Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 10

 :


Allah lebih tahu apa mana yang benar dari keduanya apakah Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam mengatakan itu atau tidak? Jika beliau mengatakannya, maka kebenaran ialah apa 

yang beliau sabdakan. 

Ibnu Ishaq berkata: Allah berfirman tentang pertanyaan mereka seputar ruh. 

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan ku, dan 

tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra: 85) 

Ibnu Ishaq berkata: Aku diberi tahu oleh Ibnu Abbas: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

tiba di Madinah, rabi-rabi Yahudi bertanya, "Hai Muhammad, tahukah engkau makna ucapanmu, 'Dan 

kalian tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit. Siapakah yang dimaksud dengan kalian ini ; 

kami atau kaummu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Semuanya. Dua-duanya!!" 

Para rabi-rabi Yahudi berkata: "Engkau sudah membaca apa yang engkau bawa, bahwa kami diberi 

Taurat. Di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

bersabda, "sebenarnya  Taurat dibanding ilmu Allah yaitu  sedikit sekali. Namun kalian mempunyai 

sesuatu yang jika kalian lakukan, maka hal itu cukup memadai untuk kalian."35 

 

Ibnu Abbas berkata: Lalu Allah menurunkan ayat tentang pertanyaan mereka: 

 

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya 

tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. 

sebenarnya  Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Luq- man: 27). 

Yakni, bahwa penjelasan Taurat tentang hal ini  itu sangat sedikit jika dibandingkan dengan ilmu 

Allah. 

Ibnu Abbas berkata: Lalu Allah menurunkan ayat kepada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam 

menyindir permintaan kaumnya agar terjadi gempa bumi maha dasyat, dan leluhur mereka yang telah 

meninggal dunia dihidupkan kembali: 

 

Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat 

digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat 

berbicara, (tentu Al Quran itulah dia). Sebenarnya segala itu yaitu  kepunyaan Allah. (QS. ar-Ra'du: 

31). 

Firman Allah,'Ba/ lillahil amru jami'an', maksudnya, "aku tidak mengerjakan hal ini  melainkan 

sesuai Aku menghendakinya." 

Ibnu Abbas berkata: Lalu Allah menurunkan ayat kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

tentang ucapan mereka, "Ambillah untuk dirimu", Orang-orang Quraisy meminta beliau membangun 

untuk taman-taman, istana-istana, harta simpanan, sebagai bukti yang membenarkan apa yang beliau 

katakan. 

 

 

Dan mereka berkata: "Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar (mengapa 

tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia 

dapat makan dari (hasil) nya?" Dan orang-orangyang zalim itu berkata: "Kamu sekalian tidak lain 

hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir." Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat 

perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup 

(mendapat ) jalan (untuk menentang kerasulanmu). Maha Suci (Allah) yang jika Dia menghendaki, 

niscaya dijadikan-Nya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (QS. al-Furqan: 7-10). 

Yakni, Mahasuci (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya diadikan-Nya bagimu yang lebih baik dari 

yang demikian dibandingkan  engkau berjalan-jalan di pasar dan kerja mencari kehidupan. 

 

(yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikan-Nya (pula) untukmu 

istana-istana. (QS. al-Furqan: 10). 

Allah Ta'ala juga menurunkan ayat kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ten¬tang mereka: 

 

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan 

dan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang 

lain. Maukah kamu bersabar?; dan yaitu  Tuhanmu Maha Melihat. (QS. al-Furqan: 20). 

Firman Allah Ta'ala: 

 

Yakni: "Aku menjadikan sebagian dari kalian menjadi cobaan bagi sebagian yang lain agar kalian 

bersabar. Jika Aku berkehendak menjadikan dunia tunduk pada perintah rasul-rasul-KU, hal itu niscaya 

terjadi." 

lalu  Allah Ta'ala menurunkan ayat kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tentang 

ucapan Abdullah bin Abu Umayyah: 

 

Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hitigga kamu memancarkan mata air 

dari bumi untuk kami," Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu 

memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, 

sebagaima- na kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka 

dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami 

sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab 

yang kami baca" Katakanlah: "Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang 

menjadi rasul?" (QS. al-Isra: 90-93). 

Ibnu Hisyam berkata: pada ayat diatas ialah air yang keluar dari tanah atau selain tanah. 

Jamaknya ialah yanaabi'. Ibnu Harmah yang bernama asli Ibrahim bin Ab-dullah Al 

Fihri berkata: 

Jika kau tumpahkan linangan air mata di setiap negeri 

Maka teruskanlah segala sesuatu dan airmata- mu yang memancar 

 

Bait di atas yaitu  penggalan syair-syair Ibnu Harmah. 

 

Al-Kisafu ialah jenis-jenis siksa. Kata tunggalnya kisfah. Al-Qabiilu artinya saling berhadapan dan 

terang-terangan, seperti firman Allah pada ayat yang lain: 

 

Kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlaku pada) umat-umat yang 

dahulu atau datangnya adzab atas mereka dengan nyata. (QS. Al-Kahfi: 55)  

Abu Ubaidah mendendangkan syair A'sya Bani Qais bin Tsa'labah padaku: 

Aku kan temani kalian hingga melakukan hal yang sama 

Laksana jeritan wanita hami yang gembira karena kelahiran bayinya 

 

Bait kedua bermakna, kedatangan sang wanita kepada bayinya untuk menciumnya. Bait syair di atas 

yaitu  penggalan syair-syair A'sya. 

Ada yang mengatakan, al-qabiilu dan jamaknya ialah qabulu, artinya kelompok- kelompok. Disebutkan 

dalam Al Qur'an: 

 

Dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka (QS. al-An'am: 111). 

Dikatakan Qubul yaitu  jamak dari kata qabiilu sebagaimana subulu yaitu  jamak dari sabilu (jalan), 

atau sururu yaitu  jamak dari sariru(ranjang), atau qumushu yaitu  jamak dari qamishu (baju). 

Al-Qabiibilu dalam sebuah pepatah dika-takan, "Maa ya'rifu qabiilan min dabiirin", maksudnya orang 

itu tidak tahu apa yang akan dan apa yang telah terjadi. Al-Kumait bin Zaid berkata: 

Urusan-urusan mereka menjadi kacau balau di tempat mereka 

Hingga mereka tak tahu apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi 

 

Bait-bait syair di atas yaitu  penggalan syair-syair Al-Kumait bin Zaid. 

Ada pula yang mengatakan, bahwa dia bermakna meminta. Jika pemintalan terjadi hingga lengan, 

maka ia dinamakan al-qabii- lu. Jika pemintalan terjadi hingga ujung jari, maka dinamakan ad-dabiiru. 

Jika pemintalan terjadi hingga lutut, ia dinamakan al-qabiilu. Jika pemintalan terjadi hingga pangkal 

paha, maka dinamakan ad-dabiiru. 

Al Qabiilu juga berarti kaumnya pihak laki-laki. Az-Zukhruf ialah emas. Al-Muzakhrafu ialah sesuatu 

yang dihiasi dengan emas. 

Selain itu, segala sesuatu yang dihiasi di- sebut muzakhraf. 

Ibnu Ishaq berkata: Tentang ucapan mereka, "sebenarnya  kami mendapat berita bahwa engkau 

diajari seseorang dari Yamamah yang bernama Ar-Rahman, dan kapan pun kami tidak akan beriman 

kepada-Nya," Allah Ta'ala menurunkan ayat, 

Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat 

sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami wahyukan kepadamu, 

padahal mereka kafir kepada Tuhan YangMaha Pemurah. Katakanlah: "Dialah Tuhanku tidak ada 

Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya 

aku bertobat." (Ar-Ra'du: 30). 

Tentang perkataan Abu Jahal, dan keinginannya, Allah Ta'ala menurunkan ayat berikut: 

 

Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba jika  dia mengerjakan 

shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran, atau dia 

menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu 

mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sebenarnya  Allah melihat segala 

perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik 

ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka biarlah dia 

memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah, 

sekali-kali jangan, janganlah kamupatuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada 

Tuhan) (QS. al-Alaq: 9-19). 

Ibnu Hisyam berkata: Firman Allah  artinya Kami pasti membetotnya dan menyeretnya. 

Seorang penyair berkata: 

Sebuah kaum bila mendengar teriakan keras minta tolong kau lihat mereka  

Antara orang yang dikekang dan mengambil ubun-ubun 

 

An-Nadi ialah auditorium tempat orang-orang berkumpul dan memutuskan seluruh permasalahan 

mereka. Disebutkan dalam Al- Qur'an: 

 

Apakah sebenarnya  kamu patut menda- tangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran 

di tempat-tempatpertemuanmu? QS. (Al-Ankabut: 29). 

Kata lain dari an-nadi ialah an-nadiyyu. Ubaid bin Al-Abrash berkata dalam syair- nya, 

Kita akan berkumpul, karena aku berasal dari BaniAsad 

Kaum yang mengadakan pertemuan, kemurah- an dan kelompok (an-nadi) 

 

Disebutkan dalam Al-Quran: 

 

 

Dan lebih indah tempat pertemuannya (an Nadiyyu)? (QS. Maryam: 73) Jamaknya ialah andiyah. 

Melalui ayat di atas, Allah ingin menyampaikan, "Hendaklah ia memanggil orang-orang yang ada di 

auditorium (an-nadi)", seperti difirmankan Allah Taala, "Dan tanyakan kepada negeri." (QS. Yusuf: 82). 

Yakni tanyakanlah kepada penduduk negeri ini . 

Salamah bin Jandal, salah seorang dari Bani Sa'ad bin Zaid Manat bin Tamim berkata: 

Ada dua hari, sehari kami melakukan konferensi dan pertemuan 

Sehari lagi kami pergi menggempur musuh-musuh 

 

Bait syair di atas yaitu  sebagian dari syair-syair Salamah bin Jandal. 

Persamaan kata an-nadi yaitu al-julasa' (tempat duduk). 

Az-Zabaniyah ialah yang kuat dan perkasa. Maksud dari kata az-zabaniyah pada ayat di atas ialah para 

malaikat yang menjaga neraka. Sedang az-zabaniyah dalam konteks dunia ialah tentara yang bertindak 

sebagai pengawal. Kata tunggalnya az-zibniyyah. Tentang hal ini, Ibnu Az-Zaba'ri berkata: 

Mewah pada jamuan tamu di kala perang Zabaniyah; bertulang dan berangan keras 

Bait di atas yaitu  pengalan dari syair-syair Ibnu Az-Zaba'ri. 

Shakhr bin Abdullah Al-Hudzali yang tak lain Shakhr Al-Ghayyi berkata: 

Dan dari desa Kabir (perkampungan Hudzail) banyak orangyang berwatak keras 

Bait di atas yaitu  penggalan syair-syair Shakr bin Abdullah. 

Ibnu Ishaq berkata: Tentang kekayaan yang mereka tawarkan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam, Allah Ta'ala menurunkan ayat-Nya, 

Katakanlah: 

 

Upah apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia 

Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Saba': 47). 

Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendakwahi orang-orang Quraisy dengan membawa 

kebenaran yang sudah mereka tahu, dan mereka sadar sekali dengan kebenaran akan ucapan beliau, 

dan kebenaran kenabian beliau dan tentu ilmu gaib yang beliau bawa sesudah  mereka 

menanyakannya, maka menebarlah kedengkian mereka padanya, pada para pengikutnya, dan 

kejujuran beliau. Mereka mendurhakai Allah, tak acuh terhadap perintah-Nya, dan dengan keras 

kepala mereka tetap berada dalam kekafiran. Salah seorang dari mereka berkata: sebagaimana 

diabadikan dalam Al-Quran, 

 

 

 

'Janganlah kalian dengar Al-Quran ini dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, 

supaya kalian dapat mengalahkan (mereka). ' (QS. Fushshilat: 26). Yakni, Al- Qur'an ini hanyalah bahan 

ejekan, sesuatu yang tak bermanfaat, dan barang mainan, mudah-mudahan kalian bisa menang 

melawannya, sebab jika pada suatu saat kalian berdebat dengannya, ia mengalahkan kalian dengan 

gampang. 

Suatu jika , Abu Jahal menghina Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan kebenaran yang beliau 

bawa. Ia berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, Muhammad menyatakan bahwa pasukan tempur Allah 

yang menyiksa kalian di neraka dan memenjara kalian di dalamnya berjumlah sebanyak sembilan 

belas, padahal jumlah kalian jauh lebih banyak. Apakah seratus orang dari kalian tidak akan mampu 

menang melawan salah satu dari tentara ini . lalu  Allah Taala me- nyindir ucapan Abu Jahl 

ini : 

 

 

 

Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan 

bilangan mereka itu melainkan untukjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang 

diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-

orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang- orang yang 

di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang dikehendaki Allah 

dengan bilangan ini sebagai suatuperumpamaan?"Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang 

dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapayang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang 

mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan 

bagi manusia. (QS. al-Muddatstsir: 31). 

 

Saat salah satu dari mereka mengatakan yang demikian kepada sebagian yang lain, jika  Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam membaca Al-Qur an dengan suara nyaring dalam shalatnya, mereka 

menghindar dari beliau dan menolak untuk mendengarkannya. Namun sebagian dari mereka justru 

ingin mendengarkan sebagian Al-Qur'an yang dibaca Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dalam 

shalatnya, ia secara sembunyi-sembunyi mendengarkan tanpa sepengetahuan mereka. Jika ia 

mengetahui bahwa orang-orang Quraisy mengetahui dirinya mendengarkan bacaan beliau, ia pergi 

karena takut mendapat  sik- saan dari mereka dan tidak lagi menyimak bacaan beliau. Jika 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengecilkan volume suaranya, orang-orang yang 

mendengarnya menduga bahwa mereka tidak mendengar sedikit pun bacaan beliau, bahkan beliau 

yang mendengar sedikit dari suara mereka. 

Ibnu Ishaq berkata: Daud bin Al-Hushain, mantan budak Amr bin Utsman berkata kepadaku dari 

Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas yang berkata bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata 

kepada mereka: 

 

"sebenarnya  ayat berikut: 'Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan 

janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu', diturunkan untuk 

mereka." Yakni, janganlah engkau menyaringkan suaramu hingga mereka lari darimu, dan jangan pula 

mengecilkan volume sehingga orang yang ingin mendengarnya tidak dapat mendengar yaitu sebagian 

orang- orang Quraisy yang mencuri-curi pendengaran sehingga barangkali ia menaruh perhatian 

kepada apa yang didengarnya lalu hal ini  membimbingnya pada hidayah. 

 

 

Siapakah Orang yang Pertama Kali Membaca Al-Quran Secara Terbuka di Depan Umum? 

 

Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Urwah bin Az-Zubayr bercerita kepadaku dari ayahnya yang berkata: 

Orang yang pertama kali membaca Al-Qur'an secara terbuka di depan umum di Makkah sesudah  

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yaitu  Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Anhu. Pada suatu 

jika , sahabat- sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkumpul. Mereka berkata: "Demi 

Allah, orang-orang Quraisy belum pernah mendengar Al-Qur'an yang dibaca di depan umum. Siapakah 

yang berani memperdengarkannya kepada mereka?" Abdullah bin Mas'ud berkata: "Aku"! Mereka 

berkata: "Kami khawatir akan nyawa. Kami ingin ada orang yang mempunyai keluarga yang dapat 

melindunginya dari kaum ini  jika ternyata nanti mereka berbuat jahat." Abdullah bin Mas'ud 

berkata: "Biarkanlah aku yang melakukannya, karena Allah akan melindungiku." lalu  Abdullah 

bin Mas'ud pergi ke Maqam pada waktu Dhuha pada saat orang-orang Quraisy sedang berada di balai 

pertemuan mereka. 

Abdullah bin Mas'ud berdiri di Maqam ini , lalu membaca dengan suara nyaring, 

 

Tuhan yang Maha pemurah, yang telah meng- ajarkan Al Quran. (QS. ar-Rahman: 1-2). Abdullah bin 

Mas'ud melanjutkan bacaannya, sedang orang-orang Quraisy merenungkannya bahkan sebagian dari 

mereka berkata: "Apa yang dibaca anak Ummu Abd ini?" Sebagian dari mereka berkata: "Dia sedang 

membaca sebagian yang dibawa Muhammad". Mereka bangkit bergerak mendatangi Abdullah bin 

Mas'ud lalu menghajarnya, tapi Abdullah bin Mas'ud tak bergeming dia tetap membaca surat ini  

sampai ayat tertentu. sesudah  itu, Abdullah bin Mas'ud baru pergi menemui sahabat-sahabatnya 

dengan wajah terluka. Mereka berkata kepadanya: "Itulah yang kami khawatirkan atas dirimu." 

Abdullah bin Mas'ud berkata: "Musuh-musuh Allah itu tidak lebih hina dalam pandanganku dibandingkan  

mereka sejak sekarang. Jika kalian mau, besok pagi aku akan melakukan hal yang sama. Mereka 

berkata: "Jangan!! Cukuplah engkau telah memperdengarkan kepada mereka sesuatu yang tidak 

mereka suka." 

 

 

Siapa Saja Orang-orang Quraisy yang Menyimak Bacaan Al-Quran yang Dibaca Nabi 

 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri berkata kepadaku: Abu Sufyan bin 

Harb, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-Akhnas bin Syariq bin Amr bin Wahb Ats-Tsaqafi, sekutu Bani 

Zuhrah, di suatu malam keluar untuk menyimak bacaan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang 

sedang melakukan shalat malam di rumahnya. Setiap orang dari mereka bertiga tidak saling 

mengetahui keberadaan mereka satu sama lain. Mereka rela begadang demi mendengarkan bacaan 

beliau. jika  fajar menyingsing, mereka bubar, dan bertemu di salah satu jalan. Mereka saling 

mengata-ngatai satu sama lain. Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain: "Jangan 

lakukan lagi, sebab bila kalian dilihat sebagian orang-orang yang tidak waras di antara kalian, pastilah 

kalian menimbulkan rasa curiga pada diri mereka." sesudah  itu, mereka berpisah. Pada malam 

berikutnya, setiap orang dari mereka bertiga kembali ke mendengar bacaan Rasulullah. Mereka rela 

begadang tidur guna mendengarkan bacaan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Saat fajar 

merekah, mereka bubar dan kembali bertemu di salah satu jalan. Sebagian di antara mereka berkata 

kepada yang lain persis seperti yang mereka katakan sebelumnya pada malam sebelumnya. sesudah  

itu mereka berpisah. Pada malam berikutnya, mereka bertiga kembali mendengarkan bacaan 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. jika  fajar merekah, mereka bubar dan kembali bertemu di 

salah satu jalan. Sebagian dari mereka berkata kepada yang lain: "Mari kita berjanji tidak akan 

mengulangi perbuatan kita ini." Mereka bertiga pun berjanji tidak mendengarkan bacaan Al-Qur'an di 

rumah Muhammad, lalu  pulang ke rumahnya masing-masing. 

Keesokan harinya, Al-Akhnas keluar menemui Abu Sufyan di rumahnya. Sesampainya di rumah Abu 

Sufyan Al-Akhnas bertanya: "Wahai Abu Hanzhalah, katakanlah kepadaku apa pendapatmu tentang 

apa yang semalam engkau simak dari Muhammad?" Abu Sufyan menjawab: "Wahai Abu Tsa'labah, 

demi Allah, aku mendengar beberapa yang aku tahu dan aku mengerti maksudnya. Aku juga dengar 

beberapa hal yang tidak aku tahu dan tidak aku pahami maksudnya. "Al-Akhnas berkata: "Demi Allah, 

aku juga seperti itu." 

Lalu Al-Akhnas menuju rumah Abu Jahal. Sesampainya di rumahnya, Al-Akhnas, lalu  berkata 

kepada Abu Jahal: "Wahai Abu Al-Hakam, apa yang engkau dengar dari Muhammad semalam?" Abu 

Jahal berkata: "Mendengar apa aku?! Bukankah kita bersaing ketat memperebutkan kehormatan 

dengan Bani Abdu Manaf. Mereka memberi makan kita juga melakukan hal yang sama. Mereka 

menanggung orang, kita juga melakukan hal yang sama. Mereka memberi demikian juga kita. Hingga 

jika  kita telah siap untuk berangkat dan kami seperti dua kuda pacuan, mereka berkata: 'Kita 

memiliki Nabi yang mendapat  wahyu dari langit'. Kapankah kita bisa mencapai hal seperti itu? 

Demi Allah, aku tidak akan pernah beriman kepada Nabi ini  tidak pula membenarkannya!" Al- 

Akhnas berdiri dan meninggalkan Abu Jahl. 

Ibnu Ishaq berkata: jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membacakan Al-Qur'an kepada 

mereka dan mengajak kepada Allah, mereka mencemooh beliau sambil berkata: "Hati kami tertutupi 

dari apa yang kamu seru kami kepadanya." Artinya, kami tidak mengerti apa yang engkau katakan. 

"Dan di telinga kami ada sumbatan." Artinya, kami tidak bisa menyimak apa yang engkau katakan. 

"Dan antara diri kami dan dirimu ada dinding." Artinya, ada penghalang antara kami denganmu. "Maka 

bekerjalah kamu." Artinya, kerjakan apa yang mesti engkau kerjakan. "sebenarnya  kami bekerja." 

Artinya, kami akan mengerjakan apa yang harus kami kerjakan. "Kami tidak mengerti apapun darimu." 

lalu  Allah menurunkan firman-Nya kepada beliau tentang ucapan mereka ini : 

 

Dan jika  kamu membaca Al-Qur'an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak 

beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dindingyang tertutup. Dan Kami adakan tutupan di atas 

hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan jika  

kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Quran, niscaya mereka berpaling ke belakang karena 

bencinya (QS. al-Isra': 45-46). 

Yakni, mustahil mereka mampu memahamimu yang mentauhidkan Tuhanmu, jika Aku sudah 

menyumbat hati mereka dan menutup telinga mereka, serta terdapat dinding pemisah antara mereka 

denganmu sebagaimana yang mereka duga? Intinya, "Aku tidak akan membuat mereka mendengar 

dan memahami." 

 

'Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka 

mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka ber bisik-bisik (yaitu) jika  orang-orang zalim itu berkata: 

'Kamu tidak lain hanyalah meng ikuti seorang laki-laki yang kena sihir. ' (QS. al-Isra: 47). 

Itulah yang saling mereka wasiatkan yakni tidak mengamalkan apa yang Aku utus engkau dengannya 

kepada mereka. 

 

Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu, karena itu mereka 

menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar) (QS. al-Isra: 48). 

Artinya, mereka telah keliru dalam mencitrakan dirimu. Maka tidaklah aneh jika  mereka tidak 

mendapat  petunjuk di dalamnya, dan perkataan mereka tidak memiliki nilai sedikit pun. 

 

Dan mereka berkata: 'Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, 

apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru? (QS. al-Isra: 49). 

Yakni, engkau telah jelaskan kepada kami bahwa kami akan dibangkitkan sesudah  kematian dan sesudah  

menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur. Ini satu hal tidak mungkin terjadi. 

 

Katakanlah: "Jadilah kalian sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak 

mungkin (hidup) menurut pikiran kalian." Maka mereka akan bertanya, "Siapa yangakan 

menghidupkan kembali?" Katakanlah, "Yang telah menciptakan kalian pada kali yang pertama." (QS. 

al-Isra: 50-51). 

Yakni, Dzat yang menciptakan kalian sebagaimana yang telah kalian ketahui. Maka diciptakannya 

kalian dari tanah tidak lebih sulit bagi-Nya. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku dari Mujahid dari Ibnu Abbas 

Radhiyallahu Anhumz yang berkata bahwa aku bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai firman Allah: 

 

Atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurutpikiran kalian. (QS. al-Isra: 51). 

Apa maksud Allah dengannya? Ibnu Abbas menjawab: Kematian. 

 

 

Kekejaman Kaum Musyrikin Atas Orang-orang Lemah yang Baru Masuk Islam 

 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  orang-orang Quraisy meneror orang-orang yang masuk Islam dan 

mengikuti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Setiap kabilah menangkap kaum Muslimin yang 

berada di kabilahnya lalu  memenjara mereka, menghajar mereka, membiarkan mereka lapar 

dan haus, dan menjemur mereka di padang pasir Makkah jika musim panas sedang membara. Mereka 

menyiksa orang-orang yang lemah di antara kaum Muslimin. Mereka melakukan cobaan berat atas 

sikap keberagamaan orang-orang lemah itu. Di antara kaum Muslimin ada yang berubah karena 

beratnya cobaan yang diterimanya. Namun ada pula yang lawan dan melakukan resistensi, Allah 

melindungi mereka dari orang-orang Quraisy. 

Bilal yaitu  mantan budak Abu Bakar Radhiyallahu Anhu. Awalnya ia yaitu  budak salah seorang dari 

Bani Jumah dan dilahirkan di Bani Jumah. Dialah Bilal bin Rabah. Ibunya bernama Hamamah. Bilal bin 

Rabah masuk Islam dengan tulus, hatinya bersih. Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin 

Jumah mengeluarkannya jika  matahari sedang di puncak teriknya. Ia membaringkannya di atas 

padang pasir Makkah lalu  memerintahkan untuk meletakkan batu besar di atas dadanya. 

Umayyah bin Khalaf berkata kepada Bilal: "Demi Allah, engkau akan berada dalam kondisi seperti ini 

hingga engkau mati atau engkau kafir kepada Muhammad dan menyembah Al-Lata dan Al-Uzza." 

Meng- hadapi ujian ini , Bilal berkata: "Ahad (Esa) Ahad(Esa)." 

Ibnu Ishaq berkata: Hisyam bin Urwah berkata kepadaku dari ayahnya ia berkata: Pada saat Bilal 

sedang disiksa, dan mengucapkan, 'Ahad. Ahad,' Waraqah bin Naufal berjalan melewatinya. Waraqah 

bin Naufal berkata: "Demi Allah, Ahad, dan Ahad, wahai Bilal." Waraqah bin Naufal menemui Umayyah 

bin Khalaf dan orang-orang dari Bani Jumah yang menyiksa Bilal. Waraqah bin Naufal berkata kepada 

mereka, "Allah, jika kalian menghabisi Bilal dalam kondisi seperti ini, pasti aku akan memberkati 

tempat kematiannya." Demikianlah apa yang terjadi sampai Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu 

berjalan melewati orang-orang yang sedang menyiksa Bilal. Rumah Abu Bakar berada di Bani Jumah. 

Abu Bakar berkata kepada Umayyah bin Khalaf: "Mengapa engkau tidak takut kepada Allah dari 

menyiksa orang miskin ini? Hingga kapan engkau akan menyiksanya?" Umayyah bin Khalaf berkata: 

"Engkaulah yang merusak pikiran orang ini. Oleh karena itu, selamatkan dia jika engkau suka!" Abu 

Bakar berkata: "Boleh! aku mempunyai budak hitam yang lebih kuat dan kekar dibandingkan  dia, dan lebih 

fanatik berpegang dengan agamamu. Bagaimana kalau kita barter saja." Umayyah bin Khalaf berkata: 

"Aku setuju." Abu Bakar berkata: "Budak ini  menjadi milikmu." lalu  Abu Bakar 

memberikan budaknya itu kepada Umayyah bin Khalaf sementara ia mengambil Bilal lalu  dia 

memerdekakannya. 

Sebelum hijrah ke Madinah, Abu Bakar memerdekakan enam budak dan Bilal yaitu  budak ketujuh 

yang ia merdekakan. Keenam budak yang ia merdekakan yaitu  sebagai berikut: Amir bin Fuhairah. 

Ia terlibat pada Perang Badar dan Uhud dan syahid di Perang Bi'ru Maunah, Ummu Ubais, Zinnirah 

jika  Abu Bakar memerdekakannya, ia dalam kon- disi buta akibat penyiksaan yang diterimanya. 

Orang-orang Quraisy berkata: "Matanya di cabut Al-Lata dan Al-Uzza." Zinnirah berkata: "Demi Rumah 

Allah, mereka bohong. Al-Lata dan Al-Uzza yaitu  patung yang tidak bisa berbuat apa-apa." lalu  

Allah mengembalikan matanya menjadi melihat kembali. 

lalu  dia memerdekakan An-Nahdiyyah dan putrinya. Keduanya milik seorang wanita dari Bani 

Abduddar. Abu Bakar mele- wati keduanya yang jika  itu sedang membuat tepung. Tuannya berkata: 

"Demi Allah, aku tidak akan pernah memerdekakan kalian berdua." Abu Bakar berkata: "Wahai ibu Si 

Fulan, batalkanlah sumpahmu itu!" Wanita ini  berujar: "Membatalkan sumpah? Padahal engkau 

yang merusak pikiran keduanya! 

Merdekakanlah mereka berdua, jika engkau suka!" Abu Bakar berkata: "Berapa harga keduanya?" 

Wanita itu berkata: "Sekian dan sekian." Abu Bakar berkata: "Aku beli keduanya dengan harga 

ini , dan keduanya menjadi orang merdeka." Abu Bakar berkata kepada An-Nahdiyyah dan 

putrinya: "Berhentilah membuat tepung itu!" An-Nahdiyyah dan putrinya berkata: "Wahai Abu Bakar, 

bagaimana kalau kami selesaikan dulu pembuatan tepung ini, jika telah selesai, baru kami kembalikan 

kepadanya?" Abu Bakar lalu  berkata: "Terserah kalian berdua." Abu Bakar berjalan melewati 

budak Muslimah Bani Muammil di perkampungan Bani Adi bin Ka'ab. jika  itu Umar bin Khaththab 

menyiksanya agar ia meninggalkan agama Islam. Umar bin Khath-thab yang waktu itu masih musyrik 

tidak henti-hentinya menyiksa budak wanita ini  hingga ia kelelahan sendiri. Umar bin Khaththab 

berkata: "Aku berhenti menyiksamu hanyalah karena kelelahan." Budak wanita itu berkata: 

"Demikianlah Allah berbuat terhadap dirimu." lalu  Abu Bakar membeli budak wanita ini  

dan memerdekakannya. 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Abdullah bin Abu Atiq bercerita kepadaku dari Amir bin Abdullah 

bin Zubair dari sebagian keluarganya yang berkata: Abu Quhafah berkata kepada Abu Bakar: "Aku lihat 

engkau cenderung memerdekakan budak-budak yang lemah. Andai saja engkau memerdekakan 

budak-budak yang kuat, niscaya mereka siap untuk melindungimu." Abu Bakar berkata: "Wahai 

ayahanda, aku hanya melaku- kan apa yang Allah inginkan." Salah seorang dari keluarga Abu Bakar 

berkata bahwa Allah menurunkan ayat-ayat tentang Abu Bakar dan tentang ucapan ayahnya 

kepadanya:  

 

 

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya 

pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan 

adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, 

maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat 

baginya jika  ia telah binasa. sebenarnya  kewajiban Kamilah memberi petunjuk, dan 

sebenarnya  kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia. Maka Kami memperingatkan kamu dengan 

neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, 

yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan kelak akan dijauhkan orang yang 

paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, 

yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, tetapi (dia memberikan itu 

semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar 

mendapat kepuasan. (QS. al-Lail: 5-21). 

Ibnu Ishaq berkata: tatkala matahari sedang mencapai puncak panasnya, Bani Makhzum membawa 

Ammar bin Yasir, ayah, dan ibunya, yang semuanya telah masuk Islam, ke padang pasir Makkah untuk 

disiksa. Pada saat mereka bertiga sedang disiksa, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melewati 

mereka. Beliau bersabda seperti kabar yang aku terima, "Sabarlah, wahai keluarga Yasir, karena 

sebenarnya  tempat kembali kalian yaitu  surga."36 Mereka membunuh Ummu Ammar karena 

tetap kokoh dan menolak kecuali Islam. 

 

Abu Jahal inilah yang mencemooh kaum Muslimin di kalangan orang-orang Quraisy. Jika mendengar 

ada orang yang mulia mendapat perlindungan masuk Islam, ia mencemooh dan menjelek-jelekkannya 

dengan mengatakan: "Engkau murtad dari agama ayahmu, padahal ayahmu lebih baik dibandingkan  

engkau. Kami pasti menjelek-jelekkan mimpimu, tidak menerima pendapatmu, dan merusak 

kehormatanmu." 

Jika orang ini  pelaku bisnis, Abu Jahal akan berkata kepadanya: "Demi Allah, kami pasti 

membuat bisnismu bangkrut, dan kami hancurkan kekayaanmu* Jika orang ini  orang lemah, 

maka Abu Jahl akan menyiksa atau merayunya. 

Ibnu Ishaq berkata: Hakim bin Jubair berkata kepadaku dari Sa'id bin Jubair yang berkata bahwa aku 

bertanya kepada Abdullah bin Abbas: "Bagaimanakah bentuk penyiksaan orang-orang musyrikin 

terhadap sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam," Abdullah bin Abbas berkata: "Demi 

Allah. Orang-orang Quraisy memukul salah seorang dari sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam, membuat mereka kelaparan dan kehausan hingga salah seorang dari mereka tidak bisa berdiri 

tegak akibat beratnya penyiksaan yang diterimanya. Sampai-sampai orang-orang Quraisy berkata 

kepadanya, "Al-Lata dan Al-Uzza yaitu  Tuhanmu, bu- kan Allah!!" Ia berkata: "Ya." Bahkan seekor 

sapi betina dibawa ke hadapannya, lalu  mereka berkata kepadanya: "Sapi betina ini yaitu  

Tuhanmu dan bukannya Allah." Ia menjawab: "Ya." Ia melakukan ini semua demi menghindari 

penyiksaan yang lebih kejam." 

Ibnu Ishaq berkata: Zubair bin Ukasyah bin Abdullah bin Abu Ahmad berkata kepadaku: Beberapa 

orang Bani Makhzum berjalan menuju rumah Hisyam bin Al-Walid, karena saudaranya yang bernama 

Al-Walid bin Al-Walid bin Al-Mughirah telah memeluk Islam. Mereka sepakat untuk memurtadkan 

kembali anak-anak muda mereka yang telah masuk Islam, di antarannya Salamah bin Hisyam, dan 

Ayyasy bin Abu Rabi'ah. Mereka berkata kepada Al-Walid dalam dengan ketakutan karena wataknya 

yang keras, "sebenarnya  kami ingin menjelek-jelekkan anak-anak muda ini  karena agama 

baru yang mereka anut. Sehingga kita merasa ringan dalam menangani kasus lainnya selain mereka." 

Hisyam bin Al-Walid berkata: "Baiklah, silahkan saja, namun kalian jangan macam-macam dengan Al-

Walid. Hati-hatilah kalian terhadap dia." lalu  Hasyim bin Al-Walid berkata: 

Janganlah kau sekali-kali habisi Ubais saudaraku 

Jika kalian lakukan, maka kita mempunyai permusuhan abadi 

 

"Berhati-hatilah kalian terhadapnya. Aku bersumpah dengan nama Allah, jika kalian membunuhnya, 

aku akan menghabisi orang paling dihormati di antara kalian. Mereka berkata: 'Ya Allah, laknatilah dia! 

Siapakah yang mau tertipu dengan ucapannya ini . Demi Allah, andaikata saudaranya mening- 

gal di tangan kita, pasti ia membunuh orang paling dihormati di antara kita." Makanya mereka tidak 

berani menganggu Al-Walid. Demikianlah Allah melindungi Al-Walid dari teror mereka. 

 

 

Hijrah Pertama ke Negeri Habasyah 

 

Ibnu Ishaq berkata: "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyaksikan langsung penderitaan yang 

dialami sahabat-sahabatnya, dan itu berbalik dengan keadaan beliau karena kedudukan beliau di sisi 

Allah dan di sisi pamannya, Abu Thalib, sementara beliau tidak mampu memberi perlindungan kepada 

mereka, maka beliau bersabda kepada mereka: "Bagaimana kalau kalian berhijrah ke negeri 

Habasyah, karena rajanya mengharamkan siapapun dizalimi di dalamnya, dan negeri ini  yaitu  

negeri yang aman hingga Allah memberi solusi bagi kalian!" 

lalu  sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berangkat menuju Habasyah, 

karena khawatir menerima siksaan yang lebih berat. Mereka lari kepada Allah dengan membawa 

agama mereka. Inilah hijrah pertama yang terjadi dalam Islam. 

Kaum Muslimin yang pertama kali berangkat dari Bani Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin 

Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr ialah Utsman bin Affan bin Abu Al-

Ash bin Umayyah beserta istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Muhajirin dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf ialah Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah bin Abdu 

Syams beserta istrinya yang bernama Sahlah binti Suhail bin Amr, salah seorang dari Bani Amir bin 

Luay. Di Habasyah Sahlah melahirkan seorang putra yang bernama Muhammad bin Hudzaifah. 

Dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay ialah Az-ZUbayr bin Awwam bin Khuwailid bin Asad. 

Dari Bani Abduddar bin Qushay ialah Mush'ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar. 

Dari Bani Zuhrah bin Kilab ialah Abdur-rahman bin Auf bin Abdu Manaf bin Abd bin Al-Harits bin 

Zuhrah. 

Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah ialah Abu Salamah bin Abdul Usd bin Hilal bin Abdullah 

bin Umar bin Makhzum beserta istrinya yang bernama Ummu Salamah binti Abu Umayyah bin Al-

Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. 

Dari Bani Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab ialah Utsman bin Madz'un bin Habib bin Wahab bin 

Hudzafah bin Jumah. 

Dari Bani Adi bin Ka'ab ialah Amir bin Rabi'ah, sekutu keluarga Al-Khaththab dari Anzah bin Wail. 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang dari Anzah ialah anak Asad bin Rabiah. Amir bin Rabi'ah hijrah bersama 

istrinya, Laila binti Abu Hatsmah bin Hudzafah bin Ghanim bin Abdullah bin Auf bin Ubayd bin Uwaij 

bin Adi bin Ka'ab. 

Dari Bani Amir bin Luay ialah Abu Sabrah bin Abu Ruhm bin Abdul Uzza bin Abu Qais bin Abdu Wudd 

bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir. Ada yang mengatakan yang hijrah dari Bani Amir bin Luay ialah 

Abu Hathib bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir. Ada yang 

mengatakan bahwa dialah orang yang pertama kali tiba di Habasyah. 

Dari Bani Al-Harits bin Fihr ialah Suhail bin Baidha yang tidak lain yaitu  Suhail bin Wahb bin Rabi'ah 

bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin Al-Harits. 

Sepuluh orang kaum Muslimin inilah yang pertama kali berangkat ke bumi Habasyah, sebagaimana 

berita yang saya terima. 

Ibnu Hisyam berkata: Mereka dipimpin Utsman bin Madz'un seperti diikatakan sebagian orang 

berilmu kepadaku. 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  Ja'far bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berangkat menyusul ke bumi 

Habasyah. Kaum Muslimin secara bertahap-tahap berhijrah ke Habasyah hingga mereka berkumpul di 

sana. Ada yang hijrah bersama istrinya, ada pula yang hijrah sendirian tanpa ditemani istrinya. 

Dari Bani Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin 

Fihr ialah Ja'far bin Abu Thalib bin Hasyim beserta istrinya, Asma' binti Umais bin An-Nu'man bin Ka'ab 

bin Malik bin Quhafah bin Khats'am. Di Habasyah, Asma' melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi 

nama Abdullah bin Ja'far. 

Sedangkan dari Bani Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf ialah Utsman bin Affan bin Abu Al-Ash 

bin Umayyah bin Abdu Syams beserta istrinya yang bernama Ruqayyah binti Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam, Amr bin Sa'id bin Al-Ash bin Umayyah beserta istrinya yang bernama Fathimah binti 

Shaf- wan bin Umayyah bin Muharrits bin Syiqq bin Raqabah bin Mukhdi' Al-Kinani, dan saudaranya 

yang bernama Khalid bin Sa'id bin Al-Ash bin Umayyah beserta istrinya yang bernama Umainah binti 

Khalaf bin As'ad bin Amir bin Bayadzah bin Yatsi' bin Ja'tsamah bin Sa'ad bin Mulaih bin Amr, dari 

Khuza'ah. 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan Humainah (bukan Umainah) binti Khalaf. Ibnu Ishaq 

berkata: Di Habasyah, Umainah melahirkan Sa'id bin Khalid dan Amah binti Khalid. Di lalu  hari, 

Amah menikah dengan Zubair bin Awwam dan dari pernikahan keduanya lahirlah Amr bin Zubair, dan 

Khalid bin Zubair. 

Di antara sekutu-sekutu Bani Umayyah dari Bani Asad bin Khuzaimah yang hijrah ke Habasyah ialah 

Abdullah bin Jahsy bin Ri'ab bin Ya'mar bin Shabrah bin Murrah bin Kabir bin Ghanm bin Dudan bin 

Asad, saudaranya yang bernama Ubaidillah bin Jahsy beserta istrinya yang bernama Ummu Habibah 

binti Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah. Qais bin Abdullah salah seorang dari Bani Asad bin Khuzaimah 

beserta istrinya yang bernama Barakah binti Yasar mantan budak wanita Abu Sufyan bin Harb bin 

Umayyah, dan Mu'aiqib bin Abu Fathimah. Ketujuh orang di atas yaitu  keluarga Sa'id bin Al-Ash. 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebut bahwa Mu'aiqib berasal dari Daus. 

Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf ialah Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah 

bin Abdu Syams, dan Abu Musa Al-Asy ari yang nama aslinya yaitu  Abdullah bin Qais, sekutu keluarga 

Utbah bin Rabi'ah. 

Dari Bani Naufal bin Abdu Manaf ialah Utbah bin Ghazwan bin Jabir bin Wahb bin Nasib bin Malik bin 

Al-Harits bin Mazin bin Manshur bin Ikrimah bin Khashafah bin Qais bin Ailan, sekutu mereka. 

Dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay ialah Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad, Al-Aswad 

bin Naufal bin Khuwailid bin Asad, Yazid bin Zam'ah bin Al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad, dan Amr 

bin Umayyah bin Al-Harits bin Asad. Jadi jumlah muhajirin dari Bani Asad bin Abdul Uzza ada empat 

orang. 

Dari Bani Abd bin Qushay ialah Thulaib bin Umair bin Wahb bin Abu Kabir bin Abd bin Qushay. Seorang 

saja. 

Sementara dari Bani Abduddar bin Qushay ialah Mush'ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin 

Abduddar, Suwaibith bin Sa'ad bin Harmalah bin Malik bin Umailah bin As-Sibaq bin Abduddar, Jahm 

bin Qais bin Abdu Syurahbil bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar beserta istrinya yang bernama 

Ummu Harmalah binti Abdu A-Aswad bin Judzaimah bin Aqyasy bin Amir bin Bayadzah bin Yatsiq bin 

Ja'tsamah bin Sa'ad bin Mulaih bin Amir dari Khuza'ah beserta kedua anaknya yang bernama Amr bin 

Jahm dan Khuzaimah bin Jahm, Abu Ar-Rum bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar, dan 

Firas bin An-Nadhr bin Al-Harits bin Kaladah bin Alqamah bin Abdu Manaf bin Abduddar. Dengan 

demikian jumlah mereka ada lima orang. 

Dari Bani Zuhrah bin Kilab ialah Abdurrahman bin Auf bin Abdu Auf bin Abd bin Al-Harits bin Zuhrah, 

Amir bin Abu Waqqash, nama lengkapnya yaitu  Malik bin Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah, Al-

Muthalib bin Azhar bin Abdu Manaf bin Abd bin Al-Harts bin Zuhrah beserta istrinya Ramlah binti Abu 

Auf bin Dhubairah bin Su'aid bin Sa'ad bin Sahm. Di Habasyah, Ramlah melahirkan bayi laki-laki yang 

bernama Abdullah bin Al-Muthalib. 

Dari sekutu-sekutu Bani Zuhrah bin Kilab dari Hudzail ialah Abdullah bin Mas'ud bin Al-Harits bin 

Syamakh bin Makhzum bin Shahilah bin Kahil bin Al-Harits bin Tamim bin Sa'ad bin Hudzail, dan 

saudaranya yang bernama Utbah bin Mas'ud. 

Dari Bahra' ialah Al-Miqdad bin Amr bin Tsa'labah bin Malik bin Rabi'ah bin Tsumamah bin Mathrud 

bin Amr bin Sa'ad bin Tsaur bin Tsa'labah bin Malik bin Asy-Syarid bin Hazl bin Faisy bin Puraim bin Al-

Qain bin Ahwad bin Bahra' bin Amr bin Ilhaf bin Qudha'ah. 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan bahwa Muhajirin lain dari Bahra' ialah Hazl bin Fas bin 

Dzar, Duhair bin Tsaur. 

Ibnu Ishaq berkata: Ada yang berpendapat bahwa muhajirin lain dari Bahra' ialah Al-Miqdad bin Al-

Aswad bin Abdu Yaghuts bin Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah, karena Al-Aswad mengadopsinya pada 

masa jahiliyah dan bersekutu dengannya. Jadi jumlah Muhajirin dari Bahra' ada enam orang. 

Adapun muhajirin dari Bani Taim bin Murrah ialah Al-Harits bin Khalid bin Shakhr bin Amir bin Amr bin 

Ka'ab bin Sa'ad bin Taim beserta istrinya yang bernama Raithah binti Al-Harits bin Jabalah bin Amir bin 

Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim. Di Habasyah dia melahirkan anak yang diberi nama Musa bin Al-

Harits. Aisyah binti Al-Harits, Zainab binti Al Harits, dan Fathimah binti Al-Harits, dan Amr bin Utsman 

bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim. Jadi jumlah Muhajirin dari Bani Taim bin Murrah ada dua orang. 

Dari Bani Makhzum bin Yaqazhah bin Murrah ialah Abu Salamah bin Abdu Al-Asad bin Hilal bin 

Abdullah bin Umar bin Makhzum beserta istrinya yang bernama Ummu Salamah bin Abu Umayyah bin 

Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Di Habasyah, Ummu Salamah melahirkan anak 

perempuan yang diberi nama Zainab binti Abu Salamah. Nama asli Abu Salamah ialah Abdullah 

sedangkan nama asli Ummu Salamah ialah Hindun. Muhajirin yang lain dari Bani Makhzun ialah 

Syammas bin Utsman bin Abd bin Asy-Syarid bin Suwaid bin Harmi bin Amr bin Makhzum. 

Ibnu Hisyam berkata: Nama asli Syam-mas yaitu  Utsman. Dinamakan Syammas karena Syammas lain 

yang berasal dari Asy-Syamamisah tiba di Makkah pada zaman jahiliyah. Syammas dari Asy-

Syamamisah ini yaitu  pria tampan penuh kharisma. Utbah bin Rabi'ah, paman Syammas berkata: 

"Aku akan datangkan Syammas yang lebih tampan dibandingkan  Syammas ini." lalu  ia 

mendatangkan keponakannya yang bernama Utsman bin Utsman lalu  ia diberi nama Syammas 

sebagaimana dituturkan Ibnu Syihab. 

Ibnu Ishaq berkata: Muhajirin yang lain dari Bani Makhzum ialah Habbar bin Sufyan bin Abdu Al-Asad 

bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, saudara Habbar, Abdul-lah bin Sufyan, Hisyam Abu 

Hudzaifah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, Salamah bin Hisyam bin Al-Mughirah 

bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, dan Ayyasy bin Abu Rabi'ah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin 

Umar bin Makhzum. 

Muhajirin dari sekutu-sekutu Bani Makh-zum ialah Muattib bin Auf bin Amir bin Al-Fadhl bin Afif bin 

Kulaib bin Habasyiyah bin Salul bin Ka'ab bin Amr dari Khuza'ah. Dialah yang diberi nama Aihamah. 

Jadi jumlah muhajirin dari Bani Makhzum dan sekutunya ada delapan orang. 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan Muhajirin lain dari sekutu Bani Makhzum ialah 

Hubsyiyah bin Salul. Dialah yang biasa dipanggil Muattib bin Hamra. 

Dari Bani Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab ialah Utsman bin Madz'un bin Habib bin Wahb bin 

Hudzafah bin Jumah beserta anak laki-lakinya yang bernama As-Saib bin Utsman, serta dua saudara 

laki-lakinya yang bernama Qudamah bin Madz'un dan Abdullah bin Madz'un. Hathib bin Al-Harits bin 

Ma'mar bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah beserta istrinya yang bernama Fathimah binti Al-

Mujallil bin Abdullah bin Abu Qais bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir, kedua anak 

laki-lakinya yang bernama Muhammad bin Hathib, dan Al-Harits bin 

Hathib saudara Hathib yang bernama Haththab bin Al-Harits beserta istrinya yang bernama Fukaihah 

binti Yasar, Sufyan bin Ma'mar bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah serta kedua anak laki-

lakinya yang bernama Jabir bin Sufyan dan Junadah bin Sufyan, serta istrinya yang bernama Hasanah. 

Hasanah yaitu  ibu Jabir dan Junadah, serta saudara keduanya dari pihak ibu yaitu Syurahbil bin 

Hasanah, yang berasal dari Al-Ghauts. 

Ibnu Hisyam berkata: Syurahbil merupakan anak Abdullah, salah seorang dari Al-Ghauts bin Murr, 

saudara Tamim bin Murr. 

Ibnu Ishaq berkata: Muhajirin lain dari Bani Jumah ialah Utsman bin Rabi'ah bin Ahban bin Wahb bin 

Hudzafah bin Jumah. Jadi jumlah Muhajirin dari Bani Jumah ada sebelas orang laki-laki. 

Dari Bani Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab ialah Khunais bin Hudzafah bin Qais bin Adi bin Sa'ad 

bin Sahm, Abdullah bin Al-Harits bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, dan Hisyam bin Al-Ash bin Wail 

bin Sa'ad bin Sahm. 

Ibnu Hisyam berkata: Al-Ash yaitu  anak Wail bin Hasyim bin Sa'ad bin Sahm. 

Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Sahm bin Amir ialah Qais bin Hudzafah bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin 

Sahm, Abu Qais bin Al-Harits bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin 

Adi bin Sa'ad bin Sahm, Al-Harts bin Al-Harits bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, Ma'mar bin Al-Harits 

bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, Bisr bin Al-Harits bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, saudara 

seibu Bisr dari Bani Tamim yang bernama Sa'id bin Amr, Sa'id bin Al-Harits bin Qais bin Adi bin Sa'ad 

bin Sahm, As-Saib bin 

Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm, Umair bin Ri'ab bin Hudzaifah bin Muhassim bin Sa'ad bin Sahm, dan 

Mahmiyah bin Al-Jaza', sekutu Bani Sahm bin Amr dari Bani Zubaid. Jumlah Muhajirin dari Bani Sahm 

ada empat belas orang laki-laki. 

Dari Bani Adi bin Ka'ab ialah Ma'mar bin Abdullah bin Nadhlah bin Abdul Uzbin Hurtsan bin Auf bin 

Ubaid bin Uwaij bin Adi, Urwah bin Abdul Uzza bin Hurtsan bin Auf bin Ubaid bin Uwaij bin Adi, Adi 

bin Nadhlah bin Abdul Uzza bin Auf bin Ubaid bin Uwaid bin Adi beserta anak laki-lakinya yang 

bernama An-Nu'man bin Adi, dan Amir bin Rabi'ah, sekutu keluarga Al-Khaththab dari Anz bin Wail 

beserta istrinya yang bernama Laila binti Hatsmah bin Ghanim. Jadi Muhajirin dari Bani Adi bin Ka'ab 

ada lima orang. 

Dari Bani Amir bin Luay ialah Abu Sabrah bin Abu Ruhm bin Abdul Uzza bin Abu Qais bin Abdu Wudd 

bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir beserta istrinya yang bernama Ummu Kaltsum binti Suhail bin 

Amr bin Abdu Syamsu bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir, Abdullah bin Makhramah 

bin Abdul Uzza bin Abu Qais bin Abdu Wudd bin Nashr bin Nahsr bin Malik bin Hisl bin Amir, Abdullah 

bin Suhail bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir, Salith bin 

Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir, saudara Salith yang 

bernama As-Sakran bin Amr beserta istrinya yang bernama Saudah binti Zam'ah bin Qais bin Abdu 

Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir, Malik bin Zam'ah bin Qais bin Abdu Syams 

bin Abdu Wudd bin Nahsr bin Malik bin Hisl bin Amir beserta istrinya yang bernama Amrah binti As-

Sa'di bin Waqdan bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir, Abu Hathib 

bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir, dan Sa'ad bin Khaulah, 

sekutu mereka. Jumlah muhajirin dari Bani Amir bin Luay ada delapan belas orang laki-laki. 

Ibnu Hisyam berkata: Sa'ad bin Khaulah yaitu  orang Yaman. 

Ibnu Ishaq berkata: Dari Bani Al-Harits bin Fihr ialah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah yang bernama asli Amir 

bin Abdullah bin Al-Jarrah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin Al-Harits, Suhail bin Baidha' yang nama 

leng- kapnya ialah Suhail bin Wahb bin Rabi'ah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbah bin Al-Harits namun 

nasab ibunya lebih lekat dengannya sehingga ia dinasabkan kepada ibunya. Ibunya bernama Da'dun 

binti Jahdam bin Umayyah bin Dzarib bin Al-Harits bin Fihr, tapi ibunya lebih sering dipanggil Baidha'. 

Muhajirin lainnya dari Bani Al-Harits bin Fihr ialah Amr bin Abu Sarh bin Rabi'ah bin Hilal bin Uhaib bin 

Dhabbah bin Al-Harits, Iyadh bin Zuhair bin Abu Syaddad bin Rabi'ah bin Uhaib bin Dhabbah bin Al-

Harts. Ada yang mengatakan bahwa Rabi'ah ialah anak Hilal bin Malik bin Dhabbah bin Al-Harits. Amr 

bin Al-Harits bin Zuhair bin Syaddad bin Rabi'ah bin Hilal bin Malik bin Dhabbah bin Al-Harits, Amr bin 

Abdu Ghunm bin Zuhair bin Abu Syaddad bin Rabi'ah bin Hilal bin Malik bin Dhabbah bin Al-Harits, 

Sa'ad bin Abdu Qais bin Laqith bin Amir bin Umayyah bin Dzarib bin Al-Harits, dan Al-Harits bin Abdu 

Qais bin Laqith bin Amir bin Umayyah bin Dzarib bin Al-Harits bin Fihr. Jumlah muhajirin dari Bani Al-

Harits bin Fihr ada delapan belas orang laki-laki. 

Jumlah kaum Muslimin yang menyusul ke Habasyah dan berhijrah kepadanya, selain anak-anak yang 

mereka bawa hijrah atau lahir di Habasyah, yaitu  delapan puluh tiga orang laki-laki, jika  Ammar 

bin Yasir ditambahkan ke dalam jumlah ini , namun tidak jelas apakah ikut hijrah ke sana. 

Di antara syair-syair yang diungkapkan di Habasyah yaitu  bahwa sebenarnya  Abdullah bin Al-

Harits bin Qais bin Adi bin Sa'ad bin Sahm menyaksikan Muslimin mendapat  keamanan di 

Habasyah, memuji perlindungan yang diberikan Najasyi, dan mereka dapat beribadah kepada Allah 

tanpa ada rasa takut kepada siapa pun. 

Utsman bin Madz'un melaknat Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah. Utsman bin 

Madz'un yaitu  saudara misan Umayyah bin Khalaf, namun demikian, Umayyah bin Khalaf tetap 

mengintimidasi karena keislamannya. Padahal, Umayyah bin Khalaf saat itu yaitu  tokoh yang sangat 

dihormati di kaumnya. 

 

 

Orang-orang Quraisy Mengirim Intelnya ke Habasyah untuk Menarik Pulang Kaum Muhajirin 

 

Ibnu Ishaq berkata: Manakala orang-orang Quraisy menyadari bahwa sahabat-sahabat Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam hidup damai dan tentram di bumi Habasyah, serta mendapat  tempat 

tinggal dan ketenangan, mereka sepakat mengirim dua intel Quraisy yang kokoh agamanya untuk 

menemui Najasyi dan memintanya menyerahkan sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam kepada mereka. Mereka melakukan ini karena bermaksud menyiksa para sahabat agar murtad 

dari agamanya, dan mengeluarkan mereka dari negeri Habasyah. Orang-orang Quraisy mengutus 

Abdullah bin Abu Rabi'ah dan Amr bin Al-Ash bin Wail, dan membekali keduanya dengan hadiah-

hadiah mewah untuk mereka serahkan Najasyi dan para pendetanya. Maka diutuslah keduanya. 

jika  Abu Thalib mengendus rencana orang-orang Quraisy, dan hadiah-hadiah mewah yang dibawa 

oleh kedua utusan ini , ia mengucapkan syair-syair untuk Najasyi. Meminta Najasyi agar tetap 

memberikan perlindungan yang baik kepada kaum Muhajirin, dan membela mereka: 

Duhai, bagaimana keadaan Ja'far di tempat nunjauhsana 

Amr, dan para musuh itu yaitu  kerabat sendiri 

Apakah keramahan Najasyi menyentuh Ja'far 

dan sahabat-sahabatnya 

Ataukah ada pihak yang berusaha merusak 

suasananya 

Engkau orang mulia dan luhur 

Hingga orang yang tinggal di sisimu tak merasa 

menderita 

Allah membekalimu dengan kelapangan  

Dan pintu-pintu kebaikan semuanya melekat pada dirimu 

Engkau orang pemurah yang berakhlak mulia 

Orang jauh dan dekat merasakan kebaikannya. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim Az-Zuhri bercerita kepadaku dari Abu Bakr bin 

Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam Al-Makhzumi dari Ummu Salamah binti Abu Umayyah bin Al-

Mughirah, istri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang berkata: "Setiba kami di Habasyah, Najasyi 

menyambut kami dengan sangat ramah. Kami merasa aman dengan agama kami, dan bisa beribadah 

kepada Allah tanpa siksaan dan tidak mendengar kata-kata yang menghina kami. Hal ini lalu didengar 

orang-orang Quraisy, lalu  mereka mengirim dua orang yang kokoh agamanya untuk menemui 

Najasyi guna membicarakan tujuan mereka, dan merayunya dengan hadiah-hadiah untuk Najasyi yang 

berasal dari kekayaan penduduk Makkah. Anehnya bahwa di antara hadiah ini  terdapat kulit. 

Orang-orang Quraisy mengumpulkan kulit yang banyak sekali, dan tidak ada satu pendetapun yang 

tidak mereka siapkan hadiah untuk mereka. Barang-barang ini  dibawa Abdullah bin Abu Rabi'ah 

dan Amr bin Al-Ash, dan mereka berdua diperintahkan untuk tidak gagal dengan misi mereka. Mereka 

berkata kepada keduanya: "Berikan hadiah ini kepada semua pendeta sebelum kalian berdua 

mengutarakan maksud kalian kepada Najasyi mengenai orang-orang yang hijrah. Lalu serahkanlah 

hadiah-hadiah ini kepada Najasyi, lalu  mohonlah kepada Najasyi agar ia menyerahkan orang-

orang yang hijrah itu kepada kalian berdua. 

Ummu Salamah bercerita: Bangkitlah kedua utusan Quraisy dari Makkah menuju Habasyah. Kami 

semua saat itu berada di sebuah rumah yang nyaman dan tetangga yang baik. Mereka berdua lalu 

memberikan hadiah ini  kepada para pendeta sebelum berbicara kepada Najasyi. Keduanya 

berkata kepada setiap orang dari para pendeta: "sebenarnya  telah masuk ke negeri Tuan raja anak-

anak muda yang linglung. Mereka meninggalkan agama kaumnya, dan tidak masuk ke dalam agama 

kalian. Mereka menganut agama baru yang sama-sama tidak kita kenal. Tokoh-tokoh orang-orang 

Quraisy mengutus kami kepada kalian untuk menarik pulang mereka kepada kaumnya. Jika kami 

berbicara kepada raja kalian tentang orang- orang ini , hendaklah kalian memberikan isyarat agar 

dia menyerahkan mereka kepada kami dan agar ia tidak berbicara dengan mereka, karena kaum 

mereka jauh lebih mengerti apa yang mereka katakan, dan lebih mengerti apa yang mereka cela. Para 

pendeta berkata kepada keduanya: "Baiklah." Lalu kedua utusan Quraisy itu menyerahkan hadiah-

hadiah kepada Najasyi dan Najasyi menerimanya. Keduanya berkata kepada Najasyi: "Wahai tuan raja, 

sebenarnya  telah menyelinap masuk ke negeri tuan anak-anak muda kami yang linglung. Mereka 

murtad dari agama kaumnya dan tidak masuk dalam agamamu. Mereka menganut agama yang 

mereka ciptakan sendiri. Kami tidak mengenal agama ini , begitu juga tuan. Kami diutus ayah-

ayah mereka, paman-paman mereka, dan keluarga besar mereka untuk membawa mereka pulang 

kepada kaumnya, karena kaumnya jauh lebih mengerti apa yang mereka katakan." 

Ummu Salamah melanjutkan: Tidak ada sesuatupun yang paling dibenci Abdullah bin Abu Rabi ah dan 

Amr bin Al-Ash lebih dibandingkan  Najasyi mendengar perkataan kaum kaum muslimin. Para pendeta di 

sekeliling Najasyi berkata: "Mereka berdua berkata benar, wahai tuan raja. Kaum mereka jauh lebih 

mengerti terhadap apa yang mereka katakan, dan lebih mengerti terhadap apa yang mereka cela. Oleh 

karena itu, kembalikan saja mereka kepada kedua orang ini, agar keduanya membawa mereka kembali 

pulang ke negeri dan kaum mereka." 

Mendengar itu, Najasyi marah besar. Ia berkata: "Tidak!" Demi Allah, aku tidak akan menyembahkan 

mereka kepada kalian berdua. Jika ada sebuah kaum hidup berdampingan denganku, dan memilihku 

dibandingkan  orang selain aku, maka kewajibanku yaitu  bertanya kepada mereka tentang apa yang 

dikatakan dua orang ini tentang diri mereka. Jika memang benar ucapan kedua orang ini, baru aku 

serahkan mereka kepada keduanya, dan aku pulangkan mereka kepada kaumnya, namun, jika 

ternyata mereka tidak seperti dikatakan 

Keauanya, aku aKan menaungi mereKa aari keduanya, dan melindungi mereka selama tinggal di 

negeriku." 

Ummu Salamah berkata: lalu  Najasyi mengundang datang sahabat-sahabat Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam melalui utusannya. jika  utusan Raja Najasyi tiba di tempat, mereka 

segera mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan ini , sebagian Muhajirin berkata kepada 

sebagia yang lain: "Apa yang akan kita katakan kepada raja Najasyi jika kita datang menemuinya?" 

Mereka berkata: "Demi Allah, kita akan mengatakan apa yang telah kita ketahui selama ini. Apa yang 

disampaikan Nabi itulah yang akan kita katakan." jika  mereka tiba di tempat Najasyi yang jika  itu 

juga memanggil para uskupnya yang lalu  membuka mushaf-mushaf mereka di sisi Najasyi. 

Najasyi bertanya kepada para muhajirin: "Mengapa agama ini membuat kalian memisahkan dari dari 

kaum kalian, dan mengapa kalian tidak masuk ke dalam agamaku, serta tidak masuk ke dalam salah 

satu dari agama-agama yang telah ada?" 

Orang yang menjawab pertanyaan Najasyi ialah Ja'far bin Abu Thalib. Ia berkata kepada Najasyi, 

"Wahai tuan raja, mulanya kami yaitu  ahli jahiliyah. Kami menyembah patung-patung, memakan 

bangkai, berzina, memutus silaturahim, menyakiti tetangga, dan orang kuat di antara kami selalu 

menindas orang lemah. Begitulah kondisi kami hingga Allah mengutus seseorang dari kami menjadi 

Rasul kepada kaum kami. Kami mengenal keturunannya, kebenarannya dan kejujurannya. la mengajak 

kami kepada Allah dengan cara mentauhidkan-Nya, beribadah kepada-Nya, dan meninggalkan batu 

dan patung-patung yang sebelumnya kami sembah. Rasul itu memerintahkan kami untuk berkata 

jujur, menunaikan amanah, menyambung tali silaturahim, bertetangga dengan baik, menahan diri dari 

hal-hal yang haram, dan tidak membunuh. Ia melarang kami dari perbuatan zina, berkata bohong, 

memakan harta anak yatim, dan menuduh berzina wanita yang menjaga kehormatannya. Ia 

memerintahkan kami hanya beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu 

apa pun. Ia juga memerintahkan kami shalat, zakat, dan puasa. 

Ummu Salamah berkata: Ja'far memaparkan asas-asas utama agama Islam, lalu ia berkata: Kami 

membenarkan Rasul ini , beriman kepadanya, dan mengikuti apa yang dia bawa dari sisi Allah. 

Hanya kepada Allah 

kami beribadah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Kami mengharamkan apa saja 

yang beliau haramkan, dan menghalalkan apa saja yang beliau halalkan. sesudah  itu, muncul 

ketidaksukaan kaum kami kepada kami. Mereka meneror dan menyakiti kami karena agama ini. 

Mereka memaksa kami kembali menyembah patung-patung, tidak menyembah Allah Ta'ala, dan kami 

menghalalkan kembali apa yang dulu pernah kami halalkan. Karena mereka selalu meneror kami, 

menyaluti kami, mempersempit ruang gerak kami, dan memisahkan kami dari agama kami, maka kami 

pergi ke negeri tuan dan memilih tuan dibandingkan  orang lain. Kami lebih suka hidup berdampingan 

dengan tuan, dan kami berharap tidak disiksa lagi di sisimu, wahai tuan raja." 

Najasyi berkata kepada Ja'far: "Apakah engkau membawa bukti yang datang dari sisi Allah?" 

Ja'far berkata kepada Najasyi: "Ada." Najasyi berkata kepada Ja'far: "Bacakanlah ia untukku!" 

lalu  Ja'far membacakan permuiaan surat Maryam. Demi Allah, Najasyi menangis tersedu-sedu 

hingga jenggotnya basah oleh air mata. Para uskup juga menangis hingga air mata mereka menetes 

membasahi mushaf-mushaf mereka jika  mendengar surat yang dibaca Ja'far. Najasyi berkata: 

"sebenarnya  ayat tadi dan apa yang dibawa Isa berasal dari sumber cahaya yang sama. Enyahlah 

kalian berdua, hai utusan Quraisy! Demi Allah, aku tidak akan pernah mengembalikan mereka kepada 

kalian berdua, dan mereka tidak bisa diusik." 

Tatkala kedua utusan Quraisy keluar dari hadapan Najasyi, Amr bin Al-Ash berkata: "Demi Allah, besok 

pagi aku akan menghadap Najasyi dan mencabut akar asal usul mereka." Abdullah bin Abu Rabi'ah, 

orang terkuat di tengah kami, berkata: "Jangan kau lakukan itu, karena