Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 13

 


postur tubuhnya sedang, rambutnya lurus, di wajahnya terdapat banyak tahi lalat, dan 

orang yang paling mirip dengannya ialah Urwah bin Mas'ud Ats-Tsaqafi.47 

Ibnu Hisyam berkata: Umar mantan budak Ghufrah dari Ibrahim bin Muhammad bin Ali bin Abu Thalib 

berkata: Ali bin Abu Thalib mengisahkan tentang ciri-ciri fisik Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, 

ia berkata: "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak terlalu tinggi dan terlalu tidak pendek, 

tingginya sedang, rambutnya tidak begitu keriting tidak begitu lurus, keritingnya seperti orang-orang 

Arab pada umumnya, badannya tidak terlalu gemuk, wajahnya tidak bulat, putih kulitnya, kedua 

matanya hitam legam, bulu matanya panjang, lebar pundaknya, rambut di dada dan perutnya tipis, 

bulu tangannya tipis, begitu juga dengan bulu kakinya, telapak tangannya keras, begitu juga telapak 

kakinya. jika  berjalan kakinya seakan tidak menginjak ta- nah. Beliau seperti berjalan menuruni 

bukit, jika menoleh maka beliau menoleh dengan menghadapkan seluruh wajahnya, di antara kedua 

bahunya terdapat tanda kenabian dan itulah tanda semua para nabi. Orang yang paling suka memberi, 

paling suka memaafkan, paling benar ucapannya, paling menetapi janji, paling lembut akhlaknya, 

paling mulia pergaulannya. Siapa yang melihatnya maka ia segan padanya dan barangsiapa bergaul 

dengannya ia pasti mencintainya dan orang yang menyifati ciri-ciri beliau berkata: "Seumur hidupku 

belum pernah melihat orang yang mirip dengan Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam."48 

 

Ibnu lshaq berkata: Seperti disampaikan kepadaku, dari Ummu Hani' binti Abdul Muthalib 

Radhiyallahu Anha (ia bernama asli Hindun) mengenai peristiwa isra' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam, berkata: "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di isra-kan tatkala beliau sedang berada di 

rumahku. Malam itu, beliau tidur di rumahku. Dia mengakhirkan shalat Isva', lalu tidur dan kamibpun 

tidur. Menjelang Shubuh, Rasulullah membangunkan kami. sesudah  shalat Shubuh bersama, Rasulullah 

berkata: "Wahai Ummu Hani', sesudah  aku mengakhirkan shalat Isya' seperti yang engkau lihat, 

lalu  aku pergi ke Baitul Maqdis, dan shalat di sana. sesudah  itu, barulah aku mengerjakan shalat 

Shubuh bersama kalian sekarang seperti yang kalian lihat."49 lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam keluar namun aku halangi. Aku berkata kepadanya: "Wahai Nabi Allah, sembunyikan 

peristiwa ini dari manusia, sebab jika kau ceritakan nanti mereka pasti mendustakanmu dan 

mempermainkanmu." Rasulullah Shallailahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Demi Allah, aku pasti 

menceritakan peristiwa ini kepada mereka." Aku berkata kepada budakku dari Habasyah: "Sana, 

ikutilah Muhammad dan dengarkan apa yang dia katakan kepada manusia dan apa yang dikatakan 

manusia kepadanya." jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertemu dengan orang-orang, 

beliau bercerita kepada mereka dan mereka terheran-heran. Mereka berkata: "Hai Muhammad, apa 

buktinya kalau ceritamu itu benar, sebab kami belum pernah sekalipun mendengar cerita model ini 

sebelum ini." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Buktinya yaitu , aku melihat kafilah 

Bani Fulan di lembah ini dan di lembah itu. Mereka lari kocar-kacir ketakutan karena mendengar suara 

hewan. Aku terus berjalan hingga tiba di daerah Dhajnan, aku menghampiri kafilah Bani Fulan dan aku 

lihat mereka sedang dalam keadaan tidur. Mereka mempunyai wadah berisi air yang mereka tutupi 

dengan sesuatu, lalu aku buka tutupnya, lalu  aku minum air yang ada di dalamnya. sesudah  itu 

aku menutupnya lagi sebagaimana semula. Dan sekarang kafilah ini  singgah di Baidha' di 

Tsaniyyatun Tan'im. Mereka didahului unta berwarna abu-abu dan di unta ini  terdapat dua 

karung; satu berwarna hitam dan satunya warna-warni Orang-orang itu segera pergi ke Tsaniyyah dan 

mereka berjumpa dengan rombongan itu lebih dahulu sebagaimana yang telah diceritakan Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada mereka. Mereka bertanya kepada kafilah ini  tentang wadah 

berisi air, lalu  kafilah ini  menjawab bahwa memang mereka mengisi wadah ini  

penuh dengan air dan menutupnya, dan sesudah  itu tidur. Namun jika  mereka bangun mereka tidak 

mendapat  air di dalamnya, padahal wadah ini  tertutup rapat. Mereka juga bertanya kepada 

orang-orang lain di Makkah, lalu  orang-orang yang ditanya ini  menjawab: "Demi Allah, dia 

berkata benar. Kami lari kocar-kacir di lembah yang dia ceritakan." 

 

 

 

Kisah Mi'raj 

 

Ibnu Ishaq berkata: Berkata kepadaku dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu yang berkata bahwa 

ia mendengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "jika  aku telah menuntaskan 

seluruh urusan di Baitul Maqdis, aku melakukan mi'raj dan aku tidak pernah menyaksikan sebuah 

peristiwa yang lebih indah dibandingkan  peristiwa itu, yakni seperti seseorang yang melihat kematian saat 

sedang menjelang ajal. Lalu malaikat Jibril membawaku naik hingga tiba di salah satu gerbang langit. 

Gerbang langit ini  bernama Gerbang Al-Hafazhah (Para Penjaga). Pintu Al-Hafazhah dijaga salah 

satu malaikat yang bernama Ismail yang ngomandoi dua belas ribu malaikat dan setiap satu dari 

mereka juga mengomandoi dua belas ribu malaikat." Ditengah-tengah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam menceritakan peristiwa mi'raj, beliau melantunkan firman Allah Ta'ala: 

 

Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tu- hanmu melainkan Dia sendiri. (QS. al-Mudatstsir: 31). 

Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam melanjutkan lagi: "jika  Jibril masuk bersamaku," Malaikat 

Ismail bertanya: "Siapa orang ini?" Malaikat Jibril menjawab, "Dia Muhammad." Malaikat Ismail 

bertanya: "Apakah dia sudah diutus?" Malaikat Jibril menjawab: "Ya. Sudah." Malaikat Ismail lalu 

berdoa untukku."50 

 

Ibnu Ishaq berkata: Sebagian pakar bercerita kepadaku dari orang yang berbicara dengan Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Para malaikat 

menyambut kedatanganku pada saat aku tiba di langit dunia. Semua dari para malaikat, tersenyum 

dan memberi kabar gembira kepadaku, ia tidak tertawa dan tidak tampak wajah gembira padanya 

sebagaimana yang terlihat pada malaikat-malaikat yang lain. Aku bertanya kepada 

Jibril: "Wahai jibril, siapakah malaikat ini?" Malaikat Jibril berkata kepadaku: "Dia yaitu  malaikat 

penjaga neraka." Aku bertanya kepada Jibril dan kedudukan Malaikat Jibril di sisi Allah seperti yang 

pernah dijelaskan Allah Ta'ala kepada kalian, Yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. 

(QS. At- Takwir: 21). Dan bisakah dia memperlihatkan neraka kepadaku?" Malaikat Jibril berkata: "Ya." 

lalu  Malaikat Jibril berkata: "Wahai Malaikat perlihatkanlah neraka kepada Muhammad!" 

Malaikat penjaga neraka pun membuka pintu neraka. Api neraka ini  menyala-nyala hingga aku 

menduga bahwa ia pasti akan menghanguskan apa saja yang saya saksikan. Aku berkata kepada 

Malaikat Jibril: "Wahai Jibril, perintahkan malaikat ini  untuk menutup kembali pintu neraka ke 

seperti semula." Malaikat Jibril pun memerintahkan kepada malaikat penjaga neraka dengan berkata 

kepadanya: "Padamkanlah neraka itu." lalu  neraka kembali seperti sedia kala."51 

 

Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu melanjutkan haditsnya dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam yang bersabda: 

"jika  aku tiba di langit dunia, aku melihat seseorang sedang duduk dan arwah-arwah diperlihatkan 

kepadanya. Jika arwah ini  diperlihatkan kepadanya dalam keadaan baik dan ia senang 

dengannya, orang ini  berkata: "Ini arwah yang baik yang keluar dari raga yang baik." Jika 

sebaliknya, ia akan berkata dengan wajah muram. "Ini arwah jelek yang keluar dari raga yang jahat." 

