Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 6

 


ta ini  sebagai ganti sahabat kalian, karena Tuhan telah ridha kepada 

kalian itu sedangkan sahabat kalian telah selamat." 

 

Mereka pun pulang. Setiba di Mekkah, mereka mufakat untuk menjalankan perintah 

paranormal wanita itu, Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah. Mereka 

memposisikan Abdullah sebagai kurban dan sepuluh unta sebagai kurban yang lain sedangkan 

Abdul Muthalib tetap berdiri dan berdoa kepada Allah di sisi patung Hubal. Mereka mengocok 

dadu dan ternyata dadu yang muncul yaitu  dadu atas nama Abdullah. Mereka menambahkan 

sepuluh unta sehingga unta berjumlah dua puluh ekor. Abdul Muthalib tetap berdiri dan berdoa 

kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu dan kembali dadu yang keluar yaitu  dadu atas 

nama Abdullah. Kembali mereka menambahkan sepuluh unta hingga unta berjumlah tiga 

puluh. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu, 

ternyata dadu yang muncul yaitu  dadu atas nama Abdullah. Mereka kembali menambahkan 

sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah empat puluh ekor. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa 

kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu ternyata dadu yang keluar yaitu  dadu atas nama 

Abdullah. Mereka kembali menam-bahkan sepuluh unta hingga unta berjumlah lima puluh 

ekor. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu, 

ternyata kembali dadu yang keluar yaitu  dadu atas nama Abdullah. Mereka menambahkan 

sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah enam puluh ekor. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa 

kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu, ternyata dadu yang keluar yaitu  dadu atas 

nama abdullah. Mereka menambahkan sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah tujuh puluh 

ekor. lalu  Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah sedang mereka mengocok 

dadu, ternyata dadu yang keluar dadu atas nama Abdullah. Mereka kembali menambah sepuluh 

unta lagi hingga unta berjumlah delapan puluh ekor. lalu  Abdul Muthalib berdiri dan 

berdoa kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu, ternyata nama Abdullah keluar kembali. 

Mereka menambahkan sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah sembilan puluh ekor. Abdul 

Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah sedang mereka dadu ternyata dadu yang muncul 

kembali atas nama Abdullah. Mereka kembali menambahkan sepuluh unta hingga unta 

berjumlah seratus ekor. lalu  Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah, sedang 

mereka mengocok kotak dadu, ternyata akhirnya dadu yang keluar atas nama unta. Orang-

orang Quraisy dan orang-orang yang hadir pada peristiwa ini  berkata: "Kini tercapailah 

sudah tercapai keridhaan Tuhanmu, wahai Abdul Muthalib." Namun ada yang menyebutkan 

bahwa Abdul Muthalib berkata: "Tidak! demi Allah, hingga aku mengocok kotak dadu ini 

hingga tiga kali." 

 

lalu  mereka mengocok kotak dadu atas nama Abdullah dan unta, sedang Abdul Muthalib 

berdiri dan berdoa kepada Allah, ternyata dadu yang keluar yaitu  dadu atas nama unta. 

Mereka mengulanginya untuk kedua kalinya, sedang Abdul Muthalib berdiri dan berdoa 

kepada Allah, ternyata kembali dadu yang keluar yaitu  dadu atas nama unta. Mereka 

mengulanginya untuk ketiga kalinya, sedang Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah, 

ternyata kembali dadu yang keluar yaitu  dadu atas nama unta. lalu  semua unta ini  

disembelih, dan manusia dibiarkan bebas mengambil dan menikmatinya. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Hanya manusia dan bukan hewan buas dibiarkan mengambilnya. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Di antara ucapan-ucapan ini  terdapat banyak sekali syair yang tidak 

dikenal oleh pakar syair di tengah-tengah kami. 

 

 

Wanita yang Menawarkan Diri Untuk Dinikahi Abdullah 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abdul Muthalib kembali ke rumah dengan menggapit tangan tangan 

anaknya Abdullah. Menurut sebagian orang, jika  Abdul Muthalib bersama Abdullah, 

melewati seorang wanita dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin 

Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr. Wanita ini  yaitu  saudari Waraqah bin Naufal bin 

Asad bin Abdul Uzza. Ia sedang berada di samping Ka'bah. Tatkala wanita itu melihat 

Abdullah ia berkata: "Wahai Abdullah, akan pergi kemana engkau?" Abdullah menjawab: 

"Aku akan pergi bersama dengan ayahku." Wanita ini  berkata: "Bagimu unta sebanyak 

yang disembelih karenamu. Gaulilah aku sekarang juga!" Abdullah berkata: Aku bersama 

ayahku dan aku tidak bisa menentang pendapatnya tidak pula berpisah dengannya." 

 

Abdul Muthalib bersama Abdullah pergi hingga sampai ke ke rumah Wahb bin Abdu Manaf 

bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr. Wahb bin Abdu 

Manaf kala itu yaitu  orang Bani Zuhrah yang paling baik nasab keturunannya, dan seorang 

tokoh paling tehormat. Ia menikahkan Abdullah bin Abdul Muthalib dengan Aminah binti 

Wahb. Aminah binti Wahb yaitu  wanita yang paling baik garis keturunan dan kedudukannya 

di kalangan Quraisy. Aminah yaitu  putri Barrah binti Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddar 

bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr. 

 

Barrah yaitu  putri Ummu Habib binti Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah 

bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr. 

 

Ummu Habib yaitu  putri Barrah binti Auf bin Ubaid bin Uwaij bin Adi bin Kaab bin Luay 

bin Ghalib bin Fihr. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Ada yang berpendapat, Abdullah bertemu dengan Aminah jika  ia 

diserahkan kepadanya. Abdullah berhubungan dengannya lalu  Aminah mengandung 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. sesudah  itu, Abdullah keluar dari rumah dan pergi ke 

rumah wanita yang menawarkan diri untuk menikah dengannya. Abdullah berkata kepada 

wanita tadi: "Kenapa engkau tidak menawarkan nikah kepadaku sebagaimana engkau lakukan 

kemarin?" Wanita ini  berkata kepada Abdullah: 'Cahaya yang ada padamu kemarin kini 

tiada lagi, ia telah lenyap. Maka kini aku tak lagi butuh padamu. 

 

Wanita tadi pernah menyimak dari saudaranya, Waraqah bin Naufal, pemeluk Kristen yang 

mengikuti kitab-kitab yang kuat bahwa akan ada nabi di umat ini. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku bahwa ia diberitahu, Abdullah 

bertemu dengan seorang wanita yang ia cintai selain Aminah binti Wahb. Sebelumnya, 

Abdullah bekerja di tanah miliknya hingga tampak bekas-bekas tanah padanya. Abdullah 

mengajak wanita ini  untuk menikah dengannya, namun wanita ini  sangat lambat 

merespon Abdullah sebab ia melihat bekas tanah di badan Abdullah. Abdullah pun segera 

keluar dari rumah wanita ini  lalu  ia berwudhu dan membersihkan tanah yang 

melekat di badannya, lalu  dengan sengaja dia pergi ke rumah Aminah dan melewati 

wanita ini . Wanita ini  mengajak Abdullah menikah dengannya, namun Abdullah 

tidak meresponnya dan tetap pergi ke rumah Aminah. Abdullah masuk kepada Aminah, dan 

menggaulinya, lalu  Aminah mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Taklama lalu , Abdullah berjalan melewati wanita ini  dan berkata kepadanya: 

"Apakah engkau tertarik kepadaku?" Wanita ini  menjawab: "Tidak!! tadi engkau berjalan 

melewatiku, sedang pada kedua matamu terdapat warna putih. Aku pun mengajakmu, namun 

engkau tidak merespon ajakanku, lalu  engkau masuk kepada Aminah, lalu warna sinar 

putih itu sirna bersamanya." 

 

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang menyatakan tentang wanita yang berkata kepada Abdullah 

yang berjalan melewatinya, sedang di kedua mata Abdullah terdapat cahaya warna putih seperti 

warna putih di kuda berkata: Aku pun mengajak Abdullah dengan sebuah harapan warna putih 

ini  bisa menjadi milikku sayang ia tidak merespon ajakanku. Ia masuk menemui Aminah, 

lalu menggaulinya, lalu  Aminah mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

 

Dengan demikian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yaitu  orang Quraisy yang paling 

baik nasabnya, dan paling tehormat baik dari jalur ayah dan ibunya. 

