Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 31

 


Muslimin melepas keberangkatan mereka dan mengucapkan salam perpisahan kepada para panglima 

pasukan. jika  Abdullah bin Rawahah diberi ucapan selamat jalan oleh orang-orang yang melepas 

kepergian para panglima pasukan, ia menangis. Para sahabat bertanya: "Wahai Ibnu Rawahah 

mengapa engkau menangis?" Abdullah bin Rawahah menjawab: "Demi Allah, aku menangis bukan 

karena kecintaanku pada dunia atau kerinduanku pada kalian, namun karena aku pernah mendengar 

Rasulullah membaca ayat Al-Qur'an tentang neraka: 

 

Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan mendatangi neraka ini ; hal ini bagi Tuhanmu 

yaitu  suatu kemestian yang sudah ditetapkan (QS. Maryam: 71). 

Aku tidak tahu seperti apa nasib diriku sesudah  kematian. Kaum Muslimin berkata: Semoga Allah 

menyertai, melindungi serta mengembalikan kalian kepada kami dalam keadaan selamat. 

lalu  Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu menuturkan syair: 

Aku memohon ampunan pada Sang Maha Penyayang 

Dan pukulan dahsyat yang memancarkan darah 

Atau tikaman oleh manusia haus darah  

Dengan tombak yang menembus usus dan hati 

Hingga orang-orang berkata tatkala melewati kuburanku, 

Semoga Allah memberi petunjuk kepada tentara dan ia telah menggapainya 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat pasukan siap untuk berangkat, Abdullah bin Rawahah menghadap 

Rasulullah dan mengucapkan salam perpisahan kepadanya. 

Ibnu Ishaq berkata: Lalu pasukan ini  berangkat dan dilepas oleh Rasulullah. sesudah  beliau 

melepas dan berpisah dengan mereka, Abdullah bin Rawahah bertutur: 

Semoga damai tercurah kepada orangyangku tinggalkan di Madinah Sebaik-baik penjaga dan sahabat 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  pasukan Islam berangkat dan singgah di sebuah daerah di Syam 

bernama Ma'an. Di sana, mereka mendengar kabar bahwa Heraklius telah tiba di Ma'ab, sebuah 

daerah di Al-Balqa', dengan membawa seratus ribu tentara Romawi dan seratus ribu tentara sekutu 

dari Lakhm, Judzam, Al-Yaqin, Bahra', dan Baly yang dipimpin salah seorang dari Baly lalu  dari 

Irasyah yang bernama Malik bin Zafilah. Pada saat kaum Muslimin mendapat  informasi itu, mereka 

tinggal di Ma'an selama dua malam untuk berfikir mencari solusi. Sebagian mereka berpendapat: "Kita 

harus mengirim surat kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk memberitahukan 

kepadanya jumlah kekuatan pasukan musuh, agar beliau mengirim pasukan tambahan atau 

memerintahkan kita kembali pulang." 

Abdullah bin Rawahah memotivasi mereka seraya berkata: "Wahai kaum Muslimin, demi Allah, 

sebenarnya  hal yang kalian takuti ini pada hakikatnya inilah yang kalian cari yaitu mati syahid. Kita 

tidak memerangi musuh karena jumlah kita banyak atau kekuatan. Tapi, kita memerangi mereka 

dengan agama ini yang menjadikan kita dimuliakan oleh Allah. Berangkatlah, kalian akan mem- 

peroleh salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau mati syahid." Kaum Muslimin berkata: "Demi 

Allah, apa yang dikatakan Abdullah bin Rawahah yaitu  benar." Maka kaum muslimin pun berangkat. 

Ibnu Ishaq berkata: Pasukan kaum Muslimin pun berangkat. lalu  Abdullah bin Abu Bakr 

meriwayatkan kepadaku bahwa ia diberitahu dari Zaid bin Arqam, ia berkata: Aku yaitu  seorang anak 

yatim dalam asuhan Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu. Dalam perjalanan ini, ia membawaku 

dan menempatkanku di kantong besar yang ada pada unta. Demi Allah, pada saat ia berjalan pada 

suatu malam, aku mendengarya menuturkan syair berikut ini: 

Bila engkau membawaku mengangkut perbekalanku 

Dalam perjalanan empat hari di tanah berair penuh batu 

Maka nikmatilah hidup dan kau tidak tercela  

Dan aku tidak akan kembali ke keluarga di belakang 

Kaum Muslimin telah pergi dan mereka meninggalkan aku 

Di daerah Syam karena senang berdiam di sana 

Engkau wahai kudaku, ditinggalkan orang yang memiliki nasab dekat  

Kepada Ar-Rahman dalam keadaan persaudaraan yang terputus 

Disana, aku tidakpeduli dengan buah-buahan yang tergantung pada hujan 

Dan kurma yang akarnya disirami oleh manusia 

 

Saat mendengar untaian bait-bait syair ini , aku menangis. Abdullah bin Rawahah memukulku 

dengan tongkat kecil seraya berkata: "Anakku, apa salahnya jika Allah menganugrahkan kepadaku 

mati syahid dan engkau pulang pada salah satu kantong pelana unta ini?" situ, Abdullah bin Rawahah 

bertutur: 

Wahai Zaid, wahai" Zaid unta yang berjalan cepat, malam telah berlalu 

Engkau telah mendapat petunjuk, maka turunlah 

 

Pertempuran Kaum Muslimin dengan Pasukan Romawi 

Ibnu Ishaq berkata: Pasukan Islam terus berjalan. jika  mereka tiba di perbatasan Al-Balqa' tepatnya 

di desa Masyarif, mereka berpapasan dengan pasukan Romawi dan pasukan sekutu Arab. Kedua 

pasukan itu saling merapat, namun kaum Muslimin bergerak menuju daerah Mu'tah. Di sanalah, 

kedua belah pihak berhadapan. Kaum Muslimin bersiap-siap menghadapi musuh dengan menunjuk 

Quthbah bin Qatadah seorang sahabat dari Bani Udzrah sebagai pemimpin pasukan sayap kanan 

sedangkan pada sayap kiri dipimpin oleh Ubayah bin Malik seorang sahabat dari kaum Anshar. 

Ibnu Hisyam berkata: Pendapat lain mengatakan namanya Ubadah bin Malik. 

 

Zaid bin Haritsah Radhiyallahu Anhu Gugur sebagai Syahid 

Ibnu Ishaq berkata: Kedua belah pihak saling berhadapan lalu saling serang. Zaid bin Haritsah 

bertempur dengan memegang panji perang Rasulullah hingga gugur karena terkena tikaman tombak 

musuh. 

 

Kepeminpinan dan Syahidnya Ja'far 

lalu  panji perang diambil alih oleh Ja'far bin Abu Thalib. Saat perang berkecamuk, Ja'far bin Abu 

Thalib turun dari kudanya dan menyembelih kudanya ini . lalu  ia bertempur hingga gugur. 

Dalam sejarah Islam, Ja'far bin Abu Thalib merupakan orang yang pertama kali menyembelih kudanya 

di medan perang. 

Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair meriwayatkan kepadaku dari ayahnya, 

Abbad, ia berkara: Ayahku yaitu  warga Bani Murrah bin Auf dan hadir pada Perang Mu'tah, Ia 

berkata: "Demi Allah, pada saat aku menyaksikan Ja'far bin Abu Thalib turun dari kudanya, lalu 

menyembelihnya, lalu  bertempur hingga terbunuh, ia bertutur: 

Betapa indah dan dekatnya surga  

Minumannya baik dan menyegarkan  

Orang-orang Romawi sungguh dekat siksanya 

Mereka kafir dan bernasab jauh  

Jika bertemu, akan kuserang mereka 

 

Ibnu Hisyam berkata: Seorang yang aku percayai meriwayatkan kepadaku bahwa Ja'far bin Abu Thalib 

mempertahankan panji perang dengan tangan kanannya hingga putus, lalu  ia memegangnya 

dengan tangan kiri hingga putus, lalu ia dekap dengan kedua lengannya hingga ia pun gugur pada 

usianya yang ketiga puluh tiga tahun. Allah Ta'ala memberinya balasan berupa dua buah sayap 

sehingga ia dapat terbang di dalam surga sesuka hatinya. Pendapat lain mengatakan bahwa salah 

seorang tentara Romawi memukulnya dan tubuhnya terbelah menjadi dua bagian. 

 

Komando Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu dan Kematiannya 

Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair meriwayatkan kepadaku dari ayahnya, 

Abbad, ia berkata: ayahku merupakan warga Bani Murrah bin Auf, ia kepadaku: Tatkala Ja'far bin Abu 

Thalib menemui kesyahidannya, Abdullah bin Rawahah cepat bertindak dengan mengambil alih panji 

perang. Ia maju dengan membawa bendera perang itu dengan mengendarai kuda dan terjun ke 

medan perang, namun dia sedikit ragu, lalu  ia bertutur: 

Aku bersumpah: Wahai diriku engkau harus terjun ke medan laga 

Kau harus terjun ke medan laga atau kupaksa engkau menerjuninya  

Manusia telah siaga dan berteriak kencang  

Lalu kenapa kulihat kau tak suka surga 

Sudah sekian lama engkau merasa tentram  

Engkau hanyalah setetes air mani di himpitan daging 

 

Abdullah bin Rawahah juga bertutur: 

Wahai diriku jika tidak terbunuh, engkaupun kan mati jua 

Kekang kematian kini telah mengenaimu  

Apa yang engkau impikan telah diberikan kepadamu 

Jika engkau mengerjakan perbuatan keduanya, kau pasti dapat petunjuk 

 

Adapun yang dimaksud dengan "keduanya" pada bait syair itu ialah Zaid bin Haritsah dan Ja'far bin 

Abu Thalib. 

Ibnu Ishaq berkata: lalu , Abdullah bin Rawahah maju ke medan laga. Kala itu, ia dihampiri 

saudara sepupunya yang membawa sepotong tulang yang masih terdapat daging padanya. Saudara 

sepupunya itu berkata: "Makanlah daging ini agar badanmu tambah kuat, sebenarnya  hari-hari ini 

engkau berada dalam hari-hari yang melelahkan." Abdullah bin Rawahah pun mengambil daging 

ini  menggigitnya. Tiba-tiba dia mendengar suara pertempuran, ia pun berkata: "Apakah engkau 

masih hidup di dunia?!". Ia pun segera membuang daging ini  dan mengambil pedangnya lalu 

bertempur hingga gugur sebagai syahid. 

Sepeninggal Abdullah bin Rawahah, panji perang diambil alih oleh Tsabit bin Arqam dari Bani Al-Ajlan. 

Ia berkata: "Wahai kaum Muslimin, pilihlah salah seorang dari kalian untuk menjadi panglima 

pasukan." Kaum Muslimin berkata: "Engkaulah panglima perang kami." Tsabit bin Arqam berkata: 

"Aku tidak bersedia." lalu  kaum Muslimin mengangkat Khalid bin Walid untuk menjadi panglima 

pasukan. jika  Khalid bin Walid mengambil panji perang, ia pun menyerang musuh, namun lalu  

mundur dan pulang bersama kaum Muslimin. 

 

Berita Dari Rasulullah Tentang Apa yang Terjadi Pada Kaum Muslimin dan Orang Romawi 

Ibnu Ishaq berkata: jika  para panglima pasukan Islam gugur, Rasulullah bersabda: "Panji perang 

dipegang Zaid bin Haritsah lalu  dia bertempur hingga gugur sebagai syahid, lalu panji perang 

diambil alih oleh Ja'far bin Abu Thalib, diapun bertempur hingga gugur sebagai syahid." lalu  

Rasulullah terdiam sejenak hingga rona wajah orang-orang Anshar berubah dan mengira telah terjadi 

sesuatu yang tidak mereka sukai pada Abdullah bin Rawahah. lalu  Rasulullah melanjutkan 

sabdanya: "lalu  panji perang diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah, lalu dia bertempur hingga 

gugur sebagai syahid." Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terus melanjutkan sabdanya: 

"Diperlihatkan kepadaku dalam mimpi, bahwa mereka berada di surga di atas singgasana terbuat dari 

emas. Aku melihat singgasana Abdullah bin Rawahah miring tidak seperti singgasana dua sahabatnya. 

Aku bertanya: "Mengapa singgasana Abdullah bin Rawahah miring?" Dikatakan kepadaku: "Tatkala 

Zaid bin Haritsah dan Ja'far bin Abu Thalib maju ke medan laga tanpa ragu, sedang Abdullah bin 

Rawahah sedikit ragu sebelum ia bertempur."181 

 

 

Duka Cita Rasulullah Shallallahu Alalhi wa Sallam Atas Meninggalnya Ja'far dan wasiat-wasiatnya 

untuk Keluarganya 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku dari Ummu Isa Al-Khuza iyyah dari 

Ummu Ja'far binti Muhammad bin Ja'far bin Abu Thalib dari neneknya, Asma binti Umais, ia 

menceritakan: jika  Ja'far dan para sahabat gugur, Rasulullah Shallallahu Alalhi wa Sallam datang 

berta'ziah kepadaku. Saat itu, aku baru selesai menyamak sebanyak empat puluh kulit, membuat 

adonan roti, memandikan anak-anakku, meminyaki rambut, dan membersihkan mereka. Rasulullah 

bersabda: "Bawalah kemari anak-anak Ja'far." Aku pun segera membawa anak-nakku ke hadapan 

beliau, lalu Rasulullah mencium mereka satu persatu dengan air mata berlinang. Aku berkata: "Wahai 

Rasulullah, apa yang membuat engkau menangis? Apakah engkau telah mendapat berita tentang 

Ja'far dan para sahabatnya?" Rasulullah bersabda: "Mereka gugur pada hari ini." Aku pun berdiri dan 

berteriak hingga wanita-wanita berkumpul di sekitarku. Lalu Rasulullah Shallallahu Alalhi wa Sallam 

keluar dari rumahku seraya bersabda: "Janganlah kalian lupa memasak makanan bagi keluarga Ja'far, 

sebab mereka telah disibukkan dengan kematian Ja'far."182 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abdurrahman bin Al-Qasim bin Muhammad meriwayatkan kepadaku dari ayahnya 

dari Aisyah, ia berkata: Saat berita tentang gugurnya Ja'far bin Abu Thalib sampai, aku melihat rona 

duka pada wajah Rasulullah Shallallahu Alalhi wa Sallam. 

Salah seorang sahabat masuk ke tempat beliau dan berkata: "Wahai Rasulullah, para wanita membuat 

kami repot dan sangat mengganggu." Rasulullah bersabda: "Temuilah mereka dan perintahkan agar 

mereka diam!" Sahabat ini  pergi namun datang kembali dan mengatakan hal yang sama. Aku 

berkata: "Bisa saja berlebih-lebihan akan membahayakan pelakunya." Rasulullah bersabda: "Pergilah 

ke tempat mereka dan suruhlah mereka untuk diam. Jika mereka tetap tidak diam, maka taburkan 

tanah ke mulut mereka." Aku berkata dalam hati tentang sahabat ini : "Demi Allah, engkau tidak 

membiarkan dirimu bebas dan kau tidak taat kepada Rasulullah." Aku tahu sahabat itu tidak sanggup 

menaburkan tanah ke mulut para wanita ini .183 

 

Ibnu Ishaq berkata: Quthbah bin Qatadah Al-Udzri, pemimpin pasukan sayap kanan tentara kaum 

Muslimin menyerang Malik bin Zafilah dan berhasil menewaskannya. Quthbah bin Qatadah bertutur: 

Ku tusuk anak Zafilah bin Al-Irasy  

Dengan tombak yang menembus tubuhnya lalu  merobeknya 

Aku pukul lehernya hingga miring laksana miringnya ranting pohon As-Salam  

Kami giring wanita-wanita sepupunya  

Pada hari Ruqaiqah laksana domba-domba 

 

Ibnu Hisyam berkata: Kata "Bin Al-Irasy," bukan berasal dari Ibnu Ishaq. 

Sedangkan bait ketiga berasal dari Khallad bin Qurrah. Pendapat lain mengatakan Malik bin Rafilah. 

 

Dukun wanita Hadas dan Peringat- an Atas Kaumnya 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat mendengar kepulangan pasukan kaum Muslimin, dukun wanita dari 

Hadas berkata mengingatkan kaumnya di sebuah perkampungan yang bernama Bani Ghanm: "Aku 

peringatkan kalian terhadap sebuah kaum yang melihat dengan memicingkan mata dan penuh lirik- 

an, menuntun unta dengan berurutan, dan menumpahkan darah kotor." Orang-orang Bani Ghanm 

mematuhi ucapan dukun wanita itu dan menyingkir dari Lakhm. sesudah  itu Hadas tetap menjadi 

sebuah kabilah yang besar dan makmur. 

Sedangkan orang-orang yang menyulut api perang pada saat itu yaitu  Bani Tsa'labah, merupakan 

salah satu kabilah di Hadas yang terus berkurang sesudah  itu. sesudah  Khalid bin Walid berhasil mundur, 

ia pulang ke Madinah bersama para pasukan Islam. 

 

Pasukan Islam Pulang Ke Madinah, Sambutan Rasulullah serta Kemarahan Kaum Muslimin 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ja'far bin Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair yang 

berkata: Pada saat pasukan kaum Muslimin mendekati kawasan Madinah, mereka disambut 

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kaum Muslimin, dan anak-anak sambil berlarian. Rasulullah 

Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama kaum Muslimin datang ke tempat itu dengan menunggang kuda. 

Beliau bersabda: "Ambillah anak-anak, bawa mereka, dan berikan kepadaku anak Ja'far. Maka' 

Abdullah bin Ja'far dibawa kehadapan Rasulullah lalu  beliau mengambilnya dan membawanya. 

Adapun Kaum Muslimin menaburkan tanah ke arah pasukan kaum Muslimin sambil berkata: "Wahai 

orang-orang yang lari, kalian lari dari jalan Allah." Rasulullah bersabda: "Mereka tidak melarikan diri, 

namun akan balik kembali, Insya Allah." 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku, dari Amir bin Abdul¬lah bin Zubair, dari 

beberapa anggota keluarga Al-Harits bin Hisyam —mereka yaitu  pa- man-pamannya— yang berkata: 

Dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha, isteri Rasulullah: Ia bertanya kepada istri Salamah bin Hisyam 

bin Al-Ash bin AI-Mughirah: "Kenapa aku tidak melihat Salamah ikut shalat berjamaah bersama 

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya?" Istri Salamah bin Hisyam menjawab: 

'Demi Allah, ia tidak bisa keluar, sebab setiap kali ia keluar, orang-orang selalu mengejeknya: "Hai 

orang-orang yang lari, kalian lari dari jalan Allah." Oleh sebab itulah, ia berdiam diri di rumah dan tidak 

berani keluar." 

Ibnu Ishaq berkata: Perihal apa yang terjadi pada pasukan kaum Muslimin dan keputusan Khalid bin 

Walid untuk menghindari musuh, serta kepulangannya bersama pasukan. Dengan demikian Qais 

menjelaskan apa yang menjadi perselisihan di tengah penduduk Madinah dalam syairnya ini. Bahwa 

banyak orang yang tidak suka dan mengelak dari kematian dan dia menyatakan bahwa langkah Khalid 

bersama pasukannya yaitu  benar. 

Ibnu Hisyam berkata: Az-Zuhri berkata bahwa sesudah  ketiga panglima pasukan kaum Muslimin gugur, 

maka kaum Muslimin di pimpin oleh Khalid bin Walid hingga Allah memberi kemenangan kepada 

mereka. Khalid bin Walid tetap menjadi panglima pasukan hingga tiba di tempat Rasulullah. 

 

Syuhada' Mu'tah Inilah nama- nama syuhada' kaum Muslimin di Perang Mu'tah 

Ibnu Ishaq berkata: Di antara para syuhada' dari kaum Quraisy, lalu  dari Bani Hasyim yaitu  

sebagai berikut: Ja'far bin Abu Thalib dan Zaid bin Haritsah Radhiyallahuma. 

Dari Bani Adi bin Ka'ab yaitu  Mas'ud bin Al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah. 

Dari Bani Malik bin Hisl yaitu  Wahb bin Sa'ad bin Abu Sarh. 

Adapun para syuhada dari kaum Anshar, lalu  dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj yaitu  sebagai 

berikut: Abdullah bin Rawahah, Abbad bin Qais. 

Dari Bani Ghanm bin Malik bin An-Najjar yaitu  Al-Harits bin Nu'man bin Isaf bin Nadhlah bin Abdun 

bin Auf bin Ghanm. 

Dari Bani Mazin bin An-Najjar yaitu  Suraqah bin Amr bin Athiyyah bin Khansa. 

Ibnu Hisyam berkata: Ibnu Syihab berkata: Di antara syuhada Perang Mu'tah dari Bani Mazin bin An-

Najjar yaitu  kedua anak Amr bin Zaid Bin "Auf bin Mabdzul yakni Abu Kulaib dan Jabir. Mereka 

berdua yaitu  saudara kandung. 

Dari Bani Malik bin Afsha yaitu  sebagai berikut: Amr dan Amir bin Sa'ad bin Al-Harits bin Abbad bin 

Sa'ad bin Amir bin Tsa'labah bin Malik bin Afsha. 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan bahwa Abu Kilab dan Jabir yaitu  kedua anak Amr. 

 

Faktor-Faktor yang Mendorong Keberangkatan ke Makkah dan Pembukaan Kota Makkah Pada 

Bulan Ramadhan Tahun ke 8 Hijriyah 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menetap di Madinah pada bulan 

Jumadil Akhir dan Rajab sesudah  pengiriman pasukan Islam ke Mu'tah Ibnu Ishaq berkata:Tak lama 

berselang, kabilah Bani Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah menyerang kabilah Khuza'ah pada saat 

mereka berada di mata air mereka di Makkah Bawah yang bernama Al-Watir. Faktor penyebab perang 

antara kabilah Bani Bakr dengan kabilah Khuza'ah yaitu  karena orang dari Bani Al-Hadhrami yang 

bernama Malik bin Abbad -saat itu Bani Al-Hadhrami bersepakat dengan Bani Al-Aswad bin Razn Ad- 

Daili dari kabilah Bani Bakr- berangkat untuk berdagang. Pada saat ia berada di tengah-tengah 

kawasan Khuza'ah, orang-orang dari kabilah Khuza'ah menyerangnya dan membunuhnya lalu  

mereka merampas harta miliknya. Maka sebagai balasanya, kabilah Bani Bakr balik menyerang salah 

seorang dari kabilah Khuza'ah yang lalu  membunuhnya. Sebelum Islam datang, orang-orang dari 

kabilah Khuza'ah menyerang Bani Al-Aswad bin Razn Ad-Daili dan mereka yaitu  tokoh dan pemuka 

kaumnya, yaitu Salma, Kultsum, dan Dhuaib, serta membunuh mereka di Araf di perbatasan tanah 

bertanda batu yang menunjukkan batas tanah haram. 

Ibnu Ishaq berkata: Salah seorang dari Bani Ad-Dail berkata kepadaku bahwa pada zaman Jahiliyah, 

Bani Al-Aswad bin Razn Ad-Dail diberi diyat dua kali lipat, sedangkan mereka membayar satu diyat. 

Hal ini  karena kemuliaan mereka atas kami. 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat kabilah Bani Bakr dan kabilah Khuza'ah terlibat konflik seperti itu, Islam 

meredam kedua belah pihak berperang karena masing-masing pihak lebih sibuk memikirkan Islam. 

Dan pada saat Perdamaian Hudaibiyah yang terjadi antara Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

dengan orang-orang Quraisy yang di dalamnya disyaratkan-sebagaimana diriwayatkan kepadaku oleh 

Az-Zuhri dari Urwah bin Zubair dari Al-Miswar bin Makhramah, Marwan bin Al-Hakam, dan ulama-

ulama lainnya bahwa barangsiapa ingin masuk ke dalam perjanjian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam maka ia masuk ke dalamnya dan barangsiapa ingin masuk ke dalam perjanjian Quraisy maka 

hendaklah ia masuk ke dalamnya. Oleh sebab itu, kabilah Bani Bakr memilih masuk ke dalam perjanjian 

Quraisy sedang kabilah Khuza'ah masuk ke dalam perjanjian Rasulullah. Dan pada saat itulah, Bani Ad-

Dail dari kabilah Bani Bakr menggunakan kesempatan untuk membalas dendam atas kematian orang-

orang dari Bani Al-Aswad bin Razn Ad-Daili yang dibunuh kabilah Khuza'ah. Oleh karena itulah, Naufal 

bin Muawiyah Ad-Daili, pemimpin Bani Ad-Dail dari kabilah Bani Bakr, keluar bersama mereka, 

walaupun tidak semua Bani Bakr keluar mengikutinya, ia tetap menyerang kabilah Khuza'ah yang saat 

itu sedang berada di Mata Air mereka yang bernama Al-Watir secara tiba-tiba dan membunuh salah 

satu dari mereka. Dan sesudah  itu, setiap orang bergabung kepada kabilahnya masing-masing dan 

bertempur. 

Sementara itu, Bani Ad-Dail dari kabilah Bani Bakr mendapat suplai senjata dari kaum Quraisy dan 

beberapa orang Quraisy ikut terjun membela Bani Ad-Dail dari Bani Bakr di malam hari secara 

sembunyi-sembunyi. Perang pun terus berkecambuk sampai akhirnya Bani Ad-Dail dari kabilah Bani 

Bakr berhasil mendesak kabilah Khuza'ah mundur ke tanah haram. Pada saat kabilah Khuza'ah sampai 

di tanah haram, orang-orang Bani Ad-Dail dari kabilah Bani Bakr berkata: "Wahai Naufal, kita telah 

memasuki tanah haram. Ingatlah engkau akan Tuhanmu. Ingatlah engkau akan Tuhanmu." Naufal bin 

Muawiyah Ad-Daili mengucapkan kata-kata umpatan berat: "Tidak ada Tuhan di hari ini wahai Bani 

Bakr, maka lampiaskan semua dendam kalian. Aku bersumpah, kalian telah mencuri di tanah haram, 

kenapa kalian tidak melampiaskan dendam kalian di dalamnya?". 

Saat Bani Ad-Dail dari kabilah Bani Bakr menyerang kabilah Khuza'ah di Mata Air Al-Watir pada malam 

hari, mereka berhasil menangkap seorang lelaki dari kabilah Khuza'ah bernama Munabbih berhati 

lembut. Saat itu dia sedang keluar bersama seorang temannya, Tamim bin Asad. Munabbih berkata 

kepada Tamim bin Asad, "Wahai Tamim, selamat- kanlah dirimu sendiri. Tinggalkanlah aku, 

sebenarnya  aku akan mati. Baik mereka membunuhku atau membiarkanku. Sungguh hatiku telah 

hancur luluh." Tamim bin Asad pun pergi dengan cepat untuk menyelamatkan diri. Bani Ad-Dail dari 

kabilah Bani Bakr menemukan Munabbih lalu membunuhnya. Pada waktu kabilah Khuza'ah tiba di 

Makkah, mereka berlindung di rumah Budail bin Warqa' dan di rumah mantan budak mereka, Rafi. 

Tamim bin Asad lalu memohon maaf atas tindakannya meninggalkan Munabbih. 

 

Kabilah Khuza'ah Meminta Perlindungan dari Rasulullah 

Ibnu Ishaq berkata: Pada waktu kabilah Bani Bakr bersekongkol dengan Quraisy untuk menyerang 

kabilah Khuza'ah, menangkap salah seorang dari mereka, melanggar perjanjian dengan Rasulullah, 

serta untuk membunuh orang-orang dari kabilah Khuza'ah walaupun sebenarnya kabilah Khuza'ah 

yaitu  sekutu Rasulullah, maka Amr bin Salim dari Khuza'ah dari Bani Ka'ab pergi ke Madinah untuk 

menemui Rasulullah. Peristiwa ini merupakan faktor yang mendorong terjadinya pembebasan 

Makkah. Amr bin Salim berdiri di hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang sedang duduk 

bersama muslimin di masjid. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam bersabda: "Wahai Amr bin Salim, engkau 

akan dibantu." lalu  langit mendung ditampakkan kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda: 

"sebenarnya  awan ini datang membawa pertolongan bagi Bani Ka'ab, kabilah Khuza'ah. 

Budail bin Warqa' dan beberapa orang dari kabilah Khuza'ah pergi ke Madinah untuk menemui 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Setibanya di Madinah, mereka melaporkan kepada beliau apa 

yang menimpa kepada mereka dan tentang dukungan Quraisy terhadap kabilah Bani Bakr dalam 

menyerang mereka. lantas mereka kembali pulang ke Makkah. Sebelumnya, Rasulullah Shallalahu 

alaihi wa Sallam bersabda: "Nampaknya Abu Sufyan bin Harb akan datang kepada kalian untuk 

menguatkan perjanjian dan memperpanjang masa berlakunya." 

Budail bin Warqa' dan para sahabatnya pergi hingga bertempu dengan Abu Sufyan bin Harb di Usfan. 

Dia diutus oleh orang-orang Quraisy untuk menemui Rasulullah untuk menguatkan perjanjian dan 

memperpanjang masa berlakunya, sebab mereka ketakutan atas tindakan mereka sendiri membantu 

kabilah Bani Bakr. Pada saat Abu Sufyan bin Harb bertemu Budail bin Warqa', ia bertanya kepadanya: 

"Dari mana engkau datang, wahai Budail." Abu Sufyan bin Harb menduga bahwa Budail bin Warqa' 

baru saja menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Budail bin Warqa' menjawab: "Aku baru 

saja rekreasi di pantai dan di lembah ini bersama orang- orang kabilah Khuza'ah." Abu Sufyan bin Harb 

bertanya: "Apakah engkau baru kembali dari Muhammad?." Budail bin Warqa' menjawab: "Tidak." 

Saat Budail bin Warqa' tiba di Makkah, Abu Sufyan bin Harb berkata: "jika  Budail bin Warqa' baru 

datang dari Madinah, pasti untanya memakan biji kurma." lalu  Abu Sufyan bin Harb segera 

mendatangi tempat pemberhentian unta Budail bin Warqa' dan mengambil kotoran untanya. Ia 

mengurai kotoran unta ini  dan mendapati biji kurma padanya. Lalu ia berkata: "Aku bersumpah 

bahwa Budail bin Warqa' telah menemui Muhammad." 

Maka berangkatlah Abu Sufyan bin Harb ke Madinah. Setibanya di sana, ia masuk ke rumah putrinya, 

Ummu Habibah binti Abu Sufyan bin Harb. Pada saat hendak duduk di atas kasur Rasulullah, Ummu 

Habibab melipatnya karena tidak menginginkan Abu Sufyan bin Harb duduk di sana. Abu Sufyan bin 

Harb berkata: "Wahai putriku, aku tidak tahu apakah engkau tidak menyukaiku duduk di atas kasur ini 

atau engkau tidak menyukai diriku." Lalu Ummu Habibah menjawab: "Kasur ini milik Rasulullah, 

adapun engkau yaitu  seorang musyrikyang najis. Aku tidak sudi engkau duduk di atas kasur itu." Abu 

Sufyan bin Harb berkata: "Demi Allah, sesudah  engkau berpisah denganku, engkau menjadi orang 

berperangai buruk." 

lalu  dia keluar dan datang ke tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ia berbicara 

depadanya, namun beliau tidak meresponnya. Lalu Abu Sufyan bin Harb pergi ke tempat Abu Bakar 

untuk memintanya ber bicara dengan Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, tapi Abu Bakar pun 

menolaknya, ia berkata: "Aku tidak mau melakukannya." Lalu Abu Sufyan bin Harb mendatangi Umar 

bin Khaththab, tapi Umar bin Khaththab menimpalinya dengan ucapan: "Apakah pantas Aku memberi 

pembelaan untukmu di hadapan Rasulullah?!! Demi Allah, andai aku tidak memiliki apapun kecuali 

hanya seekor semut kecil, aku akan memerangimu dengannya." Abu Sufyan bin Harb pun keluar dari 

rumah Umar bin Khaththab dan pergi menuju rumah Ali bin Abu Thalib, kala itu dia sedang bersama 

istrinya, Fathimah dan anak mereka, Hasan bin Ali yang sedang merangkak dengan kedua tangannya. 

Abu Sufyan bin Harb berkata: "Hai Ali, engkau orang yang paling sayang padaku. Aku datang kepadamu 

untuk sebuah kepentingan. Oleh sebab itu, janganlah kalian memulangkan aku dalam keadaan 

kecewa. Bantulah aku di hadapan Rasulullah." Ali bin Abu Thalib berkata: "Wahai Abu Sufyan, 

Celakalah engkau!. Demi Allah, Rasulullah telah bertekad untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat 

ditawar lagi." 

Abu Sufyan bin Harb melirikkan pandangannya ke arah Fathimah, lalu berkata: "Wahai putri 

Muhammad, maukah engkau menyuruh anak kecilmu ini untuk memberikan perlindungan kepada 

manusia, semoga kelak dia menjadi pemimpin Arab sepanjang zaman?" Fathimah menjawab: "Demi 

Allah, anakku belum mampu melindungi manusia dan tidak ada seorang pun yang bisa melindungi 

mereka dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam." lalu  Abu Sufyan bin Harb berkata kepada 

Ali bin Abu Thalib: "Wahai Abu Hasan, nampaknya persoalan ini menjadi semakin rumit bagiku, maka 

berilah aku nasihat." Ali bin Abu Thalib berkata: "Demi Allah, aku tidak mengetahui sesuatu yang 

bermanfaat bagimu. Engkau yaitu  pemimpin Bani Kinanah, maka berdiri dan lindungilah manusia, 

dan pulanglah ke tempat asalmu." Abu Sufyan bin Harb bertanya: "Apakah yang demikian ini berguna 

bagiku?" Ali bin Abu Thalib menjawab: Tidak, demi Allah. Aku kira hal ini  tidak bermanfaat 

bagimu, namun aku tidak melihat pilihan lain yang lebih baik untukmu." Abu Sufyan bin Harb pergi ke 

masjid seraya berkata: "Wahai manusia, aku telah memberikan perlindungan kepada manusia." 

sesudah  mengatakan ucapannya tadi, Abu Sufyan bin Harb menaiki untanya dan balik ke Makkah. 

Sesampainya di Makkah, orang-orang Quraisy bertanya padanya: "Berita apakah yang engkau bawa?" 

Abu Sufyan bin Harb menjawab: "Aku telah menemui Muhammad dan berbicara dengannya, namun 

ia tidak memberi respon sedikit pun. lalu  aku menemui Abu Bakar, namun aku tidak melihat 

kebaikan terpancar padanya. Lalu aku datangi Umar bin Khaththab dan mendapatinya orang yang 

paling kencang permusuhannya. 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  aku datang kepada Ali bin Abu Thalib dan mendapat  dia sebagai 

orang yang paling lembut. Ia memberi nasehat padaku untuk melakukan sesuatu. Tapi, demi Allah, 

aku tidak tahu apakah itu akan berguna bagiku atau tidak." Orang-orang Quraisy bertanya: "Apa yang 

Ali perintahkan kepadamu?" Abu Sufyan bin Harb menjawab: "la menyuruhku melindungi manusia 

dan aku pun melakukannya," jawab Abu Sufyan. Orang-orang Quraisy bertanya: "Apakah Muhammad 

mengizinkan itu?" Abu Sufyan bin Harb menjjawab: "Tidak." Orang-orang Quraisy berkata: "Celakalah 

engkau, engkau telah dipermainkan oleh Ali bin Abu Thalib. Semua yang engkau katakan tadi tidak 

berguna bagimu." Abu Sufyan bin Harb berkata:  

"Demi Allah, tidak ada pilihan lain bagiku." 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kaum Muslimin mempersiap- kan diri mereka 

dan memerintahkan keluarga beliau untuk menyiapkan keperluan beliau. Abu Bakar masuk ke rumah 

anaknya, Aisyah yang sedang menyiapkan keperluan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu 

berkata: "Anakku, apakah Rasulullah menyuruhmu menyiapkan keperluan beliau?" Aisyah men- 

jawab: "Ya," Oleh karena itu, bersiap-siaplah engkau." Jawab Aisyah. Abu Bakar bertanya lagi: "Apakah 

engkau tahu hendak kemana beliau akan pergi?" Aisyah menjawab: "Demi Allah, aku tidak tahu." 

Tidak lama lalu , Rasulullah mengumumkan bahwa beliau segera berangkat ke Makkah dan 

memerintahkan kaum Muslimin untuk melakukan persiapan dengan sebaik-baiknya. Lalu beliau 

membaca do'a: "Ya Allah, tutuplah penglihatan dan pendengaran orang-orang Quraisy agar tidak 

mengetahui informasi keberangkatan kami, supaya kami bisa menyerang mereka dengan 

mengejutkan di dalam negeri mereka sendiri." Kaum Muslimin pun segera bersiap-siap. 

Hassan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu menuturkan bait-bait sya'ir untuk memberi motivasi kepada 

kaum muslimin dan menyebutkan perihal korban kabilah Khuza'ah: 

Aku sangat risau walaupun tidak melihat orang-orang Bani Ka'ab dipancung lehernya di lembah 

Makkah 

Oleh orang-orang dengan pedang mereka yang tidak terhunus 

Banyak korban yang yang dibiarkan tidak di kubur 

Kuharap; bantuanku dan tikamanku sampai kepada Suhail bin Amr dan Shafwan? 

Mereka unta tua yang telah terpotong dari rambut duburnya 

Inilah saatperang dimana tali-temalinya telah diikat kuat 

Hai anak Ummu Mujalid, janganlah merasa aman dari kami 

Tatkala susu murninya telah diperas dan taringnya telah bengkok 

Janganlah kalian sedih karenanya, karena 

pedang-pedang kami 

Akan membukakan pintu kematiannya 

 

Ibnu Hisyam berkata: Yang dimaksud Hassan bin Tsabit dengan bait sya'irnya, Oleh orang-orang 

dengan pedang mereka yang tidak terhunus ialah orang-orang Quraisy. Adapun yang dimaksud 

dengan Anak Ummu Mujalid yaitu  Ikrimah bin Abu Jahal. 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ja'far bin Zubair meriwayatkan kepadaku dari Urwah bin Zubair 

dan yang lainnya. Mereka berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengambil 

keputusan untuk pergi ke Makkah, Hathib bin Abu Balta'ah mengirim surat kepada orang-orang 

Quraisy. Di dalamnya, Hathib bin Abu Balta'ah menjelaskan prihal keputusan Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam untuk pergi ke tempat mereka. Surat ini  dititipkan Hathib bin Abu Balta'ah 

kepada seorang wanita bernama Muzainah demikian menurut Muhammad bin Ja'far, pendapat lain 

mengatakan, bahwa surat ini  dititipkan kepada Sarah mantan budak wanita salah seorang dari 

Bani Abdul Muthalib. Hathib bin Abu Balta'ah akan memberi hadiah kepada wanita tadi jika  ia 

bersedia menyampaikan surat yang dia tulis kepada orang-orang Quraisy. lalu  wanita ini  

menyembunyikan surat ini  di gelungan rambut kepalanya. Dan wanita itupun berangkat menuju 

Makkah. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menerima berita dari Jangit tentang perbuatan Hathib bin Abu 

Balta'ah ini , maka diutuslah Ali bin Abu Thalib dan Zubair bin Awwam. Kepada mereka berdua 

Rasulullah bersabda: "Kejarlah wanita yang membawa surat Hathib bin Abu Balta'ah yang berisi 

keterangan untuk orang-orang Quraisy perihal rencana keberangkatan kita terhadap mereka." 

Keduanya segera berangkat dan berhasil menyusul wanita ini  di daerah Khulaiqah Bani Abu 

Ahmad. Keduanya menyuruh wanita ini  turun dari unta dan membongkar pelananya, namun 

kedua sahabat itu tidak menemukan apa-apa. 

Ali bin Abu Thalib berkata kepada wanita ini : "Aku bersumpah dengan nama Allah bahwa 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak berbohong, dan kami juga tidak berbohong. Maka 

serahkanlah surat ini  kepada kami, kalau tidak, kami akan tanggalkan seluruh pakaianmu." 

Tatkala melihat keseriusan Ali bin Abu Thalib, wanita ini  berkata: "Balikan badanmu". Ali bin Abu 

Thalib pun membalikan badannya. sesudah  itu wanita ini  membuka gelungan rambutnya dan 

mengeluarkan surat dari dalamnya lalu menyerahkan surat ini  kepada Ali bin Abu Thalib. Ali bin 

Abu Thalib segera membawa surat ini  kepada Rasulullah. 

Rasulullah segera memanggil Hathib bin Abu Balta'ah seraya bertanya: "Wahai Hathib, apa yang 

mendorongnmu melakukan semua ini?" Hathib bin Abu Balta'ah menjawab: "Wahai Rasulullah, 

ketahuilah demi Allah, sebenarnya  aku masih beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak 

mengubah agamaku ataupun menggantinya. Sebenarnya, aku orang yang tidak memiliki nenek 

moyang di Quraisy, sedangkan aku memilki anak dan keluarga yang kini tinggal di sana. Sebab itulah, 

aku lakukan itu untuk mencari simpatik dari mereka." Umar bin Khaththab yang hadir di tempat itu 

berkata: "Wahai Rasulullah, aku meminta izin untuk memenggal leher orang ini, karena ia telah 

berdusta." Rasulullah bersabda: "Wahai Umar, tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah melihat 

mujahidin Badar, lalu  berfirman: "Kerjakan apa saja yang kalian inginkan, Aku telah 

mengampuni kalian."184 

 

Allah berfirman perihal Hathib bin Abu Balta'ah, 

 

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi 

teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa 

kasih sayang; padahal sebenarnya  mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, 

mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika 

kamu benar-benar keluar untuk berjihadpada jalan-Ku dan mencari keridaan-Ku (janganlah kamu 

berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada 

mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang 

kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sebenarnya  dia telah 

tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai 

musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu); dan 

mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada 

bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat 

apa yang kamu kerjakan. sebenarnya  telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan 

orang-orang yang bersama dengan dia; jika  mereka berkata kepada kaum mereka: "sebenarnya  

kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) 

mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai 

kamu beriman kepada Allah saja." Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "sebenarnya  aku 

akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu 

(siksaan) Allah." (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan 

hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali (QS. al-

Mumtahanah: 1-4). 

 

Keberangkatan Rasulullah Bersama Pasukan Kaum Muslimin dan Diangkatnya Abu Ruhm Sebagai 

Pengganti Imam 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari 

Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud, dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma, ia 

berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berangkat ke Makkah dan menunjuk Abu Ruhm — 

Kultsum bin Hushain bin Utbah bin Khalaf Al-Ghifari— sebagai imam sementara di Madinah. Peristiwa 

ini terjadi pada tanggal sepuluh Ramadhan sehingga Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan kaum 

Muslimin berpuasa. Setibanya di Al-Kudaid, daerah yang terletak antara Usfan dan Amaj, beliau 

berbuka puasa. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam terus melanjutkan perjalanan hingga 

berhenti di Marru Azh-Zhahran bersama sepuluh ribu kaum Muslimin. Tujuh ratus orang berasal dari 

Sulaim, pendapat yang lain mengatakan bahwa mereka berjumlah seribu orang. Pasukan dari 

Muzainah juga berjumlah seribu, oleh karena dari setiap kabilah terdapat orang-orang yang masuk 

Islam. Seluruh kaum Muhajirin dan Anshar ikut bersama Rasulullah, tak seorang pun yang tertinggal. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam singgah di Marru Azh-Zhahran dan tidak diketahui oleh orang-

orang Quraisy. Pada malam ini , keluarlah Abu Sufyan bin Harb, Hakim bin Hizam, dan Budail bin 

Warqa' untuk menyelidiki kabar dan melihat kondisi dan situasi barang kali mereka akan mendapat 

atau mendengar berita. Al-Abbas bin Abdul Muthalib bertemu Rasulullah di salah satu jalan. 

Ibnu Hisyam berkata: Al-Abbas bin Abdul Muthalib bertemu Rasulullah di Al-Juhfah saat itu dia 

bermaksud hijrah bersama keluarganya. Sebelumnya, Al-Abbas bin Abdul Muthalib tinggal di Makkah 

untuk melayani kebutuhan air para jama'ah haji atas restu Rasulullah, demikian seperti disampaikan 

oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri. 

 

Abu Sufyan bin Al-Harits dan Abdullah bin Abu Umaiyyah Masuk Islam 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muthalib dan Abdullah bin Abu Umaiyyah bin 

Al-Mughirah juga bertemu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Niqul Uqab, sebuah daerah yang 

terletak di antara Makkah dan Madinah. Keduanya hendak masuk ke tempat Rasulullah, lalu Ummu 

Salamah memberitahu beliau tentang keduanya: "Wahai Rasulullah, inilah anak paman dan anak 

bibimu, serta iparmu." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku tidak butuh mereka 

berdua. Adapun anak pamanku, ia telah merusak kehormatanku. Sedang anak bibiku dan iparku, ia 

pernah menghina diriku di Makkah." Tatkala sabda Rasulullah disampaikan kepada keduanya, Abu 

Sufyan bin Al-Harits -yang jika  itu membawa anaknya yang masih kecil berkata: "Demi Allah, 

Muhammad harus memberiku izin untuk masuk. 

lika tidak, aku akan membawa anak kecil ini keliling padang pasir hingga kami mati kelaparan dan 

haus." Saat Rasulullah mendengar ucapan Abu Sufyan bin Al-Harits tadi, hatinya terenyuh, akhirnya 

beliau mengizinkan keduanya untuk menemuinya. Keduanya pun masuk bertemu Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan merekapun masuk Islam. 

Ibnu Ishaq berkata: Para ulama mengatakan bahwa tatkala Abu Sufyan bin Al-Harits melantunkan bait 

syair berikut kepada Rasulullah: Yang pernah kuusir, kini Allah telah mendapat ku lalu  beliau 

bersabda: "Engkaulah orang yang pernah mengusirku!! 

jika  Rasulullah berhenti di Marru Azh-Zhahran, Al-Abbas bin Abdul Muthalib berkata: "Wahai orang-

orang Quraisy hati-hatilah di pagi ini. Demi Allah, jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memasuki 

Makkah dengan kekerasan dan orang-orang Quraisy tidak meminta jaminan keamanan kepadanya, 

maka itu yaitu  sebuah kehancuran bagi mereka sepanjang masa." 

Al-Abbas bin Abdul Muthalib berkata: lalu , aku duduk di atas baghal milik Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam yang berwarna putih dan pergi dengan menungganginya. jika  tiba di pohon arak 

(siwak), aku berkata: "Mudah-mudahan aku bisa bertemu dengan salah seorang pencari kayu bakar, 

atau pemilik susu, atau siapa saja yang berkepentingan untuk pergi ke Makkah, yang bisa 

menerangkan kepada mereka tentang keberadaan Rasulullah. lalu  mereka datang menemui 

beliau untuk meminta jaminan keamanan sebelum beliau datang kepada mereka dengan kekerasan. 

Demi Allah, aku terus berjalan dengan baghal milik Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk 

mencari seseorang. 

Tiba-tiba aku mendengar suara percakapan Abu Sufyan bin Harb dan Budail bin Warqa'. Abu Sufyan 

bin Harb berkata: "Aku belum pernah melihat api dan markas tentara seperti malam ini." Budail bin 

Warqa' berkata: "Demi Allah, itu yaitu  kabilah Khuza'ah yang sedang menyalakan api." Abu Sufyan 

bin Harb berkata: "Api kabilah Khuza'ah dan markasnya tidak sebesar itu." Aku mengenali dengan baik 

suara Abu Sufyan bin Harb. Aku berkata: "Wahai Abu Hanzhalah." Abu Sufyan bin Harb juga mengenali 

suaraku, lalu ia berkata: "Apakah engakau Abu Al-Fadhl?." Aku berkata: "Yaa, betul." Abu Sufyan bin 

Harb bertanya: "Ayah-ibuku menjadi tebusanmu, apa yang sedang engkau lakukan?' Aku menjawab: 

"Celakalah engkau wahai Abu Sufyan, kini Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang bersama 

pengikutnya. Demi Allah, orang-orang Quraisy harus berhati-hati pada pagi ini." Abu Sufyan bin Harb 

bertanya: "Bagaimana caranya untuk menghindari ini semua?" Aku menjawab: "Demi Allah, jika 

Rasulullah berhasil menangkapmu, beliau pasti memenggal batang lehermu. Sebab itu, naiklah ke 

baghal ini di belakangku, hingga aku akan membawamu kepada Rasulullah, lalu mintalah jaminan 

keamanan darinya." 

Abu Sufyan bin Harb pun naik di belakangku, adapun kedua temannya kembali ke Makkah. Lalu aku 

membonceng Abu Sufyan bin Harb dan membawanya untuk bertemu Rasulullah, dan setiap kali aku 

melewati api kaum Muslimin, mereka berkata: "Siapa orang ini?" dan tatkala mereka mengetahui akan 

baghal milik Rasulullah dan aku berada di atasnya, mereka berkata: "Itu yaitu  paman Rasulullah 

sedang mengendari baghal beliau." Aku pun terus berjalan sampai melewati api Umar bin Khaththab. 

Ia bertanya: "Siapa orang ini?" lalu  ia berjalan mendekatiku dan pada saat ia melihat orang yang 

duduk di belakangku itu Abu Sufyan bin Harb, ia berkata: "Abu Sufyan si musuh Allah. Segala puji bagi 

Allah yang telah menaklukanmu tanpa perjanjian dan kesepakatan sebelumnya." lalu  Umar bin 

Khaththab berlari menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sedangkan aku terus memacu 

baghal hingga mendahului Umar bin Khaththab seperti halnya hewan yang berlari pelan yang 

mendahului orang yang jalannya pelan. 

Aku turun dari baghal lalu masuk ke tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan pada saat yang 

sama Umar bin Khaththab masuk ke tempat beliau. Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam, inilah Abu Sufyan, Allah telah menaklukkannya tanpa perjanjian 

sebelumnya dan kesepakatan. Oleh sebab itu, izinkan aku untuk memenggal leherya." Aku berkata: 

"Wahai Rasulullah, aku telah melindungi Abu Sufyan bin Harb." lalu , aku duduk di dekat 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan memegang kepala beliau sambil berkata: "Demi Allah, pada 

malam ini tidak ada yang berbicara denganmu selain diriku." Tatkala Umar bin Khaththab tidak henti-

henti berbicara tentang Abu Sufyan bin Harb, aku berkata: "Tahan ucapanmu wahai Umar. Demi Allah, 

jika saja Abu Sufyan bin Harb berasal dari Bani Adi bin Ka'ab, pastinya engkau tidak akan berkata 

demikian. Akan tetapi, karena engkau tau kalau Abu Sufyan bin Harb berasal dari Bani Abdu Manaf 

maka engkaupun berkata seperti itu." Umar bin Khaththab berkata: "Tahan ucapanmu, wahai Al-

Abbas. Demi Allah, keislamanmu saat engkau masuk Islam itu lebih aku sukai dibandingkan  keislaman 

Khaththab jika  ia masuk Islam. Dan aku juga tahu kalau keislamanmu jauh lebih di sukai Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam dibandingkan  keislaman Khaththab jika  ia masuk Islam." Rasulullah 

bersabda: "Wahai Al- Abbas, pergilah bersama Abu Sufyan bin Harb ke tempat dimana kendaraanmu 

berada, dan jika  pagi datang, menghadaplah kembali kepadaku." 

Al-Abbas bin Abdul Muthalib berkata: "Aku membawa pergi Abu Sufyan bin Harb ke tempat 

kendaraanku berada dan ia menginap di tempatku. jika  pagi datang, aku bersama Abu Sufyan bin 

Harb menghadap Rasulullah. Pada saat melihat Abu Sufyan bin Harb, beliau bersabda: "Celakalah 

engkau wahai Abu Sufyan, apakah belum tiba waktu bagimu untuk mengetahui bahwa tidak ada 

Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah?" Abu Sufyan bin Harb berkata: "Betapa lembut, mulia, 

dan menyambung hubungan kekerabatan. Demi Allah, sungguh aku telah meyakini seandainya ada 

Tuhan lain selain Allah, maka dia pasti akan mencukupiku dengan sesuatu." Rasulullah bersabda: 

"Celakalah engkau wahai Abu Sufyan, apakah belum tiba waktu bagimu untuk mengetahui bahwa aku 

yaitu  utusan Allah?" Abu Sufyan bin Harb berkata: "Betapa lembut, mulia, dan menyambung 

hubungan kekerabatan. Adapun hal ini, demi Allah, sampai saat ini, di dalam diriku masih terdapat 

sesuatu yang mengganjal." Al-Abbas bin Abdul Muthalib berkata kepada Abu Sufyan bin Harb: 

"Celakalah engkau, wahai Abu Sufyan, masuk Islamlah, bersaksilah bahwa tidak ada Tuhan yang 

berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad yaitu  utusan Allah sebelum lehermu dipenggal." 

Abu Sufyan bin Harb pun bersaksi dengan syahadat yang Haq dan masuk Islam. Aku berkata: "Wahai 

Rasulullah, Abu Sufyan bin 

Harb yaitu  orang yang senang dengan kebanggaan, oleh sebab itulah, berikanlah suatu kebanggan 

kepadanya." Rasulullah bersabda: "Ya, barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan bin Harb, ia aman. 

Barangsiapa menutup pintu rumahnya, ia aman. Dan barangsiapa memasuki Masjidil Haram, ia 

aman."185 

 

Pada saat Abu Sufyan bin Harb telah pergi, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Hai Al-

Abbas, tahanlah Abu Sufyan bin Harb di tempat sempit di depan gunung, supaya pasukan Allah 

melewatinya dan ia bisa lelauasa melihat mereka." Aku segera keluar dan menahan Abu Sufyan bin 

Harb di tempat yang diperintahkan Rasulullah. 

 

Parade Pasukan Islam di Depan Abu Sufyan. 

Ibnu Ishaq berkata: Tidak lama berselang, setiap kabilah berjalan melewatinya dengan membawa 

panji masing-masing. Setiap satu kabilah lewat, Abu Sufyan bin Harb bertanya: "Hai Al-Abbas, siapa 

orang ini?" Aku menjawab: "Inilah kabilah Sulaim." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Aku tidak 

mempunyai urusan dengan kabilah Sulaim." lalu  kabilah lain lewat, dan Abu Sufyan bin Harb 

bertanya lagi: "Hai Al-Abbas, siapa orang-orang ini?" Aku menjawab: "Ini kabilah Muzainah." Abu 

Sufyan bin Harb berkata: "Aku tidak mempunyai urusan dengan kabilah Muzainah." Setiap kali kabilah 

lewat, Abu Sufyan bertanya kepadaku tentang kabilah ini  dan di saat aku telah menjelaskan 

tentang mereka, ia selalu berkata: "Aku tidak mempunyai urusan dengan Bani ini dan Bani itu." 

Demikianlah yang terjadi hingga akhirnya Rasulullah lewat dengan pasukannya dengan pakaian yang 

berwarna hijau. 

Ibnu Hisyam berkata: Pasukan Rasulullah dikatakan hijau karena besinya banyak dan dominasi warna 

hijau di dalamnya. 

Al-Harits bin Hilzat al-Yasykari berkata: 

lalu  datanglah Hujr yakni Ibnu Ummi Qatham 

Dia memiliki kuda berwarna hijau Artinya yaitu  batalion (squadron). Bait ini ada dalam syairnya. 

 

Sedangkan Hassan bin Tsabit berkata: 

Tatkala dia melihat tembok-tembok lembah Badr 

Mengalir di sana dengan pasukan Hijau dari Khazraj 

 

Ibnu Ishaq berkata: Dalam pasukan ini  terdapat kaum Muhajirin dan Anshar Radhiyallahu 

Anhum. Mereka seluruhnya memakai baju besi. Abu Sufyan bin Harb berkata: "Mahasuci Allah. 

Siapakah mereka ini wahai Al-Abbas?" Al-Abbas bin Abdul Muthalib menjawab: "Mereka yaitu  

Rasulullah bersama kaum Muhajirin dan Anshar." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Tak seorang pun yang 

memiliki keberanian dan kekuatan untuk menghadapi mereka. Wahai Al-Abbas, demi Allah, esok hari 

urusan keponakanmu ini akan menjadi agung." Al-Abbas bin Al-Muthalib berkata: "Hai Abu Sufyan, 

itulah dia kenabian. "Abu Sufyan bin Harb berkata "Benar!" Al-Abbas bin Al-Muthalib berkata 

"Sekarang pergilah segera untuk menemu kaummu." 

Saat Abu Sufyan bin Harb sampai di tengah-tengah kaum Quraisy, ia berteriak dengan suara lantang: 

"Wahai orang-orang Quraisy, inilah Muhammad datang kepada kalian dengan membawa pasukan 

yang tak tertandingi. Maka barangsiapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia akan aman." Hindun 

binti Utbah mendekat kepada Abu Sufyan bin Harb lalu memegang kumisnya seraya berkata: 

"Perangilah orang yang gendut, banyak lemak, dan dagingnya. Alangkah jeleknya pemimpin kaum 

ini.'" Abu Sufyan bin Harb berkata: "Celakalah kalian, hati-hatilah kalian jangan sampai tertipu oleh 

wanita ini. Sungguh Muhammad akan datang kepada kalian dengan pasukan yang tak tertandingi. 

Barangsiapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia akan aman." Orang-orang Quraisy berkata: 

"Semoga Allah mematikanmu. Apa manfaat rumahmu bagi kami?" Abu Sufyan bin Harb berkata: 

"Barangsiapa yang menutup pintu rumahnya, dia akan aman. Dan barangsiapa yang masuk Masjidil 

Haram, dia pun akan aman." lalu  orang-orang Quraisy pun berpencar; diantara mereka ada yang 

pulang ke rumah mereka sendiri dan ada pula yang berjalan menuju ke Masjidil Haram. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku bahwa jika  Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam tiba di Dzu Thuwa, beliau menghentikan binatang kendaraannya lalu tertunduk. 

beliau memakai sorban (burdah) dari Yaman yang bersulam benang warna merah. Beliau 

menundukkan wajah sebagai simbol kerendahannya di hadapan Allah Ta'ala jika  melihat 

penaklukan yang Allah karuniakan untuknya, hingga jenggotnya hampir menyentuh pelana bagian 

tengah. 

 

Abu Quhafah Masuk Islam 

Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair meriwayatkan kepadaku dari ayahnya 

dari neneknya, Asma' binti Abu Bakar, ia berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

berhenti di Dzu Thuwa, Abu Quhafah berkata kepada putri bungsunya: "Wahai anakku, bawalah aku 

naik ke Gunung Abu Qubis." -Abu Quhafah sudah buta-. Aku membawanya naik ke Gunung Abu Qubis. 

Ia bertanya: "Wahai putriku, apa yang engkau saksikan sekarang?" Putrinya menjawab: "Aku 

menyaksikan kumpulan warna hitam." Abu Quhafah berkata: "Itu yaitu  kuda." Putri bungsunya 

berkata: "Aku juga melihat orang-orang hilir-mudik berjalan di hadapannya." Abu Quhafah berkata: 

"Putriku, dialah sebagai pemimpinnya. Ia sedang mengatur pasukan berkuda yang berada di 

depannya." Putrinya berkata: "Demi Allah, warna hitam itu kini menyebar." Abu Quhafah berkata: 

"Demi Allah, pasukan berkuda itu telah berjalan. Maka bawalah aku sekarang juga kembali ke rumah." 

lalu  putri bungsu Abu Qufahah membawa ayahnya turun dan bertemu dengan pasukan berkuda 

ini  sebelum mereka sampai di rumah. Putri bungsu Abu Quhafah memakai kalung yang terbuat 

dari perak dan berpapasan dengan salah seorang dari pasukan berkuda, lalu dia menjabret kalung 

ini  dari lehernya. 

Saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memasuki Makkah dan Masjidil Haram, Abu Bakar datang 

sambil menuntun ayahnya ke hadapan beliau. Saat Rasulullah melihat ayah Abu Bakar, beliau 

bersabda: "Wahai Abu Bakar, mengapa engkau tidak membiarkan ayahmu berdiam diri di rumah saja 

dan aku yang akan datang menemuinya?" Abu Bakar menjawab: "Wahai Rasulullah, ayahku lebih 

pantas berjalan menemuimu dibandingkan  engkau datang menemuinya." lalu  Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam mempersilahkan Abu Quhafah duduk di hadapannya, beliau mengusap dadanya 

seraya bersabda: "Masuk Islam-lah." Dan Abu Quhafah pun masuk Islam. 

Tak lama lalu , Abu Bakar membawa ayahnya yang kepalanya penuh dengan uban kembali 

menghadap Rasulullah. Beliau bersabda: "Gantilah warna rambutnya." Abu Bakar berdiri lalu 

memegang tangan saudari perempuannya seraya bertanya: "Aku bersumpah dengan nama Allah dan 

Islam, siapakah yang telah mengambil kalung saudari perempuanku ini.?" Namun tak ada seorang- 

pun yang menjawab pertanyaannya, lalu  ia berkata: "Wahai saudariku, ikhlaskanlah kalungmu, 

berharapkanlah pahala di sisi Allah. Demi Allah, sungguh pada hari ini kejujuran di tengah manusia 

amat sedikit."186 

 

 

Pasukan Islam Memasuki Makkah 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Najih meriwayatkan kepadaku bahwa sesudah  Rasulullah 

membagi-bagi pasukan di Dzu Thuwa, beliau memerintahkan Zubair bin Awwam bergabung dengan 

salah satu pasukan kuda. Zubair bin Awwam menjadi komandan pasukan sayap kiri. Dan beliau juga 

memerintahkan Sa'ad bin Ubadah bergabung dengan salah satu pasukan berkuda. 

