketidakmampuan perwira-perwira junior 

untuk menentang atasan-atasan mereka.

20 Saya belum berhasil menemukan sumber kutipan ini.

21 Tampaknya ada kata “tidak” sebelum kata “membesar2-kan” yang tak tertulis 

entah oleh Supardjo sendiri atau oleh pengetik salinan dokumen ini. 

23 Terjemahan Fic atas dokumen ini menyebut jumlah batalyon yaitu  tigabelas. 

Dokumen versi saya jelas-jelas menunjukkan delapanbelas.


KESAKSIAN SJAM (1967)


Sjam membuat pernyataan publik tentang Gerakan 30 September 

untuk pertamakalinya pada 7 Juli 1967. Militer, yang telah menangkap 

dia empat bulan sebelumnya, membawa dia ke Mahmilub untuk memberi 

pernyataan sebagai saksi dalam persidangan untuk salah satu pimpinan 

PKI, Sudisman. Pernyataan-pernyataan dia yang belakangan dalam per-

sidangannya sendiri pada 1968 dan sebagai saksi di persidangan-persi-

dangan lain tidak mengalihkan atau mengubah kesaksian awalnya secara 

substansial. Pengajuan pertanyaan terhadap Sjam berlangsung hampir 

sehari penuh. Saya hanya mengambil sejumlah kutipan dari kesaksian dia 

yang saya anggap cukup penting. Beberapa pertanyaan diajukan Hakim 

Ketua, sebagian lain diajukan oleh oditur. Saya menganggap tidak penting 

untuk mengidentifi kasi masing-masing penanya. 

Kesaksian

T: Apakah djabatan sdr dalam partai?

J: Pimpinan Biro Chusus PKI. 

T: Pimpinan, apakah kepala? 

J: Jah.

T: Kepala Biro Chusus Pusat?

J: Jah.

T: Dari PKI? PKI yaitu  singkatan dari? 

J: Partai Komunis Indonesia.

T: Jah. Sdr masuk kedalam partai itu sedjak kapan? 

J: Tahun ’49. 

T: Tahun ’49, dimana itu?

J: Di Djakarta.

T: Waktu pertama kali masuk apakah djabatan sdr dalam partai?

J: Belum ada. 

T: Belum ada, djadi sebagai apa? 

J: Anggota biasa. 

T: Anggota biasa. Sedjak kapan sdr mendjabat sebagai kepala Biro 

Chusus itu?

J: Achir tahun 1964. 

T: Achir tahun 1964, kira-kira bulan berapa?

J: Nopember.

T: Sebelum itu apa djabatan sdr?

J: Anggota Departemen Organisasi.

T: Sedjak kapan sdr mendjadi anggota Departemen Organisasi?

J: Tahun ’60. 

T: Apakah pendidikan umum sdr?

J: Sekolah rakjat. 

T: Dulu namanja apa?

J: H.I.S.

T: Sesudah itu? 

J: Sekolah pertanian. 

T: Sekolah pertanian, namanja asli?

J: Landbouw School. 

T: Dimana?

J: Di Surabaja. 

T: Tamat?

J: Hampir.

T: Hampir tamat. Itu Landbouw School djuga tamat?

J: Hampir. 

T: Sampai klas berapa?

J: Sampai klas 3. 

T: Mengapa tidak tamat?

J: Djepang datang.

T: Sesudah itu apakah sdr menempuh kursus-kursus?

J: Di djaman Djepang sekolah dagang. Di Jogja.

T: Sampai tamat?

J: Djuga tidak sampai tamat, sampai klas V. 

T: Sebabnja?

J: Revolusi. 

T: Klas berapa?

J: Klas 2 bavenbouw. 

T: Biro Chusus itu dimana letaknja didalam struktur organisasi partai?

J: Tidak ada. 

T: Djadi bagaimana?

J: Biro Chusus yaitu  aparat dari Ketua partai. 

T: Djadi sdr selaku Kepala dari Biro Chusus, kepada siapa 

bertanggung djawab?

J: Kepada ketua partai.

T: Langsung?

J: Langsung. 

T: Tidak ada orang lain?

J: Tidak ada. 

T: Atau organ lain?

J: Tidak ada.

T: Djadi sdr djuga mendapat perintah langsung dari ketua partai?

J: Jah.

T: Dalam hal ini siapa?

J: Kawan D.N. Aidit. 

T: Apakah tugas dari Biro Chusus itu?

J: Bekerdja di kalangan Angkatan Darat.

T: Bekerdja di kalangan Angkatan Darat, bagaimana itu 

pendjelasannja?

J: Mentjari anggota di kalangan anggota-anggota Angkatan 

Bersendjata. 

T: Kalau sudah dapat lalu di…?

J: Lalu diorganisasi.

T: Kalau sudah diorganisasi?

J: Dididik.

