Syiah 12

 


akan Ali ra. Mereka tidak mengetahui bahwa 

barang siapa yang meyakini seseorang yang bukan Nabi memiliki kedudukan lebih 

tinggi dari pada seorang Nabi, dirinya telah kafir. 

23. Mereka berpendapat, bahwa pada hari kebangkitan yang berhak 

memutuskan segala persoalan yaitu  Muhammad saw. dan Ali ra. 

24. Menurut mereka, saat  Umar ra. terbunuh para Malaikat tidak 

mencatat perbuatan dosa yang dilakukan manusia selama tiga hari. 

25. Mereka berpendapat, bahwa melempar jumrah di Mina selama 

musim haji pada hakikatnya diarahkan kepada Abu Bakar dan Umar. 

 

 138

26. Mereka berpendapat, ayat tentang dabbat al-ardl yaitu  isyarat 

kembalinya Sayidina Ali ra. ke dunia. 

27. Menurut mereka, -sebagaimana tercantum pada artikel kedua 

puluh dua tentang keyakinan sesat mereka-, barang siapa menjadi tuan rumah lalu 

menawarkan istri dan anak-anak wanita nya kepada orang Hurufi lainnya yang 

mengunjunginya, dia akan memperoleh pahala berlipat ganda. Di Iran, bapak-bapak 

orang Hurufi setiap kali bertamu, mereka ditawari wanita -wanita  yang 

mereka sukai. Mereka memiliki kepercayaan bahwa anak-anak yang dibuahi pada 

malam Jum’at (malam antara Kamis dan Jum’at) berhak menyandang gelar sayyid 

Persia. Sehingga dengan demikian,  jumlah sayyid ini  banyak sekali di Iran. 

28. Mereka berkeyakinan, bahwa tanggal delapan belas bulan 

Dzulhijjah yaitu  hari yang paling agung buat mereka. Itu yaitu  hari kematian 

Sayidina Utsman ra. yang menemui syahid. 

29. Menurut mereka, di samping hari itu, mereka juga merayakan 

tanggal sembilan Rabi’ul Awwal sebagai hari kematian Sayidina Umar ra. yang 

menemui syahid.  

30. Mereka memandang Hari Nevruz sebagai hari sakral. Hari Nevruz 

pada hakikatnya yaitu  sebuah hari sakral yang dirayakan oleh orang-orang Magi 

(Magians).  

31. Menurut mereka, shalat -kecuali shalat fardlu- dapat dikerjakan 

dengan menghadap ke arah mana saja. Misalnya, saat  mereka berziarah ke makam 

Imam Ali Rida di Masyhad mereka dapat mengerjakan shalat dengan menghadap ke 

ke setiap sudut makam ini . Pada halaman tiga ratus dari ringkasan kitab Tuhfah 

ada  keterangan yang menyebutkan : “Mereka mengerjakan shalat dengan 

menghadapkan wajah ke arah makam-makam para Imam, tanpa mempedulikan 

apakah mereka membelakangi kiblat ( Ka’bah ) atau tidak.” 

32. Mereka berpendapat, mengerjakan shalat dalam keadaan telanjang 

tidak dilarang. Di dalam kitab Minhaj al-Salihin  dijelaskan bahwa menurut mereka 

yang dikategorikan sebagai aurat (bagian tubuh seseorang yang harus ditutup) dalam 

 

 139

shalat ialah apa yang disebut sawtayn (dua bagian dari seseorang yang bersifat 

pribadi, yaitu organ pengeluaran depan (qubul, pent.) dan belakang (dubur, pent), 

selain keduanya bukan aurat. Edisi kelima belas dari kitab ini  di atas yang 

menjadi kitab referensi mereka, dipublikasikan di Najaf pada tahun 1386 H/1966 M. 

33. Mereka berpendapat, bahwa makan dan minum (selama shalat) 

tidak membatalkan shalat. 

34. Di dalam kitab Tuhfah sebagaimana dikutip, disebutkan pada 

halaman dua ratus delapan belas bahwa mereka tidak menjalankan shalat Jum’at. 

Mereka hanya menjalankan shalat siang, sore dan malam hari secara bersama dalam 

satu waktu.  

35. Menurut ajaran kredo mereka yang ketujuh belas disebutkan 

bahwa apa saja yang disentuh oleh Imam Suci mereka memiliki keutamaan beribu-

ribu kali sebagaimana keutamaan Ka’bah. 

36. Mereka berpendapat, bahwa membenamkan diri ke dalam air 

termasuk perkara yang membatalkan puasa. 

37. Mereka berpuasa pada tanggal 10 Muharram sampai  petang hari. 

38. Mereka berpendapat, jihad bukanlah salah satu ibadah,  dan agama 

melarangnya. 

39. Mereka mengajarkan nikah mut’ah (tinggal bersama antara laki-

laki dan wanita  sebagai suami istri selama jangka waktu tertentu untuk 

mendapat  uang). Menurut mereka, nikah seperti itu dapat mendatangkan pahala 

berlipat ganda. Di halaman dua ratus dua puluh tujuh disebutkan bahwa melacurkan 

diri yang mereka sebut mut’ah dawriyyah (devriyye) tidak dilarang. 

40. Mereka berpendapat, memberikan seorang budak wanita  

(jariyah) kepada laki-laki lain dianggap tidak dilarang. 

41. Menurut keterangan yang ada  di dalam kitab Muhtashar 

Tuhfah Itsna Asyariyyah (bahasa Arab, halaman tiga ratus dua puluh lima) yang 

ditulis oleh Sayid Mahmud Syukru Alusi pada tahun 1302 H dan dicetak di Kairo 

pada tahun 1373 H , disebutkan bahwa : Mereka berpendapat, “Daging atau makanan 

 

 140

lain yang dimasak dengan air bekas cucian boleh dimakan.” Menurut keterangan 

yang ada  di dalam kitab mereka berjudul Minhaj, disebutkan bahwa air bekas 

istinja (mencuci najis) termasuk air suci. Mereka juga berpendapat, air musta’mal 

(air yang telah digunakan untuk bersuci), atau air yang bercampur dengan air kencing 

anjing termasuk air suci ; air ini  dapat diminum atau digunakan untuk memasak. 

Demikian pula halnya dengan air yang bercampur dengan darah atau air kencing 

lainnya. 

42. Mereka berpendapat, orang yang lapar boleh membunuh orang 

yang punya makanan yang tidak memberikan makan ini  kepada dirinya. 

43. Kitab Tuhfah menjelaskan pada pasal kedua, bahwa mereka 

berpendapat, sujud di dalam shalat wajib dikerjakan di atas batu bata kering yang 

terbuat dari tanah yang dijemur. Disebabkan orang-orang Sunni tidak melakukan 

sujud di atas tanah, mereka dianggap menyerupai sujud yang dilakukan oleh setan. 

44. Di dalam Mukhtashar Tuhfah halaman dua ratus sembilan puluh 

sembilan dijelaskan : Orang Kristen membuat dan menyembah gambar Isa as. dan 

bunda Maryam (Mary) di gereja-gereja. Sementara itu, orang Hurufi membuat dan 

menyembah gambar imajiner dari para Imam mereka. Sampai sekarang masih dapat 

disaksikan di Iran dan Irak bahwa mereka memasang gambar orang berjenggot yang 

mengenakan serban di tembok masjid, rumah, dan toko untuk disembah. Menurut 

mereka, gambar ini  yaitu  Sayidina Ali.       

45. Di dalam kitab Muhtashar Tuhfah halaman empat belas 

disebutkan bahwa kebanyakan sekte Hurufi berpendapat, Sayidina Ali yaitu  tuhan. 

Sekte ini terpecah menjadi dua puluh empat sub sekte. Menurut salah satu sub sekte 

ini  (sub sekte ke dua puluh) berpendapat, tuhan telah masuk ke dalam diri Imam 

Ali dan Ahlul Baytnya. Bahkan Ali yaitu  tuhan. Mereka yang termasuk dalam sub 

sekte ini  kebanyakan berasal dari Damaskus,  Alepo dan Lazkiyyah. Di Turki, 

para pengikut sub sekte ini  tidak  ada. 

Tuhfah Itsna Asyariyyah memberikan penjelasan rinci berkaitan dengan 

kepercayaan-kepercayaan golongan Hurufi meskipun dalam bentuk rangkuman yang 

terdiri dari empat puluh lima paragraf di atas.  Sebagaiman dapat dilihat, Tuhfah 

 

 141

juga menyebutkan nama kitab yang memuat kepercayaan-kepercayaan sebagaimana 

dimaksud. Di samping itu, Tufah juga memaparkan penyimpangan dan kesesatan 

kepercayaan ini  melalui dokumen-dokumen yang kuat. Oleh sebab  itu, 

golongan Alawi yang menyadari keagungan dan perjuangan Sayidina Ali ra.dalam 

rangka menyebarkan Islam sewajarnya akan mencintai Singa Allah itu menurut 

tuntunan yang telah diberikan oleh Nabi saw. Orang-orang Sunni termasuk  golongan 

Alawi. Mereka mencintai Sayidina Ali menurut tuntunan yang diberikan oleh 

Baginda Nabi saw. Kita mencintai golongan Alawi yang membagi cinta ini . 

Kita mengenali mereka dan mereka pun mengenali kita sebagai saudara. Hal itulah 

yang sepatutnya menjadikan kita sadar untuk saling bekerja sama, saling mencintai 

dalam memberikan kebebasan beribadah dan hidup secara damai. 

Pada paragraf-paragraf di atas telah dijelaskan, bahwa salah satu 

kelompok yang menamakan dirinya sebagai golongan pembaharu agama yaitu  

kelompok yang disebut Hurufi. Mereka berusaha menghancurkan Islam dari dalam. 

Mereka yaitu  kelompok pembangkang yang paling berbahaya. Pada hakikatnya 

mereka bukanlah kelompok Syi'ah. sebab  menjadi seorang Syi'ah yang tidak setuju 

dengan tindakan ketiga khalifah Rasul saw. , tidak berarti harus memusuhi mereka. 

Syi'ah berarti jama’ah, komunitas, kelompok, kumpulan. Orang-orang yang 

termasuk dalam kelompok ini  disebut Syi'i. Di dalam kitab Qishas al-Anbiya 

ada  informasi sebagai berikut : 

Tokoh penyebar dan pembuat fitnah pertama kali yang memicu  

permusuhan terhadap golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah yaitu  seorang Yahudi 

yang berasal dari Yaman bernama Abdullah bin Saba'. Dia berpura-pura menjadi 

seorang muslim. Pada awalnya, dia pergi ke Basrah. Dari sana dia mulai menebarkan 

permusuhan dan kedengkian dengan menciptakan ajaran yang menyebutkan, bahwa 

Nabi Isa as. akan kembali ke dunia. Jika Nabi Isa. akan kembali ke dunia, mengapa 

hal ini  tidak mungkin terjadi pada diri Muhammad saw. Nabi Muhammad saw. 

dan Ali akan menyelamatkan dunia dari kekufuran. Menurutnya, kekhalifahan yaitu  

hak Imam Ali ra. Ketiga khalifah Nabi saw. telah merampas hak kekhalifahan 

ini  dari Imam Ali secara paksa dengan kekuatan fisik. Abdullah bin Saba' 

dideportasi dari Basrah. Lalu dia pergi ke Kufah dan memprovokasi warga  

Kufah. sebab  perbuatannya ini , dia juga dideportasi dari Kufah, dan pergi ke 

Damaskus. Para shahabat di Damaskus tidak memberikan toleransi kepadanya, 

sehingga dia diusir dari Damaskus dan melarikan diri ke Mesir. Di Mesir dia berhasil 

menghimpun para pemberontak seperti Khalid bin Muljin, Sudan bin Hamran, 

Ghafiki bin Harb dan Kinana  bin Bisyr. Dia berpura-pura menjadi seorang pembela 

Ahlul Bayt Nabi. Dia berhasil memprovokasi orang-orang Mesir yang menjadi 

pengikutnya dengan mengajak mereka mencintai Sayidina Ali ra. dan memusuhi 

orang-orang yang tidak membela Sayidina Ali ra.  lalu  dia menyebarkan 

ajaran, bahwa kedudukan Sayidina Ali ra. berada di bawah para Nabi. Dia yaitu  

sang pelindung, saudara dan menantu Nabi saw. Dia meyakinkan kepada para 

pengikutnya dengan menafsirkan ayat-ayat Al Qur'an menurut pemahamannya 

sendiri dan juga memalsukan hadits-hadits Nabi saw. Di dalam Islam, orang yang 

melakukan perbuataan seperti itu disebut zindiq. Selanjutnya dia meyakinkan kepada 

mereka dengan mengatakan, bahwa Nabi saw. telah memberikan mandat kepada 

Sayidina Ali untuk menjadi khalifah sepeninggal dirinya. Menurutnya, para shahabat 

telah mengingkari mandat ini . Lalu mereka merampas hak kekhalifahan 

ini  dari Imam Ali ra. Mereka telah menjual iman dengan dunia.  

Ibnu Saba’ menyebarkan ajaran sesatnya ini  dengan sangat hati-hati 

dan terselubung. Bahkan dia memperingatkan kepada para pengikut setianya untuk 

tidak membocorkan ajaran-ajaran rahasia ini  kepada orang yang  tidak mereka 

kenal. Menurut pengakuannya segala pekerjaannya itu dilakukan “tidak untuk 

mencari popularitas namun  untuk membimbing manusia ke jalan yang benar.” 

Perbuatannya ini  telah memicu  terbunuhnya Utsman bin Affan ra. Dia 

juga mencoba menebarkan benih permusuhan terhadap ketiga khalifah di kalangan 

pasukan yang berpihak kepada Sayidina  Ali ra. pada Perang Shiffin. Tindakannya 

ini  cukup sukses. Orang-orang yang mempercayai dan mengikuti ajaran Ibnu 

Saba’ disebut golongan Saba’iyyah [selanjutnya mereka disebut sekte Hurufi].  

sesudah  mengetahui fitnah-fitnah yang disebarluaskan oleh Abdullah bin 

Saba', Sayidina  Ali ra. memutuskan menjatuhkan hukuman cambuk kepada para 

penyebar fitnah ini . Akan namun , Ibnu Saba’ justru semakin berani 

mengacaukan situasi. Dengan cara sembunyi-sembunyi, Ibnu Saba’ mengajarkan 

mukjizat-mukjizat yang dimiliki oleh Sayidina Ali ra. kepada orang-orang 

pilihannya. Bahkan dia menginterpretasi mukjizat-mukjizat ini  dengan 

mengatakan, bahwa, “keajaiban-keajaiban yang luar biasa  yang dimiliki Sayidina  

Ali ra.” menjadi tanda bahwa “dia sesungguhnya yaitu  tuhan” dengan mengutip 

kata-kata yang diucapkan oleh Sayidina  Ali ra. saat  beliau dalam keadaan mabuk 

(sakr-tariqat) sebagai buktinya. Di dalam menghadapi persoalan ini , Sayidina  

Ali bertindak bijaksana. Beliau mengancam akan membakar Ibnu Saba’ dan para 

pengikutnya. lalu  beliau membuang dan mengasingkan mereka ke Madain. 

Namun, di sana Ibnu Saba’ justru tidak berhenti menyebarkan ajaran-ajaran sesatnya. 

Dia mengirim orang-orangnya ke Irak dan Azerbaijan. Dia juga menyebarkan sikap 

permusuhan terhadap para shahabat Nabi saw. sedang  pada saat yang sama, 

Sayidina  Ali ra. sendiri sedang berkonsentrasi menumpas para pemberontak di 

Damaskus dan melaksanakan tugas-tugas administrasi kekhalifahan. 

Muncul sebuah pertanyaan di benak kta : Seandainya Sayidina  Ali ra. 

membuat perjanjian dengan para shahabat yang memerangi dirinya dalam Perang  

Jamal (Unta) dan Shiffin, dan seandainya beliau  tidak  memerangi mereka, dan 

menyatukan sikap serta mengambil langkah kooperatif dengan sesama saudara 

muslim, lalu  bersama-sama memerangi Ibnu Saba’ dan orang-orang  munafik 

yang menjadi pengikutnya, tentu hal ini  lebih baik bagi dirinya dalam 

menegakkan Islam. Kelompok Saba’iyyah yang telah menumpahkan darah ummat 

Islam sepanjang sejarah dapat dihancurkan. Bagaimana menjawab persoalan 

ini ? 

Untuk menjawab persoalan ini , kita dapat melacaknya sebagai 

berikut : Beliau tidak mengambil keputusan ijtihad demikian. Takdir yang digariskan 

oleh Allah swt. diilhamkan ke dalam hati beliau  yang diberkahi. Beliau bertawakkal 

atas qadar Ilahi yang berlaku atas dirinya. berdasar  penjelasan yang diberikan 

oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah menegaskan, bahwa ijtihad yang 

dilakukan oleh Sayidina  Ali ra. sudah benar. Hal yang sama juga pernah dilakukan  

oleh Abdul Hamid Khan II rahmatullaah alaih. Pada saat seorang tentara 

pemberontak menyiapkan rencana-rencana Masonik untuk menurunkan sang Sultan 

dari tahta, para jenderal di Istanbul menyarankan agar Baginda menolak rencana 

ini . Pada saat peristiwa ini  terjadi, tentara-tentara terlatih yang 

terkonsentrasi di Istanbul telah siap menunggu perintah dari sang Baginda. Akan 

namun , Sultan Abdul Hamid Khan II justru mengambil tindakan dengan mencontoh  

sikap Sayidina  Ali ra. Dia bertawakkal atas qadar Ilahi yang berlaku pada dirinya. 

Bahkan sang Sultan tidak melawan para pembrontak ini . Tindakan yang 

diambilnya ternyata berhasil menggagalkan rencana makar yang telah dipersiapkan 

oleh Partai Persatuan untuk menghantam dirinya dan ribuan kaum muslimin lainnya. 

Kita kembali menengok peristiwa yang dihadapi oleh Sayidina Ali ra. 

Pada hari-hari berikutnya, sekelompok kaum separatis muncul. Pasukan Sayidina  

Ali ra. terpecah menjadi empat kelompok : 

Kelompok pertama, disebut Syi'ah yang mengikuti Sayidina Ali ra. 

Mereka tidak mengecam para shahabat Nabi saw. Mereka mencintai dan memuliakan 

para shahabat Nabi saw. Mereka menyadari bahwa kelompok yang mereka perangi 

pada hakikatnya yaitu  saudara juga. Oleh sebab  itu, mereka segera berhenti 

memerangi mereka. Sayidina Ali ra. bersedia menerima keputusan-keputusan yang 

dibuat oleh mereka. Mereka inilah yang pada awalnya disebut Syi'ah. Para pengikut 

mereka disebut Ahlus Sunnah wal Jamaah. 

Kelompok kedua, yaitu  mereka yang mempercayai bahwa Sayidina Ali 

memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan dengan para shahabat Nabi lainnya. 

Kelompok ini disebut Tafdiliyyah. Sayidina Ali ra. memperingatkan akan 

menghukum dera kepada mereka. Kata Syi'ah yang dipakai sekarang 

merepresentasikan kelompok ini. 

Kelompk ketiga, yang berpendapat bahwa semua shahabat Nabi saw. 

yaitu  kafir dan berdosa. Mereka disebut Saba’iyyah atau Hurufi.       

Kelompok keempat, yang disebut Ghulat, yaitu mereka yang paling 

sesat, paling bid’ah di antara empat kelompk di atas. Mereka berpendapat, bahwa 

Allah telah masuk  ke dalam diri Ali ra.  

saat  putra Sayidina  Husein, -Imam Zainal Abidin Ali-, meninggal 

dunia (pada tahun 94 H) dalam usia empat puluh delapan tahun, putra beliau, -Zaid 

bin Ali ra.-,  melakukan pemberontakan terhadap Khalifah Hisyam. Beliau  bersama 

pasukannya bergerak menuju Kufah. Namun, saat  Sayidina Zaid mengetahui 

bahwa para tentara yang bersamanya mengutuki para shahabat Nabi saw., beliau 

melarangnya. Tindakannya ini  memicu  sebagian besar tentaranya 

meninggalkan beliau. Bersama sejumlah kecil pasukannya, beliau tetap percaya dan 

yakin pada pendiriannya. Akhirnya beliau menemui syahid pada tahun 122 hijriah. 

Mereka yang meninggalkan Sayidina Zaid disebut Imamiyyah. sedang  mereka 

yang  tetap mengikuti Sayidina Zaid disebut Zaidiyyah. 

Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, -yang pada hakikatnya merupakan 

Syi'ah-nya Sayidina Ali ra.-, bahwa Sayidina  Ali ra.  yaitu  manusia yang memiliki 

martabat tertinggi pada masanya. Beliau memiliki hak kekhalifahan. Oleh sebab  itu, 

barang siapa yang tidak mendukung dirinya dianggap bersalah dan menjadi  baghis 

(orang-orang yang memberontak kepada Khalifah). Sayidah Aisyah, Thalhah, 

Zubeir, Mu'awiyah, Amr ibn Ash serta para shahabat lainnya yang pernah 

memerangi dirinya, sekali-kali tidak untuk memperebutkan jabatan kekhalifahan. 

Pada dasarnya mereka tidak setuju dengan sikap yang diambil oleh Sayidina Ali ra. 

yang tidak melakukan investigasi dan hukuman terhadap para pembunuh Sayidina  

Utsman ra. Meskipun demikian, mereka semua tetap bersikap kooperatif pada saat 

menghadapi hasutan dan serangan yang dilakukan oleh Abdullah bin Saba’ dan para 

pengikutnya. Para shahabat Nabi saw. yang memerangi beliau berkeyakinan, bahwa 

Ali ra. berhak menjadi khalifah dan beliau memiliki kedudukan yang lebih tinggi 

dibandingkan dengan diri mereka sendiri. Bahkan mereka memuji Ali ra. Demikian 

pula sebaliknya, Sayidina Ali ra. mencintai dan memuliakan para shahabat Nabi saw. 

yang memerangi dirinya. 

Menurut orang-orang Hurufi, bahwa Ahlul Bayt telah menghukum para 

shahabat Nabi saw. dan mereka meratapi siksaan-siksaan yang ditimpakan atas 

dirinya oleh mereka. Mereka juga menambahkan, bahwa sebagian besar shahabat 

Nabi, terutama Mu’awiyah, Abu Sufyan dan Amr bin Ash yaitu  orang-orang kafir. 

Oleh sebab  itu, barang siapa yang mencintai dan memuliakan mereka akan masuk 

neraka bersama mereka. Memang kita tidak mengingkari bahwa sesudah  periode 

shahabat ada  gubernur-gubernur yang melakukan tindakan kejam dan  

penyiksaan. Akan namun , penyiksaan yang dilakukan oleh para penguasa Abbasiyah 

jauh lebih hebat dibandingkan dengan yang dilakukan oleh para penguasa Umayyah. 

Oleh sebab  itu, sebagian Imam Ahlul Bayt  mengecam tindakan para gubernur 

ini . Namun demikian, orang-orang Hurufi justru mendistorsi kritik-kritik yang 

disampaikan oleh para Imam Ahlul Bayt dan menggambarkannya seolah-olah kritik-

kritik ini  ditujukan kepada para shahabat Nabi saw. Perbuatan mereka ini 

termasuk salah satu bentuk pengkhianatan terhadap Ahlul Bayt dan para shahabat 

Nabi saw. 

Orang-orang Hurufi menyesatkan orang-orang Islam yang awam dengan 

membuat misrepresentasi terhadap artikel -artikel  yang mengkritik para shahabat Nabi 

saw. sebagai literatur yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kita 

dapat menyebutkan contohnya, seorang penulis artikel  tafsir pengikut kelompok 

Tafdiliyyah (lihat kelompok kedua sebagaimana dijelaskan di atas) dan Mu’tazilah. 

Ahtab Harazmi yaitu  seorang pengikut Zaidiyyah sesat. Ibni Qutaibah, penulis 

artikel  Ma’arif dan Ibni Abilhadid penulis syarah artikel  Nahj al-Balaghah, mereka 

yaitu  pengikut sekte Mu’tazilah. Hisyam Kalabi, seorang penulis tafsir yaitu  ahli 

bid’ah. Mas'udi ,-penulis Muruj al-Dzahab-, Abulfaraj Isfahani, -penulis Aghani-, 

dan Ahmad Tabari, -penulis Riyad al-Madara-, mereka yaitu  contoh-contoh dari 

sebagian kecil musuh-musuh fanatik golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Bagi 

mereka yang tidak faham biografi mereka, menganggap bahwa mereka yaitu  ulama 

Ahlus Sunnah wal Jamaah. Padahal sesungguhnya mereka yaitu  ahli-ahli bid’ah. 

Mereka telah mengelabuhi orang-orang Islam awam. Dalam hal ini mereka cukup 

berhasil. Mereka mengaku sebagai orang Sunni. Mereka menghormati ulama Sunni, 

akan namun  pada saat yang sama mereka juga mencela shahabat Nabi saw. Orang-

orang Hurufi menjadikan artikel -artikel  sebagaimana kami sebutkan di atas sebagai 

referensi. Oleh sebab  itu, kita sebagai golongan Islam Sunni harus selalu 

mewaspadai tipu muslihat mereka. Orang-orang Sunni tidak perlu membaca artikel -

artikel  yang ditulis oleh mereka maupun majalah-majalah yang dikutip atau 

diterjemahkan dari artikel -artikel  menyesatkan ini . Sungguh pun tampaknya 

mereka menjunjung tinggi ajaran Islam yang disampaikan oleh ulama Sunni dan 

memuliakan para ulama Sunni melalui artikel -artikel  yang mereka tulis, anggaplah 

sikap mereka ini  sebagai racun berbisa, jebakan di balik layar yang dipasang 

oleh orang-orang zindik, yang tujuan utamanya tidak lain yaitu  menghancurkan 

Islam dari dalam. 

Sebagaimana kita ketahui di dalam sejarah, kita mengenal Ismail Kufi 

seorang figur yang tampak salih dari daerah Suddi. Dia seorang Sunni. Kita juga 

mengenal nama Saghir (bukan nama sebanarnya, hanya nama julukan). Dia yaitu  

seorang ahli bid’ah yang sangat fanatik. Kita juga mengenal nama Ibni Qutaibah, 

yaitu Ibrahim Ibni Qutaibah. Dia juga seorang ahli bid’ah. Dan Abdulah bin Muslim 

bin Qutaibah yang pengikut Sunni. Mereka berdua (Ibrahim Ibni Qutaibah dan 

Abdullah bin Muslim bin Qutaibah, pent.) masing-masing menulis sebuah artikel  

berjudul Ma’arif. Juga kita mengenal nama yang sama dari dua orang, yaitu 

Muhammad Ibni Jarir Tabari. Yang satu yaitu  seorang Sunni. Dia menulis sebuah 

artikel  monumetal tentang sejarah. Sementara yang satunya lagi yaitu  seorang ahli 

bid’ah. artikel  sejarah yang berjudul al-Tabari diringkas oleh seorang ahli bid’ah 

bernama Ali Syimsyati.  

Kitab Tuhfah mengutip kesalahan kedua puluh tujuh yang dibuat oleh 

orang-orang Hurufi : 

“Di dalam istana Harun ar-Rasyid, ada  seorang budak yang berkulit 

hitam, -seorang jariyah-, memuji sekte Syi'ah dan mengecam Ahlus Sunnah wal 

Jamaah. Sementara itu, di antara ulama yang hadir di istana Khalifah, ada  para 

ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, termasuk Qadli Abu Yusuf. Menurut orang-orang 

Hurufi, tidak seorang pun dari para ulama ini  mampu menandingi kejeniusan 

budak hitam ini .” Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa nama budak 

yang masih perawan ini  yaitu  Husniyyah. Oleh sebab nya, artikel  yang memuat 

tulisan tentang budak perawan Husniyyah ini  diberi judul Husniyyah. Di 

Anatolia, artikel  ini  sangat laris. artikel  ini  berisi tentang ajaran sesat yang 

bertentangan dengan pendapat para ulama Hurufi sendiri. Secara global, isi artikel  

ini  memuat tentang kejeniusan seorang jariyah bernama Husniyyah dan 

kedangkalan pengetahuan yang dimiliki oleh para ulama Sunni serta metode retorika 

yang ditawarkan oleh dia. Jika kita analisa, sesungguhnya cerita-cerita yang disajikan 

di dalam artikel  Husniyyah ini  ditulis oleh Murtadla. berdasar  informasi 

yang ada  di dalam artikel  yang berjudul Asma’ al-Muallifin, Murtadla yaitu  

seorang Yahudi yang murtad.  

sesudah  kematian Sayidina Ali ra., para pengikut Yahudi Ibni Saba’  

menyusup ke dalam tubuh kaum muslimin yang berpihak kepada Sayidina  Hasan. 

Empat puluh ribu orang membaiat Hasan sebagai khalifah dan menghasut beliau agar 

melakukan pemberontakan terhadap Khalifah Mu’awiyah. Mereka ingin mengulang 

kembali apa yang telah mereka lakukan terhadap Sayidina Ali ra., yaitu membunuh 

Sayidina Hasan. Mereka tidak menunjukkan sikap sopan terhadap Sayidina Hasan. 

Sauatu saat, saat  sedang shalat kaki beliau ditarik oleh Mukhtar Saqafi. Beliau juga 

pernah dituduh mencuri. Dan seseorang pernah memukul kaki beliau dengan beliung. 

saat  pasukan Hasan dan Mu'awiyah telah saling berhadapan, mereka justru 

menyerukan agar berpihak kepada Sayidina Mu'awiyah disebabakan mereka 

mengetahui bahwa Mu’awiyah telah berada di atas angin. Mereka pun meninggalkan 

pasukan Hasan. Di antara mereka yang meninggalkan Hasan, ada  seorang zindiq 

bernama Murtadla yang menuangkan pengkhianatan-pengkhianatan yang dilakukan 

oleh mereka di dalam artikel nya yang berjudul Tanzih al-Anbiya. Di dalam artikel  

Kitab al-Fusul dijelaskan, bahwa para pengikut Ibnu Saba’ yang pada  mulanya 

berpihak kepada Sayidina  Hasan, mengirimkan sepucuk surat yang ditujukan kepada 

Sayidina Mu'awiyah yang menyatakan, “Sekarang, saatnya kalian menyerang kami! 

Kami akan meniggalkan Hasan dan berpihak kepada Tuan.” Dengan sikap bijaksana, 

Hasan telah menawarkan solusi damai. Sesungguhnya melihat sikap mereka, 

Sayidina  Mu'awiyah sangat mengkhawatirkan keselamatan diri Hasan. Beliau 

menjawab, bahwa dirinya siap menempuh solusi damai dan mengabulkan segala 

syarat yang diajukan oleh Sayidina Hasan. 

sesudah  Mu'awiyah ra. wafat, mereka tidak berhenti melakukan tindakan-

tindakan destruktif. Bahkan mereka selalu berupaya mencari saat yang tepat untuk 

menghancurkan Islam dari dalam. Suatu saat  mereka mengirim sebuah pesan yang 

ditujukan kepada Sayidina  Husein ra. Pesan ini  berisi dukungan kepada dirinya 

untuk menduduki jabatan khalifah. Bahkan mereka mengundang beliau ke Kufah, 

padahal saat itu beliau sedang berada di Mekkah. artikel  Qishas al-Anbiya 

mengisahkan peristiwa yang  dialami oleh Sayidina Husein ra. sebagai berikut :  

Abdullah bin Umar ra. berusaha mencegah Sayidina Husein memenuhi 

undangan ini . Akan namun , Sayidina Husein tidak menghiraukan nasihat beliau, 

sehingga dengan berlinang air mata beliau terpaksa melepas keberangkatan Sayidina 

Husein. Abdullah bin Abbas pun menasihati Sayidina Husein ra. Beliau berkata, 

“Wahai putra paman bapakku! Saya sangat mengkhawatirkan keselamatanmu, jika 

orang-orang Kufah ini  menyakiti dirimu. Mereka yaitu  orang-orang yang 

berhati busuk. Sebaiknya engkau tidak perlu pergi ke sana! Jika kamu mau, pergilah 

ke Yaman!” Sayidina Husein menjawab, “Anda benar, namun  saya telah memutuskan 

berangkat ke Kufah.” Abdullah menegaskan, “Kalau begitu, tolong jangan kamu 

bawa serta keluargamu! Aku khawatir kamu akan dibunuh di depan mata anak-

anakmu seperti yang pernah menimpa Sayidina Utsman ra.” Akan namun , Sayidina 

Husein tidak menghiraukan nasihat beliau. Keterangan yang dikutip dari Qishas al-

Anbiya ini  menunjukkan, bahwa para shahabat Nabi saw. di Mekkah 

sesungguhnya telah mengetahui bahwa orang-orang yang mengundang Sayidina 

Husein ke kota Kufah yaitu  manusia-manusia yang berhati dengki. Tujuan mereka 

yaitu  menjebak Sayidina Husein ra. 

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah berpendapat, bahwa sesudah  

Sayidina Ali ra. memperoleh syahid, jabatan kekhalifahan menjadi hak Sayidina 

Hasan ra. Namun, berdasar  kemauannya sendiri, beliau menyerahkan jabatan 

ini  kepada Sayidina Mu'awiyah ra. Pada saat itu, tokoh yang dipandang layak 

memegang jabatan kekhalifahan ini  yaitu  Mu’awiyah. Sayidina  Hasan 

melepaskan jabatan kekhalifahan ini  bukan sebab  ketakutan yang menghantui 

dirinya, atau sebab  beliau telah dikhianati oleh para pendukungnya. Akan namun , 

beliau melakukan hal ini  semata-mata untuk menghindari pertumpahan darah di 

kalangan kaum muslimin. Juga tidak lain sebab  kemurahan hati beliau terhadap 

orang-orang mukmin. Islam melarang ummatnya melakukan perdamaian dengan 

orang-orang kafir atau orang-orang murtad dengan tujuan untuk mencegah timbulnya 

fitnah. Dan termasuk fitnah yang paling keji yaitu  berhenti memerangi mereka serta 

memberikan kemenangan kepada mereka. Akan namun , ummat Islam diperbolehkan 

membuat perdamaian dengan para pemberontak saat  situasi 

peperangan/pemberontakan sedang berkecamuk. Sebagaimana kita ketahui, bahwa 

pada saat itu posisi Mu'awiyah yaitu  sebagai pemberontak. Beliau memangku 

jabatan kekhalifahan sejak saat itu.  

Kita dilarang mengutuk seorang  pemberontak (baghi). Bahkan jika 

memungkinkan, kita diperintahkan mendoakan dan memintakan ampunan kepada 

Allah. Di dalam salah satu ayat dari surat Muhammad disebutkan, “Mintakanlah 

ampunan atas kesalahan-kesalahan orang-orang mukmin.” Perintah ber-istighfar 

(memintakan ampunan kepada Allah swt.) berarti mengandung pengertian larangan 

mengutuki. Ayat ini  menjadi dasar hukum untuk memintakan ampunan kepada 

orang-orang yang pernah melakukan perbuatan dosa. Mungkin kita boleh mengutuk 

perbuatan dosa, namun  hal itu tidak berarti pelakunya juga harus dikutuk. Ayat 

kesepuluh surat al-Hasyr menegaskan, “Janganlah kalian memusuhi orang-orang 

mukmin sebelum kalian. Mohonkanlah rahmat kepada Allah untuk mereka.” 

ada  suatu fakta, -yang bahkan ada  di dalam artikel -artikel  yang ditulis oleh 

orang-orang Syi'ah-, yang menerangkan, bahwa Sayidina Ali ra. melarang warga  

Damaskus mengutuk seseorang. Hal ini menunjukkan, bahwa orang-orang yang 

dikutuk ini  pada hakikatnya yaitu  orang-orang Islam juga. Di dalam sebuah 

hadits yang ditujukkan kepada Ali ra. disebutkan, “Memerangi kamu berarti 

memerangi aku (Nabi saw.).” Hadits ini  memperingatkan dampak negatif dari 

tindakan memerangi para shahabat Nabi saw. Hadits ini  dijelaskan secara rinci 

di dalam paragraf keempat puluh satu. Secara de facto, jabatan kekhalifahan yang 

dipegang oleh Mu'awiyah dan para penggantinya hanyalah sebatas sebagai Sultan, 

penguasa. Dan sebagaimana kita ketahui, para Sultan ini  tidak lain kecuali 

sebagai pelaksana salah satu tugas dari seorang  khalifah. 

artikel -artikel  referensi orang Hurufi menulis mengenai tindakan-tindakan 

represif yang dilakukan oleh para gubernur Mu’awiyah terhadap rakyat. Di antaranya 

Ziyad, gubernur  Syiraz. Ziyad yaitu  anak hasil perselingkuhan antara Abu Sufyan 

dengan seorang gundik bernama Sumayyah. Sumayyah yaitu  gundik milik seorang 

dokter bernama Haris pada masa Nescience (sebelum Islam). sesudah  mencapai usia 

dewasa, Mu’awiyah sangat terkenal sebab  kecerdasan, kefasihan bicara dan terpuji 

akhlaknya. Amr Ibni ‘Ash, -salah seorang jenius Arabia-, memberikan komentar 

mengenai dirinya, “Seandainya dia keturunan Quraisy, tentu dia akan menjadi 

manusia besar.” Demikian juga Sayidina Ali ra. memberikan komentar yang sama. 

Abu Sufyan menganggap Ziyad sebagai putranya sendiri. saat  Sayidina Ali ra. 

menjadi khalifah, beliau mengangkat Ziyad sebagai gubernur di Iran. Ziyad 

melaksanakan tugas ini  dengan sukses. Dia juga berhasil menaklukkan 

sejumlah daerah. saat  Mu'awiyah mendengar kesuksesan-kesuksesannya, beliau 

mengakui dia sebagai saudaranya. Ziyad memangku jabatan gubernur hingga 

Sayidina Ali ra. meninggal dunia. sesudah  secara resmi diangkat menjadi khalifah 

pada tahun ke 44 hijriah, Mu’awiyah memaklumkan bahwa  Ziyad yaitu  putra Abu 

Sufyan dan mengangkat dirinya sebagai gubernur di Bashra. Dengan langkah yang 

diambilnya ini , Mu'awiyah berhasil melindungi Sayidina Utsman ra. dan Ali ra. 

dari kritik disebabkan mereka berdua telah mengangkat seseorang yang tidak 

berbapak sebagai gubernur. Ziyad hendak membalas dendam putra Qadli Syuraih 

bernama Sa’id, atas perlakuannya terhadap Sayidina Ali ra. Ziyad mengepung rumah 

Sa’id dan merampas seluruh harta kekayaannya. Sa’id berhasil melarikan diri ke 

Madinah dan mengadukan kejadian ini  kepada Sayidina Husein ra. lalu  

Husein ra. menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada Ziyad. Dia memerintahkan 

Ziyad untuk mengembalikan harta benda yang telah dirampasnya kepada Sa’id. 

Sebagai balasan atas surat dari Husein ra., Ziyad menulis surat dengan nada 

sombong, “Wahai putra Fatimah! Kamu tulis namamu di atas namaku. namun  

kedudukanmu tetaplah seorang pemohon sedang  aku yaitu  Sultan.” Sayidina 

Husein ra. mengirimkan (balasan) surat Ziyad ini  kepada Khalifah di Damaskus 

dengan menyertakan salinan yang berisi pengaduan yang ditujukan kepada gubernur. 

sesudah  membaca surat ini , Mu'awiyah merasa sangat sedih. Beliau 

menyampaikan teguran keras kepada Ziyad : “Wahai Ziyad! Ketahuilah, bahwa 

kamu yaitu  anak Abu Sufyan dan Sumayyah! Anak Abu Sufyan seharusnya 

bersikap lembut dan bijaksana, dan anak Sumayyah juga seharusnya bersikap 

demikian. Kamu telah mengumpat ayah Husein melalui suratmu. Aku bersumpah, 

bahwa segala sifat baik yang kamu miliki semestinya kamu persembahkan buat 

Husein. Beliau yaitu  manusia yang suci dari segala perilaku kotor. Namamu yang 

ditempatkan di bawah nama Husein, yaitu  lebih mulia dari pada aib yang kamu 

miliki. sesudah  kamu menerima perintahku ini segera kembalikan harta benda yang 

telah kamu rampas dari Sa’id kepadanya! Bangunkan kembali rumah untuknya yang 

lebih bagus dari pada rumah sebelumnya. Aku juga menyampaikan salinan perintah 

ini kepada Husein, dengan menyampaikan permohonan maaf kepada beliau dan 

meminta beliau untuk menyampaikan (maaf) kepada Sa’id. Dia boleh tinggal di 

Madinah bila berkenan, atau dia boleh pergi ke Kufah bila dia ingin tinggal di sana. 

Jangan sekali-kali menganiaya mereka dengan tangan maupun mulutmu! Kamu tulis 

surat yang ditujukan kepada Husein ra. dengan menyebut nama ibunya. Tidak tahu  

malu! Ingat, bahwa ayahnya yaitu  Ali ra. bin Abi Thalib, dan ibunya yaitu  putri 

Rasulullah,  Fatimah az-Zahra ra. Apakah ada orang lain yang memiliki kemuliaan 

seperti dia? Mengapa kamu tidak berpikir, wahai Ziyad?”  

Kita tentu mengetahui kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukan oleh 

Ziyad dan anaknya, -Ubaidullah-, terhadap ummat Islam. Akan namun , kita tetap tidak 

dibenarkan seandainya menyalahkan Sayidina Mu’awiyah disebabkan beliau telah 

mengangkatnya sebagai gubernur. Memang, sebagaimana kita ketahui, bahwa 

sebelumnya baik Sayidina Utsman ra. maupun Sayidina Ali ra. telah mengangkat 

Ziyad menjadi gubernur. [Silakan Anda baca kembali paragraf tiga puluh enam!] 

Muncul sebuah pertanyaan dalam benak kita : Nabi Muhammad saw. 

bersabda, “Barang siapa yang menyakiti Ali ra. (berarti) menyakiti saya.” Sebagian 

orang mengeksploitir hadits ini  dan menjadikannya sebagai dalih, bahwa jika 

menyakiti Rasulullah dianggap kafir, maka memerangi Ali ra.  termasuk kafir. 

Jawaban dari pertanyaan di atas ialah sebagai berikut : Orang-orang 

munafik yang tiba di Kufah dan Mesir bergerak menuju Madinah. Mereka berhasil 

membunuh Sayidina Utsman. Atas kejadian ini , Sayidina Ali ra. dibaiat menjadi 

khalifah. Dalam kapasitasnya sebagai khalifah, beliau berpendapat bahwa  alangkah 

lebih bijaksana untuk tidak tergesa-gesa mencari para pembunuh Sayyidina Utsman. 

Namun, penangguhan ini  justru menjadikan mereka semakin ‘mendidih’ dan 

membabi buta. Bahkan mereka mulai mencela dan mencaci Sayidina Utsman. 

Mereka mengklaim bahwa diri mereka-lah yang berada di pihak yang benar. 

Persoalan inilah sesungguhnya yang menjadi sebab keprihatinan dan kerisauan yang 

sangat mendalam di hati para shahabat Nabi saw. seperti Thalhah, Zubair, Nu’man 

bin Basyir, Ka’ab bin Ajra dan lainnya. Mereka berkata dengan nada sedih, 

“Seandainya kita mengetahui bahwa dampak dari kematian Utsman ra. begitu jelek, 

tentulah kita akan melindungi beliau dari para bandit ini .” Mengetahui 

keprihatinan dari para shahabat Nabi saw., para pembunuh Utsman merencanakan 

pembunuhan terhadap mereka. Oleh karenya, mereka terpaksa harus menyelamatkan 

diri pergi ke kotah Mekkah. Pada saat itu, Sayidah Aisyah berada di Mekkah dalam 

rangka melaksanakan ibadah haji. Beliau memberi perlindungan kepada mereka. 

Mereka menceritakan kepada Aisyah keadaan yang  sedang berkembang di Madinah. 

Mereka berkata, “Khalifah telah memberikan toleransi kepada para pembunuh 

Utsman ra. Bahkan seolah-olah beliau membiarkan terjadinya pemberontakan. Hal 

ini menjadikan mereka semakin merajalela dalam menindas. Akibatnya pertumpahan 

darah tidak bisa dihindari. Akan namun , hal ini  dapat dicegah jika para pengacau 

ini  dihukum.” Sayyidah Aisyah menasihati mereka,”Sebaiknya kalian tidak 

kembali ke Madinah selama para bandit ini  masih tinggal dan berkeliaran di 

sana, dan berada di sekitar Amirul Mukminin. Dan sebaiknya kalian pergi ke tempat 

yang  lebih aman selama keadaan masih seperti sekarang ini. Kita tunggu 

kesempatan yang tepat, dan untuk sementara waktu lindungi Ali ra. dari para bandit 

ini . Kalian harus mampu menciptakan kondisi yang memungkinkan terciptanya 

kerja sama dengan Khalifah sehingga dapat mengusir mereka. Dalam kondisi seperti 

itulah, kalian akan dengan mudah menangkap para pembunuh Utsman dan mengadili  

mereka. Dengan  demikian, kalian dapat memberi  pelajaran kepada mereka! Hal itu 

tidak mudah, namun  janganlah kalian merasa khawatir!”  

Para shahabat  menerima saran dan nasihat yang diberikan oleh Sayidah 

Aisyah. Mereka pun sepakat pergi Irak dan Basrah. Di sana mereka bertemu dengan 

pasukan muslim lainnya. Sebelum berangkat mereka mengajukan permohonan 

kepada Sayidah Aisyah, “Lindungilah kami hingga fitnah dan kekacauan ini berakhir 

sehingga memungkinkan kami dapat bekerja sama dengan Khalifah. Anda yaitu  

Ummul Mukminim dan istri Rasulullah saw. yang mulia. Anda yaitu  istri yang 

paling dekat dan paling dicintai oleh beliau dari pada lainnya. Semua orang pasti 

memuliakan Anda sehingga mereka para bandit ini  tidak akan mengusir Anda. 

Kami mohon, tinggallah Anda bersama kami dan berilah kami dukungan!” Demi 

keselamatan kaum muslimin dan untuk melindungi para shahabat Rasulullah saw., 

Sayidah Aisyah menyertai mereka. Mereka pun berangkat menuju Bashrah. 

Sementara itu, para pembunuh Utsman yang berada di sekitar khalifah mencoba 

melakukan campur tangan terhadap khalifah di bidang administrasi. Mereka 

memberikan laporan yang berbeda-beda dan keliru mengenai langkah yang diambil 

oleh para shahabat Nabi saw. dan Sayidah Aisyah. Bahkan mereka mendesak kepada 

Khalifah agar menyusul mereka ke Bashrah. Beberapa orang shahabat seperti Imam 

Hasan, Imam Husein, Abdullah bin Ja’far Tayyal dan Abdullah bin Abbas 

menyarankan kepada Khalifah agar tidak tergesa-gesa mengambil tindakan dan tidak 

mempercayai laporan orang-orang munafik. Akan namun , mereka terus menekan dan 

bersikukuh meminta Khalifah berangkat ke Bashrah. Khalifah mengambil langkah, 

pertama, mengutus Qa’qa untuk mencari informasi mengenai tindakan yang 

dilakukan oleh Sayidah Aisyah. Dia melaporkan, bahwa yang dilakukan oleh Aisyah 

dan para shahabat ialah untuk menciptakan perdamaian. Mereka tidak menghendaki 

timbulnya fitnah dan mengupayakan agar para pembunuh Utsman ditangkap. sesudah  

menerima laporan ini , Khalifah memerintahkan agar kedua pihak dari kaum 

muslimin yang bertikai untuk membuat kesepakatan bertemu Khalifah dalam waktu 

tiga hari berikutnya. Ternyata kesepakatan ini  diketahui oleh para pembunuh 

Utsman menjelang pertemuan itu dilaksanakan. Dalam kondisi panik, lalu mereka 

menemui pimpinan mereka, -Abdullah bin Saba’. Mereka meminta solusi kepadanya 

langkah yang harus diambil agar pertemuan ini  batal dilaksanakan. “Upaya kita 

ialah menyerang pasukan Khalifah nanti malam, lalu kita pergi menghadap Khalifah 

dan melaporkan kepadanya, bahwa orang-orang yang bersama Aisyah telah 

mengkhianati perjanjian dan mereka telah menyerang kita,” kata si Yahudi ini . 

Dan rencana ini  berhasil dilaksanakan dengan cemerlang sesuai dengan 

skenario  yang dibuat oleh Ibnu Saba’. Pasukan berkuda mereka saling menyerang 

satu sama lain. Mata-mata yang telah menyusup sebelumnya di antara mereka 

berseru seakan-akan mereka berpihak ; “Khalifah telah membatalkan kesepakatan 

dan kita telah diserang.” Perang pun tak dapat dielakkan lagi. Dalam sejarah Islam, 

perang ini  disebut Perang Unta (The Camel War). Al Qurtubi dan para ahli 

sejarah Sunni mencatat dan menyebut perang ini  dengan nama Perang Unta. 

Orang-orang yang memusuhi para shahabat Nabi saw. berupaya memanipulasi fakta 

sejarah dalam rangka melidungi para pengacau. 

Mu’awiyah sebagai gubernur Damaskus berpendapat, bahwa para 

pembunuh Utsman harus ditangkap dan dihukum berat. Padahal saat  itu, Khalifah 

sedang mengerahkan perhatiannya memadamkan Perang Jamal. Beliau tidak punya 

kesempatan untuk melakukan tindakan lain berkaitan dengan kasus pembunuhan 

Sayidina Utsman. Akibatnya kekacauan dan huru hara tidak dapat dikendalikan. 

Beliau juga menolak saran yang diajukan oleh Mu’awiyah di atas. Dan Mu'awiyah 

sendiri menolak mengakui Ali ra. sebagai khalifah. Di dalam artikel  yang ditulis orang 

Syi'ah berjudul Nahj al-Balaghah dijelaskan, bahwa Khalifah berpendapat, “Kita 

harus memerangi saudara-saudara kita sesama Islam sebab  mereka telah 

memberontak.” Sebagaimana kita ketahui, bahwa mereka baik yang terlibat di dalam 

Perang Unta maupun Peran Shiffin tidak bermaksud melukai Sayidina Ali ra. 

Motivasi yang mendorong mereka asling berperang yaitu  semata-mata didasarkan 

oleh ijtihad mereka dalam rangka menjalankan pertintah Allah swt. Akan namun , 

sesungguhnya kuku-kuku zionisme telah menumpahkan darah kedua belah pihak 

sesama muslim. 

Di dalam Tadzkir Qurtubi Muhtashari halaman seratus dua puluh tiga 

ada  sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut : “Bila orang 

Islam saling berperang satu sama lain, baik yang terbunuh maupun yang membunuh, 

keduanya masuk neraka.” Menurut para ulama, hadits ini  mengandung 

pengertian, bahwa mereka  yaitu   orang-orang  yang berperang dengan tujuan untuk 

mendapat  keuntungan duniawi. Hadits ini  mengecualikan pengertian mereka 

yang berperang sebab  memilik sebab agama atau untuk membasmi kejahatan  dan 

memadamkan pemberontakan. Hadits lain juga menegaskan bahwa, “Bila kamu 

berperang hanya untuk mendapat  keuntungan duniawi, maka baik pembunuh 

maupun yang terbunuh keduanya masuk neraka.” Hadits ini  tidak berkaitan 

dengan peperangan yang terjadi antara Sayidina Ali ra. dan Sayidina Mu'awiyah. 

Peperangan mereka tidak didasarkan oleh tujuan untuk mendapat  keuntugan-

keuntungan duniawi. Peperangan ini  terjadi semata-mata dalam rangka 

menegakkan perintah Allah swt. Di dalam sebuah hadits dinyatakan, “Akan muncul 

berbagai macam fitnah di kalangan para shahabat-ku. Allah akan mengampuni 

mereka disebabkan mereka telah menjalin persahabatan (shahbah) denganku. 

Namun demikian, orang-orang yang datang sesudah mereka akan mengkritik para 

shahabat-ku ini , dan mereka termasuk dalam kategori fitnah ini, mereka akan 

masuk neraka (disebabkan sikap mereka itu).” Hadits ini mengisayratkan, bahwa 

semua shahabat  yang saling  berperang satu sama lain diampuni oleh Allah. 

Orang-orang Hurufi, -musuh bebuyutan para shahabat Nabi saw.-, 

berpendapat, bahwa semua golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah dikutuk oleh Allah. 

Di dalam surat Ali Imran ayat seratus sepuluh disebutkan, “Kalian yaitu  sebaik-

baik ummat.” Mereka, -orang-orang  Hurufi-, menyebut ummat Islam dengan nama 

‘Ummat yang Dikutuk’. Mereka berpendapat, bahwa mengutuk para shahabat Nabi 

saw. setiap kali mereka berdoa selesai shalat termasuk ibadah yang utama. Akan 

namun , kutukan ini  mengecualikan Abu Jahal, Abu Lahab, Paraoh (Fir’aun) dan 

Namrud yang sesungguhnya menjadi musuh-musuh Allah dan para Rasul-Nya. 

Mereka berpendapat, bahwa ayat-ayat Al Qur'an yang berisi pujian kepada ketiga 

khalifah Nabi saw. dan para shahabat termasuk ayat-ayat mutasyabihat yang 

maknanya tidak dapat dipahami secara pasti. 

Mereka memandang bahwa golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah yaitu  

musuh-musuh Ahlul Bayt Nabi saw. Meskpun dalam kenyataannya, artikel -artikel  yang 

ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah justru memberikan informasi 

sebaliknya dalam memandang Ahlul Bayt Nabi saw. Bahaudin Amili, -salah seorang 

ulama Sunni-, menulis di dalam artikel nya berjudul Kasykul bahwa seseorang yang 

mengingkari Ahlul Bayt Nabi saw. termasuk kafir. Semua tariqat yang diikuti oleh 

Ahlus Sunnah wal Jamaah memperoleh limpahan (faidh) dari Ahlul Bayt Nabi saw. 

Bahkan para Imam empat madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah yaitu  murid-murid 

dari Ahlul Bayt Nabi saw. Ibni Mutahhir Hulli, -seorang ulama Syi'i-, di dalam 

artikel nya Nahj al-Haqq dan Minhaj al-Karamah mengakui bahwa Abu Hanifah dan 

Ibnu Malik bin Anas yaitu  murid-murid Imam Ja’far Shadiq. Imam Syafi’i yaitu  

murid Imam Malik, juga Imam Muhammad Syaibani. Imam Abu Hanifah juga 

berguru kepada shahabat-shahabat Imam Muhammad Baqir, beliau memperoleh 

pengetahuan agama dari Imam Muhammad Baqir. Ibni Mutahhir menjelaskan fakta 

ini  secara obyektif. Dengan demikian, Abu Hanifah yaitu  seorang tokoh 

mujtahid yang manhaj (metode) pemikiran ijtihadnya tidak bertentangan dengan 

madzhab Syi'ah. Menurut mereka, barang siapa yang mengingkari fakta ini  

termasuk kafir. Pada saat Imam Musa Kazim dipenjara di dalam  tahanan bawah 

tanah oleh penguasa Abbasiyah, Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad Syaibani 

tetap mengunjungi beliau dan belajar kepadanya. Fakta seperti ini juga ada  di 

dalam artikel -artikel  yang ditulis oleh orang Syi’ah.  

Ummat Islam dilarang berkompromi dengan orang kafir menyangkut 

persoalan yang menyangkut akidah. Banyak ayat Al Qur'an yang menegaskan hal 

ini . Orang-orang mukmin diperintahkan untuk saling mencintai di antara 

sesama saudara mukmin lainnya meskipun mereka termasuk orang yang berdosa. 

Dan setiap individu mukmin wajib hukumnya mencintai Allah swt. melebihi 

cintanya kepada yang lainnya. Seperti diketahui bahwa, cinta dan benci bertingkat-

tingkat. sesudah  mencintai Allah swt., seorang  mukmin wajib mencintai Rasul-Nya. 

Selanjutnya seorang individu mukmin wajib mencintai orang-orang  mukmin yang 

memiliki kedekatan hubungan dengan Rasulullah saw. Adapun orang-orang yang 

memiliki kedekatan hubungan dengan Rasulullah saw. memiliki tiga tingkatan yaitu : 

Tingkatan pertama, yaitu putra-putri dan kerabat beliau.  

Tingkatan kedua, yaitu istri-istri beliau. Di dalam Al Qur'an, Allah swt. 

menjelaskan bahwa hubungan persaudaraan dapat melalui  jalur genealogi maupun 

pernikahan. 

Tingkatan ketiga, yaitu para shahabat beliau. Mereka telah 

mengorbankan jiwa raga mereka sendiri dalam rangka membantu perjuangan beliau 

saw. Tingkatan hubungan kedekatan ini melebihi tingkatan yang lainnya. 

Selanjutnya seorang individu mukmin harus mencintai orang mukmin 

lainnya. Bila seorang mukmin berubah menjadi kafir maka dia tidak wajib dicintai 

lagi oleh mukmin lainnya. Sebagaimana dimaklumi, bahwa keimanan dan kekufuran 

seseorang ditentukan pada saat ia menghembuskan nafas terakhir (dalam arti apakah 

dia seorang mukmin atau kafir), pada saat ajal menjemputnya. Seorang  mukmin 

yang berdosa tidak sama dengan seorang mukmin yang telah kafir. Seorang mukmin 

yang melakukan perbuatan dosa, dirinya tetap wajib dicintai oleh saudara mukmin 

lainnya. 

Sebagaimana kita ketahui di dalam sejarah, berdasar  riwayat bahwa 

sesudah  Rasulullah saw. wafat, kita tidak menemukan informasi bahwa seorang istri 

maupun shahabat beliau berubah menjadi kafir. Nashruddin at-Thusi, -seorang ulama 

Syi'i-, menegaskan bahwa, “Orang-orang yang menentang Imam Ali termasuk orang-

orang yang telah melakukan perbuatan dosa dan mereka yang memeranginya 

termasuk kafir.” Namun, berdasar  sebuah riwayat mutawatir sebagaimana 

disebutkan di atas, barang siapa yang memberontak melawan Amir dan 

membangkangnya dia tidak boleh dibenci. 

Sejarah mencatat, bahwa Perang Unta dan Shiffin pada dasarnya tidak 

dipicu oleh permusuhan para shahabat Nabi saw. terhadap Sayidina Ali. Motif 

peperangan ini  disebabkan oleh adanya ijtihad yang dilakukan oleh sebagaian 

shahabat yang meneybutkan bahwa para pembunuh Sayidina Utsman ra. wajib 

dihukum sebagai balasan atas pembunuhan yang mereka lakukan. Meskipun 

Sayidina Ali selaku Khalifah pada saat itu tidak terlibat di dalam kemelut yang 

terjadi, perang ini  tetap terjadi. Tidak seorang  pun di antara mereka yang 

terlibat di dalam perang ini  memusuhi Sayidina Ali ra. Barang siapa melakukan 

kekeliruan, dia akan memperoleh balasan sesuai dengan niatnya. Contohnya, jika 

seseorang mengatakan, “Seandainya seseorang memecahkan gelas ini, saya akan 

menghukumnya,” tiba-tiba ada seseorang  berjalan dan memecahkan gelas itu. Orang 

ini  mestinya tidak menghukumnya. Demikian pula halnya dengan  orang-orang 

yang memerangi Sayidina Ali. Kemarahan  yang ditunjukkan oleh Sayidah Aisyah 

terhadap Sayidina Ali tidak ubahnya seperti kemarahan Musa as. terhadap Harun as. 

Al Qur'an menegaskan, bahwa Sayidah Aisyah yaitu  Ummul Mukminin, -ibunya 

orang-orang beriman. Seorang  ibu tidak akan dianggap bersalah sebab  menghukum 

anaknya demi kebaikan sang anak meskipun tindakan ini  dianggap keliru. Para 

shahabat yang notabene memerangi Sayidina Ali ra. dipuji oleh Al Qur'an dan hadits 

Nabi. Oleh sebab nya, seorang shahabat Nabi sekali pun, -atau bahkan orang-orang 

mukmin lainnya-, tidak layak mengharapkan syafaat dan keselamatan seandainya 

dirinya benar-benar  memusuhi Sayidina Ali ra., mengutuki dan menyumpahi beliau. 

Orang semacam itu telah menjadi kafir. Akan namun , kenyataannya tidak ada seorang 

shahabat Nabi pun (yang memerangi beliau), telah melakukan tindakan seperti itu 

berdasar  riwayat yang sahih. Seseorang yang berpendapat, bahwa Sayidina Ali ra. 

termasuk kafir, atau berpendapat, bahwa beliau tidak akan masuk surga, atau 

berpendapat, bahwa beliau tidak berhak menjadi khalifah disebabkan kelemahan 

pengetahuan, keadilan, kewara’an dan ketakwaan yang dimilikinya, orang ini  

telah kafir. Orang-orang Khawarij  dan para pengikut Yazid berpendapat demikian 

terhadap Sayidina Ali ra., meskipun pendapatnya ini  didasarkan oleh 

penafsirannya yang keliru terhadap kenyataan-kenyataan sejarah yang masih 

diragukan kebenarannya. Jika seseorang memerangi beliau tidak untuk mendapat  

kekayaan duniawi dan jabatan, atau tindakannya ini  semata-mata disebabkan 

oleh kekeliruan ijtihadnya, dia tidak termasuk kafir. Dalam kasus pertama, orang 

ini  dipandang telah melakukan perbuatan dosa, dan dalam kasus kedua orang 

ini  dipandang telah melakukan perbuatan bid’ah. Di dalam sebuah hadist 

disebutkan, “Mencaci seorang mukmin sama seperti membunuhnya.” Tindakan 

mencaci berarti mengharap orang yang dicaci ini  dijauhkan dari rahmat Allah 

swt. Kebencian seseorang kepada orang lain bersifat permanen meskipun orang yang 

dibenci ini  telah meninggal dunia. Di dalam  sebauh hadits disebutkan, 

“Janganlah menyumpahi orang yang telah meninggal dunia.” 

Sebagaimana kita ketahui, bahwa di dalam Perang Unta dan Shiffin 

ada  intervensi yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Perang ini  

merupakan sebuah musibah yang telah dirancang oleh kelompok zionis. Hal ini  

menjadi bagian dari rencana-rencana keji yang direncanakan oleh orang-orang 

Yahudi untuk mengadu domba sesama shahabat. Dan yang paling penting yaitu  

untuk menghancurkan Islam dari dalam. Kita ingat bahwa orang-orang Yahudi-lah 

yang merancang pembunuhan terhadap Sayidina Utsman. Mereka juga-lah yang 

mengorganisir dan menggerakkan pasukan untuk menggulingkan Sultan Abdul 

Hamid Khan II. 

Namun, ironisnya kaum muslimin masih saja tertidur lelap tidak 

menyadari bahaya Yahudi ini . Mereka tidak memahami fakta-fakta sejarah. 

Musuh-musuh Islam telah menulis banyak artikel . Melalui artikel  ini  mereka 

memprovokasi ummat Islam yang berujung pada terbunuhnya Sayidina Utsman ra. 

dan memicu perselisihan di kalangan para Shahabat Nabi sehingga mereka saling 

mencela satu sama lain. artikel -artikel  itulah yang mengilhami orang-orang Freemason 

yang tergabung dalam gerakan Partai Persatuan untuk menyeret ummat Islam ke 

tiang gantungan atau menjebloskannya ke dalam penjara-penjara bawah tanah. 

Musuh-musuh Islam ini  berupaya keras menerbitkan artikel -artikel  ini  ke 

seluruh dunia Islam. Para pembaharu agama yang di-back up oleh gerakan 

Freemason dan Komunis selalu berusaha menggalang kekuatan di antara mereka. 

Akan namun , sebaliknya ummat Islam justru terbuai dan tertidur nyenyak. Gerakan 

Freemason dan Komunis Yahudi memakai  jalur publikasi dengan 

menterjemahkan dan menerbitkan artikel -artikel  dalam rangka menghancurkan Islam 

dari dalam. 

Di antara artikel  ini , kami menemukannya melalui sebuah iklan surat 

kabar harian. artikel  ini  termasuk artikel  keagamaan. Dalam beberapa hari, surat 

kabar ini  memuji-muji artikel  itu. Kami juga memiliki copy dari artikel  yang 

dimaksud. artikel  ini  menyanjung-nyanjung golongan Ahlus Sunnah wal 

Jamaah. Dengan cara seperti itu,  kebohongan dan fitnah yang ada  di dalam 

artikel  ini  di sana sini tidak kelihatan. Oleh sebab  itu, kami memandang perlu 

untuk menyampaikan hal ini  kepada saudara-saudara kami seagama. Tujuan 

kami yaitu  untuk melindungi akidah kami dan mereka. Dan jika dipandang perlu 

kita wajib menyelamatkan generasi muda kita agar tidak terjerembab ke dalam 

jurang kekufuran.  

“Sayidah Aisyah sangat menyesal akibat ijtihadnya yang keliru. Bahkan 

di akhir hayatnya beliau senantiasa menyesali perbuatannya ini , sebagaimana 

dijelaskan dalam banyak artikel ,” kata penulis majalah Musum Gugur itu. 

Sebagaimana kita ketahui dari berbagai macam sumber sejarah, 

penjelasan di atas sama sekali tidak kita temukan dalam artikel -artikel  sejarah yang 

valid. Sejarah tidak pernah mencatat adanya penyesalan seorang ulama disebabkan 

oleh ijtihadnya. Kita mengetahui bahwa tidak dipandang sebagai perbuatan dosa jika 

seseorang melakukan ijtihad menyangkut persoalan-pesoalan agama yang  memang 

membutuhkan ijtihad. Barang siapa yang melakukan ijtihad, ia akan mendapat  

sekurang-kurangnya satu pahala. Justru yang menjadi penyesalan dari para ulama 

yaitu  mengapa sampai terjadi pertumpahan darah di tubuh kaum muslimin sendiri, 

bukan sebab  kesalahan ijtihad yang telah mereka lakukan. 

Penulis majalah ini  menambahkan keterangan sebagai berikut 

“sesudah  fitnah, kekacauan, perang, dan kehancuran ini  berlalu, ternyata 

diketahui bahwa sesungguhnya para shahabat Nabi telah keliru dalam melakukan 

ijtihad.” Sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, bahwa hasil ijtihad yang 

dilakukan oleh para shahabat radliyallahu anhum sampai pada kesimpulan : 

Pertama, para pembunuh Sayidina Utsman ra. harus dibunuh juga. Kedua, para 

pengacau yang berada di Madinah harus dideportasi dari sana. Dan ketiga, secepat 

mungkin dilakukan upaya perdamaian dan kepastian hukum pemerintahan. Ijtihad 

yang dihasilkan oleh para shahabat radliyallhu anhum sama sekali tidak berkaitan 

dengan persoalan perang. Apa yang disebutnya sebagai perang pada hakikatnya 

dimunculkan oleh orang-orang munafik. Mereka berpendapat, bahwa perang yang 

terjadi di antara sesama saudara muslim ini  tidak lain disebabkan oleh 

perbedaan ijtihad yang terjadi di kalangan shahabat Nabi saw. Dampak dari 

perbedaan ijtihad itulah yang memicu ummat Islam  terpecah menjadi dua kelompok. 

Selanjutnya dia mengutip sebuah hadits yang artinya, “Sebagian 

shahabat-ku akan mendekatiku (saat  aku sedang beristirahat) di sebuah telaga di 

surga. Aku melihat dan mengenal mereka. Akan namun , mereka akan memisahkan 

diri dari aku. Dan aku pun berkata, ‘Ya Rabbi! Mereka yaitu  para shahabat-ku.’ 

Terdengar suara yang menjawab, ‘Mereka telah melakukan perbuatan begini dan 

begitu sesudah  kamu meninggal.’” Dalam rangka menguatkan hadits ini , si 

penulis itu menyebutkan berbagai macam artikel  referensi. 

Bunyi selengkapnya hadits di atas dapat ditemukan di dalam kitab-kitab 

hadits sahih,