ta ini sebagai ganti sahabat kalian, karena Tuhan telah ridha kepada
kalian itu sedangkan sahabat kalian telah selamat."
Mereka pun pulang. Setiba di Mekkah, mereka mufakat untuk menjalankan perintah
paranormal wanita itu, Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah. Mereka
memposisikan Abdullah sebagai kurban dan sepuluh unta sebagai kurban yang lain sedangkan
Abdul Muthalib tetap berdiri dan berdoa kepada Allah di sisi patung Hubal. Mereka mengocok
dadu dan ternyata dadu yang muncul yaitu dadu atas nama Abdullah. Mereka menambahkan
sepuluh unta sehingga unta berjumlah dua puluh ekor. Abdul Muthalib tetap berdiri dan berdoa
kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu dan kembali dadu yang keluar yaitu dadu atas
nama Abdullah. Kembali mereka menambahkan sepuluh unta hingga unta berjumlah tiga
puluh. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu,
ternyata dadu yang muncul yaitu dadu atas nama Abdullah. Mereka kembali menambahkan
sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah empat puluh ekor. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa
kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu ternyata dadu yang keluar yaitu dadu atas nama
Abdullah. Mereka kembali menam-bahkan sepuluh unta hingga unta berjumlah lima puluh
ekor. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu,
ternyata kembali dadu yang keluar yaitu dadu atas nama Abdullah. Mereka menambahkan
sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah enam puluh ekor. Abdul Muthalib berdiri dan berdoa
kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu, ternyata dadu yang keluar yaitu dadu atas
nama abdullah. Mereka menambahkan sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah tujuh puluh
ekor. lalu Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah sedang mereka mengocok
dadu, ternyata dadu yang keluar dadu atas nama Abdullah. Mereka kembali menambah sepuluh
unta lagi hingga unta berjumlah delapan puluh ekor. lalu Abdul Muthalib berdiri dan
berdoa kepada Allah, sedang mereka mengocok dadu, ternyata nama Abdullah keluar kembali.
Mereka menambahkan sepuluh unta lagi hingga unta berjumlah sembilan puluh ekor. Abdul
Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah sedang mereka dadu ternyata dadu yang muncul
kembali atas nama Abdullah. Mereka kembali menambahkan sepuluh unta hingga unta
berjumlah seratus ekor. lalu Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah, sedang
mereka mengocok kotak dadu, ternyata akhirnya dadu yang keluar atas nama unta. Orang-
orang Quraisy dan orang-orang yang hadir pada peristiwa ini berkata: "Kini tercapailah
sudah tercapai keridhaan Tuhanmu, wahai Abdul Muthalib." Namun ada yang menyebutkan
bahwa Abdul Muthalib berkata: "Tidak! demi Allah, hingga aku mengocok kotak dadu ini
hingga tiga kali."
lalu mereka mengocok kotak dadu atas nama Abdullah dan unta, sedang Abdul Muthalib
berdiri dan berdoa kepada Allah, ternyata dadu yang keluar yaitu dadu atas nama unta.
Mereka mengulanginya untuk kedua kalinya, sedang Abdul Muthalib berdiri dan berdoa
kepada Allah, ternyata kembali dadu yang keluar yaitu dadu atas nama unta. Mereka
mengulanginya untuk ketiga kalinya, sedang Abdul Muthalib berdiri dan berdoa kepada Allah,
ternyata kembali dadu yang keluar yaitu dadu atas nama unta. lalu semua unta ini
disembelih, dan manusia dibiarkan bebas mengambil dan menikmatinya.
Ibnu Hisyam berkata: Hanya manusia dan bukan hewan buas dibiarkan mengambilnya.
Ibnu Hisyam berkata: Di antara ucapan-ucapan ini terdapat banyak sekali syair yang tidak
dikenal oleh pakar syair di tengah-tengah kami.
Wanita yang Menawarkan Diri Untuk Dinikahi Abdullah
Ibnu Ishaq berkata: Abdul Muthalib kembali ke rumah dengan menggapit tangan tangan
anaknya Abdullah. Menurut sebagian orang, jika Abdul Muthalib bersama Abdullah,
melewati seorang wanita dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin
Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr. Wanita ini yaitu saudari Waraqah bin Naufal bin
Asad bin Abdul Uzza. Ia sedang berada di samping Ka'bah. Tatkala wanita itu melihat
Abdullah ia berkata: "Wahai Abdullah, akan pergi kemana engkau?" Abdullah menjawab:
"Aku akan pergi bersama dengan ayahku." Wanita ini berkata: "Bagimu unta sebanyak
yang disembelih karenamu. Gaulilah aku sekarang juga!" Abdullah berkata: Aku bersama
ayahku dan aku tidak bisa menentang pendapatnya tidak pula berpisah dengannya."
Abdul Muthalib bersama Abdullah pergi hingga sampai ke ke rumah Wahb bin Abdu Manaf
bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr. Wahb bin Abdu
Manaf kala itu yaitu orang Bani Zuhrah yang paling baik nasab keturunannya, dan seorang
tokoh paling tehormat. Ia menikahkan Abdullah bin Abdul Muthalib dengan Aminah binti
Wahb. Aminah binti Wahb yaitu wanita yang paling baik garis keturunan dan kedudukannya
di kalangan Quraisy. Aminah yaitu putri Barrah binti Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddar
bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr.
Barrah yaitu putri Ummu Habib binti Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah
bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr.
Ummu Habib yaitu putri Barrah binti Auf bin Ubaid bin Uwaij bin Adi bin Kaab bin Luay
bin Ghalib bin Fihr.
Ibnu Ishaq berkata: Ada yang berpendapat, Abdullah bertemu dengan Aminah jika ia
diserahkan kepadanya. Abdullah berhubungan dengannya lalu Aminah mengandung
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. sesudah itu, Abdullah keluar dari rumah dan pergi ke
rumah wanita yang menawarkan diri untuk menikah dengannya. Abdullah berkata kepada
wanita tadi: "Kenapa engkau tidak menawarkan nikah kepadaku sebagaimana engkau lakukan
kemarin?" Wanita ini berkata kepada Abdullah: 'Cahaya yang ada padamu kemarin kini
tiada lagi, ia telah lenyap. Maka kini aku tak lagi butuh padamu.
Wanita tadi pernah menyimak dari saudaranya, Waraqah bin Naufal, pemeluk Kristen yang
mengikuti kitab-kitab yang kuat bahwa akan ada nabi di umat ini.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku bahwa ia diberitahu, Abdullah
bertemu dengan seorang wanita yang ia cintai selain Aminah binti Wahb. Sebelumnya,
Abdullah bekerja di tanah miliknya hingga tampak bekas-bekas tanah padanya. Abdullah
mengajak wanita ini untuk menikah dengannya, namun wanita ini sangat lambat
merespon Abdullah sebab ia melihat bekas tanah di badan Abdullah. Abdullah pun segera
keluar dari rumah wanita ini lalu ia berwudhu dan membersihkan tanah yang
melekat di badannya, lalu dengan sengaja dia pergi ke rumah Aminah dan melewati
wanita ini . Wanita ini mengajak Abdullah menikah dengannya, namun Abdullah
tidak meresponnya dan tetap pergi ke rumah Aminah. Abdullah masuk kepada Aminah, dan
menggaulinya, lalu Aminah mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Taklama lalu , Abdullah berjalan melewati wanita ini dan berkata kepadanya:
"Apakah engkau tertarik kepadaku?" Wanita ini menjawab: "Tidak!! tadi engkau berjalan
melewatiku, sedang pada kedua matamu terdapat warna putih. Aku pun mengajakmu, namun
engkau tidak merespon ajakanku, lalu engkau masuk kepada Aminah, lalu warna sinar
putih itu sirna bersamanya."
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang menyatakan tentang wanita yang berkata kepada Abdullah
yang berjalan melewatinya, sedang di kedua mata Abdullah terdapat cahaya warna putih seperti
warna putih di kuda berkata: Aku pun mengajak Abdullah dengan sebuah harapan warna putih
ini bisa menjadi milikku sayang ia tidak merespon ajakanku. Ia masuk menemui Aminah,
lalu menggaulinya, lalu Aminah mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Dengan demikian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yaitu orang Quraisy yang paling
baik nasabnya, dan paling tehormat baik dari jalur ayah dan ibunya.
