ca temuan di atas, saya makin yakin bahwa kata-kata
Epictetus dan Marcus Aurelius sesungguhnya tetap relevan, bahkan
2.000 tahun sesudah dituliskan. Rasa frustrasi dan ketidakbahagiaan
kita sesungguhnya datang dari dalam pikiran kita sendiri, bukan dari
realitas hidup itu sendiri. Good news-nya adalah pikiran kita
sepenuhnya berada di bawah kendali kita sendiri.
Melawan Lebay
Bagaikan cenayang, para filsuf Stoa juga sudah memberikan
beberapa tips menghadapi kelebayan zaman ini. Tanpa kita sadari,
sebenarnya kita sering kali lebay (berlebihan) dalam menanggapi
segala sesuatu, walaupun hal itu sebenarnya remeh. Kita marah-
marah, ngomel, baper, mewek, dan lain-lain, untuk hal-hal yang tidak
perlu. Di foto selfie keliatan gemuk? Lebay! Berat badan naik 200
gram? Lebay! Gebetan ternyata sudah punya anak? Lebay! Nilai
ujian anak hanya 97, padahal harusnya 100? Lebay! Gak
mendapatkan tiket konser? Lebay! Seleb kawin lagi? Lebay juga,
padahal kenal juga enggak.
Kenyataannya, media sosial menambah lagi kemungkinan kita
menjadi lebay. Pertama, dengan mendistorsi persepsi realitas kita.
Kebanyakan orang hanya mem-post hal-hal yang indah saja di media
sosial, misalnya sepatu baru, HP baru, pacar baru, cafe baru, liburan
baru, tas baru, rumah baru, istri baru, anak baru, dan seterusnya.
Hampir jarang sekali yang mem- post kemalangan, kemiskinan,
kecerobohan, kebodohan dalam hidupnya.
Saya belum pernah melihat ada yang menulis di akun media
sosialnya, "Yay! Saya hamil dan tidak tahu siapa bapaknya!” sebab
postingan orang-orang di media sosial selalu diseleksi /curated),
maka media sosial tidak memberikan gambaran realitas hidup yang
seimbang, namun cenderung ke yang positif saja. Ini membuat kita
mengira standar hidup yang "normal” harus selalu indah, sempurna,
harmonis, dan saat harus berhadapan dengan kenyataan yang tidak
enak sedikit, bagi kita ini sudah menjadi masalah besar.
Yang kedua, menjadi lebay sangat difasilitasi oleh media sosial. Kita
mudah memuji-muji dengan berlebihan hal-hal yang ada di media
sosial, sebab kita cukup memilih like, menaruh emoticon, atau
menulis komentar dengan jempol kita. Tanpa kita sadari, lebay di
jempol akhirnya bisa menjadi lebay di bibir dan pikiran. Sekarang, kita
mengerti bahwa lebay di pikiran bisa membuat kita tidak bahagia.
membagikan beberapa pengamatan mengenai hidup
untuk melawan fenomena lebay:
1. Tidak ada yang baru di dunia ini. "Selalu ingat bahwa ini semua
telah terjadi sebelumnya, dan akan terjadi lagi. Plot yang sama
dari awal hingga akhir, di tata panggung yang sama. Pikirkan hal
ini, berdasarkan yang kamu ketahui dari pengalaman atau
sejarah," Marcus Aurelius [Meditations). Semua kejadian yang
kita alami dan amati dalam hidup pada dasarnya sudah pernah
terjadi, sedang terjadi lagi, dan masih akan terjadi.
Di sini, tentunya Marcus Aurelius tidak membicarakan hal-hal
yang bisa muncul dan hilang, seperti tren baju, Taylor Swift, atau
teknologi smartphone, namun hal-hal yang berkenaan dengan
perasaan manusia, yaitu patah hati, iri hati, sedih sebab
kehilangan barang, duka sebab kehilangan anggota keluarga,
terkhianati, kehilangan teman, kehilangan harapan, nafsu birahi,
dan lain-lain-semua ini sudah dialami umat manusia selama
ribuan tahun dan masih terus akan terjadi.
Dalam perspektif waktu seperti ini, apakah hal-hal sepele dalam
hidup ini perlu mendapatkan responyang berlebihan? Mungkin
jika Marcus Aurelius hidup di zaman sekarang, dia akan menegur
kita, "EH BIASA AJA KELEUS. INI HAL BIASA DALAM HIDUP,
GAK USAH LEBAY!"
2. Perspektif dari atas (View from above). "saat kamu berpikir
mengenai umat manusia, cobalah melihat hal-hal di dunia seolah
kamu melihatnya dari ketinggian,” Donald Robertson.
Dalam artikel nya Stoicism and The Art of Happiness, Robertson
mengutip teknik yang pertama kali diperkenalkan oleh Marcus
Aurelius ini. Kita diminta mencoba membayangkan diri kita
perlahan terbang ke atas (dengan menumpang drone raksasa).
Diawali dari problem kita sendiri, misalnya diputus pacar/ diminta
cerai, kemudian perlahan makin naik. Kita melihat orang-orang di
sekitar kita, mondar-mandir dengan urusan dan kesusahan
mereka sendiri. Makin naik, kita melihat kota tempat kita tinggal,
dengan segala kompleksitas warganya dan permasalahannya.
Makin naik, kita melihat Indonesia dengan segala
permasalahannya, dari urusan korupsi, kerusakan hutan,
kemiskinan, dan lain-lain. Terus naik, siapkan helm oksigen,
sebab kita akan melihat bumi yang bulat, beserta segala
permasalahan dunia, dari angkasa luar.
Kemudian, tanyakan kembali ke diri kita, apakah sebenarnya
masalah pribadi kita sungguh-sungguh sebuah masalah besar
bila dibandingkan dengan dunia dan seluruh kehidupannya?
Tidakkah drama yang sedang kita jalani sebenarnya tidak
sebegitu istimewanya, sebuah debu di dalam keseluruhan
perjalanan sejarah? Bandingkan dengan ancaman perang nuklir,
misalnya.
Yang menarik, teknik kuno ini ternyata dialami nyata dua ribu
tahun kemudian oleh para......................astronaut. The
Overview Effect (Efek Melihat Dari Jauh) adalah nama untuk
perubahan drastis yang dialami para astronot saat melihat bumi
dari jauh di luar angkasa. saat mereka melihat bumi dari
angkasa, maka muncul kesadaran betapa rapuhnya kehidupan,
dan betapa kita semua umat manusia sesungguhnya saling
terhubung /interconnected) di planet ini.
Dalam artikel “Seeing Earth from Space is the Key to Saving Our
Species from Itself' ("Melihat Bumi dari Angkasa adalah Kunci
Menyelamatkan Spesies Kita dari Diri Kita Sendiri”) oleh Becky
Ferreira, mantan astronot Apollo 11 Michael Collins berkata,
"Saya sungguh percaya jika saja para pemimpin bangsa-bangsa
bisa melihat planet mereka dari jarak 100.000 mil, maka
perspektif mereka akan berubah drastis.”
3. Semua akan terlupakan. ‘Pada saatnya, kamu akan melupakan
segalanya. Dan akan ada saatnya semua orang melupakanmu.
Selalu renungkan bahwa akhirnya kamu tidak akan menjadi
siapa-siapa, dan lenyap dari bumi," Marcus Aurelius
/Meditations). Jika pada akhirnya segala drama hidup kita akan
dilupakan dan terlupakan, bahkan mungkin oleh kita sendiri,
apakah sudah sepantasnya kita bersikap berlebihan terhadap
sebuah peristiwa?
Pada akhirnya, kita sendiri mungkin akan melupakan apa yang
baru saja terjadi, orang-orang lain juga akan melupakannya, dan
mungkin dalam 10, 25, atau 50 tahun lagi, semua ini akan terasa
remeh dan biasa.
Dengan menyadari bahwa sesungguhnya tidak ada yang benar-benar
istimewa dengan peristiwa hidup kita, baik dalam perspektif waktu
(semua drama kita ini sudah pernah terjadi di masa lampau di seluruh
dunia, dan akan terjadi lagi di masa depan), dan juga dalam
perspektif seberapa pentingnya apa yang kita alami dibandingkan
keseluruhan umat manusia dan hidup, maka jika kita rasional, kita
tidak perlu lebay di semua situasi.
Kultus Individu
Reaksi lebay juga bisa timbul terhadap individu. Misalnya, kita nge-
fans sekali pada selebriti, tokoh idola, termasuk pemimpin (bisa
politik, agama, atau bidang lainnya). Kultus individu (rasa hormat
berlebihan) timbul saat kita mulai mendewakan seseorang,
sehingga yang terlihat oleh kita darinya hanyalah yang baik-baik saja.
Dia tampil bagaikan sosok yang sempurna.
Kemudian, saat belakangan orang ini melakukan kesalahan,
atau tidak menunjukkan moralitas yang sesuai dengan ekspektasi
kita, maka ada dua reaksi, yaitu penyangkalan /denial)—kita
menuduh itu semua pasti tidak benar—atau patah hati menghadapi
kenyataan. Di kedua respons ini , sebenarnya kita sudah lebay
juga. Media sosial saat ini juga sangat memperbesar efek kultus
individu, sebab kita bisa "mengikuti" sepak terjang orang yang kita
idolakan hampir 24 jam, tujuh hari seminggu.
Bagaimana Stoisisme melihat fenomena kultus individu ini? Dengan
kerangka dikotomi kendali, seharusnya jawabannya sudah jelas. Kita
tidak seharusnya menggantungkan kebahagiaan pada kekayaan dan
popularitas kita sendiri, apalagi pada reputasi orang lain. Pilihan-
pilihan orang lain tidak berada di bawah kendali kita, sebab nya kita
harus selalu siap menghadapi saat orang yang kita idolakan
ternyata mengecewakan kita. Tidak perlu lebay, gusar, menangis
guling- guling, jika kita selalu mampu mengingat bahwa kehidupan
tokoh idola ada di luar kendali kita.