Aku bertanya kepada Malaikat Jibril: "Siapakah dia wahai Jibril?" Jibril berkata: "Dia yaitu  nenek 

moyangmu, Adam. Semua arwah anak keturunannya diperlihatkan kepadanya. Jika arwah orang 

Mukmin dilewatkan padanya, ia sangat gembira dengannya, sambil berkata: "Ini arwah yang baik yang 

keluar dari raga yang baik. Jika arwah salah seorang kafir diperlihatkan kepadanya, ia mengatakan 

'ahh' (uff) kepadanya, membencinya dan merasa terganggu dengannya, sambil berkata: "Ini arwah 

jelek yang keluar dari raga yang jelek." 

lalu  aku melihat orang-orang yang bibirnya laksana bibir unta di tangannya ada bara api dari 

neraka sebesar batu segenggam tangan. Mereka memasukkan bara api ini  ke dalam mulut 

mereka, lalu bara dari neraka ini  keluar lagi dari dubur mereka. Aku berkata: "Siapa mereka itu 

wahai Jibril?" Jibril berkata: "Mereka pemakan harta anak yatim secara zalim." 

lalu  aku melihat orang-orang dengan perut yang sangat aneh. Mereka duduk di jalan yang akan 

dilalui keluarga Fir'aun seperti unta yang kehausan. jika  keluarga Fir'aun akan dibakar dengan api 

neraka, mereka menginjak orang-orang ini  dan mereka tidak mampu pindah dari tempat 

mereka. Aku berkata: "Siapa mereka, wahai Jibril?" Jibril menjawab, "Mereka para pemakan harta 

riba'." 

Lalu aku melihat orang-orang yang memegang daging yang empuk dan di sampingnya terdapat daging 

keras yang busuk. Mereka memakan daging yang busuk ini  dan tidak mau memakan daging yang 

empuk tadi. Aku bertanya kepada Jibril: "Siapakah mereka, wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Mereka 

orang-orang yang." 

lalu  aku melihat wanita-wanita yang digantung pada payudara mereka sendiri. Aku bertanya: 

"Siapakah mereka itu wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Mereka wanita-wanita yang suka berbuat 

mesum dengan laki-laki lain saat suami dan anaknya tidak ada di rumah." 

Ibnu Ishaq berkata: Ja'far bin Amr bercerita kepadaku dari Al-Qasim bin Muham¬mad bahwa 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 

"Kemurkaan Allah sangat keras terhadap wanita yang memasukkan laki-laki yang bukan berasal dari 

keluarganya, lalu  laki-laki ini  memakan harta mereka dan melihat auratnya."52 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Sa id Al-Khudri bercerita bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

bersabda: "Malaikat Jibril lalu membawaku terbang ke langit kedua. Di sana aku berjumpa Isa bin 

Maryam dan Yahya bin Zakaria. lalu  Jibril membawaku naik ke langit ketiga. Di sana aku 

berjumpa seorang laki-laki yang postur tubuhnya seperti bulan kala purnama. Aku bertanya: "Siapakah 

dia, wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Ini saudaramu, Yusuf bin Yaqub." lalu  Jibril membawaku 

terbang ke langit keempat. Di sana aku berjumpa seorang laki-laki. Aku bertanya, "Siapakah dia wahai, 

wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Dia Idris." Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membaca ayat, 

"Dan Kami mengangkatnya ke tempat yang tinggi" lalu  Malaikat Jibril membawaku terbang ke 

langit kelima. Di sana aku bertemu orang tua yang rambut dan jenggotnya memutih lebat dan aku 

tidak pernah melihat orang tua setampan dirinya. Aku bertanya: "Siapakah dia wahai Jibril?" Jibril 

menjawab: "Dia orang yang kharismatik di tengah kaumnya, dia Harun bin Imran." Malaikat Jibril 

membawaku terbang ke langit keenam. Di sana aku berjumpa orang yang kulitnya berwarna sawo 

matang, tinggi, berhidung mancung dan seperti orang dari kabilah Syanu'ah. Aku bertanya: "Siapakah 

lelaki itu wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Dia Musa bin Imran." lalu  Jibril membawaku terbang 

ke langit ketujuh. Di sana aku bertemu orang tua sedang duduk di atas kursi di pintu Baitul Makmur 

yang setiap hari didatangi tujuh puluh ribu malaikat yang tidak meninggalkannya hingga Hari Kiamat. 

Dia sangat mirip denganku. Aku bertanya: "Siapa dia wahai Jibril?" Malaikat Jibril menjawab: "Dia 

Ibrahim." lalu  Jibril membawaku masuk ke dalam surga. Di sana, aku melihat seorang 

perempuan yang berkulit merah agak "hitam". Aku bertanya kepadanya, "Siapa engkau?" Wanita 

ini  berkata: " Aku milik Zaid bin Haritsah." lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

memberitahukan kabar gembira ini kepada Zaid bin Haritsah." 

Ibnu Ishaq berkata: Dari riwayat Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Anhu —sebagaimana kabar yang 

sampai padaku— dari Nabi Mu¬hammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam bahwa setiap kali Malaikat Jibril 

membawa tentang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ke salah satu langit dan meminta izin masuk, 

maka para malaikat penjaganya berkata kepada Jibril: "Siapa dia wahai Jibri!?" Jibril menjawab: 

"Muhammad." Para Malaikat berkata: "Apakah dia sudah diutus?" Jibril menjawab: "Ya." Para 

malaikat berkata: "Semoga Allah memberinya keselamatan." Demikianlah yang terjadi dengannya 

hingga sampai di langit ketujuh, lalu beliau menghadap kepada Tuhan-Nya dan Allah mewajibkan 

kepadanya lima puluh shalat wajib dalam sehari. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "lalu  aku keluar dan berpapasan dengan Musa 

bin Imran. la bertanya kepadaku: "Berapa kali Allah mewajibkan shalat kepadamu?" Aku menjawab: 

"Lima puluh kali dalam sehari." Nabi Musa berkata: "sebenarnya  lima puluh kali itu berat 

dilaksanakan apalagi umatmu itu lemah. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah Dia memberi 

dispensasi shalat bagimu dan bagi umatmu." lalu  aku kembali kepada Tuhanku dan meminta-

Nya memberi keringanan shalat bagiku dan bagi umatku, lalu  Allah mengurangi sepuluh shalat 

dariku. lalu  aku keluar dan kembali berpapasan dengan Musa. Musa mengatakan kepadaku 

seperti yang dia katakan sebelumnya. lalu  aku kembali menghadap Tuhanku dan memintaNya 

memberi dispensasi bagiku dan bagi umatku, lalu  Allah mengurangi sepuluh shalat dariku. Lalu 

aku keluar, kembali aku berpapasan dengan Musa dan ia kembali berkata sebagaimana sebelumnya. 

Aku pun kembali menghadap Allah dan meminta pada-Nya dispensasi lagi, lalu  Allah 

mengurangi sepuluh shalat dariku. Lalu aku balik lagi dan kembali berpapasan dengan Musa yang tak 

pernah henti mengatakan seperti itu setiap kali aku pulang dari Allah: "Kembali dan mintalah 

keringanan!!" lalu  aku kembali menghadap Tuhanku dan meminta-Nya memberi keringanan 

shalat bagiku dan bagi umatku, hingga akhirnya Allah menetapkan shalat lima waktu bagiku dalam 

sehari dan semalam. lalu  aku menemui Nabi Musa, ia berkata sebagaimana sebelumnya. Aku 

berkata kepadanya, "Aku telah bolak-balik menghadap Tuhanku dan meminta-Nya hingga aku merasa 

malu kepada-Nya. Aku tidak akan melakukannya lagi." Jika salah seorang dari kalian mengerjakan 

shalat lima waktu dengan mengimaninya dan mengharap ridha Allah, ia mendapat  pahala 

sebanyak lima puluh shalat (yang diwajibkan)."53 

 

 

Perlindungan Allah terhadap Rasululllah dari Cemoohan Para Pencemooh 

 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam senantiasa melaksanakan perintah Allah 

Ta'ala dengan sabar dan mengharap ridha-Nya dan menyampaikan nasihat kepada kaumnya. 

Meskipun beliau didustakan dan dapat gangguan dan cemoohan. Tokoh-tokoh yang gemar menghina 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam seperti disampaikan oleh Yazid bin Ruman dari Urwah bin 

Zubair kepadaku- ada lima orang. Mereka yaitu  para tokoh yang ditaati kaumnya masing-masing. 