 

 

 

Apa yang Dikatakan Tentang Aminah Saat Mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam 

 

Ibnu Ishaq berkata: Banyak orang mengatakan, dan hanya Allah yang lebih tahu, bahwa 

Aminah binti Wahb, ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bercerita: Saat 

mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia bermimpi didatangi seseorang 

lalu  orang itu berkata kepadanya: "sebenarnya  engkau sedang mengandung penghulu 

umat ini. lika dia telah lahir ke bumi, maka ucapkanlah: Aku berlindung kepada Allah Tuhan 

Yang Esa dari keburukan semua pendengki,' dan namakanlah dia Muhammad." 

 

Saat mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia melihat cahaya keluar dari 

perutnya yang dengannya dia bisa melihat istana-istana Bushra di wilayah Syam. 

 

Tak berapa lama lalu  Abdullah bin Abdul Muthalib, ayahanda Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam meninggal dunia, saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang berada 

dalam kandungan ibundanya, Aminah. 

 

 

 

 

 

Bab 3 

 

 

 

 

Kelahiran Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam dan Kehidupannya 

Menjadi Nabi dan Rasul 

 

 

 

 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lahir pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul 

Awwal, tahun Gajah. 

Ibnu lshaq berkata: Al-Muthalib bin Abdullah bin Qais bin Makhramah berkata kepadaku dari ayahnya 

dari kakeknya yang berkata: Aku dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lahir pada tahun gajah. 

Kami lahir di tahun yang sama. 

Ibnu Ishaq berkata: Shalih bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata kepadaku dari Yahya bin 

Abdullah bin Sa'ad bin Zura- rah Al-Anshari yang berkata bahwa beberapa orang dari kaumku berkata 

kepadaku dari Hassan bin Tsabit yang berkata: "Demi Allah, aku saat itu seorang anak yang kuat, 

berusia tujuh atau delapan tahun." Saat itu, aku mendengar seorang Yahudi berteriak dengan suara 

sangat keras di atas menara di Yatsrib: "Wahai orang-orang Yahudi!" Manakala orang-orang Yahudi 

telah berkumpul di sekitarnya, mereka berkata kepadanya: "Celakalah engkau, ada apa gerangan 

denganmu?" Ia berkata: Malam ini, telah terbit bintang Ahmad yang ia lahir dengannya. 

Muhammad bin Ishaq berkata: Aku bertanya kepada Sa'id bin Abdurrahman bin Hassan bin Tsabit: 

"Berapa usia Hassan bin Tsabit jika  Rasulullah tiba di Madinah?'"Ia menjawab: "Enam puluh tahun. 

Sedang usia Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam saat tiba di Madinah yaitu  lima puluh tiga tahun. 

Artinya Hassan mendengar apa yang ia dengar saat dia berusia tujuh tahun: 

Ibnu Ishaq berkata: sesudah  melahirkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ibundanya mengutus 

seseorang menemui kakeknya, Abdul Muthalib, dengan sebuah pesan bahwa sebenarnya  telah lahir 

bayi untukmu. Oleh karena itu, datanglah dan lihatlah bayi itu! Abdul Muthalib segera melihat 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Aminah menuturkan kepada mertuanya Abdul Muthalib apa 

yang ia lihat saat ia mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, apa yang dikatakan 

kepadanya tentang anaknya, dan perintah untuk menamakan anaknya ini  dengan satu nama. 

Ada yang mengatakan bahwa Abdul Muthalib mengambil Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari 

ibundanya lalu dia membawanya ke Ka'bah. Abdul Muthalib berdoa dan bersyukur kepada Allah atas 

segala nikmat yang diberikan kepadanya. lalu  ia menyerahkan kembalikan Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam kepada ibunya, dan ia mencarikan ibu susuan untuk Rasulullah. 

Ibnu Hisyam berkata: Al-Maradhi' (tentang susuan), di sebutkan dalam Kitab Allah saat mengisahkan 

kisah Musa, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: 

 

 

Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) 

sebelum itu." (QS. al-Qashash: 12). 

Ibnu Ishaq berkata: Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam disusui seorang wanita dari Bani Saad 

bin Bakr yang bemama Halimah binti Abu Dzuaib. Abu Dzuaib yaitu  Abdullah bin Al-Harits bin Syijnah 

bin Jabir bin Rizam bin Nashirah bin Fushaiyyah bin Nashr bin Saad bin Bakr bin Hawazin bin Manshur 

bin Ikrimah bin Khashafah bin Qais bin Ailan. Nama ayah susuan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

yaitu  Al-Harits bin Abdul Uzza bin Rifa'ah bin Mallan bin Nashi¬rah bin Fushaiyyah bin Nashr bin 

Sa'ad bin Bakr bin Hawazin. 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berpenda- pat bahwa Hilal yaitu  anak Nashirah. 

Ibnu Ishaq berkata: Saudara-saudara se-susuan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yaitu  

Abdullah bin Al-Harits, Unaisah binti Al-Harts. Khidzamah binti Al-Harits yang nama aslinya yaitu  Asy-

Syaima'. Khidza¬mah. tidak dikenal di tengah kaumnya kecuali dengan nama Asy-Syaima. Ibu mereka 

yaitu  Halimah binti Abu Dzuaib Abdullah bin Al- Harits, ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Ada yang pula yang mengatakan bahwa Asy-Syaima ikut mengasuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam bersama ibunya jika  beliau hidup bersama mereka. 

Ibnu Ishaq berkata: lahm, bekas pelayan Al-Harits bin Hathib Al-Jumahi berkata kepadaku dari 

Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib atau dari seseorang yang mengutarakan kepadanya bahwa Halimah 

bin Abu Dzuaib As-Sa'diyyah, ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang menyusui beliau 

bercerita bahwa ia bersama suaminya keluar dari negerinya sambil membawa seorang anak kecil yang 

sedang disusuinya bersama dengan wanita-wanita Bani Sa'ad bin Bakr guna mencari anak-anak untuk 

disusui. Halimah As-Sa'diyyah bertutur bahwa tahun itu yaitu  tahun kering dan tidak menyisakan 

apapun dari makanan kami. Lalu kami berangkat dengan nengendarai keledaiku yang berwarna putih 

dan seekor unta tua yang tidak lagi menghasilkan susu setetes pun. Kami semua tidak bisa 

memejamkan mata di malam hari karena tangisan anak-anak kecil yang ikut bersama kami. Mereka 

menangis karena lapar sementara air susu ku tidak bisa mengenyangkannya demikian pula dengan 

unta tua yang kami miliki. Namun demikian kami tetap berharap mendapat  pertolongan dan solusi. 

Aku pun berangkat dengan menunggang keledai. Perjalanan kami memakan waktu yang lama hingga 

semakin menambah kelaparan dan kelelahan mereka. Demikianlah yang terjadi hingga kami sampai 

di Mekkah dan kami mencari anak-anak untuk disusui. Setiap wanita dari kami pernah ditawari untuk 

menyusui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, tapi semua menolaknya sesudah  mereka tahu bahwa 

anak (Rasulullah) yaitu  seorang anakyatim. Padahalkami mengharap imbalan yang banyak dari ayah 

anak yang kami susui. Kami berkata: "Wahai Anak yatim! Apa yang bisa dilakukan ibu dan kakeknya? 

Alasan inilah yang membuat kami tidak mau mengambilnya. Semua wanita telah mendapat  anak 

susuan kecuali aku." jika  kami semua sepakat untuk kembali ke negeri, aku berkata kepada 

suamiku: “Demi Allah, aku tidak mau kembali bersama teman-temanku tanpa membawa seorang anak 

yang bisa aku susui. Aku akan pergi kepada anak yatim ini  dan mengambilnya." Suamiku berkata: 

"Rasanya tidak salah jika engkau melakukannya. Semoga Allah memberkahi kita melalui anak yatim 

itu. Lalu akupun pergi kepada anak yatim itu dan mengambilnya. Dan tidaklah aku melakukan itu 

kecuali karena aku tidak mendapat  anak lain. sesudah  mengambilnya, aku kembali ke tempat 

peristirahatan. jika  aku merebahkannya di pangkuanku, aku menyusuinya hingga kenyang. 

