Filosofi 4

 


ca temuan di atas, saya makin yakin bahwa kata-kata 

Epictetus dan Marcus Aurelius sesungguhnya tetap relevan, bahkan 

2.000 tahun sesudah dituliskan. Rasa frustrasi dan ketidakbahagiaan 

kita sesungguhnya datang dari dalam pikiran kita sendiri, bukan dari 

realitas hidup itu sendiri. Good news-nya adalah pikiran kita 

sepenuhnya berada di bawah kendali kita sendiri.

Melawan Lebay

Bagaikan cenayang, para filsuf Stoa juga sudah memberikan 

beberapa tips menghadapi kelebayan zaman ini. Tanpa kita sadari, 

sebenarnya kita sering kali lebay (berlebihan) dalam menanggapi 

segala sesuatu, walaupun hal itu sebenarnya remeh. Kita marah-

marah, ngomel, baper, mewek, dan lain-lain, untuk hal-hal yang tidak 

perlu. Di foto selfie keliatan gemuk? Lebay! Berat badan naik 200 

gram? Lebay! Gebetan ternyata sudah punya anak? Lebay! Nilai 

ujian anak hanya 97, padahal harusnya 100? Lebay! Gak 

mendapatkan tiket konser? Lebay! Seleb kawin lagi? Lebay juga, 

padahal kenal juga enggak.

Kenyataannya, media sosial menambah lagi kemungkinan kita 

menjadi lebay. Pertama, dengan mendistorsi persepsi realitas kita. 

Kebanyakan orang hanya mem-post hal-hal yang indah saja di media

sosial, misalnya sepatu baru, HP baru, pacar baru, cafe baru, liburan 

baru, tas baru, rumah baru, istri baru, anak baru, dan seterusnya. 

Hampir jarang sekali yang mem- post kemalangan, kemiskinan, 

kecerobohan, kebodohan dalam hidupnya.

Saya belum pernah melihat ada yang menulis di akun media 

sosialnya, "Yay! Saya hamil dan tidak tahu siapa bapaknya!” sebab  

postingan orang-orang di media sosial selalu diseleksi /curated), 

maka media sosial tidak memberikan gambaran realitas hidup yang 

seimbang, namun  cenderung ke yang positif saja. Ini membuat kita 

mengira standar hidup yang "normal” harus selalu indah, sempurna, 

harmonis, dan saat  harus berhadapan dengan kenyataan yang tidak

enak sedikit, bagi kita ini sudah menjadi masalah besar.

Yang kedua, menjadi lebay sangat difasilitasi oleh media sosial. Kita 

mudah memuji-muji dengan berlebihan hal-hal yang ada di media 

sosial, sebab  kita cukup memilih like, menaruh emoticon, atau 

menulis komentar dengan jempol kita. Tanpa kita sadari, lebay di 

jempol akhirnya bisa menjadi lebay di bibir dan pikiran. Sekarang, kita

mengerti bahwa lebay di pikiran bisa membuat kita tidak bahagia.

 membagikan beberapa pengamatan mengenai hidup 

untuk melawan fenomena lebay:

1. Tidak ada yang baru di dunia ini. "Selalu ingat bahwa ini semua 

telah terjadi sebelumnya, dan akan terjadi lagi. Plot yang sama 

dari awal hingga akhir, di tata panggung yang sama. Pikirkan hal 

ini, berdasarkan yang kamu ketahui dari pengalaman atau 

sejarah," Marcus Aurelius [Meditations). Semua kejadian yang 

kita alami dan amati dalam hidup pada dasarnya sudah pernah 

terjadi, sedang terjadi lagi, dan masih akan terjadi.

Di sini, tentunya Marcus Aurelius tidak membicarakan hal-hal 

yang bisa muncul dan hilang, seperti tren baju, Taylor Swift, atau 

teknologi smartphone, namun  hal-hal yang berkenaan dengan 

perasaan manusia, yaitu patah hati, iri hati, sedih sebab  

kehilangan barang, duka sebab  kehilangan anggota keluarga, 

terkhianati, kehilangan teman, kehilangan harapan, nafsu birahi, 

dan lain-lain-semua ini sudah dialami umat manusia selama 

ribuan tahun dan masih terus akan terjadi.

Dalam perspektif waktu seperti ini, apakah hal-hal sepele dalam 

hidup ini perlu mendapatkan responyang berlebihan? Mungkin 

jika Marcus Aurelius hidup di zaman sekarang, dia akan menegur

kita, "EH BIASA AJA KELEUS. INI HAL BIASA DALAM HIDUP, 

GAK USAH LEBAY!"

2. Perspektif dari atas (View from above). "saat  kamu berpikir 

mengenai umat manusia, cobalah melihat hal-hal di dunia seolah

kamu melihatnya dari ketinggian,” Donald Robertson.

Dalam artikel nya Stoicism and The Art of Happiness, Robertson 

mengutip teknik yang pertama kali diperkenalkan oleh Marcus 

Aurelius ini. Kita diminta mencoba membayangkan diri kita 

perlahan terbang ke atas (dengan menumpang drone raksasa).

Diawali dari problem kita sendiri, misalnya diputus pacar/ diminta

cerai, kemudian perlahan makin naik. Kita melihat orang-orang di

sekitar kita, mondar-mandir dengan urusan dan kesusahan 

mereka sendiri. Makin naik, kita melihat kota tempat kita tinggal, 

dengan segala kompleksitas warganya dan permasalahannya. 

Makin naik, kita melihat Indonesia dengan segala 

permasalahannya, dari urusan korupsi, kerusakan hutan, 

kemiskinan, dan lain-lain. Terus naik, siapkan helm oksigen, 

sebab  kita akan melihat bumi yang bulat, beserta segala 

permasalahan dunia, dari angkasa luar.

Kemudian, tanyakan kembali ke diri kita, apakah sebenarnya 

masalah pribadi kita sungguh-sungguh sebuah masalah besar 

bila dibandingkan dengan dunia dan seluruh kehidupannya? 

Tidakkah drama yang sedang kita jalani sebenarnya tidak 

sebegitu istimewanya, sebuah debu di dalam keseluruhan 

perjalanan sejarah? Bandingkan dengan ancaman perang nuklir, 

misalnya.

Yang menarik, teknik kuno ini ternyata dialami nyata dua ribu 

tahun kemudian oleh para......................astronaut. The

Overview Effect (Efek Melihat Dari Jauh) adalah nama untuk 

perubahan drastis yang dialami para astronot saat melihat bumi 

dari jauh di luar angkasa. saat  mereka melihat bumi dari 

angkasa, maka muncul kesadaran betapa rapuhnya kehidupan, 

dan betapa kita semua umat manusia sesungguhnya saling 

terhubung /interconnected) di planet ini.

Dalam artikel “Seeing Earth from Space is the Key to Saving Our

Species from Itself' ("Melihat Bumi dari Angkasa adalah Kunci 

Menyelamatkan Spesies Kita dari Diri Kita Sendiri”) oleh Becky 

Ferreira, mantan astronot Apollo 11 Michael Collins berkata, 

"Saya sungguh percaya jika saja para pemimpin bangsa-bangsa 

bisa melihat planet mereka dari jarak 100.000 mil, maka 

perspektif mereka akan berubah drastis.”

3. Semua akan terlupakan. ‘Pada saatnya, kamu akan melupakan 

segalanya. Dan akan ada saatnya semua orang melupakanmu. 

Selalu renungkan bahwa akhirnya kamu tidak akan menjadi 

siapa-siapa, dan lenyap dari bumi," Marcus Aurelius 

/Meditations). Jika pada akhirnya segala drama hidup kita akan 

dilupakan dan terlupakan, bahkan mungkin oleh kita sendiri, 

apakah sudah sepantasnya kita bersikap berlebihan terhadap 

sebuah peristiwa?

Pada akhirnya, kita sendiri mungkin akan melupakan apa yang 

baru saja terjadi, orang-orang lain juga akan melupakannya, dan 

mungkin dalam 10, 25, atau 50 tahun lagi, semua ini akan terasa 

remeh dan biasa.

Dengan menyadari bahwa sesungguhnya tidak ada yang benar-benar

istimewa dengan peristiwa hidup kita, baik dalam perspektif waktu 

(semua drama kita ini sudah pernah terjadi di masa lampau di seluruh

dunia, dan akan terjadi lagi di masa depan), dan juga dalam 

perspektif seberapa pentingnya apa yang kita alami dibandingkan 

keseluruhan umat manusia dan hidup, maka jika kita rasional, kita 

tidak perlu lebay di semua situasi.

Kultus Individu

Reaksi lebay juga bisa timbul terhadap individu. Misalnya, kita nge-

fans sekali pada selebriti, tokoh idola, termasuk pemimpin (bisa 

politik, agama, atau bidang lainnya). Kultus individu (rasa hormat 

berlebihan) timbul saat  kita mulai mendewakan seseorang, 

sehingga yang terlihat oleh kita darinya hanyalah yang baik-baik saja.

Dia tampil bagaikan sosok yang sempurna.

Kemudian, saat  belakangan orang ini  melakukan kesalahan, 

atau tidak menunjukkan moralitas yang sesuai dengan ekspektasi 

kita, maka ada dua reaksi, yaitu penyangkalan /denial)—kita 

menuduh itu semua pasti tidak benar—atau patah hati menghadapi 

kenyataan. Di kedua respons ini , sebenarnya kita sudah lebay 

juga. Media sosial saat ini juga sangat memperbesar efek kultus 

individu, sebab  kita bisa "mengikuti" sepak terjang orang yang kita 

idolakan hampir 24 jam, tujuh hari seminggu.

Bagaimana Stoisisme melihat fenomena kultus individu ini? Dengan 

kerangka dikotomi kendali, seharusnya jawabannya sudah jelas. Kita 

tidak seharusnya menggantungkan kebahagiaan pada kekayaan dan 

popularitas kita sendiri, apalagi pada reputasi orang lain. Pilihan-

pilihan orang lain tidak berada di bawah kendali kita, sebab nya kita 

harus selalu siap menghadapi saat  orang yang kita idolakan 

ternyata mengecewakan kita. Tidak perlu lebay, gusar, menangis 

guling- guling, jika kita selalu mampu mengingat bahwa kehidupan 

tokoh idola ada di luar kendali kita.

The Inner Citadel (Benteng di Dalam Diri)

Di bab ini kita telah diingatkan oleh para filsuf Stoa bahwa perasaan 

kita tidak harus menjadi penumpang pasif yang dibawa dan 

ditentukan oleh kehidupan. Kita juga diingatkan bahwa semua rasa 

susah, khawatir, cemas sebab  peristiwa eksternal sebenarnya tidak 

datang dari peristiwa hidup itu sendiri, namun  dari persepsi, anggapan,

opini kita sendiri, dan ini sepenuhnya di bawah kendali kita. Ini adalah

kabar gembira yang sangat penting, sebab  jika kita bisa 

mengendalikan persepsi dan pikiran kita yang selama ini bertanggung

jawab terhadap semua emosi negatif kita, sesungguhnya rasa damai 

dan tenteram selalu bisa kita ciptakan tanpa harus menunggu hidup 

memperlakukan kita dengan baik.

Mengendalikan emosi negatif merupakan tema yang cukup sering 

berulang di dalam teks-teks . Para filsuf Stoa melihat 

emosi negatif yang lahir dari opini/va/ue judgment sebagai sesuatu 

yang harus terus dikeluarkan dari dalam pikiran kita. Hal ini berkaitan 

dengan hidup yang sebagian besar berada di luar kendali kita. Bagi 

filsuf Stoa, hidup yang penuh ketidakpastian hanya bisa dihadapi 

dengan pikiran yang tidak terganggu emosi negatif.

“Pikiran yang tidak diganggu oleh emosi berkecamuk adalah sebuah 

benteng, tempat berlindung terkokoh bagi manusia untuk berteduh 

dan berlindung.”- Marcus Aurelius /Meditations). Walaupun beliau 

adalah seorang Kaisar dengan kekuasaan absolut atas ratusan ribu 

prajurit, bagi Marcus

a You have Dower over

not outsideyour mi

events. Realize this,

and you will find

strength? - Marcus

Aurelius (Meditations)

Aurelius tempat berlindung terkokoh adalah pikirannya sendiri.

Di bab berikutnya, kita akan mendapatkan tip-tip praktis dari Filosofi 

Teras untuk membuat kita lebih tangguh dalam menghadapi hidup 

yang sulit.

“You have power over your mind, not outside events.

Realize this, and you will find strength." - Marcus Aurelius 

/Meditations)

Intisari Bab 5

• Manusia kerap kali disusahkan bukan oleh hal-hal atau 

peristiwa, namun  oleh opini, interpretasi, penilaian/value judgment

akan hal-hal atau peristiwa ini .

•  tidak memisahkan antara “emosi” dan 

’’nalar/rasio”. Emosi (negatif) dianggap sebagai akibat dari 

nalar/rasio yang keliru.

• Saat kita mengalami peristiwa hidup, sering kali ada penilaian 

otomatis yang muncul, dan jika tidak rasional, maka penilaian 

otomatis ini memicu emosi negatif.

• Kita memiliki kemampuan untuk tidak menuruti penilaian/ value 

judgment otomatis ini . Kita mampu untuk menganalisis 

sebuah peristiwa/objek dengan rasional, khususnya untuk 

memisahkan antara fakta objektif dari penilaian/opini subjektif 

kita.

• Langkah-langkah yang bisa dilakukan dengan akronim S-T-A-R 

(Stop-Think & Assess-Respond) dapat dipraktikkan saat kita 

mulai merasakan emosi negatif.

• Kita juga bisa mengendalikan respons lebay terhadap segala hal

dengan mengingat betapa remehnya masalah kita jika dilihat 

dari jauh, bahwa tidak ada yang sungguh- sungguh baru di 

kehidupan manusia, dan pada akhirnya semua akan terlupakan 

oleh waktu.

"Kita harus aware (sadar) 

dengan apa yang kita 

pikirkan pada situasi 

tertentu.”

Sesudah menemui Dr. Andri, seorang psikiater dengan spesialisasi 

pengobatan psikosomatis, saya pun tertarik mendapatkan perspektif 

disiplin psikologi. Saya berkesempatan mewawancarai Wiwit 

Puspitasari, seorang psikolog klinis yang juga pengajar di Program S-

1 Psikologi di sebuah universitas swasta. Berikut adalah kutipan 

wawancaranya:

Halo Wiwit, bolehkah bercerita sedikit mengenai aktivitas sehari-hari?

Saya adalah seorang psikolog klinis dewasa. Saya juga seorang full 

time pengajar di UPH (Universitas Pelita Harapan), untuk mata kuliah 

Psychodiagnostics, Kode Etik Psikologi, Positive Psychology. Di luar 

itu, saya praktik by appointment (perjanjian). Selebihnya ikut kegiatan

sosial di Komunitas Sahaja, dengan fokus di anak dan orang tua di 

daerah Marunda. Kami memberikan pengajaran sebulan sekali untuk 

life skills. Misalnya diajarkan tentang cinta lingkungan, bullying, dan 

lain-lain.

ncara dengan

Mengapa dulu mengambil kuliah Psikologi?

Katanya dulu sih pendengar yang baik, suka dicurhatin, hahaha. Dan 

rasanya puas kalau bisa membantu orang. Dulu waktu SMA mikirnya 

seru ya dengerin orang, kayaknya gak sulit. Tahunya sesudah masuk

(Psikologi), ternyata sulit banget dengerin orang. Semakin ke sini 

rasanya makin puas jika bisa membantu orang di bidang saya. Kalau 

orang berkata "Terima kasih sudah membantu saya", itu sudah 

achievement/ pencapaian bagi saya.

Apa pendapat Wiwit mengenai hasil Survei Khawatir Nasional di 

mana dua dari tiga responden mengaku merasa khawatir mengenai 

hidup ini?

Saya mikir, "Dunia lagi kenapa ya?” Hal-hal yang membuat 

seseorang khawatir selain sebab  melihat pengalaman pribadi juga 

melihat pengalaman orang lain. Dan juga verbal instruction, dikatakan

orang lain secara terus-menerus. Misalnya, kalau ditakut-takutin, 

"Anjing itu ngeri lho”, kalau dilakukan secara terus-menerus bisa 

menimbulkan rasa takut terhadap anjing. Saya jadi mikir, di sekeliling 

kita lagi ada apa ya sampai orang segitu khawatirnya? Informasi yang

mereka dapatkan apa aja sih? Serta orang-orang di sekitarnya 

apakah semakin me- reinforce (memperkuat) kekhawatiran mereka 

atau justru membantu (mengurangi)?

Makanya saya mengecek komposisi responden yang mayoritas 

perempuan. Ini konsisten dengan kebanyakan penelitian (bahwa 

perempuan lebih rentan khawatir-HM). Yang bikin kaget sebenarnya 

bahwa jumlahnya setinggi itu.

Mengapa perempuan cenderung lebih khawatir daripada laki- laki?

Asumsinya adalah adanya pengaruh gender role. Cowok itu kan 

diharapkan lebih kuat daripada perempuan, jadi mereka itu selalu 

diminta atau dipaksa menghadapi ketakutannya. Selain itu, umumnya

perempuan lebih ekspresif dalam menyatakan apa yang ia rasakan 

dibandingkan laki-laki, sehingga lebih banyak jumlah perempuan 

yang bercerita kalau dia cemas dibandingkan laki-laki.

Kalau dilihat treatment tentang anxiety atau fear, cara paling umum 

untuk menghadapi ketakutan atau kecemasan adalah dengan 

dihadapi. Tapi, caranya itu yang harus diatur.

Bisa diperjelas lebih dalam tentang peran orang sekitar mengenai 

kekhawatiran kita?

Khawatir dan takut saya gabung ya, sebab  secara psikologi 

dibedakan. Kalau takut adalah perasaan yang muncul saat ada 

ancaman yang memang terjadi ada di dekatnya, sangat konkret. 

Immediate threat.

Khawatir itu seperti takut, tapi akan sesuatu yang masih di depan. 

Masih nanti in the future, dan kita nggak tahu benar (akan terjadi) 

atau tidak. Misalnya, saya kuliah, nanti skripsi lulus gak, nah itu 

khawatir. Kalau takut, maka ada ancaman di saat ini, misalnya 

dosennya marah, dan saya merasa takut. Tapi, memang 

gangguannya suka digabung (secara psikologi).

Soal pengaruh orang sekitar, coba lihat, bayi itu tidak punya rasa 

takut. Yang membuat dia merasa takut adalah sebab  dia 

mempelajari ada sesuatu yang menakutkan. Takut dan anxiety 

menurut saya adalah hal yang "dipelajari". Dan yang membuat kita 

belajar (takut) itu salah satunya peran orang-orang lain. Apakah saat 

saya takut, orang lain membantu saya mengatasi ketakutan saya, 

atau malah memupuk sehingga takutnya makin parah. Saya takut 

laba-laba, bukannya dibantu supaya tidak takut, tapi malah disodorin 

laba-laba.

Sugesti/pengaruh lingkungan lebih besar ke anak kecil. sebab  

asumsinya anak kecil belum punya kemampuan berpikiryang 

memadai untuk menganalisis sesuatu, misalnya menentukan baik 

dan benar, dibandingkan dengan orang dewasa. Terkadang saya 

melihat dari client-client saya bahwa proses seseorang menjadi takut 

sebenarnya sumbernya sejak masih kecil. Jadi, sumber 

kekhawatirannya bukan baru-baru saja terjadi, bahkan ada yang dari 

usia sekolah.

Rata-rata, client yang datang konsultasi ke Wiwit pemicunya apa, 

apakah mereka datang sendiri atau sebab  dibawa keluarga?

Umumnya, client remaja sebab  dibawa keluarganya. Misalnya 

anaknya dirasa berbeda dari anak-anak lain, atau biasanya anak 

yang tertutup dengan orang tua, atau anak dengan isu pengendalian 

marah, atau anaknya tidak bisa mengikuti apa yang diharapkan oleh 

orang tuanya.

Untuk yang sudah kuliah, biasanya sebab  keinginan sendiri. Yang 

paling sering membuat mereka akhirnya datang ke klinik justru 

gangguan fisik. Misalnya sulit tidur atau sakit kepala terus-menerus. 

Ada yang berusaha ke dokter dulu, tapi dokter berkata ini bukan 

masalah biologis, mungkin kamu stres, coba ke psikolog.

Pemicu kedua yang paling sering adalah saran orang lain, misalnya 

pacar, orang tua, atau teman-teman. Ketiga, mereka yang merasa 

berbeda dari orang-orang (sekitarnya). Misalnya, kok saya gampang 

sekali emosi sementara teman-teman saya tidak.

Tadi dikatakan banyak yang datang (berkonsultasi) sebab  sulit tidur, 

sakit kepala. Apa rata-rata penyebabnya?

Masalah fisik seperti sulit tidur dan sakit kepala umumnya muncul di 

kebanyakan gangguan. Anxiety disorder, mood disorder, stres, 

gejalanya seperti itu.

Saya percaya antara kognisi dan fisiologis itu pasti berkaitan. Saat 

orang takut dan cemas akan ada “alarm” di badan. Simtom fisiknya 

sama, sumbernya bisa beda.

Kebanyakan, penyebabnya (dari sulit tidur/sakit kepala) adalah 

cemas atau depresi yang masih mild (ringan) atau moderate 

(sedang). Sulit dibedakan sebab  cemas dan depresi suka barengan, 

orang yang cemas juga menampilkan simtom-simtom depresi.

Apa contoh situasi kecemasan yang sering dihadapi Wiwit?

Paling sering kalau mahasiswa, dia berada di sebuah pertemanan 

yang tidak sehat, namun  dia tidak bisa keluar dari situ. sebab  

(katanya) "Kalau saya keluar dari situ, nanti teman saya akan begini 

ke saya”. (Saya men-challenge], "Memang iya dia akan begitu?”, "Iya”

katanya. Jadi dia memilih tidak melakukan apa-apa, untuk 

menghindari hal buruk dari terjadi. Jadi, dia sudah memiliki belief 

tertentu terhadap kondisi pertemanannya.

Klien yang datang ke klinik biasanya masalahnya sudah berlangsung 

lama. Saya suka mikir, dua orang terkena kondisi eksternal yang 

sama, tapi reaksinya bisa beda. Pasti ada sesuatu di dalam dirinya 

yang memengaruhi, misalnya cara berpikir, atau kecenderungan 

kepribadian yang ia miliki. Orang- orang yang suka khawatir akan 

kesehatan umumnya cenderung lebih sensitif akan trigger-nya, 

sehingga makin mikirin itu.

Orang yang susah tidur cemasnya bukan sebab  tidak bisa tidur, 

namun  sebab  dia berpikir bahwa dia tidak bisa tidur.

Orang yang gampang cemas adalah orang yang punya 

kecenderungan bahwa ia tidak bisa mengontrol sesuatu (sense of 

personal control]. Dia merasa tidak bisa mengontrol sesuatu. Semua 

orang wajar terkena masalah dan merasa sedih, tapi kita berusaha 

untuk problem solving, sebab  kita merasa ada yang bisa kita 

lakukan. Tapi, ada orang yang merasa dia tidak bisa mengendalikan 

apa yang terjadi di hidupnya, sebab  orang- orang seperti ini biasanya

menganggap yang terjadi di hidupnya dibentuk oleh sesuatu di luar 

dirinya (seperti luck, orang lain yang lebih kuat, chance], sehingga 

saat  ada masalah dia tidak punya cara untuk problem solving. 

Contohnya adalah mereka yang waktu kecilnya ada sejarah abuse.

Jadi, orang-orang ini merasa tidak bisa melakukan sesuatu, sehingga

menjadi kecewa (saat  masalah menimpa)?

Ada dua kondisi yang berbeda. Orang yang merasa tidak bisa 

melakukan sesuatu tidak akan bisa problem solving. Ada masalah ya 

sudahlah.

Tapi, ada irrational belief lain yang membuat orang gampang 

cemas/takut. Jadi, kata-kata seperti “harusnya...”, "dia pasti seperti 

itu...", "must..", "dunia tuh harusnya adil”, "orang tuh harusnya ngertiin

gue". Gak semua orang harus ngertiin lo. Kata-kata seperti itu 

membuat orang makin cemas. Itu adalah irrational belief yang harus 

diutak-atik saat konseling.

Misalnya, kata-kata, “Saya PASTI tidak bisa ngapa-ngapain”, 

“Yakin?" (kata saya). Misalnya ketemu dosen killer, “Saya pasti gak 

lulus deh bu”, “Tahu dari mana?” (saya), “sebab  dosennya killer", 

“Sebelumnya pernah ketemu dosen killer gak?” (saya). Kita mencari 

bukti-bukti untuk counter apa yang ada di pikiran dia.

Apa itu CBT [Cognitive Behavioral Therapy]?

CBT adalah pendekatan dalam psikologi yang menggabungkan 

teknik cognitive therapy dan behavior therapy. Cognitive therapy 

percaya bahwa respon (emosi ataupun perilaku) kita sumber 

utamanya adalah pikiran. Umumnya pikiran yang irasional, salah, 

atau keliru.

Kalau pendekatan behavior percaya bahwa untuk mengurangi atau 

meningkatkan suatu perilaku harus dengan reinforcement/ 

punishment. Misalnya, kalau mau diet, bikin plan (rencana).

Kalau berhasil kasih reward, kalau gagal ditentukan apa punishment 

(hukuman)-nya. Sementara kalau cognitive therapy, kalau gagal diet, 

ditanya apa yang dipikirkan saat melihat makanan. Jadi proses 

berpikirnya yang diutak-atik.

Di CBT, dua-duanya kita sasar, baik proses berpikir maupun 

perilakunya. Makanya terapi CBT itu suka bikin banyak pe-er, ada 

sesuatu yang harus dia lakukan, sebab  dia harus explore tentang 

pikirannya, emosinya. sebab  asumsi CBT itu:

1. Perubahan pemikiran dapat mengubah perilaku.

2. Perubahan perilaku juga dapat mengubah cara berpikir.

Mungkin enaknya pakai contoh. Seorang gadis muda berkali-kali 

gagal dalam percintaan, sehingga dia menjadi benci cowok, menjadi 

apatis terhadap relationship. Apa yang dilakukan jika dengan 

pendekatan CBT?

Pertama, ditanyakan apa yang bikin takut. Apa yang dipikirkan 

mengenai relationship. Kita akan mencari tahu pemikiran apa yang 

tidak rasional soal relationship.

Dalam CBT, kita mencoba mengubah dulu cara berpikirnya dengan 

mencari bukti yang meng-counterapa yang dipikirkan. Misalnya, 

“Semua laki-laki bajingan!", lalu kami tanya, “Oh ya? Siapa saja laki-

laki dalam hidup kamu?", sebagai contoh misalnya Ayah. "Apakah 

ayah kamu bajingan?" Nggak. Jika begitu tidak semua laki-laki 

bajingan kan?

Atau, "Gue selalu gagaL", "Oh ya? Bisa diceritakan gak kehidupan 

pekerjaannya?” (Kemudian klien menceritakan sejarah kariernya). 

"Oh, kemarin kamu dapat promosi ya? Apakah promosi artinya 

gagal?" Kita mencari bukti yang bisa meng-counter (persepsi klien). 

Kadang orang tidak aware bahwa pemikirannya irasional. sebab  

kalau irasional artinya itu sudah terjadi cukup lama, sampai dia benar-

benar jadi irasional. Dengan menampilkan bukti mungkin 

pemikirannya tidak langsung berubah, tapi minimal dia mendapatkan 

insight, "Oh iya ya?” itu saja kami sudah senang.

Bahkan dengan client yang punya masalah self-esteem (percaya diri),

saya suka minta mereka menulis apa achievement (pencapaian) 

yang mereka punya, tidak perlu besar, cukup kecil-kecil. Misalnya, 

kata teman-teman kamu seperti apa? Kemudian saya bacakan 

kepada mereka. Hanya supaya mereka aware saja bahwa mereka 

tidak segitunya, walaupun mungkin pikiran mereka belum tentu 

langsung berubah.

Insight ini yang harus ditemukan oleh si pasien sendiri, dan kita 

berusaha memfasilitasi mereka agar menemukan itu.

Tadi dikatakan kecenderungan mengontrol segala sesuatu adalah 

bentuk irrational belief. Ada contohnya?

Yang sering (saya dengar), "Saat saya baik dengan orang lain, orang 

lain juga harus melakukan hal yang sama.” Salah satu pasien saya 

punya kekesalan pada mantan pacarnya, sebab  dia sudah baik 

kepada mantannya, tapi si mantan tidak melakukan hal yang sama 

kepada dirinya. Saya challenge, perilaku baik menurut kamu seperti 

apa? sebab  (standar) “baik" itu bisa berbeda-beda tergantung 

masing-masing.

Contoh lain (yang saya sering dengar), "Dunia itu tidak adil ya?” Saya

balas, "Memang dunia tidak adil.” Saya suka bingung, sejak kapan 

dunia adil. Tapi, menurut dia dunia harus "adil”. Keadilan kadang juga

terkait dengan "Saya sudah melakukan hal ini, saya juga harus 

dibalas dengan ini. Itu adil!”

Kalau dikatakan kita harus bisa menerima apa yang bisa dikendalikan

oleh kita dan apa yang tidak bisa dikendalikan oleh kita, apakah itu 

sehat?

Menurut saya itu sehat. Di dalam Teori Stres, ada “coping stress’, 

cara untuk mengatasi stres. Ada dua cara, yaitu problem-focused 

coping dan emotional-focused coping. Problem- focused: misalnya 

saya punya dosen killer, apa yang bisa saya lakukan supaya dosen 

itu tidak killer (ke saya), atau supaya saya bisa mendapat nilai bagus 

walaupun dosennya killer. Artinya, dalam problem solving kita 

melakukan sesuatu yang masih di dalam kendali kita.

Emotion focused coping biasanya hanya mengatasi emosi kita. 

Contohnya, saya didiagnosis terminal illness. Apa yang bisa saya 

lakukan? Misalnya tidak ada lagi yang bisa saya lakukan, satu- 

satunya jalan adalah berdoa. Doa adalah emotion focused coping. 

Berguna saat tidak ada lagi yang bisa kita lakukan di sebuah situasi.

Contoh lain, ada orang berkata, “Gue ingin dia berubah!” (Saya 

jawab) "Emang kamu bisa membuat dia berubah?” Yang bisa 

dilakukan sampai mana sih? Memberi nasihat, paling sampai situ. Dia

mau berubah atau tidak, itu sudah di luar kendalimu. sebab  hal itu 

tergantung orangnya. Kamu bisa melakukan sesuatu, namun  kamu 

tidak bisa berharap bahwa dia akan atau pasti berubah.

Di luar konsultasi klinik dengan klien, Wiwit juga hidup di luar klinik, 

bertemu juga orang-orang yang menunjukkan resilience, 

ketangguhan, keuletan. Apa yang membedakan orang-orang yang 

ulet dan tidak mudah cemas dari klien- klien Wiwit?

Salah satu hal yang sering saya observasi, orang yang lebih tahan 

saat masalah adalah mereka yang punya social support. Bisa punya 

pacar, keluarga, atau pertemanan. sebab  banyak klien saya yang 

tidak punya social support. Hidup sendiri, tidak percaya pada orang 

lain.

Semakin ke sini, saya makin merasa bahwa keterbatasan kadang 

membuat kita lebih resilient (tangguh). Keterbatasan dalam arti, 

misalnya seorang anak tidak dimanjakan, tidak dikasih semua (yang 

diminta), dibiarkan untuk berjuang. Menurut saya, ini bisa membuat 

orang menjadi resilient. Untuk beberapa orang lain, faktor agama juga

ada, walau kadang sering salah. Misalnya, seseorang sedang punya 

masalah, kemudian berkeyakinan bahwa "Tuhan pasti bantu”. Tapi, 

kalau tidak ngapa-ngapain juga masalahnya tidak akan berubah 

sendiri.

Kembali ke CBT, apakah ada prinsip-prinsip dari terapi ini yang bisa 

dipraktikkan di situasi sehari-hari?

Tidak semua orang cocok dengan pendekatan CBT. sebab  CBT 

membutuhkan orang yang mau refleksi atas pemikiran dan 

responnya.

Yang paling gampang memang aware dengan apa yang kita pikirkan 

tentang situasi (tertentu). Misalnya macet, apa yang kamu pikirkan 

pertama tentang macet? Irrational belief biasanya langsung keluar. 

Misalnya lagi, berkenalan sama orang, langsung berpikir, "Dia pasti 

menganggap saya jelek nih.” Itu pikiran pertama yang muncul dan 

malah bikin tambah sedih. Berikutnya, buktinya apa? Saya suka 

bilang, kamu harus mencari bukti yang meng-counter pikiran ini .

Di sinilah pengaruh orang sekitar bisa berfungsi sebagai reminder.

(Twitter: Owiwitto)

Intisari wawancara dengan Wiwit Puspitasari:

• Penyebab kekhawatiran sering kali adalah sebab  adanya 

pendapat, opini yang irasional (contoh, "Dunia harus adil!”).

• Terapi metode Cognitive Behavior berusaha mengatasi emosi 

negatif dengan mengubah pola pikir dan perilaku. Pola pikir yang

keliru dihadapkan dengan bukti-bukti nyata yang tidak 

mendukung pola pikir ini .

• Belajar menerima hal-hal yang tidak ada di bawah kendali kita 

bisa membantu kita mengatasi stres.

BAB ENAM

Memperkuat 

Mental

128

aya mempunyai beberapa teman lama dan kenalan yang sedari 

dulu selalu membuat saya kagum. Mereka adalah orang-orang 

yang di hampir semua situasi yang sangat tidak mengenakkan 

selalu bisa berkata, “Yah, d/-enjoy sajalah." Antrean terminal yang 

panjang, kemacetan berjam-jam, dosen membatalkan kelas 

mendadak padahal kami semua sudah hadir; dulu, bagi saya ini 

adalah hal yang aneh. Situasi lagi gak enak kok d/-enjoy? Gimana 

bisa? Harusnya kita protes! Menuntut keadilan! Memperbaiki 

keadaan! Menghukum yang menyebalkan!

S

Sampai akhirnya saya mempelajari  dan menemukan 

bahwa orang-orang ini  sebenarnya sudah menjalankan salah 

satu praktik Stoisisme—kemampuan untuk tidak hanya menerima, 

namun  bahkan menikmati "the present" (masa sekarang).

Sampai bab terakhir, kita sudah melihat bagaimana  

mengajarkan prinsip "hidup harus selaras dengan Alam", yang artinya

menggunakan nalar. Semua peristiwa di dalam hidup adalah bagian 

keterkaitan dan sebab akibat dari semesta yang lebih besar. Ada 

sebagian hal dalam hidup yang berada di bawah kendali kita, ada 

yang tidak di bawah kendali kita. Lalu, sumber dari emosi negatif 

bukanlah peristiwa-peristiwa dalam hidup, namun  

persepsi/anggapan/pendapat kita sendiri atas peristiwa ini .

So far so good. Stoisisme masih memiliki beberapa lagi tips dan trik 

untuk membantu kita merasa damai tenteram di tengah hidup yang—

sebenarnya—ada di luar kendali kita.

"We suffer more in imagination than in reality." - Seneca 

(Letters)

("Kita menderita lebih di imajinasi kita daripada di kenyataan.”)

Yang pertama, kenali bahwa kita sering kali menyiksa diri dengan 

pikiran-pikiran kita sendiri, dan ini lebih menyiksa daripada kenyataan 

yang sebenarnya akan terjadi. Misalnya, kita harus memberikan 

presentasi di depan umum. Kemudian, di dalam pikiran kita sudah 

berkecamuk skenario bahwa kita akan salah ngomong, kesandung 

kabel mic, menumpahkan air ke

129

pembicara lain, pingsan di panggung, ketiban meteor pas 

sedang berbicara, atau lainnya. Sering kali, realitas 

yang terjadi jauh sekali dari yang kita khawatirkan, dan

kita sudah menghabiskan begitu banyak energi untuk 

menyiksa diri.

Ada sebuah artikel menarik di Huffington Post berjudul ”85 Percent of 

What We Worry Never Happens” yang mengutip sebuah studi 

mengenai kekhawatiran yang tidak terjadi ini. Sejumlah responden 

diminta mencatat semua kekhawatiran mereka selama beberapa 

waktu. Di akhir periode studi, mereka diminta untuk menandai 

kekhawatiran yang akhirnya benar-benar terjadi.

Ternyata, 85% dari apa yang dikhawatirkan para responden tidak 

pernah terjadi. Bahkan dari 15% kekhawatiran yang akhirnya benar 

terjadi, 79% responden menemukan bahwa ternyata mereka mampu 

mengatasinya lebih baik dari yang mereka pikir, atau ternyata 

kesulitan yang terjadi mengajarkan pelajaran berharga. Kesimpulan 

dari studi ini adalah 97% dari apa yang kita khawatirkan tidak lebih 

dari pikiran kita sendiri yang ketakutan dan ‘menghukum’ kita dengan 

ke-lebay-an.

Seneca juga mengingatkan soal rasa khawatir yang datang terlalu 

cepat. Kita sudah mengkhawatirkan sesuatu jauh lebih dini dari 

semestinya. Misalnya, kita sudah stres sendiri apakah anak-anak kita 

akan menjadi remaja pengguna narkoba saat mereka masih di dalam 

kandungan. Seperti kata Seneca, jika kita menderita "sebelum" 

saatnya, kita juga menderita "lebih" dari semestinya.

"Kita memiliki kebiasaan membesar-besarkan kesedihan. Kita 

tercabik di antara hal-hal masa kini dan hal-hal yang baru akan 

terjadi. Pikirkan apakah sudah ada bukti yang pasti mengenai 

kesusahan masa depan. sebab  sering kali kita lebih 

disusahkan kekhawatiran kita sendiri." - Seneca [Letters from a 

Stoic]

Di saat pikiran kita mulai dipenuhi pikiran-pikiran buruk yang tidak 

perlu/berlebihan, ada baiknya kita menyadari ini, dan bisa kembali 

menggunakan metode S-T-A-R. Gampangnya, saat pikiran mendung 

mulai melanda, ingatlah adanya bintang [starl\ Tsahi

 130

Premeditatio Malorum: Sebuah ‘Imunisasi’ Mental

Dalam memperkuat mental menghadapi kesulitan hidup, Filosofi 

Teras memiliki sebuah tips yang terkesan paradoks (bertentangan) 

dengan paragraf di atas. Dalam bahasa Latin, tips ini disebut 

"premeditatio malorum" atau "premeditate evil", atau "pikirkanlah hal-

hal yang jahat/negatif yang mungkin terjadi". Marcus Aurelius berkata,

"Awali setiap hari dengan berkata pada diri sendiri: hari ini saya 

akan menemui gangguan, orang-orang yang tidak tahu 

berterima kasih, hinaan, ketidaksetiaan, niat buruk, dan 

keegoisan—semua itu sebab  pelakunya tidak mengerti 

[ignorant] apa yang baik dan buruk.

Saya tidak bisa disakiti oleh itu semua, sebab  tidak ada orang 

yang bisa menjerumuskan saya ke dalam perbuatan buruk, dan 

saya mampu untuk tidak menjadi marah atau membenci sesama

saya; sebab  sesungguhnya kita dilahirkan ke dunia ini untuk 

bekerja sama..." [Meditations]

Kita akan membahas mengenai apa yang dimaksud Marcus Aurelius 

mengenai "pelakunya (hal-hal jahat) tidak mengerti...." di bab 

berikutnya. Saat ini, kita memfokuskan pada paragraf pertama, yaitu 

awali setiap hari dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa kita 

akan diganggu orang-orang, dihina, bertemu orang tidak tahu terima 

kasih, dikhianati, egois, dan lain-lain. Kita bahkan bisa 

mengembangkan premeditatio malorum sampai ke situasi tidak enak 

lainnya, jika mau, seperti memikirkan akan terkena macet parah, 

terlambat ke kantor, ban kempes, atau kerjaan ketumpahan kopi.

Sebenarnya, ngapain sih kita melakukan hal ini? Ini kan jelas- jelas 

negative thinking? Kok kita malah disuruh mengawali hari dengan 

aktivitas yang tidak memotivasi ini? Mari kita kembali ke dikotomi 

kendali (jangan bosan ya jika diulang-ulang, sebab  prinsip ini sangat 

mendasar bagi ). Sebagian hal ada di dalam kendali 

kita, sebagian lain tidak ada di dalam kendali kita (yaitu hal-hal 

eksternal atau orang-orang lain). Selain kita ingin menghindari hal-hal 

tidak menyenangkan yang mungkin terjadi pada diri sendiri, kita suka 

dibuat jengkel juga oleh hal-hal tidak enak yang "tidak kita duga" 

/unexpected).

Contoh, jika setiap hari saat menuju ke kampus atau kantor kita harus

melalui jalan yang sama dan selalu macet, maka kemacetan itu tidak 

131 

terlalu menyebalkan sebab  kita sudah memprediksinya, dan mungkin

mengantisipasinya (bahkan, kalau sampai tidak macet, kita malah 

curiga, ada apa gerangan?). Akan namun , bayangkan kita memiliki 

maskapai penerbangan langganan yang selalu tepat waktu. Suatu 

saat saat  hendak terbang, tiba-tiba maskapai ini mengalami 

penundaan. Peristiwa ini akan lebih mengecewakan dan 

menyusahkan kita sebab  kita tidak menduganya.

Sebaliknya, kalau maskapai langganan sudah biasa ngaret, pilotnya 

sering tertangkap narkoba, pesawat sering bablas sampai nyungsep 

ke laut, maka kita pun mungkin memakluminya. Praktik premeditatio 

malorum, atau sengaja memikirkan apa-apa (dan siapa] saja yang 

akan merusak hari kita, adalah praktik untuk mengantisipasi hal-hal 

tidak enak yang mungkin terjadi. Dengan demikian, kita mengubah 

hal-hal ini  dari "tak terduga” (kejutan), menjadi hal-hal yang 

"telah diantisipasi” (tidak lagi menjadi kejutan).

Dengan melakukan ini, sebenarnya kita telah mencabut (sebagian) 

gigi taring ketidakpastian. Jika sesuatu berubah dari tidak terduga 

menjadi bisa diantisipasi, saat kejadian ini  akhirnya benar-benar

terjadi, maka efek tidak enaknya akan jauh berkurang (seperti kita 

memasuki jalan raya yang kita sudah prediksi akan macet).

"Musibah terasa lebih berat jika datang tanpa disangka, dan 

selalu terasa lebih menyakitkan.

sebab nya, tidak ada sesuatu pun yang boleh terjadi tanpa kita 

sangka-sangka. Pikiran kita harus selalu memikirkan semua 

kemungkinan, dan tidak hanya situasi normal.

sebab  adakah sesuatu pun di dunia yang tidak bisa 

dijungkirbalikkan oleh nasib?" - Seneca [Moral Letters]

Praktik ini sangat mirip cara kerjanya dengan imunisasi. Dalam 

imunisasi, kita memasukkan kuman yang sudah dilemahkan sehingga

sistem kekebalan kita bisa mempersiapkan diri melawan kuman yang 

sesungguhnya jika datang. Dengan mensimulasikan kemungkinan-

kemungkinan buruk yang mungkin terjadi, kita sedang 

mempersiapkan "kekebalan mental” menghadapinya jika memang 

terjadi. "Anggaplah apa yang kamu khawatirkan mungkin terjadi 

PASTI terjadi, kemudian pikirkan lagi sungguh-sungguh...kamu akan 

menemukan bahwa apa yang kamu takuti sebenarnya tidak signifikan

atau tidak berdampak panjang,” ujar Seneca [Letters from a Stoic).

 132

Berikutnya, praktik ini justru menyiapkan kita untuk menghadapi 

skenario buruk. Jika kita hendak melakukan perjalanan jarak jauh 

dengan kendaraan pribadi, dan kita mengantisipasi kemungkinan ban 

bocor, maka minimal kita bisa memeriksa kesiapan ban serep kita 

dan perangkat pendukung, seperti kunci ban, dongkrak, dan lain-lain. 

Dengan membayangkan, kita bisa lebih bersiap untuk mengatasinya.

Seandainya kita mengantisipasi sebuah bad outcome yang tidak ada 

solusinya, kita masih bisa memikirkan, "Apa sih seburuk- buruknya 

akibatnya jika hal ini terjadi? Benarkah ini sebuah bencana, atau 

kalau dipikir-pikir sebenarnya gak se-bencana itu? Apakah ada orang 

lain yang pernah mengalaminya juga dan pada akhirnya tidak seburuk

yang dibayangkan?”, atau "What's the worst that could happen?"

Misalnya, seorang cowok jomblo sedang bersiap-siap untuk nembak 

(menyatakan cinta) seorang gadis yang beruntung (atau tidak). 

Bayangkan si cowok Stoa ini melakukan premeditatio malorum. Yang 

pertama, menyadari bahwa respon si gadis sepenuhnya di luar 

kendali sang cowok. Kemudian, apa situasi terburuk yang mungkin 

terjadi dan hampir tidak ada solusinya? Ditolak mentah-mentah kan?

Maka, sang cowok bisa memikirkan apakah ditolak sang cewek 

adalah bencana absolut, akhir dari dunia dan seluruh isinya, atau 

tidak. Jika dia rasional, maka seharusnya penolakan sang pujaan hati 

bisa dilihat sebagai bukan bencana dunia. Yang kedua, sang cowok 

bisa melihat penolakan ini sebagai kejelasan (lebih baik dari 

digantung/friendzone], sehingga dia bisa terbebas dan bisa membuka

hati kepada yang lain.

Di sebagian besar situasi yang bisa kita bayangkan, hampir semua 

kemungkinan terburuknya sebenarnya tidak "segitunya", dan kalau 

dipikirkan baik-baik, bukanlah akhir segala-galanya dalam hidup. 

Selain itu, pikirkan apakah skenario terburuk ini pernah menimpa 

jutaan orang lain di berbagai masa? Hampir

Jika akhirnya semua hal buruk

1

yang dibayangkan ternyata

tidak terjadi, kita akan

merasa lebih bahagia dengan

hari kita. Ironisnya, negative

thinking mungkin bisa membuat

seseorang menjadi lebih

bahagia.

semua kejadian buruk yang bisa kita

bayangkan sudah pernah menimpa orang

lain (ingat, di bab sebelumnya Filosofi

Teras mengatakan "tidak ada yang

benar-benar baru di dalam kehidupan

ini."), dan kita bisa melihat apakah

orang-orang lain yang akhirnya

mengalami hal yang kita khawatirkan

benar-benar hancur atau mereka bisa

melaluinya. Life goes on. Termasuk

ditolak pujaan hati.

Jika akhirnya semua hal buruk yang dibayangkan ternyata tidak 

terjadi, kita akan merasa lebih bahagia dengan hari kita. Ironisnya, 

Ik

negative thinking mungkin bisa membuat seseorang menjadi lebih 

bahagia.

Premeditatio malorum bisa diteruskan sampai ke musibah- musibah 

"besar", misalnya membayangkan kita tertimpa musibah bencana 

alam, kecelakaan sampai cedera besar, bahkan sampai cacat, dilanda

peperangan, dan lain-lain. Prinsipnya sama dengan di atas, kita 

melatih diri membayangkan jika kita berada di situasi-situasi ini  

sehingga bisa mengantisipasinya dan tidak bisa benar-benar "kaget" 

jika akhirnya memang terjadi.

Apakah premeditatio malorum sebuah kontradiksi dengan awal bab ini

di mana Seneca mengatakan kita sering menyiksa diri dengan pikiran-

pikiran negatif yang tidak perlu? Tidak sama sekali. Ada perbedaan 

antara pikiran-pikiran negatif yang dibahas oleh Seneca dengan 

premeditatio malorum. Yang pertama, premeditatio malorum diawali 

dengan kesadaran dikotomi kendali. Kita diajarkan bahwa hal-hal 

eksternal yang tidak di bawah kendali kita adalah indifferent, tidak 

berpengaruh pada baik tidaknya hidup kita. Ini berbeda dengan 

pikiran negatif yang menyiksa sebab  kita memberikan 

penitaian/value judgment terhadap hal-hal eksternal.

Sebaliknya, kita seharusnya lebih khawatir terhadap hal-hal di bawah 

kendali kita: pikiran kita, sikap kita, perkataan kita, dan tindakan kita—

sebab  inilah yang menentukan "baik buruk’nya hidup kita. Seperti 

situasi yang dialami Admiral Stockdale. Bagi seorang prajurit, 

tertangkap musuh adalah hal eksternal, tidak di bawah kendali kita, 

dan bersifat indifferent. Yang harus dia khawatirkan adalah menjaga 

semangat, moril, dan perkataannya saat dia benar-benar tertangkap 

dan ditawan musuh.

Perbedaan kedua dari premeditatio malorum dengan kekhawatiran 

yang tidak perlu adalah premeditatio malorum berada sepenuhnya 

dalam kendali kita. Kita sendiri yang memutuskan untuk mensimulasi 

berbagai hal negatif, di waktu yang kita tentukan, misalnya pagi hari 

sebelum memulai aktivitas. Kitalah yang menginisiasinya dengan 

tujuan menyiapkan solusi atau mengurangi emosi negatif jika ternyata 

kejadian buruk benar-benar terjadi.

Premeditatio Malorum diawali dengan dikotomi kendali, dan diakhiri 

dengan kesimpulan "apa yang bisa saya lakukan untuk mengurangi 

dampak kejadian negatif ini jika memang terjadi? Jika tidak ada 

solusinya, apakah saya benar-benar tersakiti?” (apalagi mengingat 

prinsip bahwa semua yang di luar kendali kita adalah indifferent, tidak 

berpengaruh pada kebahagiaan kita).

Sementara itu, kecemasan yang tidak perlu tidak berujung apa- apa, 

muncul sendiri tanpa kendali, dan hanya menyiksa kita tanpa ada 

solusi. Perbedaan lain yang paling mendasar juga adalah kecemasan 

bersifat emosional, sementara premeditatio malorum datang dari nalar

dan kepala dingin.

"Musibah terasa paling berat bagi mereka yang mengharapkan 

hanya keberuntungan." - Seneca lOn Tranquility of Mind)

 mengajarkan kepada kita untuk menjadi "pengguna"—

bukan "budak"—dari kebaikan dan rezeki yang kita terima. Ada 

perbedaan besar antara status "pengguna" dan "budak". Jika kita 

adalah pengguna, maka segala rezeki dan keberuntungan yang kita 

terima dapat kita perlakukan sebagai "pinjaman”. Jika kita memiliki 

kesehatan, anggota tubuh lengkap, kecerdasan, kecantikan, lahir di 

orang tua dan keluarga yang harmonis, tidak berkekurangan secara 

materi, bisa bersekolah, memiliki pekerjaan yang baik, memiliki 

pasangan dan anak yang baik, dan semua kebaikan lain yang bisa 

ditawarkan hidup, maka ingatlah bahwa ini semua hanyalah pinjaman.

Jadi, mumpung menerima "pinjaman” ini, kita gunakan semaksimal 

dan sebaik mungkin. Namun, kita hanyalah "pengguna", dan bukan 

"pemilik”. Artinya, setiap saat kita harus siap jika pinjaman ditarik 

kembali oleh hidup. Kita tidak pernah memiliki halusinasi bahwa kita 

bisa memiliki itu semua selamanya.

"saat  saya melihat seseorang yang gelisah, saya bertanya-

tanya, apa sih yang ia inginkan? Jika seseorang tidak 

menginginkan sesuatu yang di luar kendalinya, mengapa 

mereka harus merasa gelisah?" - Epictetus /Discourses)

Namun, "diperbudak" oleh rezeki dan kenikmatan hidup membuat kita 

terus dilanda kecemasan akan kemungkinan kehilangan itu semua. 

Hal-hal di luar kendali kita akan mengambil kendali saat kita tidak 

mendisiplinkan pikiran. Premeditatio malorum adalah bentuk disiplin 

ini, untuk membebaskan kita dari rasa ketergantungan pada 

keberuntungan dan kemurahan hati hidup, dan selalu mengingatkan 

diri bahwa kita dapat tetap hidup bahagia, bahkan saat  segala 

kenyamanan materi dalam hidup ini direnggut dari hidup kita.

"Saya tidak pernah memercayai Dewi Keberuntungan (Fortuna), 

bahkan saat  la tampak ramah kepada saya. Semua berkah 

dan rezeki yang diberikannya kepada saya—uang, jabatan, 

pengaruh—saya tempatkan sedemikian rupa sehingga la bisa 

mengambilnya kembali tanpa mengganggu saya. Saya menjaga 

jarak yang lebar dengan segala berkah ini , agar la bisa 

mengambilnya baik-baik, bukan merenggut paksa dari saya.” - 

Seneca /Consolations to Helvia)

Jangan. Ribet.

"(Kamu mendapatkan) ketimun pahit? Ya buang saja. Ada 

semak berduri di jalan setapak yang kamu lalui? Ya berputar 

saja. Itu saja yang kamu perlu tahu. Jangan menuntut 

penjelasan, 'Kenapa ada hal (tidak menyenangkan) ini??’ 

Mereka yang mengerti sesungguhnya dunia seperti apa akan 

mentertawakanmu, seperti tukang kayu yang melihat kamu 

kaget sebab  ada banyak debu hasil gergaji di tempat kerjanya, 

atau tukang sepatu melihat kamu kaget sebab  banyak sampah 

kulit sisa (di tempat kerjanya)." - Marcus Aurelius /Meditations)

Quote ini bagi saya luar biasa. Selain ternyata kebagian ketimun pahit

itu sudah menjadi masalah dari 2.000 tahun yang lalu, quote ini 

mengingatkan saya kepada mendiang Gus Dur dengan kata- kata 

terkenalnya, "Gitu aja kok repot?” Ternyata, sudah ribuan tahun 

manusia senang membesar-besarkan perkara kecil dalam hidup. 

Akibatnya, ada banyak waktu dan energi terbuang percuma untuk 

sesuatu yang sebenarnya sepele.

Ini adalah satu tips dari  untuk memiliki mental yang 

lebih kuat—yaitu tidak membesar-besarkan masalah dan segera 

fokus pada apa yang bisa dilakukan. Marcus Aurelius menyampaikan 

bahwa pada dasarnya hidup ini memang penuh dengan hal-hal gak 

enak, itu sudah fakta.

Jika kita marah-marah atau sedih untuk semua halyang tidak enak 

dan tidak nyaman, itu sama konyolnya dengan seseorang yang 

mengunjungi bengkel tukang kayu dan heran kenapa banyak sampah 

kayu di situ. Life sucks, kata orang bule. Jika memang giliran kita 

untuk tertimpa masalah tidak enak yang sepele, ya terima saja. Gak 

penting juga untuk diperdebatkan eksistensinya.

Kamu makan di restoran dan mendapati ada lalat di sup kamu? Ya 

tinggal minta ganti atau di-cancel. Menghabiskan setengah jam 

berikutnya untuk mengomel dan memperdebatkan mengapa harus 

ada lalat di dalam sup, atau mengapa ada lalat di dalam restoran, 

atau bahkan mengapa harus ada lalat di dunia ini adalah pemborosan

energi, waktu, dan juga mungkin mengurangi kebahagiaan teman 

makan kamu [of course, kamu bisa memberi restoran ini  review 

jelek di internet, dan ini masuk kendali kamu, tapi toh tidak mengubah 

sejarah bahwa seekor lalat pernah mandi di sup kamu, jadi tidak perlu

gusar terlalu lama).

Daftar hal tidak nyaman di dunia yang sepele ada begitu banyaknya, 

dan jika dihitung, mungkin jumlah kejadian tidak enak di dalam hidup 

jauh lebih banyak dari yang enak. Antrean ATM panjang di akhir 

bulan, macet, daging steak yang tidak dimasak sempurna, sate yang 

hangus, cucian yang rusak oleh si mbak, polisi cepek yang malah 

bikin macet, dosen yang random banget kalau memberi nilai, politisi 

yang ngomong sembarangan, followeryang senang mencela, dan lain-

lain.

Seperti Gus Dur, Stoisisme menganjurkan di banyak situasi untuk 

cukup menghindari dan mencari solusinya, tidak perlu menghabiskan 

energi untuk meributkannya. Sering kali, banyak masalah sepele tidak

perlu dicari solusinya, cukup dihindari, seperti sekadar membuang 

ketimun pahit atau mengambil jalan memutar. Gituaja kok repot?

"Satu hal penting untuk selalu diingat: tingkat perhatian kita 

harus sebanding dengan objek perhatian kita. Sebaiknya kamu 

tidak memberikan kepada hal-hal remeh waktu lebih banyak dari

selayaknya.” - Marcus Aurelius [Meditations)

Berikut kali kita ingin ngedumet, marah, kesal, sedih, jengkel berlama-

lama, dipikirkan dulu. Is it really worth my time and energy? Apakah 

objek, kejadian, orang yang akan kita berikan waktu dan tenaga untuk

emosi negatif ini benar-benar sepadan? Rugi kan jika kita 

mencurahkan waktu, pikiran, emosi, dan kebahagiaan kita untuk 

memusingkan hal-hal yang tidak sepadan?

Sebuah Eksperimen yang (Separuh) Berhasil?

Di tahun 2011, jauh sebelum saya menemukan , saya 

iseng melakukan sebuah eksperimen sosial dengan menyeret para 

followers saya di media sosial. Saat itu saya terinspirasi oleh sebuah 

episode di The Oprah Winfrey Show di mana Oprah Winfrey, sang 

tuan rumah, menghadirkan bintang tamu seorang pendeta yang 

memiliki gerakan No Complaint (Tidak Mengeluh). Sang Pendeta, Will

Bowen, memiliki ide untuk membagikan gelang karet kepada 

jemaatnya untuk dikenakan di satu tangan. Kemudian jemaat diajak 

untuk tidak mengeluh selama 21 hari. Jika 21 hari dia sukses tidak 

mengeluh, maka gelang dipindahkan ke lengan yang lain, dan periode

21 hari diulang kembali. Jika kemudian seseorang menyadari dirinya 

telah mengeluh sebelum 21 hari lewat, maka dia harus memindahkan 

gelang itu ke tangan yang lain, dan menghitung ulang 21 hari dari 

awal.

Sebagai seorang pengeluh profesional, saya cukup tertarik pada ide 

ini. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencobanya sendiri, tanpa 

gelang atau anting. Menyadari bahwa tidak mengeluh selama tiga 

minggu rasanya seperti menyuruh saya mendaki

Gunung Everest dengan bermodal kutang doang (alias hampir tidak 

mungkin), maka saya mencoba versi Lite (ringan) saja. Saya 

melakukan No Complaint Week, belajar tidak mengeluh selama 

seminggu saja. Supaya termotivasi, saya juga mengajak teman- 

teman di media sosial untuk melakukannya.

Eksperimen selama seminggu ini sangat menarik. Ada beberapa 

temuan pribadi selama melakukannya. Yang pertama, saya baru 

menyadari betapa seringnya saya mengeluh saat  saya berusaha 

menghentikannya. Situasi apa pun bisa memicu saya untuk 

mengeluh, mulai dari pekerjaan, urusan keluarga, sampai kehabisan 

stok kacang sukro di rumah. Selama seminggu itu, dengan susah 

payah saya berkali-kali menggigit bibir untuk tidak 

mengomel/mengeluh, dan saat  dengan sadar kita melawannya, 

barulah kita menyadari, selama ini kita sering banget mengeluh.

Yang kedua, dalam waktu sesingkat itu, saya menyadari bahwa saya 

sebenarnya mampu untuk tidak mengeluh. saat  kita mau berusaha 

menyadari kebiasaan selama bertahun-tahun, kita memiliki 

kemampuan untuk menghentikannya. Pelajaran terbesar saya selama

eksperimen seminggu itu adalah ternyata saya bisa mengendalikan 

keluhan saya agar tidak terjadi secara otomatis.

Memang, beberapa kali saya gagal, namun  secara keseluruhan selama

seminggu itu saya jauh lebih tidak menjadi pengeluh. Bagaikan 

melatih otot dengan mengangkat beban-awalnya terasa berat, namun  

seiring otot kita beradaptasi dengan beban yang sama sehingga tidak 

terasa seberat yang dulu, maka kemampuan tidak mengeluh pun 

terasa semakin mudah. Selain itu, menghentikan keluhan di bibir 

terasa "menjalar", sampai akhirnya kita juga mulai menghentikan 

keluhan saat masih ada di pikiran. Saat rasa jengkel mulai terasa, kita

bisa menghentikannya langsung di pikiran, dan mulai mengalihkan 

pikiran ke halyang lain.

Sesudah eksperimen No Complaint Week berakhir, sayangnya 

perlahan saya mengalami kemunduran menjadi diri saya semula. 

Tanpa ada periode waktu yang ditentukan, atau adanya goal tertentu, 

saya pun "berjalan mundur” memburuk kembali ke diri saya yang 

lama, sang pengeluh profesional.

 140

“It is not the man who has

too little, but the man who

craves more, that is poor.

Seneca (Letters')

141 

Bagi saya saat itu, eksperimen ini adalah sebuah kesuksesan 

[terlepas dari efeknya yang tidak bertahan secara permanen). Namun

sekarang, sesudah saya mempelajari , saya baru 

menyadari bahwa eksperimen ini sebenarnya hanya “separuh” 

berhasil. Mengapa? sebab  eksperimen ini hanya menghentikan 

perilakunya (mengeluh), namun  tidak dengan serius mengidentifikasi 

dan menghentikan akarnya. Tentunya tidak ada yang salah dengan 

menghentikan perilaku ekspresi mengeluh, namun  sekarang saya 

menyadari bahwa ini adalah solusi separuh. Bagaikan genteng 

bocoryang meneteskan air terus menerus ke dalam ruang tamu, 

sekadar menghentikan ekspresi mengeluhnya adalah seperti 

menadah tetesan air dengan ember, atau sekadar melapis plafon 

dengan lapisan anti air, tanpa mengganti gentengnya.

Bagi saya sekarang, Stoisisme melengkapi separuh yang hilang tadi. 

Mengeluh datang dari pikiran/interpretasi kita akan apa yang terjadi di

hidup kita, dan keluhan merupakan simtom/ gejala dari pola pikir 

irasionalyang datang dari dalam. Kita tidak hanya harus menggigit 

bibir, namun  juga mengubah pikiran dan interpretasi kita atas peristiwa 

ini . Kita tidak hanya melawan air bocoran genteng, namun  kita 

juga memperbaiki sumber kebocoran di gentengnya. Fix the source 

of the problem. Perbaikilah langsung di sumber masalahnya—dalam 

hal ini, pikiran kita sendiri.

Seeing from Other People’s Perspective

Suatu hari, Maya melihat melihat sahabat dekatnya Nisa mukanya 

cemberut.

Maya: "Kenapa lo?”

Nisa: ”HP gue ilang May, jatoh di jalan kayaknya. Kesel banget 

gue, kok gue bego banget ya?”

Maya: "Ya udah Nis, ikhlasin aja. HP bisa dibeli lagi lah...." Nisa:

"Huhuhuhu, tapi gue sedih banget May. Dan rasanya mau 

marah-marah terus ke diri gue sendiri, ceroboh amat...."

Maya: "Ya udah, sinih sinih, puk puk....”

Coba kita bayangkan skenario ini . Saat Maya mendengar soal 

’musibah’ yang menimpa Nisa sahabatnya, apakah Maya akan 

bereaksi lebay? Apakah Maya akan berguling-guling di tanah, 

menjerit-jerit ke langit, bertanya pada Tuhan mengapa sahabatnya 

Nisa harus menerima azab demikian berat? Rasanya tidak kan? 

Mungkin Maya akan berusaha keras untuk terlihat simpati kepada 

 142

sahabatnya, namun  rasanya lebih mungkin Maya akan hanya sedikit 

terlihat prihatin dan tidak sampai meratapi hidupnya sendiri. Reaksi 

ini tentunya berbeda dengan Nisa yang tertimpa musibah itu. Dia 

mungkin akan bete berhari-hari, mungkin sedih sekali sebab  HP itu 

cukup mahal, dan Nisa takut memberitahu orang tuanya soal itu.

Dalam , ada exercise menarik. Jika suatu hari Maya 

juga kehilangan HP-nya, bisakah dia bersikap setenang seperti saat 

dia mendengarkan cerita Nisa tadi?  mengajarkan 

bahwa cara kita menyikapi musibah yang menimpa orang lain 

haruslah sama dengan cara kita sendiri bersikap saat kita yang 

tertimpa musibah yang sama. sebab  secara objektif, musibah yang 

menimpa adalah sama, maka seharusnya responsnya pun sama 

(terlepas kita adalah korban atau pengamat).

Dalam contoh Maya dan Nisa, Stoisisme akan berkata bahwa secara 

objektif, HP milik Nisa tidak bernilai lebih rendah atau lebih tinggi dari 

HP milik Maya (di luar faktor harga rupiah). Maka, adalah aneh jika 

Maya meratapi kehilangan HP-nya lebih dari Maya meratapi 

hilangnya HP Nisa.

Konsep ’’perlakukan musibahmu sama seperti kamu memperlakukan 

musibah orang lain’’ ini rasanya salah satu konsep tersulit dalam 

. Rasanya cukup sulit dilakukan secara emosional, 

sebab  ada perbedaan status sebuah benda saat  ia menjadi milik 

orang lain dibandingkan milik sendiri. Akan namun , tidak bisa disangkal

ada logika yang mengagumkan di sini.

Jika kita kehilangan HP dan menangis meraung-raung, maka 

seharusnya kita melakukan hal yang sama jika yang hilang adalah 

HP orang lain. “Milik saya” tidak menjadikan sebuah HP lebih bernilai 

dibandingkan “milik dia". Di sinilah Stoisisme berusaha mengingatkan

kita untuk tetap objektif dalam menilai segala sesuatu. Lalu, sebab  

umumnya kita relatif lebih tidak sedih mengenai orang lain kehilangan

sesuatu daripada diri sendiri kehilangan sesuatu, konsekuensinya 

ada dua, antara kita harus lebih sedih mengenai orang lain 

kehilangan suatu hal (belajar menambah empati pada musibah orang

lain), atau, kita harusnya belajar lebih rasional dan objektif menyikapi 

musibah diri sendiri.

Kalau praktik konsep ini terasa sulit untuk hal-hal yang relatif sepele

—seperti kehilangan benda—bayangkan jika kita harus 

menerapkannya ke peristiwa hidup yang lebih besar. Sikap kita 

terhadap orang lain yang sedang berduka atas kehilangan anaknya, 

143 

(harusnya) sama dengan duka kita saat kehilangan anak kita sendiri. 

sebab , nilai nyawa anak kita tidak lebih tinggi dari nilai anak orang 

lain (selain perbedaan status bahwa yang satu adalah anak kita).

Dalam penerapan di musibah yang lebih besar, rasanya sulit sekali 

kita melakukannya. (“Lo gila ya? Ya jelas gue lebih sedih kehilangan 

motor/mobil/rumah/keluarga gue sendiri daripada motor/ 

mobil/rumah/keluarga orang lain doonng!"). Namun, konsep ini tetap 

penting untuk direnungkan, sebab  mencoba menempatkan musibah 

dalam perspektif baru yang lebih seimbang, dengan harapan dampak

musibah ini  bisa dikurangi.

Memang, penerapannya di masalah-masalah sepele lebih mungkin 

dan lebih berguna, sebab  tanpa sadar, kita terlalu banyak 

memberikan waktu dan tempat untuk masalah- masalah yang tidak 

akan kita besar-besarkan jika terjadi pada orang lain (seperti 

kehilangan HP). saat  dengan teknik ini kita menyadari bahwa kita 

mungkin membesar-besarkan masalah yang sepele, semoga kita 

bisa kembali memprioritaskan energi kita dengan benar.

If You Can’t be with the One You Love.....

“It is not the man who has too little, but the man who craves 

more, that is poor." - Seneca /Letters)

Bagi filsuf Stoa, konsep “kaya” dan “miskin” memiliki persepsi 

subjektif, dan lebih dari sekadar urusan jumlah deposito, properti, 

atau investasi saham. Mana yang lebih penting, 

 144

seseorang memiliki harta benda yang banyak, atau seseorang yang 

"merasa" kaya dengan apa yang telah dia miliki? Seseorang bisa saja

memiliki harta benda begitu banyak, namun  selalu resah sebab  

merasa tidak mencapai peringkat orang-orang terkaya se-lndonesia.

Sementara itu, ada orang lain yang tidak bisa dibilang kaya raya, 

bahkan tergolong sederhana, namun  dia merasa sangat cukup dan 

puas dengan apa yang dimilikinya, tidak merasa kekurangan. Bagi 

, orang kedua inilah yang benar-benar "kaya". 

"Sesungguhnya yang miskin bukanlah dia yang memiliki harta terlalu 

sedikit, namun  dia yang masih menginginkan lebih,” ujar Seneca 

[Letters from a Stoic).

Bagi saya, hal ini bukan untuk disalahartikan sebagai anti-ambisi 

(ingatlah bahwa sebagian filsuf Stoa adalah pedagang atau datang 

dari latar belakang keluarga kaya raya). Kita boleh saja 

mengumpulkan harta dan kekayaan, namun  selalu ingatlah bahwa itu 

semua di luar kendali kita dan bisa direnggut sewaktu-waktu, 

sehingga kita tidak terlalu attached pada kekayaan. Lalu, kita juga 

diingatkan untuk mengendalikan keinginan mengejar kekayaan tanpa 

henti, untuk bisa merasakan "cukup" dengan apa yang sudah kita 

miliki. Dengan ini, kita mencegah kekayaan menjadi majikan yang 

menjadikan kita budak mereka.

Amor Fati

Lebih dari sekadar urusan harta kekayaan,  

memperluas terapan prinsip di atas ke dalam momen hidup yang 

lebih besar. Apakah kamu detik ini juga sedang merasakan 

menginginkan hidup yang berbeda? Misalnya, "Seandainya saja gue 

nggak harus berada di kereta penuh sesak orang saat ini. 

Seandainya saja gue masuk ke sekolah idaman. Seandainya saja 

gue punya orang tua yang lebih keren. Seandainya saja gue punya 

teman-teman yang lebih cool dari yang sekarang. Seandainya saja... 

seandainya saja..."

Di mata Stoisisme, pikiran-pikiran menginginkan alternatif dari situasi 

hidup kita sekarang adalah tirani. Setiap detik kita menginginkan 

sedang berada di tempat lain, situasi lain, dan segala wishful thinking 

lainnya, maka kita telah dirampok dari kesempatan untuk menikmati 

dan mensyukuri masa kini, detik ini.

Ingat bahwa Stoisisme melihat seluruh alam semesta sebagai sebuah

145 

keteraturan dan keterkaitan segala hal. Artinya, seluruh hidup kita 

sampai saat ini sudah terjadi menuruti rantai peristiwa dan hukum 

alam. Kita bisa memilih melawan dan menyangkali masa kini, yang 

artinya kita "melawan Alam”, atau kita bisa belajar menerima masa 

kini /present), bahkan "mencintainya”.

Stoisisme mengajarkan lebih dari sekadar ikhlas menerima keadaan 

saat ini, namun  justru sampai sungguh-sungguh tulus mencintainya. 

"Jangan menuntut peristiwa terjadi sesuai keinginanmu, namun  justru 

inginkan agar hidup terjadi seperti apa adanya, dan jalanmu akan 

baik adanya.” - Epictetus /Discourses).

Saat saya membaca kutipan di atas, ini rasanya nasihat yang sulit 

dicerna dan dipahami, pada awalnya. Ekstremnya, saat kita 

kecopetan, tidak cukup untuk sekadar menerima dan ikhlas bahwa 

kita kehilangan dompet, HP, dan semua kontak kita. Epictetus 

bahkan menyarankan agar kita "menginginkan” hal ini terjadi {“Hore! 

Gue kecopetan! Emang ini yang gue tunggu- tunggu...!"). Absurd? 

Gila? Kalau kita mengingat pembahasan sebelumnya, bahwa semua 

peristiwa eksternal pada dasarnya netral, dan "baik” atau "tidak”-nya 

semua bergantung pada interpretasi kita, maka mungkin Epictetus 

tidak segila itu. Kita sebenarnya mampu mengingini (lebih dari 

sekadar ikhlas menerima) peristiwa hidup apa pun. Tidak ada yang 

berkata ini mudah, namun  ini mungkin.

Dalam contoh kecopetan, kita bisa menginterpretasi bahwa ini ujian 

terhadap kesabaran. Atau, ini alasan beli dompet/ HP baru. Atau, ini 

kesempatan belajar mengurus kehilangan benda berharga, siapa 

tahu bermanfaat untuk keluarga/teman dekat kita kelak, dan lain-lain. 

Saat kita bisa melihat sebuah musibah sebagai kesempatan untuk 

berubah menjadi lebih baik, maka “menginginkan peristiwa ini terjadi” 

menjadi lebih bisa dipahami.

Sekilas mungkin ini terdengar seperti “delusi terencana", namun  

sesuatu disebut delusi saat  bertentangan dengan realitas (misalnya,

kalah Pilkada namun  masih ngotot mengaku menang). Nasihat 

Epictetus tidak mengubah realitas yang terjadi (kecopetan), namun  

hanya mengubah pemaknaan atau narasi yang kita berikan atas 

peristiwa ini .


Amorfati:

cintailah

nasib—apa

yang telah

terjadi dan sedar 

terjadi saat ini.

 mengatakan semua kejadian bisa menjadi kesempatan 

melatih wrfue/arete/kebajikan (keberanian, kebijaksanaan, keadilan, 

dan menahan diri). Kita bisa memilih antara, “Gue 

kecopetan dan ini musibah dan gue nggak

pengen hal ini\“ atau, 

“Gue kecopetan, tapi

ini udah kejadian dan

bisa gue jadikan

pelajaran, bahkan jadi

kesempatan untuk

memperbaiki diri,

belajar ikhlas, dan

lain-lain"

"Formula untuk

keagungan [greatness]

manusia adalah “amor fati'', yaitu tidak ingin apa pun menjadi 

berbeda, tidak ke depan, tidak ke belakang, tidak di sepanjang 

keabadian. Tidak hanya sekadar menanggung yang memang harus 

dijalani...namun  mencintainya." - Friedrich Nietzsche. Amor fati adalah 

bahasa Latin, yang diterjemahkan menjadi “love of fate", atau 

mencintai takdir.

Di tengah-tengah proses penulisan artikel  ini, saya mengalami 

"musibah kecil". Suatu hari, saya menghadiri sebuah lokakarya 

bersama klien. Acara ini  diadakan di sebuah restoran dengan 

desain yang artistik di Jakarta Selatan. Saking artistiknya, sampai 

lantai saja dibuat tidak rata, ada satu-dua undakan di sana sini.

Sudah bisa diduga apa yang terjadi pada seseorang dengan 

keseimbangan minus seperti saya. Saat di tengah lokakarya, saya 

berjalan ke arah toilet dan tidak melihat adanya undakan di lantai. 

Jatuhlah saya disertai bunyi KREKW Saat terjatuh, rasa malu saya 

lebih besar dari rasa sakit saya (maklum, sedang ada klien), dan 

dengan gagah berani saya tetap jalan ke toilet walau sedikit terseok. 

Kemudian, saya tetap pede melanjutkan lokakarya.

Tiga puluh menit kemudian, di daerah sekitar mata kaki saya mulai 

terasa nyut-nyutan. Satu jam berlalu dan bengkak di kaki saya 

semakin membesar. Dalam hati saya sudah menduga bahwa ini pasti

keseleo Isprained ankle). saat  rasa sakit sudah tak tertahankan, 

saya menyerah dan akhirnya pergi ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) 

di rumah sakit terdekat. Sesudah dicek dokter jaga dan difoto rontgen

untuk memastikan tidak ada tulang yang patah, akhirnya saya divonis

keseleo dan harus minum obat anti-sakit serta mengurangi mobilitas 

sebab  kaki harus diistirahatkan dan dibebat.

Di ruang IGD ini , sambil menunggu penyelesaian proses 

administrasi, saya menatap kaki yang bengkak bagaikan talas Bogor, 

dengan emosi campur aduk. Jujur, saya sudah sempat merasa 

jengkel dan bodoh mengapa saya bisa tersandung. Ditambah lagi, 

masih ada rasa malu bahwa ini terjadi di acara klien. Di atas itu 

semua, ada rasa kesal sebab  selama beberapa hari ke depan pasti 

saya akan berjalan tertatih-tatih, bahkan mungkin harus 

menggunakan tongkat.

Saat pikiran-pikiran itu mulai melintas, akhirnya terpikir juga oleh 

saya, “Bagaimana saya bisa mengaplikasikan Stoisisme di dalam 

situasi ini?" Sebagai seseorang yang sedang menulis mengenai 

Stoisisme, peristiwa ini bagaikan ujian langsung apakah saya bisa 

mempraktikkan apa yang saya baca dan tuliskan.

Yang pertama, saya menghentikan arus pikiran dan emosi negatif 

yang mulai timbul (langkah: Stop}. Kemudian, saya mulai 

memisahkan fakta dan interpretasi (faktanya: saya tersandung dan 

keseleo. Itu saja. Jika saya mulai merasa ini sebuah kesialan, ini 

sudah 'mterpretasi/value judgment saya sendiri).

Akhirnya, dengan susah payah saya mulai mencoba mengendalikan 

interpretasi saya (langkah: Think & Assess], kira-kira seperti ini:

“Saya keseleo, sebab  kesandung. Sudah, tidak perlu diributkan

dan dipikirkan terus-menerus kenapa ini bisa terjadi. Apa yang 

sudah terjadi ya terjadilah.

Saya bisa menginterpretasikan ini sebagai hal yang lumrah. 

Mungkin ribuan orang sudah pernah mengalami keseleo. Apa 

istimewany