Pencemooh dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab yaitu  Al-Aswad bin Al-Muthalib bin 

Asad Abu Zam'ah. jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar Al-Aswad bin Al-Muthalib 

suka mencemooh, beliau mendoakan kejelekan un- tuknya dengan berdoa: "Ya Allah, buatlah ia buta 

dan hancurkanlah ia.54 

 

Dari Bani Zuhrah bin Kilab yaitu  Al-Aswad bin Abdu Yaghuts bin Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah. 

Dari Bani Makhzum bin Yaqdzah bin Murrah yaitu  Al-Walid bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar 

bin Makhzum. 

Dari Bani Sahm bin Amr Hushaish bin Ka'ab yaitu  Al-Ash bin Wail bin Hisyam 

Ibnu Hisyam berkata: Al-Ash yaitu  anak Wail bin Hasyim bin Su'aid bin Sahm. 

Dari Bani Khuza'ah yaitu  Al-Harits bin Ath-Thulathilah bin Amr bin Al-Harits bin Abdu Amr bin Luay 

bin Malakan. 

Mereka tanpa henti terus mencemooh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, hingga Allah Ta'ala 

menurunkan ayat berikut: 

 

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan 

berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. sebenarnya  Kami memelihara kamu dibandingkan  

(kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu), (yaitu orang-orang yang menganggap 

adanya tuhan yang lain di samping Allah; maka mereka kelak akan mengetahui (akibat-akibatnya). 

(QS. al-Hijr: 94-96). 

Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ruman bercerita kepadaku dari Urwah bin Zubair atau orang selain 

Urwah bin Zubair dari kalangan pakar terpercaya bahwa Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika  orang-orang Quraisy thawaf di Baitullah dan Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam berdiri di sisinya. Malaikat Jibril berjalan melewati Al-Aswad bin Al-Muthalib, 

lalu  melemparkan daun hijau ke wajahnya dan Al-Aswad bin Al-Muthalib pun menjadi buta. 

Malaikat Jibril lalu  berjalan melewati Al-Aswad bin Abdu Yaghuts, lalu  Malaikat Jibril 

mendoakan keburukan pada perutnya hingga membengkak dan dia mati karena perut kembung 

(gembur). Malaikat Jibril lalu berjalan melewati Al-Walid bin Al-Mughirah, lalu  mendoakan 

keburukan agar bekas luka di bawah telapak kakinya kambuh kembali hingga membawa kepada 

kematiannya. Malaikat Jibril berjalan lagi melewati Al-Ash bin Wail, lalu  mendoakan keburukan 

agar kaki bagian dalam Al-Aswad bin Wail terluka hingga membuatnya mati. Malaikat Jibril berjalan 

melewati Al-Harits Ath-Thulatilah sambil mendoakan keburukan ke kepalanya, lalu  kepalanya 

mengeluarkan nanah dan ia mati karenanya. 

 

 

Kisah Abu Uzaihir al-Dausi 

 

Ibnu Ishaq berkata: jika  hendak mening- gal dunia Al-Walid bin Al-Mughirah, anak- anaknya yang 

berjumlah tiga orang, yakni Hisyam bin Al-Walid, Al-Walid bin Al-Walid dan Khalid bin Al-Walid berada 

di sisinya. Ia berkata kepada mereka: "Aku wasiatkan tiga hal kepada kalian dan penuhilah itu semua. 

Darahku di Khuza'ah, jangan kalian biarkan begitu saja tumpah tanpa ada balas dendam terhadapnya. 

Demi Allah, mereka memang berhasil lolos darinya namun aku khawatir kalian akan dicaci maki 

nantinya. Uang ribaku ada di Tsaqif, cepatlah kalian mengambilnya. Uang diyatku ada pada tangan 

Abu Uzaihir Ad-Dausi, cepat kalian ambil darinya." 

Abu Uzaihir telah menikahkan Al-Walid bin Al-Mughirah dengan putrinya, lalu  Abu Uzaihir Ad-

Dausi tidak mempertemukan putrinya dengan Al-Walid bin Al-Mughirah. Sehingga, Al-Walid bin Al-

Mughirah tidak bisa menggauli istrinya (putri Abu Uzaihir Ad- Dausi) sampai ia meninggal dunia. jika  

Al- Walid bin Al-Mughirah wafat, Bani Makhzum pergi kepada Khuza'ah untuk meminta uang tebusan 

kematian Al-Walid bin Al-Mughirah. Orang-orang dari Bani Khuza'ah berkata: "sebenarnya  

penyebab kematian Al-Walid bin Al-Mughirah yaitu  karena terkena anak pa- nah milik salah seorang 

dari sahabat-sahabat kalian sendiri." Bani Ka'ab memiliki kedekatan dengan Bani Abdul Muthalib bin 

Hasyim. Bani Khuza'ah menolak keras membayar diyat atas kematian Al-Walid bin Al-Mughirah 

kepada Bani Makhzum, hingga mereka membuat banyak sekali syair-syair dan menimbulkan konflik 

yang sengit di antara mereka. Anak panah yang mengenai Al-Walid bin Al-Mughirah yaitu  milik 

seorang pemuda dari Bani Ka'ab bin Amr dari Khuza'ah. 

Kedua kubu besar ini saling serang tanpa henti, namun lama-kelamaan mereka sadar bahwa jika hal 

ini dibiarkan berlarut-larut maka akan terjadi caci-maki terhadap salah satu kaum. Maka Khuza'ah pun 

rela untuk mengganti rugi kematian Al-Walid bin Al- Mughirah kepada Bani Makhzum dan kedua belah 

pihakpun akhirnya berdamai. 

Al-Jaun bin Abu Al-Jaun terus saja berbangga diri atas kematian Al-Walid dan bahwa Bani Khuza'ah 

yang berhasil menciderai Al-Walid, padahal semua itu tidak benar. Al-Jaun bin Abu Al-Jaun lalu pergi 

menyusul Al-Walid dan anaknya. Kaum Al-Jaun bin Abu Al-Jauh sedikitpun tidak khawatir atas apa 

yang diperbuat Al-Jaun bin Abu Al-Jaun. 

Ibnu Hisyam berkata: Saya tidak tuliskan di sini satu bait syair yang sangat jorok dan vulgar. 

Ibnu Ishaq berkata: Hisyam bin Al-Walid lalu  pergi menghadap Abu Uzaihir yang pada saat itu 

sedang berada di pasar Dzi Al-Majaz sedangkan putrinya Atikah binti Uzaihir telah menjadi istri Abu 

Sufyan bin Harb. Abu Uzaihir yaitu  orang terpandang di tengah kaumnya, lalu  Hisyam bin Al-

Walid menghabisi Abu Uzaihir karena uang denda Al-Walid bin Al-Mughirah ada padanya seba- 

gaimana yang diwasiatkan ayahnya. 

Peristiwa ini terjadi sesudah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah dan pasca 

Perang Badar Kubra yang menghilangkan banyak sekali nyawa tokoh dan pemuka kaum musyrikin 

Quraisy. jika  Abu Sufyan bin Harb sedang berada di pasar Dzi Al-Majaz, Yazid bin Abu Sufyan bin 

Harb keluar dari rumahnya untuk mengumpulkan Bani Abdu Manaf. Orang-orang Quraisy pun berkata: 

"Abu Sufyan ingin membalas dendam atas kematiannya." jika  Abu Sufyan mendengar apa yang 

dilakukan anaknya, sedangkan Abu Sufyan dikenal memiliki perangai yang lembut dan santun amat 

mencintai kaumnya, maka ia segera turun ke Makkah. Ia khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk 

terhadap orang-orang Quraisy akibat kematian Abu Uzaihir. Abu Sufyan bin Harb menghampiri 

anaknya Yazid yang sedang menenteng tombak di tengah-tengah kaumnya, Bani Abdu Manaf dan 

orang-orang Al-Muthaiyyibin. Abu Sufyan bin Harb mengambil tombak dari tangan Yazid dan 

memukulkannya ke kepala Yazid sehingga ia terdiam. Abu Sufyan bin Harb berkata kepada Yazid: 

"Dasar sialan! Apakah engkau mau mengadu domba sesama sebagian orang Quraisy hanya karena 

masalah seseorang dari Daus. Kita akan beri ganti rugi kepada mereka jika mereka mau 

menerimanya." Mendengar itu, Hassan bin Tsabit bangkit mendorong pembalasan darah Abu Uzaihir. 

la kritik habis-habisan sikap pengecut Abu Sufyan. Ia berkata: 

Mendengar kritikan Hassan bin Tsabit, Abu Sufyan menukas: "Hassan bin Tsabit ingin mengadu domba 

kita semua gara-gara masalah orang dari Daus. Demi Allah, buruk benar apa yang dipikirkannya. 