Apa yang Dikatakan Tentang Aminah Saat Mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam
Ibnu Ishaq berkata: Banyak orang mengatakan, dan hanya Allah yang lebih tahu, bahwa
Aminah binti Wahb, ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bercerita: Saat
mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia bermimpi didatangi seseorang
lalu orang itu berkata kepadanya: "sebenarnya engkau sedang mengandung penghulu
umat ini. lika dia telah lahir ke bumi, maka ucapkanlah: Aku berlindung kepada Allah Tuhan
Yang Esa dari keburukan semua pendengki,' dan namakanlah dia Muhammad."
Saat mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia melihat cahaya keluar dari
perutnya yang dengannya dia bisa melihat istana-istana Bushra di wilayah Syam.
Tak berapa lama lalu Abdullah bin Abdul Muthalib, ayahanda Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam meninggal dunia, saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang berada
dalam kandungan ibundanya, Aminah.
Bab 3
Kelahiran Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam dan Kehidupannya
Menjadi Nabi dan Rasul
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lahir pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul
Awwal, tahun Gajah.
Ibnu lshaq berkata: Al-Muthalib bin Abdullah bin Qais bin Makhramah berkata kepadaku dari ayahnya
dari kakeknya yang berkata: Aku dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lahir pada tahun gajah.
Kami lahir di tahun yang sama.
Ibnu Ishaq berkata: Shalih bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata kepadaku dari Yahya bin
Abdullah bin Sa'ad bin Zura- rah Al-Anshari yang berkata bahwa beberapa orang dari kaumku berkata
kepadaku dari Hassan bin Tsabit yang berkata: "Demi Allah, aku saat itu seorang anak yang kuat,
berusia tujuh atau delapan tahun." Saat itu, aku mendengar seorang Yahudi berteriak dengan suara
sangat keras di atas menara di Yatsrib: "Wahai orang-orang Yahudi!" Manakala orang-orang Yahudi
telah berkumpul di sekitarnya, mereka berkata kepadanya: "Celakalah engkau, ada apa gerangan
denganmu?" Ia berkata: Malam ini, telah terbit bintang Ahmad yang ia lahir dengannya.
Muhammad bin Ishaq berkata: Aku bertanya kepada Sa'id bin Abdurrahman bin Hassan bin Tsabit:
"Berapa usia Hassan bin Tsabit jika Rasulullah tiba di Madinah?'"Ia menjawab: "Enam puluh tahun.
Sedang usia Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam saat tiba di Madinah yaitu lima puluh tiga tahun.
Artinya Hassan mendengar apa yang ia dengar saat dia berusia tujuh tahun:
Ibnu Ishaq berkata: sesudah melahirkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ibundanya mengutus
seseorang menemui kakeknya, Abdul Muthalib, dengan sebuah pesan bahwa sebenarnya telah lahir
bayi untukmu. Oleh karena itu, datanglah dan lihatlah bayi itu! Abdul Muthalib segera melihat
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Aminah menuturkan kepada mertuanya Abdul Muthalib apa
yang ia lihat saat ia mengandung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, apa yang dikatakan
kepadanya tentang anaknya, dan perintah untuk menamakan anaknya ini dengan satu nama.
Ada yang mengatakan bahwa Abdul Muthalib mengambil Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari
ibundanya lalu dia membawanya ke Ka'bah. Abdul Muthalib berdoa dan bersyukur kepada Allah atas
segala nikmat yang diberikan kepadanya. lalu ia menyerahkan kembalikan Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam kepada ibunya, dan ia mencarikan ibu susuan untuk Rasulullah.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Maradhi' (tentang susuan), di sebutkan dalam Kitab Allah saat mengisahkan
kisah Musa, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya)
sebelum itu." (QS. al-Qashash: 12).
Ibnu Ishaq berkata: Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam disusui seorang wanita dari Bani Saad
bin Bakr yang bemama Halimah binti Abu Dzuaib. Abu Dzuaib yaitu Abdullah bin Al-Harits bin Syijnah
bin Jabir bin Rizam bin Nashirah bin Fushaiyyah bin Nashr bin Saad bin Bakr bin Hawazin bin Manshur
bin Ikrimah bin Khashafah bin Qais bin Ailan. Nama ayah susuan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
yaitu Al-Harits bin Abdul Uzza bin Rifa'ah bin Mallan bin Nashi¬rah bin Fushaiyyah bin Nashr bin
Sa'ad bin Bakr bin Hawazin.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berpenda- pat bahwa Hilal yaitu anak Nashirah.
Ibnu Ishaq berkata: Saudara-saudara se-susuan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yaitu
Abdullah bin Al-Harits, Unaisah binti Al-Harts. Khidzamah binti Al-Harits yang nama aslinya yaitu Asy-
Syaima'. Khidza¬mah. tidak dikenal di tengah kaumnya kecuali dengan nama Asy-Syaima. Ibu mereka
yaitu Halimah binti Abu Dzuaib Abdullah bin Al- Harits, ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ada yang pula yang mengatakan bahwa Asy-Syaima ikut mengasuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersama ibunya jika beliau hidup bersama mereka.
Ibnu Ishaq berkata: lahm, bekas pelayan Al-Harits bin Hathib Al-Jumahi berkata kepadaku dari
Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib atau dari seseorang yang mengutarakan kepadanya bahwa Halimah
bin Abu Dzuaib As-Sa'diyyah, ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang menyusui beliau
bercerita bahwa ia bersama suaminya keluar dari negerinya sambil membawa seorang anak kecil yang
sedang disusuinya bersama dengan wanita-wanita Bani Sa'ad bin Bakr guna mencari anak-anak untuk
disusui. Halimah As-Sa'diyyah bertutur bahwa tahun itu yaitu tahun kering dan tidak menyisakan
apapun dari makanan kami. Lalu kami berangkat dengan nengendarai keledaiku yang berwarna putih
dan seekor unta tua yang tidak lagi menghasilkan susu setetes pun. Kami semua tidak bisa
memejamkan mata di malam hari karena tangisan anak-anak kecil yang ikut bersama kami. Mereka
menangis karena lapar sementara air susu ku tidak bisa mengenyangkannya demikian pula dengan
unta tua yang kami miliki. Namun demikian kami tetap berharap mendapat pertolongan dan solusi.
Aku pun berangkat dengan menunggang keledai. Perjalanan kami memakan waktu yang lama hingga
semakin menambah kelaparan dan kelelahan mereka. Demikianlah yang terjadi hingga kami sampai
di Mekkah dan kami mencari anak-anak untuk disusui. Setiap wanita dari kami pernah ditawari untuk
menyusui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, tapi semua menolaknya sesudah mereka tahu bahwa
anak (Rasulullah) yaitu seorang anakyatim. Padahalkami mengharap imbalan yang banyak dari ayah
anak yang kami susui. Kami berkata: "Wahai Anak yatim! Apa yang bisa dilakukan ibu dan kakeknya?
Alasan inilah yang membuat kami tidak mau mengambilnya. Semua wanita telah mendapat anak
susuan kecuali aku." jika kami semua sepakat untuk kembali ke negeri, aku berkata kepada
suamiku: “Demi Allah, aku tidak mau kembali bersama teman-temanku tanpa membawa seorang anak
yang bisa aku susui. Aku akan pergi kepada anak yatim ini dan mengambilnya." Suamiku berkata:
"Rasanya tidak salah jika engkau melakukannya. Semoga Allah memberkahi kita melalui anak yatim
itu. Lalu akupun pergi kepada anak yatim itu dan mengambilnya. Dan tidaklah aku melakukan itu
kecuali karena aku tidak mendapat anak lain. sesudah mengambilnya, aku kembali ke tempat
peristirahatan. jika aku merebahkannya di pangkuanku, aku menyusuinya hingga kenyang.
Demikian pula dengan saudaranya. sesudah menyusu keduanya tertidur satu hal yang sebelumnya
tidak bisa kami nikmati. Sementara itu ia pergi pada unta tua milik kami ajaibnya air susu unta tua itu
penuh. Kami pun memerah - nya lalu meminumnya hingga kenyang dan puas. Kami melewati malam
ini dengan indah. Pagi harinya sahabat-sahabatku berkata padaku: "Demi Allah, ketahuilah
wahai Halimah engkau telah dikaruniai seorang anak yang penuh berkah. Demi Allah, demikian pula
harapanku, jawabku." Lalu kami pulang dengan mengendarai keledaiku dan membawa serta
Muhammad. Demi Allah, aku mampu meninggalkan rombonganku dan tidak ada satupun dari keledai
mereka yang mampu menyusulku hingga membuat wanita-wanita ini heran dan berkata
kepadaku: "Celakalah engkau, wahai putri Abu Dzuaib tunggu dan berjanlah pelan-pelan! Bukankah
keledai ini yaitu keledai yang engkau bawa dari negerimu?" "Benar, demi Allah, dia dia juga!"
jawabku. Mereka berkata: "Demi Allah, keledai ini terasa sangat berbeda dengan keledai-keledai yang
lain."
Kami pun tiba di Bani Sa'ad negeri kami. Sepanjang yang saya tahu tidak ada bumi Allah yang jauh
lebih tandus dan kering dari negeri Bani Sa'ad. jika tiba di negeriku membawa Muhammad,
kambingku datang padaku da- lam keadaan kenyang dan susu penuh. Kami memerah dan
meminumnya, pada saat yang sama orang-orang lain tidak dapat memerah susu setetes pun dan tidak
mendapat nya pada kambing mereka. Begitulah, hingga kaumku berkata kepada para
penggembala, 'Celakalah kalian, gembalakanlah kambing-kambing kalian itu di tempat
penggembalaan kambing anak perempuan Abu Dzuaib.'
Di senja hari, kambing-kambing mereka kembali dalam keadaan lapar dan tidak mengeluarkan susu
setetes pun sementara di saat yang sama kambingku pulang dalam keadaan kenyang dan air susu
melimpah. Kami terus mendapat kucuran nikmat dan kebaikan dari Allah hingga berlangsung
selama dua tahun. jika Muhammad telah berusia dua tahun aku menyapihnya dan ia tumbuh
menjadi anak muda yang berbeda dengan anak-anak muda pada umumnya. Belum genap dua tahun
usianya ia telah menjadi anak yang kokoh dan kuat.
Halimah As-Sadiyyah berkata: "Lalu kami membawa Muhammad kembali kepada ibunya padahal kami
lebih suka jika ia tinggal bersama kami karena keberkahan yang ada padanya." Aku berkata pada
ibunya: "Bagaimana kalau anakmu tetap tinggal bersamaku, hingga ia kuat, karena aku khawatir ia
terkena epedemi penyakit Mekkah?" Kami berdiam di Mekkah hingga ibunya menyerahkan dia
kembali kepada kami.
Halimah As-Sadiyyah berkata: Kamipun pulang bersamanya. Demi Allah, sebulan sesudah kedatangan
kami bersama saudaranya ia menggembala kambing di belakang rumah, tiba-tiba saudaranya datang
kepada kami dengan berlari. Saudaranya berkata kepadaku dan kepada ayahnya: "Saudaraku dari
Quraisy diambil dua orang yang berpakaian serba putih lalu keduanya membaringkannya, membelah
perutnya lalu mengaduk-aduk isi perutnya." Aku dan ayahnya segera keluar untuk mencarinya. Kami
mendapatinya berdiri dengan muka pucat pasi. Kami memeluknya dengan erat. Kami bertanya
padanya: "Apa yang terjadi denganmu wahai anakku?" Dia menjawab: "Dua orang berpakaian serba
putih datang kepadaku lalu mereka membaringkanku, membelah perutku, dan mencari sesuatu yang
tidak aku ketahui dalam perutku." Lalu kami pulang ke rumah.
Halimah berkata: "Ayahnya berkata kepadaku: 'Wahai Halimah, aku khawatir anak ini sakit! Oleh
karena itu, antarkanlah kembali kepada keluarganya sebelum sakitnya tampak dan semakin parah.'"
Halimah As-Sadiyyah berkata: "lalu kami membawa Muhammad dan menyerah- kannya
kembali pada ibunya." Dengan heran Aminah bertanya: "Kenapa engkau mengantarkannya kembali
kepadaku wahai ibu susuan bukankah sebelumnya engkau sendiri yang meminta agar ia tinggal
bersamamu?" Aku menjawab: "Benar apa yang aku katakan. Namun kini Allah telah membesarkan
anakku dan aku telah menyelesaikan apa yang menjadi tugasku. Aku khawatir karena banyak kejadian
aneh yang terjadi padanya. Jadi kini aku kembalikan ia padamu sebagaimana yang engkau kehendaki."
Ibunya berkata: Ada apa denganmu? Katakanlah sejujurnya!" Ibunya tidak membiarkanku pergi begitu
saja, aku harus bercerita tentang apa yang terjadi pada anaknya kepadanya. Ibunya berkata: "Adakah
engkau takut setan mengganggu dirinya?" Aku menjawab: "Benar!" Ibunya berkata: "Demi Allah,
sekali-kali tidak!! Setan tidak mungkin memiliki kemampuan untuk merasukinya.
Anakku akan memegang perkara besar di belakang hari. Maukah aku ceritakan padamu tentang
perihal dia?" Aku berkata: "Tentu saja saya mau." Ibunya berkata: "Saat mengandungnya aku melihat
cahaya keluar dariku yang dengan sinar ini aku bisa melihat istana-istana Busra, di kawaan Syam.
Sungguh aku belum pernah melihat kandungan yang lebih ringan dan lebih gampang darinya. jika
aku melahirkannya, ia meletakkan kedua tangannya di bumi sedangkan kepalanya menghadap ke
langit. Biarkan dia, dan pulanglah engkau dengan tenang. !"
Ibnu Ishaq berkata: Tsaur bin Yazid berkata kepadaku dari dari beberapa orang berilmu dan aku kira
berasal dari Khalid bin Ma'dan Al-Kalaiyyu, bahwa beberapa sahabat berkata kepada Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Kisahkanlah pada kami tentang dirimu, wahai Rasulullah!" Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Baiklah, aku ada yaitu berkat doa ayahku Ibrahim dan berita gembira saudaraku Isa bin Maryam.
jika ibuku mengandungku, ia melihat cahaya keluar dari perutnya, yang dengannya dia melihat
istana-istana di kawasan Syam. Aku disusui di Bani Sa'ad bin Bakr. jika aku sedang bersama
saudaraku di belakang rumah menggembalakan kambing, tiba-tiba datang dua orang yang
berpakaian serbaputih meng- hampiriku sambil membawa cawan dari emas yangpenuh berisi es.
Mereka mengambilku lalu membelah perutku lalu mengeluarkan hatiku, membelahnya,
mengeluarkan gumpalan hitam dari hatiku lalu mereka melemparnya. sesudah itu mereka berdua
mencuci hati dan perutku dengan es yang telah dibersihkan. Salah seorang dari keduanya berkata
kepada sahabatnya: "Timbanglah dia dengan sepuluh orang dari umatnya." Dia menimbangku
dengan sepuluh orang umatku namun ternyata aku lebih berat dibandingkan mereka. Orang pertama
berkata lagi: "Timbanglah dengan seratus orang dari umatnya." Orang kedua menimbangku dengan
seratus orang dari umatku, namun ternyata aku lebih berat dibandingkan mereka. Orang pertama berkata
lagi: "Timbanglah dengan seribu orang dari umatnya." Orang kedua menimbangku dengan seribu
orang dari umatku namun ternyata aku lebih berat dibandingkan mereka. Orang pertama berkata: Biarkan
dta. Demi Allah, seandainya engkau menimbangnya dengan seluruh umatnya, pastilah ia lebih berat
dibandingkan timbangan mereka."8
Ibnu Ishaq berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Tidak ada seorang nabipun yang tidak pernah tidak menggembala kambing." Beliau ditanya: "Engkau
juga, wahai Rasulullah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Benar, termasuk diriku."9
Ibnu Ishaq berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada para
sahabatnya:
"Aku yaitu orang yang paling fasih di antara kalian. Aku orang Quraisy dan aku disusui di Bani' Sa 'ad
bin Bakr."10
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
8 Permulaan hadits ini diriwayatkan oleh Imam Hakim pada hadits nomer 4175 dan dia mengatakan sanadnya shahih. Pendapat
ini disetujui oleh Adz-Dzahabi. Hadits ini memiliki syawahid dari Abu Dzar dari hadits ad-Darimi pada hadits nomer. 13.