Ibnu Ishaq berkata: Sebagian ulama berpendapat bahwa jika  Sa'ad bin Ubadah memasuki Makkah 

ia berkata: "Hari ini merupakan hari Peperangan, dan pada hari ini dihalalkan hal-hal diharamkan." 

Ucapan ini  didengar salah seorang sahabat dari kaum Muhajirin. 

Ibnu Hisyam berkata: Orang yang dimaksud yaitu  Umar bin Khaththab, lalu  dia berkata: 

"Wahai Rasulullah, dengarkanlah apa yang dikatakan oleh Sa'ad bin Ubadah, Kami tidak merasa aman 

jika ia memiliki kekuasaan atas Quraisy." Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abu Thalib: "Carilah Sa'ad 

bin Ubadah, ambil panji perang darinya, dan masuklah engkau ke Makkah dengan panji perang 

ini ." 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Najih meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah memerintahkan 

Khalid bin Walid masuk ke Makkah dari arah Al-Lith, bagian Makkah Bawah bersama salah satu 

pasukan. Semula, Khalid bin Walid berada di pasukan sayap kanan yang di dalamnya terdapat kabilah 

Aslam, kabilah Sulaim, kabilah Ghifar, kabilah Muzainah, kabilah Juhainah, dan kabilah-kabilah Arab 

yang lain. Sedangkan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah bersama salah satu pasukan kakum muslimin turun 

ke Makkah di hadapan Rasulullah, dan beliau sendiri masuk ke Makkah dari arah Adzakhir hingga tiba 

di Makkah bagian Atas, dan di sanalah tenda beliau dipancangkan. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Najih dan Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku bahwa 

Shafwan bin Umaiyyah, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Suhail bin Amr mengumpulkan orang-orang di Al-

Khandamah untuk berperang. Himas bin Qais bin Khalid saudara Bani Bakr telah menyiapkan 

perlengkapan dan senjata sebelum Rasulullah memasuki Makkah. Istri Himas bin Qais berkata: "Untuk 

apakah engkau menyiapkan senjata?" Himas bin Qais menjawab: "Untuk memerangi Muhammad dan 

para pengikutnya." Istrinya berkata: "Demi Allah, aku mengira senjatamu tidak akan membahayakan 

Muhammad dan para sahabatnya sedikitpun." Dia berkata: 

"Demi Allah, aku berharap bisa memberimu budak dari sebagian mereka." lalu  dia bertutur: 

Bila mereka menyerang di hari ini maka aku tidak punya alasan menyerah  

Karena aku punya senjata sempurna dan dan tajam dengan dua gigi 

Serta pedang yang mempunyai dua matapena dan terhunus dengan cepat 

Himas bin Qais turut serta pada Perang Al-Khandamah bersama Shafwan bin Umaiyyah, Suhail bin 

Amr, dan Ikrimah bin Abu Jahal. Saat mereka bertemu pasukan Khalid bin Walid, mereka terlibat dalam 

peperangan kecil sehingga menewaskan Kurz bin Jabir warga Bani Muharib bin Fihr dan Khunais bin 

Khalid bin Rabi'ah bin Ashram sekutu Bani Munqidz. Awalnya mereka berdua berada di pasukan 

berkuda Khalid bin Walid, namun keduanya memisahkan diri dari Khalid bin Walid dan menempuh 

jalan lain hingga akhirnya terbunuh; Khunais bin Khalid terbunuh sebelum Kurz bin Jabir. sesudah  

Khunais bin Khalid terbunuh, Kurz bin Jabir meletakkan jenazahnya di antara kedua kakinya, lalu ia 

berperang sambil melantunkan syair, hingga ia akhirnya ia gugur: 

Shafra' dari Bani Fihr yang berwajah bening dan dada bersih telah mengetahui bahwa aku akan 

berperang membela Abu Sakhr 

Ibnu Hisyam berkata: Nama panggilan Khunais bin Khalid yaitu  Abu Shakhr dia berasal dari kabilah 

Khuza'ah. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Najih dan Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku: 

"Salamah bin Al-Maila merupakan orang yang terbunuh dari kabilah Juhainah, ia yaitu  salah seorang 

tentara pasukan berkuda Khalid bin Walid. Adapun korban tewas dari kaum musyrikin sekitar dua 

belas atau tiga belas orang. lalu , orang-orang musyrikin mundur termasuk Himas bin Qais 

hingga ia pulang ke rumahnya seraya berkata kepada istrinya: "Kuncilah pintu rumah." Istrinya 

bertanya: "Mana yang kau ucapankan dulu?" Himas bin Qais bertutur: 

Andai kau saksikan Perang Al-Khandamah,  

Kala Shafwan dan Ikrimah melarikan diri  

Abu Yazid berdiri mematung laksana wanita yang ditinggal mati suaminya yang meninggalkan anak 

yatimnya 

Mereka dihadang pedang-pedang kaum Muslimin 

Yang memutus semua lengan dan tengkorak kepala 

Hingga tidak ada yang bisa didengar melainkan suara yang tak dimengerti 

Mereka memiliki suara dari tenggorokan dan suara dada di belakang kami 

Pasti kau tak akan mengecam walau hanya sepatah kata 

 

 

Sandi Pasukan Islam pada Pem- bukaan Makkah, Perang Hunain dan Thaif 

Ibnu Ishaq berkata: Sandi kaum Muslimin pada penaklukan Makkah, Perang Hunain, dan Perang Thaif 

yaitu  sebagai berikut: 

Sandi kaum Muhajirin yaitu  ya bani Abdurrahman, Sandi kaum Al-Khazraj yaitu  ya bani Abdillah 

dan adapun Sandi kaum Al-Aus yaitu  ya bani Ubaidillah. 

 

Orang-orang yang Diperintahkan Agar Dibunuh oleh Rasulullah 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah berpesan kepada para panglima pasukannya -saat memasuki Makkah- 

untuk tidak menyakiti siapa pun kecuali orang-orang yang memerangi mereka serta beberapa orang 

yang harus dibunuh walaupun mereka berlindung diri dengan bergantung di kain penutup Ka'bah. 

Mereka yaitu  Abdullah bin Sa'ad saudara Bani Amir bin Luay. 

Rasulullah memerintahkan para panglima perangnya untuk membunuhnya, sebab awalnya ia seorang 

Muslim dan menjadi penulis wahyu untuk beliau, akan tetapi lalu  murtad dan kembali kepada 

orang-orang Quraisy. Abdullah bin Sa'ad lari kepada Utsman bin Affan -saudara sesusuannya- dan 

Utsman bin Affan menyembunyikannya lalu  membawanya ke hadapan Rasulullah di saat kaum 

Muslimin dan penduduk Makkah telah merasa tenang. Utsman bin Affan meminta kepada Rasulullah 

jaminan keamanan untuk Abdullah bin Sa'ad, akan tetapi beliau diam lama sekali, lalu bersabda: "Ya." 

Dan di saat Utsman bin Affan pergi meninggalkan Rasulullah, beliau bersabda kepada orang-orang 

yang ada di sekitar beliau dari para sahabat: "Aku berdiam diri agak lama tadi karena harapan ada 

salah seorang dari kalian berdiri lalu  memenggal leher Abdullah bin Sa'ad." Salah seorang dari 

kaum Al-Anshar berkata: "Kenapa engkau tidak memberi isyarat kepadaku, wahai Rasulullah?" 

Rasulullah bersabda: "sebenarnya  seorang Nabi itu tidak boleh membunuh dengan cara memberi 

isyarat." 

Ibnu Hisyam berkata: lalu  Abdullah bin Sa'ad masuk Islam lagi dan Umar bin Khaththab 

menjadikannya sebagai wakil di beberapa urusannya, begitu juga Utsman bin Altan sesudan watatnya 

Umar bin Khaththab. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdulllah bin Hazhal yaitu  seorang yang berasal dari Bani Tamim bin Ghalib. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan untuk dibunuh karena awalnya ia seorang 

muslim dan Rasulullah mengutusnya sebagai petugas zakat ke salah satu daerah bersama salah 

seorang dari kaum Anshar dan mantan budak Abdullah bin Khaththal yang muslim. Ia berhenti di suatu 

tempat dan menyuruh mantan budaknya untuk menyembelih kambing serta membuat makanan 

untuknya. lalu , Abdullah bin Khaththal tidur. Saat ia bangun, ia mendapati mantan budaknya 

tidak membuatkan makanan apa-apa untuknya, lalu ia membunuhnya. lalu  ia murtad dan 

menjadi seorang musyrik. Ia memiliki dua penyanyi bernama Fartana dan seorang temannya. Kedua 

penyanyi wanita itu bernyanyi menghina Rasulullah, oleh sebab itu beliau memerintahkan keduanya 

dibunuh bersama Abdullah bin Khathal. 

Al-Huwairits bin Nugaidz bin Wahb bin Abdun bin Qushay. Ia termasuk salah seorang yang menyakiti 

Rasulullah di Makkah. 

Ibnu Hisyam berkata: jika  Abdullah bin Al-Abbas membawa kedua putri Rasulullah yaitu Fathimah 

dan Ummu Kultsum dari Makkah ke Madinah, lalu  hewan ke