The Inner Citadel (Benteng di Dalam Diri)
Di bab ini kita telah diingatkan oleh para filsuf Stoa bahwa perasaan
kita tidak harus menjadi penumpang pasif yang dibawa dan
ditentukan oleh kehidupan. Kita juga diingatkan bahwa semua rasa
susah, khawatir, cemas sebab peristiwa eksternal sebenarnya tidak
datang dari peristiwa hidup itu sendiri, namun dari persepsi, anggapan,
opini kita sendiri, dan ini sepenuhnya di bawah kendali kita. Ini adalah
kabar gembira yang sangat penting, sebab jika kita bisa
mengendalikan persepsi dan pikiran kita yang selama ini bertanggung
jawab terhadap semua emosi negatif kita, sesungguhnya rasa damai
dan tenteram selalu bisa kita ciptakan tanpa harus menunggu hidup
memperlakukan kita dengan baik.
Mengendalikan emosi negatif merupakan tema yang cukup sering
berulang di dalam teks-teks . Para filsuf Stoa melihat
emosi negatif yang lahir dari opini/va/ue judgment sebagai sesuatu
yang harus terus dikeluarkan dari dalam pikiran kita. Hal ini berkaitan
dengan hidup yang sebagian besar berada di luar kendali kita. Bagi
filsuf Stoa, hidup yang penuh ketidakpastian hanya bisa dihadapi
dengan pikiran yang tidak terganggu emosi negatif.
“Pikiran yang tidak diganggu oleh emosi berkecamuk adalah sebuah
benteng, tempat berlindung terkokoh bagi manusia untuk berteduh
dan berlindung.”- Marcus Aurelius /Meditations). Walaupun beliau
adalah seorang Kaisar dengan kekuasaan absolut atas ratusan ribu
prajurit, bagi Marcus
a You have Dower over
not outsideyour mi
events. Realize this,
and you will find
strength? - Marcus
Aurelius (Meditations)
Aurelius tempat berlindung terkokoh adalah pikirannya sendiri.
Di bab berikutnya, kita akan mendapatkan tip-tip praktis dari Filosofi
Teras untuk membuat kita lebih tangguh dalam menghadapi hidup
yang sulit.
“You have power over your mind, not outside events.
Realize this, and you will find strength." - Marcus Aurelius
/Meditations)
Intisari Bab 5
• Manusia kerap kali disusahkan bukan oleh hal-hal atau
peristiwa, namun oleh opini, interpretasi, penilaian/value judgment
akan hal-hal atau peristiwa ini .
• tidak memisahkan antara “emosi” dan
’’nalar/rasio”. Emosi (negatif) dianggap sebagai akibat dari
nalar/rasio yang keliru.
• Saat kita mengalami peristiwa hidup, sering kali ada penilaian
otomatis yang muncul, dan jika tidak rasional, maka penilaian
otomatis ini memicu emosi negatif.
• Kita memiliki kemampuan untuk tidak menuruti penilaian/ value
judgment otomatis ini . Kita mampu untuk menganalisis
sebuah peristiwa/objek dengan rasional, khususnya untuk
memisahkan antara fakta objektif dari penilaian/opini subjektif
kita.
• Langkah-langkah yang bisa dilakukan dengan akronim S-T-A-R
(Stop-Think & Assess-Respond) dapat dipraktikkan saat kita
mulai merasakan emosi negatif.
• Kita juga bisa mengendalikan respons lebay terhadap segala hal
dengan mengingat betapa remehnya masalah kita jika dilihat
dari jauh, bahwa tidak ada yang sungguh- sungguh baru di
kehidupan manusia, dan pada akhirnya semua akan terlupakan
oleh waktu.
"Kita harus aware (sadar)
dengan apa yang kita
pikirkan pada situasi
tertentu.”
Sesudah menemui Dr. Andri, seorang psikiater dengan spesialisasi
pengobatan psikosomatis, saya pun tertarik mendapatkan perspektif
disiplin psikologi. Saya berkesempatan mewawancarai Wiwit
Puspitasari, seorang psikolog klinis yang juga pengajar di Program S-
1 Psikologi di sebuah universitas swasta. Berikut adalah kutipan
wawancaranya:
Halo Wiwit, bolehkah bercerita sedikit mengenai aktivitas sehari-hari?
Saya adalah seorang psikolog klinis dewasa. Saya juga seorang full
time pengajar di UPH (Universitas Pelita Harapan), untuk mata kuliah
Psychodiagnostics, Kode Etik Psikologi, Positive Psychology. Di luar
itu, saya praktik by appointment (perjanjian). Selebihnya ikut kegiatan
sosial di Komunitas Sahaja, dengan fokus di anak dan orang tua di
daerah Marunda. Kami memberikan pengajaran sebulan sekali untuk
life skills. Misalnya diajarkan tentang cinta lingkungan, bullying, dan
lain-lain.
ncara dengan
Mengapa dulu mengambil kuliah Psikologi?
Katanya dulu sih pendengar yang baik, suka dicurhatin, hahaha. Dan
rasanya puas kalau bisa membantu orang. Dulu waktu SMA mikirnya
seru ya dengerin orang, kayaknya gak sulit. Tahunya sesudah masuk
(Psikologi), ternyata sulit banget dengerin orang. Semakin ke sini
rasanya makin puas jika bisa membantu orang di bidang saya. Kalau
orang berkata "Terima kasih sudah membantu saya", itu sudah
achievement/ pencapaian bagi saya.
Apa pendapat Wiwit mengenai hasil Survei Khawatir Nasional di
mana dua dari tiga responden mengaku merasa khawatir mengenai
hidup ini?
Saya mikir, "Dunia lagi kenapa ya?” Hal-hal yang membuat
seseorang khawatir selain sebab melihat pengalaman pribadi juga
melihat pengalaman orang lain. Dan juga verbal instruction, dikatakan
orang lain secara terus-menerus. Misalnya, kalau ditakut-takutin,
"Anjing itu ngeri lho”, kalau dilakukan secara terus-menerus bisa
menimbulkan rasa takut terhadap anjing. Saya jadi mikir, di sekeliling
kita lagi ada apa ya sampai orang segitu khawatirnya? Informasi yang
mereka dapatkan apa aja sih? Serta orang-orang di sekitarnya
apakah semakin me- reinforce (memperkuat) kekhawatiran mereka
atau justru membantu (mengurangi)?
Makanya saya mengecek komposisi responden yang mayoritas
perempuan. Ini konsisten dengan kebanyakan penelitian (bahwa
perempuan lebih rentan khawatir-HM). Yang bikin kaget sebenarnya
bahwa jumlahnya setinggi itu.
Mengapa perempuan cenderung lebih khawatir daripada laki- laki?
Asumsinya adalah adanya pengaruh gender role. Cowok itu kan
diharapkan lebih kuat daripada perempuan, jadi mereka itu selalu
diminta atau dipaksa menghadapi ketakutannya. Selain itu, umumnya
perempuan lebih ekspresif dalam menyatakan apa yang ia rasakan
dibandingkan laki-laki, sehingga lebih banyak jumlah perempuan
yang bercerita kalau dia cemas dibandingkan laki-laki.
Kalau dilihat treatment tentang anxiety atau fear, cara paling umum
untuk menghadapi ketakutan atau kecemasan adalah dengan
dihadapi. Tapi, caranya itu yang harus diatur.
Bisa diperjelas lebih dalam tentang peran orang sekitar mengenai
kekhawatiran kita?
Khawatir dan takut saya gabung ya, sebab secara psikologi
dibedakan. Kalau takut adalah perasaan yang muncul saat ada
ancaman yang memang terjadi ada di dekatnya, sangat konkret.
Immediate threat.
Khawatir itu seperti takut, tapi akan sesuatu yang masih di depan.
Masih nanti in the future, dan kita nggak tahu benar (akan terjadi)
atau tidak. Misalnya, saya kuliah, nanti skripsi lulus gak, nah itu
khawatir. Kalau takut, maka ada ancaman di saat ini, misalnya
dosennya marah, dan saya merasa takut. Tapi, memang
gangguannya suka digabung (secara psikologi).
Soal pengaruh orang sekitar, coba lihat, bayi itu tidak punya rasa
takut. Yang membuat dia merasa takut adalah sebab dia
mempelajari ada sesuatu yang menakutkan. Takut dan anxiety
menurut saya adalah hal yang "dipelajari". Dan yang membuat kita
belajar (takut) itu salah satunya peran orang-orang lain. Apakah saat
saya takut, orang lain membantu saya mengatasi ketakutan saya,
atau malah memupuk sehingga takutnya makin parah. Saya takut
laba-laba, bukannya dibantu supaya tidak takut, tapi malah disodorin
laba-laba.
Sugesti/pengaruh lingkungan lebih besar ke anak kecil. sebab
asumsinya anak kecil belum punya kemampuan berpikiryang
memadai untuk menganalisis sesuatu, misalnya menentukan baik
dan benar, dibandingkan dengan orang dewasa. Terkadang saya
melihat dari client-client saya bahwa proses seseorang menjadi takut
sebenarnya sumbernya sejak masih kecil. Jadi, sumber
kekhawatirannya bukan baru-baru saja terjadi, bahkan ada yang dari
usia sekolah.
Rata-rata, client yang datang konsultasi ke Wiwit pemicunya apa,
apakah mereka datang sendiri atau sebab dibawa keluarga?