9 HR. Bukhari nomor: 2262.
10 Sangat lemah. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad dalam At-Thabaqat dengan sanad mu'dhal (1/113), dan Imam Ath- Thabrani
dalam Al-Kabiir dalam sanadnya ada seorang yang bernama Mubassyir bin Ubaid dan dia termasuk perawi yanq ditinggalkan (matruk).
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ibnu Ishaq berkata: Banyak orang menyebutkan, dan Allah Maha lebih Tahu, jika ibunda Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam Halimah As-Sa'diyyah membawanya ke Mekkah, Rasulullah tiba-tiba
lenyap di tengah orang banyak tatkala akan dikembalikan kepada keluarganya. Halimah As-Sa'diyyah
mencarinya, namun sayang tidak berhasil menemukannya. Halimah As-Sa'diyyah segera menemui
Abdul Muthalib dan berkata kepa- danya: "Malam ini aku datang bersama Mu-hammad, tapi saat aku
berada di Mekkah Atas, ia tiba-tiba lenyap. Demi Allah, aku tidak tahu di mana keberadaannya."
Lalu Abdul Muthalib berdiri di sisi Ka'bah seraya berdoa kepada Allah agar Dia berkenan
mengembalikan Muhammad kepadanya. Ada juga yang mengatakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam ditemukan Waraqah bin Naufal bin Asad dan seseorang dari Quraisy, lalu keduanya
membawanya kepada Abdul Muthalib, kakeknya. Keduanya berkata kepada Abdul Muthalib: "Inilah
anakmu. Kami mendapat dia di Mekkah Atas." Abdul Muthalib mengambil Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam lalu memanggulnya di pundaknya sambil thawaf di Ka'bah. Abdul Muthalib
memintakan perlindungan dan berdoa untuk beliau, lalu mengembalikan Rasulullah kepada
Aminah binti Wahb, ibunya.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian Ahli berkata kepadaku, di antara sebab lain yang mengha- ruskan ibu
susuan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Halimah As-Sa'diyyah, mengembalikan Rasulullah
kepada ibu kandungnya di samping sebab yang telah dijelaskan Halimah As-Sa'diyyah kepada Aminah
binti Wahb- bahwa beberapa orang Kristen dari Habasyah melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sal¬lam bersama Halimah As-Sa'diyyah jika ia kembali bersama beliau sesudah disapih. Mereka
memandang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan sangat seksama bertanya kepada Halimah
As-Sa'diyyah tentangnya serta menimang-nimang beliau. Mereka berkata: "Kami pasti mengambil
anak ini dan akan kami bawa ia kepada raja kami dan ke nege- ri kami, karena kelak anak ini akan
menjadi orang terhormat, karena kami telah mengetahui seluk-beluk tentangnya." Orang yang
mengatakan hal ini kepadaku berkata bahwa Halimah As-Sa'diyyah hampir saja tidak bisa kabur
meloloskan diri dari mereka.
Meninggalnya Aminah, dan Kondisi Rasulullah Bersama Kakeknya Abdul Muthalib sesudah nya
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu hidup bersama ibundanya,
Aminah binti Wahb dan kakeknya, Abdul Muthalib, beliau berada dalam pemeliharaan Allah dan
perlindungan-Nya. Allah menumbuhkan beliau dengan perkembangan yang baik karena Dia hendak
memuliakan- nya. jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam telah berusia enam tahun, Aminah
binti Wahb, ibunya meninggalkannya untuk selamanya.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm berkata kepadaku,
ibunda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Aminah binti Wahb meninggal dunia di Al-Abwa',
sebuah kawasan yang berada di antara Mekkah dan Madinah. Saat itu usia Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam baru enam tahun. Aminah membawa beliau mengunjungi paman-pamannya dari jalur
ibunya di Bani Adi bin An-Najjar, lalu ia meninggal dunia saat dalam per- jalanan pulang menuju
Mekkah.
Ibnu Hisyam berkata: Ibunda Abdul Muthalib Hisyam yaitu Salma binti Amr An-Najjariyah. Hubungan
kepamanan inilah yang diuraikan Ibnu Ishaq pada saat dia membahas paman-paman Rasulullah dari
Bani Adi bin An-Najjar ini .
Ibnu Ishaq berkata: sesudah itu, hiduplah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersama Abdul
Muthalib, kakeknya. Abdul Muthalib mempunyai permadani di Ka'bah. Anak-anaknya duduk di sekitar
permadani ini sampai ia duduk di permadani itu. Tak seorang pun di antara anak-anaknya yang
berani duduk di atas permadani ini karena demikian hormat kepadanya. Saat masih kecil,
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam datang di atas permadani ini lalu duduk di atasnya.
Melihat beliau duduk di permadani kakeknya, paman-pamannya mengambilnya dari permadani
ini sehingga dengan demikian mereka bisa men- jauhkan beliau dari Abdul Muthalib. Melihat
perlakukan paman-pamannya seperti itu terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Abdul
Mulhthalib dengan bijak berkata: "Jangan larang anakku (cucuku) ini duduk di atas permadani ini.
Demi Allah, kelak di lalu hari dia akan menjadi orang besar." lalu Abdul Muthalib
mendudukkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersamanya, membelainya dengan tangannya,
dan ia demikian senang atas apa yang diperbuatnya.
Wafatnya Abdul Muthalib dan Syair-syair Eligi Duka Untuknya
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berusia delapan tahun, kakeknya
Abdul Muthalib meninggal dunia, delapan tahun sesudah tahun gajah.
Ibnu Ishaq berkata: Al-Abbas bin Abdul-lah bin Ma'bad bin Al-Abbas berkata kepadaku dari sebagian
keluarganya bahwa Abdul Muthalib meninggal dunia jika usia Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
baru delapan tahun.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Sa'id bin Al-Musayyib berkata kepadaku, jika Abdul Muthalib
merasa tidak lama lagi akan meninggal dunia, ia kumpulkan anak-anak perempuannya yang berjumlah
enam orang: Shafiyyah, Barrah, Atikah, Ummu Hakim Al-Baidha', Umaimah, dan Arwa. Ia berkata
kepada mereka: "Menangislah kalian untukku agar aku bisa mendengar apa yang kalian katakan
sebelum aku menghembuskan napas terakhirku!"
Saat Abdul Muthalib meninggal dunia, kelanjutan pengelolaan Sumur Zamzam dan pemberian air
minum kepada jama'ah haji di ambil alih Al-Abbas bin Abdul Muthalib, anak bungsu di antara saudara-
saudaranya. Jabatan ini ia pangku, hingga Islam muncul. Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam menetapkannya sebagaimana semula. Jabatan ini berada pada keluarga Al-Abbas hingga
saat ini.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Bawah Asuhan Abu Thalib
Ibnu Ishaq berkata: Sepeninggal Abdul Muthalib, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu
dibenarkan oleh pamannya, Abu Thalib, menurut para ulama, sesuai dengan wasiat kakeknya Abdul
Muthalib, karena ayah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Ab- dulllah dan Abu Thalib yaitu
saudara sekandung. Ibu mereka berdua yaitu Fathimah binti Amr bin Aidz bin Abd bin Imran bin
Makhzum.
Ibnu Hisyam berkata: Aidz yaitu anak Imran bin Makhzum.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Thalib mengasuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sepeninggal kakeknya
Abdul Muthalib. Beliau diserahkan kepadanya dan senantiasa bersamanya.
Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair berkata kepadaku bahwa ayahnya
berkata kepadanya bahwa seseorang dari Lahab, Ibnu Hisyam mengatakan Lihb berasal dari Azdi
Syanu'ah. Ia seorang juru tenung. jika ia datang ke Mekkah, orang-orang Quraisy datang
menemuinya dengan membawa anak-anak mereka untuk dilihat dan diramal oleh Lihb tentang masa
depan mereka buat kedua orang tuanya. jika Lihb sedang berada di Mekkah Abu Thalib datang
menemuinya dengan membawa serta Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang saat itu masih muda
belia bersama orang-orang Quraisy yang lain. Pada saat Lihb melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam, ia terlena hingga lupa urusan lainnya. Lihb ber-kata: "Dekatkan anak muda itu padaku!" Saat
Abu Thalib merasakan kesungguhan Lihb dan keinginannya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam, maka ia menjauhkannya dari penglihatan Lihb. Lihb berkata: "Sialan kalian semua, bawalah
anak muda yang aku li- hat tadi padaku. Demi Allah dia akan menjadi orang besar di belakang hari*
Lalu Abu Thalib segera membawa pergi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Pertemuan dengan Pendeta Bahira
Ibnu Ishaq berkata: Abu Thalib menyertai rombongan dagang Quraisy menuiu Svam. Tatkala ia telah
siap untuk berangkat, menurut sebagian ulama, Rasulu'ilah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkeinginan
untuk ikut pergi bersamanya. Abu Thalib tidak kuasa meninggalkannya. Ia berkata: "Demi Allah aku
harus membawanya pergi bersamaku. Ia harus tidak berpisah denganku dan aku harus tidak berpisah
dengannva untuk lama- nya" -atau sebagaimana yang diucapkan oleh Abu Thalib. lalu Abu
Thalib berangkat dengan membawa serta Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersamanya.
jika rombongan bisnis Quraisy sampai di Busra, sebuah kawasan di Syam, ternyata di sana hidup
seorang pendeta bernama Bahira sedang berada di rumah ibadahnya. Ia yaitu sosok yang paling tahu
tentang agama Kristen. Di rumah ibadah itulah dia hidup sebagai seorang pendeta, dan umat Nasrani
mendapat ilmu dari rumah ibadah ini melalui sebuah kitab yang ada di dalamnya yang
diwariskan secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Demikianlah menurut
klaim banyak ulama.
Pada tahun itu rombongan Quraisy berhenti di Bahira dimana sebelumnya mereka senantiasa
melewatinya namun Bahira tidak pernah mau berbicara dan tidak mempedulikan mereka hingga
tahun itu. Tatkala rombongan berhenti di dekat rumah ibadah Bahira di tahun itu, ia membuatkan
makanan yang banyak sekali untuk mereka. Pendeta Bahira melakukan itu semua, menurut sebagian
besar ulama, karena ada sesuatu yang dia lihat saat berada di dalam rumah ibadahnya. Ada pula yang
mengatakan, jika Bahira sedang berada dirumah ibadahnya, ia melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam berada di tengah-tengah rombongan Quraisy sedangkan awan menaungi beliau di tengah
mereka.
Lanjut Ibnu Ishaq: lalu mereka berhenti di bawah rindang pohon dekat Bahira. Bahira melihat
awan jika pohon menaungi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan ranting-ranting pohon
merunduk luluh kepada beliau hingga Rasulullah bernaung di bawahnya. Saat Bahira menyaksikan
peristiwa, ia keluar dari rumah ibadahnya dan menyuruh pembantunya membuat makanan.
Sedang ia sendiri pergi ke tempat rombong- an bisnis Quraisy. Ia berkata kepada mereka: "Wahai
orang-orang Quraisy, sungguh aku telah membuat makanan untuk kalian. Aku ingin kalian semua dari
anak kecil, orang dewasa, budak, dan orang merdeka semuanya ikut hadir." Ada seseorang yang
bertanya kepada Bahira: "Demi Allah wahai Bahira, betapa luar biasanya apa yang engkau lakukan
kepada kami di hari ini, padahal sebelum ini kami sering sekali melewati tempat tinggalmu ini. Apa
gerangan yang terjadi pada dirimu pada hari ini?" Bahira berkata kepada orang itu: "Engkau tidaklah
salah. Aku dulu memang persis seperti yang engkau utarakan. Namun kalian yaitu tamu dan aku suka
untuk menjamu kalian. Aku telah membuat makanan untuk kalian dan aku ingin semua
menikmatinya." Merekapun masuk ke rumah Buhaira, sementara Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam tidak ikut bersama mereka karena masih kecil. Beliau bernaung di bawah pohon untuk menjaga
perbekalan rombongan Quraisy. jika Bahira melihat rombongan Quraisy dan ia tidak menyaksikan
sifat yang telah ia ketahui, ia berkata: "Hai orang-orang Quraisy, saya ingatkan jangan sampai ada
seorang pun yang tidak makan makananku ini." Mereka berkata kepada Bahira: "Wahai Bahira, "Masih
ada seorang anak kecil di antara kami yang tertinggal di tempat perbekalan rombongan." Bahira
berkata: "Janganlah kalian bertindak seperti itu, panggillah dia agar makan bersama dengan kalian."
Salah seorang rombongan Quraisy berkata: "Demi Al-Lata dan Al-Uzza, sungguh sebuah aib bagi kami
jika anak Abdullah bin Abdul Muthalib tidak ikut serta makan bersama kami." sesudah itu, Bahira
datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, mendekapnya dan mendudukkannya
bersama rombongan Quraisy lainnya.
Ibnu Ishaq berkata: jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam datang, ia memperhatikan beliau
dengan teliti, dan memperhatikan seluruh tubuhnya. Dari hasil penglihatannya, ia dapatkan sifat-sifat
kenabian pada beliau. Tatkala mereka selesai makan, rombongan Quraisy berpencar sedangkan Bahira
mendekati Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada beliau: "Wahai anak muda, dengan
menyebut nama Al-Lata dan A1 Uzza aku menanyakan kepadamu dan engkau hendaknya menjawab
apa yang aku tanyakan kepadamu." Bahira mengatakan seperti itu, karena ia mendengar bahwa kaum
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersumpah dengan Al-Lata dan Al-Uzza. Ada yang mengatakan,
bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Janganlah sekali-kali engkau bertanya
tentang sesuatupun kepadaku dengan menyebut nama Al-Lata dan Al-Uzza. Demi Allah, tidak ada yang
sangat aku benci melebihi keduanya." Bahira berkata: "Baiklah aku bertanya padamu dengan
menyebut nama Allah, dan hendaknya engkau menjawab pertanyaanku." Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam berkata: "Tanyakanlah kepadaku apa saja yang hendak engkau tanyakan!"
Bahira menanyakan banyak hal kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, tentang kondisi tidur
beliau, postur tubuh beliau masalah-masalah lain. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab
apa yang dia tanyakan. Dan semua jawaban Rasulullah sesuai dengan apa yang dia ketahui lalu
Bahira melihat punggung Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan ia melihat tanda kenabian ada di
antara kedua pundak persis seperti ciri-ciri Nabi yang diketahuinya.
Ibnu Hisyam berkata: Tanda kenabian Rasulullah seperti bekas bekam.
Ibnu Ishaq berkata: sesaat sesudah itu, Bahira menyapa paman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
Abu Thalib, dan bertanya padanya: "Apakah anak muda ini anakmu?' Dengan cepat Abu Thalib
menjawab: "Benar, dia anakku!" Bahira berkata: "Tidak!, dia bukanlah anakmu. Anak muda ini tidak
layak memiliki seorang ayah yang masih hidup." Abu Thalib berkata: "O, ya! Dia anak saudaraku."
Buhaira bertanya: "Apa pekerjaan ayahnya?" Abu Thalib menjawab: "Ayahnya meninggal dunia saat
dia ada di dalam kan- dungan ibunya." Bahaira berkata: "Segera bawa pulang ponakanmu ini ke negeri
asalmu sekarang juga! Jagalah dia dari kejahatan orang-orang Yahudi! Demi Allah, jika mereka
melihatnya seperti yang aku saksikan, niscaya mereka membunuhnya. sebenarnya akan terjadi
suatu perkara besar pada ponakanmu ini. Karena itulah, bawalah dia pulang segera ke negeri asalmu!"
sesudah menuntaskan urusan bisnisnya di Syam, Abu Thalib segera membawa pulang Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam ke Mekkah. Banyak orang mengklaim bahwa Zurair, Tamam dan Daris,
ketiganya Ahli Kitab, melihat pada diri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam persis sebagaimana yang
Bahira lihat pada beliau dalam perjalanan bersama pamannya, Abu Thalib. Mereka bertiga berusaha
keras mencari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, namun Bahira melindunginya dari mereka.
Bahira mengingatkan mereka kepada Allah, tentang nama dan sifatnya yang bisa mereka temukan
dalam kitab mereka, serta bahwa sekalipun mereka sepakat untuk membunuh beliau, mereka tidak
mungkin dapat mendekati beliau. Bahira tidak henti-hentinya memberi nasihat hingga akhirnya
mereka menyadari kebenaran ucapan Bahira, lalu membenarkan ucapannya dan menarik
mundur niatnya untuk membunuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan mereka berpaling
meninggalkan Bahira.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tumbuh besar dan berkembang, sementara Allah menjaganya
dan melindunginya dari daki-daki dekil jahiliyah. Ini karena Allah hendak memuliakan dan memberikan
risalah kepadanya. Hingga saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi seorang dewasa dia
menjadi pahlawan di tengah kaumnya, sosok yang paling baik akhlak dan budi pekertinya, paling mulia
nasabnya, paling baik bertetangga, teragung sikap santunnya, paling benar tutur katanya, paling agung
memegang amanah, paling jauh dari kekejian, paling jauh dari akhlak-akhlak yang mengotori orang
laki-laki, hingga akhirnya kaumnya menggelarinya dengan "Al-Amin" karena Allah menghimpun dalam
diri beliau hal-hal yang baik.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pernah menceritakan tentang perlindungan Allah padanya dari
perilaku jahiliyah sejak masa kecilnya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
Pada masa kanak-kanakku, aku bersama dengan anak-anak kecil Quraisy mengangkat batu untuk
satu permainan yang biasa anak-anak lakukan. Kami semua telanjang dan meletakkan bajunya
dipundaknya masing-masing untuk memanggul batu. Aku ikut maju dan mundur bersama dengan
mereka. Namun tiba-tiba ada seseorang yang belum pernah jumpa sebelumnya menamparku dengan
tamparan yang amat menyakitkan sambil membisikkan sebuah kata: "Kenakan kembali pakaianmu!"
Lalu segera aku mengambil pakaianku dan mengenakannya. sesudah itu, aku memanggul batu di atas
pundakku dengan tetap mengenakan pakaian, tidak seperti yang dilakukan teman-temanku.
Perang Fijar
Ibnu Hisyam berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berumur empat belas atau lima
belas tahun seperti dikatakan Abu Ubaidah An Nahwi kepadaku dari Abu Amr bin Al-Ala terjadi perang
dahsyat antara Quraisy yang didukung Kinanah mela- wan Qais Ailan.
Penyulut perang ini yaitu bahwa Urwah Ar-Rahhal bin Utbah bin Ja'far bin Kilab bin Rabiah bin Amir
bin Shashaah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin melindungi unta pengangkut barang kepunyaan An-
Nu'man bin Al- Mundzir. Al-Barradh bin Qais, salah seorang dari Bani Dhamrah bin Bakr bin Abdu
Manat bin Kinanah berkata kepada Urwah Ar-Rahhal: "Apakah engkau memberi perlindungan pada
unta ini dari Kinanah?" Urwah Ar-Rahhal menjawab: "Benar, bahkan lebih dari itu aku juga
melindunginya dari semua manusia." sesudah itu Urwah Ar-Rahhal keluar membawa unta ini . A1
Barradh juga keluar untuk mengintai kelengahan Urwah Ar-Rahhal. Sesampainya di Taiman Dzi Thallal,
di sebuah bebukitan yang tinggi, Urwah Ar- Rahhal lengah, saat itulah Al-Barradh menyerangnya
lalu membunuhnya pada bulan haram. Oleh sebab itulah perang ini disebut dengan Perang Fijar.
Ibnu Hisyam berkata: Seseorang datang menemui orang-orang Quraisy lalu berkata:
"sebenarnya Al-Barradh telah membunuh Urwah, padahal mereka sedang berada di bulan haram
di Ukazh." Orang- orang Quraisy segera berangkat ke tempat orang-orang Hawazin tanpa diketahui
oleh mereka. jika orang-orang Hawazin mendengar keberangkatan orang-orang Quraisy, mereka
mengejarnya dan mendapat mereka sebelum memasuki tanah haram. Mereka pun bertempur
hingga tiba waktu malam. sesudah itu orang-orang Quraisy memasuki tanah haram, namun Hawazin
menahan diri dan tidak mengejar mereka. Keesokan harinya mereka bertempur kembali. Demikianlah
perang itu berlangsung berhari-hari. Sementara pada kedua belah pihak tidak ada seorang peminpin
yang mampu menyatukan mereka. Baik kabilah dari Quraisy dan Kinanah mempunyai seorang
pemimpin, demikian pula dengan kabilah Qais masing-masing mempunyai pemimpin. Rasulullah
pernah mengikuti sebagian dari hari-hari perang itu karena diajak oleh paman-pamannya. Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"jika itu mengambil panah-panah musuh yang dipanahkan pada paman-pamanku lalu aku
serangkan pada mereka untuk dipanahkan balik pada musuh mereka."11
11. Sanadnya mu'dhal. Hadits ini diriwayatkan oteh Ibnu Sa'ad dalam Al-Thabaqat (1/126-128), sedangkan dia matruk.
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Perang Fijar bergolak, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam saat itu
berumur dua puluh tahun. Perang ini disebut Perang Fijar, karena kedua perkampungan
ini , dan Kinanah Ailan telah menghalalkan hal-hal yang diharamkan atas mereka. Panglima
perang Quraisy dan Kinanah yaitu Harb bin Umayyah bin Abdu Syams. Pada pagi hari, kemenangan
berada di pihak Qais atas Kinanah, namun pada tengah hari, kemenangan berbalik dan berada di pihak
Kinanah atas Qais.
Ibnu Hisyam berkata: Pembahasan ten- tang Perang Al-Fijjar lebih panjang dari apa
yang saya sebutkan. Saya sengaja tidak menguraikannya secara lengkap karena khawatir mengurangi
uraian tentang sirah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menikah dengan Khadijah Radhiyallahu Anhu
Ibnu Hisyam berkata; Saat Rasulullah Shalla-lahu alaihi wa Sallam berusia dua puluh lima tahun, beliau
menikah dengan Khadijah binti
Khuwailid Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Luay bin Ghalib seperti dikatakan
kepadaku oleh sekian banyak ulama dari Abu Amr Al Madani.
Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwailid yaitu seorang perempuan pelaku bis- nis, terpandang
dan kaya raya. Ia mempeker- jakan banyak karyawan untuk menjalankan roda bisnisnya dengan sistem
bagi hasil. Orang- orang Quraisy yaitu kaum pedagang. jika
Khadijah mendengar tentang pribadi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, kejujuran kata-katanya
beliau, keagungan amanah dan keindahan akhlaknya, ia mengutus seseorang untuk menemui
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Khadijah menawarkan kepada Rasulullah memasarkan
dagangannya ke Syam dengan ditemani karyawan laki-lakinya yang sangat terpercaya yang bernama
Maisarah. Jika Rasulullah mau Khadijah akan memberi- kan gaji yang lebih banyak dibandingkan gaji yang
pernah diterima orang-orang lain. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menerima tawaran ini,
lalu pergi dengan membawa barang dagangan Khadijah dengan ditemani karyawan laki-laki
Khadijah yang bernama Maisarah hingga ke Syam.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhenti di bawah naungan pohon dekat rumah ibadah seorang
satu pendeta. Pendeta itu menemui Maisarah dan bertanya: "Siapa lelaki yang berhenti dan bernaung
di bawah pohon itu?" Maisarah berkata kepada pendeta itu: Lelaki itu berasal dari suku Quraisy dan
penduduk asli tanah haram." Pendeta itu berkata: Yang bernaung di bawah pohon itu pasti seorang
nabi."
sesudah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjual barang-barangnya yang dia bawa dari
Mekkah, dan membeli apa yang beliau mau beli. sesudah menyelesaikan semua urusan bisnisnya,
Rasulullah pulang ke Mekkah dengan ditemani Maisarah. Menurut para ulama, jika matahari sedang
berada di puncak panasnya, Maisarah melihat dua malaikat menaungi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam dari sengatan panas sinar matahari, sedangkan beliau tetap berjalan di atas untanya.
Sesampainya di kota Mekkah, Rasulullah menyerahkan uang hasil penjualan barang dagangan kepada
Khadijah, dan Khadijah membeli barang dagangan yang Rasulullah bawa dengan harga dua kali lipat
atau lebih sedikit. Maisarah menceritakan ucapan pen- deta dan tentang dua malaikat menaungi
Ra¬sulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada Khadijah.
Tatkala Maisarah menceritakan tentang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam padanya ia mengutus
seseorang kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan membawa pesan: "Wahai sepupu,
aku sangat tertarik kepadamu, karena kedekatan kekerabatanmu, kemuliaanmu di tengah kaummu,
amanahmu, kebaikan akhlakmu, dan kejujuran ucapanmu." lalu Khadijah menawarkan dirinya
kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ia wanita Quraisy yang paling mulia nasabnya, paling
tehormat dan paling kaya. Orang-orang Quraisy berkeinginan nikah dengannya, andai mereka mampu.
Ibnu Ishaq berkata: Khadijah yaitu putri Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin
Murrah bin Ka'ab bin Luay bs-Ghalib bin Fihr. Ibu Khadijah yaitu Fathimah binti Zaidah bin Al-Asham
bin Rawahah bin Hajar bin Abd bin Ma'ish bin Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr.
Ibu Fathimah yaitu Halah binti Abdu Manaf bin Al-Harits bin Amr bin Munqidz bin Amr bin Ma'ish
bin Amir bin Luai bin Ghalib bin Fihr.
Ibu Halah yaitu Qalabah binti Su'aid bin Sa'ad bin Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay bin
Ghalib bin Fihr.
Tatkala Khadijah mengutarakan keinginan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Rasulullah
menceritakan hal ini kepada paman-pamannya. Maka dengan didampingi pamannya, Hamzah bin
Abdul Muthalib, Rasulullah pergi ke rumah Khuwailid bin Asad. Hamzah bin Abdul Muthalib melamar
Khadijah untuk beliau. Khuwailid bin Asad menikahkan putrinya, Khadijah dengan Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyerahkan maskawin kepada Khadijah
sebanyak dua puluh unta betina muda. Khadijah yaitu wanita pertama yang dinikahi Rasulullah
Shallalahu alaihi wa Sallam dan Rasulullah tidak menikah dengan wanita manapun semasa hidup
Khadijah. Rasulullah baru menikah lagi sesudah Khadijah meninggal dunia.
Ibnu Ishaq berkata: Dari Khadijahlah seluruh putera puteri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
dilahirkan kecuali Ibrahim al-Qasim. Beliau dipanggil dengan nama Abu Al-Qasim. Putera-puterinya
yaitu Ath-Thahir, Ath-Thayyib, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah. Salam sejahtera
untuk mereka semua.
Ibnu Hisyam berkata: Anak laki-laki Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang sulung yaitu Al-
Qasim, Ath-Thayyib, lalu Ath-Thahir. Puteri beliau yang sulung yaitu Ruqayyah, Zainab, lalu Ummu
Kaltsum dan terakhir Fathimah.
Ibnu Ishaq berkata: Al-Qasim, Ath-Thayyib dan Ath-Thahir, mereka meninggal dunia pada masa
jahiliyah. Sedangkan puteri-puterinya hidup hingga zaman Islam, masuk Islam dan ikut hijrah bersama
Rasulullah.
Ibnu Hisyam berkata: Ibu Ibrahim yaitu Mariyah al-Qibthiyyah.
Ibnu Hisyam berkata bahwa Abdullah bin Wahb berkata kepadaku dari Ibnu Lahi'ah yang berkata: Ibu
Ibrahim yaitu Mariyah, wanita yang dihadiahkan Al-Muqaiqis kepada beliau. Mariyah berasal dari
Hafn di kawasan Anshina.
Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwalid bercerita kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul
Uzza, pamannya. Ia seorang pemeluk Kristen yang mempelajari kitab-kitab, dan mengetahui banyak
tentang Antropologi. Khadijah bercerita tentang apa yang dikisahkan Maisarah budaknya, tentang apa
yang dikatakan seorang pendeta kepadanya dan dua malaikat yang menaungi beliau. Waraqah bin
Naufal berkata: "Jika ini benar wahai Khadijah, pastilah Muhammad yaitu nabi untuk umat ini. Aku
tahu pasti bahwa umat ini akan mempunyai seorang nabi yang dinanti kedatangannya dan kini telah
tiba waktu kemunculan nabi ini ," atau sebagaimana dikatakan oleh Waraqah bin Naufal.
Ibnu Ishaq berkata: Sepertinya Waraqah menemui akhir penantiannya yang demikian lama dan
membosankan yang senantiasa dia tanyakan: Hingga kapan?
Tentang hal di atas, Waraqah bin Naufal berkata dalam senandung syair:
Telah lama kuingat dengan sabar
Dengan sedih kadang dengan air mata berlinang
Khadijah menggambarkannya dan senantiasa memberi gambaran
Sungguh tlah lama masa tungguku wahai Khadijah
Di lembah Mekkah kutunggu dengan penuh harap
Dari katamu kuharap dia muncul di sana
Ku tak ingin apa yang dikatakan para pendeta
Menjadi sebuah ramalan yang palsu belaka
Muhammad akan menjadi pemimpin kami Ia taklukkan lawannya lewat hujjah
Kilau cahayanya kan menebar di seantero bumi
Ia luruskan jalan manusia yang bengkok
Orang yang memeranginya pastilah mengalami kerugian
Sedangyang berdamai dengannya memperoleh kemenangan
Wahai, andai ku hidup di saat itu
Aku saksian dia hingga aku menjadi orang yang paling beruntung
Walau apa yang dibenci orang Quraisy itu demikian berat
Dengan pekik teriakan keras mereka di kota Mekkah
Aku punya harapan dari apa yang mereka benci
Kepada Pemangku Arasy, jika mereka turun dan naik
Bukankah sebuah kebodohan jika kita takpercaya pada-Nya
Zat telah memilihnya dan mengangkatnya ke bintang-bintang
Jika mereka masih ada dan aku juga ada kan terjadi banyak persoalan
Orang-orang kafir itu kan berteriak dengan bising
Jika aku mati, sebenarnya semua manusia
Akan menemui takdirnya dan ia kan berakhir juga
Pembangunan Ka'bah dan Keputusan Rasulullah di Tengah Orang- orang Quraisy dalam Peletakan
Hajar Aswad
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berumur dua puluh lima tahun,
orang-orang Quraisy sepakat untuk memperbaharui pembangunan Ka'bah. Mereka ingin memberi
atap pada Ka’bah, tapi mereka khawatir jangan-jangan hal ini malah meruntuhkannya. Awal-
nya Ka'bah dibangun di atas ketinggian orang pada umumnya. Oleh sebab itulah, mereka berkeinginan
untuk meninggikannya dan memberi atap di atasnya. Akar masalahnya yaitu karena adanya
beberapa orang telah mencuri harta kekayaan yang ada di dalam Ka'bah. Padahal ia harta ini di
simpan di sebuah sumur di dalam Ka'bah. Barang berharga ini ditemukan di rumah Du- waik,
mantan budak Bani Mulaih bin Amr bin Khuza'ah.
Ibnu Hisyam berkata: lalu orang- orang Quraisy memenggal tangan Duwaik.
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy menuduh bahwa orang-orang yang mencuri harta dari
Ka'bah itu dengan sengaja meletakkan hasil curiannya di rumah Duwaik. jika itu, laut melemparkan
perahu milik salah seorang pedagang Romawi ke Jeddah. Perahu ini pecah berkeping. Orang-
orang Quraisy mengambil kayu-kayunya dan menyiapkannya sebagai atap. Di kota Mekkah saat itu
ada seorang tukang kayu yang berasal dari Mesir Qibthy. Orang inilah yang menyiapkan sebagian
bahan untuk pembangunan Ka'bah. Pada saat mereka sedang bekerja, tiba-tiba muncul ular keluar
dari sumur Ka'bah. Sumur ini yaitu tempat mereka memberikan sesajian setiap hari. Ular ini
melongokkan kepalanya mendekati tembok Ka'bah. Inilah di antara hal yang dikhawatirkan oleh
orang-orang Quraisy, karena setiap kali ada yang mencoba mendekati ular ini , ia mendesis
sambil mengangkat kepalanya dengan mulutnya. Mereka sangat takut kepada ular ini .
Suatu jika , saat ular ini sedang berada di tembok Ka'bah, Allah mengirim seekor burung lalu
burung itu menerkamnya dan membawanya pergi. Melihat peristiwa ajaib ini , orang-orang
Quraisy berkata: "Kita berharap semoga Allah meridhai apa yang akan kita kerjakan. Kita memiliki se-
orang pekerja yang telaten, kita juga memiliki kayu. Allah telah melindungi kita dari ular kejahatan
ini ."
Ibnu Ishaq berkata: jika orang-orang Quraisy telah sepakat meruntuhkan Ka'bah dan
membangunnya kembali, berdirilah Abu Wahb bin Amr bin Aidz bin Abd bin Imran bin Makhzum, Ibnu
Hisyam berkata bahwa Aidz yaitu anak Imran bin Makhzum, lalu mengambil batu dari Ka'bah,
namun batu itu meloncat lepas dari tangannya dan kembali ke posisinya semula. Abu Wahb berkata:
"Wahai orang-orang Quraisy, untuk pembangun- an Ka'bah ini janganlah kalian menggunakan uang
kecuali uang yang halal. Jangan sampai ada uang hasil pelacuran, uang dari hasil riba, dan uang yang
diambil dari manusia dengan cara yang zalim." Orang-orang Quraisy mengatakan bahwa perkataan
ini berasal Al-Walid bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Najin Al-Makki berkata kepadaku bahwa ia diberitahu dari
Abdullah bin Shafwan bin Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah bin Amr bin Hushaish
bin Ka'ab bin Luay, bahwa ia melihat anak Ja'dah bin Hubairah bin Abu Wahb bin Amr sedang thawaf
di Baitullah, lalu ia bertanya kepada seseorang tentang orang ini . Ia diberi tahu bahwa
orang ini yaitu anak Ja'dah bin Hubairah. Abdullah bin Shafwan berkata: Kakek orang inilah
(Abu Wahb) yang mengambil batu dari Ka'bah tatkala orang-orang Quraisy mufakat untuk
meruntuhkan Ka'bah, tapi batu ini tergelincir dari tangannya dan kembali ke posisinya semua.
lalu Abu Wahb berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, untuk pembangunan Ka'bah ini janganlah
kalian menggunakan uang kecuali uang yang halal. Jangan sampai ada uang hasil pelacuran, uang dari
hasil riba, dan uang yang diambil dari manusia dengan cara yang zalim."
Ibnu Ishaq berkata: Abu Wahb yaitu paman ayah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ia seorang
yang sangat tehormat.
Orang-orang Quraisy membagi-bagi Ka'bah. Pintu menjadi jatah Bani Abdu Manaf dan Zuhrah. Antara
rukun Aswad rukun Yamani menjadi jatah Bani Makhzum dan kabilah-kabilah yang bergabung kepada
mereka. Punggung Ka'bah menjadi jatah Jumah dan Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay.
Hajar Aswad menjadi jatah Bani Abduddar bin Qushay, Bani Asad bin Al-Uzza, dan Bani Adi bin Ka'ab
bin Luay.
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang demikian dilanda khawatir untuk melakukan pemugaran terhadap
Ka'bah. Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Akulah yang akan memulai meruntuhkan Ka'bah!"
lalu ia mengambil kapak, dan berdiri di depan Ka'bah, sambil berkata: "Ya Allah, kami tidak
keluar dari agamamu, kami hanya menginginkan selain kebaikan." Ia runtuhkan Ka'bah dari arah dua
tiang Ka'bah. Malam itu, dengan cemas orang-orang menunggu apa yang akan terjadi pada mereka.
Mereka berkata: "Kita tunggu saja apa yang akan terjadi! Jika Al-Walid terkena sesuatu, kita tidak akan
meruntuhkan sedikit pun dari Ka'bah lalu kita kembalikan ia sebagaimana bentuknya semula.
Jika tidak terjadi apa-apa pada dirinya, berarti Allah meridhai dan kita lanjutkan meruntuhkannya."
Keesokan harinya, Al-Walid bin Al Mughirah berangkat kembali untuk meneruskan pekerjaannya. Ia
runtuh kan Ka’bah dengan diikuti orang-orang Quraisy hingga pemugaran Ka'bah memasuki tahap
peruntuhan pondasi Ibrahim Alaihis Salam. Pondasi ini terbuat dari batu hijau berbentuk seperti
punuk unta yang saling menempel lengket antara satu dengan yang lain. Ibnu Ishaq berkata: Sebagian
orang orang meriwayatkan peristiwa ini berkata kepadaku bahwa seseorang dari Quraisy termasuk
salah seorang yang meruntuhkan Ka'bah memasuk- kan linggis di antara dua batu untuk men- cabut
dengan linggis itu salah satu dari dua batu ini . Tatkala batu ini bergerak, tiba-tiba seluruh
kota Mekkah bergetar hebat. Karena peristiwa ini mereka menghentikan usaha mencabut batu
ini .
Ibnu Ishaq berkata: Aku diberi tahu bahwa orang-orang Quraisy menemukan tulisan dalam bahasa
Suryaniyah (Syiriak) di tiang Ka'bah namun mereka tidak mengerti tulisan ini hingga akhirnya
salah seorang Yahudi membacakannya kepada mereka. Tulisan ini berbunyi: "Akulah Allah
Pemilik Bak- kah (Mekkah) ini. Aku ciptakan ia saat Aku ciptakan langit dan bumi, dan saat Aku
cipta¬kan matahari dan bulan. Aku melindunginya dengan penjagaan tujuh malaikat yang lurus.
Bakkah tidak akan hancur hingga dua gunung di Bakkah hancur. Penghuninya diberkahi air dan susu."
Ibnu Ishaq berkata: Aku diberi tahu bahwa mereka menemukan tulisan di atas Ka'bah. Tulisan ini
berbunyi, "Mekkah yaitu Rumah Allah yang haram. Rezki nya datang dari tiga jalur. Mekkah tidak
bisa menjadi tanah halal oleh penguasanya. "
Ibnu Ishaq berkata: Laits bin Abu Sulaim mengatakan bahwa empat puluh tahun sebelum diutusnya
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, jika yang dikatakan Laits bin Abu Suliam ini benar, mereka
menemukan sebuah batu di Ka’bah. Pada batu ini ada tulisan: "Barangsiapa menabur kebaikan,
ia menuai kebahagiaan. Barangsiapa menabur kejahatan, ia menuai penyesalan. Tidaklah mungkin
kalian mengerjakan dosa-dosa, lalu kalian dibalas dengan kebaikan-kebaikan. Sekali-kali tidak!!
Sebagaimana anggur tidak bisa dipanen dari tanaman duri."
Ibnu Ishaq berkata: Seluruh kabilah di Quraisy mengumpulkan bebatuan untuk pemugaran Ka'bah.
Setiap kabilah mengumpulkan batu sendiri-sendiri, lalu mereka membangun Ka'bah. jika
pembangunan memasuki tahap peletakan Hajar Aswad, terjadi selisih pendapat di antara mereka.
Setiap kabilah ingin menempatkan Hajar Aswad ke tempatnya semula tanpa harus melibatkan kabilah
yang lain. Itulah yang terjadi hingga terjadilah perdebatan sengit di antara mereka, membentuk kubu,
dan merekapun bersiap-siap untuk berperang. Bani Abduddar men- datangkan cawan berisi darah,
lalu mereka bersekutu dengan Bani Adi bin Ka'ab bin Luay untuk mati bersama dan memasukkan
tangan mereka ke dalam mangkok darah ini . Oleh karena itu, mereka dinamakan La'aqatu Ad-
Dami (penyendok darah). Selama empat atau lima malam orang-orang Quraisy berada dalam kondisi
seperti itu. Akhirnya mereka bertemu di Masjidil Haram untuk melakukan perundingan.
Sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa Abu Umayyah bin Al-Mughirah bin Umar bin Makhzum,
orang tertua di kalangan Quraisy berkata: "Hai orang-orang Quraisy, biarlah konflik kalian ini
diselesaikan oleh orang yang pertama kali masuk pintu masjid haram, dia memutuskan perkara
kalian." Mereka mematuhi perintah Abu Umayyah bin Al-Mughirah, dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam yaitu orang pertama yang masuk ke dalam masjid. Tatkala mereka melihat Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam sudah berada di dalam Masjid. mereka berkata: "Ini Al-Amien, yang
terpercaya. Kami senang! Ini Muhammad." jika beliau bertemu dengan mereka, maka diceritakan
kepada beliau, lalu beliau berkata: "Kalau demikian serahkan kain kepadaku." Kain diserahkan
kepada beliau. Rasulullah mengambil Hajar Aswad yang diperebutkan, lalu meletakkannya ke
dalam kain dengan tangannya sendiri seraya bersabda:
"Setiap kepala kabilah memegang ujung kain ini, lalu mengangkatnya bersama-sama." Mereka
mengikuti perintah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. jika mereka tiba di tempat Aswad,
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengam






