pembunuhan masal 1



 

Sesudah naskah awal saya diamkan selama dua tahun agar dapat 

menyelesaikan pekerjaan saya yang berkaitan dengan pengalaman para 

korban kekerasan massal 1965-66 di Indonesia, pada awal 2004 saat di 

University of British Columbia saya kembali ke naskah ini . Saya 

menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan di jurusan sejarah, 

Steven Lee yang memberi  ulasan terhadap rancangan keseluruhan 

artikel , dan Erik Kwakkel untuk bantuannya dalam hal kata-kata Belanda. 

Terima kasih pula kepada Brad Simpson dari University of Maryland, 

yang membagikan pengetahuannya tentang dokumen-dokumen resmi 

pemerintah Amerika Serikat mengenai Indonesia; dan David Webster, 

lulusan program doktoral dari University of British Columbia, yang 

membagikan pengetahuannya tentang dokumen-dokumen resmi pe-

merintah Kanada.

Saya sangat berutang budi kepada dua pengulas tanpa nama yang 

dengan murah hati telah memberi  pujian mereka bahkan sesudah 

mereka mungkin menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengoreksi 

sangat banyak kesalahan dalam naskah saya dan mengajukan bantahan 

terhadap uraian-uraian saya. Saya harap kesabaran mereka saat  menulis-

kan ulasan-ulasan yang sedemikian kritis dan rinci itu telah saya imbangi 

dengan perbaikan-perbaikan yang akan mereka temukan dalam artikel  

ini.

Sejak awal 2000 saya melakukan penelitian tentang peristiwa 1965-

66 dengan sekelompok peneliti yang tergabung dalam Jaringan Kerja 

Budaya di Jakarta. artikel  ini tumbuh dari penelitian kami bersama dan 

pendirian lembaga kami, Institut Sejarah Sosial Indonesia. Ucapan terima 

kasih kepada rekan-rekan berikut ini kiranya tidak layak, 

untuk penelitian kami dan ruang terbuka yang teduh di tengah-tengah 

megalopolis yang hiruk-pikuk sebagai tempat kami bersantai. Johan Abe 

dan Maryatun terus memberi bantuan tanpa kenal lelah.

Pasangan hidup saya selama tiga belas tahun terakhir, Ayu Ratih, 

telah memandu saya dalam menulis sejarah Indonesia, sekaligus mene-

gaskan bahwa penulisan sejarah hanyalah satu bagian dari kehidupan 

aktif yang berjalinan erat dengan kehidupan banyak orang lain. Saya 

beruntung sudah berada sangat dekat dengan suri teladan sikap kritis 

dan hangat dalam berhubungan dengan dunia ini.

Saya mengantar terjemahan artikel  saya dengan sedikit kebimbangan. 

Mengacu kepada surat keputusan Jaksa Agung setahun lalu, artikel -

artikel  teks sejarah yang tidak mencantumkan akhiran “/PKI” sesudah  

singkatan G-30-S harus dibakar. artikel  ini tidak memakai  akhiran 

ini . Tak akan ada gunanya menulis artikel  ini seandainya saya me-

nambahkan “/PKI.” Akhiran ini  mencerminkan jawaban terhadap 

pertanyaan tentang siapa yang mendalangi gerakan itu. Ia yaitu  simbol 

pernyataan: “PKI mendalangi G-30-S.” Apabila jawaban itu didukung 

oleh bukti-bukti tak tersangkal dan secara luas diterima sebagai fakta 

historis maka kita tidak perlu mengajukan pertanyaan tentang dalang 

lagi. Kita bisa tutup artikel  dengan G-30-S. Tapi banyak sejarawan yang 

belum menerima jawaban ini , atau jawaban lain, sebagai sesuatu 

yang fi nal, sebab  terdapat begitu banyak aspek yang aneh, tak terjelaskan 

tentang G-30-S. Banyak orang Indonesia bingung dengan G-30-S dan 

berharap menemukan lebih banyak informasi tentangnya. Pemerintah 

dapat mencoba menulis sejarah dengan keputusan resmi. namun  me-

mastikan bahwa setiap penyebutan G-30-S harus diikuti dengan “/PKI” 

tidak akan mencegah orang untuk bertanya-tanya tentang arti kedua 

istilah yang harus mereka kaitkan itu: Apa itu G-30-S? Apa itu PKI? Dan 

bentuk hubungan seperti apa antara kedua istilah yang ditandai dengan 

garis miring ini ? 

saat  Suharto jatuh dari kekuasaannya pada 1998 saya tidak mem-

bayangkan bahwa satu dekade kemudian pemerintah akan terus melarang 

artikel -artikel  yang tidak sesuai dengan propaganda rezim yang lalu. Rezim 

Suharto mengklaim bahwa PKI bertanggung jawab atas G-30-S; partai 

itu memimpin atau mengorganisasikan G-30-S. Klaim serupa itu dapat 

diterima sebagai sebuah hipotesa namun  kita seharusnya berharap diberi 

sejumlah bukti sebelum kita menerimanya sebagai kesimpulan. Kita juga 

harus berharap ada rumusan yang lebih persis. PKI yaitu  sebuah partai 

dengan anggota kurang lebih tiga juta orang. Kalau pemerintah berniat 

bersikukuh bahwa “PKI” mengorganisasikan G-30-S, maka pemerintah 

harus mampu menjelaskan siapa di dalam PKI yang mengorganisasikan 

gerakan ini . Apakah tiga juta anggota partai secara keseluruhan 

bertanggung jawab? Atau kah sebagian? Atau hanya pimpinan partai? 

Apakah pihak pimpinan itu Central Comite atau Politbiro? Sepanjang 

masa kepemimpinan Suharto pemerintah tidak pernah dengan telak 

mengidentifi kasi siapa di dalam PKI yang bertanggung jawab. Malahan, 

dengan secara terus-menerus memakai  istilah “PKI” warga  

digiring untuk percaya bahwa bukan hanya seluruh tiga juta anggota 

partai yang bertanggung jawab, namun  juga siapa pun yang berhubungan 

dengan partai, seperti para anggota organisasi-organisasi sealiran (seperti 

Lekra), bertanggung jawab. 

Dokumen-dokumen internal rezim Suharto lebih terus terang. 

Kebetulan saya menemukan artikel  yang ditulis Lemhanas pada 1968 

untuk pejabat-pejabat pemerintah yang persis mengajukan pertanyaan-

pertanyaan di atas. artikel  80 halaman ini ditulis dalam bentuk tanya-

jawab. Berikut satu bagian tentang tanggung jawab “PKI”: 

Pertanyaan: Apakah benar bahwa G-30-S/PKI yang meng-

gerakkan yaitu  PKI dan apakah setiap anggota PKI tentu 

terlibat dalam G-30-S/PKI? 

Jawab: Benar

a. bahwa G-30-S/PKI digerakkan oleh PKI telah dapat di-

buktikan baik secara fakta maupun secara hukum di depan 

sidang-sidang Mahmilub yang memeriksa dan mengadili 

perkara-perkara tokoh-tokoh G-30-S/PKI.

b. Seluruh anggota PKI dapat dianggap terlibat baik secara 

langsung maupun tidak langsung (setiap orang berkewajiban 

melaporkan pada penguasa bila ia mengetahui bahwa suatu 

kejahatan akan dilakukan dan juga sesuai dengan prinsip 

organisasi PKI bahwa keputusan pimpinan partai, mengikat 

seluruh anggota).1 

Saya tidak puas dengan kedua poin jawaban itu. Poin pertama, 

persidangan-persidangan Mahmilub tidak membuktikan bahwa PKI 

mendalangi G-30-S. Kesaksian-kesaksian terdakwa dan saksi-saksi 

merupakan timbunan ketidakajegan. Para penuntut tidak mengajukan 

bukti-bukti tandas kesalahan “PKI” dan para hakim tidak membu-

tuhkannya; mereka memulai prosiding peradilan dengan kepercayaan 

(yang telah dipropagandakan Angkatan Darat) bahwa “PKI” bersalah. 

Seperti diamati Harold Crouch saat mengulas beberapa berkas rekaman 

persidangan Mahmilub pada awal 1970-an, orang dapat dengan mudah 

menyimpulkan dari berkas-berkas ini  bahwa sekelompok perwira 

Angkatan Darat yang tidak puas memimpin G-30-S dan mengajak 

beberapa pimpinan PKI untuk membantu mereka.2 

Poin kedua jawaban Lemhanas sama mudah disangkal. Tuduhannya 

yaitu  bahwa seluruh tiga juta anggota partai mengetahui tentang G-30-S 

sebelumnya dan bersalah sebab  pengabaian (“tidak melaporkan pada 

penguasa”). Tuduhan ini tidak mungkin benar: saluran-saluran informasi 

di dalam partai tidak sedemikian ketat sehingga tiga juta orang dapat 

mengetahui sesuatu yang orang lain, termasuk agen-agen intelijen kunci 

di dalam Angkatan Darat, tidak tahu. Selain bersalah sebab  pengabaian, 

mereka bersalah sebab  keterkaitan; sebagai anggota partai, mereka 

bertanggung jawab atas segala keputusan yang diambil para pimpinan 

(“keputusan pimpinan partai mengikat seluruh anggota”). Itulah prinsip 

kesalahan kolektif – sebuah prinsip yang sudah ditolak oleh semua negara 

di dunia berdasar  rule of law. 

Sebelum 1965 pemerintah Indonesia tidak pernah menimpakan 

kesalahan kepada suatu kelompok warga  secara keseluruhan. 

Kaum nasionalis yang berjuang untuk kemerdekaan pada 1945-49 tidak 

membunuh orang-orang Belanda hanya sebab  mereka orang Belanda. 

sesudah  pemberontakan PRRI/Permesta pada akhir 1950-an pemerintah Sukarno melarang PSI dan Masjumi sebab  pemimpin-pemimpin 

kedua partai mendukung pemberontakan-pemberontakan ini . 

namun  pemerintah Sukarno tidak menyatakan bahwa semua anggota 

kedua partai yaitu  pengkhianat; pemerintah tidak menahan dan/atau 

membunuh orang hanya sebab  mereka anggota PSI atau Masjumi. 

Sukarno mengampuni pemberontak-pemberontak Darul Islam – orang-

orang yang memang mengangkat senjata untuk melawan pemerintah 

– kecuali pimpinan-pimpinan puncaknya. Bayangkan seandainya prinsip 

kesalahan kolektif diterapkan pada anggota-anggota Golkar dewasa ini: 

haruskah setiap anggota Golkar pada masa Orde Baru diminta bertang-

gungjawab atas kejahatan-kejahatan Suharto? 

Satu aspek yang tidak bermanfaat dalam debat tentang G-30-S di 

Indonesia yaitu  kecenderungan untuk menggolongkan posisi apa pun 

apakah sebagai pro-PKI atau anti-PKI. Siapapun yang tidak menye-

tujui penahanan dan pembunuhan massal atau menunjukkan simpati 

terhadap tahanan politik dianggap sebagai pendukung PKI. Pipit Rochiat 

keberatan dengan kecenderungan ini dalam esai yang ditulisnya pada 

1984 “Saya PKI atau Bukan PKI?.”3 Menciptakan dikotomi serupa itu 

sama dengan mengabaikan kemungkinan posisi seperti yang diperlihat-

kan Rochiat, yaitu tidak membela aksi-aksi PKI sebelum 1965, tidak 

juga membenarkan kekerasan massal yang diarahkan kepada PKI sesudah  

G-30-S. Kekerasan ini  mencerminkan bencana kemanusiaan. Saya 

dapat memahami seandainya seseorang mengambil sikap antagonistik 

terhadap PKI sebelum 1965: PKI yaitu  partai yang berniat mendirikan 

negara satu partai, yang dipimpin oleh orang-orang yang berbicara dan 

menulis secara dogmatis dan berdasar  rumus-rumus baku, yang meng-

galang pengikut-pengikutnya untuk mengintimidasi organisasi-organi-

sasi pesaingnya. Tapi saya tidak dapat mengerti bagaimana orang dapat 

membenarkan cara partai ini  ditindas: kebohongan-kebohongan 

propaganda negara untuk memicu kekerasan, penangkapan massal tanpa 

dakwaan, interogasi dengan penyiksaan, penahanan berkepanjangan 

tanpa pengadilan, penghilangan paksa dan pembunuhan kilat. Sekarang, 

sesudah  40 tahun berlalu, kita seharusnya sudah mampu berhenti berpikir 

semata-mata dalam kerangka dikotomis tentang peristiwa-peristiwa 

ini , seakan-akan tiap kritik terhadap kisah resmi rezim Suharto 

hanya dapat didorong oleh kecintaan terhadap PKI. 

Sudah saatnya pula untuk berhenti berpikir mengikuti stereotip-

stereotip basi. Sepanjang kekuasaan Suharto PKI digambarkan sebagai 

momok jahat sehingga tidak mungkin memahami bagaimana partai itu 

pernah menjadi demikian populer, dengan jutaan anggota dan simpatisan. 

Bagaimana mungkin sebegitu banyak orang Indonesia dihujat sebagai 

iblis? artikel  ini ditulis berdasar  anggapan bahwa anggota-anggota PKI 

sebenarnya manusia, bukan setan, dan memiliki karakter moral yang 

tidak lebih baik atau lebih buruk dari orang-orang lain di Indonesia. 

Jika kita bersedia berpikir jernih tentang pertanyaan siapa yang 

bertanggung jawab atas G-30-S maka kita harus menelisik apa yang 

sesungguhnya terjadi pada awal Oktober 1965. Benarkah gerakan itu 

merupakan pemberontakan setiap orang di dalam PKI? Benarkah gerakan 

itu merupakan percobaan kudeta? Rezim Suharto bersikukuh bahwa 

G-30-S yaitu  keduanya: pemberontakan dan percobaan kudeta. Bab 

satu artikel  ini mencoba merekonstruksi peristiwa-peristiwa yang terjadi 

pada beberapa hari pertama Oktober 1965 tanpa ada kesimpulan sebe-

lumnya. Saya menulis bab ini supaya paparannya cocok dengan salah 

satu dari empat penjelasan yang saya ulas di bab 2. Informasi dasar yang 

disajikan pada bab 1 mengungkap bahwa G-30-S aneh; beberapa aspek 

memberi kesan gerakan ini merupakan percobaan kudeta, aspek-aspek 

lain tidak menunjukkan adanya kudeta. Narasi apapun yang memuaskan 

tentang kejadian-kejadian pada awal Oktober 1965 pertama-tama harus 

mengakui keganjilan-keganjilan ini, kemudian mencoba menjelaskan-

nya. 

Satu masalah yang saya perhatikan di dalam kebanyakan artikel  

tentang G-30-S bersifat metodologis. Biasanya, seorang penulis mulai 

dengan sebuah kesimpulan tentang siapa yang bertanggung jawab atas 

G-30-S (PKI, Sukarno, Suharto, dst.), lalu menimbang penjelasan-

penjelasan alternatif yang mungkin sebelum menyimpulkan bahwa 

hipotesanya benar. Sejarawan tidak bekerja dengan cara seperti yang 

digunakan ilmuwan pengetahuan alam – tingkah laku manusia dan 

peristiwa-peristiwa sosial tidak diatur oleh hukum-hukum alam – namun  

mereka kadang-kadang mengikuti beberapa prinsip fundamental yang 

sama. Satu prinsip yaitu  menghindari untuk memulai suatu peneli-

tian dengan kesimpulan-kesimpulan di tangan. Kita tak akan pernah 

menemukan sesuatu yang baru dengan cara seperti ini. 

Masalah besar lain yang muncul dalam kepustakaan yang sudah 

ada yaitu  kurangnya penilaian kritis terhadap sumber-sumber yang 

digunakan. Dalam hal G-30-S, sumber-sumbernya memang secara 

khusus bermasalah. Transkrip interogasi (Berita Acara Pemeriksaan atau 

Proses Verbal) dan kesaksian di pengadilan militer – dua jenis sumber 

yang sering digunakan dalam artikel -artikel  tentang G-30-S – tidak dapat 

dikatakan andal atau pun ajeg. Seorang sejarawan selalu harus berpikir 

tentang konteks tempat sumber-sumber diproduksi dan mengajukan 

pertanyaan yang sangat penting: bagaimana seseorang yang mengklaim 

tahu sesuatu sesungguhnya tahu tentang hal itu? 

Salah satu sumber yang paling andal tentang G-30-S yaitu  Visum 

et Repertum yang dilakukan para dokter di Rumah Sakit Pusat Angkatan 

Darat Gatot Subroto terhadap jazad tujuh perwira yang ditemukan di 

Lubang Buaya. Justru sumber inilah yang tidak diumumkan oleh pe-

merintah Suharto. Salinan laporan visum tersembunyi hingga 1980-an, 

saat  dokumen itu ditemukan seorang ilmuwan dari Cornell University.4 

Dari laporan ini kita cukup tahu bahwa apa yang dilaporkan di media 

yang dikontrol Angkatan Darat pada akhir 1965 tentang bagaimana 

para perwira dibunuh ternyata palsu. Para perwira ini  terbunuh 

oleh tembakan dan luka-luka tusukan bayonet; mereka tidak diiris-iris 

ribuan kali dengan silet, mata mereka tidak dicungkil, dan mereka tidak 

pula dimutilasi. Jika kita berpegang pada laporan para dokter, seperti 

yang saya pikir seharusnya demikian, maka kita harus berasumsi bahwa 

kisah-kisah tentang penyiksaan para perwira merupakan bagian dari 

propaganda perang urat syaraf Angkatan Darat terhadap PKI. Kita juga 

harus mempertimbangkan kisah-kisah apa tentang G-30-S dari rezim 

Suharto yang palsu dan dokumen-dokumen lain mana yang telah di-

sembunyikan dari penglihatan kita.  

Ketiadaan penilaian kritis terhadap sumber-sumber sudah meng-

giring berbagai macam artikel dan artikel  yang menyajikan argumen-

argumen berdasar  kisah-kisah palsu oleh propagandis, dokumen-

dokumen palsu, dan spekulasi besar-besaran. Misalnya, tidak kurang 

dari tiga artikel  yang baru saja diterbitkan mengklaim bahwa Presiden 

Sukarno entah yaitu  sang dalang atau salah satu dari sekian dalang 

G-30-S.5 Klaim ini tidak berdasar dan absurd. Pada saat menulis artikel  

ini saya berpikir bahwa klaim ini  bahkan tidak layak ditanggapi. 

Tak ada bukti untuknya. Penerbitan ketiga artikel  ini mendorong saya 

untuk menulis sangkalan rinci terhadap klaim yang dibuat sebagai esai 

ulasan untuk sebuah jurnal akademik.6 

Saya harus menekankan bahwa artikel  ini hanya tentang G-30-S. Ini 

bukan artikel  tentang kekerasan massal yang muncul sesudah  gerakan itu 

terjadi walaupun di bagian pengantar saya sampaikan beberapa argumen 

dasar tentang kekerasan ini  dan kaitannya dengan G-30-S. Saya 

beranggapan bahwa lebih banyak penelitian harus dilakukan tentang 

kekerasan massal pasca G-30-S sebelum sebuah analisis ilmiah yang baik 

bisa ditulis. Menimbang skalanya, kekerasan pasca G-30-S merupakan 

topik yang lebih penting dibandingkan  G-30-S itu sendiri. artikel  ini diharap-

kan bermanfaat bagi penelitian lebih lanjut tentang kekerasan massal 

pasca G-30-S dengan menyajikan konteks baru untuk memahami 

tragedi ini . Jika G-30-S lebih jelas mungkin akan lebih mudah 

untuk memusatkan perhatian pada topik-topik lain yang berkaitan. 

Lebih banyak pula studi-studi yang perlu digarap tentang kudeta Suharto, 

misalnya, bagaimana ia mengambilalih media massa, keuangan negara, 

dan birokrasi sipil. 

Saya berharap pembaca akan menghargai proses panjang yang 

menyertai pembuatan artikel  ini. Saya menduga beberapa pembaca tak 

terlalu paham bagaimana suatu artikel  diterbitkan oleh penerbit uni-

versitas. Saya menyerahkan manuskrip bakal artikel  ini ke University 

of Wisconsin Press pada 2004. Seorang editor di badan penerbitan ini 

membacanya dan menilai apakah manuskrip ini  layak diterbitkan. Si 

editor mengirim manuskrip ke dua ahli sejarah Indonesia yang kemudian 

menulis ulasan mereka, menyampaikan penilaian apakah manuskrip ini 

layak diterbitkan, dan apabila layak, perubahan-perubahan apa yang 

harus dibuat. Tahap ini disebut ulasan oleh rekan anonim. Dengan 

demikian mereka dapat bersikap lebih terus terang dalam menyampaikan 

kritik mereka. Saya menerima ulasan tanpa nama ini kurang lebih enam 

bulan sesudah  saya menyerahkan manuskrip. Saya kemudian merevisi 

manuskrip untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang diidentifi kasi 

para pengulas dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. 

Saya menyerahkan manuskrip dengan revisi pada 2005. Badan penerbit 

menyewa seorang copy editor untuk memeriksa manuskrip, memper-

baiki kesalahan-kesalahan dalam ejaan, tata bahasa, atau tanda baca, dan 

mengusulkan perbaikan dalam hal gaya penulisan. Saya menghabiskan 

beberapa minggu pada akhir 2005 untuk berkorespondensi dengan copy 

editor tentang bermacam-macam masalah. Produk akhir dari proses ini 

baru diterbitkan pada September 2006. 

Ketelitian serupa juga diberikan dalam proses penerjemahan. sesudah  

penerjemah utama menyelesaikan pekerjaannya, dua penerjemah ahli 

lainnya memeriksa manuskrip terjemahan kata demi kata dan mengu-

sulkan perubahan. Versi akhir dari proses ini kemudian dikirimkan ke 

seorang copy editor yang berpengalaman. Baru sesudah  copy editor mem-

perbaiki kesalahan-kesalahan yang ada, manuskrip dikirim ke pembaca 

naskah yang melakukan pengecekan tahap akhir. Proses panjang ini 

membuat banyak teman-teman kami frustrasi sebab  lamanya waktu 

yang dibutuhkan untuk menerbitkan artikel  ini. namun  kami pandang 

luar biasa penting untuk menghasilkan terjemahan yang secara tepat 

menyampaikan maksud dalam teks aslinya dan sesedikit mungkin me-

ngandung kesalahan-kesalahan tipografi s. 

Dalam jangka waktu satu setengah tahun sesudah  edisi bahasa Inggris 

artikel  ini diterbitkan saya telah belajar lebih banyak tentang G-30-S. 

Namun, saya menolak godaan untuk menambahkan pengetahuan baru 

apa pun ke edisi ini. Saya berharap beberapa tahun lagi, begitu saya 

mengumpulkan lebih banyak informasi dan mendengar dari lebih banyak 

pembaca, saya akan siap menerbitkan suatu artikel yang menjabarkan 

argumen-argumen di dalam artikel  ini.


Kebenaran tentang perebutan kekuasaan tidak boleh dibikin jelas; 

pada mulanya ia terjadi tanpa alasan tapi kemudian menjadi masuk 

akal. Kita harus memastikan bahwa kebenaran itu dianggap sah dan 

abadi; adapun asal-muasalnya sendiri harus disembunyikan, jika kita 

tidak ingin kebenaran itu cepat berakhir.

Blaise Pascal, Pensées (1670)

Bagi sejarawan yang ingin memahami perjalanan sejarah Indonesia 

modern, hal yang terkadang menimbulkan rasa frustrasi ialah 

justru sebab  kejadian yang paling misterius ternyata merupakan 

salah satu babak kejadian yang terpenting. Pada dini hari 1 Oktober 

1965, Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letnan Jenderal 

Ahmad Yani dan lima orang staf umumnya diculik dari rumah-rumah 

mereka di Jakarta, dan dibawa dengan truk ke sebidang areal perkebunan 

di selatan kota. Para penculik membunuh Yani dan dua jenderal lainnya 

pada saat penangkapan berlangsung. Tiba di areal perkebunan beberapa 

saat kemudian pada pagi hari itu, mereka membunuh tiga jenderal lainnya 

dan melempar enam jasad mereka ke sebuah sumur mati. Seorang letnan, 

yang salah tangkap dari rumah jenderal ketujuh yang lolos dari pencu-

likan, menemui nasib dilempar ke dasar sumur yang sama. Pagi hari itu 

juga orang-orang di balik peristiwa pembunuhan ini pun menduduki 

stasiun pusat Radio Republik Indonesia (RRI), dan melalui udara menya-

takan diri sebagai anggota pasukan yang setia kepada Presiden Sukarno. 


Adapun tujuan aksi yang mereka umumkan ialah untuk melindungi 

Presiden dari komplotan jenderal kanan yang akan melancarkan kudeta. 

Mereka menyebut nama pemimpin mereka, Letnan Kolonel Untung, 

Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Cakrabirawa, yang bertang-

gung jawab mengawal Presiden, dan menamai gerakan mereka Gerakan 

30 September (selanjutnya disebut sebagai G-30-S). Dalam sebuah unjuk 

kekuatan, ratusan prajurit pendukung G-30-S menduduki Lapangan 

Merdeka (sekarang Lapangan Monas) di pusat kota. Lalu pada sore dan 

petang hari 1 Oktober, seperti menanggapi isyarat dari Jakarta, beberapa 

pasukan di Jawa Tengah menculik lima perwira pimpinan mereka. 

Kesulitan memahami G-30-S antara lain sebab  gerakan ini  

sudah kalah sebelum kebanyakan orang Indonesia mengetahui keber-

adaannya. Gerakan 30 September tumbang secepat kemunculannya. 

Dengan tidak adanya Yani, Mayor Jenderal Suharto mengambil alih 

komando Angkatan Darat pada pagi hari 1 Oktober, dan pada petang hari 

ia melancarkan serangan balik. Pasukan G-30-S meninggalkan stasiun 

RRI dan Lapangan Merdeka yang sempat mereka duduki selama dua 

belas jam saja. Semua pasukan pemberontak akhirnya ditangkap atau 

melarikan diri dari Jakarta pada pagi hari 2 Oktober. Di Jawa Tengah, 

G-30-S hanya bertahan sampai 3 Oktober. Gerakan 30 September lenyap 

sebelum anggota-anggotanya sempat menjelaskan tujuan mereka kepada 

publik. Pimpinan G-30-S bahkan belum sempat mengadakan konferensi 

pers dan tampil memperlihatkan diri di depan kamera para fotografer.

Kendati bernapas pendek, G-30-S mempunyai dampak sejarah 

yang penting. Ia menandai awal berakhirnya masa kepresidenan Sukarno, 

sekaligus bermulanya masa kekuasaan Suharto. Sampai saat itu Sukarno 

merupakan satu-satunya pemimpin nasional yang paling terkemuka 

selama dua dasawarsa lebih, yaitu dari sejak ia bersama pemimpin nasional 

lain, Mohammad Hatta, pada 1945 mengumumkan kemerdekaan 

Indonesia. Ia satu-satunya presiden negara-bangsa baru itu. Dengan 

karisma, kefasihan lidah, dan patriotismenya yang menggelora, ia tetap 

sangat populer di tengah-tengah semua kekacauan politik dan salah urus 

perekonomian pascakemerdekaan. Sampai 1965 kedudukannya sebagai 

presiden tidak tergoyahkan. Sebagai bukti popularitasnya, baik G-30-S 

maupun Mayor Jenderal Suharto berdalih bahwa segala tindakan yang 

mereka lakukan merupakan langkah untuk membela Sukarno. Tidak 

ada pihak mana pun yang berani memperlihatkan pembangkangannya 

terhadap Sukarno. 

Suharto memakai  G-30-S sebagai dalih untuk merongrong 

legitimasi Sukarno, sambil melambungkan dirinya ke kursi kepresi-

denan. Pengambilalihan kekuasaan negara oleh Suharto secara bertahap, 

yang dapat disebut sebagai kudeta merangkak, dilakukannya di bawah 

selubung usaha untuk mencegah kudeta. Kedua belah pihak tidak berani 

menunjukkan ketidaksetiaan terhadap presiden. Jika bagi Presiden 

Sukarno aksi G-30-S itu sendiri disebutnya sebagai “riak kecil di tengah 

samudra besar Revolusi [nasional Indonesia],” sebuah peristiwa kecil 

yang dapat diselesaikan dengan tenang tanpa menimbulkan guncangan 

besar terhadap struktur kekuasaan, bagi Suharto peristiwa itu merupakan 

tsunami pengkhianatan dan kejahatan, yang menyingkapkan adanya 

kesalahan yang sangat besar pada pemerintahan Sukarno.1 Suharto 

menuduh Partai Komunis Indonesia (PKI) mendalangi G-30-S, dan 

selanjutnya menyusun rencana pembasmian terhadap orang-orang yang 

terkait dengan partai itu. Tentara Suharto menangkapi satu setengah juta 

orang lebih. Semuanya dituduh terlibat dalam G-30-S.2 Dalam salah 

satu pertumpahan darah terburuk di abad keduapuluh, ratusan ribu 

orang dibantai Angkatan Darat dan milisi yang berafi liasi dengannya, 

terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, dari akhir 1965 sampai 

pertengahan 1966.3 Dalam suasana darurat nasional tahap demi tahap 

Suharto merebut kekuasaan Sukarno dan menempatkan dirinya sebagai 

presiden de facto (dengan wewenang memecat dan mengangkat para 

menteri) sampai Maret 1966. Gerakan 30 September, sebagai titik 

berangkat rangkaian kejadian berkait kelindan yang bermuara pada 

pembunuhan massal dan tiga puluh dua tahun kediktatoran, merupakan 

salah satu di antara kejadian-kejadian penting dalam sejarah Indonesia, 

setara dengan pergantian kekuasaan negara yang terjadi sebelum dan 

sesudahnya: proklamasi kemerdekaan Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 

1945, dan lengsernya Suharto pada 21 Mei 1998.

Bagi kalangan sejarawan, G-30-S tetap merupakan misteri. Versi 

resmi rezim Suharto – bahwa G-30-S yaitu  percobaan kudeta PKI 

– tidak cukup meyakinkan. Sukar dipercaya bahwa partai politik yang 

beranggotakan orang sipil semata-mata dapat memimpin sebuah operasi 

militer. Bagaimana mungkin orang sipil dapat memerintah personil 

militer untuk melaksanakan keinginan mereka? Bagaimana mungkin 

sebuah partai yang terorganisasi dengan baik, dengan reputasi sebagai 

partai yang berdisiplin tinggi, merencanakan tindak amatiran semacam 

itu? Mengapa partai komunis yang dipimpin prinsip-prinsip revolusi 

Leninis mau berkomplot dalam putsch oleh sepasukan tentara? Mengapa 

partai politik yang sedang tumbuh kuat di pentas politik terbuka memilih 

aksi konspirasi? Agaknya tak ada alasan ke arah sana. Di pihak lain, sukar 

dipercaya bahwa G-30-S – seperti dinyatakannya dalam siaran radio yang 

pertama – “semata-mata dalam tubuh Angkatan Darat,” sebab  memang 

ada beberapa tokoh PKI yang jelas ikut memimpin G-30-S bersama 

beberapa orang perwira militer. Sejak hari-hari pertama Oktober 1965, 

masalah siapa dalang di belakang peristiwa ini telah menjadi perdebatan 

yang tak kunjung reda. Apakah para perwira militer itu bertindak sendiri, 

sebagaimana yang mereka nyatakan, dan kemudian mengundang atau 

bahkan menipu beberapa tokoh PKI agar membantu mereka? Ataukah, 

justru PKI yang memakai  sementara perwira militer ini sebagai alat 

pelaksana rencana mereka, sebagaimana yang dikatakan Suharto? Atau, 

adakah semacam modus vivendi antara para perwira militer ini  dan 

PKI?

Perdebatan juga timbul di sekitar hubungan Suharto dengan G-30-S. 

Bukti-bukti tidak langsung memberi kesan bahwa para perencana G-30-S 

setidaknya mengharapkan dukungan Suharto; mereka tidak mencan-

tumkan Suharto dalam daftar jenderal yang akan diculik, dan juga 

tidak menempatkan pasukan di sekeliling markasnya. Dua perwira di 

antara pimpinan G-30-S yaitu  sahabat-sahabat pribadi Suharto. Salah 

seorang, yaitu Kolonel Abdul Latief, mengaku memberi tahu Suharto 

tentang G-30-S sebelumnya dan mendapat restu darinya secara diam-

diam. Benarkah Suharto sudah diberitahu sebelumnya? Informasi apa 

yang diberikan G-30-S kepadanya? Apa tanggapan Suharto terhadap 

informasi itu? Apakah ia menjanjikan dukungan atau melangkah lebih 

jauh dan membantu merencanakan operasi G-30-S? Apakah ia dengan 

licik menelikung G-30-S agar dapat naik ke tampuk kekuasaan?

Sampai sekarang dokumen utama yang ditinggalkan oleh G-30-S 

hanyalah empat pernyataan yang disiarkan RRI pusat pada pagi dan 

siang hari 1 Oktober 1965. Pernyataan-pernyataan itu menampilkan 

wajah G-30-S di depan publik dan tentu saja tidak mengungkap peng-

organisasian di balik layar dan tujuan yang mendasarinya. Sesudah ter-

tangkap, para pimpinan kunci G-30-S tidak mengungkap banyak hal. 

Kesaksian mereka di depan pengadilan yang dikenal sebagai Mahkamah 

Militer Luar Biasa (Mahmilub) lebih mencerminkan keterdesakan sangat 

untuk menolak segala dakwaan, ketimbang menjelaskan secara rinci 

tentang bagaimana dan mengapa G-30-S dilancarkan. Para terdakwa, 

dapat dimengerti, memilih tutup mulut, berbohong, tidak sepenuh-

nya berkata benar, dan menghindar demi melin-dungi diri sendiri dan 

kawan-kawan mereka, atau melempar kesalahan kepada orang lain. Baik 

penuntut umum maupun hakim tidak ambil pusing untuk mengorek 

kesaksian-kesaksian mereka yang saling bertentang-tentangan; pengadilan 

memang tidak dimaksudkan untuk menyelidiki kebenaran atas peristiwa 

ini . Semua hanyalah pengadilan sandiwara belaka. Tidak satu orang 

pun yang dibawa ke Mahmilub dibebaskan dari tuntutan. Dari lima 

orang pimpinan utama G-30-S, kecuali satu orang, semuanya dinyata-

kan terbukti berkhianat, dijatuhi hukuman mati, dan dieksekusi oleh 

regu tembak, sehingga dengan demikian menutup setiap kemungkinan 

mereka muncul kembali dengan keterangan baru yang lebih rinci dan 

akurat tentang gerakan mereka.4

Satu-satunya pemimpin kunci G-30-S yang lolos dari regu tembak, 

yaitu Kolonel Abdul Latief, menolak menjelaskan G-30-S secara rinci. 

saat  akhirnya diajukan ke depan pengadilan pada 1978, sesudah 

bertahun-tahun dikurung dalam sel isolasi, ia juga tidak memanfaatkan 

kesempatan itu untuk menjelaskan bagaimana mereka mengorganisasi 

G-30-S. Pidato pembelaannya menjadi terkenal dan tersebar luas sebab  

satu pernyataannya yang mengejutkan bahwa ia telah memberi tahu 

Suharto tentang gerakan itu sebelumnya. Arti penting pernyataan itu lalu 

menutupi kenyataan bahwa Latief tidak menceritakan barang sedikit pun 

tentang G-30-S itu sendiri. Sebagian besar pidato pembelaannya tercurah 

pada cekcok yang relatif remeh-temeh tentang keterangan para saksi, 

atau pada penje-lasan riwayat hidupnya untuk membuktikan diri sebagai 

prajurit yang patriotik. Sesudah 1978, Latief tidak pernah menyimpang 

dari pembelaannya dan juga tidak pernah mengurai lebih lanjut pernya-

taan-pernyataannya. Bahkan juga sesudah dibebaskan dari penjara pada 

1998, ia tidak memberi  keterangan baru satu patah kata pun.5

Gerakan 30 September dengan begitu telah menghamparkan 

sebuah misteri tak terpecahkan bagi para sejarawan. Bukti-bukti yang 

terbatas adanya kebanyakan tidak dapat diandalkan. Angkatan Darat 

merekayasa sebagian besar bukti saat  menyulut kampanye anti-PKI 

dalam bulan-bulan sesudah  G-30-S, termasuk cerita tentang para pengikut 

PKI yang menyiksa dan menyilet tubuh para jenderal sambil menari-nari 

telanjang.6 Terbitan-terbitan yang didukung rezim Suharto bersandar 

pada laporan interogasi para tapol, yang setidak-tidaknya beberapa di 

antara mereka telah disiksa atau diancam akan disiksa. Banyak di antara 

korban teror militer yang selamat tetap takut untuk berbicara terus terang 

dan jujur. Kedua belah pihak, baik yang kalah (para peserta G-30-S) 

maupun yang menang (para perwira Suharto), tidak memberi  ke-

terangan yang layak dipercaya. Hampir semua kesaksian pribadi dan 

dokumen tertulis dari akhir 1965 dan selanjutnya tampaknya sengaja 

dibuat untuk menyesatkan, mengaburkan, atau menipu. 

Oleh sebab  G-30-S dan pembasmiannya merupakan tindakan-

tindakan yang dirancang secara rahasia oleh para perwira militer, agen 

intelijen, dan agen ganda, sumber-sumber informasi yang lazim dipakai 

sejarawan – surat kabar, majalah, dokumen pemerintah, dan pamfl et 

– tidak banyak membantu. Dalam artikel  teksnya tentang sejarah 

Indonesia, Merle Ricklefs menulis bahwa “ruwetnya panggung politik” 

pada 1965 dan “banyaknya bukti-bukti yang mencurigakan” menye-

babkan penyimpulan tegas mengenai G-30-S hampir tidak mungkin.7 

Rekan-rekannya sesama sejarawan asal Australia, Robert Cribb dan Colin 

Brown, berpendapat bahwa “alur kejadian yang tepat” itu “diselubungi 

ketidakpastian.” Menjelang G-30-S terjadi, “desas-desus, kabar burung, 

dan penyesatan berita yang disengaja menyesaki udara.”8 Kebanyakan 

sejarawan yang menulis mengenai Indonesia dan berusaha memecahkan 

misteri ini mengaku tidak begitu yakin dengan penjelasan yang mereka 

tawarkan. 

Gerakan 30 September yaitu  sebuah misteri pembunuhan yang 

pemecahannya akan membawa implikasi sangat luas bagi sejarah nasional 

Indonesia. Hal-hal yang dipertaruhkan dalam “kontroversi tentang 

dalang” sungguh besar. Rezim Suharto membenarkan tindakan represi 

berdarahnya terhadap PKI dengan menekankan bahwa partai itulah 

yang memulai dan mengorganisasi G-30-S. Walaupun aksi-aksi pada 

1 Oktober ini  tak lebih dari pemberontakan berskala kecil dan 

9

 

terbatas oleh pasukan Angkatan Darat dan demonstrasi oleh kalangan 

sipil, rezim Suharto menggambarkannya sebagai awal dari serangan PKI 

yang masif dan keji terhadap semua kekuatan nonkomunis. Gerakan 30 

September dilihatnya sebagai tembakan salvo pembuka dari PKI untuk 

sebuah revolusi sosial. Dalam membangun ideologi pembenaran bagi 

kediktatorannya, Suharto menampilkan diri sebagai juru selamat bangsa 

dengan menumpas G-30-S. Rezim Suharto terus-menerus menanamkan 

peristiwa itu dalam pikiran warga  melalui semua alat propaganda 

negara: artikel  teks, monumen, nama jalan, fi lm, museum, upacara per-

ingatan, dan hari raya nasional. Rezim Suharto memberi dasar pembe-

naran keberadaannya dengan menempatkan G-30-S tepat pada jantung 

narasi historisnya dan menggambarkan PKI sebagai kekuatan jahat tak 

terperikan. Pernyataan bahwa PKI mengorganisasi G-30-S, bagi rezim 

Suharto, bukan sekadar fakta biasa; namun  sang fakta sejarah mahabesar, 

yang menjadi sumber pokok keabsahan rezimnya. 

Di bawah Suharto, antikomunisme menjadi agama negara, lengkap 

dengan segala situs, upacara, dan tanggal-tanggalnya yang sakral. Para 

perwira Suharto mengubah situs pembunuhan tujuh perwira Angkatan 

Darat di Jakarta pada 1 Oktober 1965, yaitu Lubang Buaya, menjadi 

tanah keramat. Sebuah monumen didirikan dengan tujuh patung 

perunggu para perwira yang tewas, semua berdiri setinggi manusia 

dengan sikap gagah dan menantang. Pada dinding belakang deretan 

patung para perwira ditempatkan patung garuda raksasa dengan sayap 

mengembang, burung khayali yang telah diangkat Indonesia sebagai 

lambang kebangsaannya.

Di dinding seputar monumen dengan tinggi sebatas tatapan 

mata rezim Suharto menetakkan relief dari perunggu, mirip dengan 

lempengan-lempengan panjang melintang dari abad ke-9 di Candi 

Borobudur. Jika pengunjung berjalan menyusuri dinding relief dari kiri 

ke kanan, mereka akan melihat versi sejarah Indonesia pascakolonial 

yang antikomunis. Dari pemberontakan Madiun 1948 sampai Gerakan 

30 September 1965, PKI selalu ditampilkan sebagai pemicu kekacauan. 

Relief itu menampilkan sebuah kisah klasik tentang sang pahlawan 

(Suharto) yang mengalahkan penjahat keji (PKI) dan menyelamatkan 

bangsa dari kehancuran. Tepat di tengah dinding relief digambarkan 

adegan perempuan-perempuan berkalung rangkaian bunga dan ber-

10

PENDAHULUAN

telanjang menari-nari mengitari seorang laki-laki yang tengah melempar 

mayat perwira ke dalam sumur. Rekayasa perang urat syaraf yang sarat 

dengan citra seks dan kekerasan demikian kuat dituangkan dalam logam 

kemudian beroleh status sebagai fakta yang tak terbantahkan. Di depan 

dinding relief tertera slogan: “Waspada ...... dan mawas diri agar peristiwa 

sematjam ini tidak terulang lagi.” 

Monumen yang dibuka pada 1969 ini dinamai Monumen Pancasila 

Sakti.9 Semasa pemerintahan Suharto, Pancasila, lima prinsip nasional-

isme Indonesia yang diucapkan Sukarno untuk pertama kali pada 1945, 

diangkat menjadi ideologi resmi negara. Pancasila dibayangkan sebagai 

perjanjian suci bangsa dan Lubang Buaya yaitu  situs pelanggaran paling 

mengerikan terhadap perjanjian itu. Dengan demikian, monumen ini 

menyucikan situs pelanggaran ini  dan menahbiskan para perwira 

yang dibunuh sebagai syuhada-syuhada suci. Sebagai ruang sakral, 

Monumen Pancasila Sakti menjadi lokasi penyelenggaraan ritual-ritual 

rezim Suharto yang paling penting. Setiap lima tahun semua anggota 

parlemen berkumpul di sini, sebelum memulai sidang pertama, untuk 

bersumpah setia kepada Pancasila. Setiap tahun pada 1 Oktober, Suharto 

dan pejabat terasnya menyelenggarakan upacara di hadapan monumen 

ini  untuk menyatakan janji kesetiaan mereka yang abadi kepada 

Pancasila.10 Semalam sebelumnya semua stasiun televisi diwajibkan me-

nyiarkan fi lm buatan pemerintah, Pengkhianatan Gerakan 30 September/

PKI (1984). Film sepanjang empat jam yang melelahkan ini bercerita 

Gambar 1. Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta. Foto: John Roosa

11

 

Gambar 2. Detil relief pada Monumen Pancasila Sakti. Perempuan-perempuan anggota PKI 

menari telanjang, sementara laki-laki komunis membunuh para perwira Angkatan Darat dan 

membuang mayat-mayat mereka ke Lubang Buaya. Foto: John Roosa

12

PENDAHULUAN

mengenai penculikan dan pembunuhan tujuh perwira Angkatan Darat di 

Jakarta, dan menjadi tontonan wajib setiap tahun bagi anak-anak sekolah. 

Film ini dimulai dengan sorotan berkepanjangan terhadap monumen 

itu, diiringi pukulan ratapan genderang yang murung. Lubang Buaya 

ditanamkan dalam kesadaran publik sebagai tempat PKI melakukan 

kejahatan besar. 

Di samping Monumen Pancasila Sakti rezim Suharto membangun 

Museum Pengkhianatan PKI pada 1990. Hampir semua dari 42 diorama 

di dalam museum itu, yang kaca-kacanya dipasang rendah agar anak-anak 

sekolah yang berkunjung dapat melihatnya, menggambarkan babak-

babak kekejaman PKI dari 1945 sampai 1965. Apa yang dipelajari para 

pengunjung museum yaitu  pelajaran moral sederhana: bahwa sejak 

kemerdekaan dan masa-masa selanjutnya, PKI bersifat antinasional, 

antiagama, agresif, haus darah, dan sadis.11 Museum itu tidak menawar-

kan penjelasan tentang komunisme sebagai ideologi yang menentang 

kepemilikan pribadi dan kapitalisme; tidak ada sejarah mengenai 

sumbangan PKI dalam perjuangan nasional melawan kolonialisme 

Belanda, atau kegiatan partai dalam mengorganisasi buruh dan tani 

secara damai.12 Adegan-adegan kekerasan dirancang untuk meyakinkan 

pengunjung tentang kemustahilan memberi toleransi terhadap PKI di 

tengah kehidupan berbangsa.

Bagi rezim Suharto, kejadian 1 Oktober 1965 menyingkap kebenaran 

tentang sifat PKI yang khianat dan antinasional. Ia mendiskreditkan 

prinsip yang digalakkan Sukarno, yaitu Nasakom – akronim yang me-

nyatakan azas tritunggal nasionalisme, agama, dan komunisme – yang 

memberi keabsahan bagi PKI sebagai komponen dasariah dalam perpoli-

tikan Indonesia. Rupa-rupanya G-30-S menandai adanya “pemutusan 

imanen” dengan (meminjam istilah fi lsuf Prancis Alain Badiou) “penge-

tahuan yang telah dilembagakan,” dan “meyakinkan” orang-orang yang 

akan menjadi setia kepada kebenaran gerakan ini . Seperti dinyatakan 

Badiou, “Bersetia kepada suatu peristiwa yaitu  bergerak dalam situasi 

yang disodorkan peristiwa ini  dengan berpikir ... [tentang] situasi 

ini  sesuai dengan ‘peristiwa’ itu.”13 Rezim Suharto menampilkan diri 

sebagai wahana, yang dapat digunakan bangsa Indonesia agar tetap setia 

kepada kebenaran peristiwa 1 Oktober 1965. Kebenaran yang dinyatakan 

peristiwa itu ialah bahwa PKI jahat dan pengkhianat yang tak dapat 

13

 

disadarkan lagi. Rezim Suharto akan tampak sebagai semacam “proses 

kebenaran” jika kebenaran dirumuskan sesuai dengan cara Badiou meru-

muskannya, yaitu “suatu proses nyata tentang kesetiaan kepada suatu 

peristiwa.” Maka semua pejabat negara harus mengucapkan sumpah 

setia kepada Pancasila dan bersumpah bahwa mereka (serta keluarga 

masing-masing) bersih dari kaitan apa pun dengan PKI dan G-30-S. 

Namun, jika kita memakai  kerangka berpikir Badiou dalam berpikir 

tentang G-30-S, kita akan menemukan bahwa G-30-S bukanlah “suatu 

peristiwa” menurut pengertian Badiou sebab  peristiwa itu sedikit banyak 

merupakan hasil rekayasa ex post facto (dari sesuatu yang sudah terjadi). 

Dengan operasi-operasi perang urat syaraf rezim Suharto berdusta tentang 

cara bagaimana enam orang jenderal ini  dibunuh (menciptakan 

kisah-kisah tentang penyiksaan dan mutilasi) dan tentang identitas para 

pelaku yang bertanggung jawab (menuduh setiap anggota PKI bersalah). 

Gerakan 30 September tidak sama dengan revolusi Indonesia 1945-

1949, yang merupakan “peristiwa-kebenaran” (truth-event) bagi Sukarno. 

Revolusi itu bersifat terbuka dan umum. Jutaan orang mengambil bagian 

di dalamnya (sebagai gerilyawan, kurir, juru rawat, dermawan, dll.). 

Untuk menghancurkan prinsip rasial yang menjadi tumpuan pemerin-

tah kolonial Belanda, revolusi tampil membela prinsip-prinsip universal 

pembebasan umat manusia.14 Sebaliknya, G-30-S yaitu  kejadian yang 

berlangsung cepat, berskala kecil, bersifat tertutup, dan warga  

Gambar 3. Museum Pengkhianatan PKI, Lubang Buaya, Jakarta. Foto: John Roosa

14

PENDAHULUAN

umum hampir tidak mempunyai pengetahuan langsung mengenainya. 

Hanya rezim Suharto saja yang mengaku mampu melihat kebenaran 

peristiwa ini . Dengan demikian rezim itu setia kepada sesuatu yang 

bukan peristiwa, kepada suatu fantasi yang dibuatnya sendiri. “Kesetiaan 

kepada citra khayali [simulacrum]” tulis Badiou, “meniru sebuah proses 

kebenaran yang aktual,” namun memutarbalikkan aspirasi universal 

tentang “peristiwa kebenaran” yang sejati. Ia hanya mengakui sekumpulan 

orang tertentu (misalnya orang-orang nonkomunis) sebagai peserta dalam 

kebenaran suatu peristiwa dan menciptakan “perang dan pembantaian” 

sebagai upaya membasmi siapa pun yang berada di luar kumpulan yang 

telah diakui ini .15

 Sampai penghujung rezim Suharto pada 1998 pemerintah dan 

pejabat militer Indonesia memakai  hantu PKI untuk menanggapi 

setiap masalah kerusuhan atau gejala pembangkangan. Kata-kata kunci 

dalam wacana rezim itu yaitu  “bahaya laten komunisme.”16 Agen-agen 

tersembunyi dari Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) senantiasa mengendap, 

siap merongrong pembangunan ekonomi dan tertib politik. Pembasmian 

PKI yang tak kunjung usai, sungguh-sungguh merupakan raison d’être 

(alasan keberadaan) bagi rezim Suharto. Landasan hukum asali yang 

dipakai rezim ini untuk menguasai Indonesia selama lebih dari 30 tahun 

yaitu  perintah Presiden Sukarno pada 3 Oktober 1965, yang memberi 

wewenang kepada Suharto untuk “memulihkan ketertiban.” Perintah 

itu dikeluarkan dalam situasi darurat. Tapi bagi Suharto situasi darurat 

itu tidak pernah berakhir. Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan 

Keamanan dan Ketertiban) yang dibentuk pada masa itu tetap diper-

tahankan sampai akhir kekuasaan rezim (dengan penggantian nama 

menjadi Bakorstanas pada 1988). Badan ini memungkinkan personil 

militer bertindak di luar dan di atas hukum dengan dalih keadaan 

darurat.17 Pengambilalihan kekuasaan oleh Suharto sejalan dengan 

ucapan teoretisi politik Carl Schmitt, “Sang penguasa yaitu  dia yang 

mengambil keputusan akan adanya kekecualian.”18 Bagi Suharto, G-30-S 

yaitu  sebuah kekecualian; sebuah patahan dalam tertib hukum yang 

normal, yang memerlukan kekuasaan ekstra legal untuk memberantas-

nya. Gerakan 30 September bukan sekadar “riak kecil di tengah samudra 

luas Revolusi Indonesia,” seperti yang dinyatakan Sukarno, penguasa di 

atas kertas.19 Namun teori Schmitt perlu kualifi kasi tersendiri untuk 

15

 

menangani kasus-kasus saat  penguasa memutuskan bahwa “kekecua-

lian” harus menjadi norma.20 Suharto memutuskan bahwa kekecualian 

dari 1 Oktober 1965 bersifat permanen. Rezimnya mempertahankan 

“bahaya laten komunisme” dan menyandera Indonesia dalam keadaan 

darurat terus-menerus. Seperti dikatakan Ariel Heryanto, komunisme 

tidak pernah mati di Indonesia-nya Suharto.21 Rezim Suharto tidak dapat 

membiarkan komunisme mati, sebab  ia menetapkan dirinya dalam 

hubungan dialektis dengan komunisme, atau lebih tepat, dengan citra 

khayali (simulacrum) ‘komunisme’. 

GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN AMERIKA SERIKAT

Gerakan 30 September merupakan peristiwa signifi kan dan bukan hanya 

bagi Indonesia. Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia pada 

1965, Marshall Green, berpendapat bahwa G-30-S merupakan salah 

satu saat paling berbahaya bagi AS semasa perang dingin. Ia menafsirkan 

gerakan itu sebagai “usaha kudeta komunis,” yang jika berhasil, dapat 

mengubah Indonesia menjadi negara komunis yang bersekutu dengan 

Uni Soviet dan/atau Tiongkok. Dalam wawancara di televisi pada 1997 

ia menyatakan, “Saya kira [G-30-S] ini merupakan peristiwa yang sangat 

penting di dunia, dan saya tak yakin pers dan warga  umum pernah 

menganggapnya demikian. Dan saya tidak beranggapan bahwa saya 

berkata begitu semata-mata sebab  saya ada di sana waktu itu: Saya kira 

benar – bahwa inilah bangsa yang sekarang merupakan bangsa terbesar 

keempat di dunia ini ... akan menjadi komunis, dan memang nyaris 

demikian.”22

Serangan Suharto terhadap kaum komunis dan perebutan kekuasaan 

presiden yang dilancarkannya berakhir pada pembalikan sepenuhnya 

peruntungan AS di Indonesia. Hampir dalam semalam pemerintah 

Indonesia berubah dari kekuatan yang di tengah-tengah perang dingin 

dengan garang menyuarakan netralitas dan antiimperialisme menjadi 

rekanan pendiam yang patuh kepada tatanan dunia AS. Sebelum G-30-S 

terjadi, kedutaan AS telah memulangkan hampir semua personil mereka 

dan menutup konsulat-konsulatnya di luar Jakarta, sebab  gelombang-

gelombang demonstrasi militan yang dipimpin PKI. Presiden Sukarno 

16

PENDAHULUAN

kelihatannya menutup mata dan merestui aksi-aksi itu dengan tidak 

memberi  perlindungan keamanan yang cukup bagi konsulat-konsulat 

AS. Sementara serangan terhadap fasilitas-fasilitas pemerintah AS sudah 

begitu mengkhawatirkan, kaum buruh mengambil alih perkebunan-

perkebunan dan sumber-sumber minyak milik perusahaan-perusahaan 

AS, dan pemerintah Indonesia mengancam akan menasionalisasi peru-

sahaan-perusahaan ini . Sejumlah pejabat pemerintah AS sempat 

mempertimbangkan pemutusan hubungan diplomatik sama sekali. 

Tampaknya Washington harus melupakan Indonesia dan mengang-

gapnya sebagai bagian dari dunia komunis. Sebuah laporan intelijen 

tingkat tinggi yang disiapkan awal September 1965 mengatakan bahwa, 

“Indonesia di bawah Sukarno dalam hal-hal penting tertentu sudah 

bertindak seperti sebuah negara Komunis, dan lebih secara terbuka 

memusuhi AS ketimbang kebanyakan negeri-negeri Komunis.” Laporan 

itu memperkirakan bahwa pemerintah Indonesia, dalam waktu dua atau 

tiga tahun, akan sepenuhnya didominasi PKI.23 

Lepasnya Indonesia dari pengaruh AS akan menjadi kehilangan 

besar, yang jauh lebih mahal dibandingkan  lepasnya Indocina. Dalam politik 

luar negeri AS sesudah  Perang Dunia Kedua, Indonesia dianggap sebagai 

domino terbesar di Asia Tenggara, bukan hanya sebab  bobot demo-

grafi s sebagai negeri berpenduduk terbesar kelima di dunia dan keluasan 

geografi s sebagai kepulauan yang terbentang 3.000 mil lebih dari timur 

ke barat, tapi juga sebab  sumber daya alamnya yang melimpah ruah. 

Indonesia yaitu  sumber minyak, timah, dan karet yang penting. Dengan 

investasi lebih banyak, Indonesia akan menjadi produsen bahan mentah 

yang lebih besar lagi, termasuk emas, perak, dan nikel. Seperti dikatakan 

sejarawan Gabriel Kolko, bahwa AS pada awal 1950-an “telah menyerah-

kan Indonesia di bawah pengaruh ekonomi Jepang”; minyak, mineral, 

logam, dan tanaman pangan dari Indonesia akan menghidupi indus-

trialisasi Jepang. “Keprihatinan utama” AS yaitu  “keamanan Jepang, 

yang aksesnya ke negeri kepulauan dengan sumber alam kaya raya itu 

harus dijaga agar tetap aman berada di kubu AS.”24 Penilaian Kolko 

disusun berdasar  penyataan kebijakan Dewan Keamanan Nasional 

tahun 1952 yang berjudul, “United States Objectives and Courses of 

Action with Respect to Southeast Asia” (Tujuan dan Arah Tindakan 

Amerika Serikat untuk Asia Tenggara). Para pembuat kebijakan dalam 

17

 

pemerintahan Truman melihat kawasan ini dari segi sumber daya alam: 

“Asia Tenggara, khususnya Malaya dan Indonesia, merupakan sumber 

utama dunia bagi karet alam dan timah, dan produsen minyak bumi, 

serta komoditi lain yang penting secara strategis.” Jatuhnya kawasan ini 

ke tangan komunis (atau, sejatinya kekuatan lokal mana pun yang ingin 

membatasi ekspor sumber daya alam ini ) akan menghambat indus-

trialisasi Jepang, dan hal ini akan “sangat mempersulit upaya mengalangi 

Jepang untuk pada akhirnya menyesuaikan diri dengan komunisme.”25 

Pemerintah Eisenhower mengeluarkan pernyataan politik serupa tentang 

Asia Tenggara dua tahun kemudian, yang mengulangi bahasa memoran-

dum terdahulu hampir kata demi kata.26

Washington menganggap kemungkinan jatuhnya pemerintah 

Indonesia di bawah kekuasaan komunis sebagai hari kiamat. Sikapnya 

mempertahankan garis melawan komunisme di Indocina antara lain 

didorong keinginan melindungi Indonesia. Dalam logika teori domino, 

negeri-negeri Indocina yang relatif tidak begitu strategis harus diamankan 

dari komunisme agar negeri-negeri yang lebih penting di Asia Tenggara 

dapat dipagari dari pengaruhnya. Dalam pidatonya pada 1965, Richard 

Nixon membenarkan pemboman atas Vietnam Utara sebagai alat untuk 

melindungi “potensi mineral yang luar biasa” di Indonesia.27 Dua tahun 

kemudian ia menyebut Indonesia sebagai “anugerah terbesar di wilayah 

Asia Tenggara,” dan merupakan “timbunan sumber daya alam terkaya 

di kawasan itu.”28 Pasukan darat yang mulai memasuki Vietnam sejak 

Maret 1965 akan menjadi tidak berguna jika kaum komunis menang di 

negeri yang lebih besar dan lebih strategis. Penguasaan Indonesia oleh PKI 

akan membuat intervensi di Vietnam sia-sia belaka. Pasukan Amerika 

Serikat sibuk bertempur di pintu gerbang, sementara musuh sudah berada 

di dalam, akan segera menduduki istana, dan menjarah-rayah gudang-

gudang simpanan. 

Dalam minggu-minggu sebelum G-30-S beraksi, para pembuat 

kebijakan di Washington saling mengingatkan diri, agar perang di 

Vietnam tidak sampai mengalihkan perhatian mereka dari situasi di 

Indonesia yang sama daruratnya. Pertemuan antara sekelompok kecil 

pejabat Departemen Luar Negeri dan Wakil Menteri Luar Negeri George 

Ball di akhir Agustus 1965 menegaskan bahwa Indonesia paling tidak 

sama penting dengan seluruh Indocina. Kelompok ini juga menegaskan 

18

PENDAHULUAN

bahwa pengambilalihan kekuasaan oleh sayap kiri di Indonesia sudah 

dekat. Menurut salah seorang pejabat yang hadir, William Bundy, 

kelompok ini  percaya bahwa pengambilalihan kekuasaan seperti itu 

akan menimbulkan “efek menjepit sangat kuat bagi kedudukan negeri-

negeri nonkomunis di Asia Tenggara.”29 

Dalam renungan refl ektifnya, Robert McNamara, Menteri Perta-

hanan dalam pemerintahan Kennedy dan Johnson, mengatakan bahwa 

AS seharusnya mengurangi keterlibatannya di Indocina sesudah  pembas-

mian kaum komunis di Indonesia oleh Suharto. Begitu domino besar di 

Asia Tenggara sudah aman di tangan tentara Indonesia, para pembuat 

kebijakan AS harusnya menyadari bahwa Vietnam sebenarnya tidak 

sepenting seperti yang mereka pikirkan semula. “Kekalahan permanen” 

PKI di Indonesia, menurut pengakuannya sekarang, “telah mengurangi 

pertaruhan riil AS di Vietnam secara substansial.”30 Walaupun dalam 

sebuah memorandum 1967 McNamara telah menyebut penghancuran 

PKI sebagai alasan untuk menghentikan langkah AS meningkatkan 

perang, ia tidak mendorong dilakukannya peninjauan kembali kebijakan 

AS secara menyeluruh.31 Perang pada gilirannya memperoleh logikanya 

sendiri, yang terpisah dari teori domino. Kendati memiliki pemahaman 

mengenai implikasi dari kejadian-kejadian di Indonesia, McNamara 

tetap terpaku dalam kerangka pikir yang menghendaki, pada satu pihak, 

kemenangan AS dalam perang Vietnam, atau pada pihak lain, suatu cara 

pengunduran diri dari Vietnam tanpa kehilangan muka bagi pemerintah 

AS. Para pembuat kebijakan gagal memahami bahwa sesudah  1965 “hanya 

sedikit domino-domino yang tertinggal, dan kecil kemungkinannya 

mereka akan ikut roboh.”32 

Walaupun tersita oleh urusan Indocina pada 1965, Washing-

ton sangat gembira saat  tentara Suharto mengalahkan G-30-S dan 

merangsak menghantam kaum komunis. Ketidakberpihakan Sukarno 

dalam perang dingin dan kekuatan PKI yang semakin besar telah dibikin 

tamat dengan sekali pukul. Tentara Suharto melakukan apa yang tidak 

mampu dilakukan negara boneka AS di Vietnam Selatan meskipun 

telah dibantu dengan jutaan dolar dan ribuan pasukan AS, yaitu meng-

habisi gerakan komunis di negerinya. Dalam sepuluh hari sesudah  G-30-S 

meletus, wartawan New York Times Max Frankel sudah mencatat bahwa 

suasana Washington menjadi cerah. Artikel Max Frankel berjudul “U.S. 

19

 

Is Heartened by Red Setback in Indonesia Coup” (AS Gembira sebab  

Kekalahan Kaum Merah dalam Kudeta di Indonesia). Ia mengamati 

bahwa sekarang ada “harapan, padahal baru dua pekan lalu hanya ada 

keputusasaan mengenai negeri berpenduduk terbesar kelima di bumi itu, 

yang dengan 103 juta penduduknya di 4.000 pulau memiliki sumber 

daya melimpah tapi belum dimanfaatkan dan menduduki salah satu 

posisi paling strategis di Asia Tenggara.”33 

saat  berita-berita pembantaian mulai berdatangan sepanjang 

bulan-bulan berikutnya, harapan Washington justru membesar. Pada Juni 

1966, seorang penulis editorial utama New York Times, James Reston, 

menyebut “transformasi biadab” di Indonesia sebagai “secercah cahaya di 

Asia.”34 Laporan utama majalah Time menyebut naiknya Suharto sebagai 

“kabar terbaik bagi dunia Barat selama bertahun-tahun di Asia.”35 Wakil 

Menteri Muda Luar Negeri Alexis Johnson percaya bahwa “pembalikan 

gelombang pasang komunis di Indonesia yang besar itu” merupakan 

“peristiwa yang bersama perang Vietnam mungkin merupakan titik 

balik sejarah terpenting di Asia dalam dasawarsa ini.”36 Seperti dinyata-

kan Noam Chomsky dan Edward Herman, pembantaian di Indonesia 

merupakan “pembantaian bermaksud baik” dan “teror yang konstruktif” 

sebab  melayani kepentingan politik luar negeri AS. Sementara Washing-

ton mengemukakan setiap pelanggaran hak asasi manusia di blok Soviet 

sebagai bukti kejahatan musuhnya dalam perang dingin, ia mengabaikan, 

memberi pembenaran, atau bahkan bersekongkol dalam kejahatan yang 

dilakukan oleh pemerintah-pemerintah yang bersekutu dengan AS.37 

MEMIKIRKAN KEMBALI GERAKAN

Gerakan 30 September dengan begitu menjadi pemicu serangkaian 

kejadian: penumpasan PKI, pengambilalihan kekuasaan negara oleh 

tentara, dan pergeseran tajam posisi strategis Amerika Serikat di Asia 

Tenggara. Saya menyadari arti penting peristiwa-peristiwa ini saat 

melakukan penelitian lapangan di Indonesia pada awal 2000. Namun 

saya tidak bermaksud menulis tentang G-30-S sebab  saya menganggap-

nya sebuah misteri yang tak dapat ditembus, dan tidak ada hal baru yang 

dapat ditulis mengenainya. Versi rezim Suharto jelas patut dipertanyakan, 

20

PENDAHULUAN

jika bukan sama sekali salah, tapi kelangkaan bahan mempersulit orang 

mengajukan versi tandingan. Tanpa informasi baru mengenai G-30-S, 

orang hanya dapat mengunyah ulang fakta-fakta yang sudah diketahui 

umum tidak memuaskan dan menambah spekulasi yang sudah demikian 

banyak. Penelitian sejarah lisan yang saya lakukan terpusat pada akibat 

sesudah G-30-S terjadi. Perhatian saya terutama pada pengalaman mereka 

yang selamat dari pembunuhan massal dan penahanan.38 Gerakan 30 

September itu sendiri tampaknya dapat disamakan dengan peristiwa 

pembunuhan John F. Kennedy dalam sejarah AS – sebuah topik yang 

cocok bagi mereka yang gemar teori konspirasi atau “deep politics” (politik 

terselubung).39

Saya mulai yakin bahwa ada hal baru yang dapat diketengahkan 

mengenai G-30-S saat menemukan dokumen yang ditulis almarhum 

Brigadir Jenderal M.A. Supardjo. Menurut pengumuman radio yang 

disiarkan G-30-S pada pagi 1 Oktober 1965, ia yaitu  salah satu dari 

empat wakil komandan di bawah Letkol Untung. Saya tertarik kepada 

Supardjo sebab  ia merupakan salah satu dari sekian banyak keganjilan 

dalam G-30-S: mungkin untuk pertama kali dalam sejarah pembe-

rontakan dan kup seorang jenderal menjadi bawahan seorang kolonel. 

Mengapa Letkol Untung menjadi komandan dan Brigjen Supardjo 

menjadi wakil komandan? Kebetulan saya bertemu dengan salah satu 

putra Supardjo di rumah seorang eks tapol. Saya berbicara dengannya 

dalam kesempatan itu dan beberapa pertemuan lain kemudian mengenai 

bagaimana ibu dan delapan saudaranya dapat bertahan dalam pemis-

kinan dan stigmatisasi yang mereka alami sesudah  1965. Tergerak oleh 

keingintahuan, saya lalu mendatangi penyimpanan arsip militer di 

Dinas Dokumentasi Museum Satria Mandala, Jakarta, untuk membaca 

pernyataan Supardjo di Mahmilub pada 1967 dan bukti-bukti yang 

diajukan mahkamah kepadanya. Di situlah, hampir pada ujung bundel 

terakhir dokumen pengadilan, pada bagian yang ditandai “Barang-Barang 

Bukti,” saya menemukan analisis yang ditulisnya mengenai kegagalan 

G-30-S. Awalnya saya mengira bahwa dokumen itu palsu atau tidak 

dapat digunakan. Saya belum pernah melihat dokumen itu disebut dalam 

tulisan-tulisan ilmiah mengenai G-30-S. Jika memang dokumen itu 

otentik, seharusnya ada orang yang pernah menulis sesuatu mengenai-

nya. Tapi, sesudah  mempelajari naskah itu, saya berkesimpulan bahwa 

21

 

dokumen itu tidak dapat lain dari apa yang menampak: sebuah analisis 

pascaperistiwa yang ditulis Supardjo dengan jujur. Belakangan saya me-

ngetahui Jenderal A.H. Nasution (yang berhasil lolos dari penggerebekan 

G-30-S pagi itu) memuat kutipan dari dokumen itu dalam otobiografi nya 

yang berjilid-jilid.40 Nasution tidak memberi komentar apa-apa. Selama 

bertahun-tahun para sarjana mengabaikan dokumen ini  begitu 

saja.41 Dokumen selengkapnya tampil pertama kali dalam bentuk cetakan 

pada 2004 (sesudah  saya menyelesaikan draft pertama artikel  ini). Victor 

Fic (almarhum) memasukkan terjemahan dokumen ini dalam artikel nya 

yang terbit di India.42 Pengabaian yang begitu lama terhadap dokumen 

ini  sungguh disayangkan. Dokumen ini merupakan sumber utama 

yang memberi informasi paling banyak mengenai G-30-S sebab  ditulis 

oleh orang yang paling dekat dengan para pelaku inti selama gerakan 

berlangsung. Supardjo menulis dokumen itu sekitar 1966 saat ia 

masih dalam persembunyian. Ia baru ditangkap pada 12 Januari 1967. 

Dokumen itu dimaksudkan untuk dibaca orang-orang yang mempunyai 

hubungan dengan G-30-S agar mereka dapat belajar dari kesalahan yang 

mereka lakukan. Sebagai sebuah dokumen internal, dokumen itu lebih 

andal dibandingkan  kesaksian-kesaksian para pelaku yang diberikan di depan 

interogator dan mahkamah militer. 

Minat saya kepada G-30-S semakin diperkuat saat , lagi-lagi 

secara tidak sengaja, bertemu dengan mantan perwira militer yang 

namanya disebut melalui siaran radio sebagai wakil komandan G-30-S: 

Heru Atmodjo. Ia seorang letnan kolonel Angkatan Udara. Hampir 

sepanjang hari pada 1 Oktober 1965 Atmodjo bersama Supardjo dan 

dipenjara bersama dengannya pula pada 1967-68. Ia mengonfi rmasi 

keaslian dokumen Supardjo itu. Ia bahkan pernah diberi salinannya 

oleh Supardjo untuk dibaca di dalam penjara.43 (Menurut Atmodjo, 

dokumen-dokumen biasanya diselundupkan keluar-masuk penjara 

oleh para penjaga yang simpati). Atmodjo juga mengonfi rmasi banyak 

penegasan yang dikemukakan Supardjo dalam dokumen itu. Saya 

berulang kali berbicara dengan Atmodjo selama tiga tahun dan menga-

dakan empat wawancara yang direkam dengannya. 

sesudah  membaca dokumen Supardjo dan berbicara dengan Heru 

Atmodjo, saya berkesimpulan perlu ada analisis baru mengenai G-30-S. 

Lalu, saya mulai melakukan pengumpulan informasi yang lebih terarah 

22

PENDAHULUAN

dan sistematis. Mengingat sifat persoalannya, saya harus berpikir seperti 

detektif – yang kadang-kadang memang harus dilakukan sejarawan. Saya 

berhasil menemui seorang kader tinggi PKI yang berpengetahuan luas 

mengenai Biro Chusus, organisasi rahasia yang berperan penting dalam 

G-30-S. Ia belum pernah berbicara kepada wartawan atau sejarawan 

siapa pun mengenai pengalamannya. Ia berbicara kepada saya dengan 

syarat, saya tidak mengungkap nama atau informasi apa saja yang dapat 

membuatnya dikenali. Ia sudah tua dan meniti hidup dengan tenang dan 

tidak mau terlibat dalam kontroversi. Dalam naskah ini saya memberinya 

nama samaran, Hasan.44 

Bersama beberapa rekan di Indonesia saya mewawancarai empat 

orang yang berpartisipasi dalam G-30-S, empat kader tinggi PKI, dan 

beberapa orang lain yang cukup mengetahui masalah G-30-S. Salah 

seorang mantan pimpinan PKI yang saya wawancarai menyerahkan 

salinan dari analisis mengenai G-30-S yang ditulis temannya, almarhum 

Siauw Giok Tjhan.45 Sebelum Oktober 1965 Siauw yaitu  pemimpin 

utama Baperki, organisasi Tionghoa Indonesia yang besar dan pendukung 

Presiden Sukarno.46 Siauw, yang dipenjara selama 12 tahun, menulis ana-

lisisnya berdasar  diskusi dan wawancaranya dengan sesama tahanan. 

Analisisnya, oleh sebab  itu, mencerminkan pendapat kolektif dari para 

tahanan politik mengenai G-30-S. 

Dengan jatuhnya Suharto pada Mei 1998, banyak penulis yang 

memanfaatkan kebebasan pers untuk menerbitkan tulisan-tulisan yang 

kritis terhadap versi resmi tentang peristiwa 1965. Mantan wakil perdana 

menteri pertama di zaman Sukarno, yakni Subandrio, yang dipenjara 

selama Suharto berkuasa, menerbitkan analisisnya mengenai G-30-S 

pada 2001.47 Mantan Menteri Panglima Angkatan Udara, Omar Dani, 

memberi  wawancara di media massa dan membantu sebuah tim 

penulis untuk menyusun biografi nya.48 Sebuah tim penulis yang secara 

tidak resmi mewakili korps Angkatan Udara menerbitkan keterangan 

rinci mengenai kejadian-kejadian di pangkalan Halim.49 Bermuncul-

annya berbagai penerbitan baru ini juga membantu meyakinkan saya 

bahwa analisis baru yang lebih menyeluruh mengenai G-30-S memang 

diperlukan.

Sementara para korban Suharto menerbitkan cerita mereka, peme-

rintah AS menyiarkan seberkas dokumen yang sudah dideklasifi kasikan 

23

 

mengenai kejadian-kejadian di Indonesia dalam 1965-1966. Berkas itu 

sebagian besar berupa memorandum dari pejabat pemerintahan L.B. 

Johnson, dan pertukaran surat-surat kawat antara Kedutaan Besar AS 

di Jakarta dan Departemen Luar Negeri di Washington, DC. Untuk 

alasan yang tidak dijelaskan, Departemen Luar Negeri langsung menarik 

kembali berkas dokumen yang telah diumumkannya itu. Penarikan itu 

sia-sia belaka sebab  beberapa eksemplar sudah terlanjur dikirim ke 

berbagai perpustakaan. Langkah itu (bagi Departemen Luar Negeri) 

juga kontraproduktif sebab  aroma kontroversi justru merangsang hasrat 

ingin tahu warga  umum. Seluruh berkas naskah itu sekarang tersedia 

di berandawarta (website) sebuah lembaga penelitian di Washington, 

DC.50 

Saya juga menemukan dua dokumen penting di sebuah tempat 

penyimpanan arsip di Amsterdam. Dua orang mantan anggota Politbiro 

PKI, Muhammad Munir dan Iskandar Subekti, menulis analisis masing-

masing tentang G-30-S, yang belum pernah dimanfaatkan para sejarawan 

sebelumnya.

Dengan memakai  potongan-potongan informasi yang telah 

saya kumpulkan dari berbagai sumber ini, saya mencoba menetapkan 

siapa yang mengorganisasi G-30-S, apa yang ingin mereka capai melalui 

tindakan mereka, dan mengapa mereka gagal sedemikian parahnya. 

Analisis yang ditampilkan dalam artikel  ini dengan sendirinya menjadi 

rumit sebab  kisah G-30-S banyak bersimpul dan berliku-liku. Masing-

masing orang bergabung dalam G-30-S dengan motivasi dan pengha-

rapan berbeda-beda dan dengan tingkat pengetahuan mengenai rencana 

aksi yang berbeda-beda pula. Seperti halnya kebanyakan operasi rahasia 

yang melibatkan beragam orang dan lembaga, kita akan melihat adanya 

kesalahan asumsi, salah komunikasi, dan penipuan diri-sendiri. 

artikel  ini dapat dianggap sebagai apa yang oleh Robert Darnton 

disebut “analisis insiden” sebab  memusatkan perhatiannya pada satu 

insiden dramatis, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang khas dari 

langgam ini: “Bagaimana kita dapat mengetahui apa yang sesungguhnya 

terjadi? Apa yang membedakan fakta dari fi ksi? Bagaimana menemukan 

kebenaran di antara interpretasi yang saling bertentangan?”51 Darnton 

mencatat bahwa orang yang menulis tentang kekejaman dan pemban-

taian cenderung mengkaji dengan teliti dokumen tertulis dan narasi 

24

PENDAHULUAN

lisan untuk memahami “apa yang sesungguhnya terjadi”: identitas 

para pelaku, jumlah korban, kronologi kejadian yang tepat, dan sete-

rusnya. Menghadapi bukti yang bias dan memihak, seorang sejarawan 

akan tergoda memakai  strategi Akira Kurosawa dalam fi lm tahun 

1950 yang terkenal, Rashomon (berdasar  cerita pendek Ryunosuke 

Akutagawa). Empat orang masing-masing memberi  empat cerita 

yang berbeda-beda tentang satu kejahatan yang sama. Cerita lalu berakhir 

tanpa kepastian tentang yang manakah cerita yang benar. Salah satu di 

antara empat tokoh yang berusaha menetapkan siapa yang bertanggung 

jawab atas kejahatan yang terjadi, pada akhirnya mengatakan kepada 

temannya yang sama-sama bingung. “Sudahlah, jangan khawatirkan 

itu lagi. Seakan-akan manusia itu rasional saja.”52 Kesimpulan demikian 

tidak menjadi soal bagi sebuah cerita fi ktif. Namun sulit untuk menga-

takan kepada warga  “yang ingin mengetahui kebenaran tentang 

trauma di masa lalu,” bahwa mereka harus menyerahkan diri kepada ide 

bahwa kebenaran itu relatif, masa lalu itu tidak dapat dimengerti, dan 

manusia itu irasional.53 Walaupun saya menghindari pengakhiran kisah 

dengan gaya Rashomon, saya juga tidak mengambil gaya pengakhiran 

kisah seperti Sherlock Holmes atau Hercule Poirot. Tak seorang pun 

dengan penuh keyakinan dapat menudingkan telunjuk tuduhan kepada 

si pelaku kejahatan sehingga seluruh misteri G-30-S pun tidak dapat 

terungkap dengan baik. Banyak yang masih tetap tidak diketahui atau 

tidak pasti. Orang harus menerima bahwa mungkin masih banyak tokoh-

tokoh yang tidak dikenal, namun memainkan peranan sangat penting 

di balik layar. Meminjam komentar epistemologis Donald Rumsfeld 

yang telah dikecam habis secara tak berimbang, tentu terdapat banyak 

“hal-hal tidak diketahui yang tidak diketahui,” yaitu hal-hal yang kita 

tidak tahu bahwa kita tidak tahu.54 Bagian akhir artikel  ini hanya berniat 

membawa kita sedikit lebih maju dalam menyusuri labirin misteri ini, 

memberi pertanda beberapa jalan buntu, dan menunjukkan jalan-jalan 

yang paling menjanjikan bagi penelitian lebih lanjut.55 

PENYAJIAN ARGUMEN

artikel  ini dimulai dengan bab yang menggambarkan aksi-aksi dan per-

25

 

nyataan-pernyataan G-30-S pada 1 Oktober 1965 dan kekalahannya di 

tangan Mayjen Suharto. Bab ini akan memperkenalkan pembaca kepada 

semua keganjilan G-30-S, yang menjadi alasan mengapa banyak sejarawan 

melihatnya sebagai teka-teki. Aksi-aksi G-30-S tidak didasari alasan yang 

jelas, bergerak dengan berbagai tujuan yang saling berlawanan, dan 

akhirnya hampir tidak mencapai apa pun. Pengumuman-pengumuman 

yang disiarkan di radio tidak konsisten dan hampir tidak ada kaitannya 

dengan tindakan di lapangan. Jika dilihat secara menyeluruh, G-30-S 

tampak sebagai sosok aneh yang tidak masuk akal. Tidak ada pola yang 

jelas, bahkan jika kita susun berurutan rangkaian kejadian-kejadian yang 

sudah disepakati umum – yang dapat kita anggap sebagai fakta sekalipun. 

G-30-S tidak dapat digolongkan sebagai pemberontakan pasukan militer, 

percobaan kudeta, atau pemberontakan sosial. Bab yang pertama sengaja 

tidak saya tulis dalam bentuk narasi, sebab  memang peristiwa-peristiwa 

yang terjadi tidak memiliki kesinambungan alur dan karakter yang di-

perlukan untuk menyusun sebuah narasi. Bab ini bermaksud menyoroti 

berbagai keganjilan yang kacau dari G-30-S, yang merupakan pengalang 

bagi narasi yang lugas dan lancar. 

Bab kedua akan mengikhtisarkan berbagai cara keganjilan-kegan-

jilan itu telah ditafsirkan dan disusun menjadi sebuah narasi kejadian 

yang padu. Rezim Suharto dengan kasar mendesakkan sebuah narasi 

gampangan, yang menetapkan PKI sebagai dalang keji yang mengontrol 

setiap aspek G-30-S. Sejumlah sarjana asing yang lebih berperhatian 

pada prosedur pengungkapan bukti dan logika dibanding dengan para 

propagandis negara menunjukkan kelemahan-kelemahan versi rezim 

Suharto, dan mengajukan jalan cerita yang berbeda. Para ilmuwan itu 

menyatakan bahwa peran para perwira militer yang terlibat dalam G-30-S 

lebih besar dari peran PKI, atau bahwa Suharto sendiri terlibat dalam 

operasi ini. 

Bab-bab tiga sampai enam mencermati sumber primer yang baru: 

dokumen Supardjo, wawancara lisan saya dengan Hasan dan lainnya, 

dokumen-dokumen internal PKI, beberapa memoar yang baru diter-

bitkan, dan dokumen-dokumen rahasia pemerintah AS yang sudah 

diumumkan. Saya menganalisis para pelaku secara bergiliran: para 

perwira militer dalam G-30-S, Sjam dan Biro Chususnya, D.N. Aidit 

dan pimpinan PKI jajarannya, Suharto dan para perwira rekan-rekannya, 

26

PENDAHULUAN

dan pemerintah AS. Bab-bab ini, sebagai tinjauan atas bukti-bukti yang 

ada, berjalan dengan mengikuti logika penyelidikan detektif. Barulah 

pada bab terakhir saya membangun suatu narasi yang berjalan secara 

kronologis dan bermaksud untuk memecahkan banyak keganjilan dalam 

peristiwa yang saya uraikan dalam bab pertama.

GERAKAN 30 SEPTEMBER SEBAGAI DALIH

Dalam ingatan sosial warga  Indonesia seperti yang dibentuk rezim 

Suharto, G-30-S merupakan kekejaman yang begitu jahat, sehingga 

kekerasan massal terhadap siapa pun yang terkait dengannya dilihat 

sebagai sesuatu yang dapat dibenarkan dan bahkan terhormat. Diduga 

ada hubungan sebab-akibat langsung: represi terhadap PKI merupakan 

jawaban sepatutnya terhadap ancaman yang diajukan G-30-S. Memang 

dalam wacana politik di Indonesia menjadi lazim menggabungkan G-30-S 

dengan kekerasan massal yang mengikutinya, seakan-akan keduanya 

merupakan suatu peristiwa tunggal; satu istilah, “Gerakan 30 September,” 

digunakan untuk merujuk ke dua peristiwa. Kendati demikian sejak awal 

serangan Suharto terhadap PKI, sesuatu yang tidak benar sudah terasa 

dengan pelekatan erat kedua peristiwa ini . Sepanjang akhir 1965 

sampai awal 1966 Presiden Sukarno terus-menerus memprotes bahwa 

Angkatan Darat “mau membunuh tikus seluruh rumahnya dibakar.”56 

Kampanye anti-PKI sama sekali menjadi tidak sepadan dengan alasan 

senyatanya. Pada dasarnya G-30-S merupakan suatu peristiwa yang relatif 

berskala kecil di Jakarta dan Jawa Tengah, yang sudah berakhir paling 

lambat 3 Oktober 1965. Secara keseluruhan G-30-S telah membunuh 

dua belas orang.57 Suharto membesar-besarkannya sedemikian rupa 

sehingga peristiwa itu tampak seperti sebuah konspirasi nasional berkelan-

jutan untuk melakukan pembunuhan massal. Berjuta-juta orang yang 

berhubungan dengan PKI, bahkan para petani buta huruf di dusun-

dusun terpencil, ditampilkan sebagai gerombolan pembunuh yang secara 

kolektif bertanggung jawab atas G-30-S. Setiap orang yang ditahan 

militer dituduh sebagai “langsung atau tidak langsung terlibat dalam 

Gerakan 30 September,” jika kita mengutip dari surat keterangan yang 

diberikan kepada tahanan politik pada saat ia dibebaskan. (Perhatikan 

27

 

istilah karet tidak langsung.) Dua orang pakar tentang Indonesia dari 

Cornell University, Benedict Anderson dan Ruth McVey, pada awal 1966 

mengamati bahwa tentara Suharto telah memulai kampanye antikomunis 

cukup lama sesudah G-30-S hancur dan tidak menunjukkan tanda-tanda 

akan bangkit kembali. Di antara saat G-30-S tamat riwayatnya dengan 

saat penangkapan massal oleh tentara dimulai, “tiga minggu berlalu tanpa 

adanya kekerasan atau tanda-tanda terjadinya perang saudara, bahkan 

menurut Angkatan Darat sendiri.” Dua penulis itu berpendapat bahwa 

G-30-S dan kampanye antikomunis yang mengikutinya “merupakan 

fenomena politik yang sama sekali terpisah” (cetak miring penegas dalam 

teks asli).58 

Kekerasan yang terjadi sepanjang akhir 1965 sampai awal 1966 

harus dilihat lebih sebagai saat awal pembangunan sebuah rezim baru, 

ketimbang sebuah reaksi wajar terhadap G-30-S. Suharto dan para 

perwira tinggi Angkatan Darat lainnya memakai  G-30-S sebagai 

dalih untuk menegakkan kediktatoran militer di negeri ini. Mereka perlu 

menciptakan keadaan darurat nasional dan suasana yang sama sekali 

kacau jika hendak menumbangkan seluruh generasi kaum nasionalis 

dan menyapu bersih cita-cita kerakyatan Presiden Sukarno. Mereka me-

ngetahui bahwa mereka harus melawan pendapat umum.59 Suharto saat 

itu relatif bukan siapa-siapa, seorang pejabat biasa, yang bersiasat untuk 

menggeser sang pemimpin karismatik bangsa. Ia dan para pemimpin 

militer lainnya mengetahui bahwa mereka akan menghadapi perla-

wanan hebat jika militer melancarkan kudeta terhadap Sukarno secara 

langsung tak berselubung. Alih-alih menyerang istana terlebih dulu, 

Suharto justru menyerang warga  dengan kekerasan secepat kilat, 

lalu dengan menginjak-injak penduduk yang dicengkam ketakutan dan 

kebingungan melenggang masuk ke istana. 

Suharto sendiri, tak mengherankan, menyangkal bertanggung 

jawab atas kekerasan massal 1965-66 – pelaku jarang mau mengakui 

kejahatan mereka di hadapan publik.60 Dalam catatan resmi dinyatakan 

bahwa “penumpasan PKI” telah dilakukan melalui tindakan adminis-

tratif dan tanpa pertumpahan darah; orang yang dicurigai ditangkap, 

diperiksa untuk memastikan bersalah atau tidak, lalu dibagi dalam tiga 

golongan (A, B, dan C) sesuai tingkat keterlibatan masing-masing di 

dalam G-30-S, lalu dipenjarakan. Catatan resmi tidak pernah menyebut 

28

PENDAHULUAN

tentang pembunuhan massal.61 Dalam memoarnya Suharto menulis 

bahwa strateginya yaitu  “pengejaran, pembersihan dan penghan-

curan.”62 Ia tidak memberi tahu pembaca bahwa ada orang yang tewas 

dalam proses itu. Film mengenai G-30-S yang disponsori pemerintah juga 

tidak menggambarkan adanya penangkapan dan pembunuhan massal. 

Panel terakhir pada relief Monumen Pancasila Sakti memperlihatkan 

Letkol Untung di depan Mahmilub, seolah-olah proses hukum dengan 

kepala dingin merupakan satu-satunya bentuk reaksi militer terhadap 

G-30-S. Tidak ada tugu peringatan dibangun di Monumen Pancasila 

Sakti bagi ratusan ribu korban. Saat menyinggung tentang kekerasan yang 

terjadi, dalam kesempatan yang amat langka, Suharto menjelaskannya 

sebagai sesuatu yang bersumber pada konfl ik dalam warga . Dalam 

pidato pada 1971, ia menyampaikan analisis tentang sebab-musabab 

pembunuhan itu dalam satu kalimat singkat, “Ribuan korban djatuh 

didaerah2 sebab  rakjat bertindak sendiri2, djuga sebab  prasangka2 

buruk antar golongan yang selama bertahun2 ditanamkan oleh praktek2 

politik jang sangat sempit.”63 Dengan demikian Angkatan Darat seolah-

olah tidak memainkan peran apa pun dalam mengatur pembunuhan; 

rakyat melakukannya sendiri untuk alasan yang tidak ada kaitan dengan 

Gambar 4. Detil relief pada Monumen Pancasila Sakti: Suharto mengakhiri kekacauan, 

menciptakan ketertiban, dan mengembalikan perempuan ke rumah tangga dan kepatuhan. 

Foto: John Roosa

29

 

operasi penghancuran G-30-S oleh militer. 

Penjelasan Suharto yang singkat tentang sebab-musabab pem-

bunuhan itu bukanlah sesuatu yang unik. Banyak orang Indonesia, 

bahkan yang biasanya kritis terhadap propaganda negar