Demikian pula dengan saudaranya. sesudah  menyusu keduanya tertidur satu hal yang sebelumnya 

tidak bisa kami nikmati. Sementara itu ia pergi pada unta tua milik kami ajaibnya air susu unta tua itu 

penuh. Kami pun memerah - nya lalu meminumnya hingga kenyang dan puas. Kami melewati malam 

ini  dengan indah. Pagi harinya sahabat-sahabatku berkata padaku: "Demi Allah, ketahuilah 

wahai Halimah engkau telah dikaruniai seorang anak yang penuh berkah. Demi Allah, demikian pula 

harapanku, jawabku." Lalu kami pulang dengan mengendarai keledaiku dan membawa serta 

Muhammad. Demi Allah, aku mampu meninggalkan rombonganku dan tidak ada satupun dari keledai 

mereka yang mampu menyusulku hingga membuat wanita-wanita ini  heran dan berkata 

kepadaku: "Celakalah engkau, wahai putri Abu Dzuaib tunggu dan berjanlah pelan-pelan! Bukankah 

keledai ini yaitu  keledai yang engkau bawa dari negerimu?" "Benar, demi Allah, dia dia juga!" 

jawabku. Mereka berkata: "Demi Allah, keledai ini terasa sangat berbeda dengan keledai-keledai yang 

lain." 

Kami pun tiba di Bani Sa'ad negeri kami. Sepanjang yang saya tahu tidak ada bumi Allah yang jauh 

lebih tandus dan kering dari negeri Bani Sa'ad. jika  tiba di negeriku membawa Muhammad, 

kambingku datang padaku da- lam keadaan kenyang dan susu penuh. Kami memerah dan 

meminumnya, pada saat yang sama orang-orang lain tidak dapat memerah susu setetes pun dan tidak 

mendapat nya pada kambing mereka. Begitulah, hingga kaumku berkata kepada para 

penggembala, 'Celakalah kalian, gembalakanlah kambing-kambing kalian itu di tempat 

penggembalaan kambing anak perempuan Abu Dzuaib.' 

Di senja hari, kambing-kambing mereka kembali dalam keadaan lapar dan tidak mengeluarkan susu 

setetes pun sementara di saat yang sama kambingku pulang dalam keadaan kenyang dan air susu 

melimpah. Kami terus mendapat  kucuran nikmat dan kebaikan dari Allah hingga berlangsung 

selama dua tahun. jika  Muhammad telah berusia dua tahun aku menyapihnya dan ia tumbuh 

menjadi anak muda yang berbeda dengan anak-anak muda pada umumnya. Belum genap dua tahun 

usianya ia telah menjadi anak yang kokoh dan kuat. 

Halimah As-Sadiyyah berkata: "Lalu kami membawa Muhammad kembali kepada ibunya padahal kami 

lebih suka jika ia tinggal bersama kami karena keberkahan yang ada padanya." Aku berkata pada 

ibunya: "Bagaimana kalau anakmu tetap tinggal bersamaku, hingga ia kuat, karena aku khawatir ia 

terkena epedemi penyakit Mekkah?" Kami berdiam di Mekkah hingga ibunya menyerahkan dia 

kembali kepada kami. 

Halimah As-Sadiyyah berkata: Kamipun pulang bersamanya. Demi Allah, sebulan sesudah  kedatangan 

kami bersama saudaranya ia menggembala kambing di belakang rumah, tiba-tiba saudaranya datang 

kepada kami dengan berlari. Saudaranya berkata kepadaku dan kepada ayahnya: "Saudaraku dari 

Quraisy diambil dua orang yang berpakaian serba putih lalu keduanya membaringkannya, membelah 

perutnya lalu mengaduk-aduk isi perutnya." Aku dan ayahnya segera keluar untuk mencarinya. Kami 

mendapatinya berdiri dengan muka pucat pasi. Kami memeluknya dengan erat. Kami bertanya 

padanya: "Apa yang terjadi denganmu wahai anakku?" Dia menjawab: "Dua orang berpakaian serba 

putih datang kepadaku lalu mereka membaringkanku, membelah perutku, dan mencari sesuatu yang 

tidak aku ketahui dalam perutku." Lalu kami pulang ke rumah. 

Halimah berkata: "Ayahnya berkata kepadaku: 'Wahai Halimah, aku khawatir anak ini sakit! Oleh 

karena itu, antarkanlah kembali kepada keluarganya sebelum sakitnya tampak dan semakin parah.'" 

Halimah As-Sadiyyah berkata: "lalu  kami membawa Muhammad dan menyerah- kannya 

kembali pada ibunya." Dengan heran Aminah bertanya: "Kenapa engkau mengantarkannya kembali 

kepadaku wahai ibu susuan bukankah sebelumnya engkau sendiri yang meminta agar ia tinggal 

bersamamu?" Aku menjawab: "Benar apa yang aku katakan. Namun kini Allah telah membesarkan 

anakku dan aku telah menyelesaikan apa yang menjadi tugasku. Aku khawatir karena banyak kejadian 

aneh yang terjadi padanya. Jadi kini aku kembalikan ia padamu sebagaimana yang engkau kehendaki." 

Ibunya berkata: Ada apa denganmu? Katakanlah sejujurnya!" Ibunya tidak membiarkanku pergi begitu 

saja, aku harus bercerita tentang apa yang terjadi pada anaknya kepadanya. Ibunya berkata: "Adakah 

engkau takut setan mengganggu dirinya?" Aku menjawab: "Benar!" Ibunya berkata: "Demi Allah, 

sekali-kali tidak!! Setan tidak mungkin memiliki kemampuan untuk merasukinya. 

Anakku akan memegang perkara besar di belakang hari. Maukah aku ceritakan padamu tentang 

perihal dia?" Aku berkata: "Tentu saja saya mau." Ibunya berkata: "Saat mengandungnya aku melihat 

cahaya keluar dariku yang dengan sinar ini  aku bisa melihat istana-istana Busra, di kawaan Syam. 

Sungguh aku belum pernah melihat kandungan yang lebih ringan dan lebih gampang darinya. jika  

aku melahirkannya, ia meletakkan kedua tangannya di bumi sedangkan kepalanya menghadap ke 

langit. Biarkan dia, dan pulanglah engkau dengan tenang. !" 

Ibnu Ishaq berkata: Tsaur bin Yazid berkata kepadaku dari dari beberapa orang berilmu dan aku kira 

berasal dari Khalid bin Ma'dan Al-Kalaiyyu, bahwa beberapa sahabat berkata kepada Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Kisahkanlah pada kami tentang dirimu, wahai Rasulullah!" Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:  

 

"Baiklah, aku ada yaitu  berkat doa ayahku Ibrahim dan berita gembira saudaraku Isa bin Maryam. 

jika  ibuku mengandungku, ia melihat cahaya keluar dari perutnya, yang dengannya dia melihat 

istana-istana di kawasan Syam. Aku disusui di Bani Sa'ad bin Bakr. jika  aku sedang bersama 

saudaraku di belakang rumah menggembalakan kambing, tiba-tiba datang dua orang yang 

berpakaian serbaputih meng- hampiriku sambil membawa cawan dari emas yangpenuh berisi es. 

Mereka mengambilku lalu membelah perutku lalu mengeluarkan hatiku, membelahnya, 

mengeluarkan gumpalan hitam dari hatiku lalu mereka melemparnya. sesudah  itu mereka berdua 

mencuci hati dan perutku dengan es yang telah dibersihkan. Salah seorang dari keduanya berkata 

kepada sahabatnya: "Timbanglah dia dengan sepuluh orang dari umatnya." Dia menimbangku 

dengan sepuluh orang umatku namun ternyata aku lebih berat dibandingkan  mereka. Orang pertama 

berkata lagi: "Timbanglah dengan seratus orang dari umatnya." Orang kedua menimbangku dengan 

seratus orang dari umatku, namun ternyata aku lebih berat dibandingkan  mereka. Orang pertama berkata 

lagi: "Timbanglah dengan seribu orang dari umatnya." Orang kedua menimbangku dengan seribu 

orang dari umatku namun ternyata aku lebih berat dibandingkan  mereka. Orang pertama berkata: Biarkan 

dta. Demi Allah, seandainya engkau menimbangnya dengan seluruh umatnya, pastilah ia lebih berat 

dibandingkan  timbangan mereka."8 

Ibnu Ishaq berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 

"Tidak ada seorang nabipun yang tidak pernah tidak menggembala kambing." Beliau ditanya: "Engkau 

juga, wahai Rasulullah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Benar, termasuk diriku."9 

Ibnu Ishaq berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada para 

sahabatnya: 

"Aku yaitu  orang yang paling fasih di antara kalian. Aku orang Quraisy dan aku disusui di Bani' Sa 'ad 

bin Bakr."10 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

8 Permulaan hadits ini diriwayatkan oleh Imam Hakim pada hadits nomer 4175 dan dia mengatakan sanadnya shahih. Pendapat 

ini disetujui oleh Adz-Dzahabi. Hadits ini memiliki syawahid dari Abu Dzar dari hadits ad-Darimi pada hadits nomer. 13. 