Tatkala orang-orang Thaif telah masuk Islam, Khalid bin Al-Walid berkata kepada Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam tentang uang riba Al-Walid bin Al-Mughirah yang ada di tangan Tsaqif karena ayahnya 

telah berwasiat untuk mengambilnya. 

Ibnu Ishaq berkata: Sebagian ahli berkata kepadaku, ayat-ayat tentang pengharaman sisa riba yang 

masih beredar di tengah orang-orang diturunkan karena Khalid bin Al-Walid. Ayat ini  yaitu , 

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum 

dipungut) jika kalian orang-orang yang beriman." (QS. al- Baqarah: 278). 

 

 

Pemberontakan Daus untuk Membalas Dendam Atas Kematian Uzaihir dan Tentang Ummu Ghaylan 

 

Ibnu Ishaq berkata: Sepanjang yang kami ketahui tidak ada balas dendam atas kematian Abu Uzaihir, 

hingga Islam memberikan batasan yang jelas antara manusia. Namun Dhirar bin Al-Khaththab bin 

Mirdas Al-Fihri bersama beberapa orang Quraisy datang ke perkampunan Daus. Mereka menemui 

Ummu Ghailan, eks budak salah seorang dari Daus. Ummu Ghailan yaitu  pendeta rambut wanita dan 

mempersiapkan para pengantin. Orang-orang dari kabilah Daus ingin menghabisi orang-orang Quraisy 

ini  sebagai balas dendam atas kematian Abu Uzaihir. Namun Ummu Ghailan dan perempuan-

perempuan yang berasa bersamanya bangkit melindungi orang-orang Quraisy tadi. Dhirar bin Al- 

Khaththab berkata tentang peristiwa ini : 

Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah bercerita kepadaku, wanita yang menyelamatkan Dhirar bin Al-

Khaththab yaitu  Ummu Jamil. Ada Jagi yang berpendapat bahwa wanita ini  yaitu  Ummu 

Ghailan. Namun bisa saja Ummu Ghailan bersama-sama dengan Ummu Jamil menyelematkan Dhirar 

bin Al-Khaththab. 

jika  Umar bin Khaththab diangkat menjadi khalifah, Ummu Jamil datang mengunjunginya, Ummu 

Jamil menganggap bahwa Umar bin Khaththab yaitu  saudara Dhirar. jika  Ummu Jamil 

mengisahkan nasabnya. Umar bin Khaththab berkata: "sebenarnya  aku tidak lagi menjadi sau- 

daranya, sebab saudaraku hanya dalam Islam. Ia sedang berperang. Aku mengetahui jasamu 

terhadapnya." lalu  Umar bin Khaththab memberinya harta kepada Ummu Jamil karena ia dalam 

kondisi musafir. 

Ibnu Hisyam berkata: Pada Perang Uhud, Dhirar berkata kepada Umar bin Khaththab: "Berbahagialah, 

wahai anak lelaki Khaththab, aku tidak akan membunuhmu." Umar bin Khaththab lalu mengenalkan 

Ummu Jamil kepada Dhirar bin Khaththab sesudah  ia memeluk Islam. 

 

 

Abu Thalib dan Khadijah Meninggal Dunia dan Apa yang Terjadi Sebelum dan sesudah  Itu 

 

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy yang suka mengusik Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

di rumah beliau ialah Abu Lahab, Al-Hakam bin Al-Ash bin Umayyah, Uqbah bin Abu Mu'aith, Adi bin 

Hamra' Ats-Tsaqafi dan Ibnu Al-Ashda' Al-Hudzali. Mereka yaitu  tetangga Rasulullah Shal¬lalahu 

'alaihi wa Sallam. Di antara mereka, yang masuk Islam hanyalah Al-Hakam bin Abu Al-Ash. Suatu 

jika , salah seorang dari mereka melemparkan usus kambing kepada Rasulullah Shallalahu alaihi wa 

Sallam pada saat beliau sedang shalat. Seperti dikatakan kepadaku oleh Umar bin Abdullah bin Urwah 

bin Zubair dari Urwah bin Az-Zubayr, bahwa jika dilempari oleh mereka, beliau keluar dengan 

membawa ranting pohon lalu  usus ini  dengannya sambil berkata: "Hai Bani Abdu Manaf, 

hubungan bertetangga macam apakah ini?"lalu  beliau melemparkannya di jalan. 

Ibnu Ishaq berkata: Pada tahun ini Khadijah wafat dan pada tahun yang sama, Abu Thalib juga 

meninggal dunia. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendapat  banyak sekali ujian kehidupan 

sesudah  wafatnya Khadijah, karena sebelumnya Khadijah bagaikan penasihat beliau yang jujur dalam 

Islam; beliau mencurhatkan seluruh persoalannya kepadanya. Pasca kematian Abu Thalib kehidupan 

beliau kian bertambah sulit, karena Abu Thalib yaitu  pelindung beliau, pemelihara dalam semua 

urusan beliau, orang yang sangat senantiasa mendukung dan membantu dalam menghadapi kaum 

beliau. Peristiwa ini  terjadi tiga tahun sebelum Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hijrah ke 

Madinah. Tatkala Abu Thalib wafat, orang-orang Quraisy semakin leluasa mengganggu Rasulullah 

Shallalahu alaihi wa Sallam yang tidak mungkin mereka dapat melakukannya semasa Abu Thalib masih 

hidup. Suatu jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dihadang oleh laki-laki stress dari Quraisy 

lalu  ia menaburkan tanah ke atas kepala beliau. 

Ibnu Ishaq berkata: Hisyam bin Urwah bercerita kepadaku dari ayahnya, Urwah bin Zubair yang 

berkata: "sesudah  orang stress ini  menaburkan tanah ke atas kepala Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam, beliau pulang ke rumah dalam keadaan tanah tadi masih ada di atas kepala beliau. Salah 

seorang dari putri beliau berdiri untuk membersihkan kepala beliau sambil menangis. Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: "Jangan menangis, karena sebenarnya  Allah 

senantiasa menjaga ayahmu." Beliau juga berkata: "Orang-orang Quraisy selalu gagal melakukan 

aksinya kepadaku hingga Abu Thalib meninggal dunia."55 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat orang-orang Quraisy mendengar sakit Abu Thalib, sebagian mereka 

berkata kepada sebagian yang lain: "sebenarnya  Hamzah dan Umar telah masuk Islam dan Islam 

telah menyebar luas di kabilah-kabilah Quraisy secara keseluruhan. Oleh karenanya, mari kita jenguk 

Abu Thalib dan menasihatinya agar menghentikan dakwah keponakannya. Demi Allah, kita tidak akan 

pernah merasa hidup nyaman kalau dia menguasai masalah kita." 

Ibnu Ishaq berkata: Al-Abbas bin Abdullah bin Muabbad berkata, dari sebagian keluarganya, dari Ibnu 

Abbas ia berkata: Orang-orang Quraisy itu lalu datang kepada Abu Thalib dan merayunya. Mereka 

yaitu  Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu Jahal bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf dan Abu 

Sufyan dalam rombongan tokoh-tokoh Quraisy. Mereka berkata kepada Abu Thalib, "Hai Abu Thalib, 

seperti telah engkau ketahui sebenarnya  engkau bagian dari kami dan kami khawatir atas 

kondisimu. Sungguh engkau telah menyaksikan sendiri pertentangan antara kami dengan ponakanmu. 

Oleh karenanya, panggillah dia, katakan apa yang dia mau, maka kami akan mengabulkannya dan 

sesudah  itu kami sebutkan keinginan kami yang harus dia penuhi agar dengan cara itu, ia menahan diri 

dari kami dan kamipun menahan diri dari dia, dia membiarkan kami pada agama kami dan kami 

membiarkannya berada pada agamanya. Abu Thalib memanggil Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

lalu  beliau datang menemui Abu Thalib. Abu Thalib berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam: "Wahai keponakanku, orang-orang ini yaitu  pembesar kaummu. Mereka sepakat untuk 

memberikan sesuatu kepadamu dan sebagai gantinya mereka mendapat  sesuatu pula darimu." 

Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam bersabda: "Baiklah, Wahai pamanku, hanya ada satu kalimat. 

Jika mereka memberikannya padaku, maka mereka dapat menguasai Arab, dan orang-orang non-Arab 

akan tunduk kepada kalian." Abu Jahal berkata: "Ya, jangankan satu, sepuluh kalimat pun boleh kau 

ucapkan." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Katakanlah Laa Ilaaha ilia Allah dan 

tinggalkan apa saja yang kalian sembah selain Allah." Tokoh-tokoh Quraisy bertepuk tangan, lalu  

mereka berkata: "Wahai Muhammad, apakah engkau mau menjadikan tuhan-tuhan itu satu saja? 

Sungguh, ini sangatlah konyol." Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain: "Demi Allah, 

orang ini hanya mempermainkan kita. Pulanglah kalian dan berpegang teguhlah kalian kepada agama 

leluhur kalian, hingga Allah memutuskan perkara di antara kita dan dirinya." sesudah  itu, mereka keluar 

berpencar dari rumah Abu Thalib. 

Sejurus lalu  Abu Thalib berkata kepada Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam: "Demi Allah, 

wahai ponakanku, permintaanmu itu sebenarnya sangatlah ringan." jika  Abu Thalib berkata seperti 

itu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam mengharapkannya masuk Islam. Beliau berkata kepada Abu 

Thalib; '"Wahai pamanda, ucapkanlah satu kalimat, maka dengan kalimat ini  engKau aKan 

menaapatKan syataatKu pada Hari Kiamat." jika  Abu Thalib melihat keseriusan Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam terhadap dirinya, ia berkata: "Wahai keponakanku, kalaulah bukan karena 

aku khawatir mendapat  kecaman terhadapmu, anak-anak kakekmu sepeninggalku dan kalaulah 

tidak khawatir orang-orang Quraisy menuduhku mengatakannya karena aku ta kut mati, pastilah aku 

mengucapkannya. Aku juga tidak mau mengucapkannya hanya untuk menyenangkanmu." jika  ajal 

Abu Thalib semakin dekat, Al-Abbas melihatnya meng- gerak-gerakkan kedua bibirnya, lalu  ia 

mendengarnya dengan telinganya. Al-Abbas berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: 

"Wahai keponakanku, demi Allah, sungguh saudaraku telah mengucapkan kalimat ini ." 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku tidak mendengar."56 

 

Ibnu Ishaq berkata: Allah lalu menurunkan ayat tentang orang-orang Quraisy tadi. 

 

Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam 

kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum merekayang telah Kami 

binasakan, lalu mereka meminta tolongpadahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. 

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan 

mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini yaitu  seorang ahli sihir yang banyak berdusta." 

Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yangsatu saja? sebenarnya  ini benar-benar suatu 

hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): 

"Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sebenarnya  ini benar-benar suatu hal 

yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan 

Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan, (QS. Shaad: 1-7). 

Agama terakhir dalam ayat di atas ialah agama Kristen, karena mereka berkata: "sebenarnya  Allah 

yaitu  satu dari yang tiga" (QS. al-Maidah: 73). "Dan ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah 

(dusta) yang diada-adakan" (QS. Shaad: 7) Tidak lama lalu , Abu Thalib meninggal dunia. 

 

 

Rasulullah Menuju Thaif Meminta Bantuan 

 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Abu Thalib bebas, orang-orang Quraisy semakin mengganggu Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak sebagaimana gangguan yang mereka lakukan semasa hidupnya Abu 

Thalib. Kondisi ini memaksa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi ke Thaif untuk mencari 

pertolongan dan perlindungan dari Tsaqif atas serangan yang dilancarkan oleh kaum Quraisy, dengan 

harapan mereka menerima apa yang beliau bawa dari Allah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

pergi sendirian ke sana. 

Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ziyad berkata kepadaku dari Muhammad bin Ka'ab Al-Qurazhi ia berkata: 

Setibanya di Thaif, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menemui pemimpin-pemimpin Tsaqif dan 

tokoh-tokoh mereka. Orang-orang ini  yaitu  tiga bersaudara: Abdu Yalail bin Amr bin Umair, 

Mas'ud bin Amr bin Umair dan Habib bin Amr bin Umair bin Auf bin Aqdah bin Ghirah bin Auf bin 

Tsaqif. Salah seorang dari mereka bertiga beristrikan wanita dari Quraisy. Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam men- datangi mereka, berdakwah kepada mereka dan berdialog dengan mereka tentang 

tujuan kedatangannya kepada mereka yaitu mencari orang yang bersedia menolongnya menegakkan 

Islam dan berjuang bersama beliau dalam menghadapi kaumnya yang menentangnya. Salah seorang 

dari mereka bertiga berkata: "Saya akan merobek kain Ka'bah jika benar kau yaitu  utusan-Nya." 

Orang kedua berkata: "Apakah Allah tidak mendapat  orang lain yang bisa diutus selain dirimu?" 

Orang ketiga berkata: "'Demi Allah, aku tidak akan bercakap-capak denganmu." lalu  Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi dari tempat mereka dalam keadaan putus asa akan kebaikan orang-

orang Tsaqif. 

Mereka malah mengerahkan orang-orang bodoh dan budak-budak mereka untuk mencaci-maki 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka mengepung beliau dan membuatnya terpaksa harus 

berlindung di sebuah kebun milik Utbah bin Rabi'ah dan Syaibab bin Rabi'ah yang pada saat itu sedang 

berada di dalamnya. Orang-orang yang mengejar Rasulullah pun kembali pulang. Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam pergi berteduh di bawah sebuah pohon anggur dan duduk di sana. Kedua anak 

Rabi'ah melihat dan menyaksikan apa yang beliau terima dari penduduk Thaif yang bodoh. 

jika  kedua anak Rabi'ah melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan apa yang beliau alami, 

hati nurani keduanya terketuk. Mereka memanggil budak, seorang Kristen yang bernama Addas dan 

mereka berkata kepada Addas: "Ambillah setandan anggur, lalu berilah kepada orang itu agar ia 

memakannya." Addas mengerjakan perintah kedua anak Rabi'ah itu. Lalu ia pergi menemui Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan meletakkan piring berisi anggur di depan beliau. Adas berkata: 

"Makanlah!" jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam meletakkan tangannya di atas piring 

ini , beliau berkata: Bismillah (dengan nama Allah). lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam memakannya. Addas memandang wajah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  

berkata: "Demi Allah, aku belum pernah penduduk negeri ini. mengucapkan hal itu." Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada Addas: "Berasal dari negeri manakah engkau wahai 

Addas? Apa agamamu?" Addas menjawab: "Aku seorang Kristen dan berasal dari negeri Ninawa." 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepadanya: "Dari desa orang shalih yang bernama 

Yunus bin Matta?" Addas berkata: "Apa yang engkau ketahui tentang Yunus bin Matta?' Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Dia saudaraku, ia seorang nabi aku juga seorang nabi. "57 

Addas bersimpuh di depan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, mencium kepala, kedua tangan dan 

kedua kaki beliau. Salah seorang anak Rabi'ah berkata kepada saudaranya: "Budakmu itu telah dicuci 

otak oleh Muhammad." jika  Addas tiba di tempat kedua anak Rabi'ah, keduanya bertanya kepada 

Addas: "Sialan kau Addas, kenapa engkau mencium, kedua tangan dan kedua kakinya?" Addas 

menjawab: "Di dunia ini tidak ada sesuatu yang lebih membahagiakanku dibandingkan  apa yang baru aku 

kerjakan tadi. Sebab ia yaitu  seorang nabi." Kedua anak Rabi'ah berkata kepada Addas: "Sadarlah, 

wahai Addas, janganlah engkau dibuat berpaling dari agamamu, karena agamamu jauh lebih baik 

ketimbang agamanya." 

 

 

Perihal Jin yang Mendengar Apa yang Rasulullah Bacaan Al-Quran dan Beriman Padanya 

 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam akhirnya meninggalkan Thaif dan pulang ke 

Makkah. Sesampainya di Nakhlah, beliau bangun pada suatu malam untuk mendirikan shalat, tak 

diduga beberapa jin yang disebutkan Allah terbang melewati beliau. Mereka terdiri dari tujuh jin dari 

jin penduduk Nashibin. Mereka mendengar bacaan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Usai beliau 

shalat, jin-jin ini  pulang kepada kaumnya dan menjadi juru dakwah bagi mereka. Mereka 

mengimani Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan merespon positif apa yang telah mereka 

dengar. lalu  Allah mengisahkan mereka kepada Rasulullah 

Shallalahu alaihi wa baiiam daiam tirman- Nya. Allah berfirman:  

 

Mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)." jika  pembacaan telah selesai mereka 

kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: "Hai kaum kami, 

sebenarnya  kami telah mendengarkan kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang 

membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang 

lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-

Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih." 

(QS. al-Ahqaf: 29-31). 

Allah Tabaraka wa juga berfirman: 

 

 

 

Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah 

mendengarkan (Al Quran), lalu mereka berkata: "sebenarnya  kami telah mendengarkan Al Quran 

yang menakjubkan, (QS. al-Jin: 1) 

 

 

Rasulullah Menawarkan Dirinya Pada Kabilah-kabilah 

 

Ibnu lshaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam akhirnya pulang ke Makkah. Sementara 

kaum beliau semakin keras menentang agama beliau, kecuali sebagian kecil dari kalangan 

mustadh'afiin yang telah beriman. Kala musim haji tiba, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

menawarkan jasa kepada kabilah-kabilah Arab, sekaligus mengajak mereka kepada agama Allah, 

meya- kinkan mereka bahwa beliau yaitu  Nabi yang diutus. 

Ibnu lshaq berkata: Beberapa sahabat saya yang tidak saya ragukan kejujurannya menuturkan dari 

Zaid bin Aslam bin Abbad al-Daili atau dari orang yang menuturkan padanya Abu Zinad, Ibnu Hisyam 

berkata: Rabi'ah bin Abbad. 

Ibnu lshaq berkata: Husain bin Abdullah bin Ubaidillah bin Abbas bercerita kepadaku, aku mendengar 

Rabi'ah bin Abbad yang pernah berbicara dengan ayahku yang berkata: Saat aku remaja, aku bersama 

ayahku di Mina. jika  itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri di salah satu rumah kabilah 

Arab. Beliau bersabda, "Hai Bani Fulan, sebenarnya  aku diutus oleh Allah kepada kalian. Dia 

memerintahkan kalian untuk beribadah kepada-Nya, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa 

pun, kalian harus meninggalkan tandingan-tandingan yang kalian sembah selain Allah, hendaklah 

kalian beriman kepadaku, membenarkanku dan melindungiku hingga dakwahku terangkat ke seluruh 

penjuru." 

Usai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berbicara dan menyerukan dakwah beliau, orang ini  

berkata: "Wahai Bani Fulan, sebenarnya  laki-laki ini mengajak kalian untuk meninggalkan Tuhan Al-

Lata dan Al-Uzza dari leher kalian dan dari sekutu-sekutu kalian dari jin Bani Malik bin Aqiqisy kepada 

bid'ah dan kesesatan yang dibawanya. Janganlah kalian taat kepadanya jangan pula kalian tertipu 

dengan ucapannya." Aku bertanya kepada ayahku: "Ayah, siapakah orang yang berkata sebelum orang 

yang barusan tadi?" Ayah menjawab: "Aku tidak tahu, yang aku tahu pamannya yang bernama Abdul 

Uzza bin Abdul Muthalib Abu Lahab."58 

 

Ibnu lshaq berkata: Ibnu Syihab berkata kepadaku bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

datang ke pemukiman mereka di Kindah. Mereka mempunyai pemimpin yang bernama Mulaih. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyeru Mulaih kepada agama Allah Azza wa Jalla dan 

menawarkan dirinya bergabung dengan mereka, namun mereka merespon negatif ajakan beliau. 

Ibnu Hisyam berkata: Nabighah berkata: 

Kau laksana unta dari Bani Uqays 

Dengan kulit tua yang gemerincing di belakang betismu 

 

Ibnu lshaq berkata: Muhammad bin Abdurrahman bin Abdullah bin Hushain berkata kepadaku, bahwa 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendatangi salah satu pemukiman kabilah Bani Kalb, yang 

bernama kabilah Ab-dullah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyeru mereka kepada agama 

Allah dan menawarkan diri beliau kepada mereka. Beliau bersabda kepada mereka: "Hai Bani Fulan, 

sebenarnya  Allah telah memberi nama yang baik untuk para leluhur kalian." Sayangnya mereka 

tidak menerima tawaran beliau. 

Ibnu Ishaq berkata: Sebagian pakar berkata kepadaku dari Abdullah bin Ka'ab bin Malik bahwa 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendatangi Bani Hanifah di pemukiman mereka. Beliau 

menyeru mereka kepada agama Allah dan menawarkan diri bergabung dengan mereka, namun tidak 

ada orang Arab yang responnya lebih buruk dibandingkan  respon mereka. 

Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri bercerita kepadaku: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendatangi 

Bani Amir bin Sha'sha'ah untuk menyeru mereka kepada agama Allah Azza wa Jalla dan menawarkan 

dirinya bergabung dengan mereka. Salah seorang dari mereka yang bernama Biharah bin Firas, Ibnu 

Hisyam berkata: Firas yaitu  anak Abdullah bin Salamah bin Qusyair bin Ka'ab bin Rabi'ah bin Amir 

bin Sha'sha'ah, ia berkata: "Demi Allah, andaikata aku menerima pemuda ini oleh orang-orang 

Quraisy. Aku pasti dihabisi orang-orang Arab." Biharah bin Firas berkata kepada Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam: "Bagaimana menurutmu jika kami berjanji setia padamu untuk mengikuti agamamu, 

lalu  Allah menaklukkan orang-orang yang menentangmu, apakah sesudah  itu urusan ini menjadi 

milik kami?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Semua urusan itu milik Allah. Terserah 

Dia mau berbuat apa!" Biharah bin Firas berkata kepada Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Apakah engkau menginginkan leher-leher kami disembelih orang-orang 

Arab hanya karena membelamu, lalu  jika Allah memenangkanmu, maka urusan ini menjadi milik 

orang lain selain kami? Kami tidak butuh urusanmu." Mereka menolak tawaran Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam. 

sesudah  para jama'ah haji menyelesaikan ibadah haji mereka lalu pulang ke negerinya masing-masing, 

termasuk Bani Amir. Mereka pulang menemui sesepuh mereka yang telah lansia dan tidak bisa ikut 

haji bersama mereka. jika  mereka pulang dari haji mereka bercerita kepadanya tentang semua 

peristiwa yang terjadi di musim haji. Tatkala mereka tiba dari melaksanakan ibadah haji pada tahun 

ini dan bertemu kembali dengan orang tua ini , orang tua ini  bertanya kepada mereka 

tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada musim haji tahun ini. Mereka menjawab, "Ada anak 

pemuda Quraisy dari Bani Abdul Muthalib datang kepada kami. Ia mengaku sebagai nabi ia memohon 

agar kami melindunginya, berpihak kepadanya dan membawanya ke negeri kita." Orang tua ini  

meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya, lalu  berkata: "Hai Bani Amir, apakah dia masih 

ada disana? Kalian telah menyia-nyiakan apa yang datang pada kalian! Demi Tuhan, sebenarnya  

anak keturunan Ismail itu tidak pernah sekalipun berdusta dalam perkataannya. Perkaataannya selalu 

benar. Dimana kecerdasan kalian yang selama ini kalian miliki?" 

Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah Al-Anshari Azh-Zhafari berkata kepadaku dari 

sesepuh kaumnya yang berkata: Suwaid bin Shamit, saudara Bani Amr bin Auf mendatangi Makkah 

untuk melaksanakan ibadah haji atau umrah. Suwaid di tengah kaumnya dipanggil dengan Al-Kamil, 

karena kegigihannya, puisi-puisinya dan nasabnya." 

Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar kedatangan Suwaid bin Shamit, beliau 

menemuinya dan menyeru- nya kepada agama Allah, Islam. Suwaid bin Shamit berkata kepada 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, "Apakah yang engkau bawa itu memiliki kesamaan dengan apa 

yang aku bawa?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata kepada Suwaid bin Shamit: 

"Memangnya apa yang engkau bawa?" Suwaid bin Shamit berkata: "Lembaran Hikmah Luqman." 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ber¬kata kepada Suwaid bin Shamit: "Sudikah kau perlihatkan 

lembaran itu kepadaku!" Suwaid bin Shamit memperlihatkan Lembaran Hikmah Luqman kepada 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, lalu  beliau bersabda; "Ini ucapan yang indah, namun apa 

yang aku miliki jauh lebih indah. Ia yaitu  Al-Qur'an yang diturunkan Allah Ta'ala kepadaku. Al- Qur'an 

yaitu  petunjuk dan nur." lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membacakan Al-Qur'an 

kepada Suwaid bin Shamit 

dan mengajaknya kepada Islam. Suwaid bin Shamit tidak membantah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam. Suwaid bin Shamit berkata: "sebenarnya  ini ucapan yang paling indah." sesudah  itu, Suwaid 

bin Shamit pamit kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan kembali ke Madinah untuk 

bertemu dengan kaumnya. Tak berapa lama lalu , Suwaid bin Shamit dihabisi orang-orang Al- 

Khazraj. Orang-orang dari kaumnya berkata: "sebenarnya  ia dibunuh dalam keadaan Muslim." 

Pembunuhan ini terjadi sebelum Perang Bu'ats. 