T: Apakah pendidikan jang diberikan?

J: Soal theori dan ideologi.

T: Th eori dan ideologi, theori apa?

J: Marxisme-Leninisme.

T: Ideologi apa?

J: Tjinta kepada partai.

T: Maksudnja partai apa ini?

J: Partai PKI. 

T: Siapa jang membantu sdr?

J: Kawan Pono dan kawan Walujo [Bono]. 

T: Kawan Pono dan kawan Walujo, dan?

J: Itu sadja jang dekat.

T: Apa djabatan sdr Pono?

J: Kawan Pono wakil saja.

T: Sdr Walujo?

J: Wakil kedua.

T: Adanja Biro Chusus itu apakah diketahui djuga oleh lain-lain 

anggota partai?

J: Saja tidak tahu. 

T: Sdr kenal dengan sdr Sudisman ini? 

J: Ja. 

T: Bagaimana sdr berkenalan dengan dia itu, artinja bagaimana 

sdr bisa mengenal dia, tjara perkenalan pertama dan sebagainja 

bagaimana?

J: Pertama saja kenal nama sadja. Lalu pernah ketemu dalam 

Departemen Organisasi. Disitu saja berkenalan.

T: Berkenalan dalam Departemen Organisasi itu sadja?

J: Jah.

T: Lain-lain tidak?

J: Tidak ada.

T: Apakah sdr Sudisman djuga mengenal sdr sebagai kepala Biro 

Chusus?

J: Saja tidak tahu. 

T: Oh sdr tidak tahu. Tjoba disini sdr sudah banjak membuat Berita 

Atjara? Tadi sudah sdr mulai bahwa tugas Biro Chusus yaitu  mentjari 

apa tadi itu?

J: Mentjari anggota di kalangan Angkatan Bersendjata.

T: Tjoba silahkan tjerita. Tjerita jang bebas sadja mengenai pekerdjaan 

Biro Chusus. 

J: Djadi aktifi teit Biro Chusus yaitu  suatu aktifi teit sebagian 

dibandingkan  PKI didalam AB. Tiap-tiap anggauta pimpinan dari Biro 

Chusus mempunjai kewadjiban untuk melebarkan organisasi di 

kalangan Angkatan Bersendjata. Kalau sudah bisa meneliti dan 

mengetahui pedjabat-pedjabat jang ada, berusaha untuk mendekati 

dan mengenal. Sudah dapat mengenal, lalu berbitjara mengenai 

soal-soal politik umum. Sesudah mengetahui bagaimana seseorang 

pedjabat pada Angkatan Bersendjata ini apakah dia anti Komunis 

ataukah dia seseorang Demokrat, maka terus diadakan pertukaran 

pikiran mengenai soal-soal politik dalam negeri dan mengenai soal 

fi kiran-fi kiran jang madju. Sesudah diketahui bahwa pedjabat ini 

yaitu  orang jang mempunjai fi kiran jang menurut pandangan dari 

sudut PKI orang ini yaitu  orang jang berpikiran madju, maka terus 

diadakan pembitjaraan-pembitjaraan soal-soal kepartaian. Kalau 

kelihatannja orang ini tidak menolak, tidak memberi  reaksi jang 

negatif, maka dilandjutkan pada soal-soal jang lebih mendalam, 

jaitu mengenai masalah teori Marxisme. Djuga sesudah  mengetahui 

orang ini mempunjai landasan jang baik untuk bisa mengerti dan 

memahami tentang Marxisme, terus ditingkatkan kesadarannja ke 

arah mentjintai partai. Itu proses, mula-mula bagaimana aktifi teit, dari 

pada seorang anggauta Biro Chusus dalam mentjari keanggautaannja 

dalam Angkatan Bersendjata. Sesudah mendapatkan seseorang, 

ditingkatkan dalam pengertian-pengertian teoritisnja. Terus diberikan 

beberapa kewadjiban untuk membantu partai, terutama dalam fi kiran 

maupun dalam bidang-bidang materiil, umpamanja soal iuran sesudah 

itu, kalau ada beberapa orang jang sudah bisa ditarik, baru dibentuk 

satu group. Group ini melakukan pendiskusian tentang soal-soal 

politik praktis dan soal-soal teori. Artinja politik praktis ialah politik 

jang situasi politik jang terdjadi pada waktu itu, dan bagaimana garis 

dibandingkan  atau garis politik dibandingkan  Partai Komunis Indonesia pada 

waktu itu kalau menghadapi situasi jang kongkrit. Djadi demikian 

 

tjara-tjara dibandingkan  Biro Chusus dalam mentjari keanggautaannja 

dalam Angkatan Bersendjata. 

T: Ja, ini masih garis umumnja, lalu pelaksanaannja. Maksud saja 

pelaksanaan tehnis bagaimana? Apa jang dikerdjakan dalam bulan atau 

dalam permulaan tahun ‘65 dalam rangka uraian sdr tadi itu?

J: Saja belum begitu mengerti apa jang sdr Ketua maksudkan.

T: Dalam bulan Mei ’65 sdr ingat, apakah ada sesuatu perintah dari 

Ketua partai? Apa itu isi perintahnja?

J: Berita tentang adanja Dewan Djenderal. 

T: Bagaimana itu. Siapa jang memerintahkan?

J: Kawan D.N. Aidit. 

T: Tjeritanja bagaimana itu?

J: Bahwa didalam meneliti mengenai soal-soal aktifi teit dibandingkan  

Angkatan Darat terutama, jaitu dalam bidang politik dalam negeri 

dan masalah agraria, mengenai masalah Nasakom, mengenai masalah 

Kekaryawanan, mengenai masalah Front Nasional, mengenai masalah 

mempersendjatai buruh dan tani dan mengenai masalah pemerintahan 

daerah, ternjata bahwa aktifi teit-aktifi teit ini tidak berdiri sendiri atau 

tidak merupakan satu aktifi teit jang bersifat lokal, namun  bahwa semua 

aktifi teit ini yaitu  aktifi eit jang dipimpin setjara sentral. Dan djuga 

tentang disebarkannja fi kiran-fi kiran tentang anti Komunisme, djuga 

diluaskannja tentang aktifi teit dibandingkan  PKI jang selalu merupakan 

aktifi teit untuk menundjukan kekuatannja. 

Maka ini bisa diambil kesimpulan bahwa aktifi teit ini yaitu  

terpimpin setjara sentral, dan pimpinan dalam sentral ini yaitu  

merupakan satu pimpinan dibandingkan  para Djenderal-djenderal 

pimpinan Angkatan Darat. Dan Djenderal-djenderal pimpinan 

Angkatan Darat dalam memimpin aktifi tet ini dinamakan, 

menamakan dirinja Dewan Djenderal. Maka dengan adanja aktifi tet 

jang tersentralisir dan Dewan Djenderal ini, maka perlu kita waspada 

dan bersiap diri, itu jang didjelaskan kepada saja.

T: Lalu djadi sdr diperintahkan supaja waspada, dan bagaimana tadi?

J: Bersiap diri. 

T: Kelandjutannja bagaimana? Waspada dan siap diri itu. Apa jang 

sdr ambil, langkah-langkah apa jang sdr tempuh sebagai Kepala Biro 

Chusus, sesudah  menerima perintah demikian dari Ketua Partai?

J: sesudah  ada berita itu dari Ketua Partai saja terus mengadakan 

pemeriksaan Organisasi. Jaitu dilihat bagaimana kekuatan-kekuatan 

kita jang ada didalam ABRI, terutama dikalangan Angkatan Darat. 

Sesudah itu bisa dilaksanakan terus kita adakan penindjauan terhadap 

tenaga-tenaga didalam Angkatan Darat jang bisa pada waktunja nanti 

melaksanakan tugas selandjutnja dibandingkan  kawan D.N. Aidit. Dan 

pada waktu untuk menetapkan ini saja dengan Pono dan Walujo 

mengadakan satu perundingan untuk memilih tenaga-tenaga jang 

tjotjok dan memenuhi sarat-sarat untuk diberikan tugas menerima 

perintah dibandingkan  kawan D.N. Aidit. Sehingga dalam perundingan 

itu dapat disimpulkan untuk memilih tenaga-tenaga seperti Latief, 

Untung, Sujono, Sigit dan Wahjudi, ditambah dengan saja sendiri dan 

kawan Pono. 

Sesudah mendapatkan kesimpulan tentang tenaga-tenaga ini, 

maka selandjutnja diadakan rapat-rapat persiapan sesudah bulan 

Agustus menerima keterangan dibandingkan  kawan D.N. Aidit tentang 

makin memuntjaknja situasi. Dan gedjala jang ada menundjukkan 

bahwa Dewan Djenderal sudah mulai melakukan persiapan-persiapan 

terachir untuk pada achirnja melakukan perebutan kekuasaan. 

sesudah  ada soal-soal itu maka kami diberikan garis, apakah dalam 

menghadapi situasi jang sematjam ini, kami menunggu dipukul atau 

mesti memberi  pukulan terlebih dahulu. sebab  kesimpulannja 

bahwa kami harus memberi  pukulan terlebih dahulu, kami 

melakukan persiapan-persiapan dengan mengadakan pertemuan-

pertemuan antara saja, Pono, Untung, Latief, Sujono, Sigit, dan 

Wahjudi. Sebagai pertemuan-pertemuan persiapan untuk melakukan 

gerakan jang pada achirnja dinamakan G 30 S. Dalam pertemuan-

pertemuan itu jang memimpin yaitu  saja sendiri, dan dalam 

pertemuan pertama saja djelaskan tentang situasi jang memuntjak, 

dan tentang bahwa kita tidak boleh berlengah sebab  dalam situasi 

jang sematjam ini bagi kita yaitu  soalnja dipukul atau memukul. 

Dan pada saat-saat jang sematjam ini perlu siap siaga. Dan persiapan-

persiapan jang perlu kita lakukan untuk menghimpun kekuatan 

menghadapi Dewan Djenderal. Dan sesudah  pertemuan jang pertama 

ini diambillah satu kesimpulan, bahwa kita semua, artinja semua 

jang hadir disitu pada waktu itu, bisa menerima tentang gambaran 

situasi dan tentang garis jang harus dilakukan. Dan dalam pertemuan-

pertemuan selandjutnja dilakukan djuga mulai dilakukan pemeriksaan 

barisan. Pemeriksaan artinja pemeriksaan kekuatan dan pemeriksaan 

anggota-anggota kita jang ada dalam ABRI, terutama jang ada di 

Djakarta. Sesudah kita bisa melihat adanja kekuatan-kekuatan dalam 

pertemuan-pertemuan selandjutnja diperintji tentang kekuatan-

kekuatan jang ada, dan apakah ada kekuatan-kekuatan bantuan jang 

bisa diharapkan jang datang dari luar, artinja dari luar daerah Djakarta 

Raya. Sehingga pada waktu itu bisa disimpulkan adanja tambahan 

dua Bataljon jaitu Jon 530 dan 454 dari Djawa Tengah. Sehingga 

dengan tambahan 2 Jon ini genaplah kurang lebih 6 Jon kekuatan 

jang bisa dihimpun pada waktu itu. Dengan kekuatan 6 Jon tempur 

ini bisa diperhitungkan untuk dapat melakukan satu gerakan. Sesudah 

tentang kekuatan bersendjata ini bisa disimpulkan dan bisa diambil 

satu keputusan, baru kira-kira pada antara pertengahan dan 20 

September saja bertemu kepada kawan D.N. Aidit dan diminta untuk 

bisa menjusun satu konsep sebab  Dewan Djenderal telah memiliki  

satu konsep jang konkrit dalam menghadapi situasi ini. Bagaimana 

kita? Waktu itu sesudah  saja pikirkan di rumah, saja membikin konsep 

tentang organisasi gerakan dan tentang organisasi politiknja. Organ 

gerakan pada waktu itu saja berpikiran untuk dinamakan Gerakan 

September dan mengenai organisasi politiknja yaitu  dua pikiran, jang 

ada pada saja pada waktu itu jaitu tentang namanja Dewan Militer 

ataukah Dewan Revolusi. Pada waktu itu saja tjondong pada nama 

Dewan Militer sebagaimana tjatatan jang ada dalam artikel  saja jang 

ada ditangan CPM.1

namun  sesudah  saja adjukan depada kawan D.N. Aidit tidak 

disetudjui tentang nama Dewan Militer, sebab  Dewan Militer 

mengandung arti jang terlalu sempit dan mengandung militerisme, 

dan terlalu sektoris maka itu dipilih nama Dewan Revolusi sebab  

Dewan Revolusi lebih luas artinja dan lebih bisa mentjakup segala 

unsur-unsur nama badan politik didalam masjarakat jang ada. 

Achirnja diambillah keputusan nama badan politiknja yaitu  Dewan 

Revolusi. Djuga saja mengadjukan konsep tentang nama-nama 

dan achirnja djuga diadakan, saja adjukan kepada kawan D.N. 

Aidit terus diadakan perubahan-perubahan disana-sini dan achirnja 

timbullah susunan Dewan Revolusi, jang ada seperti jang sudah 

disiarkan. Tentang gerakan sesudah itu diputuskan kira-kira pada 

tanggal 29, bahwa gerakan itu akan dilakukan mulai pada tanggal 30 

maka gerakan dinamakan gerakan 30 September. Djadi sebelum itu 

dinamakan gerakan itu Gerakan 30 September. 

Dalam gerakan ini saja pegang pimpinan politiknja dan sdr 

Untung pegang pimpinan Militernja namun  pimpinan militer ini 

dibawah pimpinan politik. Djadi segala kedjadian jang terdjadi 

dalam gerakan yaitu  saja jang bertanggung djawab. Sesudah gerakan 

ini berdjalan gerakan ini dalam rentjananja, yaitu  melakukan 

pengamanan terhadap Djenderal-djenderal anggota dari Dewan 

Djenderal. Adapun pada waktu kedjadian itu terdjadi pembunuhan 

itu sebenarnja tidak ada rentjana sebelumnja oleh sebab  tudjuan 

dibandingkan  gerakan yaitu  pengamanan dan untuk mentjari fakta-fakta 

lebih djelas dan bukti-bukti adanja Dewan Djenderal. yaitu  terdjadi 

penembakan-penembakan sampai mati Djenderal-djenderal ini yaitu  

terdjadi pada waktu gerakan itu, djadi merupakan salah satu ekses dari 

suatu gerakan, memang itu satu konsekwensi; sekalipun demikian saja 

sebagai pimpinan bertanggung-djawab atas segala kedjadian jang ada. 

Pada waktu gerakan itu berdjalan, maka gerakan ini tidak 

berdjalan menurut semestinja. Soal apa sebabnja, saja sendiri belum 

bisa mengetahui sampai sekarang. Sebab itu menghendaki suatu 

penelitian jang lebih mendalam dan lebih teliti, namun  pada waktu 

gerakan itu berdjalan dan pada waktu Jon jang digerakkan didepan 

jaitu 454 dan 530, sudah menggabung kepada Kostrad dan artinja 

kekuatan sudah makin bertambah ketjil, maka saja ambil keputusan 

untuk mengundurkan gerakan ini jang tadinja bermarkas besar di 

Penas diundurkan masuk ke Halim.2 Dan sesudah dipertimbangkan 

setjara masak bagaimana djalannja gerakan ini kalau dilandjutkan 

djuga kekuatan sudah makin ketjil, sedangkan tidak ada tanda-tanda 

gerakan masa ini djuga mendukung dan mengikuti G 30 S maka 

achirnja saja ambil keputusan untuk melakukan pemunduran. 

Djuga sesudah  mendengar dibandingkan  Supardjo dari utjapan Presiden 

Sukarno bahwa djangan dilandjutkan tentang pertumpahan darah 

itu, maka achirnja diambil keputusan, jang saja ambil keputusan 

untuk mengundurkan gerakan. Biarpun sudah bisa dilihat lebih djauh 

sebelumnja bahwa akan timbul soal-soal jang gekomplisir sesudah 

pemunduran dibandingkan  gerakan ini. namun  keputusan itu saja ambil 

djustru untuk menjelamatkan dari pada seluruh nation ini, artinja 

seluruh bangsa ini dibandingkan  satu keadaan jang chaos. 

Tapi ternjata usaha ini sebab  ada tangan-tangan ketiga 

jang memasuki keadaan jang tidak normal dalam negeri kita ini, 

achirnja toch keadaan itu, biarpun tidak berdjalan lama, namun  djuga 

menimbulkan hal-hal jang kurang diharapkan oleh semua orang 

jang mentjintai tanah airnja. Sekalipun kedjadian ini djuga saja 

sendiri bertanggung djawab atas terdjadinja hal-hal jang sematjam 

itu. Tudjuan dibandingkan , kalau gerakan ini berhasil, sebetulnja untuk 

Dewan Revolusi itu yaitu  merupakan satu Dewan dimana nanti 

akan menjodorkan satu konsep kepada Bung Karno sebagai Presiden 

Republik Indonesia untuk melaksanakan politik nasakom, djadi 

membentuk suatu pemerintahan koalisi nasional berporoskan 

nasakom. 

Djadi tidak ada maksud-maksud untuk mendirikan Negara 

Komunis itu tidak ada, namun  untuk mendirikan Pemerintah Koalisi 

Nasional berporoskan nasakom. Djadi kalau bisa disetudjui oleh Bung 

Karno sebagai Presiden demikian, namun  kalau ada tapi masih ada 

djuga hal-hal jang bisa diamandir kalau Bung Karno tidak setudju. 

Dus dasarnja Dewan Revolusi itu bersifat sementara artinja masih bisa 

dilakukan perubahan-perubahan. 

Demikianlah apa jang saja masih ingat. Bagaimana hal-hal jang 

barangkali masih diperlukan.….

T: Apakah Biro Chusus mempunjai tjabang-tjabang di daerah? 

J: Punja. 

T: Apa bentuknja itu?

J: Biro Chusus Daerah.

T: Apakah Biro Chusus Daerah djuga berada dalam organisasi CDB?

J:Tidak. 

T: Bagaimana?

J: Dia langsung berhubungan dengan Pusat. 

T: Langsung berhubungan dengan Pusat?

J: Ja.

T: Djadi sekretaris CDB tidak tahu?

J: Ada jang tahu ada jang tidak.

T: Baik. Tadi sdr katakan bahwa Biro Chusus itu tidak terdapat dalam 

struktur organisasi Partai, betulkah demikian? 

J: Betul.

T: Apakah dapat dikatakan bahwa Biro Chusus itu bersifat ilegaal?

J: Ilegaal setjara artinja setjara negatif tidak, oleh sebab  didjamin oleh 

dasar dibandingkan  PKI itu tentang dasarnja jaitu Centralisme Demokrasi, 

dimana Ketua mempunjai hak untuk melakukan tindakan-tindakan 

atau untuk melakukan sesuatu aktivitet jang bersifat organisatoris. 

Djadi itu djaminannja. Tapi kalau itu dinamakan setjara umum setjara 

hukum memang itu bisa dinamakan ilegal. Tapi tidak dalam arti jang 

negatif.

T: Tjoba harap diulangi mengenai djaminan jang chusus tadi.

J: Djaminannya yaitu  dasar dibandingkan  organisasi PKI jaitu 

Centralisme Demokrasi, atau kalau itunja “Democratie Centralisme”. 

Didalam soal sentralisme Ketua mempunjai wewenang untuk 

melakukan tindakan-tindakan jang tidak ada didalam Konstitusi 

Partai. Dan djuga itu didjamin oleh salah satu pasal terachir dibandingkan  

Konstitusi Partai jaitu bahwa didalam keadaan jang luar biasa Partai 

dapat diorganisir setjara Luar Biasa. Sedangkan pada tahun ’64 itu 

sebetulnja mungkin oleh Pimpinan Partai terutama oleh Ketua bisa 

dianggap adanja gedjala-gedjala seperti Dewan Djenderal ini dianggap 

sebagai suatu keadaan jang luar biasa maka itu Ketua memakai  

wewenangnja didalam Demokrasi Sentralisme jang ada ditangannja 

itu untuk melakukan kebidjaksanaan organisasi.

T: Ja. Tadi sdr katakan bahwa mendekati anggota-anggota ABRI itu 

sedjak tahun 1957. Betulkah itu? 

J: Ja. Betul.

T: Apakah itu berlaku djuga di daerah-daerah?

J: Tidak seluruhnja, terutama hanja di Djawa.

T: Di Djawa Timur siapa-siapa jang didekati?

J: Wah saja tidak tahu kalau didaerah-daerah.

T: Tidak tahu. Di Djawa Tengah? 

J: Djuga tidak tahu. 

T: Di Djakarta? 


 

J: Kalau di Djakarta jang saja sendiri langsung mendekati itu yaitu  

Pardjo, Major Suganda, Kolonel Sidik, sedang jang baru didekati 

waktu itu. Pada tahun-tahun sesudah enampuluhan Kolonel Mustofa, 

Brig. Djen. Djuhartono, Kolonel Machmud Pasha itu jang saja 

langsung. 

T: Sdr sebut Pardjo maksudnja Brigdjen Supardjo? 

J: Ja. 

[Sjam menjelaskan bahwa pada pagi 26 Agustus, dia , Pono dan 

Walujo bertemu untuk mendiskusikan penyusunan Gerakan 30 

September.]

T: Sore harinja [26 Agustus] sdr pergi kemana?

J: Sore harinja saja menghadap Ketua.

T: Ketua siapa?

J: Ketua D.N. Aidit.

T: Dimana? 

J: Dirumahnja. 

T: Kira-kira djam berapa? 

J: Antara djam 9 dan 10.

T: Rumahnja didjalan mana? 

J: Di Pegangsaan Barat.

T: Waktu sdr datang dengan siapa? 

J: Sendiri. 

T: Apa jang sdr bitjarakan dan sdr laporkan? 

J: Melaporkan tentang hasil pertemuan pagi hari. 

T: Lalu apa kata sdr Aidit? 

J: Ja, baik, landjutkan tentang persiapannja. 

T: Lalu? Apakah sdr. Aidit sudah puas dengan 3 tenaga ini? 

J: Oh belum puas. 

T: Lalu?

J: Supaja ditambah. 

T: Siapa jang memerintahkan itu? Siapa jang mengatakan supaja 

ditambah? 

J: Ketua D.N. Aidit. 

T: Kepada siapa? 

J: Kepada saja. 

Tentang Keterlibatan Pimpinan Partai

T: Baik, didalam rangkaian ini apakah saudara mendengar dari sdr. 

Aidit, bahwa gerakan ini yaitu  sudah mendjadi keputusan partai? 

J: Tidak. 

T: Begini saudara Sjam didalam Berita Atjara menjebut bahwa waktu 

saudara mendapat instruksi dari D.N. Aidit dalam pentjetusan Dewan 

Revolusi? 

J: Ja. 

T: Sdr menanjakan kepada saudara Aidit betulkah itu? 

J: Ja. 

T: Apa pertanjaan saudara? 

J: Apakah ini sudah mendjadi keputusan partai? 

T: Lalu djawab dari Ketua? 

J: Ketua djawab keputusan partai. 

T: Keputusan partai itu saudara dengar itu kapan, tanggal 20 itukah 

atau hari lain? 

J: Sebelumnja. 

T: Djadi sebelumnja, jadi kapan? 

J: Sebelumnja. 

T: Persisnja? 

J: Kira-kira tanggal 27. 

T: 27, saudara pasti ataukah …? 

J: Kira-kira. 

T: Kalau itu saja katakan tanggal 28 atau 29 bagaimana? 

J: Tidak keberatan. 

T: Tidak keberatan, dus betul saudara mendengar dari sdr Aidit bahwa 

instruksi dari sdr Aidit kepada sdr dalam rangka pentjetusan Dwan 

Revoulsi dan alatnya G 30 S atau oleh sdr Aidit didjawab sudah 

merupakan keputusan partai, betul? 

J: Ja. 

T: Tidak keliru lagi? 

J: Tidak. 

Tentang Pasukan-pasukan yang Digunakan untuk G-30-S

T: Tadi sdr menjebut bahwa untuk melaksanakan gerakan itu, jang 

achirnja bernama G 30 S, telah tersedia 6 bataljon tempur, betulkah 


 

itu? 

J: Betul. 

T: 6 Bataljon tempur itu Bataljon mana sadja?

J: Dari Tjakra dari Brigif 1 Bataljon. 

T: Tjakra berapa Bataljon? 

J: Satu kompi, Brigif satu bataljon kemudian dari P.3. 

T: Apa itu P.3?

J:. Pasukan Pembela Pangkalan dari AURI. P-3 AURI, satu bataljon, 

terus tenaga-tenga tjampuran 2 kompi, terus dari 530-454 dan 1 

bataljon dari sukwan [sukarelawan]. 

T: Tadi sdr mengatakan bataljon 530 itu berasal dari mana? 

J: Dari Djawa Timur.

T: 454 dari mana? 

J: Djawa Tengah. 

T: Sdr berada di Djakarta, bagaimana bisa mengumpulkan bataljon-

bataljon ini? 

J: Tidak dikumpulkan setjara sengadja, bisa mengumpulkan. Djadi 

bataljon ini kebetulan ditugaskan untuk ke Djakarta dalam rangka 

hari ABRI. Dan sebab  ini merupakan, kami pandang, suatu kekuatan 

jang bisa dipergunakan, kami mengambil kesempatan ini. 

T: Sdr mengatakan tidak sengadja. Saja belum begitu mengerti, 

mengapa itu suatu vervalligheid, satu kebetulan, lalu sdr dapat 

mengumpulkan 2 bataljon. Bagaimana, tjoba pendjelasannja, 

b

agaimana ini? 
J: Djadi sebetulnja, sebulan sebelumnja hari ABRI itu sudah ada berita 
bahwa 2 bataljon ini jaitu Raiders dari Djatim dan Djateng akan 
diperbantukan didalam hari Angkatan Bersendjata di Djakarta. Terus 
kita mengadakan penelitian terhadap 2 kesatuan ini, sesudah  ternjata 
2 kesatuan ini kita pandang bisa, kita pergunakan kesempatan ini kita 
pergunakan untuk menambah kekuatan jang ada di Djakarta dalam 
gerakan ini, djadi tidak sengaja umpamanja bataljon ini di Djakarta, 
tidak sengadja begitu tapi kebetulan sebab  ditugaskan ke Djakarta 
dan kita tindjau bisa diadjak didalam gerakan kita pergunakan 
kesempatan itu. 
T: Sdr mengatakan sebulan sebelumnja terhitung mulai kapan itu? 
J: Djadi kira-kira antara 10-15 September itu, kita sudah menerima 
berita bahwa 530 dan 454 akan ditugaskan ke Djakarta. 
T: Kira-kira tanggal 10-15 September 65 sdr sudah mendengar berita 
bahwa 2 bataljon ini akan ditugaskan di Djakarta. Sdr mendengar 
berita ini darimana? 
J: Dari Djatim dan Djateng. 
T: Tegasnja dari Biro Chusus? 
J: Dari Biro Chusus Djatim dan Biro Chusus Djateng. 
T: Kira-kira bunji berita itu bagaimana? 
J: Bahwa bataljon 530 ini dari Djawa Timur akan ditugaskan untuk 
melakukan upatjara tanggal 5 Oktober, dan akan berangkat ke 
Djakarta itu beritanja. 
T: Hanja itu sadja? 
J: Jah. 
T: Apakah tidak disertai satu penilaian tentang Bataljon ini? 
J: Saja terus menanjakan bagaimana keadaan bataljon ini, lalu dijawab 
bahwa ada tenaga-tenaga jang bisa digunakan untuk melakukan 
gerakan. 
T: Jang mendjawab itu dari siapa? 
J: Dari Biro Chusus daerah Djawa Timur. 
T: Untuk Djatim siapa namanja? 
J: Hasim. 
T: Untuk Djawa Tengah siapa namanja? 
J: Salim. 
T: Apakah sdr pernah menerima laporan bahwa bataljon-bataljon ini 
sudah didekati oleh Biro Chusus daerah? 
J: Jah. 
Asal-usul Biro Chusus
T: Tadi dikatakan bahwa Biro Chusus itu terbentuk pada tahun 1964, 
betul? 
J: Ja. 
T: Dalam kalangan lain saudara mengatakan bahwa saudara bekerdja 
di Angkatan Bersendjata ini mulai kira-kira tahun 57?
J: Ja. 
T: Aparaat mana atau aparaat partai mana jang melaksanakan 
pekerdjaan ini sebelum adanja Biro Chusus itu, djadi saudara bekerdja 

 
itu didalam organ apa dari biro partai waktu itu? 
J: Saja waktu itu sebagai pembantu Ketua. 
T: Oh pembantu Ketua. Bukan di Departemen Organisasi tadi? 
J: Belum. 
Tentang Kehadiran Aidit di Pangkalan AURI Halim
T: Kemudian apakah benar D.N. Aidit dibawa ke Halim pada hari itu 
djuga, malam itu? 
J: Ja, betul. 
T: Siapa jang membawanja? 
J: Sujono. 
T: Atas perintah? 
J: Saja. 
T: Maksudnja, maksud beradanja D.N. Aidit di Halim untuk apa? 
J: Untuk mendekati pimpinan gerakan. 
T: Untuk mendekati. Didalam P.V. tertjantum untuk memudahkan 
hubungan Cenko [Central Komando] dengan Aidit dan pengontrolan 
terhadap rentjana gerakan? 
J: Ja. …
T: Saudara Sjam, saudara tahu sdr Aidit pada tanggal 1 Oktober 65? 
J: Ja. 
T: Dimana waktu itu? 
J: Di Halim. 
T: Waktu saudara Aidit berangkat saudara tahu? 
J: Tahu. 
T: Berangkat kemana? 
J: Ke Djogja. 
T: Dengan mempergunakan apa? 
J: Pesawat. 
T: Kepergiannja itu menurut jang saudara ketahui maksudnja apa? 
J: Untuk menghindari Djakarta. 
T: Untuk? 
J: Menghindari Djakarta. Untuk menjelamatkan diri. 
T: Mengapa dihindari? 
J: sebab  gerakan gagal. 
T: Dia pergi dengan kemauan sendiri ataukah ditodong untuk pergi? 
Jang saudara lihat bagaimana? 
J: Tidak ada jang nodong. 
T: Tidak ada jang nodong. Djadi, pergi ke Djogja untuk 
menjelamatkan diri. Siapa temannja dalam satu pesawat itu? 
J: Dengan saudara Walujo. 
T: Saudara Walujo. Siapa lagi? 
J: Sama kawan Kusno. 
T: Saudara Kusno itu dari mana? 
J: Dia Adjudan. 
T: Adjudan. Siapa lagi?
J: Sudah. 
Pengalaman Militer Sjam
T: Saja ingin menanjakan kepada saudara saksi. Apakah saudara saksi 
berpengalaman atau telah mengalami dalam gerakan-gerakan militer? 
J: Sedikit pernah. 
T: Dimana? 
J: Waktu revolusi 45. 
T: Sesudah itu tidak ada lagi? 
J: Tidak ada lagi. 
Daftar Dewan Revolusi
T: Kenapa tidak saudara saksi jang mengetuainja [Dewan Revolusi] 
sedangkan saudara saksi langsung mengepalai Biro Chusus? 
J: sebab  saja sebagai orang jang tidak dikenal, djadi kalau waktu itu 
disebut, menimbulkan pertanjaan …
T: Saja ingin menanjakan kepada saudara saksi mana kira-kira jang 
populer itu diantara anggota Dewan Revolusi jang terdapat, mana 
kira-kira ini jang penurut pendapat saudara saksi, mana kira-kira 
jang populer, Untung dan Pardjo? Menurut penapat saudara saksi. 
Menurut pengalaman saudara saksi selama bergaul atau mana orang 
ini kira-kira jang lebih jah katakanlah jang lebih pintar atau lebih 
segala matjam begitu. 
J: Untung lebih populer. 
[Sudisman diminta mengomentari kesaksian Sjam. Ia mengoreksi 

 
pernyataan Sjam tentang anggota Dewan Harian Politbiro PKI. 
Sjam menyatakan bahwa ada lima anggota – Aidit, Sudisman, 
Lukman, Njoto, dan Anwar Sanusi. Sudisman mengatakan Sanusi 
bukan anggota. Komentarnya yang lain hanyalah tentang masalah 
pertanggungjawaban.]
Sudisman: Walaupun saja sendiri tidak mengetahui [tentang G-30-S] 
tapi itu dilakukan oleh kawan saksi Sjam atas instruksi kawan Aidit 
dan sajapun melakukan instruksi dari kawan Aidit, maka dari segi 
tanggung djawab saja ambil oper tanggung djawab itu semua.