9 HR. Bukhari nomor: 2262. 

10 Sangat lemah. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad dalam At-Thabaqat dengan sanad mu'dhal (1/113), dan Imam Ath- Thabrani 

dalam Al-Kabiir dalam sanadnya ada seorang yang bernama Mubassyir bin Ubaid dan dia termasuk perawi yanq ditinggalkan (matruk). 

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 

Ibnu Ishaq berkata: Banyak orang menyebutkan, dan Allah Maha lebih Tahu, jika  ibunda Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam Halimah As-Sa'diyyah membawanya ke Mekkah, Rasulullah tiba-tiba 

lenyap di tengah orang banyak tatkala akan dikembalikan kepada keluarganya. Halimah As-Sa'diyyah 

mencarinya, namun sayang tidak berhasil menemukannya. Halimah As-Sa'diyyah segera menemui 

Abdul Muthalib dan berkata kepa- danya: "Malam ini aku datang bersama Mu-hammad, tapi saat aku 

berada di Mekkah Atas, ia tiba-tiba lenyap. Demi Allah, aku tidak tahu di mana keberadaannya." 

Lalu Abdul Muthalib berdiri di sisi Ka'bah seraya berdoa kepada Allah agar Dia berkenan 

mengembalikan Muhammad kepadanya. Ada juga yang mengatakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam ditemukan Waraqah bin Naufal bin Asad dan seseorang dari Quraisy, lalu  keduanya 

membawanya kepada Abdul Muthalib, kakeknya. Keduanya berkata kepada Abdul Muthalib: "Inilah 

anakmu. Kami mendapat  dia di Mekkah Atas." Abdul Muthalib mengambil Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam lalu  memanggulnya di pundaknya sambil thawaf di Ka'bah. Abdul Muthalib 

memintakan perlindungan dan berdoa untuk beliau, lalu  mengembalikan Rasulullah kepada 

Aminah binti Wahb, ibunya. 

Ibnu Ishaq berkata: Sebagian Ahli berkata kepadaku, di antara sebab lain yang mengha- ruskan ibu 

susuan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Halimah As-Sa'diyyah, mengembalikan Rasulullah 

kepada ibu kandungnya di samping sebab yang telah dijelaskan Halimah As-Sa'diyyah kepada Aminah 

binti Wahb- bahwa beberapa orang Kristen dari Habasyah melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sal¬lam bersama Halimah As-Sa'diyyah jika  ia kembali bersama beliau sesudah  disapih. Mereka 

memandang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan sangat seksama bertanya kepada Halimah 

As-Sa'diyyah tentangnya serta menimang-nimang beliau. Mereka berkata: "Kami pasti mengambil 

anak ini dan akan kami bawa ia kepada raja kami dan ke nege- ri kami, karena kelak anak ini akan 

menjadi orang terhormat, karena kami telah mengetahui seluk-beluk tentangnya." Orang yang 

mengatakan hal ini kepadaku berkata bahwa Halimah As-Sa'diyyah hampir saja tidak bisa kabur 

meloloskan diri dari mereka. 

 

 

Meninggalnya Aminah, dan Kondisi Rasulullah Bersama Kakeknya Abdul Muthalib sesudah nya 

 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  hidup bersama ibundanya, 

Aminah binti Wahb dan kakeknya, Abdul Muthalib, beliau berada dalam pemeliharaan Allah dan 

perlindungan-Nya. Allah menumbuhkan beliau dengan perkembangan yang baik karena Dia hendak 

memuliakan- nya. jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam telah berusia enam tahun, Aminah 

binti Wahb, ibunya meninggalkannya untuk selamanya. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm berkata kepadaku, 

ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Aminah binti Wahb meninggal dunia di Al-Abwa', 

sebuah kawasan yang berada di antara Mekkah dan Madinah. Saat itu usia Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam baru enam tahun. Aminah membawa beliau mengunjungi paman-pamannya dari jalur 

ibunya di Bani Adi bin An-Najjar, lalu  ia meninggal dunia saat dalam per- jalanan pulang menuju 

Mekkah. 

Ibnu Hisyam berkata: Ibunda Abdul Muthalib Hisyam yaitu  Salma binti Amr An-Najjariyah. Hubungan 

kepamanan inilah yang diuraikan Ibnu Ishaq pada saat dia membahas paman-paman Rasulullah dari 

Bani Adi bin An-Najjar ini . 

Ibnu Ishaq berkata: sesudah  itu, hiduplah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersama Abdul 

Muthalib, kakeknya. Abdul Muthalib mempunyai permadani di Ka'bah. Anak-anaknya duduk di sekitar 

permadani ini  sampai ia duduk di permadani itu. Tak seorang pun di antara anak-anaknya yang 

berani duduk di atas permadani ini  karena demikian hormat kepadanya. Saat masih kecil, 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam datang di atas permadani ini  lalu  duduk di atasnya. 

Melihat beliau duduk di permadani kakeknya, paman-pamannya mengambilnya dari permadani 

ini  sehingga dengan demikian mereka bisa men- jauhkan beliau dari Abdul Muthalib. Melihat 

perlakukan paman-pamannya seperti itu terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Abdul 

Mulhthalib dengan bijak berkata: "Jangan larang anakku (cucuku) ini duduk di atas permadani ini. 

Demi Allah, kelak di lalu  hari dia akan menjadi orang besar." lalu  Abdul Muthalib 

mendudukkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersamanya, membelainya dengan tangannya, 

dan ia demikian senang atas apa yang diperbuatnya. 

 

 

 

Wafatnya Abdul Muthalib dan Syair-syair Eligi Duka Untuknya 

 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berusia delapan tahun, kakeknya 

Abdul Muthalib meninggal dunia, delapan tahun sesudah  tahun gajah. 

Ibnu Ishaq berkata: Al-Abbas bin Abdul-lah bin Ma'bad bin Al-Abbas berkata kepadaku dari sebagian 

keluarganya bahwa Abdul Muthalib meninggal dunia jika  usia Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

baru delapan tahun. 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Sa'id bin Al-Musayyib berkata kepadaku, jika  Abdul Muthalib 

merasa tidak lama lagi akan meninggal dunia, ia kumpulkan anak-anak perempuannya yang berjumlah 

enam orang: Shafiyyah, Barrah, Atikah, Ummu Hakim Al-Baidha', Umaimah, dan Arwa. Ia berkata 

kepada mereka: "Menangislah kalian untukku agar aku bisa mendengar apa yang kalian katakan 

sebelum aku menghembuskan napas terakhirku!" 

Saat Abdul Muthalib meninggal dunia, kelanjutan pengelolaan Sumur Zamzam dan pemberian air 

minum kepada jama'ah haji di ambil alih Al-Abbas bin Abdul Muthalib, anak bungsu di antara saudara-

saudaranya. Jabatan ini  ia pangku, hingga Islam muncul. Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam menetapkannya sebagaimana semula. Jabatan ini  berada pada keluarga Al-Abbas hingga 

saat ini. 

 

 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Bawah Asuhan Abu Thalib 

 

Ibnu Ishaq berkata: Sepeninggal Abdul Muthalib, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  

dibenarkan oleh pamannya, Abu Thalib, menurut para ulama, sesuai dengan wasiat kakeknya Abdul 

Muthalib, karena ayah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Ab- dulllah dan Abu Thalib yaitu  

saudara sekandung. Ibu mereka berdua yaitu  Fathimah binti Amr bin Aidz bin Abd bin Imran bin 

Makhzum. 

Ibnu Hisyam berkata: Aidz yaitu  anak Imran bin Makhzum. 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Thalib mengasuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sepeninggal kakeknya 

Abdul Muthalib. Beliau diserahkan kepadanya dan senantiasa bersamanya. 

Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair berkata kepadaku bahwa ayahnya 

berkata kepadanya bahwa seseorang dari Lahab, Ibnu Hisyam mengatakan Lihb berasal dari Azdi 

Syanu'ah. Ia seorang juru tenung. jika  ia datang ke Mekkah, orang-orang Quraisy datang 

menemuinya dengan membawa anak-anak mereka untuk dilihat dan diramal oleh Lihb tentang masa 

depan mereka buat kedua orang tuanya. jika  Lihb sedang berada di Mekkah Abu Thalib datang 

menemuinya dengan membawa serta Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang saat itu masih muda 

belia bersama orang-orang Quraisy yang lain. Pada saat Lihb melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam, ia terlena hingga lupa urusan lainnya. Lihb ber-kata: "Dekatkan anak muda itu padaku!" Saat 

Abu Thalib merasakan kesungguhan Lihb dan keinginannya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam, maka ia menjauhkannya dari penglihatan Lihb. Lihb berkata: "Sialan kalian semua, bawalah 

anak muda yang aku li- hat tadi padaku. Demi Allah dia akan menjadi orang besar di belakang hari* 

Lalu Abu Thalib segera membawa pergi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

 

 

Pertemuan dengan Pendeta Bahira 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Thalib menyertai rombongan dagang Quraisy menuiu Svam. Tatkala ia telah 

siap untuk berangkat, menurut sebagian ulama, Rasulu'ilah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkeinginan 

untuk ikut pergi bersamanya. Abu Thalib tidak kuasa meninggalkannya. Ia berkata: "Demi Allah aku 

harus membawanya pergi bersamaku. Ia harus tidak berpisah denganku dan aku harus tidak berpisah 

dengannva untuk lama- nya" -atau sebagaimana yang diucapkan oleh Abu Thalib. lalu  Abu 

Thalib berangkat dengan membawa serta Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersamanya. 

jika  rombongan bisnis Quraisy sampai di Busra, sebuah kawasan di Syam, ternyata di sana hidup 

seorang pendeta bernama Bahira sedang berada di rumah ibadahnya. Ia yaitu  sosok yang paling tahu 

tentang agama Kristen. Di rumah ibadah itulah dia hidup sebagai seorang pendeta, dan umat Nasrani 

mendapat  ilmu dari rumah ibadah ini  melalui sebuah kitab yang ada di dalamnya yang 

diwariskan secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Demikianlah menurut 

klaim banyak ulama. 

Pada tahun itu rombongan Quraisy berhenti di Bahira dimana sebelumnya mereka senantiasa 

melewatinya namun Bahira tidak pernah mau berbicara dan tidak mempedulikan mereka hingga 

tahun itu. Tatkala rombongan berhenti di dekat rumah ibadah Bahira di tahun itu, ia membuatkan 

makanan yang banyak sekali untuk mereka. Pendeta Bahira melakukan itu semua, menurut sebagian 

besar ulama, karena ada sesuatu yang dia lihat saat berada di dalam rumah ibadahnya. Ada pula yang 

mengatakan, jika  Bahira sedang berada dirumah ibadahnya, ia melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam berada di tengah-tengah rombongan Quraisy sedangkan awan menaungi beliau di tengah 

mereka. 

Lanjut Ibnu Ishaq: lalu  mereka berhenti di bawah rindang pohon dekat Bahira. Bahira melihat 

awan jika  pohon menaungi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan ranting-ranting pohon 

merunduk luluh kepada beliau hingga Rasulullah bernaung di bawahnya. Saat Bahira menyaksikan 

peristiwa, ia keluar dari rumah ibadahnya dan menyuruh pembantunya membuat makanan. 

Sedang ia sendiri pergi ke tempat rombong- an bisnis Quraisy. Ia berkata kepada mereka: "Wahai 

orang-orang Quraisy, sungguh aku telah membuat makanan untuk kalian. Aku ingin kalian semua dari 

anak kecil, orang dewasa, budak, dan orang merdeka semuanya ikut hadir." Ada seseorang yang 

bertanya kepada Bahira: "Demi Allah wahai Bahira, betapa luar biasanya apa yang engkau lakukan 

kepada kami di hari ini, padahal sebelum ini kami sering sekali melewati tempat tinggalmu ini. Apa 

gerangan yang terjadi pada dirimu pada hari ini?" Bahira berkata kepada orang itu: "Engkau tidaklah 

salah. Aku dulu memang persis seperti yang engkau utarakan. Namun kalian yaitu  tamu dan aku suka 

untuk menjamu kalian. Aku telah membuat makanan untuk kalian dan aku ingin semua 

menikmatinya." Merekapun masuk ke rumah Buhaira, sementara Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam tidak ikut bersama mereka karena masih kecil. Beliau bernaung di bawah pohon untuk menjaga 

perbekalan rombongan Quraisy. jika  Bahira melihat rombongan Quraisy dan ia tidak menyaksikan 

sifat yang telah ia ketahui, ia berkata: "Hai orang-orang Quraisy, saya ingatkan jangan sampai ada 

seorang pun yang tidak makan makananku ini." Mereka berkata kepada Bahira: "Wahai Bahira, "Masih 

ada seorang anak kecil di antara kami yang tertinggal di tempat perbekalan rombongan." Bahira 

berkata: "Janganlah kalian bertindak seperti itu, panggillah dia agar makan bersama dengan kalian." 

Salah seorang rombongan Quraisy berkata: "Demi Al-Lata dan Al-Uzza, sungguh sebuah aib bagi kami 

jika anak Abdullah bin Abdul Muthalib tidak ikut serta makan bersama kami." sesudah  itu, Bahira 

datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, mendekapnya dan mendudukkannya 

bersama rombongan Quraisy lainnya. 

Ibnu Ishaq berkata: jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam datang, ia memperhatikan beliau 

dengan teliti, dan memperhatikan seluruh tubuhnya. Dari hasil penglihatannya, ia dapatkan sifat-sifat 

kenabian pada beliau. Tatkala mereka selesai makan, rombongan Quraisy berpencar sedangkan Bahira 

mendekati Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada beliau: "Wahai anak muda, dengan 

menyebut nama Al-Lata dan A1 Uzza aku menanyakan kepadamu dan engkau hendaknya menjawab 

apa yang aku tanyakan kepadamu." Bahira mengatakan seperti itu, karena ia mendengar bahwa kaum 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersumpah dengan Al-Lata dan Al-Uzza. Ada yang mengatakan, 

bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Janganlah sekali-kali engkau bertanya 

tentang sesuatupun kepadaku dengan menyebut nama Al-Lata dan Al-Uzza. Demi Allah, tidak ada yang 

sangat aku benci melebihi keduanya." Bahira berkata: "Baiklah aku bertanya padamu dengan 

menyebut nama Allah, dan hendaknya engkau menjawab pertanyaanku." Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam berkata: "Tanyakanlah kepadaku apa saja yang hendak engkau tanyakan!" 

Bahira menanyakan banyak hal kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, tentang kondisi tidur 

beliau, postur tubuh beliau masalah-masalah lain. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab 

apa yang dia tanyakan. Dan semua jawaban Rasulullah sesuai dengan apa yang dia ketahui lalu  

Bahira melihat punggung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan ia melihat tanda kenabian ada di 

antara kedua pundak persis seperti ciri-ciri Nabi yang diketahuinya. 

Ibnu Hisyam berkata: Tanda kenabian Rasulullah seperti bekas bekam. 

Ibnu Ishaq berkata: sesaat sesudah  itu, Bahira menyapa paman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

Abu Thalib, dan bertanya padanya: "Apakah anak muda ini anakmu?' Dengan cepat Abu Thalib 

menjawab: "Benar, dia anakku!" Bahira berkata: "Tidak!, dia bukanlah anakmu. Anak muda ini tidak 

layak memiliki seorang ayah yang masih hidup." Abu Thalib berkata: "O, ya! Dia anak saudaraku." 

Buhaira bertanya: "Apa pekerjaan ayahnya?" Abu Thalib menjawab: "Ayahnya meninggal dunia saat 

dia ada di dalam kan- dungan ibunya." Bahaira berkata: "Segera bawa pulang ponakanmu ini ke negeri 

asalmu sekarang juga! Jagalah dia dari kejahatan orang-orang Yahudi! Demi Allah, jika mereka 

melihatnya seperti yang aku saksikan, niscaya mereka membunuhnya. sebenarnya  akan terjadi 

suatu perkara besar pada ponakanmu ini. Karena itulah, bawalah dia pulang segera ke negeri asalmu!" 

sesudah  menuntaskan urusan bisnisnya di Syam, Abu Thalib segera membawa pulang Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam ke Mekkah. Banyak orang mengklaim bahwa Zurair, Tamam dan Daris, 

ketiganya Ahli Kitab, melihat pada diri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam persis sebagaimana yang 

Bahira lihat pada beliau dalam perjalanan bersama pamannya, Abu Thalib. Mereka bertiga berusaha 

keras mencari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, namun Bahira melindunginya dari mereka. 

Bahira mengingatkan mereka kepada Allah, tentang nama dan sifatnya yang bisa mereka temukan 

dalam kitab mereka, serta bahwa sekalipun mereka sepakat untuk membunuh beliau, mereka tidak 

mungkin dapat mendekati beliau. Bahira tidak henti-hentinya memberi nasihat hingga akhirnya 

mereka menyadari kebenaran ucapan Bahira, lalu  membenarkan ucapannya dan menarik 

mundur niatnya untuk membunuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan mereka berpaling 

meninggalkan Bahira. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tumbuh besar dan berkembang, sementara Allah menjaganya 

dan melindunginya dari daki-daki dekil jahiliyah. Ini karena Allah hendak memuliakan dan memberikan 

risalah kepadanya. Hingga saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi seorang dewasa dia 

menjadi pahlawan di tengah kaumnya, sosok yang paling baik akhlak dan budi pekertinya, paling mulia 

nasabnya, paling baik bertetangga, teragung sikap santunnya, paling benar tutur katanya, paling agung 

memegang amanah, paling jauh dari kekejian, paling jauh dari akhlak-akhlak yang mengotori orang 

laki-laki, hingga akhirnya kaumnya menggelarinya dengan "Al-Amin" karena Allah menghimpun dalam 

diri beliau hal-hal yang baik. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pernah menceritakan tentang perlindungan Allah padanya dari 

perilaku jahiliyah sejak masa kecilnya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 

Pada masa kanak-kanakku, aku bersama dengan anak-anak kecil Quraisy mengangkat batu untuk 

satu permainan yang biasa anak-anak lakukan. Kami semua telanjang dan meletakkan bajunya 

dipundaknya masing-masing untuk memanggul batu. Aku ikut maju dan mundur bersama dengan 

mereka. Namun tiba-tiba ada seseorang yang belum pernah jumpa sebelumnya menamparku dengan 

tamparan yang amat menyakitkan sambil membisikkan sebuah kata: "Kenakan kembali pakaianmu!" 

Lalu segera aku mengambil pakaianku dan mengenakannya. sesudah  itu, aku memanggul batu di atas 

pundakku dengan tetap mengenakan pakaian, tidak seperti yang dilakukan teman-temanku. 

 

 

Perang Fijar 

 

Ibnu Hisyam berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berumur empat belas atau lima 

belas tahun seperti dikatakan Abu Ubaidah An Nahwi kepadaku dari Abu Amr bin Al-Ala terjadi perang 

dahsyat antara Quraisy yang didukung Kinanah mela- wan Qais Ailan. 

Penyulut perang ini yaitu  bahwa Urwah Ar-Rahhal bin Utbah bin Ja'far bin Kilab bin Rabiah bin Amir 

bin Shashaah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin melindungi unta pengangkut barang kepunyaan An-

Nu'man bin Al- Mundzir. Al-Barradh bin Qais, salah seorang dari Bani Dhamrah bin Bakr bin Abdu 

Manat bin Kinanah berkata kepada Urwah Ar-Rahhal: "Apakah engkau memberi perlindungan pada 

unta ini  dari Kinanah?" Urwah Ar-Rahhal menjawab: "Benar, bahkan lebih dari itu aku juga 

melindunginya dari semua manusia." sesudah  itu Urwah Ar-Rahhal keluar membawa unta ini . A1 

Barradh juga keluar untuk mengintai kelengahan Urwah Ar-Rahhal. Sesampainya di Taiman Dzi Thallal, 

di sebuah bebukitan yang tinggi, Urwah Ar- Rahhal lengah, saat itulah Al-Barradh menyerangnya 

lalu  membunuhnya pada bulan haram. Oleh sebab itulah perang ini disebut dengan Perang Fijar. 

Ibnu Hisyam berkata: Seseorang datang menemui orang-orang Quraisy lalu  berkata: 

"sebenarnya  Al-Barradh telah membunuh Urwah, padahal mereka sedang berada di bulan haram 

di Ukazh." Orang- orang Quraisy segera berangkat ke tempat orang-orang Hawazin tanpa diketahui 

oleh mereka. jika  orang-orang Hawazin mendengar keberangkatan orang-orang Quraisy, mereka 

mengejarnya dan mendapat  mereka sebelum memasuki tanah haram. Mereka pun bertempur 

hingga tiba waktu malam. sesudah  itu orang-orang Quraisy memasuki tanah haram, namun Hawazin 

menahan diri dan tidak mengejar mereka. Keesokan harinya mereka bertempur kembali. Demikianlah 

perang itu berlangsung berhari-hari. Sementara pada kedua belah pihak tidak ada seorang peminpin 

yang mampu menyatukan mereka. Baik kabilah dari Quraisy dan Kinanah mempunyai seorang 

pemimpin, demikian pula dengan kabilah Qais masing-masing mempunyai pemimpin. Rasulullah 

pernah mengikuti sebagian dari hari-hari perang itu karena diajak oleh paman-pamannya. Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 

"jika  itu mengambil panah-panah musuh yang dipanahkan pada paman-pamanku lalu aku 

serangkan pada mereka untuk dipanahkan balik pada musuh mereka."11 

11.  Sanadnya mu'dhal. Hadits ini diriwayatkan oteh Ibnu Sa'ad dalam Al-Thabaqat (1/126-128), sedangkan dia matruk. 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Perang Fijar bergolak, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam saat itu 

berumur dua puluh tahun. Perang ini  disebut Perang Fijar, karena kedua perkampungan 

ini , dan Kinanah Ailan telah menghalalkan hal-hal yang diharamkan atas mereka. Panglima 

perang Quraisy dan Kinanah yaitu  Harb bin Umayyah bin Abdu Syams. Pada pagi hari, kemenangan 

berada di pihak Qais atas Kinanah, namun pada tengah hari, kemenangan berbalik dan berada di pihak 

Kinanah atas Qais. 

Ibnu Hisyam berkata: Pembahasan ten- tang Perang Al-Fijjar lebih panjang dari apa 

yang saya sebutkan. Saya sengaja tidak menguraikannya secara lengkap karena khawatir mengurangi 

uraian tentang sirah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

 

 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menikah dengan Khadijah Radhiyallahu Anhu 

 

Ibnu Hisyam berkata; Saat Rasulullah Shalla-lahu alaihi wa Sallam berusia dua puluh lima tahun, beliau 

menikah dengan Khadijah binti 

Khuwailid Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Luay bin Ghalib seperti dikatakan 

kepadaku oleh sekian banyak ulama dari Abu Amr Al Madani. 

Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwailid yaitu  seorang perempuan pelaku bis- nis, terpandang 

dan kaya raya. Ia mempeker- jakan banyak karyawan untuk menjalankan roda bisnisnya dengan sistem 

bagi hasil. Orang- orang Quraisy yaitu  kaum pedagang. jika  

Khadijah mendengar tentang pribadi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, kejujuran kata-katanya 

beliau, keagungan amanah dan keindahan akhlaknya, ia mengutus seseorang untuk menemui 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Khadijah menawarkan kepada Rasulullah memasarkan 

dagangannya ke Syam dengan ditemani karyawan laki-lakinya yang sangat terpercaya yang bernama 

Maisarah. Jika Rasulullah mau Khadijah akan memberi- kan gaji yang lebih banyak dibandingkan  gaji yang 

pernah diterima orang-orang lain. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menerima tawaran ini, 

lalu  pergi dengan membawa barang dagangan Khadijah dengan ditemani karyawan laki-laki 

Khadijah yang bernama Maisarah hingga ke Syam. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhenti di bawah naungan pohon dekat rumah ibadah seorang 

satu pendeta. Pendeta itu menemui Maisarah dan bertanya: "Siapa lelaki yang berhenti dan bernaung 

di bawah pohon itu?" Maisarah berkata kepada pendeta itu: Lelaki itu berasal dari suku Quraisy dan 

penduduk asli tanah haram." Pendeta itu berkata: Yang bernaung di bawah pohon itu pasti seorang 

nabi." 

sesudah  itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjual barang-barangnya yang dia bawa dari 

Mekkah, dan membeli apa yang beliau mau beli. sesudah  menyelesaikan semua urusan bisnisnya, 

Rasulullah pulang ke Mekkah dengan ditemani Maisarah. Menurut para ulama, jika matahari sedang 

berada di puncak panasnya, Maisarah melihat dua malaikat menaungi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam dari sengatan panas sinar matahari, sedangkan beliau tetap berjalan di atas untanya. 

Sesampainya di kota Mekkah, Rasulullah menyerahkan uang hasil penjualan barang dagangan kepada 

Khadijah, dan Khadijah membeli barang dagangan yang Rasulullah bawa dengan harga dua kali lipat 

atau lebih sedikit. Maisarah menceritakan ucapan pen- deta dan tentang dua malaikat menaungi 

Ra¬sulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada Khadijah. 

Tatkala Maisarah menceritakan tentang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam padanya ia mengutus 

seseorang kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan membawa pesan: "Wahai sepupu, 

aku sangat tertarik kepadamu, karena kedekatan kekerabatanmu, kemuliaanmu di tengah kaummu, 

amanahmu, kebaikan akhlakmu, dan kejujuran ucapanmu." lalu  Khadijah menawarkan dirinya 

kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ia wanita Quraisy yang paling mulia nasabnya, paling 

tehormat dan paling kaya. Orang-orang Quraisy berkeinginan nikah dengannya, andai mereka mampu. 

Ibnu Ishaq berkata: Khadijah yaitu  putri Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin 

Murrah bin Ka'ab bin Luay bs-Ghalib bin Fihr. Ibu Khadijah yaitu  Fathimah binti Zaidah bin Al-Asham 

bin Rawahah bin Hajar bin Abd bin Ma'ish bin Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr. 

Ibu Fathimah yaitu  Halah binti Abdu Manaf bin Al-Harits bin Amr bin Munqidz bin Amr bin Ma'ish 

bin Amir bin Luai bin Ghalib bin Fihr. 

Ibu Halah yaitu  Qalabah binti Su'aid bin Sa'ad bin Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay bin 

Ghalib bin Fihr. 

Tatkala Khadijah mengutarakan keinginan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Rasulullah 

menceritakan hal ini kepada paman-pamannya. Maka dengan didampingi pamannya, Hamzah bin 

Abdul Muthalib, Rasulullah pergi ke rumah Khuwailid bin Asad. Hamzah bin Abdul Muthalib melamar 

Khadijah untuk beliau. Khuwailid bin Asad menikahkan putrinya, Khadijah dengan Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyerahkan maskawin kepada Khadijah 

sebanyak dua puluh unta betina muda. Khadijah yaitu  wanita pertama yang dinikahi Rasulullah 

Shallalahu alaihi wa Sallam dan Rasulullah tidak menikah dengan wanita manapun semasa hidup 

Khadijah. Rasulullah baru menikah lagi sesudah  Khadijah meninggal dunia. 

Ibnu Ishaq berkata: Dari Khadijahlah seluruh putera puteri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

dilahirkan kecuali Ibrahim al-Qasim. Beliau dipanggil dengan nama Abu Al-Qasim. Putera-puterinya 

yaitu  Ath-Thahir, Ath-Thayyib, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah. Salam sejahtera 

untuk mereka semua. 

Ibnu Hisyam berkata: Anak laki-laki Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang sulung yaitu  Al-

Qasim, Ath-Thayyib, lalu Ath-Thahir. Puteri beliau yang sulung yaitu  Ruqayyah, Zainab, lalu Ummu 

Kaltsum dan terakhir Fathimah. 

Ibnu Ishaq berkata: Al-Qasim, Ath-Thayyib dan Ath-Thahir, mereka meninggal dunia pada masa 

jahiliyah. Sedangkan puteri-puterinya hidup hingga zaman Islam, masuk Islam dan ikut hijrah bersama 

Rasulullah. 

Ibnu Hisyam berkata: Ibu Ibrahim yaitu  Mariyah al-Qibthiyyah. 

Ibnu Hisyam berkata bahwa Abdullah bin Wahb berkata kepadaku dari Ibnu Lahi'ah yang berkata: Ibu 

Ibrahim yaitu  Mariyah, wanita yang dihadiahkan Al-Muqaiqis kepada beliau. Mariyah berasal dari 

Hafn di kawasan Anshina. 

Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwalid bercerita kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul 

Uzza, pamannya. Ia seorang pemeluk Kristen yang mempelajari kitab-kitab, dan mengetahui banyak 

tentang Antropologi. Khadijah bercerita tentang apa yang dikisahkan Maisarah budaknya, tentang apa 

yang dikatakan seorang pendeta kepadanya dan dua malaikat yang menaungi beliau. Waraqah bin 

Naufal berkata: "Jika ini benar wahai Khadijah, pastilah Muhammad yaitu  nabi untuk umat ini. Aku 

tahu pasti bahwa umat ini akan mempunyai seorang nabi yang dinanti kedatangannya dan kini telah 

tiba waktu kemunculan nabi ini ," atau sebagaimana dikatakan oleh Waraqah bin Naufal. 

Ibnu Ishaq berkata: Sepertinya Waraqah menemui akhir penantiannya yang demikian lama dan 

membosankan yang senantiasa dia tanyakan: Hingga kapan? 

Tentang hal di atas, Waraqah bin Naufal berkata dalam senandung syair:  

Telah lama kuingat dengan sabar 

Dengan sedih kadang dengan air mata berlinang 

Khadijah menggambarkannya dan senantiasa memberi gambaran 

Sungguh tlah lama masa tungguku wahai Khadijah 

Di lembah Mekkah kutunggu dengan penuh harap 

Dari katamu kuharap dia muncul di sana  

Ku tak ingin apa yang dikatakan para pendeta 

Menjadi sebuah ramalan yang palsu belaka  

Muhammad akan menjadi pemimpin kami Ia taklukkan lawannya lewat hujjah 

Kilau cahayanya kan menebar di seantero bumi 

Ia luruskan jalan manusia yang bengkok  

Orang yang memeranginya pastilah mengalami kerugian 

Sedangyang berdamai dengannya memperoleh kemenangan 

Wahai, andai ku hidup di saat itu 

Aku saksian dia hingga aku menjadi orang yang paling beruntung 

Walau apa yang dibenci orang Quraisy itu demikian berat 

Dengan pekik teriakan keras mereka di kota Mekkah 

Aku punya harapan dari apa yang mereka benci 

Kepada Pemangku Arasy, jika mereka turun dan naik 

Bukankah sebuah kebodohan jika kita takpercaya pada-Nya 

Zat telah memilihnya dan mengangkatnya ke bintang-bintang 

Jika mereka masih ada dan aku juga ada kan terjadi banyak persoalan  

Orang-orang kafir itu kan berteriak dengan bising 

Jika aku mati, sebenarnya  semua manusia  

Akan menemui takdirnya dan ia kan berakhir juga 

 

 

Pembangunan Ka'bah dan Keputusan Rasulullah di Tengah Orang- orang Quraisy dalam Peletakan 

Hajar Aswad 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berumur dua puluh lima tahun, 

orang-orang Quraisy sepakat untuk memperbaharui pembangunan Ka'bah. Mereka ingin memberi 

atap pada Ka’bah, tapi mereka khawatir jangan-jangan hal ini  malah meruntuhkannya. Awal- 

nya Ka'bah dibangun di atas ketinggian orang pada umumnya. Oleh sebab itulah, mereka berkeinginan 

untuk meninggikannya dan memberi atap di atasnya. Akar masalahnya yaitu  karena adanya 

beberapa orang telah mencuri harta kekayaan yang ada di dalam Ka'bah. Padahal ia harta ini  di 

simpan di sebuah sumur di dalam Ka'bah. Barang berharga ini  ditemukan di rumah Du- waik, 

mantan budak Bani Mulaih bin Amr bin Khuza'ah. 

Ibnu Hisyam berkata: lalu  orang- orang Quraisy memenggal tangan Duwaik. 

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy menuduh bahwa orang-orang yang mencuri harta dari 

Ka'bah itu dengan sengaja meletakkan hasil curiannya di rumah Duwaik. jika  itu, laut melemparkan 

perahu milik salah seorang pedagang Romawi ke Jeddah. Perahu ini  pecah berkeping. Orang- 

orang Quraisy mengambil kayu-kayunya dan menyiapkannya sebagai atap. Di kota Mekkah saat itu 

ada seorang tukang kayu yang berasal dari Mesir Qibthy. Orang inilah yang menyiapkan sebagian 

bahan untuk pembangunan Ka'bah. Pada saat mereka sedang bekerja, tiba-tiba muncul ular keluar 

dari sumur Ka'bah. Sumur ini yaitu  tempat mereka memberikan sesajian setiap hari. Ular ini  

melongokkan kepalanya mendekati tembok Ka'bah. Inilah di antara hal yang dikhawatirkan oleh 

orang-orang Quraisy, karena setiap kali ada yang mencoba mendekati ular ini , ia mendesis 

sambil mengangkat kepalanya dengan mulutnya. Mereka sangat takut kepada ular ini . 

Suatu jika , saat ular ini  sedang berada di tembok Ka'bah, Allah mengirim seekor burung lalu 

burung itu menerkamnya dan membawanya pergi. Melihat peristiwa ajaib ini , orang-orang 

Quraisy berkata: "Kita berharap semoga Allah meridhai apa yang akan kita kerjakan. Kita memiliki se- 

orang pekerja yang telaten, kita juga memiliki kayu. Allah telah melindungi kita dari ular kejahatan 

ini ." 

Ibnu Ishaq berkata: jika  orang-orang Quraisy telah sepakat meruntuhkan Ka'bah dan 

membangunnya kembali, berdirilah Abu Wahb bin Amr bin Aidz bin Abd bin Imran bin Makhzum, Ibnu 

Hisyam berkata bahwa Aidz yaitu  anak Imran bin Makhzum, lalu  mengambil batu dari Ka'bah, 

namun batu itu meloncat lepas dari tangannya dan kembali ke posisinya semula. Abu Wahb berkata: 

"Wahai orang-orang Quraisy, untuk pembangun- an Ka'bah ini janganlah kalian menggunakan uang 

kecuali uang yang halal. Jangan sampai ada uang hasil pelacuran, uang dari hasil riba, dan uang yang 

diambil dari manusia dengan cara yang zalim." Orang-orang Quraisy mengatakan bahwa perkataan 

ini  berasal Al-Walid bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Najin Al-Makki berkata kepadaku bahwa ia diberitahu dari 

Abdullah bin Shafwan bin Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah bin Amr bin Hushaish 

bin Ka'ab bin Luay, bahwa ia melihat anak Ja'dah bin Hubairah bin Abu Wahb bin Amr sedang thawaf 

di Baitullah, lalu  ia bertanya kepada seseorang tentang orang ini . Ia diberi tahu bahwa 

orang ini  yaitu  anak Ja'dah bin Hubairah. Abdullah bin Shafwan berkata: Kakek orang inilah 

(Abu Wahb) yang mengambil batu dari Ka'bah tatkala orang-orang Quraisy mufakat untuk 

meruntuhkan Ka'bah, tapi batu ini  tergelincir dari tangannya dan kembali ke posisinya semua. 

lalu  Abu Wahb berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, untuk pembangunan Ka'bah ini janganlah 

kalian menggunakan uang kecuali uang yang halal. Jangan sampai ada uang hasil pelacuran, uang dari 

hasil riba, dan uang yang diambil dari manusia dengan cara yang zalim." 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Wahb yaitu  paman ayah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ia seorang 

yang sangat tehormat. 

Orang-orang Quraisy membagi-bagi Ka'bah. Pintu menjadi jatah Bani Abdu Manaf dan Zuhrah. Antara 

rukun Aswad rukun Yamani menjadi jatah Bani Makhzum dan kabilah-kabilah yang bergabung kepada 

mereka. Punggung Ka'bah menjadi jatah Jumah dan Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay. 

Hajar Aswad menjadi jatah Bani Abduddar bin Qushay, Bani Asad bin Al-Uzza, dan Bani Adi bin Ka'ab 

bin Luay. 

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang demikian dilanda khawatir untuk melakukan pemugaran terhadap 

Ka'bah. Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Akulah yang akan memulai meruntuhkan Ka'bah!" 

lalu  ia mengambil kapak, dan berdiri di depan Ka'bah, sambil berkata: "Ya Allah, kami tidak 

keluar dari agamamu, kami hanya menginginkan selain kebaikan." Ia runtuhkan Ka'bah dari arah dua 

tiang Ka'bah. Malam itu, dengan cemas orang-orang menunggu apa yang akan terjadi pada mereka. 

Mereka berkata: "Kita tunggu saja apa yang akan terjadi! Jika Al-Walid terkena sesuatu, kita tidak akan 

meruntuhkan sedikit pun dari Ka'bah lalu  kita kembalikan ia sebagaimana bentuknya semula. 

Jika tidak terjadi apa-apa pada dirinya, berarti Allah meridhai dan kita lanjutkan meruntuhkannya." 

Keesokan harinya, Al-Walid bin Al Mughirah berangkat kembali untuk meneruskan pekerjaannya. Ia 

runtuh kan Ka’bah dengan diikuti orang-orang Quraisy hingga pemugaran Ka'bah memasuki tahap 

peruntuhan pondasi Ibrahim Alaihis Salam. Pondasi ini  terbuat dari batu hijau berbentuk seperti 

punuk unta yang saling menempel lengket antara satu dengan yang lain. Ibnu Ishaq berkata: Sebagian 

orang orang meriwayatkan peristiwa ini berkata kepadaku bahwa seseorang dari Quraisy termasuk 

salah seorang yang meruntuhkan Ka'bah memasuk- kan linggis di antara dua batu untuk men- cabut 

dengan linggis itu salah satu dari dua batu ini . Tatkala batu ini  bergerak, tiba-tiba seluruh 

kota Mekkah bergetar hebat. Karena peristiwa ini mereka menghentikan usaha mencabut batu 

ini . 

Ibnu Ishaq berkata: Aku diberi tahu bahwa orang-orang Quraisy menemukan tulisan dalam bahasa 

Suryaniyah (Syiriak) di tiang Ka'bah namun mereka tidak mengerti tulisan ini  hingga akhirnya 

salah seorang Yahudi membacakannya kepada mereka. Tulisan ini  berbunyi: "Akulah Allah 

Pemilik Bak- kah (Mekkah) ini. Aku ciptakan ia saat Aku ciptakan langit dan bumi, dan saat Aku 

cipta¬kan matahari dan bulan. Aku melindunginya dengan penjagaan tujuh malaikat yang lurus. 

Bakkah tidak akan hancur hingga dua gunung di Bakkah hancur. Penghuninya diberkahi air dan susu." 

Ibnu Ishaq berkata: Aku diberi tahu bahwa mereka menemukan tulisan di atas Ka'bah. Tulisan ini  

berbunyi, "Mekkah yaitu  Rumah Allah yang haram. Rezki nya datang dari tiga jalur. Mekkah tidak 

bisa menjadi tanah halal oleh penguasanya. " 

Ibnu Ishaq berkata: Laits bin Abu Sulaim mengatakan bahwa empat puluh tahun sebelum diutusnya 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, jika yang dikatakan Laits bin Abu Suliam ini benar, mereka 

menemukan sebuah batu di Ka’bah. Pada batu ini  ada tulisan: "Barangsiapa menabur kebaikan, 

ia menuai kebahagiaan. Barangsiapa menabur kejahatan, ia menuai penyesalan. Tidaklah mungkin 

kalian mengerjakan dosa-dosa, lalu kalian dibalas dengan kebaikan-kebaikan. Sekali-kali tidak!! 

Sebagaimana anggur tidak bisa dipanen dari tanaman duri." 

Ibnu Ishaq berkata: Seluruh kabilah di Quraisy mengumpulkan bebatuan untuk pemugaran Ka'bah. 

Setiap kabilah mengumpulkan batu sendiri-sendiri, lalu  mereka membangun Ka'bah. jika  

pembangunan memasuki tahap peletakan Hajar Aswad, terjadi selisih pendapat di antara mereka. 

Setiap kabilah ingin menempatkan Hajar Aswad ke tempatnya semula tanpa harus melibatkan kabilah 

yang lain. Itulah yang terjadi hingga terjadilah perdebatan sengit di antara mereka, membentuk kubu, 

dan merekapun bersiap-siap untuk berperang. Bani Abduddar men- datangkan cawan berisi darah, 

lalu mereka bersekutu dengan Bani Adi bin Ka'ab bin Luay untuk mati bersama dan memasukkan 

tangan mereka ke dalam mangkok darah ini . Oleh karena itu, mereka dinamakan La'aqatu Ad-

Dami (penyendok darah). Selama empat atau lima malam orang-orang Quraisy berada dalam kondisi 

seperti itu. Akhirnya mereka bertemu di Masjidil Haram untuk melakukan perundingan. 

Sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa Abu Umayyah bin Al-Mughirah bin Umar bin Makhzum, 

orang tertua di kalangan Quraisy berkata: "Hai orang-orang Quraisy, biarlah konflik kalian ini 

diselesaikan oleh orang yang pertama kali masuk pintu masjid haram, dia memutuskan perkara 

kalian." Mereka mematuhi perintah Abu Umayyah bin Al-Mughirah, dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam yaitu  orang pertama yang masuk ke dalam masjid. Tatkala mereka melihat Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam sudah berada di dalam Masjid. mereka berkata: "Ini Al-Amien, yang 

terpercaya. Kami senang! Ini Muhammad." jika  beliau bertemu dengan mereka, maka diceritakan 

kepada beliau, lalu  beliau berkata: "Kalau demikian serahkan kain kepadaku." Kain diserahkan 

kepada beliau. Rasulullah mengambil Hajar Aswad yang diperebutkan, lalu  meletakkannya ke 

dalam kain dengan tangannya sendiri seraya bersabda: 

"Setiap kepala kabilah memegang ujung kain ini, lalu mengangkatnya bersama-sama." Mereka 

mengikuti perintah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. jika  mereka tiba di tempat Aswad, 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengam