pembunuhan masal 6


 ono maupun 

Suradi, pada kesempatan terpisah, menyatakan ada enam sektor, lebih tepat bertumpu pada 

angka mereka ketimbang pada angka Supardjo. 

29 Kesaksian Njono, “Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub, Perkara Njono, 87-

98.

30 Wawancara dengan Juwono. Juwono nama samaran.

31 Seorang loyalis Sukarno, Manai Sophiaan, mengetahui tentang rencana penyelenggaraan 

dapur umum ini saat  ia berbicara dengan mantan anggota-anggota PKI bertahun-tahun 

kemudian, lihat Sophiaan, Kehormatan Bagi Yang berhak, 92.

32 Wieringa, Sexual Politics in Indonesia, 292.

33 Ibid., 294. Emblem itu dimaksud untuk membedakan antara pasukan yang ikut aksi 

dengan yang tidak.

34 Wawancara dengan Oey Hay Djoen, 24 Januari 2002, Jakarta.

35 Kesaksian Peris Pardede, “Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub, Perkara Njono, 

134. sebab  informasi yang diberikan Pardede kepada tentara sesudah ia tertangkap, 

Sudisman menganggapnya sebagai pengkhianat PKI (wawancara dengan Tan Swie Ling). 

Swie Ling menyembunyikan Sudisman di rumahnya di Jakarta pada 1966. 

36 Kesaksian Njono, “Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub, Perkara Njono, 87-

88.

37 Transkrip Mahmilub, sidang Sudisman, 7 Juli 1967. Menurut analisis Supardjo, Sjam 

tidak secara sepihak memutuskan untuk mundur. Pimpinan G-30-S tidak pernah membuat 

keputusan setegas itu. Manai Sophiaan menyatakan Sjam mengira massa PKI akan me-

lancarkan demonstrasi begitu G-30-S dimulai (Sophiaan, Kehormatan Bagi Yang Berhak, 

81, 89).

38 CIA, Indonesia – 1965, i.

39 Sekretariat Negara, Gerakan 30 September: Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: 

Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya, 121.

40 Transkrip Mahmilub, persidangan Supardjo, pleidooi dari tertuduh, 6, 11. Seperti saya 

kemukakan dalam bab 1, dokumen asli Dekrit no. 1 tidak ada, sehingga tidak mungkin 

memastikan siapa yang telah menandatanganinya.

41 Transkrip Mahmilub, persidangan Supardjo, sidang ketiga, 24 Februari 1967, 37.

168

3. DOKUMEN SUPARDJO

42 Crouch, Army and Politics in Indonesia, 134. Demokrasi Terpimpin ialah istilah Presiden 

Sukarno untuk bentuk pemerintahan yang dimulainya pada 1959. Ia membubarkan Kons-

tituante yang sedang menyusun UUD baru; memulihkan konstitusi pertama negara, yang 

telah ditulis dengan tergesa-gesa pada 1945; menunda pemilihan umum; dan menyusun 

kembali anggota parlemen.

43 Mayor Jenderal Pranoto Reksosamodra dipenjarakan pada 16 Februari 1966 dengan 

tuduhan terlibat dalam G-30-S. Ia dibebaskan sesudah hampir satu bulan ditahan dan 

kemudian dikenai tahanan rumah. Tahun 1969 ia dipenjara lagi dan baru bebas tahun 

1981. (Reksosamodra, Memoar, 250-251).

44 Transkrip Mahmilub, persidangan Supardjo, sidang kedua, 23 Februari 1967, 51.

45 Dalam memoarnya Suharto menyebut ia meninggalkan markas Kostrad tapi tidak 

menunjuk kapan waktunya. (Suharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, 107).

46 Dani membantah pernyataan Supardjo bahwa ia mendukung pemboman terhadap 

Kostrad (Katoppo, Menyingkap Kabut Halim 1965, 255). Pada persidangannya Supardjo me-

nyatakan Dani tidak mendukung pemboman (transkrip Mahmilub, persidangan Supardjo, 

sidang kedua, 23 Februari 1967, 55). 

47 Wawancara dengan Heru Atmodjo, 14 Desember 2002.

48 Ibid.

49 Kementerian Luar Negeri kepada Kedutaan Besar AS di Jakarta, 13 Oktober 1965, dalam 

Department of State, FRUS 1964-1968, 26:320

50 Kedutaan Besar AS di Indonesia kepada Kementerian Luar Negeri, 4 November 1965, 

dalam Department of State, FRUS 1964-1968, 26:354.

51 Di depan sidang Mahmilub untuknya Omar Dani bersaksi bahwa Sukarno menolak 

Suharto sebagai caretaker sementara, sebab  ia “terlalu koppig” (dalam Crouch, Army and 

Politics in Indonesia, 128). 

52 Tentang pemindahan dini Suharto dari kedudukannya sebagai panglima kodam pada 

1959, lihat Crouch, Army and Politics in Indonesia, 40, 124-125.

53 Benjamin, Refl ections, 206.

169

4

SJAM DAN BIRO CHUSUS

Keberadaannya mustahil, tak terjelaskan, dan membingungkan 

sekaligus. Ia masalah yang tak bisa dipecahkan. Tak terbayangkan 

bagaimana ia menjadi ada, bagaimana ia berhasil mencapai sejauh 

itu. 

Joseph Conrad, Heart of of Darkness (1902)

Dokumen Supardjo memungkinkan kita membongkar sebuah 

misteri: hubungan antara para perwira militer (Untung, Latief, 

dan Soejono) dan kelompok sipil (Sjam dan Pono) dalam kepe-

mimpinan Gerakan 30 September. Di antara lima tokoh pimpinan inti, 

Sjam tokoh yang terpenting. Sayangnya, dokumen ini tidak membantu 

kita menjawab pertanyaan-pertanya-an yang secara logis menyusul: 

Siapa Sjam? Apakah Sjam pembantu setia Aidit dan hanya mengikuti 

perintah? Kemudian, apakah Aidit pemimpin G-30-S yang sebenar-

nya, yang memainkan Sjam dari belakang layar? Atau, apakah Sjam 

mempunyai kemandirian, sehingga ia sendiri bisa merancang G-30-S 

dan membiarkan Aidit tidak tahu detil rencana? Apakah Sjam lebih 

bekerja untuk tentara ketimbang untuk Aidit? Ataukah ia bekerja untuk 

pihak ketiga? Biro Chusus yang dipimpinnya itu apa, dan bagaimana 

badan itu berfungsi di dalam partai?

Mengingat langkanya bukti, menjadi mungkin untuk memba-

yangkan beraneka ragam skenario dengan tingkat-tingkat kesalahan 

yang berbeda-beda bagi para pelaku yang terlibat. Aidit, misalnya, bisa 

170

4. SJAM DAN BIRO CHUSUS

dikemukakan sebagai dalang dari seluruh operasi, secara pribadi terlibat 

dalam setiap aspeknya, atau sebagai sosok naif bernasib sial dalam suatu 

perangkap terperinci yang direkayasa Sjam. Kinerja dalam tubuh partai 

sama sekali kabur, setidak-tidaknya bagi mereka yang berperhatian 

terhadap fakta-fakta dan tidak diwajibkan memercayai dongeng-dongeng 

yang dipaksakan rezim Suharto terhadap warga  Indonesia.

Dalam bab ini saya menyajikan informasi baru yang dapat 

membantu mengurangi jumlah skenario yang masuk akal. Tetap banyak 

lubang-lubang yang tersisa tapi beberapa unsur kisah dapat dijernihkan. 

Banyak dari informasi ini saya peroleh dari seorang mantan anggota partai 

yang mengenal Sjam dan Biro Chusus secara rinci dan mendalam. Saya 

berbincang dengannya berkali-kali selama beberapa tahun. Sesudah ia 

yakin saya dapat dipercaya untuk menerima kisah-kisahnya, dan saya pun 

yakin kisahnya dapat dipercaya, kami merekam wawancara dengannya. Ia 

juga memberi saya sebuah tulisan otobiografi  enam puluh satu halaman 

terketik. sebab  ia minta agar tetap anonim, saya tidak dapat mence-

ritakan posisinya di dalam partai dan menjelaskan bagaimana ia dapat 

memperoleh pengetahuannya. Saya hanya dapat menegaskan bahwa 

saya yakin ia dalam posisi yang memungkinkan untuk tahu dari dekat 

kinerja Biro Chusus. sebab  ceritanya sampai sekarang merupakan 

sumber utama satu-satunya yang ada tentang para anggota biro ini, 

selain kesaksian-kesaksian mereka di sidang-sidang Mahmilub, maka 

sepatutnyalah cerita ini dikaji dengan seksama. sebab  didasarkan atas 

ingatan, kisah ini kemungkinan mengandung sejumlah ketidaktepatan. 

Namun, saya percaya bahwa kisahnya sebagian besar dapat diandalkan. 

Beberapa bagian dibandingkan nya dapat didukung kebenarannya melalui 

sumber-sumber lain. Nama samaran yang saya gunakan di sini, Hasan, 

dipilih secara acak.

LATAR BELAKANG SJAM DAN BIRO CHUSUS

Kapan Biro Chusus (BC) mulai ada? Menurut Hasan secara teknis Sjam 

benar saat  dalam kesaksiannya di sidang mengaku bahwa biro ini mulai 

pada 1964.1 Hasan menegaskan nama itu muncul sekitar 1964 tapi 

menurutnya organisasinya sendiri telah berfungsi setidak-tidaknya sejak 

171

 

awal 1950-an,  saat  partai direorganisasi di bawah pimpinan Aidit. Satu 

bagian di dalam partai diserahi tugas untuk menumbuhkan dukungan di 

kalangan militer. Cabang klandestin partai ini bekerja di dalam Depar-

temen Organisasi PKI, yang bersifat terbuka, yang mengurus masalah-

masalah seperti pengangkatan, penempatan, dan pendidikan anggota 

partai. Sampai 1964 cabang ini dikenal sebagai Bagian Militer pada 

Departemen Organisasi. Kebanyakan staf Departemen Organisasi tidak 

tahu-menahu tentang keberadaan bagian yang dipimpin oleh seseorang 

bernama Karto ini. Dalam kesaksiannya Sjam mengatakan ia sudah ada 

di Departemen Organisasi sejak 1960. Hal yang tidak diceritakannya 

yaitu  bahwa ia bekerja di bawah pimpinan Karto sebagai anggota rahasia 

departemen ini . Ia kemudian menjadi pimpinannya, saat  Karto 

meninggal pada 1963 atau 1964.

Hasan menggambarkan Karto sebagai anggota senior PKI yang 

bergabung dengan partai pada 1920-an. Ia berasal dari Solo dan ikut 

aktif dalam perjuangan bersenjata melawan Belanda dari 1945 sampai 

1949. Hasan, saat  itu anggota laskar (milisi rakyat) di Jawa Tengah, 

mengenal Karto dalam tahun-tahun perjuangan bersenjata ini , dan 

sesekali bertemu dengannya dalam tahun-tahun belakangan:

Dia waktu itu [tahun 1940-an] menjadi anggota CC bagian 

tani. Bagian tani. Jadi dia punya pengaruh di pedesaan, Pak 

Karto itu, di pedesaan. Dan dia sebab  orang kawakan, orang 

yang sudah berpengalaman itu, jadi kader-kader di militer itu 

banyak oleh Pak Karto sendiri. Jadi Pak Karto dianggap sebagai 

bapaklah, bapak di Jawa Tengah, Pak Karto itu, iya. Orangnya 

memang tua, tapi dia ini ya – apa, memang seperti orang ’26, 

’27 ya – kalo nggak salah pernah dibuang ke Boven Digul.2 

Begitu banyak sengsara, hidupnya di kantor BTI, tidak punya 

istri, tapi kemudian kena kanker. Kanker, terus dibawa ke 

Soviet. Soviet bilang terus nggak sanggup, ini tinggal tunggu 

enam bulan, kembali lagi ke sini terus enam bulan betul-betul 

mati, ’63 atau ’64.3

Dua mantan pimpinan PKI bercerita kepada saya bahwa nama 

samaran Karto ialah Hadi Bengkring sebab  badannya yang sangat kurus 

172

4. SJAM DAN BIRO CHUSUS

(bengkring, perkataan dalam bahasa Jawa, berarti kurus atau kerempeng). 

Menurut ingatan Hasan, Karto meninggal akibat kanker paru-paru sebab  

ia seorang perokok berat sepanjang hidupnya. Kebiasaan ini tidak pernah 

ditinggalkannya pada saat ia sudah menderita kanker sekalipun.4

Waktu di dalam penjara bersama mantan tokoh-tokoh PKI sesudah 

1965, Siauw Giok Tjhan, pimpinan organisasi warga  Tionghoa 

Indonesia yang pro-Sukarno, Badan Permusyawaratan Kebangsaan 

Indonesia (Baperki), mendengar bahwa Karto ialah kepala Bagian Militer 

dalam partai. Siauw tidak banyak tahu tentang PKI sebelum 1965 dan 

tentu saja tidak tahu apa-apa tentang siapa Karto. Di penjara Siauw 

menjadi semacam ilmuwan sosial yang mengumpulkan informasi tentang 

G-30-S untuk memahami bagaimana gerakan itu terjadi. Ia menulis 

dalam analisisnya yang belum pernah diterbitkan bahwa Karto “yaitu  

seorang tua, salah seorang pendiri PKI yang dihormati oleh banyak tokoh 

PKI.”5 

Seorang mantan anggota parlemen dari fraksi PKI, Oey Hay Djoen, 

mengenang Karto sebagai tokoh terkenal di dalam partai, “Ia seorang 

kawan yang sepertinya ada di mana-mana dan ke mana-mana, selalu saja 

dan kapan saja. Tapi ia tidak bertingkah congkak. Ia seorang kawan yang 

pendiam; kadang-kadang tersenyum. Tapi ia selalu ada di sekitar partai. 

Dan ia disegani. Orang tahu ia seorang tokoh penting walaupun tidak 

mempunyai kedudukan apa pun. Kami tidak menyoalkannya.”6 

Justru sebab  kedekatannya dengan banyak tokoh militer dalam 

revolusi Indonesia, Karto lalu bertanggung jawab meneruskan hubungan 

partai dengan mereka sesudah kemerdekaan nasional tercapai. Pada 1950-

an dan awal 1960-an, selagi tetap menjadi pimpinan partai secara terbuka 

di Jakarta, ia menjaga jaringan hubungan rahasia di kalangan militer di 

seluruh negeri. Di setiap provinsi sementara anggota partai menjalin 

kontak dengan para perwira. Hasan berkata, “Umumnya di daerah itu 

Pak Karto mengambil anak daerah dari daerah itu sendiri, dari BC itu. 

Tapi wakilnya, wakilnya itu dikirim oleh Pak Karto dari orang Jawa, orang 

Sunda, ada yang dikirim ke sana, wakil-wakilnya. Tapi kalau kepalanya, 

kepala BC itu mesti orang situ; Padang ya orang Padang. Medan, orang 

Medan, kepala-kepalanya. Tapi wakilnya itu kader-kadernya Pak Karto 

yang dikirim ke sana. Untuk mengawasi supaya jangan sampai dia keliru 

dalam melaksanakan itu. Banyak, dari Solo, Yogya, Jawa Timur itu, yang 

173

 

di luar Jawa itu, di Riau, Padang, di Sulawesi Utara juga, Banjarma-

sin.”

Dalam pekerjaan legalnya Karto seorang pemimpin yang teliti 

dan sangat memperhatikan watak kader partai. Hasan meneruskan, 

“Pak Karto, waduh, pimpinannya njelimet itu, soal kecil-kecil mesti 

dia tanyakan, ya kecil-kecil itu. Ya semangat ‘26-’27 itu kan keras gitu, 

terhadap kader itu keras sekali dia. Kalau Pak Karto mendalam, ‘Di desa 

kamu itu kader mana itu?’ Sekecil-kecilnya, ‘Kader itu sudah berbuat 

apa, kamu sudah berbuat apa di desa itu, menguntungkan atau tidak 

bagi kaum tani?’ Waduh, ini harus ‘Belum, belum.’ Nanti seminggu dia 

ingat lagi soal kecil-kecil.”

Dari penggambaran Hasan, Karto tampaknya banyak mempunyai 

kesamaan pandangan dengan Tan Ling Djie, pimpinan partai yang di-

singkirkan Aidit dan kawan-kawan pada 1951. Model partai yang semula 

merupakan organisasi kader-kader militan yang terpercaya, benar-benar 

terpilih, terlatih baik, yang hidup di tengah-tengah kaum tani dan kaum 

buruh dan membangun kekuatan mereka dari bawah. Kader angkatan 

tua yakin, partai harus dirancang untuk bertahan terhadap kesakitan 

penindasan, seperti yang terjadi pada masa kolonialisme Belanda dan 

pendudukan Jepang, dan berupaya menuju perebutan kekuasaan negara 

dengan gerakan bersenjata. Sementara kalangan melihat strategi Aidit 

sebagai pemborjuisan partai: anggota-anggota partai menjadi pejabat 

pemerintahan, tinggal di rumah-rumah besar di ibu kota, menerima dana 

dari kaum pengusaha, dan mendukung politik populis Sukarno. Banyak 

dari tokoh angkatan tua PKI tidak bertahan lagi di dalam pimpinan 

begitu generasi Aidit mengambil alih kepemimpinan partai. Karto 

rupanya menemukan cara tertentu untuk tetap menjadi tokoh penting 

partai, mungkin dengan jalan kompromi sambil tetap berpegang pada 

pendapat-pendapatnya yang berbeda. Lebih dari itu, jaringan kontaknya 

yang luas dengan militer tentu membikin sulit pimpinan generasi muda 

untuk mendepaknya keluar.

Bagian Militer, bentuk awal Biro Chusus, secara alamiah timbul 

dari pengalaman partai dengan perjuangan bersenjata yang tersebar 

tanpa persiapan antara 1945-1949. Banyak pemuda yang simpati kepada 

gerakan kiri bergabung dalam laskar-laskar dan berhasil masuk ke tentara 

reguler. saat  perjuangan bersenjata berakhir, partai tidak mau kehi-

174

4. SJAM DAN BIRO CHUSUS

langan para simpatisan ini dan juga sebaliknya. Untuk mengembangkan 

Bagian Militer pimpinan partai tidak merujuk ke ranah esoterik teori 

Partai Komunis. Kerja ini sekadar mempertahankan kontak dengan 

personil militer yang belum terpisahkan dari afi liasi mereka dengan kaum 

politisi sipil. Mantan anggota Politbiro Iskandar Subekti menulis, dalam 

penuturan rahasianya pada 1986 tentang G-30-S, bahwa “BC Central 

merupakan satu badan yang khusus mengurus kawan-kawan di kalangan 

ABRI.”7

Berlawanan dengan propaganda rezim Suharto, Biro Chusus 

bukanlah suatu skema licik dan jahat yang hanya ditemui pada PKI. 

Partai-partai politik lain juga memiliki jaringan serupa di kalangan militer. 

Partai Sosialis Indonesia (PSI), misalnya, mempunyai jaringannya sendiri 

di kalangan para perwira.8 Justru hubungan inilah yang memudahkan 

kerja sama antara PSI dan kolonel-kolonel pembangkang dalam pembe-

rontakan PRRI/Permesta, 1957-58, di Sumatra dan Sulawesi (lihat Bab 

6 tentang pemberontakan-pemberontakan ini). Untuk membangun aura 

keramat di sekitar tubuh militer, rezim Suharto menggambarkan Biro 

Chusus sebagai infi ltrasi asing oleh musuh jahat yang gigih dan khas 

terhadap militer. Padahal militer sesudah kemerdekaan penuh dengan 

bermacam-macam klik berdasar  kecenderungan politik masing-

masing. Seperti dinyatakan Daniel  Lev, para perwira “selalu berhubungan 

dengan kelompok-kelompok sipil dalam suasana pascarevolusi Indonesia 

yang sangat dipolitisasi.” Para perwira militer “mempertahankan atau 

mengembangkan hubungan dengan partai-partai politik, berdasar  

hubungan pribadi mereka sendiri atau melalui hubungan keluarga dan 

hubungan sosial.”9 

Sesudah Karto meninggal, Aidit mengangkat Sjam sebagai peng-

gantinya. Di kalangan tahanan politik PKI tersebar desas-desus bahwa 

sebelum meninggal Karto meminta agar Aidit tidak menunjuk Sjam.10 

Desas-desus itu mungkin saja benar. Hasan mengatakan bahwa watak 

Sjam – pembual, agresif, dan tidak sabar – bertentangan dengan watak 

Karto. Menurut Hasan, pengangkatan Sjam di Biro Chusus disebabkan 

oleh kesukaan Aidit kepadanya. Sjam dikenal sebagai orangnya Aidit. 

Ia sudah lama bersahabat dengan Aidit, beda dengan Pono dan Bono, 

yang dipandang sebagai orang-orangnya Karto.

Sjam bersaksi bahwa ia mulai bekerja sebagai kepala Biro Chusus 

175

 

pada November 1964. Tapi Hasan yakin ia sudah bekerja beberapa 

waktu sebelum Mei 1964. Untuk alasan-alasan yang tidak diketahui, 

oleh tangan-tangan tak dikenal, jaringan Karto diganti namanya dengan 

Biro Chusus pada sekitar saat pergantian pimpinan. Bila Karto seorang 

anggota partai yang berpengalaman, terkenal, dan disukai orang, yang 

menggabungkan kerja terbuka dengan jaringan kerja militer tertutup, 

Sjam seorang tokoh tak dikenal dalam partai yang bergerak di bawah 

bayang-bayang. 

Tidak banyak diketahui dengan pasti tentang masa kanak-kanak dan 

masa muda Sjam. Dalam kesaksiannya di ruang sidang ia menceritakan 

garis besar riwayat hidupnya. Ia lahir di Tuban, sebuah kota di pantura 

Jawa Timur, sekitar 1924. Ia bersekolah di Sekolah Menengah Pertama dan 

Sekolah Pertanian Menengah Atas di Surabaya. saat  Jepang memasuki 

Jawa pada 1942 dan sekolah pertanian itu harus ditutup, ia meninggalkan 

bangku sekolah sebelum tamat belajar. Ia pindah ke Yogyakarta pada 

sekitar saat itu dan masuk Sekolah Menengah Dagang. Pada waktu saya 

melakukan penelitian sejarah lisan tentang eks tapol, saya bertemu dengan 

Sukrisno, yang ternyata teman dekat Sjam di Yogyakarta.11 (Seperti 

Hasan, Sukrisno tidak mau dikenal dengan nama yang sesungguhnya.) 

Ia membenarkan Sjam lahir pada 1924 dan bersekolah di sekolah dagang 

di Yogyakarta. Di sekolah itulah keduanya menjadi berteman. Sukrisno 

juga membenarkan apa yang sudah diketahui sementara sejarawan bahwa 

Sjam yaitu  anggota yang disebut sebagai kelompok Pemuda Pathuk.12 

Menurut ingatan Sukrisno, pada sekitar 1943 pemuda-pemuda kota 

Yogya yang ingin melawan tentara pendudukan Jepang mulai berkumpul 

di kampung Pathuk. Pimpinan kelompok ini yaitu  Djohan Sjahroezah 

dan Dayino; kedua-duanya tergabung dalam Partai Sosialis. Kadang-

kadang pimpinan senior Partai Sosialis tingkat nasional seperti Sutan 

Sjahrir datang berkunjung. Menurut janda Dayino, Ibu Oemiyah, 

Sjam memang anggota Pemuda Pathuk.13 Baik Ibu Oemiyah maupun 

Sukrisno ingat bahwa Sjam ikut dalam penyerangan terhadap kantor 

utama pemerintah Jepang di Yogyakarta pada September 1945. Massa 

rakyat mengepung kantor itu, sementara para pemuda militan, di antara 

mereka yaitu  anggota Pemuda Pathuk, menurunkan bendera Jepang 

dan menaikkan bendera Indonesia.

Kegiatan Sjam sesudah meninggalkan Yogyakarta merupakan 

176

4. SJAM DAN BIRO CHUSUS

misteri. Dalam kesaksiannya di persidangan, Sjam mengaku masuk PKI 

pada 1949. Menurut Benedict Anderson ada bukti dokumenter yang 

memperlihatkan bahwa Sjam pernah bekerja sebagai pegawai pemerintah 

negara boneka Belanda di Jawa Barat pada 1949 dan menjadi ketua 

PSI cabang Banten pada 1950-51.14 Bukti demikian memperlihatkan 

bahwa ia bukanlah seorang nasionalis yang militan selama tahun-tahun 

perjuangan ini  dan bukan pula anggota PKI pada awal 1950-an. 

Sesudah Peristiwa Madiun 1948 kaum sosialis dan kaum komunis pecah. 

Walaupun pada waktu di Yogyakarta ia dekat dengan kaum sosialis, Sjam 

tidak mungkin bersekutu dengan kedua-duanya sekaligus, PSI dan PKI, 

pada awal 1950-an itu.

Sukrisno menjernihkan kekeruhan di seputar kegiatan Sjam. Ia dan 

Sjam meninggalkan Yogyakarta bersama-sama pada 1947 dan pindah ke 

Jakarta. Mereka tinggal di rumah yang sama, bekerja di kantor yang sama, 

mempelajari Marxisme-Leninisme dari guru yang sama, dan bersama-

sama mendirikan serikat untuk buruh pelabuhan. Ia barangkali teman 

terdekat Sjam dari 1943 sampai 1950. Menurut Sukrisno pimpinan Partai 

Sosialis dalam kelompok Pathuk mengirim lima pemuda ke Jakarta pada 

1947. saat  itu Belanda sudah menduduki ibu kota namun  mengijinkan 

Republik Indonesia, yang berkeduduk-an di Yogyakarta, untuk membuka 

kantor beberapa kementerian tertentu di Jakarta. Pimpinan Partai Sosialis 

mengingini agar lima pemuda itu membantu para pejabat Republik 

di Jakarta menyelundupkan perbekalan dan uang ke Yogyakarta. Lima 

orang itu dipilih sebab  mereka dapat diandalkan, berakal panjang, dan 

cukup berpendidikan; mereka bukan sekadar pemuda-pemuda militan 

yang hanya baik untuk perang. Kelima-limanya, saat itu berumur awal 

dua puluhan, ialah Munir, Hartoyo, Widoyo, Sjam, dan Sukrisno sendiri. 

sesudah  tiba di Jakarta, mereka segera menghubungi para pejabat Republik 

dari berbagai kementerian. Sjam dan Sukrisno mulai bekerja di Kemen-

terian Penerangan, yang kantornya untuk daerah Jawa Barat berkedu-

dukan di Jakarta. Mereka menerima gaji dan jabatan cukup tinggi sebagai 

pegawai pemerintah meskipun pekerjaan mereka semacam kombinasi 

antara pekerjaan pesuruh kantor dan agen terselubung. Sukrisno ingat, 

suatu saat  Sjam diperintahkan membawa uang tunai sangat banyak dari 

kantor untuk membeli ban-ban mobil, kemudian mengatur pemuatan 

ban-ban itu di kereta api yang menuju ke pedalaman Jawa. Buruh kereta 

177

 

api di stasiun Manggarai di Jakarta membantu pengangkutan perbekalan 

untuk pasukan Republik ini.

Lima pemuda itu tinggal di Jalan Guntur di sebuah rumah yang 

dikosongkan oleh Residen Bogor, seorang nasionalis, yang pindah ke 

ibu kota Republik di Yogyakarta. Tidak lama kemudian mereka bertemu 

beberapa orang pemuda pelajar dan mahasiswa yang baru kembali 

dari Belanda. Di negeri itu mereka menjadi anggota Partai Komunis 

Belanda (CPN) dan ikut dalam perjuangan antifasis bawah tanah dalam 

masa perang dunia. Salah seorang di antara mereka, Hadiono Kusumo 

Utoyo, bekerja bersama Sjam dan Sukrisno di kantor Kementerian Pe-

nerangan di Jakarta. Ia menjadi mentor mereka dalam Marxisme dan 

Leninisme.15 Sekali sepekan, dengan jadwal teratur, mereka berjalan ke 

rumah Utoyo di Jalan Kebon Sirih untuk belajar di bawah bimbing-

annya. Sukrisno mengenang sebuah artikel  yang mereka baca saat  itu 

yaitu  karya Lenin State and Revolution dalam terjemahan Belanda. Dari 

tokoh-tokoh komunis di Belanda mereka pernah menerima kopor-kopor 

penuh artikel -artikel  yang dengan bantuan para pelaut diselundupkan 

ke kota Jakarta. Pendidikan politik ini merupakan pengalaman yang 

mencerahkan bagi mereka. Pimpinan Partai Sosialis dalam kelompok 

Pathuk telah memberi Sukrisno dan kawan-kawan lebih dari sekadar 

sebuah tempat berkumpul dan semangat kerakyatan pada umumnya. 

Menurut Sukrisno aspirasi awalnya yaitu  ingin menjadi orang penting 

dalam pemerintahan pascakemerdekaan dengan pangkat tinggi dan gaji 

besar. Saat belajar tentang komunisme dari mantan anggota-anggota 

CPN yang baru kembali, Sukrisno merasa mendapat pengetahuan yang 

berbobot dan ilmiah. Ia mengubah rencana kariernya. Ia dan Sjam keluar 

dari pekerjaan mereka di Kementerian Penerangan, masuk PKI, dan 

mulai mengorganisasi serikat buruh, mula pertama di bengkel reparasi 

kendaraan bermotor pemerintah pendudukan Belanda, kemudian di 

pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Mereka mendirikan Serikat Buruh 

Kapal dan Pelayaran (SBKP) pada akhir 1948 dan menjadi pimpinan-

pimpinan terkemukanya sampai Februari 1950, saat  serikat buruh ini 

berfusi dengan serikat sekerja sejenis yang bergerak di daerah Republik, 

yaitu Serikat Buruh Pelabuhan dan Pelayaran (SBPP). Sukrisno dan Sjam 

tidak mencalonkan diri dalam pemilihan pimpinan untuk serikat buruh 

baru, yang mempertahankan nama SBPP. Mereka malahan ditunjuk 

178

4. SJAM DAN BIRO CHUSUS

untuk menduduki posisi dalam PKI. Dengan pembubaran serikat buruh 

mereka, Sukrisno dan Sjam berpisah untuk menempuh jalan masing-

masing. Bertahun-tahun kemudian Sukrisno kadang kala bertemu Sjam. 

Sjam pernah meminta bantuannya untuk mengontak beberapa teman 

lama di kelompok Pathuk yang telah menjadi perwira militer. Sukrisno 

menduga peranan Sjam dalam partai ialah untuk mengurus para perwira, 

tapi ia tidak tahu apa persisnya peranan Sjam dan juga tidak tahu-menahu 

tentang adanya Biro Chusus.

Sukrisno yakin Sjam tidak bekerja untuk negara boneka Belanda, 

Negara Pasundan, pada 1949. Ia bekerja di Jakarta sebagai pegawai negeri 

pemerintah Republik dari 1947 sampai 1948 dan sibuk mengorganisasi 

serikat buruh dari 1948 sampai 1950. Pertanyaan barangkali timbul 

sebab  Sjam bekerja di daerah pendudukan Belanda untuk Kementerian 

Penerangan daerah Jawa Barat. Sukrisno juga yakin ia bukan anggota 

PSI pada awal 1950-an. Sjam benar saat  memberi  kesaksiannya 

bahwa ia masuk PKI pada 1949. Sukrisno juga masuk partai dalam tahun 

yang sama. Walaupun lima anggota kelompok Pathuk yang dikirim ke 

Jakarta semuanya masuk PKI pada akhir 1940-an, mereka tetap bersa-

habat dengan tokoh-tokoh sosialis yang telah membimbing mereka di 

Yogyakarta.16 Kelima-limanya tetap bergaul dengan tokoh-tokoh PSI 

bahkan saat  hubungan antara kedua partai politik itu menjadi sangat 

antagonistik.

Bagaimana Sjam berkenalan dengan Aidit merupakan kisah yang 

didasarkan pada kesimpulan atas sekian dugaan. Sukrisno membenarkan 

tulisan sejarawan Jacques Leclerc bahwa Sjam membantu Aidit muncul 

kembali pada pertengahan 1950 sesudah  dua tahun hidup di bawah tanah. 

Segera sesudah Peristiwa Madiun pecah pada 1948, saat  tentara di 

bawah Sukarno dan Hatta menyerang PKI, Aidit melarikan diri dari Jawa 

Tengah dan bersembunyi di Jakarta – kota yang sudah sangat dikenalnya 

sejak ia menjadi aktivis nasionalis pada pertengahan 1940-an. Begitu 

Belanda pergi pada 1949 dan keadaan aman untuk muncul kembali, 

Aidit dan seorang pimpinan lain PKI, Lukman, memilih muncul dulu di 

pelabuhan Tanjung Priok, seakan-akan mereka baru saja turun dari kapal. 

Mereka mengaku bahwa sebelumnya mereka berada di Vietnam dan 

Tiongkok, dan menyaksikan langsung revolusi kaum komunis di sana. 

Menurut cerita Sukrisno, Sjam diberi tugas mengawal Aidit keluar dari 

179

 

pelabuhan, “Saya pergi dengan Sjam ke Tanjung Priok hari itu, tapi tidak 

ikut bersama dengannya ke dermaga bertemu Aidit. sebab  saya belum 

pernah melihat Aidit, saya tidak tahu seperti apa wajah dan sosoknya. 

Saya ada di luar.” Rupanya Sjam pernah bertemu Aidit sebelumnya sebab  

ia dapat mengenalinya. Menurut Leclerc, Sjam memudahkan Aidit dan 

Lukman melalui kantor imigrasi saat mereka mengalami sedikit kesulitan 

sebab  mereka tidak memiliki dokumen-dokumen yang diperlukan.17 

Paling tidak, dari saat di Tanjung Priok itulah Aidit tentunya merasa 

berutang budi kepada Sjam untuk pertolongannya dalam memperagakan 

sekelumit sandiwara ini .

Sjam tampaknya masuk di Bagian Militer di bawah pimpinan Karto 

sekitar 1950-an. Walaupun ia mengaku sudah masuk di Departemen 

Organisasi PKI (yang membawahi Bagian Militer) pada 1960, sangat 

mungkin ia sudah masuk jauh sebelumnya. Dalam persidangannya 

Supardjo mengatakan, ia sudah mengenal Sjam sebagai agen rahasia 

PKI sejak 1956.18 Sukrisno mengatakan, dari teman-teman dan kenalan-

kenalannya di kelompok Pathuk yang bergabung dalam ketentaraan 

saja tentunya Sjam sudah mempunyai jaringan kontak siap pakai di 

kalangan militer. Sjam mungkin tidak akan ditunjuk menjadi kepala 

Biro Chusus pada 1963 atau 1964 jika ia tidak mempunyai jejak panjang 

dalam pekerjaan rahasia atas nama partai. Sjam tentu harus membuktikan 

dirinya kepada Aidit selama bertahun-tahun, sampai saat Aidit memiliki 

kepercaya-an penuh terhadap kesetiaannya kepada partai serta kemam-

puannya dalam membangun hubungan dengan para perwira militer. 

KINERJA BIRO CHUSUS DI BAWAH SJAM

Pada saat G-30-S meletus Sjam bukanlah seorang perwira militer dengan 

pangkat tinggi, bukan juga seorang tokoh politik sipil terkemuka. Tak 

seorang pun berpikir bahwa sosok yang tampak tidak berarti ini yaitu  

pimpinan sebuah operasi militer yang ambisius untuk merebut “seluruh 

kekuasaan” sampai saat  Sjam sendiri memberi kesaksian demikian pada 

1967. Para pengamat pada umumnya mengira ia tak lebih dari seorang 

fungsionaris partai tak berwajah dan mudah diganti yang kebetulan 

dipilih Aidit sebagai perantara. Sejak Sjam tampil di sidang Mahmilub 

180

4. SJAM DAN BIRO CHUSUS

peranannya di dalam partai telah menjadi sumber banyak spekulasi. 

Keterangan dari Hasan menjernihkan beberapa misteri di sekitar Sjam 

dan Biro Chusus.

Menurut Hasan, Biro Chusus di Jakarta merupakan tim lima orang, 

yang disebut Biro Chusus Pusat. Pono sebagai asisten Sjam, Bono sek-

retaris, Wandi bendahara, dan Hamim pelatih untuk kader BC.19 Dari 

lima orang itu hanya Sjam, Pono, dan Bono yang menjalin hubungan 

dengan personil militer untuk tujuan pertemuan intelijen. Wandi dan 

Hamim bekerja sebagai staf pembantu mereka. Di kebanyakan provinsi 

ada tim tiga orang yang disebut Biro Chusus Daerah. Walaupun Biro 

Chusus Pusat mengutamakan para perwira yang ada di Jakarta, biro 

daerah melengkapi pekerjaan Biro Chusus di pusat.

Kelima orang anggota Biro Chusus Pusat tidak dikenal umum 

sebagai anggota PKI. Mereka secara sadar berusaha memastikan bahwa 

warga  tidak melihat mereka sebagai anggota partai ataupun simpa-

tisannya. Masing-masing muncul sebagai usahawan. Kata Hasan, “Sjam 

mempunyai perusahaan pabrik genteng. Bono mempunyai perusahaan 

bengkel, Pono mempunyai perusahaan restoran. Hamim memegang 

perusahaan bus. Jadi keluar itu mereka sebagai orang-orang yang hidup 

di tengah warga  dengan kamufl ase-kamufl ase yang berlaku di ma-

syarakat, begitu. Tetangga itu nggak tahu, dia kira dia bukan orang PKI 

sebab  tiap hari jam enam berangkat ke kantor. Kalau salah seorang punya 

perusahaan dia dapat mobil, pakai mobil mereka.” Untuk melengkapi 

penyamarannya Sjam berdasi dan berjas serta mengendarai mobil sport 

yang mewah. Akan berlebihan untuk mencurigai Sjam yaitu  anggota 

suatu partai yang membenci kemewahan hidup dan mengawasi dengan 

ketat sumber penghasilan anggota-anggotanya. Bahwa anggota-anggota 

Biro Chusus mempunyai perusahaan dibenarkan oleh mantan tapol, 

Martin Aleida, yang pernah berbagi sel pada 1976 dengan seseorang 

bernama Suherman, yang mengelola sebuah toko besar di bilangan Pasar 

Baru, salah satu pusat perdagangan utama di Jakarta. Kepada Aleida 

Suherman menjelaskan, ia mengelola toko itu atas nama Biro Chusus. 

Ia juga mengatakan, di samping tokonya ada perusahaan lain milik Biro 

Chusus, sebuah bengkel tempat bekerja banyak pensiunan ahli mesin 

dari AURI.20

Tentang anggota Biro Chusus yang sebelumnya pernah menjadi 

181

 

anggota partai secara terbuka disebarkan desas-desus bahwa mereka telah 

dipecat dari partai. Mereka dituduh telah berkhianat terhadap partai atau 

melakukan pelanggaran disiplin partai (soal perempuan, misalnya). Jika 

kebetulan mereka bertemu kawan-kawan lama, mereka akan mengata-

kan tidak lagi setuju dengan partai atau bahkan sudah membencinya. 

Hasan mengingat kembali, “Pono itu berasal dari Pekalongan, jadi datang 

ke Jakarta, orang Jakarta tidak tahu Pono itu dari mana. Jadi mereka 

yang ngerti dulu itu si Pono itu misalnya dari PKI dulu, kenapa dia 

pergi? Ya pergi aja meninggalkan partai. Jadi jelek gitu, dijelek-jelekin 

itu lho.” Seperti halnya Pono, Hamim dikenal sebagai anggota PKI. 

Ia pernah mengajar di sekolah partai tentang Marxisme-Leninisme di 

Jakarta (Akademi Aliarcham) pada awal 1960-an. Tapi ia meninggalkan 

sekolah ini dalam suasana misterius pada 1964. Mantan wakil direktur 

akademi ini, Sucipto, menceritakan kepada saya bahwa ia mendapat kesan 

Hamim telah memutus semua hubungan dengan partai. Jika Hamim 

bertemu anggota PKI, ia akan menyatakan kepada mereka bahwa ia tidak 

lagi sejalan dengan partai. Sucipto kaget saat  nama Hamim disebut, 

sesudah peristiwa 1965, sebagai anggota Biro Chusus.21

Tim tiga orang di daerah-daerah juga terdiri dari tokoh-tokoh yang 

tidak dikenal sebagai kader PKI. Misalnya mereka bekerja sebagai manajer 

hotel, usahawan, dan guru sambil tetap merahasiakan hubungan mereka 

dengan PKI. Bahkan para pimpinan PKI di daerah mereka pun mungkin 

tidak me-ngetahui siapa anggota Biro Chusus di provinsinya. Beberapa 

anggota Comite Daerah Besar (CDB) ada yang tahu identitas mereka, 

tapi beberapa lainnya tidak tahu.22

Para istri anggota partai ini tidak boleh disangkut-pautkan dengan 

PKI. Sjam memaksa istrinya mengundurkan diri dari kegiatannya sebagai 

aktivis di Barisan Tani Indonesia (BTI). Rupanya, hal ini menimbul-

kan konsekuensi yang mencelakakan baginya. Menurut Hasan, “Sjam 

kawin dengan seorang guru di Jawa Barat – orang Jawa Barat. Begitu 

dia menjadi istrinya, lepaskan semua, jadi istri itu ndak boleh diketahui 

oleh warga  bahwa dia itu orang komunis atau orang prokomunis. 

Dia sendiri nggak puas, ‘Masak saya jadi seorang aktivis revolusioner 

kok begini, di rumah saja, nggak boleh ini, nggak boleh itu. Nulis saja 

nggak boleh.’ Makanya dia berontak itu. Sampai meninggal dia, sakit, 

sakit kanker atau apa, sebelum 1965.”23

182

4. SJAM DAN BIRO CHUSUS

Lima anggota Biro Chusus Pusat bertemu satu kali setiap bulan. 

Demi alasan keamanan mereka tidak mempunyai kantor sendiri. Mereka 

bertemu di berbagai tempat di sekitar kota. Rapat-rapat itu bukan 

merupakan kesempatan untuk berdebat atau diskusi-diskusi bebas. 

Hanya terjadi pertukaran informasi di antara mereka berlima tentang 

perkembangan masing-masing dalam melaksanakan tugas-tugasnya. 

Sjam akan meneruskan informasi dari Aidit dan menyampaikan garis 

partai tentang masalah-masalah politik mutakhir. Ia kemudian akan 

mengutus yang lain untuk melakukan tugas-tugas tertentu sepanjang 

satu bulan ke depan.

Hasan membenarkan pendapat Sjam bahwa Biro Chusus bekerja 

di bawah Aidit sendiri. Beberapa anggota Politbiro dan Central Comite 

mengetahui keberadaan Biro Chusus, tapi mereka belum tentu tahu 

siapa-siapa yang ada di dalamnya. Biro Chusus melapor hanya kepada 

Aidit dan menerima perintah hanya dari Aidit. Seperti dikemukakan Sjam 

dalam kesaksiannya, “Biro Chusus yaitu  aparat dari Ketua partai.”24 

Iskandar Subekti juga membenarkan bahwa biro ini merupakan “suatu 

badan pembantu Ketua CC [Aidit] yang dibentuk di luar ketentuan 

Konstitusi Partai, sebab tidak ada satu fasal pun di dalam Konstitusi Partai 

yang menyebut adanya badan ini . Badan ini bertugas mengurusi, 

memelihara, merekrut anggota-anggota Partai di dalam tubuh ABRI 

secara ilegal (sebab secara legal tidak mungkin). Aidit meminta Jimin 

[Sjam] menangani kekuatan Partai di dalam ABRI ini.”25

Mereka yang di Biro Chusus Pusat di Jakarta melakukan sejumlah 

tindakan pencegahan untuk menjaga kerahasiaan operasi mereka. Ke-

prihatinan utama mereka yaitu  jika para perwira antikomunis di dalam 

intelijen ABRI sampai mengetahui bahwa mereka bekerja untuk PKI. 

Agar kelima orang itu tidak tampak bekerja bersama, mereka jarang 

bertemu sebagai sebuah kelompok selain pada pertemuan bulanan 

ini . Biasanya, untuk bertemu satu sama lain atau menemui kontak 

tertentu, masing-masing tidak akan menunggu lebih dari sepuluh menit 

jika salah seorang belum datang. Mereka mengartikan keterlambatan 

sebagai kemungkinan orang yang ditunggu tertangkap dan terpaksa 

mendedahkan kerahasiaannya.

Hasan tidak tahu pasti bagaimana Sjam mengatur pertemuannya 

dengan Aidit, sehingga kedok Sjam sebagai usahawan swasta tidak me-

183

 

nimbulkan kecurigaan. Hasan menduga Sjam datang ke rumah Aidit 

– mereka tinggal berdekatan di kawasan tingkat atas Jakarta – dan 

pertemuan mereka menampak sebagai anjangsana antartetangga belaka. 

sebab  orang-orang yang datang ke rumah Aidit berasal dari berbagai-

bagai latar belakang, kedatangan Sjam tidak akan menarik perhatian. 

Sebagai seorang tokoh politik berpengaruh, Aidit dengan sendirinya 

dicari banyak orang. Agaknya akan sulit bagi agen intelijen untuk melacak 

jejak setiap orang yang mengunjunginya.

Apa yang bisa dilihat orang dari luar hanyalah bahwa Sjam, Pono, 

dan Bono yaitu  pengusaha-pengusaha swasta yang merangkap sebagai 

agen-agen intelijen ABRI, tapi tidak mempunyai hubungan yang berarti 

dengan PKI. Jika hubungan mereka dengan PKI itu pun diketahui, 

kiranya tidak akan jelas apakah mereka itu mata-mata tentara yang bekerja 

di dalam PKI atau sebaliknya. Kemenduaan arti seperti itu sangat penting 

sebab  Sjam, Pono, dan Bono tidak melengkapi diri dengan kedok yang 

sempurna. Beberapa mantan kader tinggi partai mengenang dalam 

wawancara mereka dengan saya bahwa mereka samar-samar mengenal 

dan tahu tiga orang itu sebagai anggota Departemen Organisasi PKI 

(walaupun informan-informan saya tidak mengetahui keberadaan Biro 

Chusus). Kendatipun tiga orang itu tidak hadir secara mencolok dan 

vokal di kantor CC-PKI, kenyataan bahwa terkadang mereka muncul di 

sana pastilah sudah melemahkan kedok mereka. Bahwa beberapa anggota 

partai yang bicara kepada saya tahu, termasuk Sukrisno, ketiga orang itu 

anggota partai mengesankan bahwa anggota-anggota partai yang lain 

juga tahu.

Agen-agen intelijen ABRI yang memantau kantor CC-PKI dan 

rumah Aidit kemungkinan sudah mempunyai rekaman tentang Sjam, 

Pono, dan Bono. Tapi tidak jelas apakah agen-agen ini  juga tahu 

bahwa mereka bertiga sering datang ke kantor-kantor militer atau tahu 

dengan pasti bahwa mereka bekerja untuk PKI. Jelas bahwa jaringan 

intelijen Angkatan Darat di bawah Mayor Jenderal S. Parman tidak 

mengetahui identitas mereka bertiga. Pada 1965 komando tertinggi 

Angkatan Darat khawatir terhadap PKI dan mengetahui partai ada 

hubungan dengan sejumlah perwira militer. Jika Mayjen Parman, 

sang kaisar intelijen, tahu bahwa Sjam yaitu  tokoh kunci partai yang 

menangani kontak dengan militer, ia tentu akan terus-menerus menga-

184

4. SJAM DAN BIRO CHUSUS

wasinya dengan seksama. Barang siapa mengikuti Sjam dalam Agustus 

dan September 1965 akan menangkap ada sesuatu yang bakal terjadi. 

Tewasnya Parman di tangan G-30-S itu sendiri menunjukkan ketidak-

tahuannya mengenai identitas Sjam.26

Menjamurnya agen-agen intelijen dan informan-informan di 

Jakarta menguntungkan upaya mempertahankan kerahasiaan di sekitar 

Biro Chusus. Begitu banyak mata-mata dan agen ganda sehingga sulit 

bagi badan mana pun untuk selalu melacak bahkan sebagian kecil dari 

mereka sekalipun. Parman dari Angkatan Darat mempunyai perkakasnya 

sendiri. Jenderal Nasution, sebagai menteri pertahanan, mempunyai 

jaringan intelijennya sendiri. Suharto di Kostrad mempunyai sendiri, 

demikian pula halnya polisi militer. Wakil Perdana Menteri (Waperdam) 

I dan Menteri Luar Negeri Soebandrio mempunyai badan intelijen di 

bawah pimpinannya, Badan Pusat Intelijen (BPI). Angkatan Laut, 

Angkatan Udara, dan Angkatan Kepolisian, semuanya mempunyai 

jaringan intelijen sendiri-sendiri. Komando Operasi Tertinggi (Koti) 

mempunyai badan intelijennya sendiri. Beberapa badan intelijen itu 

saling bersaing dan saling mengawasi. Desas-desus terus-menerus beredar. 

Masing-masing badan bekerja setengah dibayangi suasana kekacauan. 

Bahkan dengan menanam agen-agennya di kantor CC-PKI, Parman 

agaknya tidak mencium keberadaan personil Biro Chusus.

Sangat mungkin seseorang telah memperingatkan Yani pada 30 

September malam tentang adanya aksi yang siap menerkam. Menurut 

Omar Dani, seorang perwira polisi militer memberitahu Yani bahwa akan 

ada aksi yang mengancam dan menawarkan sejumlah pengawal tambahan 

di tempat kediamannya. Konon, Yani menolak sebab  mungkin ia meng-

anggap informasi itu sekadar desas-desus belaka.27 Jenderal-jenderal di 

SUAD telah menerima laporan serupa selama berminggu-minggu, dan 

ternyata semuanya tidak benar.28 Tampaknya G-30-S berhasil menculik 

enam jenderal justru sebab  rencananya dikaburkan oleh meruaknya 

“hiruk-pikuk intelijen.”29

Sjam, Pono, dan Bono – inti Biro Chusus – yaitu  orang-orang 

yang bertanggung jawab untuk memelihara hubungan dengan perwira-

perwira militer. Masing-masing memiliki kartu resmi militer dengan 

identifi kasi sebagai seorang agen intelijen militer. Dengan kartu itu 

mereka bisa bergerak leluasa keluar masuk fasilitas kemiliteran. Menurut 

185

 

Hasan, “Orang tiga itu kan mempunyai surat keterangan militer, jadi 

diberi oleh teman yang di intel, yang di Jakarta itu disebut Garnisun 

itu. Itu diberi surat bahwa dia itu orang intel, intel Angkatan Darat, 

Angkatan Laut, Udara, dan sebagainya. Dikasih surat, jadi kalau masuk 

di komplek itu, ‘Ini saya ini intelnya bung anu, bung anu atau kolonel 

ini, kolonel ini, atau jenderal ini, jenderal ini.’ Masuk dia ke rumahnya 

atau kantornya.”30

Ketiga orang itu masing-masing mempunyai kelompok kontaknya 

sendiri-sendiri, “Mereka punya jenderal, punya kolonel, punya kapten, 

sampai lapisan-lapisan bawahnya. Itu mereka punya. Itu di Jakarta tapi 

kalau di daerah kan itu diserahkan pada BC daerah. BC punya ini, punya 

ini. Sama dengan di atas ya, di daerah juga ada jenderalnya, ada ininya, 

tapi di bawah pengaruh dia dan dia harus tunduk kepada pusat, jadi di 

dalam pertemuan bulanan itu dibicarakan sampai di mana pengaruh 

PKI di kalangan militer, sudah sampai di mana gitu berkembang apa 

tidak, gitu. Terus kemudian ditugaskan untuk lebih meluaskan kembali 

pengaruh-pengaruh PKI di empat angkatan kan: Udara, Polisi, Angkatan 

Darat, Angkatan Laut.” 

Dalam kesaksiannya di persidangan untuknya pada 1967 Sjam 

menceritakan, bagaimana Biro Chusus merekrut para perwira. Hasan 

membenarkan bahwa cerita Sjam tentang proses perekrutan itu, sebagian 

dikutip di sini, pada umumnya tepat:

Tiap2 anggauta pimpinan dari Biro Chusus mempunjai ke-

wadjiban untuk melebarkan organisasi dikalangan Angkatan 

Bersendjata. Kalau sudah bisa meneliti dan mengetahui 

pedjabat2 jang ada, berusaha untuk mendekati dan mengenal. 

Sudah dapat mengenal lalu berbitjara mengenai soal2 politik 

umum. Sesudah mengetahui bagaimana seseorang pedjabat 

pada Angkatan Bersendjata ini apakah dia anti Komunis 

ataukah dia seseorang Demokrat, maka terus diadakan 

pertukaran pikiran mengenai soal2 politik dalam negeri 

dan mengenai soal-fi kiran2 jang madju. Sesudah diketahui 

bahwa pedjabat ini yaitu  orang jang mempunjai fi kiran 

jang menurut pandangan dari sudut PKI orang ini yaitu  

orang jang berpikiran madju, maka terus diadakan pembi-

186

4. SJAM DAN BIRO CHUSUS

tjaraan2 soal-soal kepartaian. Kalau kelihatannja orang ini 

tidak menolak, tidak memberi  reaksi jang negatif, maka 

dilandjutkan pada soal2 jang lebih mendalam, jaitu mengenai 

masalah teori Marxisme.31

Hasan menyatakan tujuannya bukan untuk menjadikan para 

perwira itu menjadi anggota partai, melainkan untuk membuat mereka 

bersedia memasok informasi kepada Biro Chusus dan melakukan 

tugas-tugas untuknya. Perwira-perwira itu tidak diajar tentang “soal-

soal teori Marxis,” seperti ditegaskan Sjam. Sampai September 1965 

partai belum melaksanakan rencana untuk membuka sekolah-sekolah 

klandestin tentang Marxisme-Leninisme di kalangan personil militer. 

Pada umumnya Biro Chusus puas dengan para perwira Sukarnois yang 

mendukung PKI sebab  partai ini mendukung Sukarno. Dalam penga-

matan Hasan, “Yang terpenting umumnya orang-orang militer itu pro 

terhadap Sukarno, jadi belum tentu pro kepada PKI, belum. Jadi pro 

kepada Sukarno sebab  pada waktu itu PKI sama Sukarno itu kerja sama, 

jadi apa yang dilakukan oleh Sukarno itu sama dengan program PKI … 

Nah, di dalam BC itu nggak ada, ‘Ini anggota partai.’ Itu bukan. Nggak 

ada. Yang penting dia tunduk nggak sama Sjam.”

Para anggota Biro Chusus memakai  hubungan mereka dengan 

militer bukan hanya untuk memperoleh informasi tentang kinerja di 

dalam tubuh militer, tapi juga untuk bertindak atas nama PKI. Hasan 

mengutip sebuah contoh dari Desember 1964. Aidit memerlukan 

bantuan saat  Waperdam III, Chairul Saleh, menuduh PKI mempunyai 

rencana merebut kekuasaan negara tahap demi tahap. Chairul Saleh, 

yang dekat dengan Partai Murba, yang antikomunis, mengklaim ada 

sebuah dokumen yang mengungkapkan rencana rahasia ini . sebab  

dugaan itu polisi militer menginterogasi Aidit dan sedang berpikir untuk 

mengajukan perkaranya ke pengadilan. Aidit menyuruh Sjam supaya me-

merintahkan jaringan Biro Chusus di dalam militer untuk menggagalkan 

perkara itu. Usaha itu berhasil dengan cemerlang: Aidit dibebaskan dari 

tuduhan dan terlepas dari perkara tanpa cela. Chairul harus meminta 

maaf sebab  telah menyebarkan dokumen palsu.32

Menurut Hasan, Aidit juga memakai  personil dari Biro Chusus 

sebagai cadangan pengawal. Sebagai menteri dalam kabinet Sukarno, 

187

 

sesuai dengan tata cara protokol, Aidit mendapat pengawalan satu 

detasemen militer saat  ia bepergian keluar Jakarta. Namun, mengingat 

sikap antikomunis di kalangan pimpinan Angkatan Darat, ia tidak me-

mercayai pengawalan yang diberikan untuk melindungi dirinya. Ia akan 

memerintahkan Sjam agar jaringan militer Biro Chusus di daerah mem-

bayangi para pengawal dan menjamin bahwa ia tidak akan dicelakai.

Betapapun banyaknya Biro Chusus mengambil manfaat dari para 

simpatisannya di kalangan militer, badan ini juga menawarkan sesuatu 

sebagai timbal balik. Ada hubungan memberi dan menerima yang ruwet 

antara Biro Chusus dan kontak-kontak militernya. Biro Chusus memberi 

informasi yang membantu para perwira memahami situasi politik dan 

bahkan memajukan karier mereka. Seperti dikatakan Hasan, “Untuk 

menarik militer mereka berikan informasi supaya bisa jadi lebih mantep 

dalam pekerjaan militernya.” Misalnya saat  memerangi pemberon-

takan Darul Islam, PRRI, dan Permesta, beberapa perwira bekerja sama 

dengan organisasi massa yang berafi liasi dengan PKI. Gerakan Darul 

Islam (1948-1962) yang aktif di Jawa Barat, menuntut Negara Islam 

untuk Indonesia. (Gerakan itu dikenal dengan akronim DI, sedangkan 

sayap militernya, Tentara Islam Indonesia, disingkat sebagai TII. Sekarang 

gerakan ini biasa disebut sebagai DI/TII.) Baik para gerilyawan gerakan 

Darul Islam, maupun perwira-perwira pembangkang di balik pembe-

rontakan PRRI dan Permesta sangat antikomunis. PKI mempunyai 

kepentingan mendesak membantu militer dalam menindas pemberon-

takan-pemberontakan ini. 

Selama operasi militer berlangsung beberapa perwira mempergu-

nakan jaringan-jaringan kader PKI setempat untuk informasi intelijen 

dan merekrut milisi sipil. Biro Chusus memudahkan hubungan antara 

personil militer dengan PKI. Tentang hal ini Hasan menguraikan:

Jadi menarik militer itu kayak begini, misalnya dia tugas 

untuk menghantam DI/TII ya, tugas. Tugasnya militer untuk 

menghantam DI/TII di Jawa Barat dan kemudian dia dapat 

informasi, informasi dari Bung Sjam misalnya DI tuh begini, 

begini, politiknya begini, gini, gini, jadi si militer dengar tuh. 

Oh begitu itu. Terus misalnya DI itu bagaimanapun tidak 

punya massa, sebab  itu untuk menghantam dia harus meng-

188

4. SJAM DAN BIRO CHUSUS

gerakkan massa dulu, menurut Bung Sjam. Nah ini si militer 

dengar harus gerakkan massa, nah itu nanti kalau dia datang 

ke sini itu bagaimana cari massa, mencari OPR [Organisasi 

Perlawanan Rakyat]-OPR itu dari rakyat, dijelaskan sama 

dia begini, begini, begini. Kan di tentara nggak ada, situasi 

politik nggak pernah diberikan oleh atasan, oleh komandan, 

itu kan terpencil. Diberi tahu sama Sjam itu DI itu begini, 

hubungan dengan Amerika begini, dengan Belanda begini, 

gini, gini, gini. Itu si militer itu yakin bahwa memang DI 

itu jahat, harus dihancurkan, dan Sukarno sendiri meminta 

menghancurkan, jadi sesuai dengan perintah Sukarno itu. 

sebab  itu militernya kan mendapat sokongan dan kalau dia 

menghantam DI, bisa menghancurkan DI dia naik pangkat 

– naik pangkat oleh sebab  si Sjam itu, jadi dia terima kasih 

sama Sjam sebab  dia naik pangkat atas bantuan dari dia. Jadi 

dia sendiri merasa diuntungkan tahu situasi, tahu ini, jadinya 

lebih luas pengetahuannya, lebih mantep dalam pekerjaan 

militer. Nah BC yang berikan soal-soal politik, jadi dengan 

begitu militer itu juga dapat pendidikan politik dari PKI.

Mungkin sekali hubungan antara Sjam dan Supardjo berjalan 

seperti cerita yang digambarkan Hasan di atas. Sebagai komandan di 

daerah Garut Jawa Barat, yang menjadi basis penting DI/TII, Supardjo 

memainkan peranan besar dalam mengakhiri pemberontakan DI/TII 

yang berkepanjangan pada awal 1960-an. Angkatan Darat di Jawa Barat 

mulai menempatkan sejumlah besar penduduk sipil saat menggelar taktik 

“pagar betis” pada 1960. Supardjo, dengan bantuan PKI, memakai  

taktik ini di Garut. Penduduk berjajar dalam jarak berdekatan lalu mereka 

menyisir suatu kawasan sementara regu-regu tentara bersenjata di depan 

mereka bergerak maju dan mengikuti barisan “pagar betis” dari belakang. 

Dengan taktik ini pemberontak bersenjata dihalau dari basis mereka 

dan didesak ke zona-zona yang menjadi semakin sempit.33 Supardjo 

mengorganisasi beberapa operasi “pagar betis” ini dengan memakai  

kader-kader PKI yang dengan militan melawan DI/TII dan yang sering 

menjadi sasaran serangan pukul dan lari mereka.34 berdasar  keber-

hasilannya mengakhiri DI/TII, Supardjo dinaikkan pangkatnya menjadi 

189

 

kolonel dan kemudian diberi kedudukan tinggi sebagai panglima pasukan 

gabungan di sepanjang perbatasan dengan Malaysia selama masa kon-

frontasi. Ia seorang komandan tentara yang menyikapi strategi bertempur 

dan disiplin organisasi dengan serius. Pengalamannya dalam perang 

pengikisan pemberontakan (counterinsurgency) memberinya pelajaran 

langsung tentang arti penting dukungan warga  sipil.

saat  itu bukanlah rahasia bahwa beberapa kesatuan tentara, dalam 

menumpas pemberontakan-pemberontakan kaum kanan pada 1950-an 

dan awal 1960-an, meminta bantuan PKI.35 Hal yang umumnya tidak 

diketahui yaitu  bahwa PKI mempunyai departemen khusus yang ber-

peranan sebagai penghubung rahasia dengan para perwira dan meminta 

mereka agar berbuat sesuatu untuk PKI sebagai imbalannya. Kolonel 

Abdul Latief, saat bertugas di Sumatra untuk menumpas pemberon-

takan PRRI pada 1958, bekerja sama dengan organisasi massa PKI di 

sana. Seorang mantan anggota PKI dari Sumatra Utara teringat pernah 

bertemu dengan Latief pada waktu itu dan mengorganisasi aksi-aksi 

kelompok pemuda PKI bersama dengannya.36

Bila seorang perwira yang pernah bekerja sama dengan PKI dipindah, 

hubungan ini tidak dengan sendirinya berakhir. Agen Biro Chusus yang 

sudah berhubungan baik dengan sang perwira akan mengatur agar Biro 

Chusus di tempat yang baru bertemu dengannya. Mengingat struktur 

sel dalam Biro Chusus, tim tiga orang di satu cabang daerah tidak me-

ngetahui identitas anggota tim-tim di daerah-daerah lain. Biro Chusus 

mengembangkan suatu metode untuk tetap berhubungan dengan para 

perwira yang dipindah-pindah di seluruh tanah air. Hasan menjelaskan, 

“Kalau si militer dari Jawa bertempur di Manado, nah nanti ada biro 

daerah BC di sana, nah itu nanti dia dari sini itu sudah dapat itu – dapat 

kode, kodenya itu begini; ini suatu lembar ya, sini tulis A, di sini A, di 

sini A merah, di sini A hitam, ini sobek dan dia bawa satu yang hitam 

misalnya, yang merah itu nanti oleh BC diserahkan kepada BC daerah 

sana, di Manado itu. Nanti orang ini juga ditugaskan oleh BC daerah 

mencari orang-orang dari Jawa. Dia akan cari terus ke mana dia, akhirnya 

tahu gitu. ‘Ini ada surat – ada surat,’ ditaruh sama dia, ‘Oh ya ini.’”

Tidak aneh jika beberapa personil militer, bahkan perwira-perwira 

tinggi, menyokong PKI. Partai dengan penuh semangat mendukung 

setiap kampanye militer utama yang dilancarkan Sukarno. Selain 

190

4. SJAM DAN BIRO CHUSUS

mendukung kampanye melawan pemberontakan DI/TII, PRRI, dan 

Permesta, partai menyokong perebutan Irian Barat (sekarang dikenal 

dengan sebutan Papua Barat) dari Belanda pada 1962 dengan kekuatan 

militer dan konfrontasi melawan Malaysia yang dimulai pada 1963. 

PKI memperoleh banyak penghormatan di kalangan sementara perwira 

sebagai kekuatan patriotik dan pro-Sukarno yang berhasil menggalang 

dukungan warga  untuk peperangan yang dilancarkan angkatan 

bersenjata. PKI tampak sebagai partai yang disiplin dan bertanggung 

jawab.37

Bagi para perwira tinggi yang mempunyai pandangan internasional, 

menariknya PKI bukan hanya terletak dalam hubungannya dengan politik 

nasional. Beberapa orang perwira sangat terkesan oleh perang gerilya 

kaum komunis Tiongkok yang berjaya dan perlawanan tak terpatahkan 

rakyat Vietnam terhadap tentara Amerika Serikat. Pengalaman mereka 

dari masa revolusi nasional membuat mereka dengan teguh bersikap anti-

imperialis. Presiden Sukarno sendiri terus-menerus mengingatkan bangsa 

Indonesia agar tidak membolehkan tanah airnya dikuasai kaum kapitalis 

Barat. Sukarno mengorganisasi Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 

1955 sebagai penolakan tegas terhadap kekuatan-kekuatan kolonialisme 

lama. Dengan demikian revolusi antiimperialis di Tiongkok dan Vietnam 

ibarat gayung bersambut bagi para perwira Indonesia yang dengan 

sungguh-sungguh mengikuti Sukarno. Keberhasilan kaum komunis di 

negara-negara lain mengangkat derajat Partai Komunis Indonesia, yang 

dipandang berbagi semangat dan kearifan yang sama.

Supardjo, yang pernah mengunjungi Vietnam dan Tiongkok, 

merasa kagum terhadap kemampuan militer partai-partai komunis di 

kedua negeri itu. Menurut Heru Atmodjo yang bersama-sama Supardjo 

ditahan di penjara Cimahi, Supardjo sangat menghormati Sjam sebab  

ia menduga Sjam pernah dilatih di Tiongkok sebagai komisaris politik 

untuk pasukan militer. Barangkali Sjam salah dalam menampilkan 

dirinya. Menurut Hasan, Sjam tidak pernah ke Tiongkok untuk urusan 

lain selain berobat.38 Tapi agaknya ia memang pernah ke Vietnam. 

Iskandar Subekti menulis bahwa “Jimin [Sjam] sendiri telah diutus Partai 

meninjau Vietnam saat  masih berperang melawan A.S.”39 Betapapun 

salah mengertinya Supardjo tentang Sjam, pengetahuannya tentang 

militer Tiongkok dan Vietnam meyakinkannya bahwa partai-partai 

191

 

komunis, dengan kemampuannya yang luar biasa dalam mengintegrasi-

kan kekuatan sipil dalam operasi-operasi militer, memperlihatkan sebuah 

paradigma yang relevan bagi Indonesia.40

Supardjo bisa jadi terkesan oleh Sjam semata-mata sebab  jenderal 

ini menduga Sjam sebagai wakil PKI, sebuah lembaga yang menge-

sankan Supardjo. Beberapa orang yang sebelum 1965 mengenal Sjam 

tidak terkesan sama sekali. Mereka mengenang Sjam sebagai orang yang 

bombastis, sombong, dan tidak terlalu cerdas.41 Benedict Anderson me-

nyaksikan sendiri kesaksian Sjam di sidang-sidang Mahmilub pada 1967 

dan tidak bisa percaya bahwa Sjam seorang kader tinggi PKI sebab  

retorikanya datang langsung dari aktivisme nasionalis 1940-an akhir, 

tanpa disela oleh wacana partai masa mutakhir, “Sjam berbicara dengan 

gaya yang sama sekali berbeda dengan saksi-saksi lain – cakap besar, 

sedikit megalomaniak, tapi lebih dari itu dengan versi “beku” dari gaya 

percakapan yang biasa digunakan pada 1945-1949 … Terdengar seperti 

memasuki semacam toko audio yang antik.”42

Ada penjelasan tentang bahasa Sjam yang kuno itu. Kepada saya 

Hasan menceritakan bahwa Sjam tidak pernah membaca artikel  dan 

hampir-hampir tidak membaca bahan bacaan partai. Ia terlalu sibuk 

bertemu banyak orang dan mengatur penyamaran sehingga tidak ambil 

pusing terhadap teori. Kedudukan Sjam di dalam partai sedemikian rupa 

sehingga ia tidak harus berpikir tentang program partai dan membelanya 

di depan umum; ia tidak duduk di badan pengambil keputusan, menulis 

literatur partai, dan menduduki kursi di parlemen, atau mengorganisasi 

konferensi-konferensi. Tugasnya ialah menerima perintah dari Aidit, 

menjaga rahasia, dan mendekati para perwira kiri. Sjam memerintahkan 

jenderal-jenderal dan kolonel-kolonel yang berpengaruh untuk berbuat 

sesuatu demi kepentingan Aidit. Ia tidak merasa ada sesuatu yang meng-

haruskannya belajar dari kepustakaan dan para ahli teori. Hasan melihat 

Sjam sebagai seseorang yang merasa dirinya sebagai suri teladan aktivis 

komunis yang sedang melakukan pekerjaan praktis untuk membangun 

kekuatan partai komunis terbesar ketiga di dunia.

Hasan percaya Sjam sama sekali bukan tokoh misterius; ia bekerja 

dengan prinsip yang sederhana saja: membebek Aidit. Sjam seorang yang 

teguh kese-tiaannya kepada Aidit. Ia melihat Aidit sebagai Stalin atau 

Mao versi Indonesia, seorang pahlawan agung dengan hari depan gilang-

192

4. SJAM DAN BIRO CHUSUS

gemilang di hadapannya. Sjam merasa bangga berperanan sebagai tangan 

kanan Aidit. Sjam yaitu  contoh klasik seorang apparatchik (aparat partai 

komunis) yang memahami partai sebagai sebuah organisasi yang berjuang 

demi kekuasaan negara. Ia mungkin akan memahami Machiavelli lebih 

baik ketimbang Marx.

Memahami Sjam sebagai fungsionaris partai yang didorong oleh 

kesetiaan pribadi kepada Aidit dan sama sekali tidak mempunyai idealisme 

kemanusiaan serta semangat kolektif yang menyemangati anggota-anggota 

lain, memungkinkan kita menangkap logika di balik jawaban-jawaban 

Sjam dalam tanya jawab dengan Hakim Ketua Mahmilub. Sjam ditanyai 

pendidikan apa yang diberikan Biro Chusus kepada para simpatisannya 

di kalangan militer:

Sjam: [Pendidikan] soal teori dan ideologi.

Ketua: Teori dan ideologi, teori apa?

Sjam: Marxisme Leninisme.

Ketua: Ideologi apa?

Sjam: Tjinta kepada partai.

Cinta kepada partai. Itulah gagasan Sjam tentang ideologi partai. 

Itulah jalan pikiran seseorang yang begitu setia kepada organisasi sehingga 

ide-ide demokratis yang menjadi pendirian organisasi dianggap sampah 

retorika belaka.

Tingkah laku Sjam sesudah ia ditangkap pada 1967 mengesankan 

dirinya sebagai seorang oportunis. Dengan hancurnya partai yang konon 

dicintainya, bersama dengan segala kesempatan baginya untuk tampil 

di tampuk kekuasaan, ia berusaha keras menyelamatkan dirinya sendiri, 

bahkan jika itu berarti ia harus mengkhianati mantan kawan-kawannya 

sendiri. Dalam kesaksiannya di sidang pertama Mahmilub untuknya 

ia menyebut dua nama perwira militer yang termasuk bagian jaringan 

Biro Chusus – perwira-perwira itu belum dikenal sebagai pro-PKI. 

Salah seorang dari mereka tampaknya ditangkap dan dipenjarakan 

akibat pengakuan Sjam.43 Dalam penampilannya kemudian sebagai 

saksi di persidangan Mahmilub, Sjam menyebut lebih banyak nama lagi. 

Iskandar Subekti menulis ia tidak pernah mendekati Sjam, temannya 

sesama penghuni penjara Cipinang, untuk mengetahui lebih banyak 

 

lagi tentang kejadian di sekitar 1965 sebab  ia memandang Sjam sebagai 

orang yang sama sekali tidak bisa dipercaya.44

Hasan menjelaskan bahwa strategi Sjam ialah terus menyediakan 

informasi berguna bagi para penangkapnya, “Dia itu sudah ngomong 

sama saya bahwa ‘Saya ini sebetulnya ingin hidup, ingin hidup lama.’ 

Oleh sebab  itu dia di dalam pengadilan maupun di dalam penjara, dia 

membeberkan soal-soal begitu untuk memperpanjang waktu eksekusi 

mati. Nah dia itu sebetulnya takutlah, untuk ditembak itu takut.” Sjam 

menduga jika ia mampu menunda eksekusi terhadapnya cukup lama, 

mungkin ia akan bisa hidup lebih lama ketimbang rezim Suharto, yang 

dia tidak pernah percaya akan mampu bertahan sangat lama.

Dalam kesaksiannya pada beberapa persidangan (sekitar sepuluh 

kali sampai 1972) Sjam setiap kali selalu menambahkan detil baru supaya 

agen-agen intelijen militer mengira Sjam masih mempunyai informasi 

lebih banyak lagi untuk diungkap.45 Sesama tahanan politik memperha-

tikan taktik Sjam ini. Siauw Giok Tjhan, dalam analisisnya, mengatakan, 

saat  tapol lain mengkritik Sjam sebab  menyebutkan begitu banyak 

nama-nama para perwira, ia membela perbuatannya dengan mengatakan, 

“Tiap manusia berhak untuk mempertahankan hak hidupnya, sebagai 

orang yang telah divonis hukuman mati, saya ingin menunda, kalau 

dapat menggugurkan vonis hukuman mati itu. Bila saya rasa vonis itu 

akan dilaksanakan, executie akan dilakukan, saya menimbulkan persoalan 

besar baru, sehingga untuk peperiksaannya hukuman mati bagi saya 

tidak dijalankan.”46 Sjam memakai  strategi klasik Scheherazade, 

perempuan dalam legenda Arabian Nights (Seribu Satu Malam) yang 

dikawinkan dengan seorang raja sakit jiwa yang membunuh istri-istrinya 

sesudah ditidurinya. Scheherazade berhasil mencegah eksekusi terhadap-

nya dengan cara menceritakan dongeng-dongeng kepada sang raja setiap 

malam. Alih-alih dipancung, sang raja membolehkan Scheherazade tetap 

hidup agar ia bisa terus mendengarkan dongeng-dongengnya. Sesudah 

seribu satu malam sang raja bersumpah tidak hendak membunuhnya. 

Strategi ini hampir berlaku sama bagi Sjam. Walaupun ia dieksekusi pada 

1986, sesudah hukuman diputuskan pada 1968, ia berhasil membeli 

penundaan eksekusi baginya jauh lebih lama dari 1001 malam.

Sementara pengamat (misalnya Wertheim) menduga bahwa tabiat 

Sjam yang suka mementingkan dirinya merupakan bukti bahwa ia 

4. SJAM DAN BIRO CHUSUS

memang bukan anggota PKI. Tapi para pengamat ini tidak memahami 

bahwa tokoh-tokoh seperti Sjam sama sekali tidak unik di dalam partai. 

Mantan kader-kader tinggi PKI lainnya mengkhianati partai sesudah 

mereka tertangkap, antara lain Sujono Pradigdo (kepala Komisi Verifi -

kasi), Peris Pardede (kepala Komisi Kontrol), Sampir Suwarto (kepala 

keamanan di CC-PKI), Kusnan (sekretaris pribadi Sudisman dan anggota 

Komisi Verifi kasi), dan Burhan Komalasakti (anggota Central Comite).47 

Pengkhianatan-pengkhianatan semacam itu bisa dilihat sebagai reaksi 

yang dapat dimengerti terhadap siksaan atau ancaman fi sik terhadap 

orang-orang yang mereka cintai. Namun begitu, beberapa pimpinan 

partai lainnya, bahkan anggota-anggota biasa, tidak menyerah terhadap 

siksaan. Bagi seorang loyalis partai yang keras kepala seperti Hasan, 

yang juga mengalami siksaan, pengkhianatan para pimpinan memberi 

petunjuk bahwa partai sudah menjadi terlalu borjuis pada 1965. Para 

pimpinan semestinya mencapai kedudukan mereka yang tinggi justru 

sebab  mereka telah membuktikan keberanian dan pengabdian mereka 

kepada partai. Bahwa partai dipimpin oleh orang-orang yang tidak 

mampu menghadapi penindasan militer dengan syaraf baja menunjuk-

kan kepada Hasan, penganut garis perjuangan bersenjata Mao, bahwa 

partai mengandung kekurangan-kekurangan yang fundamental.

Cerita Hasan tentang kepribadian Sjam dan kinerjanya bagi PKI 

memungkinkan kita menafsirkan kesaksian pertama Sjam di depan 

Mahmilub dengan kacamata baru. Hasan menegaskan banyak pernyataan 

Sjam di dalam kesaksian itu: Biro Chusus memelihara kontak dengan 

para perwira, semata-mata bekerja di bawah arahan Aidit, tidak bertang-

gung jawab kepada lembaga-lembaga lain di dalam partai, dikepalai oleh 

Sjam, dan Sjam setia kepada Aidit. Berdiri sendiri, kesaksian Sjam, seperti 

juga semua kesaksian di depan sidang-sidang Mahmilub, tidak bisa di-

perlakukan sebagai bukti yang sahih. Bisa dibenarkan jika para ilmuwan 

tidak bertumpu pada versi Sjam dalam melihat peristiwa-peristiwa itu. 

namun  penegasan Hasan atas versi Sjam menawarkan bahwa Sjam tidak 

sekadar menceritakan kisah-kisah bualan belaka. Cerita Iskandar Subekti 

tentang G-30-S juga membenarkan banyak klaim Sjam di dalam kesaksi-

annya. Tentu saja, tidak semua klaim Sjam harus dianggap benar – Hasan 

menyangkal beberapa di antaranya. Saya menyertakan sebagian besar 

kesaksian Sjam sebagai lampiran 2 agar para pembaca dapat mempelajari 


 

sendiri klaim-klaim Sjam setepatnya (dibandingkan dengan yang sudah 

disaring melalui propaganda rezim Suharto).


Informasi yang diungkapkan Pradigdo mengakibatkan banyak pimpinan dan anggota partai 

ditangkap. Tentang Suwarto, Kusnan, dan Komalasakti lihat Siauw Giok Tjhan, “Berbagai 

Catatan,” 9, 15-16. Orang-orang ini menjadi interogator dan penyiksa untuk kepentingan 

tentara. Martin Aleida mengatakan bahwa Komalasakti menjadi pembantu tentara di Jakarta 

untuk mengejar bekas kawan-kawannya sendiri (wawancara dengan Aleida). Cerita yang 

tidak menyenangkan tentang Komalasakti juga terdapat dalam karangan otobiografi  Munadi, 

mantan tapol juga, “Yang Tak Terlupakan,” 5-6.

Bagi PKI, disiplin dimaksud untuk menyelenggarakan pekerjaan 

dengan tepat dan baik. Dan suatu pekerjaan baru dapat diseleng-

garakan dengan tepat dan baik kalau disertai dengan kesetiakawanan 

atau solidaritas … berdasar  moral Komunis itu diterapkan pelak-

sanaan “Centralisme demokrasi,” yaitu centralisme yang didasarkan 

kepada demokrasi dan demokrasi yang dipusatkan, dimana dipadukan 

pertanggungan-jawab kolektif dengan pertanggungan-jawab perseo-

rangan.

Sudisman, Uraian Tanggungdjawab (1967)

Bukti yang ada sejauh ini memperlihatkan bahwa Aidit sedikitnya 

menyetujui kerja sama Sjam dengan para perwira militer untuk 

melancarkan serangan mendahului terhadap pimpinan tertinggi 

Angkatan Darat (SUAD). Menurut dokumen Supardjo, Sjam yaitu  

organisator utama Gerakan 30 September. Menurut Hasan, ia bawahan 

setia Aidit. Jika dua keterangan itu benar, kita harus menduga bahwa 

Aidit lebih dari sekadar sosok lugu yang mudah tertipu dalam G-30-S. 

Sampai di sini pertanyaan yang belum terjawab yaitu  apakah Aidit 

yang memprakarsai G-30-S dan memberi perintah kepada Sjam untuk 

melaksanakannya (sebagaimana diklaim versi rezim Suharto) atau ia 

mengizinkan Sjam bekerja dengan para perwira militer dengan anggapan 

para perwira itulah yang memimpin G-30-S? Apa yang diketahui Aidit 

tentang hubungan antara anggota-anggota Biro Chusus dan para 

perwira militer? Apa yang diceritakan Sjam kepadanya? Informasi apa 

yang didengar Aidit dari sumber-sumber lain mengenai kecenderungan 

para perwira yang ikut dalam G-30-S? Apakah Aidit sang dalang yang 

memerintahkan dan menyelia setiap gerak-gerik Sjam? Ataukah Aidit 

seorang pendukung G-30-S dan mendapat kesan bahwa para perwira 

militerlah yang mendalangi aksi?

Sukar menilai peranan Aidit sebab  tidak ada bukti langsung dan 

meyakinkan tentang hal ini. Mengingat sifat pengorganisasiannya yang 

rahasia, hanya dua orang yang dalam posisi mengetahui sepenuhnya 

peranan Aidit: Sjam dan Aidit sendiri. Angkatan Darat sudah menembak 

mati Aidit pada November 1965 sebelum ia sempat menyampaikan 

penjelasan tentang tindakannya. Dalam sidang Mahmilub pada 1967 

Sjam menyatakan bahwa ia bertindak atas perintah Aidit. Pernyataan-

nya ini tidak mungkin dibuktikan kebenarannya. Satu-satunya pende-

katan terhadap persoalan mengenai peranan Aidit hanyalah secara tidak 

langsung, dengan merangkaikan kepingan-kepingan bukti dan memper-

timbangkan masuk akal atau tidaknya kemungkinan-kemungkinan yang 

berbeda-beda itu. Dalam bab ini saya meninjau pernyataan-pernyataan 

para mantan pimpinan PKI, strategi politik Aidit dalam bulan-bulan 

sebelum G-30-S terjadi, dan pandangannya tentang kup militer. Saya 

juga meninjau pernyataan partai tentang G-30-S dalam koran hariannya, 

Harian Rakjat, edisi 2 Oktober 1965.

URAIAN SUDISMAN

Pernyataan paling penting oleh pimpinan PKI tentang G-30-S ialah per-

nyataan Sudisman, Sekretaris Jenderal partai yang berhasil lolos dari pem-

bantaian besar-besaran. Ia ditangkap pada Desember 1966 dan dibawa 

ke depan Mahmilub pada Juli 1967. Ia salah seorang dari kelompok lima 

tokoh muda yang mengambil alih pimpinan partai pada 1951. Kelima 

tokoh itu – Aidit, Lukman, Njoto, Sakirman, dan Sudisman sendiri 

–  memperoleh sukses besar dalam membangun kembali partai. Dalam 

pleidoinya Sudisman mengacu pada kesatuan di antara kelima tokoh itu 

ibarat kesatuan lima bersaudara Pandawa dari epos besar India Mahabha-

rata, “Mereka berempat yaitu  saya, dan saya yaitu  mereka berempat 


 

… Saya dengan mereka berempat telah berpanca-kawan, artinya, berlima 

telah bersama-sama membangun kembali PKI sejak tahun 1951 … Kita 

berlima selalu bersama.”1 Keberhasilan PKI dari 1951 sampai 1965 

sebagian berkat kesatuan para pimpinannya itu. Tidak terjadi keretakan 

yang memecah-belah partai menjadi kelompok-kelompok yang saling 

bersaing (seperti yang terjadi dalam gerakan  komunis di India) bahkan 

di tengah-tengah konfl ik Tiongkok-Soviet.

Pidato pembelaan Sudisman, walaupun dikemukakan di Mahmilub 

– atau “di cengkeraman tangan musuh,” kata para aktivis eks-PKI 

– merupakan sebuah dokumen yang terus terang dan ditulis dengan 

baik, yang mempertunjukkan kecerdasan dan ketenangan pribadi. Di 

depan mahkamah ia tidak mengkeret ketakutan, melempar kesalahan 

kepada orang lain, pura-pura tidak tahu, atau memohon keselamatan 

nyawanya. Sebagai pimpinan tertinggi partai yang tersisa, ia merasa ber-

tanggung jawab kepada para pendukung partai untuk menjelaskan apa 

yang sudah salah. Menyadari akan dijatuhi hukuman mati, ia menyusun 

pidato pembelaannya sebagai pernyataan politik kepada warga  luas 

di luar ruangan sidang. Memang, sebab  ia menolak mengakui keabsahan 

Mahmilub, ia tidak mau pidatonya disebut sebagai pembelaan (pledoi). 

Sudisman menamainya sebuah “uraian tanggungdjawab.”2

Sudisman mengakui, dengan cara yang tidak terinci, bahwa ia 

“terlibat” dalam G-30-S dan bahwa pimpinan-pimpinan PKI lainnya, 

tanpa menyebut nama, juga “terlibat langsung” di dalamnya.3 Dengan 

memakai  kata terlibat ia tidak bermaksud menyatakan bahwa 

para pemimpin PKI mengarahkan G-30-S. Ia menjunjung pernyataan 

partai pada 6 Oktober 1965 bahwa G-30-S merupakan peristiwa “intern 

Angkatan Darat,” dan bahwa PKI sebagai partai “tidak tahu menahu” 

tentang gerakan itu.4 Ia menyatakan bahwa para pemrakarsa dan pengor-

ganisasi utama G-30-S yaitu  “perwira-perwira maju” yang ingin meng-

gagalkan rencana kup oleh Dewan Jenderal.5 Kelompok di belakang 

G-30-S ini sebagian besar “perwira-perwira non-Komunis” (berarti 

perwira-perwira yang loyal terhadap Sukarno), tapi juga “disamping 

yang Komunis.”6 Sudisman menyiratkan bahwa pemimpin-pemimpin 

tertentu PKI sebagai perseorangan memutuskan untuk mendukung 

para perwira progresif ini. Ia tidak menjelaskan dengan tegas bagaimana 

ia dan pemimpin-pemimpin partai lain mulai bersekutu dengan para 

perwira ini  dan memberi  dukungan mereka. Sasaran Sudisman 

yaitu  pada memberi alasan pembenar bagi strategi Politbiro untuk 

mendukung G-30-S ketimbang menggambarkan bagaimana strategi 

itu dilaksanakan.

Sudisman mengklaim ia menjadi yakin bahwa aksi yang dilakukan 

“perwira-perwira maju” itu merupakan cara terbaik dalam melawan 

jenderal-jenderal sayap kanan Angkatan Darat yang telah membukti-

kan dirinya sebagai satu-satunya rintangan terbesar bagi program partai. 

Mereka menghalangi politik luar negeri antiimperialis Sukarno, kebijakan-

kebijakan ekonomi pemerintah yang dirancang untuk kemaslahatan kaum 

tani dan kaum buruh (misalnya land reform), dan pengaruh PKI yang 

terus meluas. Strategi mendukung “perwira-perwira maju” itu, menurut 

Sudisman, tampaknya benar pada saat itu. Namun, sesudah meninjaunya 

kembali, ia memandang strategi itu keliru arahan. Kegagalan G-30-S dan 

kerentanan partai terhadap represi militer memperlihatkan ada sesuatu 

yang salah dalam watak organisasi dan ideologi partai itu sendiri. 

Sudisman menyatakan bahwa masalahnya bukan sekadar pimpinan 

partai bertaruh pada kuda yang salah; masalah utamanya yaitu  mereka 

sudah bertaruh. Terbuai oleh rangkaian kesuksesan panjang, mereka 

kehilangan kemampuan untuk “secara ilmiah menghitung imbangan 

kekuatan secara kongkrit dari kedua belah pihak, dari kekuatan PKI 

sendiri dan dari kekuatan lawan.”7 Penekanan mereka pada persatuan 

nasional menggiring mereka menjadi terlalu akomodatif terhadap kelas 

menengah dan melalaikan pembangunan kekuatan tani dan buruh yang 

terorganisasi secara mandiri.8 Dengan mendukung putsch rahasia yang 

terpisah dari “massa,” pimpinan partai telah memilih semacam jalan 

pintas yang berbahaya menuju revolusi – bahaya yang tidak akan pernah 

mereka alami andaikata partai tidak tersita perhatiannya oleh rencana-

rencana licik politisi elite di Jakarta. Di antara puing-puing G-30-S 

tersingkaplah “kesalahan-kesalahan PKI yang menumpuk untuk masa 

yang panjang.”9

Sudisman yakin otak G-30-S ialah perwira-perwira militer seperti 

Untung dan Supardjo. Untuk menimbang ketepatan keyakinannya perlu 

dipertanyakan apa yang diketahui Sudisman tentang G-30-S. Informasi 

apa yang menjadi dasar keyakinannya itu? Menurut Uraian Tanggung-

djawab pengetahuannya tentang G-30-S berasal dari Aidit saja. Sudisman 


 

mencatat bahwa di dalam sidang-sidang Politbiro Aidit menjelaskan 

“bahwa ada perwira-perwira maju yang mau mendahului bertindak untuk 

mencegah kudeta Dewan Jenderal.”10 Menurut pengalaman Sudisman, 

Aidit “teliti dalam menerima informasi-informasi” dan “teliti dalam meng-

hitung imbangan kekuatan.”11 Berkat kedudukannya sebagai menteri 

koordinator dalam kabinet Sukarno, Aidit “cukup memiliki saluran” 

untuk memeriksa informasi yang diterimanya.12 Sudisman mempercayai 

pendapat Aidit bahwa G-30-S patut mendapat dukungan, “kawan Aidit 

menjelaskan [kemungkinan kepada anggota Politbiro] dengan meya-

kinkan bahwa ada perwira-perwira maju dan G-30-S yang mengadakan 

operasi militer membentuk Dewan Revolusi.”13 Aidit konsisten dalam 

memberi tahu Politbiro bahwa gerakan yang direncanakan merupakan 

urusan intern militer. Aidit menjelaskan “bahwa para perwira maju mau 

mengadakan operasi militer dan tidak pernah mengemukakan bahwa 

PKI mau mengadakan operasi militer, dan oleh kawan Aidit juga tidak 

pernah dikemukakan bahwa PKI mau mencetuskan revolusi pada saat 

itu.”14 Sudisman menempatkan Aidit sebagai orang utama di dalam 

partai yang berhubungan dengan para perwira dan menetapkan tindakan 

apa yang akan diambil oleh personil PKI dalam mendukung gerakan 

ini . Sudisman mengatakan bahwa Aidit “menugaskan pengiriman 

beberapa tenaga ke daerah pada hari-hari menjelang mencetusnya G-30-S 

dengan garisnya ‘dengarkan pengumuman RRI Pusat dan sokong Dewan 

Revolusi.’”15 Bagi Sudisman G-30-S mirip dengan kup Kolonel Qasim 

di Irak pada 1958 yang menumbangkan monarki dan menggagalkan 

keikutsertaan Irak dalam persekutuan militer untuk menghadapi Uni 

Soviet (Pakta Baghdad 1955, yang antara lain termasuk Turki dan 

Inggris).16 Ada beberapa kup yang mempunyai agenda politik yang 

progresif – yaitu melawan feodalisme, imperialisme, dan kapitalisme 

– sementara itu ada beberapa kup yang mempunyai agenda reaksioner. 

Gerakan 30 September, walaupun bukan kup, merupakan aksi militer 

yang dalam pandangan partai progresif.

Sudisman tidak mengklaim mempunyai hubungan langsung 

dengan para perwira yang terlibat dalam G-30-S. Barangkali ia bahkan 

tidak berhubungan dengan Sjam dan orang-orang dari Biro Chusus. Ia 

tidak menyebut tentang mereka. Walaupun Sudisman seharusnya tahu 

lebih banyak tentang hubungan partai dengan G-30-S dibandingkan  yang 

sudah dibeberkannya di dalam Uraian Tanggungdjawab, tanpa bukti 

tambahan kita tidak bisa beranggapan bahwa