Ibnu Ishaq berkata: Al-Hushain bin Abdurrahman bin Amr bin Sa'ad bin Muadz bercerita kepadaku dari 

Mahmud bin Labid ia berkata: Saat Abu Al-Haisar Anas bin Raff tiba di Makkah bersama dengan anak-

anak muda dari Bani Abdul Asyhal, termasuk Iyas bin Muadz untuk mencari sekutu dari orang- orang 

Quraisy dalam menghadapi kaumnya dari Al-Khazraj, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

mendengar kedatangan mereka. Beliau datang menemui mereka dan duduk berbincang bersama 

mereka. Beliau bersabda: "Maukah kalian menerima kebaikan yang jauh lebih baik dibandingkan  tujuan 

kedatangan kalian ke tempat ini?" Mereka bertanya: "Apa itu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

bersabda: "Aku yaitu  utusan Allah yang diutus kepada hamba-hamba-Nya. Untuk menyeru mereka 

menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun dan telah Allah menurunkan Al-Kitab 

kepadaku." lalu  Rasulullah menjelaskan tentang Islam dan membacakan Al-Quran pada mereka. 

Iyas bin Muadz, seorang pemuda di antara mereka berkata: "Wahai Hai kaumku, demi Allah, ini jauh 

lebih baik dari tujuan kedatangan kita semula." Abu Al-Haisar Anas bin Rafi' lalu mengambil 

segenggam penuh tanah kotor di bawah kakinya lalu menaburkannya ke wajah Iyas bin Muadz, sambil 

berkata: "Diam!! "Siapa yang menyuruhmu bicara!!. Aku bersumpah kami datang ke tempat ini bukan 

untuk keperluan itu!!." Mendengar itu Iyas bin Muadz diam. lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam pergi meninggalkan mereka sedangkan mereka kembali pulang ke Madinah. Saat itulah terjadi 

perang Bu'ats antara Aus dan Khazraj. Tak lama lalu  Iyas bin Muadz berpulang menghadap 

tuhannya.59 

 

Mahmud bin Labid berkata: Saat kematiannya, kaumnya selalu mendengarnya mengucapkan tahlil, 

takbir, tahmid dan tasbih hingga ia wafat. Mereka yakin sekali bahwa lyas bin Muadz meninggal dunia 

dalam keadaan Muslim. Ia merasa sudah masuk Islam sejak pertemuannya dengan Rasulullah dan 

jika  mendengar apa yang disampaikan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pada waktu itu.  

 

 

Awal Masuk Islamnya Orang-orang Anshar 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pada musim haji tahun itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertemu dengan 

beberapa orang Anshar. Beliau menawarkan dirinya bergabung dengan kabilah-kabilah Arab 

sebagaimana yang biasa beliau lakukan pada musim-musim haji sebelum itu. Pada saat sedang berada 

di Al- Aqabah, beliau berjumpa dengan rombongan dari Al-Khazraj. 

Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku dari sesepuh kaumnya ia berkata: 

jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berpapasan dengan mereka, beliau bertanya: "Siapakah 

kalian?" Mereka menjawab: "Kami berasal dari Al-Khazraj." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

melanjutkan: "Apakah kalian punya hubungan dengan orang-orang Yahudi?" Mereka menjawab: "Ya." 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sudikah kalian ngobrol sebentar denganku?' 

Mereka menjawab: "Ya." Mereka pun duduk untuk mendengarkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam. Menjelaskan tentang agama Allah, Al-Qur'an kepada mereka. 

Faktor yang menyebabkan mereka masuk Islam ialah bahwa orang-orang Yahudi tinggal bersama 

mereka di negeri mereka. Orang-orang Yahudi yaitu  orang-orang yang diberi kitab dan ilmu, sedang 

orang-orang Al-Khazraj tidak seperti itu, mereka yaitu  penyembah berhala. Jika terjadi konflik antara 

orang-orang Yahudi dengan orang-orang Al-Khazraj, orang-orang Yahudi itu berkata: "sebenarnya  

zaman kedatangan nabi yang diutus telah dekat. Kita akan mengikutinya dan dengannya kami akan 

menghabisi kalian seperti pembantaian terhadap orang-orang Ad dan Iram." jika  Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam berbicara dengan orang-orang Al-Khazraj ini  dan mengajak mereka 

kepada Islam, sebagaian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain: "Wahai kaumku. Demi 

Tuhan, inilah Nabi yang diceritakan oleh orang-orang Yahudi kepada kalian. Oleh karena itu, kalian 

jangan kalah cepat menerimanya dari orang-orang Yahudi itu." Mereka lalu merespon ajakan 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Lalu membenarkan beliau dan menerima Islam yang beliau 

bawa. Mereka berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Kami akan bertemu kaum kami 

dan orang-orang Yahudi ini , lalu mengajak mereka kepada agamamu dan kami akan mengajak 

mereka agama yang kami dapatkan darimu ini. Jika Allah menyatukan mereka dalam agama ini, maka 

tidak akan ada seorangpun yang lebih mulia darimu." sesudah  itu, mereka pamit kepada Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk kembali pulang kembali ke negeri mereka beriman dan 

membenarkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Anshar yang memeluk Islam ada enam orang dari kabilah Al-Khazraj. 

Salah seorang dari mereka berasal dari Bani An-Najjar yang bernama Taimullah. Dari Bani Malik bin 

An-Najjar bin Tsa'labah bin Amr bin Al-Khazraj bin Hari tsah bin Tsa'labah bin Amr bin Amir yaitu  

sebagai berikut: As'ad bin Zurarah bin Udas bin Ubaid bin Tsa'labah bin Ghanim bin Malik bin An-

Najjar, dia yaitu  Abu Umamah. Auf bin Al-Harits bin Rifaah bin Sawwad bin Malik bin Ghanim bin 

Malik bin An-Najjar. Ia yaitu  Afra'. 

Ibnu Hisyam berkata: Afra yaitu  anak perempuan Ubaid bin Tsa'labah bin Ghanim bin Malik bin 

Najjar. 

Dari Bani Zuraiq bin Amir bin Zuraiq bin Abdu Haritsah bin Malik bin Ghadhbu bin Jusyam bin Al-Khazraj 

hanya satu orang, yaitu Rafi' bin Malik bin Al-Ajlan bin Amr bin Amir bin Zuraiq. 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berpendapat bahwa Amir yaitu  anak Al-Azraq. 

Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Salimah bin Sa'ad bin Ali bin Asad bin Saridah bin Tazid bin Jusyam bin 

Al-Khazraj, lalu  dari Bani Sawwad bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah hanya satu orang, yaitu 

Quthbah bin Amr bin Hadidah bin Amir bin Ghanim bin Sawwad. 

Ibnu Hisyam berkata: Amir yaitu  anak laki-laki Sawwad. Sebab Sawwad tidak punya anak lelaki yang 

bernama Ghanim. 

Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Haram bin Ka'ab bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah ialah Uqbah bin Amir 

bin Nabi bin Zaid bin Haram. Dan dari Bani Ubaid bin Adi bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah ialah Jabir 

bin Abdullah bin Riab bin An-Nu'man bin Sinan bin Ubaid. 

 

 

Baiat Aqabah Pertama 

 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala kaum Anshar tiba di negerinya, mereka mulai menyebarkan berita tentang 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada kaumnya dan menyeru mereka kepada Islam hingga 

Islam menyebar dengan cepat di tempat mereka dan setiap rumah orang-orang Anshar tak pernah 

sepi dari diskusi tentang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Tahun berikutnya, dua belas orang 

Anshar melaksanakan ibadah haji dan mereka menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Al-

Aqabah yang dikenal dengan Al-Aqabah Pertama. Mereka mem- baiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam seperti baiat kalangan wanita. Peristiwa baiat ini terjadi sebelum perang diwajibkan kepada 

mereka. 

Mereka yang terlibat pada baiat Al-Aqabah Pertama dari Bani An-Najjar dan dari Bani Malik bin An-

Najjar yaitu  sebagai berikut: As'ad bin Zurarah bin Udas bin Ubaid bin Tsa'labah bin Ghanim bin Malik 

bin An-Najjar, ia yaitu  Abu Umamah, Auf, Muadz. Auf dan Muadz yaitu  anak Al-Harits bin Rifa'ah 

bin Sawwad bin Malik bin Ghanim bin Malik bin An-Najjar. Keduanya yaitu  anak Afra. 

Dari Bani Zuraiq bin Amir yaitu  sebagai berikut: Rafi' bin Malik bin Al-Ajlan bin Amr bin Amir bin 

Zuraiq. Dzakwan bin Abdu Qais bin Khaldah bin Mukhlid bin Amir bin Zuraiq. Ibnu Hisyam berkata: 

Dzakwan seorang muhajir-Anshar (muhajiri Anshari). 

Dari Bani Auf bin Al-Khazraj, lalu  dari Bani Ghanim bin Auf bin Amr bin Auf bin Al-Khazraj yaitu  

sebagai berikut: Ubadah bin Ash-Shamit bin Qais bin Ahram bin Fihr bin Tsa'labah bin Ghanim. Abu 

Ab- dur Rahman yang tidak lain yaitu  Yazid bin Tsa'labah bin Khazmah bin Ashram bin Amr bin 

Ammar dari Bani Ghudzainah dari Baly, sekutu Bani Auf bin Al-Khazraj. 

Dari Bani Salim bin Auf bin Amr bin Auf bin Al-Khadzraj, lalu  dari Bani Al-Ajlan bin Zaid bin 

Ghanim bin Salim 

hanya seorang, yakni Al-Abbas bin Ubadah bin Nadhlah bin Malik bin Al-Ajlan. 

Dari Bani Salimah bin Sa'ad bin Ali bin Asad bin Saridah bin Tazid bin Jusyam bin Al-Khazraj, lalu  

dari Bani Haram bin Ka'ab bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah hanya seorang, yakni Uqbah bin Amir bin 

Nabi bin Zaid bin Haram. 

Dari Bani Sawwad bin Ghanim bin Ka'ab bin Salimah hanya seorang, yakni Quthbah bin Amir bin 

Hadidah bin Amr bin Ghanim bin Sawwad. 

Dari Al-Aus bin Haritsah bin Tsa'labah bin Amr bin Amir, lalu  dari Bani Abdul Asyhal bin Jusyam 

bin Al-Harits bin Al-Khazraj bin Amr bin-Malik bin Al-Aus yang hadir di Baiat Al-Aqabah Pertama yaitu  

Abu Al-Haitsam bin At-Taihan. Ia bernama asli Malik. 

Dari Bani Amr bin Auf bin Malik bin Al-Aus ialah Uwaim bin Sa'idah. 

Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Abu Habib bercerita kepadaku dari Abu Martsid bin Abdullah Al-Yazani 

dari Abdurrahman bin Asilah bin Ash-Shanabihi dari Ubadah bin Ash-Shamit ia berkata: Saat Baiat 

Aqabah Pertama. terjadi jumlah kami saat itu yaitu  dua belas orang laki-laki. Kami berbait kepada 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebagaimana halnya kaum wanita dan itu terjadi jika  perang 

sebelum diwajibkan atas kami. Kami berbaiat agar tidak berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu 

apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak mengubur hidup-hidup anak-anak kami, tidak membuat-

buat ucapan dusta baik baik secara terbuka ataupun sembunyi-sembunyi, tidak durhaka kepada beliau 

dalam kebaikan. "Jika kalian tidak melanggar baiat kalian, niscaya kalian masuk surga. Jika kalian 

melanggar salah satunya, urusan kalian terserah kepada Allah. Jika Dia mau maka Dia akan mengadzab 

kalian. Jika tidak maka Dia akan mengampuni kalian.'60 

Ibnu Ishaq berkata: Ibnu Syihab Az-Zuhri bercerita kepadaku dari Aidzullah bin Abdullah Al-Khaulani 

Abu Idris bahwa Ubadah bin Ash-Shamit berkata kepadanya: "Pada malam Aqabah Pertama kami 

membaiat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk mentauhidkan-Nya, tidak mencuri, tidak 

berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak membuat ucapan dusta baik di depan umum ataupun 

sembunyi-sembunyi dan tidak bermaksiat kepadanya dalam kebaikan. Nabi bersabda: "Jika kalian 

melaksanakannya kalian mendapat  surga. Jika kalian melanggar salah satu dibandingkan nya, maka 

kalian dihukum sesuai dengan hukumannya di dunia dan itu sebagai penebusnya. Jika kalian 

menyembunyikan pelanggaran kalian sehingga tak ada yang tahu sampai Hari Kiamat, maka urusan 

kalian sepenuhnya ada di tangan Allah. Jika Dia mau, Dia akan menyiksa kalian. Jika tidak, maka boleh 

jadi Dia mengampuni kalian."61 

 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala kaum Anshar mau kembali pulang ke negeri mereka, Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam mengutus Mush'ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar bin Qushay 

bersama mereka. Rasulullah membentuk misi kepa da Mush'ab untuk membacakan Al-Quran pada 

mereka dan mengajarkan Islam serta memahamkan agama pada mereka. Maka jika disebut Muqri 

Madinah pastilah disebut: Mush'ab. Ia bertempat tinggal di rumah As'ad bin Zurarah bin Udas.  

Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa Mush'ab menjadi imam 

shalat bagi mereka, karena Al-Aus tidak mau diimami orang dari Al-Khazraj demikian pula sebaliknya. 

 

 

As'ad bin Zurarah dan Shalat Jum'at Pertama di Madinah 

 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif bercerita ke-padaku dari 

ayahnya, Abu Umamah dari Abdurrahman bin Ka'ab bin Malik ia berkata: "jika  ayahku, Ka'ab bin 

Malik mengalami rabuan senja. Jika kami keluar bersamanya untuk shalat Jum'at dan ia mendengar 

adzan, ia berdoa untuk Abu Umamah As'ad bin Zurarah. Ayahku, Ka'ab bin Malik, selalu berbuat 

seperti itu; jika ia mendengar adzan untuk shalat Jum'at, ia berdoa untuk Abu Umamah As'ad bin 

Zurarah dan memintakan ampunan baginya." Aku bergumam dalam diriku: "Demi Allah, keadaan 

ayahku semakin melemah, kenapa aku tidak bertanya saja kepa- danya mengapa setiap kali 

mendengar adzan Jum'at, ia selalu berdoa untuk Abu Umamah As'ad bin Zurarah?" Di hari Jum'at yang 

lain, kami keluar lagi dan begitu ayah mendengar adzan Jum'at, ia berdoa untuk Abu Umamah As'ad 

bin Zurarah. Aku bertanya kepadanya: "Ayah, mengapa setiap kali engkau mendengar adzan Jum'at 

berdoa untuk Abu Umamah As'ad bin Zurarah?" Ayahku berkata: "Anakku, Abu Umamah As'ad bin 

Zurarah yaitu  orang pertama kali yang menyelenggarakan shalat Jum'at untuk kita di Madinah di 

Hazm An-Nabit di tanah berbatu Bani Bayadhah yang dikenal Naqi' Al-Khadhamat." Aku bertanya lagi: 

"Berapa jumlah kalian jika  itu?" Ayah menjawab: "Empat puluh orang laki-laki'." 

 

 

Sa'ad bin Mu'adz dan Usaid bin al-Hudhair Masuk Islam 

 

Ibnu Ishaq berkata: Ubaidillah bin Al-Mughi- rah bin Mu'aitiq dan Abdullah bin Abu Bab bin 

Muhammad bin Amr bin Hazm bercerita kepadaku, As'ad bin Zurarah keluar bersama Mush'ab bin 

Umair menuju rumah Bani Abdul Asyhal dan rumah Bani Zhafar. Sa'ad bin Muadz bin An-Nu'man bin 

Umru'ul Qais bin Zaid bin Abdul Asyhal yaitu  anak bibi As'ad bin Zurarah, lalu  As'ad bin Zurarah 

bersama Mush'ab bin Umair masuk ke salah satu kebun milik Bani Zhafar. 

Ibnu Hisyam berkata: Adapun nama asli Zhafar ialah Ka'ab bin Al-Harits bin Ar Khazraj bin Amr bin 

Malik bin Al-Aus. Kebun ini letaknya berada di Sumur Maraq. lalu  As'ad bin Zurarah dan Mush'ab 

bin Umair berkumpul dengan orang Madinah yang telah masuk Islam di sana. 

Sa'ad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair yaitu  pemimpin di tengah kaumnya Bani Abdul Asyhal ia 

masih musyrik kaumnya kala itu. jika  keduanya mendengar kedatangan Mush'ab bin Umair, Sa'ad 

bin Muadz berkata kepada Usaid bin Hudhair: Pergilah kepada dua orang yang datang ke komplek kita 

untuk menipu orang-orang yang lemah di antara kita. Hadang keduanya dari memasuki komplek kita. 

Andai saja As'ad bin Zurarah warga kita, maka cukuplah aku saja yang menangani masalah ini, Dia 

sepupuku dan aku tidak memiliki keberanian yang cukup untuk berhadapan dengannya." Usaid bin 

Hudhair lalu  pergi kepada As'ad bin Zurarah dan Mush'ab bin Umair dengan membawa tombak 

Tatkala As'ad bin Zurarah melihat kedatangan Usaid bin Hudhair, ia berkata kepada Mush'ab bin 

Umair: "Dia yaitu  pemimpin kaumnya, dia datang kepadamu, maka hadapilah ia de ngan tegar!" 

Mush'ab bin Umair berkata: "Bila ia duduk, aku akan berbicara dengannya." 

Usaid bin Hudhair berdiri di depan As'ad bin Zurarah dan Mush'ab bin Umair dengan wajah memerah. 

Ia berkata: "Kedatangan ka-lian berdua ke sini hanya mem