Umumnya, client remaja sebab dibawa keluarganya. Misalnya
anaknya dirasa berbeda dari anak-anak lain, atau biasanya anak
yang tertutup dengan orang tua, atau anak dengan isu pengendalian
marah, atau anaknya tidak bisa mengikuti apa yang diharapkan oleh
orang tuanya.
Untuk yang sudah kuliah, biasanya sebab keinginan sendiri. Yang
paling sering membuat mereka akhirnya datang ke klinik justru
gangguan fisik. Misalnya sulit tidur atau sakit kepala terus-menerus.
Ada yang berusaha ke dokter dulu, tapi dokter berkata ini bukan
masalah biologis, mungkin kamu stres, coba ke psikolog.
Pemicu kedua yang paling sering adalah saran orang lain, misalnya
pacar, orang tua, atau teman-teman. Ketiga, mereka yang merasa
berbeda dari orang-orang (sekitarnya). Misalnya, kok saya gampang
sekali emosi sementara teman-teman saya tidak.
Tadi dikatakan banyak yang datang (berkonsultasi) sebab sulit tidur,
sakit kepala. Apa rata-rata penyebabnya?
Masalah fisik seperti sulit tidur dan sakit kepala umumnya muncul di
kebanyakan gangguan. Anxiety disorder, mood disorder, stres,
gejalanya seperti itu.
Saya percaya antara kognisi dan fisiologis itu pasti berkaitan. Saat
orang takut dan cemas akan ada “alarm” di badan. Simtom fisiknya
sama, sumbernya bisa beda.
Kebanyakan, penyebabnya (dari sulit tidur/sakit kepala) adalah
cemas atau depresi yang masih mild (ringan) atau moderate
(sedang). Sulit dibedakan sebab cemas dan depresi suka barengan,
orang yang cemas juga menampilkan simtom-simtom depresi.
Apa contoh situasi kecemasan yang sering dihadapi Wiwit?
Paling sering kalau mahasiswa, dia berada di sebuah pertemanan
yang tidak sehat, namun dia tidak bisa keluar dari situ. sebab
(katanya) "Kalau saya keluar dari situ, nanti teman saya akan begini
ke saya”. (Saya men-challenge], "Memang iya dia akan begitu?”, "Iya”
katanya. Jadi dia memilih tidak melakukan apa-apa, untuk
menghindari hal buruk dari terjadi. Jadi, dia sudah memiliki belief
tertentu terhadap kondisi pertemanannya.
Klien yang datang ke klinik biasanya masalahnya sudah berlangsung
lama. Saya suka mikir, dua orang terkena kondisi eksternal yang
sama, tapi reaksinya bisa beda. Pasti ada sesuatu di dalam dirinya
yang memengaruhi, misalnya cara berpikir, atau kecenderungan
kepribadian yang ia miliki. Orang- orang yang suka khawatir akan
kesehatan umumnya cenderung lebih sensitif akan trigger-nya,
sehingga makin mikirin itu.
Orang yang susah tidur cemasnya bukan sebab tidak bisa tidur,
namun sebab dia berpikir bahwa dia tidak bisa tidur.
Orang yang gampang cemas adalah orang yang punya
kecenderungan bahwa ia tidak bisa mengontrol sesuatu (sense of
personal control]. Dia merasa tidak bisa mengontrol sesuatu. Semua
orang wajar terkena masalah dan merasa sedih, tapi kita berusaha
untuk problem solving, sebab kita merasa ada yang bisa kita
lakukan. Tapi, ada orang yang merasa dia tidak bisa mengendalikan
apa yang terjadi di hidupnya, sebab orang- orang seperti ini biasanya
menganggap yang terjadi di hidupnya dibentuk oleh sesuatu di luar
dirinya (seperti luck, orang lain yang lebih kuat, chance], sehingga
saat ada masalah dia tidak punya cara untuk problem solving.
Contohnya adalah mereka yang waktu kecilnya ada sejarah abuse.
Jadi, orang-orang ini merasa tidak bisa melakukan sesuatu, sehingga
menjadi kecewa (saat masalah menimpa)?
Ada dua kondisi yang berbeda. Orang yang merasa tidak bisa
melakukan sesuatu tidak akan bisa problem solving. Ada masalah ya
sudahlah.
Tapi, ada irrational belief lain yang membuat orang gampang
cemas/takut. Jadi, kata-kata seperti “harusnya...”, "dia pasti seperti
itu...", "must..", "dunia tuh harusnya adil”, "orang tuh harusnya ngertiin
gue". Gak semua orang harus ngertiin lo. Kata-kata seperti itu
membuat orang makin cemas. Itu adalah irrational belief yang harus
diutak-atik saat konseling.
Misalnya, kata-kata, “Saya PASTI tidak bisa ngapa-ngapain”,
“Yakin?" (kata saya). Misalnya ketemu dosen killer, “Saya pasti gak
lulus deh bu”, “Tahu dari mana?” (saya), “sebab dosennya killer",
“Sebelumnya pernah ketemu dosen killer gak?” (saya). Kita mencari
bukti-bukti untuk counter apa yang ada di pikiran dia.
Apa itu CBT [Cognitive Behavioral Therapy]?
CBT adalah pendekatan dalam psikologi yang menggabungkan
teknik cognitive therapy dan behavior therapy. Cognitive therapy
percaya bahwa respon (emosi ataupun perilaku) kita sumber
utamanya adalah pikiran. Umumnya pikiran yang irasional, salah,
atau keliru.
Kalau pendekatan behavior percaya bahwa untuk mengurangi atau
meningkatkan suatu perilaku harus dengan reinforcement/
punishment. Misalnya, kalau mau diet, bikin plan (rencana).
Kalau berhasil kasih reward, kalau gagal ditentukan apa punishment
(hukuman)-nya. Sementara kalau cognitive therapy, kalau gagal diet,
ditanya apa yang dipikirkan saat melihat makanan. Jadi proses
berpikirnya yang diutak-atik.
Di CBT, dua-duanya kita sasar, baik proses berpikir maupun
perilakunya. Makanya terapi CBT itu suka bikin banyak pe-er, ada
sesuatu yang harus dia lakukan, sebab dia harus explore tentang
pikirannya, emosinya. sebab asumsi CBT itu:
1. Perubahan pemikiran dapat mengubah perilaku.
2. Perubahan perilaku juga dapat mengubah cara berpikir.
Mungkin enaknya pakai contoh. Seorang gadis muda berkali-kali
gagal dalam percintaan, sehingga dia menjadi benci cowok, menjadi
apatis terhadap relationship. Apa yang dilakukan jika dengan
pendekatan CBT?
Pertama, ditanyakan apa yang bikin takut. Apa yang dipikirkan
mengenai relationship. Kita akan mencari tahu pemikiran apa yang
tidak rasional soal relationship.
Dalam CBT, kita mencoba mengubah dulu cara berpikirnya dengan
mencari bukti yang meng-counterapa yang dipikirkan. Misalnya,
“Semua laki-laki bajingan!", lalu kami tanya, “Oh ya? Siapa saja laki-
laki dalam hidup kamu?", sebagai contoh misalnya Ayah. "Apakah
ayah kamu bajingan?" Nggak. Jika begitu tidak semua laki-laki
bajingan kan?
Atau, "Gue selalu gagaL", "Oh ya? Bisa diceritakan gak kehidupan
pekerjaannya?” (Kemudian klien menceritakan sejarah kariernya).
"Oh, kemarin kamu dapat promosi ya? Apakah promosi artinya
gagal?" Kita mencari bukti yang bisa meng-counter (persepsi klien).
Kadang orang tidak aware bahwa pemikirannya irasional. sebab
kalau irasional artinya itu sudah terjadi cukup lama, sampai dia benar-
benar jadi irasional. Dengan menampilkan bukti mungkin
pemikirannya tidak langsung berubah, tapi minimal dia mendapatkan
insight, "Oh iya ya?” itu saja kami sudah senang.
Bahkan dengan client yang punya masalah self-esteem (percaya diri),
saya suka minta mereka menulis apa achievement (pencapaian)
yang mereka punya, tidak perlu besar, cukup kecil-kecil. Misalnya,
kata teman-teman kamu seperti apa? Kemudian saya bacakan
kepada mereka. Hanya supaya mereka aware saja bahwa mereka
tidak segitunya, walaupun mungkin pikiran mereka belum tentu
langsung berubah.
Insight ini yang harus ditemukan oleh si pasien sendiri, dan kita
berusaha memfasilitasi mereka agar menemukan itu.
Tadi dikatakan kecenderungan mengontrol segala sesuatu adalah
bentuk irrational belief. Ada contohnya?
Yang sering (saya dengar), "Saat saya baik dengan orang lain, orang
lain juga harus melakukan hal yang sama.” Salah satu pasien saya
punya kekesalan pada mantan pacarnya, sebab dia sudah baik
kepada mantannya, tapi si mantan tidak melakukan hal yang sama
kepada dirinya. Saya challenge, perilaku baik menurut kamu seperti
apa? sebab (standar) “baik" itu bisa berbeda-beda tergantung
masing-masing.
Contoh lain (yang saya sering dengar), "Dunia itu tidak adil ya?” Saya
balas, "Memang dunia tidak adil.” Saya suka bingung, sejak kapan
dunia adil. Tapi, menurut dia dunia harus "adil”. Keadilan kadang juga
terkait dengan "Saya sudah melakukan hal ini, saya juga harus
dibalas dengan ini. Itu adil!”
Kalau dikatakan kita harus bisa menerima apa yang bisa dikendalikan
oleh kita dan apa yang tidak bisa dikendalikan oleh kita, apakah itu
sehat?
Menurut saya itu sehat. Di dalam Teori Stres, ada “coping stress’,
cara untuk mengatasi stres. Ada dua cara, yaitu problem-focused
coping dan emotional-focused coping. Problem- focused: misalnya
saya punya dosen killer, apa yang bisa saya lakukan supaya dosen
itu tidak killer (ke saya), atau supaya saya bisa mendapat nilai bagus
walaupun dosennya killer. Artinya, dalam problem solving kita
melakukan sesuatu yang masih di dalam kendali kita.
Emotion focused coping biasanya hanya mengatasi emosi kita.
Contohnya, saya didiagnosis terminal illness. Apa yang bisa saya
lakukan? Misalnya tidak ada lagi yang bisa saya lakukan, satu-
satunya jalan adalah berdoa. Doa adalah emotion focused coping.
Berguna saat tidak ada lagi yang bisa kita lakukan di sebuah situasi.
Contoh lain, ada orang berkata, “Gue ingin dia berubah!” (Saya
jawab) "Emang kamu bisa membuat dia berubah?” Yang bisa
dilakukan sampai mana sih? Memberi nasihat, paling sampai situ. Dia
mau berubah atau tidak, itu sudah di luar kendalimu. sebab hal itu
tergantung orangnya. Kamu bisa melakukan sesuatu, namun kamu
tidak bisa berharap bahwa dia akan atau pasti berubah.
Di luar konsultasi klinik dengan klien, Wiwit juga hidup di luar klinik,
bertemu juga orang-orang yang menunjukkan resilience,
ketangguhan, keuletan. Apa yang membedakan orang-orang yang
ulet dan tidak mudah cemas dari klien- klien Wiwit?
Salah satu hal yang sering saya observasi, orang yang lebih tahan
saat masalah adalah mereka yang punya social support. Bisa punya
pacar, keluarga, atau pertemanan. sebab banyak klien saya yang
tidak punya social support. Hidup sendiri, tidak percaya pada orang
lain.
Semakin ke sini, saya makin merasa bahwa keterbatasan kadang
membuat kita lebih resilient (tangguh). Keterbatasan dalam arti,
misalnya seorang anak tidak dimanjakan, tidak dikasih semua (yang
diminta), dibiarkan untuk berjuang. Menurut saya, ini bisa membuat
orang menjadi resilient. Untuk beberapa orang lain, faktor agama juga
ada, walau kadang sering salah. Misalnya, seseorang sedang punya
masalah, kemudian berkeyakinan bahwa "Tuhan pasti bantu”. Tapi,
kalau tidak ngapa-ngapain juga masalahnya tidak akan berubah
sendiri.
Kembali ke CBT, apakah ada prinsip-prinsip dari terapi ini yang bisa
dipraktikkan di situasi sehari-hari?
Tidak semua orang cocok dengan pendekatan CBT. sebab CBT
membutuhkan orang yang mau refleksi atas pemikiran dan
responnya.
Yang paling gampang memang aware dengan apa yang kita pikirkan
tentang situasi (tertentu). Misalnya macet, apa yang kamu pikirkan
pertama tentang macet? Irrational belief biasanya langsung keluar.
Misalnya lagi, berkenalan sama orang, langsung berpikir, "Dia pasti
menganggap saya jelek nih.” Itu pikiran pertama yang muncul dan
malah bikin tambah sedih. Berikutnya, buktinya apa? Saya suka
bilang, kamu harus mencari bukti yang meng-counter pikiran ini .
Di sinilah pengaruh orang sekitar bisa berfungsi sebagai reminder.
(Twitter: Owiwitto)
Intisari wawancara dengan Wiwit Puspitasari:
• Penyebab kekhawatiran sering kali adalah sebab adanya
pendapat, opini yang irasional (contoh, "Dunia harus adil!”).
• Terapi metode Cognitive Behavior berusaha mengatasi emosi
negatif dengan mengubah pola pikir dan perilaku. Pola pikir yang
keliru dihadapkan dengan bukti-bukti nyata yang tidak
mendukung pola pikir ini .
• Belajar menerima hal-hal yang tidak ada di bawah kendali kita
bisa membantu kita mengatasi stres.
BAB ENAM
Memperkuat
Mental
128
aya mempunyai beberapa teman lama dan kenalan yang sedari
dulu selalu membuat saya kagum. Mereka adalah orang-orang
yang di hampir semua situasi yang sangat tidak mengenakkan
selalu bisa berkata, “Yah, d/-enjoy sajalah." Antrean terminal yang
panjang, kemacetan berjam-jam, dosen membatalkan kelas
mendadak padahal kami semua sudah hadir; dulu, bagi saya ini
adalah hal yang aneh. Situasi lagi gak enak kok d/-enjoy? Gimana
bisa? Harusnya kita protes! Menuntut keadilan! Memperbaiki
keadaan! Menghukum yang menyebalkan!
S
Sampai akhirnya saya mempelajari dan menemukan
bahwa orang-orang ini sebenarnya sudah menjalankan salah
satu praktik Stoisisme—kemampuan untuk tidak hanya menerima,
namun bahkan menikmati "the present" (masa sekarang).
Sampai bab terakhir, kita sudah melihat bagaimana
mengajarkan prinsip "hidup harus selaras dengan Alam", yang artinya
menggunakan nalar. Semua peristiwa di dalam hidup adalah bagian
keterkaitan dan sebab akibat dari semesta yang lebih besar. Ada
sebagian hal dalam hidup yang berada di bawah kendali kita, ada
yang tidak di bawah kendali kita. Lalu, sumber dari emosi negatif
bukanlah peristiwa-peristiwa dalam hidup, namun
persepsi/anggapan/pendapat kita sendiri atas peristiwa ini .
So far so good. Stoisisme masih memiliki beberapa lagi tips dan trik
untuk membantu kita merasa damai tenteram di tengah hidup yang—
sebenarnya—ada di luar kendali kita.
"We suffer more in imagination than in reality." - Seneca
(Letters)
("Kita menderita lebih di imajinasi kita daripada di kenyataan.”)
Yang pertama, kenali bahwa kita sering kali menyiksa diri dengan
pikiran-pikiran kita sendiri, dan ini lebih menyiksa daripada kenyataan
yang sebenarnya akan terjadi. Misalnya, kita harus memberikan
presentasi di depan umum. Kemudian, di dalam pikiran kita sudah
berkecamuk skenario bahwa kita akan salah ngomong, kesandung
kabel mic, menumpahkan air ke
129
pembicara lain, pingsan di panggung, ketiban meteor pas
sedang berbicara, atau lainnya. Sering kali, realitas
yang terjadi jauh sekali dari yang kita khawatirkan, dan
kita sudah menghabiskan begitu banyak energi untuk
menyiksa diri.
Ada sebuah artikel menarik di Huffington Post berjudul ”85 Percent of
What We Worry Never Happens” yang mengutip sebuah studi
mengenai kekhawatiran yang tidak terjadi ini. Sejumlah responden
diminta mencatat semua kekhawatiran mereka selama beberapa
waktu. Di akhir periode studi, mereka diminta untuk menandai
kekhawatiran yang akhirnya benar-benar terjadi.
Ternyata, 85% dari apa yang dikhawatirkan para responden tidak
pernah terjadi. Bahkan dari 15% kekhawatiran yang akhirnya benar
terjadi, 79% responden menemukan bahwa ternyata mereka mampu
mengatasinya lebih baik dari yang mereka pikir, atau ternyata
kesulitan yang terjadi mengajarkan pelajaran berharga. Kesimpulan
dari studi ini adalah 97% dari apa yang kita khawatirkan tidak lebih
dari pikiran kita sendiri yang ketakutan dan ‘menghukum’ kita dengan
ke-lebay-an.
Seneca juga mengingatkan soal rasa khawatir yang datang terlalu
cepat. Kita sudah mengkhawatirkan sesuatu jauh lebih dini dari
semestinya. Misalnya, kita sudah stres sendiri apakah anak-anak kita
akan menjadi remaja pengguna narkoba saat mereka masih di dalam
kandungan. Seperti kata Seneca, jika kita menderita "sebelum"
saatnya, kita juga menderita "lebih" dari semestinya.
"Kita memiliki kebiasaan membesar-besarkan kesedihan. Kita
tercabik di antara hal-hal masa kini dan hal-hal yang baru akan
terjadi. Pikirkan apakah sudah ada bukti yang pasti mengenai
kesusahan masa depan. sebab sering kali kita lebih
disusahkan kekhawatiran kita sendiri." - Seneca [Letters from a
Stoic]
Di saat pikiran kita mulai dipenuhi pikiran-pikiran buruk yang tidak
perlu/berlebihan, ada baiknya kita menyadari ini, dan bisa kembali
menggunakan metode S-T-A-R. Gampangnya, saat pikiran mendung
mulai melanda, ingatlah adanya bintang [starl\ Tsahi
130
Premeditatio Malorum: Sebuah ‘Imunisasi’ Mental
Dalam memperkuat mental menghadapi kesulitan hidup, Filosofi
Teras memiliki sebuah tips yang terkesan paradoks (bertentangan)
dengan paragraf di atas. Dalam bahasa Latin, tips ini disebut
"premeditatio malorum" atau "premeditate evil", atau "pikirkanlah hal-
hal yang jahat/negatif yang mungkin terjadi". Marcus Aurelius berkata,
"Awali setiap hari dengan berkata pada diri sendiri: hari ini saya
akan menemui gangguan, orang-orang yang tidak tahu
berterima kasih, hinaan, ketidaksetiaan, niat buruk, dan
keegoisan—semua itu sebab pelakunya tidak mengerti
[ignorant] apa yang baik dan buruk.
Saya tidak bisa disakiti oleh itu semua, sebab tidak ada orang
yang bisa menjerumuskan saya ke dalam perbuatan buruk, dan
saya mampu untuk tidak menjadi marah atau membenci sesama
saya; sebab sesungguhnya kita dilahirkan ke dunia ini untuk
bekerja sama..." [Meditations]
Kita akan membahas mengenai apa yang dimaksud Marcus Aurelius
mengenai "pelakunya (hal-hal jahat) tidak mengerti...." di bab
berikutnya. Saat ini, kita memfokuskan pada paragraf pertama, yaitu
awali setiap hari dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa kita
akan diganggu orang-orang, dihina, bertemu orang tidak tahu terima
kasih, dikhianati, egois, dan lain-lain. Kita bahkan bisa
mengembangkan premeditatio malorum sampai ke situasi tidak enak
lainnya, jika mau, seperti memikirkan akan terkena macet parah,
terlambat ke kantor, ban kempes, atau kerjaan ketumpahan kopi.
Sebenarnya, ngapain sih kita melakukan hal ini? Ini kan jelas- jelas
negative thinking? Kok kita malah disuruh mengawali hari dengan
aktivitas yang tidak memotivasi ini? Mari kita kembali ke dikotomi
kendali (jangan bosan ya jika diulang-ulang, sebab prinsip ini sangat
mendasar bagi ). Sebagian hal ada di dalam kendali
kita, sebagian lain tidak ada di dalam kendali kita (yaitu hal-hal
eksternal atau orang-orang lain). Selain kita ingin menghindari hal-hal
tidak menyenangkan yang mungkin terjadi pada diri sendiri, kita suka
dibuat jengkel juga oleh hal-hal tidak enak yang "tidak kita duga"
/unexpected).
Contoh, jika setiap hari saat menuju ke kampus atau kantor kita harus
melalui jalan yang sama dan selalu macet, maka kemacetan itu tidak
131
terlalu menyebalkan sebab kita sudah memprediksinya, dan mungkin
mengantisipasinya (bahkan, kalau sampai tidak macet, kita malah
curiga, ada apa gerangan?). Akan namun , bayangkan kita memiliki
maskapai penerbangan langganan yang selalu tepat waktu. Suatu
saat saat hendak terbang, tiba-tiba maskapai ini mengalami
penundaan. Peristiwa ini akan lebih mengecewakan dan
menyusahkan kita sebab kita tidak menduganya.
Sebaliknya, kalau maskapai langganan sudah biasa ngaret, pilotnya
sering tertangkap narkoba, pesawat sering bablas sampai nyungsep
ke laut, maka kita pun mungkin memakluminya. Praktik premeditatio
malorum, atau sengaja memikirkan apa-apa (dan siapa] saja yang
akan merusak hari kita, adalah praktik untuk mengantisipasi hal-hal
tidak enak yang mungkin terjadi. Dengan demikian, kita mengubah
hal-hal ini dari "tak terduga” (kejutan), menjadi hal-hal yang
"telah diantisipasi” (tidak lagi menjadi kejutan).
Dengan melakukan ini, sebenarnya kita telah mencabut (sebagian)
gigi taring ketidakpastian. Jika sesuatu berubah dari tidak terduga
menjadi bisa diantisipasi, saat kejadian ini akhirnya benar-benar
terjadi, maka efek tidak enaknya akan jauh berkurang (seperti kita
memasuki jalan raya yang kita sudah prediksi akan macet).
"Musibah terasa lebih berat jika datang tanpa disangka, dan
selalu terasa lebih menyakitkan.
sebab nya, tidak ada sesuatu pun yang boleh terjadi tanpa kita
sangka-sangka. Pikiran kita harus selalu memikirkan semua
kemungkinan, dan tidak hanya situasi normal.
sebab adakah sesuatu pun di dunia yang tidak bisa
dijungkirbalikkan oleh nasib?" - Seneca [Moral Letters]
Praktik ini sangat mirip cara kerjanya dengan imunisasi. Dalam
imunisasi, kita memasukkan kuman yang sudah dilemahkan sehingga
sistem kekebalan kita bisa mempersiapkan diri melawan kuman yang
sesungguhnya jika datang. Dengan mensimulasikan kemungkinan-
kemungkinan buruk yang mungkin terjadi, kita sedang
mempersiapkan "kekebalan mental” menghadapinya jika memang
terjadi. "Anggaplah apa yang kamu khawatirkan mungkin terjadi
PASTI terjadi, kemudian pikirkan lagi sungguh-sungguh...kamu akan
menemukan bahwa apa yang kamu takuti sebenarnya tidak signifikan
atau tidak berdampak panjang,” ujar Seneca [Letters from a Stoic).
132
Berikutnya, praktik ini justru menyiapkan kita untuk menghadapi
skenario buruk. Jika kita hendak melakukan perjalanan jarak jauh
dengan kendaraan pribadi, dan kita mengantisipasi kemungkinan ban
bocor, maka minimal kita bisa memeriksa kesiapan ban serep kita
dan perangkat pendukung, seperti kunci ban, dongkrak, dan lain-lain.
Dengan membayangkan, kita bisa lebih bersiap untuk mengatasinya.
Seandainya kita mengantisipasi sebuah bad outcome yang tidak ada
solusinya, kita masih bisa memikirkan, "Apa sih seburuk- buruknya
akibatnya jika hal ini terjadi? Benarkah ini sebuah bencana, atau
kalau dipikir-pikir sebenarnya gak se-bencana itu? Apakah ada orang
lain yang pernah mengalaminya juga dan pada akhirnya tidak seburuk
yang dibayangkan?”, atau "What's the worst that could happen?"
Misalnya, seorang cowok jomblo sedang bersiap-siap untuk nembak
(menyatakan cinta) seorang gadis yang beruntung (atau tidak).
Bayangkan si cowok Stoa ini melakukan premeditatio malorum. Yang
pertama, menyadari bahwa respon si gadis sepenuhnya di luar
kendali sang cowok. Kemudian, apa situasi terburuk yang mungkin
terjadi dan hampir tidak ada solusinya? Ditolak mentah-mentah kan?
Maka, sang cowok bisa memikirkan apakah ditolak sang cewek
adalah bencana absolut, akhir dari dunia dan seluruh isinya, atau
tidak. Jika dia rasional, maka seharusnya penolakan sang pujaan hati
bisa dilihat sebagai bukan bencana dunia. Yang kedua, sang cowok
bisa melihat penolakan ini sebagai kejelasan (lebih baik dari
digantung/friendzone], sehingga dia bisa terbebas dan bisa membuka
hati kepada yang lain.
Di sebagian besar situasi yang bisa kita bayangkan, hampir semua
kemungkinan terburuknya sebenarnya tidak "segitunya", dan kalau
dipikirkan baik-baik, bukanlah akhir segala-galanya dalam hidup.
Selain itu, pikirkan apakah skenario terburuk ini pernah menimpa
jutaan orang lain di berbagai masa? Hampir
Jika akhirnya semua hal buruk
1
yang dibayangkan ternyata
tidak terjadi, kita akan
merasa lebih bahagia dengan
hari kita. Ironisnya, negative
thinking mungkin bisa membuat
seseorang menjadi lebih
bahagia.
semua kejadian buruk yang bisa kita
bayangkan sudah pernah menimpa orang
lain (ingat, di bab sebelumnya Filosofi
Teras mengatakan "tidak ada yang
benar-benar baru di dalam kehidupan
ini."), dan kita bisa melihat apakah
orang-orang lain yang akhirnya
mengalami hal yang kita khawatirkan
benar-benar hancur atau mereka bisa
melaluinya. Life goes on. Termasuk
ditolak pujaan hati.
Jika akhirnya semua hal buruk yang dibayangkan ternyata tidak
terjadi, kita akan merasa lebih bahagia dengan hari kita. Ironisnya,
Ik
negative thinking mungkin bisa membuat seseorang menjadi lebih
bahagia.
Premeditatio malorum bisa diteruskan sampai ke musibah- musibah
"besar", misalnya membayangkan kita tertimpa musibah bencana
alam, kecelakaan sampai cedera besar, bahkan sampai cacat, dilanda
peperangan, dan lain-lain. Prinsipnya sama dengan di atas, kita
melatih diri membayangkan jika kita berada di situasi-situasi ini
sehingga bisa mengantisipasinya dan tidak bisa benar-benar "kaget"
jika akhirnya memang terjadi.
Apakah premeditatio malorum sebuah kontradiksi dengan awal bab ini
di mana Seneca mengatakan kita sering menyiksa diri dengan pikiran-
pikiran negatif yang tidak perlu? Tidak sama sekali. Ada perbedaan
antara pikiran-pikiran negatif yang dibahas oleh Seneca dengan
premeditatio malorum. Yang pertama, premeditatio malorum diawali
dengan kesadaran dikotomi kendali. Kita diajarkan bahwa hal-hal
eksternal yang tidak di bawah kendali kita adalah indifferent, tidak
berpengaruh pada baik tidaknya hidup kita. Ini berbeda dengan
pikiran negatif yang menyiksa sebab kita memberikan
penitaian/value judgment terhadap hal-hal eksternal.
Sebaliknya, kita seharusnya lebih khawatir terhadap hal-hal di bawah
kendali kita: pikiran kita, sikap kita, perkataan kita, dan tindakan kita—
sebab inilah yang menentukan "baik buruk’nya hidup kita. Seperti
situasi yang dialami Admiral Stockdale. Bagi seorang prajurit,
tertangkap musuh adalah hal eksternal, tidak di bawah kendali kita,
dan bersifat indifferent. Yang harus dia khawatirkan adalah menjaga
semangat, moril, dan perkataannya saat dia benar-benar tertangkap
dan ditawan musuh.
