pembunuhan masal 8

 


tu  usaha terpuji untuk menyelamatkan presiden dan 

merupakan urusan intern Angkatan Darat, “Kita Rakjat memahami betul 

apa jang dikemukakan oleh Letkol Untung dalam melakukan gerakan-

nja jang patriotik itu. namun  bagaimanapun djuga persoalan tsb. yaitu  

persoalan intern AD. namun  kita Rakjat jang sedar akan politik dan tugas2 

revolusi mejakini akan benarnja tindakan jang dilakukan oleh Gerakan 

30 September untuk menjelamatkan revolusi dan Rakjat.”

Bahasa editorial yang janggal – dua “tapi” dalam satu baris dan 

“bagaimanapun djuga persoalan” yang tidak runtut  – memberi kesan 


 

Gambar 6. Kartun ini terbit dalam surat kabar PKI edisi hari kemerdekaan untuk memperingati 

hari jadi republik yang ke-20. Gerakan sayap kiri meninju, menendang, dan menebas di 

sepanjang perjalanannya dari tahun ke tahun untuk menghancurkan kaum imperialis dan 

antek-antek mereka di dalam negeri. Gambar terakhir melukiskan rakyat yang bersatu 

di belakang prinsip-prinsip Sukarno (Panca Azimat Revolusi), menghantam pemerintah 

Amerika Serikat dan Inggris dan menjebol “kapitalis birokrat” Indonesia dan “setan-setan 

desa.” Semboyannya berbunyi “Perhebat Ofensif Revolusioner Disegala Bidang.” 


penulisnya berusaha menegaskan bahwa dukungan PKI terhadap G-30-S 

tidak berarti partai terlibat di dalamnya. Di sepanjang bagian bawah 

halaman depan terbentang karangan khas tiap Sabtu berupa tujuh petak 

kartun yang menggambarkan perkembangan hari ke hari gerakan kiri 

selama sepekan sebelumnya. Petak gabungan untuk Kamis dan Jumat 

(30 September dan 1 Oktober) memperlihatkan kepalan tinju Gerakan 

30 September menghantam wajah Dewan Jenderal. Kartun pada 

petak berikutnya untuk Sabtu melukiskan sebuah adegan yang lebih 

mengerikan: jenderal-jenderal, dengan dolar-dolar Amerika Serikat dan 

kuitansi-kuitansi CIA berhamburan dari saku-saku mereka, dilemparkan 

oleh seorang prajurit berbadan kekar dan tegap ke lautan pasak besi 

terpancang.

Yang janggal dari halaman depan Harian Rakjat ini yaitu  penyiar-

annya sesudah  G-30-S di Jakarta sudah dikalahkan. Mayor Jenderal Umar 

Wirahadikusumah sudah mengeluarkan perintah harian pada 1 Oktober 

pukul 18.00 yang melarang terbit semua surat kabar selain dua surat 

kabar milik tentara. Tentara Suharto sudah menguasai kembali stasiun 

radio kira-kira pada pukul 19.00 dan menyiarkan kutukan terhadap 

G-30-S pada sekitar pukul 20.45. Mengapa para redaktur Harian Rakjat 

menentang larangan terbit oleh tentara, hanya untuk menyiarkan pernya-

taan dukungan terhadap aksi yang gagal? Kantor surat kabar ini terletak 

di daerah Pintu Besar Selatan, kira-kira setengah mil dari Lapangan 

Merdeka. Wartawan surat kabar ini tentu mengikuti kejadian sepanjang 

hari itu, dan mengetahui bahwa G-30-S di Jakarta sudah hancur.

Benedict Anderson dan Ruth McVey menduga Angkatan Darat 

pasti sudah merebut kantor Harian Rakjat pada Jumat malam. saat  itu 

militer sudah mencurigai, bahwa PKI mempunyai peranan tertentu di 

dalam G-30-S (mengingat para sukarelawan yang ditangkap di gedung 

telekomunikasi yaitu  pemuda-pemuda dari Pemuda Rakjat). Agar 

edisi Sabtu dapat terbit, pastilah edisi itu sudah dicetak dan didistri-

busikan sebelum tentara datang, atau dicetak dan didistribusikan saat  

para perwira militer sudah menduduki kantor. Anderson dan McVey 

cenderung pada kemungkinan pertama sebab  edisi Sabtu Harian Rakjat 

barangkali sudah dicetak pada Jumat sore. Di kebanyakan kantor pada 

masa itu para karyawan hanya bekerja setengah hari setiap hari Jumat. 

Ilmuwan-ilmuwan Cornell ini menduga edisi Harian Rakjat 2 Oktober 


 

terbit sebelum redaksi yakin bahwa G-30-S sudah gagal.71

Apa yang terjadi pada malam hari 1 Oktober 1965 di kantor Harian 

Rakjat? Seorang mantan wartawan surat kabar ini, Martin Aleida, teringat 

pada percakapan antara dirinya dan seorang anggota redaksi yang malam 

itu ada di kantor.72 Aleida sendiri saat itu ada di luar kota. Ia dikirim 

belajar di sekolah partai di Semarang kira-kira dua bulan sebelumnya. Ia 

berhasil selamat dari pembantaian 1965-1966 dan pemenjaraan selama 

beberapa tahun. Begitu keluar penjara, ia kebetulan bertemu salah seorang 

dari kawan-kawannya, Wahyudi, yang menjadi anggota redaksi senior di 

Harian Rakjat pada 1965. Menurut cerita Wahyudi, serombongan tentara 

datang di kantor sekitar pukul 23.00 dan menuntut agar surat kabar 

ditutup. Wahyudi dan anggota redaksi lainnya menolak, dan bersikeras 

mereka bersedia menutup hanya jika para tentara ini bisa menunjukkan 

perintah tertulis kepada mereka. Tentara-tentara itu tidak menduduki 

kantor, mengusir staf kantor dengan paksa, atau mencampuri urusan 

penerbitan. Kantor tetap bekerja seperti biasa.

Menurut Aleida, Wahyudi menuturkan bahwa editorial yang 

mendukung G-30-S sudah dikirim ke kantor surat kabar pada sekitar 

pukul 21.00 oleh kurir seperti biasa. Wahyudi tidak tahu siapa yang 

menulis editorial, tapi ia menduga Dahono, wartawan Harian Rakjat 

yang biasa menghabiskan hari-harinya di Sekretariat Comite Central 

(di Jalan Kramat Raya) untuk memperoleh informasi tentang posisi 

partai dalam berbagai macam masalah. Dahono bukan penulis yang 

baik. Ia diangkat menjadi staf Harian Rakjat oleh Comite Central sebab  

kesetiaan yang bergelora terhadap partai dan watak penggembiranya, 

bukan sebab  keterampilan jurnalistiknya. Kalau bahasa editorial itu 

begitu janggal, mungkin sebab  itu ditulis oleh Dahono.

Aleida tidak diberi tahu apakah Harian Rakjat sudah terbit sebelum 

atau sesudah tentara datang. Ia ingat biasanya tenggat waktu penyerahan 

karangan sekitar pukul 23.00, dan surat kabar selesai dicetak sekitar pukul 

1.00 atau 2.00 dini hari. Jika Harian Rakjat mengikuti pola biasa pada 

Jumat malam itu, militer kemungkinan sudah datang tepat saat edisi 

Sabtu sedang diedit dan diset.

Pertanyaan tentang keputusan partai menerbitkan pernyataan 

dukungan kepada sebuah aksi militer yang gagal itu tetap belum terjawab. 

Mungkin pada Jumat malam masih belum jelas bahwa G-30-S sebenar-

nya sudah gagal. Pasukan dan sukarelawan di sekitar Lapangan Merdeka 

sudah dibersihkan, tapi pimpinan aksi masih berkumpul di Halim. 

Untung belum tertangkap. Aksi-aksi di Jawa Tengah masih berjalan. 

Dalam menyusun halaman depan, redaksi tidak menekankan dukungan 

partai terhadap G-30-S. Editorial sangat pendek, kata-katanya disusun 

dengan hati-hati, dan ditempatkan hampir di bawah halaman. Berita-

berita utamanya melaporkan tentang gerak-gerik Untung dalam gaya 

yang lugas dan dengan memberi tekanan bahwa G-30-S merupakan 

urusan intern Angkatan Darat. Sulit dipercaya bahwa para editor atau 

atasan mereka di Comite Central berpikir mereka mengambil risiko 

dengan meneruskan penerbitan edisi itu. Mereka mungkin tidak dapat 

meramalkan bahwa G-30-S akan hancur begitu cepat, bahwa Angkatan 

Darat akan menyerang PKI dengan begitu mendadak dan kejam, dan 

bahwa Harian Rakjat tidak akan pernah diberi kesempatan memperbaiki 

posisinya dengan mempertimbangkan kejadian-kejadian yang menyusul 

kemudian. Mereka mungkin tidak mengerti bahwa seluruh sistem politik 

yang terpusat pada Sukarno, yang bagi mereka sudah menjadi biasa, pada 

1 Oktober malam itu telah diubah secara mendasar.

Gambar 8. Teks di bawah tertera “Film minggu ini,” yang menyentil 

kebiasaan orang Indonesia menonton fi lm pada Sabtu. Ini fi lm 

yang mengerikan: seorang prajurit tersenyum menang sambil 

menyaksikan dua jenderal yang dibiayai CIA jatuh di atas bambu 

runcing. Dalam gambar judul fi lm “De Over Val,” kata-kata Belanda 

untuk “serangan mendadak” (overval), diubah menjadi “De Generaals 

Val,” yang mempunyai dua pengertian, yaitu “terperangkapnya 

jenderal-jenderal” dan “jatuhnya jenderal-jenderal.” Kata-kata sisipan 

pada kartun ini dimaksud untuk pengertian yang ini  terakhir: 

“djatuhnja djenderal2.”


Setidak-tidaknya tiga mantan anggota Politbiro PKI, Sudisman, 

Iskandar Subekti, dan Munir, menyatakan dalam pledoinya di depan 

sidang pengadilan bahwa partai secara keseluruhan tidak terlibat dalam 

G-30-S tapi beberapa pimpinan tertentu yang tak disebut namanya 

terlibat sebagai pribadi. Penilaian mereka agaknya benar. G-30-S 

tampaknya merupakan proyek pribadi Aidit. Ia percaya bahwa aksi militer 

yang dilakukan perwira progresif merupakan strategi paling baik untuk 

menyingkirkan ancaman Dewan Jenderal. Sebagai operasi militer terse-

lubung, tidak satu orang pun di dalam partai diperbolehkan mengetahui 

seluk-beluk G-30-S kecuali beberapa orang kepercayaannya yang sebagian 

besar dari Dewan Harian Politbiro. Aidit melibatkan pimpinan partai 

secara perseorangan, seperti Njono dan Sukatno, yang mengerahkan para 

pemuda ke dalam pasukan sukarelawan tanpa memberi tahu mereka 

tentang keseluruhan operasi. Informasi disampaikan seperlunya. Tidak 

satu pun dari badan pimpinan resmi PKI – Politbiro, Dewan Harian, 

dan Central Comite – terlibat dalam perencanaan dan pengorganisasian 

G-30-S.

Pada prinsipnya, G-30-S bisa dibenarkan dipandang dari sudut 

kepentingan PKI sendiri. Kontak-kontak partai dalam angkatan ber-

senjata bisa digunakan dengan baik untuk membersihkan pimpinan 

tertinggi Angkatan Darat yang antikomunis. G-30-S berbuah kegagalan 

telak oleh alasan-alasan yang tidak diperhitungkan Aidit sebelumnya. 

Pertama, ia buta terhadap kesalahan-kesalahan Sjam. Ia menguasakan 

Sjam untuk memulai aksi militer tanpa mempunyai sarana yang cukup 

untuk memeriksa kata-kata Sjam. Saya menduga Aidit tidak menyadari 

bahwa Sjam telah memaksa para perwira militer untuk bergabung dan 

mengelabui mereka agar berpikir bahwa PKI akan menjamin keberhasilan 

aksi. Saat menghubungkan Aidit dengan para perwira, Sjam merancukan 

pemahaman mereka akan satu sama lain.

Kedua, Aidit barangkali sebelumnya tidak mempelajari dengan 

baik bahwa Angkatan Darat disusupi dari ujung ke ujung oleh agen-agen 

ganda, dan bahwa jaringan-jaringan pribadi di dalam Angkatan Darat 

saling-silang dengan kesetiaan politik para perwira. Aksi apa pun oleh 

“para perwira progresif” sangat rentan terhadap pengkhianatan. Untung 

dan Latief, dua perwira kunci yang tetap bersedia bekerja sama dengan 

Sjam, bahkan saat  yang lain-lain mengundurkan diri, mengira bahwa 

243

 

Suharto yaitu  sekutu mereka.

Ketiga, mengingat risiko yang terlekat dalam sebuah aksi militer, 

keterlibatan Aidit memerlukan tameng pengelakan yang jauh lebih besar 

dan masuk akal; ia tidak mengambil tindakan pencegahan yang memadai 

untuk melindungi dirinya sendiri dan partai apabila terjadi kegagalan. 

Kalau saja ia menjauhkan diri dari Halim dan memutuskan untuk tidak 

pergi secara diam-diam ke Jawa Tengah, ia barangkali akan tampil lebih 

meyakinkan saat  menyatakan partai tidak terlibat.

Keempat, Aidit telah mengembangkan sebuah teori populis yang 

memuat gagasan bahwa kup militer bisa berkembang positif jika kup 

militer itu mempunyai program revolusioner dan didukung oleh massa 

rakyat. Ia dan Sjam menyisipkan kandungan politik ke dalam G-30-S 

– Dewan Revolusi, istilah yang dipinjam dari Aljazair sebagai preseden. 

Agenda politik ini menaruh beban terlalu berat terhadap apa yang, 

bagaimanapun, merupakan sebuah operasi militer sangat terbatas, yaitu 

menculik pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Aidit terperangkap dalam 

balam-balam populisme untuk bisa mengenali kesalahan strategis dalam 

memanfaatkan militer bagi tujuan-tujuan politik. Gerakan 30 September 

tidak diorganisasi sebagai sebuah kup, tidak pula dipimpin oleh seorang 

perwira militer (seperti kup-kup yang berhasil yang dikenal Aidit, 

misalnya kup Qasim di Irak pada 1958 dan kup Boumedienne di Aljazair 

pada 1965). Agenda politik telah mencemari aspek-aspek yang murni 

bersifat militer dalam G-30-S. Rencananya untuk mencapai keberhasilan 

bertumpu pada usaha mendapatkan persetujuan dari Sukarno; presiden 

akan memastikan bahwa para perwira lawan tidak akan melakukan 

serangan balasan. Gerakan 30 September tidak dirancang untuk berhasil 

atas dasar kekuatan murni militernya sendiri.

Penjelasan saya tentang peranan PKI dalam G-30-S tidak memberi 

pembenaran terhadap versi rezim Suharto yang menuduh PKI sebagai 

dalang. Partai sebagai lembaga tidak bertanggung jawab. Hanya dua 

orang dalam partai, Aidit dan Sjam, yang bertanggung jawab meng-

organisasi G-30-S. Seperti dinyatakan Sudisman, badan-badan formal 

pembuat keputusan dalam partai hanya bertanggung jawab dalam arti 

bahwa mereka memberi Aidit terlalu banyak jalan simpang untuk bekerja 

sendiri. 


Dari sudut pandangan kami, sudah barang tentu, percobaan kup 

yang gagal oleh PKI boleh jadi merupakan perkembangan yang paling 

efektif untuk memulai pembalikan arah kecenderungan politik di 

Indonesia.

Howard P. Jones, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, 10 Maret 1965

Bagi Aidit penggunaan para perwira progresif secara rahasia untuk 

menyisihkan pimpinan tertinggi sayap kanan Angkatan Darat 

tentunya tampak sebagai strategi yang  cerdas. Baik partai maupun 

Presiden Sukarno dapat diselamatkan dari Dewan Jenderal dengan satu 

gebrakan cepat dan tak langsung. Pada saat-saat permulaan Gerakan 30 

September tampak akan berhasil: pasukan dikerahkan tanpa tercium 

jejaknya dan berhasil menciptakan unsur kejutan – jenazah keenam 

jenderal cukup menjadi bukti. Namun, kejutan ini berumur pendek. 

Rupanya Aidit tidak menyadari bahwa pihak-pihak lain di dalam kepe-

mimpinan Angkatan Darat dan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) 

telah menunggu dengan sabar peristiwa semacam G-30-S, dan sudah 

pula menyiapkan rencana untuk menanggapinya. Sementara jenderal-

jenderal dan staf kedutaan besar tidak memperhitungkan G-30-S akan 

meletus pada 1 Oktober, dan akan membunuh separo dari staf Yani, 

mereka memang memperhitungkan akan ada semacam aksi dramatik 

yang melibatkan PKI. Mereka sudah menunggu-nunggu sebuah dalih 

untuk menghantam partai dan merongrong pemerintahan Sukarno. 


 

Tanpa ia sadari Aidit bertindak sesuai dengan keinginan mereka.

Seperti dokumen-dokumen AS yang telah dideklasifi kasikan meng-

ungkap, pada 1965 jenderal-jenderal itu sadar bahwa mereka tidak bisa 

melancarkan kudeta dengan gaya lama terhadap Sukarno – ia terlalu 

populer. Mereka memerlukan dalih. Dalih paling baik yang mereka 

temukan ialah sebuah percobaan kup yang gagal dan bisa dipersalah-

kan kepada PKI. Angkatan Darat, dalam rencana cadangannya, telah 

menyusun sebuah rencana permainan: mempersalahkan PKI sebab  

percobaan kup, melancarkan perang total terhadap partai, memperta-

hankan Sukarno sebagai presiden boneka, dan tahap demi tahap meng-

angkat  Angkatan Darat masuk ke pemerintahan. Angkatan Darat secara 

teratur menyampaikan informasi terbaru tentang rencana mereka kepada 

Kedutaan Besar AS dan tahu bahwa institusi ini dapat mengharapkan AS 

untuk bantuan diplomatik, militer, dan ekonomi jika waktu pelaksanaan 

rencana telah tiba. Gerakan 30 September menerobos sebuah institusi 

bersenjata, yang mengetahui dengan tepat bagaimana harus bereaksi. 

Bahkan andaikata PKI tidak terlibat sekalipun, hampir bisa dipastikan 

kesalahan akan dilemparkan kepadanya.

Saat membaca dokumen-dokumen tentang perencanaan tingkat 

tinggi Angkatan Darat yang dilakukan sebelum G-30-S meletus, kita akan 

dikejutkan oleh betapa kejadian-kejadian 1965-67 mengikuti rencana 

permainan Angkatan Darat. Saya tidak percaya bahwa hubungan erat 

antara peristiwa-peristiwa yang terjadi dan rencana itu dapat dijelaskan 

dengan  menyatakan bahwa jenderal-jenderal tertentu Angkatan Darat 

itu sendiri yang merancang G-30-S. Tentu saja, sangat menggoda untuk 

memahami G-30-S sebagai usaha kup palsu yang sengaja dirancang untuk 

gagal. Tapi argumen “tangan tersembunyi” semacam itu tidak hanya sukar 

untuk dipercaya (mengingat kerumitan logistik yang dibutuhkan), namun  

juga mustahil untuk dicocokkan dengan fakta-fakta yang ada. Seperti 

sudah saya kemukakan dalam Bab 2, G-30-S akan dirancang sangat 

berbeda seandainya ia dimaksudkan sebagai sebuah perangkap. Dalam 

menelaah operasi-operasi rahasia agen-agen intelijen, kita hendaknya 

berhati-hati agar tidak mendesak-desakkan teori-teori konspirasi terlalu 

jauh. Kedutaan Besar AS dan jenderal-jenderal Angkatan Darat tidak 

mengendalikan seluruh peristiwa melalui agen-agen ganda. Gerakan 

30 September berasal dari Aidit, Biro Chusus, dan sekelompok perwira ,

progresif, dan dirancang untuk berhasil. Ia gagal bukan sebab  sebelum-

nya direncanakan untuk gagal, tapi sebab  ia diorganisasi dengan cara 

yang sangat buruk dan sebab  Angkatan Darat telah mempersiapkan 

pukulan balik. Bahkan andaikata Suharto tidak tahu sebelumnya tentang 

rencana G-30-S pun, ia dan rekan-rekan sesama jenderal-jenderal pasti 

akan bereaksi dengan cara serupa. Mungkin saja Angkatan Darat tidak 

akan mampu mengalahkan G-30-S dengan sangat cepat dan tanpa 

kesulitan, namun mereka pasti akan mengorganisasi suatu kampanye 

anti-PKI dan anti-Sukarno yang seperti itu juga.

Dengan menolak teori ekstrem konspirasi, kita hendaknya tidak 

melompat ke ekstrem yang lain dan berpendapat bahwa para pejabat 

AS serta para jenderal Angkatan Darat terkejut pada 1 Oktober dan 

menata tanggapan mereka tanpa persiapan. Satu pokok perkara yang 

dibuat kabur dalam banyak kepustakaan tentang G-30-S, terutama 

dalam tulisan-tulisan para pejabat AS, yaitu  bahwa pemerintah AS 

telah mempersiapkan tentara Indonesia untuk berbentrokan dengan 

PKI dan merebut kekuasaan negara.1 Dari 1958 sampai 1965 Amerika 

Serikat melatih, mendanai, memberi nasihat, dan memasok Angkatan 

Darat sebegitu rupa sehingga dapat mengubahnya menjadi negara di 

dalam negara. Di bawah Nasution dan Yani Angkatan Darat berangsur-

angsur memperluas kekuasaannya, mengonsolidasi korps perwiranya, 

dan menjadikan institusi ini sebagai pemerintahan dalam penantian. 

Selama bulan-bulan menjelang Oktober 1965 Amerika Serikat dan 

Angkatan Darat menginginkan terjadi suatu peristiwa semacam G-30-S. 

Mereka sibuk menciptakan kondisi untuk itu dan menyiapkan diri untuk 

menghadapinya. Amerika Serikat tidak membiarkan persaingan antara 

Angkatan Darat dan PKI terjadi oleh kebetulan semata-mata.

Dalam satu peristiwa 1 Oktober 1965 ini terkandung sejarah per-

saingan antara kekuatan komunis dan kekuatan antikomunis sedunia 

yang berkepanjangan dan ruwet, yang meluas dari perseteruan di tingkat 

desa sampai ke politik tingkat tinggi kebijakan luar negeri AS. Bagian 

ini merupakan telaah singkat tentang pertentangan pascakolonial di 

Indonesia antara perwira-perwira Angkatan Darat dan PKI dan sebagian 

besar berdasar  pada dokumen-dokumen pemerintah AS yang sudah 

dideklasifi kasikan. Telaah dimulai dengan memeriksa bagaimana Amerika 

Serikat membangun persekutuan yang kukuh dengan Angkatan Darat 


 

dalam akhir 1950-an dan diakhiri dengan memeriksa bagaimana 

Angkatan Darat menanggapi meletusnya G-30-S pada 1965. Akhirnya, 

bab ini dimaksud untuk menjelaskan bagaimana Angkatan Darat sampai 

mengeramatkan sebuah putsch yang relatif kecil menjadi sebuah kejahatan 

terbesar dalam sejarah Indonesia, sesuatu yang menuntut penahanan 

massal dan pembantaian sebagai tanggapan.

ASAL-MUASAL PERSEKUTUAN AMERIKA SERIKAT DAN 

ANGKATAN DARAT

Sampai akhir 1950-an tidak terlihat bahwa pemerintah AS dan Angkatan 

Darat Indonesia akan mempunyai masa depan bersama yang gilang-

gemilang. Para pejabat penting dalam pemerintahan Eisenhower (1952-

1960) berpikir tentang bagaimana memecah-belah Indonesia menjadi 

negara-negara kecil. Bagi mereka, Presiden Sukarno merupakan sebuah 

kutukan. Politik luar negerinya yang bebas aktif (yang tegas dipamer-

kan pada Konferensi Asia Afrika 1955), hujatan berulangnya terhadap 

imperialisme Barat, dan kesediaannya merangkul PKI sebagai bagian 

integral dalam politik Indonesia ditafsirkan di Washington sebagai bukti 

kesetiaan Sukarno kepada Moskow dan Beijing. Eisenhower dan Dulles 

bersaudara – Allen sebagai kepala CIA dan John Foster sebagai kepala 

Departemen Luar Negeri – memandang semua pemimpin nasionalis 

Dunia Ketiga yang ingin tetap netral di tengah-tengah perang dingin 

sebagai antek-antek komunis. Dengan penuh keyakinan akan hak mereka 

untuk memilih-milih pemimpin di negara-negara asing, Eisenhower dan 

dua bersaudara Dulles berulang kali memakai  operasi rahasia CIA 

untuk menumbangkan pemimpin-pemimpin nasionalis: Mossadegh 

di Iran pada 1953, Arbenz di Guatemala pada 1954, dan Souvanna 

Phouma di Laos pada 1960. Dulles bersaudara melihat Sukarno pun 

sebagai tokoh lain yang menjengkelkan, yang harus disingkirkan dari 

panggung dunia.2

Sesudah PKI memenangi pemilihan umum daerah pada pertengahan 

1957, Dulles bersaudara berpikir waktunya telah tiba untuk bergerak 

melawan Sukarno. Sikap lunak Sukarno terhadap komunisme dan du-

kungannya kepada pemilu yang demokratis terlihat sebagai memberi PKI 

254

6. SUHARTO, ANGKATAN DARAT, DAN AMERIKA SERIKAT

jalan lapang menuju istana kepresidenan. Dulles bersaudara menolak 

nasihat bijak Duta Besar AS di Jakarta, John Allison, yang mengata-

kan bahwa ancaman komunis tidak cukup gawat untuk membenarkan 

penggulingan terhadap Sukarno. Dalam imajinasi berkobar-kobar para 

prajurit perang dingin di Washington, PKI telah memenangi “mayoritas 

mutlak” dari pemilih di Jawa dalam pemilu daerah 1957.3 (PKI hanya 

menang 27%.) Dulles bersaudara menjadi yakin bahwa Jawa telah jatuh 

ke tangan kaum komunis dan lebih baik memisahkannya dari daerah lain 

di Indonesia. Dalam menghadapi kaum komunis di Asia, prinsip yang 

menjadi pedoman pemerintah Eisenhower ialah membagi negara-negara 

menjadi kawasan-kawasan komunis dan nonkomunis. Pelajaran dari 

lepasnya Tiongkok pada 1949 ialah lebih baik merelakan yang sudah lepas 

dan membiarkan sesuatu wilayah jatuh ke tangan komunis, ketimbang 

memperpanjang perang berlarut-larut di seluruh negeri. Oleh sebab  itu 

Amerika Serikat mau membagi Korea dan Vietnam menjadi paro utara 

dan paro selatan. Pada akhir 1957 pemerintah Eisenhower berpendapat 

bahwa kebangkitan PKI, khususnya di Jawa, berarti telah datang saatnya 

untuk memecah-belah kepulauan Indonesia menjadi satuan-satuan yang 

lebih kecil.

Pemberontakan-pemberontakan oleh kolonel-kolonel Angkatan 

Darat berbasis di daerah-daerah di Sumatra dan Sulawesi dilihat oleh 

pemerintah Eisenhower sebagai kendaraan sempurna untuk mengiso-

lasi Jawa. Letnan Kolonel Ahmad Husein, Panglima Sumatra Barat, 

merebut kekuasaan dari gubernur pemerintah sipil pada 20 Desember 

1956. Kolonel Simbolon, panglima seluruh belahan utara Pulau Sumatra 

(yang bermarkas di Medan), mencanangkan dirinya sebagai gubernur 

wilayah itu dua hari kemudian. Letnan Kolonel Barlian, Panglima 

wilayah paro selatan Sumatra (bermarkas di Palembang), menyusul rekan-

rekannya dengan mendongkel gubernur di wilayahnya pada Maret 1957. 

Ketiga kolonel ini  semuanya menuntut otonomi yang lebih luas 

bagi provinsi-provinsi mereka dalam berhadapan dengan pemerintah 

pusat, pembubaran kabinet yang ada, dan mengembalikan kekuasaan 

Mohammad Hatta, seorang tokoh politik Sumatra yang telah mengun-

durkan diri sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956.

Demi alasan yang sama panglima militer seluruh bagian timur 

Indonesia (termasuk Sulawesi, Maluku, dan Kepulauan Sunda Kecil) 


 

memberontak terhadap pemerintah sipil dan menyatakan wilayahnya 

dalam keadaan perang pada Maret 1957. Letnan Kolonel Sumual, yang 

bermarkas di kota Makassar, mengumumkan apa yang dinamakannya 

“perjuangan semesta alam,” yang terkenal dalam akronimnya “Permesta.” 

Ia juga mengulangi tuntutan tiga kolonel rekan-rekannya di Sumatra. 

Semua perwira pemberontak ini pada dasarnya mengingini suatu peme-

rintahan pusat yang direformasi, bukan pecahan negara-negara merdeka 

yang berserakan.

Kembali di Washington, arti penting pemberontakan-pemberon-

takan ini sangat dibesar-besarkan. Dalam sidang Dewan Keamanan 

Nasional (NSC, National Security Council) pada Maret 1957 Allen 

Dulles menyatakan bahwa “proses disintegrasi di Indonesia sedang terus 

berlanjut sampai pada tahap tinggal pulau Jawa saja yang masih di bawah 

kekuasaan pemerintah pusat. Angkatan bersenjata di semua pulau-pulau 

di luar [Jawa] telah menyatakan kemerdekaan mereka dari pemerintah 

pusat di Jakarta.”4 Penilaian tidak tepat semacam ini meyakinkan para 

penentu kebijakan bahwa Amerika Serikat harus berbalik melawan na-

sionalisme Indonesia.

Mula-mula Sukarno bersikap tanggap terhadap tuntutan para 

pemberontak. Pembentukan kabinet baru pada April, penyelenggaraan 

konferensi perujukan kembali segera sesudah itu, pengiriman dana 

tambahan ke daerah-daerah, dan keberlanjutan prospek pengembangan 

karier dalam ketentaraan nasional bagi para kolonel itu sendiri yaitu  

semua faktor yang meredakan kekerasan hati para pemberontak. Tapi 

pemerintah Eisenhower, melalui kontak-kontak rahasianya dengan para 

kolonel pembangkang, tetap berpendapat bahwa mereka melawan bujuk 

rayu Sukarno. Sebuah komite ad hoc untuk Indonesia dalam Dewan 

Keamanan Nasional AS dalam September 1957 menyimpulkan bahwa 

Amerika Serikat harus “memperkuat kebulatan tekad, kemauan dan 

kepaduan pasukan antikomunisnya di pulau-pulau luar Jawa,” sehingga 

mereka bisa berperanan sebagai “titik penggalangan kekuatan jika kaum 

komunis menguasai Jawa.”5 Dukungan material AS menumbuhkan 

kepercayaan diri pada para pemberontak untuk menolak setiap penye-

lesaian yang dirundingkan. CIA memberi  uang muka sebesar $50.000 

kepada Kolonel Simbolon di Sumatra Utara pada awal Oktober 1957 

dan mulai mengirim senjata pada bulan berikut.

Walaupun pemberontakan-pemberontakan ini tidak mulai dengan 

maksud mendongkel pemerintah Jakarta, mereka kemudian mempunyai 

maksud demikian pada awal 1958, terutama oleh pengaruh pemerin-

tah AS. Para kolonel itu, sebab  dibanjiri dolar dan senjata oleh CIA, 

lalu menjadi lebih ambisius. Pada 15 Februari 1958, Kolonel Husein 

mengumumkan pemerintah nasional baru, yaitu Pemerintah Revolu-

sioner Republik Indonesia, atau disingkat sebagai PRRI. Ia menuntut 

agar negara-negara asing membekukan aktiva Jakarta di luar negeri dan 

memindahkan kedutaan besar-kedutaan besar mereka dari Jakarta ke 

Sumatra Barat. Menghadapi pernyataan perang yang terang-terangan 

itu, pemerintah Sukarno memutuskan bahwa pilihan satu-satunya 

hanyalah menjawabnya dengan kekuatan militer. Tindakan ofensif 

tentara Indonesia dilancarkan sepekan sesudah pengumuman Husein.

Angkatan Udara membom sasaran-sasaran penting PRRI dan me-

nerjunkan dari udara batalyon-batalyon dari Jawa di Sumatra. sebab  

tidak memiliki pesawat terbang, senjata penangkis serangan udara, dan 

kapal selam, para kolonel pemberontak di Sumatra rentan terhadap 

pemboman melalui udara dan laut. Kekurangan tambahan lainnya lagi 

ialah moral, banyak pasukan kolonel-kolonel itu tidak mau berperang 

melawan tentara Indonesia. Satu demi satu kota-kota penting di Sumatra 

jatuh dalam Maret dan April sampai ibu kota PRRI, kota pegunungan 

Bukittinggi, direbut kembali pada 4 Mei. Walaupun sisa-sisa pasukan 

pemberontak yang tersebar beralih masuk hutan dan melancarkan perang 

gerilya sporadik selama tiga tahun berikutnya, PRRI di Sumatra dengan 

mangkus dibereskan pada saat itu.

Kemenangan Jakarta di bagian timur Indonesia memerlukan waktu 

lebih lama sebab  CIA memberi bantuan kekuatan udara kepada para 

pemberontak. Beroperasi dari pangkalan udara Manado, sebuah kota di 

ujung utara Sulawesi yang dekat dengan pangkalan udara AS di Filipina, 

CIA melepas satu armada dengan delapan atau sembilan pesawat terbang 

yang diawaki pilot-pilot berkebangsaan Amerika, Taiwan, dan Filipina. 

Armada udara kecil ini sangat merintangi tentara Indonesia dengan 

pemboman atas kapal-kapal dan pelabuhan-pelabuhan udara di seluruh 

kawasan Indonesia timur. CIA serta-merta menghentikan bantuan 

udaranya pada akhir Mei 1958 saat  seorang pilot Amerika, Allen 

Pope, ditembak jatuh dan ditangkap hidup-hidup sesudah melakukan 


 

pemboman atas kota Ambon – serangan membabi buta yang membunuh 

sekitar tujuh ratus penduduk sipil. Sesegera sesudah pesawat-pesawat 

udara CIA tidak lagi beroperasi, Jakarta dengan cepat berhasil menunduk-

kan para pemberontak di Manado. 

Pemerintah Eisenhower mulai menilai kembali strateginya saat  

para kolonel pemberontak jatuh dan kalah. Dunia impian penuh petua-

langan dari aksi rahasia AS mulai berantakan. Melihat bahwa perwira-

perwira Indonesia yang menumpas kolonel-kolonel pemberontak yaitu  

perwira-perwira antikomunis (seperti Nasution dan Yani), Washing-

ton menyadari bahwa menyabot tentara Indonesia kontraproduktif. 

Dukungan AS kepada para pemberontak berarti mengadu perwira-

perwira antikomunis satu sama lain. PKI tampil dengan popularitas lebih 

besar sebab  kebijakannya tentang imperialisme AS menjadi dikukuhkan 

oleh pengalaman. Dengan persenjataan AS ditemukan di Sumatra dan 

pilot AS ditembak jatuh di atas Ambon, bangsa Indonesia bisa melihat 

langsung bahwa Amerika Serikat memang benar-benar berusaha untuk 

mencerai-beraikan tanah air mereka.

Hasil peninjauan kembali pemerintahan Eisenhower ialah pemba-

likan kebijakan di Washington. Alih-alih mencoba melucuti Indonesia, 

Amerika Serikat akan mendukung para perwira Angkatan Darat yang 

antikomunis di Jakarta dan bersandar kepada mereka untuk menegah 

gerak PKI. Kebijakan baru ini memperoleh perumusannya secara siste-

matik di dalam sebuah dokumen Dewan Keamanan Nasional (NSC), 

“Laporan Khusus Tentang Indonesia” yang ditulis dalam Januari 1959.6 

NSC melihat Angkatan Darat sebagai “perintang utama terhadap per-

kembangan kekuatan komunis lebih lanjut.” Kekuatan sipil nonkomunis 

di dalam partai-partai politik “dengan dukungan Angkatan Darat bisa 

berbalik melawan partai komunis di gelanggang politik.” Dokumen 

NSC menganjurkan Eisenhower agar memperkuat hubungan AS dengan 

tentara Indonesia agar institusi ini mampu “memerangi kiprah kaum 

komunis.” Untuk memastikan bahwa pimpinan Angkatan Darat mau 

dan mampu memenuhi peranannya sebagai ujung tombak kekuatan 

antikomunis, Gedung Putih menyumbang perlengkapan dalam jumlah 

besar-besaran.

Strategi baru AS untuk memerangi PKI ini sungguh canggih, 

terutama jika dibandingkan dengan kekasaran strateginya yang lama. 

NSC menyadari bahwa PKI sudah mendapat kepercayaan nasional yang 

tak termakzulkan. Partai ini terorganisasi dengan sangat baik, berdisiplin 

tinggi, dan luar biasa populer. Menurut penilaian NSC, PKI “mungkin 

sekali akan tumbuh sebagai partai terbesar di Indonesia” jika Sukarno 

tidak menangguhkan pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada 1959.8 

Angkatan Darat tidak bisa asal menyerang kaum komunis dengan cara 

berangasan, “Tindakan terang-terangan menindas PKI akan sulit dibe-

narkan atas dasar politik dalam negeri, dan akan menghadapkan peme-

rintahan siapa pun yang mengambil tindakan ini  kepada tuduhan 

telah takluk kepada tekanan Barat.”9 Angkatan Darat harus mendekati 

PKI dengan kelihaian musang berbulu ayam. Setiap serangan terhadap 

PKI harus bisa dibenarkan sesuai dengan rambu-rambu nasionalisme 

Indonesia yang diperjuangkan oleh partai itu sendiri.

Siasat yang digunakan yaitu  terus-menerus memprovokasi PKI 

agar melakukan tindakan gegabah yang akan menampilkan partai ini  

sebagai antinasional. Dokumen NSC tahun 1959 menekankan bahwa 

dalam memberi  bantuannya kepada Angkatan Darat Amerika Serikat 

harus memprioritaskan “permintaan bantuan untuk program dan proyek 

yang akan membuka kesempatan untuk mengisolasi PKI, menggiring 

partai ke posisi bertentangan secara terang-terangan dengan pemerintah 

Indonesia, sehingga dengan demikian terciptalah alasan-alasan untuk 

melakukan tindakan represif yang secara politik bisa dibenarkan dari 

sudut kepentingan Indonesia sendiri.”10 Strategi tetap AS dari 1959 

sampai 1965 ialah membantu para perwira Angkatan Darat mempersiap-

kan diri untuk melakukan serangan hebat terhadap PKI. Howard Jones, 

Duta Besar di Jakarta selama tujuh tahun (1958-1965) dan salah seorang 

arsitek utama kebijakan ini , memasok anasir kesinambungan yang 

penting bagi tiga pemerintahan AS, Eisenhower-Kennedy-Johnson.

MENATA PANGGUNG UNTUK BENTROKAN

Sejalan dengan kebijakan pembangunan Angkatan Darat sebagai 

benteng perlawanan terhadap PKI, pemerintah AS memberi pelatihan 

kepada perwira-perwira Angkatan Darat di Amerika Serikat, memberi 

sumbangan dan menjual persenjataan, serta memberi bantuan keuangan. 

 

Panglima Angkatan Darat Jenderal Nasution yaitu  “anak mas” Amerika; 

kegigihan semangat antikomunisnya meyakinkan para pembesar di 

Washington bahwa Angkatan Darat benar-benar merupakan harapan 

paling baik untuk menjinakkan PKI. Berulang kali Nasution memberi 

jaminan kepada para pejabat AS bahwa Angkatan Darat tidak akan 

pernah membiarkan PKI merebut kekuasaan. Gabungan kepala-kepala 

staf AS memberi pembenaran bantuan untuk Angkatan Darat Indonesia 

pada 1958 sebagai dorongan bagi Nasution agar “melaksanakan ‘rencana’-

nya untuk mengendalikan kaum komunis.”11 Sesudah Sukarno me-

nyingkirkan Nasution pada Juni 1962, mengangkatnya untuk jabatan 

administratif sebagai panglima angkatan bersenjata, dan dengan demikian 

membebaskannya dari jabatan sebagai panglima pasukan, penggantinya, 

Letnan Jenderal Yani, meneruskan sikap antikomunis yang sama.

Dalam Agustus 1958 Amerika Serikat memulai program bantuan 

militer dengan memasok perlengkapan untuk militer, khususnya Angkatan 

Darat, dan melatih para perwira di Amerika Serikat. Dari 1958 sampai 

1965 Amerika Serikat setiap tahun mengeluarkan sekitar $10 juta sampai 

$20 juta untuk bantuan militer Indonesia.12 Program pendidikan perwira 

Angkatan Darat Indonesia di sekolah-sekolah seperti di Fort Bragg dan 

Fort Leavenworth merupakan program yang menyeluruh. Dari 1950 

sampai 1965 sekitar 2.800 perwira Angkatan Darat Indonesia dikirim ke 

Amerika Serikat untuk sekolah – sebagian besar sesudah 1958. Jumlah itu 

kira-kira merupakan seperlima sampai seperempat dari seluruh jumlah 

perwira Angkatan Darat.13 Melalui pendidikan ini Amerika Serikat bisa 

membangun kontak-kontak yang luas dengan Angkatan Darat Indonesia. 

Tentu saja tidak semua perwira yang disekolahkan di Amerika Serikat 

menjadi pengikut-pengikut setia perjuangan antikomunis. Tapi program 

yang berskala sedemikan besar tentu membawa pengaruh terhadap 

wawasan politik sementara perwira. Pada awal 1960-an para pejabat AS 

memang merasa telah memperoleh sukses dengan program itu. Pada 

1964 Dean Rusk menulis sebuah memo kepada Presiden Johnson untuk 

menjelaskan bahwa bantuan AS kepada tentara Indonesia dari sudut 

kemiliteran kecil saja artinya tapi “memungkinkan kita untuk menjalin 

hubungan tertentu dengan elemen-elemen kunci di Indonesia yang menaruh 

perhatian dan mampu melawan perebutan kekuasaan oleh kaum komunis” 

(kursif penegas sesuai aslinya)

Selain melatih perwira, pemerintah AS juga menggalakkan 

“civic action.” Walaupun pada mulanya Amerika Serikat membentuk 

civic action untuk militer dalam perjuangan melawan perang gerilya, 

Amerika Serikat berniat melaksanakannya di Indonesia sebagai sarana 

penangkal pengaruh politik PKI. Pemerintah AS merumuskan civic 

action sebagai penggunaan militer “pada proyek-proyek yang berguna 

bagi segala tingkatan penduduk setempat dalam bidang-bidang seperti 

pendidikan, pelatihan, pekerjaan umum, pertanian, transportasi, komu-

nikasi, kesehatan, sanitasi dan lain-lain yang memberi  sumbangan 

bagi pembangunan ekonomi dan sosial, yang juga akan berguna bagi 

bertambah baiknya posisi angkatan bersenjata di tengah warga .”15 

Inilah sebuah program, yang dalam istilah klise, untuk merebut hati 

dan pikiran. Dengan civic action tentara Indonesia harus melibatkan diri 

dalam kegiatan-kegiatan yang biasanya dijalankan kaum sipil. Prajurit 

menjadi pejabat di dalam pemerintahan sipil, seperti misalnya lurah 

desa, dan membangun proyek-proyek prasarana, seperti jembatan dan 

jalan. Pada 1962 NSC mendorong gagasan untuk memperkuat peranan 

tentara Indonesia dalam “kegiatan-kegiatan pembangunan ekonomi dan 

sosial.”16

Dipimpin oleh konsepsi Nasution tentang “perang teritorial,” pada 

praktiknya sejak awal 1950-an tentara Indonesia telah menempatkan 

dirinya di tengah kehidupan sipil. Apa yang diusulkan oleh pemerin-

tah Kennedy pada awal 1960-an yaitu  dukungan AS untuk program 

Angkatan Darat Indonesia yang sudah berjalan.17 Program civic action 

Angkatan Darat Indonesia yang baru diresmikan itu sebagian besar di 

bawah pimpinan Kolonel George Benson, yang jabatan resminya dari 

Agustus 1962 sampai Juli 1965 yaitu  pembantu khusus duta besar 

AS untuk urusan civic action. Benson mendapat kepercayaan penuh 

dari Panglima Angkatan Darat Yani, yang telah dikenal Benson sejak 

saat ia menjadi atase militer AS di kedutaan besar di Jakarta (1956-

1959), sehingga ia dibiarkan leluasa bekerja di kalangan Angkatan Darat 

Indonesia.18

Satu manfaat civic action ialah program ini memberi  selubung 

bagi operasi rahasia terhadap PKI. Komite NSC untuk pengikisan 

pemberontakan (counterinsurgency) pada Desember 1961 menyetujui 

pengeluaran biaya untuk Indonesia  “guna menyokong kegiatan-kegiatan 


 

civic action dan antikomunis,” yang akan memuat “pelatihan rahasia 

bagi personil militer dan sipil terpilih, yang akan ditempatkan pada 

kedudukan-kedudukan kunci di dalam [di sini sensor mencatat peng-

hapusan ‘kurang dari 1 baris teks asli’] program civic action.”19 Banyaknya 

bagian tulisan yang dihilangkan dari dokumen yang telah dideklasifi kasi 

ini memberi kesan bahwa program civic action meliputi operasi-operasi 

terselubung yang peka di Indonesia.

Angkatan Darat Indonesia mengikuti strategi gaya Gramsci dalam 

versinya sendiri: menerabas ranah-ranah strategis dalam warga  sipil 

sebelum melancarkan usaha merebut kekuasaan negara. Angkatan Darat 

mempunyai “golongan fungsional”-nya sendiri, yaitu Golongan Karya 

(Golkar), yang mirip dengan partai politik; serikat buruh, yaitu Sentral 

Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia (SOKSI); surat kabar, yaitu 

Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha; sekelompok tokoh-tokoh budaya 

yang bekerja sama erat dengan para perwira antikomunis (misalnya 

penulis Wiratmo Sukito, pemrakarsa Manifes Kebudayaan yang telah 

menyulut badai kontroversi pada 1963). Dengan menumbuhkan 

berbagai sayap dan front yang sangat luas, Angkatan Darat menjadikan 

dirinya sendiri sebagai bayangan serupa PKI. Undang-undang keadaan 

darurat perang yang diumumkan pada Maret 1957 sebagai jawaban 

terhadap pemberontakan PRRI/Permesta memberi kekuasaan istimewa 

kepada Angkatan Darat untuk campur tangan dalam kehidupan politik 

sipil. Seperti Daniel Lev mengatakan, “Undang-undang keadaan darurat 

perang telah menjadi piagam politik Angkatan Darat.”20 Para panglima 

Angkatan Darat di daerah-daerah melakukan pembatasan terhadap pers, 

menahan tokoh-tokoh politik, dan memberlakukan undang-undang tak 

tertulis mereka sendiri. Nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda 

dalam Desember 1957 memberi kesempatan bagi Angkatan Darat 

memasuki dunia perekonomian. Banyak panglima menjadi pengusaha, 

memperoleh keuntungan berlimpah dari perkebunan, pabrik, usaha 

impor-ekspor, dan penyelundupan.21 Mereka menumpuk dana yang 

cukup besar untuk membiayai usaha mereka menerobos tempat-tempat 

strategis di tengah warga  sipil. Pada akhir 1950-an dan awal 1960-an 

Angkatan Darat di bawah Nasution mendesakkan bentuk negara korpo-

ratis, militer, yang di dalamnya partai politik dihapus dan ranah publik 

dikosongkan dari pertarungan politik.22 Pada 1958 politikus veteran T

Sjahrir memperingatkan bahwa perwira-perwira Nasution memendam 

“cita-cita militeristik dan fasis” untuk pemerintah Indonesia.23

Banyak pejabat dari kalangan pemerintahan Kennedy percaya bahwa 

ketertiban politik dan pembangunan ekonomi di negara-negara Dunia 

Ketiga tertentu bisa tercapai dengan baik melalui pemerintahan militer. 

Para pejabat AS ini beranggapan bahwa militer sering kali merupakan 

lembaga yang terorganisasi paling baik, dan oleh sebab  itu paling layak 

memimpin pemerintahan. Seorang ilmuwan politik, Lucien Pye, dari Mas-

sachusetts Institute of Technology menyatakan bahwa tentara di negeri-

negeri praindustri bisa menjadi “agen-agen modernisasi” sebab  mereka 

cenderung “mengutamakan pandangan rasional dan memperjuangkan 

perubahan yang bertanggung jawab dan pembangunan nasional.” Para 

perwira Angkatan Darat menghargai “kemajuan teknologi,” dapat 

memajukan “rasa kewarganegaraan,” dan mampu “memperkuat fungsi-

fungsi yang pada hakikatnya administratif.”24 Walt Rostow mengepalai 

sebuah tim di Departemen Luar Negeri yang pada Januari 1963 menulis 

laporan berjudul “Th e Role of the Military in the Underdeveloped Areas” 

(Peranan Militer di Kawasan yang Belum Berkembang), yang menyodor-

kan gagasan mendorong militer di beberapa negara untuk mengambil 

alih fungsi-fungsi negara dan mengabaikan prinsip supremasi sipil.25 

Pemerintah Kennedy berharap Angkatan Darat Indonesia menjadi negara 

di dalam negara.

Pimpinan tertinggi Angkatan Darat Indonesia memandang dirinya 

sendiri dengan cara yang sama. Pada awal 1960-an pimpinan ini telah 

mempersiapkan diri untuk mengambil alih kekuasaan negara. Guy 

Pauker, seorang ahli terkemuka AS untuk urusan militer Indonesia yang 

berafi liasi baik dengan Rand Corporation maupun University of Califor-

nia-Berkeley, melihat bahwa Nasution mengikuti strategi jangka panjang 

yang cerdik “untuk menjadikan Angkatan Darat Indonesia sebuah orga-

nisasi, yang pada akhirnya dapat memantapkan dan mengembangkan 

negeri ini .”26 Nasution tidak ingin mengambil alih kekuasaan negara 

sebelum Angkatan Darat tertata ketat sebagai suatu lembaga yang terpusat 

dan “mampu memerintah Indonesia”; jenderal ini sadar bahwa Angkatan 

Darat tidak bisa melancarkan kudeta terhadap Presiden Sukarno sebab  

ia terlalu populer. “Setiap serangan politik secara langsung terhadapnya 

pasti akan gagal.”27 Angkatan Darat tidak bisa mendongkel Sukarno 


 

tanpa memicu perang saudara yang tak terkendalikan. Pauker tidak 

optimistis akan keberhasilan strategi jangka panjang Nasution – baik 

Sukarno maupun PKI mempunyai kemungkinan untuk menggagalkan-

nya. Tapi Pauker melihat bahwa Angkatan Darat merupakan satu-satunya 

harapan sejati untuk menghancurkan kaum komunis. Angkatan Darat 

merupakan “titik penggalangan kekuatan elemen-elemen antikomunis” 

dalam warga  sipil.28

Pauker mulai bersekutu dengan Wakil Direktur Sekolah Staf 

Komando Angkatan Darat (Seskoad), Kolonel Suwarto, yang sedang 

mempersiapkan para perwira rekan-rekannya untuk peranan mereka 

sebagai penguasa masa depan.29 Suwarto, lulusan program pendidikan 

di Fort Leavenworth pada 1959, terkenal sebagai musuh pribadi Presiden 

Sukarno. Hanya berkat perlindungan Yani, Suwarto bisa tetap memegang 

posisi berpengaruh dalam Angkatan Darat dan meneruskan persekong-

kolannya melawan Sukarno.30 Tentu saja Angkatan Darat tidak bisa 

secara terbuka membahas rencana perebutan kekuasaan negara. Suwarto 

dan rekan-rekannya yang berhaluan sama di Seskoad bekerja dengan cara 

yang licin. Misalnya, mereka mengatur agar ekonom-ekonom berpendi-

dikan AS di Universitas Indonesia pergi ke Bandung untuk memberi  

seminar-seminar kepada para perwira Angkatan Darat. Ekonom-ekonom 

ini pada umumnya mengenyam pendidikan di Berkeley, atas santunan 

Ford Foundation. Seorang guru besar dari Berkeley yang mengepalai 

proyek ini, Bruce Glassburner, tinggal selama tiga tahun di Indonesia 

(1958-1961) dan belakangan mengenang bahwa para perwira Angkatan 

Darat di Seskoad ingin belajar tentang ekonomi agar mereka bisa meme-

rintah dengan bijak jika mereka telah mengambil alih kekuasaan negara: 

“Mengingat keadaan ekonomi Indonesia yang gawat pada awal dan per-

tengahan 1960-an, mereka dengan mudah memahami bahwa bila terjadi 

perubahan politik yang akan membawa militer ke tampuk kekuasaan, 

penyelesaian dengan cepat masalah-masalah ekonomi terburuk harus 

menjadi prioritas paling utama.”31 Para ekonom yang mengajar di 

Seskoad, misalnya Muhammad Sadli, belakangan dikenal sebagai apa 

yang disebut teknokrat dan mafi a Berkeley dari rezim Suharto.32

Di antara para perwira yang mengikuti seminar Seskoad ialah 

Suharto. Saat itu ia baru saja dipecat dari kedudukannya sebagai panglima 

Angkatan Darat di Jawa Tengah atas tuduhan korupsi, tapi perwira-

perwira atasannya memutuskan bahwa operasi penyelundupannya di 

pelabuhan Semarang tidak cukup berat untuk melahirkan penuntutan. 

Mereka tidak mengumumkan alasan pemecatannya. Tuduhan dipeties-

kan, dan ia dikirim ke Seskoad pada akhir 1959. Di sekolah ini ia ada 

di bawah pengaruh Suwarto. Seorang sejarawan militer Indonesia, Ulf 

Sundhaussen, menulis bahwa di Seskoad Suharto “terlibat dalam penyu-

sunan Doktrin Perang Teritorial dan kebijakan Angkatan Darat tentang 

Civic Mission (yaitu penetrasi para perwira Angkatan Darat ke dalam 

segala bidang kegiatan dan tanggung jawab pemerintah).”33 Suwarto 

mengajar para perwira agar berpikir tentang Angkatan Darat sebagai 

sebuah lembaga yang mempunyai hak dan kemampuan untuk melibat-

kan diri di dalam memimpin negeri ini. Walaupun Suharto tidak pergi 

belajar di Amerika Serikat, ia tentu tahu tentang harapan AS terhadap 

Angkatan Darat, baik sebagai benteng antikomunis maupun sebagai 

pemerintah bayangan.

Belakangan Yani dan stafnya merekrut Suharto untuk memainkan 

peranan rahasia yang penting dalam usaha mereka untuk menggembosi 

konfrontasi, kampanye anti-Malaysia Sukarno. Pada mulanya jenderal-

jenderal Angkatan Darat tidak menentang kampanye yang dilontarkan 

pada September 1963 sebab  kampanye itu membuahkan kenaikan 

dana. Tapi saat  pertempuran-pertempuran kecil menghebat dalam 

pertengahan sampai akhir 1964, mereka ingin mencegahnya berkembang 

menjadi perang besar melawan militer Inggris, yang melindungi Malaysia. 

Untuk menghindari pertikaian dengan Sukarno, yang dikenal suka men-

campuri urusan pengangkatan dalam Angkatan Darat jika ia tidak senang, 

di muka umum jenderal-jenderal itu tetap mendukung konfrontasi. 

Namun sementara itu mereka memakai  berbagai cara terselubung 

untuk menyabotnya. Mereka berusaha memengaruhi Sukarno agar mere-

organisasi komando militer untuk konfrontasi. Sukarno merasa perlu 

mengadakan perubahan sesudah  mengalami kegagalan yang memalukan 

dalam serangan-serangan rahasia terhadap Malaysia pada pertengahan 

1964, dan menyetujui usul Angkatan Darat dengan memberi nama baru 

komando multitugas ini sebagai Komando Mandala Siaga (Kolaga) pada 

September 1964. Ia juga mengesahkan dimasukkannya Suharto sebagai 

Wakil Panglima Kolaga pada 1 Januari 1965.34

Dari kedudukannya sebagai orang kedua dalam komando, Suharto 


 

terus mendesakkan wewenang yang lebih besar dari Panglima Kolaga, 

Laksamana Madya AURI Omar Dani.35 Suharto yang menentukan 

penempatan personil dan persenjataan Angkatan Darat yang ditugasi 

untuk kampanye anti-Malaysia. Pada waktu itu pangkalan operasi 

Suharto ialah Kostrad, pasukan cadangan Angkatan Darat, yang sejak 

Mei 1963 ada di bawah komandonya. Suharto memperlambat kegiatan 

pengiriman pasukan, dan membiarkan pasukan-pasukan yang ditem-

patkan dekat perbatasan Malaysia terus-menerus kekurangan personil 

dan perlengkapan. Omar Dani, sebagai Panglima AURI, tidak bisa 

memaksa Angkatan Darat untuk tunduk kepada sasaran-sasaran yang 

telah ditetapkannya. Pasukan-pasukan yang ditempatkan di Sumatra, 

di bawah komando Kolonel Kemal Idris, musuh lama Sukarno, yang 

pengangkatannya merupakan taktik lain untuk menyabot konfrontasi, 

tidak diberi kapal-kapal pengangkut sehingga menghalangi mereka untuk 

menyerbu Malaysia.36

Suharto dan agen-agen intelijennya di Kostrad juga menyabot kon-

frontasi dengan menghubungi wakil-wakil Malaysia dan Inggris secara 

diam-diam dan meyakinkan mereka bahwa Angkatan Darat menentang 

pertempuran-pertempuran kecil yang berlangsung dan akan berusaha 

membatasinya. Barangkali Yani dan kepala intelijennya, S. Parman, 

mempercayakan kepada Suharto tugas yang peka ini sehingga mereka 

bisa dengan tenang mengingkarinya seandainya komplotan mereka ter-

bongkar. Pada Juli atau Agustus 1964 Suharto memerintahkan perwira 

intelijennya di Kostrad, Mayor Ali Moertopo, agar memberi tahu musuh 

tentang maksud sebenarnya Angkatan Darat.37 Untuk memudahkan 

dalam berkomunikasi dengan para pejabat Malaysia, Ali Moertopo 

memakai  orang-orang sipil Indonesia yang pernah terlibat dalam 

pemberontakan PRRI/Permesta pada 1957-1958, dan telah memilih 

hidup di pengasingan di Singapura dan Malaysia.38 Pada Januari 1965 

Suharto memanggil teman lamanya, Kolonel Yoga Sugama dari Belgrado, 

saat  itu ia atase militer di sana, untuk segera kembali ke Indonesia agar 

bisa membantu “mengerem” konfrontasi.39 Yoga mengambil alih tugas 

Moertopo. Disamping itu, Mayor Benny Moerdani, perwira Kostrad 

sejak Januari 1965, dikirim ke Bangkok untuk menghubungi para 

pejabat yang pro-Barat di sana. Untuk penyamaran statusnya ia bekerja 

sebagai manajer penjualan di kantor maskapai penerbangan Indonesia, 

Garuda.40 

Salah satu alasan mengapa Suharto dan perwira-perwira Kostrad 

menentang konfrontasi ialah sebab  operasi ini mengalihkan sumber 

daya Angkatan Darat dari kampanye melawan PKI. Bagian intelijen di 

Kostrad pada pertengahan 1964 menulis laporan rahasia yang menya-

takan bahwa konfrontasi mengacaukan upaya Angkatan Darat untuk 

mengendalikan PKI.41 Terlalu banyak pasukan dipusatkan di sepanjang 

perbatasan dengan Malaysia, bukan ditempatkan di tengah masyara-

kat sipil Indonesia, terutama warga  Jawa. Sebuah laporan rahasia 

pemerintah AS yang muncul belakangan menulis bahwa militer lebih 

suka mengakhiri konfrontasi agar pasukan bisa dikembalikan ke induk 

pangkalan mereka sendiri “untuk dipersiapkan bagi konfrontasi terhadap 

PKI dan kaum ekstremis lainnya di masa yang akan datang.”42

TAHUN BENTROKAN

Dilatih, dipersenjatai, didanai, dan didorong oleh Amerika Serikat untuk 

menyerang PKI, pimpinan tertinggi Angkatan Darat pada Januari 1965 

memutuskan untuk memulai perencanaan kemungkinan melakukan 

serangan. Serangkaian peristiwa memancing Yani dan lingkaran ter-

dekatnya untuk percaya bahwa kekuasaan Presiden sudah mulai kurang 

mantap dan, akibatnya, ancaman PKI menjadi makin meningkat. 

Kesehatan Sukarno memburuk, seperti ditunjukkan oleh gangguan 

pada ginjalnya yang mengharuskannya dioperasi pada Desember 1964. 

Ia juga menjadi semakin terisolasi di gelanggang internasional. Dalam 

menanggapi persetujuan Dewan Keamanan PBB yang memberi  kursi 

keanggotaan untuk Malaysia, pada 7 Januari 1965 Sukarno mengu-

mumkan bahwa Indonesia menyatakan keluar dari PBB. Kebijakannya 

tentang konfrontasi terhadap Malaysia membuat PKI berani menuntut 

agar ribuan, jika bukan jutaan, rakyat sipil dipersenjatai dan diorga-

nisasi sebagai angkatan kelima, yaitu angkatan baru di dalam keten-

taraan. Dengan kemungkinan dipersenjatainya PKI, jenderal-jenderal 

Angkatan Darat menyadari bahwa konfrontasi bergulir cepat di luar 

kendali mereka. Menurut analisis CIA tentang G-30-S yang telah 

diterbitkan, Yani dan empat jenderal lain mulai bertemu pada Januari 

 

1965 “untuk merundingkan situasi politik yang memburuk dan apa 

yang harus dilakukan Angkatan Darat menghadapi hal itu. Kelompok 

ini, yang dikenal sebagai ‘brain trust’ [kelompok pemikir], melibatkan 

keempat jenderal ini , yaitu: Jenderal Suprapto, Jenderal Harjono, 

Jenderal Parman, dan Jenderal Sukendro.” Jenderal-jenderal ini bertemu 

“secara teratur, [dan] rahasia.”43 Tiga jenderal ini  pertama yaitu  

anggota staf umum Yani (SUAD). Jenderal terakhir, Sukendro, pernah 

memimpin penindasan terhadap PKI pada Juli-September 1960, dan 

pada saat itu, bersama jenderal-jenderal lain dari Angkatan Darat yang 

antikomunis garis keras, mendesak Nasution agar melakukan kudeta 

terhadap Sukarno. Sukarno mengajak Angkatan Darat mencapai sebuah 

kompromi yang berujung pada berakhirnya penindasan terhadap PKI 

dan pengiriman Sukendro ke pengasingan selama tiga tahun.44 Dalam 

tahun-tahun pengasingan itu Sukendro belajar di University of Pittsburgh 

dan menjalin kontak lebih dekat dengan para pejabat AS dan CIA. Yani 

memanggil kembali Sukendro ke Angkatan Darat pada 1963, kemudian 

memberinya kepercayaan merancang komplotan tingkat tinggi, memulai 

kembali apa yang pernah diusahakannya dengan begitu kasar pada 1960: 

mengganyang PKI dan mendongkel Sukarno.

Informasi tentang kelompok para jenderal pilihan Yani itu bocor. 

Sukarno mendengar desas-desus tentang Dewan Jenderal dan memanggil 

Yani ke istana pada 22 Mei 1965 untuk dimintai keterangan. Seperti 

diakui CIA, kelompok pemikir dalam lingkaran Yani ini hampir bisa 

dipastikan yaitu  kelompok yang dimaksud PKI pada saat memperingat-

kan Sukarno.45 Yani berpendapat bahwa sementara orang telah keliru 

tafsir mengenai dewan kenaikan pangkat di kalangan perwira tinggi 

Angkatan Darat, Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti), 

sebagai Dewan Jenderal.

Duta Besar AS, Howard Jones, mendengar tentang diskusi yang 

dilakukan kelompok pemikir Yani pada Januari 1965. Jones mengirim 

kawat kepada atasannya di Washington bahwa seorang informan kedutaan 

besar, yang baru saja kembali dari sebuah rapat dengan Jenderal Parman, 

melaporkan, Angkatan Darat sedang “menyusun rencana khusus untuk 

mengambil alih pemerintahan pada saat Sukarno turun panggung.” 

Walaupun perencanaan yang didasarkan pada beberapa kemungkinan 

ini dibuat “dengan tujuan masa pasca-Sukarno,” beberapa perwira dari 

“komando puncak militer  mendorong agar kup dilancarkan sebelum 

Sukarno meninggal jika PKI berhasil membentuk pasukan milisi 

bersenjata. Informan itu menjelaskan, jika Angkatan Darat memang 

mengambil alih kekuasaan sebelum Sukarno meninggal, “kup akan 

diselenggarakan sedemikian rupa untuk menjaga agar kepemimpinan 

Sukarno tetap utuh.” Kup ini  akan merupakan kup yang tidak 

tampak seperti kup. Informan Jones bahkan menyatakan bahwa bahkan 

para penghujat Presiden di dalam tubuh Angkatan Darat pun “yakin 

bahwa tidak mungkin terjadi kup apa pun terhadap Sukarno yang akan 

berhasil. Ia masih tetap dicintai rakyat.” Jones memandang informasi itu 

bisa dipercaya, sebab  informannya merupakan sebuah “sumber yang 

sangat bagus.”46

Diplomat berpengalaman Ellsworth Bunker, yang dikirim ke Jakarta 

pada April 1965 untuk melakukan penilaian menyeluruh terhadap 

hubungan AS - Indonesia, membenarkan tinjauan tentang Sukarno 

yang tidak bisa diserang itu. “Tidak perlu disangsikan kesetiaan rakyat 

Indonesia kepada Sukarno,” tulisnya dalam laporannya kepada Presiden 

Johnson. Bangsa Indonesia “dalam jumlah yang besar mengharapkan 

kepemimpinan darinya, mempercayai kepemimpinannya, dan bersedia 

mengikutinya. Tak ada kekuatan di tanah air yang bisa menyerangnya, 

tidak pula ada bukti bahwa suatu kelompok penting ingin berbuat 

demikian.”47

Agar sebuah kudeta berhasil di Indonesia, ia harus diberi kedok yang 

sebaliknya: usaha untuk menyelamatkan Presiden Sukarno. Angkatan 

Darat harus tampil sebagai penyelamat Sukarno dan bukan sebagai 

penggali liang kubur baginya. Masalahnya bagi Angkatan Darat yaitu  

bahwa kudeta berkedok seperti itu memerlukan adanya suatu dalih. 

Seperti di atas sudah saya kemukakan, sampai 1959 Dewan Keamanan 

Nasional AS telah memahami bahwa penindasan terhadap PKI haruslah 

“bisa dibenarkan secara politik dari sudut kepentingan Indonesia sendiri”; 

PKI harus diarahkan “masuk posisi sebagai oposisi terbuka terhadap 

pemerintah Indonesia.” Dalih untuk kup yang masuk akal haruslah 

merupakan percobaan kup oleh PKI. Duta Besar Jones berbicara pada 

sebuah rapat tertutup para pejabat Departemen Luar Negeri di Filipina 

pada Maret 1965, “Dari sudut pandangan kita, tentu saja, percobaan 

kup yang gagal oleh PKI kiranya merupakan perkembangan yang paling 


 

efektif untuk memulai pembalikan kecenderungan politik di Indonesia.” 

Jones berharap PKI akan mengajukan kepada Angkatan Darat “tantangan 

tegas yang bisa merangsang reaksi yang efektif.”48

Jones tidak sendiri dalam berpikir tentang “usaha kup yang gagal 

oleh PKI” sebagai dalih yang ideal. Gagasan ini beredar luas di kalangan 

korps diplomatik di negara-negara yang bersahabat dengan Amerika 

Serikat. Edward Peck, wakil Menlu di Kementerian Luar Negeri Inggris, 

menyarankan “sebab nya barangkali banyak yang harus dibicarakan 

untuk mendorong PKI melakukan kup prematur selagi Sukarno masih 

hidup.”49 Menjawab Peck, Komisaris Tinggi Selandia Baru di London, 

pada Desember 1964 dengan tegas mengatakan bahwa kup prematur PKI 

“boleh jadi merupakan cara penyelesaian yang paling berguna bagi Barat 

– asal kup itu gagal.”50 Gagasan ini bahkan meluas sampai ke Kementerian 

Luar Negeri Pakistan. Seorang perwira intelijen Belanda pada Organisasi 

Pertahanan Atlantik Utara (NATO, North Atlantic Treaty Organization) 

memberi tahu Duta Besar Pakistan di Eropa Barat tentang gagasan ini 

pada Desember 1964. Duta Besar itu, sesuai dengan tugasnya, melapor 

kepada atasannya di Islamabad bahwa suatu “kup komunis prematur” 

yang “sengaja dirancang untuk gagal” akan memberi “kesempatan 

yang sah dan memuaskan bagi Angkatan Darat untuk menghancurkan 

komunis dan membikin Sukarno sebagai tawanan niat baik Angkatan 

Darat.”51 Gagasan itu rupanya dipandang sangat pintar sehingga menjadi 

bahan senda gurauan dalam kalangan elite. Inilah mungkin sebabnya 

mengapa Jones memakai  kata-kata “tentu saja” saat  memulai 

pembicaraan tentang soal ini dengan rekan-rekannya di Departemen 

Luar Negeri, seakan-akan mereka itu sudah mengetahuinya.

Baik pemerintah Amerika Serikat maupun komando tertinggi 

Angkatan Darat Indonesia melewatkan 1965 untuk menunggu terjadinya 

semacam aksi dramatis dari PKI yang akan memberi  pembenaran 

bagi penindasan terhadapnya. Sementara pihak bahkan memberi saran 

yang membantu, yaitu agar Amerika Serikat bertindak selaku katalisator 

untuk bentrokan yang sangat dinantikan ini. Pada Maret seorang analis 

di Departemen Luar Negeri di Washington mempertanyakan, “Apakah 

ada sesuatu yang akan membikin bentrokan [semacam itu] tidak bisa 

dielakkan?”52 Ellsworth Bunker, dalam laporannya bulan April, meng-

anjurkan, agar “AS harus diarahkan untuk menciptakan kondisi yang 

akan memberi elemen-elemen kekuatan yang potensial kondisi-kondisi 

yang paling menguntungkan untuk konfrontasi.”53

Amerika Serikat “menciptakan kondisi” melalui operasi-operasi 

rahasia. Sebuah komisi NSC menyetujui proposal pada Maret 1965 

untuk aksi-aksi rahasia, misalnya “menyokong kelompok-kelompok 

antikomunis yang ada,” “operasi-operasi black letter [surat kaleng]” dan 

“operasi-operasi media.” Rencananya yaitu  “menggambarkan PKI 

sebagai penentang Sukarno dan nasionalisme yang sah yang semakin 

ambisius dan berbahaya,” dan dengan demikian menyatukan semua 

elemen nonkomunis untuk melawan PKI. Proposal ini menyebutkan 

bahwa “tokoh-tokoh nasionalis terkemuka” di Indonesia telah diberi 

“sejumlah dana” melalui “saluran-saluran yang aman,” sehingga mereka 

bisa “mengambil langkah perintang terhadap PKI.”54

Pemerintah AS menjadi sangat mengharapkan terjadinya bentrokan 

antara Angkatan Darat dan PKI pada 1965 sebab  hubungan AS dengan 

pemerintah Sukarno dengan cepat memburuk. Para demonstran militan 

menyerang banyak kantor konsulat dan perpustakaan pemerintah AS. 

Reaksi Sukarno yang ogah-ogahan terhadap serangan-serangan pada 

Februari dan Maret ini mengesankan bahwa ia mengipasi demon-

strasi-demonstrasi itu. Amerika Serikat menempuh apa yang dinamai 

“low-posture policy” (kebijakan merunduk). Kebijakan ini memerlukan 

penarikan mundur sebagian besar personil kedutaan besar (yang mencapai 

empat ratus orang pada April dan tiga puluh lima orang pada Agustus), 

penghentian bantuan kepada pemerintah Sukarno, dan kelanjutan 

hubungan dengan pimpinan Angkatan Darat dengan harapan mereka 

akan bertindak melawan PKI dan Sukarno. Pos CIA tetap dipertahankan 

dengan kontingen lengkap beranggotakan dua belas orang (delapan staf 

operasional dan empat staf administrasi) agar badan ini bisa meneruskan 

kegiatan rahasia mereka.55

Sambil meringkuk dalam-dalam, para pejabat Kedutaan Besar AS 

yakin bahwa bentrokan penentuan melawan PKI sudah hampir tiba. 

Pada April Bunker menulis, “Ketertampakan AS harus dikurangi sehingga 

mereka yang menentang kaum komunis dan ekstremis bisa leluasa meng-

hadapi konfrontasi, hal yang mereka yakini akan terjadi, tanpa kekha-

watiran akan diserang sebagai pembela-pembela kaum neokolonialis 

dan imperialis.”56 Marshall Green, pengganti Jones sebagai Duta Besar 

 

AS pada Juli 1965, diberi wewenang untuk menempuh garis lebih keras 

terhadap Sukarno. Penilaian Green sesudah sekitar satu bulan di Jakarta 

yaitu  bahwa prioritas AS harus “tetap memelihara hubungan apa saja 

yang mungkin dengan Angkatan Darat dan elemen-elemen lain dalam 

struktur kekuasaan, dengan memandang pada periode pasca-Sukarno.”57 

Selama masa jabatan Green Kedutaan Besar AS bertiarap sambil berharap 

bahwa kontak-kontak kedutaan besar di dalam Angkatan Darat akan 

bertindak melawan PKI dan Sukarno. Seperti dijelaskan seorang staf 

NSC kepada Presiden Johnson, “Sasaran utama tetap mengarungi badai 

panjang dengan menutup rapat-rapat lubang palka (mengurangi jumlah 

staf diplomatik) dalam usaha memainkan pertaruhan jangka panjang 

pasca-Sukarno.”58 Amerika Serikat memutuskan untuk tidak melakukan 

pemutusan hubungan sama sekali dengan Indonesia sehingga dengan 

demikian ia dapat terus melakukan hubungan dengan sekutu-sekutu 

antikomunisnya dalam Angkatan Darat.

Salah seorang Amerika yang mempunyai hubungan paling dekat 

dengan Angkatan Darat Indonesia ialah George Benson, penasihat civic 

action untuk Angkatan Darat Indonesia. Ia mempunyai hubungan pribadi 

yang erat dengan Yani dan banyak perwira dari SUAD. Sebelum Benson 

kembali ke Amerika Serikat pada Juli 1965, ia mengadakan jamuan 

makan siang dengan Yani dan Parman. Menurut Benson, Yani memberi 

jaminan kepadanya bahwa Angkatan Darat secara padu antikomunis. 

Yani menjelaskan bahwa ia dan staf umumnya telah mengangkat 120 

komandan batalyon di seluruh tanah air dan dalam pandangan mereka 

semuanya bisa dipercaya. Menurut Benson, Yani juga mengatakan, 

“Kami mempunyai senjata, dan kami tidak membolehkan senjata jatuh 

ke tangan mereka [komunis]. sebab nya jika terjadi bentrokan, kami 

akan membersihkan mereka semua.”59

Pemerintah Amerika Serikat, tentu saja, tidak tahu dengan tepat 

kapan dan bagaimana bentrokan antara Angkatan Darat dan PKI akan 

terjadi. Namun Amerika Serikat bisa memastikan bahwa konfrontasi itu 

akan terjadi, dan juga cukup yakin bahwa Angkatan Darat, bagaimana-

pun, akan menang. Pada Januari 1965 saja penilaian CIA tentang 

“permulaan pergulatan alot untuk penggantian Sukarno” meramalkan 

bahwa “perjuangan pertama untuk menggantikannya akan dimenangkan 

oleh Angkatan Darat dan elemen-elemen nonkomunis.”60 Kenyataan 

sederhana, yang dengan terus terang dikatakan Yani kepada Benson, 

yaitu  Angkatan Darat memonopoli persenjataan. Frederick Bunnel 

dengan tepat melukiskan kebijakan AS pada 1965, “Selalu ada keyakinan 

yang berhati-hati bahwa Angkatan Darat bisa dan akan menang dalam 

bentrokan di masa pasca-Sukarno, tapi bentuk dan waktu bentrokan itu 

tidak bisa diramalkan.”61

Mengingat Kedutaan Besar AS ingin memancing bentrokan, 

menjadi beralasan untuk menduga bahwa operasi-operasi rahasia pos 

CIA melibatkan tindakan-tindakan yang akan mendorong PKI agar 

berpikir bahwa partai dan Sukarno berada dalam bahaya. Beberapa dari 

“operasi-operasi black letter [surat kaleng]” dan “operasi-operasi media” 

CIA tentunya dirancang untuk meyakinkan pimpinan PKI bahwa 

jenderal-jenderal Angkatan Darat dan Amerika Serikat yaitu  anjing-

anjing gila yang sangat mengingini kup.

Para pejabat AS berulang kali memberi tahu jenderal-jenderal 

pimpinan Angkatan Darat bahwa Amerika Serikat akan mendukung 

mereka jika mereka bergerak melawan PKI. Howard Jones sudah 

meyakinkan Nasution sebelumnya pada Maret 1964 dalam pertemuan 

pribadi mereka selama sembilan puluh menit bahwa pasti akan datang 

“dukungan AS pada saat krisis.” Sebaliknya, Nasution meyakinkan Jones 

bahwa Angkatan Darat “tetap berpandangan antikomunis” dan sedang 

mengindoktrinasi para perwira “untuk memastikan kesiagaan tentara 

menghadapi tantangan apabila saatnya tiba.”62 Pada kesempatan lain 

Nasution meyakinkan Jones bahwa serangan Angkatan Darat terhadap 

PKI pada 1948, serangan yang sebagian besar dilakukan oleh pasukan 

Jawa Barat di bawah Nasution sendiri, “Ringan saja jika dibandingkan 

dengan tindakan yang akan dilakukan Angkatan Darat sekarang ini.”63

Pertanyaan yang belum terjawab ialah apakah PKI akan memberi 

Angkatan Darat dalih untuk sebuah serangan. Sementara Jones melihat 

bahwa “percobaan kup yang gagal oleh PKI” sebagai kejadian yang ideal, 

ia pesimis terhadap kemungkinan kup akan terjadi. Dalam pidatonya 

untuk Departemen Luar Negeri pada Maret 1965 Jones mengatakan 

bahwa PKI mungkin tidak akan mencoba melakukan aksi apa pun 

terhadap Sukarno, “PKI berada di posisi terlalu baik melalui taktik kerja 

samanya dengan Sukarno dewasa ini. Kecuali jika pimpinan PKI lebih 

gegabah dari yang saya pikir tentang mereka, mereka tidak akan meng-

ajukan kepada Angkatan Darat tantangan tegas yang bisa merangsang 

reaksi yang efektif.”64 Berlawanan dengan perhitungan Jones, PKI, lebih 

khusus lagi Aidit dan Sjam, ternyata berjalan masuk perangkap.

MEMANFAATKAN GERAKAN 30 SEPTEMBER

Menjelang G-30-S pecah, para pejabat tinggi AS dan perwira-perwira 

Indonesia sekutu mereka sudah menyiapkan sebuah skenario yang berisi 

pokok-pokok alur kejadian sebagai berikut: menuding PKI melakukan 

percobaan kup, melancarkan represi besar-besaran terhadap PKI di 

seluruh negeri, tetap memakai  Sukarno sebagai presiden boneka 

sambil merongrong kekuasaannya, dan membangun satu pemerintah 

korporatis baru yang dikuasai Angkatan Darat. Itulah skenario ideal 

mereka. Peristiwa demi peristiwa muncul dan berkembang begitu 

rupa sehingga memungkinkan mereka mewujudkan skenario ini jadi 

kenyataan. Meskipun G-30-S terjadi sebagai sebuah kejutan, mereka 

segera tahu bagaimana mengambil manfaat dibandingkan nya. Gerakan 30 

September bukanlah sebuah percobaan kup langsung oleh PKI, tapi 

cukup serupa untuk memenuhi tujuan mereka. Gerakan 30 September 

telah membuka jalan bagi para pejabat AS dan jenderal-jenderal Indonesia 

sahabat mereka untuk menjalankan rencana lama mereka mendongkel 

Sukarno dan menyerang PKI.

Dalam hari-hari pertama Oktober Kedutaan  Besar AS dan para 

pembuat kebijakan di Washington khawatir bahwa Angkatan Darat 

Indonesia tidak akan memanfaatkan sepenuhnya kesempatan untuk 

menyerang PKI. Bahkan sebelum Amerika Serikat mempunyai bukti 

kuat tentang tanggung jawab PKI pun, ia telah menyalahkan PKI sambil 

mendorong Angkatan Darat agar menghancurkan partai itu. Laporan 

Kedutaan Besar bertanggal 4 Oktober menyatakan, Angkatan Darat 

belum “sampai pada keputusan apakah akan meneruskan usahanya 

untuk mencapai kemenangan penuh atas PKI.”65 Sementara para 

pejabat tinggi AS percaya bahwa Nasution, sekutu lama mereka, akan 

mendorong terjadinya penyerangan besar-besaran, mereka khawatir 

elemen-elemen lain di dalam Angkatan Darat akan menghalanginya. 

Pos CIA di Jakarta menyatakan sehari kemudian bahwa “Angkatan Darat 

harus bergerak cepat jika ia hendak memanfaatkan kesempatannya untuk 

bergerak melawan PKI.”66 Pos CIA (mungkin pimpinannya, B. Hugh 

Tovar) kembali khawatir pada 7 Oktober bahwa ada bahaya Angkatan 

Darat tidak akan melancarkan serangan terhadap PKI, tapi cukup puas 

dengan aksi terbatas “terhadap mereka yang langsung terlibat dalam 

pembunuhan para jenderal.”67 Tepat sehari berikutnya semua kekhawa-

tiran CIA itu hilang saat  ternyata para jenderal Angkatan Darat sudah 

berkumpul pada 5 Oktober dan sepakat untuk “melaksanakan rencana 

pengganyangan PKI.”68 Gerakan 30 September akan ditempatkan pada 

tujuan yang tepat sebagai pembenaran untuk penindasan terhadap PKI 

sebagaimana yang telah direncanakan – penindasan yang ternyata persis 

seperti yang telah dijanjikan Nasution: penindasan terhadap PKI pada 

1948 tampak lunak belaka.

Walaupun jenderal-jenderal Angkatan Darat tidak memerlukan 

jaminan lebih jauh bahwa Amerika Serikat akan menyokong mereka 

selama serangan pembasmian PKI berlangsung, Kedutaan Besar AS tetap 

memberi mereka jaminan itu. Duta Besar Green mengirim telegram ke 

Washington pada 5 Oktober untuk mengusulkan bahwa ia “menyatakan 

dengan terus terang kepada tokoh-tokoh kunci dalam Angkatan Darat 

seperti Nasution dan Suharto tentang keinginan kita untuk membantu 

mereka sejauh kita bisa.” Dalam jawabannya Departemen Luar Negeri 

menyetujui usul ini  tapi dengan catatan bahwa jenderal-jenderal 

Angkatan Darat itu harus sudah benar-benar percaya bahwa mereka 

bisa bersandar kepada Amerika Serikat, “Selama beberapa tahun bela-

kangan hubungan timbal balik yang berkembang melalui program pen-

didikan, civic action dan MILTAG (Military Assistance Group, Kelompok 

Bantuan Militer), demikian pula penyampaian kepastian secara teratur 

kepada Nasution, tentunya telah terpatri dengan jelas di dalam pikiran 

pimpinan Angkatan Darat bahwa AS selalu berdiri di belakang mereka 

apabila mereka memerlukan bantuan.”69 Satu jaminan yang disampaikan 

Kedutaan Besar AS kepada ajudan Nasution pada pertengahan Oktober 

ialah bahwa pasukan Inggris yang berhimpun di Malaysia tidak akan 

memanfaatkan kekacauan di Jakarta dan menyerang pasukan Indonesia 

yang terlibat dalam konfrontasi. Angkatan Darat bisa terus melanjutkan 

tindak pembasmian terhadap PKI tanpa khawatir akan ada serangan dari 

Malaysia. Menurut Kedutaan Besar AS, ajudan Nasution mengutarakan 

 

terima kasihnya, “Ia [ajudan] berkomentar yang isinya kurang lebih me-

nyatakan bahwa memang itulah yang diperlukan, yaitu dengan memberi 

jaminan bahwa kami (Angkatan Darat) tidak akan diserang dari segala 

penjuru saat  kami sedang bekerja membenahi banyak hal di sini.”70

saat  pasukan pembunuh menyebar di seluruh negeri memburu 

massa anggota PKI, Kedutaan Besar AS bergirang hati. Duta Besar Green 

mengamati pada awal November bahwa bahkan “tokoh teri” dalam PKI 

pun “secara sistematis ditangkap dan dipenjarakan atau dibunuh.” Di Jawa 

Tengah Angkatan Darat mengerahkan dan mempersenjatai sukarelawan 

pemuda Muslim untuk “mengajukan mereka untuk berhadap-hadapan 

melawan PKI.” Dalam memo yang sama itu Green menyatakan bahwa 

Kedutaan Besar AS telah “menjelaskan” kepada kontak di Angkatan 

Darat “bahwa Kedutaan  Besar dan USG [US Government, Pemerintah 

AS] secara umum menaruh simpati kepada dan mengagumi apa yang 

telah dilakukan Angkatan Darat.”71 Satu-satunya kekhawatiran Green 

yang tak kunjung hilang ialah bahwa Angkatan Darat akan berkompromi 

dengan Sukarno dan membiarkan PKI tetap memiliki sementara sisa-

sisa kekuasaannya di masa lalu. Green meyakinkan Washington bahwa 

betapapun Angkatan Darat “sedang bekerja keras untuk menghancur-

kan PKI dan saya, sebagai pribadi, menjadi makin hormat terhadap 

kebulatan tekad serta organisasi mereka dalam melaksanakan tugas yang 

menentukan ini.”72

Amerika Serikat menyokong kata-katanya yang mengobarkan 

semangat itu dengan bantuan material. Angkatan Darat memerlukan 

peralatan komunikasi untuk menghubungkan berbagai markas di seluruh 

tanah air agar mereka bisa mengoordinasi dengan lebih baik gerak 

melawan PKI.73 Suatu saat  pada akhir 1965 Amerika Serikat mener-

bangkan perangkat komunikasi radio lapangan (mobile radio) yang sangat 

canggih dari Pangkalan Udara Clark di Filipina dan semuanya dikirim 

ke markas besar Kostrad di Jakarta. Sebuah antena dibawa masuk ke dan 

dipasang di depan markas besar Kostrad. Wartawan penyelidik Kathy 

Kadane dalam wawancaranya dengan para mantan pejabat tinggi AS 

di akhir 1980-an menemukan bahwa Amerika Serikat telah memantau 

komunikasi Angkatan Darat melalui radio-radio ini . “CIA me-

mastikan bahwa frekuensi-frekuensi yang akan digunakan Angkatan 

Darat sudah diketahui sebelumnya oleh National Security Agency [NSA, 

Badan Keamanan Nasional]. NSA menyadap siaran-siaran radio itu 

di suatu tempat di Asia Tenggara, dan sesudah itu para analis mener-

jemahkannya. Hasil sadapan itu kemudian dikirim ke Washington.” 

Dengan demikian Amerika Serikat memiliki detil bagian demi bagian 

laporan tentang penyerangan Angkatan Darat terhadap PKI, misalnya, 

mendengar “komando-komando dari satuan-satuan intelijen Suharto 

untuk membunuh tokoh-tokoh tertentu di tempat-tempat tertentu.”74 

Seorang anggota seksi urusan politik Kedutaan Besar AS, Robert Martens, 

membantu Angkatan Darat dengan memberi  daftar nama tokoh-

tokoh PKI.75 Martens mengakui dalam suratnya kepada harian Wash-

ington Post bahwa ia menyerahkan nama “beberapa ribu” anggota partai, 

yang disebutnya dengan cara menyesatkan sebagai “pimpinan dan kader 

senior” – seakan-akan sebuah daftar dengan nama sebanyak itu hanya 

memasukkan pimpinan inti saja.76 

Kedutaan Besar AS juga mentransfer sejumlah besar uang untuk 

front sipil ciptaan Angkatan Darat yang disebut Kesatuan Aksi Peng-

ganyangan Gerakan 30 September (KAP-Gestapu). Aksi-aksi organi-

sasi ini, seperti dicatat Dubes Green, “Sepenuhnya sejalan dengan dan 

dikoordinasi oleh Angkatan Darat.” Untuk membantu KAP-Gestapu 

mengadakan demonstrasi-demonstrasi dan melaksanakan “tindakan-

tindakan represif yang ditujukan terhadap PKI saat ini,” dalam awal 

Desember 1965 Green memerintahkan pemberian dana sebesar 50 juta 

rupiah kepada wakil KAP-Gestapu, Adam Malik.77

Meskipun Suharto tidak tergolong dalam kelompok pemikir Yani, ia 

sangat paham dengan rencana permainan kelompok ini. Seperti sudah di-

rencanakan, Suharto mempertahankan Sukarno sebagai presiden boneka. 

Sukarno tidak secara resmi digeser dari kedudukannya sampai Maret 

1967. Pada awal November 1965 Dubes Green mengakui bahwa strategi 

Suharto ialah untuk “mendesakkan tekanan dari Angkatan Darat dengan 

hati-hati dan menguasai pemerintahan tapi ia tidak akan – jika masih bisa 

dihindari – mengambil alih [kekuasaan] secara terang-terangan selama 

Sukarno masih hidup.”78 Berlanjutnya keberadaan Sukarno memberi 

kredibilitas terhadap segala langkah Suharto, seakan-akan semua terjadi 

atas persetujuan presiden. Angkatan Darat dapat memusatkan represinya 

terhadap PKI, sementara organisasi-organisasi pro-Sukarno lainnya 

tetap tinggal netral, atau ikut serta dalam aksi kekerasan. Pimpinan 

 

PKI sendiri masih berharap Sukarno akan memakai  kekuasaannya 

sebagai presiden untuk menyelamatkan partai dari penindasan Angkatan 

Darat.

Pada awal November Green juga mengerti bahwa Suharto tidak 

mendongkel Sukarno un