Perbedaan kedua dari premeditatio malorum dengan kekhawatiran
yang tidak perlu adalah premeditatio malorum berada sepenuhnya
dalam kendali kita. Kita sendiri yang memutuskan untuk mensimulasi
berbagai hal negatif, di waktu yang kita tentukan, misalnya pagi hari
sebelum memulai aktivitas. Kitalah yang menginisiasinya dengan
tujuan menyiapkan solusi atau mengurangi emosi negatif jika ternyata
kejadian buruk benar-benar terjadi.
Premeditatio Malorum diawali dengan dikotomi kendali, dan diakhiri
dengan kesimpulan "apa yang bisa saya lakukan untuk mengurangi
dampak kejadian negatif ini jika memang terjadi? Jika tidak ada
solusinya, apakah saya benar-benar tersakiti?” (apalagi mengingat
prinsip bahwa semua yang di luar kendali kita adalah indifferent, tidak
berpengaruh pada kebahagiaan kita).
Sementara itu, kecemasan yang tidak perlu tidak berujung apa- apa,
muncul sendiri tanpa kendali, dan hanya menyiksa kita tanpa ada
solusi. Perbedaan lain yang paling mendasar juga adalah kecemasan
bersifat emosional, sementara premeditatio malorum datang dari nalar
dan kepala dingin.
"Musibah terasa paling berat bagi mereka yang mengharapkan
hanya keberuntungan." - Seneca lOn Tranquility of Mind)
mengajarkan kepada kita untuk menjadi "pengguna"—
bukan "budak"—dari kebaikan dan rezeki yang kita terima. Ada
perbedaan besar antara status "pengguna" dan "budak". Jika kita
adalah pengguna, maka segala rezeki dan keberuntungan yang kita
terima dapat kita perlakukan sebagai "pinjaman”. Jika kita memiliki
kesehatan, anggota tubuh lengkap, kecerdasan, kecantikan, lahir di
orang tua dan keluarga yang harmonis, tidak berkekurangan secara
materi, bisa bersekolah, memiliki pekerjaan yang baik, memiliki
pasangan dan anak yang baik, dan semua kebaikan lain yang bisa
ditawarkan hidup, maka ingatlah bahwa ini semua hanyalah pinjaman.
Jadi, mumpung menerima "pinjaman” ini, kita gunakan semaksimal
dan sebaik mungkin. Namun, kita hanyalah "pengguna", dan bukan
"pemilik”. Artinya, setiap saat kita harus siap jika pinjaman ditarik
kembali oleh hidup. Kita tidak pernah memiliki halusinasi bahwa kita
bisa memiliki itu semua selamanya.
"saat saya melihat seseorang yang gelisah, saya bertanya-
tanya, apa sih yang ia inginkan? Jika seseorang tidak
menginginkan sesuatu yang di luar kendalinya, mengapa
mereka harus merasa gelisah?" - Epictetus /Discourses)
Namun, "diperbudak" oleh rezeki dan kenikmatan hidup membuat kita
terus dilanda kecemasan akan kemungkinan kehilangan itu semua.
Hal-hal di luar kendali kita akan mengambil kendali saat kita tidak
mendisiplinkan pikiran. Premeditatio malorum adalah bentuk disiplin
ini, untuk membebaskan kita dari rasa ketergantungan pada
keberuntungan dan kemurahan hati hidup, dan selalu mengingatkan
diri bahwa kita dapat tetap hidup bahagia, bahkan saat segala
kenyamanan materi dalam hidup ini direnggut dari hidup kita.
"Saya tidak pernah memercayai Dewi Keberuntungan (Fortuna),
bahkan saat la tampak ramah kepada saya. Semua berkah
dan rezeki yang diberikannya kepada saya—uang, jabatan,
pengaruh—saya tempatkan sedemikian rupa sehingga la bisa
mengambilnya kembali tanpa mengganggu saya. Saya menjaga
jarak yang lebar dengan segala berkah ini , agar la bisa
mengambilnya baik-baik, bukan merenggut paksa dari saya.” -
Seneca /Consolations to Helvia)
Jangan. Ribet.
"(Kamu mendapatkan) ketimun pahit? Ya buang saja. Ada
semak berduri di jalan setapak yang kamu lalui? Ya berputar
saja. Itu saja yang kamu perlu tahu. Jangan menuntut
penjelasan, 'Kenapa ada hal (tidak menyenangkan) ini??’
Mereka yang mengerti sesungguhnya dunia seperti apa akan
mentertawakanmu, seperti tukang kayu yang melihat kamu
kaget sebab ada banyak debu hasil gergaji di tempat kerjanya,
atau tukang sepatu melihat kamu kaget sebab banyak sampah
kulit sisa (di tempat kerjanya)." - Marcus Aurelius /Meditations)
Quote ini bagi saya luar biasa. Selain ternyata kebagian ketimun pahit
itu sudah menjadi masalah dari 2.000 tahun yang lalu, quote ini
mengingatkan saya kepada mendiang Gus Dur dengan kata- kata
terkenalnya, "Gitu aja kok repot?” Ternyata, sudah ribuan tahun
manusia senang membesar-besarkan perkara kecil dalam hidup.
Akibatnya, ada banyak waktu dan energi terbuang percuma untuk
sesuatu yang sebenarnya sepele.
Ini adalah satu tips dari untuk memiliki mental yang
lebih kuat—yaitu tidak membesar-besarkan masalah dan segera
fokus pada apa yang bisa dilakukan. Marcus Aurelius menyampaikan
bahwa pada dasarnya hidup ini memang penuh dengan hal-hal gak
enak, itu sudah fakta.
Jika kita marah-marah atau sedih untuk semua halyang tidak enak
dan tidak nyaman, itu sama konyolnya dengan seseorang yang
mengunjungi bengkel tukang kayu dan heran kenapa banyak sampah
kayu di situ. Life sucks, kata orang bule. Jika memang giliran kita
untuk tertimpa masalah tidak enak yang sepele, ya terima saja. Gak
penting juga untuk diperdebatkan eksistensinya.
Kamu makan di restoran dan mendapati ada lalat di sup kamu? Ya
tinggal minta ganti atau di-cancel. Menghabiskan setengah jam
berikutnya untuk mengomel dan memperdebatkan mengapa harus
ada lalat di dalam sup, atau mengapa ada lalat di dalam restoran,
atau bahkan mengapa harus ada lalat di dunia ini adalah pemborosan
energi, waktu, dan juga mungkin mengurangi kebahagiaan teman
makan kamu [of course, kamu bisa memberi restoran ini review
jelek di internet, dan ini masuk kendali kamu, tapi toh tidak mengubah
sejarah bahwa seekor lalat pernah mandi di sup kamu, jadi tidak perlu
gusar terlalu lama).
Daftar hal tidak nyaman di dunia yang sepele ada begitu banyaknya,
dan jika dihitung, mungkin jumlah kejadian tidak enak di dalam hidup
jauh lebih banyak dari yang enak. Antrean ATM panjang di akhir
bulan, macet, daging steak yang tidak dimasak sempurna, sate yang
hangus, cucian yang rusak oleh si mbak, polisi cepek yang malah
bikin macet, dosen yang random banget kalau memberi nilai, politisi
yang ngomong sembarangan, followeryang senang mencela, dan lain-
lain.
Seperti Gus Dur, Stoisisme menganjurkan di banyak situasi untuk
cukup menghindari dan mencari solusinya, tidak perlu menghabiskan
energi untuk meributkannya. Sering kali, banyak masalah sepele tidak
perlu dicari solusinya, cukup dihindari, seperti sekadar membuang
ketimun pahit atau mengambil jalan memutar. Gituaja kok repot?
"Satu hal penting untuk selalu diingat: tingkat perhatian kita
harus sebanding dengan objek perhatian kita. Sebaiknya kamu
tidak memberikan kepada hal-hal remeh waktu lebih banyak dari
selayaknya.” - Marcus Aurelius [Meditations)
Berikut kali kita ingin ngedumet, marah, kesal, sedih, jengkel berlama-
lama, dipikirkan dulu. Is it really worth my time and energy? Apakah
objek, kejadian, orang yang akan kita berikan waktu dan tenaga untuk
emosi negatif ini benar-benar sepadan? Rugi kan jika kita
mencurahkan waktu, pikiran, emosi, dan kebahagiaan kita untuk
memusingkan hal-hal yang tidak sepadan?
Sebuah Eksperimen yang (Separuh) Berhasil?
Di tahun 2011, jauh sebelum saya menemukan , saya
iseng melakukan sebuah eksperimen sosial dengan menyeret para
followers saya di media sosial. Saat itu saya terinspirasi oleh sebuah
episode di The Oprah Winfrey Show di mana Oprah Winfrey, sang
tuan rumah, menghadirkan bintang tamu seorang pendeta yang
memiliki gerakan No Complaint (Tidak Mengeluh). Sang Pendeta, Will
Bowen, memiliki ide untuk membagikan gelang karet kepada
jemaatnya untuk dikenakan di satu tangan. Kemudian jemaat diajak
untuk tidak mengeluh selama 21 hari. Jika 21 hari dia sukses tidak
mengeluh, maka gelang dipindahkan ke lengan yang lain, dan periode
21 hari diulang kembali. Jika kemudian seseorang menyadari dirinya
telah mengeluh sebelum 21 hari lewat, maka dia harus memindahkan
gelang itu ke tangan yang lain, dan menghitung ulang 21 hari dari
awal.
Sebagai seorang pengeluh profesional, saya cukup tertarik pada ide
ini. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencobanya sendiri, tanpa
gelang atau anting. Menyadari bahwa tidak mengeluh selama tiga
minggu rasanya seperti menyuruh saya mendaki
Gunung Everest dengan bermodal kutang doang (alias hampir tidak
mungkin), maka saya mencoba versi Lite (ringan) saja. Saya
melakukan No Complaint Week, belajar tidak mengeluh selama
seminggu saja. Supaya termotivasi, saya juga mengajak teman-
teman di media sosial untuk melakukannya.
Eksperimen selama seminggu ini sangat menarik. Ada beberapa
temuan pribadi selama melakukannya. Yang pertama, saya baru
menyadari betapa seringnya saya mengeluh saat saya berusaha
menghentikannya. Situasi apa pun bisa memicu saya untuk
mengeluh, mulai dari pekerjaan, urusan keluarga, sampai kehabisan
stok kacang sukro di rumah. Selama seminggu itu, dengan susah
payah saya berkali-kali menggigit bibir untuk tidak
mengomel/mengeluh, dan saat dengan sadar kita melawannya,
barulah kita menyadari, selama ini kita sering banget mengeluh.
Yang kedua, dalam waktu sesingkat itu, saya menyadari bahwa saya
sebenarnya mampu untuk tidak mengeluh. saat kita mau berusaha
menyadari kebiasaan selama bertahun-tahun, kita memiliki
kemampuan untuk menghentikannya. Pelajaran terbesar saya selama
eksperimen seminggu itu adalah ternyata saya bisa mengendalikan
keluhan saya agar tidak terjadi secara otomatis.
Memang, beberapa kali saya gagal, namun secara keseluruhan selama
seminggu itu saya jauh lebih tidak menjadi pengeluh. Bagaikan
melatih otot dengan mengangkat beban-awalnya terasa berat, namun
seiring otot kita beradaptasi dengan beban yang sama sehingga tidak
terasa seberat yang dulu, maka kemampuan tidak mengeluh pun
terasa semakin mudah. Selain itu, menghentikan keluhan di bibir
terasa "menjalar", sampai akhirnya kita juga mulai menghentikan
keluhan saat masih ada di pikiran. Saat rasa jengkel mulai terasa, kita
bisa menghentikannya langsung di pikiran, dan mulai mengalihkan
pikiran ke halyang lain.
Sesudah eksperimen No Complaint Week berakhir, sayangnya
perlahan saya mengalami kemunduran menjadi diri saya semula.
Tanpa ada periode waktu yang ditentukan, atau adanya goal tertentu,
saya pun "berjalan mundur” memburuk kembali ke diri saya yang
lama, sang pengeluh profesional.
140
“It is not the man who has
too little, but the man who
craves more, that is poor.
Seneca (Letters')
141
Bagi saya saat itu, eksperimen ini adalah sebuah kesuksesan
[terlepas dari efeknya yang tidak bertahan secara permanen). Namun
sekarang, sesudah saya mempelajari , saya baru
menyadari bahwa eksperimen ini sebenarnya hanya “separuh”
berhasil. Mengapa? sebab eksperimen ini hanya menghentikan
perilakunya (mengeluh), namun tidak dengan serius mengidentifikasi
dan menghentikan akarnya. Tentunya tidak ada yang salah dengan
menghentikan perilaku ekspresi mengeluh, namun sekarang saya
menyadari bahwa ini adalah solusi separuh. Bagaikan genteng
bocoryang meneteskan air terus menerus ke dalam ruang tamu,
sekadar menghentikan ekspresi mengeluhnya adalah seperti
menadah tetesan air dengan ember, atau sekadar melapis plafon
dengan lapisan anti air, tanpa mengganti gentengnya.
Bagi saya sekarang, Stoisisme melengkapi separuh yang hilang tadi.
Mengeluh datang dari pikiran/interpretasi kita akan apa yang terjadi di
hidup kita, dan keluhan merupakan simtom/ gejala dari pola pikir
irasionalyang datang dari dalam. Kita tidak hanya harus menggigit
bibir, namun juga mengubah pikiran dan interpretasi kita atas peristiwa
ini . Kita tidak hanya melawan air bocoran genteng, namun kita
juga memperbaiki sumber kebocoran di gentengnya. Fix the source
of the problem. Perbaikilah langsung di sumber masalahnya—dalam
hal ini, pikiran kita sendiri.
Seeing from Other People’s Perspective
Suatu hari, Maya melihat melihat sahabat dekatnya Nisa mukanya
cemberut.
Maya: "Kenapa lo?”
Nisa: ”HP gue ilang May, jatoh di jalan kayaknya. Kesel banget
gue, kok gue bego banget ya?”
Maya: "Ya udah Nis, ikhlasin aja. HP bisa dibeli lagi lah...." Nisa:
"Huhuhuhu, tapi gue sedih banget May. Dan rasanya mau
marah-marah terus ke diri gue sendiri, ceroboh amat...."
Maya: "Ya udah, sinih sinih, puk puk....”
Coba kita bayangkan skenario ini . Saat Maya mendengar soal
’musibah’ yang menimpa Nisa sahabatnya, apakah Maya akan
bereaksi lebay? Apakah Maya akan berguling-guling di tanah,
menjerit-jerit ke langit, bertanya pada Tuhan mengapa sahabatnya
Nisa harus menerima azab demikian berat? Rasanya tidak kan?
Mungkin Maya akan berusaha keras untuk terlihat simpati kepada
142
sahabatnya, namun rasanya lebih mungkin Maya akan hanya sedikit
terlihat prihatin dan tidak sampai meratapi hidupnya sendiri. Reaksi
ini tentunya berbeda dengan Nisa yang tertimpa musibah itu. Dia
mungkin akan bete berhari-hari, mungkin sedih sekali sebab HP itu
cukup mahal, dan Nisa takut memberitahu orang tuanya soal itu.
Dalam , ada exercise menarik. Jika suatu hari Maya
juga kehilangan HP-nya, bisakah dia bersikap setenang seperti saat
dia mendengarkan cerita Nisa tadi? mengajarkan
bahwa cara kita menyikapi musibah yang menimpa orang lain
haruslah sama dengan cara kita sendiri bersikap saat kita yang
tertimpa musibah yang sama. sebab secara objektif, musibah yang
menimpa adalah sama, maka seharusnya responsnya pun sama
(terlepas kita adalah korban atau pengamat).
Dalam contoh Maya dan Nisa, Stoisisme akan berkata bahwa secara
objektif, HP milik Nisa tidak bernilai lebih rendah atau lebih tinggi dari
HP milik Maya (di luar faktor harga rupiah). Maka, adalah aneh jika
Maya meratapi kehilangan HP-nya lebih dari Maya meratapi
hilangnya HP Nisa.
Konsep ’’perlakukan musibahmu sama seperti kamu memperlakukan
musibah orang lain’’ ini rasanya salah satu konsep tersulit dalam
. Rasanya cukup sulit dilakukan secara emosional,
sebab ada perbedaan status sebuah benda saat ia menjadi milik
orang lain dibandingkan milik sendiri. Akan namun , tidak bisa disangkal
ada logika yang mengagumkan di sini.
Jika kita kehilangan HP dan menangis meraung-raung, maka
seharusnya kita melakukan hal yang sama jika yang hilang adalah
HP orang lain. “Milik saya” tidak menjadikan sebuah HP lebih bernilai
dibandingkan “milik dia". Di sinilah Stoisisme berusaha mengingatkan
kita untuk tetap objektif dalam menilai segala sesuatu. Lalu, sebab
umumnya kita relatif lebih tidak sedih mengenai orang lain kehilangan
sesuatu daripada diri sendiri kehilangan sesuatu, konsekuensinya
ada dua, antara kita harus lebih sedih mengenai orang lain
kehilangan suatu hal (belajar menambah empati pada musibah orang
lain), atau, kita harusnya belajar lebih rasional dan objektif menyikapi
musibah diri sendiri.
Kalau praktik konsep ini terasa sulit untuk hal-hal yang relatif sepele
—seperti kehilangan benda—bayangkan jika kita harus
menerapkannya ke peristiwa hidup yang lebih besar. Sikap kita
terhadap orang lain yang sedang berduka atas kehilangan anaknya,
143
(harusnya) sama dengan duka kita saat kehilangan anak kita sendiri.
sebab , nilai nyawa anak kita tidak lebih tinggi dari nilai anak orang
lain (selain perbedaan status bahwa yang satu adalah anak kita).
Dalam penerapan di musibah yang lebih besar, rasanya sulit sekali
kita melakukannya. (“Lo gila ya? Ya jelas gue lebih sedih kehilangan
motor/mobil/rumah/keluarga gue sendiri daripada motor/
mobil/rumah/keluarga orang lain doonng!"). Namun, konsep ini tetap
penting untuk direnungkan, sebab mencoba menempatkan musibah
dalam perspektif baru yang lebih seimbang, dengan harapan dampak
musibah ini bisa dikurangi.
Memang, penerapannya di masalah-masalah sepele lebih mungkin
dan lebih berguna, sebab tanpa sadar, kita terlalu banyak
memberikan waktu dan tempat untuk masalah- masalah yang tidak
akan kita besar-besarkan jika terjadi pada orang lain (seperti
kehilangan HP). saat dengan teknik ini kita menyadari bahwa kita
mungkin membesar-besarkan masalah yang sepele, semoga kita
bisa kembali memprioritaskan energi kita dengan benar.
If You Can’t be with the One You Love.....
“It is not the man who has too little, but the man who craves
more, that is poor." - Seneca /Letters)
Bagi filsuf Stoa, konsep “kaya” dan “miskin” memiliki persepsi
subjektif, dan lebih dari sekadar urusan jumlah deposito, properti,
atau investasi saham. Mana yang lebih penting,
144
seseorang memiliki harta benda yang banyak, atau seseorang yang
"merasa" kaya dengan apa yang telah dia miliki? Seseorang bisa saja
memiliki harta benda begitu banyak, namun selalu resah sebab
merasa tidak mencapai peringkat orang-orang terkaya se-lndonesia.
Sementara itu, ada orang lain yang tidak bisa dibilang kaya raya,
bahkan tergolong sederhana, namun dia merasa sangat cukup dan
puas dengan apa yang dimilikinya, tidak merasa kekurangan. Bagi
, orang kedua inilah yang benar-benar "kaya".
"Sesungguhnya yang miskin bukanlah dia yang memiliki harta terlalu
sedikit, namun dia yang masih menginginkan lebih,” ujar Seneca
[Letters from a Stoic).
Bagi saya, hal ini bukan untuk disalahartikan sebagai anti-ambisi
(ingatlah bahwa sebagian filsuf Stoa adalah pedagang atau datang
dari latar belakang keluarga kaya raya). Kita boleh saja
mengumpulkan harta dan kekayaan, namun selalu ingatlah bahwa itu
semua di luar kendali kita dan bisa direnggut sewaktu-waktu,
sehingga kita tidak terlalu attached pada kekayaan. Lalu, kita juga
diingatkan untuk mengendalikan keinginan mengejar kekayaan tanpa
henti, untuk bisa merasakan "cukup" dengan apa yang sudah kita
miliki. Dengan ini, kita mencegah kekayaan menjadi majikan yang
menjadikan kita budak mereka.
Amor Fati
Lebih dari sekadar urusan harta kekayaan,
memperluas terapan prinsip di atas ke dalam momen hidup yang
lebih besar. Apakah kamu detik ini juga sedang merasakan
menginginkan hidup yang berbeda? Misalnya, "Seandainya saja gue
nggak harus berada di kereta penuh sesak orang saat ini.
Seandainya saja gue masuk ke sekolah idaman. Seandainya saja
gue punya orang tua yang lebih keren. Seandainya saja gue punya
teman-teman yang lebih cool dari yang sekarang. Seandainya saja...
seandainya saja..."
Di mata Stoisisme, pikiran-pikiran menginginkan alternatif dari situasi
hidup kita sekarang adalah tirani. Setiap detik kita menginginkan
sedang berada di tempat lain, situasi lain, dan segala wishful thinking
lainnya, maka kita telah dirampok dari kesempatan untuk menikmati
dan mensyukuri masa kini, detik ini.
Ingat bahwa Stoisisme melihat seluruh alam semesta sebagai sebuah
145
keteraturan dan keterkaitan segala hal. Artinya, seluruh hidup kita
sampai saat ini sudah terjadi menuruti rantai peristiwa dan hukum
alam. Kita bisa memilih melawan dan menyangkali masa kini, yang
artinya kita "melawan Alam”, atau kita bisa belajar menerima masa
kini /present), bahkan "mencintainya”.
Stoisisme mengajarkan lebih dari sekadar ikhlas menerima keadaan
saat ini, namun justru sampai sungguh-sungguh tulus mencintainya.
"Jangan menuntut peristiwa terjadi sesuai keinginanmu, namun justru
inginkan agar hidup terjadi seperti apa adanya, dan jalanmu akan
baik adanya.” - Epictetus /Discourses).
Saat saya membaca kutipan di atas, ini rasanya nasihat yang sulit
dicerna dan dipahami, pada awalnya. Ekstremnya, saat kita
kecopetan, tidak cukup untuk sekadar menerima dan ikhlas bahwa
kita kehilangan dompet, HP, dan semua kontak kita. Epictetus
bahkan menyarankan agar kita "menginginkan” hal ini terjadi {“Hore!
Gue kecopetan! Emang ini yang gue tunggu- tunggu...!"). Absurd?
Gila? Kalau kita mengingat pembahasan sebelumnya, bahwa semua
peristiwa eksternal pada dasarnya netral, dan "baik” atau "tidak”-nya
semua bergantung pada interpretasi kita, maka mungkin Epictetus
tidak segila itu. Kita sebenarnya mampu mengingini (lebih dari
sekadar ikhlas menerima) peristiwa hidup apa pun. Tidak ada yang
berkata ini mudah, namun ini mungkin.
Dalam contoh kecopetan, kita bisa menginterpretasi bahwa ini ujian
terhadap kesabaran. Atau, ini alasan beli dompet/ HP baru. Atau, ini
kesempatan belajar mengurus kehilangan benda berharga, siapa
tahu bermanfaat untuk keluarga/teman dekat kita kelak, dan lain-lain.
Saat kita bisa melihat sebuah musibah sebagai kesempatan untuk
berubah menjadi lebih baik, maka “menginginkan peristiwa ini terjadi”
menjadi lebih bisa dipahami.
Sekilas mungkin ini terdengar seperti “delusi terencana", namun
sesuatu disebut delusi saat bertentangan dengan realitas (misalnya,
kalah Pilkada namun masih ngotot mengaku menang). Nasihat
Epictetus tidak mengubah realitas yang terjadi (kecopetan), namun
hanya mengubah pemaknaan atau narasi yang kita berikan atas
peristiwa ini .
Amorfati:
cintailah
nasib—apa
yang telah
terjadi dan sedar
terjadi saat ini.
mengatakan semua kejadian bisa menjadi kesempatan
melatih wrfue/arete/kebajikan (keberanian, kebijaksanaan, keadilan,
dan menahan diri). Kita bisa memilih antara, “Gue
kecopetan dan ini musibah dan gue nggak
pengen hal ini\“ atau,
“Gue kecopetan, tapi
ini udah kejadian dan
bisa gue jadikan
pelajaran, bahkan jadi
kesempatan untuk
memperbaiki diri,
belajar ikhlas, dan
lain-lain"
"Formula untuk
keagungan [greatness]
manusia adalah “amor fati'', yaitu tidak ingin apa pun menjadi
berbeda, tidak ke depan, tidak ke belakang, tidak di sepanjang
keabadian. Tidak hanya sekadar menanggung yang memang harus
dijalani...namun mencintainya." - Friedrich Nietzsche. Amor fati adalah
bahasa Latin, yang diterjemahkan menjadi “love of fate", atau
mencintai takdir.
Di tengah-tengah proses penulisan artikel ini, saya mengalami
"musibah kecil". Suatu hari, saya menghadiri sebuah lokakarya
bersama klien. Acara ini diadakan di sebuah restoran dengan
desain yang artistik di Jakarta Selatan. Saking artistiknya, sampai
lantai saja dibuat tidak rata, ada satu-dua undakan di sana sini.
Sudah bisa diduga apa yang terjadi pada seseorang dengan
keseimbangan minus seperti saya. Saat di tengah lokakarya, saya
berjalan ke arah toilet dan tidak melihat adanya undakan di lantai.
Jatuhlah saya disertai bunyi KREKW Saat terjatuh, rasa malu saya
lebih besar dari rasa sakit saya (maklum, sedang ada klien), dan
dengan gagah berani saya tetap jalan ke toilet walau sedikit terseok.
Kemudian, saya tetap pede melanjutkan lokakarya.
Tiga puluh menit kemudian, di daerah sekitar mata kaki saya mulai
terasa nyut-nyutan. Satu jam berlalu dan bengkak di kaki saya
semakin membesar. Dalam hati saya sudah menduga bahwa ini pasti
keseleo Isprained ankle). saat rasa sakit sudah tak tertahankan,
saya menyerah dan akhirnya pergi ke Instalasi Gawat Darurat (IGD)
di rumah sakit terdekat. Sesudah dicek dokter jaga dan difoto rontgen
untuk memastikan tidak ada tulang yang patah, akhirnya saya divonis
keseleo dan harus minum obat anti-sakit serta mengurangi mobilitas
sebab kaki harus diistirahatkan dan dibebat.
Di ruang IGD ini , sambil menunggu penyelesaian proses
administrasi, saya menatap kaki yang bengkak bagaikan talas Bogor,
dengan emosi campur aduk. Jujur, saya sudah sempat merasa
jengkel dan bodoh mengapa saya bisa tersandung. Ditambah lagi,
masih ada rasa malu bahwa ini terjadi di acara klien. Di atas itu
semua, ada rasa kesal sebab selama beberapa hari ke depan pasti
saya akan berjalan tertatih-tatih, bahkan mungkin harus
menggunakan tongkat.
Saat pikiran-pikiran itu mulai melintas, akhirnya terpikir juga oleh
saya, “Bagaimana saya bisa mengaplikasikan Stoisisme di dalam
situasi ini?" Sebagai seseorang yang sedang menulis mengenai
Stoisisme, peristiwa ini bagaikan ujian langsung apakah saya bisa
mempraktikkan apa yang saya baca dan tuliskan.
Yang pertama, saya menghentikan arus pikiran dan emosi negatif
yang mulai timbul (langkah: Stop}. Kemudian, saya mulai
memisahkan fakta dan interpretasi (faktanya: saya tersandung dan
keseleo. Itu saja. Jika saya mulai merasa ini sebuah kesialan, ini
sudah 'mterpretasi/value judgment saya sendiri).
Akhirnya, dengan susah payah saya mulai mencoba mengendalikan
interpretasi saya (langkah: Think & Assess], kira-kira seperti ini:
“Saya keseleo, sebab kesandung. Sudah, tidak perlu diributkan
dan dipikirkan terus-menerus kenapa ini bisa terjadi. Apa yang
sudah terjadi ya terjadilah.
Saya bisa menginterpretasikan ini sebagai hal yang lumrah.
Mungkin ribuan orang sudah pernah mengalami keseleo. Apa
istimewany






